Anda di halaman 1dari 13

METAMORFOSIS PADA BERUDU

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Maretra Anindya Puspaningrum


: B1J013090
: VIII
:5
: Mithun Sinaga

LAPORAN PRAKTIKUM PERKEMBANGAN HEWAN

KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Metamorfosis merupakan suatu tingkat transisi ketika suatu hewan
mengalami perubahan morfologik, fisiologi dan biokimiawi penting dan pada saat
yang sama hewan berhadapan perubahan habitat. Metamorfosis adalah perubahan
struktur dan morfologi selama kehidupan larva hingga dewasa sehingga tahap
larva dan tahap dewasanya memiliki bentuk atau morfologi yang berbeda.
Perubahan struktur biasanya dapat terlihat dengan jelas pada tahap metamorfosis.
Biasanya hampir seluruh organ menjadi objek modifikasi. Modifikasi organ
diikuti dengan perubahan fungsionalnya. Ada banyak tipe sel di dalam larva yang
mengalami perubahan selama metamorfosis, namun ada sel-sel pada daerah
tertentu yang terus berkembang tanpa dipengaruhi oleh hormon (Karraker, 2007).
Proses perkembangan selama metamorfosis diaktifkan oleh hormonhormon spesifik. Secara keseluruhan organisme berubah untuk mempersiapkan
dirinya pada bentuk yang baru. Bahkan metamorfosis pada berudu menyebabkan
perkembangan pemasakan enzim-enzim hati, hemoglobin, pigmen mata,
remodeling sistem syaraf, digesti dan reproduksi (Robert, 1976).
Metamorfosis dapat dibagi menjadi dua yaitu metamorfosis sempurna dan
metamorfosis tidak sempurna. Metamorfosis sempurna merupakan perubahan
morfologi yang berawal dari telur, larva, pupa dan imago. Perubahannya nampak
jelas, sehingga dapat dibedakan fase perubahannya yang terdiri dari 4 fase.
Contoh metamorfosis sempurna ini yaitu kupu-kupu dan katak. Sedangkan
metemorfosis tidak sempurna yaitu karena hewan tersebut hanya melewati 3 fase,
yaitu dari telur menjadi nimfa kemudian menjadi hewan dewasa. Perubahan
morfologinya tidak tampak jelas, karena bentuknya sama hanya saja ukurannya
yang berbeda. Metamorfosis tidak sempurna ini biasanya terjadi pada serangga
misalnya adalah belalang (Soeminto, 2000).
Praktikum metamorfosis kali ini menggunakan berudu katak (Fejervarya
cancrivora) untuk mewakili kelas amphibia karena mudah didapat, dipelihara dan
mudah diamati metamorfosisnya. Berudu yang digunakan sebagai objek
praktikum adalah berudu stadium tunas ekor agar dapat teramati pertumbuhan
membra depan, membra belakang dan ekor selama metamorfosis.

B. Tujuan
Tujuan dari praktikum metamorfosis pada katak ini adalah mahasiswa
dapat mengenali struktur tubuh larva/berudu berhabitat akuatik dan perubahanperubahan yang terjadi selama metamorfosis larva amfibi menjadi katak dewasa
berhabitat terrestrial.

II. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat-alat yang digunakan dalam praktikum metamorfosis pada katak
adalah baskom, kertas milimeter blok, saringan, kertas label, kaca pembesar dan
batu.
Bahan-bahan yang diperlukan dalam praktikum kali ini adalah berudu
katak stadium tunas ekor, air dan daun bayam rebus.
B. Metode
Metode yang dilakukan dalam praktikum ini adalah:

1. Berudu katak stadium tunas ekor disediakan.


2. 10 berudu dipilih yang berukuran sama dan pada stadium yang sama (tunas
ekor).
3. Berudu pada baskom diambil satu per satu untuk dilakukan pengukuran. Pada
awal pengamatan diukur panjang total tubuh berudu, panjang ekor, dan lebar
kepala berudu menggunakan kertas millimeter blok dan bagian perut berudu
diamati dengan menggunakan kaca pembesar kemudian dicatat pada tabel
pengamatan.
4. Berudu yang telah diukur dipelihara dan diamati pada baskom plastik yang
telah diisi air selama 2 minggu.
5. Berudu diberi pakan daun bayam rebus setiap 2 hari sekali, penggantian air
dilakukan selama 3 hari sekali.
6. Setiap seminggu sekali berudu diamati dan diukur panjang total tubuh,
panjang ekor dan lebar kepala, apabila sudah mulai terbentuk tunas kaki maka
diberi batu pada baskom. Pengamatan dan pemeliharaan dilakukan selama 2
minggu.
7. Data yang diperoleh digunakan sebagai bahan untuk membuat laporan.

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil
Tabel 1. Pengamatan Berudu Kelompok 5 Rombongan VIII
Berudu ke1
2
3
4
5
6
7
8
9

PT
17
18
17
15
16
17
17
16
14

0
PE
10
7
8
8
9
8
9
10
7

Pengukuran Hari Ke- (mm)


7
LK
PT
PE
LK
PT
5
16
10
3
18
3
15
8
3
16
4
18
11
5
17
4
17
10
4
17
4
17
10
4
19
5
16
9
3
15
4
17
10
4
12
4
14
8
3
4
20
11
5
-

14
PE
10
9
9
9
10
9
-

LK
5
4
4
5
5
4
4
-

10
Rata-Rata

17
16,4

Keterangan :

PT : Panjang Tubuh
PE : Panjang Ekor
LK : Lebar Ekor

10
8,6

4
4,1

19
15,9

10
9,7

5
3,9

16,3

4,42

Tabel 2. Perkembangan Metamorfosis Katak


Parameter
Lokomosi
Usus dan Perut

Pengamatan Hari ke7


Sirip Ekor

14
Sirip Ekor

Panjang spiral,

Panjang spiral,

terpigmentasi

terpigmentasi

Belum ada

Belum ada

1 ekor

Belum ada

10 ekor sudah ada

2 ekor

0
Sirip Ekor
Panjang spiral,
belum
terpigmentasi

Pertunasan
Membra Depan
Pertunasan
Membra
Belakang

Gambar Hasil Pengamatan Metamorfosis Katak

Gambar 1. Dorsal Berudu Minggu ke-0

Gambar 2. Pigmentasi
Abdomen Berudu Minggu ke-0

Gambar 3. Dorsal Berudu Minggu ke-1

Gambar 4. Pigmentasi
Abdomen Berudu Minggu ke-1

Gambar 5. Dorsal Berudu Minggu ke-2

Gambar 6. Pigmentasi
Abdomen Berudu Minggu ke-2

B. Pembahasan
Hasil praktikum pada pengamatan berudu awal diperoleh rata-rata panjang
total 16,4 mm, rata-rata panjang ekor 8,6 mm, dan rata-rata lebar kepala 4,1 mm.
Panjang tubuh berudu rata-rata pada hari ke-7 diperoleh adalah 15,9 mm, rata-rata
panjang ekor 9,7 mm, dan rata-rata lebar kepala 3,9 mm. Hari ke-14 terdapat 2

