Anda di halaman 1dari 213

Buku ini kupersembahkan untuk :

Istriku, Martini,
yang selalu setia mendampingiku
Anak-anakku Nita, Seno dan Adhi

PENGANTAR
Dengan berkembangnya perangkat keras komputer, terutama
prosesor yang mempunyai kemampuan kecepatan semakin tinggi,
perangkat lunak juga berkembang mengikuti kemajuan perangkat keras.
Hal ini terlihat dengan banyak berkembangnya perangkat lunak yang
berorientasi obyek (Object Oriented Programing), seperti perangkat lunak
pengolah kata, perangkat lunak untuk grafis dan lain sebagainya. CSi
(Computer and Structur, Inc.) dari Berkeley, California USA yang
awalnya mengeluarkan perangkat lunak SAP80 dan SAP90 tidak
ketinggalan pula mengeluarkan SAP2000, yang merupakan perangkat
lunak untuk analisis dan disain struktur yang berorientasi obyek. Bagi
pembaca yang telah mempelajari SAP80 atau SAP90 akan lebih mudah
untuk mempelajari buku ini.
Susunan buku ini terdiri dari empat bab, pada bab I dibahas
tentang sistem koordinat, property potongan, beban yang dapat dikerjakan
pada elemen frame, derajad kebebasan joint (Degree Of Freedom),
diapragma lantai kaku, pengertian analisis statik dan dinamik, serta
interpretasi output gaya-gaya dalam hasil analisis.
Bab II membahas tentang Graphic User Interface Manual, yang
dengan sekilas membahas menu-menu yang ada pada SAP2000 versi 7.42.
Pada bab ini dibahas 12 menu yang ada pada SAP2000 versi 7.42, dengan
penjelasan masing-masing item menu yang perlu diketahui.
Bab III pada buku ini menbahas tutorial secara cepat untuk
memberikan pengalaman atau kebiasaan kepada pembaca dalam
menguasai menu-menu yang ada pada SAP2000. Pada bab ini pembaca
diajak untuk bersama-sama membuat model, menentukan material,
menentukan penampang elemen, menentukan beban pada struktur dan
menngontrol atau merencanakan elemen struktur. Beberapa keistimewaan
dasar SAP2000 dikemukakan pada bab III ini, dan penekanan materi
adalah pada struktur dengan beban statik.
Bab IV membahas model dua atau tiga dimensi dengan beban
dinamik. Pada bab ini diberikan contoh bagaimana merancang elemen
struktur dari profil baja yang optimal, merancang dengan group name,
sehingga akan diperoleh elemen struktur seperti yang diingini oleh
pemakai. Penentuan beban dinamik dengan response spectrum maupun

vi
time history diberikan contohnya, demikian juga cara menggunakan
response spectrum dari PPKGURG 1987. Pada bab ini juga dibahas contoh
hasil analisis time history pada base shear yang berupa tabel response
spectrum yang kemudian digunakan untuk data input respon spektrum.
Pada bagian akhir dari buku ini dilampirkan icon toolbar yang ada
pada SAP2000 versi 7.42. Pada lampiran tersebut diberikan penjelasan
seperlunya kegunaan dari masing-masing icon tooolbar, sehingga pembaca
dapat lebih cepat memahami icon toolbar yang ada pada SAP2000.
Model struktur pada contoh menggunakan material baja maupun
beton, sehingga diharapkan pembaca telah mempelajari peraturanperaturan yang digunakan. Peraturan-peraturan tersebut antara lain ACI,
AISC, dan peraturan lain yang berhubungan dengan peraturan beton dan
baja yang ada di Eropa dan Canada.
Buku ini masih belum banyak membahas SAP2000 secara
keseluruhan, misalnya tentang garis pengaruh pada analisis jembatan
(bridge), elemen shell, elemen asolid dan elemen solid. Analisis non linier
juga tidak dibahas pada buku ini, karena penulis hanya memfokuskan
penulisan untuk analisis dan perancangan (disain) bangunan gedung yang
perilakunya elastik. Namun demikian, penulis berharap semoga buku ini
cukup membantu bagi praktisi dan mahasiswa yang ingin mempelajari
analisis dan disain struktur dengan program SAP2000.
Akhirnya penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari para
pembaca demi perbaikan yang perlu. Tak lupa penulis mengucapkan
terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Sunarmasto, sahabat saya
dalam suka dan duka, yang telah membantu dan mendorong terbitnya buku
ini.
Yogyakarta, Agustus 2001
Penulis,
Haryanto Yoso Wigroho
haryanto@mail.uajy.ac.id

DAFTAR ISI
Pengantar .....

Daftar isi ... vii


BAB I PENDAHULUAN ....
1.1. Umum .
1.2. Sistem Koordinat ....
1.3. Property Potongan.......
1.4. Bentuk Penampang .....
1.5. End Offset ...
1.6. End Release.....
1.7. Massa...
1.8. Beban Pada Struktur ...
1.9. Joint dan Derajad Kebebasan .....
1.10. Analisis Statik Dan Dinamik ...
1.11. Output Gaya-gaya Dalam .....

1
1
2
4
7
9
10
12
12
15
25
38

BAB II MENU PADA PROGRAM SAP2000


2.1. Umum .
2.2. Menu File ...
2.3. Menu Edit ..
2.4. Menu View
2.5. Menu Define ..
2.6. Menu Draw ....
2.7. Menu Select ...
2.8. Menu Assign ..
2.9. Menu Analyze ...
2.10. Menu Display ..
2.11. Menu Design ...
2.12. Menu Options ..

41
41
46
48
50
52
54
56
56
58
59
60
62

BAB III STRUKTUR DENGAN BEBAN STATIK .. 65


3.1. Umum ... 65
3.2. Model Sloped Truss 2 Dimensi .... 66
3.3. Model Kuda-kuda Truss 2 Dimensi .. 89
3.4. Model Gable Frame 2 Dimensi . 103
3.5. Model Portal Beton 2 Dimensi .. 114

viii
3.6. Model Balok Prestress 2 Dimensi .. 131
3.7. Model Elemen Non-Prismatis 2 Dimensi .. 146
BAB IV STRUKTUR DENGAN BEBAN DINAMIK
4.1. Umum
4.2. Model Portal Baja 2 Dimensi
4.3. Disain Model Portal Baja 2 Dimensi .
4.4. Model Frame Beton 3 Dimensi ..

157
157
157
181
191

Daftar Pustaka .... 203


Lampiran Penjelasan Icon Toolbar ... 205

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Umum
SAP2000 merupakan program versi terakhir yang paling lengkap
dari seri-seri program analisis struktur SAP, baik SAP80 maupun SAP90.
Keunggulan program SAP2000 antara lain ditunjukkan dengan adanya
fasilitas untuk disain elemen, baik untuk material baja maupun beton.
Disamping itu juga adanya fasilitas disain baja dengan mengoptimalkan
penampang profil, sehingga pengguna tidak perlu menentukan profil untuk
masing-masing elemen, tetapi cukup memberikan data profil secukupnya,
dan program akan memilih sendiri profil yang paling optimal atau
ekonomis.
Pada bab ini dibahas beberapa hal dasar yang diperlukan untuk
menentukan atau membuat model struktur, khususnya elemen frame, baik
untuk dua dimensi (2D) maupun tiga dimensi (3D). Pertama akan
dikenalkan sistem koordinat lokal dan global, dan hal-hal yang
berhubungan dengan sistem koordinat tersebut, misalnya beban, property
elemen dan sebagainya. Kemudian dibahas mengenai joint dan derajad
kebebasan atau DOF (Degree of Freedom), yang diantaranya bagaimana
menentukan dukungan, massa, constraint dan sebagainya. Bagian terakhir
dari bab ini membahas secara ringkas dasar-dasar untuk analisis struktur
dengan beban dinamik.
Istilah-istilah pada buku ini, yang sering digunakan dalam ilmu
teknik sipil dan komputer yang berasal dari bahasa asing, sengaja tidak
diterjemahkan dalam bahasa Indonesia, karena artinya mungkin akan
menjadi lain. Misalnya windows tidak diterjemahkan menjadi jendela,
displacements tidak diterjemahkan menjadi perpindahan. Kata-kata file,
directory, hard disk, default, joint, dead loads, live loads, property,
restraint, constraint, release dan lain sebagainya tetap digunakan seperti
kata aslinya.

Pendahuluan

1.2. Sistem Koordinat


Setiap model struktur menggunakan koordinat yang berbeda untuk
menentukan joint dan arah beban, displacements, gaya dalam dan
tegangan. Pengetahuan tentang sistem koordinat ini sangat penting bagi
pengguna, karena untuk menentukan model dan menginterpretasikan hasilhasil keluaran dari program, pengguna harus memahami sistem koordinat
ini.
Semua sistem koordinat pada model ditentukan dengan mematuhi
satu sistem koordinat global X-Y-Z. Setiap bagian dari model misalnya
joint, elemen atau constraint, masing-masing mempunyai sistem koordinat
lokal 1-2-3. Semua sistem koordniat ditunjukkan dengan sumbu tiga
dimensi, menggunakan aturan tangan kanan dan menggunakan sistem
Cartesian (segi-empat).
SAP2000 selalu mengasumsikan sumbu Z ialah sumbu vertikal,
dengan Z+ mengarah ke atas. Arah ke atas digunakan sebagai bantuan
untuk menentukan sistem koordniat lokal, walaupun sistem koordinat lokal
itu sendiri tidak mempunyai sumbu arah vertikal.
A. Sistem Koordinat Global
System koordinat global merupakan koordinat dalam tiga dimensi,
mengikuti aturan tangan kanan (right handed), dan merupakan koordinat
Cartesian (segi-empat). Tiga sumbu dengan notasi X, Y dan Z ialah sumbu
yang saling tegak lurus sesuai dengan aturan tangan kanan. Letak dan
orientasi sumbu global tersebut dapat berubah-ubah, asalkan sesuai dengan
aturan tangan kanan.
Lokasi pada sistem koordinat global dapat ditentukan
menggunakan variable x, y dan z. Vektor dalam sistem koordinat global
dapat ditentukan dengan memberikan lokasi dua titik, sepasang sudut, atau
dengan memberikan arah koordinat. Arah koordinat ditunjukkan dengan
nilai X+, Y+ dan Z+. Sebagai contoh X+ menunjukkan vektor sejajar dan
searah dengan sumbu X positif. Semua sistem koordinat yang lain pada
model ditentukan berdasarkan sistem kordinat global ini.
SAP2000 selalu mengasumsikan sumbu Z arahnya vertikal,
dengan Z+ arah ke atas. Sistem koordinat lokal untuk joint, elemen, dan
gaya percepatan tanah ditentukan berdasarkan arah ke atas tersebut. Beban
berat sendiri arahnya selalu ke bawah, pada arah Z.

Pendahuluan

Bidang X-Y merupakan bidang horisontal, dengan sumbu X+


merupakan sumbu utama. Sudut pada bidang horisontal diukur dari sumbu
positif X, dengan sudut positif ialah berlawanan arah dengan arah putaran
jarum jam.
B. Sistem Koordinat Lokal
Pada setiap elemen frame mempunyai sistem koordinat lokal yang
digunakan untuk menentukan potongan property, beban dan gaya-gaya
keluaran. Sumbu-sumbu koordinat lokal ini dinyatakan dengan simbol 1, 2
dan 3. Sumbu 1 arahnya ialah searah sumbu elemen, dua sumbu yang lain
tegak lurus dengan elemen tersebut dan arahnya dapat ditentukan sendiri
oleh pengguna.
Z

ang= 90 i

ang= 30

j
2

i
3

Sumbu lokal 1 sejajar sumbu Y+


Sumbu lokal 2 diputar 90 dari bidang Z-1

Sumbu lokal 1 tidak sejajar dengan sumbu X, Y dan Z


Sumbu lokal 2 diputar 30 dari bidang Z-1

(a)

(b)
3

Z
1

ang= 30

X
ang= 90

Sumbu lokal 1 sejajar sumbu Z+


Sumbu lokal 2 diputar 90 dari bidang X-1

(c)

1
Sumbu lokal 1 sejajar dengan sumbu ZSumbu lokal 2 diputar 30 dari bidang X-1

(d)

Gambar 1.1. Menentukan sudut putar ang


Yang perlu diketahui pengguna ialah bagaimana menentukan
koordinat lokal 1-2-3 dan hubungannya dengan koordinat global X-Y-Z.
Kedua sistem koordinat ini menggunakan aturan tangan kanan. Untuk

Pendahuluan

koordinat lokal pengguna bebas menentukan arahnya selama hal tersebut


memudahkan dalam memasukkan data dan menginterpretasikan hasilnya.
Untuk menentukan sistem koordinat lokal elemen yang umum
dapat menggunakan orientasi default dan sudut koordinat elemen
frame, yang dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Sumbu lokal 1 arahnya selalu memanjang arah sumbu elemen, arah
positif ialah dari ujung i ke ujung j.
2. Orientasi default sumbu lokal 2 dan 3 ditentukan oleh hubungan
diantara sumbu lokal 1 dan sumbu global Z sebagai berikut :

Jika sumbu lokal 1 arahnya horisontal, maka bidang 1-2 dibuat


sejajar dengan sumbu Z
Jika sumbu lokal 1 arahnya ke atas (Z+), maka arah sumbu lokal 2
sejajar dengan sumbu global X+.
Sumbu lokal 3 arahnya selalu horisontal searah bidang X-Y.

Oleh program, elemen dianggap vertikal jika sinus sudut antara sumbu
1 dan sumbu Z kurang dari 103.
3. Sudut koordinat ang digunakan untuk menentukan orientasi elemen
yang berbeda dengan orientasi default. Sudut ini memutar sumbu lokal
2 dan 3 terhadap sumbu 1 dari posisi orientasi default. Rotasi postif
ialah arah berlawanan jarum jam apabila sumbu 1 menuju ke arah
pengamat.
Untuk elemen vertikal sudut ang ialah sudut antara sumbu lokal 2 dan
sumbu X+ horisontal. Dengan kata lain ang ialah sudut antara sumbu
lokal 2 dan bidang vertikal yang dilalui sumbu lokal 1. Untuk jelasnya
lihat gambar 1.1.
1.3. Propery Potongan
Property elemen pada frame merupakan satu kesatuan data
material dan property geometrik yang menggambarkan potongan
penampang dari satu atau beberapa elemen frame. Data potongan
penampang ini ditentukan tersendiri dari elemen frame, dan potongan ini
akan digunakan untuk masing-masing elemen.
Property potongan ditentukan terhadap sistem koordinat lokal
yang mengikuti aturan tertentu. Arah sumbu 1 ialah sepanjang sumbu
elemen, dan sumbu 1 ini merupakan garis normal dari bidang potongan

Pendahuluan

elemen, yang bertemu pada kedua garis netral potongan. Sumbu 2 dan 3
sejajar dengan bidang potongan elemen, biasanya arah sumbu 2 searah
dengan tinggi potongan atau merupakan sumbu minor, dan arah sumbu 3
searah dengan lebar potongan atau merupakan sumbu mayor.

Tabel 1.1. Rumus untuk menentukan Shear Area


Bentuk Pot.

Keterangan

Shear Area Efektif

Potongan bentuk segi-empat


Gaya geser sejajar b atau d

5
6

bd

tf

Potongan bentuk WF
Gaya geser sejajar sayap

5
3

t f bf

Potongan bentuk WF
Gaya geser sejajar badan

tw d

b
bf

tf
d
tw

Potongan bentuk pipa berdinding tipis


Gaya geser dari arah mana saja

r
t
r

Potongan bentuk lingkaran solid


Gaya geser dari arah mana saja

d
tw
Y
dn
Yt
y
Yb

b(y)

rt

r2

0.9

Potongan bentuk tube berdinding tipis


Gaya geser sejajar arah d

2td

Potongan yang umum


Gaya geser sejajar arah sumbu Y
Ix = momen inersia terhadap sumbu X

Ix
Yt

Yt
X

Q(Y) =

g. netral

n b(n) dn

Yb

2
Q (y)
dy
b (y)

Pendahuluan

Property material yang akan digunakan untuk penampang


ditentukan sebelum potongan penampang ditentukan. Property material
yang akan digunakan ini meliputi :
1. Modulus Elastisitas e1 untuk kekakuan aksial dan lentur.
2. Modulus geser g12 untuk kekakuan torsi dan kekakuan geser
melintang, yang dihitumg dari e1 dan angka Poisson u12.
3. Kerapatan massa per-unit volume m untuk menghitung massa elemen.
4. Berat sendiri per-unit volume w untuk menghitung beban berat sendiri
struktur.
5. Tipe indikator disain ides yang digunakan untuk menentukan tipe
perancangan penampang misalnya baja, beton atau tanpa disain.
Property geometrik elemen frame terdiri 6 macam, bersama-sama
dengan property material geometrik ini digunakan untuk menentukan
kekakuan potongan sebagai berikut :
1. Potongan penampang a. Merupakan kekakuan aksial potongan yang
dinyatakan dengan a(e1).
2. Momen inersia i33 terhadap sumbu 3 untuk lentur pada bidang 1-2, dan
momen inersia i22 terhadap sumbu 2 untuk lentur pada bidang 1-3.
Hubungan kekakuan lentur dan potongan penampang dinyatakan
dengan i33 (e1) dan i22 (e1).
3. Konstanta torsi j, yang dinyatakan dengan j (g12).
4. Shear area as2 dan as3 untuk transfer geser pada bidang 1-2 dan 1-3.
Hubungan kekakuan geser potongan dinyatakan dengan as2 (g12) dan
as3 (g12). Rumus-rumus untuk menentukan shear area diberikan pada
tabel 1.1.
Dengan memberikan nilai nol pada salah satu property geometrik
a, j, i33 atau i22 akan mengakibatkan kekakuan yang berhubungan dengan
property tersebut menjadi nol. Sebagai contoh untuk truss dapat
dimodelkan dengan j = i33 = i22 = 0, dan struktur bidang dapat dimodelkan
dengan j = i22 = 0. Dengan memberikan nilai nol pada shear area as2 dan
as3 akan menyebabkan deformasi geser melintang menjadi nol, sehingga
diasumsikan sebagai tak terhingga.

Pendahuluan

1.4. Bentuk Penampang


Pada setiap penampang potongan, ke-enam property (a, j, i33 , i22 ,
as2 dan as3) akan dihitung langsung sesuai dengan bentuk dan dimensi
potongan, atau diambil dari file database yang disediakan. Tipe bentuk
penampang ini ditentukan dengan sh, yang dipilih oleh pengguna.
1. Jika sh = G (general section), ke-enam geometrik property harus
ditentukan sendiri oleh pengguna.
2. Jika sh = R, P, B, I, C, T, L atau 2L, ke-enam geometrik property
secara otomatis dihitung dari data dimensi potongan yang diberikan.
3. Jika sh adalah nilai yang lain, misalnya W27X94 atau 2L4X3X1/4, keenam geometrik property diambil dari file database.
2

2
3

t3

tw

t3

t2 tf

(b) SH=P

(a) SH=R

t 2t

(c) SH=B

t2
t ft

t 3 3t w

t2
tf

t fb

t3

tw

tw

(d) SH=I

tf

t 2b

t3

tw

tw

t2

tf

(e) SH=T

tf
(f) SH=C

t2
2

tw

t3

t3

tw

tf
t2
(g) SH=L

tf

dls
(h) SH=2L

Gambar 1.2. Bentuk penampang yang geometrik property-nya dihitung


otomatis oleh program SAP2000

Pendahuluan

Bentuk penampang yang geometrik property-nya secara otomatis


dihitung oleh program ditunjukkan pada gambar 1.2. Ukuran yang
diperlukan pada setiap penampang ditunjukkan pada gambar. Perlu
diketahui bahwa t3 ialah tinggi penampang profil arah sumbu 2 dan
memberi kontribusi untuk i33.
Beberapa bentuk penampang yang memungkinkan untuk dihitung
geometrik property-nya secara otomatis ialah :

sh = R, penampang bentuk segi-empat solid


sh = P, penampang bentuk pipa atau penampang bentuk lingkaran
solid
sh = B, penampang bentuk box atau bentuk tube
sh = I, penampang bentuk I simetris maupun tidak simetris

sh = C, penampang bentuk kanal C


sh = T, penampang bentuk T

sh = L, penampang bentuk siku samakaki maupun tidak samakaki


sh = 2L, penampang bentuk siku ganda

Geometrik property potongan juga dapat diperoleh dari file


database. Tiga file database yang diberikan oleh program SAP2000 ialah :
1. AISC.PRO, ialah profil yang sesuai dengan standard American
Institute of Steel Construction
2. CISC.PRO, ialah profil yang sesuai dengan standard Canadian
Institute of Steel Construction
3. SECTIONS.PRO yang merupakan copy-an dari AISC.PRO
Untuk menambah sendiri file database dapat dilakukan dengan
program PROPER yang telah disiapkan oleh Computer and Structures, Inc.
pada directory UTILITY. Unit atau satuan yang digunakan pada geometrik
property harus ditentukan apabila pengguna ingin membuat file database
sendiri. Unit ini oleh SAP2000 akan dikonversi secara otomatis jika
nantinya akan digunakan dengan unit lainnya. Setiap bentuk penampang
pada file database menggunakan satu atau dua label referensi. Misalnya
label bentuk penampang W36X300 pada file AISC.PRO diberi label
referensi dengan W36X300 (satuan in) atau W920X446 (satuan SI).
Bentuk penampang yang disimpan pada file CISC.PRO hanya
menggunakan satu label referensi.

Pendahuluan

Pengguna dapat memilih file database untuk digunakan pada saat


menentukan property elemen. File database yang digunakan dapat diganti
setiap kali ingin menentukan property elemen. Jika file database tidak
ditemukan, file database default-nya ialah SECTIONS.PRO. Semua file
database harus diletakkan pada directory yang sama dengan file data model
struktur atau pada directory program SAP2000. Jika file database ada di
kedua directory, maka program akan menggunakan file database yang ada
pada directory file data model struktur.
1.5. End Offset
Elemen frame dimodelkan sebagai elemen garis yang dihubungkan
pada joint (titik kumpul/pertemuan). Padahal sebenarnya penampang
elemen yang digunakan mempunyai dimensi potongan tertentu. Apabila
dua buah elemen bertemu, misalnya balok dan kolom, pada pertemuan
tersebut akan terjadi overlap potongan penampangnya. Untuk beberapa
struktur yang dimensi penampangnya cukup besar, maka panjang overlap
tersebut cukup signifikan untuk diperhitungkan.
Pada setiap elemen dapat ditentukan dua buah end offset dengan
menggunakan parameter ioff dan joff yang berhubungan dengan ujung i dan
j. End offset ioff ialah panjang overlap pada elemen yang ditinjau terhadap
elemen yang lain pada joint i. End offset ioff ini merupakan jarak dari joint
ke sisi muka elemen yang lain. Penjelasan yang sama berlaku pula pada
joint j untuk joff, dan untuk jelasnya dapat dilihat gambar 1.3.
End offset dapat dihitung secara otomatis oleh program SAP2000
untuk pilihan elemen yang didasarkan pada dimensi penampang
maksimum untuk semua elemen lain yang berhubungan dengan elemen
tersebut pada salah satu joint yang ditinjau.
Panjang bersih Lc ialah panjang diantara end offset (permukaan
dukungan) yang dihitung dengan :
Lc = L ( ioff + joff )
dengan L adalah panjang total elemen (lihat gambar 1.3)

(1.1)

Jika end offset yang diberikan menyebabkan panjang bersih


elemen kurang dari 1% panjang total elemen, program akan memberikan
peringatan dan akan mereduksi end offset sesuai proporsi dengan
memberikan panjang bersih elemen sebesar 1% dari panjang total elemen.

10

Pendahuluan

Kondisi normalnya, besarnya end offset ini harus lebih kecil dari proporsi
panjang totalnya.
Panjang total L
Panjang bersih Lc

ioff

joff

Batang horisontal

End Offsets
Permukaan dukungan

Gambar 1.3. End offset pada elemen frame


Pengaruh dari pemberian end offset ini ialah semua keluaran gayagaya dalam dan momen diberikan pada permukaan dukungan dan pada
sepanjang bentang bersih elemen. Pada daerah end offset keluaran gayagaya dalam ini tidak akan dikeluarkan.
1.6. End Release
Pada kondisi normal, tiga derajad kebebasan tranlasi dan tiga
derajad kebebasan rotasi pada setiap ujung elemen frame dihubungkan
dengan joint-nya, dan karena itu elemen tersebut dihubungkan dengan
elemen yang lain. Hal ini memungkinkan untuk me-release (tidak
menghubungkan) satu atau lebih derajad kebebasan dari joint apabila
diketahui hubungan gaya-gaya atau momennya adalah nol. Untuk merelease ini digunakan sistem koordinat lokal elemen, dan tidak akan
mempengaruhi elemen lain yang dihubungkan pada joint tersebut.
Sebagai contoh diperlihatkan pada gambar 1.4, elemen diagonal
mempunyai hubungan momen pada ujung i dan hubungan sendi pada
ujung j. Hubungan dua elemen yang lain pada ujung j adalah menyatu
(kaku). Untuk memodelkan hubungan sendi tersebut berarti rotasi R3 pada

Pendahuluan

11

ujung j pada elemen diagonal harus di-release, sehingga momen pada


ujung sendi ini akan menjadi nol. Lihat gambar 1.4
Joint menerus (kaku)

Sumbu 1

Joint Pin

j
Sumbu 2

Joint menerus
(kaku)

Untuk elemen diagonal pada ujung j R3 di-release

Gambar 1.4. End Release pada frame elemen


Beberapa kombinasi untuk me-release ujung yang ditentukan pada
eleman frame harus tetap menjamin bahwa elemen tetap dalam keadaan
stabil, hal ini terutama pada beban-beban yang dikerjakan pada elemen
yang akan ditransfer pada struktur lainnya. Beberapa release yang
dikemukakan di bawah ini tidak stabil, baik di-release secara sendiri atau
kombinasinya, dan hal ini sebaiknya dihindarkan.
Me-release U1 pada kedua ujung

Me-release U2 pada kedua ujung


Me-release U3 pada kedua ujung

Me-release R1 pada kedua ujung


Me-release R2 pada kedua ujung dan U3 pada kedua ujung
Me-release R3 pada kedua ujung dan U2 pada kedua ujung

Jika digunakan end offset, end release selalu diberikan pada


pemukaan dukungannya, yaitu pada ujung panjang bersih elemen Lc (lihat
pada End Offset). Dengan memberikan release momen atau geser akan
mengakibatkan end offset menjadi kaku dalam bidang momen yang
berhubungan pada ujung elemen yang bersangkutan.

12

Pendahuluan

1.7. Massa
Pada analisis dinamik, massa dari struktur digunakan untuk
menghitung gaya-gaya inersia. Kontribusi massa pada frame elemen ialah
terkelompok pada ujung i dan j. Massa total elemen ialah sama dengan
rapat massa sepanjang elemen m dikalikan dengan luas penampang a.
Massa total elemen dibagikan pada kedua joint dengan cara seperti
menentukan reaksi dukungan pada simple beam. Pengaruh release pada
ujung elemen diabaikan pada waktu menentukan massa pada joint tersebut.
Massa total kemudian dikerjakan pada tiap-tiap derajad kebebasan
translasi UX, UY dan UZ. Momen inersia massa tidak dihitung untuk
derajad kebebasan rotasi. Untuk jelasnya dapat dilihat pada sub bab 1.9
dan 1.10.
1.8. Beban Pada Struktur
Beban yang bekerja pada struktur ada beberapa macam,
diantaranya ialah berat sendiri struktur, beban yang bekerja pada elemen,
beban yang bekerja pada joint dan beban dinamik. Untuk beban yang
bekerja pada elemen struktur dapat dijelaskan sebagai berikut.
A. Berat Sendiri
Beban berat sendiri dapat ditentukan untuk beberapa kondisi
pembebanan (load case), sehingga berat sendiri pada semua elemen
struktur menjadi aktif. Pada elemen frame berat sendiri ialah gaya yang
terdistribusi pada sepanjang elemen. Besarnya beban berat sendiri sama
dengan berat volume w dikalikan dengan luas penampang a.
Berat sendiri arahnya selalu ke bawah, searah dengan sumbu Z.
Berat sendiri ini dikalikan dengan faktor skala yang ditentukan untuk
seluruh struktur.
B. Beban Terpusat Pada Elemen
Beban terpusat pada elemen digunakan untuk menentukan gaya
terpusat dan momen yang bebas dikerjakan pada sepanjang elemen. Arah
beban dapat ditentukan dengan sistem koordinat global maupun sistem
kordinat lokal. Lokasi beban dapat ditentukan dengan salah satu cara di
bawah ini.

Pendahuluan

13

Dengan jarak relatif rd, yang diukur dari joint i. Jarak relatif lini
nilainya ialah 0 < rd < 1. Jarak relatif ini merupakan pembagian
dengan panjang elemen.
Dengan jarak absolut d, yang diukur dari joint i. Jarak absolut ini
nilainya ialah 0 < d < L, dengan L ialah panjang elemen.

rz

uz

(b) Momen arah sumbu global Z

(a) Gaya arah sumbu global Z

Semua gaya bekerja di tengah bentang


1

u2
2

r2

Z
3
(c) Gaya arah sumbu lokal 2

3
(d) Momen arah sumbu lokal 2
Sumbu global

Gambar 1.5. Menentukan beban terpusat elemen


Beberapa beban terpusat dapat dikerjakan pada tiap elemen. Beban
yang diberikan pada sistem koordinat global akan ditransfer ke sistem
koordinat lokal elemen. Untuk jelasnya lihat gambar 1.5.
C. Beban Merata Pada Elemen
Beban merata pada elemen digunakan untuk menentukan gaya dan
momen yang bekerja pada sepanjang elemen frame. Intensitas beban dapat

14

Pendahuluan

berupa beban merata atau trapesium. Arah beban dapat ditentukan dengan
sistem koordinat global maupun sistem kordinat lokal.
Beban dapat dikerjakan pada sepanjang elemen atau sebagian
panjang elemen saja. Mengulang beban dapat dilakukan pada satu elemen,
dengan panjang beban dapat overlap, dengan cara menambahkan beban.
Panjang beban dapat ditentukan melalui salah satu cara berikut ini.
Dengan menentukan dua jarak relatif rda dan rdb, yang diukur dari
joint i. Kedua jarak tersebut harus 0 < rda < rdb < 1. Jarak relatif
ini merupakan pembagian dengan panjang elemen.

Dengan menentukan dua jarak absolut da dan db, yang diukur dari
joint i. Kedua jarak tersebut harus 0 < da < db < L, dengan L ialah
panjang elemen.
Menentukan panjang beban jarak nol, hal ini berarti beban bekerja
pada sepanjang elemen.

rz

uz

(b) Momen arah sumbu global Z

(a) Gaya arah sumbu global Z

Semua gaya bekerja dari 0.25 sd. 0.75 bentang


1

u2
2

r2

Z
(c) Gaya arah sumbu lokal 2

(d) Momen arah sumbu lokal 2

Sumbu global

Gambar 1.6. Menentukan beban merata pada elemen


Intensitas beban merupakan gaya atau momen persatuan panjang.
Untuk setiap komponen gaya atau momen yang dikerjakan, sebuah nilai

Pendahuluan

15

beban diperlukan jika beban merupakan beban merata. Apabila intensitas


beban bervariasi linier di atas daerah yang dikerjakan (beban trapesium),
maka diperlukan dua nilai beban. Untuk jelasnya lihat gambar 1.6 dan 1.7.
Sumbu 2

Sumbu 3

rda = 0.0
rdb = 0.5
u2a = -5
u2b = -5

da = 4
db = 16
u3a = 5
u3b = 5

da = 0
db = 4
u3a = 0
u3b = 5
5

da = 16
db = 20
u3a = 5
u3b = 0
5

Sumbu 1

Sumbu 1

10

16

20

20
(b) Beban trapesium

(a) Beban merata setengah bentang

Sumbu 2

da = 4
db = 10
u2a = 5
u2b = 5

da = 10
db = 16
u2a = 10
u2b = 10
10

5
Sumbu 1

4
10
16
20
(c) Beban merata bersusun

Gambar 1.7. Menentukan beban trapesium pada elemen


1.9. Joint dan Derajad Kebebasan
Joint memainkan peran dasar pada analisis struktur. Joint
merupakan titik kumpul yang menghubungkan antara elemen, dan
merupakan titik pada struktur yang displacement-nya diketahui atau akan
dihitung. Komponen displacement pada joint tersebut macamnya ialah
translasi dan rotasi, dan disebut dengan derajad kebebasan atau DOF
(Degree of Freedom).
Elemen frame yang normal mempunyai enam derajad kebebasan
pada kedua joint-nya. Pada elemen yang diinginkan tidak mempunyai
kekakuan momen pada joint-nya, maka ketiga derajad kebebasan rotasi

16

Pendahuluan

dapat tidak diaktifkan. Hal ini dapat dilakukan apabila mengikuti syaratsyarat sebagai berikut.
End offset pada ujung yang bersangkutan adalah nol, property
geometrik j, i33 dan i22 semuanya nol (a tidak sama dengan nol, as2
dan as3 boleh nol boleh tidak), atau
End offset pada ujung yang bersangkutan adalah nol, rotasi momen
R2 dan R3 pada ujung tersebut di-release, dan rotasi torsi R1 pada
ujung tersebut juga di-release.
Apabila kondisi tersebut dikerjakan pada kedua ujung elemen,
maka elemen tersebut akan berperilaku sebagai elemen truss.
Joint sering juga disebut sebagai titik nodal atau node, ialah
merupakan bagian penting pada model struktur, dan memainkan beberapa
fungsi penting antara lain :
1. Semua elemen pada struktur dihubungkan dengan joint.
2. Struktur didukung pada joint dengan menggunakan Restraint dan/atau
Spring.
3. Perilaku struktur kaku (rigid body) dan kondisi simetris dapat
ditentukan dengan memberikan Constraint pada joint.
4. Beban terpusat dapat langsung dikerjakan pada joint, dan pengaruh
displacements tanah dapat dikerjakan secara tak langsung pada
dukungan spring.
5. Massa terkelompok (lumped masses) dan inersia rotasi dapat
ditentukan pada joint.
6. Semua beban dan massa yang dikerjakan pada elemen ditransfer ke
joint.
7. Joint merupakan titik utama pada struktur yang displacement-nya
diketahui (pada dukungan) atau akan dihitung.
Pada SAP2000 joint secara otomatis digambarkan pada ujung
elemen frame dan pada sudut-sudut elemen shell. Joint dapat juga
ditentukan tidak tergantung dengan elemen, dan joint ini tidak selalu harus
dihubungkan dengan elemen.
Setiap joint mempunyai sistem koordinat lokal untuk menentukan
derajad kebebasan, restraint, property joint, beban dan untuk
menginterpretasikan hasil-hasil outputnya. Sumbu-sumbu sistem koordinat
lokal diberi notasi 1, 2 dan 3. Pada kondisi default sumbu lokal ini identik

Pendahuluan

17

dengan sumbu global X, Y dan Z. Kedua sistem koordinat pada joint


mengikuti aturan tangan kanan.
A. Menentukan Model
Letak joint dan elemen merupakan hal yang sangat penting untuk
menentukan keakuratan model. Beberapa faktor yang perlu
dipertimbangan pada waktu menentukan elemen dan joint ialah :
1. Jumlah elemen harus mencukupi untuk menentukan geometri struktur.
Untuk elemen lurus, satu elemen mungkin sudah mencukupi, tetapi
untuk elemen melengkung satu elemen sebaiknya digunakan untuk
setiap lengan elemen dengan sudut kurang dari 150.
2. Batas elemen, dan juga joint, harus diletakkan pada titik, garis atau
permukaan yang tidak menerus, misalnya :
Pada perbatasan struktur, pada bagian tepi dan sudut
Pada material yang berubah property-nya

Pada material yang berubah tebal dan property geometriknya


Pada titik-titik dukungan (Restraint dan Spring)
Pada titik-titik yang diberi beban terpusat, kecuali pada elemen
frame dapat diberikan beban terpusat pada sepanjang bentangannya.
3. Pada daerah yang mempunyai gradien tegangan besar, misalnya pada
batas elemen shell yang tegangannya berbeda jauh, maka elemen shell
tersebut perlu diperbaiki dengan memperkecil dimensi elemen. Hal ini
dapat dilakukan setelah sebelumnya dilakukan satu atau beberapa kali
analisis pendahuluan (preliminary analysis).
4. Lebih dari satu elemen diperlukan pada model yang panjang untuk
mengetahui perilaku dinamik struktur. Hal ini diperlukan karena massa
dianggap terkumpul pada joint.
B. Derajad Kebebasan (DOF)
Defleksi dari struktur ditentukan oleh displacement joint. Setiap
joint pada model struktur mempunyai enam komponen displacement,
yaitu:
Joint mengalami translasi ke arah tiga sumbu lokal, yang diberi
notasi U1, U2 dan U3.
Joint mengalami rotasi terhadap tiga sumbu lokal, yang diberi
notasi R1., R2 dan R3.

