Anda di halaman 1dari 23

SASARAN BELAJAR

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas


LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis
LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis
LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi Pernafasan
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis
LO 3.1 Memahami dan Menjelaskan definisi Rhinitis
LO 3.2 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Rhinitis
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis Alergi
LO 4.1 Memahami dan Menjelaskan definisi Rhinitis alergi
LO 4.2 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi dan etiologi Rhinitis alergi
LO 4.3 Memahami dan Menjelaskan patofisiologi Rhinitis alergi
LO 4.4 Memahami dan Menjelaskan manifestasi Rhinitis alergi
LO 4.5 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding Rhinitis alergi
LO 4.6 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Rhinitis alergi
LO 4.7 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Rhinitis alergi
LO 4.8 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Rhinitis alergi
LO 4.9 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Rhinitis alergi
LI 5. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pernafasan Menurut Pandangan Islam

LI 1. Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Pernafasan Atas


LO 1.1 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Makroskopis

Berdasarkan anatomi saluran pernafasan atas terdiri dari mulai nares anterior hidung sampai
cartilago cricoid larynx.
HIDUNG
Organ pertama yang berfungsi dalam saluran napas. Terdapat vestibulum nasi yang terdapat cilia
kasar yang berfungsi sebagai saringan udara. Bagian dalam rongga hidung ada terbentuk
terowongan yang disebut cavum nasi mulai dari nares anterior sampai ke nares posterior lalu ke
nasofaring.
Sekat antara kedua rongga hidung dibatasi dinding yang berasal dari tulang dan mucusa yaitu
septum nasi yang dibentuk oleh :
a. Cartilago septi naso
b. Os vomer
c. Lamina perpendicularis os ethmoidalis
Dinding superior rongga hidung sempit, dibentuk lamina cribroformis ethmoidalis yang
memisahkan rongga tengkorak dengan rongga hidung. Dinding inferior dibentuk os maxilla dan
os palatinum.
Terdapat 3 buah concha nasalis, yaitu :
a. Concha nasalis superior
b. Concha nasalis inferior
c. Concha nasalis media

Di antara concha nasalis superior dan media terdapat meatus nasalis superior. Antara concha
media dan inferior terdapat meatus nasalis media. Antara concha nasalis inferior dan dinding atas
maxilla terdapat meatus nasalis inferior. Sinus-sinus yang berhubungan dengan cavum nasi
disebut sinus paranasalis :
a. Sinus sphenoidalis mengeluarkan sekresinya melalui meatus superior
b. Sinus frontalis ke meatus media
c. Sinus maxillaris ke meatus media
d. Sinus ethmoidalis ke meatus superior dan media.

Persarafan Hidung
1. Bagian depan dan atas Cavum Nasi mendapat persarafan sensoris dari nervus nasalis,
nervus ethmoidalis anterior semuanya dari cabang N. Opthalmicus
2. Bagian bawah belakang termasuk mucosa conchae nasalis depan di persarafi oleh rami
nasalis posterior cabang dari N. Maxillaris
3. Daerah nasofaring dan conchae nasalis belakang mendapat persarafan sensorik dari
cabang ganglion pterygopalatinum.
Nervus olfactorius memberikan sel-sel reseptor untuk penciuman. Proses penciuman : pusat
penciuman pada gyrus frontalis, menembus lamina cribrosa ethmoidalis ke traktus olfactorius,
bulbus olfactorius, serabut n. olfactorius pada mucusa atas depan cavum nasi.

Perdarahan Hidung

Berasal dari cabang arteri carotis interna dan arteri carotis eksterna.
Arteri carotis interna mempercabangkan arteria opthalmica. Selanjuntnya arteria opthalmica
mempercabangkan arteri :
1. Arteri ethmoidalis dengan cabang-cabang : arteri nasalis externa dan lateralis, arteri septalis
anterior
2. Arteri ethmoidalis posterior dengan cabang-cabang : arteri nasalis posterior, lateralis dan
septal, arteri palatinus majus
Arteri carotis eksterna mempercabangkan dulu A. Maxillaris. Arteri maxillaris baru
mempercabangkan Arteri Sphenopalatinum.
Ketiga pembuluh tersebut membentuk anyaman kapiler pembuluh darah yang dinamakan Plexus
Kisselbach. Plexus ini mudah pecah oleh trauma/infeksi sehingga sering menjadi sumber
epistaxis pada anak. Bila Plexus Kisselbach pecah, maka akan terjadi epistaxis.
Epistaksis ada 2 macam, yaitu :
1. Epistaksis anterior
Dapat berasal dari flexus Kisselbach, yang merupakan sumber perdarahan paling sering
dijumpai anak-anak. Dapat juga berasal dari arteri ethmoidalis anterior. Perdarahan dapat
berhenti sendiri atau spontan dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana.
2. Epistaksis posterior
Berasal dari arteri sphenopalatina, dan a.ethmoidalis posterior. Perdarahan cenderung
lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan anemia,
hipovolemia, dan syok. Sering ditemukan pada pasien dengan penyakit kardiovaskular.

FARING

Pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai persambungannya dengan oesopagus
pada ketinggian tulang rawan Krikoid. Maka letaknya di belakang larinx (larinx-faringeal).
Faring terbagi menjadi 3, yaitu
a. Nasofaring terdapat Pharyngeal Tonsil dan Tuba Eustachius,
b. Orofaring merupakan pertemuan rongga mulut dengan faring, terdapat pangkal lidah,
gabungan sistem respirasi dan pencernaan
c. Laringofaring terjadi persilangan antara aliran udara dan aliran makanan.
LARING

Laring adalah organ yang berfungsi sebagai spincter pelindung pada sistem respirasi dan
berperan dalam pembentukan suara. Terletak setinggi vertebrae cervicalis 4,5 dan 6 di bawah
lidah dan tulang os hyoid, dibagian depan terdapat otot-otot dan bagian lateral ditutupi kelenjer
tiroid.

