Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas
berkat dan rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan laporan kasus ini.
Laporan kasus ini disusun dalam rangka mengikuti Kepaniteraan Klinik
Madya di Bagian/SMF Obstetri dan Ginekologi Rumah Sakit Umum Provinsi
Nusa Tenggara Barat.
Pada kesempatan ini, penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah banyak memberikan bimbingan
kepada penulis.
1. dr. Agus Thoriq, Sp.OG, selaku Ketua SMF Obstetri dan Ginekologi
RSUP NTB
2. dr. I Made Putra Juliawan Sp. OG, selaku supervisor
3. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah
memberikan bantuan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan laporan kasus ini masih banyak
kekurangan.Oleh karena itu, kritik dan saran yang bersifat membangun sangat
penulis harapkan demi kesempurnaan laporan kasus ini.
Semoga laporan kasus ini dapat memberikan manfaat dan tambahan
pengetahuan khususnya kepada penulis dan kepada pembaca dalam menjalankan
praktek sehari-hari sebagai dokter.Terima kasih.
Mataram, 14 Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI

Kata Pengantar

Daftar Isi

BAB I Pendahuluan

BAB II Tinjauan Pustaka

BAB III Laporan Kasus

23

BAB IV Pembahasan

30

BAB V Penutup

34

Daftar Pustaka

35

Catatan Perkembangan

37

BAB I
PENDAHULUAN
Ovarium mempunyai fungsi yang sangat krusial pada reproduksi dan
menstruasi.

Gangguan pada

ovarium

dapat

menyebabkan

terhambatnya

pertumbuhan, perkembangan dan kematangan sel telur. Gangguan yang paling


sering terjadi adalah kista ovarium, sindrom ovarium polikistik, dan kanker
ovarium. Kista ovarium merupakan salah satu bentuk penyakit reproduksi yang
banyak menyerang wanita.1
Kista adalah pertumbuhan berupa kantung (pocket, pouch) yang tumbuh
dibagian tubuh tertentu. Kista ovarium adalah suatu kantung yang berisi cairan
atau materi semisolid yang tumbuh dalam ovarium.1
Sebagian besar kista tidak menimbulkan gejala yang nyata, namun
sebagian lagi menimbulkan masalah seperti rasa sakit dan perdarahan. Bahkan
kista ovarium yang malignan tidak menimbulkan gejala pada stadium awal,
sehingga sering ditemukan dalam stadium yang lanjut. Komplikasi yang paling
sering dan paling serius pada kista ovarium yang terjadi dalam kehamilan adalah
peristiwa torsio atau terpeluntir. Ada beberapa kista yang dapat menjadi ganas,
dengan risiko terjadinya karsinoma terutama pada wanita wanita yang mulai
menopause1.
Keganasan ovarium merupakan 6 kasus kanker terbanyak dan merupakan
penyebab kematian oleh karena keganasan ginekologi. Insidensi keganasan
ovarium memiliki variasi yang luas rerata tertinggi terdapat di Negara
Skandinavia (14,5-15,3 per 100.000 populasi). Di Amerika, insidensi keganasan
ovarium semua ras adalah 12,5 kasus per 100.000 populasi pada tahun 1988
sampai 19913,4.

Penatalaksanaan kista ovarium didasarkan pada jenis kista tersebut. Jadi


tidak semua kista ovarium ditatalaksanai melalui pembedahan, apalagi ternyata
kista tersebut dapat resolusi spontan. Namun, sebagian besar memerlukan
pembedahan untuk mengangkat kista tersebut. Penanganannya melibatkan
keputusan yang sukar dan dapat mempengaruhi status hormonal dan fertilitas
seorang wanita.1

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1.

Anatomi Ovarium
Wanita pada umumnya memiliki dua indung telur kanan dan kiri dengan

mesovarium menggantung di bagian belakang ligamentum latum kiri dan kanan.


Ovarium berukuran sebesar ibu jari tangan dengan ukuran panjang kira- kira 4
cm, lebar dan tebal kira- kira 1,5 cm.5
Pinggir atasnya atau hilusnya berhubungan dengan mesovarium tempat
ditemukannya pembuluh-pembuluh darah dan serabut-serabut saraf untuk
ovarium. Pinggir bawahnya bebas. Permukaan belakangnya ke atas dan belakang,
sedangkan permukaan depannya ke bawah dan depan. Ujung yang dekat dengan
tuba terletak lebih tinggi daripada ujung yang dekat dengan uterus, dan tidak
jarang diselubungi oleh beberapa fimbria dari infundibulum. Ujung ovarium yang
lebih rendah berhubungan dengan uterus dengan ligamentum ovarii proprium
tempat ditemukannya jaringan otot yang menjadi satu dengan yang ada di
ligamentum

rotundum.

Embriologik

kedua

ligamentum

berasal

dari

gubernakulum.5
Struktur ovarium terdiri atas :
1. Korteks ovarium ; terletak di sebelah luar yang diliputi oleh epitelium
germinativum yang berbentuk kubik dan di dalam terdiri dari stroma serta
folikel- folikel primordial
2. Medulla ; terletak di sebelah dalam korteks tempat terdapatnya stroma
dengan pembuluh- pembuluh darah, serabut serabut saraf dan sedikit
otot polos.
Diperkirakan pada wanita terdapat kira-kira 100.000 folikel primer. Tiap
bulan satu folikel akan keluar, kadang- kadang dua folikel yang dalam

perkembangannya akan menjadi folikel de Graff. Folikel folikel ini merupakan


bagian terpenting dari ovarium dan dapat dilihat di korteks ovarii dalam letak
yang beraneka ragam dan pula dalam tingkat- tingkat perkembangan dari satu sel
telur dikelilingi oleh satu lapisan sel- sel saja sampai menjadi folikel de Graff
yang matang terisi dengan likour folikulli, mengandung estrogen dan siap untuk
berovulasi.5,6. Folikel de Graff yang matang terdiri atas :
1. Ovum ; yakni suatu sel besar dengan diameter 0,1 mm yang mempunyai
nukleus dengan anyaman kromatin yang jelas sekali dan satu nukleolus
pula
2. Stratum granulosum yang terdiri atas sel- sel granulisa, yakni sel- sel bulat
kecil dengan inti yang jelas pada pewarnaan dan mengelilingi ovum ; pada
perkembangan lebih lanjut terdapat ditengahnya suatu rongga terisi likour
folikuli
3. Teka interna, suatu lapisan yang melingkari stratum granulosum dengan
sel- sel yang lebih kecil daripada sel granulosa
4. Teka eksterna, terbentuk oleh stroma ovarium yang terdesak
Pada ovulasi, folikel yang matang dan yang mendekati permukaan
ovarium pecah dan melepaskan ovum ke rongga perut. Sel- sel granulosa yang
melekat pada ovum yang membentuk korona radiata bersama- sama ovum ikut
dilepas. Sebelum dilepas, ovum mulai mengalami pematangan dalam dua tahap
sebagai persiapan untuk dapat dibuahi. 5,6
Setelah ovulasi, sel- sel stratum granulosum di ovarium mulai
berproliferasi dan masuk ke ruangan bekas tempat ovum dan likour folikuli.
Demikian pula jaringan ikat dan pembuluh- pembuluh darah kecil yang ada di
situ. Biasanya timbul perdarahan sedikit, yang menyebabkan bekas folikel diberi
nama korpus rubrum. Umur korpus rubrum ini hanya sebentar. Di dalam selselnya timbul pigmen kuning, dan korpus rubrum menjadi korpus luteum. Selselnya membesar dan mengandung lutein dengan banyak kapiler dan jaringan ikat
diantaranya. 5,6
Di tengah- tengah masih terdapat bekas perdarahan. Jika tidak ada
pembuahan ovum, sel- sel yang besar serta mengandung lutein mengecil dan
menjadi atrofik, sedangkan jaringan ikatnya bertambah. Korpus luteum lambat
laun menjadi korpus albikans. Jika pembuahan terjadi, korpus luteum tetap ada,

malahan menjadi lebih besar, sehingga mempunyai diameter 2,5 cm pada


kehamilan 4 bulan. 5,6

Gambar 1. Anatomi ovarium


2.2.

