Anda di halaman 1dari 20

MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN PESERTA DIDIK MELALUI

KETERAMPILAN MENYIMAK

Anis Febriana Rohmawati


Mahasiswi Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya Malang
Jl. Veteran Malang, Telp: 0353881046, pos-el: anisbayu14@yahoo.co.id, HP:
085335924168
Abstrak: Kemampuan peserta didik pada umumnya mengalami perbedaan, baik
tingkat dasar maupun tingkat menengah. Salah satu keterampilan berbahasa yang
dapat mengembangkan kemampuan peserta didik yaitu keterampilan menyimak.
Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk menjelaskan secara rinci tentang
masalah perkembangan anak usia dasar dan menengah, serta hubungannya dengan
keterampilan menyimak. Tahap-tahap perkembangan peserta didik menentukan
proses menyimaknya, apabila perkembangan peserta didik tersebut normal, maka
proses menyimak akan berjalan sesuai dengan kemampuannya. Pengembangan
kemampuan peserta didik sangat perlu dilakukan, karena dalam proses menyimak
diperlukan kemampuan yang kuat dari peserta didik untuk bisa memahami bahan
simakan.
Kata Kunci: Tahap-tahap perkembangan, menyimak, cara mengembangkan
kemampuan menyimak.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

A. Pendahuluan
Keterampilan berbahasa yang melibatkan seluruh aspek kebahasaan yaitu
keterampilan menyimak. Pada umumnya, siswa sekolah dasar dan siswa sekolah
menengah mempelajari keterampilan menyimak mula-mula pada masa kecil
(Tarigan, 1986:2). Menyimak adalah suatu proses kegiatan mendengarkan
lambang-lambang lisan dengan penuh perhatian, pemahaman, apresiasi, serta
interpretasi untuk memperoleh informasi, menangkap isi atau pesan serta
memahami makna komunikasi yang telah disampaikan oleh sang pembicara
melalui ujaran atau bahasa lisan (Tarigan, 1986:28). Jadi, jelas bahwa menyimak
memerlukan pemahaman dan konsentrasi dari penyimak. Kemampuan menyimak
diperlukan khususnya bagi siswa dasar dan menengah, karena pada siswa dasar
dan menengah kegiatan menyimak mayoritas ditentukan peran seorang pendidik
dalam menyampaikan suatu materi agar proses menyimak bisa berjalan dengan
baik. Salah satu tujuan menyimak yaitu agar dapat menginterpretasikan ide pokok
dan menanggapinya secara tepat (Tarigan, 1986:7), jika pendidik dapat
menjelaskan makna dari sebuah bahan simakan berupa ide pokok, maka peserta
didik akan menanggapinya secara baik dengan daya simak yang tinggi pula.
Perkembangan merupakan suatu perubahan, dan perubahan ini tidak
bersifat kuantitatif, melainkan kualitatif. Perkembangan tidak ditekankan pada
segi material, melainkan pada segi fungsional (Mustaqim dan Wahib, 1991:31).
Segi fungsional dalam suatu perkembangan anak didik misalnya, perhatian,
pengamatan, dan ingatan (Mustaqim dan Wahib, 1991:32). Dapat diketahui bahwa
segi fungsional peserta didik erat kaitannya dengan keterampilan menyimak.
Perhatian, dalam kegiatan menyimak yang penting adalah perhatian. Bahan

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

simakan yang menarik, akan menimbulkan perhatian peserta didik terfokus,


sehingga proses menyimak pun juga mendapatkan perhatian dari peserta didik.
Kemampuan peserta didik dalam proses menyimak memang berbeda-beda dan itu
semua dapat ditentukan oleh beberapa faktor, baik dari dalam peserta didik itu
sendiri, maupun dari luar peserta didik (Tarigan, 1986:96). Faktor dari dalam
peserta didik misalnya kepercayaan terhadap diri sendiri, sedangkan faktor dari
luar peserta didik misalnya motivasi dari orang terdekat dan lingkungan. Dengan
faktor-faktor tersebut yang akan dikembangkan secara baik, maka menyimak yang
dilakukan oleh peserta didik terhadap bahan simakan yang disampaikan oleh guru
akan diterima dengan penuh perhatian.
Pengembangan kemampuan dalam proses kegiatan menyimak yang
dilakukan oleh peserta didik memang tidak mudah, ada masalah dan hambatan
yang terjadi ketika proses menyimak tersebut berlangsung. Peserta didik sebagai
manusia dapat memiliki perbedaan dalam kemampuan, bakat, minat, motivasi,
watak, ketahanan, semangat, dan sebagainya (Siswoyo, 2011:57). Dari perbedaan
tersebut, tugas sebagai seorang pendidik untuk bisa memperkecil jarak psikologis
antara pendidik dan peserta didik adalah dengan jalan memberikan kasih sayang
kepada peserta didik, dengan tekad membantu peserta didik mengembangkan
dirinya seoptimal mungkin (Siswoyo, 2011:58).
Salah satu contoh kegiatan Pengajaran Bahasa Situasional (PBS) adalah
praktek menyimak, wadah bagi sang pengajar untuk menarik perhatian siswanya
dan mengulangi suatu contoh pola/suatu kata terpisah secara jelas, beberapa kali
dengan mengatakan/mengucapkannya secara pelan-pelan paling sedikit satu kali
(Tarigan, 1991:21). Praktek yang sering dilakukan misalnya dengan memisahkan

