Anda di halaman 1dari 42

HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENGETAHUAN TENTANG

PERIMENOPAUSE DENGAN TINGKAT KECEMASAN


PADA WANITA DI DESA KESUGIHAN KIDUL
KECAMATAN KESUGIHAN
KABUPATEN CILACAP
TAHUN 2014
PROPOSAL KARYA TULIS ILMIAH

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................

DAFTAR GAMBAR ......................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................

xii

BAB I

PENDAHULUAN ........................................................................

A. Latar Belakang Masalah ...........................................................


B. Perumusan Masalah .................................................................
C. Tujuan Penelitian ....................................................................
1. Tujuan Umum ...................................................................
2. Tujuan Khusus ..................................................................
D. Manfaat Penelitian ...................................................................
1. Secara Teoritis ...................................................................
2. Secara Praktis ....................................................................
E. Keaslian Penelitian ...................................................................

1
2
3
3
3
3
3
4
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................

A. Landasan Teori .........................................................................


1. Pengetahuan ......................................................................
2. Perimenopause ..................................................................
3. Kecemasan ........................................................................
4. Diagnosis tingkat kecemasan pada wanita perimenopause
5. Alat ukur kecemasan ..........................................................
B. Kerangka Konsep ....................................................................
C. Hipotesis...................................................................................

6
6
10
17
22
22
26
26

BAB III METODE PENELITIAN ...............................................................

27

A. Desain Penelitian .....................................................................


1. Jenis Penelitian ...................................................................
2. Cara Pendekatan terhadap subyek penelitian .....................
B. Tempat dan Waktu Penelitian .................................................
C. Populasi dan Sampel ................................................................
1. Populasi ..............................................................................
2. Sampel ................................................................................
D. Teknik Pengumpulan Data ......................................................
1. Variabel penelitian .............................................................
2. Definisi Operasional ..........................................................

27
27
27
27
28
28
28
29
29
29

ii

3. Cara pengumpulan data ......................................................


4. Alat pengumpulan data ......................................................
5. Uji coba alat pengumpul data .............................................
E. Tata Urutan Kerja .....................................................................
1. Tahap Persiapan .................................................................
2. Tahap Pelaksanaan ............................................................
3. Tahap Akhir .......................................................................
F. Analisa Data .............................................................................
1. Pengolahan Data ................................................................
2. Cara Analisis ......................................................................

30
30
31
31
31
32
32
32
32
34

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................

35

A.
B.
C.
D.

Gambaran Umum Lokasi Penelitian ........................................


Hasil penelitian.........................................................................
Pembahasan ..............................................................................
Keterbatasan penelitian ............................................................

35
36
42
46

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................


A. Kesimpulan ..............................................................................
B. Saran .........................................................................................

47
47
47

DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................

49

iii

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

2.1

Gejala pada Masa Klimakterium .........................................................

15

3.1

Definisi Operasional ...........................................................................

29

4.1

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan ................................

36

4.2

Karakteristik responden berdasarkan pekerjaan ..................................

37

4.3

Karakteristik responden berdasarkan pendapatan ...............................

37

4.4

Distribusi frekuensi tingkat pengetahuan tentang perimenopause ......

38

4.5

Distribusi frekuensi tingkat kecemasan tentang perimenopause .........

39

4.6

Hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perimenopause


dengan tingkat kecemasan pada wanita ...............................................

iv

40

DAFTAR GAMBAR

Gambar
2.1

Halaman

Kerangka Konsep ...............................................................................

26

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran
1. Jadwal Penelitian
2. Surat Permohonan Ijin Penelitian
3. Surat Pemberitahuan Penelitian Dari Kesbanglinmas
4. Surat Rekomendasi Penelitian Dari Bappeda
5. Surat Rekomendasi Dari Desa Kesugihan Kidul
6. Surat Permohonan Menjadi Responden
7. Surat Pernyataan Menjadi Responden
8. Surat Pernyataan Menjadi Responden
9. Surat Pernyataan Responden
10. Kuesioner Penelitian
11. Kunci Jawaban Kuesioner
12. Tabulasi Tingkat Pengetahuan Tentang Perimenopause
13. Tabulasi Tingkat Kecemasan Pada Masa Perimenopause
14. Hasil Analisis
15. Buku Konsultasi

vi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Indonesia sebagai negara yang berkembang tidak hanya memiliki potensi
sumber daya alam tetapi juga sumber daya manusia yang sangat berguna bagi
pembangunan perekonomian negara. Berdasarkan data dari Biro Pusat
Biostatistik (BPS) tahun 2006 jumlah penduduk di Indonesia sekitar 225 juta dan
52% dari jumlah tersebut adalah wanita. Pada tahun 2010 jumlah wanita yang
berusia 45-51 tahun diperkirakan mencapi 30,3 juta.
Pada wanita usia 41 sampai 51 tahun masih produktif, tetapi banyak
wanita yang menghadapi permasalahan alami yaitu menurunnya hormon
esterogen dan progesteron yang berakibat berhentinya haid, perubahan kondisi
fisik seperti kulit keriput, vagina kering, dan perubahan kondisi psikologis
seperti mudah tersinggung dan gangguan tidur (Kumalaningsih 2008).
Gejala psikologis pada masa perimenopause antara lain : susah tidur,
pelupa, kurang percaya diri, cemas, libido tidak ada, sulit konsentrasi, sulit
mengambil keputusan, kurang bertenaga, gampang tersinggung (Baziad, 2003).
Dari pengamatan peneliti disekitar Desa Kesugihan Kidul, Kabupaten
Cilacap, wanita usia 41-51 tahun sebanyak 10 orang pada umumnya yang
pengetahuannya rendah tidak merasa cemas, sedangkan wanita yang
berpengetahuan tinggi merasa cemas dengan usianya yang memasuki masa
perimenopause.

