Anda di halaman 1dari 22

PRESENTASI KASUS

TRAUMA KAPITIS

PEMBIMBING :
dr. Hastari Soekardi, SpS

PENYUSUN :
Resista Freshimona
030.11.243

KEPANITERAAN KLINIK NEUROLOGI


RSUP FATMAWATI
PERIODE 23 NOVEMBER 25 DESEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

KATA PENGANTAR
Puji syukur kepada Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya saya
dapat menyelesaikan makalah dengan judul Trauma Kapitis ini.
Makalah ini disusun dalam rangka memenuhi tugas kepaniteraan klinik bagian
Neurologi Program Studi Pendidikan Dokter Universitas Trisakti di Rumah Sakit
Umum Pusat Fatmawati Jakarta.
Saya mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu
dalam penyelesaian makalah ini, terutama :
1. dr. Hastari Soekardi, SpS selaku pembimbing dalam penyusunan makalah.
2. Teman-teman yang turut membantu penyelesaian makalah ini.
3. Serta pihak-pihak lain yang bersedia meluangkan waktunya untuk membantu
saya.
Saya menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari
kata sempurna. Saya mengharapkan kritik dan saran yang dapat membangun dan
bertujuan untuk ikut memperbaiki makalah ini agar dapat bermanfaat untuk pembaca
dan masyarakat luas.
Jakarta, 28 November 2015

Penyusun

BAB I
ILUSTRASI KASUS
I.

Identitas Pasien

Nama

: Ny. KW

Jenis kelamin

: Perempuan

Umur

: 51 tahun

Pekerjaan

: Ibu Rumah Tangga

Pendidikan

: Tamat SLTP

Agama

: Islam

Status perkawinan

: Kawin

Alamat

: Jl. Cikoko Barat, RT 05/03, Cikoko, Pancoran, Jakarta


Selatan

Tanggal masuk
II.

: 25 November 2015

Anamnesis
Dilakukan autoanamnesis dengan pasien pada hari sabtu tanggal 28 November

2015 di ruang rawat inap Teratai 628 selatan.


Keluhan Utama
Penurunan kesadaran sejak 1 jam sebelum masuk rumah sakit
Keluhan Tambahan
Jatuh dari tangga
Riwayat Penyakit Sekarang
Satu jam SMRS, pasien mengalami kecelakaan akibat jatuh dari tangga
setinggi kira-kira 2 meter. Pasien merasa kaki kanan seperti menginjak kerikil dan
kaki kiri tertekuk sehingga jatuh terguling. Pasien jatuh dengan kepala kiri terbentur
terlebih dahulu. Setelah jatuh pasien tidak sadar, pasien di temukan oleh anaknya
dengan darah yang mengucur dari telinga sebelah kiri dan hidung serta muntah yang
menyemprot bercampur darah sebanyak kira-kira satu piring. Pasien dibawa ke klinik

E dan kembali muntah sebanyak 2 kali bercampur sedikit darah, karena di klinik
tersebut tidak ada CT Scan, pasien di rujuk ke RSUP Fatmawati. Tiba di IGD RSUP
Fatmawati pasien kembali muntah 5 kali dengan sedikit darah. Saat mulai sadar
pasien merasa pusing berputar, bicara baik dan telinga sebelah kiri seperti bunyi
gesekan plastik. Pasien tidak ingat kejadian pada saat kecelakaan, tidak mengeluhkan
kelemahan pada tangan dan tungkai, tidak ada kejang, tidak ada pelo, tidak ada mulut
mencong dan pasien menyangkal riwayat trauma pada sisi yang sama. Pasien juga
menyangkal adanya kelumpuhan pada lengan dan tungkai. BAB dan BAK tidak ada
gangguan.
Riwayat penyakit dahulu
Riwayat hipertensi dan diabetes mellitus disangkal.
Riwayat penyakit keluarga
Riwayat hipertensi, diabetes mellitus disangkal.
Riwayat Sosial Kebiasaan
Riwayat konsumsi makanan tinggi kolesterol, penggunaan narkoba dan
konsumsi alkohol disangkal.
III.

