Anda di halaman 1dari 41

SKENARIO 2

ANYANG-ANYANGAN
Seorang perempuan muda, usia 23 tahun, menikah, datang ke dokter puskesmas
dengan keluhan nyeri saat buang air kecil dan anyang-anyangan berulang. Keluhan ini
dirasakan sejak dua hari yang lalu. Dalam pemeriksaan fisik tidak ditemukan kelainan
kecuali nyeri tekan supra pubik. Pada pemeriksaan mikroskopis urin didapatkan
peningkatan leukosit. Kemudian pasien disarankan untuk melakukan pemeriksaan
kultur urin.

Permasalahan
1. Mengapa leukosit meningkat dan urin keruh ?
Dikarenakan adanya peradangan. Urin keruh akibat bakteri yang
mengendap di urin.
2. Mengapa pasien nyeri pada saat buang air kecil ?
Karena urin melewati bagian yang terkena inflamasi
3. Apakah factor resiko penyakit ini ?
Wanita lebih mudah terkena isk kareana posisi anatomi uretra dekat
dengan rektum
4. Mengapa nyeri tekan di supra pubic ?
Karena ada perdangan di vesika urinaria
5. Mengapa harus kultur urin ? pemeriksaan lain ?
Karena kultur urin adalah gold standart, pemeriksaan lain bisa dengan
urinalisis
6. Apa diagnosis penyakit ini ?
Infeksi saluran kemih bawah
7. Apakah penyakit ini menular ?
Bisa menular melalui hubungan seksual
8. Apa penyebab utama penyakit ini ?
Bakteri : E.coli dan S.aureus
9. Bagaimana pandangan islam tentang berkemih ?
Sucikan sampai warna dan bau hilang
10. Bagaimanakah penatalaksaan penyakit ini
ISK atas : antibiotic intravena
ISK bawah : antibiotic oral
11. Apakah komplikasi penyakit ini ?
Gagal ginjal
12. Bagaimana cara mencegah penyakit ini ?
Penggantian kateter dengan teratur dan jaga kebrsihan uretra

Hipotesis

Seorang pasien datang dengan keluhan nyeri saat buang air kecil dan nyeri di
supra pubic. Dokter menganjurkan untuk melakukan kultur urin dan urinalisis. Dari
pemeriksaan didapatkan leukosit meningkat dan ditemukan bakteri E.coli dan
S.aureus. Pasien di diagnosis infeksi saluran kemih bawah. Penyakit ini bisa di obati
dengan pemberian antibiotic oral. Wanita menjadi factor resiko dari penyakit ini
disebabkan letak uretra dan rectum yang berdekatan, maka dari itu penyakit ini dapat
menular melalui hubungan seksual. Penyakit ini dapat dicegah dengan menjaga
kebersihan uretra mengganti penggunaan kateter dengan teratur menyucikan urin
sampai warna dan bau hilang.

SASARAN BELAJAR
LI 1.

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Kemih Bawah


LO 1.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Saluran Kemih Bawah
LO 1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Saluran Kemih Bawah

LI 2.

Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Berkemih

LI 3.

Memahami dan Menjelaskan Infeksi Saluran Kemih


LO 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Infeksi Saluran Kemih
LO 3.2. Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi Infeksi Saluran Kemih
LO 3.3. Memahami dan Menjelaskan Etiologi dan Faktor Resiko Infeksi
Saluran Kemih
LO 3.4. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih
LO 3.5. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi dan Pathogenesis Infeksi
Saluran Kemih
LO 3.6
Kemih

Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Infeksi Saluran

LO 3.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding


Infeksi Saluran Kemih
LO 3.8. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Infeksi Saluran Kemih
LO 3.9. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Infeksi Saluran Kemih
LI 4.

Memahami dan Menjelaskan Terapi ISK


LO 4.1. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana
LO 4.2. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan

LI 5.

Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam Tentang Salisil Baul

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Kemih Bawah


LO 1.1. Memahami dan Menjelaskan Makroskopik Saluran Kemih
Bawah

A. Vesica Urinaria (Kandung Kemih)


Vesica urinaria terletak tepat di belakang pubis di dalam cavitas pelvis.
Vesica urinaria cukup baik untuk menyimpan urine. Vesica urinaria mempunyai
dinding otot yang kuat. Bentuk dan batas-batasnya sangat bervariasi sesuai dengan
jumlah urin di dalamnya. Vesica urinaria yang kosong pada dewasa seluruhnya
terletak di dalam pelvis; bila vesica urinaria terisi, dinding atasnya terangkat sampai
masuk regio hypogastricum. Pada anak kecil, vesica urinaria yang kosong menonjol
di atas apertura pelvis superior; kemudian bila cavitas melebar, vesica urinaria
terbenam di dalam pelvis untuk menempati posisi seperti pada orang dewasa.
Vesica urinaria yang kosong berbentuk piramid, mempunyai apex, basis,
dan sebuah facies superior serta dua buah facies inferolateralis; juga mempunyai
collum.
Vesica Urinaria mempunyai 4 bagian, yaitu :
Apex vesicale, dihubungkan ke cranial oleh urachus sampai ke umbilicus
membentuk ligamentum vesico umbilicale mediale.
Corpus vesicae, antara apex dan fundus.
Fundus (basis) vesicae, sesuai dengan basis.
Cervix vesicae, sudut caudal mulai uretra dengan ostium uretra internum.
Lapisan dalam vesica urinaria pada muara masuknya ureter terdapat plica
ureterica yang menonjol. Ketika VU ini kosong maka plica ini terbuka sehingga
urin dapat masuk dari ginjal melalui ureter, sedangkan ketika VU penuh maka
plica ini akan tertutup karena terdorong oleh urin sehingga urin tidak akan naik ke
atas ureter.
Membran mukosa VU pada waktu kosong membentuk lipatan yang
sebagian menghubungkan kedua ureter membentuk plica interureterica. Bila
dihubungkan dengan ostium uretra internum maka akan membentuk segitiga yang
disebut trigonum vesicae (litaudi). Lapisan otot VU terdiri dari 3 otot polos
membentuk trabekula yang disebut m.Destrusor vesicae yang akan menebal di
leher VU membentuk sfingter vesicae.

Gambar 1-1. Vesica urinaria dan prostata, dilihat dari ventral

Sumber :www.inkontinenz.bbraun.de
Perdarahan Vesica Urinaria
Berasal dari Aa.Vesicalis superior dan A.vesicalis inferior cabang dari A.iliaca
interna, sedangkan pembuluh baliknya melalui V.vesicalis menyatu disekeliling VU
membentuk plexus dan akan bermuara ke V.iliaca interna .
Persarafan Vesica Urinaria
VU dipersarafi oleh cabang-cabang plexus hypogastricus inferior yaitu :
a. Serabut-serabut post ganglioner simpatis glandula para vertebralis L1-2
b. Serabut-serabut preganglioner parasimpatis N.S2,3,4 melalui N.splancnicus
dan plexus hypogastricus inferior mencapai dinding vesica urinaria.
Saraf simpatis menghambat kontraksi musculus detrusor vesicae dan merangsang
penutupan musculus sphincter vesicae. Saraf parasimpatis merangsang kontraksi
musculus detrusor vesicae dan menghambat kerja musculus sphincter vesicae.

Gambar 1-2. Vesica urinaria dan prostata, dilihat dari dorsal

B. Urethra
Urethra masculina

Urethra masculina panjangnya sekitar 15-20 cm


dan terbentang dari collum vesicae urinaria
sampai ostium urethra externum pada glans
penis. Urethra masculina dibagi menjadi tiga
bagian: (1) pars prostatica, (2) pars
membranacea, dan (3) pars spongiosa.
Urethra pars prostatica panjangnya 3 cm dan
berjalan melalui prostat dari basis sampai
apexnya. Bagian ini merupakan bagian yang
paling lebar dan yang paling dapat dilebarkan
dari urethra. Pada bagian ini bermuara ductus
ejaculatorius dan saluran keluar kelenjar
prostat.
Urethra pars membranacea panjangnya sekitar
1,25 cm, terletak di dalam diaphragma
urogenitale, dan dikelilingi oleh musculus
sphincter urethrae. Bagian ini merupakan bagian urethra yang paling tidak bisa
dilebarkan.
Sumber :www.prostatitis.org
Urethra pars spongiosa panjangnya sekitar 15,75 cm dan dibungkus di dalam
bulbus dan corpus spongiosum penis. Ostium urethrae externum merupakan bagian
yang tersempit dari seluruh urethra. Bagian urethra yang terletak di dalam glans penis
melebar membentuk fossa navicularis (fossa terminalis). Glandula bulbourethralis
bermuara ke dalam urethra pars spongiosa distal dari diaphragma urogenitale.

Urethra feminina
Panjang urethra feminina + 3,8 cm. Urethra terbentang dari collum vesicae urinaria
sampai ostium urethrae externum yang bermuara ke dalam vestibulum sekitar 2,5 cm
distal dari clitoris. Urethra menembus musculus sphinter urethrae dan terletak tepat di
depan vagina. Di samping ostium urethrae externum, terdapat muara kecil dari ductus
glandula paraurethralis. Urethra dapat dilebarkan dengan mudah.

Gambar 1-4. Urethra feminina


Vaskularisasi Urethra
7

Arteria dorsalis penis dan arteria bulbourethralis yang merupakan cabang dari
arteria pudenda interna.
Persarafan Urethra
Persarafan urethra diurus oleh nervus dorsalis penis yang merupakan cabangcabang dari nervus pudendus.
LO 1.2. Memahami dan Menjelaskan Mikroskopik Saluran Kemih Bawah
A. Vesika Urinaria
Tunika mukosa VU dilapisi oleh epitel transisional dengan ketebalan 56 lapisan, namun pada saat sel meregang menjadi 2-3 lapisan. Pada permukaan sel
dapat ditemukan sel payung. Tunika muskularisnya terdiri dari 3 lapisan otot yaitu
bagian luar terdapat otot polos tersusun secara longitudinal, bagian tengan terdapat
otot polos tersusun secara sirkular dan bagian dalam tersusun otot polos tersusun
secara longitudinal.