Hasil

pengamatan

yang

menyebutkan

bahwa

tingkat

pengetahuan tentang perimenopause itu berhubungan dengan tingkat kecemasan


seorang wanita perimenopause, dikarenakan dilihat dari para wanita usia 41-51
tahun yang mengetahui tanda perimenopause dapat mengalami kecemasan.
Perubahan fisik maupun psikologis pada masa perimenopause itulah
yang menimbulkan wanita usia 41-51 tahun merasa cemas. Berdasarkan survey
pendahuluan di Desa Kesugihan Kecamatan Kesugihan terdapat 938 wanita
yang berusia antara 41-51 tahun. Berdasarkan informasi dari 10 wanita
perimenopause wanita tersebut, rata-rata mereka merasa cemas ketika akan
menghadapi masa menopause, maka dari itu penulis tertarik

melakukan

penelitian tentang tingkat pengetahuan tentang perimenopause dan tingkat


kecemasan di Desa Kesugihan Kidul untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang perimenopause dengan tingkat kecemasan pada wanita di
Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap.

B. Perumusan masalah
Adakah hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perimenopause
dengan tingkat kecemasan pada wanita di Desa Kesugihan Kidul Kecamatan
Kesugihan Kabupaten Cilacap Tahun 2009?.

C. Tujuan penelitian
1. Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara tingkat
pengetahuan tentang perimenopose dengan tingkat kecemasan pada wanita di
Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap Tahun
2009.
2. Tujuan Khusus
a.

Mengetahui tingkat pengetahuan pada wanita tentang perimenopause di


Desa Kesugihan Kecamatan Kesugihan, Kabupaten Cilacap tahun 2009.

b.

Mengetahui tingkat kecemasan pada wanita di Desa Kesugihan Kidul


Kecamatan Kesugihan Kidul Kabupaten Cilacap tahun 2009.

c.

Menganalisis

hubungan

antara

tingkat

pengetahuan

tentang

perimenopause dengan tingkat kecemasan pada wanita Di desa


Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kidul Kabupaten Cilacap tahun
2009.

D. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan menambah ilmu pengetahuan dalam
lingkungan kesehatan wanita, sehingga dapat digunakan sebagai masukan
dalam

memberikan

perimenopause,
menopause.

pelayanan

sehingga

kesehatan,

masyarakat

akan

khususnya
lebih

siap

pada

masa

menghadapi

2. Manfaat Praktis
a. Bagi masyarakat/ responden
Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai sarana
informasi dan dapat menambah pengetahuan tentang perimenopause,
sehingga masyarakat akan lebih siap menghadapi menopause.
b. Bagi profesi/ bidan
Penelitian ini dapat menjadi masukan bagi profesi terutama bagi
bidan.

Untuk

meningkatkan

mutu

pelayanan

dan

memberikan

penyuluhan pada wanita khususnya masa perimenopause.


c. Bagi institusi
Penelitian ini diharapkan dapat menambah wacana kepustakaan
sebagai sarana memperkaya ilmu pengetahuan bagi pembaca khususnya
tentang perimenopause.
d. Bagi peneliti
Dapat menambah pengetahuan dan wawasan khususnya mengenai
hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perimenopause dengan
derajat kecemasan pada wanita.

E. Keaslian Penelitian
Penelitian yang relevan dengan penelitian ini adalah penelitian dengan
judul Hubungan antara Tingkat Pengetahuan tentang Perimenopause dengan
perilaku pada Masa Perimenopause di Desa Sikanco Kecamatan Nusawungu
Kabupaten Cilacap tahun 2008 dilakukan oleh Suryati, jenis penelitian survey
analitik dengan pendekatan cross sectional. Diperoleh hasil ada hubungan yang

positif signifikan antara tingkat pengetahuan wanita tentang perimenopause


dengan perilaku pada masa perimenopause.
Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya yaitu pada
variabel penelitian ini menggunakan variabel bebas adalah tingkat pengetahuan
tentang perimenopause dan variabel terikatnya adalah tingkat kecemasan pada
wanita, tempat penelitian di Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan
dengan survey analitik dan cara pendekatan cross sectional.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori
1. Pengetahuan
a. Pengertian
Pengetahuan merupakan hasil dari tahu dan ini terjadi setelah
seseorang melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu.
Penginderaan ini melalui panca indera manusia, yaitu indera penglihatan,
pendengaran, penciuman, rasa dan raba. Sebagian besar pengetahuan
manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Pengetahuan merupakan
domain yang sangat penting untuk terbentuknya perilaku seseorang
(Notoatmodjo, 2003).
b. Tingkat Pengetahuan
Pengetahuan yang dicakup di dalam domain kognitif mempunyai 6
tingkatan, yaitu :
1) Tahu (know)
Diartikan sebagai mengingat kembali (recall) terhadap sesuatu
yang spesifik dari seluruh bahan yang dipelajari atau rangsangan yang
telah diterima. Oleh karena itu "tahu" merupakan tingkat pengetahuan
yang paling rendah. Kata kerja untuk mengukur bahwa orang tahu ten
tang apa yang dipelajari antara lain menyebutkan, menguraikan,
mengidentifikasikan, menyatakan dan sebagainya.

2) Memahami (Comprehension)
Memahami diartikan suatu kemampuan menjelaskan secara
benar tentang objek yang diketahui dan dapat menginterprestasikan
materi secara benar. Orang yang telah paham terhadap objek atau
materi harus dapat menjelaskan, menyebutkan contoh, menyimpulkan,
meramalkan, dan sebagainya.
3) Aplikasi (Aplication)
Aplikasi diartikan sebagai kemampuan untuk menggunakan
materi yang telah dipelajari pada situasi dan kondisi riil (sebenarnya).
Aplikasi disini dapat diartikan aplikasi atau penggunaan hukurnhukum, rumus, metode, prinsip dan sebagainya dalam konteks atau
situasi yang lain.
4) Analisis (Analysis)
Analisis adalah suatu kemampuan vmtuk menjabarkan materi
atau suatu objek kedalam komponen-komponen, tetapi di dalam suatu
struktur organisasi tersebut dan masih ada kaitannya satu sama lain,
kemampuan analisis ini dapat dilihat dari penggunaan kata-kata kerja,
dapat menggambarkan (membuat bagan), membedakan, memisahkan,
mengelompokkan dan sebagainya.
5) Sintesis (Synthesis)
Sintesis