berudu yang hilang dan 1 ekor mati, ketiga berudu tersebut adalah berudu yang
belum mengalami pertunasan membra depan dan membra belakang. Panjang
tubuh rata-rata adalah 16,3 mm, panjang ekor rata-rata 8 mm dan lebar kepala
rata-rata 4,42 mm. Adanya berudu yang mati mungkin dikarenakan cepat
keruhnya air karena aktivitas makan berudu yang tinggi, selain itu berudu mati
mungkin saja karena kurangnya strategi beradaptasi antara individu dengan siklus
hidupnya yang kompleks. Kunci dari beradaptasi adalah dengan mengoptimalkan
kesehatan antara hewan dengan siklus hidup yang kompleks (Res and Heinz,
2003). Ketahanan yang tinggi terhadap parasit juga diperlukan untuk
perkembangan katak menuju fase berikutnya (Janel et al., 2009).
Tahap metamorfosis yang diamati adalah berudu tunas ekor yang
berkembang menjadi katak dewasa. Pertama pada berudu tunas ekor masih
menggunakan sirip ekor untuk lokomosi. Kemudian tumbuh tunas kaki yang
kemudian diikuti dengan pertunasan membra belakang. Kedua, tunas membra
depan dan belakang ini semakin berkembang. Ketiga, kaki depan dan belakang
mulai terbentuk dan ekor sudah tereduksi namun pada minggu ke-2
perkembangan ini baru terjadi pada beberapa ekor berudu saja. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Sounders (1982) bahwa metamorfosis pada katak melalui tiga
tahapan, yaitu: Tahap premetamorfosis yang ditandai pertumbuhan larva yang
sangat dominan, tahap prometamorfosis ditandai dengan perkembangan lebih
lanjut seperti mulai munculnya membra belakang dan tahap metamorfik klimkas
yang merupakan periode perubahan morfologi dan fisiologi yang luas dan
dramatik, tahap ini ditandai dengan perkembangan membra depan. Perubahanperubahan ini disertai regresi ekor katak dan penyusunan kembali cara makan,
sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem ekskresi, sistem gerak dan sistem
syaraf yang terjadi pada katak dan salamander (Walbot and Holder, 1987).
Hasil pada pengamatan metamorfosis diperoleh bahwa lokomosi berudu
minggu awal, hari ke-7 dan hari ke-14 masih berupa sirip ekor karena tunas kaki
yang terbentuk belum menjadi kaki sepenuhnya. Usus dan perut awal masih
panjang spiral dan perut terlihat transparan, hari ke-7 masih spiral tetapi perut
terlihat sudah terpigmentasi (berwarna perak) hingga hari ke-14 belum mengalami
perubahan. Pertunasan membra depan yang akan berkembang menjadi kaki depan

terlihat pada hari ke-14 namun hal ini hanya terjadi pada 1 ekor berudu.
Pertunasan membra belakang pada semua berudu sudah ada pada pengamatan hari
ke-7 tunas tumbuh lebih panjang dan pada hari ke-14 tunas belakang hanya
dimiliki oleh dua ekor berudu saja karena terjadinya kekeliruan ketika
pemeliharaan. Pertunasan membra belakang ini belum nampak menjadi kaki.
Proses metamorfosis pada amphibi dikontrol oleh hormon tiroid dan
perubahan transisi bertahap menuju ke klimaks metamorfosis melibatkan
peningkatan derajat hormon tersebut. Reaksi-reaksi jaringan tertentu pada hormon
tiroid adalah spesifik pada tipe-tipe sel target tertentu. Mekanisme kerja tiroid
pada tingkat gen di mediasi lewat reseptor yang berada pada inti sel, perubahan
ekspresi gen sebagai akibat hormon ini bermacam-macam dan bervariasi dari satu
tipe sel ke tipe sel yang lain (Walbot dan Holder, 1987).
Metamorfosis pada amphibi umumnya berhubungan dengan perubahan
yang mempersiapkan suatu organisme akuatik untuk kehidupan darat. Perubahan
regresif pada anura menyertakan hilangnya gigi tanduk berudu, pemendekan ekor
dan insang internal. Proses-proses penyusunan seperti perkembangan membra dan
morfogenesis kelenjar tiroid. Perubahan lokomosi dengan menyusutnya ekor
pendayung yang disertai perkembangan membra belakang dan membra depan.
Insang beregresi dan lengkung insang menghilang. Intestinum panjang yang khas
hewan herbivora memendek karena akan bermetamorfosis menjadi katak yang
bersifat karnivora. Paru-paru membesar, otot-otot dan kartilago berkembang untuk
memompa udara masuk dan keluar paru-paru. Telinga tengah berkembang,
sebagai karakteristik membran timpani luar katak. Muncul membran niktitan pada
mata (Robert, 1976).
Perubahan-perubahan ini disertai regresi ekor katak dan penyusunan
kembali cara makan, sistem pencernaan, sistem pernafasan, sistem ekskresi,
sistem gerak, dan sistem syaraf pada katak. Tiga kategori perubahan ini selama
metamorfosis meliputi hilangnya struktur dan jaringan larva (misal ekor dan
insang), modifikasi struktur larva yang telah ada sebelumnya (misal mulut dan
perut) pemrograman ulang aktivitas metabolik tingkat sel (misalnya hati) dan
munculya struktur dewasa baru (misal paru-paru menggantikan insang). Struktur
baru katak sebagian besar terbentuk selama periode prometamorfosis yang