Pemeriksaan Fisik

Pemeriksaan fisik dilakukan tanggal 28 November 2015.


Keadaan umum

: Tampak sakit sedang

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda vital

: Tekanan darah : 120/80 mmHg

Status gizi

Nadi

: 96 x/menit

Penapasan

: 28 x/menit

Suhu

: 36,3C

: BB : 53kg

TB : 163cm

BMI : 19,9 Normal

Status Generalis
Kulit

: Warna kuning langsat, sianosis (-), ikterik (-)

Kepala

: Normosefali, rambut hitam, panjang, distribusi merata.

Mata

: Konjungtiva Pucat -/-, ptosis -/-, lagoftalmus -/-

Telinga

: Normotia, secret -/-, otorrhea -/+

Hidung

: Deviasi septum -/-, Sekret -/-

Mulut

: Oral hygiene baik, faring hiperemis -, candidiasis oral -

Leher

: Trakea di tengah, tiroid tidak teraba membesar, pembesaran


KGB -

Pemeriksaan Jantung
Inspeksi

: Ictus cordis tidak terlihat

Palpasi

: Ictus cordis teraba di ICS V 1 cm medial linea midclavicula


sinistra

Perkusi

: Batas jantung kanan : ICS IV linea sternalis dekstra

Batas jantung kiri

: ICS V 1 jari medial linea midklavikularis sinistra

Auskultasi

: BJ I dan II reguler; gallop (-), murmur (-)

Pemeriksaan Paru
Inspeksi

: Simetris saat statis dan dinamis

Palpasi

: Ekspansi dada normal, vokal fremitus kanan kiri sama

Perkusi

: Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi

: Suara napas vesikuler, ronkhi -/- wheezing -/-

Pemeriksaan Abdomen
Inspeksi

: Perut datar, supel, efloresensi bermakna -

Auskultasi

: Bising usus (+) 3x/menit

Palpasi

: Supel, hati dan limpa tidak teraba membesar, nyeri tekan (-)

Perkusi

: Timpani di keempat kuadran abdomen, Shifting dullness -

Pemeriksaan Ekstremitas
Ekstremitas atas

: Akral hangat +/+, edema -/-, sianosis -/-, clubbing fingers -/-

Ekstremitas bawah

: Akral hangat +/+, edema -/-, sianosis -/-, clubbing fingers -/-

Pemeriksaan Neurologis
GCS : E4M6V5
Tanda Rangsang Meningeal :

Kaku kuduk

: Tidak dapat dinilai

Laseque

: kanan < 70o

kiri < 70o

Kerniq

: kanan < 135o

kiri < 135o

Brudzinsky I : kanan(-)

kiri(-)

Brudzinsky II : kanan(-)

kiri(-)

Pupil :
Bentuk
Refleks cahaya langsung
Refleks cahaya tidak langsung

: Bulat, isokor, diameter 3mm/3mm


: +/+
: +/+

Saraf kranialis

N.I
: Normosmia/ Normosmia
N.II
:
Visus
: Normal
Melihat warna
: Normal
N. III,IV dan VI
Kedudukan bola mata
: Ortoposisi / Ortoposisi
Pergerakan bola mata
: Normal / Normal
Eksoftalmus
: -/Nistagmus
: -/Pupil
Bentuk
: Bulat, isokor, 3mm/3mm
Reflek cahaya langsung
: +/+
Reflek cahaya tidak langsung
: +/+
N.V
Cabang motorik
: Normal
Cabang sensorik
:
Ophtalmic
: Normal