18

Pendahuluan
U3

R3
R2
U1

R1

U2

Gambar 1.8 Enam derajad kebebasan joint pada sistem koordinat lokal
Ke-enam komponen displacement tersebut diketahui sebagai
derajad kebebasan joint, dan digambarkan seperti pada gambar 1.8. Tiaptiap derajad kebebasan pada model struktur harus mengikuti salah satu tipe
sebagai berikut.
1. Aktif, ialah joint yang displacement-nya dihitung selama analisis
model. Program secara otomatis akan menentukan derajad kebebasan
aktif jika dipenuhi ketentuan berikut ini.
Beberapa gaya atau kekakuan diberikan sesuai dengan derajad
kebebasan translasi pada joint, kemudian semua derajad kebebasan
translasi yang ada dibuat aktif kecuali joint tersebut di-constraint
atau di-restraint.
Beberapa gaya atau kekakuan diberikan sesuai dengan derajad
kebebasan rotasi pada joint, kemudian semua derajad kebebasan
rotasi yang ada dibuat aktif kecuali joint tersebut di-constraint atau
di-restraint.
Semua derajad kebebasan master joint ditentukan dengan derajad
kebebasan constraint-nya aktif.
2. Restrained (dikekang), ialah joint yang displacement-nya tertentu
(diketahui), dan berhubungan dengan reaksi yang dihitung selama
analisis model. Joint ini biasanya berupa reaksi dukungan pada model
struktur. Nilai displacement yang diketahui dapat nol atau tidak nol,
dan mungkin berbeda-beda untuk tiap kondisi pembebanan. Gaya-gaya
pada arah derajad kebebasan yang dikekang berupa reaksi yang
dihitung pada waktu analisis. Restraint harus diberikan pada joint yang
derajad kebebasannya sama dengan nol, karena jika hal ini tidak
dilakukan maka struktur menjadi tidak stabil dan penyelesaian

Pendahuluan

19

persamaan statik akan gagal. Contoh-contoh restraint pada dukungan


dijelaskan pada gambar 1.9.
3. Constrained, ialah joint yang displacement-nya ditentukan dari
displacement derajad kebebasan joint yang lain. Beberapa joint yang
merupakan bagian dari Constraint akan mempunyai satu atau lebih
derajad kebebasan yang tidak nol sesuai constraint-nya. Program
secara otomastis akan membuat master joint untuk menentukan
perilaku setiap constraint. Displacament satu derajad kebebasan
constraint akan dihitung secara kombinasi linier dari displacement
sesuai derajad kebebasan yang tergantung pada master joint.
4. Null, ialah joint yang displacementnya tidak mempengaruhi struktur
dan diabaikan pada analisis.
5. Unavailable, ialah joint yang displacement-nya ditiadakan dari
analisis.
Untuk membuat model struktur derajad kebebasan joint harus
ditentukan secara jelas. Default derajad kebebasan joint ialah enam
komponen seperti yang telah dijelaskan, dan biasanya untuk model
struktur tiga dimensi (3D). Derajad kebebasan joint yang tidak mungkin
ada sebaiknya dibatasi, misalnya pada bidang X-Z, struktur truss bidang
hanya memerlukan derajad kebebasan UX dan UZ, struktur frame bidang
hanya memerlukan derajad kebebasan UX, UZ dan RY, struktur grid
bidang hanya memerlukan derajad kebebasan UY, RX dan RZ.
4

7
8
5
6
3
1

Joint
1
2
3
4

1
Z

Jepit

Spring

2
Sendi

X
Rol

(a) Struktur Frame 3D

Restraint
U1, U2, U3
U3
U1, U2, U3, R1, R2, R3
Tidak ada

Global

Rol
Joint
Semua
1
2
3

3 Sendi

2 Jepit

Restraint
U3, R1, R2
U2
U1, U2, R3
U1, U2

X
Global

(b) Struktur Frame 2D Bidang X-Z

Gambar 1.9 Contoh restraint pada dukungan


Derajad kebebasan joint yang tidak ada displacement-nya dan
tidak dihitung nilainya, disebut derajad kebebasan unavailable. Beberapa
kekakuan, beban, massa, restraint atau constraint yang dikerjakan pada

20

Pendahuluan

derajad kebebasan unavailable ini akan diabaikan pada analisis. Derajad


kebebasan available ialah restraint, constraint, aktif atau null.
Beberapa dari enam derajad kebebasan joint, yang berupa translasi
maupun rotasi, pada struktur dapat ditentukan sebagai dukungan spring.
Dukungan spring ini menghubungkan joint yang dimaksud dengan tanah
dasar. Dukungan spring yang searah dengan restraint dari derajad
kebebasan tidak memberikan kekakuan pada struktur.
Gaya-gaya spring yang bekerja pada joint sesuai dengan
displacement joint yang bersangkutan dan diberikan dalam koefisien
kekakuan matrix simetris ukuran 6x6. Gaya-gaya spring ini cenderung
berlawanan dengan displacement. Koefisien kekakuan spring ditentukan
dengan sistem koordinat lokal pada joint. Gaya-gaya spring dan momen
F1, F2, F3, M1, M2, dan M3 pada joint ditentukan dengan persamaan berikut.

0
0 0 0 0 u 1
F1 u1
F
u
u2
0
0
0
0
2


2
F3
u3 0 0 0 u 3

=
r1 0 0 r1
M 1
M 2
sym.
r2 0 r2


M 3
r3 r3

(1.2)

dengan u1, u2, u3, r1, r2 dan r3 adalah displacement dan rotasi joint, dan u1,
u2, u3, r1, r2 dan r3 adalah koefisien kekakuan spring.
Displacement pada tanah dasar ujung spring dapat ditentukan sama
dengan nol atau tidak sama dengan nol. Displacement tidak sama dengan
nol biasanya digunakan untuk kasus pada model struktur yang mengalami
penurunan dukungan tertentu.
Komponen beban terpusat atau momen dapat dikerjakan pada
joint, dengan arah sesuai dengan arah sistem kordinat global seperti pada
gambar 1.10. Beban terpusat ini dapat diberikan dalam beberapa kondisi
pembebanan (Load Case). Gaya dan momen yang dikerjakan pada joint
dan searah dengan derajad kebebasan kekangan (restraint) joint, akan
ditambahkan pada reaksi dukungan yang searah, tetapi tidak
mempengaruhi gaya-gaya pada strukturnya.

Pendahuluan

21

rz
ry
ux

Sumbu Global
Asal

rx
Komponen
Beban Joint

uy

Gambar 1.10. Komponen beban pada joint


Apabila sebagian dari derajad kebebasan joint dikekang (restraint),
maka displacement pada joint tersebut sama dengan displacement tanah
sesuai dengan derajad kebebasan lokal. Hal ini dilakukan tanpa
memperhatikan apakah joint tersebut ada dukungan spring atau tidak.
Displacement tanah dasar dan juga displacement joint kondisi
pembebanannya dapat bervariasi mulai dari satu atau lebih. Apabila tidak
ada gaya displacement pada derajad kebebasan yang dikekang, maka
displacement joint tersebut sama dengan nol pada kondisi pembebanan
yang bersangkutan. Komponen displacement tanah dasar yang tidak searah
dengan derajad kebebasan yang dikekang bukan merupakan beban
struktur, tetapi hal ini dimungkinkan pada dukungan spring. Untuk
jelasnya lihat pada contoh gambar 1.11.

Pada dukungan Rol, komponen displacement


vertikal dukungan UZ= -0.8, dapat diberikan
pada joint akibat restraint arah vertikal (U3)

Z
X
Global

Displacement dukungan

3
Lokal
1
UX = +0.6
UZ = -0.8

Komponen displacement horisontal dukungan


UX= 0.6 tidak akan berpengaruh pada joint
karena pada arah horisontal (U1) ini joint
tidak dikekang (di-restraint)
Displacement U1 akan ditentukan pada
analisis

Gambar 1.11. Derajad kebebasan pada displacement tanah dasar

22

Pendahuluan

C. Massa
Pada analisis dinamik, massa struktur digunakan untuk
menghitung gaya-gaya inersia. Pada umumnya massa ditentukan dari
elemen menggunakan rapat massa dan volume elemen. Hal ini secara
otomatis akan menghasilkan massa terkelompok pada joint. Nilai massa
untuk semua elemen sama besarnya pada ketiga arah derajad kebebasan
translasi. Untuk analisis dinamik, dapat dilakukan tanpa memberikan data
momen inersia massa, tetapi derajad kebebasan rotasi tetap dihasilkan, dan
hal ini sudah mencukupi untuk beberapa analisis.
Massa terpusat, baik massa translasi maupun inersia massa dapat
ditempatkan pada joint. Massa ini dapat diberikan untuk ke-enam arah
derajad kebebasan di beberapa joint pada struktur. Untuk efisiensi dan
ketepatan hitungan, SAP2000 selalu menggunakan massa terkelompok
(lumped masses). Hal ini berarti tidak ada kopel massa diantara derajad
kebebasan joint atau diantara dua joint yang berbeda. Massa terkelompok
ini selalu berhubungan dengan sistem koordinat lokal untuk setiap joint.
Nilai massa yang diberikan searah dengan derajad kebebasan yang direstraint akan diabaikan.
Gaya-gaya dalam pada joint berhubungan dengan percepatan joint
yang bersangkutan, dan dinyatakan dengan matrix massa 6x6. Gaya-gaya
ini cenderung berlawanan dengan arah percepatan. Pada sistem koordinat
lokal joint, gaya inersia dan momen F1, F2, F3, M1, M2, dan M3 pada joint
ditentukan dengan persamaan :

0
0 0 0 0 u&&1
F1 u1
F
u2
0 0 0 0 u&&2
2
u3 0 0 0 u&&3
F3

=

r1 0 0 &r&1
M 1
M 2
sym.
r2 0 &r&2

M 3
r3 &r&3

(1.3)

dengan u&&1 , u&&2 , u&&3 , &r&1 , &r&2 dan &r&3 akselerasi translasi dan rotasi pada
joint, dan u1, u2, u3, r1, r2 dan r3 ialah nilai massa.

Pendahuluan

23

Tabel 1.2. Rumus untuk menghitung momen inersia massa


Bentuk pada
bidang

Diapragma segi-empat, dengan massa merata


per-unit luas.
Massa total diapragma = M (atau W/g)

d
pusat
massa
(pm)

b
Y

pusat
massa

Momen Inersia Massa terhadap sumbu vertikal


(normal bidang gambar) melalui pusat massa

d
pusat
massa

Diapragma segi-tiga, dengan massa merata


per-unit luas.
Massa total diapragma = M (atau W/g)
Diapragma lingkaran, dengan massa merata
per-unit luas.
Massa total diapragma = M (atau W/g)

Diapragma umum, dengan massa merata


per-unit luas.
Massa total diapragma = M (atau W/g)
X
Luas diapragma = A
Momen Inersia luasan terhadap sumbu X = Ix
Momen Inersia luasan terhadap sumbu Y = Iy

Y
pusat
massa

d
pusat
massa
(pm)

O
D

Diapragma garis, dengan massa merata


per-unit panjang.
Massa total diapragma = M (atau W/g)

Sumbu transformasi massa :


Jika massa berupa titik, dengan MMIo = O

Rumus

MMI pm =

M(b2 + d 2)
12

Gunakan rumus
umum

MMI pm =

MMI pm =

M d2
8

M(Ix + Iy)
A

MMI pm =

M d2
12

MMI pm= MMIo+MD2

pusat massa

Nilai massa harus diberikan dalam unit (satuan) yang konsisten


ialah W/g, dan momen inersia massa harus dalam satuan WL2/g. Dengan W
ialah berat, L ialah panjang, dan g ialah percepatan gravitasi. Nilai jaringan
massa pada tiap joint harus sama dengan nol atau positif, dan untuk
menghitung momen inersia massa dapat digunakan rumus-rumus yang
diberikan pada tabel 1.2.

D. Constraint Diapragma
Constraint diapragma menyebabkan semua joint yang di-constraint
bergerak bersama sebagai diapragma kaku yang berlawanan dengan
deformasi membran. Secara efektif, semua joint yang di-constraint

24

Pendahuluan

dihubungkan dengan Rigid Link efektif yang kaku pada bidang tersebut,
tetapi tidak mempengaruhi deformasi arah tegak lurus bidang. Constraint
diapragma ini dapat digunakan untuk :
Membuat model plat lantai beton, atau plat lantai beton deck, pada
bangunan gedung, yang mempunyai kekakuan besar searah bidang
lantai.
Membuat model diapragma pada lantai atas jembatan.
Plat Lantai Kaku
Joint yang
di-constraint

Joint yang
di-constraint

lo
Ba

Master Joint
Otomatis

Joint yang
di-constraint

Rigid Link
efektif
Kolom

Joint yang
di-constraint
Z

Global

Gambar 1.12. Constraint diapragma untuk memodelkan plat lantai kaku


Penggunaan constraint diapragma pada bagunan gedung akan
mengeliminasi masalah ketelitian numerik yang dihasilkan, apabila
kekakuan pada bidang lantai diapragma dimodelkan dengan elemen
membran. Hal ini juga sangat bermanfaat untuk analisis dinamik lateral
bangunan gedung, yang akan cukup signifikan mereduksi dimensi
persamaan eigenvalue yang harus diselesaikan. Penjelasan model lantai
diapragma ini diberikan pada gambar 1.12.
Hubungan tiap constraint diapragma ditentukan dengan dua atau
lebih joint bersama-sama. Joint dapat mempunyai lokasi sembarang, tetapi
untuk hasil yang terbaik semua joint sebaiknya terletak pada bidang

Pendahuluan

25

constraint. Hal ini akan memungkinkan terjadinya momen pada kekangan


oleh adanya constraint, sehingga kekakuan struktur menjadi tidak realistis.
Persamaan untuk setiap constraint diapragma ditentukan
berdasarkan bidang khusus. Letak bidang ini tidak penting, tetapi hanya
orientasinya yang perlu diperhatikan. Pada kondisi default, bidang ini
ditentukan secara otomatis oleh program dari kerenggangan distribusi joint
yang di-constraint. Apabila tidak diperoleh arah bidang yang khusus,
biasanya bidang horisontal (X-Y) diasumsikan, hal ini dapat terjadi bila
joint-joint tersebut secara kebetulan tergabung lurus, atau distribusi
kerenggangannya lebih mendekati tiga dimensi daripada bidang. Bidang
yang ditentukan secara otomatis oleh program ini dapat diabaikan dengan
menentukan sumbu normal global (X, Y atau Z) dari bidang constraint
tersebut.
Setiap constraint diapragma mempunyai sistem koordinat lokal,
yang diberi notasi dengan sumbu lokal 1, 2 dan 3, dengan sumbu lokal 3
selalu searah dengan normal bidang constraint-nya. Program secara
otomatis bebas memilih orientasi sumbu 1 dan 2 pada bidang constraint.
Orientasi sumbu-sumbu pada bidang constraint tidak penting, karena
hanya arah normal yang mempengaruhi persamaan constraint. Persamaan
constraint berhubungan dengan beberapa displacement dua joint yang
diconstraint (yang diberi subscript i dan j) pada bidang diapragma.
Persamaan ini diperlihatkan dengan translasi pada bidang (u1 dan u2),
rotasi (r3) terhadap normal, dan pada bidang koordinat (x1 dan x2), yang
semuanya itu disesuaikan dengan sistem koordinat lokal cosntraint sebagai
berikut :

u1j = u1i r3i x2


u2j = u2i + r3i x1
r3i = r3j
dengan x1 = x1j x1i dan x2 = x2j x2i

(1.4)

1.10. Analisis Statik Dan Dinamik


Analisis statik dan dinamik digunakan untuk menentukan respon
struktur dari berbagai variasi tipe beban. Sub bab ini memberikan
gambaran singkat dasar-dasar tipe analisis yang dapat dilakukan oleh
SAP2000. Bermacam tipe analisis yang berbeda dimungkinkan pada
SAP2000, antara lain :

26

Pendahuluan

Analisis statik
Analisis modal untuk mode getaran, menggunakan eigenvector atau
Ritz vector
Analisis Respon-spectrum untuk respon gempa

Tipe analisis yang berbeda tersebut semuanya dapat dilakukan


oleh program dalam eksekusi yang sama, beserta hasil kombinasi
outputnya, kecuali hal-hal sebagai berikut :
Analisis modal yang diperlukan untuk membentuk responsespectrum

Hanya satu tipe modal analisis yang dibentuk dalam sekali


eksekusi, ialah analisis eigenvalue atau analisis Ritz-vector

Setiap analisis yang dibentuk, masing-masing disebut analysis


case. Setiap analisis case, dapat diberi label sesuai dengan bagiannya.
Label ini dapat digunakan untuk membuat kombinasi tambahan dan untuk
mengontrol hasil output-nya. Beberapa tipe dasar analysis case ialah :
Load Case (kondisi pembebanan), atau simply Load ialah dasar
untuk menentukan distribusi beban yang berhubungan dengan hasil
analisis statik.
Mode, ialah eigenvector atau Ritz-vector, yang berhubungan
dengan frekuensi, yang dihasilkan dari analisis mode getaran
Spec, ialah hasil analisis response-spectrum dasar
Masing-masing tipe analisis tersebut jumlahnya dapat ditentukan
dalam beberapa analysis case, yang kemudian akan dihitung oleh program
dalam eksekusi tunggal. Kombinasi linier dan envelopes dari beberapa
analysis case dapat dilakukan oleh SAP2000.

A. Analisis Statik
Analisis statik struktur meliputi penyelesaian persamaan linier
yang diberikan oleh :
Ku=r
(1.5)
dengan K adalah matrix kekakuan struktur, r adalah vector beban, dan u
ialah vector displacement (Bathe and Wilson, 1976).

Pendahuluan

27

Untuk setiap load case (kondisi pembebanan) yang didefinisikan,


program akan secara otomatis membuat vector beban r dan menyelesaikan
displacement statik u. Setiap load case akan memperhitungkan :
Beban berat sendiri (self weight) pada elemen frame dan/atau shell
Beban terpusat dan beban merata pada elemen frame

Beban merata pada elemen shell


Gaya dan/atau beban displacement tanah dasar pada joint
Tipe beban lain yang diberikan pada SAP2000 Analysis Reference

Untuk lebih jelasnya lihat pada sub bab 1.8 tentang beban pada
struktur.

B. Beban Percepatan (Acceleration Loads)


Program secara otomatis akan menghitung beban percepatan yang
bekerja pada struktur akibat percepatan translasi pada tiga arah sumbu
global. Beban percepatan ini dintentukan berdasarkan prinsip dAlembert,
dan diberi notasi mx, my dan mz. Beban-beban ini digunakan untuk
menentukan percepatan tanah dasar pada analisis response-spectrum, dan
sebagai awal vector beban untuk analisis Ritz-vector.
Beban percepatan tersebut dihitung pada tiap joint dan elemen dan
dijumlahkan pada keseluruhan struktur. Beban percepatan untuk joint
negatif, besarnya ditentukan secara sederhana sama dengan translasi massa
joint positif pada sistem koordinat lokal joint. Beban ini kemudian
ditransformasikan ke sistem koordinat global.
Beban percepatan pada semua elemen adalah sama untuk berbagai
arah, dan besarnya sama dengan massa elemen negatif. Pada beban
percepatan elemen ini tidak diperlukan transformasi koordinat.
Beban percepatan dapat ditransformasikan kedalam beberapa
sistem koordinat. Pada sistem koordinat global, beban percepatan searah
sumbu X, Y dan Z positif diberi notasi UX, UY dan UZ. Pada sistem
koordinat lokal penentuan untuk analisis response-spectrum, beban
percepatan searah sumbu 1, 2 dan 3 positif diberi notasi U1, U2 dan U3.

C. Analisis Eigenvector
Eigenvector digunakan untuk analisis mode shape dan frekuensi
sistem getaran bebas tak teredam. Dengan analisis ini pengertian mode
alami pada perilaku struktur diberikan sangat baik. Hal ini dapat juga

28

Pendahuluan

digunakan sebagai basis analisis response-spectrum, meskipun analisis


Ritz-vector direkomendasikan untuk maksud ini.
Analisis eigenvector meliputi penyelesaian
eigenvector yang umum, seperti rumus berikut.

permasalahan

[K 2 M ] = 0
(1.6)
2
dengan K adalah matrix kekakuan, M matrix diagonal massa, matrix
diagonal eigenvalue, dan matrix yang berhubungan dengan eigenvector
(mode shapes).
Setiap pasangan eigenvector disebut mode getaran alami (natural
vibration mode) struktur. Mode tersebut ditunjukkan dengan memberi
nomor dari 1 sampai n sesuai jumlah yang diinginkan yang diperoleh
program.
Eigenvalue merupakan akar dari frekuensi sudut (circular
frequncy) , untuk mode tersebut. Frekuensi siklis f, dan periode T
merupakan fungsi , yang ditunjukkan dengan :

T=

dan f =
f
2

(1.7)

Data jumlah mode n yang akan dihitung harus diberikan sebelum


dilakukan analisis, kemudian program akan mencari mode frekuensi di
bawah n (periode terpanjang). Jumlah mode n yang akan dihitung
program, dibatasi oleh :

Jumlah data mode n yang diberikan sebelum analisis


Jumlah derajad kebebasan massa pada model struktur

Derajad kebebasan massa ialah beberapa derajad kebebasan aktif


yang mengikuti translasi massa atau rotasi momen inersia massa. Massa ini
sebaiknya diberikan langsung pada joint atau diperoleh dari pertemuan
elemen.

D. Analisis Ritz-vector
Peneltian yang telah dilakukan menunjukkan bahwa mode shape
getaran bebas alami, bukan penyelesaian terbaik untuk analisis superposisi
mode dari struktur akibat beban dinamik. Telah ditunjukkan bahwa
analisis dinamik yang didasarkan pada seperangkat khusus beban yang
saling tergantung dari hasil Ritz vector, memberikan hasil yang lebih

Pendahuluan

29

akurat daripada menggunakan jumlah mode shape alami yang sama


(Wilson dkk., 1982).
Alasan mengapa hasil analisis Ritz vector ini sangat bagus, ialah
karena Ritz vector ini dihasilkan untuk menghitung jarak distribusi beban
dinamik, hal ini mengingat penggunaan langsung mode shape alami
mengabaikan beberapa hal yang sangat penting.
Jarak distribusi vektor beban dinamik berfungsi sebagai starting
load vector (vektor beban awal) untuk memulai prosedur analisis. Ritz
vector yang pertama ialah vektor displacemenet statik yang berhubungan
dengan vektor beban awal. Vektor yang lain dihitung dari hasil
pengulangan yang merupakan fungsi dari matrix massa dikalikan dengan
Ritz vector yang dihitung sebelumnya, dan kemudian digunakan sebagai
vektor beban untuk penyelesaian statik berikutnya. Setiap penyelesaian
statik ini disebut generation cycle.
Apabila beban dinamik ditentukan atas beberapa jarak distribusi
yang tidak saling tergantung, tiap bagiannya mungkin akan dihitung
sebagai vektor beban awal untuk membangkitkan seperangkat Ritz vector.
Setiap siklus yang dibangkitkan dibuat sesuai dengan banyaknya Ritz
vector yang diperlukan pada vektor beban awal. Apabila pembangkitan
Ritz vector berlebihan atau tidak ada getaran pada beberapa derajad
kebebasan massanya, maka Ritz vector ini akan dibuang dan hubungan
vektor beban awal akan dihilangkan dari semua siklusnya.
SAP2000 menggunakan tiga beban percepatan sebagai vektor
beban awal. Hal ini akan menghasilkan response spectrum yang lebih baik
daripada menggunakan eigen mode dengan jumlah yang sama.
Jumlah mode, n, yang akan dihitung harus ditentukan. Jumlah
mode n, pada umumnya dibatasi oleh :
Jumlah mode n yang ditentukan sebelum analisis

Jumlah derajad kebebasan massa yang diberikan oleh model


struktur

Jumlah mode alami getaran bebas yang ditimbulkan vektor beban


awal (beberapa penambahan mode alami kemungkinan akan
menyebabkan gangguan numerik).

30

Pendahuluan

E. Hasil Analisis Modal


Beberapa property mode getaran yang dihasilkan oleh program
dapat dicetak dari program SAP2000. Informasi ini tidak memperhatikan
sama sekali apakah hasil analisis menggunakan eigenvector atau Ritz
vector, dan dijelaskan di bawah ini.
1. Frekuensi dan Periode, waktu getar dan frekuensi getaran diberikan
pada setiap mode sebagai berikut :
Periode (waktu getar) T, dengan satuan (unit) waktu, biasanya
dalam detik
Frekuensi getaran (cyclic frequency), f, dengan satuan siklus persatuan waktu, yang merupakan inverse dari T

Frekuensi sudut (circular frequency), , dengan satuan radian persatuan waktu, =2 f

Eigenvalue, 2 , dengan satuan radian per-satuan waktu kuadrat


2. Participation Factors, modal partipations factor adalah dot product
antara beban percepatan dengan mode shape. Participation factor untuk
mode ke n berhubungan dengan beban percepatan pada arah sumbu
global X, Y dan Z sebagai berikut :
fxn = nT mx
fyn = nT my

(1.8)

fzn = n mz
dengan n adalah mode shape dan mx , my, mz adalah satuan beban
percepatan. Biasanya faktor-faktor beban ini bekerja pada mode untuk
masing-masing beban percepatan, dan mengikuti sistem koordinat
global. Nilai ini disebut faktor, karena faktor tersebut merupakan
hubungan antara mode shape dan satuan percepatan. Mode shape
tersebut masing-masing dinormalisasikan, atau di-skala dengan
mengikuti matrix massa berikut :
T

nT M n = 1

(1.9)
Besaran nyata dan tanda participation factor tidak penting, tetapi yang
lebih penting ialah nilai relatif dari tiga faktor yang menghasilkan
mode.
3. Participating Mass Ratios, digunakan untuk mengontrol seberapa
cukup jumlah mode yang digunakan untuk menghitung respon beban
percepatan pada setiap arah sumbu global. Ini sangat diperlukan untuk

Pendahuluan

31

menentukan ketepatan analisis respon spektrum. Persamaan


Participating mass ratios untuk mode ke n yang berhubungan dengan
beban percepatan pada arah sumbu global X, Y dan Z diberikan
sebagai berikut :

p xn =
py n =
pz n =

( f xn )2
Mx

( f y n )2
My

(1.10)

( f z n )2
Mz

dengan fxn, fyn, dan fzn adalah participation factor yang telah dijelaskan
di depan, dan Mx, My, dan Mz total massa yang tidak dikekang yang
bekerja pada arah X, Y dan Z. Participating mass ratios ini disajikan
dalam nilai persentase. Jumlah kumulatif participating mass ratios
untuk semua mode hingga mode ke n, dicetak dalam masing-masing
nilai sebanyak n mode. Hal ini dapat digunakan dengan mudah untuk
mengontrol jumlah mode yang diperlukan untuk mencapai tingkat
ketelitian beban percepatan tanah yang diinginkan. Jika semua mode
eigen pada struktur telah dihasilkan, particpating mass ratios untuk
masing-masing dari tiga arah beban percepatan biasanya mendekati
100%.
4. Total massa yang tidak dikekang, Mx, My dan Mz, bekerja pada arah
sumbu global X, Y dan Z. Massa ini mungkin berbeda sekalipun tiga
massa translasi yang diberikan pada setiap joint nilainya sama, selama
restraint untuk ketiga arah translasi derajad kebebasan joint yang
diperlukan tidak sama. Letak pusat massa, Mx, My dan Mz, diberikan
dengan mengikuti sumbu global asal. Hal ini dapat digunakan
bersama-sama dengan nilai massa untuk menentukan momen yang
diakibatkan oleh beban percepatan.

F. Analisis Respon Spektrum


Persamaan keseimbangan dinamik gabungan dengan respon
struktur untuk gerakan tanah dituliskan sebagai :

&&(t) = m x u
&& gx (t) + m y u
&& gy (t) + m z u
&& gz (t) (1.11)
K u(t) + Cu&(t) + M u

32

Pendahuluan

dengan K adalah matrix kekakuan, C matrix redaman proporsional, M


&& ialah displacement relatif, kecepatan
matrix diagonal massa, u , u& dan u
dan percepatan yang sesuai gerakan tanah dasar; mx, my dan mz adalah
&&& dan u
&& gx , u
&& gz adalah komponen percepatan
unit beban percepatan; u
gy
tanah merata.
Analisis respon spektrum mencari kemungkinan respon
maksimum pada persamaan tersebut daripada time history penuh.
Percepatan gempa pada tanah dasar untuk setiap arah diberikan sebagai
kurva respon spektrum yang berupa respon Pseudo Spectral Acceleration
(PSA) dan periode struktur.
Sekalipun percepatan dapat ditentukan pada tiga arah, hanya satu
nilai positif yang dihasilkan untuk setiap jumlah respon. Jumlah respon ini
meliputi displacement, gaya dan tegangan. Masing-masing hasil hitungan
diberikan dalam bentuk statistik dari kemungkinan nilai maksimum untuk
jumlah respon tersebut. Respon sesungguhnya dapat diperkirakan untuk
variasi range diantara nilai positif dan negatif.
Tidak adanya hubungan antara dua jumlah respon yang berbeda
dimungkinkan. Tidak adanya informasi dimungkinkan bila nilai ekstrem
sesuai dengan waktu pembebanan gempa/seismik, atau sebagai nilai
jumlah respon yang lain pada saat itu.
Analisis respon spektrum diperoleh melalui superposisi mode
(Wilson and Button, 1982). Mode dapat dihitung menggunakan analisis
eigenvector atau analisis Ritz-vector. Analisis dengan Ritz vector dapat
digunakan selama analisis tersebut memberikan hasil yang lebih teliti
untuk jumlah mode yang sama.
Beberapa jumlah analisis respon spektrum dapat dihitung dalam
eksekusi tunggal oleh program. Setiap kondisi (case) analisis disebut Spec,
yang dapat diberi nama label yang khas. Masing-masing Spec percepatan
spectra yang dikerjakan dapat berbeda dan dengan jalan ini hasilnya
dikombinasikan.
Berikut ini diberikan beberapa gambaran lebih detil tentang
parameter-parameter yang digunakan untuk menentukan masing-masing
Spec.
1. Sistem koordinat lokal. Masing-masing Spec mempunyai sistem
koordinat lokal yang digunakan untuk menentukan arah beban

Pendahuluan

33

percepatan tanah. Sumbu-sumbu sistem koordinat lokal diberi notasi 1,


2 dan 3. Untuk kondisi default-nya sistem koordinat lokal ini
berhubungan dan mengikuti arah sistem koordinat global X, Y dan Z.
Orientasi sistem koordinat lokal dapat diubah dengan memberikan
sudut koordinat ang, yang nilai default-nya adalah nol. Arah sumbu
lokal 3 selalu searah dengan sumbu global Z, sedangkan sumbu lokal 2
dan 3 tepat berada pada sumbu global X dan Y apabila sudut ang sama
dengan nol. Dengan kata lain sudut ang ialah sudut pada bidang
horisontal dari sumbu global X terhadap sumbu lokal 1, diukur
berlawanan arah jarum jam dilihat dari atas. Untuk jelasnya dapat
dilihat pada gambar 1.13.