Rangka laring terbentuk dari tulang rawan dan tulang. Laring adalah bagian terbawah dari
saluran napas atas.
1. Berbentuk tulang adalah os hyoid
2. Berbentuk tulang rawan adalah : tyroid 1 buah, arytenoid 2 buah, epiglotis 1 buah. Pada
arytenoid bagian ujung ada tulang rawan kecil cartilago cornuculata dan cuneiforme.
3. Tulang rawan dan ototnya berasal dari mesenkim lengkung faring ke 4 dan ke 6.
Mesenkin berproliferasi dengan cepat, aditus laringis berubah bentuk dari celah sagital
menjadi lubang bentuk T. mesenkin kedua lengkung faring menjadi kartilago tiroidea,
krikoidea serta antenoidea. Epitel laring berproliferasi dengan cepat. Vakuolisasi dan
rekanalisasi terbentuk sepasang resesus lateral, berdiferensiasi menjadi pita suara palsu dan
sejati.
Os hyoid
Mempunyai 2 buah cornu, cornu majus dan minus. Berfungsi untuk perlekatan otot mulut dan
cartilago thyroid
Cartilago thyroid
Terletak di bagian depan dan dapat diraba tonjolan yang disebut prominess laryngis atau lebih
disebut jakun pada laki-laki. Jaringan ikatnya adalah membrana thyrohyoid. Mempunyai cornu
superior dan inferior. Pendarahan dari a. Thyroidea superior dan inferior.
Cartilago arytenoid
Mempunyai bentuk seperti burung penguin. Ada cartilago corniculata dan cuneiforme. Kedua
arytenoid dihubungkan m.arytenoideus transversus.
Epiglotis
Tulang rawan berbentuk sendok. Melekat di antara cartilago arytenoid. Berfungsi untuk
membuka dan menutup aditus laryngis. Saat menelan epiglotis menutup aditus laryngis supaya
makanan tidak masuk ke laring.
Cartilago cricoid
Batas bawah adalah cincin pertama trakea. Berhubungan dengan thyroid dengan ligamentum
cricothyroid dan m.cricothyroid medial lateral.
Otot-otot laring :
a. Otot extrinsik laring
1. M.cricothyroid
2. M. thyroepigloticus
b. Otot intrinsik laring
1. M.cricoarytenoid posterior yang membuka plica vocalis. Jika terdapat gangguan pada
otot ini maka bisa menyebabkan orang tercekik dan meninggal karena rima glottidis
tertutup. Otot ini disebut juga safety muscle of larynx.
2. M. cricoarytenoid lateralis yang menutup plica vocalis dan menutup rima glottdis
3. M. arytenoid transversus dan obliq
4. M.vocalis
5. M. aryepiglotica
6. M. thyroarytenoid

Dalam cavum laryngis terdapat :


Plica vocalis, yaitu pita suara asli sedangkan plica vestibularis adalah pita suara palsu. Antara
plica vocalis kiri dan kanan terdapat rima glottidis sedangkan antara plica vestibularis terdapat
rima vestibuli. Persyarafan daerah laring adalah serabut nervus vagus dengan cabang ke laring
sebagai N.laryngis superior dan n. recurrent.

LO 1.2 Memahami dan Menjelaskan Anatomi Mikroskopis

Sistem pernapasan biasanya dibagi menjadi 2 daerah utama:


1. Bagian konduksi, meliputi rongga hidung, nasofaring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus dan
bronkiolus terminalis
2. Bagian respirasi, meliputi bronkiolus respiratorius, duktus alveolaris dan alveolus.
Sebagian besar bagian konduksi dilapisi epitel respirasi, yaitu epitel bertingkat silindris bersilia
dengan sel goblet. Dengan menggunakan mikroskop elektron dapat dilihat ada 5 macam sel
epitel respirasi yaitu sel silindris bersilia, sel goblet mukosa, sel sikat (brush cells), sel basal, dan
sel granul kecil.
HIDUNG

Rongga hidung terdiri atas vestibulum dan fosa nasalis. Pada vestibulum disekitar nares terdapat
kelenjar sebasea dan vibrisa (bulu hidung). Epitel didalam vestibulum merupakan epitel respirasi
sebelum memasuki fosa nasalis. Pada fosa nasalis (cavum nasi) yang dibagi dua oleh septum nasi pada garis
medial, terdapat konka (superior, media, inferior) pada masing-masing dinding lateralnya. Konka
media dan inferior ditutupi oleh epitel respirasi, sedangkan konka superior ditutupi oleh epitel
olfaktorius yang khusus untuk fungsi menghidu/membaui. Epitel olfaktorius tersebut terdiri atas
sel penyokong/selsustentakuler, sel olfaktorius (neuron bipolar dengan dendrit yang melebar
dipermukaan epitel olfaktorius dan bersilia, berfungsi sebagai reseptor dan memiliki akson yang
bersinaps dengan neuron olfaktorius otak), sel basal (berbentuk piramid) dan kelenjar Bowman
pada lamina propria. Kelenjar Bowman menghasilkan sekret yang membersihkan silia sel
olfaktorius sehingga memudahkan akses neuron untuk membaui zat-zat. Adanya vibrisa, konka
dan vaskularisasi yang khas pada rongga hidung membuat setiap udarayang masuk
mengalami pembersihan, pelembapan dan penghangatan sebelum masuk lebih jauh.
Sinus Paranasalis
1. Ruangan dalam tulang : os frontal, os maxilla, os ethmoid, os sphenoid
2. Dilapisi epitel bertingkat torak dengan sedikit sel goblet
3. Lamina propria tipis, melekat erat pada periostium
4. Lendir yang dihasilkan dialirkan ke cavum nasi oleh silia
FARING
Faring terbagi menjadi tiga, yaitu :
1. Nasofaring yang terletak di bawah dasar tengkorak (epitel bertingkat torak bersilia, dengan
sel goblet).
2. Orofaring, belakang rongga mulut dan permukaan belakang lidah (epitel berlapis gepeng
dengan lapisan tanduk)
3. Laringofaring, belakang laring (epitel bervariasi)
Epitel yang membatasi nasofaring bisa merupakan epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel
goblet atau epitel berlapis gepeng. Di dalam lamina propria terdapat kelenjar, terutama kelenjar
mukosa. Tapi dapat juga terdapat kelenjar serosa dan kelenjar campur.
LARING
Laring adalah saluran napas yang menghubungkan faring dengan trakea. Laring berfungsi untuk
bagian system konduksi pernapasan juga pita suara. Pita suara sejati dan pita suara palsu masingmasing merupakan tepi bebas atas selaput krikovokal (krikotiroid) dan tepi bebas bawah selaput
kuadratus (aryepiglotica). Di antara pita suara palsu dan pita suara sejati terdapat sinus dan
kantung laring. Lipatan aryepiglotica dan pita suara mempunyai epitel berlapis gepeng tanpa
lapisan tanduk. Laring juga mempunyai epitel bertingkat silindris bersilia dengan sel goblet.
Pada pita suara, lamina propria di bawah epitel berlapis gepeng padat dan terikat erat dengan
jaringan ikat ligamentum vokalis di bawahnya. Dalam laring tidak ada submukosa tapi lamina
propria dari membrane mukosanya tebal dan mengandung banyak serat elastin.
EPIGLOTIS

Kerangka epiglotis terbentuk dari tulang rawan elastis. Kerangka ini dilapisi oleh epitel yang
berbeda. Permukaan laringeal dilapisi oleh epitel bertingkat torak dengan silia dan sel goblet
sama seperti epitel saluran pernafasan lainnya. Sedangkan permukaan lingual dilapisi oleh epitel
berlapis gepeng tanpa lapisan tanduk, yang merupakan kelanjutan dari epitel rongga mulut.
Dibawah epitel terdapat lamina propria yang terisi oleh kelenjer campur.