Maxilaris
Mandibularis
N.VII
Cabang Motorik
M. Orbitofrontalis
M. Orbicularisorbita
M. Orbicularis aris
Cabang Sensorik
Pengecapan 2/3 anterior
N.VIII
Koklearis
Pemeriksaan Garpu Tala
N.IX ; N.X

: Normal
: Normal
:
:
: Normal
: Normal
: Normal
:
: Normal
:
: Tidak dilakukan
: Tidak dilakukan

Motorik

: Uvula di tengah, arcus faring simetris

Reflek Muntah

:+

N.XI
Mengangkat bahu
Menoleh
N.XII
Pergerakan lidah
Atrofi
Fasikulasi
Tremor

Sistem motorik

: Baik / Baik
: Baik / Baik
: Tidak ada deviasi
::::

Gerakan involunter
Tremor

Chorea

: -/-

Trofik

5555
5555
5555
5555 -/-

: Eutrofi

Refleks fisiologis
Biceps

: +2/+2

Triceps

: +2/+2

Patella

: +2/+2

Achilles

: +2/+2

Refleks patologis

Babinsky

: -/-

Chaddock

: -/-

Gordon

: -/-

Oppenheim

: -/-

Gonda

: -/-

Schaffer

: -/-

Achilles

: -/-

Patella

: -/-

Klonus

Sistem sensorik

: Normoestesi

Fungsi otonom

Miksi

Defekasi

: Baik di pampers

Sekresi keringat

: Baik

: Retensi

IV.
Pemeriksaan penunjang
Pemeriksaan Laboratorium
23/8/2015
PEMERIKSAAN
Hemoglobin
Hematokrit
Leukosit
Trombosit
Eritrosit
VER
HER
KHER
RDW

HASIL
12.4 g/dl
37%
14,8 ribu /ul
237 ribu/ul
4.51 juta
82,7fl
27,5pg
33,3g/dl
13,6%

NILAI RUJUKAN
11.7-15.5
33-45
5.0 10.0
150 440
3.80 5.20
80,0-100,0
26,0-34,0
32,0-36,0
11,5-14,5

Fungsi Hati
SGOT
SGPT
Fungsi Ginjal
Ureum darah
Kreatinin darah
Glukosa darah sewaktu
Elektrolit darah
Natrium darah
Kalium darah
Klorida darah

22U/fl
14U/fl

0-34
0-40

24mg/dl
0,7mg/dl
87mg/dl

20-40
0.6-1,5
79 -140

140 mmol/l
3,30 mmol/l
107 mmol/l

135 147
3,10-5,10
95-108

Pemeriksaan CT-Scan kepala tanpa kontras (25/11/15)

Interpretasi hasil :

Perdarahan intraparenkimal lobus temporal kanan dengan estimasi volume 1,4 cc.
Multiple fraktur di os temporal kiri yang mencapai pars mastoid kiri disertai suspek
hematomastoid kiri. Hematosinus sphenoid.

V.

Resume
Pasien perempuan berusia 51 tahun datang dengan keluhan mengalami

penurunan kesadaran selama 1 jam akibat jatuh dari tangga setinggi kira-kira 2 meter.
Pasien merasa kaki kanan seperti menginjak kerikil dan kaki kiri tertekuk sehingga
jatuh terguling. Pasien jatuh dengan kepala kiri terbentur terlebih dahulu. Pasien di
temukan oleh anaknya dengan darah yang mengucur dari telinga sebelah kiri dan
hidung serta muntah yang menyemprot bercampur darah sebanyak kira-kira satu
piring. Kemudian di bawa ke klinik yang kemudian dirujuk ke RSUP Fatmawati. Saat
sadar pasien merasa pusing berputar. Pasien tidak ingat kejadian pada saat
kecelakaan, terdapat perdarahan keluar dari hidung dan telinga kiri. Pasien merasa
seperti mendengan gesekan plastik di telingan sebelah kiri. Kesadaran pasien kompos
mentis, tekanan darah 120/80 mmHg, nadi 96x/menit, pernapasan 28x/menit, suhu
36,3C, BMI 19,9 Normal, pada pemeriksaan neurologis, GCS pasien E4M6V5.
Pada pemeriksaan laboratorium leukosit meningkat. Pada pemeriksaan rontgen
thoraks tidak ada kelainan, CT-Scan kepala terdapat gambaran perdarahan
intraparenkimal.
VI.

