Anda di halaman 1dari 7

SISTITIS

A. Definisi
Sistitis adalah inflamasi kandung kemih yang paling sering disebabkan oleh menyebarnya
infeksi dari uretra (Brunner & Suddarth, 2002).
Sistitis adalah infeksi kandung kemih (Lyndon Saputra, 2009).
Sistitis (cystitis) adalah inflamasi akut pada mukosa kandung kemih akibat infeksi oleh
bakteri. Sistitis merupakan inflamasi kandung kemih yang disebabkan oleh penyebaran
infeksi dari uretra (Nursalam & Fransisca, 2009)
B. Etiologi ETIOLOGI
Beberapa penyebab sistitis diantaranya adalah :
1.Aliran balik urine dari uretra ke dalam kandung kemih ( Refluks Uretrovesikal)
2.Adanya kontaminasi fekal pada meatus uretra
3.Pemakaian kateter atau sistoskop
4.Mikroorganisme : E.coli, Enterococci, Proteus, Staphylococcus aureus.
5.Bahan kimia : Detergent yang dicampurkan ke dalam air untuk rendam duduk,
deodorant yang disemprotkan pada vulva, obat-obatan (misalnya: siklofosfamid) yang
dimasukkan intravesika untuk terapi kanker buli-buli.
6.Infeksi ginjal
7.Prostat hipertrofi karena adanya urine sisa
9.

Infeksi kronis dari traktus bagian atas

10.

Adanya sisa urine

11.

Stenosis dari traktus bagian bawah

Penyebab dari sistitis antara lain: (Lyndon Saputra, 2009).

Pada wanita, kebanyakan infeksi kandung kemih diakibatkan oleh infeksi


ascenden yang berasal dari uretra dan seringkali berkaitan dengan aktivitas
seksual

Pada pria, dapat diakibatkan infeksi ascenden dari uretra atau prostat tetapi
agaknya lebih sering bersifat sekunder terhadap kelainan anatomik dari traktus
urinarius.

C. Patofisiologi
Sistitis merupakan asending infection dari saluran perkemihan. Pada wanita biasanya
berupa sistitis akut karena jarak uretra ke vagina pendek (anatomi), kelainan periuretral,
rektum (kontaminasi) feses, efek mekanik coitus, serta infeksi kambuhan organisme gram
negatif dari saluran vagina, defek terhadap mukosa uretra, vagina, dan genital eksterna
memungkinkan organisme masuk ke vesika perkemihan. Infeksi terjadi mendadak akibat
flora (E. coli) pada tubuh pasien.
Pada laki-laki abnormal, sumbatan menyebabkan striktur uretra dan hiperplasi prostatik
(penyebab yang palin sering terjadi). Infeksi saluran kemih atas penyebab penyakit
infeksi kandung kemih kambuhan (Nursalam & Fransisca, 2009).
D. Manifestasi klinis
Pasien sistitis mengalami urgency, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat
berkemih, nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih, dan suprapubis.
Piuria (adanya sel darah putih dalam urin), bakteri, dan sel darah merah (hematuria)
ditemukan pada pemeriksaan urine. Kit kultur memberikan informasi kualitatif yang
umum mengenai jumlah koloni bakteri dan mengidentifikasi apakah organisme gram
negatif atau positif (Brunner & Suddarth, 2002).

Gejala dan Tanda: (Lyndon Saputra, 2002)

Disuria (nyeri saat berkemih), polakisuria (kencing sedikit-sedikit dan sering/anyanganyangen), nokturia (kencing pada malam hari), rasa tidak enak di daerah suprapubis,
nyeri tekan pada palpasi di daerah suprapubis.
Gejala sistemik berupa pireksia, kadang-kadang menggigil; sering lebih nyata pada
anak-anak, kadang-kadang tanpa gejala atau tanda-tanda infeksi lokal dari traktus
urinarius.
Urin keruh dan mungkin berbau tidak enak dengan leukosit, eritrosit, dan organisme.
E. Penatalaksanaan
1. Uncomplicated sistitis: wanita diterapi antimikroba dosis tunggal atau jangka
pendek (1-3 hari sesuai hasil kultur). Obat pilihan yang sensitif terhadap E. Coli:
nitrofurantoin, trimetropim-sulfametosaksol, atau ampisilin. Laki-laki diterapi
selama 7-10 hari dengan antibiotik. Lakukan kultur untuk meningkatkan
efektivitas terapi. Awasi efek samping: mual, diare, kemerahan dan kandidiasis
vagina.