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

kata demi kata, sehingga penyimak bisa mengetahui apa kata yang disimak dan
bisa menirukannya. Dengan demikian, menyimak sangat bergantung pada situasi
penyimak dan bahan simakan yang ada. Dibutuhkan peran seorang pengajar yang
dapat menguasai posisi seorang penyimak ketika melakukan kegiatan menyimak.
Masyarakat dan budaya merupakan konsep-konsep yang mewakili insaninsan yang merupakan teman/pasangan bagi pembelajar untuk saling kontak pada
akhirnya kalau pembelajaran bahasa memang harus mempunyai sesuatu nilai pada
hubungan insani (Tarigan, 1991:65). Antara pengajar dan siswa harus ada rasa
saling komunikasi. Adanya rasa saling memiliki menyebabkan keberlangsungan
dalam proses menyimak akan lancar.

Pengajar harus mendorong dan

mengembangkan para pembelajar untuk memberikan tentang bahan simakan yang


dibicarakan, jangan menjadi pembelajar yang kurang menyenangkan dan tidak
siap dalam menyampaikan bahan simakan. Guru yang rajin membetulkan
keslahan siswa memang dapat semakin meningkatkan keterampilannya di dalam
mendeteksi berbagai jenis kesalahan (Purwo, 1990:166).
Dalam mengembangkan kemampuan seorang peserta didik, seorang
pengajar harus mengetahui bagaimana karakter peserta didik tersebut yang
disesuaikan dengan perkembangan fisik anak seusiannya, bagaimana perannya
secara langsung maupun tidak langsung, serta bagaimana proses pembelajaran
yang dilakukannya, apakah sesuai dengan yang diharapkan atau tidak. Situsasi
kelas juga merupakan tantangan dalam proses mengembangkan kemampuan
siswa, karena peserta didik akan lebih menarik apabila situasi dan lingkungan
kelas sesantai dan semenarik mungkin (Tarigan, 1991:135).

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Pengembangan peserta didik juga tidak semata-mata lancar tanpa halangan


apapun, terkadang juga ada sedikit masalah yang terjadi anata pengajar dan
peserta didik. Kesalahan hanya jelas terlihat bagi seseorang yang mengetahui serta
memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh sang siswa, sang pengajar
kerapkali mengenali kesalahan karena dia mengetahui bahwa siswanya sudah
terbiasa dengan kesalahan tertentu itu (Tarigan, 1990:25). Adanya sedikit
permasalahan tersebut memunculkan pilihan-pilihan tindakan yang harus
dilakukan pengajar kepada peserta didik. Sikap dan pandangan para guru terhadap
kesalahan pada umumnya simpatik, membantu, dan tidak serba membolehkan,
dengan kata lain para guru ingin meremidi kesalahan anak didik agar dapat
menguasai keterampilan berbahasa (Tarigan, 1990:41). Keterampilan berbahasa
yang bisa dikuasai tidak hanya keterampilan menyimak, namun ada tiga
keteraampilan lain yaitu berbicara, menulis, dan membaca yang sangat erat
kaitannya dengan keterampilan menyimak.
Oleh karena itu, makalah ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana cara
seorang pengajar mengembangkan kemampuan peserta didik dalam kemampuan
berbahasa, khususnya keterampilan menyimak dengan memandang dari segi
perkembangan umur dan faktor fisik peserta didik itu sendiri dan proses
menyimak dapat dikembangkan bagi peserta didik, serta cara yang dapat
dilakukan bagi seorang pengajar atau guru untuk mengembangkan kemampuan
peserta didik melalui kegiatan menyimak. Oleh karena menyimak sangat erat
kaitannya dengan keterampilan berbahasa yang lain, maka dalam makalah ini
mencakup pula keterampilan berbicara dan menulis.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