DIAGNOSIS
a. Diagnosis klinis

: Penurunan kesadaran, muntah, cephalgia, rhinorrhea,

b.
c.
d.
e.

otorrea, dan tinnitus


: Trauma
: Perdarahan pada intraparenkimal
: Fraktur basis cranii
: Contusio Cerebri

Diagnosis etiologis
Diagnosis patologis
Diagnosis topis
Diagnosis kerja

VII. PENATALAKSANAAN
a. Medika Mentosa
IVFD NaCl 0.9% 500 + Ketorolac / 12 jam
Transamin 3 x 1 amp IV
Vit K 3 x 1 amp IV
Ceftriaxine 2 x 2 gr IV
Ranitidine 2 x 1 amp IV
Manitol 4 x 100 cc IV
Citicolin 3 x 250 mg IV
Paracetamol 2 x 1 tab pro

Laxadine 1 x 1 cth po
Betaserc 2 x 24 mg po

b. Nonmedika Mentosa
Tirah baring
Elevasi kepala 30o untuk menurunkan tekanan intrakranial

Observasi keadaan umum, tanda-tanda vital, dan kemungkinan defisit


neurologis pasien

VII.

Rencana diagnostic
MRI

VIII. Prognosis
Ad vitam
Ad fungsionam

: Dubia ad bonam
: Dubia ad bonam

Ad sanationam

: Dubia ad malam

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA
II. Definisi Trauma Kapitis
Trauma kapitis atau cedera kepala adalah trauma mekanik terhadap kepala
baik secara langsung ataupun tidak langsung yang menyebabkan gangguan fungsi
neurologis yaitu gangguan fisik, kognitif, fungsi pdikososial baik temporer maupun
permanen.(1)
II. Prevalensi Trauma Kapitis
Tulang tengkorak yang tebal dan keras membantu melindungi otak. Tetapi
meskipun memiliki helm alami, otak sangat peka terhadap berbagai jenis cedera. Otak
bisa terluka meskipun tidak terdapat luka yang menembus tengkorak. Cedera kepala
paling sering disebabkan oleh kecelakaan bermotor bermotor, pukulan kepala, jatuh.
Diluar medan perang lebih dari 50 % dari trauma kapitis terjadi karena kecelakaan
kecelakaan lalu lintas, selebihnya karena jatuh dan pukulan. Di indonesia sendiri,
sudah ditetapkan kebijakan memakai helm bagi pengguna sepeda motor, diharapkan
menurunkan angka trauma kapitis. (1,2)