Sumber:www.wikiskripta.eu
B. Urethra
- Uretra Wanita
Dilapisi oleh
epiter berlapis gepeng
dan terkadang ada
yang dilapisi oleh
epitel
bertingkat
toraks.
Ditengahtengah uretra terdapat
sfingter eksterna /
muscular bercorak.
- Uretra Pria
Pada pars prostatica
dilapisi oleh epitel
transisional. Pada pars membranaceae dilapisi oleh epitel bertingkat
toraks. Pada pars spongiosa umumnya dilapisi oleh epitel bertingkat
torak namun diberbagai tempat terdapat epitel berlapis gepeng.
8

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Berkemih


PROSES BERKEMIH
Setelah dibentuk ginjal, urin disalurkan melalui ureter ke kandung kemih.
Kontraksi otot peristaltik otot polos dalam dinding uretra juga mendorong urin
bergerak dari ginjal menuju kandung kemih. Ureter menembus dinding kandung
kemih secara oblik sebelum bermuara di rongga kandung kemih. Susunan anatomis ini
mencegah aliran balik urin dari kandung kemih ke ginjal ketika terjadi peningkatan
tekanan di kandung kemih.
Ketika kandung kemih terisi, ujung ureter yang terdapat di dinding kandung kemih
tertekan dan menutup. Tapi urin masih tetap bisa masuk ke kandung kemih, karena
kontraksi ureter menghasilkan tekanan yang cukup besar untuk mendorong urin
melewati saluran yang tertutup. Lapisan epitel kandung kemih (epitel transisional)
mampu meningkatkan atau mengurangi luas permukaan melalui proses teratur daur
membran saat kandung kemih terisi atau kosong.

Kandung kemih terisi permukaan epitel meluas dengan cara vesikel-vesikel


sitoplasma disisipkan ke dalam membran permukaan melalui proses
eksositosis.

Isi kandung kemih keluar vesikel-vesikel ditarik melalui proses eksositosis.

Kandung kemih harus memiliki kapasitas penyimpanan yang cukup, sehingga urin
tidak perlu terus menerus dikeluarkan.
Otot polos kandung kemih banyak mendapatkan persarafan parasimpatis, yang apabila
dirangsang akan menyebabkan kontraksi kandung kemih. Ketika m.detrussor vesicae
berkontraksi terjadi perangsangan urin.
Pintu keluar kandung kemih dijaga 2 sfingter:
Sfingter uretra interna, terdiri dari otot polos dan berada di bawah kontrol
involunter. Sewaktu kandung kemih melemas/ rileks, susunan anatomis uretra
interna menutupi pintu keluar kandung kemih.
Sfingter uretra eksterna, diperkuat seluruh diafragma pelvis, dipersarafi neuron
motorik, di bawah kesadaran karena merupakan otot rangka. Dapat dengan
sengaja dikontraksikan untuk mencegah pengeluaran urin sewaktu kandung
kemih kontraksi & sfingter uretra interna terbuka.
Daya tampung kandung kemih berkisar 250-400ml, semakin banyak terisi urin
maka volume di dalam kandung kemih juga semakin besar dan semakin besar pula
tingkat pengaktifan reseptor regang.
Aktivasi reseptor regangke serat-serat aferenkorda spinalisantar
neuronrangsang parasimpatishambat neuron motorik yang persarafi sfingter
eksterna, kedua sfingter terbuka dan urin terdorong keluar menuju uretra karena gaya
kontraksi kandung kemih.
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Infeksi Saluran Kemih
LO 3.1. Memahami dan Menjelaskan Definisi Infeksi Saluran Kemih

Infeksi saluran kemih adalah suatu infeksi yang melibatkan ginjal,


ureter, buli-buli, ataupun uretra. Infeksi saluran kemih (ISK) adalah istilah umum yang
menunjukkan keberadaan mikroorganisme (MO) dalam urin.
LO 3.2. Memahami dan Menjelaskan Etiologi dan Faktor Resiko Infeksi
Saluran Kemih
Penyebab terbanyak adalah bakteri gram-negatif termasuk bakteri yang
biasanya menghuni usus kemudian naik ke sistem saluran kemih. Dari gram negatif
tersebut, ternyata Escherichia coli menduduki tempat teratas kemudian diikuti oleh :
a. Escherichia Coli: 90 % penyebab ISK uncomplicated (simple)
b. Pseudomonas, Proteus, Klebsiella : penyebab ISK complicated
c. Enterobacter, staphylococcus epidemidis, enterococci, dan-lain-lain.
Jenis kokus gram positif lebih jarang sebagai penyebab ISK sedangkan Enterococci
dan Staphylococcus aureus sering ditemukan pada pasien dengan batu saluran kemih,
lelaki usia lanjut dengan hiperplasia prostat atau pada pasien yang menggunakan
kateter urin. Demikian juga dengan Pseudomonas aeroginosa dapat menginfeksi
saluran kemih melalui jalur hematogen dan pada kira-kira 25% pasien demam tifoid
dapat diisolasi salmonella dalam urin. Bakteri lain yang dapat menyebabkan ISK
melalui cara hematogen adalah brusella, nocardia, actinomises, dan Mycobacterium
tubeculosa.
Candida sp merupakan jamur yang paling sering menyebabkan ISK terutama pada
pasien-pasien yang menggunakan kateter urin, pasien DM, atau pasien yang mendapat
pengobatan antibiotik berspektrum luas. Jenis Candida yang paling sering ditemukan
adalah Candida albican dan Candida tropicalis. Semua jamur sistemik dapat menulari
saluran kemih secara hematogen.
Tabel 1. Persentase biakan mikroorganisme penyebab ISK
No.

Mikroorganisme

Persentase biakan
(%)

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Escherichia coli
Klebsiela sp. atau Enterobacter sp.
Proteus sp.
Pseudomonas aeroginosa
Staphylococcus epidermidis
Enterococci sp.
Candida albicans
Staphylococcus aureus

50-90
10-40
5-10
2-10
2-10
2-10
1-2
1-2

A. Enterobacteriacea
Enterobacteriaceae adalah kuman yang hidup diusus besar manusia dan
hewan, tanah, dan air. Enterobacteriaceae adalah kuman berbentuk batang pendek
dengan ukuran 0,5 um x 3,0 um negatif gram tidak berspora, gerak positif dengan
flagel peritrik (Salmonella, Proteus, Escherichia) atau gerak negatif (Shigella,
Klebsiella), mempunyai kapsul/selubung yang jelas seperti pada Klebsiella atau
hanya berupa selubung tipis pada Escherichia atau tidak berkapsul sama sekali.
10

Sebagian besar spesies mempunyai fili atau fimbriae yang berfungsi sebagai alat
perlekatan dengan bakteri lain.
Contoh Enterobacteria yang menyebabkan infeksi saluran kemih
1. Escherichia coli
Morfologi
Kuman ini berbentuk batang pendek, gemuk, berukuran 2,4 u x 0,4 sampai
0,7 u; gram-negatif, tak bersimpai, bergerak aktif dan tidak berspora.
Patogenisitas
Eschericia coli adalah penyebab yang paling lazim dari infeksi saluran
kemih dan merupakan penyebab infeksi saluran kemih pertama pada kira-kira 90%
wanita muda. Gejala dan tanda-tandanya antara lain sering kencing, disuria,
hematuria, dan puria. Nyeri pinggang berhubungan dengan infeksi saluran kemih
bagian atas. Tak satupun dari gejala atau tanda-tanda ini bersifat khusus untuk
bakteri E. coli. Infeksi saluran kemih dapat mengakibatkan bakterimia dengan
tanda-tanda khusus sepsis.
E.coli yang nefropatogenik secara khas menghasilkan hemolisin.
Kebanyakan infeksi disebabkan oleh E.coli dengan sejumlah kecil tipe antigen O.
Antigen K tampaknya penting dalam patogenesis infeksi saluran atas. Pieloneftritis
berhubungan dengan jenis philus khusus, philus P yang mengikat zat golongan
darah P.
Infeksi saluran kemih misalnya sistitis, pielitis dan pielonefritis. Infeksi
dapat terjadi akibat sumbatan saluran kemih karena adanya pembesaran prostat
dan kehamilan. E.coli yang biasa menyebabkan infeksi saluran kemih ialah jenis
01, 2, 4, 6, dan 7. Jenis-jenis pembawa antigen K dapat menyebabkan timbulnya
piolonefritis.
2. Klebsiella
Klebsiella pneumoniae kadang-kadang menyebabkan infeksi saluran kemih
dan bakteremia dengan lesi fokal pada pasien yang lemah. Ditemukan pada selaput
lendir saluran napas bagian atas, usus dan saluran kemih dan alat kelamin. Tidak
bergerak, bersimpai, tumbuh pada perbenihan biasa dengan membuat koloni
berlendir yang besar yang daya lekatnya berlainan.
3. Enterobacter aerogenes
Organisme ini mempunyai simpai yang kecil, dapat hidup bebas seperti
dalam saluran usus, serta menyebabkan saluran kemih dan sepsis. Infeksi saluran
kemih terjadi melalui infeksi nosokomial.
4. Proteus
Kuman ini adalah kuman patogen oportunis. Dapat menyebabkan infeksi
saluran kemih atau kelainan bemanah seperti abses, infeksi luka, infeksi telinga
atau saluran napas. Spesies proteus dapat menyebabkan infeksi pada manusia
hanya bila bakteri itu meninggalkan saluran usus. Spesies ini ditemukan pada
infeksi saluran kemih dan menyebabkan bakterimia, pneumonia dan lesi fokal
pada penderita yang lemah atau pada penderita yang menerima infus intravena.
P.mirabilis menyebabkan infeksi saluran kemih dan kadang-kadang infeksi
lainnya. Karena itu, pada infeksi saluran kemih oleh Proteus urine bersifat basa,
sehingga memudahkan pembentukan batu dan praktis tidak mungkin
mengasamkannya. Pergerakan cepat oleh Proteus mungkin ikut berperan dalam
invasinya terhadap saluran kemih. Spesies Proteus menghasilkan urease
mengakibatkan hidrolisis urea yang cepat dengan pembebasan amonia.
B. Pseudomonas aeroginosa
11

P.aeruginosa bersifat patogen bila masuk ke daerah yang fungsi pertahanannya


abnormal, misalnya bila selaput mukosa dan kulit "robek" karena kerusakan kulit
langsung. Pada pemakaian kateter intravena atau kateter air kemih atau bila terdapat
netropenia, misalnya pada kemoterapi kanker. Kuman melekat dan mengkoloni
selaput mukosa atau kulit dan menginvasi secara lokal dan menimbulkan penyakit
sistemik. Proses ini dibantu oleh phili, enzim dan toksin.
C. Enterococcus faecalis
Terdapat sedikitnya 12 spesies enterokokus. Enterococcus faecalis merupakan yang
paling sering dan menyebabkan 85-90% infeksi enterokokus. Enterokokus adalah
yang paling sering menyebabkan infeksi nosokomial.
Faktor predisposisi yang menaikkan prevalensi ISK :
1. Tidak mengosongkan kandung kemih segera, karena bisa menyebabkan
multiplikasi bakteri, dan bakteri tinggal di vesika urinaria.
2. Saat menggunakan tampon, atau saat melakukan aktivitas seksual, bisa saja
bakteri terdorong masuk ke uretra wanita bagian dalam
3. Menyebarnya bakteri dari anus saat membilas dari belakang ke depan, yang
seharusnya dari depan ke belakang
4. Saat mengganti kateter, bisa terjadi kerusakan
5. Bendungan di sistem urinarius yang menghalangi pengosongan kandung kemih
Anomali kongenital

Batu saluran kemih

Oklusi ureter (sebagian atau total)

6. Pada wanita menopause, saluran dari vesika urinaria ke uretra menjadi tipis
karena kekurangan hormone estrogen. Hal ini menyebabkan mudahnya terjadi
kerusankan dan infeksi. Wanita juga memproduksi mucus lebih sedikit saat
menopause, dan tanpa mucus ini, bakteri bisa bermultiplikasi dengan mudahnya.
Tapi bila wanita menopause melakukan hormone replacement therapy (HRT)
maka kemungkinan ISK lebih kecil
7. Pada wanita, kerusakan fisik dan memar bisa disebabkan aktivitas seksual yang
sering dan kuat, dan menyebabkan honeymoon cystitis .