B. Tahap-Tahap Perkembangan Peserta Didik


1. Hakikat Perkembangan
Perkembangan merupakan suatu kesatuan organis dan tiap-tiap bagian dari
pertumbuhan hanya dapat dipahami dengan cara yang sebaik-baiknya bila ditinjau
dari segi keseluruhan (Mustaqim dan Wahib, 1991:44). Memang, dari segi peserta
didik antara pertumbuhan dan perkembangan merupakan proses yang sinergis.
Murid SD adalah mereka yang sedang menjalani tahap perkembangan masa
kanak-kanak dan memasuki masa remaja awal. Sedangkan murid SMP adalah
murid yang mengakhiri masa SD dan masuk remaja awal, sehingga masih perlu
adanya perkembangan lebih lanjut.
2. Dasar-Dasar Pembagian Perkembangan
Pembagian perkembangan yang berbeda didasarkan pada kebutuhan dan
sudut pandang yang berbeda. Namun, pada makalah ini penulis hanya membahas
pembagian perkembangan pada anak pada masa sekolah dan masa remaja. Berikut
ini dasar-dasar pembagian perkembangan menurut Mustaqim dan Wahib (1991) :
a. Masa Sekolah
Masa sekolah yang berumur 5 tahun sampai 12 tahun. Dinamakan masa
sekolah sebab bagi anak normal, anak telah matang untuk mengikuti pelajaran
sekolah dasar. Adapun tanda-tanda kematangan itu telah adanya kesadaran
terhadap kewajiban dan pekerjaan, adanya kesanggupan mengerjakan tugas-tugas
yang diberikan oleh guru. Perasaan kemasyarakatan yang telah berkembang luas,
telah memiliki perkembangan pendidikan yang cukup besar sehingga memiliki

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

kecakapan dan pengetahuan, serta memiliki perkembangan jasmani yang cukup


kuat untuk mengerjakan tugas. Dalam masa sekolah, ada salah satu pendidikan
luar sekolah, yaitu pendidikan pramuka. Pendidikan pramuka yang dilaksanakan
di luar sekolah sebenarnya baik sekali untuk tempat penyaluran ambisi-ambisi
anak. Pada masa sekolah, terdapat minat yang istimewa yang berwujud nafsu
untuk mengumpulkan suatu barang. Selain itu, perkembangan otak anak umur 7
dan 11 tahun masih konkret rasional, artinya masih menangani kegiatan yang
menyangkut hal-hal yang tidak abstrak (Purwo, 1990:129). Perkembangan otak
sangat mempengaruhi sesuatu yang dikerjakan peserta didik, misalnya seorang
anak kelas III SD disuruh oleh gurunya untuk mengerjakan soal anak SMA yang
ada hubungannya pula dengan SD, yaitu konjungsi di, -ke, namun cakupan
materi anak SD lebih sempit. Anak tidak akan mengerti, dan anak kelas III SD
tidak dapat dikatakan bodoh, karena belum saatnya perkembangan otaknya
mampu menerima hal-hal yang abstrak seperti itu.
Menurut Tarigan (1986:60-61), kemampuan menyimak siswa SD berbeda
antara kelas satu, dua, tiga, empat, lima, dan enam. Kelas satu menyimak
pertanyaan-pertanyaan, mengulang secara tepat apa yang telah didengar, serta
menyimak bunyi tertentu. Kelas dua menyimak dengan kemampuan memilih
yang lebih meningkat, membuat saran/usul, dan sadar akan situasi menyimak.
Kelas tiga dan empat menyinak dengan sungguh-sungguh, menyimak pada
laporan orang lain, serta memperlihatkan keangkuhan dengan kata-kata dalam
kegiatan menyimak. Kelas lima dan enam menyimak secara kritis serta menyimak
aneka ragam puisi yang memberikan kesenangan.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Perkembangan yang hendak dicapai oleh peserta didik SD berhubungan