Z, 3
ang
2
ang
X

ang
1

Gambar 1.13. Definisi Respon Spektrum pada sistem koordinat lokal


2. Fungsi respon spektrum. Fungsi respon spektrum ialah merupakan
deretan pasangan bilangan antara periode dan pseudo-spectral
acceleration (PSA) struktur. Beberapa fungsi dapat didefinisikan
dengan masing-masing fungsi diberi label tersendiri, dan nilai
percepatannya dapat diberi skala. Pasangan nilai periode dan
percepatan tersebut ialah :
t0, f0, t1, f1, t2, f2, t3, f3, . , tn, fn
(1.12)
dengan n+1 ialah jumlah nilai pasangan yang diberikan. Semua nilai
periode dan percepatan harus sama dengan nol atau positif (>0), dan
nilai ini harus meningkat dari periode kecil ke besar.
3. Kurva respon spektrum. Untuk menentukan arah kurva respon
spektrum, ditunjukkan dengan hubungan nilai antara pseudo-spectral
acceleration (PSA) dengan periode struktur. Bentuk kurva diberikan
dengan menentukan nama fungsi dari respon spektrum. Apabila tidak

34

Pendahuluan

ada fungsi yang ditentukan, maka nilai pada fungsi unit percepatan
diasumsikan konstan. Respon pseudo-spectral acceleration dapat diberi
skala dengan faktor sf. Setelah diberikan skala, maka satuan
percepatan ini harus konsisten dengan satuan yang lain (lihat gambar
1.14). Kurva respons spektrum ditentukan dengan mewakili redaman
(damping) struktur yang dimodelkan. Perlu diingat bahwa redaman
merupakan satu kesatuan dengan kurva respon spektrum. Hal ini tidak
dipengaruhi oleh rasio redaman damp, yang digunakan pada
kombinasi modal dengan metode CQC atau GMC, meskipun nilai
kedua redaman ini biasanya sama. Apabila kurva respon spectrum
tidak ditentukan dalam interval periode yang cukup panjang untuk
meliputi mode getaran struktur, maka kurva tersebut diperpanjang
menjadi lebih besar menggunakan satu nilai percepatan konstan yang
sama dengan nilai terdekat dari periode yang ditentukan.
4. Kombinasi Modal. Untuk memberi arah percepatan, displacement
maksimum, gaya, dan tegangan pada seluruh struktur dihitung untuk
setiap mode getaran. Nilai modal ini digunakan untuk menentukan
banyaknya respon yang dikombinasi untuk satu hasil. Hasil yang
positif untuk menentukan arah percepatan dapat digunakan salah satu
metode yang dijelaskan di bawah ini. Paramater mode dipakai dalam
menentukan metode yang digunakan.
Metode CQC. Menentukan mode=CQC maksudnya ialah
mengkombinasikan hasil modal dengan teknik Complete Quadratic
Combination (CQC) yang dijelaskan oleh Wilson dkk. (1981).
Teknik ini merupakan metode default untuk mengkombinasi modal.
Metode CQC digunakan kedalam hitungan perangkai statistik
diantara mode ruang tertutup yang disebabkan redaman modal.
Rasio redaman CQC, damp, dapat ditentukan besarnya sebagai
bagian dari redaman kritis dengan nilai 0<damp<1.

Metode GMC. Menentukan mode=GMC maksudnya ialah


mengkombinasi hasil modal dengan teknik General Modal
Combination (GMC). Cara ini sama dengan prosedur Complete
Modal Combination yang dikemukana Gupta (1990). Metode GMC
diperlukan dalam hitungan perangkai statistik antara mode ruang
tertutup yang mirip dengan metode CQC, tetapi hanya termasuk
korelasi antara mode dengan isi respon rigid. Seperti metode CQC
nilai rasio redaman damp dapat diberikan dengan nilai 0<damp<1.
Redaman yang lebih besar menyebabkan penambahan perangkai

Pendahuluan

35

antara mode ruang tertutup. Metode GMC ini memerlukan dua


frekuensi f1 dan f2, yang akan menentukan isi rigid respon dari
gerakan tanah, dan nilai frekuensi ini harus memenuhi 0<f1<f2.
Bagian-bagian dari rigid respon untuk semua mode diasumsikan
berhubungan sempurna. Metode GMC mengasumsikan tidak ada
rigid respon untuk nilai di bawah f1, rigid respon sempurna untuk
nilai di atas f2, dan diantara f1 dan f2 nilainya dihitung dengan
interpolasi.
1.20
1.00

PSA

0.80
0.60
0.40
0.20
0.00
0

Periode (detik)

Gambar 1.14. Contoh kurva respon spektrum


Frekuensi f1 dan f2 merupakan property dari input gempa, bukan
dari struktur. Gupta mendifinisikan f1 sebagai :

f1 =

S Amax
2 SVmax

(1.13)

dengan SAmax ialah maksimum percepatan spectral, dan SVmax ialah


maksimum kecepatan spectral gerakan tanah.
Gupta mendifinisikan f2 dengan :

f2 =

1
2
f1 + f v
3
3

(1.14)

36

Pendahuluan
dengan fv adalah rigid frekuensi dari input gempa, sebagai contoh,
pada frekuensi di atas percepatan spectral dasar konstan dan pada
nilai periode sama dengan nol (frekuensi tak berhingga). Beberapa
ahli menentukan nilai f2 dengan :
f2 = fv
(1.15)
nilai default f2 adalah nol, yang menunjukkan frekuensi tak
berhingga, dan untuk metode GMC akan memberikan hasil yang
mirip dengan metode CQC.

Metode SRSS. Menentukan mode=SRSS maksudnya ialah


mengkombinasikan hasil modal dengan mengambil Square root of
the Sum of their Squares (SRSS), atau mengambil akar dari jumlah
kuadratnya.
Metode Absolut Sum. Menentukan mode=ABS maksudnya ialah
mengkombinasikan hasil modal dengan menjumlahkan nilai-nilai
absolutnya. Metode ini biasanya sangat konservatif.
5. Arah Kombinasi. Masing-masing displacement, gaya atau tegangan
pada struktur, kombinasi modalnya akan menghasilkan nilai tunggal,
positif untuk masing-masing arah percepatan. Besarnya arah untuk
menentukan jumlah respon dikombinasikan untuk menghasilkan nilai
tunggal, dan hasil yang positif. Dengan menggunakan faktor skala
kombinasi arah, dirf, digunakan untuk menentukan metode yang
dipakai.
Pada metode SRSS, menentukan dirf=0 digunakan untuk
mengkombinasikan hasil arah yang tetap mengikuti sistem
koordinat, sebagai contoh, hasil arahnya tidak tergantung pada
pilihan sistem koordinat apabila kurva respon spektrum yang
diberikan arahnya sama. Metode ini direkomendasikan untuk arah
kombinasi yang sesuai defaultnya.
Pada metode ABS, menentukan dirf=1 digunakan untuk
mengkombinasikan hasil arah dengan menjumlahkan nilai-nilai
absolutnya.
Pada metode Scaled Absolute Sum Method, menentukan 0<dirf<1
digunakan untuk mengkombinasikan hasil arah dengan memberikan
skala pada metode Absolut Sum. Dengan cara ini arah hasilnya
dikombinasikan dengan nilai maksimum pada semua arah, dari
jumlah absolut nilai response dalam satu arah ditambah dengan dirf

Pendahuluan

37

dikalikan dengan respon pada arah yang lain. Sebagai contoh, jika
dirf=0.3, maka respons khusus R, untuk memberikan displacement,
gaya atau tegangan akan sama dengan :

R = max ( R1 , R2 , R3 )
dengan

R1 = R1 + 0.3 ( R2 + R3 ) ,

(1.16)

R2 = R2 + 0.3 ( R1 + R3 ) ,

R3 = R3 + 0.3 (R1 + R2 ) , dan R1, R2, R3 ialah nilai kombinasi


modal pada masing-masing arah.
Hasil-hasil yang diperoleh dari metode ini akan bervariasi
tergantung pada sistem koordinat yang dipilih. Hasil yang diperoleh
dengan nilai dirf=0.3 sebanding dengan metode SRSS untuk input
spectra yang sama pada tiap arah, tetapi mungkin >8% tidak
konservatif atau 4% lebih konservatif, tergantung pada sistem
koordinat. Nilai yang lebih besar dari dirf, cenderung menghasilkan
nilai yang konservatif.

G. Hasil Analisis Respon Spektrum


Informasi mengenai analisis respon spektrum dapat dicetak dari
SAP2000, dan beberapa informasi ini dijelaskan sebagai berikut.
1. Redaman modal dan percepatan tanah yang bekerja pada tiap arah
diberikan untuk setiap mode. Nilai redaman dicetak untuk tiap mode
dengan rasio redaman damp, yang ditentukan dari CQC atau GMC.
Percepatan dicetak untuk tiap mode dengan nilai aktualnya diinterpolasi pada periode modal dari kurva respon spectrum setelah
diberikan nilai skala dengan sf. Percepatan selalu mengikuti sumbu
lokal dari analisis response spektrum, dan diindetifikasi dengan U1,
U2 dan U3.
2. Amplitudo modal respon spektrum diberikan dengan mengalikan
mode shape yang diperoleh dengan menggantikan bentuk struktur pada
tiap arah percepatan. Untuk menentukan mode dan arah percepatan,
dihasilkan dari modal participation factor dan percepatan respon
spektrum, dibagi dengan eigenvalue , 2, dari mode. Arah percepatan
selalu mengikuti sumbu lokal analisis respon spektrum, dan
diindetifikasi dengan U1, U2 dan U3.
3. Base Reactions adalah total gaya dan momen searah dengan koordinat
global yang terjadi pada dukungan (Restraint dan Spring) untuk
menahan gaya inersia akibat beban respon spektrum. Hasil ini dicetak

38

Pendahuluan
untuk masing-masing mode setelah membentuk arah kombinasi saja,
dan kemudian dijumlah untuk semua mode setelah membentuk
kombinasi modal dan arah kombinasi. Gaya reaksi dan momen selalu
mengikuti sumbu lokal analisis respon spektrum, dan output-nya diberi
notasi dengan F1, F2, F3, M1, M2 dan M3.

1.11. Output Gaya-gaya Dalam


Gaya-gaya dalam pada elemen frame merupakan gaya dan momen
yang dihasilkan dari penjumlahan tegangan pada potongan penampang
elemen. Gaya-gaya dalam tersebut antara lain :
P, gaya aksial

V2, gaya geser pada bidang 1-2


V3, gaya geser pada bidang 1-3
T, momen torsi aksial
M2, momen pada bidang 1-3 (momen terhadap sumbu-2)
M3, momen pada bidang 1-2 (momen terhadap sumbu-3)
Sumbu 2

V2
Sisi Tekan

Sumbu 2

Sumbu 1
T

P
M3

M3

Sumbu 1

Sumbu 3
Sisi Tarik

Sumbu 3
P

V2

(a) Aksial dan Torsi Positif

(b) Momen dan Geser Positif Pada Bidang 1-2


Sumbu 2

M2
Sumbu 1

Sisi Tarik

V3
Sisi Tekan

V3
Sumbu 3
M2

(c) Momen dan Geser Positif Pada Bidang 1-3

Gambar 1.15. Gaya dan momen internal elemen frame

Pendahuluan

39

Semua gaya dan momen ini diberikan pada setiap potongan


sepanjang elemen.
Konvensi tanda ditunjukkan pada gambar 1.15. Gaya positif
internal dan torsi aksial yang bekerja pada sisi 1 positif berorientasi pada
arah positif dari koordinat sumbu lokal elemen. Gaya positif internal dan
torsi aksial yang bekerja pada sisi negatif berorientasi pada arah negatif
dari koordinat sumbu lokal elemen.
Momen positif menyebabkan tekanan pada sisi positif 2 dan 3 dan
tarikan pada sisi negatif 2 dan 3. Sisi positif 2 dan 3 adalah sisi-sisi pada
arah positif sumbu lokal 2 dan 3, yang dibuat dari garis netral. Momen dan
gaya internal dihitung pada titik-titik dengan jarak yang sama sepanjang
elemen. Parameter nseg dapat diberikan untuk menentukan jumlah segmen
dengan jarak yang sama di sepanjang elemen diantara titik output (ujung).
Untuk nilai default nseg=2, hasil output diberikan pada kedua ujung dan di
tengah elemen.
Gaya-gaya internal elemen frame dihitung untuk semua kondisi
analisis yang meliputi : Beban, Mode, dan Spec. Perlu diketahui bahwa
hasil respon spektrum selalu mempunyai nilai positif, dan hasil yang
bersesuaian diantara nilai yang berbeda akan dihapus.
Apabila End Offset diberikan pada ujung-ujung elemen, maka
output gaya-gaya dan momen internal diberikan pada sisi dukungan dan
pada titik-titik nseg1 dengan jarak sama disepanjang bentang bersih
elemen. Pada daerah sepanjang end offset dan pada joint gaya-gaya output
ini tidak ada. Output gaya-gaya dan momen pada joint i dan j hanya ada
jika nilai end offset sama dengan nol.

BAB II
MENU PADA PROGRAM SAP2000
2.1. Umum
SAP2000 menyediakan beberapa pilihan, antara lain membuat
model struktur baru, memodifikasi dan merancang (mendisain) elemen
struktur. Semua hal tersebut dapat dilakukan melalui user interface yang
sama. Keistimewaan program ini ialah kemampuan dan kelengkapannya
dalam memadukan modul analisis struktur dengan modul untuk
perancangan elemen struktur. Modul perancangan yang disediakan ialah
untuk struktur beton dan baja
Program ini dirancang sangat interaktif, sehingga beberapa hal
dapat dilakukan, misalnya mengontrol kondisi tegangan pada elemen
struktur, mengubah dimensi batang, dan mengganti peraturan (code)
perancangan tanpa harus mengulang analisis struktur.
Pada bab ini dibahas beberapa menu yang ada pada SAP2000 versi
7.42 secara ringkas, khususnya untuk analisis model struktur frame.
Beberapa hal umum yang perlu diketahui bagi yang baru mempelajari
SAP2000 juga diberikan penjelasannya sebagai berikut.
A. New Interface
1. SAP2000 versi terbaru telah terpadu dalam operasi windows secara
penuh.
2. Model yang dibuat, dianalisis, didisain dan keluaran hasilnya
ditampilkan pada window (jendela) yang sama.
3. Model dapat ditampilkan dalam beberapa window, maksimum 4
window.
4. Fasilitas
toolbar
untuk
zoom
memungkinkan untuk menentukan window menjadi besar(zoom in)
atau kecil (zoom out).
5. Elemen frame yang ditampilkan dalam garis tunggal adalah sumbu
pusat beratnya (centrelines).

42

Menu Pada Program SAP2000

6. Model dapat juga ditampilkan dalam pandangan perspektif dengan


menekan toolbar
7. Konteks help yang diinginkan dapat ditampilkan dalam bentuk form
dengan menekan tombol mouse kanan.
8. Informasi detail tentang batang dan joint pada model dimungkinkan
juga dengan menekan tombol mouse kanan pada batang atau joint
yang diinginkan, misalnya tentang diagram momen, displacements
joint, atau connectivity dan lain sebagainya.
B. Konvensi Perancangan
Konvensi tanda untuk masing-masing gaya dalam perancangan
yang ditulis pada beberapa buku saling berbeda untuk berbagai macam tipe
struktur. Pada SAP2000 ini momen yang mengakibatkan tegangan tekan
pada sisi/serat positif diberi tanda positif, dan gaya aksial yang
mengakibatkan tarik pada batang diberi tanda positif.
C. Noun-Verb
Semua perintah pada SAP2000 dikerjakan dalam mode NounVerb, maksudnya ialah pertama-tama dipilih obyek lebih dahulu,
kemudian baru dikerjakan. Sebagai contoh, jika akan menghapus sebuah
batang dari model, pertama ialah memilih batang yang ingin dihapus, dan
kemudian tekan tombol del dari papan ketik, atau melalui menu Edit,
kemudian Delete.
D. SAP2000 Mempunyai 2 Mode
SAP2000 mempunyai 2 macam mode (cara) yang sangat jelas,
ialah DRAW dan SELECT. Sebagai contoh menu DISPLAY dan ASSIGN
ialah merupakan mode SELECT.
E. Mode Select
Apabila SAP2000 tidak dalam mode DRAW, SELECT merupakan
mode default-nya. Hal ini memungkinkan untuk melakukan banyak pilihan
dan kemudian melakukan suatu penugasan pada obyek yang dipilih.
Menu-menu yang menangani mode Select ini ialah menu Display, Assign,
Design, Output atau Delete.

Menu Pada Program SAP2000

43

F. Setup Sistem Koordinat


Untuk melakukan setup sistem koordinat pada model yang baru
dilakukan dengan :
1. Dari menu File, klik New Model
2. Pilih pada tab Cartesian atau Cylindrical
3. Ketikkan jumlah grid dan jaraknya, kemudian klik OK
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Untuk menambah sistem koordinat yang lain, dilakukan dengan :


Pada menu Options, klik Set Coordinate System
Klik Add new System
Pilih pada tab Cartesian atau Cylindrical
Ketikkan pada System Name untuk menentukan nama Sistem
Koordinat yang baru
Ketikkan jumlah grid dan jaraknya
Klik pada Advanced untuk menentukan spesifikasi Location and
Orientation
Klik Ok, Ok dan Ok.

Tip : Anda dapat menambahkan grid baru dengan memilih Reshape Element
dari toolbar, caranya, tekan tombol CTRL dan kemudian tarik grid yang
sudah ada ke posisi yang baru. Hal ini dapat juga dilakukan dengan
menggunakan perintah Edit Grid dari menu Draw, caranya klik ganda
(double clicking) pada grid yang sudah ada, maka dialog box Edit Grid
akan ditampilkan, kemudian baru dapat dilakukan modifikasi atau
menambah grid baru.

G. Elemen Frame
Untuk elemen frame konvensi perancangan dijelaskan seperti pada
gambar 2.1.
H. Elemen Shell
Pada elemen Shell FINT = F intermediate, lihat gambar 2.2

FVM =

1
(FMAX FINT)2 + (FMAX FMIN)2 + (FINT FMIN)2
2

I. Elemen Asolid
Pada elemen Asolid SINT = F intermediate, lihat gambar 2.3

44

Menu Pada Program SAP2000

1
(SMAX SINT )2 + (SMAX SMIN )2 + (SINT SMIN )2
2

SVM =

}
Sumbu 1

Sumbu 1

Sumbu 2
ng 1
Bida

-2

Sumbu 2

Ujung J

n
Bida

P
T

3
g 1-

T
Z Ujung I

Sumbu 3

Sumbu 3

(b) Gaya Aksial dan Torsi Positif

(a) Sumbu Lokal Elemen Frame


Y

M2

V2

Koordinat Global

Sumbu 1

Sumbu 1
Sumbu 2

Sumbu 2

V3

M3
V3

M3

Sumbu 3

V2

Sumbu 3

M2

(d) Momen dan Geser Positif Pada Bidang 1-3

(c) Momen dan Geser Positif Pada Bidang 1-2

Gambar 2.1. Konvensi tanda untuk elemen frame


Sumbu 3

Sisi 3

Sisi 2

J4

Sumbu 2

Sumbu 3

Sisi 6 : Atas (sisi +3)


Sisi 5 : Bawah (sisi -3)
Sumbu 2

Sumbu 1

Sisi 2
Sumbu 1

J3

J2
J3

J2
Sisi 3

Sisi 4

Sisi 1

Sisi 1
J1

J1

(a) Elemen Shell Quadrilateral 4 nodal


Sumbu 2

in
Fm

(b) Elemen Shell Segitiga 3 nodal


ax
Fm

Mm

Sumbu 2

J4

J3

Sumbu 1

F12

F12

Gaya-gaya ialah per-unit


panjang bidang
Gaya geser dan tegangan positif
bekerja pada sisi positif
ke arah pemandang
J2

J1
(c) Gaya-gaya Membran

ax

Sumbu 1

Sudut
M12

J3
F11

Mm

J4
Sudut

F22

in

M22
M12
M11

Momen ialah per-unit


panjang bidang

J1

J2
(d) Plat lentur dan Momen puntir

Gambar 2.2. Tegangan pada elemen Shell

Menu Pada Program SAP2000

J9

J7

Joint yang diperlukan


Joint optional

J8

Sisi 3

Sisi 2

Sisi 3

Sisi 2

45

J6

J7
J5

J1
J4

J3

Sisi 1

Sisi 4

J2

J1

J3

Sisi 1

(a) Elemen Quadrilateral 4 sampai 9 Nodal


Y(2)

Z(2)

S22

(b) Elemen Segitiga 3 Nodal


X(2)

S22

S22

S12

S12

S12

S12

S12

S12
S11

S11

S11

X(1)

Z(3)

Y(1)

X(3)

Z(1)

Y(3)

(c) Koordinat Global

Gambar 2.3. Tegangan pada elemen Asolid


J. Elemen Solid
Tegangan-tegangan pada elemen Solid ditunjukkan pada gambar
2.4
J8
S33

Sisi 2
Sisi 3

S23
S13

J6
J7

Sisi 6

S23
S13

J4

S12

S22
S12

S11
J2
J5

Z(3)

Sisi 1

Sisi 4
Sisi 5

J3

Y(2)
Koordinat Global

J1
(a) Elemen Solid 8 nodal

X(1)
(b) Tegangan pada elemen Solid

Gambar 2.4. Tegangan pada elemen Solid

46

Menu Pada Program SAP2000

2.2. Menu File

Menu File pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu seperti
pada gambar 2.5, dan dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 2.5. Item Menu pada Menu File


1. Item Menu New Model . Item Menu ini digunakan untuk
membuat model baru dengan koordinat Cartesian atau Cylindrical.
Dari Item Menu ini dapat ditentukan jumlah grid untuk arah sumbu
global X, Y, Z dan jaraknya.
2. Item Menu New Model From Template... Item Menu ini digunakan
untuk membuat model baru dari template yang ada pada SAP2000.
Macam model yang ada pada template ditunjukkan seperti gambar 2.6.
3. Item Menu Open... Item Menu ini digunakan untuk membuka file
atau berkas yang pernah disimpan sebelumnya. File yang dibuka ialah
file yang mempunyai ekstensi *.SDB.
4. Item Menu Save... Item Menu ini digunakan untuk menyimpan
file/model yang sudah dibuat dengan ekstension *.SDB. Untuk

Menu Pada Program SAP2000

47

menyimpan file anda tidak perlu menambah ekstension .SDB, karena


program dengan sendirinya akan memberikan ekstensionnya.

Gambar 2.6. Pilihan Template


5. Item Menu Save As... Item Menu ini digunakan untuk menyimpan
file/model yang sudah dibuat/dibuka dengan nama baru.
6. Item Menu Import... Item Menu ini digunakan untuk meng-import
file yang telah disimpan dengan program SAP90 atau SAP2000 yang
berupa file teks yang mempunyai ekstensi *.$2K. Untuk mengimport
file dari SAP90 sebaiknya data tersebut telah di-eksekusi dengan
SAP90 dan tidak ada warning atau error. Fasiltas import ini dapat
juga digunakan untuk mengimport file DXF dari Autocad R12, R13
dan R14.
7. Item Menu Export... Item Menu ini digunakan untuk menyimpan
data file SAP2000 dalam bentuk teks yang dapat dibuka dengan
program lain. File teks ini dapat digunakan untuk recovering, bila data
aslinya rusak atau tidak dapat dibuka lagi. Fasiltas export ini dapat
juga digunakan untuk mengexport file dengan ekstensi DXF yang
dapat dibuka dengan program Autocad R12, R13 dan R14.

48

Menu Pada Program SAP2000

8. Item Menu Create Video... Item Menu ini digunakan untuk


menampilkan File Video dari Time History dan video dari Cyclic
Animation.
9. Item Menu Print Setup... Item Menu ini digunakan untuk men-setup
data yang perlu ditampilkan, sebelum data tersebut dicetak ke printer.
10. Item Menu Print Grapics... Item Menu ini digunakan untuk
mencetak gambar yang ditampilkan pada layar ke printer.
11. Item Menu Print Input Table... Item Menu ini digunakan untuk
mencetak semua input dalam bentuk tabel.
12. Item Menu Print Output Table... Item Menu ini digunakan untuk
mencetak semua output yang diinginkan dalam bentuk tabel.
13. Item Menu Print Design Table... Item Menu ini digunakan untuk
mencetak input/output hasil disain yang diinginkan dalam bentuk
tabel.
14. Item Menu User Comment and Session Log... Item Menu ini
digunakan untuk menambah catatan-catatan pada file model.
15. Item Menu Display Input/Output Text Files... Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan file input/output hasil disain model.
2.3. Menu Edit

Menu Edit pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu seperti
pada gam,bar 2.7 dan dijelaskan sebagai berikut.
1. Item Menu Undo... Item Menu ini digunakan untuk membatalkan
perintah yang terakhir diberikan.
2. Item Menu Redo... Item Menu ini digunakan untuk mengembalikan
pada kondisi semula sebelum perintah Undo dikerjakan. Jadi Redo
merupakan kebalikan perintah Undo.
3. Item Menu Cut. Item Menu ini digunakan untuk menghapus obyek
yang telah dipilih, tetapi dapat ditampilkan kembali dengan perintah
Paste.
4. Item Menu Copy. Item Menu ini digunakan untuk mengcopy obyek
yang telah dipilih, kemudian dilakukan Paste untuk menduplikasi
obyek.

Menu Pada Program SAP2000

49

Gambar 2.7. Item Menu pada Menu Edit


5. Item Menu Delete. Item Menu ini digunakan untuk menghapus
obyek yang telah dipilih.
6. Item Menu Add To Model From Template... Item Menu ini
digunakan untuk menambah model dari template.
7. Item Menu Merge Joints. Item Menu ini digunakan untuk
menggabung joint dengan toleransi yang diinginkan.
8. Item Menu Move. Item Menu ini digunakan untuk memindahkan
obyek yang telah dipilih, baik joint maupun elemen.
9. Item Menu Replicate. Item Menu ini digunakan untuk men-generate
model yang besar. Replicate yang dapat dilakukan ialah dengan
Linear Array, Radial Array, Radial Array by Shifting the Origin
dan Replicate by Using the Mirroring Option.
10. Item Menu Divide Frames. Item Menu ini digunakan untuk
membagi elemen frame menjadi beberapa elemen yang diinginkan.
11. Item Menu Mesh Shells... Item Menu ini digunakan untuk membagi
elemen shell menjadi beberapa elemen yang diinginkan.

50

Menu Pada Program SAP2000

12. Item Menu Join Frames. Item Menu ini digunakan untuk
menggabung beberapa elemen frame menjadi satu elemen frame saja,
joint yang tidak digunakan dengan sendirinya akan dihapus.
13. Item Menu Disconnect. Item Menu ini digunakan untuk memisahkan
dua elemen yang digabungkan oleh sebuah joint, program dengan
sendirinya akan menambahkan joint yang baru.
14. Item Menu Connect. Item Menu ini digunakan untuk menggabung
dua elemen yang terpisah menjadi satu elemen saja.
15. Item Menu Show Duplicates. Item Menu ini digunakan untuk
memilih duplicate joint, frame, shell, asolid, dan solid dari seluruh
struktur.
16. Item Menu Change Labels. Pada SAP2000 semua nomor joint dan
elemen dengan sendirinya akan diberi label/nomor oleh program. Item
Menu ini digunakan untuk mengubah label joint dan elemen.
2.4. Menu View

Menu View pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.8 dan dijelaskan sebagai berikut.
1. Item Menu Set 3D View... Item Menu ini digunakan untuk mengatur
tampilan model dalam pandangan 3 dimensi.

Gambar 2.8. Item Menu pada Menu View

Menu Pada Program SAP2000

51

2. Item Menu Set 2D View... Item Menu ini digunakan untuk mengatur
tampilan model dalam pandangan 2 dimensi dengan pilihan bidang XY, X-Z atau Y-Z .
3. Item Menu Set Limits... Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model dalam batas-batas yang diinginkan pengguna.
Batas-batas tersebut ditentukan berdasarkan sumbu-sumbu X,Y, dan Z.
4. Item Menu Set Elements... Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model dalam seting elemen yang diinginkan, misalnya
ingin ditampilkan nomor joint, nomor elemen, section elemen dan lain
sebagainya.
5. Item Menu Rubberband Zoom. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model dalam zoom dengan cara windowing, yaitu
dengan mengotaki obyek yang ingin di-zoom.
6. Item Menu Restore Full View. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model dalam pandangan penuh atau keseluruhan model
ditampilkan .
7. Item Menu Previuos Zoom. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model dalam pandangan sebelumnya.
8. Item Menu Zoom In One Step. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan zoom model dalam satu langkah atau sedikit demi
sedikit.
9. Item Menu Zoom Out One Step. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model kebalikan dari butir 8 di atas.
10. Item Menu Pan. Item Menu ini digunakan untuk menampilkan
model dengan cara menggeser dengan mouse untuk memilih obyek
yang ingin dilihat.
11. Item Menu Show Grid. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan garis grid, jika tanda checked ( )dalam keadaan on/true.
Jika garis grid tidak ingin ditampilkan maka klik pada Item Menu ini
sehingga tanda tidak tampil.
12. Item Menu Show Axes. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan sumbu global X, Y, Z, jika tanda checked ( ) dalam
keadaan on/true. Jika sumbu global tidak ingin ditampilkan maka klik
pada Item Menu ini sehingga tanda tidak tampil.
13. Item Menu Show Selection Only. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model yang sebelumnya telah dipilih.

52

Menu Pada Program SAP2000

14. Item Menu Show All. Item Menu ini digunakan untuk menampilkan
seluruh model, jika sebelumnya dipilih Item Menu Show Selection
Only.
15. Item Menu Save Name View... Item Menu ini digunakan untuk
menyimpan hasil tampilan yang telah dipilih.
16. Item Menu Show Name View... Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model yang hasil tampilannya telah disimpan pada buitr
15 di atas.
17. Item Menu Refresh Window. Item Menu ini digunakan untuk
membersihkan jendela layar dari joint yang tidak digunakan dan lain
sebagainya, jika sebelumnya telah dilakukan penghapusan elemen.
18. Item Menu Refresh View. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model secara penuh setelah adanya penambahan grid
dan sebagainya, yang sebelumnya tidak nampak di layar.
19. Item Menu Refine Hidden Lines. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan hasil yang lebih baik garis-garis yang tersembunyi.
2.5. Menu Define

Menu Define pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.9 dan dijelaskan sebagai berikut.
1. Item Menu Materials... Item Menu ini digunakan untuk menentukan
tipe material yang akan digunakan pada model struktur. Material
default yang tersedia ialah baja (STEEL), beton (CONC) dan OTHER,
dari Item Menu ini dapat ditentukan kuat bahan, modulus elastis
bahan, berat volume bahan, massa bahan dan sebagainya.
2. Item Menu Frame Sections... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan bentuk penampang potongan elemen frame, misalnya
bentuk segi empat, siku, lingkaran, siku ganda (2L), dan lain
sebagainya. Dari Item Menu ini dapat juga dimport daftar profil yang
sudah ada pada SAP2000, file-file AISC.PRO, CISC.PRO,
EURO.PRO dan SECTIONS.PRO.
3. Item Menu Shell Sections... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan nama material, tipe shell, plate atau membrane pada
elemen shell.
4. Item Menu NLLink Properties... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan tipe material Non Linier Link yang akan digunakan. Tipe

Menu Pada Program SAP2000

53

NLLink yang tersedia ialah Damper, Gap, Hook, Plastic1, Isolator1


atau Isolator2.

Gambar 2.9. Item Menu pada Menu Define


5. Item Menu Static Load Cases... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan tipe pembebanan yang akan dikerjakan pada struktur,
misalnya beban mati (Dead), beban hidup (Live), beban Gempa
(Quake) dan lain sebagainya.
6. Item Menu Moving Loads Cases... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan tipe beban kendaraan yang akan dikerjakan pada
jembatan.
7. Item Menu Joint Patterns... Item Menu ini digunakan untuk
menambahkan joint pattern selain defaultnya, yang nantinya
digunakan pada Item Menu Assign Joint Patterns.
8. Item Menu Groups... Item Menu ini digunakan untuk menambahkan
nama group.
9. Item Menu Response Spectrum Functions... Item Menu ini
digunakan untuk menentukan fungsi Response Spectrum yang akan
digunakan untuk analisis dinamik. Fungsi Response Spectrum dapat
dipilih dari data yang sudah ada pada SAP2000, dari file, atau dapat
menentukan sendiri.
10. Item Menu Time History Functions... Item Menu ini digunakan
untuk menentukan fungsi Time History yang akan digunakan untuk

54

11.

12.

13.
14.
15.

Menu Pada Program SAP2000

analisis dinamik. Fungsi Time History dapat dipilih dari data yang
sudah ada pada SAP2000, dari file atau menentukan sendiri.
Item Menu Response Spectrum Cases... Item Menu ini digunakan
untuk menentukan tipe Response Spectrum yang akan digunakan
sesuai data pada butir 9. Pada Item Menu ini dapat ditentukan antara
lain sudut eksitasi, modal combination (CQC, SRSS, ABS dan
GMC), rasio redaman (damping), input response dan skala percepatan.
Item Menu Time History Cases... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan tipe Time History yang akan digunakan sesuai data pada
butir 10.
Item Menu Hinge Properties... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan property sendi yang digunakan pada analisis non linier.
Item Menu Static Pushover Cases... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan beban Pusover pada analisis non linier.
Item Menu Load Combinations... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan kombinasi pembebanan yang diinginkan sesuai
peraturan/code.