Prevalensi penyebab ISK pada usia lanjut, antara lain:


o Sisa urin dalam kandung kemih yang meningkat akibat pengosongan kandung
kemih yang kurang efektif
o Mobilitas menurun
o Nutrisi yang sering kurang baik
o Sistem imunitas menurun, baik seluler maupun humoral
o Adanya hambatan pada aliran urin
o Hilangnya efek bakterisid dari sekresi prostat
LO 3.3.

Memahami dan Menjelaskan Epidemiologi Infeksi Saluran

Kemih
12

Dalam setiap tahun, 15% perempuan mengalami ISK. Kejadian ISK


makin sering terjadi pada masa kehamilan. Prevalensi ISK di masyarakat makin
meningkat seiring dengan meningkatnya usia. Pada usia 40 60 tahun mempunyai
angka prevalensi 3,2 %. Sedangkan pada usia sama atau diatas 65 tahun kira-kira
mempunyai angka prevalensi ISK sebesar 20%. Infeksi saluran kemih dapat mengenal
baik laki-laki maupun wanita dari semua umur baik anak-anak, remaja, dewasa
maupun lanjut usia.Sekitar 15% wanita, mengalami paling sedikit satu kali serangan
akut inferksi saluran kemih selama hidupnya. Sebagian besar infeksi tersebut adalah
asimtomatik, angka kejadiannya pada wanita hamil adalah 5%-6% dan meningkat
sampai 10% pada resiko tinggi.
Namun pada masa neonatus , ISK lebih banyak terdapat pada bayi laki-laki
(2,7%) yang tidak menjalani sirkumsisi daripadi bayi perempuan (0,7%) . Dengan
bertambahnya usia insiden ISK terbalik, yaitu pada masa usia sekolah, ISK pada anak
perempuan 36% sedangkan pada nak laki-laki 1,1%. Insiden ISK ini pada usia remaja
anak perempuan meningkat sampai 3,3 sampai 5,8%. Bakteriuria asimtomatik pada
wanita usia 18-40 tahun adalah 5-6% dan angka tersebut meningkat menjadi 20% pada
wanita usia lanjut.

LO 3.4. Memahami dan Menjelaskan Klasifikasi Infeksi Saluran Kemih


Infeksi saluran kemih dapat dibagi menjadi Cystitis dan Pielonefritis. Cystitis
adalah infeksi kandung kemih, yang merupakan tempat tersering terjadinya infeksi.
Pielonefritis adalah infeksi pada ginjal itu sendiri. Pielonefritis dapat bersifat akut atau
kronik. Pielonefritis akut biasanya terjadi akibat infeksi kandung kemih asendens.
Pielonefritis akut juga dapat terjadi melalui infeksi hematogen.
Pielonefritis kronik dapat terjadi akibat infeksi berulang, dan biasanya dijumpai
pada individu yang mengidap batu, obstruksi lain, atau refluks vesikoureter. Pada
pielonefritis kronik, terjadi pembentukan jaringan parut dan obstruksi tubulus yang
luas. Kemampuan ginjal untuk memekatkan urin menurun karena rusaknya
tubulus-tubulus. Glomerulus biasanya tidak terkena, hal ini dapat menimbulkan
gagal ginjal kronik.
Cystitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh
infeksi asenden dari uretra. Penyebab lainnya mungkin aliran balik urine dari uretra
kedalam kandung kemih. Kontaminasi fekal atau penggunaan kateter atau
sistoskop.
Beberapa penyelidikan menunjukkan 20% dari wanita-wanita dewasa tanpa
mempedulikan umur setiap tahun mengalami disuria dan insidennya meningkat
sesuai pertumbuhan usia dan aktifitas seksual, meningkatnya frekwensi infeksi
saluran perkemihan pada wanita terutama yang gagal berkemih setelah melakukan
hubungan seksual dan diperkirakan pula karena uretra wanita lebih pendek dan
tidak mempunyai substansi anti mikroba seperti yang ditemukan pada cairan
seminal.
Infeksi ini berkaitan juga dengan penggunaan kontrasepsi spermasida-diafragma
karena kontrsepsi ini dapat menyebabkan obstruksi uretra parsial dan mencegah
pengosongan sempurna kandung kemih. Cistitis pada pria merupakan kondisi
sekunder akibat bebarapa faktor misalnya prostat yang terinfeksi, epididimitis, atau
batu pada kandung kemih.
Cystitis dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu;
13

Cystitis primer,merupakan radang yang mengenai kandung kemih radang ini dapat
terjadi karena penyakit lainseperti batu pada kandung kemih, divertikel, hipertropi
prostat dan striktura uretra.
Cystitis sekunder, merukan gejala yang timbul kemudian sebagai akibat dari
penyakit primer misalnya uretritis dan prostatitis

A. Klasifikasi berdasarkan etiologi

Sistitis karena infeksi bakteri

Infeksi saluran kemih biasanya terjadi saat bakteri dari luar tubuh masuk ke dalam
saluran urinaria melalui uretra dan mulai bermultiplikasi. Kebanyak dari kasus sistitis
disebabkan oleh bakteri eschericia coli.
Tipe infeksi
Dua tipe utama dari tipe infeksi yang terjadi di sistem urinaria adalah :
o Infeksi komunitas. Infeksi ini terjadi saat seseorang tidak dalam penanganan
fasilitas medis. Pada infeksi ini rasio wanita lebih banyak dari laki-laki
o Infeksi nosokomial. Infeksi ini terjadi pada pasien dalam penanganan fasilitas
medis seperti rumah sakit atau ruang parawatan. Biasanya terjadi pada pasien
dengan pemasangan kateter
o Bakteri agen infeksi :
o Escherichia (E.) coli adalah bakteri yang paling sering menyebabkan sistitis
tanpa komplikasi pada wanita. Terutama para wanita muda. E. coli sebenarnya
adalah flora normal di usus. Apabila ia menyebar ke daerah vagina ia dapat
berkolonisasi dan menyebabkan infeksi. Penyebaran E. coli biasanya terjadi
pada wanita yang membersikan kemaluannya dari belakang ke depan setelah
berkemih atau setelah aktivitas seksual
o Staphylococcus saprophyticus Persentasenya 5 - 15% of sebagai penyebab
infeksi saluran kemih, kebanyakan pada wanita muda
o Klebsiella , Enterococci bacteria, and Proteus mirabilis Biasanya ditemukan
pada wanita dewasa
o Ureaplasma urealyticum and Mycoplasma hominis jarang menyebabkan ISK
Sistitis noninfeksius
Meskipun sistitis umumnya disebabkan oleh infeksi bakteri, ada banyak faktor
noninfeksius yang meyebabkan saluran kemih mengalami inflamasi. Diantaranya
adalah :
o

Interstitial cystitis. Penyebab dari inflamasi kronik saluran kemih ini masih
belum dapat diketahui. Kebanyakan diderita oleh wanita dan merupakan penyakit
yang sulit didiagnosis dan diobati

Drug-induced cystitis. Beberapa jenis obat, biasanya obat-obat kemoterapi


seperti cyclophosphamide and ifosfamide, dapat menyebabkan inflamasih dari
saluran kemih saat degradasi komponen obat tersebut keluar dari tubuh

14

Radiation cystitis. Terapi radiasi terutama di daerah pelvis dapat menyebabkan


inflamsi karena menyebabkan terjadinya perubahan jaringan pada saluran kemih

Foreign-body cystitis. Pemasangan kateter yang lama dapat menjadi


predisposisi infeksi bakteri dan kerusakan jaringan dimana kedua hal ini dapat
menimbukan inflamasi

Chemical cystitis. Beberapa orang dengan tertentu yang hipersensitivitas


terhadap kandungan kimia pada obat-obat perbersih daerah kewanitaan, sabun
mandi dsb dapat menyebabkan terjadinya reaksi alergi sehingga menimbulkan
inflamasi

Cystitis associated with other conditions. Sistisis dapat disebabkan oleh


komplikasi dari penyakit lain seperti kanker ginekologi, kelainan peeradangan
pelvis, endometriosis, Crohn's disease, diverticulitis, lupus or tuberculosis.

B. Secara Anatomi
ISK bawah, presentasi klinis ISK bawah tergantung dari gender.
Perempuan
o Sistitis adalah presentasi klinis infeksi saluran kemih disertai bakteriuria
bermakna
o Sindroma uretra akut (SUA), adalah presentasi klinis sistitis tanpa ditemukan
mikroorganisme (steril).
Laki-laki
o Presentasi ISK bawah pada laki-laki dapat berupa sistitis, prostatitis,
epidimidis, dan uretritis.
ISK atas
Pielonefritis akut (PNA), adalah proses inflamasi parenkim ginjal yang
disebabkan oleh infeksi bakteri.
Pielonefritis kronis (PNK), mungkin terjadi akibat lanjut dari infeksi bakteri
berkepanjangan atau infeksi sejak masa kecil. Obstruksi saluran kemih serta
refluk vesikoureter dengan atau tanpa bakteriuria kronik sering diikuti
pembentukan jaringan ikat parenkim ginjal yang ditandai pielonefritis kronik
yang spesifik.

Klinis
o ISK Sederhana/ tak berkomplikasi, yaitu ISK yang terjadi pada perempuan
yang tidak hamil dan tidak terdapat disfungsi truktural ataupun ginjal.
o ISK berkomplikasi, yaitu ISK yang berlokasi selain di vesika urinaria, ISK
pada anak-anak, laki-laki, atau ibu hamil.

