Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN

LABORATORIUM TEKNIK KIMIA I


KESETIMBANGAN UAP CAIR

Disusun oleh :

Bintoro

1307114533

Helsa Audrya

1307123100

Rifati Hanifa

1307114666

Setiani Br Manurung

1307123452

PROGRAM STUDI S1 TEKNIK KIMIA

FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS RIAU
PEKANBARU
2015
ABSTRAK
Kesetimbangan mengandung pengertian bahwa suatu keadaan dimana tidak
terjadi perubahan sifat makrokopis dari sistem terhadap waktu. Untuk
material dalam jumlah tertentu hal tersebut dapat diartikan tidak ada perubahan
sifat material tersebut dengan waktu. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari
data kesetimbangan etanol-air. Pada percobaan ini dilakukan pengujian
konsentrasi volum etanol dalam cairan dengan menggunakan alat hand
refractometer. Konsentrasi volum etanol dalam kondensat ditentukan dengan
menggunakan rumus hukum Roult. Semakin besar fraksi etanol dalam campuran
maka 0Brix akan semakin besar pula. Jika fraksi etanol diperbesar dalam
campuran maka fraksi etanol dalam fasa uap dan fasa cair akan meningkat. Jika
fraksi etanol dalam campuran diperbesar maka temperatur kesetimbangan akan
menurun. Apabila fraksi etanol dalam campuran diperbesar maka nilai K akan
semakin kecil.
Kata kunci : kesetimbangan, kesetimbangan uap cair, fraksi volum, oBrix.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah:
a. Merancang dan menjelaskan eksperimen
b. Membuat dan menganalisis kurva kesetimbangan uap cair
1.2

Dasar Teori

1.2.1 Kriteria Kesetimbangan


Kriteria yang dimaksud di sini bukan sekedar kriteria yang berupa
kesetimbangan termal dan mekanikal secara internal yang biasa kita terjemahkan
sebagai berlakunya T dan P yang uniform, melainkan pembatasan-pembatasan
termodinamika pada sistem dengan fasa banyak dan komponen banyak yang
mengalami keadaan kesetimbangan. Sekalipun sudah ada kesetimbangan termal
dan mekanikal dalam sistem demikian masih dimungkinkan perpindahan massa
antar fasa. Jadi kriteria yang dimaksudkan di sini termasuk kesetimbangan antar
fasa ditinjau dari segi kemungkinan perpindahan antar fasa tersebut. Kriteria ini
pertama kali diturunkan oleh Gibbs ( Abbott, 1989).
Dimisalkan bahwa sistem multi komponen yang tertutup yang terdiri dari
sejumlah fasa mempunyai temperatur dan tekanan yang uniform, akan tetapi pada
keadaan awal tidak setimbang ditinjau dari segi perpindahan massa. Setiap
perubahan yang terjadi mesti bersifat irreversible, yang mendekatkan sistem itu ke
keadaan setimbang. Sistem itu dibayangkan sebagai dikelilingi keadaan yang
selalu setimbang secara termal dan mekanikal dengan sistem itu (sekalipun
perubahan terjadi dalam sistem). Karenanya pertukaran panas dan pemuaian kerja
antar sistem dan sekeliling terjadi secara reversible. Dalam keadaan yang
demikian perubahan entropi dari sekeliling sistem: (Tim Penyusun, 2015).
dQsur
dS sur
Tsur
(2.1)

Ditinjau dari sistem panas yang berpindah adalah dQ yang mempunyai harga
numerik mutlak sama dengan dQsur. Selanjutnya Tsur = T dari sistem (setimbang
secara termal).
Maka :
dQsur dQ
dS sur

Tsur
T
(2.2)
menurut hukum ke dua termodinamika:
dS t dS sur 0
(2.3)
t
dimana S = entropi total dari sistem.
Gabungan dari persamaan (2) dan (3) menjadi :
dQ
dS t
0
dQ TdS t
T
atau
Penerapan hukum pertama termodinamika:
dU t dQ dW dQ PdV t

dQ dU t PdV t
Jadi
Atau

dU t PdV TdS t
dU t PdV t TdS t 0

dS
t

U t ,V t

(2.4)
Suatu sistem yang terisolasi mesti mempunyai syarat bahwa energi internal
dan volumee tetap, maka untuk sistem semacam itu diketahui langsung dari
hukum kedua bahwa persamaan terakhir berlaku (Geankoplis, 1997) .
dU t PdV t TdS t 0
Dari perumpamaan sistem persamaan
berlaku
untuk T dan P yang tetap. Persamaan itu bisa juga ditulis sebagai berikut:

dU t T , P dPV t

d U PV TS
t

dTS t

T ,P

T ,P

0
atau

T ,P

(2.5)
Persamaan terakhir penting mengingat T,P tetap merupakan persyaratan yang
mudah di atur.
Keadaan setimbang dari sistem tertutup adalah keadaan yang energi bebas
Gibbs totalnya adalah minimum ditinjau dari perubahan pada T,P tertentu. Pada
keadaan setimbang variasi dalam kadar differensial dapat terjadi didalam sistem
pada T dan P yang tetap. Tanpa mengakibatkan perubahan Gt (Geankoplis, 1997).