2.6. Menu Draw

Menu Draw pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.10 dan dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 2.10. Item Menu pada Menu Draw

Menu Pada Program SAP2000

55

1. Item Menu Reshape Element. Item Menu ini digunakan untuk


mengubah/memindah elemen atau untuk memindahkan joint.
2. Item Menu Add Special Joint. Item Menu ini digunakan untuk
menambah joint baru yang tidak berhubungan dengan elemen.
3. Item Menu Draw Frame Element. Item Menu ini digunakan untuk
menggambar elemen frame.
4. Item Menu Draw Quad Shell Element. Item Menu ini digunakan
untuk menggambar elemen shell quadrilateral, ialah segiempat yang
sudutnya tidak sama dengan 900.
5. Item Menu Draw Rectangular Shell Element. Item Menu ini
digunakan menggambar elemen shell segiempat yang sudutnya sama
dengan 900.
6. Item Menu Draw NLLink Element. Item Menu ini digunakan untuk
menggambar non linier link sesuai tipe yang telah ditentukan pada
Menu Define.
7. Item Menu Quick Draw Frame Element. Item Menu ini digunakan
untuk menggambar elemen frame dengan cepat diantara dua joint atau
perpotongan grid yang sudah ada.
8. Item Menu Quick Draw Shell Element. Item Menu ini digunakan
untuk menggambar elemen shell dengan cepat diantara empat joint
atau perpotongan grid yang sudah ada.
9. Item Menu Edit Grid... Item Menu ini digunakan untuk menambah,
memindah atau menghapus grid.
10. Item Menu Lock Grid. Item Menu ini digunakan untuk mengunci
grid supaya tidak berpindah-pindah letaknya selama menggambar
elemen. Apabila Item Menu ini dalam keadaan off (tanda check tidak
tampak) maka grid dapat digeser-geser.
11. Item Menu Glue Joints to Grid. Item Menu ini digunakan untuk
merekatkan joint pada grid, sehingga pada saat grid dipindah maka
joint akan berpindah mengikuti grid.
12. Item Menu Snap to... Item Menu ini digunakan untuk menggambar
atau meng-edit elemen dengan tepat dan cepat. Jika Snap ini
dimatikan (off) maka pada saat menggambar elemen tidak akan terlihat
dot (bulatan) pada pertemuan grid atau elemen yang didekati pointer.
Pilihan yang dapat dipilih pada Item Menu Snap ialah Points, Line

56

Menu Pada Program SAP2000

Ends and Midpoints, Intersections, Perpendicular Projections,


Lines and Edges,
13. Item Menu Constraint Drawing to... Item Menu ini digunakan
untuk menentukan salah satu sumbu global (X, Y atau Z) yang diconstraint. Hal ini dilakukan apabila ingin mengambar elemen sejajar
dengan salah satu global yang dipilih dengan cepat.
14. Item Menu New Label... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan label pada joint dan elemen. Misalnya nomor/label joint
atau elemen ingin dimulai dari nomor tertentu dengan increment
tertentu dapat ditentukan melalui Item Menu ini.
2.7. Menu Select

Menu Select pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.11 dan dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 2.11. Item Menu pada Menu Select


1. Item Menu Select. Item Menu ini digunakan untuk memilih obyek
dengan berbagai cara pilihan, dan berbagai tipe obyek yang dipilih.
Sebagai contoh cara pilihan windowing, intersecting line, dan tipe
yang dipilih misalnya frame section, shell section, constraints, labels
dan lain sebagainya.
2. Item Menu Deselect. Item Menu ini digunakan untuk membatalkan
obyek yang telah dipilih pada butir 1 di atas.
3. Item Menu Get Previous Selection. Item Menu ini digunakan untuk
memilih joint atau elemen yang sebelumnya sudah dipilih.
4. Item Menu Clear Selection. Item Menu ini digunakan untuk
membatalkan semua pilihan yang telah dilakukan.
2.8. Menu Assign

Menu Assign pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.12. Perlu diketahui bahwa sebelum menggunakan

Menu Pada Program SAP2000

57

Item Menu ini harus dipilih dulu obyeknya, karena jika belum memilih
obyeknya Item Menu ini masih dalam keadaan off atau belum aktif.
1. Item Menu Joint. Item Menu ini digunakan untuk menentukan
restraint, constraint, springs, massa dan sumbu lokal pada joint.
2. Item Menu Frame. Item Menu ini digunakan untuk menentukan
sections, releases, sumbu lokal, end offset, out segments, prestress,
initial gaya P-delta, jalur (lane) untuk jembatan dan hinge untuk
pushover pada elemen frame.

Gambar 2.12. Item Menu pada Menu Assign


3. Item Menu Shell. Item Menu ini digunakan untuk menentukan
sections dan sumbu lokal pada elemen shell.
4. Item Menu NLLink. Item Menu ini digunakan untuk menentukan
properties dan sumbu lokal untuk analisis non linier pada elemen
frame.
5. Item Menu Joint Static Loads. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan beban statik pada joint. Beban yang dapat dikerjakan ialah
gaya dan momen arah sumbu global dan displacements.
6. Item Menu Frame Static Loads. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan beban statik pada elemen frame. Beban yang dapat
dikerjakan ialah beban gravitasi, beban merata, beban terpusat, beban
trapesium, perubahan temperatur dan beban prestress.
7. Item Menu Shell Static Loads. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan beban pada elemen shell. Beban yang dapat dikerjakan

58

8.

9.
10.
11.

Menu Pada Program SAP2000

ialah beban gravitasi, beban merata, beban tekanan dan perubahan


temperatur.
Item Menu NLLink Loads. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan beban pada elemen frame yang menggunakan analisis non
linier.
Item Menu Joint Patterns. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan nama pattern dari joint yang dipilih.
Item Menu Group Name. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan nama group dari obyek yang dipilih.
Item Menu Clear Display Assign. Item Menu ini digunakan untuk
menghapus semua data yang telah ditentukan dari layar monitor.

2.9. Menu Analyze

Menu Analyze pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.13. Perlu diketahui bahwa sebelum menggunakan
Item Menu ini semua data yang diperlukan untuk analisis struktur harus
sudah lengkap agar tidak terjadi kesalahan (error) atau peringatan
(warning). Untuk analisis statik, data yang harus sudah diberikan minimal
ialah section semua elemen, loads pada joint/elemen, restraints pada joint
(untuk model 2D) dan restraints pada dukungan.

Gambar 2.13. Item Menu pada Menu Analyze


1. Item Menu Set Options... Item Menu ini digunakan untuk
menentukan pilihan analisis struktur dalam 2D atau 3D, analisis
dinamik, P-delta, menyimpan hasil analisis dalam file database dan
lain sebagainya.
2. Item Menu Run. Item Menu ini untuk running analisis struktur.
3. Item Menu Run Minimized. Item Menu ini digunakan untuk analisis
struktur dengan me-minimize ukuran jendela (window), sehingga
komputer dapat digunakan untuk mengerjakan yang lain. Hal ini

Menu Pada Program SAP2000

59

biasanya dilakukan jika data yang dianalisis oleh SAP2000 sangat


besar, sehingga butuh waktu yang lama untuk analisisnya.
4. Item Menu Run Static Pushover. Item Menu ini untuk analisis gaya
pushover.
2.10. Menu Display

Menu Display pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.14 dan dijelaskan sebagai berikut.

Gambar 2.14. Item Menu pada Menu Display


1. Item Menu Show Undeformed Shape. Item Menu ini digunakan
untuk menampilkan gambar struktur tak terdeformasi.
2. Item Menu Show Loads. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan beban-beban yang dikerjakan pada struktur. Macam
beban yang dapat ditampilkan ialah beban joint, beban elemen frame,
beban elemen shell.
3. Item Menu Show Patterns. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan pattern joint yang datanya telah diberikan pada Menu
Define.dan Assign.
4. Item Menu Show Lanes. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan jalur pada analisis jembatan.
5. Item Menu Show Input Tables. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan data input geometri atau beban dalam bentuk tabel.

60

Menu Pada Program SAP2000

6. Item Menu Show Deformed Shape. Item Menu ini digunakan


untuk menampilkan struktur terdeformasi dengan pilihan antara lain :
Load Case, Scaling dan Option (Wire Shadow atau Cubic Curve).
7. Item Menu Show Mode Shape. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan mode dengan pilihan : Nomor Mode, Skala dan Option
(Wire Shadow atau Cubic Curve).
8. Item Menu Show Element Forces/Stresses. Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan gaya-gaya elemen frame atau tegangan
elemen shell, asolid dan solid.
9. Item Menu Show Energy/Virtual Work Diagram. Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan persentase energi virtual work elemen
relatif, terhadap sisa kekuatan batang struktur. Hal ini dapat digunakan
untuk mereduksi defleksi struktur dengan melihat beberapa elemen
yang mempunyai persentase energi yang besar, kemudian
memodifikasi model dengan beberapa penambahan elemen pengaku.
10. Item Menu Show Response Spectrum Diagram. Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan diagram response spectrum.
11. Item Menu Show Time History Traces. Item Menu ini digunakan
untuk menampilkan input fungsi Time History.
12. Item Menu Show Group Joint Force Sum.... Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan group yang ingin ditampilkan, yang
sebelumnya telah ditentukan pada Menu Define.
13. Item Menu Show Influence Line.... Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan garis pengaruh pada analisis jembatan.
14. Item Menu Show Static Pushover Curve. Item Menu ini
digunakan untuk menampilkan gambar beban Pushover.
15. Item Menu Show Output Table Mode. Item Menu ini digunakan
untuk menentukan kombinasi beban pada tampilan tabel. Hal ini
menyebabkan tampilan elemen/joint akan menyesuaikan dengan
pilihan tersebut, saat mouse di-klik kanan pada elemen/joint yang
diinginkan.
2.11. Menu Design

Menu Design pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.15 dan dijelaskan sebagai berikut.

Menu Pada Program SAP2000

61

Gambar 2.15. Item Menu pada Menu Design


1. Item Menu Steel Design. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan disain struktur dengan code (peraturan) baja jika tanda
check ( ) pada Item Menu ini aktif.
2. Item Menu Concrete Design. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan disain struktur dengan code (peraturan) beton jika tanda
check ( ) pada Item Menu ini aktif.
3. Item Menu Select Design Group. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan disain semua section elemen pada group yang sama yang
telah ditentukan sebelumnya.
4. Item Menu Start Design/Check of Structure. Item Menu ini
digunakan untuk kontrol (cek) elemen atau untuk disain elemen.
5. Item Menu Select Design Combos. Item Menu ini digunakan
untuk memilih kombinasi beban yang diinginkan.
6. Item Menu Redefine Element Design Data. Item Menu ini
digunakan untuk mengganti section elemen pada elemen yang tidak
memenuhi atau terlalu besar, tanpa harus mengulang analisis struktur.
7. Item Menu Replace Auto w/Optimal Sections. Item Menu ini
digunakan untuk memilih profil baja yang optimal secara otomatis
oleh SAP2000.
8. Item Menu Display Design Info. Item Menu ini digunakan untuk
memilih informasi disain yang ingin ditampilkan. Misalnya tentang
tulangan memanjang, tulangan geser dan sebagainya.

62

Menu Pada Program SAP2000

9. Item Menu Update Analysis Sections. Item Menu ini digunakan


untuk meng-update analisis potongan penampang.
10. Item Menu Reset Design Sections. Item Menu ini digunakan untuk
mengembalikan potongan penampang kepotongan semula, apabila
sebelumnya telah diubah.
2.12. Menu Options

Menu Options pada SAP2000 terdiri dari beberapa Item Menu


seperti pada gambar 2.16 dan dijelaskan sebagai berikut.
1. Item Menu Preferences. Item Menu ini digunakan untuk
menentukan parameter-parameter untuk disain struktur baja dan beton.
Pada Item Menu ini juga dapat ditentukan beberapa dimensi font yang
ingin ditampilkan dan lain sebagainya.
2. Item Menu Colors. Item Menu ini digunakan untuk mengubah
warna layar sesuai keinginan pengguna, misalnya warna background,
points, line, springs, restraints dan sebagainya.
3. Item Menu Windows. Item Menu ini digunakan untuk menampilkan
banyaknya jendela pada layar.
4. Item Menu Set Coordinate System. Item Menu ini digunakan
untuk menentukan atau menambah sistem koordinat baru.
5. Item Menu Auto Refresh. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan layar pada kondisi terbaru setelah dilakukan perubahan.
6. Item Menu Show Tip at Startup. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan tip-tip yang ada pada SAP2000 pada saat program
dibuka.
7. Item Menu Show Bounding Plane. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan bidang yang aktif pada pandangan 3 dimensi.
8. Item Menu Moment Diagram on Tension Side. Item Menu ini
digunakan untuk menentukan gambar diagram momen pada sisi serat
tariknya.
9. Item Menu Sound. Item Menu ini digunakan untuk mengaktifkan
audio jika digunakan komputer dengan multimedia.
10. Item Menu 3D View Up Direction. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan sumbu global yang dipilih (X, Y, atau Z) ke arah atas
untuk pandangan 3 dimensi.

Menu Pada Program SAP2000

63

Gambar 2.16. Item Menu pada Menu Options


11. Item Menu Lock Model. Item Menu ini digunakan untuk melepas
kuncian apabila ingin dilakukan modifikasi model setelah struktur
dilakukan analisis atau disain.
12. Item Menu Show Aerial View. Item Menu ini digunakan untuk
menampilkan model yang utuh dengan jendela kecil.

BAB III
STRUKTUR DENGAN BEBAN STATIK
3.1. Umum
Bab ini bertujuan memberikan pengalaman kepada pembaca untuk
memahami pilihan-pilihan menu yang ada pada SAP2000. Model struktur
yang diberikan sebagai contoh pada bab ini ialah struktur dengan beban
statik, dan kebanyakan struktur dimodelkan dalam dua dimensi (2D).
Elemen-elemen struktur akibat beban statik ini, kemudian didisain dengan
peraturan-peraturan (code) yang telah tersedia pada program SAP2000,
kemudian dicek hasilnya. Akan lebih baik apabila pembaca menemui
kesulitan-kesulitan membuka menu Help pada program SAP2000 yang diinstall.

Toolbar

Window 1

Item Menu

Menu

Window 2

Gambar 3.1. Penjelasan Menu, Item Menu, Toolbar dan Window


Pada SAP2000 perintah-perintah dapat dilakukan melalui Toolbar
atau melalui Menu. Hal ini terserah kepada anda, ingin memilih cara yang

66

Struktur Dengan Beban Statik

mana yang dianggap lebih mudah dan cepat. Selanjutnya pada buku ini
jika digunakan dari toolbar, perintahnya akan dituliskan dengan klik tool
bar pointer
, dan jika digunakan dari menu perintahnya akan ditulis
dengan pilih Menu Select/Select/ Ponter/Window.
Beberapa hal berhubungan dengan operasi window pada SAP2000
yang perlu dikemukakan disini mengenai istilah-istilah yang digunakan
ialah : Menu, Item Menu, Toolbar, Dialog Box, Window, dan lain
sebagainya. Untuk jelasnya lihat pada gambar 3.1 dan gambar 3.2.

Dialog Box

Button

Gambar 3.2. Penjelasan Dialog Box dan Button


Selanjutnya pada sub bab berikut akan diberikan contoh-contoh
model struktur dengan beban statik yang meliputi : struktur truss 2D, gable
frame, portal beton 2D, struktur dengan balok prestress 2D, dan model
elemen non-prismatis 2D.
3.2. Model Sloped Truss 2 Dimensi
Pada bagian ini akan ditunjukkan langkah-langkah untuk membuat
dan meng-analisis model struktur sloped truss yang diambil dari template.

Struktur Dengan Beban Statik

67

Hal ini akan lebih mudah dipahami apabila pembaca langsung mencoba di
depan komputer dengan program SAP2000 sambil membaca buku ini.
Geometri struktur diperoleh dari Menu Template, yang berisi
beberapa konfigurasi struktur. Perlu diingat bahwa bila sekali geometri
struktur dipilih, langkah-langkah berikutnya mengikuti ketentuan yang
diberikan oleh pembaca.
Sebuah truss 2 dimensi terdiri dari 5 bentang seperti gambar 3.3,
unit gaya dalam kN, dan unit panjang dalam meter (m). Properti elemen
atas dan diagonal terdiri dari profil baja, 2xL5x5x3/4-3/8, elemen bawah
2xL4x4x1/2-3/8. Unit property elemen ini digunakan dalam inchi, karena
profil akan diimport dari profil yang telah tersedia file-nya pada SAP2000.
Berat sendiri truss masuk pada load-case (kondisi pembebanan) LOAD1,
tegangan minimum baja Fy = 36 Ksi (240 MPa).

4m

DL = 50 kN
LL = 200 kN

DL
LL

DL
LL

DL
LL

5 x 4 m = 20 m
(a) Model truss 2 dimensi
5'

3/8' 5'

4'

3/8' 4'

1/2'

3/4'

4'

5'

(b) Potongan batang atas dan diagonal

(c) Potongan batang bawah

Gambar 3.3. Model Sloped Truss 2 Dimensi


Untuk analisis dan disain model ini dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Pilih unit yang sesuai dengan ketentuan, dalam contoh ini unit dalam
kN-m, dari menu pilihan di kanan bawah seperti pada gambar 3.4.

68

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.4. Memilih unit dalam kN-m


2. Pilih Menu File/New Model from Template Kemudian akan
ditampilkan dialog box Model Template.
3. Pada dialog box ini :
Klik pada template Slope Truss. Kemudian akan tampil dialog
box Slope Truss.
Pada dialog box ini :
- Ubah Number of Bays menjadi 5 (gambar 3.5)
- Pada Restraints box diberi tanda check ( )
- Pada Gridlines box diberi tanda check ( )
- Isikan tinggi (height) dan bentang (bay)
- Klik Ok button
Layar monitor akan menampilkan windows dalam pandangan 3-D
dan 2-D yang diatur secara vertikal. Window sebelah kanan menampilkan
bidang X-Z dari model struktur untuk Y=0, sedang window sebelah kiri
menampilkan prespektif 3-D dari model struktur, seperti gambar 3.6.

Struktur Dengan Beban Statik

69

Gambar 3.5. Menentukan Geometri Sloped Truss 2D


B. Menentukan Section
Pada contoh ini digunakan profil siku ganda (2L) yang diambil
dari SAP2000. Nama file yang menyimpan data profil ini ialah
SECTIONS.PRO dan disimpan dalam directory SAP2000. Langkah untuk
menentukan hal ini ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections
2. Pada dialog box tersebut :
Klik pada drop-down box Import
Klik pada Import Double Angle. Kemudian akan ditampilkan
dialog box Section Property File.
Pada dialog box ini akan ditampilkan lokasi file SECTIONS.PRO.
Bukalah file data SECTIONS.PRO dengan button Open atau
dengan dua kali klik pada nama file. Kemudian akan ditampilkan
list box profil siku ganda (2L) yang ada pada file.

70

Struktur Dengan Beban Statik

Catatan : Pada pembahasan SAP2000 anda hanya dapat membuka file


SECTIONS.PRO sekali. Namun anda dapat memilih file yang
lain melalui menu Preferences pada menu Options.

Gambar 3.6. Hasil Sloped Truss dari template


3. Pada list box Double Angle :
Gunakan scroll button untuk memilih potongan yang akan
digunakan pada model struktur, ialah 2L5x5x3/8
Klik ganda pada 2L5x5x3/8, maka akan ditampilkan skema
profil siku ganda yang telah dipilih, dimensi potongan dan STEEL
(baja) merupakan tipe material default-nya (gambar 3.7)
Klik pada Ok button, kemudian dialog box Double Angle Section
ditutup. Pada dialog box Frame Section akan tampil label
potongan 2L5x5x3/8 yang ditambahkan disamping potongan
default (FSEC1)
4. Ulangi langkah nomor 2 dan 3 tersebut di atas untuk memilih siku
ganda 2L4x4x 3/8

Struktur Dengan Beban Statik

71

5. Klik Ok button

Gambar 3.7. Menentukan Section profil siku ganda (2L)


C. Menentukan Property Elemen
Pada bagian ini akan digunakan dua section struktur yang telah
ditentukan untuk elemen-elemen struktur truss seperti pada ketentuan. Siku
ganda 2L5x5x3/8 digunakan untuk elemen-elemen atas dan diagonal,
sedang siku ganda 2L4x4x 3/8 digunakan untuk elemen-elemen bawah.
Langkah-langkah yang dilakukan ialah :
1. Pilih elemen-elemen atas dari truss pada tampak samping dengan
windowing. Untuk melakukan ini klik tool bar pointer
yang ada
di kiri atas. Pindahkan pointer ke kiri-atas elemen yang akan dipilih,
klik mouse kiri dan tahan sambil digerakkan ke kanan-bawah elemen
yang dipilih, kemudian lepaskan klik mousenya.
2. Elemen diagonal dipilih dengan intersection. Untuk melakukan ini
klik tool bar Set Intersecting Line Select Mode

yang ada

72

Struktur Dengan Beban Statik


disamping kiri. Pindahkan pointer ke kiri elemen yang akan dipilih,
klik mouse kiri dan tahan sambil digerakkan ke kanan dari elemen
yang dipilih. Rubber band akan tampak pada garis terpotong.
Pemilihan semua elemen atas dan diagonal telah lengkap, elemenelemen yang telah dipilih ditunjukkan dengan garis putus-putus.

Gambar 3.8. Menentukan Property Elemen


3. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan tampil dialog box
Define Frame Section seperti gambar 3.8.
4. Pada dialog box ini :
Klik pada 2L5x5x3/43/8 di area Name
Klik Ok button
Setelah proses pemilihan potongan profil selesai, pada layar akan
ditampilkan label potongan pada semua elemen (gambar 3.9).
5. Pilih elemen bawah dengan windowing seperti pada langkah nomor
1 di atas.

Struktur Dengan Beban Statik

73

6. Ulangi langkah 3 dan 4 untuk menentukan profil 2L4x4x1/23/8 pada


elemen bawah. Pada layar akan ditampilkan semua profil yang
digunakan untuk setiap elemen.

Gambar 3.9. Menentukan profil elemen truss


Catatan : attribut tampilan dapat diubah-ubah, misalnya untuk
memperbesar ukuran font dan lain-lainnya melalui menu
Preferences pada menu Options.
Tampilan section label ini dapat dikembalikan ke tampilan undeformed
melalui menu Display/Show Undeformed Shape.
D. Menentukan Load Case
Untuk analisis struktur di atas, diperlukan dua macam Load Case
(kondisi pembebanan). Pertama ialah beban mati atau Dead Loads (DL)
yang termasuk berat sendiri profil. Program telah menyediakan nama
default LOAD1 untuk beban DL ini. Kedua ialah beban hidup atau Live

74

Struktur Dengan Beban Statik

Loads (LL) yang akan diberi nama LOAD2. Langkah-langkah untuk


menentukan Load Case ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.. , kemudian akan ditampilkan
dialog box Define Static Load Case Names. Disini ditampilkan
default load-nya ialah LOAD1, dengan tipe beban DEAD dan pengali
berat sendiri (self-weight multiplier) ialah satu. Biarkan saja pilihan
seperti apa adanya tidak perlu diubah, seperti gambar 3.10.

Gambar 3.10. Menentukan Load Case


Kemudian Load Case yang kedua ditentukan sebagai berikut.
2. Dari dialog box Define Static Load Case Names :
Ubah LOAD1 di bawah Load menjadi LOAD2
Pilih LIVE dari list box di bawah Type
Ubah pengali berat sendiri (self-weight multiplier) menjadi nol
Klik pada Add New Load button. Akan ditampilkan dua macam
Load Case pada list box Loads.
Klik Ok button

Struktur Dengan Beban Statik

75

E. Menentukan Beban Joint


Beban mati (DL) dan beban hidup (LL) dikerjakan pada joint
bawah dari truss. Besarnya beban mati dan beban hidup50 kN dan 200
kN ditentukan sebagai berikut.
1. Pilih joint bawah dengan cara windowing seperti pada memilih
elemen
2. Pilih menu Assign/Joint Static Loads../Forces.., maka akan
ditampilkan dialog box Joint Forces seperti gambar 3.11.

Gambar 3.11. Tampilan beban joint untuk Load Case LOAD1


3. Pada dialog box ini :
Load Case Name LOAD1 sebagai default tidak perlu diubah
Isikan beban 50 pada box Force Global Z pada area Loads
(gambar 3.11)
Klik Ok button
Setelah langkah nomor 3 tersebut dilakukan, pada layar akan
ditampilkan beban joint seperti gambar 3.12.
Berikutnya menentukan beban hidup (LL) sebagai berikut.
4. Klik tool bar Restore Previous Selection
yang ada di kiri, hal ini
akan memilih ulang joint bawah yang tadi sudah dipilih pada langkah
1
5. Pilih menu Assign/Joint Static Loads../ Forces.., maka akan
ditampilkan dialog box Joint Forces.

76

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.12. Tampilan beban joint untuk Load Case LOAD1


6. Pada dialog box ini :
Ubah Load Case Name menjadi LOAD2
Isikan beban 200 pada kotak Force Global Z pada area Loads
Klik Ok button
Semua beban (DL dan LL) sudah diberikan pada model struktur, dan
data model struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.
F. Analisis Model
Untuk analisis model dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As.
2. Dari dialog box tersebut :

Simpanlah model dengan nama file : TRUSS2D, anda tidak perlu


menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri
Klik pada Save button

Struktur Dengan Beban Statik

77

Kemudian akan muncul window dengan menampilkan beberapa


variasi analisis. Apabila analisis telah lengkap, pada layar akan
ditampilkan seperti gambar 3.13
3. Gunakan scroll bar pada window analisis untuk melihat kembali
pesan-pesan dan untuk mengontrol beberapa error (kesalahan) atau
warning (peringatan), kalau ada. Pada contoh ini tidak ada kesalahan,
yang ditandai dengan pesan ANALYSIS COMPLETE pada akhir
baris. Jika pada analisis ditemui kesalahan atau peringatan, maka pada
akhir baris akan ditampilkan pesan ANALYSIS INCOMPLETE.
4. Klik Ok untuk menutup window analisis

Gambar 3.13. Tampilan setelah selesai analisis model


G. Menampilkan Bentuk Deformasi Model
Setelah dilakukan analisis struktur lengkap, SAP2000 dengan
sendirinya akan menampilkan bentuk struktur terdeformasi untuk Load
Case default-nya, yaitu LOAD1 seperti pada gambar 3.14. Apabila
diinginkan menampilkan Load Case LOAD2 pada window yang sebelah
kanan dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Klik dimana saja pada window sebelah kanan, maka window kanan
akan diaktifkan.

78

Struktur Dengan Beban Statik

2. Klik toolbar Display Static Deformed Shape


pada Main Toolbar,
maka akan ditampilkan dialog box Deformed Shape.
3. Dari dialog box ini :

Pilih Load Case LOAD2 dari drop down list pada area Load
Klik Ok
Untuk membandingkan bentuk deformasi dua Load Case, LOAD1
dan LOAD2, maka Load Case LOAD1 ditampilkan pada window kiri, dan
Load Case LOAD2 ditampilkan pada window kanan seperti gambar 3.14.
Untuk menampilkan LOAD1 pada window kiri dilakukan :
1. Klik dimana saja pada window sebelah kiri untuk mengaktifkan
window ini.
2. Klik toolbar 2D X-Z View
yang ada pada Main Toolbar untuk
menampilkan tampak samping model

Gambar 3.14. Tampilan struktur terdeformasi akibat LOAD1 pada window


sebelah kiri, dan LOAD2 pada window sebelah kanan

Struktur Dengan Beban Statik

79

Catatan : Hasil-hasil deformasi dapat dicetak atau disimpan dalam bentuk


tabel dengan memilih Print Output Tables.. dari menu File.
Hasil-hasil deformasi dapat juga ditampilkan dalam bentuk
tabel dengan memilih Set Output Tables Mode.. dari menu
Display dan kemudian klik kanan pada joint yang dipilih.
Terlihat bahwa pada kedua deformed shape pada gambar 3.14.
akibat LOAD1 dan LOAD2 kelihatan sama, padahal kedua beban tersebut
berbeda. Hal ini karena pada SAP2000 secara otomatis akan men-skala
tampilannya. Faktor skala ini dapat diubah pada dialog box Deformed
Shapesesuai yang diinginkan.

Gambar 3.15. Tampilan nilai deformasi joint 4


Untuk membuat animasi bentuk struktur terdeformasi, dapat
dilakukan dengan memilih button Start Animation pada layar kananbawah (gambar 3.15). Jika button Start Animation ini di-klik, maka nama
button akan berubah menjadi Stop Animation. Kecepatan animasi diatur

80

Struktur Dengan Beban Statik

dengan scroll bar horisontal yang ada di sebelahnya. Untuk menghentikan


animasi dapat di-klik pada button Stop Animation.
Panah kiri dan kanan pada sudut kanan-bawah layar digunakan
untuk mengubah Load Case yang aktif ditampilkan pada window.
Apabila ingin dipilih sebuah joint dan akan diperiksa nilai
displacement-nya untuk Load Case LOAD1, maka dapat dilakukan sebagai
berikut.
1. Klik kanan pada joint yang dipilih, maka akan muncul window
mengapung (floating window) yang menampilkan nilai-nilai translasi
dan rotasi joint yang dipilih seperti gambar 3.15. Pada layar monitor,
joint yang dipilih akan ditampilkan berkedip (flash).
2. Untuk menutup floating window ini klik pada tanda silang (x) di
kanan-atas floating window.
H. Menampilkan Gaya-gaya Elemen
Pada contoh model ini akan ditampilkan gaya aksial pada window
sebelah kiri untuk Load Case LOAD1 seperti gambar 3.16. Untuk
menampilkan gaya aksial pada truss dilakukan sebagai berikut.
1. Klik toolbar Member Force Diagram for Frames
pada Main
Toolbar, maka akan ditampilkan dialog box Member Force Diagram
for Frames.
2. Pada dialog box ini
Pilih Axial Force dalam area Component
Klik Ok
Diagram gaya-gaya aksial truss akan ditampilkan seperti gambar 3.16.
SAP2000 mempunyai fasilitas untuk melihat komponen gaya pada
masing-masing elemen. Hal ini dilakukan dengan klik mouse kanan pada
elemen yang ada di window kiri, kemudian akan tampil floating window
dengan judul Axial Force Diagram, yang menampilkan variasi gaya
aksial sepanjang elemen, seperti gambar 3.16 pada window yang kanan.
Gerakkan kursor pada floating window untuk melihat nilai numerik gaya
aksial yang sesuai dengan jarak dari ujung I (End I). Untuk menutup
floating window ini klik tanda silang (x) di kanan atas, atau klik pada

Struktur Dengan Beban Statik

81

sembarang tempat di luar floating window. Untuk elemen lain dapat


dilakukan dengan cara sama seperti yang telah dijelaskan di atas.

Gambar 3.16. Tampilan nilai gaya aksial elemen 10


Catatan : Hasil-hasil gaya aksial dapat dicetak atau disimpan dalam
bentuk tabel dengan memilih Print Output Tables.. dari menu
File. Hasil-hasil gaya aksial dapat juga ditampilkan dalam
bentuk tabel dengan memilih Set Output Tables Mode.. dari
menu Display dan kemudian klik kanan pada elemen yang
dipilih.
I. Kontrol Tegangan Elemen
Default untuk perancangan struktur baja ialah code (peraturan)
AISC-ASD89, tetapi dapat dipilih peraturan lain yang diinginkan.
Beberapa peraturan yang ada pada SAP2000 disamping AISC-ASD89
ialah AISC-LRFD93, AASHTO Steel 97, BS 5950 90, CISC 95,
EUROCODE 3-1993.

82

Struktur Dengan Beban Statik

Untuk memeriksa perancangan sesuai code yang dipilih, langkahlangkah yang dilakukan ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Options/Preferences.., maka akan ditampilkan dialog box
Preferences.
2. Pada dialog box ini klik tab Steel, kemudian dapat dilihat pilihan
peraturan perancangan, default section property file, dan beberapa
pilihan seperti tampak pada gambar 3.17
3. Untuk model ini pilihan tidak perlu diubah karena sudah sesuai yang
diinginkan
4. Klik Cancel button untuk menutup dialog box ini.
5. Untuk meyakinkan bahwa SAP2000 akan mendisain elemen dengan
struktur baja, pilih menu Design/Steel Design, sehingga pada item
menu Steel Design diberi tanda aktif ( )

Gambar 3.17. Tampilan untuk kontrol tegangan rencana


Kemudian kontrol tegangan pada elemen dengan menggunakan
peraturan AISC-ASD89 dilakukan sebagai berikut.

Struktur Dengan Beban Statik

83

1. Pilih menu Design/Start Design/Check of Structure, dan tunggu


beberapa saat, maka warna rasio tegangan akan ditampilkan pada
setiap elemen seperti gambar 3.18
2. Klik kanan pada elemen yang diinginkan, maka akan ditampilkan
floating window yang memperlihatkan informasi tentang cek
perancangan dan informasi kontrol tegangan baja di sepanjang elemen
seperti gambar 3.19. Informasi kontrol tegangan baja pada titik di
sepanjang elemen dan kombinasi beban khusus dapat diperoleh secara
lebih detail dengan meng-klik pada Details dari floating window ini.
3. Untuk menutup floating window ini klik Ok.
SAP2000 memungkinkan anda untuk secara interaktif mengubah
peraturan perancangan, property elemen, dan lain sebagainya. Namun
setelah perubahan itu dilakukan harus diulang untuk Start Design/Check
of Structure lagi.

Gambar 3.18. Tampilan rasio tegangan elemen


Catatan : Default rasio tegangan dianalisis berdasar pada kombinasi
perancangan default DSTL1 yang hanya mewakili beban mati

84

Struktur Dengan Beban Statik


saja, dan DSTL2 yang merupakan gabungan beban mati dan
beban hidup tak terfaktor.

Gambar 3.19. Tampilan informasi kontrol tegangan


J. Menyimpan Input dan Output Model Struktur
Untuk menyimpan dan menampilkan data model struktur dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Pilih menu File/Print Input Tables.., maka akan ditampilkan dialog
box seperti gambar 3.20.

Gambar 3.20. Menyimpan data Input


2. Pada dialog box ini :

Struktur Dengan Beban Statik

85

Aktifkan Coordinates, Frames, Joints dan Properties.


Maksudnya ialah data koordinat joint, elemen, joint dan property
elemen akan disimpan.
Klik pada File Name, kemudian berikan nama file dengan
InputT2D.txt.
Klik Ok, maka data input yang diinginkan di atas akan disimpan
dengan nama InputT2D.txt.
Untuk membuka file InputT2d.txt ini dapat dilakukan dengan
Notepad atau WordPad sebagai beikut.
1. Buka Windows Explorer
2. Pilih directory, dimana file InputT2d.txt tadi disimpan
3. Klik ganda pada file InputT2d.txt, maka akan ditampilkan data input
seperti pada Lampiran B.
Untuk menyimpan hasil analisis model struktur dalam file, dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Pilih menu File/Prin Output Tables.., maka akan ditampilkan dialog
box seperti gambar 3.21
2. Pada dialog box ini :
Aktifkan Displacements, Reactions, dan Frame Forces.
Aktifkan Print to File, kemudian klik File Name dan beri nama
dengan OutT2d.txt.
Klik Ok, maka output hasil analisis akan disimpan dengan nama
OutT2d.txt.