Infeksi Saluran Kemih (ISK) pada usia lanjut, dibedakan menjadi:


1. ISK uncomplicated (simple)
ISK sederhana yang terjadi pada penderita dengan saluran kencing tak baik,
anatomic maupun fungsional normal. ISK ini pada usi lanjut terutama
mengenai penderita wanita dan infeksi hanya mengenai mukosa superficial
kandung kemih.
2.
ISK complicated
Sering menimbulkan banyak masalah karena sering kali kuman penyebab sulit
diberantas, kuman penyebab sering resisten terhadap beberapa macam
15

antibiotika, sering terjadi bakterimia, sepsis dan shock. ISK ini terjadi bila
terdapat keadaan-keadaan sebagi berikut:
a.
Kelainan abnormal saluran kencing, misalnya batu, reflex vesiko
uretral obstruksi, atoni kandung kemih, paraplegia, kateter kandung
kencing menetap dan prostatitis.
b.
Kelainan faal ginjal: GGA maupun GGK.
c.
Gangguan daya tahan tubuh
Infeksi yang disebabkan karena organisme virulen sperti prosteus spp yang
memproduksi urease.

LO 3.5. Memahami dan Menjelaskan Patofisiologi dan Pathogenesis


Infeksi Saluran Kemih
Bakteri masuk ke saluran kemih manusia dapat melalui beberapa cara yaitu :
- Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat infeksi terdekat
- Hematogen
- Limfogen
- Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi
Dua jalur utama masuknya bakteri ke saluran kemih adalah jalur hematogen dan
asending, tetapi asending lebih sering terjadi.
1. Infeksi hematogen (desending)
Infeksi hematogen kebanyakan terjadi pada pasien dengan daya tahan tubuh
rendah, karena menderita suatu penyakit kronik, atau pada pasien yang sementara
mendapat pengobatan imunosupresif. Penyebaran hematogen dapat juga terjadi
akibat adanya fokus infeksi di salah satu tempat. Contoh mikroorganisme yang
dapat menyebar secara hematogen adalah Staphylococcus aureus, Salmonella sp,
Pseudomonas, Candida sp., dan Proteus sp.
Ginjal yang normal biasanya mempunyai daya tahan terhadap infeksi E.coli karena
itu jarang terjadi infeksi hematogen E.coli. Ada beberapa tindakan yang
mempengaruhi struktur dan fungsi ginjal yang dapat meningkatkan kepekaan
ginjal sehingga mempermudah penyebaran hematogen. Hal ini dapat terjadi pada
keadaan sebagai berikut :
Adanya bendungan total aliran urin
Adanya bendungan internal baik karena jaringan parut maupun terdapatnya
presipitasi obat intratubular, misalnya sulfonamide
Terdapat faktor vaskular misalnya kontriksi pembuluh darah
Pemakaian obat analgetik atau estrogen
Pijat ginjal
Penyakit ginjal polikistik
Penderita diabetes melitus
2. Infeksi asending

16

a. Kolonisasi uretra dan daerah introitus vagina


Saluran kemih yang normal umumnya tidak mengandung mikroorganisme
kecuali pada bagian distal uretra yang biasanya juga dihuni oleh bakteri
normal kulit seperti basil difteroid, streptpkokus. Di samping bakteri normal
flora kulit, pada wanita, daerah 1/3 bagian distal uretra ini disertai jaringan
periuretral dan vestibula vaginalis yang juga banyak dihuni oleh bakteri yang
berasal dari usus karena letak usus tidak jauh dari tempat tersebut. Pada wanita,
kuman penghuni terbanyak pada daerah tersebut adalah E.coli di samping
enterobacter dan S.fecalis. Kolonisasi E.coli pada wanita didaerah tersebut
diduga karena :
1) adanya perubahan flora normal di daerah perineum
2) Berkurangnya antibodi lokal
3) Bertambahnya daya lekat organisme pada sel epitel wanita
b. Masuknya mikroorganisme dalam kandung kemih
Proses masuknya mikroorganisme ke dalam kandunh kemih belum diketahui
dengan jelas. Beberapa faktor yang mempengaruhi masuknya mikroorganisme
ke dalam kandung kemih adalah :
1) Faktor anatomi
Kenyataan bahwa infeksi saluran kemih lebih banyak terjadi pada wanita
daripada laki-laki disebabkan karena :
Uretra wanita lebih pendek dan terletak lebih dekat anus
Uretra laki-laki bermuara saluran kelenjar prostat dan sekret prostat
merupakan antibakteri yang kuat
2) Faktor tekanan urin pada waktu miksi
Mikroorganisme naik ke kandung kemih pada waktu miksi karena tekanan
urin. Selama miksi terjadi refluks ke dalam kandung kemih setelah
pengeluarann urin.
3)

c.

Faktor lain, misalnya


Perubahan hormonal pada saat menstruasi
Kebersihan alat kelamin bagian luar
Adanya bahan antibakteri dalam urin
Pemakaian obat kontrasepsi oral

Multiplikasi bakteri dalam kandung kemih dan pertahanan kandung kemih


Dalam keadaan normal, mikroorganisme yang masuk ke dalam kandung kemih
akan cepat menghilang, sehingga tidak sempat berkembang biak dalam urin.
Pertahanan yang normal dari kandung kemih ini tergantung tiga faktor yaitu :
17

1)

Eradikasi organisme yang disebabkan oleh efek pembilasan dan


pemgenceran urin
2)
Efekantibakteri dari urin, karena urin mengandung asam organik yang
bersifat bakteriostatik. Selain itu, urin juga mempunyai tekanan osmotik yang
tinggi dan pH yang rendah
3)
Mekanisme pertahanan mukosa kandung kemih yang intrinsik
Mekanisme pertahanan mukosa ini diduga ada hubungannya dengan
mukopolisakarida dan glikosaminoglikan yang terdapat pada permukaan
mukosa, asam organik yang bersifat bakteriostatik yang dihasilkan bersifat
lokal, serta enzim dan lisozim. Selain itu, adanya sel fagosit berupa sel
neutrofil dan sel mukosa saluran kemih itu sendiri, juga IgG dan IgA yang
terdapat pada permukaan mukosa. Terjadinya infeksi sangat tergantung pada
keseimbangan antara kecepatan proliferasi bakteri dan daya tahan mukosa
kandung kemih.
Eradikasi bakteri dari kandung kemih menjadi terhambat jika terdapat hal
sebagai berikut : adanya urin sisa, miksi yang tidak kuat, benda asing atau
batu dalam kandung kemih, tekanan kandung kemih yang tinggi atau
inflamasi sebelumya pada kandung kemih
d.

Naiknya bakteri dari kandung kemih ke ginjal


Hal ini disebabkan oleh refluks vesikoureter dan menyebarnya infeksi dari pelvis
ke korteks karena refluks internal. Refluks vesikoureter adalah keadaan patologis
karena tidak berfungsinya valvula vesikoureter sehingga aliran urin naik dari
kandung kemih ke ginjal. Tidak berfungsinya valvula vesikoureter ini disebabkan
karena :

Memendeknya bagian intravesikel ureter yang biasa terjadi secara


kongenital

Edema mukosa ureter akibat infeksi

Tumor pada kandung kemih

Penebalan dinding kandung kemih

18

LO 3.6

Memahami dan Menjelaskan Manifestasi Klinis Infeksi Saluran

Kemih
1. Infeksi Saluran Kemih Bagian Atas
Demam, menggigil
Nyeri Pinggang
Malaise
Anoreksia
Nyeri tekan pada sudut kostovertebral dan abdomen
2. Infeksi Saluran Kemih Bagian Bawah
Sering buang air kecil dan nyeri
Nyeri suprapubik
Hematuria

19

3. Sindrom Uretra Akut (SUA)


Presentasi klinis SUA sulit dibedakan dengan sistitis. SUA sering
ditemukan pada perempuan usia antara 20-50 tahun. Presentasi
klinis SUA hanya disuri dan sering kencing, disertai cfu/ml
urin<105 sering disebut sistitis abakterialis. SUA dibagi 3
kelompok pasien: a) pasien dengan piuria. Biakan urin dapat
diisolasi E.coli dengan dfu/ml urin 103-105. Sumber infeksi berasal
dari kelenjar periuretral atau uretra sendiri. Kelompok pasien ini
memberikan respon baik terhadap antibiotic standar seperti
ampicillin. B) Pasien lekosituri 10-50/lapang pandang tinggi dan
kultur urin steril. Kultur khusus ditemukan Chlamidia trachomatis
atau bakteri anaerobic. C) Pasien tanpa piri dan biakan urin steril.
4. Uretritis
Gejala utama adalah dysuria.
LO 3.7. Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan Diagnosis Banding
Infeksi Saluran Kemih
A. Diagnosis
Merokok, ansietas, minum kopi terlalu banyak, alergi makanan atau
sindrom pramenstruasi bisa menyebabkan gejala mirip infeksi saluran kemih.
Gejala infeksi saluran kemih pada bayi dan anak kecil. Infeksi saluran kemih
pada bayi dan anak usia belum sekolah memilki kecendrungan lebih serius
dibandingkan apabila terjadi pada wanita muda, hal ini disebabkan karena
memiliki ginjal dan saluran kemih yang lebih rentan terhadap infeksi.
Anamnesis
:
ISK bawah
: frekuensi, disuria terminal, polakisuria, nyeri
suprapubik.
ISK atas
: nyeri pinggang, demam, menggigil, mual dan muntah,
hematuria.
Pemeriksaan fisik
: febris, nyeri tekan suprapubik, nyeri ketok sudut
kostovertebra.
Pemeriksaan Kultur Urin
Kultur (kultur : pembiakan mikroorganisme) yang negatif akan menyingkirkan
diagnosis infeksi saluran kemih. Sedangkan pada kultur yang positif, proses
pengambilan contoh urin harus diperhatikan. Jika kultur positif berasal dari aspirasi
suprapubik atau kateterisasi, maka hasil tersebut dianggap benar. Namun jika kultur
positif diperoleh dari kantung penampung urin, perlu dilakukan konfirmasi dengan
kateterisasi atau aspirasi suprapubik. Media pembiakan yang digunakan untuk
kultur ini umumnya adalah agar darah/blood agar dan agar mac conkey.
1. Agar darah
Salah satu agar pembiakan yang umum digunakan. Mengandung sel darah yang
dapat berasal dari hewan (misal: domba); banyak bakteri yang dapat tumbuh
pada media ini.
2. Agar mac conkey
Media agar ini adalah media yang spesifik untuk pertumbuhan bakteri gram negatif.
Yang paling umum adalah E. coli, yang mana pada agar ini akan terlihat sebagai suatu
koloni berwarna merah karena adanya indikator pH. Ada dua versi agar ini: pertama,
20

adalah yang ditambahkan gula laktosa kedalamnya dan yang kedua tanpa penambahan
gula. Karena E. coli memfermentasi gula menjadi asam maka akan muncuk warna
merah pada agar.
Deteksi jumlah bermakna kuman patogen (significant bacteriuria) dari kultur urin
masih merupakan baku emas untuk diagnosis ISK. Bila jumlah koloni yang tumbuh >
105 koloni/ml urin, maka dapat dipastikan bahwa bakteri yang tumbuh merupakan
penyebab ISK. Sedangkan bila hanya tumbuh koloni dengan jumlah < 103 koloni / ml
urin, maka bakteri yang tumbuh kemungkinan besar hanya merupakan kontaminasi
flora normal dari muara uretra. Jika diperoleh jumlah koloni antara 10 3 - 105 koloni /
ml urin, kemungkinan kontaminasi belum dapat disingkirkan dan sebaiknya dilakukan
biakan ulang dengan bahan urin yang baru. Faktor yang dapat mempengaruhi jumlah
kuman adalah kondisi hidrasi pasien, frekuensi berkemih dan pemberian antibiotika
sebelumnya.
Perlu diperhatikan pula banyaknya jenis bakteri yang tumbuh. Bila > 3 jenis bakteri
yang terisolasi, maka kemungkinan besar bahan urin yang diperiksa telah
terkontaminasi.