Jadi:

dG

T ,P

(2.6)
Untuk menerapkan kriteria ini pada kesetimbangan fasa, sebaiknya
ditinjau sebuah sistem tertutup yang terdiri dari dua fasa, a dan B. Setiap fasa
dapat dianggap sebagai sistem terbuka yang memungkinkan perpindahan massa
dari fasa yang satu ke yang lain. Untuk masing-masing fasa berlaku:

nG nS dT nV dP i dni

nG nS dT nV dP i dni

(2.7a)
(2.7b)

Karena T dan P tetap maka penjumlahan ke dua persamaan menghasilkan:

nG
t

T ,P

i dni i dni

(2.8)

Di dalam sistem yang tertutup berlaku:

dni dni

(2.9)
Jadi,

dn 0
i

dni

(2.10)

Karena
sembarang dan bebas maka satu-satunya penyelesaian agar
persamaan terakhir sama dengan 0 adalah:

i i

(2.11)
untuk sistem multi komponen:

i i ... i i 1,2,3...N

(2.12)
diketahui bahwa :
6

di RTd ln f i

(T tetap)
^

i RT ln f i
Atau

adalah tetapan integrasi harganya hanya tergantung pada T. Oleh karena pada
kesetimbangan fasa, semua fasa berada pada T yang sama, maka syarat diatas
dapat diganti (Geankoplis, 1997):

f i f i ... f i

(2.13)
1.2.2 Konsep Keseimbangan
Ditinjau sistem kontak uap dan cair campuran A dan B:

x =fraksi mol difase cair.


y =fraksi mol difase uap.
Pada keadaan seimbang (equilibrium,ideal, teoritis), tidak ada perubahan
T, P, dan fraksi-fraksi dalam sistem, dan akan tercapai:
1. Kesetimbangan termal = perpindahan panas netto=0, atau tidak ada driving
foree perpindahan panas ( T=0), maka: T V = T L Tv=suhu uap, T L =Suhu
cairan.
2. Kesetimbangan mekanis =Kesetimbangan semua gaya-gaya: Pv =PL
3. Kesetimbangan potensi kimia:
G sistem minimum.
( i)V = ( i)L
Dari persamaan ini akan diperoleh hubungan antara komposisi di fase uap
dan di fase cairan Bidang termodinamika (Prausnitz, 1991).

1.2.3

Kesetimbangan Uap Cair (KUC)


Jumlah derajat kebebasan F pada kesetimbangan adalah perbedaan antara
jumlah variabel yang diperlukan untuk karakterisasi keadaan intensif sistem dan
jumlah persamaan bebas yang menyatakan hubungan variabel-variabel tersebut.
Didalam KUC dengan jumlah komponen n dan jumlah fasa 2 terdapat variabel T,
P, N-1 fraksi mol dalam cairan dan N-1 fraksi mol dalam uap, jadi jumlah variabel
adalah 2N. Persamaan Gibbs-Duhem sebagai kriteria kesetimbangan (Tim
Penyusun, 2015).
f^ Vi = ^f Li ( i = 1, 2, ..., N)
(2.14)
Memberikan N persamaan bebas sehingga jumlah variabel yang harus
ditetapkan ,,,\untuk fixing sistem adalah N, y.i T atau P dan N-1 fraksi mol cairan
atau uap N variabel yang lain selanjutnya dapat dihitung, digunakan persamaan:

f i v iv y i P f^ V =
^ Vi y i P
i
V
^ Vi x i P
f^ i =

Dan

(2.15)

f i v vi xi P

(2.16)

Gabungan persamaan (15), (16) dan (17):


iL xi iv y i
^ Li x i=
^ Vi y i

(2.17)
iL

Didalam persamaan terakhir xi dan yitidak berdiri explisit mengingat baik


iv

maupun

adalah fungsi dari T, P dan komposisi; hubungan tersebut merupakan


i

hubungan yang kompleks. Menyatakan hubungan antara


dengan T, P dan
komposisi memerlukan persamaan keadaan yang menggambarkan secara teliti
keadaan masing-masing campuran uap dan cairan. Beberapa kesukaran yang
dihadapi dalam kaitan ini:
1 Data biasanya tersedia untuk zat murni dan tidak ada aturan-aturan yang
berlaku secara umum untuk campuran.
2 Tidak ada persamaan keadaan yang secara umum berlaku untuk fasa
cairan.
Untuk mendapatkan bentuk persamaan yang lebih mudah digunakan
dilakukan penyederhanaan bila hal tersebut dibenarkan. Hasil yang paling
sederhana diperoleh bila diumpamakan bahwa fasa uap bersifat gas ideal dan fasa
cairan merupakan larutan ideal.
1 Bila fasa uap bersifat gas ideal:
v
^ Vi =1 i 1
^ Vi =1