Gambar 3.21. Menyimpan data Output Analisis

86

Struktur Dengan Beban Statik

Untuk membuka file OutT2d.txt ini dapat dilakukan dengan


Notepad atau WordPad seperti yang telah dijelaskan di muka, dan hasilnya
ditampilkan data output seperti pada Lampiran C.
K. Memodifikasi Struktur
Andaikata diinginkan memodifikasi truss karena adanya beban
vertikal sebesar 500 kN di tengah bentang pada elemen horisontal bagian
bawah, maka perlu menambah elemen vertikal di tengah bentang, dan
membagi elemen horisontal tengah-bawah menjadi dua bagian.
Sekarang model dalam keadaan terkunci untuk mencegah
beberapa perubahan hasil analisis yang telah dilakukan. Untuk
memodifikasi struktur, pertama-tama harus dilakukan unlock model,
sehingga memungkinkan untuk dilakukan perubahan, analisis ulang, dan
mengontrol ulang tegangan yang terjadi. Langkah-langkahnya ialah
sebagai berikut.
1. Klik toolbar Lock/Unlock Model
pada Main Toolbar untuk
melepaskan kuncian model.
2. Akan ditampilkan message box peringatan, bahwa Unlocking Model
akan menghapus semua hasil analisis yang telah dilakukan
sebelumnya. Klik Ok untuk menyetujui hal ini.
Sebagai ilustrasi akan digunakan dua metode berbeda untuk
menggambarkan elemen frame yang baru. Kedua metode tersebut
digunakan untuk menambah elemen pada contoh model ini.
3. Klik toolbar Quick Draw Frame Element
pada Toolbar
disamping, atau pilih dari menu Draw. Untuk setiap elemen yang
ingin digambarkan dapat dilakukan dengan meng-klik pada grid line.
4. Klik grid line vertikal pada tengah-tengah model diantara elemen
horisontal atas dan bawah untuk memperoleh elemen vertikal.
Sekarang tampak bahwa truss ditampilkan lengkap. Tetapi elemen
vertikal yang baru tidak dihubungkan dengan elemen horisontal bagian
bawah. Hal ini akan mudah dilihat pada shrunken-element view.
5. Klik toolbar Element Shrink Toggle

pada Main Toolbar.

Struktur Dengan Beban Statik

87

6. Pada keadaan ini lakukan :

Pilih Show Grid dari menu View untuk tidak menampilkan grid
(turn off the grid)
Pilih Show Axes dari menu View untuk tidak menampilkan sumbu
global

Klik toolbar Rubber Band Zoom


pada Main Toolbar.
Pada tampilan window yang aktif, klik dan tarik window mengitari
bagian tengah-tengah struktur. Pada window sebelah kiri akan
ditampilkan zoom dari tengah-tengah struktur (gambar 3.22).
Sekarang tampak bahwa tengah elemen bawah harus dibagi menjadi
dua bagian. Salah satu cara ialah dengan menggunakan item menu
Divide Frames dari Edit menu. Dan cara kedua dilakukan dengan
menghapus elemen lama dan kemudian menggambar dua elemen baru.
7. Untuk menghapus elemen lama caranya :

Klik pada Pointer Tool


pada toolbar di samping untuk mulai
mode SELECTION
Klik pada elemen yang akan dihapus
Tekan tombol Delete pada keyboard atau pilih Delete dari menu
Edit
8. Untuk menggambar dua elemen baru :

Klik toolbar Draw Frame Element


atau pilih dari menu Draw

Klik toolbar Snap to Joint and Grid Points


pada Toolbar di
samping
Klik pada sebelah kiri sedikit dari tiga joint yang tengah. Awal
elemen pertama akan di-snap pada lokasi joint yang tepat.
Jika anda menggerakkan mouse, akan ditampilkan rubber band
yang menunjukkan rencana gambar elemen pertama. Klik pada
joint yang tengah untuk menggambar elemen tersebut.
Jika anda menggerakkan mouse lagi, anda dapat melihat elemen
berikutnya dimulai dari joint terkahir kali saat anda menggambar
elemen sebelumnya.

pada Toolbar di samping,

88

Struktur Dengan Beban Statik

Klik ganda pada dekat joint paling kanan dari tiga joint untuk
mengakhiri menggambar elemen kedua. Klik ganda akan
mengakhiri rubber banding sampai mouse di klik lagi.

Gambar 3.22. Tampilan zoom tengah-tengah struktur

9. Klik pada Pointer Tool


mengakhiri mode gambar

pada toolbar di samping untuk

Berikutnya ialah mengulang langkah-langkah seperti yang telah


dibahas di depan dengan : menentukan Section frame pada elemen baru,
memberi beban 500 kN dengan Load Case LOAD2 pada joint yang baru,
melakukan analisis struktur, menampilkan gaya-gaya elemen, dan
mengontrol tegangan elemen.

Struktur Dengan Beban Statik

89

3.3. Model Kuda-kuda Truss 2 Dimensi


Pada bagian ini dibahas model kuda-kuda truss dari profil baja 2L
seperti gambar 3.23, unit dalam kN-m. Property batang atas dan bawah
terdiri dari profil baja 2L60x60x6-8, batang diagonal dan vertikal
2L50x50x5-8, unit dalam mm, yang ditentukan sendiri. Berat sendiri truss
masuk pada DL, sehingga pada LOAD1 faktor pengali berat sendiri profil
sama dengan nol. Beban yang bekerja pada struktur ialah beban Dead
Loads (DL) dan Live Loads (LL) P, dan beban angin W yang arahnya
seperti pada gambar 3.23.
Kuda-kuda direncanakan menggunakan code AISC-LRFD dengan
mutu baja dengan tegangan leleh Fy = 240 MPa, dan kombinsai
pembebanan sebagai berikut :
1.4 DL
1.2 DL + 1.6 LL

1.2 DL + 0.5 LL + 0.8 W

1.2 DL + 0.5 LL 0.8 W


P2
P2

P2
W3
P2

P2
W2

W4

P2
W2

3.464m

+5.464m
P2
P1

W4

P1
W2

W4
+2.000m

W1

3.464m

W5

2m

+0.845m

0.845m

+0.000m
2m

6m

6m

(a) Kuda-kuda truss baja


60

50

60

50

6
60

(b) Batang atas dan bawah

50

2m
P1 : DL = 7.00 kN
LL = 1.50 kN

P2 : DL = 12.50 kN
LL = 1.00 kN

W1 : V = 0.750 kN
H = 1.250 kN
W3 : V = 0.400 kN
H = 1.875 kN

W2 : V = 1.500 kN
H = 2.500 kN

(c) Batang diagonal dan vertikal

Gambar 3.23. Model kuda-kuda baja Truss 2D

W4 : V = 0.750 kN
H = 1.250 kN
W5 : V = 0.350 kN
H = 0.625 kN

90

Struktur Dengan Beban Statik

Untuk analisis dan disain model ini dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Tentukan unit yang sesuai ialah kN-m.
2. Pilih menu File/New Model, maka akan ditampilkan dialog box
Coordinate System Defintion.
3. Pada dialog box ini (gambar 3.24) :
Klik pada tab Cartesian, kemudian isikan Number of Grid
Spaces X=2, Y=0 dan Z=1.

Isikan pada Grid Spacing jarak grid yang penting, untuk X=6 dan
Z=5.464, untuk Y biarkan apa adanya, karena model akan
menggunakan bidang X-Z.

Gambar 3.24. Menentukan jumlah dan jarak grid penting


Layar monitor akan menampilkan windows dalam tampak 3-D dan 2D yang diatur secara vertikal. Kemudian window sebelah kiri
dikecilkan, window kanan dibesarkan, dan pilih bidang X-Z.
4. Klik ganda pada grid horisontal paling bawah, maka akan muncul
dialog box seperti gambar 3.25 dengan Direction Z yang aktif.

Struktur Dengan Beban Statik

91

Pada dialog box ini tambahkan grid horisontal untuk elevasi +0.845
m. Caranya dengan mengisikan nilai 0.845 pada kotak editor, lalu
klik pada Add Grid Line.
Ulangi untuk menambahkan grid horisontal dengan elevasi 2.000
m, dan 3.464 m dengan cara seperti di atas.

Gambar 3.25. Memodifikasi grid


5. Klik ganda pada grid vertikal yang di tengah, maka akan muncul
dialog box seperti pada langkah nomor 4, pada dialog box ini
Direction X yang aktif. Tambahkan posisi grid arah X untuk nilainilai 8.00m dan 8.00m, dengan cara Add Grid Line seperti pada
langkah nomor 4.
Setelah langkah nomor 4 dan 5 ini dilakukan, grid tambahan belum
tampak di layar. Untuk memperlihatkan grid tambahan dilakukan
sebagai berikut : pilih menu View/Refresh View atau tekan tombol
F11 pada keyboard, maka grid tambahan akan tampak di layar.
6. Dengan toolbar
gambarkan elemen frame luar seperti gambar 3.26.
7. Pilih elemen yang atas (sebelah kiri dan kanan), kemudian pilih menu
Edit/Divide Frames, maka akan ditampilkan dialog box seperti
gambar 3.27.

Pada dialog box ini isikan pada Divide into = 4 dan pada
Last/First ratio biarkan tetap sama dengan 1.

92

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.26. Gambar elemen frame luar

Klik Ok, maka elemen frame yang atas akan dibagi menjadi 4
elemen seperti pada gambar 3.28.

Gambar 3.27. Dialog box untuk membagi elemen frame


8. Pilih elemen yang bawah (sebelah kiri dan kanan), kemudian lakukan
hal sama seperti pada langkah nomor 7, dan membagi elemen bawah
menjadi 3 elemen.

Struktur Dengan Beban Statik

93

9. Dengan toolbar
gambarkan elemen frame vertikal dan diagonal
sehingga model struktur truss lengkap seperti gambar 3.29.

Gambar 3.28. Elemen frame atas menjadi 5 elemen


10. Pilih joint dukungan sebelah kiri, kemudian melalui Menu Assign,
Item Menu Joints-Restraints, atau dengan klik toolbar
dukungan sendi.

, pilih

11. Pilih joint dukungan sebelah kanan, dengan klik toolbar


dukungan rol.

pilih

B. Menentukan Material dan Section


Pada contoh ini digunakan profil siku ganda (2L) yang ditentukan
sendiri potongannya, karena SAP2000 tidak menyediakan. Langkahlangkah yang dilakukan ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Materials.., maka akan muncul dialog box Define
Material.

94

Struktur Dengan Beban Statik

Klik material STEEL, kemudian klik Modify/Show Material,


maka akan muncul dialog box seperti gambar 3.30.

Tentukan steel yield stress = 240000 kN/m2 (240 MPa).


Klik Ok.

Gambar 3.29. Model struktur kuda-kuda lengkap

Gambar 3.30. Menentukan mutu baja Fy=240 MPa

Struktur Dengan Beban Statik

95

2. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog


box Frame Sections. Pada dialog box ini :
Klik pada drop-down box Add Double Angle, maka akan
ditampilkan dialog box Double Angle Section.
Isikan nama profil pada Section Name dengan 2L60X6D8 untuk
profil 2L60x60x6 batang atas dan bawah sesuai gambar 3.23(b).
Isikan tinggi, lebar, tebal dan jarak profil dengan unit dalam meter
seperti gambar 3.31. Lalu klik Ok.

Gambar 3.31. Menentukan potongan profil dengan nama 2L60X6D8


3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan profil dengan ukuran
2L50x50x5 untuk batang diagonal dan vertikal sesuai gambar 3.23(c)
dengan Section Name 2L60X6D8.
Sekarang telah ada dua potongan elemen, yaitu profil 2L60x60x6
dan 2L50x50x5, yang nantinya dapat digunakan untuk menentukan profil
pada model strukturnya. Apabila diinginkan membuat potongan profil
yang lain dapat dilakukan dengan mengulang-ulang butir 2 seperti telah
dijelaskan di atas.
C. Menentukan Property Elemen
Pada bagian ini akan digunakan dua Section struktur yang telah
ditentukan untuk elemen-elemen struktur truss seperti ketentuan yang ada.
Profil siku 2L60x60x6 digunakan untuk elemen-elemen atas dan bawah,
sedang siku ganda 2L50x50x5 digunakan untuk elemen-elemen diagonal
dan vertikal. Langkah yang dilakukan ialah.

96

Struktur Dengan Beban Statik

1. Pilih elemen-elemen atas dan bawah dari truss dengan meng-klik satu
persatu pada elemennya dengan tool bar pointer
. Elemen yang
telah dipilih ditampilkan dengan garis putus-putus.
2. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan tampil dialog box
Define Frame Section. Pada dialog box ini :
Klik pada 2L60X6D8 di area Name
Klik Ok button
3. Pilih elemen diagonal dan vertikal dengan intersecting.
4. Ulangi langkah 2 untuk menentukan profil dengan nama 2L50x50x5
pada elemen diagonal dan vertikal.

Setelah proses pemilihan potongan profil selesai, pada layar


akan ditampilkan label potongan pada semua elemen seperti gambar
3.32.

Gambar 3.32. Menentukan property elemen truss

Struktur Dengan Beban Statik

97

D. Menentukan Load Case


Untuk analisis model struktur di atas, diperlukan empat macam
Load Case, yaitu beban mati (DL), beban hidup (LL), beban angin (W) ke
kanan, dan beban angin (W) ke kiri. Langkah-langkah untuk menentukan
Load Case ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.., maka akan ditampilkan dialog
box Define Static Load Case Names. Disini ditampilkan default load
ialah LOAD1, dengan tipe beban DEAD dan pengali berat sendiri
(self-weight multiplier) sama dengan 1. Ganti pengali beban berat
sendiri dengan nol, kemudian klik pada Change Load, maksudnya
kita tidak memasukkan berat sendiri profil. Lihat gambar 3.33.

Gambar 3.33. Menentukan Load Case


Kemudian ditentukan Load Case kedua, ketiga dan keempat sebagai
berikut.
2. Dari dialog box Define Static Load Case Names :

Ubah LOAD1 menjadi LOAD2


Pilih tipe LIVE dari list box
Ubah pengali berat sendiri (self-weight multiplier) menjadi nol

Klik pada Add New Load button, maka akan ditampilkan dua
macam Load Case pada list box Loads, ialah LOAD1 dan
LOAD2.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan beban angin ke kanan
Ubah LOAD2 menjadi LOAD3 untuk beban angin ke kanan

98

Struktur Dengan Beban Statik

Pilih tipe WIND dari list box


Ubah pengali berat sendiri (self-weight multiplier) menjadi nol

Klik pada Add New Load button, maka akan ditampilkan tiga
macam Load Case pada list box Loads
4. Ulangi langkah 3 untuk menentukan beban angin ke kiri

Ubah LOAD3 menjadi LOAD4 untuk beban angin ke kiri


Pilih tipe WIND dari list box
Ubah pengali berat sendiri (self-weight multiplier) menjadi nol

Klik pada Add New Load button, maka akan ditampilkan empat
macam Load Case pada list box Loads
5. Klik Ok
E. Menentukan Beban Joint
Beban mati (DL), beban hidup (LL) dan beban angin (W)
dikerjakan pada joint atas dari truss. Besarnya beban sesuai dengan
ketentuan pada gambar 3.23.
1. Pilih joint paling kiri dan kanan, dengan toolbar
pilih Load Case
Name LOAD1, isikan beban mati (DL) pada Force Global Z dengan
7
2. Pilih joint atas yang lain, dengan toolbar
pilih Load Case Name
LOAD1, isikan beban mati (DL) pada Force Global Z dengan 12.50
3. Ulangi langkah 1 dan 2 untuk memberikan beban hidup (LL) dengan
Load Case Name LOAD2
4. Ulangi langkah 1 dan 2 untuk memberikan beban angin (W) ke kanan
dengan Load Case Name LOAD3
5. Ulangi langkah 1 dan 2 untuk memberikan beban angin (W) ke kiri
dengan Load Case Name LOAD4
Semua beban sudah diberikan pada model struktur, dan data model
struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.

Struktur Dengan Beban Statik

99

Gambar 3.34. Tampilan beban joint untuk Load Case LOAD3

E. Analisis Model
Untuk analisis model dapat dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Analyze/Set Options... maka akan ditampilkan dialog box
Analysis Options. Dari dialog box ini :
Pilih pada Fast DOFs Plane Frame.
Klik Ok.
2. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As. Dari dialog box ini :
Simpanlah model dengan nama file : KUDA-1, anda tidak perlu
menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri

Klik pada Save button

100

Struktur Dengan Beban Statik

3. Kemudian akan muncul window dengan menampilkan beberapa


variasi analisis. Apabila analisis telah lengkap, dan tidak ada pesan
kesalahan (error) atau peringatan (warning) klik Ok.
Setelah dilakukan analisis maka dapat ditampilkan bentuk
deformasi struktur dan gaya-gaya yang terjadi, sesuai dengan kombinasi
beban yang diinginkan.
F. Kontrol Tegangan dan Disain Struktur
Untuk kontrol tegangan dan disain struktur dapat dilakukan
sebagai berikut.
1. Pilih Menu Design/Steel Design agar dalam keadaan aktif, yang
ditunjukkan dengan tanda pada item menu Design/Steel Design.
2. Pilih Menu Define/Load Combinations.., maka akan ditampilkan
dialog box Define Load Combination yang berisi beberapa
kombinasi DSTL1, DSTL2 dan seterusnya. Dari dialog box ini pilih
Combinations DSTL1, maka akan tampil dialog box seperti gambar
3.36, kemudian :
Ubah Scale Factor untuk LOAD1 Load Case menjadi 1.4,
kemudian klik Modify.
Klik Ok.

Gambar 3.35. Menentukan Kombinasi Beban

Struktur Dengan Beban Statik

101

3. Dari dialog box Define Load Combination pada langkah nomor 2,


pilih Combinations DSTL2 dan kemudian :
Ubah Scale Factor untuk LOAD1 Load Case menjadi 1.2,
kemudian klik Modify.
Ubah Scale Factor untuk LOAD2 Load Case menjadi 1.6,
kemudian klik Modify.
Klik Ok.
4. Dari dialog box Define Load Combination pada langkah nomor 2,
pilih Combinations DSTL3 dan kemudian :
Ubah Scale Factor untuk LOAD1 Load Case menjadi 1.2,
kemudian klik Modify.
Ubah Scale Factor untuk LOAD2 Load Case menjadi 0.5,
kemudian klik Modify.

5.

6.
7.

8.

Ubah Scale Factor untuk LOAD3 Load Case menjadi 0.8,


kemudian klik Modify.

Klik Ok.
Dari dialog box Define Load Combination pada langkah nomor 2,
pilih Combinations DSTL4 dan kemudian :
Ubah Scale Factor untuk LOAD1 Load Case menjadi 1.2,
kemudian klik Modify.
Ubah Scale Factor untuk LOAD2 Load Case menjadi 0.5,
kemudian klik Modify.
Ubah Scale Factor untuk LOAD4 Load Case menjadi 0.8,
kemudian klik Modify.
Klik Ok lalu klik Ok.
Dari Menu Options, pilih Item Menu Preferences.. , kemudian klik
pada tab Steel, lalu pilih Steel Design Code AISC-LRFD93.
Pilih Start Design/Check of Structure. Setelah beberapa saat maka
akan ditampilkan gambar rasio interaksi P-M dengan warna-warna dan
nilai rasionya.
Apabila ingin mengetahui besarnya rasio dan detailnya, kita dapat
memilih salah satu elemen dan meng-klik dengan mouse kanan, maka
akan ditampilkan window informasi tegangan baja seperti gambar
3.36.

102

Struktur Dengan Beban Statik

9. Dari informasi seperti yang ditampilkan pada gambar 3.36 jika di-klik
pada Details, maka akan ditampilkan kontrol tegangan sesuai code
yang dipilih, ialah AISC-LRFD93 seperti gambar 3.37.

Gambar 3.36. Informasi kontrol tegangan baja

Gambar 3.37. Detail informasi kontrol tegangan elemen

Struktur Dengan Beban Statik

103

Gambar 3.38. Rasio interaksi P-M sesuai AISC-LRFD93


3.4. Model Gable Frame 2 Dimensi
Sebuah Gable Frame 2 dimensi bahan dari baja seperti gambar
3.39, digunakan unit dalam kN-m. Property elemen untuk kolom
digunakan profil baja WF 350x175x7x11, elemen miring digunakan profil
baja WF 400x200x8x13, unit profil dalam mm. Berat sendiri profil masuk
pada LOAD1.
Kuda-kuda direncanakan dengan peraturan (code) AISC-LRFD,
mutu baja yang digunakan mempunyai Fy = 240 MPa, dengan kombinsai
pembebanan sebagai berikut :

1.4 DL
1.2 DL + 1.6 LL
1.2 DL + 0.5 LL + 0.8 W

1.2 DL + 0.5 LL 0.8 W

104

Struktur Dengan Beban Statik


WLL =
WDL =

2.7 m

=
WAT

1 .5 k

1 kN/m'
8 kN/m'

N/m'

WAI

175

0.5 k
N

/m'

PLL= 2 kN
PDL= 10 kN

200

11

13
350

5.0 m

11

400

13

Profil KOLOM

10 m

Profil BALOK

10 m

Gambar 3.39. Model Gable Frame 2D


Untuk analisis dan disain model ini dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Tentukan unit yang sesuai ialah dalam kN-m.
2. Pilih menu File/New Model, maka akan tampil dialog box
Coordinate System Defintion.
3. Pada dialog box ini :
Klik pada tab Cartesian, kemudian isikan Number of Grid
Spaces X=2, Y=0 dan Z=1.
Isikan pada Grid Spacing jarak grid yang penting, untuk X=10
dan Z=5, untuk Y biarkan apa adanya, karena model akan
menggunakan bidang X-Z.
Layar monitor akan menampilkan window dalam tampak 3-D dan 2-D
yang diatur secara vertikal, kemudian pilih window 2-D bidang X-Z,
dan pilih satu window aktif dari menu Options/Windows/One.
4. Klik ganda pada grid horisontal yang atas, maka akan muncul dialog
box Modify Grid Lines, tambahkan grid horisontal untuk elevasi 7.70
(puncak atap). Caranya dengan mengisikan nilai 7.7 pada kotak editor,
lalu klik pada Add Grid Line, kemudian klik Ok.
5. Dengan toolbar
3.40.

gambarkan model gable frame seperti gambar

Struktur Dengan Beban Statik

105

Gambar 3.40. Gambar gable frame 2D


6. Pilih joint dukungan bagian bawah, kemudian dengan toolbar
tentukan dukungan sendi.
B. Menentukan Material dan Section
Pada contoh ini digunakan profil Wide Flange (WF) yang
ditentukan sendiri potongannya, karena SAP2000 tidak menyediakan.
Langkah-langkah yang dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Materials.., maka akan muncul dialog box Define
Material.

Klik material STEEL, kemudian klik Modify/Show Material,


maka akan muncul dialog box Material Property Data.
Tentukan steel yield stress = 240000 kN/m2 (240 MPa).

Klik Ok.

106

Struktur Dengan Beban Statik

2. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog


box Frame Sections. Pada dialog box tersebut :
Klik pada drop-down box Add I/Wide Flange, maka akan
ditampilkan dialog box I/Wide Flange Section seperti gambar
3.41.
Isikan nama profil pada Section Name dengan 350X175 untuk
profil kolom.
Isikan tinggi (t3), lebar (t2), tebal sayap atas (tf), tebal badan (tw),
lebar sayap bawah (t2b) dan tebal sayap bawah (tfb) dengan unit
dalam meter seperti gambar 3.41.
Klik Ok.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan profil miring (rafter) WF
dengan ukuran 400x200x8x13 dengan nama 400X200.

Gambar 3.41. Menentukan section elemen I/Wide Flange


Sekarang telah ada dua potongan elemen, yaitu profil dengan nama
WF 350X175 dan WF 400X200, yang nantinya dapat digunakan untuk
menentukan property elemen struktur.
C. Menentukan Property Elemen
Pada bagian ini akan digunakan dua Section yang telah ditentukan
untuk elemen-elemen struktur gable seperti ketentuan pada gambar 3.39.
Profil WF 350x175 digunakan untuk elemen kolom, sedang WF 400x200

Struktur Dengan Beban Statik

107

digunakan untuk elemen miring (rafter). Langkah-langkah yang dilakukan


ialah.
1. Pilih elemen-elemen kolom dengan meng-klik satu persatu pada
elemennya dengan tool bar pointer
ditampilkan dengan garis putus-putus.

. Elemen yang telah dipilih

Gambar 3.34. Menentukan profil gable frame


2. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan tampil dialog box
Define Frame Section. Pada dialog box ini :
Klik pada 350X175 di area Name
Klik Ok
3. Pilih elemen miring (rafter). Ulangi langkah nomor 2 untuk
menentukan profil 400X200 pada elemen rafter.
Setelah proses pemilihan potongan profil selesai, pada layar akan
ditampilkan label potongan pada semua elemen seperti gambar 3.34.

108

Struktur Dengan Beban Statik

D. Menentukan Load Case


Untuk analisis struktur di atas, diperlukan empat macam Load
Case. Pertama ialah beban mati (DL), beban hidup (LL), beban angin
kanan dan beban angin kiri (W). Langkah-langkah untuk menentukan Load
Case ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.. , maka akan ditampilkan dialog
box Static Load Case Names. Tentukan nama beban DEAD, tipe
beban DEAD dan faktor pengali berat sendiri 1.
2. Ulangi langkah nomor 1 untuk menentukan beban LIVE dan WIND
seperti gambar 3.35.

Gambar 3.35. Menentukan Load Case


E. Menentukan Beban Joint dan ELemen
Beban mati (DL), beban hidup (LL) dikerjakan pada joint atas
kolom. Besarnya beban sesuai dengan ketentuan pada gambar 3.39.
1. Pilih joint kiri atas dan kanan atas dari kolom, dengan toolbar
pilih Load Case Name DEAD, isikan beban mati (DL) pada Force
Global Z dengan 10
2. Pilih joint kiri atas dan kanan atas dari kolom, dengan toolbar
pilih Load Case Name LIVE, isikan beban hidup (LL) pada Force
Global Z dengan 2
3. Pilih elemen miring (rafter), dengan toolbar
pilih Load Case Name
DEAD dan direction Gravity (beban gravitasi ke bawah), isikan beban
Uniform Load dengan 8, seperti pada gambar 3.36
4. Ulangi langkah nomor 3 untuk memberikan beban hidup (LL) dengan
Load Case Name LIVE, isikan beban Uniform Load dengan 1

Struktur Dengan Beban Statik

109

Gambar 3.36. Menentukan beban gravitasi elemen


5. Pilih rafter yang kiri, dengan toolbar
pilih Load Case Name
WIND dan direction Local 2 (beban terhadap sumbu lokal-2), isikan
beban Uniform Load dengan 1.5, seperti pada gambar 3.37
6. Pilih rafter yang kanan, dengan toolbar
pilih Load Case Name
WIND dan direction Local 2, isikan beban Uniform Load dengan 0.5

Gambar 3.37. Menentukan beban arah sumbu lokal elemen


Semua beban sudah diberikan pada model struktur, dan data model
struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.

110

Struktur Dengan Beban Statik

F. Analisis Model
Untuk analisis model dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Analyze/Set Options... maka akan ditampilkan dialog box
Analysis Options. Dari dialog box ini :
Pilih pada Fast DOFs dengan Plane Frame.
Klik Ok.
2. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As. Dari dialog box ini :

Simpanlah model dengan nama file : GABLE, anda tidak perlu


menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri
Klik pada Save, kemudian akan muncul window dengan
menampilkan beberapa variasi analisis.
3. Apabila analisis telah lengkap, dan tidak ada pesan kesalahan (error)
atau peringatan (warning) klik Ok.
Setelah dilakukan analisis maka dapat ditampilkan bentuk
deformasi struktur dan gaya-gaya yang terjadi, sesuai dengan kombinasi
beban yang diinginkan.
G. Kontrol Tegangan dan Disain Struktur
Untuk kontrol tegangan dan disain struktur dapat dilakukan
sebagai berikut.
1. Pilih menu Design/Steel Design agar dalam keadaan aktif, yang
ditunjukkan dengan tanda (check).
2. Pilih menu Define/Load Combinations.. untuk melihat kombinasi
beban, apakah sudah sesuai dengan yang diinginkan. Apabila belum
sesuai, harus diubah agar sesuai dengan yang diinginkan.
3. Dari Menu Options, pilih Item Menu Preferences.. , kemudian klik
pada tab Steel, lalu pilih Steel Design Code AISC-LRFD93.
4. Pilih menu Design/Start Design/Check of Structure. Setelah
beberapa saat maka akan ditampilkan gambar rasio interaksi P-M
dengan warna dan nilai rasionya seperti gambar 3.38.
5. Apabila ingin mengetahui besarnya rasio dan detailnya, kita dapat
memilih salah satu elemen dan klik dengan mouse kanan, maka akan
ditampilkan window informasi tegangan profilnya. Dari informasi ini

Struktur Dengan Beban Statik

111

jika di-klik pada Details, maka akan ditampilkan kontrol tegangan


sesuai peraturan (code) yang dipilih, ialah AISC-LRFD93 seperti
gambar 3.39.

Gambar 3.38. Rasio Interaksi P-M dengan code AISC-LRFD 93


Dari tampilan gambar 3.38 ternyata semua profil yang digunakan
tidak aman, karena rasio tegangannya lebih besar dari 1.0, sehingga profil
yang digunakan perlu di ReDesign.
H. ReDisain Elemen
Untuk me-redisain elemen struktur dapat dilakukan sebagai
berikut.
untuk unlock model, agar dapat dilakukan edit
1. Tekan toolbar
pada strukturnya.
2. Pilih menu Define/Frame Sections untuk menambahkan profil
yang dimensinya lebih besar.
3. Dari dialog box Frame Sections tambahkan profil-profil WF
500x200x10x16, WF 600x200x11x17 dan WF 700x300x13x24
dengan Add I/Wide Flange.

112

Struktur Dengan Beban Statik

4. Ulangi Run dari menu Analyse dan kemudian Start Design/Check of


Structure dari menu Design, hasilnya ditampilkan seperti gambar
3.40.
5. Pilih kedua elemen kolom, kemudian pilih menu Design/ReDefine
Element Design Data, lalu pilih Change pada Element Section,
maka akan ditampilkan dialog box Select Sections. Dari dialog box
ini pilih nomor profil 600x200. Klik Ok, dan klik Ok.
6. Pilih menu Design/Start Design/Check of Structure, maka elemen
kolom sekarang rasio tegangannya 0.523.
7. Pilih elemen rafter dan ulangi langkah seperti pada nomor 5, kemudian
ulangi Start Design/Check of Structure lagi, dan elemen rafter rasio
tegangannya menjadi 0.984.

Gambar 3.39. Detail informasi kontrol tegangan elemen


Catatan : Perlu diketahui bahwa tegangan tersebut belum menunjukkan
tegangan elemen yang sebenarnya, karena kita melakukan
perubahan profil. Konsekuensi dari perubahan profil ialah
bahwa kekakuan elemen menjadi berubah, sehingga gaya-gaya
elemen, terutama momen akan berubah juga. Maka perlu
diulangi langkah-langkah sebagai berikut.

Struktur Dengan Beban Statik

113

8. Pilih semua elemen dengan menekan tombol Ctrl-A, atau dengan


windowing yaitu mengotaki semua elemen struktur, kemudian pilih
menu Design/Update Analysis Section. Anda akan dikonfirmasi
untuk Unlock model, tekan tombol Yes. Hal ini dimaksudkan untuk
meng-update Section elemen dengan profil yang telah ditentukan pada
ReDesign.
9. Ulangi Run dari menu Analyse dan kemudian Start Design/Check of
Structure dari menu Design, hasilnya akan ditampilkan seperti
gambar 3.40.

Gambar 3.40. Detail informasi kontrol tegangan elemen


Komentar : Dari gambar 3.40 terlihat bahwa elemen rafter masih belum
aman, karena rasio tegangannya masih lebih besar 1.0. Dari semua hal
yang telah dilakukan tersebut, yang perlu diperhatikan dalam meReDesign elemen ialah bahwa harus selalu dilakukan re-analisis, karena
dengan melakukan penggantian profil, property profil (A, I22, I33, J dan
lain sebagainya) akan berubah, sehingga kekakuan lentur dan yang
lainnya akan berubah, sehingga gaya-gaya yang terjadi pada masingmasing elemen akan berubah pula.

Struktur Dengan Beban Statik

113

114

Struktur Dengan Beban Statik

3.5. Model Portal Beton 2 Dimensi


Pada bagian ini akan dibahas sebuah portal beton seperti gambar
3.41, unit dalam kN-m, modulus elastis beton Ec=2.104 MPa. Elemen
kolom luar digunakan penampang 400x500, kolom tengah 400x600,
elemen balok lantai dan atap digunakan penampang T seperti gambar, unit
dalam mm. Berat sendiri elemen masuk pada DEAD LOADS (DL).
Beban-beban yang bekerja pada portal ialah berat sendiri dan
beban mati (DL), beban hidup (LL) dan beban gempa statik (E), seperti
dijelaskan pada gambar 3.41.
Portal direncanakan dengan code ACI 318-99 dengan mutu beton
fc=20 MPa, mutu baja tulangan longitudinal fy=400 MPa, dan mutu baja
tulangan geser fy=240 MPa, dengan kombinsai pembebanan disesuaikan
dengan SK SNI 1991 sebagai berikut :
1.2 DL + 1.6 LL
1.05 DL + 0.6 LL + 1.05 E

1.05 DL + 0.6 LL 1.05 E


LL=5 kN/m
DL=15 kN/m

LL=20 kN
DL=50 kN

LL=5 kN/m
DL=15 kN/m

+ 11.0

25 kN
LL=50 kN
DL=80 kN

LL=10 kN/m
DL=25 kN/m

LL=10 kN/m
DL=25 kN/m

30 kN

3.5 m
+ 7.5

LL=50 kN
DL=80 kN

LL=10 kN/m
DL=25 kN/m

LL=10 kN/m
DL=25 kN/m

3.5 m
+ 4.0

15 kN
120

600

120
500

250
BALOK LANTAI

6.0 m

500
400

200
BALOK ATAP

6.0 m

Gambar 3.41. Model portal beton 2D

4.0 m

Struktur Dengan Beban Statik

115

Untuk analisis dan disain model ini dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Tentukan unit yang sesuai ialah dalam kN-m.
2. Pilih menu File/New Model, maka akan tampil dialog box
Coordinate System Definition.
3. Pada dialog box ini :
Klik pada tab Cartesian, kemudian isikan Number of Grid
Spaces X=2, Y=0 dan Z=1.
Isikan pada Grid Spacing jarak grid untuk X=6 dan Z=4,
sedangkan untuk Y biarkan apa adanya, karena model akan
menggunakan bidang X-Z.
Layar monitor akan menampilkan windows dalam tampak 3-D dan 2D yang diatur secara vertikal. Pilih menu Options/Windows/One,
maka akan ditampilkan satu window saja.