menunjukan

kepada

suatu

kemampuan

untuk

meletakkan atau menghubungkan bagian-bagian di dalam suatu


bentuk keseluruhan yang baru, dengan kata kata lain sintesis ini suatu

kemampuan untuk menyusun formulasi baru dari formulasi-formulasi


yang ada.
6) Evaluasi (Evaluation)
Evaluasi ini berkaitan dengan kemampuan untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu materi atau objek. Penilaianpenilaian ini berdasarkan suatu kriteria yang ditemukan sendiri atau
menggunakan kriteria-kriteria yang telah ada.
c. Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Menurut Notoatmodjo (2003), pengetahuan seseorang dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
1) Pengalaman
Pengalaman dapat diperoleh dari pengalaman sendiri maupun
orang lain. Pengalaman yang sudah diperoleh dapat memperluas
pengetahuan seseorang.
2) Tingkat pendidikan
Pendidikan dapat membawa wawasan atau pengetahuan
seseorang. Secara umum, seseorang yang berpendidikan lebih tinggi
akan mempunyai pengetahuan yang lebih luas dibandingkan dengan
seseorang yang tingkat pendidikannya lebih rendah.
3) Keyakinan
Biasanya keyakinan diperoleh secara turun temurun dan tanpa
adanya pembuktian terlebih dahulu. Keyakinan ini bisa mempunyai

mempengaruhi pengetahuan seseorang, baik keyakinan itu sifatnya


positif maupun negatif.
4) Fasilitas
Fasilitas-fasilitas

sebagai

sumber

informasi

yang

dapat

mempengaruhi pengetahuan seseorang, misalnya radio, televise,


majalah, Koran dan buku.
5) Penghasilan
Penghasilan tidak berpengaruh langsung terhadap pengetahuan
seseorang. Namun bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka
dia akan mampu untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas
sumber informasi.
6) Sosial Budaya
Kebudayaan setempat dan kebiasaan dalam keluarga dapat
mempengaruhi pengetahuan, persepsi dan sikap seseorang terhadap
sesuatu.
d. Pengukuran pengetahuan
Pengukuran pengetahuan dapat dilakukan dengan wawancara atau
angket yang menyetakan tentang isi materi yang ingin diukur dari subyek
penelitian atau responden. Kedalaman pengetahuan yang ingin dia ketahui
atau kita ukur dapat disesuaikan dengan tingkatan domain diatas
(Notoatmodjo, 2003).

10

2. Perimenopause
a. Pengertian
Pramenopause adalah masa menjelang dan celah menopause sekitar
50 tahun. Keluhan sistematik berkaitan dengan vasomotor (Baziad, 2003).
Pramenopause merupakan suatu masa sebelum menopause yang
dapat ditandai dengan timbulnya keluhan-keluhan klimakterium dan
periode

pendarahan

uterus

yang

bersifat

tidak

teratur.

Masa

pramenopause dimulai sekitar 40 tahun, kelainan haid yang terjadi adalah


amenorea, polimenorea dan hipermenorea (Baziad, 2003).
Sebelum mencapai usia menopause (usia 50 tahun) dan usia
pramenopause dimulai 40 tahun, seorang wanita akan mengalami
beberapa perubahan fisik dan gejala hormonal, termasuk mens yang tidak
teratur (Baziad, 2008).
Pada masa peralihan ini akan timbul berbagai keluhan yang
berhubungan dengan siklus haid dengan manifestasi utama haid yang
tidak teratur disertai dengan peningkatan kadar FHS (Follicte Stimulating
Hormon) dan penurunan kadar inhibin tetapi estradiol tidak berkurang
secara bertahap pada masa perimenopause tetapi tetap dalam rentang
normal hingga pertumbuhan dan perkembangan folikular berhenti.
Wanita dapat mengalami peningkatan kadar FHS hingga > 30 mlU/L
sementara terus mengalami siklus menstruasi, dengan pembentukan
korpus luteum sekali-kali (Varney, 2006).

11

Wanita yang mendekati menopause, produksi hormon estrogen,


hormone progesteron dan hormon seks lainnya mulai menurun. Keadaan
ini menyebabkan jarang terjadi ovulasi dan menstruasi tidak teratur,
sedikit dengan jarak yang panjang. Menopause berhubungan dengan
perubahan hormonal sehingga wanita mengalami perubahan status fisik
dan emosional (Purwatyastuti, 2005).
Perubahan siklus haid ditandai dengan anovulasi pada wanita
berusia 40 tahun menjadi lebih prevalen dimana sekitar 40% merupakan
siklus anovulatoir.
Pada masa perimenopause ini terjadi keluhan yang sering dijumpai
adalah berupa gejolak panas (hot flushes) berkeringat banyak, insomnia,
depresi, serta perasaan mudah tersinggung (Baziad, 2003).
Ketika menopause akan menimbulkan gejala-gejala yang berbeda
pada tiap orang, meskipun demikian, dapatlah dikatakan bahwa gejalagejala premenopause merupakan suatu gejala yang biasa disebut sindrom
menopause (Kuncoro, 2002). Yang meliputi : ketidak teraturan siklus
haid, gejolak panas (hot flushes), keringat di malam hari (night sweat),
kekeringan vagina (dryness vaginal), penurunan daya ingat, kurang tidur
(insomnia), rasa cemas (depresi).
Munculnya gejala hot flushes dan berkeringan di malam hari dapat
ditangani dengan menjalani hidup sehat dan bebas stress. Hidup sehat
dengan makan, minum, istirahat dan olah raga yang cukup dan teratur.