(2.18)
2

Bila fasa cairan merupakan larutan ideal:


fL x fL
fL
^f L x f L f L
iL i i i i
L
^
xi P
xi P
P i = i = i i = i
xi P x i P P

(2.19)

Bila fugasitas cairan tidak peka terhadap tekanan:


f^ iL =f sat
i
f i L f i sat

Berdasarkan anggapan

f i L f i sat

(2.20)

f^ =f
L
i

sat
i

fi fi
L

sat

iL

P sat
P

sat

^ Li = P

Hasil secara keseluruhan:


P sat
xi
yi
P sat
Pi= y i P=x i P sat
xi
= yi
P
P
Pi = yi P = xiPsat
Persamaan terakhir merupakan rumus hukum Raoult. Persamaan tidak
realistik, disebabkan terutama oleh asumsi kedua yang biasanya tidak berlaku,
kecuali sistemnya terdiri dari komponen yang serupa secara kimiawi dan dalam
ukuran molekul. Sebagai koreksi terhadap keadaan terakhir diintroduksikan
koefisien aktifitas. Berikut ini diturunkan persamaan yang umum:
v
V
^ Vi P f i y i i P
f^ Vi = y i
untuk fasa uap dan
f i L xi i f i o f L =x f o
i
i i i

untuk fasa cair

xi i f i o Vi y i P x f o =
^ Vi y i P
i i i

(2.21)

Dengan persamaan terakhir penyelesaian KUC dilaksanakan melalui


pendekatan:
1Untuk fasa uap digunakan konsep koefisien fugasitas yang dihitung dengan
menggunakan PVT data.
Vi ( P, T , y i ,....., y N 1 )
(2.22)
2Untuk fasa cair digunakan konsep koefisien aktifitas. Konsep ini
menggantikan konsep koefisien fugasitas yang tidak bisa diterapkan
karena tidak ada persamaan keadaan yang berlaku secara untuk cairan.
i ( P, T , xi , x 2 ,...., x N 1 ) = (P , T , x , x x )
i
i
2
N 1
(2.23)
Vi

Dua konsep itu terpisah satu sama lain. Dalam arti kata
tidak
i
dipengaruhi oleh komposisi cairan dan sebaliknya
tidak dipengaruhi oleh
komposisi uap.
Telah diuraikan bahwa untuk sistem N komponen dan dua fasa ada N
derajat kebebasan, artinya N variabel dapat ditentukan secara bebas sedang N
variabel yang lain merupakan variabel tidak bebas dan dapat dihitung. Beberapa
bentuk persoalan dalam KUC:

Menghitung T dan yi pada titik gelembung, bila ditentukan P dan xi(i =


1,2,...N-1)
2 Menghitung P dan yi pada titik gelembung, bila ditentukan T dan xi( i =
1,2,...N-1)
3
Menghitung T dan xi pada titik embun, bila ditentukan P dan yi
( i = 1,2,...N-1)
4 Menghitung P dan xi pada titik embun, bila ditentukan T dan yi
( i = 1,2,...N-1)
Untuk menentukan tekanan uap murni komponen dapat didekati dengan
persamaan Antoine yaitu:
B
ln Psat = A
(2.24)
T +C
Untuk memprediksikan tekanan uap etanol:
3803.98
InP sat 18.9119
3803.98
sat
T 41.68 ln P =18.9119 T 41.68
Untuk memprediksikan tekanan uap air:
3816.44
InP sat 18.3036
3816.44
sat
T 46.13 ln P =18.3036 T 46.13

(2.25)

(2.26)

Psat dan T pada persamaan (1.26) dan (1.27) dalam satuan mmHg dan derajat
kelvin. Konstanta kesetimbangan uap cair dapat ditentukan dari persamaan
Hukum Raoult:
Pi sat y i
K

P
xi
(2.27)
Dalam sebuah campuran dua fasa uap-cair pada kesetimbangan, suatu
komponen dalam fasa berada dalam kesetimbangan dengan komponen yang sama
dalam fasa lain. Hubungan kesetimbangan tergantung kepada suhu, tekanan, dan
komposisi campuran tersebut. Gambar 1.1 merupakan salah satu contoh diagram
dari kesetimbangan uap cair untuk sistem cyclohexane-toluene, dimana pada (a)
kesetimbanganpada temperatur konstan dan (b) kesetimbangan pada temperatur
konstan (Abbott, 1989). Kurva ABC pada Gambar 1.1 menunjukkan keadaan
campuran cair jenuh, yang disebut dengan kurva bublepoint. Kurva ADC
merupakan kurva dewpoint, yang menunjukkan uap jenuh.
1.2.4 Fugasitas di Fasa Uap
Fugasitas di fasa uap dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas yang
didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa uap dan tekanan