dengan penanaman kebiasaan untuk beriman dan bertakwa terhadap Tuhan YME,
mengembangkan keterampilan dasar, konsep-konsep, kata hati, dan sikap
(Iskandarwassid dan Sunendar, 2009:102). Anak-anak biasanya mulai dapat
berbicara pada usia antara 18 dan 20 bulan, dan siap untuk belajar bahasa formal
di sekolah pada usia lima-enam tahunan (Tarigan, 1990:127). Mulailah
perkembangan anak yang cepat dan mudah menerima hal-hal yang baru.
b. Masa Remaja
Pada masa remaja umumnya peserta didik yang telah duduk dalam bangku
sekolah lanjutan. Pada periode ini, anak mengalami perubahan-perubahan jasmani
yang berwujud timbulnya tanda-tanda kelamin sekunder, seperti kumis, janggut,
suaranya berubah anak laki-laki, menstruasi, suara lembut pada perempuan
(Mustaqim dan Wahib, 1991:49). Perbedaan tersebut jelas terlihat berbeda antara
laki-laki dan perempuan. Setelah usia 11 tahun, perkembangan otak anak sudah
mampu untuk digunakan menangani operasi formal, yaitu menangani kegiatan
menyangkut

hal-hal

yang

abstrak (Purwo, 1990:129). Dengan adanya

perkembangan otak yang sudah menyangkut hal-hal yang abstrak, maka pada
masa remaja sering melakukan hal-hal untuk coba-coba. Keinginan untuk cobacoba hal yang negatif membuat remaja terganggu dalam mengembangkan
kemampuannya.
Selain perubahan jasmani, pada masa remaja pada umumnya anak-anak telah
mulai menentukan nilai-nilai hidup, cinta, persahabatan, agama, kesusilaan,
kebenaran, dan kebaikan (Mustaqim dan Wahib, 1991:50). Sehingga, pada masa

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

remaja mulai timbul adanya konflik-konflik kecil, baik antara teman maupun
keluarga. Pada proses perkembangan masa remaja mulai timbul rasa sosial yang
tinggi, karena awal menuju masa kedewasaan.
Masa remaja merupakan awal kemandirian seorang anak, ada potensi kreatif
dari dalam diri si anak (Purwo, 1991:127). Anak usia remaja harus diberikan
peluang dan kesempatan untuk melakukan hal yang mereka sukai, asal itu bernilai
positif. Jangan terlalu dikekang dengan banyaknya aturan yang ada. Jika anak
terlalu dikekang dengan seperangkat aturan yang menurut mereka terlalu tidak
bebas dalam melakukan sesuatu hal, termasuk berpikir secara kritis dan kreatif.
Kegiatan komunikatif memang perlu dikembangkan bagi anak usia remaja.
Perkembangan dunia anak remaja memang sulit ditebak, karena pesatnya
informasi yang ada. Kegiatan komunikatif yang terjadi misalnya antara guru
dengan siswa, ulah guru dalam menjelaskan suatu materi namun siswanya hanya
tahu pada saat guru menjelaskan, menjelang ujian siswa lupa dengan apa yang
telah dijelaskan oleh guru (Tarigan, 1990:131). Dibutuhkan sebuah kegiatan
komunikatif berupa kegiatan berbahasa yang lebih bermanfaat., antara lain dengan
melakukan pengajaran sebuah tata bahasa secara kontekstual dan melakukan
kegiatan untuk melatih serta mengembangkan logika (Tarigan, 1990:162-167).
Dengan adanya dua kegiatan tersebut, diharapkan peserta didik mampu untuk
mengembangkan dirinya sesuai dengan kemampuan dan potensi serta bakat
terpendam yang dimilikinya sejalan dengan perkembangan usia pada masa remaja
umumnya.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

C. PROSES MENYIMAK
Dalam setiap kegiatan yang dilakukan, pasti terdapat proses yang
mengikutinya. Tanpa adanya proses, maka suatu kegiatan tidak akan berjalan
secara terstruktur. Begitupun dengan kegiatan menyimak, tanpa adanya proses,
maka tidak mungkin menyimak bisa dilakukan dengan baik. Proses menyimak
pun tidak mudah, tergantung bagaimana penyimak bisa memahami situasi dan
kondisi dirinya. Menyimak mencakup proses mendengar dan mendengarkan.
Proses belajar sama halnya dengan proses menyimak. Yang paling penting di
dalam hal ini adalah setiap proses belajar selalu diikuti dengan kesadaran atas
pentingnya tujuan yang hendak dicapai dari proses belajar tersebut (Amri dan
Ahmadi, 2012:124). Proses menyimak pun juga sama, memerlukan kesadaran
bahwa menyimak itu penting. Tanpa adanya proses menyimak, maka pada saat
kita mendapatkan suatu bahan simakan tidak dapat terfokus terhadap bahan
simakan tersebut. Selain itu, juga harus ditanamkan suatu tujuan menyimak,
misalnya untuk mendapatkan informasi, pengetahuan, dll. Dengan adanya proses
menyimak diharapkan peserta didik mampu untuk mengadakan proses timbal
balik dengan guru secara baik. Apabila ada peserta didik yang kurang memahami
bahan simakan, boleh ditanyakan kepada guru. Bertanya dalam pembelajaran
dipandang sebagai kegiatan guru mendorong, membimbing, dan menilai
kemampuan berpikir siswa (Amri dan Ahmadi, 2012:9). Bertanya bukan
merupakan jaminan siswa itu bodoh, akan tetapi keingintahuan siswa yang tinggi
menyebabkan siswa tersebut bertanya terhadap bahan simakan yang belum
dimengerti. Selain itu, guru dapat juga melakukan penilaian autentik. Penilaian
yang menilai pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh siswa (Amri dan