12

Bebas stress dilakukan dengan menjalani hidup penuh dengan


ketenangan.
Saat kadar estrogen menurun, maka elastisitas vagina berkurang dan
mengering. Melakukan hubungan seks pun menjadi tidak nyaman dan
vagina mudah terluka dan iritasi. Untuk mengatasinya bukan berarti
wanita sudah tidak dapat lagi berhubungan seks, justru melakukan
hubungan

dengan

frekuensi

yang

cukup

dapat

menghilangkan

ketidaknyamanan. Misalnya : menggunakan jeli saat berhubungan,


hindari pemakaian parfum, tissue, pembalut, sabun tertentu yang akan
menambah kekeringan vagina.
b. Perubahan-perubahan pada wanita pramenopause
Perubahan yang terjadi pada wanita menjelang menopause akibat
penurunan hormon estrogen antara lain :
1) Perubahan fisik
Pada perubahan fisik seorang wanita menjalani perubahan fisik kulit,
lemak bawah kulit berkurang sehingga kulit menjadi kendor. Pada
kulit tumbuh bintik hitam. Otot bawah kulit muka mengendor
sehingga jatuh dan lembek. Kelenjar kulit kurang berfungsi, sehingga
kulit sering dan keriput.
2) Perubahan

metabolisme

tubuh

ditandai

dengan

menurunnya

pengeluaran hormon tiroksin dan insulin, pembakaran dan keperluan


tubuh menjadi menurun. Untuk dapat menyesuaikan menurunnya

13

metabolisme dilakukan perubahan pola makan dan disesuaikan


dengan kebutuhan.
3) Perubahan pola makan dianjurkan menjurus kearah makanan yang
mengandung banyak serat. Juga terjadi perubahan pada kerja usus
halus dan besar. Menurunnya estrogen dapat menimbulkan perubahan
kerja usus menjadi lambat.
4) Perubahan sistem jantung dan pembuluh darah terjadi karena adanya
perubahan

metabolisme,

menurunnya

estrogen,

menurunnya

pengeluaran hormon paratiroid. Hubungan emosi dengan sistem ini


menimbulkan jantung mudah berdebar. Meningkatkan hormone FSH
dan LH dan rendahnya estrogen dapat menimbulkan perubahan
pembuluh darah. Melebarnya pembuluh darah pada wajah, leher, dan
tengkuk menimbulkan rasa panas yang disebut hot fluses. Badan
terasa

panas.

Penimbunan

kolesterol

pada

pembuluh

darah

menimbulkan penyakit jantung koroner.


5) Perubahan yang terjadi pada alat genitalis, yaitu saat berhubungan
seksual dapat terjadi nyeri (dispareunia), sulit mendapat orgasme.
Lemahnya penyangga alat kelamin bagian dalam menyebabkan terasa
kurang enak sekitar liang senggama, liang senggama terasa turun
(menonjol) dalam bentuk tonjolan kandung kencing (sistokel) dan
mulut rahim terbuka. Kepuasan berkemih dan buang air besar
semakin berkurang, seolah-olah masih terdapat sisa.

14

6) Perubahan pada tulang terjadi oleh karena kombinasi rendahnya


hormon estrogen dan hormon paratiroid. Tulang mengalami
dekalsifikasi (pengapuran) artinya kalium menurun sehingga tulang
keropos dan mudah terjadi patah tulang. Patah tulang terutama terjadi
pada persendian paha.
7) Perubahan Psikologis
Perubahan yang dialami wanita menjelang menopause meliputi
merasa tua, tidak menarik, rasa tertekan karena takut menjadi tua,
mudah tersinggung, mudah kaget sehingga jantung berdebar, takut
tidak dapat memenuhi kebutuhan seksual suami, rasa takut bahwa
suami akan menyeleweng. Keinginan seksual menurun dan sulit
mencapai kepuasan (orgasme). Merasa tidak berguna dan tidak
menghasilkan sesuatu, merasa memberatkan keluarga dan orang lain.
c. Keluhan dan Gejala Perimonepause
Menurut Kumalaningsih (2008), diketahui bahwa lebih dari 50%
wanita di negara industri maju merasakan dan mengeluh tentang gejala
dan tanda perimenopause. Gejala yang dirasakan kebanyakan berupa
tanda-tanda vasomotor yang timbul berbagai akibat turunnya hormon seks
terutama estrogen, kemudian gejala psikologis yang tentu tidak bersifat
spesifik sebab tanda itu dapat pula dijumpai pada masa klimakterium
seperti misalnya rasa cemas, sulit tidur, sering lupa, tidak percaya diri dan
lain-lain (lihat tabel 2.1).

15

Tabel 2.1 Gejala pada Masa Klimakterium Usia 45-54 Tahun


Gejala Vasomotor
Rasa panas (Hot Flush)
Keringatan banyak (terutama malam)
Palpasi berdebar

Gejala Psikologis
Susah tidur (Insomnia)
Pelupa
Kurang percaya diri
Cemas
Libido tidak ada
Sulit konsentrasi
Sulit mengambil keputusan
Kurang bertenaga
Gampang tersinggung

Sumber: Suparman, 2005.


Menurut Baziad (2003) sebanyak 70% wanita perimenopause dan
pascamenopause mengalami keluhan vasomotorik, depresi dan keluhan
psikis serta somatik. Berat atau ringannya keluhan berbeda-beda pada
setiap wanita. Keluhan-keluhan dirasakan mencapai puncak pada masa
sebelum dan sesudah menopause, dan sering dengan meningkatnya usia
maka keluhan jarang dijumpai keluhan klimakterium yang sering terjadi
pada wanita usia 45 dan 54 tahun antara lain :
1) Keluhan Vasomotorik
Pada perimenopause dan pascamenopause dijumpai keluhan
klimakterium. Keluhan yang muncul berupa perasaan panas tiba-tiba
disertai keringat banyak. Keluhan vasomotorik dapat terjadi pada
kadar estrogen rendah, normal, maupun tinggi. Rasa panas dirasakan
mulai dari daerah dada menjalar ke leher dan kepala, kulit nampak
kemerahan. Segera setelah timbul rasa panas, daerah yang terkena
semburan panas akan mengeluarkan keringat banyak (Baziad, 2003).