LI 2. Memahami dan Menjelaskan Fisiologi dan Pertahanan Pernafasan


Mekanisme Pertahanan
Mekanisme pertahanan non spesifik disebut juga komponen nonadaptif atau innate, atau imunitas
alamiah, sudah ada sejak bayi lahir. Jadi bukan merupakan pertahanan khusus untuk antigen
tertentu.
Mekanisme pertahanan tubuh spesifik atau disebut juga komponen adaptif atau imunitas didapat
adalah mekanisme pertahanan yang ditujukan khusus terhadap satu jenis antigen, karena itu tidak
dapat berperan terhadap antigen jenis lain.
MEKANISME BATUK

Seluruh saluran nafas dari hidung sampai bronkiolus terminalis, dipertahankan agar tetap lembab
oleh selapis mukosa yang melapisi seluruh permukaan. Mukus ini disekresikan sebagian oleh sel
goblet dalam epitel saluran nafas, dan sebagian lagi oleh kelenjar submukosa yang kecil. Batuk
yang tidak efektif dapat menimbulkan penumpukan sekret yang berlebihan, atelektasis, gangguan
pertukaran gas dan lain-lain.
Mekanisme batuk dibagi menjadi 3 fase:
Fase 1 (Inspirasi), paru2 memasukan kurang lebih 2,5 liter udara, oesofagus dan pita suara
menutup, sehingga udara terjerat dalam paru2
Fase 2 (Kompresi), otot perut berkontraksi, diafragma naik dan menekan paru2, diikuti pula
dengan kontraksi intercosta internus. Pada akhirnya akan menyebabkan tekanan pada paru2
meningkat hingga 100mm/hg.
Fase 3 (Ekspirasi), Spontan oesofagus dan pita suara terbuka dan udara meledak keluar dari paru
MEKANISME BERSIN
Reflek bersin mirip dengan reflek batuk kecuali bahwa refleks ini berlangsung pada saluran
hidung, bukan pada saluran pernapasan bagian bawah. Rangsangan awal menimbulkan refleks
bersin adalah iritasi dalam saluran hidung, impuls saraf aferen berjalan dalam nervus ke lima
menuju medulla tempat refleks ini dicetuskan. Terjadi serangkaian reaksi yang mirip dengan
refleks batuk tetapi uvula ditekan, sehingga sejumlah besar udara dengan cepat melalui hidung,
dengan demikian membantu membersihkan saluran hidung dari benda asing.
FISIOLOGI PERNAFASAN
Pernapasan atau respirasi adalah menghirup udara dari luar yang mengandung O2 kedalam tubuh
serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi yang
keluar dari tubuh. Proses penghirupan udara ini disebut inspirasi dan menghembuskan disebut
ekspirasi
Secara fungsional (faal) saluran pernafasan dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu :
1. Zona Konduksi
Zona konduksi berperan sebagai saluran tempat lewatnya udara pernapasan, serta membersihkan,
melembabkan dan menyamakan suhu udara pernapasan dengan suhu tubuh. Disamping itu zona
konduksi juga berperan pada proses pembentukan suara. Zona konduksi terdiri dari hidung,
faring, trakea, bronkus, serta bronkioli terminalis.

Trakea dapat juga dijuluki sebagai eskalator-muko-siliaris karena silia pada trakea dapat
mendorong benda asing yang terikat zat mucus ke arah faring yang kemudian dapat ditelan atau
dikeluarkan. Silia dapat dirusak oleh bahan-bahan beracun yang terkandung dalam asap rokok.
Struktur bronki primer masih serupa dengan struktur trakea. Pada bagian akhir dari bronki,
cincin tulang rawan yang utuh berubah menjadi lempengan-lempengan. Pada bronkioli
terminalis struktur tulang rawan menghilang dan saluran udara pada daerah ini hanya dilingkari
oleh otot polos. Struktur semacam ini menyebabkan bronkioli lebih rentan terhadap penyimpatan
yang dapat disebabkan oleh beberapa faktor. Bronkioli mempunyai silia dan zat mucus.
Bahan-bahan debris di alveoli ditangkap oleh sel makrofag yang terdapat pada alveoli, kemudian
dibawa oleh lapisan mukosa dan selanjutnya dibuang.
2. Zona Respiratorik
Zona respiratorik terdiri dari alveoli, dan struktur yang berhubungan. Pertukaran gas antara udara
dan darah terjadi di dalam alveoli. Selain struktur diatas terdapat pula struktur yang lain, seperti
bulu-bulu pada pintu masuk yang penting untuk menyaring partikel-partikel yang masuk.
Proses terjadinya pernapasan terbagi 2 bagian, yaitu :
1. Menarik napas (inspirasi)
Inspirasi merupakan proses aktif, disini kontraksi otot-otot inspirasi akan meningkatkan tekanan
di dalam ruang antara paru-paru dan dinding dada (tekanan intraktorakal). Inspirasi terjadi bila
muskulus diafragma telah dapat rangsangan dari nervus prenikus lalu mengkerut datar. Muskulus
interkostalis kontraksi. Dengan demikian jarak antara sternum dan vertebrata semakin luas dan
lebar. Rongga dada membesar maka pleura akan tertarik, dengan demikian menarik paru-paru
maka tekanan udara di dalamnya berkurang dan masuklah udara dari luar.
2. Menghembus napas (ekspirasi)
Ekspirasi merupakan proses pasif yang tidak memerlukan konstraksi otot untuk menurunkan
intratorakal. Ekspirasi terjadi apabila pada suatu saat otot-otot akan kendur lagi (diafragma akan
menjadi cekung, muskulus interkostalis miring lagi) dan dengan demikian rongga dada menjadi
kecil kembali, maka udara didorong keluar. Tetapi setelah ekspirasi normal, kitapun masih bisa
menghembuskan nafas dalam-dalam karena adanya kerja dari otot-otot ekspirasi yaitu muskulus
interkostalis internus dan muskulus abdominis.
FUNGSI RESPIRASI BAGI MANUSIA
1. Mengambil oksigen yang kemudian dibawa oleh darah keseluruh tubuh (sel-selnya) untuk
mengadakan pembakaran
2. Mengeluarkan karbon dioksida yang terjadi sebagai sisa dari pembakaran, kemudian dibawa
oleh darah ke paru-paru untuk dibuang (karena tidak berguna lagi oleh tubuh)
3. Melembabkan udara
Sistem respirasi bekerja melalui 3 tahapan yaitu :
1. Ventilasi
Ventilasi terjadi karena adanya perubahan tekanan intra pulmonal, pada saat inspirasi tekanan
intra pulmonal lebih rendah dari tekanan atmosfer sehingga udara dari atmosfer akan terhisap ke
dalam paru-paru. Sebaliknya pada saat ekspirasi tekanan intrapulmonal menjadi lebih tinggi dari