parsial komponen. Berdasarkan definisi ni, hubungan antara fugasitas dan


koefisien fugasitas di fasa uap dinyatakan sebagai:
fi V = iV .yiP
(2.28)
dimana adalah koefisien fugasitas, y adalah fraksi mol komponen di fasa uap
dan P adalah tekanan total.
Koefisien fugasitas dihitung berdasarkan data volumeetrik dengan cara
sebagai berikut:
P
1 V
RT

dP
ln i

RT 0 ni T , P ,ni
P

(2.29)
atau
P
1 V
RT

dV ln z
ln i

RT 0 ni T , P ,ni
P

(2.30)
dimana T adalah temperatur, v adalah volume parsial, n adalah jumlah mol, z
adalah faktor pemampatan (compressibility factor) dan R adalah konstanta gas.
Kedua persamaan di atas menunjukkan bahwa koefisien fugasitas dapat
dihitung dengan menggunakan persamaan keadaan, persamaan yang
menghubungkan tekanan, temperatur, volume dan/atau komposisi. Persamaan
dengan fungsi dP dipakai apabila persamaan keadaan yang ada berupa fungsi
eksplisit dalam volume, temperatur, dan komposisi. Sedangkan persamaan dengan
fungsi dv dipakai bila persamaan keadaan yangada berupa fungsi eksplisit dalam
tekanan, temperatur, dan komposisi.
1.2.5 Fugasitas di Fasa Cair
Fugasitas di fasa cair umumnya dinyatakan dalam bentuk koefisien
aktifitas yang didefinisikan sebagai perbandingan antara fugasitas di fasa cair dan
hasil kali antara fraksi mol komponen di fasa cair dan fugasitas komponen pada
keadaan standar dalam perhitungan-perhitungan koefisien aktifitas adalah kondisi
cairan murni.
1. Jika keadaan cairan murni dipakai sebagai keadaan standar, koefisien aktifitas
dinyatakan sebagai: fi L = i xifi OL
dimana adalah koefisien aktifitas, x adalah fraksi mol komponen di fasa cair,
fOL adalah fugasitas cairan murni.
2. Koefisien fugasitas dapat dihitung berdasarkan data energi bebas Gibs
berlebih (excess Gibbs energy). Persamaan-persamaan untuk menghitung
koefisien aktivitas anatara lain Persamaan Van Laar, persamaan Margules,
persamaan Wilson, persamaan NRTL, dan sebagainya. Koefisien aktivitas juga
dapat dihitung dengan menggunakan metoda kelompok (group method) seperti
dengan metoda UNIFAC dan metoda ASOG.
Suku eksponen dalam persamaan di atas dinamakan faktor koreksi
Poynting (Poynting correction). Jika cairan bersifat tidak termampatkan dan uap

komponen pada keadaan jenuhnya dapat dianggap sebagai gas ideal, persamaan di
atas dapat disederhanakan menjadi:

fi

OL

Pi

(T , P ) Pi exp
S

PiV

Vi

OL

( P Pi )

RT
S

(2.31)

Jika faktor koreksi Poynting mendekati 1, maka :

fi

OL

(T , P )

SV

Pi

(2.32)
Fugasitas di fasa cair juga sering dinyatakan dalam bentuk koefisien fugasitas.
Dalam hal ini fugasitas dinyatakan sebagai :

fi

SV

xi P

(2.33)
Cara di atas memungkinkan masalah kesetimbangan uap-cair dapat
diselesaikan dengan menggunakan sebuah persamaan keadaan.

1.2.6 Hukum Henry


Digunakan untuk komponen yang fraksi molnya mendekati nol, seperti fas
encer yang dilarutkan sebagai cairan :
Pi Hi.xi
(2.34)
Untuk Pi adalah tekanan dalam fase gas dari komponen encer pada
kesetimbangan pada suatu suhu, dan Hi adalah konstanta hukum Henry. Catat
bahwa dalam limit dimana x i=0. Pi=0. Nilai Hi dapt ditentukan dalam buku
referensi.
Perhitungan tekanan parsial suatu gas dalam fase gas yang berada dalam
kesetimbangan dengan gas terlarut dalam fase cair jika Hukum Henry berlaku
sungguh sederhana . Ambil sebagai contoh CO2 yang dilarutkan dalam air pada
400C dimana nilai H adalah 69.600 atm/fraksi mol. (Nilai H yang besar
menunujukkan bahwa CO2(g) hanya sedikit larut dalam air).
1.2.7

Hukum Raoult
Digunakan untuk komponen yang fraksi molnya mendekati satu atau
larutan dari komponen-komponen yang benar-benar mirip dalam sifat kimia,
seperti rantai lurus hidrokarbon.Misalnya subskrip i menunjukkan komponen, Pi
tekanan parsial dari komponen i dalam fase gas yi fraksi mol gas-gas dan xi fraksi
mol fase cair.Maka :