Tes Penyakit Menular Seksual (PMS) :Uretritia akut akibat organisme menular
secara seksual (misal,klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes
simplek).
Tes- tes tambahan :Urogram intravena (IVU), Pielografi (IVP), msistografi, dan
ultrasonografi juga dapat dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari
abnormalitas traktus urinarius, adanya batu, massa renalatau abses, hodronerosis
atau hiperplasie prostate. Urogram IV atauevaluasi ultrasonic, sistoskopi dan
prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk mengidentifikasi penyebab
kambuhnya infeksi yang resisten.
Pemeriksaan penunjang
o Urinalisis

Untuk pengumpulan spesimen, dapat dipilih pengumpulan urin melalui urin porsi
tengah, pungsi suprapubik, dan kateter uretra. Secara umum, untuk anak laki-laki dan
perempuan yang sudah bisa berkemih sendiri, maka cara pengumpulan spesimen yang
dapat dipilih adalah dengan cara urin porsi tengah.Urin yang dipergunakan adalah urin
porsi tengah (midstream). Untuk bayi dan anak kecil, spesimen didapat dengan
memasang kantong steril pada genitalia eksterna. Cara terbaik dalam pengumpulan
spesimen adalah dengan cara pungsi suprapubik, walaupun tingkat kesulitannya paling
tinggi dibanding cara yang lain karena harus dibantu dengan alat USG untuk
memvisualisasikan adanya urine dalam vesica urinaria. Yang dinilai adalah sebagai
berikut:
a) Eritrosit
Ditemukannya eritrosit dalam urin (hematuria) dapat merupakan penanda bagi
berbagai penyakit glomeruler maupun non-gromeruler, seperti batu saluran kemih
dan infeksi saluran kemih. Positif bila ditemukan 5-10 per lapang pandang sedimen
urin.
b) Piuria
Piuria atau sedimen leukosit dalam urin yang didefinisikan olehStamm, bila
ditemukan paling sedikit 8000 leukosit per ml urin yang tidak disentrifus atau
setara dengan 2-5 leukosit per lapangan pandang besar pada urin yang di sentrifus.
21

Infeksi saluran kemih dapat dipastikan bila terdapat leukosit sebanyak > 10 per
mikroliter urin atau > 10.000 per ml urin.
c) Silinder
Silinder dalam urin dapat memiliki arti dalam diagnosis penyakit ginjal, antara lain :
Silinder eritrosit, sangat diagnostik untuk glomerulonefritis atau vaskulitis ginjal
Silinder leukosit bersama dengan hanya piuria, diagnostik untuk pielonefritis
Silinder epitel, dapat ditemukan pada nekrosis tubuler akut atau pada
gromerulonefritis akut
Silinder lemak, merupakan penanda untuk sindroma nefrotik bila ditemukan
bersamaan dengan proteinuria nefrotik.
d) Kristal
Kristal dalam urin tidak diagnostik untuk penyakit ginjal.
e) Bakteri
Bakteri dalam urin yang ditemukan dalam urinalisis tidak identik dengan
infeksi saluran kemih, lebih sering hanya disebabkan oleh kontaminasi.
o Bakteriologis
a) Mikroskopis
Pada pemeriksaan mikroskopis dapat digunakan urin segar tanpa diputar atau
pewarnaan gram. Bakteri dinyatakan positif bila dijumpai satu bakteri lapangan
pandang minyak emersi.
b) Biakan bakteri
Pembiakan bakteri sedimen urin dimaksudkan untuk memastikan diagnosis ISK yaitu
bila ditemukan bakteri dalam jumlah bermakna, yaitu:
Pengambilan spesimen
Jumlah koloni bakteri per ml urin
Aspirasi supra pubik
>100 cfu/ml dari 1 atau lebih organisme
patogen
Kateter
>20.000 cfu/ml dari 1 organisme patogen
Urine bag atau urin porsi tengah >100.000 cfu/ml
Pemeriksaan penunjang lainnya :
1) Tes Kimiawi
Dipakai untuk penyaring adanya bakteriuria, diantaranya yang paling sering
dipakai adalah tes reduksi griess nitrate (untuk bakteri gram negative). Dasarnya
adalah sebagian besar mikroba kecualienter ococci mereduksi nitrat. Batasannya
bila ditemukan bakteri >100.000. Kepekaannya mencapai 90% dengan spesifitas
99%.
2) Tes Plat-Celup (Dip-Slide)
Beberapa pabrik mengeluarkan biakan buatan yang berupa lempengan plastik
bertangkai dimana pada kedua sisi permukaannya dilapisi pembenihan padat
khusus. Lempengan tersebut dicelupkan ke dalam urin pasien atau dengan
digenangi urin. Setelah itu lempengan dimasukkan kembali kedalam tabung plastik
tempat penyimpanan semula, lalu diletakkan pada suhu 37oC selama satu malam.
Penentuan jumlah kuman/mL dilakukan dengan membandingkan pola pertumbuhan
kuman yang terjadi dengan serangkaian gambar yang memperlihatkan pola
kepadatan koloni antara 1000 hingga 10.000.000 cfu per mL urin yang diperiksa.
Cara ini mudah dilakukan, murah dan cukup adekuat. Kekurangannya adalah jenis
kuman dan kepekaannya tidak dapat diketahui.
Pemeriksaan penunjang lainnya
22

3) Radiologi
Pemeriksaan radiologis pada ISK dimaksudkan untuk mengetahui adanya batu atau
kelainan anatomis yang merupakan faktor predisposisi ISK. Pemeriksaan ini dapat
berupa foto polos abdomen, pielonegrafi intravena, demikian pula dengan
pemeriksaan lainnya, misalnya ultrasonografi dan CT Scan.

Pemeriksaan tersebut antara lain berupa


:
a. Foto polos abdomen
Dapat mendeteksi sampai 90% batu radio opak
b. Pielografi intravena (PIV)
Memberikan gambaran fungsi eksresi ginjal, keadaan ureter, dan distorsi system
pelviokalises. Untuk penderita: pria (anak dan bayi setelah episode infeksi saluran
kemih yang pertama dialami, wanita (bila terdapat hipertensi, pielonefritis akut,
riwayat infeksi saluran kemih, peningkatan kreatinin plasma sampai < 2 mg/dl,
bakteriuria asimtomatik pada kehamilan, lebih dari 3 episode infeksi saluran kemih
dalam setahun. PIV dapat mengkonfirmasi adanya batu serta lokasinya. Pemeriksaan
ini juga dapat mendeteksi batu radiolusen dan memperlihatkan derajat obstruksi serta
dilatasi saluran kemih. Pemeriksaan ini sebaiknya dilakukan setelah > 6 minggu
infeksi akut sembuh, dan tidak dilakukan pada penderita yang berusia lanjut, penderita
DM, penderita dengan kreatinin plasma > 1,5 mg/dl, dan pada keadaan dehidrasi.
c. Sistouretrografi saat berkemih
Pemeriksaan ini dilakukan jika dicurigai terdapat refluks vesikoureteral, terutama pada
anak anak.
d. Ultrasonografi ginjal
Untuk melihat adanya tanda obstruksi/hidronefrosis, scarring process, ukuran dan
bentuk ginjal, permukaan ginjal, masa, batu, dan kista pada ginjal.
e. Pielografi antegrad dan retrograde
Pemeriksaan ini dilakukan untuk melihat potensi ureter, bersifat invasive dan
mengandung factor resiko yang cukup tinggi. Sistokopi perlu dilakukan pada refluks
vesikoureteral dan pada infeksi saluran kemih berulang untuk mencari factor
predisposisi infeksi saluran kemih.
f. CT-scan
Pemeriksaan ini paling sensitif untuk menilai adanya infeksi pada parenkim ginjal,
termasuk mikroabses ginjal dan abses perinefrik. Pemeriksaan ini dapat membantu
untuk menunjukkan adanya kista terinfeksi pada penyakit ginjal polikistik. Perlu
diperhatikan bahwa pemeriksaan ini lebih baik hasilnya jika memakai media kontras,
yang meningkatkan potensi nefrotoksisitas.
g. DMSA scanning
Penilaian kerusakan korteks ginjal akibat infeksi saluran kemih dapat dilakukan
dengan skintigrafi yang menggunakan (99mTc) dimercaptosuccinic acid
(DMSA). Pemeriksaan ini terutama digunakan untuk anak anak dengan infeksi
saluran kemih akut dan biasanya ditunjang dengan sistoureterografi saat
berkemih. Pemeriksaan ini 10 kali lebih sensitif untuk deteksi infeksi korteks
ginjal dibanding ultrasonografi.
Gejala pada bayi baru lahir timbul demam, hipotermia, nafsu makan (ASI)
yang menurun, ikterus, kegagalan pertumbuhan atau sepsis pada bayi timbul demam
23

