Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN TETAP

PENGENDALIAN PROSES
PC- 10 (1,2)

Disusun Oleh: Kelompok 3


Kelas 5 KD
Nama:
1. Maryama Nancy Hidayat
2. Mega Silvia
3. Millahi Nursyafaah
4. Muhammad Dody Afrilyana
5. Rena Nuryana
6. Siti Nurjanah
7. Tri Utami Putri

(061330401015)
(061330401016)
(061330401017)
(061330401018)
(061330401019)
(061330401025)
(061330401026)

Instruktur: Ir. Elina Margaretty.,M.Si

POLITEKNIK NEGERI SRIWIJAYA


JURUSAN TEKNIK KIMIA
2015

Percobaan 1:

KALIBRASI VOLTMETER DAN PROCESS CONTROLLER


I. Tujuan
1. Mengkalibrasi voltmeter dan process controller pada alat PC10
2. Mengubah setting variabel pada process controller.
II. Alat dan Bahan
Alat yang digunakan :
1. Alat PC10 + trimtool
2. Kabel penghubung 4 pasang
III. Dasar Teori
Alat PC10 setiap akan digunakan haruslah diperiksa kondisinya agar alat
tersebut dapat dipergunakan dan memberikan hasil pengukuran dan pembacaan yang
benar. Pemeriksaan dilakukan dengan melakukan kalibrasi terhadap voltmeter dan
terhadap process controller.
Input dan output pada alat PC10 umumnya adalah arus listrik dalam rentang 4
mA-20mA, namun alat PC10 ini juga dirancang untuk dapat dipergunakan bersamaan
dengan alat PC13 (aksesori pengendali temperatur) dan alat PC14 (aksesori pengendali
tekanan) sehingga juga dapat menerima input dalam bentuk tekanan (psig) maupun
temperature (oC). Sedangkan output pada alat PC10 dapat berupa arus listrik 4 mA 20
mA dan tegangan listrik 0 volt 1 volt. Listrik yang dipergunakan alat PC10 adalah
listrik PLN 220 volt (240 VAC), yang oleh alat PC10 menjadi sumber output 4 mA 20
mA, soket 24 VAC maupun soket 240 VAC.

Kalibrasi pada alat PC10 terbagi 2 yaitu :


a. Kalibrasi dengan Voltmeter :
Mengkalibrasi sumber input 4 mA 20 mA dari tombol manual output menjadi
tegangan listrik 0,200 volt 1,000 volt

4 mA (melalui resistor 50) ~ 0,200 volt (200 mV)


20 mA (melalui resistor 50) ~ 1,000 volt (1000 mV)
Pada kalibrasi voltmeter digunakan alat trimtool yang berbentuk seperti obeng yang
kemudian dipergunakan untuk meemutar sekrup pada soket Span dan soket Zero
agar harga pada voltmeter dapat diperbesar atau diperkecil menjadi 0,200 volt
1,000 volt.

b. Kalibrasi Process Controller :


Mengkalibrasi sumber input 4 mA 20 mA dari tombol manual output menjadi
harga variabel process 0% (zero) 100% (Span)
4 mA ~ 0%
20 mA ~ 100%
Kalibrasi process controller dilakukan setelah kalibrasi voltmeter dengan
memasukkan harga variabel proses pada tabel konfigurasi.

IV. Prosedur Kerja


4.1 Kalibrasi Voltmeter

a. Alat PC10 dihidupkan dengan menghubungkan kabel utama (warna putih) ke


soket PLN
b. Lever sekering pada bagian depan kanan atas alat PC10 diangkat ke atas, dua
tombol hitam besar pada bagian atasnya ditekan bergantian. Lampu merah
akan menyala menunjukkan alat PC10 telah dinyalakan.
c. Hubungkan kabel dari soket zero dan Span di manual output ke soket di
voltmeter seperti rangkaian berikut.