III. Patofisiologi Trauma Kapitis


Trauma secara langsung akan menyebabkan cedera yang disebut lesi primer.
Lesi primer ini dapat dijumpai pada kulit dan jaringan subkutan, tulang tengkorak,
jaringan otak, saraf otak maupun pembuluh-pembuluh darah di dalam dan di sekitar
otak. Pada tulang tengkorak dapat terjadi fraktur linier (70% dari fraktur tengkorak),
fraktur impresi maupun perforasi. Fraktur linier pada daerah temporal dapat merobek
atau menimbulkan aneurisma pada arteria meningea media dan cabang-cabangnya;
pada dasar tengkorak dapat merobek atau menimbulkan aneurisma a. karotis interna
dan terjadi perdarahan lewat hidung, mulut dan telinga. Fraktur yang mengenai
lamina kribriform dan daerah telinga tengah dapat menimbulkan rinoroe dan otoroe
(keluarnya cairan serebro spinal lewat hidung atau telinga).(2)
Trauma kepala dapat menyebabkan cedera pada otak karena adanya aselerasi,
deselerasi dan rotasi dari kepala dan isinya. Karena perbedaan densitas antara
tengkorak dan isinya, bila ada aselerasi, gerakan cepat yang mendadak dari tulang
tengkorak diikuti dengan lebih lambat oleh otak. Ini mengakibatkan benturan dan
goresan antara otak dengan bagian-bagian dalam tengkorak yang menonjol atau
dengan sekat-sekat duramater. Bila terjadi deselerasi (pelambatan gerak), terjadi
benturan karena otak masih bergerak cepat pada saat tengkorak sudah bergerak
lambat atau berhenti. Mekanisme yang sama terjadi bila ada rotasi kepala yang
mendadak. Tenaga gerakan ini menyebabkan cedera pada otak karena kompresi
(penekanan) jaringan, peregangan maupun penggelinciran suatu bagian jaringan di
atas jaringan yang lain. Ketiga hal ini biasanya terjadi bersama-sama atau berturutan.
(2)

Kerusakan jaringan otak dapat terjadi di tempat benturan (coup), maupun di


tempat yang berlawanan (countre coup). Diduga countre coup terjadi karena
gelombang tekanan dari sisi benturan (sisi coup) dijalarkan di dalam jaringan otak ke
arah yang berlawanan; teoritis pada sisi countre coup ini terjadi tekanan yang paling
rendah, bahkan sering kali negatif hingga timbul kavitasi dengan robekan jaringan.
Selain itu, kemungkinan gerakan rotasi isi tengkorak pada setiap trauma merupakan
penyebab utama terjadinya countre coup, akibat benturan-benturan otak dengan

bagian dalam tengkorak maupun tarikan dan pergeseran antar jaringan dalam
tengkorak. Yang seringkali menderita kerusakan-kerusakan ini adalah daerah lobus
temporalis, frontalis dan oksipitalis.(3)

Fraktur impresi dapat menyebabkan peningkatan volume dalam tengkorak,


hingga menimbulkan herniasi batang otak lewat foramen magnum. Juga secara
langsung menyebabkan kerusakan pada meningen dan jaringan otak di bawahnya
akibat penekanan. Pada jaringan otak akan terdapat kerusakan-kerusakan yang
hemoragik pada daerah coup dan countre coup. Kontusio yang berat di daerah frontal
dan temporal sering kali disertai adanya perdarahan subdural dan intra serebral yang
akut. Tekanan dan trauma pada kepala akan menjalar lewat batang otak kearah
kanalis spinalis; karena adanya foramen magnum, gelombang tekanan ini akan
disebarkan ke dalam kanalis spinalis. Akibatnya terjadi gerakan ke bawah dari batang
otak secara mendadak, hingga mengakibatkan kerusakan kerusakan di batang otak.
Saraf otak dapat terganggu akibat trauma langsung pada saraf, kerusakan pada batang
otak, ataupun sekunder akibat meningitis atau kenaikan tekanan intrakranial.(2)
Kerusakan pada saraf otak I kebanyakan disebabkan oleh fraktur lamina
kribriform di dasar fosa anterior maupun countre coup dari trauma di daerah
oksipital. Pada gangguan yang ringan dapat sembuh dalam waktu 3 bulan.
Dinyatakan bahwa 5% penderita tauma kapitis menderita gangguan ini. Gangguan
pada saraf otak II biasanya akibat trauma di daerah frontal. Mungkin traumanya
hanya ringan saja (terutama pada anak-anak), dan tidak banyak yang mengalami