Pi Pi.xi
(2.35)
dimanaxi = 1 : Pi=Pi .
Dengan menggunakan persamaan diatas dan mengasumsikan bahwa
Hukum Dalton berlaku untuk fasa gas (Pi=Ptot .yi) maka didapatkan persamaan
untuk Konstanta Kesetimbangan, yakni :
yi
Pi
Ki

xi Ptot
(2.36)

BAB II
METODOLOGI PERCOBAAN
2.1 Alat dan Bahan
2.1.1 Alat yang digunakan
1. Labu ukur 100 ml
2. Labu Pemanas
3. Termometer
4. Pengambil sampel uap yang terkondensasi
5. Kondenser
6. Hand Refractometer
7. Erlemeyer 100 ml
8. Gelas kimia
9. Pipet tetes
10. Ketel pemanas

Gambar 2.1 Rangkaian Alat Percobaan Kesetimbangan Uap-Cair

2.2.2

Bahan yang digunakan


Bahan yang digunakan adalah etanol dan air

2.2.3

Gambar Alat

Gambar 2.1 Alat Hand Refractometer


2.2

Prosedur Percobaan
Pengukuran konsentrasi etanol dalam campuran etanol air pada percobaan

ini menggunakan Hand Refraktometer. Satuan pengukuran hand refractometer


adalah derajat Brix (Brix). Percobaan ini dapat dikelompokkan menjadi 2 tahap,
yaitu :
2.2.1 Standarisasi
Tahap ini bertujuan untuk mendapatkan kurva hubungan konsentrasi
etanol dengan derajat Brix (oBrix). Adapun langkah kerjanya adalah :
a.

Buat larutan etanol dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%,


20%, 25%, 30% dan 35% volume.

b.

Larutan etanol 10% volume diteteskan ke dalam hand refractometer,


sehingga dapat diketahui oBrix dari konsentrasi etanol tersebut, yakni
skala yang ditunjukkan pada perbatasan daerah terang dan daerah
gelap pada hand refractometer.

c.
2.2.2

Percobaan diulangi dengan komposisi larutan etanol yang berbeda.

Penentuan fraksi uap dan cairan pada kesetimbangan


Langkah kerja pada tahap ini adalah sebagai berikut :
a.

Rangkaian peralatan KUC dipasang seperti Gambar 2.1.

b.

Buat larutan etanol dengan konsentrasi masing-masing 10%, 15%,


20%, 25%, 30% dan 35% volume.

c.

Labu diisi dengan larutan etanol 10 % volume sebanyak 50 ml.

d.

Tutup labu tersebut dengan memasang rangkaian kondensor dengan


pengambil sampel kondensat dan pengambil sampel cairan.

e.

Ketel pemanas dan aliran air pendingin dinyalakan.

f.

Amati kenaikan suhu dan tunggu sampai kondisi setimbang pada


temperatur tetap.

g.

Pada saat setimbang, sampel cair (yang tertinggal di labu) diambil.

h.

Sampel tersebut kemudian dianalisa dengan menggunakan hand


refractometer untuk mendapatkan oBrixnya.

i.

Percobaan diulangi dengan komposisi larutan etanol yang berbeda.

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil

Tabel 3.1 Pengaruh komposisi umpan terhadap 0Brix


Fraksi volum etanol
10%
15%
20%
25%
30%
35%

Brix
1,5
2
2,5
3
4
5

6
5
4
Brix

f(x) = 13.71x - 0.09


R = 0.97

3
2
1
0
0.05

0.1

0.15

0.2

0.25

0.3

0.35

0.4

Fraksi Etanol (% volum)

Gambar 3.1 Kurva standarisasi fraksi etanol dan 0Brix

Tabel 3.2 Komposisi etanol (oBrix) pada temperatur kesetimbangan


Temperatur
Komposisi
Komposisi
Fraksi volum
kesetimbangan
kondensat
cairan
etanol
0
0
( K)
( Brix)
(0Brix)
10%
372
4,5
1,0
15%
371.5
4,25
0,5
20%
371
4,5
1,25
25%
370.8
5
0,5
30%
368
5
1,5
35%
367
3,5
1,5
Tabel 3.3 Komposisi etanol (fraksi volum) dan Psat pada kesetimbangan
Komposisi Komposisi Fraksi volum Fraksi volum
Fraksi volum
kondensat
cairan
etanol pada
etanol pada
etanol
0
0
( Brix)
( Brix)
kondensat
cairan
10%
4,5
1,0
0.321934
0.06672

15%
20%
25%
30%
35%

4,25
4,5
5
5
3,5

0,5
1,25
0,5
1,5
1,5

0.303704
0.321934
0.358393
0.358393
0.249016

0.030261
0.08495
0.030261
0.103179
0.103179

Tabel 3.3 Komposisi etanol (fraksi volum) dan Psat pada kesetimbangan
Fraksi
Fraksi Komposisi Komposisi Fraksi volum
volum
Psat (etanol)
volum kondensat
cairan
etanol pada
etanol pada
(mmHg)
etanol
(0Brix)
(0Brix)
kondensat
cairan
10%
4,5
1,0
0.321934
0.06672
1641.42
15%
4,25
0,5
0.303704
0.030261
1612.995
20%
4,5
1,25
0.321934
0.08495
1584.978
25%
5
0,5
0.358393
0.030261
1573.884
30%
5
1,5
0.358393
0.103179
1425.19
35%
3,5
1,5
0.249016
0.103179
1374.99