2. Antikolinergik (propanthelin bromide) untuk mencegah hiperiritabilitas kandung


kemih dan fenazopiridin hidroklorid sebagai antiseptik pada saluran kemih.

F. Pemeriksaan Diagnostik EVALUASI DIAGNOSTIK

Jika sistitis sering kambuh, perlu dipikirkan adanya kelainan pada kandung kemih
(misalnya: keganasan, batu di saluran kemih/urolithiasis) sehingga diperlukan
pemeriksaan pencitraan (PIV, USG) atau sistoskopi.

Urinalisis

a. Leukosuria atau piuria: merupakan salah satu petunjuk penting adanya ISK.
Leukosuria positif bila terdapat lebih dari 5 leukosit/lapang pandang besar (LPB)
sediment air kemih
b. Hematuria: hematuria positif bila terdapat 5-10 eritrosit/LPB sediment air kemih.
Hematuria disebabkan oleh berbagai keadaan patologis baik berupa kerusakan
glomerulus ataupun urolitiasis.

Bakteriologis

a. Mikroskopis
b. Biakan bakteri
c. Kultur urine untuk mengidentifikasi adanya organisme spesifik
d. Hitung koloni: hitung koloni sekitar 100.000 koloni per milliliter urin dari urin
tampung aliran tengah atau dari specimen dalam kateter dianggap sebagai criteria utama
adanya infeksi.

Metode tes

1.
Tes dipstick multistrip untuk WBC (tes esterase lekosit) dan nitrit (tes Griess
untuk pengurangan nitrat). Tes esterase lekosit positif: maka psien mengalami piuria. Tes
pengurangan nitrat, Griess positif jika terdapat bakteri yang mengurangi nitrat urin
normal menjadi nitrit.
2.
Tes Penyakit Menular Seksual (PMS): Uretritia akut akibat organisme menular
secara seksual (misal, klamidia trakomatis, neisseria gonorrhoeae, herpes simplek).

Tes- tes tambahan:

Urogram intravena (IVU). Pielografi (IVP), msistografi, dan ultrasonografi juga dapat
dilakukan untuk menentukan apakah infeksi akibat dari abnormalitas traktus urinarius,
adanya batu, massa renal atau abses, hodronerosis atau hiperplasie prostate. Urogram IV
atau evaluasi ultrasonic, sistoskopi dan prosedur urodinamik dapat dilakukan untuk
mengidentifikasi penyebab kambuhnya infeksi yang resisten.

Pemeriksaan urine midstream, pemeriksaan sedimen urine untuk leukosit


Pewarnaan gram dan biakan dari unspun midsteram urin yang ditampung dalam
wadah yang bersih.
Pungsi suprapubik untuk biakan urine mungkin perlu pada anak-anak dan
penderita lain yang tidak dapat diusahakan untuk memperoleh spesimen yang
bersih.

G. Prognosis
Sangat baik
Dapat kambuh kembali
Infeksi pertama pada pria rekuren dan sering pada wanita memerlukan pemeriksaan
urologi khusus.
H. Komplikasi
1. Pyelonefritis
2. Infeksi darah melalui penyebaran hematogen (sepsis)

PATOFISIOLOGI
Masuknya mikroorganisme ke dalam saluran kemih dapat melalui :
a.Penyebaran endogen yaitu kontak langsung dari tempat terdekat.
b.Hematogen.
c.Limfogen.
d.Eksogen sebagai akibat pemakaian alat berupa kateter atau sistoskopi.
Infeksi tractus urinarius terutama berasal dari mikroorganisme pada faeces yang naik dari
perineum ke uretra dan kandung kemih serta menempel pada permukaan mukosa. Agar
infeksi dapat terjadi, bakteri harus mencapai kandung kemih, melekat pada dan

mengkolonisasi epitelium traktus urinarius untuk menghindari pembilasan melalui


berkemih, mekanisme pertahan penjamu dan cetusan inflamasi.
Inflamasi, abrasi mukosa uretral, pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap,
gangguan status metabolisme (diabetes, kehamilan, gout) dan imunosupresi
meningkatkan resiko infeksi saluran kemih dengan cara mengganggu mekanisme normal.
Klasifikasi
Jenis Infeksi Saluran Kemih, antara lain:
1. Kandung kemih (sistitis)
2. Uretra (uretritis)
3. Ginjal (pielonefritis)
Perbedaan gambaran klinis antara Uretritis, Sistitis, dan Pielonefritis :
Uretritis biasanya memperlihatkan gejala :

Mukosa memerah dan edema


Terdapat cairan eksudat yang purulent
Ada ulserasi pada urethra
Adanya rasa gatal yang menggelitik
Adanya nanah awal miksi
Nyeri pada saat miksi
Kesulitan untuk memulai miksi
Nyeri pada abdomen bagian bawah.