fraktur di orbita maupun foramen optikum. Dari saraf-saraf penggerak otot mata,
yang sering terkena adalah saraf VI karena letaknya di dasar tengkorak. Ini
menyebabkan diplopia yang dapat segera timbul akibat trauma, atau sesudah
beberapa hari akibat dari edema otak.(2)
Gangguan saraf III yang biasanya menyebabkan ptosis, midriasis dan refleks
cahaya negatif sering kali diakibatkan hernia tentorii. Gangguan pada saraf V
biasanya hanya pada cabang supraorbitalnya, tapi sering kali gejalanya hanya berupa
anestesi daerah dahi hingga terlewatkan pada pemeriksaan. Saraf VII dapat segera
memperlihatkan gejala, atau sesudah beberapa hari kemudian. Yang timbulnya lambat
biasanya cepat dapat pulih kembali, karena penyebabnya adalah edema.
Kerusakannya terjadi di kanalis fasialis, dan seringkali disertai perdarahan lewat
lubang telinga. Banyak didapatkan gangguan saraf VIII pada. trauma kepala,
misalnya gangguan pendengaran maupun keseimbangan. Edema juga merupakan
salah satu penyebab gangguan. Gangguan pada saraf IX, X dan XI jarang didapatkan,
mungkin karena kebanyakan penderitanya meninggal bila trauma sampai dapat
menimbulkan gangguan pada saraf-saraf tersebut. Akibat dari trauma pada pembuluh
darah, selain robekan terbuka yang dapat langsung terjadi karena benturan atau
tarikan, dapat juga timbul kelemahan dinding arteri. Bagian ini kemudian
berkembang menjadi aneurisma.(2)
IV. Klasifikasi trauma kapitis(1):
1. Patologi
2.1.
2.2.
2.3.
2. Lokasi lesi
2.1.
2.2.
2.3.
2.3.1.
2.3.2.

Komosio serebri
Kontusio serebri
Laserasio serebri
Lesi diffuse
Lesi kerusakan vaskuler otak
Lesi fokal
Kontusio dan laserasi serebri
Hematoma intracranial
2.3.2.1.
Hematoma
ekstradural
epidural)
2.3.2.2.
Hematoma subdural

hematoma

2.3.2.3.

Hematoma intraparenkhimal
2.3.2.3.1. Hematoma subarachnoid
2.3.2.3.2. Hematoma intrasereberal
2.3.2.3.3. Hematoma intraserebellar

3. Derajat kesadaran berdasarkan skala koma glaskow


Kategori

SKG

Gambaran Klinik
Pingsan
Defisit

Minimal
Ringan
Sedang

15
13 15
9 12

neurologis
(-)
(-)
< 10 menit
(-)
> 10 menit 6 (+)

Normal
Normal
Abnormal

Berat

38

jam
> 6 jam

Abnormal

(+)

CT Scan Otak

Kriteria cedera kepala, diagnostik pascaperawatan :


1. minimal = simple head injury
-

GCS = 15 (normal)

Kesadaran baik

Tidak ada amnesia

Dapat disertai gejala : mual,muntah, sakit kepala, vertigo.

Defisit neurologis (-)

CT-Scan normal

2. cedera kepala ringan


-

GCS = 13 - 15

Penurunan kesadaran 10 menit

Amnesia pasca cedera kepala kurang dari 1 jam

Dapat disertai gejala : mual,muntah, sakit kepala, vertigo.

Defisit neurologis (-)