Tabel 3.4 Perbandingan % berat etanol dengan literatur


Fraksi etanol pada
Fraksi etanol
Fraksi etanol
kondensat (y1
pada kondensat
pada cairan
literatur)*
0.321934
0,101
0.06672
0.303704
0,1515
0.030261
0.321934
0,198
0.08495
0.358393
0,21
0.030261
0.358393
0,386
0.103179
0.249016
0,4299
0.103179
*Sumber: Geankoplis (1997)

Fraksi etanol
pada cairan (x1
literatur)*
0,105
0,0157
0,02
0,0231
0,529
0,0676

Hubungan Yd & Xw Percobaan dengan Temperatur


0.4
0.3
0.25
Komposisi 0.2
0.1

xw
yd

0.1

0
93 94 95 96 97 98 99 100
Temperatur 0C

Gambar 3.2 Kurva hubungan antara Yd & Xw percobaan dengan Temperatur

Hubungan Yd & Xw Literatur dengan Temperatur


0.6
0.5
0.4

0.43
xw

Komposisi 0.3
0.2

yd

0.1

0.07
0
93 94 95 96 97 98 99 100
Temperatur 0C

Gambar 3.3 Kurva hubungan antara Yd & Xw literatur dengan Temperatur

Hubungan Xw Percobaan & Literatur dengan Temperatur


0.6
0.5
0.4

xw lit

Komposisi 0.3
0.2
0.1

xw perc
0.1
0.07

0
93 94 95 96 97 98 99 100
Temperatur 0C

Gambar 3.4 Kurva hubungan antara Xw percobaan & literatur dengan


Temperatur

Hubungan K Percobaan & Literatur dengan Temperatur


12
10
8
Komposisi 6
4

6.36

1.81

k lit
k perc

0
93 94 95 96 97 98 99 100
Temperatur 0C

Gambar 3.5 Kurva hubungan antara K percobaan & literatur dengan Temperatur
Tabel 3.5 Konstanta kesetimbangan (K) percobaan dan literatur
Fraksi volum etanol
K percobaan
K literatur
10%
2.159763
0.961905
15%
2.122362
9.649682
20%
2.085497
9.9
25%
2.0709
9.090909
30%
1.87525
0.729679
35%
1.809198
6.359467

Hubungan K Percobaan & Literatur dengan Temperatur


0.6
0.5
0.4

0.43

Komposisi 0.3
0.2

0.25

yd prc
yd lit
xw perc
xw lit

0.1
0
93 94 95 96 97 98 99 100
Temperatur 0C

Gambar 3.6 Kurva hubungan komposisi etanol dan temperatur


3.2

Pembahasan
Pada percobaan KUC, terlebih dahulu dilakukan standarisasi fraksi volum
etanol terhadap 0Brix. Kurva hubungan fraksi etanol dengan 0Brix dapat dilihat
pada Gambar 3.1 di atas. Semakin besar % volum etanol maka semakin besar pula
0
Brix. Hal ini dikarenakan 0Brix didapat dari pembiasan cahaya oleh larutan yang
tertentu. Semakin tinggi konsentrasi larutan, maka akan semakin banyak cahaya
yang dibiaskan ke dalam alat hand refractometer. Cahaya yang dibiaskan kedalam
alat tersebut akan dijadikan sebagai penunjuk skala yang diamati oleh pengamat,
semakin banyak cahaya yang masuk kedalam alat, maka akan semakin tinggi pula
skala yang akan ditunjukkan oleh alat hand refractometer tersebut.
Pada gambar 3.2 dapat dilihat kurva hubungan komposisi etanol yang
didapat dari percobaan dengan temperatur kesetimbangan. Dari kurva dapat
dilihat kecenderungan etanol pada fasa uap dan cair semakin meningkat seiring
menurunnya suhu kesetimbangan. Dengan kata lain, semakin rendah suhu maka
akan semakin tinggi komposisi etanol. Hal ini dikarenakan titik didih etanol
(760C) yang lebih kecil dari pada titik didih air (100 0C), sehingga jika semakin
tinggi konsentrasi etanol di dalam suatu larutan maka titik didih larutan akan lebih
didominasi oleh titik didih etanol yang lebih rendah dari pada titik didih air.
Namun, terdapat beberapa data yang tidak sesuai, hal ini dikarenakan ketidak
akuratan dalam pembacaan skala handrefractometer. Begitu pula halnya dengan
gambar 3.3 yang menunjukkan kecenderungan kurva hubungan komposisi etanol
literatur dengan temperature kesetimbangan. Semakin tinggi konsentrasi etanol
dalam suatu larutan maka akan semakin rendah suhu yang dibutuhkan untuk
membuat keadaan larutan tersebut menjadi setimbang.