atmosfer sehingga udara akan tertiup keluar dari paru-paru. Perubahan tekanan intrapulmonal
tersebut disebabkan karena perubahan volume thorax akibat kerja dari otot-otot pernafasan dan
diafragma.
Ventilasi dipengaruhi oleh :
1. Kadar oksigen pada atmosfer
2. Kebersihan jalan nafas
3. Daya recoil & complience (kembang kempis) dari paru-paru
4. Pusat pernafasan
Fleksibilitas paru sangat penting dalam proses ventilasi. Fleksibilitas paru dijaga oleh surfaktan.
Surfaktan merupakan campuran lipoprotein yang dikeluarkan sel sekretori alveoli pada bagian
epitel alveolus dan berfungsi menurunkan tegangan permukaan alveolus yang disebabkan karena
daya tarik menarik molekul air & mencegah kolaps alveoli dengan cara membentuk lapisan
monomolekuler antara lapisan cairan dan udara.
2. Difusi
Difusi dalam respirasi merupakan proses pertukaran gas antara alveoli dengan darah pada kapiler
paru. Proses difusi terjadi karena perbedaan tekanan, gas berdifusi dari tekanan tinggi ke tekanan
rendah. Salah satu ukuran difusi adalah tekanan parsial.
Volume gas yang berdifusi melalui membran respirasi per menit untuk setiap perbedaan tekanan
sebesar 1 mmHg disebut kapasitas difusi. Kapasitas difusi oksigen dalam keadaan istirahat
sekitar 230 ml/menit.
Difusi dipengaruhi oleh :
1. Ketebalan membran respirasi
2. Koefisien difusi
3. Luas permukaan membran respirasi
4. Perbedaan tekanan parsial
5. Transportasi
3. Transfortasi
Transportasi oksigen ke sel-sel yang membutuhkan melalui darah dan pengangkutan
karbondioksida sebagai sisa metabolisme ke kapiler paru.
Transportasi gas dipengaruhi oleh :
1. Cardiac Output
2. Jumlah eritrosit
3. Aktivitas
4. Hematokrit darah
4. Regulasi
Mekanisme adaptasi sistem respirasi terhadap perubahan kebutuhan oksigen tubuh sangat
penting untuk menjaga homeostastis dengan mekanisme sebagai berikut :
Sistem respirasi diatur oleh pusat pernafasan pada otak yaitu medula oblongata. Pusat nafas
terdiri dari daerah berirama medulla (medulla rithmicity) dan pons. Daerah berirama medula
terdiri dari area inspirasi dan ekspirasi. Sedangkan pons terdiri dari pneumotaxic area dan
apneustic area. Pneumotaxic area menginhibisi sirkuit inspirasi dan meningkatkan irama
respirasi. Sedangkan apneustic area mengeksitasi sirkuit inspirasi.

Pengaturan respirasi dipengaruhi oleh :


1. Korteks serebri yang dapat mempengaruhi pola respirasi.
2. Zat-zat kimiawi : dalam tubuh terdapat kemoresptor yang sensitif terhadap perubahan
konsentrasi O2, CO2 dan H+ di aorta, arkus aorta dan arteri karotis.
3. Gerakan : perubahan gerakan diterima oleh proprioseptor.
4. Refleks Heuring Breur : menjaga pengembangan dan pengempisan paru agar optimal.
5. Faktor lain : tekanan darah, emosi, suhu, nyeri, aktivitas spinkter ani dan iritasi saluran napas.

VOLUME STATIS PARU-PARU


1. Volume tidal (VT) = jumlah udara yang dihirup dan dihembuskan setiap kali bernafas
pada saat istirahat. Volume tidal normal bagi 350-400 ml.
2. Volume residu (RV) = jumlah gas yang tersisa di paru-paru setelah menghembuskan
nafas secara maksimal atau ekspirasi paksa. Nilai normalnya adalah 1200 ml.
3. Kapasitas vital (VC) = jumlah gas yang dapat diekspirasi setelah inspirasi secara
maksimal. VC = VT + IRV + ERV (seharusnya 80% TLC). Besarnya adalah 4800 ml.
4. Kapasitas total paru-paru (TLC) = yaitu jumlah total udara yang dapat dimasukkan ke
dalam paru-paru setelah inspirasi maksimal. TLC= VT + IRV + ERV + RV. Besarnya
adalah 6000 ml.
5. Kapasitas residu fungsional (FRC) = jumlah gas yang tertinggal di paru-paru setelah
ekspirasi volume tidak normal. FRC = ERV + RV. Besarnya berkisar 2400 ml.
6. Kapasitas inspirasi (IC) = jumlah udara maksimal yang dapat diinspirasi setelah ekspirasi
normal. IC = VT + IRT. Nilai normalnya sekitar 3600 ml.
7. Volume cadangan inspirasi (IRV) = jumlah udara yang dapat diinspirasi secara paksa
sesudah inspirasi volume tidak normal.
8. Volume cadangan ekspirasi (ERV) = jumlah udara yang dapat diekspirasi secara paksa
sesudah ekspirasi volume tidak normal.
LI 3. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis
LO 3.1 Memahami dan Menjelaskan definisi Rhinitis
Rhinitis adalah peradangan pada membran mukosa hidung oleh karena adanya alergen yang
kemudian berdifusi di jaringan hidung.
LO 3.2 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi Rhinitis
KLASIFIKASI
A. Rhinitis Allergi
1. Berdasarkan waktu paparannya:

a. Rhinitis seasonal : alergi karena musiman, seperti serbuk sari bunga yang bersifat
eksternal/ luar rumah
b. Rhinitis parrenial: tanpa tergantung musim. Co: alergi debu, kutu rumah, bulu binatang,
jamur, yang biasanya ditemukan di dalam rumah.
2. Berdasarkan sifat berlangsungnya:
a. Intermiten (kadang-kadang): bila gejala kurang dari 14 hari/ minggu atau kurang dari 4
minggu.
b. Presisten / menetap : bila gejala lebih dari 4 hari/minggu dan lebih dari 4 minggu.
3. Berdasarkan tingkat berat ringannya penyakit:
a. Ringan : bila tidak ditemukan gangguan tidur, gangguan aktivitas harian.
b. Sedang berat : bila terrdapat satu atau lebih dari gangguan tersebut.
B. Rhinitis Non-Allergi
Rhinitis non-alergi dikaraktensasi oleh gejala periodik atau parrenial yang bukan merupakan
hasil dari kejadian IgE dependent. Tipe-tipe rhinitis non alergi :
a. Rhinitis vasomotor
Akibat tergangguanya keseimbangan sistem parasimpatis dan simpatis. Parasimpatis jadi
lebih dominan kemudian terjadi pelebaran dan pembengkakan pembuluh darah di hidung.
Gejala yang timbul hidung tersumbat, bersin-bersin dan hidung berair. Keseimbangan
vasomotor ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang berlangsung temporer, seperti emosi,
posisi tubuh, kelembabab udara, perubahan suhu luar, latihan jasmani dll.
b. Rhinitis infeksiosa
Terjadi karena infeksi saluran pernapasan bagian atas, baik bakteri maupun virus. Ciri
khasnya biasanya hidung bernanah, nyeri, dan tekanan pada wajah, penurunan indera
penciuman dan batuk.
c. Rhinitis okupational
Rhinitis yang berhubungan dengan pekerjaan, biasanya terjadi karena menghirup bahanbahan iritan (debu kayu, bahan kimia) kemudian sering mengalami asma
d. Rhinitis Medikamentosa
Suatu kelainan hidung,gangguan respon normal vasomotor akibat pemakaian vasokonstriktor
topikal (lama& berlebihan),sumbatan hidung yang menetap.
Kerusakan pada mukosa hidung :
a) Silia rusak
b) Sel goblet berubah ukuran
c) Membran bassal menebal
d) Pembuluh darah melebar
e) Stroma edem
f) Hipersekresikelenjar mucus
g) Lapisan submukosa menebal

h) Lapisan periostium menebal


Gejala dan tanda :
1. Hidung tersumbat terus menerus
2. Rinorea
3. Pemeriksaan: edema konka + sekret berlebihan
4. Edema konka tidak berkurang dengan pemberian adrenalin
LI 4. Memahami dan Menjelaskan Rhinitis Alergi
LO 4.1 Memahami dan Menjelaskan definisi Rhinitis alergi
Rinitis alergi adalah peradangan pada membran mukosa hidung, reaksi peradangan yang
diperantarai IgE, ditandai dengan obstruksi hidung, sekret hidung cair, bersin-bersin, dan gatal
pada hidung dan mata. Rinitis alergi mewakili permasalahan kesehatan dunia mengenai sekitar
10 25% populasi dunia, dengan peningkatan prevalensi selama dekade terakhir. Rinitis alergi
merupakan kondisi kronik tersering pada anak dan diperkirakan mempengaruhi 40% anak-anak.
Sebagai konsekuensinya, rinitis alergi berpengaruh pada kualitas hidup, bersama-sama dengan
komorbiditas beragam dan pertimbangan beban sosial-ekonomi, rinitis alergi dianggap sebagai
gangguan pernafasan utama. Tingkat keparahan rinitis alergi diklasifikasikan berdasarkan
pengaruh penyakit terhadap kualitas hidup seseorang. Diagnosis rinitis alergi melibatkan
anamnesa dan pemeriksaan klinis yang cermat, lokal dan sistemik khususnya saluran nafas
bawah.
LO 4.2 Memahami dan Menjelaskan klasifikasi dan etiologi Rhinitis alergi
Penyebab rinitis alergi berbeda-beda bergantung pada apakah gejalanya musiman, perenial,
ataupun sporadik/episodik. Beberapa pasien sensitif pada alergen multipel, dan mungkin
mendapat rinitis alergi perenial dengan eksaserbasi musiman. Ketika alergi makanan dapat
menyebabkan rinitis, khususnya pada anak-anak, hal tersebut ternyata jarang menyebabkan
rinitis alergi karena tidak adanya gejala kulit dan gastrointestinal.
Untuk rinitis alergi musiman, pencetusnya biasanya serbuksari (pollen) dan spora jamur.
Sedangkan untuk rinitis alergi perenial pencetusnya bulu binatang, kecoa, tikus, tungau, kasur
kapuk, selimut, karpet, sofa, tumpukan baju dan buku-buku.
Alergen inhalan selalu menjadi penyebab. Serbuksari dari pohon dan rumput, spora jamur, debu
rumah, debris dari serangga atau tungau rumah adalah penyebab yang sering. Alergi makanan
jarang menjadi penyebab yang penting. Predisposisi genetik memainkan bagian penting.
Kemungkinan berkembangnya alergi pada anak-anak adalah masing-masing 20% dan 47%, jika
satu atau kedua orang tua menderita alergi.
LO 4.3 Memahami dan Menjelaskan patofisiologi Rhinitis alergi

Rinitis alergi merupakan suatu penyakit inflamasi yang diawali dengan tahap sensitisasi dan
diikuti dengan reaksi alergi. Reaksi alergi terdiri dari 2 fase yaitu :
1. Immediate Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Cepat (RAFC) yang berlangsung
sejak kontak dengan alergen sampai 1 jam setelahnya. Munculnya segera dalam 5-30 menit,
setelah terpapar dengan alergen spesifik dan gejalanya terdiri dari bersin-bersin, rinore
karena hambatan hidung dan atau bronkospasme. Hal ini berhubungan dengan pelepasan
amin vasoaktif seperti histamin.
2. Late Phase Allergic Reaction atau Reaksi Alergi Fase Lambat (RAFL) yang berlangsung 2-4
jam dengan puncak 6-8 jam (fase hiperreaktifitas) setelah pemaparan dan dapat berlangsung
sampai 24-48 jam. Muncul dalam 2-8 jam setelah terpapar alergen tanpa pemaparan
tambahan. Hal ini berhubungan dengan infiltrasi sel-sel peradangan, eosinofil, neutrofil,
basofil, monosit dan CD4 + sel T pada tempat deposisi antigen yang menyebabkan
pembengkakan, kongesti dan sekret kental.(1,3)