4-20 mA MANUAL OUTPUT

d. Tombol manual diputar ke arah kiri (4 mA), pembacaan pada voltmeter


mestinya 0,200 volt sesuai 4 mA melewati resistor 50 . Apabila tidak
sesuai, trimtool diletakkan pada soket zero dan diputar ke kiri atau ke kanan
untuk mengubah pembacaan. Rentang 0,198 volt 0,202 volt diizinkan,
tidak harus 0,200 volt.
e. Tombol manual diputar ke arah kanan (20 mA), pembacaan voltmeter
mestinya 1,000 volt, sesuai 20 mA melewati resistor 50 . Apabila tidak
sesuai, trimtool diletakkan pada soket span dan diputar ke kiri atau ke kanan

untuk mengubah pembacaan. Rentang 0,998 volt 1,002 volt diizinkan,


tidak harus 1,000 volt.
f. Untuk memastikan pembacaan yang benar dan konstan, diulangi putar ke
kiri dan ke kanan.
g. Salah satu kabel dilepas, harga pada layar voltmeter diamati.
h. Posisi kabel pada tombol manual output 4 20 mA diubah, + ke - , - ke +
dan diamati pembacaan pada layar voltmeter.

4.2 Kalibrasi Process Controller


a. Kabel dari manual output PC10 dihubungkan ke soket inpt process controller
pada bagian kiri depan alat. Hubungan + dan diperhatikan.
b. Pengaturan terhadap harga process controller dilakukan untuk kalibrasi seperti
tabel setting berikut dengan tombol konfigurasi ditekan hingga angka digit
pada layar set point berkedip, kemudian tombol F ditekan 1x maka pada
layar variabel proses (sebelah atas) akan tampil tulisan Pr yang berarti
power output (keluaran dari Process Controller), harga Pr hanya diatur pada
posisi manual jadi dibiarkan seperti apa adanya.
c. Tombol F ditekan 1x dan akan ditampilkan ProP, harga 20% dimasukkan
(yang berarti 100% aktual, karena untuk ProP harga tertulis X factor 5).
Tombol ENTER ditekan dan tombol F ditekan 1x lagi kemudian harga Int
dimasukkan, tombol ENTER ditekan. Hingga seluruh harga pada tabel
berikut terinput dengan baik langkah tersebut diulangi.
Tombol F ditekan 1x untuk pindah ke variabel lain, jangan lupa untuk menekan
tombol ENTER setelah menginput harga baru. Apabila tombol ENTER tidak
ditekan, maka process controller akan tetap memakai harga setting sebelumnya.
Lewatkan dengan menekan tombol F apabila tidak terdapat harga variabel
tersebut dalam tabel.
Pengaturan controller
Set point

kode
-

nilai
50

Satuan
%

Propotional band

ProP

20

Integral time

Int

1,0

Menit

Derivative time

dEr

20

Detik

Waktu siklus (cycle time)

CY-t

10

Detik

Histerisis

HYSt

Batas daya (power limit)

Pr-L

100

Batas set point (set point

SP- L

100

limit)

CS-

-0 5 8

Rentang (range)

CS-2

Aksi contoler (contoler

CS-3

-r - -

ALAh

action)
Kalibrasi :
Span
Zero

SPAn 100 % pd 20 Ma
ZWrO 0 % pd 4 mA

d. Saat SPAN terbaca pada layar variabel proses, tombol manual 4-20 mA
diputar searah jarum jam ke 20 mA, kemudian harga 100 dimasukkan
dengan menekan tombol digit. Jangan menekan tombol ENTER. Lalu
ditekan tombol F 1x.
e. Saat zero terbaca pada layar variabel proses, tombol manual 4-20 mA diputar
searah jarum jam ke 4 mA, kemudian harga 0 dimasukkan dengan menekan
tombol digit. Jangan menekan tombol ENTER. Lalu ditekan tombol F 1x.
f. Tombol manual output 4 20 mA diputar ke 20 mA dan pembacaan pada
layar variabel proses diamati akan menunjukkan 100% dan ketika 4 mA
layar menampilkan 0%. Prosedur diulangi dan diperiksa harga setting tabel
apabila saat diperiksa tidak menampilkan 100% dan 0%.

Percobaan 2:
PENGENDALIAN ON/OFF
I.