16

Rasa panas akan diikuti dengan sakit kepala, perasaan kurang


nyaman, dan peningkatan frekuensi nadi. Hal ini disebabkan oleh
peningkatan pengeluaran hormon adrenalin dan neurotensin oleh
tubuh wanita. Terjadi penurunan sekresi hormon adrenalin sehingga
terjadi vasodilatasi pembuluh darah kulit, temperatur kulit sedikit
meningkat dan timbul perasaan panas. Rata-rata lamanya rasa panas
adalah 3 menit. Rasa panas berkeringat yang muncul pada malam hari
dapat menyebabkan gangguan tidur, cepat lelah, dan cepat
tersinggung. Tetapi untuk menghilangkan keluhan vasomotorik, TSH
(Terapi Sulih Hormon) harus diberikan selama 1-2 tahun. Bila
pengobatan telah dihentikan dan kemudian keluhan muncul lagi, TSH
harus dilanjutkan lagi (Baziad, 2003).
2) Keluhan Psikis
Steroid seks sangat berperan terhadap fungsi susunan saraf
pusat, terutama terhadap perilaku, suasana hati, serta fungsi kognitif
dan sensorik seseorang. Akibat penurunan steroid seks akan timbul
perubahan psikis yang berat dan perubahan fungsi kognitif.
Kurangnya aliran darah ke otak menyebabkan sulit berkonsentrasi dan
mudah lupa. Perasaan tertekan, nyeri betis, mudah marah, mudah
tersinggung, stress, dan cepat lelah merupakan keluhan yang sering
dijumpai pada wanita usia klimaherium. Kekurangan steroid seks
dianggap sebagai faktor predisposisi terjadinya depresi. Penyebab
depresi diduga akibat berkurangnya aktivitas serotonin di otak.

17

Pemberian serotoninanta agonis pada wanita pascamenopause dapat


menghilangkan depresi (Baziad, 2003).
Menurut Purwantyastuti (2005), menjalani hidup sehat dengan
cara mengkonsumsi makanan, minuman yang sehat, olah raga teratur
serta istirahat yang cukup merupakan modal bagi masa menopause
yang menyenangkan, perubahan premenopause akan lebih cepat atau
lambat dialami setiap orang tidak akan mengalami kecemasan jika
melaksanakan pola hidup sehat dan mengetahui perubahan yang akan
terjadi bagi seseorang yang mau menjalani pre dan post menopause.
3. Kecemasan
Kecemasan merupakan keadaan emosional yang tidak memiliki objek
yang spesifik dan kondisi ini dialami secara subjektif dan dikomunikasikan
dalam hubungan interpersonal (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001).
Pendapat lain tentang kecemasan diuraikan oleh Halgin (2003), ia
menjelaskan kecemasan adalah suatu hal yang berorientasi kemasa yang akan
datang dan bersifat global. Kecemasan ditandai dengan kegelisahan,
ketegangan dan kekhawatiran terhadap objek dari suatu yang akan
memfokuskan perhatian untuk menjadi lebih waspada dan lebih berhati-hati
terhadap kemungkinan dari bahaya yang akan terjadi.
Kecemasan yang normal mempunyai aspek yang positif karena dengan
merasa cemas maka seseorang dapat menemukan cara untuk menenangkan
diri dan bisa saja kecemasan itu membuat acuan untuk lebih baik lagi
(Kumalaningsih, 2008).

18

Gangguan kecemasan adalah sekelompok gangguan dimana kecemasan


merupakan gejala utama. Gangguan kecemasan menyeluruh adalah suatu
kekhawatiran yang berlebihan dan dihayati disertai berbagai gejala somatik
yang menyebabkan gangguan bermakna dalam fungsi sosial atau pekerjaan
atau penderitaan yang jelas bagi pasien (Mansjoer, 2001). Gejala utamanya
adalah

kecemasan,

ketegangan

motorik,

hiperaktivitas

otonom

dan

kewaspadaan kognitif. Ketegangan motorik sering dimanitestasikan dengan


gemetar, gelisah dan nyeri kepala. Hiperaktivitas dimanifestasikan oleh sesak
nafas, keringat berlebihan, palpitasi dan gejala gastrointestinal. Gejala lain
adalah mudah tersinggung.
a. Tanda-tanda kecemasan atau merasa khawatir (Burn's dkk, 2000) sebagai
berikut :
1) Merasa tegang, cemas atau merasa khawatir tanpa adanya penyebab.
2) Kesulitan berfikir jernih, emosi tidak stabil, contoh suka marah dan
mudah tersinggung.
3) Adanya hiperaktifasi saraf, tidak sabar misalnya berkeringat, telapak
tangan lembab dan tangan menggigil, muka pucat, sering buang air
kecil, denyut jantung dan nafas lepas pada waktu istirahat.
4) Denyut jantung bertambah (tanpa penyakit jantung)
5) Keluhan

gangguan

fisik

tanpa

adanya

penyakit

meningkatkan bila wanita tersebut sedang sedang marah.

dan

akan

19

b. Gejala-gejala kecemasan (Sundari, 2005), yaitu :


1) Gejala yang bersifat fisik diantaranya jari-jari tangan dingin, detak
jantung makin cepat, berkeringat dingin, kepala pusing, tidur tidak
nyenyak, dada sesak nafas,
2) Gejala yang bersifat mental diantaranya ketakutan, merasa akan
tertimpa bahaya, idak dapat memusatkan perhatian, tidak tentram,
ingin lari dari kenyataan.
c. Macam-macam kecemasan
Macam-macam kecemasan (Sundari, 2005), terdiri atas :
1) Kecemasan karena merasa berdosa atau bersalam, misalnya seseorang
melakukan sesuatu yang bertentangan dengan hati nuraninya.
2) Kecemasan karena akibat melihat dan mengetahui bahaya yang
mengancam dirinya.
3) Kecemasan dalam bentuk yang kurang jelas, apa yang ditakuti tidak
seimbang bahkan yang di takuti hal yang tidak berbahaya. Rasa takut
sebenarnya suatu perbuatan yang biasa wajar kalau ada sesuatu yang
ditakuti dan seimbang.
d. Klasifikasi tingkat kecemasan menurut Stuart dan Sundenn (1998),
sebagai berikut :
1) Kecemasan Ringan
Berhubungan dengan tekanan hidup sehari-hari, pada tahap ini
seseorang
penglihatan,

menjadi

waspada

pendengaran

dan

dan

perupsi

meningkat

pemahamannya

melebihi

bagian
yang

20

sebelumnya, tipe kecemasan ini dapat memotivasi seseorang untuk


belajar dan tumbuh secara aktif.
2) Kesemasan Sedang
Fokus perhatian hanya pada yang dekat, lapangan persepsi
menyempit, lebih sempit dari pandangan orang lain, dia mengalami
hambatan

dan

memperhatikan

hal-hal

tertentu

tetapi

tidak

memperhatikan hal-hal itu apabila tidak disuruh.