panjang, sedangkan regresi jaringan terjadi selama periode metamorfik klimak


yang pendek (Robert, 1976). Perubahan-perubahan biokimiawi yang terjadi
menyertai metamorfosis pada amphibi diantaranya fotopigmen berudu yang hidup
di air, yaitu porpiropsin, diganti dengan rodopsin untuk kehidupan darat.
Perubahan-perubahan metamorfik benar-benar merubah seluruh jaringan dan
organ (Karraker, 2007).
Metamorfosis katak termasuk metamorfosis sempurna seperti yang
dinyatakan oleh Soeminto (2000), bahwa katak merupakan hewan yang
mengalami metamorfosis sempurna. Siklus hidup katak yaitu awalnya, katak
betina dewasa bertelur, kemudian telur tersebut akan menetas setelah 10 hari.
Setelah menetas, telur katak tersebut menetas menjadi berudu. Setelah berumur 2
hari, berudu mempunyai insang luar yang berbulu untuk bernapas. Setelah
berumur 3 minggu insang berudu akan tertutup oleh kulit. Menjelang umur 8
minggu, kaki belakang berudu akan terbentuk kemudian membesar ketika kaki
depan mulai muncul. Umur 12 minggu, kaki depannya mulai berbentuk, ekornya
menjadi pendek serta bernapas dengan paru-paru. Setelah pertumbuhan anggota
badannya sempurna, katak tersebut akan berubah menjadi katak dewasa. Oksigen
dapat berdifusi dalam rongga mulut yaitu melalui selaput rongga mulut dan juga
melalui kulit. Permukaan kulit katak selalu basah dan lembab sehingga
memungkinkan oksigen dapat berdifusi ke dalam kulit tersebut.
Faktor yang mempengaruhi metamorfosis dapat dibedakan menjadi faktor
eksternal dan internal. Faktor eksternal meliputi faktor lingkungan antara lain
kualitas air, adanya parasit serta jumlah pakan yang tersedia. Faktor internal
meliputi perbedaan umur, kemampuan beradaptasi dengan lingkungannya dan
adanya ketahanan terhadap penyakit (Huet, 1971).
Selain dua faktor tersebut juga ada salah satu faktor yang mempengaruhi,
yaitu faktor hormon. Hormon utama metamorfosis amfibi adalah hormon thyroid,
yang serupa dengan ecdyson pada metamorfosis serangga. Hormon ini diproduksi
dalam kelenjar thyroid yang terletak pada bagian ventral dari trachea pada leher.
Reseptor hormon tiroid dibentuk dari heterodimer dengan reseptor X retinoid.
Reseptor X retinoid terikat pada respon elemen hormon tiroid pada gen target
(Yasushi et al., 2006). Komponen aktif dari hormon thyroid adalah thyroxine