TUJUAN

1. Mendemonstarisakan pengendalian ON/OFF secara manual

2. Mendemonstarasikan output relay ON/OFF menggunakan proses control


II.

ALAT YANG DIGUNAKAN

Satu set PCT 10 + trim tool

Kabel merah dan hitam ( 3 panjang, 3 pendek)

Lampu indicator 24 VAC

Stopwatch
III.

TEORI SINGKAT

Terdapat dua jenis pengendalian on/off, secara manual dan secara otomatis. Secara
manual dengan menggunakan sakelar pemilih dan secara otomatis dengan
menggunakan process contoller. Setting pada process controller harus di atur
sedemikian rupa agar harga proposional beand integral time dan derivatetive time
adalah 0 (karakteristik pengendalian on/off)
Pada pengendalian on/off secara manual, manusia termasuk operator agar
menggerakan elemen contol akhir (saklar pemilir) ke posisi on dan posisi off. Dalam hal
ini manusia bertindak sebagai controller yang menerima hasil penggukuran dan
mengepaluasi hasil pengukuran untuk menjadi input menjadi variable manipulasi.
Saklar pemilih pada PC10 mempunya 3 soket A,B,dan C dengan fungsi berbeda
ketika

dihubungkan

dengan

kabel

dan

mempunyai

output

berbeda

ketika

dihubungngkan dengan saklar pemilih N/O (normali open) dan saklar pemilih NC
(normali close)
Normal open berarti kutup positif san negative tidak terhubung dalam kondisi
normal, aliran listik tidak dapat mengalir dalam suatu loop, ini dibuktikan dengan lampu
24VAC terpasang tidak menyala saat saklar pada posisi N/O tersebut. Apabila soket A di
hubungkan ke soket B atau soket C, maka kutup positip menjadi terhubung dengan
kutup negative sehingga arus listrik dapat mengalir, lampu 24VAC terpasang akan
menyala. Normali close berarti kutub positip dan kutup negative terhungan dalam
kondisi normal aliran listrik mengalir dalam satu loop, ini di buktikan dengan lampu
24VAC terpasang menyala saat saklar pada posisi N/C tersebut. Apabila soket A di

hubungkan ke soket B atau C, hubungan pendek terjadi, akibatnya arus listrik berhenti
mengalir, lampu 24VAC terpaksa akan mati.
Kapan aplikasi ini terjadi di industry?
Gambar skema N/O dan N/C :
A

Suplay tegangan
rendah

A C tidak
tersambung
koil

24 VAC

Ke soket24 VAC

240 VAC

Ke soket240 VAC

N/O kontak
terbuka
A C tersambung
kabel
Suplay tegangan
rendah

24 VAC

koil

Ke soket24 VAC

Perhatikan gambar skema N/O dan N/C berikut,Pengendalian On/Off secara

240 VAC

Ke soket240 VAC

otomatis berarti pengendaliam dilakukan


oleh sebuah controller yang akan
N/C kontak
tertutup
menggantikan tindakan operator menghidupkan
ataupun mematikan suatu proses.
Pengendalian secara otomatis ini diatur berdasarkan histerisis; kecendrungan instrument

untuk memberikan output berbeda terhadap input yang sama. Histerisis ini memberikan
daerah netral pengendalian, besar daerah adalah 2 kali besar harga histerisis.
Contoh :

Set point = 50 % dengan histerisis 1 %, maka daerah netral adalah 2 %

diatas dan dibawah harga 50 % yaitu harga 40% - 51 %.


Harga output pada pengendalian on/off hanya 2 yaitu on (hidup atau terbuka)
dan off (mati atau tertutup). On dinyatakan dalam nilai %P= 100% sedangkan off dalam
nilai %P = 0%. Nilai %P ini tergantung dari error, yaitu selisih antara harga pengukuran
(Cm) terhadap harga setpoint (Csp)
% Error = ( harga pengukuran harga setpoin) / (rentang pengukuran)x 100%
% P = 100 % apabila % error > 0%
%P = 0 % apabila % error < %
Hubungan diatas menunjukkan saat harga variable proses (harga pengukuran)
melebihi setpoint maka akan didapat % error. 0%, maka output controller adalah 100%,
sedangkan saat harga variable proses lebih kecil dari setpoint makan akan didapatkan
%error < 0%.