Definisi Tumor Ovarium


Secara harfiah, Tumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul

dalam tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan menyebabkan jaringan
setempat pada tingkat gen kehilangan kendali normal atas pertumbuhannya.
Istilah neoplasma pada dasarnya memiliki makna sama dengan tumor. Keganasan
merujuk kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel ganas.
Tumor ovarium adalah sebuah proses penumbuhan jaringan baru yang
berasal dari ovarium baik yang bersifat jinak maupun ganas. Beberapa literatur
menggolongkan kista sebagai tumor namun beberapa literatur lain memisahkan
antara tumor dengan kista. Perlu diketahui bahwa definisi kista adalah suatu jenis
tumor berupa kantong abnormal yang berisi cairan.Karena secara definisi tumor
adalah jaringan, oleh karena itu beberapa literatur membedakan antara kista
dengan tumor ovarium.

Gambar 2 : Ilustrasi Tumor Ovarium


2.3.

Epidemiologi
Berdasarkan data penilitian di Amerika Serikat, umumnya kista ovarium

ditemukan saat pasien melakukan pemeriksaan USG baik abdominal maupun


transvaginal dan transrektal.Kista ovarium terdapat disekitar 18% yang sudah
postmenopause.Sebagian besar kista yang ditemukan merupakan kista jinak, dan
10% sisanya adalah kista yang mengarah ke keganasan.
Kista ovarium fungsional umumnya terjadi pada usia produktif dan relatif
jarang pada wanita postmenopause. Secara umum, tidak ada persebaran umur
yang spesifik mengenai usia terjadinya kista ovarium.5
2.4.
2.4.1

Sifat Kista
Kista Fisiologis
Sesuai siklus menstruasi, di ovarium timbul folikel dan folikelnya

berkembang, dan gambaranya seperti kista. Biasanya kista tersebut berukuran


dibawah 4 cm, dapat dideteksi dengan menggunakan pemeriksaan USG, dan
dalam 3 bulan akan hilang. Jadi ,kista yang bersifat fisiologis tidak perlu operasi,
karena tidak berbahaya dan tidak menyebabkan keganasan, tetapi perlu diamati
apakah kista tersebut mengalami pembesaran atau tidak. Kista yang bersifat
fisiologis ini dialami oleh orang di usia reproduksi karena masih mengalami
menstruasi. Biasanya kista fisiologis tidak menimbuklkan nyeri pada saat haid.

Beberapa jenis kista fisiologis diantaranya adalah kista korpus luteal, kista
folikular, kista teka-lutein.4
2.4.2

Kista Patologis
Kista ovarium yang bersifat ganas disebut juga kanker ovarium.Kanker

ovarium merupakan penyebab kematian terbanyak dari semua kanker ginekologi.


Angka kematian yang tinggi karena penyakit ini pada awalnya bersifat tanpa
gejala dan tanpa menimbulkan keluhan apabila sudah terjadi metastasis, sehingga
60-70% pasien datang pada stadium lanjut, penyakit ini disebut juga sebagai silent
killer. Angka kematian penyakit ini di Indonesia belum diketahui dengan pasti.1
Pada kista patologis, pembesaran bisa terjadi relatif cepat, yang kadang
tidak disadari penderita.Karena, kista tersebut sering muncul tanpa gejala seperti
penyakit umumnya.Itu sebabnya diagnosa agak sulit dilakukan.Gejala gejala
seperti perut yang agak membuncit serta bagian bawah perut yang terasa tidak
enak biasanya baru dirasakan saat ukuranya sudah cukup besar. Jika sudah
demikian biasanya perlu dilakukan tindakan pengangkatan melalui proses
laparoskopi.1,2
Ada lagi jenis kista abnormal pada ovarium.Jenis ini ada yang bersifat
jinak dan ganas. Bersifat jinak jika bisa berupa spot dan benjolan yang tidak
menyebar. Meski jinak kista ini dapat berubah menjadi ganas.Tetapi sampai saat
ini, belum diketahui dengan pasti penyebab perubahan sifat tersebut. Kista ganas
yang mengarah ke kanker biasanya bersekat sekat dan dinding sel tebal dan tidak
teratur.Tidak seperti kista fisiologis yang hanya berisi cairan, kista abnormal
memperlihatkan campuran cairan dan jaringan solid dan dapat bersifat ganas.1,2,3
2.5

Klasifikasi Kista
Diantara tumor-tumor ovarium ada yang bersifat neoplastik dan non

neoplastik. Tumor neoplastik dibagi atas tumor jinak dan ganas, dan tumor jinak
dibagi dalam tumor kistik dan solid

1.

2.

Tumor Non Neoplastik


a. Tumor akibat radang
i.
Abses ovarial
ii.
Abses tubo-ovarial
iii.
Kista tubo-ovarial
b. Tumor lain
i.
Kista folikel
ii.
Kista korpus lutein
iii.
Kista teka-lutein
iv.
Kista inklusi germinal
v.
Kista endometrium
Tumor Neoplastik Jinak
a. Kistik
i.
Kistoma ovarii simpleks
ii.
Kistadenoma ovarii musinosum
iii.
Kistadenoma ovarii serosum
iv.
Kista endometroid
v.
Kista dermoid
b. Solid
i.
Fibroma, leiomioma, fibroadenoma, papiloma, angioma,

limfangioma
Tumor Brenner
iii.
Tumor sisi aderenal (makulinovo-blastoma).1
1. Kista Ovarium Non-Neoplastik
a. Tumor Akibat Radang
Tumor ini biasanya disebabkan oleh proses infeksi yang terjadi pada
ii.

adneksa. Tumor ini cukup jarang. Proses pembentukan tumor ini didahului
oleh masuknya bakteri kedalam uterus yang berlanjut ke bagian salfing
dan menuju ke adneksa. Kemudian terjadilah infeksi dan terjadi proses
imunologis sehingga terbentuk abses.1
b. Kista Folikel
Kista ini berasal dari folikel de graff yang tidak sampai berovulasi,
namun tumbuh terus menjadi kista folikel, atau dari beberapa folikel
primer yang setelah bertumbuh di bawah pengaruh estrogen tidak
mengalami proses atresia yang lazim, melainkan membesar menjadi
kista.bisa di dapati satu kista atau beberapa dan besarnya biasanya
berdiameter 1-1 cm.Dalam menangani tumor ovarium timbul persoalan
apakah tumor yang dihadapi itu neoplasma atau kista folikel. Umumnya

jika diameter tumor tidak lebih dari 5 cm, dapat di tunggu dahulu karena
kista folikel dalam 2 bulan akan hilang sendiri.1,3
Kista folikuler secara tipikal kecil dan timbul dari folikel yang
tidak sampai saat menopause, sekresinya akan terlalu banyak mengandung
estrogen sebagai respon terhadap hipersekresi FSH (folikel stimulating
hormon) dan LH (luteinizing hormone) normalnya ditemui saat menopause
berdiameter 1 -10 cm (folikel normal berukuran limit 2,5 cm); berasal dari
folikel ovarium yang gagal mengalami involusi atau gagal meresorpsi
cairan. Dapat multipel dan bilateral. Biasanya asimtomatik.1

Gambar 3 : Kista Folikel


c. Kista Korpus Lutein
Dalam keadaan normal korpus luteum lambat laun mengecil dan
menjadi

korpus

albikans.