CT-Scan normal

3. cedera kepala sedang

GCS = 9 12

Penurunan kesadaran >10 menit tetapi 6 jam

Dapat/tidak disertai oleh defisit neurologis

Amnesia pasca cedera selama 1 24 jam

CT-Scan abnormal

4. cedera kepala berat


-

GCS = 5 8

Penurunan kesadaran > 6 jam

Terdapat defisit neurologi

Amnesia pasca cedera > 24 hari

CT-Scan abnormal

Perdarahan intrakranial
Merupakan penimbunan darah di dalam otak atau diantara otak dengan tulang
tengkorak. Hematoma intrakranial bisa terjadi karena cedera atau stroke. Perdarahan
karena cedera biasanya terbentuk di dalam pembungkus otak sebelah luar (hematoma
subdural) atau diantara pembungkus otak sebelah luar dengan tulang tengkorak
(hematoma epidural). Kedua jenis perdarahan diatas biasanya bisa terlihat pada CT
scan atau MRI. Sebagian besar perdarahan terjadi dengan cepat dan menimbulkan
gejala dalam beberapa menit. Perdarahan menahun (hematoma kronis) lebih sering
terjadi pada usia lanjut dan membesar secara perlahan serta menimbulkan gejala
setelah beberapa jam atau hari. Hematoma yang luas akan menekan otak,
menyebabkan pembengkakan dan pada akhirnya menghancurkan jaringan otak.
Hematoma yang luas juga akan menyebabkan otak bagian atas atau batang otak
mengalami herniasi. Pada perdarahan intrakranial bisa terjadi penurunan kesadaran
sampai koma, kelumpuhan pada salah satu atau kedua sisi tubuh, gangguan
pernafasan atau gangguan jantung, atau bahkan kematian. Bisa juga terjadi
kebingungan dan hilang ingatan, terutama pada usia lanjut.
o

Hematoma epidural

Hematoma epidural berasal dari perdarahan di arteri yang terletak diantara


meningens dan tulang tengkorak, yaitu arteri meningea media. Hal ini terjadi karena
patah tulang tengkorak telah merobek arteri. Darah di dalam arteri memiliki tekanan
lebih tinggi sehingga lebih cepat memancar. Gejala berupa sakit kepala hebat bisa
segera timbul tetapi bisa juga baru muncul beberapa jam kemudian. Sakit kepala
kadang menghilang, tetapi beberapa jam kemudian muncul lagi dan lebih parah dari
sebelumnya.
Selanjutnya bisa terjadi peningkatan kebingungan, rasa ngantuk, kelumpuhan,
pingsan dan koma. Diagnosis dini sangat penting dan biasanya tergantung kepada CT
scan darurat. Hematoma epidural diatasi sesegera mungkin dengan membuat lubang
di dalam tulang tengkorak untuk mengalirkan kelebihan darah, juga dilakukan
pencarian dan penyumbatan sumber perdarahan.
o

Hematoma subdural
Hematoma subdural berasal dari perdarahan pada vena di sekeliling otak.
Perdarahan bisa terjadi segera setelah terjadinya cedera kepala berat atau beberapa
saat kemudian setelah terjadinya cedera kepala yang lebih ringan. Hematoma
subdural yang bertambah luas secara perlahan paling sering terjadi pada usia lanjut
(karena venanya rapuh) dan pada alkoholik. Pada kedua keadaan ini, cedera
tampaknya ringan; selama beberapa minggu gejalanya tidak dihiraukan. Hasil
pemeriksaan CT scan dan MRI bisa menunjukkan adanya genangan darah.
Hematoma subdural pada bayi bisa menyebabkan kepala bertambah besar karena
tulang tengkoraknya masih lembut dan lunak. Hematoma subdural yang kecil pada
dewasa seringkali diserap secara spontan. Hematoma subdural yang besar, yang
menyebabkan gejala-gejala neurologis biasanya dikeluarkan melalui pembedahan.
Petunjuk dilakukannya pengaliran perdarahan ini adalah:
1). Sakit kepala yang menetap
2). Rasa mengantuk yang hilang-timbul
3). Linglung
4). Perubahan ingatan
5). Kelumpuhan ringan pada sisi tubuh yang berlawanan.

EPIDURAL HEMATOM

SUBDURAL HEMATOM

Robek

Robeknya A. Meningia media

Robeknya Bridging vein

Gejala

Interval lucid, hemiparese/plegiaSefalgia kronik progresif, penurunan

klinik

yang

terjadi

kemudian,

pupilkesadaran

yang

anisokor, serangan kejang fokal,hemiparesis,


TIK meningkat, refleks babinskifokal,
Letak lesi

papil

semakin

memburuk

hemihipestesia,
edema,

epilepsi

Hiperrefleks,

yang terjadi kemudian.