100 %
Set point 50 %

%P
0%

waktu

on

on
of

of

Daerah Netral Pengendalian


Apa bila dipasang lampu indicator 24 VAC pada soket di process controller, dapat
dilihat pada saat output 100% lampu akan menyala yang berarti arus listrik mengalir,
dan saat output menunjukkan 0% lampu akan mati yang berarti arus listrik terputus. Hal

ini juga akan berakibat sama pada soket 240 VAC apabila dihubungkan ke pemanas atau
heater.
IV. PROSEDUR KERJA
I.PENGENDALIAN ON/OFF DENGAN SAKLAR PEMILIH
1. Memperhatikan pada bagian saklar pemilihan pada alat PC10 (SWITCHED
OUTPUT), posisi saklar pada kontak terbuka (N/O) dan pasang lampu 24VAC
di soket 24 VAC. Amati lampu dalam keadaan hidup atau mati.
2. memindahkan posisi saklar ke N/C (kontak tertutup), amati bahwa lampu
menjadi mati.
3. Mengambil sebuah kabel, hubungkan dari soket A ke soket C pada posisi N/O,
catat keadaan lampu. Ubah saklar ke N/C, catat perubahan
4. mengulangi langkah 3 dengan mengubah A-B dan B-C
5. Membuat table data
II. PENGENDALIAN ON/OFF DENGAN PROCESS CONTROLLER.
1. Pada process controller, menekan tombol (untuk masuk ke sistem konfigurasi)
setelah digit pada layar variable process berkedip, menekan tombol f 1x,
kemudian mengataur agar harga ProP, Int dan Der pada harga 0 (nol) harga
siklus (CYt) pada harga 10 detik. Set harga histerisisi (HYSt) pada harga 2% dan
harga setpoint pada 50%. Harga variable lain tetap.
2. Memastikan aksi control (CS-2) adalah r (reverse). Biarkan harga span dan zero
3. Memasang kabel dari bagian manual output ke input pada process controller (4
-20 mA) dan letakkan lampu indicator pada soket 24 VAC di bagian bawah
process controller.
4. Mengatur input ke process controller dengan memutar tombol manual output 4
20 mA

5. Mengamati bahwa OUTPUT relay pada soket lampu indicator 24 VAC akan
menyalakan lampu ketika input (harga terbaca di layar proses) berada pada
setpoint 50% dan akan mematikan lampu INPUT berada di atas harga setpoint.
Histerisisi 2 % berarti lampu akan hidup hingga > 52% dan mati saat <48%
6. mengualngi percobaan dengan memvariasikan harga histerisis menjadi 3 % dan
5% dan harga setpoint di variasikan menjadi 40% dan 70 %

V.

DATA PENGAMATAN
Percobaan 1:

Tabel1.1.kalibrasi voltmeter
Batas
Zero
Span

Ampere
4 mA
20 mA

Voltmeter
0,202 volt
1,001 volt

Tabel 1.2. kalibrasi process controller


Batas
Zero
Span

Ampere
4 mA
20 mA

Percobaan 2:

VI.
Percobaan 1:

ANALISA PERCOBAAN

Variabel Proses
0
100

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa kalibrasi


merupakan suatu prosedur yang penting dan harus

dilakukan sebelum mulai

menggunakan suatu peralatan. Kalibrasi bertujuan agar alat yang nantinya hendak di
gunakan di pastikan dalam kondisi baik sehingga tidak terdapat kesalahan dalam
pembacaan hasil pengukuran.
Pada saat mengkalibrasi harus dicermati bagian mana yang akan dihubungkan
yaitu bagian input dan output dengan memasangan kabel dengan benar. Dalam
melakukan kalibrasi voltmeter dapat di analisa bahwa keluaran manual output sama
dengan Input Voltmeter, dengan memutar tombol manual output pada 4 mA maka pada
layar Voltmeter akan terbaca tegangan nya, apabila tegangan nya tidak sesuai maka
gunakan trim tool untuk memutar soket sampai harga yang diinginkan dengan toleransi
0,2 volt. Begitupun untuk tombol manual output 20 mA.
Pada kalibrasi Process controller, keluaran manual output sama dengan Input
Process Controller. Putar tombol manual output 4 mA maka nilai nya akan sama dengan
0 % (zero) dan juga begitu untuk 20 mA nilai akan sama dengan 100 % (span).
Jika suatu tegangan dilewatkan pada suatu rangkaian yang terdapat hambatan
maka akan timbul arus listrik yang besarnya sebanding dengan harga tegangan dibagi
harga hambatan. Dapat dilihat dari hasil praktikum bahwa hambatan yang terdapat pada
alat sebesar 50.
Percobaan 2:
Dalam percobaan ini dilakukan percobaan dengan menggunakan dua jenis
pengendalian on/off secara manual, dan secara otomatis. Secara manual di sini
menggunakan saklar pemilih dan secara otomatis dengan menggunakan proses
controller. Pada pengendalian on/off yang menggunakan saklar pemilih manusia
bertindak sebagai controller sedangkan pengendalian on/off menggunakan proses
controller sebagai controller yang bertindak secara otomatis, karena sudah dilakukan
konfigurasi pada sistem pengendalian system percobaan dimulai.
Pengendalian on/off secara manual menggunakan saklar pemilih N/O (Normally
Open) dan saklar pemilih N/C (Normally Close). Pada saat operator tidak
menghubungkan soket A ke soket C pada posisi N/O maka yang terjadi lampu 24 VAC

mati. Saklar pemilih N/O (Normally Open) bertindak sebagai pemutus arus dengan
kutub positif dan kutub negatif tidak terhubung secara normal, sehingga tidak ada arus
yang dapat mengalir. Namun, jika soket A dihubung dengan soket C pada posisi N/O,
lampu 24 VAC hidup karena pada N/O kutub positif dan negative terhubung sehingga
arus mengalir dalam satu loop, kemudian pada saat dipindahkan menjadi saklar N/C
masih pada soket yang sama maka lampu 24 VAC mati, ini karena terjadinya hubungan
pendek (short circuit) yang menyebabkan arus berhenti mengalir.
Pada pengendalian on/off menggunakan proses controller dilakukan oleh sebuah
controller dalam mematikan atau menghidupkan suatu proses. Berdasarkan percobaan
proses yang dilakukan diatur dalam suatu nilai histerisis dengan harga set point sama.
Histerisis memberikan batas atas batas bawah sesuai histerisis yang di masukkan sesuai
set point dan memberikan daerah netral pengendalian. Pada saat kita memasukkan nilai
histerisis 2 % dengan set point 50 % maka lampu

VII.

KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa :


Percobaan 1:

Kalibrasi merupakan salah satu prosedur kerja yang wajib dilakukan sebelum
mulai menggunakan suatu peralatan

Kalibrasi bertujuan untuk memeriksa suatu alat apakah masih berfungsi dengan
baik sehingga hasil pengukuran yang nantinya akan dilakukan dapat
menghasilkan pembacaan dengan benar.

Percobaan 2:

Pengendalian on/off terbagi menjadi dua, yaitu secara manual dan otomatis

Pengendalian on/off secara manual menggunakan saklar pemilih sedangkan


secara otomatis cenderung dilakukan controller sebuah alat pengendalian

Histerisis adalah batas atas batas bawah sesuai histerisis yang dimasukkan
sesuai dengan set point.

Daerah netral adalah rentang antara batas atas dengan batas bawah

Pengendalian on/off menggunakan saklar pemilih dibagi menjadi 2


yaitusaklar pemilih Normally Open (N/O) dan saklar pemilih Normally
Close (N/C)

VIII. DAFTAR PUSTAKA


Jobsheet. 2015. Penuntun Praktikum Pengendalian Proses. POLSRI:
Palembang.
http://www.scribd.com

IX.

