Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN PRAKTIKUM

METODE MAGNETIK BUMI


HUSNI TAUFIQ MUSLIM (1127030036)
FISIKA VI-A
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SUNAN GUNUNG DJATI BANDUNG
Email : ofixedly@gmail.com
Abstrak:
Telah dilakukan eksperimen metode magnetik bumi dengan menggunakan alat Proton
Precision Magnetometer, GPS, dan software surfer 12. Tujuan dari penelitian ini adalah
memahami prinsip kerja alat Proton Precision Magnetometer, dapat mengoperasikan alat
Proton Precision Magnetometer, menentukan anomali magnetik yang telah dikoreksi,
membuat peta anomali magnetik, dan dapat melakukan interpretasi secara kualitatif
dari peta intensitas medan magnetik total dan peta sinyal analitik (anomali residual).
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan magnetik di
permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi benda termagnetisasi
di bawah permukaan bumi (suseptibilitas).
Kata Kunci : Proton Precision Magnetometer, GPS, Surfer 12, dan peta anomali
I.

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Geofisika merupakan ilmu yang mempelajari dan menelaah mengenai
struktur bawah permukaan untuk mengetahui kandungan mineral di dalam
bumi dengan menggunakan pengukuran, hukum, metode dan analisis fisika
serta pemodelan matematika untuk mengeksplorasi dan menganalisis struktur
dinamik bumi dengan tujuan mencari mineral-mineral yang berguna bagi
kehidupan manusia (Anonim, 2007).
Metode geomagnet (magnetik) dilakukan berdasarkan pengukuran
anomali geomagnet yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas
atau permeabilitas magnetik tubuh jebakan dari daerah sekelilingnya.
Perbedaan permeabilitas relatif itu diakibatkan oleh perbedaan distribusi
mineral ferromagnetic, paramagnetic dan diamagnetic. Alat yang digunakan untuk
mengukur anomali geomagnet yaitu magnetometer. Metode geomagnet ini

sensitif terhadap perubahan vertikal, umumnya digunakan untuk mempelajari


tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya akan mineral
ferromagnetic dan struktur geologi (Yopanz, 2007).
II. TEORI DASAR
2.1 Magnetisasi Bumi dan Sifat Magnetik Batuan
Medan magnet bumi secara sederhana dapat digambarkan sebagai medan
magnet yang ditimbulkan oleh batang magnet raksasa yang terletak di dalam inti
bumi, namun tidak berimpit dengan pusat bumi. Medan magnet ini dinyatakan
sebagai besar dan arah. Arahnya dinyatakan sebagai deklinasi (penyimpangan
terhadap arah utara-selatan geografis) dan iklinasi (penyimpangan terhadap arah
horizontal). Sedangkan kuat medan magnet sebagian besar dari dalam bumi sendiri
(94%) atau internal field, sedangkan sisanya (6%) ditimbulkan oleh arus listrik di
permukaan dan pada atmosfir atau external field. Kemagnetan bumi dapat berasal
dari internal (dalam) bumi, kerak bumi ataupun dari angkasa luar.
Setiap jenis batuan mempunyai sifat dan karakteristik tertentu dalam medan
magnet. Adanya perbedaan serta sifat yang khusus dari tiap jenis batuan serta
mineral memudahkan dalam pencarian bahan-bahan tersebut.
Adapun klasifikasi batuan atau mineral berdasarkan sifat magnetik yang
ditunjukan oleh kerentanan magnetiknya sebagai berikut:
1. Diamagnetik
Mempunyai kerentanan magnetik (k) negatif dengan nilai yang sangat kecil
artinya bahwa orientasi elektron orbital substansi ini selalu berlawanan arah
dengan medan magnet luar. Contoh materialnya: grafit, gypsum, marmer,
kwartz, garam, dll.
2. Paramagnetik
Mempunyai harga kerentanan magnetik (k) positif dengan nilai yang kecil.
Contoh materialnya: Kapur.
3. Ferromagnetik
Mempunyai harga kerentanan magnetik (k) positif dengan nilai yang besar
yaitu sekitar 106 kali dari diamagnetic dan atau paramagnetic. Sifat
kemagnetan substansi ini dipengaruhi oleh temperature, yaitu pada suhu diatas
suhu Currie, sifat kemagnetannya hilang. Contoh materialnya: pyrit, magnetit,
hematit, dll.