Pada kontak pertama dengan alergen atau tahap sensitisasi, makrofag atau monosit yang berperan
sebagai APC akan menangkap alergen yang menempel di permukaan mukosa hidung. Kompleks
antigen yang telah diproses dipresentasikan pada sel T helper (Th0). APC melepaskan sitokin
seperti IL1 yang akan mengaktifkan Th0 ubtuk berproliferasi menjadi Th1 dan Th2.
Th2 menghasilkan berbagai sitokin seperti IL3, IL4, IL5 dan IL13. IL4 dan IL13 dapat diikat oleh
reseptornya di permukaan sel limfosit B, sehingga sel limfosit B menjadi aktif dan akan
memproduksi IgE. IgE di sirkulasi darah akan masuk ke jaringan dan diikat oleh reseptor IgE di

permukaan sel mastosit atau basofil (sel mediator) sehingga kedua sel ini menjadi aktif. Proses
ini disebut sensitisasi yang menghasilkan mediator yang tersensitisasi. Bila mukosa yang sudah
tersensitisasi terpapar dengan alergen yang sama, maka kedua rantai IgE akan mengikat alergen
spesifik dan terjadi degranulasi (pecahnya dinding sel) mastosit dan basofil dengan akibat
terlepasnya mediator kimia yang sudah terbentuk terutama histamin.(1)

Rinitis Alergi melibatkan membran mukosa hidung, mata, tuba eustachii, telinga tengah, sinus
dan faring. Hidung selalu terlibat, dan organ-organ lain dipengaruhi secara individual.
Peradangan dari mukosa membran ditandai dengan interaksi kompleks mediator inflamasi
namun pada akhirnya dicetuskan oleh IgE yang diperantarai oleh respon protein ekstrinsik.(6)
Kecenderungan munculnya alergi, atau diperantarai IgE, reaksi-reaksi pada alergen ekstrinsik
(protein yang mampu menimbulkan reaksi alergi) memiliki komponen genetik. Pada individu
yang rentan, terpapar pada protein asing tertentu mengarah pada sensitisasi alergi, yang ditandai
dengan pembentukan IgE spesifik untuk melawan protein-protein tersebut. IgE khusus ini
menyelubungi permukaan sel mast, yang muncul pada mukosa hidung. Ketika protein spesifik
(misal biji serbuksari khusus) terhirup ke dalam hidung, protein dapat berikatan dengan IgE pada
sel mast, yang menyebabkan pelepasan segera dan lambat dari sejumlah mediator. Mediatormediator yang dilepaskan segera termasuk histamin, triptase, kimase, kinin dan heparin. Sel mast
dengan cepat mensitesis mediator-mediator lain, termasuk leukotrien dan prostaglandin D2.
Mediator-mediator ini, melalui interaksi beragam, pada akhirnya menimbulkan gejala rinore
(termasuk hidung tersumbat, bersin-bersin, gatal, kemerahan, menangis, pembengkakan, tekanan
telinga dan post nasal drip). Kelenjar mukosa dirangsang, menyebabkan peningkatan sekresi.
Permeabilitas vaskuler meningkat, menimbulkan eksudasi plasma. Terjadi vasodilatasi yang
menyebabkan kongesti dan tekanan. Persarafan sensoris terangsang yang menyebabkan bersin

dan gatal. Semua hal tersebut dapat muncul dalam hitungan menit; karenanya reaksi ini dikenal
dengan fase reaksi awal atau segera.(6)
Setelah 4-8 jam, mediator-mediator ini, melalui kompetisi interaksi kompleks, menyebabkan
pengambilan sel-sel peradangan lain ke mukosa, seperti neutrofil, eosinofil, limfosit dan
makrofag. Hasil pada peradangan lanjut, disebut respon fase lambat. Gejala-gejala pada respon
fase lambat mirip dengan gejala pada respon fase awal, namun bersin dan gatal berkurang, rasa
tersumbat bertambah dan produksi mukus mulai muncul. Respon fase lambat ini dapat bertahan
selama beberapa jam sampai beberapa hari.(6)
Sebagai ringkasan, pada rinitis alergi, antigen merangsang epitel respirasi hidung yang sensitif,
dan merangsang produksi antibodi yaitu IgE. Sintesis IgE terjadi dalam jaringan limfoid dan
dihasilkan oleh sel plasma. Interaksi antibodi IgE dan antigen ini terjadi pada sel mast dan
menyebabkan pelepasan mediator farmakologi yang menimbulkan dilatasi vaskular, sekresi
kelenjar dan kontraksi otot polos.(2)
Efek sistemik, termasuk lelah, mengantuk, dan lesu, dapat muncul dari respon peradangan.
Gejala-gejala ini sering menambah perburukan kualitas hidup.(6)
Berdasarkan cara masuknya, allergen dibagi atas :(1)
1. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernafasan, misalnya debu rumah,
tungau, serpihan epitel, bulu binatang.
2. Alergen ingestan yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan misalnya susu, telur,
coklat, ikan, udang.
3. Alergen injektan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa.
4. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa, misalnya
bahan kosmetik, perhiasan.
LO 4.4 Memahami dan Menjelaskan manifestasi Rhinitis alergi
a. Serangan bersin berulang terutama pada pagi hari atau bila terdapat kontak dengan sejumlah
besar debu.
b. Ingus (rinore) yang encer
c. Hidung tersumbat
d. Hidung dan mata gatal
e. Banyak air mata yang keluar (lakrimasi)