Kadang-kadang

korpus

luteum

akan

mempertahankan diri (korpus luteum persisten); perdarahan yang terjadi di


dalamnya akan menyebabkan kista, berisi cairan berwarna merah coklat
karena darah tua. Pada pembelahan ovarium kista korpus luteum
memberi gambaran yang khas.Dinding kista terdiri atas lapisan berwarna
kuning,

terdiri

atas

sel-sel

luteum

yang

berasal

dari

sel-sel

teka.Penanganan kista luteum ini menunggu sampai kista hilang sendiri.


Dalam hal ini dilakukan operasi atas dugaan kehamilan ektopik
terganggu,kista korpus luteum diangkat tanpa mengorbankan ovarium.1,3

Gambar 4 : Kista Korpus Luteal


d. Kista Teka Lutein
Kista biasanya bilateral dan sebesar tinju. Pada pemeriksaan
mikroskopik terlihat luteinisasi sel-sel teka.Tumbuhnya kista ini ialah
akibat pengaruh hormone koriogonadrotropin yang berlebihan.1,3
Kista granulosa lutein yang terjadi di dalam korpus luteum indung
telur yang fungsional dan membesar bukan karena tumor, disebabkan oleh
penimbunan darah yang berlebihan saat fase pendarahan dari siklus
menstruasi.
Kista teka-lutein biasanya berisi cairan bening, berwarna seperti
jerami; biasanya berhubungan dengan tipe lain dari growth indung telur,
serta terapi hormon.

Gambar 5 : Kista Teka Lutein


e. Kista Inklusi Germinal
Terjadi karena invaginasi dan isolasi bagian-bagian terkecil dari
epitel germinativum pada permukaan ovarium. Biasanya terjadi pada
wanita usia lanjut dan besarnya jarang melebihi 1 cm. Kista terletak di
bawah permukaan ovarium, dindingnya terdiri atas satu lapisan epitel
kubik atau torak rendah, dan isinya cairan jernih dan serous.1,3

Gambar 6 : Kista Inklusi Germinal

f. Kista Endometrium
Kista ini endometriosis yang berlokasi di ovarium. Akibat
proliferasi dari sel yang mirip dinding endometrium, umumnya berisi
darah yang merupakan hasil peluruhan dinding saat menstruasi.1
1. Neoplasia Jinak
1.1. Kistik:
1.1.1. Kistoma Ovari Simpleks
Kista ini mempunyai permukaan yang rata dan halus, biasanya
bertangkai, seringkali bilateral dan dapat menjadi besar. Dinding kista
tipis dan cairan di dalam kista jernih, serous dan berwarna kuning. Pada
dinding kista tampak lapisan epitel kubik. Terapi terdiri atas
pengangkatan kista dengan reseksi ovarium, akan tetapi jarinngan yang
dikeluarkan harus segera diperiksa secara histologik untuk mengetahui
apakah ada keganasan.1,3
1.1.2. Kistadenoma Ovarii Serosum
Kista ini ditemukan dalam frekwensi yang hampir sama dengan
kistadenoma musinosum dan dijumpai pada golongan umur yang
sama. Kista

ini

sering

ditemukan

bilateral

(10-20%)

daripada

kistadenoma musinosum. Tumor serosa dapat membesar sehingga


memenuhi ruang abnomen, tetapi lebih kecil dibanding dengan ukuran
kistadenoma musinosum. Permukaan tumor biasanya licin, tetapi dapat
juga lobulated karena kista serosum pun dapat berbentuk multikolur,
meskipun lazimnya berongga satu. Warna kista putih keabuan.
Ciri khas dari kista ini adalah potensi pertumbuhan papiler ke
dalam rongga kista sebesar 50% dan keluar pada permukaan kista sebesar
5%. Isi kista cair, kuning dan kadang-kadang coklat karena bercampur
darah. Tidak jarang, kistanya sendiri kecil, tetapi permukaannya penuh
dengan pertumbuhan papiler (solid papiloma)
Pada umumnya dapat dikatakan bahwa sulit membedakan
gambaran makroskopis kistadenoma serosum papileferum yang ganas
dari yang jinak, bahkan pemeriksaan rnikroskopis pun tidak selalu
mernberikan kepastian.
Pada pemeriksaan mikroskopis terdapat dinding kista yang dilapisi
epitel kubik atau torak yang rendah, dengan sitoplasma eosinofil dan inti

sel yang besar dan gelap warnanya. Karena tumor ini berasal dari epitel
permukaan ovarium (germinal epithelum), maka bentuk epitel pada papil
dapat beraneka ragam, tetapi sebagian besar terdiri atas epitel bulu getar
seperti epitel tuba. Pada jaringan papiler dapat ditemukan pengendapan
kalsium dalam stromanya yang dinamakan psamoma. Adanya psamoma
menunjukkan bahwa kista adalah kistadenoma ovarium serosum
papiliferum, tetapi bukan ganas.
Tidak ada gejala klasik
proliferatif. Kebanyakan

ditemukan

yang
pada

menyertai

tumor

pemeriksaan

rutin

serosa
dari

pelvis. Kadang-kadang pasien mengeluh rasa ketidaknyamanan daerah


pelvis dan pada pemeriksaan ditemukan massa abdomen atau pun ascites.
Kelainan ekstra abdomen jarang ditemukan pada keganasan ovarium
kecuali pada stadium terminal. 1,2,6
Apabila ditemukan pertumbuhan papiler, proliterasi dan stratifikasi
epitel, serta anaplasia dan mitosis pada sel-sel, kistadenoma serosum
secara makroskopik digolongkan ke dalam kelompok tumor ganas. 3035% dari kistadenoma serosum mengalami perubahan keganasan. Bila
terdapat implantasi pada peritoneum disertai dengan ascites, prognosis
penyakit adalah kurang baik.
Meskipun diagnosis histopatologis pertumbuhan tumor tersebut
mungkin jinak (histopathologically benign), tetapi secara klinis harus
dianggap sebagai neoplasma ovarium ganas (clinicaly malignant).
Terapi pada umumnya adalah pengangkatan tumor. Tetapi oleh
karena berhubung dengan besarnya kemungkinan keganasan perlu
dilakukan pemeriksaan yang teliti terhadap tumor yang dikeluarkan.
Bahkan kadang-kadang perlu diperiksa sediaan yang dibekukan (frozen
section) pada saat operasi, untuk menentukan tindakan selanjutnya pada
waktu operasi.1,3

Gambar 7 : Kista Ovarium Serosum


1.1.3. Kistadenoma Ovarii Musinosum

Asal tumor ini belum diketahui dengan pasti. Tumor ini mungkin
muncul sebagai tumor unilateral kista teratoma atau sebagai metaplasia
mucinosum dari mesothelium. Tumor mucinous yang berasal dari
teratoid ditemukan pada penderia yang muda. Paling sering pada wanita
berusia antara 20-50 tahun dan jarang sekali pada masa prapubertas.
Tumor evarium ini terbanyak ditemukan bersama-sama dengan
kistadenoma ovarii serosum. Kedua tumor ini merupakan kira-kira 60%
dari seluruh ovarium, sedang kistadenoma ovarii musinosum nerupakan
40% dari seluruh kelompok neoplasma ovarium.
Kista ini biasanya mempunyai dinding yang licin, permukaan
berbagala (lobulated) dan umumnya multitokular dan odematosa; lokular
yang mengandung niukosa ini kelihatan biru dari peregangan kapsulnya.
Kira-kira 10% dapat mencapai ukuran yang amat besar dan pada tumor
ini tidak dapat ditemukan jaringan yang normal lagi. Tumor biasanya
unilateral, akan tetapi dapat juga dijumpai yang bilateral (8-10%).
Dinding kista agak tebal dan berwarna putih keabuan terutama
apabila terjadi perdarahan atau perubahan degeneratif di dalam kista.
Pada permukaan terdapat cairan lendir yang khas, kental seperti gelatin,
melekat

dan

berwarna

kuning

sampai

coklat

tergantung

dari

percampurannya dengan darah.