3) Kecemasan Berat
Sudut pandang individu menurut tanpa memfokuskan hal-hal yang
khusus saja dan tidak mampu berfikir berat dan membutuhkan
pengaturan atau susunan untuk memfokuskan pada hal-hal lain.
Kecemasan pada umumnya berhubungan dengan adanya situasi
yang mengancam atau membahayakan. Dengan berjalannya waktu,
keadaan cemas tersebut biasanya akan dapat teratasi sendiri. Namun, ada
keadaan cemas yang berkepanjangan, bahkan tidak jelas lagi kaitannya
dengan suatu faktor penyebab atau pencetus tertentu. Hal ini merupakan
pertanda gangguan kejiwaan yang dapat menyebabkan hambatan dalam
berbagai segi kemampuan dan fungsi sosial bagi penderitanya. Tidaklah
mudah untuk membedakan cemas yang wajar dan cemas yang sakit.
Karena keduanya merupakan respons yang umum dan normal dalam
kehidupan sehari-hari.

21

e. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecemasan


Faktor yang mempengaruhi kecamasan misalnya dukungan
sosial, keadaan fisik (Santoso, 2006). Tingkat kecemasan di pengaruhi
oleh beberapa faktor yang saling terkait antara lain :
1) Maturitas
Individu yang memiliki kematangan kepribadian jarang mengalami
gangguan stress sebab individu yang matur mempunyai daya adaptasi
yang besar terhadap stress yang timbul.
2) Keadaan Fisik
Individu yang mengalami gangguan fisik seperti cedera, cacat badan,
dan perubahan bentuk tubuh serta orang yang sedang kelelahan fisik
akan mudah mengalami stress.
3) Sosial Budaya
Cara hidup orang di masyarakat juga sangat mempengaruhi timbulnya
stress. Individu yang punya tatanan hidup yang teratur lebih sukar
mengalami stress.
4) Lingkungan
Orang yang berada di daerah asing lebih mudah mengalami stress.
5) Umur
Umur orang yang lebih muda lebih mudah mengalami stress daripada
orang yang lebih tua, tetapi ada juga yang berpendapat sebaliknya.
6) Jenis kelamin
Stress pada umumnya lebih banyak diderita wanita daripada pria.

22

7) Status Pendidikan dan Ekonomi


Status pendidikan dan ekonomi yang tinggi pada seseorang akan
menyebabkan orang tidak mudah mengalami stress.
4. Diagnosis tingkat kecemasan pada wanita perimenopause
Dalam penelitian ini menunjukan data wanita pada usia 41-51 tahun di
Desa Kesugihan Kidul ini rata-rata pengetahuannya rendah , dari pengamatan
peneliti mereka yang pengetahuannya rendah merasa tidak cemas ketika
memasuki masa perimenopause, tetapi yang berpengetahuan lebih tinggi
merasa cemas dengan usianya mereka yang memasuki masa perimenopause.
5.

Alat Ukur Kecemasan


Menurut Hawari (2008), untuk megetahui sejauh mana derajat kecemasan
seseorang, dapat digunakan alat ukur yang disebut Hamilton rating scale for
anxiety (HRS-A), yang terdiri dari 14 kelompok gejala yang masing-masing
kelompok dirinci lagi dengan gejala-gejala yang lebih spesifik.
Masing-masing nilai angka dari ke 14 kelompok tersebut dijumlahkan dan
dapat diketahui derajat kecemasan seseorang sebagai berikut :
Total nilai : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
Hal-hal yang dinilai dalam HRS-A sebagai berikut ;
Gejala kecemasan dinilai 0,1,2,3,4
1. Perasaan cemas
a. cemas
b. firasat buruk
c. takut akan pikiran sendiri

23

d. mudah tersinggung
2. Ketegangan
a. merasa tegang
b. lesu
c. tidak bisa istirahat tenang
d. gelisah
3. Ketakutan
a. pada gelap
b. pada orang asing
c. ditinggal sendiri
d. pada kerumunan orang banyak
4. Gangguan tidur
a. sukar masuk tidur
b. tidur tidak nyenyak
c. bangun dengan lesu
d. mimpi menakutkan
5. Gangguan kecerdasan
a. sukar konsentrasi
b. daya ingat menurun
c. daya ingat buruk
6. Perasaan depresi (murung)
a. hilangnya minat
b. sedih
c. bangun dini hari

24

d. perasaan berubah
7. Gejala somatik / fisik (otot)
a. sakit dan nyeri otot
b. kaku
c. kedutan otot
d. suara tidak stabil
8. Gejala somatik / fisik sensorik
a. tinitus / telinga berdenging
b. muka merah atau puicat
c. merasa lemas
9. Gejala kardiovaskular
a. denyut jantung capat
b. berdebar debar
c. nyeri dada
d. rasa lesu/lemas seperti mau pingsan
10. Gejala respiratori
a. rasa tertekan atau sempit di dada
b. rasa tercekik
c. sering menarik nafas
11. Gejala gastrointestinal
a. perut melilit
b. nyeri sebelum dan sesudah makan
c. rasa penuh dan kembung
d. mual

25

12. Gejala urogenetal


a. sering buang air kecil
b. tidak dapat menahan air seni
c. menjadi dingin
13. Gejala autonom
a. mulut kering
b. mudah berkeringat
c. kepala pusing
d. kepala terasa berat
14. Tingkah laku
a. gelisah
b. tidak tenang
c. jadi gemetar
d. muka tegang

26

B. Kerangka Konsep
Tingkat pengetahuan
tentang perimenopause

Tingkat kecemasan pada


wanita

Maturitas
Keadaan fisik
Sosial budaya
Lingkungan
Umur
Jenis Kelamin
Status pendidikan dan
ekonomi

Pendidikan
Pengalaman
Keyakinan
Fasilitas
Penghasilan
Sosial Budaya

Bagan 2.1 Kerangka Konsep


Keterangan :
: Variabel yang diteliti
: Variabel yang tidak diteliti
: Diteliti
: Tidak diteliti

C. Hipotesis
Ada hubungan antara tingkat pengetahuan tentang perimenopause dengan
tingkat kecemasan pada wanita di Desa Kesugihan Kidul, Kecamatan Kesugihan
Kabupaten Cilacap tahun 2009.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain penelitian
1. Jenis penelitian
Jenis penelitian yang digunakan adalah survey analitik yaitu penelitian
yang mecoba menggali bagaimana dan mengapa fenomena kesehatan itu
terjadi. Kemudian melakukan analisis dinamika korelasi antara fenomena
yaitu antara pengetahuan tentang perimenopause dengan derajat kecemasan
pada wanita (Notoatmodjo, 2005).
2. Cara pendekatan terhadap subyek penelitian
Cara pendekatan terhadap subyek penelitian ini adalah dengan
menggunakan cross sectional yaitu suatu penelitian untuk mempelajari
dinamika korelasi antara faktor-faktor resiko dengan efek dengan cara
pendekatan atau pengumpulan data sekaligus pada suatu saat (Notoatmodjo,
2005).