f. Lipatan hidung melintang (garis hitam melintang pada tengah punggunghidung akibat sering
menggosok hidung ke atas menirukan pemberian hormat (allergic salute)
g. Lubang hidung bengkak
h. Edema kelopak mata
i. Kongesti konjungtiva
j. Lingkar hitam di bawah mata (allergic shiner)k.
k. Otitis media serosa sebagai hasil hambatan tuba eustachii
Gejala lain yang tidak khas dapat berupa, batuk, sakit kepala, masalahpenciuman, mengi,
penekanan pada sinus dan nyeri wajah, post nasal drip.Beberapa orang juga mengalami lemah
dan lesu, mudah marah, kehilangan nafsumakan dan sulit tidur
LO 4.5 Memahami dan Menjelaskan Diagnosis dan diagnosis banding Rhinitis alergi
Diagnosis rhinitis alergi ditegakkan berdasarkan:
1. Anamnesis
Perlu ditanyakan gejala-gejala spesifik yang mengganggu pasien (seperti hidung tersumbat,
gatal-gatal pada hidung, rinore, bersin), pola gejala (hilang timbul, menetap) beserta onset
dan keparahannya, identifikasi faktor predisposisi, respon terhadap pengobatan, kondisi
lingkungan dan pekerjaan. Karena rhinitis alergi seringkali berhubungan dengan
konjungtivitis alergi, maka adanya gatal pada mata dan lakrimasi mendukung diagnosis
rinitis alergi. Riwayat keluarga merupakan petunjuk yang cukup penting dalam menegakkan
diagnosis pada anak.
2. Pemeriksaan Fisik
Pada muka biasanya didapatkan garis Dennie-Morgan dan allergic shinner, yaitu bayangan
gelap di daerah bawah mata karena stasis vena sekunder akibat obstruksi hidung. Selain itu,
dapat ditemukan juga allergic crease yaitu berupa garis melintang pada dorsum nasi bagian
sepertiga bawah. Garis ini timbul akibat hidung yang sering digosok-gosok oleh punggung
tangan (allergic salute). Pada pemeriksaan rinoskopi ditemukan mukosa hidung basah,
berwarna pucat atau livid dengan konka edema dan sekret yang encer dan banyak. Perlu juga
dilihat adanya kelainan septum atau polip hidung yang dapat memperberat gejala hidung
tersumbat. Selain itu, dapat pula ditemukan konjungtivis bilateral atau penyakit yang
berhubungan lainnya seperti sinusitis dan otitis media.
3. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan sitologi hidung tidak memastikan diagnosis, tetapi berguna sebagai pemeriksaan
pelengkap. Ditemukannya eosinofil dalam jumlah banyak (5 sel/lapang pandang)
menunjukkan kemungkinan alergi. Hitung jenis eosinofil dalam darah tepi dapat normal atau
meningkat. Pemeriksaan IgE total seringkali menunjukkan nilai normal, kecuali bila tanda
alergi pada pasien lebih dari satu penyakit. Lebih bermakna adalah pemeriksaan IgE spesifik
dengan cara RAST (Radioimmuno Sorbent Test) atau ELISA (Enzyme Linked Immuno
Sorbent Test). Uji kulit alergen penyebab dapat dicari secara invivo.

Ada dua macam tes kulit yaitu tes kulit epidermal dan tes kulit intradermal. Tes epidermal
berupa tes kulit gores (scratch) dengan menggunakan alat penggores dan tes kulit tusuk (skin
prick test). Tes intradermal yaitu tes dengan pengenceran tunggal (single dilution) dan
pengenceran ganda (Skin Endpoint Titration SET). SET dilakukan untuk alergen inhalan
dengan menyuntikkan alergen dalam berbagai konsentrasi. Selain dapat mengetahui alergen
penyebab, juga dapat menentukan derajat alergi serta dosis inisial untuk imunoterapi. Selain
itu, dapat pula dilakukan tes provokasi hidung dengan memberikan alergen langsung ke
mukosa hidung. Untuk alergi makanan, dapat pula dilakukan diet eliminasi dan provokasi
atau Intracutaneous Provocative Food Test (IPFT).
Diagnosis banding dari rhinitis alergika yang harus diperhatikan, adalah :
a. Rhinitis Vasomotor : suatu keadaan idiopatik yang didiagnosis tanpa adanya infeksi,
alergi, eosinofilia, perubahan hormonal dan pajanan obat.
b. Rhinitis Medikamentosa : suatu kelainan hidung berupa gangguan respon normal
vasomotor yang diakibatkan oleh pemakaian vasokonstriktor topical dalam waktu lama
dan berlebihan sehingga menyebabkan sumbatan hidung yang menetap.
c. Rhinitis Simpleks : penyakit yang diakibatkan oleh virus. Biasanya adalah rhinovirus. Sangat
menular dan gejala dapat timbul sebagai akibat tidak adanya kekebalan atau menurunnya daya
tahan tubuh.
d. Rhinitis Hipertrofi :Hipertrofi chonca karena proses inflamasi kronis yang disebabkan
oleh bakteri primer atau sekunder.
e. Rhinitis Atrofi : Infeksi hidung kronik yang ditandai adanya atrofi progresif pada mukosa
dan tulang chonca.
LO 4.6 Memahami dan Menjelaskan Penatalaksanaan Rhinitis alergi
Medikamentosa
Antihistamin antagonis H-1 sebagai inti pertama pengobatan rhinitis alergi dalam kombinasi atau
tanpa kombinasi dengan dekongestan secara peroral. Dibagi menjadi 2 golongan, generasi-1
(klasik) dan generasi-2 (non-sedatif). Generasi H-1 bersifat hipofilik sehingga dapat menembus
sawar darah otak dan plasenta serta mempunyai efek kolinergik. Dekongestan dipakai hanya
untuk menghindari terjadinya rhinitis medikamentosa. Preparat kortikosteroid intranasal
dipilih bila gejala trauma sumbatan hidung tidak kunjung membaik setelah diberi antihistamin.
Antikolinergik topical adalah ipratropium bromida, bermanfaat untuk mengatasi rinore karena
aktifitas inhibisi reserptor kolinergik permukaan selefektor.
Dekongestan
Obat ini golongan simpatomimetik yang beraksi pada reseptoralfa-adregenik pada mukosa
hidung untuk menyebabkan vasokonstriksi, menciutkanmukosa yang membengkak dan
memperbaiki pernafasan, contohnya pseudofedrin,efedrin sulfat dan fenilpropanolamin.
Penggunaan agen topikal yang lama dapat menyebabkan rhinitis medikamentosa, dimana hidung
kembali tersumbat akibat vasodilatasi perifer. Dekongestan oral secara umum tidak dianjurkan
karena efek klinisnya masih meragukan dan memiliki banyak efek samping. Dari keempat obat

dekongestan yang banyak dipakai, fenilopropanolamin dan efedrin memiliki indeksterapi yang
sempit. Keduanya dapat menyebabkan hipertensi pada dosis mendekatiterapetiknya.
Kortikosteroid Nasal
Merupakan obat yang paling efektif untuk mengatasi rhinitis alergi hingga saat ini. Efek utama
steroid topikal pada mukosa hidung Antara lain mengurangi inflamasi dengan memblok
pelepasan mediator, menekan kemotaksis neutrofil, mengurangi edema intrasel, dan menghambat
reaksi fase lambat yang diperantarai sel mast. Sedangkan efek sampingnya meliputi bersin, perih
pada mukosahidung, sakit kepala dan infeksi Candidia albicans.
Sodium Kromolin,
Bekerja dengan mencegah degranulasi sel mast dan pelepasan mediator, termasuk histamin. Efek
sampingnya paling sering adalah iritasilokal.
Ipratropium Bromida
Bermanfaat pada rhintis alergi perennial atau rhinitis alergi yang persisten, obat ini memiliki sifat
anti sekretori jika digunakan secara local dan bermanfaat untuk mengurangi hidung berair. Efek
sampingnya ringan, meliputi sakit kepala, epistaksis, dan hidung terasa kering.
Operatif
Tindakan konkotomi (pemotongan konka inferior) bila konka hipertrofi beratdan tidak dapat
dikecilkan dengan cara kauterisasi memakai AgNO3 25% atau troklor asetat.
Imunoterapi
Desensitasi, hiposensitasi dan netralisasi. Desensitasi dan hiposensitasi membentuk blocking
antibody. Keduanya untuk alergi inhalan yang gejalanyaberat, berlangsung lama dan pengobatan
lain belum memuaskan.