Babinski +, TIK meningkat
Letaknya diantara os. Kranii-Letaknya antara arachnoid-duramater.

duramater
Gambaran Hiperdens Biconveks

Hiperdens Lesi bulan sabit.

Ct-Scan

IV. Tatalaksana Trauma Kapitis(1,3)


Tatalaksana cedera kepala, berdasarkan kriteria untuk diagnosis, sebagai berikut(1) :
1.

Minimal
-

tirah baring, kepala ditinggikan 300

istirahat dirumah

segera kembali ke rumah sakit bila ada tanda-tanda perdarahan epidural yaitu :

2.

3.

1.

pasien cenderung mengantuk

2.

sakit kepala yang semakin memberat

3.

muntah proyektil
cedera otak ringan

tirah baring, kepala ditinggikan 300

observasi di rumah sakit selama 2 x 24 jam

beri obat simptomatis

antibiotik (dengan indikasi)

rawat luka luka


cedera otak sedang dan berat

lanjutkan penanganan ABC

pantau tanda vital (pantau setiap 4 jam sampai GCS 15)

cegah kemungkinan terjadinya tekanan tinggi intracranial


1.

kepala ditinggikan 30 derajat

2.

bila perlu dapat diberikan manitol

3.

berikan analgetik

atasi komplikasi (kejang, infeksi, perdarahan lambung, DIC)

pemberian cairan dan nutrisi adekuat

pemberian cairan dan nutrisi adekuat

berikan neuroprotektor

VI. Prognosis
Cedera kepala bisa menyebabkan kematian atau penderita bisa mengalami
penyembuhan total. Jenis dan beratnya kelainan tergantung kepada lokasi dan
beratnya kerusakan otak yang terjadi. Berbagai fungsi otak dapat dijalankan oleh
beberapa area, sehingga area yang tidak mengalami kerusakan bisa menggantikan
fungsi dari area lainnya yang mengalami kerusakan. Tetapi semakin tua umur
penderita, maka kemampuan otak untuk menggantikan fungsi satu sama lainnya,
semakin berkurang. Kemampuan berbahasa pada anak kecil dijalankan oleh beberapa
area di otak, sedangkan pada dewasa sudah dipusatkan pada satu area. Jika hemisfer
kiri mengalami kerusakan hebat sebelum usia 8 tahun, maka hemisfer kanan bisa
mengambil alih fungsi bahasa.
Kerusakan area bahasa pada masa dewasa lebih cenderung menyebabkan
kelainan yang menetap. Beberapa fungsi (misalnya penglihatan serta pergerakan
lengan dan tungkai) dikendalikan oleh area khusus pada salah satu sisi otak.
Kerusakan pada area ini biasanya menyebabkan kelainan yang menetap. Dampak dari
kerusakan ini bisa diminimalkan dengan menjalani terapi rehabilitasi. Penderita
cedera kepala berat kadang mengalami amnesia dan tidak dapat mengingat peristiwa
sesaat sebelum dan sesudah terjadinya penurunan kesadaran. Jika kesadaran telah
kembali pada minggu pertama, maka biasanya ingatan penderita akan pulih kembali.

DAFTAR PUSTAKA
1. Soertidewi, Lyna, dkk. Konsensus Nasional Penanganan trauma kapitis dan
trauma spinal. Jakarta : PERDOSSI .2006
2. Mardjono mahar, Sidharta priguna. Neurologi Klinis Dasar.Cetakan ke 9.
Dian Rakyat.2003.Bab.VIII Mekanisme trauma susunan saraf. Hal 248-63.
3. Utama, Hendra editor. Updates in neuroemergencies II. Jakarta : PERDOSSI.
2004