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Ahmadi, 2012:32). Misalnya keterampilan menyimak, melalui penilaian autentik


guru dapat menilai keterampilan peserta didik tersebut baik atau buruk. Dalam
proses menyimak, juga diperlukan adanya pemikiran yang kritis dari pendidik
kepada peserta didik.
kemampuan berpikir kritis berdasarkan lima buah indikator
tersebut, yaitu mengenal asumsi, melakukan inferensi, deduksi,
interpretasi, dan mengevaluasi argumen (Amri dan Ahmadi,
2012:65).
Dengan adanya penilaian kemampuan peserta didik, maka pendidik akan
mengetahui sejauh mana peserta didik tersebut memahami bahan simakan yang
disampaikan. Proses menyimak tidaklah mudah untuk dilakukan, akan tetapi
apabila kemampuan antara pendidik, peserta didik, dan bahan simakan saling
berhubungan dengan baik proses menyimak pun juga akan berjalan dengan baik.
Peranan pembelajar sangat penting dalam mengembangkan kemampuan peserta
didik, sikap mental para pembelajar sangat kritis bagi keberhasilan, dan itulah
sebabnya pembelajar harus menjauhi prosedur yang bisa menganggu pikiran
peserta

didik.

Kegiatan

menyimak

merupakan

kegiatan

memotivasi

(sugestopedia), karena berkaitan dengan teks dan kosa kata (Tarigan, 1991:102).
Proses menyimak bukanlah cara peserta didik harus memahami materi
pengajar, namun terjalinnya komunikasi yang baik antara pendidik dan peserta
didik. Itulah sebenarnya hakikat proses menyimak yang benar. Selain itu, tidak
ada kata sempurna dalam sebuah proses, tergantung jalan kita untuk membuat
proses yang kurang sempurna menjadi proses yang sempurna. Keterampilan
berbahasa yang sangat perlu di kembangkan oleh seorang pendidik kepada peserta
didiknya. Mengembangkan peserta didik dapat dilakukan misalnya dengan latihan

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

menyimak, guru memberikan perintah kepada seorang siswa untuk berhenti, maka
guru menjadi model dalam kelas tersebut, lama-kelamaan secara tidak langsung
siswa akan mencoba dengan sendirinya (Tarigan, 1991:179). Dapat dikatakan
bahwa proses menyimak akan berjalan dengan baik, apabila peserta didik
dibimbing oleh gurunya terlebih dahulu. Dengan memberikan tugas-tugas yang
menarik

tetapi dapat ditanggulangi oleh para siswa tanpa membuat banyak

kesalahan (Tarigan, 1990:45). Guru yang profesional tidak akan selalu menyuruh
peserta didik untuk terus monoton pada buku teks, namun juga melatih siswa
untuk mencari sumber pembelajaran lain yang sesuai. Sebagai seorang guru, harus
mempunyai kemampuan lebih dalam bidang pengajaran, sehingga peserta didik
akan tertarik dengan materi yang diajarkan.
Pembelajar (learner) berkemauan keras merupakan salah satu faktor yang
turut menentukan proses belajar mengajar (Tarigan, 1991:3). Dengan adanya
pendidik yang demikian, maka proses menyimak akan berjalan dengan baik.
Pertukaran informasi merupakan bagian dari metode yang mencakup kategori
utama (Tarigan, 1991:17). Informasi adalah bagian terpenting yang sangat
menentukan proses menyimak antara pendidik dan peserta didik. Salah satu
keterampilan menyimak dalam kegiatan mengajar yang berfokus pada ketepatan
gramatikal agak berbeda dari kegiatan yang berfokus pada keterampilan
komunikatif berdasarkan ciri-ciri bahasa tertentu yang dimiliki masing-masing
individu, misalnya ragam dialek khas daerahnya (Tarigan, 1991:16). Dengan
demikian, adanya informasi dan keterampilan yang komunikatif sangat
mempengaruhi dalam proses menyimak bagi peserta didik, khususnya pada masa
sekolah dan masa remaja.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Proses menyimak juga disebut metode audiolingual, yang artinya bahwa