yang tidak diketahui sebabnya, berkurangnya nafsu makan yang mengakibatkan


kegagalan pertumbuhan, kesakitan waktu kencing, dan iritabel.
Pada anak pra sekolah timbul nyeri abdominal, muntah, demam, kesakitan
waktu kencing, urgensi, frekuensi sampai disuria.
Pada anak usia sekolah timbul tanda klasik dari ISK, meliputi : urgensi,
frekuensi sampai disuria, demam, atau nyeri panggul. Kadang-kadang anak dengan
ISK bakterial disertai dengan cystitis hemoragik. Semua grup umum diatas bila
menderita ISK asimtomatik dapat menyebabkan kerusakan ginjal terutama pada bayi
dan anak kemungkinan dapat berkembangmenjadi refluks vesikourethral. Anak
penderita ISK yang disertai dengan demam, nyeri panggul, nyeri abdominal,
maningkatnya lekosit PMN di dalam darah, peningkatan jumlah sedimen, atau
peningkatan c-reaktive protein biasanya membuktikan adanya pyelonefritis. Anak
yang menderita ISK asimtomatik dan disertai adanya infesi traktus urinarius bagian
bawah yang bisa pula disertai dengan infeksi traktus urinarius bagian atas yang
asimtomatik,hati-hati terhadap anak yang mempunyai tanda klasik dan cystitis sering
kali bukan ISK tetapi karena iritasi urethral atau karena sebab lain misalnya vaginitis.
Hasil laboratorium ISK cystitis :
1. Urin keruh berbau busuk
2. Protein < 0,5 g/dl
3. Terdapat sedikit kandungan darah
4. Nitrit positif : adanya enzim nitrat reduktase dari MO yang mereduksi nitrat
menjadi nitrit
5. Lekosit esterase positif :deteksi sensitif dan spesifik adanya piuria
6. Sedimen : kenaikan lekosit, bakteri, eritrosit, epithel transitional
Hasil laboratorium ISK PNA :
1. Lekositosis ringan
2. Tes fungsi ginjal normal
3. Urin sangat keruh dan berbau busuk
4. Sedimen : kenaikan sel lekosit, bakteri, epithel
5. Silinder : lekosit, granular, kadang-kadang silinder lilin
Hasil laboratorium ISK PNK :
1. Polyuria, nokturia
2. Urin keruh
3. Protein < 2,5g/dl
4. Nitrit positif
5. Lekosit esterase positif
6. Sedimen : kenaikan lekosit
7. Silinder : granular, lilin (besar-besar)

B. Diagnosis Banding
1. Sistitis nonbakterial adalah istilah yang mencakup semuanya yang terdiri berbagai
gangguan kesehatan, termasuk nonbakterial infeksi (virus, mikobakteri, klamidia,
jamur, schistosomal) dan tidak menular ( sistitis radiasi , kimia, autoimun,
hipersensitivitas) sistitis, serta menyakitkan sindrom kandung kemih / sistitis
interstisial ( PBS / IC).
24

2. Pielonefritis akut dapat menyebabkan kerusakan ginjal yang signifikan; gagal


ginjal , pembentukan abses (misalnya, nephric, perinephric); sepsis, atau sindrom
sepsis, syok septik, dan kegagalan multiorgan sistem.
3. Refluks vesicoureteral (VUR) adalah aliran abnormal urin dari kandung kemih ke
saluran kemih atas dan penyakit urologi paling umum di masa
kecil.Keberadaannya adalah patologis, dan merupakan faktor risiko yang paling
signifikan untuk anak usia jaringan parut ginjal dan gejala sisa.
4. Obstruksi saluran kemih dapat terjadi pada setiap titik di saluran kencing, dari
ginjal ke meatus uretra.Uropati obstruktif dapat mengakibatkan rasa sakit, infeksi
saluran kemih, kehilangan fungsi ginjal, atau, mungkin, sepsis atau kematian.
Gejala hematuria mungkin ada dengan atau tanpa infeksi.

LO 3.8. Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Infeksi Saluran Kemih


Komplikasi ISK tergantung dari tipe yaitu ISK tipe sederhana (uncomplicated)
dan tipe berkomplikasi (complicated)
a. ISK sederhana (uncomplicated). ISK akut tipe sederhana (sistitis) yaitu nonobstruksi dan bukan perempuan hamil merupakan penyakit ringan (self limited
disease) dan tidak menyebabkan akibat lanjut jangka lama.
b. ISK tipe berkomplikasi (uncomplicated)
1) ISK selama kehamilan
2) ISK pada DM. Penelitian epidemiologi klinik melaporkan bakteriuria dan
ISK lebih sering ditemukan pada DM dibandingkan perempuan tanpa DM.
Komplikasi lain yang mungkin terjadi setelah terjadi ISK yang terjadi jangka panjang
adalah terjadinya renal scar yang berhubungan erat dengan terjadinya hipertensi dan
gagal ginjal kronik. ISK pada kehamilan dengan BAS (Basiluria Asimtomatik) yang
tidak diobati: pielonefritis, bayi prematur, anemia, Pregnancy-induced hypertension

ISK pada kehamilan: retardasi mental, pertumbuhan bayi lambat, Cerebral palsy,
fetal death.
Sistitis emfisematosa : sering terjadi pada pasien DM.
Pielonefritis emfisematosa syok septik dan nefropati akut vasomotor.
Abses perinefrik
Pielonefritis berulang dapat mengakibatkan hipertensi, parut ginjal, dan gagal
ginjal kronik

Berdasarkan Klinis

Tanpa komplikasi : sistitis pada wanita hamil kelainan neurologis atau


struktural yang mendasarinya

Dengan Komplikasi : infeksi saluran kemih atas atau setiap kasus ISK pada
laki-laki, atau perempuan hamil, atau ISK dengan kelainan neurologis atau
struktural yang mendasarinya
LO 3.9. Memahami dan Menjelaskan Prognosis Infeksi Saluran Kemih
25

Infeksi saluran kemih tanpa kelainan anatomis mempunyai prognosis lebih


baik bila dilakukan pengobatan pada fase akut yang adekuat dan disertai
pengawasan terhadap kemungkinan infeksi berulang. Prognosis jangka panjang
pada sebagian besar penderita dengan kelainan anatomis umumnya kurang
memuaskan meskipun telah diberikan pengobatan yang adekuat dan dilakukan
koreksi bedah, hal ini terjadi terutama pada penderita dengan nefropati refluks.
Deteksi dini terhadap adanya kelainan anatomis, pengobatan yang segera pada
fase akut, kerjasama yang baik antara dokter, ahli bedah urologi dan orang tua
penderita sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya perburukan yang
mengarah ke fase terminal gagal ginjal kronis.
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Terapi Infeksi Saluran Kemih
LO 4.1. Memahami dan Menjelaskan Tatalaksana
Penatalaksanaan ISK
Manajemen ISK
Infeksi saluran kemih (ISK) bawah
Prinsip manajemen ISK bawah adalah intake cairan yang banyak, antibiotka yang
adekuat, dan kalau perlu terapi simtomatik untuk lkalinisasi urin:
Hamper 80% pasien akan memberikan respon setelah 48 jam
dengan antibiotika tunggal; seperti ampisilin 3 gr, trimetoprim 200
mg.
Bila infeksi menetap disertai urinalisis (lekosuria) diperlukan
terapi konvensional selama 5-10 hari
Pemeriksaan mikroskopik urin dan biakan urin tidak diperlukan bila
semua gejala hilang dan tanpa lekosuria.
Reinfeksi berulang (frequent re-infection)

Disertai factor predisposisi: Terapi antimikroba yang intensif diikuti factor resiko
Tanpa factor predisposisi:
Asupan cairan banyak
Cuci setelah melakukan senggama diikuti terapi antimikroba takaran
tunggal (misal: trimetoprim 200mg)
Terapi antimikroba jangka lama sampai 6 bulan

26

Sindrom Uretra Akut (SUA)


Pasien dengan SUA dengan hitung kuman 103-105 memerlukan antibiotika
yang adekuat.
Infeksi klamidia memberikan hasil yang baik dengan tetrasiklin
Infeksi disebebkan MO anaerobic di perlukan antimikroba yang serasi, missal
golongan kuinolon.
Infeksi Saluran Kemih (ISK) Atas
Pielonefritis Akut
Pada umumnya pasien dengan pielonefritis akut memerlukan rawat inap untuk
memelihara satus hidrasi dan terapi antibiotika parenteral paling sedikit 48 jam.
Indikasi Rawat Inap Pilonefritis Akut:

Kegagalan mempertahankan hidrasi normal atau toleransi terhadap antibiotika oral


Pasien sakit berat atau debilitasi
Terapi antibiotika oral rawat jalan mengalami kegagalan
Factor predisposisi utuk ISK tipe berkomplikasi
Diperlukan investigasi lanjutan
Komorbiditas seperti kehamilan, DM, usia lanjut

Tujuan Terapi
Tujuan terapi ISK adalah mencegah atau mengobati akibat sistemik dari
infeksi, membunuh mikroorganisme penyebab infeksi dan mencegah terjadinya
infeksi ulangan.
Strategi Terapi
Terapi tanpa obat pada ISK adalah minum air dalam jumlah banyak agar urine
yang keluar juga meningkat.
Pengobatan ISK adalah menggunakan antibiotik. Idealnya, antibiotik yang
digunakan harus dapat ditoleransi dengan baik, mencapai konsentrasi tinggi dalam
urine dan mempunyai spektrum aktivitas terhadap mikroorganisme penyebab infeksi.
Pemilihan antibiotik untuk pengobatan didasarkan pada tingkat keparahan, tempat
terjadinya infeksi dan jenis mikroorganisme yang menginfeksi.

27

Terapi ISK
dewasa

28

lanjutan

29

Pilihan antimikroba berdasarkan Educated Guess (Farmakologi, FKUI)


Jenis infeksi
Sistitis akut

Pielonefritis akut

Penyebab tersering

Pilihan antimikroba

E.coli, S.saprophyticus,
Nitrofurantion, ampisilin,
kuman gram negative
trimetroprim
lainnya
E.coli, kuman gram negative Untuk pasien rawat:
lainnya, Streptococcus
Gentamisin(atau
aminoglikosida lainnya),
kotrikmoksazol
parenteral, sefalosporin
generasi III, aztreonam
Untuk pasien berobat
jalan:
Kotrimoksazol oral,
fluorokuinolon,
amoksisilin-asam
klavulanat

Prostatitis akut

E.coli, kuman gram negative Kotrimoksazol atau


lainnya, E.faecalis

Prostatitis kronis

fluorokuinolon, atau
aminoglikosid+ampisilin
parenteral

E.coli, kuman gram negative Kotrimoksazol atau


lainnya, E.faecalis
fluorokuinolon atau
trimetroprim

Yang termasuk aminoglikosida:gentamisin, tobramisin, netilmisin, dan amikasin


(streptomisin dan kanamisin tidak termasuk)
Yang termasuk sefalosporin generasi III:sefotaksim, sefoperazon, setriakson,
seftazidin, sefsulodin, moksalaktam, dll.
Yang termasuk fluorokuinolon:siprofloksasin, ofloksasin, pefloksasin, norfloksasin,
dll.
SULFONAMID
Mekanisme kerja:
Kuman memerlukan PABA(p-aminobenzoic-acid)untuk membentuk asam folat yang
digunakan untuk sintesis purin asam nukleat. Sulfonamide merupakan penghambat
kompetitif PABA.