Pemeriksaan mikroskopik: tampak dinding kista dilapisi oleh epital
torak tinggi dan sel-sel goblet yang terisi lendir. Sel-sel epitel yang
terdapat dalam satu lapisan bersifat odernatus dan mempunyai potensi
untuk tumbuh seperti struktur kelenjar, kelenjar-kelenjar menjadi kistakista baru, yang menyebabkan kista menjadi multilokuler. Jika terjadi
suatu sobekan pada dinding kista (spontan ataupun pada saat operasi),
maka sel-sel epitel dapat tersebar pada permukaan peritoneum rongga
perut, dan sekresinya menyebabkan pseudomiksoma peritonei. Akibat
pseudorniksoma peritonei timbul penyakit menahun dengan musin terus
bertambah dan menyebabkan banyak perlengketan. Akhirnya penderita
meninggal karena ileus. Pada kista kadang-kadang ditemukan daerah
padat dan pertumbuhan papiler.1,3

1.1.4. Kista Endometroid


Terjadi karena lapisan didalam rahim (yang biasanya terlepas
sewaktu haid dan terlihat keluar dari kemaluan seperti darah); tidak
terletak dalam rahim tetapi melekat pada dinding luar ovarium. Akibat
peristiwa ini setiap kali haid, lapisan tersebut menghasilkan darah haid
yang akan terus menerus tertimbun dan menjadi kista. Kista ini bisa 1
pada dua indung telur. Timbul gejala utama yaitu rasa sakit terutama
sewaktu haid/ sexual intercourse.1,3

Gambar 8 :Kista Endometroid


1.1.5. Kista Dermoid
Tumor ini merupakan 10% dan seluruh neoplasma ovarium yang
kistik, dan paling sering ditemukan pada wanita yang masih muda. 25%
dari semua kista dermoid bilateral, lazimnya dijumpai pada masa
reproduksi walaupun dapat ditemukan pada anak kecil. Tumor ini dapat
mencapai ukuran sangat besar, sehingga beratnya mencapai beberapa
kilogram.
Kista ini tumbuh akibat proses yang kurang sempurna saat
pembentukan lapisan embrional. Lapisan ektoderm yang saat dewasa
akan menjadi sel sel folikel rambut, tulang, serta gigi secara tidak
sempurna tumbuh di sekitar ovarium. Kista ini tidak mempunyai ciri
yang

khas.Dinding

kista

kelihatan

putih

keabuan

dan

agak

tipis.Konsistensi tumor sebagian kistik kenyal, di bagian lain padat.


Dapat ditemukan kulit, rambut kelenjer sebasea, gigi (ektodermal), tulang
rawan, serat otot jaringan ikat (mesodemal) dan mukosa traktus

gasttrointotinelis, epitel saluran kista terdapat produk kelenjer sebasea


berupa massa lembek seperti lemak, bercampur dengan rambut
Pada kista dermoid dapat terjadi torsio tangkai dengan gejala nyeri
mendadak di perut bagian bawah. Ada kemungkinan terjadinya sobekan
dinding kista dengan akibat pengeluaran isi kista dalam rongga
peritoneum.Perubahan keganasan dari kista sangat jarang, hanya 1,5%
dari semua kista dermoid dan biasanya pada wanita lewat menopause.1,3

Gambar 9 : Kista Dermoid


1.2.Solid
Semua tumor ovarium yang padat adalah neoplasma.Akan tetapi, ini tidak
berarti bahwa termasuk suatu neoplasma yang ganas, meskipun semuanya
berpotensi maligna. Potensi menjadi ganas sangat berbeda pada berbagai jenis,
umpamanya sangat rendah pada fibroma ovarium dan sangat tinggi pada teratoma
embrional yang padat.1,6
1.2.1. Fibroma ovarii
Potensi menjadi ganas sangat rendah pada fibroma ovarium,
kurang dari 1%. Fibroma ovarii berasal dari elemen fibroblastik stroma
ovarium atau sel mesenkim yang multipoten. Tumor ini merupakan 5%
dari semua neoplasma ovarium dan paling sering ditemukan pada
penderita menopause.
Tumor ini mencapai diameter 2 sampai 30 cm; dan beratnya 20 kg,
dengan 90% uniteral. Permukaan tidak rata, konsistensi keras, warnanya
merah jambu keabuan. Apabila konsistensi sangat padat disebut fibroma
durum, dan apabila lunak disebut fibroma molle. Neoplasma ini terdiri
atas jaringan ikat dengan sel-sel di tengah jaringan kolagen. Apabila

terdiri atas kelenjar-kelenjar kistik, maka disebut kistadenofroma ovarii.


Fibroma ovarii yang besar biasanya mempunyai tangkai dan dapat terjadi
torsi. Pada tumor ini sering ditemukan sindroma Meigs (tumor ovarii,
ascites, hidrotoraks). 1,2,6
1.2.2. Tumor Brenner
Merurupakan suatu neoplasma ovarium yang sangat jarang
ditemukan, biasanya pada wanita dekat atau sesudah menopause.
Frekuensinya 0,5% dari semua tumor ovarium. Besar tumor ini beraneka
ragam, dari sangat kecil ke yang beratnya beberapa kilogram. Lazimnya
tumor ini unilateral. Pada pembelahan berwarna kuning muda seperti
fibroma, dengan kista-kista kecil. Kadang-kadang pada tumor ini
temukan sindroma Meigs. Gambar mikroskopis tumor ini sangat khas,
terdiri dari 2 elemen, yakni sarang-sarang yang terdiri atas epitel epitel,
yang dikelilingi jaringan ikat yang luas dan padat.
Tumor Brenner tidak menimbulkan gejala-gejala klinik yang khas,
dan jika masih kecil, biasanya ditemukan secara kebetulan pada
pemeriksaan histopatologik ovarium. Meskipun biasanya jinak, dalam
beberapa kasus tumor ini menunjukkan keganasan pada histopatologi dan
klinisnya.1,2,6
1.2.3. Maskulinovoblastoma (adrenal cell rest tumor)
Tumor ini sangat jarang terjadi. Biasanya unilateral dan besarnya
bervariasi antara 0,5-16 cm. Beberapa dari tumor ini menyebabkan gejala
maskulinasi, terdiri atas hirsutisme, pembesaran klitoris, atrofi memmae,
dan perubahan suara.
2.6

Etiologi
Penyebab terjadinya kista ovarium yaitu terjadinya gangguan
pembentukan hormon pada hipotalamus, hipofise, atau ovarium itu sendiri.
Kista ovarium timbul dari folikel yang tidak berfungsi selama siklus
menstruasi.1
Faktor resiko terjadinya kista ovarium.4
a. Riwayat kista ovarium sebelumnya
b. Siklus menstruasi yang tidak teratur

c. Meningkatnya distribusi lemak tubuh bagian atas


d. Menstruasi dini
e. Tingkat kesuburan
f. Hipotiroid atau hormon yang tidak seimbang
g. Terapi tamosifen pada kanker mamma
Sedangkan pada tumor padat, etiologi pasti belum diketahui, diduga
akibat abnormalitas pertumbuhan sel embrional, atau sifat genetis kanker
yang tercetus oleh radikal bebas atau bahan bahan karsinogenik.
2.7.