keterampilan menyimak merupakan keterampilan fundamental/keterampilan dasar
(Tarigan, 1991:135). Dengan demikian, proses dalam keterampilan menyimak
merupakan bagian awal seseorang memahami sesuatu dibandingkan keterampilan
berbahasa yang lain. Awal mula keterampilan berbahasa yaitu keterampilan
menyimak, berbicara, membaca, baru kemudian menulis.
Dalam upaya adanya pendekatan yang mempengaruhi proses menyimak,
pendekatan kognitif juga sangat berperan, karena pendekatan kognitif berupaya
menolong peserta didik dalam keempat keterampilan berbahasa, berbicara dan
menyimak sebagai tambahan bagi membaca dan menulis (Tarigan, 1991:149).
D. CARA MENGEMBANGKAN KEMAMPUAN MENYIMAK
Istilah perkembangan diartikan sebagai semakin optimalnya kemajuan aspek
psikis peserta didik seperti kemampuan cipta, rasa, karsa, karya, kematangan
pribadi, pengendalian emosi, kepekaan spiritualitas, keimanan dan ketakwaan
(Siswoyo, 2011:100). Dari hasil proses perkembangan peserta didik yang semakin
bertambah, maka cara pengembangannya pun juga sulit. Karakter seorang peserta
didik

yang

kurang

bisa

diatur,

membuat

pengembangan

kemampuan

menyimaknya terhambat. Pandai-pandainya seorang guru untuk mengetahui


kemampuan peserta didik tersebut. Hal itu harus ada dalam jiwa seorang pendidik.
Berikut ini beberapa cara untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
mengembangkan kemampuan menyimak (Tarigan, 1986:91-93):

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

1. Menerima keanehan sang pembicara


Seorang pembicara selalu menyampaikan bahan simakan dengan
kemampuan yang berbeda-beda. Ada yang menarik, ada yang membosankan, dan
ada yang bertingkah menyesuaikan penyimak. Jika menginginkan kemampuan
daya simak berkembang, harus bisa menerima apapun keanehan dari seorang
pembicara. Tidak mungkin setiap pembicara menyampaikan bahan simakan
dengan baik, sehingga perlu adanya upaya yang berharga dalam memusatkan
perhatian pada bahan simakan. Bahasa pada mulanya berwujud lisan, kemudian
dilanjutkan dengan tulis (Purwo, 1990:44). Oleh sebab itu, peserta didik harus
bisa menerima apapun kondisi dari pengajar, walaupun menurut pandangan
pribadi pengajar tersebut aneh., baik dari segi penampilan maupun penyampaian
bahan simakannya.
2. Memperbaiki sikap
Berupaya untuk selalu terfokus pada kegiatan menyimak, bukan
membayangkan hal lain yang tidak ada hubungannya dengan kegiatan menyimak.
Dengan adanya perbaikan sikap yang baik, maka kita dapat mengembangkan
suatu sikap mental yang positif untuk membimbing menyimak agar lebih efektif,
lebih tepat guna. Faktor sikap sangat mempengaruhi, terutama antara peserta didik
dengan pengajar. Kalau kita meninjau kembali ke belakang, ke masa-masa
sekolah dahulu, yang lebih kita ingat justru guru dalam menyampaikan pelajaran,
bukan bahan pelajaran yang diberikan (Purwo, 1990:92). Dengan demikian,
adanya keinginan untuk memperbaiki sikap seorang peserta didik terhadap sikap
guru yang menjadi contoh baik bagi peserta didik tersebut.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