Sistitis biasanya memperlihatkan gejala :

Disuria (nyeri waktu berkemih)


Peningkatan frekuensi berkemih
Perasaan ingin berkemih
Adanya sel-sel darah putih dalam urin
Nyeri punggung bawah atau suprapubic
Demam yang disertai adanya darah dalam urine pada kasus yang parah.

MANIFESTASI KLINIS
Pasien mengalami urgensi, sering berkemih, rasa panas dan nyeri pada saat berkemih,
nokturia, dan nyeri atau spasme pada area kandung kemih dan supra pubis. Piuria
(adanya sel darah putih dalam urine), hematuria (adanya sel darah merah pada
pemeriksaan urine). Pasien mengalami demam, mual, muntah, badan lemah, kondisi
umum menurun. Jika ada demam dan nyeri pinggang, perlu dipikirkan adanya penjalaran

infeksi ke saluran kemih bagian atas. Infeksi kandung kemih biasanya menyebabkan
desakan untuk berkemih dan rasa terbakar atau nyeri selama berkemih.
Nyeri biasanya dirasakan diatas tulang kemaluan dan sering juga dirasakan di punggung
sebelah bawah. Gejala lainnya adalah nokturia (sering berkemih di malam hari). Air
kemih tampak berawan dan mengandung darah.
Kadang infeksi kandung kemih tidak menimbulkan gejala dan diketahui pada saat
pemeriksaan air kemih (urinalisis untuk alasan lain). Sistitis tanpa gejala terutama sering
terjadi pada usia lanjut, yang bisa menderita inkontinensia urin sebagai akibatnya.
Inkontenensia urine adalah eliminasi urine dari kandung kemih yang tidak terkendali atau
terjadi di luar keinginan.
Inkontinensia Urine dapat dibagi menjadi empat jenis :
1. Urge incontinence
Terjadi bila pasien merasakan dorongan atau keinginan untuk berkemih tetapi tidak
mammpu menahannya cukup lama sebelum mencapai toilet. Keadaan ini dapat terjadi
pada pasien disfungsi neurology yang mengganggu penghambatan kontraksi kandung
kemih.
1. Overflow incontinence
Ditandai oleh eliminasi urine yang sering dan kadang-kadang terjadi hamper terus
menerus dari kandung kemih. Kandung kemih tidak dapat mengosongkan isinya secara
normal dan mengalami distensi yang berlebihan. Dapat disebabkan oleh kelainan
neurology ( lesi medulla spinalis) atau oleh factor-faktor yang menyumbat saluran urine.
Meskipun eliminasi terjadi dengan sering, kandung kemih tidak pernah kosong.
1. Incontinensia fungsional
Merupakan inkontinensia dengan fungsi saluran kemih bagian bawah yang utuh tapi ada
factor lain, seperti gangguan kognitif berat yang membuat pasien sulit untuk
mengidentifikasi perlunya berkemih (pasien demensia alzeimer) atau gangguan fisik yang
menyebabkan pasien sulit atau tidak mungkin menjangkau toilet untuk berkemih
1. Bentuk-bentuk inkontinensia urine campuran
Mencakup cirri-ciri inkontinensia seperti yang baru disebutkan, dapat pula terjadi. Selain
itu, inkontinensia urine dapat terjadi akibat interaksi banyak factor.

PENATALAKSANAAN
Penanganan sistitis yang ideal adalah agens antibacterial yang secara efektif
menghilangkan bakteri dari traktus urinarius dengan efek minimal terhadap flora fekal
dan vagina
Penatalaksanaan medis sebagai berikut :

Penggunaan medikasi yang umum mencakup : sulfisoxazole (gantrisin),


trimethaoprim/sulfamethaoxazole ( TMP/SMZ, Bactrim, septra) dan
nitrofurantoin.
Kadang-kadang medikasi seperti ampisilin atau amoksisilin juga digunakan.
Terkadang diperlukan antikolinergik (misalnya: propanthelin bromide) untuk
mencegah hiperiritabilitas buli-buli dan fenazopiridin hidroklorida sebagai
antiseptik pada saluran kemih.
Banyak minum untuk melarutkan bakteri
Kumbah kandung kemih dengan larutan antiseptik ringan