(T4) dan triiodothyronine (T3), keduanya merupakan derivat dari asam amino
tyrosine. Triiodothyronine (T3) secara umum terlihat sebagai komponen yang
lebih aktif, juga disintesis dari thyroxine (T4) dalam jaringan lain dari kelenjar
thyroid. Ketika kelenjar thyroid dipindahkan dari berudu muda, mereka tumbuh
menjadi berudu dewasa yang tidak pernah mengalami metamorfosis. Sebaliknya,
ketika hormon thyroid diberikan pada berudu muda dengan makanan atau injeksi,
mereka bermetamorfosis secara prematur (Khaltoff, 1996). Metamorfosis amfibi
adalah contoh dari perkembangan kompleks proses yang diatur oleh faktor
endokrin (Rosenkilde dan Ussing, 1996). Thyroid-stimulating hormone (TSH)
dianggap sebagai regulator fisiologis utama pertumbuhan berudu (Badawy, 2011).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
1. Metamorfosis merupakan suatu tingkat transisi ketika suatu hewan mengalami
perubahan morfologi, fisiologi, dan biokimiawi.
2. Sistem yang berubah dalam metamorfosis ampibi yaitu sistem lokomosi,
respirasi, saraf, nutrisi, integumen, ekskresi dan sirkulasi yang semuanya
dipersiapkan untuk fase dewasanya.
3. Faktor-faktor yang mempengaruhi metamorfosis pada katak meliputi kualitas
air, adanya parasit, jumlah pakan yang tersedia, perbedaan umur, kemampuan
beradaptasi dengan lingkungannya dan adanya ketahanan terhadap penyakit.
4. Kontrol hormon terutama hormon kelenjar tiroid sangat berpengaruh terhadap
metamorfisis katak.
B. Saran

Sebaiknya medium air untuk perkembangan berudu dilengkapi dengan


sistem aerasi dan penggantian air dilakukan secara teratur agar baskom
pemeliharaan tetap bersih sehingga berudu tidak mudah mati.

DAFTAR REFERENSI
Badawy G. M. 2011. Effect of Thyroid Stimulating Hormone on The
Ultrastructure of The Thyroid Gland in The Mexican Axolotl During
Metamorphic Climax. Journal of Applied Pharmaceutical Science, 1(4):
60-66.
Huet, M. 1971. Text Book of Fish Culture Breeding and Cultivation of Fish.
Fishing News Books Ltd, Surrey.
Janel, Richter, Lincoln, Martin dan Christoper, K.B. 2009. Increased Larval
Density Includes Accelerates Metamorphosis Independently of Growth
Rate in Frog Rana sphenocephala. Journal of Herpetology, 43(3):551-554.
Khaltoff, Klaus. 1996. Analysis of Biological Development. McGraw-Hill, Inc,
New York.
Karraker, N. E. 2007. Are Embrionic and Larval Green Frogs (Rana clamitans)
Insensitive to Road Deicing Salt? Herpetological Conservation and
Biology, 2(1): 35-41.
Res, Altweggi dan Heinz, U.R. 2003. Patterns of Natural Selection on Size at
Metamorphosis in Water Frogs. Journal of Evolution, 57(4):872-882.

Robert, T. 1976. Vertebrate Biology Fourth Edition. W. B. Saunders Company,


USA.
Rosenkilde P, and Ussing A. 1996. What Mechanisms Control Neoteny and
Regulate Induced Metamorphosis in Urodeles, Int. J. Dev. Biol. Vol. 40:
665-673.
Soeminto. 2000. Biologi Perkembangan III. Universitas Jenderal Soedirman,
Purwokerto.
Sounders, J.W. 1982. Developmental Biology. AcMillan Publishing Co., New
York.
Walbot, V., & N. Holder. 1987. Developmental Biology. Random House, New
York.
Yasushi, Goto, Shigeyuki Kitamura, Keiko Kashiwagi, Ken Oofusa, Osamu Tooi,
Katsutoshi Yoshizato, Jin Sato, Shigeru Ohta, and Akihiko Kashiwagi.
2006. Suppression of Amphibian Metamorphosis by Bisphenol A and
Related Chemical Subtances. Journal of Health Science, 52 (2): 160-168.