Patofisiologi
Setiap hari, ovarium normal akan membentuk beberapa kista kecil
yang disebut Folikel de Graff. Pada pertengahan siklus, folikel dominan
dengan diameter lebih dari 2.8 cm akan melepaskan oosit mature. Folikel
yang ruptur akan menjadi korpus luteum, yang pada saat matang memiliki
struktur 1,5-2 cm dengan kista ditengah-tengah. Bila tidak terjadi
fertilisasi pada oosit, korpus luteum akan mengalami fibrosis dan
pengerutan secara progresif. Namun bila terjadi fertilisasi, korpus luteum
mula-mula akan membesar kemudian secara gradual akan mengecil
selama kehamilan.1,6
Kista ovari yang berasal dari proses ovulasi normal disebut kista
fungsional dan selalu jinak. Kista dapat berupa folikular dan luteal yang
kadang-kadang disebut kista theca-lutein. Kista tersebut dapat distimulasi
oleh gonadotropin, termasuk FSH dan HCG.1,2
Kista fungsional multiple dapat terbentuk karena stimulasi
gonadotropin atau sensitivitas terhadap gonadotropin yang berlebih. Pada
neoplasia

tropoblastik

gestasional

(hydatidiform

mole

dan

choriocarcinoma) dan kadang-kadang pada kehamilan multiple dengan


diabetes, hcg menyebabkan kondisi yang disebut hiperreaktif lutein. Pasien
dalam

terapi

infertilitas,

induksi

ovulasi

dengan

menggunakan

gonadotropin (FSH dan LH) atau terkadang clomiphene citrate, dapat


menyebabkan sindrom hiperstimulasi ovari, terutama bila disertai dengan
pemberian HCG.1,2
Kista neoplasia dapat tumbuh dari proliferasi sel yang berlebih dan
tidak terkontrol dalam ovarium serta dapat bersifat ganas atau jinak.
Neoplasia yang ganas dapat berasal dari semua jenis sel dan jaringan
ovarium. Sejauh ini, keganasan paling sering berasal dari epitel permukaan
(mesotelium) dan sebagian besar lesi kistik parsial. Jenis kista jinak yang
serupa dengan keganasan ini adalah kistadenoma serosa dan mucinous.
Tumor ovari ganas yang lain dapat terdiri dari area kistik, termasuk jenis
ini adalah tumor sel granulosa dari sex cord sel dan germ cel tumor dari
germ sel primordial. Teratoma berasal dari tumor germ sel yang berisi
elemen dari 3 lapisan germinal embrional; ektodermal, endodermal, dan
mesodermal.Endometrioma adalah kista berisi darah dari endometrium
ektopik. Pada sindroma ovari pilokistik, ovarium biasanya terdiri folikelfolikel dengan multipel kistik berdiameter 2-5 mm, seperti terlihat dalam
sonogram.1,2
2.8.

Tanda dan Gejala


Kebanyakan wanita dengan kanker ovarium tidak menimbulkan
gejala dalam waktu yang lama. Gejala umumnya sangat bervariasi dan
tidak spesifik.4,6

Pada stadium awal gejalanya dapat berupa:


a. Gangguan haid
b. Jika sudah menekan rectum atau VU mungkin terjadi konstipasi atau sering
berkemih.
c. Dapat terjadi peregangan atau penekanan daerah panggul yang menyebabkan
nyeri spontan dan sakit diperut.
d. Nyeri saat bersenggama.

Pada stadium lanjut:


a.

Asites

b.

Penyebaran ke omentum (lemak perut) serta organ di dalam rongga perut

c.

Perut membuncit, kembung, mual, gangguan nafsu makan

d.

Gangguan buang air besar dan kecil.

e.

Sesak nafas akibat penumpukan cairan di rongga dada.4

2.9.

Diagnosis
Diagnosis kista ovarium dapat ditegakkan melalui pemeriksaan
fisik.Namun biasanya sangat sulit untuk menemukan kista melalui
pemeriksaan fisik.Maka kemudian dilakukan pemeriksaan penunjang
untuk mendiagnosis kista ovarium. Pemeriksaan yang umum digunakan

adalah :
1. Ultrasonografi (USG)
Alat peraba (transducer) digunakan untuk memastikan keberadaan
kista, membantu mengenali lokasinya dan menentukan apakah isi kista
cairan atau padat. Kista berisi cairan cenderung lebih jinak, kista berisi
material padat memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.5,6
Dari gambaran USG dapat terlihat:
a.

Akan terlihat sebagai struktur kistik yang bulat


(kadang-kadang oval) dan terlihat sangat echolucent dengan dinding
yang tipis/tegas/licin, dan di tepi belakang kista nampak bayangan
echo yang lebih putih dari dinding depannya.

b.

Kista ini dapat bersifat unillokuler (tidak bersepta) atau


multilokuler (bersepta-septa).

c.

Kadang-kadang terlihat bintik-bintik echo yang halushalus (internal echoes) di dalam kista yang berasal dari elemenelemen darah di dalam kista.

Gambar 11 : Gambaran Kista pada USG


2. Pemeriksaan Lab
Pemeriksaan lab dapat berguna sebagai screening maupun diagnosis
apakah tumor tersebut bersifat jinak atau ganas.Berikut pemeriksaan yang
umum dilakukan untuk mendiagnosis kista ovarium.

Pemeriksaan Beta-HCG Pemeriksaan ini digunakan untuk


screening awal apakah wanita tersebut hamil atau tidak. Pemeriksaan
ini dapat menyingkirkan kemungkinan kehamilan ektopik.

Pemeriksaan Darah Lengkap Untuk sebuah penyakit keganasan,


dapat diperkirakan melalui LED. Parameter lain seperti leukosit, HB,
HT juga dapat membantu pemeriksa menilai keadaan pasien.

Urinalisis

Urinalisis

penting

untuk

mencari

apakah

ada

kemungkinan lain, baik batu saluran kemih, atau infeksi dan untuk
menyingkirkan diagnosis banding.

Pemeriksaan Tumor Marker Tumor marker spesifik pada


keganasan ovarium adalah CA125. CEA juga dapat diperiksa, namun
CEA kurang spesifik karena marker ini juga mewakili keganasan
kolorektal, uterus dan ovarium.

3. Pemeriksaan Patologi Anatomi


Merupakan pemeriksaan untuk memastikan tingkat keganasan dari
tumor ovarium. Pemeriksaan ini biasanya dilakukan bersama dengan

proses operasi, kemudian sampel difiksasi dan diperiksa dibawah


2.10.

mikroskop.6
Penatalaksanaan

1. Observasi dan Manajemen Gejala


Jika kista tidak menimbulkan gejala, maka cukup dimonitor (dipantau)
selama 1-2 bulan, karena kista fungsional akan menghilang dengan sendirinya
setelah satu atau dua siklus haid. Tindakan ini diambil jika tidak curiga ganas.
Apabila terdapat nyeri, maka dapat diberikan obat-obatan simptomatik seperti
penghilang nyeri NSAID1,2,4
2. Operasi
Jika kista membesar, maka dilakukan tindakan pembedahan, yakni
dilakukan pengambilan kista dengan tindakan laparoskopi atau laparotomi.
Biasanya kista yang ganas tumbuh dengan cepat dan pasien mengalami
penurunan berat badan yang signifikan. Akan tetapi kepastian suatu kista itu
bersifat jinak atau ganas jika telah dilakukan pemeriksaan Patologi Anatomi
setelah dilakukan pengangkatan kista itu sendiri melalui operasi. Biasanya
untuk laparoskopi diperbolehkan pulang pada hari ke-3 atau ke-4, sedangkan
untuk laparotomi diperbolehkan pulang pada hari ke-8 atau ke-9.1,2,4
Indikasi umum operasi pada tumor ovarium melalui screening USG
umumnya dilakukan apabila besar tumor melebihi 5cm baik dengan gejala
maupun tanpa gejala. Hal tersebut diikuti dengan pemeriksaan patologi
anatomi untuk memastikan keganasan sel dari tumor tersebut.1,2,4,6
2.11.