3. Memperbaiki Lingkungan
Menyimak dengan memperhatikan lingkungan yang ada. Tanpa disadari,
lingkungan sangat berpengaruh pada proses mengembangkan keterampilan
menyimak. Lingkungan yang menunjang haruslah dipilih dalam menyimak,
jangan memilih lingkungan yang ramai atau padat penduduk. Memperbaiki
lingkungan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik bisa juga diartikan
memperbaiki situasi kelas yang ada. Mengkoordinasikan upaya sekolah dan
rumah antara lain dengan mengadakan hubungan antara lingkungan rumah dan
sekolah, antara orang tua siswa dan guru, bukanlah merupakan hal yang aneh bagi
kita di Indonesia. Jangankan demi para siswa yang lamban atau cacat-bahasa
(menyimak, berbicara, membaca, menulis), bagi para siswa biasa pun masyarakat
Indonesia telah menyadari pentingnya hubungan antara rumah dan sekolah, antara
orang tua siswa dan guru (Tarigan, 1990:123).
4. Melatih diri
Dalam proses menyimak, diperlukan adanya kontrol diri yang tepat antara
lain janganlah terlebih dahulu memberikan pertimbangan sebelum penyimak
menyelesaikan bahan simakannya serta bisa memanfaatkan waktu secara
bijaksana. Sebagai seorang penyimak yang baik, harus bisa melatih diri sendiri
agar tidak melakukan tindakan-tindakan yang merugikan, misalnya menggangu
atau mengejek penyimak. Penyimak harus bisa merendahkan mulutnya ketika
berbicara. Jangan menyampaikan gagasan sebelum bahan simakan selesai untuk
dibahas.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Memanfaatkan waktu secara tepat, juga salah satu cara untuk


mengembangkan kemampuan menyimak seorang peserta didik. Pendidik harus
mampu menguasai waktu yang telah disediakan agar menyimak dapat terstruktur.
Mempergunakan waktu secara baik mungkin, bukan hanya uang, tetapi
kehidupan.
Frustasi atau keputusasaan dapat dikurangi dengan cara memilih bahanbahan yang sesuai dengan minat siswa dan tingkatan membacanya serta
mengaitkan kegiatan-kegiatan membaca dengan tujuan siswa (Tarigan, 1990:122123). Adanya unsur keputusasaan membuat peserta didik cenderung tidak percaya
diri, dan tidak ingin melatih dirinya sendiri untuk percaya diri. Hal tersebut sangat
menghambat dalam proses mengembangkan kemampuan peserta didik. Dengan
demikian, dibutuhkan sebuah motivasi dari dalam diri peserta didik itu sendiri
agar dirinya dapat terlatih untuk lebih percaya diri tampil menunjukkan
kemampuan dan prestasinya.
Melatih diri untuk berkembang memang sulit untuk dilakukan, akan tetapi
dalam kemampuan yang peserta didik miliki, terdapat suatu kemampuan baik fisik
maupun mental yang terdapat pada diri sendiri. Untuk mengembangkannya, harus
ada dorongan yang kuat demi tercapainya kemampuan yang optimal dari peserta
didik itu sendiri.
5. Meningkatkan Bahan Simakan Secara Rasional
Salah satu cara agar meningkatkan bahan simakan dengan tepat misalnya
dengan membuat catatan. Seorang pendidik akan mengetahui sejauh mana

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

kemampuan peserta didik, dengan menyuruh peserta didik membuat catatan kecil,
akan memungkinkan materinya bisa tersimpan dalam memori jangka panjang.
Selain itu, tujuan dari bahan simakan harus disampaikan kepada peserta
didik agar peserta didik dapat berpikir secara rasional. Apabila peserta didik
paham, maka peserta didik tersebut dapat berpikir secara rasional.
Bahan-bahan simakan haruslah sesuai dengan kebutuhan, tingkat baca,
minat, dan tujuan sang siswa. Penanganan dan perawatan yang sahih menuntut
penyediaan bahan yang menarik bagi sang siswa, yang benar-benar dapat
dibacanya (Tarigan, 1990:121). Dengan adanya bahan simakan yang masuk akal
dan menarik bagi peserta didik, maka akan terasa lebih mudah dalam
mengembangkan kemampuan peserta didik. Mengembangkan kemampuan peserta
didik melalui keterampilan menyimak lebih mudah dilakukan karena peserta didik
tertarik terlebih dahulu dengan bahan simakan yang menurut mereka menarik
untuk disimak.
Memelihara keseimbangan bahan-bahan sangat esensial untuk member
stimulasi dan merangsang pertumbuhan (Tarigan, 1990:121). Memberikan bahanbahan yang sukar harus dihindari dan dijauhi bagi seorang pengajar, karena
menimbulkan kegagalan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik
tersebut. Guru harus bisa memilih bahan simakan yang membuat siswa menarik
serta masuk akal. Sehingga, adanya keseimbangan antara bahan simakan, peserta
didik, dan pendidik sangat memengaruhi pengembangan siswa usia sekolah dan
usia remaja.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