B. Tempat dan waktu penelitian


1. Tempat
Penelitian dilaksanakan di Desa Kesugihan Kidul Kecamatan
Kesugihan Kabupaten Cilacap tahun 2009.
2. Waktu
Penelitian dilaksanakan pada bulan April-Juni 2009.

27

28

C. Populasi Sampel
1. Populasi
Populasi adalah keseluruhan sumber data yang diperlukan dalam suatu
penelitian (Saryono, 2008). Subyek penelitian yang menjadi sasaran adalah
semua wanita usia 41-51 tahun (perimenopause) di Desa Kesugihan Kidul
Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap sebanyak 938 Orang.
2. Sampel
a. Cara pengambilan sampel
Menurut Saryono (2008), sampel adalah sebagian dari populasi yang
mewakili suatu populasi. Pada penelitian ini diambil secara Quota
Sampling Pada penelitian ini peneliti mengumpulkan subyek yang
memenuhi

persyaratan

(subyek

yang

mudah

ditemui)

hingga

terpenuhinya jumlah (Quotum) yang telah ditetapkan. sampel diambil


dari seluruh wanita perimenopause.
b. Besar sampel
Besar sampel yang diambil yaitu 10-20% dari total populasi (Arikunto,
2002). Sampel diambil 10% dari total populasi yaitu 94 orang dengan
menggunakan kriteria :
1. Usia pramenopause (41 tahun) sampai usia memasuki menopause
(51 tahun).
2. Bertempat tinggal di Desa Kesugihan.
3. Dapat membaca dan menulis.
4. Bersedia menjadi responden.

29

D. Teknik Pengumpulan Data


1. Variabel Penelitian
a. Variabel bebas (independent variable) yaitu tingkat pengetahuan tentang
perimenopause.
b. Variabel terikat (dependent variable) yaitu tingkat kecemasan pada
wanita.
2. Definisi operasional
No
1

Variabel
Penelitian
Variabel bebas
(tingkat
pengetahuan
tentang
perimenopause)

Definisi
Tingkat
pengetahuan
atau
pemahaman
tentang
perimenopause
meliputi :
- Pengertian
perimenopau
se
- Tanda dan
gejala
perimenopau
se

Cara Ukur

Data primer
dengan
mengajukan
pertanyaan
tentang
pengetahuan
perimenopause
1. Favorable
(positif)
pemberian
nilai ya
diberi nilai 1
dan tidak
diberi nilai 0
2. Unfavorable
(negative)
pemberian
nilai ya
diberi nilai 0
dan tidak
diberi nilai 1
Variabel terikat Respon
1. Tingkat
(tingkat
seseorang
kecemasan
kecemasan
terhadap
diukur dengan
pada wanita)
kecemasan
HRSpada masa
A(Hamilton
perimenopause rating scale for
anxiety) yang

Alat Ukur

Hasil Ukur

Skala

Kuesioner Kategori
Ordinal
yang berisi menurut
10
Arikunto.
pertanyaan (2000) yaitu :
a. Baik :>76100% dari
skor
maksimal
b. Cukup: 5675% dari
skor
maksimal
c. Kurang :
40-55%
dari skor
maksimal
d. Tidak baik
<40% dari
skor
maksimal
HRS- 2.
A(Hamilt
on rating
scale for
anxiety)

MasingOrdinal
masing
kelompok
gejala
dijumlahkan
dan dapat
diketahui

30

terdiri dari 14
kelompok
gejala

3.

4.

5.

6.

sebagai
berikut :
14-20 =
kecemasan
ringan
21-27 =
kecemasan
sedang
28-41 =
kecemasan
berat
42-56 =
kecemasan
berat sekali

3. Cara Pengumpulan Data


Data yang digunakan adalah data primer, yaitu data pengetahuan
tentang perimenopause dengan tingkat kecemasan pada wanita yang diambil
melalui kuesioner tertutup yang diberikan kepada responden dan wawancara
secara langsung.
4. Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpul data yaitu dengan kuesioner tertutup yaitu :
a. Pernyataan pengetahuan terdiri dari:
1) Favorable (positif atau mendukung) pemberian nilai ya diberi nilai
1 dan tidak diberi nilai 0.
2) Unfavorbel (negative atau tidak mendukung) pemberian nilai ya
diberi nilai 0 dan tidak diberi nilai 1.
b. Pernyataan tentang kecemasan menggunakan HRS-A(Hamilton rating
scale for anxiety).
Masing-masing kelompok gejala diberi angka (scor) antara 0-4, yang
artinya adalah :

31

0 = tidak ada gejala (keluhan)


1= gejala ringan
2 = gejala sedang
3 = gejala berat
4 =gejala berat sekali
Masing-masing nilai angka dari ke 14 kelompok tersebut dijumlahkan
dan dapat diketahui derajat kecemasan seseorang sebagai berikut :
Total nilai : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14-20 = kecemasan ringan
21-27 = kecemasan sedang
28-41 = kecemasan berat
42-56 = kecemasan berat sekali
5. Uji coba alat pengumpul data
Penelitian ini menggunakan dua kuesioner , untuk mengukur tingkat
pengetahuan wanita menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan tentang
perimenopause yang tidak di uji validitas dan realibilitas, sedangkan untuk
mengukur kecemasan wanita perimenopause menggunakan modifikasi dari
HRS-A(Hamilton rating scale for anxiety). Sehingga tidak perlu uji reabilitas
dan validitas.