Prognosis
Prognosis dari kista jinak sangat baik. Kista jinak tersebut dapat tumbuh di

jaringan sisa ovarium atau di ovarium kontralateral. Apabila sudah dilakukan


operasi, angka kejadian kista berulang cukup kecil yaitu 13%.

Kematian disebabkan karena karsinoma ovari ganas berhubungan dengan


stadium saat terdiagnosis pertama kali dan pasien dengan keganasan ini
sering ditemukan sudah dalam stadium akhir.1
Angka harapan hidup dalam 5 tahun rata-rata 41.6%. Tumor sel granuloma
memiliki angka bertahan hidup 82% sedangkan karsinoma sel skuamosa yang
berasal dari kista dermoid berkaitan dengan prognosis yang buruk.1,6

BAB III
LAPORAN KASUS
I.

IDENTITAS
Nama
: Ny. M
Usia
: 40 tahun
Pekerjaan
: IRT
Pendidikan
: SLTP
Agama
: Islam
Suku
: Sasak
Alamat
: Jontlak, Lombok Tengah
Status Pernikahan : Menikah
MRS
: 7 Maret 2015
No Rekam Medik : 593029
II.
ANAMNESIS
Keluhan Utama : Benjolan di perut
Riwayat Penyakit Sekarang :
Pasien mengeluh ada benjolan di perut bagian bawah sejak 8 bulan yang lalu.
Benjolan awalnya kecil, tetapi lama kelamaan makin membesar. Kadangkadang pasien merasakan nyeri pada perutnya, tetapi hal tersebut tidak
mengganggu aktivitas pasien sehari-hari. Keluar darah dari kemaluan
disangkal pasien namun pasien mengaku mensruasinya lebih banyak dari
biasanya sejak timbul benjolan di perut. Keluhan sesak disangkal. Mual dan
muntah tidak dirasakan. Gangguan makan juga di sangkal pasien. Pasien juga
menyangkal riwayat demam maupun penurunan berat badan. Gangguan BAK
dan BAB tidak dirasakan.
Riwayat Penyakit Dahulu :
- Keluhan serupa disangkal.
- Penyakit benjolan pada payudara disangkal.
- Riwayat penyakit jantung, ginjal, hipertensi, diabetes mellitus, ataupun
asma disangkal.
Riwayat Penyakit Keluarga :
- Riwayat anggota memiliki keluhan serupa disangkal. Riwayat anggota
keluarga memiliki penyakit keganasan disangkal.
Riwayat pengobatan

Pasien pernah memeriksakan dirinya ke spOG 2 tahun yang lalu karena tidak
memiliki anak kemudian dilakukan USG dengan hasil normal dan diberikan
obat-obatan namun pasien lupa jenis dan nama obat tersebut. Saat benjolan
muncul dan disertai nyeri, pasien pernah 2 kali berobat ke dokter spesialis
penyakit dalam dan dirujuk ke spOG.
Riwayat menstruasi :
-

Menarche : 13 tahun

Siklus menstruasi : teratur, 1 bulan sekali.

Banyaknya : 5 kali ganti pembalut sehari, sebelum muncul keluhan pasien


mengaku 2 kali ganti pembalut.

Lamanya : 7 hari

Nyeri saat menstruasi : (-)

Pernah Keluar darah diluar siklus haid : (-).

Riwayat Kontrasepsi :
-

Pasien mengatakan tidak pernah menggunakan alat kontrasepsi

Riwayat Perkawinan
- Pasien telah menikah selama 16 tahun, dan ini merupakan pernikahan
pertamanya.
Riwayat Obstetri :
- Pasien mengaku tidak pernah hamil.
STATUS GENERALIS
a. Keadaan umum : Baik
b. Kesadaran/GCS : Compos Mentis/E4V5M6
c. Tanda vital
- Tekanan darah
: 120/90 mmHg
- Frekuensi nadi
: 90 x/menit
- Frekuensi napas : 20 x/menit
- Suhu
: 36,7oC
d. Kepala/leher
: konjungtiva anemis -/-; ikterik -/e. Thorax
- Inspeksi: retraksi (-)
- Palpasi: pergerakan dinding dada simetris
- Perkusi: sonor +/+, batas jantung dbn
- Auskultasi: C S1S2 tunggal, regular, murmur (-), gallop (-); P
vesikuler +/+ wheezing -/-, rhonki -/-.

f. Abdomen: soefl, massa (+) regio hipogastric, konsistensi kenyal, batas


tegas, mobile, nyeri tekan massa (+), Bising usus (+), nyeri tekan (-),
H/L/R tidak teraba
g. Ekstremitas: hangat (+/+)/(+/+) ; edema (-/-)/(-/-)
III.

STATUS GINEKOLOGI
1. Abdomen :
- Inspeksi
-

tidak ada tanda-tanda peradangan, bekas operasi (-)

terlihat massa menonjol di regio kiri bawah.


Auskultasi : bising usus (+) normal
Perkusi: timpani diseluruh lapang abdomen, diatas tumor pekak
Palpasi
: defans muskular (-), undulasi tes (-), shifting dullnes (-).
Teraba massa 12x8 cm di regio hipogastric hingga iliaka sinistra,
permukaan licin, dapat digerakkan, nyeri tekan (+), konsistensi kenyal.

2. Genital Eksterna :
Inspeksi : perdarahan pervaginam (-), tanda peradangan (-)
Pemeriksaan Dalam (VT) :
Dinding vagina normal, massa (-). Portio licin, (-), nyeri goyang (-).
Adneksa Parametrium kiri teraba massa, padat, tidak dapat digerakkan,
nyeri (-). Adneksa Parametrium kiri Cavum Douglas dbn. Corpus Uteri
antefleksi.
PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
2. Hb :11,3 g/dL
3. HCT : 33,5 %
4. RBC : 3,84
5. WBC : 8,74 /mm3
6. PLT : 378 /mm3
7. HBsAg : -

Pemeriksaan USG 07/03/2014


Hasil : - Uterus AF ukuran 6,4 x 3,1
- Massa hipoecoic ukuran 11 x 9,2
DIAGNOSIS KERJA
Pre Operasi

: Kista Ovarium

Post Operasi

: Kista Ovarium

PENATALAKSANAAN

Observasi KU, Vital Sign dan Perdarahan

Cek laboratorium sebelum operasi: DL, HbSAg, SGOT, SGPT dan


gula darah.

Konsultasi ke bagian Penyakit Dalam dan Anastesia sebelum operasi.

Laparotomi (kistektomi).

Pemeriksaan Patologi Anatomi

TEMUAN INTRAOPERASI
Laparotomi dilakukan pukul 10.00, 9 Maret 2015
Tampak massa kistik dari adenexa kiri ukuran 8 cm, lengket dengan jaringan
sekitar. Saat dibuka keluar pus.
Penatalaksanaan post op
- IVFD RL 18 tpm
- Cefotaxim 3 x 1 gr
- Metronidazol 3 x 1 fls
- Gentamisin 2 x 80 mg
- Ketorolac 1 amp/8 jam
- Kalnex 3 x 1 gr
- Alinamin 3 x 1 ampul
- Pemeriksaan PA