GAMBAR ALAT

Proses Controller

Lampu Indikator

Kabel Penghubung

DASAR TEORI TAMBAHAN

TrimTool

Input atau masukan adalah efek dari lingkungan ke suatu proses kimia,
sedangkan output atau keluaran adalah efek dari proses kimia ke lingkungan.
Input

Output
Proses Kimia

Output

Input

Dalam suatu pengendalian hubungan antara input, proses dan output merupakan
satu loop (siklus) yang utuh. Output merupakan keluaran dari proses yang menerima
input.
Input dapat dibagi dua yaitu:
1. Variabel yang dimanipulasi (diubah) ; apabila harga input tersebut berasal dari
operator atau pengendali (controller).
2. Gangguan ; apabila harga input tersebut berasal dari lingkungan dan bukan berasal
dari pengendali atau operator.
Output dibagi dua yaitu :
1. Output terukur ; apabila harga output tersebut dapat diukur.
2. Output tak terukur ; apabila harganya tidak dapat atau tak bisa diukur..
Pada alat PCT 10 terdapat lebih dari satu input dan lebih dari satu output, masingmasing dapat dilihat dari tuisan yang terdapat dibagian bawah soket merah/hitam
(polaritas arus). Satu input dapat memberikan beberapa output, seperti yang terdapat
pada process controller, atau beberapa input menghasilkan satu output. Konfigurasi
adalah susunan informasi yang digunakan untuk menghubungkan pengukuran kepada
variabel yang dimanipulasi.
Pada alat PCT 10 konfigurasi dapat dilihat pada process controller, dimana pada
bagian ini terdapat pengaturan controller (controller setting) yang berisi ketentuan yang
diset oleh operator agar controller menjalankan konfigurasi yang telah diset. Dari hasil
pengaturan controller, maka input ke process controller menjadi harga pengukuran yang
kemudian dievaluasi sesuai setting didalam controller dan menghasilkan output
pengendali berupa sinyal untuk mengubah variabel yang dimanipulasi.
Contoh, pada setting ON/OFF dengan histerisis = 2% dan set point = 50% maka
apabila input ke process controller < 50% maka controller akan menghidupkan lampu

indikator 24 VAC menunjukkan variabel yang dimanipulasi (arus listrik) disambungkan.


Pada saat input ke controller > 50% + 2% maka controller akan memutuskan arus
listrik.

Pengendalian ON/OFF

Pengendalian tidak kontinyu atau disebut pengendalian ON / OFF mempunyai


dua gerakan output yaitu ON (hidup) dan OFF (mati) terhadap input yang diberikan
kepada proses.
Pengendalian tidak kontinyu ini juga terbagi dua atas gerakan pengendalinya,
yaitu manual dan otomatis. Manual karena yang bertindak sebagai pengendali yang
mengevaluasi dan menentukan tindakan ke pengendalinya berupa alat pengendali.
Kontak terbuka normal (N/O ) : kontak yang terjadi letaknya terpisah (soket A
dan C) dan karenanya tidak menghantarkan listrik saat soket A dan C tidak
dihubungkan.Kontak tutup normal (N/C) : kontak tersambung walaupun soket A dan C
tidak dihubungkan
Saklar pada posisi (N/O) atau (N/C) tergantung pada penggunaannya, apabila
diinginkan output dalam posisi ON tanpa perlu menggunakan kabel antara soket A dan
C maka posisi yang dipilih adalah normally closed contact (N/C). sedangkan apabila
dinginkan output dalam posisi ON namun memerlukan penyambungan kabel disoket A
dan C, maka posisi saklar adalah normally open contact (N/O). begitu juga sebaliknya
untuk posisi OFF.Lampu indicator yang terpasang pada soket 24 VAC akan menyala
atau mati sesuai posisi relai saklar yang dipilih oleh operator. Hal yang sama juga terjadi
untuk soket 240 VAC, arus listrik akan mengalir atau terputus sesuai posisi relai.
Relai disini memungkinkan pengaturan ON/OFF voltase tinggi (240 VAC dan 24 VAC)
menggunakan arus listrik 4 20 mA atau 0 -1 volt