LO 4.7 Memahami dan Menjelaskan Komplikasi Rhinitis alergi


1. Polip hidung. Rinitis alergi dapat menyebabkan atau menimbulkan kekambuhan polip
hidung.
2. Otitis media yang sering residif, terutama pada anak-anak.
3. Sinusitis paranasal.

4. Masalah ortodonti dan efek penyakit lain dari pernafasan mulut yang lama khususnya pada
anak-anak.
5. Asma bronkial. Pasien alergi hidung memiliki resiko 4 kali lebih besar mendapat asma
bronkial.
LO 4.8 Memahami dan Menjelaskan Prognosis Rhinitis alergi
Banyak gejala rinitis alergi dapat dengan mudah diobati. Ada kesan klinis bahwa gejala rhinitis
alergika dapat berkurang dengan bertambahnya usia. Sementara penderita polip hidung akan
tetap mengalami kekambuhan meskipun telah mendapat terapi bedah maupun obat. Pada
beberapa kasus (khususnya pada anak-anak), orang mungkin memperoleh alergi seiring dengan
sistem imun yang menjadi kurang sensitif pada alergen.
LO 4.9 Memahami dan Menjelaskan Pencegahan Rhinitis alergi
Pada dasarnya penyakit alergi dapat dicegah dan dibagi menjadi 3 tahap, yaitu:
a. Pencegahan primer
Untuk mencegah sensitisasi atau proses pengenalan dini terhadap alergen. Tindakan pertama
adalah mengidentifikasi bayi yang mempunyai risiko atopi. Pada ibu hamil diberikan diet
restriksi (tanpa susu, ikan laut, dan kacang) mulai trimester 3 dan selama menyusui, dan bayi
mendapat ASI eksklusif selama 5-6 bulan. Selain itu kontrol lingkungan dilakukan untuk
mencegah pajanan terhadap alergen dan polutan.
b. Pencegahan sekunder
Untuk mencegah manifestasi klinis alergi pada anak berupa asma dan pilek alergi yang sudah
tersensitisasi dengan gejala alergi tahap awal berupaalergi makanan dan kulit. Tindakan yang
dilakukan dengan penghindaran terhadap pajanan alergen inhalan dan makanan yang dapat
diketahui dengan uji kulit.
c. Pencegahan tersier
Untuk mengurangi gejala klinis dan derajat beratnya penyakitalergi dengan penghindaran alergen
dan pengobatan.
LI 5. Memahami dan Menjelaskan Sistem Pernafasan Menurut Pandangan Islam
Pengaruh Wudhu Bagi Kesehatan Wudhu memang memiliki peranan yang besar bagi kehidupan
seorang muslim. Karena wudhu akan menjadi selalu sadar dan enegrik dalam hidup kita. Tidak
diragukan lagi manfaatnya sangat besar bagi kesehatan secara uum. Berikut keajaibaan wudhu
bagi kesehatan antara lain:

a) Berkumur-kumur, penelitian modern menetapkan berkumur-kumur dapat menjaga mulut dan


tenggorakan dari peradangan dan menjaganya dari terjadinya peradangan gusi. Hal ini karena
berkumur-kumur berfungsi memelihara gigi dan membersihkannya dari sisa-sisa makanan
yang masih menempel. manfaat lain yang sangat penting adalah ia dapat menguatkan
sebagian urat wjaah dan menjaga kebersihannya. Ini merupakan suatu latihan penting yang
telah dikenalkan oleh para pakar pendidikan olahraga.
b) Membasuh hidung, sebuah penelitian yang dilakukan kelompok dokter di universitas
Alexendria yang menetapkan pada umumnya, orang-orang yang berwudhu secara terus
menerus hidungnya bersih dari debu, kuman, dan bakteri.
c) Membasuh wajah dan kedua tangan hingga kedua siku memiliki manfaat yang sangat besar
dalam menghilangkan keringat dari permukaan kulit, Air wudhu juga berfungsi
membersihkan kulit dari kandungan minyak yang tertahan di kelenjar kulit.
d) Membasuh kedua kaki seraya memijat-mijat dengan baik akan menciptakan perasaaan tenang
dan nyaman, karena dikakilah terletak semua urat yang berhubungan dengan seluruh anggota
badan.
Manfaat Wudhu
Rasul SAW pernah bersabda, "Sempurnakan wudhu, lakukan istinsyaq (memasukkan air ke
hidung), kecuali jika kamu berpuasa." Selain itu, wudhu juga memiliki beberapa manfaat lain
1. Sarana pembentukan karakter dan melatih kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual.
2. Terapi alami yang terbukti secara ilmiah untuk menjaga kesehatan tubuh dan mencegah
berbagai macam penyakit.
3. Membasuh wajah akan memberi efek positif pada usus, ginjal, sistem saraf, dan sistem
reproduksi.
4. Membasuh kaki akan memberikan efek positif pada kelenjar pituitary otak yang bertugas
mengatur fungsi-fungsi kelenjar endokrin (kelenjar yang bertugas mengatur pengeluaran
hormon).
5. Membasuh telinga dan memijat bagian-bagiannya dapat menurunkan tekanan darah dan
mengurangi rasa sakit.
6. Dapat mencegah penyakit kanker kulit, yang disebabkan oleh bahan-bahan kimia yang setiap
hari menempel dan terserap oleh kulit.
7. Membasuh wajah dapat meremajakan sel-sel kulit wajah dan membantu mencegah
munculnya keriput.
8. Meremajakan selaput lendir yang memiliki peran penting bagi pertahanan tubuh.
9. Menjadikan seorang muslim selalu tersadar, bersemangat dan bersinar.
10. Wudhu dapat melindungi anda dari pengaruh guna2 atau pengaruh setan sehingga anda
terhindar dari kejahatan gaib seperti guna-guna,santet,teluh,pelet,hipnotis,dsb