Pada gambar 3.4 dapat dilihat hubungan komposisi cair (Xw) percobaan
dan literatur dengan temperatur kesetimbangan. Kurva percobaan berada dibawah
kurva literatur walaupun kedua kurva menunjukkan nilai Xw yang semakin tinggi
seiring menurunnya suhu kesetimbangan. Hal ini dapat disebabkan oleh
pengukuran konsentrasi etanol yang kurang akurat pada saat percobaan.
Kekurangcermatan dalam pengukuran konsentrasi etanol tersebut dapat
disebabkan banyaknya etanol yang menguap sebelum diukur dengan alat hand
refractometer.
Kurva hubungan antara nilai K yang didapat dari percobaan dan K literatur
dapat dilihat pada gambar 3.5. Kurva percobaan cenderung menunjukkan
menurunnya nilai K terhadap temperatur kesetimbangan. Secara umum, kurva
percobaan sama-sama menunjukkan nilai K yang semakin rendah seiring
menurunnya temperature kesetimbangan. Namun pada beberapa titik pada kurva
percobaan dapat dilihat kenaikan nilai K seiring menurunnya temperatur
kesetimbangan walaupun tidak terlalu signifikan. Kenaikan ini dapat disebabkan
oleh kekeliruan pengukuran pada saat mengukur konsentrasi etanol dengan alat
hand refractometer.
. Pada Gambar 3.6 kurva komposisi etanol dalam fasa cair dan fraksi
etanol pada fasa uap berada di bawah kurva literatur. Hal ini dikarenakan waktu
pengambilan sampel kondensat dan cair tidak dilakukan secara bersamaan
sehingga kondensat kembali bercampur dengan larutan. Error juga dapat
disebabkan penanganan etanol yang kurang baik sebelum dianalisa menggunakan
hand refractometer.

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
1

Kesimpulan
1 Semakin besar fraksi etanol dalam campuran maka 0Brix akan semakin
besar pula.
2 Jika fraksi etanol diperbesar dalam campuran maka fraksi etanol dalam
fasa uap dan fasa cair akan meningkat.
3 Jika fraksi etanol dalam campuran diperbesar maka temperatur
kesetimbangan akan menurun.
4 Apabila fraksi etanol dalam campuran diperbesar maka nilai K akan
semakin kecil.

Saran
1 Pengambilan sampel kondensat dan cair harus dilakukan secara
bersamaan sehingga kondensat tidak kembali bercampur dengan
larutan.
2 Pengukuran konsentrasi larutan dilakukan secara cepat sehingga tidak
terlalu banyak alkohol yang berkurang karena teruap.
3 Perlakuan larutan pada saat pengukuran harus dilakukan secara baik
karena kekeliruan pada saat pengukuran berpengaruh pada perhitungan
dan hasil akhir.

DAFTAR PUSTAKA

Abbott, Michael, M., Van Ness, Hendrick, C. 1989.Schaums Outline of Theory


and Problem Thermodynamics, 2nd edition, Mc Graw-Hill Co. Inc.
Anggraini, W., G. 2015. Kesetimbangan Uap Cair Pada Sistem
Binair.http://rega42.wordpress.com/2015/04/26/kesetimbangan-uap-cairpada-sistem-binair/. Diakses 27 Oktober 2015.
Geankoplis, C.J., 1997. Transport Processed and Unit Operation, 3th edition.
New York: Prentice-Hall.
Himmelblau, M., David., 1996. Prinsip Dasar dan Kalkulasi dalam Teknik
Kimia,6th edition. New Jersey: Prentice-Hall.
Prausnitz, J. M. 1991. Molecular Thermodynamics of Liquid-Phase Equilibr. New
Jersey: Prentice-Hall.
Tim Penyusun. 2015. Penuntun Praktikum Laboratorium Teknik Kimia 1.
Pekanbaru: Universitas Riau.
Treybal, Robert, E., 1981. Mass-Transfer Operations, 3th edition. Japan: Mc.
Graw-Hill.

LAMPIRAN A

1.

Pembuatan larutan umpan dan larutan standar etanol-air untuk


kurva kalibrasi.
Volume larutan
= 50 ml
konsentrasi etanol
= 96%
V1 . M1 = V2 . M2
a. Etanol 10%
100 mL x 0,10
V2
5,2 mL etanol 44,8 mL air
0,96
b. Etanol 15%
50 mL x 0,15
V2
7,8 mL etanol 42,2 mL air
0,96
c. Etanol 20%
50 mL x 0,20
V2
10,42 mL etanol 39,58 mL air
0,96
d. Etanol 25%
50 mL x 0,25
V2
13,02mL etanol 3 6,98 mL air
0,96
e. Etanol 30%
50 mL x 0,30
V2
15,63 mL etanol 34,37 mL air
0,96
f. Etanol 35%
50 mL x 0,35
V2
18,23 mL etanol 31,37 mL air
0,96

2.