Gambar 3.42. Gambar beton portal 2D

116

Struktur Dengan Beban Statik

4. Klik ganda pada grid horisontal yang atas, maka akan muncul dialog
box Modify Grid Lines, tambahkan grid horisontal untuk elevasi 7.5
dan 11.0.
Caranya dengan mengisikan nilai 7.5 pada kotak editor, lalu klik
pada Add Grid Line
Ulangi langkah di atas untuk menambahkan grid pada elevasi 11.0
Klik Ok.
5. Dengan toolbar
(Quick Draw Frame Element) gambarkan model
portal 2D. Caranya ialah dengan meng-klik diantara 2 perpotongan
grid line, maka dengan sekali klik akan tergambar elemen diantara dua
perpotongan grid.
6. Pilih joint dukungan yang bawah, kemudian dengan toolbar
pilih
dukungan jepit, sehingga akan ditampilkan model struktur seperti
gambar 3.42.
B. Menentukan Material dan Section
Pada contoh ini digunakan penampang beton yang ditentukan
sendiri karena SAP2000 tidak menyediakan. Langkah-langkah yang
dilakukan ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Materials.., maka akan muncul dialog box Define
Material.

Klik material CONC, kemudian klik Modify/Show Material,


maka akan muncul dialog box Material Property Data.

Isikan modulus elastis beton = 20 000 000 kN/m2 (2.104 MPa),


tegangan leleh tulangan longitudinal = 400 000 kN/m2 (400 MPa),
tegangan beton silinder = 20 000 kN/m2 (20 MPa), tegangan leleh
tulangan geser = 240 000 kN/m2 (240 MPa) dan tegangan geser
beton = 15 000 kN/m2 (15 MPa), seperti pada gambar 3.43
Klik Ok.
2. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections. Pada dialog box tersebut :
Klik pada drop-down box Add Rectangular, maka akan
ditampilkan dialog box Rectangular Section seperti gambar 3.44.

Struktur Dengan Beban Statik

117

Gambar 3.43. Menentukan property material beton

Isikan nama profil pada Section Name dengan K400X500 untuk


kolom tepi, kemudian pilih CONC pada kotak material. Isikan
tinggi (t3) = 0.5, lebar (t2) = 0.4
Klik pada Reinforcement, dan akan muncul dialog box seperti
gambar 3.45.
Isikan selimut beton (Cover to Rebar Center) = 0.05 (50mm),
jumlah tulangan arah-3 = 3 dan jumlah tulangan arah-2 = 3. Biarkan
pilihan pada Design Area of Steel, kemudian klik Ok, maka akan
muncul penampang kolom seperti gambar 3.46

Gambar 3.44. Menentukan dimensi kolom

118

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.45. Tulangan kolom


3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan profil kolom ukuran
400x600 dengan nama K400X600 dan tulangan seperti pada gambar
3.47.
4. Ulangi langkah nomor 2 tersebut di atas untuk menentukan elemen
balok sebagai berikut :

Klik pada drop-down box Add Tee, maka akan ditampilkan dialog
box Tee Section seperti gambar 3.48.

Gambar 3.46. Tampang kolom 400x500

Isikan nama profil pada Section Name dengan T250X500 untuk


balok lantai, kemudian pilih CONC pada kotak material. Kemudian

Struktur Dengan Beban Statik

119

isikan tinggi (t3) = 0.5, lebar sayap (t2) = 0.6, tebal sayap (tf) =
0.12 dan tebal badan (tw) = 0.25

Gambar 3.47. Tampang kolom 400x600

Klik pada Reinforcment, maka akan muncul dialog box seperti


gambar 3.49. Disini Element Class sudah menunjuk Beam, isikan
selimut beton atas (Top) = 0.05 dan bawah (Bottom) = 0.05

Gambar 3.48. Tampang balok T250x500


5. Ulangi langkah nomor 4 untuk menentukan potongan balok atap
dengan nama potongan T200X400

120

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.49. Selimut beton balok T


Sekarang telah ada empat Section, yaitu kolom K400X500 dan
K400X600, serta balok T250X500 dan T200X400, yang nantinya dapat
digunakan untuk mementukan property pada model strukturnya.
C. Menentukan Property Elemen
Pada bagian ini akan digunakan dua Section yang telah ditentukan
untuk kolom, dan dua Section untuk balok seperti yang telah ditentukan.
Langkah-langkah yang dilakukan ialah.
1. Pilih elemen kolom yang tepi dengan tool bar pointer
. Elemen
yang telah dipilih ditampilkan dengan garis putus-putus.
2. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan tampil dialog box
Define Frame Section. Pada dialog box ini :
Klik pada K400X400 di area Name
Klik Ok
3. Pilih elemen kolom yang tengah. Ulangi langkah 2 untuk menentukan
kolom dengan memilih K400X600 pada area Name.
4. Pilih elemen balok lantai, kemudian ulangi langkah 2 untuk
menentukan balok lantai dengan memilih T250X500 pada area Name.
5. Pilih elemen balok atap, kemudian ulangi langkah 2 untuk menentukan
balok atap dengan memilih T200X400 pada area Name. Setelah proses

Struktur Dengan Beban Statik

121

pemilihan potongan profil selesai pada layar akan ditampilkan label


elemen seperti gambar 3.50.

Gambar 3.50. Potongan elemen portal beton 2D


D. Menentukan Load Case
Untuk analisis struktur pada contoh ini diperlukan tiga macam
Load Case. Pertama ialah beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban
gempa (E). Langkah-langkah untuk menentukan Load Case ini ialah
sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.., kemudian akan ditampilkan
dialog box Static Load Case Names. Tentukan nama beban DL, tipe
beban DEAD dan faktor pengali berat sendiri 1.

Gambar 3.51. Menentukan Load Case

122

Struktur Dengan Beban Statik

2. Ulangi langkah nomor 1 untuk menentukan beban LL dan E dengan


faktor pengali berat sendiri 0 seperti gambar 3.51.
E. Menentukan Beban Elemen dan Beban Joint
Beban mati (DL) dan beban hidup (LL) yang dikerjakan pada
struktur besarnya sesuai dengan ketentuan pada gambar 3.41.
1. Pilih elemen pada bentang kiri untuk lantai 2 dan 3. Pilih menu
Assign/Frame Static Load/Trapezoidal..., maka akan tampil dialog
box Trapezoidal Span Loads seperti gambar 3.52. Dari dialog box
ini kemudian :
Pilih Load Case Name DL, Load Type Forces dan Direction
Gravity, Options Add to Existing Loads.
Pada Trapzoidal Loads pilih Absolut Distance from End-I,
kemudian isikan data seperti pada gambar 3.52.
Klik Ok.

Gambar 3.52. Menentukan beban trapesium


2. Pilih elemen pada bentang kanan untuk lantai 2 dan 3. Pilih menu
Assign/Frame Static Load/Trapezoidal..., maka akan tampil dialog
box Trapezoidal Span Loads seperti gambar 3.53. Dari dialog box
ini kemudian :

Pada Trapezoidal Loads isikan data seperti pada gambar 3.53

Struktur Dengan Beban Statik

123

Klik Ok.
3. Ulangi langkah nomor 2, dan dari dialog box Trapezoidal Span
Loads isikan data seperti gambar 3.54.
4. Ulangi langkah nomor 2, dengan toolbar
pilih Load Case Name
DL dan Direction Gravity, isikan pada beban Point Loads dengan
Distance = 3, Load = 80 seperti pada gambar 3.55
5. Ulangi langkah nomor 1 sampai nomor 4 untuk menentukan beban
hidup (LL). Demikian juga untuk beban DL dan LL pada balok atap
dilakukan dengan mengulang langkah nomor 1 sampai 4 tersebut.

Gambar 3.53. Data beban segitiga pertama

Gambar 3.54. Data beban segitiga kedua

124

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.55. Data beban terpusat pada elemen


6. Pilih joint lantai dua paling kiri, kemudian klik toolbar
, maka akan
tampil dialog box Joint Forces seperti gambar 3.56. Dari dialog box
ini tentukan Load Case Name E (gempa) dan pada Force Global X
isikan 15, lalu klik Ok.
7. Ulangi langkah nomor 6 untuk menentukan beban gempa (E) pada
joint paling kiri untuk lantai 3 dan atap.

Gambar 3.56. Menentukan beban gempa statik (E)


Semua beban sudah diberikan pada model struktur, dan data model
struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.
F. Analisis Model
Untuk analisis model dilakukan sebagai berikut.

Struktur Dengan Beban Statik

125

1. Pilih menu Analyze/Set Options... maka akan ditampilkan dialog box


Analysis Options. Dari dialog box ini :
Pilih pada Fast DOFs dengan Plane Frame.
Klik Ok.
2. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As. Dari dialog box ini :

Simpanlah model dengan nama file : PORTAL, anda tidak perlu


menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri
Klik pada Save
3. Kemudian akan muncul window dengan menampilkan beberapa
variasi analisis. Apabila analisis telah lengkap, dan tidak ada pesan
kesalahan (error) atau peringatan (warning) pada baris paling akhir
akan muncul pesan ANALYSIS COMPLETE.
4. Klik Ok.
Setelah dilakukan analisis maka dapat ditampilkan bentuk
deformasi struktur dan gaya-gaya yang terjadi, sesuai dengan kombinasi
beban yang diinginkan.

Gambar 3.57. Diagram gaya aksial akibat DL

126

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.58. Diagram gaya geser 2-2 dan momen 3-3 akibat DL
G. Disain Struktur Beton
Untuk disain elemen struktur dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Design/Concrete Design agar dalam keadaan aktif, yang
ditunjukkan dengan tanda
2. Pilih menu Define/Load Combinations.., maka akan tampil dialog
box Define Load Combinations. Dari dialog box ini :

Klik Add Default Desighn Combo maka akan ditampilkan dialog


box Define Load Combination seperti gambar 3.59
Pilih Combinations DCON2, kemudian klik Modify/Show
Combo, maka akan tampil dialog box seperti gambar 3.60. Ubahlah
agar kombinasi menjadi seperti pada gambar 3.60.
Ulang langkah di atas untuk mengubah kombinasi DCON3,
DCON4 yang disesuaikan dengan ketentuan pada SK SNI seperti
gambar 3.61 dan 3.62

Gambar 3.59. Kombinasi beban default

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.60. Kombinasi beban DL dan LL

Gambar 3.61. Kombinasi gempa (E) positif

127

128

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.62. Kombinasi gempa (E) negatif


3. Pilih menu Options/Preferences.. , kemudian klik pada tab Concrete,
lalu pilih Concrete Design Code AIC 318-99 seperti pada gambar
3.63.

Isikan faktor reduksi untuk Bending/Tension 0.80, Shear 0.60,


Compression (T) 0.65 dan Compression (S) 0.70.

Klik Ok.

Gambar 3.63. Penyesuaian faktor reduksi

Struktur Dengan Beban Statik

129

4. Pilih menu Design/Start Design/Check of Structure. Setelah


beberapa saat akan ditampilkan gambar luas tulangan yang diperlukan
pada setiap elemen. Perlu diketahui bahwa luas yang ditampilkan pada
gambar semuanya ialah 0.00, karena masih menggunakan unit dalam
kN dan meter. Untuk menampilkan luas tulangan dalam unit
milimeter, ubahlah unit dalam N-mm pada kotak di kanan bawah.

Gambar 3.64. Detail analisis elemen balok nomor 11


5. Apabila ingin mengetahui luas tulangan dan detail salah satu balok,
kita dapat memilih salah satu elemen balok dan klik dengan mouse
kanan, maka akan ditampilkan window informasi luas tulangan
longitudinal dan tulangan gesernya. Dari informasi ini jika di-klik pada
Details, maka akan ditampilkan analisis penampang sesuai code yang
dipilih, ialah AIC 318-99 seperti gambar 3.64.
6. Apabila ingin mengetahui luas tulangan dan detail salah satu kolom,
kita dapat memilih salah satu elemen kolom dan klik dengan mouse
kanan, maka akan ditampilkan window informasi luas tulangannya.
Dari informasi ini ada tiga pilihan ialah Interaction, Details dan
ReDesign. Jika di-klik pada Details maka akan ditampilkan analisis
penampang sesuai code yang dipilih, ialah AIC 318-99 seperti gambar
3.65., dan jika di-klik pada Interaction akan ditampilkan diagram

130

Struktur Dengan Beban Statik


interaksi kolom beton bertulang sesuai penampangnya seperti gambar
3.66.

Gambar 3.65. Detail analisis elemen kolom nomor 4

Gambar 3.66. Diagram interaksi kolom nomor 4

Struktur Dengan Beban Statik

131

3.6. Model Portal Prestress 2 Dimensi


Portal 2 dimensi dengan sebagian elemen balok menggunakan
bahan beton prestress dengan penegangan purna (post tensioning) seperti
gambar 3.67(a), unit yang digunakan dalam kN-m. Dimensi kolom paling
kiri digunakan 400x400mm2, kolom tengah dan paling kanan digunakan
500x900mm2. Balok bentang pendek (kiri) digunakan balok biasa (tidak
prestress) ukuran 400x500mm2, balok bentang panjang (kanan) digunakan
balok prestress ukuran 400x1200mm2. Gaya prategang pada balok
prestress direncanakan sebesar T=4000 kN, dengan lintasan tendon pada
ujung-I di=375mm, pada tengah bentang dc=430mm, dan pada ujung-J
dj=375mm, seperti gambar 3.67(b).
Beban mati (DL) pada balok biasa 30 kN/m dan beban hidup (LL)
7.5 kN/m, sedang beban mati pada balok prestress 50 kN/m, dan beban
hidupnya 15 kN/m. Portal dibebani gempa statik seperti gambar 3.67(a).
+ 13.0

P40X120

K50X90

K40X40

B40X50

K50X90

225 kN

4m

155 kN

+ 9.0
K50X90

P40X120

K50X90

K40X40

B40X50

4m
+ 5.0

85 kN

P40X120
K50X90

K40X40

K50X90

B40X50

6m

5m

20 m
(a) Model Frame 2D

T
di

Sumbu-2

Tengah Bentang

Elemen Frame

dj
dc

Sumbu-1

(b) Lintasan Kabel Prestress

Gambar 3.67. Model portal 2D dengan balok prestress


Portal direncanakan dengan code ACI 318-99 dengan mutu beton
fc= 25 MPa dengan modulus elastik Ec=20000 MPa, mutu baja tulangan

132

Struktur Dengan Beban Statik

longitudinal fy=400 MPa dan mutu baja sengkang fy = 240 MPa, dengan
kombinasi pembebanan sebagai berikut :
1.2 DL + 1.6 LL + 1.2 P

1.05 DL + 0.6 LL + 1.05 P + 1.05 E

1.05 DL + 0.6 LL + 1.05 P 1.05 E

Untuk analisis dan disain model ini dilakukan langkah-langkah


sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Tentukan unit yang sesuai ialah dalam kN-m.
2. Pilih menu File/New Model Kemudian akan tampil dialog box
Coordinate System Definition.
3. Pada dialog box ini :
Klik pada tab Cartesian, kemudian isikan Number of Grid
Spaces X=1, Y=0 dan Z=3.

Isikan pada Grid Spacing jarak grid untuk X=6 dan Z=4,
sedangkan untuk Y biarkan apa adanya, karena model akan
menggunakan bidang X-Z.
Layar monitor akan menampilkan window dalam tampak 3-D dan 2-D
yang diatur secara vertikal, kemudian pilih window 2-D bidang X-Z,
dan pilih satu window aktif dari menu Options/Windows/One.
4. Klik ganda pada grid horisontal tingkat 2, maka akan muncul dialog
box Modify Grid Lines, pindahkan grid horisontal tingkat 2 elevasi
4.0 menjadi 5.0. Caranya dengan mengisikan nilai 4.0 pada kotak
editor menjadi 5.0, lalu klik pada Move Grid Line. Ulangi untuk
memindah elevasi 8.0 menjadi 9.0, dan 12.0 menjadi 13.0, kemudian
klik Ok.
5. Klik ganda pada grid vertikal yang kanan, maka akan muncul dialog
box Modify Grid Lines, tambahkan grid vertikal untuk kolom paling
kanan dengan koordinat X=23.0 Caranya dengan mengisikan nilai
23.0 pada kotak editor, lalu klik pada Add Grid Line, kemudian klik
Ok.
6. Refresh window dengan menekan tombol F11 pada keyboard.
7. Dengan toolbar

gambarkan model portal seperti gambar 3.68.

Struktur Dengan Beban Statik

133

Gambar 3.68. Portal 2 dimensi dengan balok prestress


8. Pilih joint dukungan paling bawah, kemudian dengan toolbar
dukungan jepit.

pilih

B. Menentukan Material dan Section


Pada contoh ini digunakan material dari beton bertulang yang
ditentukan sendiri potongannya, maka langkah-langkah yang dilakukan
sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Materials.., maka akan muncul dialog box Define
Material. Pada dialog box ini :

Klik material CONC, kemudian klik Modify/Show Material,


maka akan muncul dialog box Material Property Data seperti
gambar 3.69.
Isikan property material seperti pada gambar 3.69

Klik Ok.

134

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.69. Menentukan tipe material beton bertulang


2. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections. Pada dialog box tersebut :
Klik pada drop-down list Add I/Wide Flange, pilih Add
Rectanglar maka akan ditampilkan dialog box Rectangular
Section seperti gambar 3.70.

Isikan nama profil pada Section Name dengan K40X40, pilih pada
drop down menu Material dengan CONC.
Isikan tinggi (t3) dengan 0.4 dan lebar (t2) dengan 0.4.

Klik pada Reinforcement, maka akan ditampilkan dialog box


Reinforcement Data. Pada dialog box ini pilih Column dan
Rectangular, kemudian isikan Cover Rebar to Center dengan
0.05, kemudian klik Ok, maka akan ditampilkan dialog box seperti
gambar 3.70.
Klik Ok.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan property kolom dengan
nama K50X90, dan isikan tinggi (t3) dengan 0.9 dan lebar (t2) dengan
0.5 seperti gambar 3.71.
4. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan property balok dengan
nama B40X50, isikan tinggi (t3) dengan 0.5 dan lebar (t2) dengan 0.4.
Klik
pada Reinforcement, maka akan tampil dialog box
Reinforcement Data seperti gambar 3.72. Pada dialog box ini :

Struktur Dengan Beban Statik

135

Pilih Elemen Class Beam


Isikan Concrete Cover to Rebar Center untuk Top 0.05, Bottom
0.05
Klik Ok.

Gambar 3.70. Menentukan section elemen kolom K40X40

Gambar 3.71. Menentukan section elemen kolom K50X90


5. Ulangi langkah nomor 4 untuk menentukan property balok dengan
nama P40X120, isikan tinggi (t3) dengan 1.2 dan lebar (t2) dengan
0.4.

136

Struktur Dengan Beban Statik

Gambar 3.72. Menentukan selimut beton balok


Sekarang telah ada empat property elemen, yaitu property kolom
K40X40 dan K50X90, serta balok B40x50 dan B40X120. Selanjutnya
property ini akan digunakan untuk menentukan elemen pada model
struktur sesuai dengan ketentuan yang diberikan.
C. Menentukan Property Elemen dan Gaya Prestress
Pada bagian ini akan digunakan empat property elemen yang telah
ditentukan untuk digunakan pada model struktur. Langkah yang dilakukan
ialah.
1. Pilih semua elemen kolom paling kiri dengan windowing
menggunakan tool bar pointer
. Elemen yang telah dipilih
ditampilkan dengan garis putus-putus.
2. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan ditampilkan dialog
box Define Frame Section. Pada dialog box ini :
Klik pada K40X40 di area Name
Klik Ok
3. Pilih semua elemen kolom tengah dan paling kanan. Ulangi langkah
nomor 2 untuk menentukan property kolom dengan memilih K50X90.
4. Pilih semua elemen balok pada bentang kecil (6 m). Ulangi langkah
nomor 2 untuk menentukan property balok dengan memilih B40X50.

Struktur Dengan Beban Statik

137

5. Pilih semua elemen balok pada bentang besar (20 m). Ulangi langkah
nomor 2 untuk menentukan property balok dengan memilih P40X120.
Setelah proses pemilihan potongan profil selesai, pada layar akan
ditampilkan label potongan property pada semua elemen. Untuk
menentukan balok prestress dilakukan sebagai berikut.
6. Pilih semua balok dengan bentang 20 m, kemudian pilih menu
Assign/Frame/Prestress, maka akan ditampilkan dialog box seperti
gambar 3.73. Pada dialog box ini :
Isikan pada Cable Tension dengan 4000

Isikan pada Start (+2 direction) dengan 0.375, isikan pada Middle
(2 direction) dengan 0.430, isikan pada End (+2 direction) dengan
0.375
7. Klik Ok.

Gambar 3.73. Menentukan gaya prestress


Setelah data selesai dimasukkan program akan menyimpan data
prestress.
D. Menentukan Load Case
Untuk analisis model struktur tersebut, diperlukan tiga macam
Load Case. Pertama ialah beban mati (DL), beban hidup (LL), dan beban
gempa (E). Langkah-langkah untuk menentukan Load Case ialah sebagai
berikut.

138

Struktur Dengan Beban Statik

1. Pilih menu Define/Static Load Case.., maka akan ditampilkan dialog


box Static Load Case Names.
2. Dari dialog box Static Load Case Namesini tentukan beban mati
dengan nama beban DL, tipe beban DEAD dan faktor pengali berat
sendiri 1.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan beban hidup LL, tipe
beban LIVE dan faktor pengali berat sendiri 0.
4. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan beban gempa E, tipe
beban QUAKE dan faktor pengali berat sendiri 0.
5. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan beban prestress P, tipe
beban OTHER dan faktor pengali berat sendiri 0.
Setelah selesai dilakukan langkah nomor 1 sampai dengan 5, maka
akan diperoleh Static Load Case seperti gambar 3.74.

Gambar 3.74. Menentukan Load Case DL, LL, E dan P


6. Pilih semua balok prestress (bentang 20 m), kemudian pilih menu
Assign/Frame Static Loads/Prestress, maka akan ditampilkan
dialog box seperti gambar 3.75. Pada dialog box ini :
Dari drop down list pada area Load Case Name pilih P
Pada Scale Factor isikan 1.

Klik Ok.

Langkah nomor 6 di atas maksudnya ialah menentukan Load Case


beban prestress dengan nama P, sehingga gaya-gaya maupun deformasi
akibat beban prestress dapat diamati tersendiri.

Struktur Dengan Beban Statik

139

Gambar 3.75. Menentukan Load Case beban Prestress


E. Menentukan Beban Joint dan ELemen
Beban mati (DL), beban hidup (LL) dikerjakan pada elemen,
sedangkan beban gempa (E) dikerjakan pada joint sebelah kiri. Besarnya
beban sesuai dengan ketentuan pada gambar 3.67(a), dan untuk
menentukan beban ini dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih elemen balok bentang 6 m
2. Dengan toolbar
pilih Load Case Name DL dan direction Gravity,
isikan beban Uniform Load dengan 30.
3. Pilih balok bentang 20 m, kemudian ulangi langkah nomor 2, pilih
Load Case Name DL dan direction Gravity, isikan beban Uniform
Load dengan 50.
4. Pilih balok bentang 6 m, kemudian ulangi langkah nomor 2, pilih Load
Case Name LL dan direction Gravity, isikan beban Uniform Load
dengan 7.5.
5. Pilih balok bentang 20 m, kemudian ulangi langkah nomor 2, pilih
Load Case Name LL dan direction Gravity, isikan beban Uniform
Load dengan 15.
6. Pilih joint paling kiri pada tingkat 1.
7. Dengan toolbar
pilih Load Case Name E, isikan beban gempa
pada Force Global X dengan 85.
8. Pilih joint paling kiri pada tingkat 2. Ulangi langkah nomor 7, pilih
Load Case Name E, isikan beban gempa pada Force Global X dengan
155.

140

Struktur Dengan Beban Statik

9. Pilih joint paling kiri pada tingkat 3. Ulangi langkah nomor 7, pilih
Load Case Name E, isikan beban gempa pada Force Global X dengan
225.
Semua beban sudah diberikan pada model struktur, dan data model
struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.
F. Analisis Model
Untuk analisis model dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Analyze/Set Options... maka akan ditampilkan dialog box
Analysis Options. Dari dialog box ini :
Pilih pada Fast DOFs dengan Plane Frame.
Klik Ok.

Gambar 3.76. Deformasi struktur akibat beban DL dan P


2. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As. Dari dialog box ini :
Simpanlah model dengan nama file : PRESTR, anda tidak perlu
menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri
Klik pada Save, maka akan muncul window dengan menampilkan
beberapa variasi analisis. Apabila analisis telah lengkap, dan tidak

Struktur Dengan Beban Statik

141

ada pesan kesalahan (error) atau peringatan (warning) baris


terakhir analisis akan tertulis ANALYSIS COMPLETE. Anda
dapat memeriksa dengan menggunakan scroll bar untuk melihat
apakah ada kesalahan atau peringatan.
3. Klik Ok.
Setelah dilakukan analisis maka dapat ditampilkan bentuk
deformasi struktur dan gaya-gaya yang terjadi, sesuai dengan kondisi
beban yang diinginkan.

Gambar 3.77. Momen akibat beban DL dan P


G. Kontrol Tegangan dan Disain Elemen
Untuk disain elemen struktur dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Design/Concrete Design agar item menu Concrete
Design dalam keadaan aktif, yang ditunjukkan dengan tanda
2. Pilih menu Define/Load Combinations.., maka akan tampil dialog
box Define Load Combinations. Kemudian klik pada Add Default
Desighn Combo maka akan ditampilkan dialog box Define Load
Combination
3. Pilih Combinations DCON1, kemudian klik Modify/Show Combo,
maka akan tampil dialog box Load Combination Data. Ubahlah pada

142

Struktur Dengan Beban Statik


Case Name dan Scale Factor menjadi seperti pada gambar 3.78,
kemudian klik Ok.

Gambar 3.78. Kombinasi beban DCON1

Gambar 3.79. Kombinasi beban DCON2


4. Pilih Combinations DCON2, kemudian klik Modify/Show Combo,
maka akan tampil dialog box Load Combination Data. Ubahlah pada

Struktur Dengan Beban Statik

143

Case Name dan Scale Factor menjadi seperti pada gambar 3.79,
kemudian klik Ok.

Gambar 3.80. Kombinasi beban DCON3

Gambar 3.81. Memilih kombinasi beban


5. Pilih Combinations DCON3, kemudian klik Modify/Show Combo,
maka akan tampil dialog box Load Combination Data. Ubahlah pada
Case Name dan Scale Factor menjadi seperti pada gambar 3.80,
kemudian klik Ok.

144

Struktur Dengan Beban Statik

6. Pilih menu Design/Select Design Combos.., maka akan tampil dialog


box Design Load Combinations Selection. Dari dialog box ini :
Pilih DCON4, kemudian klik <-Remove.
Pilih DCON5, kemudian klik <-Remove.
Pilih DCON6, kemudian klik <-Remove.
Langkah nomor 6 ini maksudnya ialah tidak menggunakan kombinasi
beban DCON4, DECON5 dan DECON6 pada disain elemen. Setelah
selesai melakukan langkah nomor 6 maka dialog box Design Load
Combinations Selection akan tampak seperti gambar 3.81, kemudian
klik Ok.
7. Pilih menu Design/Start Design/Check of Structure, tunggu
beberapa saat kemudian akan ditampilkan hasil desain luas tulangan
pada masing-masing elemen.
Karena unit yang digunakan masih dalam kN-m, maka luas
tulangan yang ditampilkan terlalu kecil, karena dalam unit m2. Ubahlah
unit pada kanan bawah menjadi N-mm, maka luas tulangan yang
ditampilkan adalah dalam mm2.

Gambar 3.82. Hasil disain luas tulangan

Struktur Dengan Beban Statik

145

Elemen yang tidak memenuhi syarat atau tegangannya terlalu


besar tidak ditampilkan luas tulangannya, tetapi diberi notasi O/S. Hal ini
artinya dimensi elemen kurang mencukupi pada analisis disain yang
dipilih, sehingga perlu untuk dilakukan redisain. Pada model ini elemen
yang tidak memenuhi ialah kolom lantai 3 pada bentang 20m, seperti
ditunjukkan pada gambar 3.82.
H. ReDisain Elemen
Untuk redisain elemen struktur dapat dilakukan dengan
memperbesar dimensi elemen atau dengan mengubah pilihan disain
melalui Overwrite Assignments. Langkah-langkah redisain melalui
Overwrite Assignments dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Pilih semua elemen dengan menekan bersama-sama tombol Ctrl dan
A (Ctrl-A).
2. Pilih menu Design/Redefine Elemen Design Data.., maka akan
ditampilkan dialog box Elemen Overwrite Assignments seperti pada
gambar 3.83.
3. Dari dialog box Elemen Overwrite Assignments ini :

Klik pada Change Element Type.


Pilih Nonsway, maksudnya disain elemen tanpa memperhitungkan
pengaruh goyangan (sway) struktur.
4. Klik Ok.

Gambar 3.83. Redisain dengan Overwrite Assignments

146

Struktur Dengan Beban Statik

5. Pilih menu View/Refresh Window, maka hasil redisain akan


ditampilkan seperti pada gambar 3.84.
Pengertian tentang disain struktur beton maupun baja sangat
diperlukan dalam analisis dan disain ini, sehingga pembaca agar
mempelajari peraturan-peraturan yang digunakan pada SAP2000 ini,
misalnya ACI 318-99, AISC dan sebagainya.

Gambar 3.84. Hasil Redisain dengan Overwrite Assignments


3.7. Model Elemen Non-Prismatis 2 Dimensi
Struktur dengan elemen non-prismatis dapat dimodelkan dengan
SAP2000, dengan bentuk elemen non-prismatis dapat dipilih mengikuti
fungsi linier, parabola (pangkat 2) atau kubik (pangkat 3).
Model portal pada gambar 3.85, semua balok adalah elemen nonprismatis dengan dimensi yang menempel pada kolom 300x800 mm2, dan
dimensi pada tengah bentang 300x300 mm2. Kolom lantai 1 adalah elemen
non-prismatis dengan dimensi bagian bawah 400x300 mm2, dan dimensi
bagian atas 400x600 mm2, sedangkan semua kolom lantai 2 dan 3 adalah
elemen prismatis dengan dimensi 400x600 mm2. Material dari beton
bertulang dengan Ec = 2.104 MPa, kuat tekan beton fc=25 MPa, tegangan

Struktur Dengan Beban Statik

147

leleh baja tulangan fy=400MPa dan tegangan leleh baja untuk sengkang
fy=240 MPa.
Beban mati (DL) pada semua balok 30 kN/m, dan beban hidup
(LL) pada semua balok 7,50 kN/m.
300
800

800

4.0 m
300
800

800

600

600

4.0 m

300
800

800

4.5 m
300

300

5m

5m

Gambar 3.85. Portal Dengan Balok Non-Prismatis


Untuk menentukan model dan analisis dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Tentukan unit yang sesuai ialah dalam kN-m.
2. Pilih menu File/New Model, maka akan ditampilkan dialog box
Coordinate System Defintion.
3. Pada dialog box Coordinate System Defintion ini :

148

Struktur Dengan Beban Statik


Klik pada tab Cartesian, kemudian isikan Number of Grid Spaces
X=1, Y=0 dan Z=3.

Isikan pada Grid Spacing jarak grid yang penting, untuk X=10 dan
Z=4, untuk Y biarkan apa adanya, karena model akan menggunakan
bidang X-Z.
Layar monitor akan menampilkan window dalam tampak 3-D dan 2-D
yang diatur secara vertikal, kemudian pilih window 2-D bidang X-Z,
dan pilih satu window aktif dari menu Options/Windows/One.
4. Klik ganda pada grid horisontal paling bawah, maka akan muncul
dialog box Modify Grid Lines, pindahkan grid horisontal pada elevasi
0.0 menjadi 0.5. Caranya dengan mengisikan nilai 0.5 pada kotak
editor yang berisi nilai 0.0, lalu klik pada Move Grid Line. Kemudian
klik Ok.
5. Refresh window dengan menekan tombol F11 pada keyboard.
6. Dengan toolbar

gambarkan model portal seperti gambar 3.86.

Gambar 3.86. Geometri portal 2 dimensi

Struktur Dengan Beban Statik


7. Pilih joint dukungan paling bawah, kemudian dengan toolbar
dukungan sendi.

149
pilih

B. Menentukan Material dan Section


Pada contoh ini digunakan material dari beton bertulang yang
ditentukan sendiri potongannya, maka langkah-langkah yang dilakukan
sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Materials.., maka akan muncul dialog box Define
Material.
Klik material CONC, kemudian klik Modify/Show Material,
maka akan ditampilkan dialog box Material Property Data seperti
gambar 3.87.

Isikan property material seperti pada gambar 3.87


Klik Ok.

Gambar 3.87. Menentukan property material


2. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections. Pada dialog box tersebut ditentukan property
kolom bawah sebagai berikut :
Klik pada drop-down list box Add I/Wide Flange, pilih Add
Rectangular maka akan ditampilkan dialog box Rectangular
Section.

150

Struktur Dengan Beban Statik


Isikan nama profil pada Section Name dengan K400X300, pilih
pada drop down menu Material dengan CONC.