E. PENUTUP
Suatu keterampilan berbahasa pada umumnya perlu dikembangkan kepada
peserta didik. Salah satu keterampilan berbahasa yang perlu dikembangkan
kepada peserta didik yaitu keterampilan menyimak. Memang dalam sekolah dasar
dan sekolah menengah sulit untuk dikembangkan, karena proses menyimak anak
usia tersebut masih tergolong belum stabil. Menurut Iskandarwassid dan Sunendar
(2009), segi-segi perkembangan terbagi menjadi perkembangan fisik dan
perkembangan

kognitif.

Perkembangan

Fisik

berjalan

sejajar

dengan

perkembangan mental, sedangkan perkembangan kognitif berhubungan dengan


perubahan struktur dan fungsi karakteristik manusia. Kekuatan dari sebuah
kemampuan peserta didik tergantung pada kedua sendi tersebut.
Dalam

proses

menyimak,

mencakup

kegiatan

mendengar

dan

mendengarkan bahan simakan. Apabila kegiatan tersebut dapat dilakukan dengan


baik, maka proses menyimak akan berjalan dengan baik. Cara untuk
mengembangkan kemampuan peserta didik umumnya ditentukan pada pribadi
masing-masing peserta didik. Perbedaan yang ada pada masing-masing peserta
didik bukanlah hambatan bagi pendidik untuk tidak bisa mengembangkan
kemampuan peserta didik. Memilih bahan simakan yang menarik perhatian, juga
salah satu cara agar kemampuan peserta didik bisa berkembang. Oleh karena itu,
antara pendidik dan peserta didik harus ada rasa saling menghormati dan
menghargai satu dengan yang lain agar proses menyimak dapat berjalan dengan
optimal.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

Seorang pendidik yang baik bukan hanya mengacu hanya pada buku teks
saja, melainkan harus dengan sumber lain yang dianggap sesuai dengan bahan
simakan yang disampaikan. Pengembangan kemampuan peserta didik memang
banyak mengalami hambatan, tergantung komunikasi antara pengajar dan peserta
didik dalam menyikapi hal tersebut. Pendidikan bagi anak-anak bukanlah
tanggung jawab sekolah dan guru saja, tetapi juga tanggung jawab orang tua.
Itulah sebabnya maka jalan yang terbaik ialah memadukan upaya guru dan orang
tua, upaya sekolah dan rumah/keluarga (Tarigan, 1990:123). Perlunya peran serta
dari masing-masing elemen peserta didik akan membuat pengembangan berjalan
dengan lancar.
Kemampuan menyimak seorang peserta didik yang beraneka ragam
membuat proses menyimak pun juga beragam. Menyimak merupakan salah satu
keterampilan berbahasa dasar yang prosesnya meliputi mendengar dan
mendengarkan. Bahan simakan yang menarik perhatian peserta didik membuat
kemampuan peserta didik meningkat. Faktor pendukung dari dalam diri peserta
didik
Dengan pemaparan makalah di atas, penulis berharap semoga dalam
mengembangkan kemampuan peserta didik terutama melalui keterampilan
menyimak dapat berjalan dengan lancar, dan antara pendidik dan peserta didik
terjalin hubungan sinergis untuk menciptakan kegiatan yang komunikatif pada
proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Hambatan harus di lalui dengan
adanya solusi dari semua pihak yang berhubungan dengan pendidikan untuk
saling memecahkan permasalahan yang ada.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya

DAFTAR PUSTAKA
Amri, Sofan dan Iif Khoiru Ahmadi. 2012. Proses Pembelajaran. Jakarta: PT
Prestasi Pustakaraya.
Iskandarwassid dan Dadang Sunendar. 2009. Strategi Pembelajaran Bahasa.
Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Mustaqim dan Abdul Wahib. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Siswoyo, Dwi dkk. 2007. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta: UNY Press.
Tarigan, Henry Guntur. 1986. Menyimak Sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.
Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1990. Pengajaran Remedi Bahasa. Bandung: Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa 1. Bandung:
Angkasa.
Tarigan, Henry Guntur. 1991. Metodologi Pengajaran Bahasa 2. Bandung:
Angkasa.
Purwo, Bambang Kaswanti. 1990. Pragmatik dan Pengajaran Bahasa.
Yogyakarta: Kanisius.

Keterampilan Menyimak

18

Fakultas Ilmu Budaya