31

PABA

Dihidropteroat sintetase

sulfonamide berkompetisi dgn PABA

Asam dihidrofolat

Dihidrofolat reduktase

trimetroprim

Asam tetrahidrofolat

Purin

DNA
Efek sulfonamide dihambat oleh adanya darah, nanah dan jaringan nekrotik, karena
kebutuhan mikroba akan asam folat berkurang dalam media yang mengandung basa
purin dan timidin.
Kombinasi dengan Trimetoprim
Menyebabkan hambatan berangkai dalam reaksi pembentukan asam tetrahidrofolat.
Farmakokinetik
Absorpsi:
melalui saluran cerna mudah dan cepat, terutama pada usus halus, beberapa jenis sulfa
di absorpsi di lambung.
Distribusi:
Semua sulfonamis terikat dengan protein plasma terutama albumin dalam derajat yang
berbeda-beda. Obat ini tersebar ke seluruh jaringan tubuh, karena itu berguna untuk
infeksi sistemik.
Obat dapat menembus sawar uri dan menimbulkan efek antimikroba dan efek toksik
pada janin.

Sulfonamide di bagi ke dalam 3 golongan besar:


1. sulfonamide dengan absorpsi dan eksresi cepat
sulfisoksazol
dosis permulaan untuk dewasa 2-4mg, di lanjutkan dengan 1g setiap 46jam
untuk anak 150mg/kgBB sehari

obat ini bisa menimbulkan hipersensitivitas yang kadang bersifat letal


sediaan dalam bentuk tablet 500mg untuk oral
sulfametoksazol
derivate sulfisoksazol dgn absorpsi dan eksresi lebih lambat
dapat diberikan pada pasien dengan infeksi saluran kemih dan infeksi
sistemik
umumnya di gunakan dengan kombinasi tetap dengan trimetoprim
sulfadiazine
dosis permulaan oral pada orang dewasa 2-4g, dilanjutkan dgn 2-4g
dalam 3-6 kali pemberian, lama pemberian tergantung keadaan
penyakit.
Anak-anak >2 bln, diberikan setengah dosis awal per hari, kemudian di
lanjutkan dengan 60-150mg/kgBB(maksimum 6g/hari) dalam 4-6 kali
pemberian
Sediaan dalam bentuk tablet 500mg
Sulfasitin
Eksresinya cepat untuk penggunaan per-oral pada infeksi saluran
kemih.
Pemberian dosis awal 500mg, dilanjutkan dengan dosis 250mg empat
kali sehari.
Tersedia dalam bentuk tablet 250mg(tdk di Indonesia)
Sulfametizol
Digunakan untuk infeksi saluran kemih dengan dosis 500-1000mg
dalam 3-4 kali pemberian sehari.
Tersedia dalam bentuk tablet 250mg dan 500mg
2. sulfonamide yang hanya di absorpsi sedikit bila diberikan per-oral dan
kerjanya dalam lumen usus
sulfasalazin
suksinilsulfatiazol dan ftalilsulfatiazol
3. sulfonamide yang terutama di gunakan untuk pemberian topical
sulfasetamid
Ag-sulfadiazin(sulfadiazine perak)
Mafenid
4. sulfonamide dengan masa kerja panjang
sulfadoksin
Efek samping
Reaksi ini dapat hebat dan kadang bersifat letal. Bila mulai terlihat adannya
gejala reaksi toksik dan sensitisasi, pemakain secepat mungkin dihentikan.
Dan tidak diberikan lagi.

Gangguan
system
hematopoetik:anemia
hemolitik
akut,
Agranulositosis(sulfadiazine), anemia aplastik, trombositopenia ringan,
eosinofilia, gejala HPS.
Gangguan saluran kemih: anuria dan kematian dapat terjadi kristaluria atau
hematuria(jarang terjadi)
Reaksi alergi: gambaran HPS pada kulit dan mukosa bervariasi, berupa
kelainan morbiliform, purpura, petekia, eritema nodosum, eritema multiformis
tipe stevens-johnson, dll. Demam obat dapat terjadi(timbul demam tiba2, pada
hari ke tujuh sampai ke 10 pengobatan, di sertai sakit kepala, menggigil, rasa
lemah, dan erupsi kulit, semuanya bersifat reversible).
Lain2:mual dan muntah
Tidak diberikan pada wanita hamil aterm
CORTIMOKSAZOL
Trimetropin + sulfametoksazol
Mikroba yang peka : enterobacter, klebsiella, diphteri, E.coli, S.aureus,
S.viridans, dll
Untuk mikroba yang resisten sulfonamid agak resisten trimetropin
Farmako dinamik : 2 tahap berurutan rekasi enzimatis 1. Sulfo = hambat
PABA,
2. Trime : hambat reaksi dari dehidrofolat tetrahidrofolat
Farmako kinetik : karena trimetropin lipofilik volume distribusi >> besar
dari sulfa
Rasio sulfa : trime 5:1
Diekskresi di urin
Indikasi : ISK, IS nafas, IS cerna, Inf. Genital
E.S : megaloblastosis, leukopenia atau trombositopenia, pada kulit karena
sulfonamid
GOL. PENISILIN
Farmako dinamik :
penisilin menginaktifkan protein yang berada dalam membran sel bakteri
yang penting untuk sintesis dinding sel sehingga bakteri menjadi lisin.
Destruksi dinding sel oleh autolisin / enzim degradatif yang dimiliki
penisilin.
Farmako kinetik : ditentukan oleh stabilitas obat terhadap asam lambung dan
beratnya infeksi.
Cara pemberian :
Ampisilin + sulbaktam
Tikarsilin + as. klavulanat
Amoksisilin
Amoksisilin + as. klavulanat

IV,
IM

ORAL
Absorbsi tidak lengkap secara oral, tetapi amoksisilin hampir lengkap di absorpsi,
absorbsi penisilin lainnya = penurunan jika ada makanan di dalam lambung = 3060 menit sebelum makan / 2-3 jam setelah makan. Distribusi ke seluruh tubuh,
penisilin bisa melewati sawar plasenta = tidak teratogenik. Tidak ke SSP
Ekskresi : melalui ginjal
E.S : hipersensitivitas (angioedem, makulopapular, anafilaktik), diare, nefritis
(metisilin), neurotoksisitas, gangguan pembentukan darah (karbanesilin dan
karsilin = antipseudomonas), toksisitas kation
Tidak bisa untuk kuman B-laktamase
Resistensi E.Coli
Efek samping : reaksi alergi , Syok anafilaksis umumnya tidak toksik pada
manusia
Dapat di gunakan secara oral dan parenteral.

GOL. CEPHALOSPORIN
Generasi 3 tunggal atau dalam kombinasi dengan aminoglikosida merupakan
obat pilihan utama untuk infeksi berat oleh Klebsiella , Enterobacter , Proteus ,
Providencia , Srratia , Dan Haemophillus Spesies.
Farmako dinamik :
a) Generasi I : proteus, E.coli, klebsiella
b) Generasi II : Haemophilus, enterobacter, Neisseria=gram (-)
c) Generasi III : contoh : cefritriaavus, cefotaxim, ceftazidim
(pseudomonas aeruginosa)
Farmako kinetik : IV karena absorbsi oral jelek, distribusi ; luas, ekskresi melaui
empedu ke dalam feses
E.S : alergi, perdarahan jika diberikan bersama sefamandol atau sefoperason =
anti vitamin K
Efek samping : reaksi alergi , anafilaksis , dengan spasme bronkus dan
urtikaria dapat terjadi

Secara oral
Obat Mahal
GOL. TETRACYCLIN
Efektif untuk infeksi Chlamydia
Tidak boleh pada anak-anak dan wanita hamil.
Secara Oral
GOL. FLUOROKUINOLON
Efektif untuk ISK dengan atau tanpa penyulit disebabkan oleh kuman-kuman yang
multiresisten dan P.Aeruginosa.
Siprofloksasin, Norfloksasin, dan Ofloksasin untuk terapi Prostatitis bacterial akut
maupun kronis anak-anak dan ibu hamil tidak boleh.
Farmako dinamik : hambat pemisahan double helix DNA saat replikasi dan transkripsi
dengan bantuan enzim DNA girase hambat DNA girase pada kuman dan bersifat
bakterisid
Untuk bakteri : kuinolon lama (gram (-)) E.coli, proteus, klebsiella, enterobakter
Flurokuinolon baru : gram (+), gram (-) dan kuman atipik (mycoplasma, klamidia)
Farmako kinetik : diserap baik di saluran cerna, dalam sediaan oral, hanya sakit yang
terikat protein, distribusi baik ke berbagai organ, capai kadar tinggi di prostat, T1/2
panjang 2x sehari diperlukan. Di metabolisme di hati, ekskresi ginjal sebagian empedu.
Indikasi : ISK, Infeksi saluran nafas, penyakit menular hubungan sex, infeksi tukak
dan sendi, dll.
E.S : mual, muntah, tidak enak diperut : halunisasi, kejang ; hepatotoksik ; fatotoksif
dll.
Interaksi obat : antasit = habis berkuran, hambat teofilin, tidak dikombinasi dengan
obat yang dapat perpanjang interval Qtc.
AMINOGLIKOSIDA
Farmako dinamik : terhadap MO anaerobik rendah, transpor aminogliko butuh
O2, aktivitas terhadap gram (+) terbatas, aktifitas dipengaruhi pH (alkali lebih
tinggi), aerobik-anarobik, keadaan hiperkapnik. Berdifusi lewat kanal air yang
dibentuk porin protein pada membran luar bakteri gram (-) masuk ke ruang
periplasmik. Setelah masuk sel terikat pada ribosom 30 s dan hambat sintesis
protein kerusakan membran sitosol mati. Bersifat bakterisid.