Isikan tinggi (t3) dengan 0.3 dan lebar (t2) dengan 0.4.
Klik pada Reinforcement, maka akan ditampilkan dialog box
Reinforcement Data. Pada dialog box ini pilih Element Class
Column dan Rectangular, kemudian isikan Cover Rebar to
Center dengan 0.05, kemudian klik Ok.
Klik Ok.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan property kolom atas
dengan nama K400x600, isikan tinggi (t3) dengan 0.6 dan lebar (t2)
dengan 0.4, kemudian klik pada Reinforcement dan isikan Cover
Rebar to Center dengan 0.05, kemudian klik Ok, dan klik OK.
4. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan property balok yang
menempel kolom dengan nama B300X800, isikan tinggi (t3) dengan
0.8 dan lebar (t2) dengan 0.3. Klik pada Reinforcement, maka akan
tampil dialog box Reinforcement Data. Pada dialog box ini :

Pilih Element Class Beam


Isikan Concrete Cover to Rebar Center untuk Top 0.05, Bottom
0.05
Klik Ok.
5. Ulangi langkah nomor 4 untuk menentukan property balok yang
tengah dengan nama B300X300, isikan tinggi (t3) dengan 0.3 dan
lebar (t2) dengan 0.3.
6. Pilih menu Define/Frame Sections, maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections. Pada dialog box ini ditentukan elemen nonprismatis kolom lantai 1 sebagai berikut :
Klik pada drop down list box Add I/Wide Flange, pilih Add
Nonprismatic maka akan ditampilkan dialog box seperti gambar
3.88.
Isikan pada area Nonprismatic Section Frame dengan nama
NPKOLOM.
Pada Start Section pilih K400X300, dan pada End Section pilih
K400X600. Pada Length isikan 1, pada Length Type pilih
Variable, pada EI33 Variation pilih Linier, dan pada EI22
Variation pilih Linear. Maksud data ini ialah bahwa non-prismatis

Struktur Dengan Beban Statik

151

kolom variasinya linier pada arah kekakuan lentur terhadap sumbu


3 (EI33) dan sumbu 2 (EI22), dengan dimensi pada awal (Start
Section) 400x300 mm2 dan dimensi akhir (End Section) 400x600
mm2.

Klik Add, kemudian klik Ok.

Gambar 3.88. Menentukan property non-prismatis kolom


7. Ulangi langkah nomor 6 untuk menentukan property non-prismatis
pada balok. Pada dialog box Nonprismatic Section Defintion isikan
data sebagai berikut (lihat gambar 3.89) :
Pada area Nonprismatic Section Frame isikan NPBALOK.

Pada Start Section pilih B300X800, dan pada End Section pilih
B300X300, pada Length isikan 5, pada Length Type pilih
Absolute, pada EI33 Variation pilih Parabolic, dan pada EI22
Variation pilih Linear. Kemudian klik Add.

Ulangi dengan memilih B300X300 pada Start Section, dan


B300X800 pada End Section, pada Length isikan 5, pada Length
Type pilih Absolute, pada EI33 Variation pilih Parabolic, dan pada
EI22 Variation pilih Linear. Kemudian klik Add.
Klik OK.
Maksud data pada langkah nomor 7 di atas ialah bahwa variasi nonprismatis balok pada arah kekakuan lentur terhadap sumbu 3 (EI33)
parabola, dan variasi pada arah kekakuan lentur terhadap sumbu 2
(EI22) linier. Pada Length Type dipilih absolute, karena data yang
diberikan adalah panjang elemen (5 meter) dari ujung kiri sampai

152

Struktur Dengan Beban Statik


tengah bentang, dan 5 meter lagi pada tengah bentang sampai ujung
kanan balok. Apabila pada Length Type dipilih Variable, maka data
yang diberikan pada Length ialah 1.

Gambar 3.89. Menentukan property non-prismatis balok


Data property elemen prismatis dan non-prismatis telah
ditentukan, ialah elemen prismatis untuk kolom K400X600, elemen nonprismatis untuk kolom NPKOLOM, dan elemen non-prismatis untuk
balok NPBALOK. Selanjutnya property ini akan digunakan untuk
menentukan elemen pada model struktur sesuai dengan ketentuan yang
diberikan.
C. Menentukan Property Elemen
Pada bagian ini akan digunakan tiga property elemen yang telah
ditentukan untuk digunakan pada model struktur. Langkah-langkah yang
dilakukan ialah.
1. Pilih elemen kolom pada lantai 1. Elemen yang telah dipilih
ditampilkan dengan garis putus-putus.
2. Pilih menu Assign/Frame/Sections.., maka akan tampil dialog box
Define Frame Section. Pada dialog box ini :
Klik pada NPKOLOM di area Name

Klik Ok

Struktur Dengan Beban Statik

(a) Property elemen

153

(b) Pandangan perspektif

Gambar 3.90. Tampilan elemen Non-prismatis


3. Pilih elemen kolom pada lanta1 2 dan 3. Ulangi langkah nomor 2
untuk menentukan property kolom prismatis dengan memilih
K400X600.
4. Pilih semua elemen balok lantai 2 sampai 4. Ulangi langkah nomor 2
untuk menentukan property balok non-prismatis dengan memilih
NPBALOK.
Setelah proses penentuan property elemen selesai pada layar akan
ditampilkan label potongan property pada semua elemen seperti pada
gambar 3.90 (a).
5. Untuk menampilkan elemen non-prismatis pada window aktif, klik
toolbar

, kemudian klik pada check box Show Extrusions. Klik

maka akan ditampilkan model struktur


Ok, kemudian klik pada
seperti pada gambar 3.90 (b).
D. Menentukan Load Case
Untuk analisis model struktur tersebut, diperlukan dua macam
Load Case, yaitu beban mati (DL) dan beban hidup (LL) saja. Langkahlangkah untuk menentukan Load Case ialah.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.. , maka akan ditampilkan dialog
box Static Load Case Names.

154

Struktur Dengan Beban Statik

2. Pada dialog box Static Load Case Names tentukan beban mati
dengan nama beban DL, tipe beban DEAD dan faktor pengali berat
sendiri 1. Klik Cange Load.
3. Ulangi langkah nomor 2 untuk menentukan beban hidup LL, tipe
beban LIVE dan faktor pengali berat sendiri 0. Klik Add New Load.
4. Klik Ok.
E. Menentukan Beban Pada Elemen
Beban mati (DL), beban hidup (LL) dikerjakan pada elemen
balok, yang besarnya sesuai dengan ketentuan. Langkah-langkah yang
harus dilakukan.
1. Pilih semua elemen balok.
2. Dengan toolbar
pilih Load Case Name DL dan direction Gravity,
isikan beban Uniform Load dengan 30.
3. Pilih semua balok, kemudian ulangi langkah nomor 2, pilih Load Case
Name LL dan direction Gravity, isikan beban Uniform Load dengan
7.5.
Semua beban sudah diberikan pada model struktur, dan data model
struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis.
F. Analisis Model
Untuk analisis model dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Analyze/Set Options..., maka akan ditampilkan dialog
box Analysis Options. Dari dialog box ini :
Pilih pada Fast DOFs dengan Plane Frame.
Klik Ok.
2. Pilih menu Analyze/Run, maka akan ditampilkan dialog box Save
Model File As. Dari dialog box ini :
Simpanlah model dengan nama file : NON-PRIS, anda tidak perlu
menuliskan ekstension file .SDB, karena program akan
menambahkan sendiri

Klik pada Save, kemudian akan muncul window dengan


menampilkan beberapa variasi analisis. Apabila analisis telah
lengkap, dan tidak ada pesan kesalahan (error) atau peringatan

Struktur Dengan Beban Statik

155

(warning) baris terakhir analisis akan tertulis ANALYSIS


COMPLETE. Anda dapat memeriksa dengan menggunakan scroll
bar untuk melihat apakah ada kesalahan atau peringatan.
3. Klik Ok.
Setelah dilakukan analisis maka dapat ditampilkan bentuk
deformasi struktur dan gaya-gaya yang terjadi, sesuai dengan kondisi
beban yang diinginkan seperti gambar 3.91.

(a) Defleksi akibat beban mati (DL

(b) Momen akibat beban mati (DL)

(c) Gaya geser akibat beban mati (DL)


Gambar 3.91. Tampilan deflekesi dan gaya-gaya akibat beban mati (DL)

BAB IV
STRUKTUR DENGAN BEBAN DINAMIK
4.1. Umum
Bab ini membahas tentang struktur dengan beban dinamik,
sehingga pemahaman tentang beban dinamik dan analisis dinamik perlu
diketahui lebih dahulu oleh pembaca. Contoh-contoh yang akan dibahas
pada bab ini ialah beban dinamik dengan data response spectrum dan time
history.
Data response spectrum yang disediakan oleh SAP2000
diantaranya ialah UBC94S1, UBC94S2, UBC94S3. Apabila diinginkan
menggunakan data response spectrum
yang lain, pembaca dapat
menuliskan sendiri datanya sesuai yang dibutuhkan atau mengimpor dari
file. Untuk data time history dapat diimpor dari file yang telah ada, atau
dengan menuliskan sendiri datanya sesuai dengan yang diinginkan. Pada
SAP2000 telah disediakan data gempa Elcentro tahun 1940 yang ada pada
directory Example.
Untuk mereduksi jumlah persamaan dalam analisis dinamik perlu
digunakan lantai diapragma. Lantai diapragma ini ditentukan dengan
meng-constraint joint-joint pada lantai yang sama levelnya dengan salah
satu joint, seperti yang dijelaskan pada Bab 1.9 butir D gambar 1.12.
Dengan pemberian lantai diapragma ini massa tiap lantai dapat diberikan
pada salah satu joint saja.
4.2. Model Portal Baja 2 Dimensi
Portal dengan beban tiap lantai dan beban lateral statik seperti
gambar 4.1, digunakan bahan baja dengan Fy=240 MPa dan modulus
elastik Es=2.105 MPa. Elemen kolom menggunakan profil W14 dan balok
menggunakan profil W24, massa tiap lantai besarnya 70 kN detik-detik/m,
besar gaya gravitasi dianggap 9.81 m/detik2.
Portal direncanakan dengan beban dinamik, datanya diambil dari
response spectrum UBC94S2 dan dari time history gempa Elcentro. Unit
yang digunakan pada contoh ini ialah kN dan meter.

158

Struktur Dengan Beban Dinamik


LL=25 kN LL=25 kN LL=25 kN LL=25 kN
DL=50 kN DL=50 kN DL=50 kN DL=50 kN
LL=10 kN/m
DL=20 kN/m
3m

3m

3m

3m

3m

3m

80 kN
4.0 m
75 kN
4.0 m
62,5 kN
4.0 m
50 kN
4.0 m
37,5 kN
4.0 m
25 kN
4.0 m
12,5 kN
4.5 m
9.0 m

9.0 m

Gambar 4.1. Model portal baja 2D


Untuk analisis dan disain model ini dilakukan langkah-langkah
sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Pilih unit yang sesuai dengan keinginan, dalam contoh ini unit dalam
kN-m, dari menu pilihan di kanan bawah dengan kN-m.
2. Pilih menu File/New Model from Template, maka akan tampil
dialog box Model Template.

Struktur Dengan Beban Dinamik

159

3. Pada dialog box Model Template ini :

Klik pada template Portal Frame, maka akan tampil dialog box
Portal Frame seperti gambar 4.2.

Pada dialog box ini isikan data seperti pada gambar 4.2
4. Klik Ok.

Gambar 4.2. Data model portal 2D dari template


Layar monitor akan menampilkan dua buah window dalam tampak 3D dan 2-D yang diatur secara vertikal. Window sebelah kanan
menampilkan bidang X-Z dari model struktur untuk Y=0, dan window
sebelah kiri menampilkan prespektif 3-D dari model struktur. Pilih
menu Options/Windows/One untuk menampilkan satu window saja,
kemudian klik toolbar
untuk menampilkan model portal 2D pada
sumbu XZ.
Pada tingkat paling bawah tinggi lantai 4.50 meter, maka dukungan
harus dipindah kedudukannya menjadi 0.50 meter.

Gambar 4.3. Memindah grid paling bawah

160

Struktur Dengan Beban Dinamik

5. Pilih menu Draw/Glue Joints to Grid, sehingga tanda aktif.


6. Pilih grid horisontal yang paling bawah dengan double klik, maka
akan tampil dialog box Modify Grid Lines seperti gambar 4.3,
kemudian :

Isikan 0.50 pada Z Location, aktifkan ( ) Glue Joints to Grid


Lines
Klik Move Grid Line

Klik Ok.

7. Pilih tiga joint paling bawah, kemudian dengan tool bar


dukungan menjadi jepit seperti pada gambar 4.4

ubah

Gambar 4.4. Portal 2D bidang XZ


B. Menentukan Section
Pada contoh ini digunakan profil WF yang diambil dari SAP2000.
Nama file yang menyimpan data profil ini ialah SECTIONS.PRO dan

Struktur Dengan Beban Dinamik

161

disimpan dalam directory SAP2000. Langkah yang dilakukan sebagai


berikut.
1. Pilih menu Define/Frame Sections.., maka akan ditampilkan dialog
box Frame Sections
2. Pada dialog box Frame Sections tersebut :
Klik pada drop-down box Import
Klik pada Import I/Wide Flange. Kemudian akan ditampilkan
dialog box Section Property File. Carilah directory yang
menyimpan file SECTION.PRO pada C:\Computer and
Structures\SAP2000
Pada directory C:\Computer and Structures\SAP2000 ini
ditampilkan lokasi file SECTIONS.PRO. Bukalah file data
SECTIONS.PRO dengan Open atau dengan klik ganda pada nama
file, maka akan ditampilkan list box profil WF yang ada pada file
tersebut.
3. Pilih semua profil dengan awalan nomor W24, dengan cara :
Pertama klik bagian atas sendiri profil dengan nomor awal W24

Geser scroll bar ke bawah sampai pada nomor profil W24 paling
bawah

Sambil menekan tombol Shift, klik pada profil dengan nomor W24
paling bawah tersebut

Gambar 4.5. Memilih semua profil W24

162

Struktur Dengan Beban Dinamik

Apabila langkah pada nomor 3 tersebut berhasil, maka akan terpilih


semua profil W24 seperti pada gambar 4.5
4. Ulangi langkah nomor 3 untuk memilih profil dengan nomor W14.
5. Klik Ok
C. Menentukan Property Elemen Kolom dan Balok
Model struktur akan ditentukan profilnya dengan profil WF yang
telah pilih di atas. Profil W14 digunakan untuk kolom dan profil W24
digunakan untuk balok. Langkah-langkah yang dilakukan ialah sebagai
berikut.
1. Pilih semua elemen kolom, kemudian dengan toolbar
W14x99

pilih profil

2. Pilih semua elemen balok, kemudian dengan toolbar


W24x146

pilih profil

Setelah penentuan property untuk balok dan kolom lengkap, maka


model struktur akan ditampilkan seperti gambar 4.6.

Gambar 4.6. Profil yang digunakan pada portal

Struktur Dengan Beban Dinamik

163

D. Menentukan Load Case


Untuk analisis struktur di atas, diperlukan tiga macam Load Case.
Pertama ialah Dead Loads (DL) yang termasuk berat sendiri profil, kedua
ialah Live Loads (LL), dan yang ketiga ialah beban gempa statik (E).
Langkah-langkah untuk menentukan Load Case ialah sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Static Load Case.., kemudian akan ditampilkan
dialog box Static Load Case Names. Ubah LOAD1 menjadi DL, dan
biarkan saja self-weight multiplier tetap 1, kemudian klik Change
Load.
2. Untuk menambahkan Load Case beban hidup, ketikkan di bawah
Load dengan LL, ubah pada Type dengan LIVE, isikan self-weight
multiplier dengan 0, kemudian klik Add New Load.

Gambar 4.7. Menentukan Load Case


3. Untuk manambah Load Case beban gempa isikan di bawah Load
dengan E, ubah pada Type dengan QUAKE, isikan self-weight
multiplier dengan 0, kemudian klik Add New Load.
Setelah ketiga Load Case ditentukan maka ketiga Load Case
ditampilkan seperti gambar 4.7
E. Menentukan Beban Elemen dan Joint
Beban mati (DL) dan hidup (LL) pada balok dikerjakan secara
tipikal seperti pada gambar 4.1, sehingga langkah-langkahnya ialah sebagi
berikut.
1. Pilih semua balok dengan cara windowing atau intersecting seperti
yang pernah dijelaskan pada bab sebelumnya.

164

Struktur Dengan Beban Dinamik

2. Pilih menu Assign/Frame Static Loads/Point and Uniform..,


maka akan ditampilkan dialog box Point and Uniform Loads seperti
gambar 4.8, kemudian :
Pada Load Case Name pilih DL, pada Load Type and Direction
pilih Forces, dan pada Direction pilih Gravity
Pada Points Loads pilih Absolut Distance from End-I, isikan
Distance-1 dengan 3, Distance-2 dengan 6. Kemudian isikan Load
di bawah Distance-1 dengan 50, dan Load di bawah Distance-2
dengan 50 juga.

Pada Uniform Load isikan dengan 20


Klik Ok.

Gambar 4.8. Menentukan beban balok untuk DL


3. Pilih lagi semua balok dengan meng-klik toolbar
, kemudian ulang
langkah nomor 2 untuk menentukan beban hidup balok dengan Load
Case Name LL, seperti ditunjukkan pada gambar 4.9.
4. Pilih joint pada tingkat 1 paling kiri, kemudian pilih menu
Assign/Joint Static Loads../ Forces.., maka akan ditampilkan dialog
box Joint Forces seperti gambar 4.10. Pada dialog box ini :

Ubah nama Load Case menjadi E


Pada area Loads isikan 12.5 pada kotak Force Global X seperti
gambar 4.10
Klik Ok

Struktur Dengan Beban Dinamik

165

Gambar 4.9. Menentukan beban balok untuk LL


5. Ulang langkah nomor 4 untuk memberikan beban gempa pada joint
paling kiri untuk tingkat 2 sampai tingkat 7 sesuai beban lateral pada
gambar 4.1

Gambar 4.10. Menentukan beban joint untuk Load Case Name E


Semua beban statik sudah diberikan pada model struktur, dan data
model struktur sudah lengkap untuk dilakukan analisis statik. Untuk
analisis dinamik perlu diberikan data massa tiap lantai dan diapragma kaku
pada setiap lantai untuk mengurangi jumlah persamaan pada model
strukturnya.
F. Menentukan Diapragma dan Massa Translasi Lantai
Diapragma lantai dan massa translasi untuk model ini diberikan
hanya pada arah X, karena portal adalah 2 dimensi bidang XZ, dan
langkah-langkahnya ialah sebagi berikut.

166

Struktur Dengan Beban Dinamik

1. Pilih semua joint pada tingkat 1, kemudian :

Pilih menu Assign/Joint/Constarints..., maka akan ditampilkan


dialog box Constraint. Pilih Add Diaphragm dari drop down list
box, maka akan ditampilkan dialog box Diaphragm Constraint
seperti gambar 4.11.
Pada dialog box Diaphragm Constraint beri nama diapragma
dengan DIAPH1 untuk tingkat 1. Pada Constraint Axis pilih Z
Axis, hal ini menunjukkan bahwa arah diapragma tegak lurus
dengan sumbu Z.

Setelah data tersebut ditentukan maka dialog box Diaphragm


Constraint akan tampak seperti gambar 4.11, lalu klik Ok
2. Ulangi langkah nomor 1 tersebut untuk menentukan data diapragma
tingkat 2, 3, 4, 5, 6 dan 7 dengan memberi nama diapragma yang lain
untuk tiap-tiap tingkatnya.
Massa tiap tingkat diberikan pada salah satu joint yang mewakili satu
tingkat dengan memilih joint paling kiri untuk masing-masing tingkat
sebagai berikut.
3. Pilih semua joint paling kiri dari tingkat 1 sampai tingkat 7, kemudian
pilih menu Assign/Joint/Masses, maka akan ditampilkan dialog box
Joint Masses seperti gambar 4.12. Pada dialog box ini :

Isikan massa lantai pada arah lokal 1 dengan 70, yang pada model
ini ialah arah X.
Semua nilai yang lain biarkan tetap kosong seperti gambar 4.12,
kemudian klik Ok.

Gambar 4.11. Menentukan diapragma tingkat I

Struktur Dengan Beban Dinamik

167

Gambar 4.12. Menentukan massa lantai


G. Menentukan Response Spectrum
Response spectrum ialah respon maksimum pada dasar sistem
struktur yang bergetar akibat percepatan tanah, yang nilainya merupakan
fungsi dari waktu. Besarnya respon ini dipengaruhi oleh frekuensi alami
dan rasio redaman dari sistem struktur. Untuk analisis respon spectrum
pada model ini digunakan data respon spectrum dari UBC94S2 yang ada
pada SAP2000.
Untuk menentukan data respon spectrum dilakukan sebagai
berikut.
1. Pilih menu Define/Response Spectrum Case.
2. Klik pada ADD NEW SPECTRA, maka akan tampil dialog box
Response Spectrum Case Data, seperti gambar 4.13
3. Pada dialog box Response Spectrum Case Data ini :

Isikan pada Spectrum Case Name dengan UBC94S2


Isikan Damping dengan 0.05 (pada umumnya struktur mempunyai
rasio redaman 5%)
Pilih UBC94S2 untuk arah U1 dan Scale Factor 9.81 m/detik2.
Faktor skala ini digunakan karena data UBC94S2 telah
dinormalkan dengan percepatan gravitasi g.

168

Struktur Dengan Beban Dinamik


Klik Ok

Gambar 4.13. Respon spectrum UBC94S2

Gambar 4.14. Parameter analisis dinamik

Struktur Dengan Beban Dinamik

169

H. Analisis Model
Untuk analisis model dengan analisis dinamik dapat dilakukan
sebagai berikut.
1. Simpanlah model dengan nama file : POR_DIN.
2. Pilih menu Analyse/Set Options.
Pilih check box Dynamic Analysis

Klik pada SET DYNAMIC PARAMETER dan ubahlah Number


of Mode menjadi 7 seperti gambar 4.14.

Klik Ok.
3. Pilih menu Analyse/Run.
Kemudian akan muncul window dengan menampilkan beberapa
variasi analisis. Apabila analisis telah lengkap dan tidak ada kesalahan
pada layar akan ditampilkan ANALYSIS COMPLETE. Kemudian klik
Ok.

Gambar 4.15. Pilihan Mode Shape


I. Kontrol Hasil Analisis
Setelah dilakukan analisis maka perlu dikontrol hasil-hasil analisis
sebagai berikut.
1. Klik pada toolbar
, maka akan ditampilkan dialog box Mode
Shape, klik pada Cubic Curve dan pilih Mode Number sesuai yang
diinginkan, untuk model ini maskimum 7.
2. Klik Ok, maka akan ditampilkan gambar mode shape seperti gambar
4.16 lengkap dengan waktu getarnya ditulis pada bagian atas.

170

Struktur Dengan Beban Dinamik

Gambar 4.16. Hasil analisis dinamik pada mode-1 dan mode-2


3. Pilih semua elemen kolom paling bawah dan semua joint pada
dukungan, kemudian pilih menu Assign/Group Name.., maka akan
ditampilkan dialog box Assign Group seperti gambar 4.17. Beri
nama group yang telah dipilih tersebut dengan nama BASE SHEAR
kemudian klik Add New Group Name, kemudian klik Ok.

Gambar 4.17. Menentukan nama Group


4. Pilih menu Display/Show Group Joints Force Sum, maka akan
ditampilkan dialog box Select Group, kemudian pilih BASE SHEAR
dan klik Ok, maka akan ditampilkan informasi seperti pada gambar
4.18.

Struktur Dengan Beban Dinamik

171

Gambar 4.18. Gaya-gaya Base Shear akibat Response Spectrum SPEC1


5. Kontrol displacement akibat beban Response Spectrum dapat
dilakukan pada joint paling atas dengan cara sebagai berikut.
Dari Menu Display pilih Show Deformed Shape. Pilih load case
UBC94S2 Spectra, klik Ok.
Klik kanan pada joint atas/kiri (nomor joint 8), maka akan muncul
window informasi displacement joint seperti gambar 4.19. Amati
displacement arah X (arah 1)

Pilih joint paling atas yang tengah atau paling kanan dengan klik
kanan, setelah muncul window informasi displacement bandingkan
hasilnya dengan gambar 4.19. Nilai yang harus sama ialah translasi
joint arah 1.

Gambar 4.19. Informasi displacement pada joint 8


6. Kontrol mass participation untuk melihat apakah jumlah mode telah
mencukupi pada analisis dinamik dapat dilakukan dengan langkahlangkah sebagai berikut.
Minimize program SAP2000
Dengan Windows Explorer pilih directory yang digunakan untuk
menyimpan data, kemudian pilih file POR-DIN.OUT
Cari hasil analisis dengan judul MODAL PARTICIPATING
MASS RATIOS seperti pada gambar 4.20

172

Struktur Dengan Beban Dinamik

Akan terlihat pada kolom CUMULATIVE SUM dari mode 1


sampai mode 7 jumlahnya ialah 100.000%. Hal ini berarti jumlah
mode sebesar 7 yang ditentukan sudah mencukupi.

Gambar 4.20. Hasil output modal participating mass ratios


J. Menentukan Beban Dinamik Time History
Pada model ini akan dibebani dengan Time History yang diambil
dari gempa Elcentro 1940 arah N-S. Hasil analisis dari Time History ini
akan digunakan untuk menurunkan data Response Spectrum pada model
struktur dan kemudian dianalisis ulang. Untuk menentukan data Time
History dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih menu Define/Time History Functions.
2. Klik pada ADD FUNCTION FROM FILE

Klik Open File dan pilih file ELCENTRO dari directory


EXAMPLE pada SAP2000
Ubah nama fungsi dengan ELCENTRO
Format file Elcentro ini terdiri dari 3 pasang kolom data per baris.
Kolom pertama pada setiap pasangan menunjukkan waktu, dan
kolom kedua menunjukkan percepatan. Isikan 3 untuk Points Per
Line, pada data area Function File pilih Time and Function
Values seperti gambar 4.21, kemudian klik Ok.
Klik Ok

Struktur Dengan Beban Dinamik

173

Gambar 4.21. Menentukan gempa Elcentro

Gambar 4.22. Time History Case Data


3. Pilih menu Define/Time History Cases, untuk menentukan spesifikasi
Time History pada model. Klik pada ADD NEW HISTORY, maka
akan tampil dialog box Time History Case Data seperti gambar 4.22.
Pada dialog bix ini :

Isikan pada History Case Name dengan ELCENTRO.


Klik pada MODIFY/SHOW MODAL DAMPING dan isikan
0.05 (5%) untuk semua mode dan klik Ok.

Isikan 500 pada Number of Output Time Steps.

174

Struktur Dengan Beban Dinamik

Isikan 0.02 (detik) pada Output Time Step Sizes. Hal ini akan
memberi data gempa time history selama 10 detik.

Pilih Linear dari Analysis Type pada drop down list box.
Pada Load Assignment area pilih acc dir 1 di bawah Load, pilih
ELCENTRO di bawah Function. Ubah Scale Function dengan
9.81 m/detik2 untuk unit dalam kN-m, ubah Arrival Time dan
Angle dengan nol seperti gambar 4.22. Klik ADD untuk
menambahkan data dan klik Ok.
Klik Ok.

K. Analisis Model
1. Simpanlah model dengan nama file sama dengan nama file lama.
2. Tentukan parameter disain dari menu Analyze dan Set Options. Cek
seting pada Dinamic Analysis seperti pada gambar 4.14
3. Sebelum melakukan Run copylah file ELCENTRO ke directory data,
dimana anda menyimpan file model. File ELCENTRO ini akan dibaca
oleh program SAP2000 pada directory yang sama dengan file data
model.
4. Pilih menu Analyze/ Run.
L. Kontrol Hasil Analisis
Setelah analisis selesai dan tidak ada kesalahan atau peringatan,
maka kita perlu mengontrol hasil analisis sebagai berikut.
1. Kontrol base shear hasil analisis time history dengan langkah-langkah
sebagai berikut
Pilih menu Display/Show Time History Traces, kemudian dari
Time History Display Definition klik pada DEFINE
FUNCTIONS
Pada dialog box Time History Functions pilih Add Base
Functions dan pilihlah hanya pada Base Shear X
Klik Ok untuk kembali ke dialog box Time History Display
Definition
Klik pada Base Shear X dan klik Add ke list box Plot Function

Struktur Dengan Beban Dinamik

175

Klik pada Display untuk melihat Base Shear arah sumbu global X
yang merupakan fungsi waktu seperti gambar 4.23
2. Displacement joint akibat time history dapat juga dikontrol sebagai
berikut
Pilih nomor joint 8, kemudian pilih menu Display/Show Time
Hostory Traces
Klik pada DEFINE FUNCTIONS dan pada dialog box Time
History Functions pilih nomor joint dari daftar dan klik
MODIFY/SHOW TH FUNCTION seperti pada gambar 4.24

Pada dialog box Time History Joint Function pilih Vector Type
dengan Displ, dan pada Component pilih UX.

Setelah dilakukan perubahan klik Ok. Kemudian klik Ok untuk


kembali ke dialog box Time History Display Definition
Klik pada Joint8 dan klik Add ke list box Plot Function,
kemudian Remove fungsi Base Shear X
Klik pada Display untuk melihat displacement joint 8 arah sumbu
global X yang merupakan fungsi waktu.

Gambar 4.23. Fungsi Time History pada base shear

176

Struktur Dengan Beban Dinamik

Gambar 4.24. Menentukan TH joint 8


Catatan : untuk menentukan fungsi time history pada base shear dapat
juga dilakukan dengan memilih Add Group Summation Forces
dari group BASE SHEAR yang telah ditentukan pada gambar
4.17.

Gambar 4.25. Fungsi T H joint 8

Struktur Dengan Beban Dinamik

177

Gambar 4.26. Menentukan fungsi TH joint 8


Catatan : untuk menentukan time history pada joint dapat juga dilakukan
dengan tanpa memilih joint terlebih dahulu. Pada dialog box
Time History Joint Function isikan identitas nomor joint
seperti gambar 4.26. Selanjutnya untuk menampilkan fungsi
dapat dilakukan seperti yang telah dijelaskan di atas.
M. Response Spectrum Bangunan
Setelah analisis dengan Time History maka dapat diplot data
Response Spectrum bangunan. Data response spectrum tersebut dapat
disimpan pada file, kemudian di-edit sehingga dapat dibaca oleh program
SAP2000. Data ini kemudian digunakan untuk input Response Spectrum.
Untuk mem-plot Response Spectrum dilakukan dengan cara
sebagai berikut.
1. Pilih salah satu joint pada dukungan, misalnya pada dukungan tengah.
2. Pilih menu Dsiplay/Show Response Spectrum Curve. Pilihan ini
hanya aktif apabila kita telah memilih joint.
3. Pada dialog box Response Spectrum Generation anda akan
menemukan nomor joint yang telah dipilih

Pada tab Define pilih Vector Direction X


Pada tab Axes pilih Period untuk Abscissa dan PSA (Pseudo
Spectral Acceleration) untuk Ordinate.
Pada tab Options pilih Aritmetic untuk kedua Abscissa dan
Ordinate. Pada Ordinate isikan scale factor dengan 1/g, untuk

178

Struktur Dengan Beban Dinamik

g=9.81 m/detik2, maka 1/g= 0.101936 detik2/m. Faktor skala ini


digunakan untuk menormalkan Response Spectra.
Pada tab Period pilih Default dan frekuensi Structural, untuk
membangkitkan Response Spectrum.
Pada tab Damping tetap isikan 0.05 untuk Damping Value.

Klik DISPLAY
4. Akan terlihat response spectrum dari gempa El Centro dengan
damping 5% seperti gambar 4.27
5. Pada dialog box Response Spectrum Curves (gambar 4.27) klik pada
File dan pilih Print Tables to File. Hal ini akan membuat file dengan
dua kolom, kolom pertama ialah periode dan kolom kedua PSA.
Simpanlah file tersebut dengan nama RS-ELCEN.TXT
6. Dengan NOTEPAD atau WORDPAD bukalah file RS-ELCEN.TXT
tersebut, kemudian hapuslah data yang diblok hitam seperti pada
gambar 4.28

Gambar 4.27. Response Spectrum dari Time History


7. Simpanlah file yang telah di-edit tersebut pada text file dengan nama
sama ialah RS-ELCEN. File yang baru ini sekarang hanya mempunyai
data kolom periode dan PSA saja.
8. Jika model dalam kondisi Locked maka tekan toolbar Lock/Unlock
Model. Hal ini dilakukan karena kita akan melakukan modifikasi pada
model.

Struktur Dengan Beban Dinamik

179

Gambar 4.28. File text tabel Response Spectrum


9. Pilih menu Define/Response Spectrum Functions.
10. Dari dialog box Response Spectrum klik pada Add Function from
File.
Isikan nama spectra RSELCEN

Klik Open File dan pilih file RS-ELCEN.TXT dari dialog box
Pick File
Berikan Number Of Points Line sebesar 1, karena kita hanya
mempunyai satu set data saja.

Pilih option Period and Acceleration Values


Klik Ok untuk menutup dialog box
11. Pilih menu Define/Response Spectrum Cases
12. Pada dialog box Response Spectrum klik ADD NEW SPECTRA
Isikan Modal Damping dengan 0.05

Pada area Input Response Spectra pilih RSELCEN untuk arah


U1 dan berikan skala 9.81 m/detik2

180

Struktur Dengan Beban Dinamik

Nilia-nilai yang lain biarkan mengikuti defaultnya, kemudian klik


Ok.
13. Simpanlah data model dan lakukan analisis dengan Run dari menu
Analyze.
N. Kontrol Hasil Analisis
Setelah analisis dengan beban gempa Statik, Time History dan
Response Spectrum dilakukan pada model struktur, maka hasil yang
diperoleh perlu dibandingkan. Hasil yang perlu dibandingkan ialah
defleksi maksimum pada joint teratas dan Base Shear pada model.
Untuk mengetahui defleksi akibat Response Spectrum dapat
dilakukan dengan cara sebagai berikut.
1. Pilih menu Display/Display Deformed Shape

Pada dialog box Deformed Shape pilih load case Spectral


Analysis.

Klik Ok.
2. Klik kanan pada joint teratas untuk melihat displacement pada arah
sumbu global X.
Untuk mengetahui Base Shear dari Response Spectrum dapat
digunakan group BASE SHEAR yang telah ditentukan sebelumnya, dan
hasilnya seperti gambar 4.29.

Gambar 4.29. Base Shear akibat beban statik dan Response Spectrum
Untuk mengetahui Base Shear dan defleksi maksimum akibat
Time History dapat dilakukan sebagai berikut.