E. Tata Urutan Kerja


1. Tahap persiapan

32

a. Mengurus perijinan pada instansi terkait untuk mengadakan penelitian di


Desa Kesugihan Kidul Kecamatan Kesugihan Kabupaten Cilacap.
b. Menyusun proposal
c. Mengadakan penelitian
d. Menyusun jadwal kegiatan penelitian
2. Tahap pelaksanaan
a. Melakukan permohonan untuk menjadi responden serta surat perdetujuan
menjadi responden
b. Menyebarkan kuesioner
c. Mengumpulkan data dari jawaban kuesioner
d. Mengolah data : editing, coding, scoring, tabulating
e. Melakukan analisa data
f. Mengkonsultasikan setiap kegiatanpenelitian yang dilakukan
3. Tahap akhir
a. Menyimpulkan hasil penelitian
b. Membuat laporan hasil penelitian
c. Melakukan seminar hasil penelitian

F. Analisa data
1. Pengolahan data
a. Editing
Yaitu melakukan pengecekan terhadap kemungkinan kesalahan pengisian
daftar pertanyan dan keelengkapan pengisian.
b. Coding

33

Yaitu pemberian kode-kode tertentu pada jawaban pertanyaan untuk


mempermudah pengolahan data.
c. Scoring
Yaitu pemberian nilai untuk memudahkan pengolahan data.
1) Penilaian dilakukan dengan ketetapan nilai untuk jawaban tingkat
pengetahuan tentang perimenopause :
a) Favorable (positif atau mendukung) pemberian nilai ya diberi
nilai 1 dan tidak diberi nilai 0.
b) Unfavorable (negative atau tidak mendukung) pemberian nilai
ya diberi nilai 0 dan tidak diberi nilai 1.
2) Penilaian dilakukan dengan ketetapan nilai untuk jawaban tingkat
kecemasan pada wanita :
Masing-masing nilai angka dari ke 14 kelompok tersebut dijumlahkan
dan dapat diketahui derajat kecemasan seseorang sebagai berikut :
Total nilai : kurang dari 14 = tidak ada kecemasan
14-20 = kecemasan ringan
21-27 = kecemasan sedang
28-41 = kecemasan berat
42-56 = kecemasan berat sekali
d. Tabulating
Data disusun dalam bentuk tabel kemudian dianalisis yaitu proses
penyempurnaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan di
interpretasikan.

34

2. Cara analisis
Analisis data dibedakan menjadi 2, yaitu analisis univariate dan
analisis bivariate (Notoatmodjo, 2002)
a. Analisis univariate
Dilakukan terhadap variabel dari hasil penelitian pada umumnya
dalam analisis ini hanya menghasilkan distribusi dan presentasi dari tiap
variabel. Presentasi dibuat dengan rumus:
=

100%

Keterangan:
P :

presentasi

X :

jumlah alternative jawaban benar

N :

jumlah soal

b. Analisis bivariate
Soegiono (2006) analisis yang dilakukan terhadap dua variabel
yang diduga berhubungan atau berkorelasi. Uji statistik yang digunakan
adalah korelasi spearman rank yaitu bekerja dengan data ordinal, dengan
alat bantu program komputerisasi.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, S. 2002. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek Edisi Revisi V.


Rineka Cipta. Jakarta.
Baziad, A. 2004. Menopause dan Andropause. YBPSP. Jakarta.
Benih

crew. 2008. Penanganan Menopause Diasia Belum Optimal,


http://www.benih.net/lifestyle/penanganan-menopause-asia-belumoptimal.html. Diakses 4 Februari 2009.

Depdiknas. 2001. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi ketiga. Balai pustaka.
Jakarta.
Derek James Lewllyn. 2005. Setiap wanita. Delaprotasa. Jakarta
Desa Kesugihan Kidul. 2008. Profil Desa Kesugihan Kidul. Kesugihan Kidul
Kecamatan Kesugihan.
Hawari. 2008. http://willd76.wordpres.com/. Diakses tanggal 14 Agustus 2009.
Hawari. 2001. Manajemen Stres, Cemas dan Depresi. Jakarta. Fakultas Kedokteran
Indonesia.
Indarti, J. 2004. Panduan Kesehatan Wanita. Puspa swara. Jakarta.
Kumalaningsih. 2008. Bahagia bersama menopause. http://antioksidant_center.com
/indeks2.php?option=com_content&do_pdf=1&do=2. Diakes 8 Januari 2009.
Manuaba, Ida Bagus Gde.1999. Memahami Kesehatan Reproduksi Wanita. Arcan.
Jakarta.
Masjoer, A. 2001. Kapita Selekta Kedokteran. Media Aesculapius. Jakarta.
Notoatmodjo, S. 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan (edisi revisi) cetakan kedua.
Rineka cipta. Jakarta.
Prawiriharjo, S. 1999. Ilmu Kandungan. Edisi kedua. Cetakan ketiga. YBPS. Jakarta.
Saryono. 2008. Metodologi penelitian Kesehatan. Cetakan Pertama Mitra Cendikia.
Jogjakarta.
Sugiyono. 2006. Statistika Untuk Penelitian. Alfabeta. Bandung.
Sundari, S. 2006. kesehatan mental dalam kehidupan. Rineka Cipta. Jakarta.

Suparman, E. 2004. Upaya meningkatkan kualitas hidup wanita perimenopause


dalam membangun bangsa menyongsong era globalisasi. Majalah obstetric
dan ginekologi indonesia. Volume 29 nomor 11-70. Januari 2005.
Suryati. 2008. Hubungan Antara Tingkat Pengetahuan Wanita Tentang
Perimenopause dengan Perilaku pada Masa Perimenopause di Desa Sikanco
Kecamatan Nusawungu. Kabupaten Cilacap. Laporan Penelitian Akbid
Paguwarmas Maos. 45 Halaman (tidak dipublikasikan)
Syarif

Agus.
2006.
Menopause
itu
peristiwa
Alamiah.
http://prov.bkkbn.go.id/article_detailphp?aid=614. Diakses tanggal 4 Februari
2009.

Varney, H dkk. 2006. Buku Ajar Asuhan Kebidanan. Edisi keempat. Cetakan kesatu.
EGC. Jakarta.

Anda mungkin juga menyukai