Farmako kinetik : sangat polar, sukar di absorbsi di saluran cerna, per oral
hanya untuk efek lokal di saluran cerna. Untuk kadar sistemik parenteral,
ikatan protein rendah kecuali streptomisin 30-50%. Distribusi ke dalam
cairan otak sangat terbatas, ekskresi di ginjal, kadar dalam urin capai 50-200
mg/ml, gangguan ginjal hambat ekskresi.
E.S : alergi, reaksi iritasi (rasa nyeri di tempat suntik), toksik (gangguan
pendengaran dan keseimbangan), ototoksik pada N. VII, nefrotoksik.
Kanamisin : untuk E.coli, enterobacter, klebsiella, proteus dll (untuk ISK)
Gentamisin, tobramisin, dan netilmisin Indikasi : infeksi karena proteus,
pseudomanas, klebsiella, E.colli, enterobacter
Amikasin : untuk E.coli, P.aeruginosa, proteus, enterobacter
Sumber : faramakologi dan terapi FKUI ed 5, 2007
ANTISEPTIK
1. Metenamin
Indikasi : Untuk Profilaksis terhadap ISK berulang khususnya bila ada
residu kemih.Tidak diindikasikan untuk infeksi akut saluran kemih.
Untuk berbagai jenis mikroba, kecuali proteus
E.S : iritasi lambung (>500 g ), 4-8 gram/sehari >> 3 mg, iritasi saluran
kemih, proteinuria, hematuria, erupsi kulit.
KI : dengan gangguan hati, tidak untuk gagal ginjal, tidak diberikan
bersama sulfonamid.
Interaksi obat : susu, antasid tidak diberikan meningkatkan pH
Oral 4 x 1 gram/hari
2. Nitrofrantoin
Indikasi : Mengobati bakteriuria yang disebabkan oleh ISK bagian bawah
penggunanya terbatas untuk tujuan profilaksis atau pengobatan supresif
ISK menahun yaitu setelah kuman penyebabnya dibasmi atau dikurangi
dalam antimikroba lain dengan yang lebih sensitive.
Unruk E.coli, proteus, klebsiella, enterobacter, enterokokus
FK : lengkap dan cepat absorbsi di saluran cerna, dengan makanan dapat
menurunkan inhalasi kambung dan menigkatkan bioavailibitasnya, terikat
protein plasma, ekskresi di ginjal, T1/2 20 menit, urin agak cokelat
KI : Untuk gagal ginjal dengan klirens kreatinin < 40 ml/menit, hamil,
bayi < 3 bulan anemia hemolitik
ES : mual, muntah dan siare ; sakit kepala vertigo, nyeri otot.
3. Asam nalidiksat
Indikasi : ISK bawah tanpa penyulit contohnya : Sistitis akut tidak efektif
untuk ISK bagian atas contohnya : Pielonefritis.

FD : hambat enzim DNA grase bakteri, bakterisid terhadap kuman penyebab


ISK, E.coli, proteus, klebsiella, pseudomonas resisten.
FK : per oral, 95% terikat protein plasma, sehingga diubah jadiasam
hidroksinalidiksat, masa penuh 11/2 - 2 jam
ES : mual, muntah, urtikaria ; diare demam fosfosensitivitas : sakit kepala,
ngantuk, vertigo, meningkat pada pasien epilepsi, parkinson.
KI : bayi < 3 bulan, trisemester p1 hamil : hati-hati untuk gangguan hati atau ginjal
: pembesaran dengan nitrofurantonin
Dosis : 4 x 500mg/hr
4.Fosfomisintrometamin
Indikasi : ISK tanpa komplikasi ( Sistitis akut ) pada wanita yang disebabkan
oleh E.Coli dan E.Faeccalis
Efek samping : Diare , Mual , Sakit kepala Vaginitis
FD : hambat tahap awal sintesis dinding selkuman
FK : Biovailibilitas oral hanya 37%, dengan makanan menurunkan penyerapan,
tidak terikat protein plasma, ekskresi renal 38%, ekskresi di urin dan tinja
ES : mual, muntah, diare, sakit kepala, bisa untuk wanita hamil,
Sediaan ; bubuk 3 gram dicampur air 100 ml tidak boleh dengan air panas

Perlu di perhatikan bahwa ada beberapa antibiotik tidak boleh dipergunakan selama masa
kehamilan karena dapat menyebabkan toksik pada janin, seperti nitrofurantion, asam nalidik, dan
tetrasiklin.

LO 4.2. Memahami dan Menjelaskan Pencegahan


-

Menjaga dengan baik kebersihan sekitar organ intim dan saluran kencing.
Setiap buang air seni, bersihkanlah dari depan ke belakang. Hal ini akan mengurangi
kemungkinan bakteri masuk ke saluran urin dari rektum
Membersihkan organ intim dengan sabun khusus yang memiliki pH balanced (seimbang)
sebab membersihkan dengan air saja tidak cukup bersih.
Buang air seni sesering mungkin (setiap 3 jam) untuk mengosongkan kandung kemih dan
jangan menunda membuang air seni, karena perbuatan ini justru merupakan penyebab
terbesar dari ISK; Buang air seni sesudah hubungan kelamin, hal ini membantu menghindari
saluran urin dari bakteri.
Pilih toilet umum dengan toilet jongkok. Sebab toilet jongkok tidak menyentuh langsung
permukaan toilet dan lebih higienis. Jika terpaksa menggunakan toilet duduk, sebelum
menggunakannya sebaiknya bersihkan dulu pinggiran atau dudukan toilet. Toilet-toilet
umum yang baik biasanya sudah menyediakan tisu dan cairan pembersih dudukan toilet.

Jangan cebok di toilet umum dari air yang ditampung di bak mandi atau ember. Pakailah
shower atau keran.
Ganti selalu pakaian dalam setiap hari, karena bila tidak diganti, bakteri akan berkembang
biak secara cepat dalam pakaian dalam. Gunakan pakaian dalam dari bahan katun yang
menyerap keringat agar tidak lembab.

Gunakan pancuran (shower) untuk mandi ketimbang bath tub.

Bersihkan kulit di sekitar vagina dan anus secara rutin setiap hari.

Buang air kecil sesegera mungkin setelah melakukan hubungan seksual. Minumlah segelas
air untuk membantu mengeluarkan bakteri.

Tidak menggunakan spray deodoran atau produk sejenisnya pada alat kelamin. Produkproduk ini bisa mengiritasi uretra dan juga kandung kemih.

Hindari menggunakan celana dalam yang terlalu kencang dan memiliki sirkulasi udara yang
buruk.

Antibiotik dosis rendah bisa terus diberikan untuk orang-orang yang sering mengalami
infeksi kandung kemih. Namun pemberiannya harus sesuai dengan petunjuk dokter.

Krim estrogen untuk vulva atau estrogen suppositoria untuk vagina bisa diberikan untuk
wanita post-menopause dengan vaginitis atrofik atau uretritis atrofik dan sering mengalami
infeksi kandung kemih.

LI 5. Memahami dan Menjelaskan Pandangan Islam Tentang Salisil Baul


Pengertian salisul-baul
-

Menurut mazhab Hanafi, salisul-baul adalah penyakit yang menyebabkan


keluarnya air kencing secara kontinyu, atau keluar angin(kentut) secara kontinyu,
darah istihadhah,mencret yang kontinyu, dan penyakit lainnya yang serupa.
Menurut mazhab Hanbali, salisul-baul adalah hadas yang kontinyu, baik itu
berupa air kencing, air madzi, kentut, atau yang lainnya yang serupa.
Menurut mazhab Maliki, salisul-baul adalah sesuatu yang keluar dikarenakan
penyakit seperti keluar air kencing secara kontinyu.
Menurut mazhab Syafi'i, salisul-baul adalah sesuatu yang keluar secara kontinyu
yang diwajibkan kepada orang yang mengalaminya untuk menjaga dan
memakaikan kain atau sesuatu yang lain seperti pembalut pada tempat keluarnya
yang bisa menjaga agar air kencing tersebut tidak jatuh ke tempat shalat.

Dalil tentang salisul-baul

.

"Ubad bin Basyar menderita penyakit mencret dan dia tetap melanjutkan shalatnya (dalam
keadaan mencret tersebut)."
Dari hadis tersebut bisa disimpulkan bahwa seseorang yang mempunyai penyakit mencret, keluar
kentut/air kencing secara kontinyu tidak memiliki kewajiban untuk mengulang-ulang wudhunya,
namun tetap meneruskan shalat dalam keadaan tersebut.
Syarat-syarat dibolehkan ibadah dalam keadaan salisul-baul
Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi agar ibadah tertentu diperbolehkan dalam keadaan
salisul-baul:
1. Sebelum melakukan wudhu harus didahului dengan istinja'
2. Ada kontinyuitas antara istinja' dengan memakaikan kain atau pembalut dan semacamnya, dan
adanya kontinyuitas antara memakaikan kain pada tempat keluar hadas tersebut dengan wudhu.
3. Ada kontinyuitas antara amalan-amalan dalam wudhu (rukun dan sunnahnya)
4. Ada kontinyuitas antara wudhu dan shalat, yaitu segera melaksanakan shalat seusai wudhu
dan tidak melakukan pekerjaan lain selain shalat. Adapun jika seseorang berwudhu di rumah
maka perginya ke mesjid tidak menjadi masalah dan tidak menggugurkan syarat keempat.
5. Keempat syarat diatas dipenuhi ketika memasuki waktu shalat. Maka, jika melakukannya
sebelum masuk waktu shalat maka batal, dan harus mengulang lagi di waktu shalat.
Apabila telah terpenuhi kelima syarat ini maka jika seseorang berwudhu kemudian keluar air
kencing atau kentut dan lainnya maka dia tidak mempunyai kewajiban untuk melakukan istinja'
dan berwudhu lagi. Namun cukup dengan wudhu yang telah ia lakukan di awal.

DAFTAR PUSTAKA

Brooks, GF, dkk. 2008. Jawetz, Melnick, & Adelbergs: Mikrobiologi Kedokteran (Medical
Microbiology) Ed. 23. Jakarta: EGC
Guyton, Arthur C. Hall, John E. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran Edisi 11. Jakarta:EGC
Hooton TM, Scholes D, Hughes JP, Winter C, Robert PL, stapleton AE, Stergachis A, Stamm
WE. A Prospective Study of Risk Factor for Symtomatic Urinary Tract. N Engl J Med. 1996 Aug
15;335(7):468-74.
Junquira, LC, Carneiro J. 2007. Histologi Dasar: Teks dan Atlas Edisi 10. Jakarta: EGC
Purnomo BB. 2003. Dasar-Dasar Urologi Ed 2. Jakarta: Sagung Seto.
Setyabudi, Rianto. 2008. Farmakologi dan Terapi Edisi Revisi edisi 5. Jakarta: Balai Penerbit
FKUI.
Sherwood, L. 2001. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem, edisi 2, ab. Brahm U. Pendit. Jakarta:
EGC
Sudoyo AW, dkk. 2009. Ilmu Penyakit Dalam, edisi V jilid II Infeksi Saluran Kemih Pasien
Dewasa. Jakarta:Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia.
Sukandar, Enday. 2009. Infeksi Saluran Kemih dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam oleh
Sudoyo AW dkk Jilid II Edisi V. Jakarta: InternaPublishing
Sofwan, Achmad. 2013. Systema Urogenitale. Jakarta: Fakultas Kedokteran Universitas YARSI
Tessy A, Ardaya, Suwanto. 2001. Infeksi Saluran Kemih, dalam Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam
oleh Suyono HS. Edisi ke 3. Jakarta: FKUI.
http://islamqa.info/id/2075