Struktur Dengan Beban Dinamik

181

1. Dengan langkah-langkah yang telah dijelaskan untuk mendapatkan


hasil seperti gambar 4.23 untuk pilihan joint paling atas, maka akan
dapat diketahui defleksi maksimum joint tersebut.
2. Sekarang Remove joint tersebut dari list Plot Functions dan pilih
Base Shear X dari List Functions pada dialog box Time History
Display Definition, maka akan dapat diketahui gaya Base Shear
maksimum yang terjadi.
Hasil yang diperoleh dari ketiga analisis beban tersebut diberikan
pada tabel 4.1
Tabel 4.1. Perbandingan defleksi dan Base Shear hasil analisis
Beban Statik (E)

Response Spectrum

Time History

Defleksi Maksimum

0.07345 m

0.79639 m

0.1508 m

Base Shear Maksimum

342.500 kN

4048.589 kN

810.300 kN

4.3. Disain Model Portal Baja 2 Dimensi


A. Menentukan Material
Portal baja seperti gambar 4.1 yang telah dibahas dapat
dimodifikasi, untuk selanjutnya dilakukan disain elemen strukturnya.
Untuk mutu material yang dipilih dapat dilakukan dengan cara sebagai
berikut.
1. Periksalah bahwa unit yang digunakan dalam kN-m
2. Dari Menu Define pilih Materials
3. Pilih pada tipe Material STEEL dan klik pada MODIFY/SHOW
MATERIAL
4. Berikan nilai Steel Yield Stress Fy = 240 000 kN/m2
5. Berikan nilai Modulus of Elasticity Es = 200 000 000 kN/m2
6. Klik Ok untuk menyimpan data masukan

182

Struktur Dengan Beban Dinamik

B. Menentukan Beban
Beban yang bekerja pada model struktur terdiri dari beban DL, LL
dan gempa E. Untuk beban DL sebaiknya dipisahkan berat sendiri profil
dengan nama SELF, seperti pada gambar 4.30.

Gambar 4.30. Load Case beban statik


C. Menentukan Auto Selection Group
Auto Selection Group merupakan pilihan sangat efektif pada
SAP2000 untuk mendisain struktur. Dengan menentukan kelompok profil
menggunakan group Auto Selection, program dapat mendisain setiap
elemen frame sesuai dengan group yang telah ditentukan tersebut. Sebagai
contoh kita dapat menentukan group Auto Selection dengan nama
KOLOM menggunakan profil W36, dan BALOK dengan profil W40.
Dengan cara ini elemen yang diberi nama group Auto Selection KOLOM
hanya akan didisain dengan profil W36, dan elemen yang diberi nama
group Auto Selection BALOK akan didisain dengan profil W40.
Apabila perkiraan awal disain yang telah diberikan pada struktur
ingin dilakukan revisi, group BALOK dan KOLOM dapat diganti dengan
potongan profil yang optimum dari kedua group Auto Selection tersebut.
Dengan potongan profil yang baru kemudian dilakukan analisis dan disain
ulang, sehingga dengan cara ini penggantian beberapa profil akan lebih
mudah dilakukan.
Catatan : Auto Selection ini hanya berlaku untuk struktur yang elemennya
menggunakan profil baja saja.

Struktur Dengan Beban Dinamik

183

Langkah-langkah untuk melakukan hal tersebut ialah sebagai


berikut.
1. Pilih Menu Define/Frame Sections.
2. Pada dialog box Frame Sections import semua profil WF dengan
nomor W36x150 sampai W36x848, seperti yang telah dijelaskan pada
gambar 4.5.
3. Dari dialog box Frame Sections, hapuslah apabila ada beberapa
potongan profil yang sama. Perlu diketahui bahwa anda tidak dapat
menghapus profil yang sedang digunakan pada model.
4. Dari dialog box Frame Sections tambahkan Auto Select pada drop
down Add.. sehingga muncul dialog box seperti gambar 4.31

Ubahlah pada Auto Sections Name dengan KOLOM


Pada list box Auto Selections pilih nomor profil yang bukan jenis
W36, kemudian klik Remove. Hal ini untuk menentukan profil
kolom yang digunakan ialah dari jenis profil dengan nomor W36.

Gambar 4.31. Auto Selection KOLOM


5. Dengan cara seperti pada langkah 2 sampai 4 di atas
Import profil dengan nomor W40x149 sampai W40x655

Tentukan group Auto Selection dengan nama BALOK, yang


nomor profilnya dimulai dengan W40 saja
6. Pilih semua elemen vertikal dan tentukan profilnya dengan KOLOM,
kemudian pilih semua elemen horisontal dan tentukan profilnya degan
BALOK.

184

Struktur Dengan Beban Dinamik

D. Analisis Struktur
Setiap kali data diberikan atau dimodifikasi, maka harus dilakukan
analisis dan kemudian dilihat hasilnya.
1. Simpan data yang telah dimodifikasi
2. Tentukan parameter disain dengan Set Options pada Menu Analyze
Pada dialog box Analysis Options pilih Plane Frame.

Pada check box pilih Include P-Delta.


Klik pada SET P-DELTA PARAMETERS, kemudian pada
Maximum Iterations isikan 10. Masukkan dua load case beban
DL dan SELF pada kombinasi beban P-Delta dengan faktor 1, dan
faktor beban LL dengan 1. Klik Ok.
2. Pilih Menu Analyze/Run untuk analisis struktur.
E. Disain Profil Elemen
Setiap kali selesai melakukan analisis, harus dilihat dan dikontrol
hasilnya. Untuk model struktur ini digunakan parameter disain baja. Untuk
memilih Code (Peraturan Baja) yang digunakan dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih Menu Options/Preferences.
2. Pada dialog box Preferences di bawah tab Steel pilih code (peraturan)
baja yang ingin digunakan.
Pilih peraturan yang digunakan dengan AISC-ASD-89.

Pada Section Properties file pilihlah file yang sama dengan file
pada saat kita mengimport potongan profil.

Untuk mendisain elemen struktur, setelah dipilih code yang akan


digunakan maka perlu mengetahui kombinasi beban yang diinginkan.
Untuk itu perlu dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Pertama-tama yakinkan pada Menu Design bahwa Steel Design dalam
keadaan aktif (ada tanda ). Hal ini untuk memberitahukan kepada
program SAP2000 bahwa disain menggunakan baja.
2. Pilih Menu Design/Select Design Combos
Lihat kombinasi beban yang secara otomatis dibuat oleh program
pada list box Design Combos dengan memilih dan meng-klik pada
SHOW.

Struktur Dengan Beban Dinamik

185

Apabila diinginkan kombinasi yang lain, dapat ditambahkan


melalui Menu Define dan Load Combinations .
3. Pilih Menu Design/Start Design/Check of Structure, maka akan
terlihat :
Setiap elemen didisain dengan potongan profil yang lebih efisien
dari group Auto Selection sesuai dengan yang telah ditentukan.
SAP2000 secara otomatis menampilkan persen tegangan
maksimum di bawah masing-masing elemennya.
Elemen-elemen
ditampilkan
dengan
warna-warna
yang
menunjukkan nilai tegangan. Nilai warna tegangan dapat dilihat
pada bagian bawah.
F. Menampilkan Hasil dan Redisain
Setiap kali selesai melakukan disain, harus dikontrol hasilnya.
SAP2000 menyediakan beberapa cara untuk mengontrol hasil disain.
1. Klik kanan pada salah satu elemen untuk melihat hasil disain. Elemen
yang dipilih akan ditampilkan berkedip.
2. Pada dialog box Steel Check Information dapat dilihat daftar
kombinasi pembebanan yang digunakan untuk kontrol profil di
sepanjang elemen (lihat gambar 4.32).

Setiap kombinasi pembebanan ditampilkan kontrol rasio tegangan


untuk interaksi momen dan geser.

Salah satu kombinasi pembebanan ditampilkan dengan blok warna


biru. Hal ini menandakan bahwa kombinasi beban tersebut adalah
maksimum dan menentukan untuk disain elemen.

Gambar 4.32. Informasi kontrol tegangan baja pada elemen 30

186

Struktur Dengan Beban Dinamik

3. Pilih sembarang kombinasi, kemudian klik pada Details, maka akan


ditampilkan hasil analisis elemen dan persamaan umum dari peraturan
(code) yang digunakan.

Gambar 4.33. Detail informasi kontrol tegangan profil pada elemen 30


4. Klik pada ReDesign, maka akan ditampilkan dialog box Element
Overwrite Assigment. Pada dialog box ini dapat dilakukan :

Memilih profil lain untuk mengetahui pengaruhnya terhadap rasio


tegangan. Jika melakukan perubahan dengan Element Overwrite
Assigment, maka sesudahnya harus meng-klik toolbar
Window) untuk melihat perubahannya.

(Refresh

Tentukan elemen sebagai Moment Resisting Element atau sebagai


Brace.

Gantikan faktor disain seperti panjang efektif batang, unbraced


length ratio dan lain- lainnya.
Overwrite Allowable Stress yang digunakan untuk disain. Nilai
ini ialah tegangan ijin sekarang, yang digunakan pada profil.

Struktur Dengan Beban Dinamik

187

Apabila telah selesai melakukan modifikasi kemudian klik Ok.


5. Untuk menggunakan profil yang telah di-redisain pada analisis
berikutnya, diperlukan Update Analysis Sections dari Menu Design.
Maksudnya ialah menggantikan profil untuk memperoleh matrik
kekakuan yang baru, sehingga disain yang lebih akurat dapat
diperoleh.
6. Untuk melihat hasil variasi disain dapat dilakukan dengan meng-klik
Details pada dialog box seperti gambar 4.32, sehingga akan
ditampilkan dialog box seperti gambar 4.33.
7. Hasil disain dapat juga dicetak ke printer dari Menu File, kemudian
Print Design Tables. Untuk mencetak elemen-elemen yang terbatas
dapat dilakukan dengan memilih elemen yang ingin dicetak saja.
G. Mengulang Analisis
Pada analisis struktur yang pertama kali, yang digunakan untuk
menyusun matrik kekakuan ialah dengan memperkirakan property profil.
Oleh karena itu model struktur perlu dilakukan analisis ulang untuk
meyakinkan bahwa analisis struktur yang dilakukan telah sesuai dengan
profil yang dipilih atau ditentukan.
1. Setiap kali selesai memodifikasi potongan profil yang digunakan,
pilihlah semua profil yang dimodifikasi, kemudian dari Menu Design
pilih Update Analysis Sections. Kemudian dilakukan analisis ulang
agar potongan profil yang telah dipilih digunakan untuk menyusun
matrik kekakuan strukturnya.
2. Pilih Menu Design/Start/Design of Structure untuk mengulangi
desain dan untuk melihat perubahan yang terjadi.
3. Apabila telah puas dengan profil yang dipilih, pilih semua elemen,
kemudian dari Menu Design pilih Replace Auto w/Optimal Sections.
Hal ini akan mengganti profil secara tetap dari Auto Sections dengan
disain profil yang optimal atau profil yang dipilih.
H. Disain Dengan LRFD
Disain dengan metode LRFD (Load & Resistance Factor Design)
pada dasarnya sama dengan disain dengan ASD (Allowable Stress
Design). Kombinasi pembebanan dan kontrol tegangan yang digunakan

188

Struktur Dengan Beban Dinamik

pada LRFD menyebabkan hasil analisisnya berbeda. Untuk mendisain


dengan LRFD harus diubah beberapa parameter inputnya sebagai berikut.
1. Load Factor analisis untuk P-Delta harus diubah dengan nilai yang
baru.
2. Dari dialog box Preferences pilih code AISC-LRFD93 untuk
peraturan bajanya.
3. Ulangi disain elemen strukturnya.
I. Disain Elemen Dengan Group
Apabila ingin mendisain elemen tanpa banyak variasi profil, maka
dapat dilakukan dengan membuat group elemen. Cara ini akan
memudahkan disain elemen dengan dimensi profil yang sama pada group
yang ditentukan. Sebagai contoh dapat ditentukan dua atau tiga tingkat
yang dimensi profil baloknya sama. Hal ini dapat juga dilakukan pada
elemen kolom, misalnya dimensi semua kolomnya sama untuk lantai satu
sampai tiga dan sebagainya. Untuk hal tersebut dapat dilakukan langkahlangkah sebagai berikut.
1. Tentukan ulang untuk Auto Selection Sections.
2. Tentukan elemen balok pada tingkat 3 ke bawah dengan nama
BAWAH. Pilih ulang elemen tersebut dan tentukan nama groupnya
BALOK.
3. Tentukan elemen balok untuk tingkat 4 sampai 5 dengan nama
TENGAH. Pilih ulang elemen tersebut dan tentukan nama groupnya
TENGAH.
4. Tentukan elemen balok untuk tingkat 6 ke atas dengan nama ATAS.
Pilih ulang elemen tersebut dan tentukan nama groupnya ATAS.
5. Ulangi analisis model strukturnya.
6. Dari Menu Design pilih Select Design Group. Hal ini akan membuat
disain sesuai group yang telah ditentukan dan akan memilih profil
yang teringan.
Dari list box Design Group masukkan pilihan group ATAS,
TENGAH dan BAWAH saja.
Klik Ok, maka SAP2000 akan mendisain profil dengan sendirinya.
7. Bandingkan hasilnya dengan cara disain yang pertama.

Struktur Dengan Beban Dinamik

189

J. End Offset
Struktur pada analisis dan disain seperti yang telah dilakukan
didasarkan atas gaya-gaya tanpa memperhitungkan dimensi profil pada
pertemuan balok dan kolomnya. Hal tersebut bukan merupakan asumsi
yang keliru, tetapi SAP2000 menyediakan analisis yang lebih akurat untuk
memodelkan struktur dengan memperhitungkan lebar/tinggi profil
balok/kolomnya. Dengan Member End Offset dapat ditentukan daerah
diantara pertemuan balok dan kolom yang tidak ada gaya-gayanya,
terutama ialah momen. Untuk menentukan rigid end offset tersebut dapat
dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih semua elemen
2. Pilih Menu Assign/Frame/End Offsets, maka akan ditampilkan
dialog box seperti gambar 4.34.

Pada dialog box End Offset pilih Update Lengths From Current
Connectivity. Hal ini akan menugaskan program menghitung
sendiri end offset dari profil pada setiap joint.
Isikan 1 untuk Rigid Zone Factor. Hal ini maksudnya ialah
potensial kekakuan yang diberikan pada analisis End Offset-nya
100%.
3. Jika dipilih Element Shrink pada dialog box Set Elements dan
melihat pada window yang aktif, maka akan ditampilkan End Offsetnya.
4. Yang perlu diingat ialah bahwa setiap kali mengubah profil elemen,
maka End Offset-nya harus di-reset.

Gambar 4.34. Menentukan End Offset

190

Struktur Dengan Beban Dinamik

(a) Bending momen akibat DL

(b) Gaya geser akibat DL

(c) Gaya aksial akibat DL

(d) Bending momen akibat E

Gambar 4.35. Gaya-gaya Batang Pengaruh End Offset

Struktur Dengan Beban Dinamik

191

4.4. Model Frame Beton 3 Dimensi


Untuk model frame tiga dimensi perlu diperhatikan adanya
penomoran joint dan elemen, terutama untuk joint pusat massa. Perlu juga
diperhatikan arah sumbu-sumbu lokal untuk elemen kolom/vertikalnya,
karena arah sumbu lokal ini harus sesuai dengan model struktur yang
ditentukan.
18
23

26
12

16

17

22

12

21

16
4m

14

10

19

11

6
11

15

10

20

14
4m

25

24
8
15

18

13

5
9

13

17
2

6m

7
3

1
Z

5m

6m

Gambar 4.36. Portal Beton 3 Dimensi


Pada gambar 4.36 diberikan contoh portal tiga dimensi yang
sederhana, dengan ketentuan sebagai berikut :
1. Semua bahan dari beton bertulang dengan modulus elastis Ec=2.107
kN/m2. Kuat tekan beton fc=25 MPa, baja tulangan fyl=400 MPa, dan
baja sengkang fys=240 MPa.
2. Semua kolom ukurannya 300x400 mm2, sumbu lokal 3 sejajar dengan
sumbu global Y. Semua balok ukuran 250x500 mm2.
3. Semua balok dengan beban mati (DL) 20 kN/m, dan beban hidup (LL)
8 kN/m. Pada lantai 2 beban gempa statik arah X (Ex) dan arah Y (Ey)

192

Struktur Dengan Beban Dinamik

30 kN, dan pada lantai 3 beban gempa statik arah X (Ex) dan arah Y
(Ey) 60 kN.
4. Koordinat pusat massa lantai 2 dan 3 untuk X=3.0 meter, Y=6.5 meter,
untuk Z mengikuti tinggi lantainya. Pada setiap lantai, massa translasi
arah X dan Y besarnya 65 kN-detik2/m, dan inersia massa besarnya
850 kN-detik2-m2/m.
Langkah-langkah untuk menentukan model frame 3 dimensi
dijelaskan sebagai berikut.
A. Menentukan geometri struktur.
1. Pilih unit yang sesuai dengan keinginan, dalam contoh ini unit dalam
kN-m, dari menu pilihan di kanan bawah dengan kN-m.
2. Pilih Menu File/New Model Kemudian akan tampil dialog box
Coordinate System Definition.
3. Pada dialog box Coordinate System Definition ini :
Isikan pada area Number of Grid Spaces untuk X=1, Y=0 dan
Z=2.
Isikan pada area Grid Spacing X=6 dan Z=4, untuk Y biarkan saja.
4. Klik Ok.
Layar monitor akan menampilkan windows dalam tampak 3-D dan
2-D yang diatur secara vertikal. Jendela sebelah kanan menampilkan
bidang X-Y dari model struktur untuk Z=8, dan jendela sebelah kiri
menampilkan pandangan 3-D dari model struktur.
5. Pada jendela kanan klik ganda pada garis grid vertikal, kemudian
ubahlah dengan Move Grid Line koordinat X arah 3 menjadi 0, dan
3 menjadi 6. Klik Ok.
6. Pada jendela kanan klik ganda pada garis grid horisontal, kemudian
tambahkan dengan Add Grid Line koordinat Y arah dengan 5 dan 11.
Klik Ok. Pada jendela kiri akan tampak garis grid dalam 3 dimensi.
7. Dengan toolbar
pindahkan posisi bidang grid pada jendela kiri
hingga Z=0. Hal ini ditunjukkan pada layar sebelah bawah kiri dengan
keterangan X-Y Plane @ Z=0.

Struktur Dengan Beban Dinamik

193

8. Pilih Menu Draw/New Labels, maka akan ditampilkna dialog box


seperti gambar 4.37. dari dialog box ini isikan untuk joint, di bawah
Next Number 1, Increment 1.

Gambar 4.37. Memulai label baru untuk joint dan elemen


9. Dengan toolbar
klik Ok.

aktifkan check box ( ) Label pada Joint, lalu

10. Dengan toolbar


klik pada perpotongan grid kiri bawah dengan
koordinat X=0 dan Y=0. Kemudian klik lagi pada koordinat X=6 dan
Y=0, dan seterusnya sehingga pada koordinat Z=0 semua joint
tergambar dengan nomor joint mengikuti gambar 4.36.
pindahkan posisi bidang grid pada jendela kiri
11. Dengan toolbar
hingga Z=4. Hal ini ditunjukkan pada layar sebelah bawah kiri dengan
keterangan X-Y Plane @ Z=4. Ulangi langkah nomor 10 untuk
menentukan joint pada lantai 2 sesuai gambar 4.36.
pindahkan posisi bidang grid pada jendela kiri
12. Dengan toolbar
hingga Z=8. Hal ini ditunjukkan pada layar sebelah kiri bawah dengan
keterangan X-Y Plane @ Z=8. Ulangi langkah nomor 10 untuk
menentukan joint pada lantai 3 sesuai gambar 4.36. Setelah selesai
maka pada layar akan tampak seperti gambar 4.38
13. Dengan toolbar
klik Ok.

aktifkan check box ( ) Label pada Frames, lalu

14. Dengan toolbar


gambarkan elemen kolom lantai 1 dengan nomor
elemen sesuai gambar 4.36.
15. Ulangi langkah nomor 14 untuk menggambarkan kolom lantai 2, balok
lantai 2 dan lantai 3 dengan nomor elemen sesuai gambar 4.36.

194

Struktur Dengan Beban Dinamik

Gambar 4.38. Menentukan joint frame 3D


16. Pada jendela kanan tambahkan garis grid horisontal untuk koordinat
Y=6.5, dan garis grid vertikal untuk koordinat X=3.0 dengan Add
Grid Line seperti langkah nomor 5 atau 6.
17. Pada jendela kanan pilih koordinat Z=4, kemudian dengan toolbar
klik pada koordinat perpotongan garis grid X=3.0 dan Y=6.5. Joint ini
ialah pusat massa lantai 2 dengan nomor joint 19.
18. Pada jendela kanan pilih koordinat Z=8, kemudian dengan toolbar
klik pada koordinat perpotongan garis grid X=3.0 dan Y=6.5. Joint ini
ialah pusat massa lantai 3 dengan nomor joint 20.
19. Pilih semua joint pada Z=0, dengan toolbar
jepit.

tentukan dukungan

B. Menentukan Material dan Potongan Elemen Struktur


Untuk mmenentukan material dan potongan elemen dapat
dilakukan dengan cara seperti yang telah dibahas pada bab sebelumnya.

Struktur Dengan Beban Dinamik

195

Nama-nama property potongan dapat digunakan seperti berikut.


1. Untuk kolom diberi nama K30X40, dengan jumlah tulangan 4 pada
arah sumbu-3 dan arah sumbu-2, sehingga total tulangan pada
penampang kolom 12 buah.
2. Untuk balok diberi nama B25X50, tebal selimut beton 0.05m (50mm).
3. Setelah semua property elemen balok dan kolom ditentukan, yakinkan
bahwa sumbu-3 untuk kolom arahnya sesuai yang dikehendaki.
Caranya ialah sebagai berikut.

Dengan toolbar
aktifkan check box ( ) Show Extrusions yang
ada di bagian bawah lalu

Klik Ok, maka elemen struktur akan ditampilkan sesuai dengan


property-nya seperti gambar 4.37.

Yakinkan bahwa arah lebar kolom (sumbu-3) ialah searah sumbu


global Y seperti ketentuannya.

Gambar 4.39. Tampilan elemen sesuai property dalam tampak 3D

196

Struktur Dengan Beban Dinamik

C. Menentukan Load Case Dan Beban Pada Struktur


Load Case beban yang bekerja pada model struktur terdiri dari
beban DL, LL, gempa Ex.dan Ey. Untuk beban DL digabungkan dengan
berat sendiri elemennya, seperti dijelaskan pada gambar 4.40.

Gambar 4.40. Load Case beban statik


Untuk menentukan beban gravitasi dan beban gempa pada model
struktur dilakukan sebagai berikut.
1. Pilih semua balok arah X maupun arah Y pada lantai 2 dan 3.
2. Dengan toolbar
pilih Load Case Name DL dan Direction Gravity,
isikan pada Uniform Load dengan 20.
3. Pilih semua balok arah X maupun arah Y, kemudian dengan toolbar
pilih Load Case Name LL dan Direction Gravity, isikan pada
Uniform Load dengan 8.
4. Pilih joint nomor 19 (pusat massa lantai 2), kemudian dengan toolbar
pilih Load Case Name EX, isikan beban gempa statik arah sumbu
X sebesar 30.
pilih Load Case
5. Pilih joint nomor 19 kemudian dengan toolbar
Name EY, isikan beban gempa statik arah sumbu Y sebesar 30.
6. Pilih joint nomor 20 (pusat massa lantai 3), kemudian dengan toolbar
pilih Load Case Name EX, isikan beban gempa statik arah sumbu
X sebesar 60.
pilih Load Case
7. Pilih joint nomor 20 kemudian dengan toolbar
Name EY, isikan beban gempa statik arah sumbu Y sebesar 60.

Struktur Dengan Beban Dinamik

197

D. Menentukan Diapragma Dan Massa Tiap Lantai


Setelah semua beban statik ditentukan perlu ditentukan diapragma
lantai dan massa tiap lantai. Untuk menentukan diapragma dan massa tiap
lantai ini dilakukan langkah-langkah sebagai berikut.
1. Klik pada jendela yang kanan, kemudian dengan
atau
pilih
lantai 2 (X-Y Plane @Z=4).
2. Pilih semua joint pada jendela kanan, kemudian dari Menu Assign
pilih Constraints.., maka akan tampil dialog box Constraints. Pada
dialog box ini :

Pada Click to pilih Add Diaphragm, maka akan tampil dialog box
Diaphragm Constraint.
Pada Constraint Name biarkan namanya tetap DIAPH1.

Pada Constraint Axes pilih Z Axes.


Klik Ok. Lalu klik Ok.

3. Dengan
pilih lantai 3 (X-Y Plane @Z=8), kemudian ulangi
langkah nomor 2 untuk menentukan diapragma dengan nama
DIAPH2.
4. Pada lantai 3 (X-Y Plane @Z=8) pilih joint nomor 20.
5. Dari Menu Assign pilih Joints, lalu Masses.. , maka akan tampil
dialog box seperti gambar 4.41. Pada dialog box ini :

Pada Direction 1 di area Masses in Local Directions isikan dengan


nilai 65.

Pada Direction 2 di area Masses in Local Directions isikan dengan


nilai 65.

Pada Rotation about 3 di area Mom. Of Inertia in Local


Directions isikan dengan nilai 850.
Yang lain biarkan saja.

Klik Ok.

Data pada langkah nomor 5 tersebut maksudnya ialah bahwa untuk


beban dinamik, struktur pada lantai 3 hanya berdeformasi translasi arah
sumbu X dan sumbu Y, serta rotasi terhadap sumbu Z.

198

Struktur Dengan Beban Dinamik

6. Pada lantai 2 (X-Y Plane @Z=4) pilih joint nomor 19, kemudian
ulangi langkah nomor 5 untuk menentukan massa translasi dan inersia
massa pada lantai 2.

Gambar 4.41. Menentukan massa translasi dan inersia massa


E. Menentukan Beban Dinamik
Setelah massa tiap lantai dan diapragma ditentukan, perlu
ditentukan beban dinamik pada model struktur. Beban dinamik yang
dikerjakan pada model struktur ini ialah Response Spectrum yang diambil
dari Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah Dan Gedung,
SKBI-1.3.53. 1987 (PPKGURG-87). Data yang diambil dari PPKGURG
ini merupakan koefisien gempa dasar, dan struktur dianggap berdiri di atas
tanah lunak untuk Wilayah 3. Data tersebut ditunjukkan seperti pada tabel
4.2.
Tabel 4.2. Data koefisien gempa dasar wilayah 3 pada tanah lunak
(PPKGURG-87 gambar 2.3, halaman 17)
Waktu (detik)

Koefisien

0.070

0.070

0.035

0.035

Struktur Dengan Beban Dinamik

199

Untuk menentukan beban dinamik dari PPKGURG ini dilakukan


langkah-langkah sebagai berikut.
1. Pilih Menu Define/Response Spectrum Functions, maka akan
ditampilkan dialog box Define Response Spectrum Functions.
2. Klik pada Add New Functions, maka akan ditampilkan dialog box
Function Definition seperti gambar 4.42. Pada dialog box ini :
Beri nama PPKGURG pada Function Name.

Isikan di bawah Time dengan 0, di bawah Value dengan 0.07, klik


Add.

Isikan di bawah Time dengan 1, di bawah Value dengan 0.07, klik


Add.
Isikan di bawah Time dengan 2, di bawah Value dengan 0.035, klik
Add.
Isikan di bawah Time dengan 3, di bawah Value dengan 0.035, klik
Add.
3. Klik Ok lalu klik Ok.

Gambar 4.42. Menentukan fungsi response spectrum


Fungsi seperti tabel 4.2 telah ditentukan, sehingga tinggal
digunakan untuk analisis.

200

Struktur Dengan Beban Dinamik

Gambar 4.43. Response Spectrum


4. Pilih Menu Define/Response Spectrum Cases, maka akan
ditampilkan dialog box Define Response Spectra, klik pada Add New
Spectra, maka akan ditampilkan dialog box Response Spectrum
Case Data seperti gambar 4.43. Pada dialog box ini :
Isikan pada Spectrum Case Name dengan PPKGURG.
Isikan pada Damping dengan 0.05 (5%)

Pada area Input Response Spectra, pada U1 pilih Function


PPKGURG, dan Scale Factor 9.81.
Pada area Input Response Spectra, pada U2 pilih Function
PPKGURG, dan Scale Factor 9.81.
Klik Ok.

F. Analisis Model
Setelah semua data beban statik dan dinamik ditentukan dapat
dilakukan analisis model sebagai berikut.
1. Simpanlah model dengan nama file : F3D_DIN
2. Pilih Menu Analyze/Set Options.

Aktifkan check box Dynamic Analysis.

Struktur Dengan Beban Dinamik

201

Klik pada Set Dynamic Parameter dan ubahlah Number of Mode


menjadi 6.

Klik Ok.
3. Pilih Menu Analyze/Run.
Setelah analisis selesai dan tidak ada kesalahan atau peringatan,
amati hasil output displacement dan gaya-gaya untuk beban statik dan
dinamik.

Gambar 4.44. Mode 1

Gambar 4.46. Mode 3

Gambar 4.45. Mode 2

Gambar 4.47. Mode 6

DAFTAR PUSTAKA
------------, 1998, SAP2000 Integrated Finite Element Analysis and Design
of Structures GRAPHIC USER INTERFACE MANUAL,
Computer and Structures, Inc., Berkeley, California, USA.
------------, 1998, SAP2000 Integrated Finite Element Analysis and Design
of Structures BASIC ANALYSIS REFERENCE, Computer and
Structures, Inc., Berkeley, California, USA.
------------, 1998, SAP2000 Integrated Finite Element Analysis and Design
of Structures
TUTORIAL MANUAL, Computer and
Structures, Inc., Berkeley, California, USA.
------------, 1997, SAP2000 Integrated Finite Element Analysis and Design
of Structures QUICK TUTORIALS, Computer and Structures,
Inc., Berkeley, California, USA.
------------, 1983, Peraturan Pembebanan Indonesia Untuk Gedung 1983,
Departemen Pekerjaan Umum, Bandung, Indonesia.
------------, 1987, Pedoman Perencanaan Ketahanan Gempa Untuk Rumah
Dan Gedung SKBI-1.3.53. 1987, Departemen Pekerjaan
Umum Indonesia.
------------, 1991, Tatacara Perhitungan Struktur Beton Untuk Bangunan
Gedung, SKSNI-T-15 1991-03, LPMB, Departemen Pekerjaan
Umum, Bandung.
Bathe K.J. and Wilson E.L., 1976, Numerical Methods in Finite Element
Analysis, Englewood Cliffs, N.J.
Gunawan, R, 1987, Tabel profil Konstruksi Baja, Penerbit Kanisius,
Yogyakarta, Indonesia.
Wigroho, H.Y, 1999, Analisis Frame Menggunakan Program SAP90,
Penerbitan Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Yogyakarta
Wilson, E.L., Yuan M.W., and Dickens J.M., 1982, Dynamic Analysis by
Direct Superposition of Ritz Vectors, Eartquake Engineering
and Structural Dynamics, Vol. 10, pp.813-823.

LAMPIRAN
Penjelasan Icon Toolbar
Icon

Nama Icon

Fungsi

New Model

Mulai membuat model struktur baru

Open *.SDB File

Membuka file SAP2000 yang sudah disimpan

Save Model

Menyimpan data model terakhir

Undo

Membatalkan perintah/perubahan yang


terakhir dikerjakan

Redo

Membatalkan perintah Undo terakhir

Refresh Window

Menampilkan window dengan data terbaru

Lock/Unlock Model

Membuka Lock setelah analisis untuk


merubah data model

Run Analysis

Untuk melakukan analisis model

Zoom

Memperbesar obyek yang dipilih dengan


mouse

Restore Full View

Mengembalikan model pada tampak


keseluruhan

Restore Previuos View

Mengembalikan model pada tampak


sebelumnya

Zoom In

Memperbesar tampak model

Zoom Out

Memperkecil tampak model

Pan

Menggeser model pada window

Show 3-D View

Menampilkan model dalam 3D (3 Dimensi)

Show 2-D View of X-Y/r-


Plane

Menampilkan model dalam 2D sejajar bidang


X-Y/r-

Show 2-D View of X-Z/r-Z


Plane

Menampilkan model dalam 2D sejajar bidang


X-Y/r-Z

Show 2-D View of Y-Z/-Z


Plane

Menampilkan model dalam 2D sejajar bidang


X-Y/-Z

206

Lampiran

Penjelasan Icon Toolbar (lanjutan)


Icon

Nama Icon

Fungsi

Prespective Toggle

Menampilkan model dalam prespektif 3D

Shrink Elements

Menampilkan elemen tidak penuh

Set Element

Mengatur tampilan property elemen yang


diinginkan

Up One Gridline

Memindah satu garis grid ke atas pada tampak


2D

Down One Gridline

Memindah satu garis grid ke bawah pada


tampak 2D

Pointer Tool

Untuk memilih satu elemen atau dengan


windowing

Select All

Memilih semua elemen

Restore Previous Selection

Memilih ulang elemen yang terakhir kali


dipilih

Clear Selection

Membatalkan elemen yang telah dipilih

Set Intersecting Line Select


Mode

Memilih elemen dengan garis


intersecting
Untuk memindah elemen dengan
memilihnya, kemudian ujungnya atau
joint-nya dipindahkan
Menambahkan joint khusus, yang tidak
otomatis ditentukan pada saat
menggambar elemen
Menggambar elemen frame dari joint ke
joint

Reshape Element

Add Special Joints


Draw Frame Element
Draw Shell Element

Menggambar elemen shell dari sudut ke


sudut

Quick Draw Frame Element

Menggambar elemen frame diantara garis


grid

Quick Draw Shell Element

Menggambar elemen shell diantara garis


grid

Lampiran

207

Penjelasan Icon Toolbar (lanjutan)


Icon

Nama Icon

Fungsi

Draw Quadrilateral Shell


Element

Menggambar elemen shell quadrilateral

Assign Joint Restraints


Assign Frame Sections

Untuk menentukan restraint translasi dan


rotasi
Untuk menentukan potongan dan
material property frame

Assign Shell Sections

Untuk menentukan potongan dan


material property shell

Assign Joint Load

Untuk menentukan beban joint

Assign Frame Span Loading

Untuk menentukan beban merata dan


terpusat elemen frame

Assign Shell Uniform


Loading

Untuk menentukan beban merata elemen


shell

Show Undeformed Shape

Menampilkan bentuk tak terdeformasi


struktur

Display Static Deformed


Shape

Menampilkan struktur terdeformasi


akibat beban statik

Display Mode Shape

Menampilkan mode struktur akibat beban


dinamik

Joint Reaction Forces

Menampilkan gaya-gaya reaksi pada


dukungan

Member Forces Diagram for


Frames

Menampilkan diagram gaya-gaya pada


frame

Elemen Force/Stress
Contour for Shell

Menampilkan gaya-gaya atau kontour


tegangan pada shell

Set Output Table Mode

Menampilkan text output joint atau


elemen pada layar