BAB IV
PEMBAHASAN
Laporan kasus ini membahas mengenai kista ovarium pada seorang wanita usia 40
tahun. Berikut pembahasannya.
Kista ovarium adalah kantong berisi material cair atau semi cair yang
berasal dari ovarium. Kista ini dapat berkembang di berbagai usia, dari masa
neonates sampai post menopause. Kebanyakan kista ovarium muncul selama bayi
dan remaja, dimana periode aktif hormone terjadi.7
Pada pasien ini, dari anamnesis hanya diperoleh benjolan pada perut sejak
8 bulan yg lalu. Terdapat gejala nyeri perut tetapi tidak mengganggu aktivitas
pasien. Pendekatan diagnosis untuk massa intraabdomen harus melibatkan lebih
dari satu sistem tubuh yaitu sistema urogenitalia dan sistema digestivus. Secara
umum, gejala subjektif tidak begitu menonjol dan tidak khas, sehingga massa
intraabdomen tersebut harus mempertimbangkan sistem-sistem yang mungkin
menjadi asal tumor tersebut.
Pada kasus ini gejala dan tanda yang dialami pasien adalah adanya
benjolan di daerah perut bagian bawah yang semakin lama semakin membesar.
Pasien merasakan perut semakin berat dan keras karena semakin membesarnya
kista. Pasien juga mengeluh nyeri perut bagian bawah dan menstruasi yang lebih
banyak dari sebelumnya. Pada kista yang sudah membesar dan sampai menekan
diafragma, biasanya pasien juga mengeluh sesak terutama saat sedang duduk,
namun hal ini tidak terjadi pada pasien di kasus ini.
Pada kista yang berukuran besar sering dikeluhkan penurunan nafsu
makan, namun pada pasien ini tidak ditemukan keluhan tersebut. Pada pasien ini
tidak ada keluhan buang air kecil atau besar yang biasanya ada karena penekanan
oleh kista pada vesika urinaria dan rectum, Hal ini kemungkinan karena posisi
kista pada abdomen yang tidak menyebabkan penekanan sehingga tidak
menimbulkan keadaan tersebut di atas.

Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada pasien untuk menentukan diagnosis


kista dalam hal ini adalah pemeriksaan abdomen dan vaginal toucher. Dari
pemeriksaan abdomen teraba massa dengan konsistensi padat kenyal pada perut
region hipogastric hingga iliaka sinistra dengan ukuran 12 x 8 cm, permukaan
licin, berbatas tegas, dapat digerakkan, terdapat nyeri tekan (-). Pada pemeriksaan
vaginal toucher (VT) pada adneksa dan parametrium kiri teraba massa, padat,
tidak dapat digerakkan dan nyeri. Dari pemeriksaan fisik ini kecurigaan terhadap
kista ovarium semakin besar. Tidak didapatkan tanda-tanda peradangan pada
pasien seperti suhu badan tinggi.
Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang dilakukan dapat dibuat
beberapa diferensial diagnosis yaitu tumor-tumor abdomen yang termasuk system
digestivus maupun system urinarius. Tumor yang biasanya terletak di bagian
bawah rongga perut seperti mioma subserosum dan mioma intraligamenter, serta
tumor-tumor bukan dari ovarium yang tertelak di daerah pelvis antara lain ginjal
ektopik, limpa bertangkai dan tumor dari kolon sigmoideum. Namun pemeriksaan
ini belum dapat menegakkan diagnosis pasti tumor ovarium, karena harus
menyingirkan diferensial diagnosis dari kista ovarium sehingga perlu dilakukan
pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus ini
adalah pemeriksaan ultrasonografi (USG) yang menunjukkan kesan kista
ovarium.
Untuk menemukan asal dari tumor pada pasien ini, selain dilakukan
anamnesis dan pemeriksaan fisik,

dilakukan pemeriksaan penunjang berupa

pemeriksaan USG. Pada pemeriksaan USG, ditemukan massa hipoecoic ukuran


11 x 9,2. Maka diagnosis kerja pada pasien ini adalah kista ovarium.
Saat ditemukan adanya massa kistik di ovarium, langkah selanjutnya
adalah menentukan apakah kista tersebut jinak atau ganas. Dari tanda dan gejala
pada pasien, sulit ditentukan secara pasti kista tersebut jinak atau ganas.
munculnya massa pelvis pada masa premenopause harus dipikirkan apakah ganas
atau tidak, karena resiko keganasan pada wanita premenopause hanya 1,5% dan
meningkat menjadi 45% di masa post menopause, tetapi ukuran massa pada

pasien ini >10cm dimana resiko keganasan menurun jika ukuran masssa juga kecil
(<10cm).8
Dari tampakan klinis pasien dimana keadaaan umum baik, tidak
didapatkan gejala yang mengganggu dari system lain misalnya gangguan BAB,
BAK, sesak ataupun penuran berat badan dan nafsu makan,mengarahkan massa
tersebut jinak, tetapi hal tersebut tidak menyingkirkan adanya keganasan dimana
diperlukan investigasi lebih lanjut pada pasien ini.
Kecurigaan keganasan pada massa adnexa dapat dievaluasi dengan suatu
system yaitu Relative Malignancy index. Penghitungannya dapat dilihat pada
table di bawah ini:

System RMI ini dapat menolong memprediksi seorang pasien mengidap


keganasan yang membutuhkan evaluasi lebih lanjut.Pada pasien ini, RMI tidak
dapat dihitung dikarenakan belum ada data mengenai pemeriksaan CA125.

Nilai batas maksimal CA 125 terukur di darah adalah 35 U/ml. Marker ini
sangat berguna untuk memonitoring wanita dalam terapi kanker ovarium, tetapi
sangat sedikit memberikan informasi untuk tujuan diagnostic. Terdapat berbagai
kondisi yang dapat meningkatkan CA 125, baik karena keganasan ataupun bukan
keganasan.8
Pada pasien dilakukan tindakan kistektomi dan adhesiolisis, tampak massa
kistik dari adenexa kiri ukuran 8 cm, lengket dengan jaringan sekitar. Saat dibuka
keluar pus. Kesan yang didapat dari penemuan intraoperatif ini adalah sebuah
kista ovarium jinak, untuk mengkonfirmasi hal tersebut perlu dilakukan lanjutan
yaitu pemeriksaan patologi anatomi (PA).Pemeriksaan ini perlu dilakukan sebagai
penentuan definitif sifat kista abnormal, apakah jinak atau ganas, dengan
mengambil contoh jaringan secara langsung. Hal ini dilakukan setelah tindakan
operasi.
Penatalaksanaan kista ovarium terdiri dari tindakan operatif dan non
operatif. Penatalaksanaan kista pada kasus ini adalah tindakan operatif, ini sudah
tepat dilakukan. Indikasi tindakan bedah yaitu kista yang tidak menghilang dalam
beberapa kali siklus menstruasi atau kista yang memiliki ukuran demikian besar,
kista yang ditemukan pada wanita yang menopause atau kista yang menimbulkan
rasa nyeri luar biasa dan sampai timbul perdarahan. Pada pasien ini tindakan
operatif juga dipertimbangkan atas dasar keberadaan kista ini sudah mengganggu
pasien yakni adanya rasa tidak nyaman pada perut dan nyeri hilang timbul dan
dari segi ukuran, kista ini berukuran besar sehingga jika tidak dilakukan
pengangkatan, massa kista tersebut akan mendesak organ sekitarnya dan semakin
mengganggu pasien.

BAB V
PENUTUP
Simpulan
Kista ovarium merupakan suatu bentuk tumor pada ovarium yang memiliki
berbagai jenis, baik dari jenis neoplastik maupun non neoplastik.Kista tersebut
dapat tumbuh pada masa apapun dalam kehidupan wanita, termasuk pada masa
post menopause.
Temuan klinis berupa massa intraabdomen perlu dipertimabangkan
system-sistem yang mungkin enjadi asal tumor tersebut sehingga dibutukan
pendekatan diagnosis yang baik, baik dari anamnesis, pemeriksaan fisik dan
penunjang.
Penatalaksanaan pasien dengan kista ovarii pada masa post menopause ini
sudah tepat, yakni dengan tindakan operatif dikarenakan massa tumor yang besar
dan keberadaaan tumor yang sudah menimbulkan gejala pada pasien.
Temuan kista pada pasien ini dimana pasien dalam masa post menopause,
harus dipikirkan kemungkinan adanya keganasan sehingga jaringan kista pada
temuan intraoperatif sebaiknya di periksa jaringannya melalui pemeriksaan
histopatologi.