Contoh perhitungan fraksi massa etanol percobaan


Diketahui:
etanol = 0.789 gr/ml
air
= 0.998 gram/ml
P standar = 760 mmHg
V umpan = 50 ml
Persamaan linear kurva standar:
y = 13.714x - 0.0857
Persamaan Antoine untuk etanol:

In P sat 18,891

3782,894
T (C ) 230,3

a. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 10%, T = 99C

y 13.714 1 13.714

0.06672
0.0857
0.0857

M etanol = V umpan x etanol x X


= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.06672
= 2.63211 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.06672)
= 46.57067 gr

x etanol

M etanol
2.63211

0.053
M etanol M air 2.63211 46.57067

3782.894

P sat exp 18.891


1641.42 mmHg
99 230.3

P sat . X 1573.884 x 0.053


y e tan ol

0.11
760
760
y
x
0.11

0.053
2.159

sehingga K

b. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 15%, T = 98.5C


y 13.714 0.5 13.714
x

0.03
0.0857
0.0857
M etanol = V umpan x etanol x X
= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.03
= 1.193 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.03)
= 48.38997 gr

x etanol

M etanol
1.193

0.024
M etanol M air 1.193 48.389

3782.894

P sat exp 18.891


1612.995mmHg
98.5 230.3

y e tan ol

P sat . X 1612.995 x 0.024

0.05
760
760
y
x
0.05

0.024
2.122

sehingga K

c. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 20%, T = 98C


y 13.714 1.25 13.714
x

0.0849
0.0857
0.0857
M etanol = V umpan x etanol x X
= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.0849
= 3.35 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.0849)
= 46.66 gr

x etanol

M etanol
3.35

0.068
M etanol M air 3.35 46.66

3782.894

P sat exp 18.891


1584.98 mmHg
98 230.3

y e tan ol

P sat . X 1584.978 x 0.068

0.14
760
760
y
x
0.14

0.068
2.08

sehingga K

d. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 25%, T = 97,8C


y 13.714 0.5 13.714
x

0.03
0.0857
0.0857

M etanol = V umpan x etanol x X


= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.03
= 1.19 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.03)
= 48.38 gr

x etanol

M etanol
1.193

0.024
M etanol M air 1.193 48.389

3782.894

P sat exp 18.891


1573.884 mmHg
97.8 230.3

y e tan ol

P sat . X 1573.884 x 0.024

0.0498
760
760
y
x
0.0498

0.024
2.07

sehingga K

e. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 30%, T = 95C


y 13.714 1.5 13.714
x

0.103
0.0857
0.0857
M etanol = V umpan x etanol x X
= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.103
= 4.07 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.103)
= 44.75 gr

x etanol

M etanol
4.07

0.083
M etanol M air 4.07 44.75

3782.894

P sat exp 18.891


1425.19 mmHg
95 230.3

y e tan ol

P sat . X 1425.19 x 0.103

0.1563
760
760
y
x
0.1563

0.083
1.875

sehingga K

f. Komposisi etanol fasa cair (Xw) 35%, T = 94C


y 13.714 1.5 13.714
x

0.103
0.0857
0.0857
M etanol = V umpan x etanol x X
= 50 ml x 0.789 gr/ml x 0.103
= 4.07 gr
M air

= V umpan x air x (1-x)


= 50 ml x 0,998 gr/ml x (1-0.103)
= 44.75 gr

x etanol

M etanol
4.07

0.083
M etanol M air 4.07 44.75

3782.894

P sat exp 18.891


1374.99 mmHg
94 230.3

y e tan ol

P sat . X 1374.99 x 0.103

0.1508
760
760
y
x
0.1508

0.083
1.809

sehingga K

3.

Interpolasi data pada literatur untuk temperatur kesetimbangan

10%
y=0.192+

00.192
( 9998.1 ))
( 10098.1

y=0.101

00.02
( 9998.1 ))
( 10098.1

x=0.02+
x=0.105
15%

y=0.192+

00.192
( 98.598.1 ))
( 10098.1

y=0.1515

x=0.0157
20%
y=0.377+

( 9895.2 ) )
( 0.1920.377
98.195.2

y=0.198

x=0.05+

( 9895.2 ))
( 0.020.05
98.195.2

x=0.02
25%
y=0.377+

( 97.895.2 ) )
( 0.1920.377
98.195.2

y=0.21

x=0.05+

( 97.895.2 ))
( 0.020.05
98.195.2

x=0.02 31
30%
y=0.527+

( 9591.8 ) )
( 0.3770.527
95.291.8

y=0.386

0.050.1
( 9591.8 ) )
( 95.291.8

x=0.1+

x=0.529
35%
y=0.527+

( 9491.8 ) )
( 0.3770.527
95.291.8

y=0.4299

0.050.1
( 9491.8 ) )
( 95.291.8

x=0.1+

x=0.0676