DAFTAR PUSTAKA
1. Wiknjosastro H. Buku Ilmu Kandungan Edisi 2., editor: Saifuddin
A.B,dkk. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.1999: 1314
2. Sjamsuhidayat, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC, l 1027; Jakarta,
1998
3. Mansjoer, Arif dkk. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi 3. Jilid 2. Jakarta:
Media Aesculapius. 2000.
4. Medscape
Reference,

Ovarium

Anatomy,

Available

at

http://emedicine.medscape.com/article/1949171-overview#aw2aab6b3,
Last Update October 3, 2013. Accessed on April 23, 2014.
5. Medscape
Reference,

Ovarian

Cysthttp://emedicine.medscape.com/article/255865-overview#a0101, Last
Update August 19, 2013. Accessed on April 23, 2014.
6. Schorge et al. Williams Gynecology [Digital E-Book] Gynecologic
Oncology Section. Ovarian Tumors and Cancer. McGraw-Hills..2008
7. Jim Baum. Ovarian Pathology. Illustrated Review of obgyn sonography.
Tersedia dalam http://prosono.ieasysite.com/2.2_gyn_pathology_ovary.pdf
8. Giede. Ovarian cyst in Post-menopausal Women: when to worry. Tersedia
dalam

http://www.stacommunications.com/journals/cme/2007/12-

December%202007/021-Case%20In-Ovarian%20Cysts.pdf

CATATAN PERKEMBANGAN
Waktu
28-052014
10.00

Subjektif
Objektif
Pasien
KU : Baik
dating ke
Kes/GCS
:
poliklinik
CM/E4V5M6
RSUP Vital Sign
NTB
TD
:
120/90 mmHg
dengan
N : 90 x/menit
keluhan
terdapat
RR : 20 x/menit
benjolan
To : 36,5oC
di
perut
Perdarahan aktif
bawah
(-)
yang

Pemeriksaan
semakin
abdomen :
lama
Inspeksi : soefl,
semakin
membesar
tanda peradangan
sejak 4
(-), bekas op (-)
bulan yang
Palpasi : TFU
lalu,
tidak
perdarahan
(-), nyeri
terabaTeraba
perut (-),
massa 10x10 cm
gangguan
di regio
BAK dan
hipogastric
BAB (-).

hingga iliaka
sinistra,
permukaan licin,
dapat
digerakkan,
nyeri tekan (-),
konsistensi
kenyal, ikut
bergerak saat
bernafas (+).
Inspekulo: dbn
Pemeriksaan
Dalam (VT) :

Adneksa Parametrium
kanan teraba massa, padat,
tidak dapat digerakkan,
nyeri (-). Adneksa

Assesment
Rencana
Kistoma
Pemeriksaan
ovarium
Lab
dekstra et

Pendaftaran
sinistra
rencana
operasi
laparotomi
(30-05-2014)

Kons
ultasi
ke
bagian
Penyakit
Dalam
dan
Anastesia
sebelum
operasi

KIE
ibu
dan
keluarga

Parametrium kiri Cavum


Douglas dbn. Corpus Uteri
antefleksi. Darah (-)

USG : Kista Ovarium


Sinistra uk 11 x 8,9
cm
Kista Ovarium Dextra
uk 7,3 cm
Kista Ren Dextra uk
10,2 x 7,8 cm

7-102014
13.00

Benjolan
di
perut
bawah (+),
sesak (-),
perdarahan
(-), nyeri
perut (-),
gangguan
BAK dan
BAB (-).

8-10-

Idem

Pemeriksaan Lab
7-10-14 :
HB: 11,1 g/dl
RBC: 4,99 x 10^6/ L
HCT: 36,3 %
MCV: 72,7 fl
MCH: 22,2 pg
MCHC: 30,6 g/dl
WBC: 8,21 x 103/L
PLT: 419 x 103/L
Idem
KU : Baik
Kes/GCS : CM/E4V5M6
Vital Sign
TD : 110/80 mmHg
N : 88 x/menit
RR : 20 x/menit
To : 36,5oC
Perdarahan aktif (-)
Pemeriksaan
EKG
dbn
X-Ray Thorax dbn

KU : Baik

Idem

Renca
na
operasi
laparotomi
(SO)

ACC
Penyakit
Dalam
dan
Anastesia
KIE :
Menasehati
ibu
agar
makan
dan
minum yang
bergizi
Menganjurkan
ibu istirahat
cukup
Ibu berpuasa
mulai pukul
22.00 WITA
Observasi KU,

2014
09.00

Kes/GCS : CM/E4V5M6
Vital Sign
TD : 130/90 mmHg
N : 96 x/menit
RR : 20 x/menit
To : 36,5oC

Perdarahan aktif (-)


-

VS,
perdarahan
Tindakan
operasi
Laparotomi
(salphyngoooforektomi)

11.00

11.15

11.30

14.30

2 jam post
KU : Baik
laparotomi
Kes/GCS : CM/E4V5M6
(SOS)
Vital Sign
TD : 100/60 mmHg
N : 104 x/menit
RR : 16 x/menit
To : 36,1oC

Perdarahan aktif (-)

Urine Output : 25
cc/jam

9-102014
08.00

Nyeri luka
operasi

KU : Baik
Kes/GCS : CM/E4V5M6
Vital Sign
TD : 120/60 mmHg
N : 80 x/menit
RR : 18 x/menit
To : 37,1oC

Perdarahan aktif (-)

BAK (+) lancar

Terdapat massa kistik


multilokuler di ovarium
sinistra dengan ukuran 12x10
cm, septal (+), perlengketan
(-), tuba sinistra dbn, uterus
dbn..
Perdarahan 400 cc
-

Idem
Kistoma
ovarii
dekstra
multilokuler
serous

Idem

Hari
pertama
post
laparotomi
(SOS)

Operasi
Dimulai
Dilakukan
tindakan
operasi
Laparotomi
(salphyngoooforektomi
sinistra)
Operasi
Selesai
Observasi KU,
VS,
Perdarahan
dan UO
Terapi :
Ampicillin
1gr/8jam
Tab
Asam
Mefenamat
3x500mg
KIE :
Menganjurkan
ibu istirahat
total
Observasi KU,
VS,
Perdarahan
dan UO
Terapi :
Ampicillin
1gr/8jam
As.Mefenamat
3x1
SF 1x1
KIE :
Menganjurkan
ibu istirahat
cukup
dan

10-102014
08.00

Nyeri luka
operasi
berkurang

KU : Baik
Kes/GCS : CM/E4V5M6
Vital Sign
TD : 120/80 mmHg
N : 92 x/menit
RR : 18 x/menit
To : 36,5oC

Perdarahan aktif (-)

BAK (+) lancar

Hari kedua
post
laparotomi
(SOS)

11-102014

Nyeri luka
operasi
berkurang

KU : Baik
Kes/GCS : CM/E4V5M6
Vital Sign
TD : 130/80 mmHg
N : 96 x/menit
RR : 18 x/menit
To : 36,8oC

Perdarahan aktif (-)

BAK (+) lancar

Hari ketiga
post
laparotomi
(SOS)

mobilisasi
Observasi KU,
VS,
Perdarahan
dan UO
Terapi :
Ampicillin
1gr/8jam
As.Mefenamat
3x1
KIE :
Menganjurkan
ibu istirahat
cukup
dan
mobilisasi
Observasi KU,
VS,
Perdarahan
dan UO
Terapi :
Ampicillin
1gr/8jam
As.Mefenamat
3x1
Pasien boleh
pulang
KIE :
Menganjurkan
ibu istirahat
cukup
Menganjurkan
ibu
untuk
melakukan
kontrol
ke
poliklinik
RSUP-NTB
dan membawa
hasil
pemeriksaan
PA