2.2 Metode Magnetik Bumi


Metode geomagnet (magnetik) dilakukan berdasarkan pengukuran
anomali geomagnet yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas
atau permeabilitas magnetik tubuh jebakan dari daerah sekelilingnya.
Perbedaan permeabilitas relatif itu diakibatkan oleh perbedaan distribusi
mineral ferromagnetic, paramagnetic dan diamagnetic. Alat yang digunakan untuk
mengukur anomali geomagnet yaitu magnetometer. Metode geomagnet ini
sensitif terhadap perubahan vertikal, umumnya digunakan untuk mempelajari
tubuh intrusi, batuan dasar, urat hydrothermal yang kaya akan mineral
ferromagnetic dan struktur geologi (Yopanz, 2007).
2.3 Konsep Teori Magnetik
Metode magnetik didasarkan pada pengukuran variasi intensitas medan
magnetik di permukaan bumi yang disebabkan oleh adanya variasi distribusi
benda termagnetisasi di bawah permukaan bumi (suseptibilitas). Variasi yang
terukur (anomali) berada dalam latar belakang medan yang relatif besar.
Variasi intensitas medan magnetik yang terukur kemudian ditafsirkan dalam
bentuk distribusi bahan magnetik di bawah permukaan, yang kemudian
dijadikan dasar bagi pendugaan keadaan geologi yang mungkin. Metode
magnetik memiliki latar belakang fisika berdasarkan kepada teori potensial,
Sehingga sering disebut sebagai metoda potensial. Dalam metode magnetik
harus mempertimbangkan variasi arah dan besar vektor magnetisasi. Data
pengamatan magnetik lebih menunjukan sifat residual yang kompleks.
Dengan demikian, metode magnetik memiliki variasi terhadap waktu jauh
lebih besar. Pengukuran intensitas medan magnetik bisa dilakukan melalui
darat, laut dan udara. Metode magnetik sering digunakan dalam eksplorasi
pendahuluan minyak bumi, panas bumi, dan batuan mineral serta bisa
diterapkan pada pencarian prospeksi benda-benda arkeologi.
2.4 Aplikasi Metode Geomagnetik
Panas bumi adalah sebuah sumber energi panas yang terdapat dan
terbentuk di dalam kerak bumi. Panas bumi adalah sumber energi panas yang
terkandung di dalam air panas, uap air dan batuan bersama mineral ikutan
dan gas lainnya yang secara genetik semuanya tidak dapat dipisahkan dalam
suatu sistem panas bumi dan untuk pemanfaatannya diperlukan proses
penambangan. (Pasal 1 UU No.27 tahun 2003 tentang Panasbumi) (Anonim,

2007b). Sistem panasbumi merupakan energi yang tersimpan dalam bentuk


air panas atau uap panas pada kondisi geologi tertentu pada kedalaman
beberapa kilometer di dalam kerak bumi.
Sistem panas bumi meliputi panas dan fluida yang memindahkan panas
mengarah ke permukaan. Adanya konsentrasi energi panas pada sistem panas
bumi umumnya dicirikan oleh adanya anomali panas yang dapat terekam di
permukaan, yang ditandai dengan gradien temperatur yang tinggi.
Sistem panas bumi mencakup sistem hydrothermal yang merupakan
sistem tata-air, proses pemanasan dan kondisi sistem dimana air yang
terpanasi terkumpul. Sehingga sistem panasbumi mempunyai persyaratan
seperti harus tersedia air, batuan pemanas, batuan sarang dan batuan penutup.
Air disini umumnya berasal dari air hujan atau air meteorik.
Batuan pemanas akan berfungsi sebagai sumber pemanasan air, yang
dapat berwujud tubuh terobosan granit maupun bentuk-bentuk batolit
lainnya. Panas yang ditimbulkan oleh pergerakan sesar aktif kadangkadang
berfungsi pula sebagai sumber panas, seperti sumber-sumber mata air panas
di sepanjang jalur sesar aktif.
Batuan sarang berfungsi sebagai penampung air yang telah terpanasi
atau uap yang telah terbentuk. Nilai kesarangan batuan cadangan ini ikut
menentukan jumlah cadangan air panas atau uap. Batuan penutup lebih
berfungsi sebagai penutup kumpulan air panas atau uap sehingga tidak
merembes ke luar. Syarat dari batuan penutup ini adalah sifatnya yang tidak
mudah ditembus atau dilalui cairan atau uap. Umumnya sumber panasbumi
terdapat di daerah jalur gunungapi, maka sebagai sumber panas adalah magma
atau batuan yang telah mengalami radiasi panas dari magma. Sedang batuan
penutup dan batuan cadangan biasanya dibentuk oleh batuan hasil letusan
gunungapi seperti lava dan piroklastik. Meskipun di beberapa daerah
panasbumi, tufa atau labu halus yang terlempungkan atau lapisan airtanah
dapat berfungsi sebagai batuan penutup sistem panas bumi (Azwar, M., dkk,
1988).
Metode magnetik (geomagnet) dilakukan berdasarkan pengukuran
anomali geomagnet yang diakibatkan oleh perbedaan kontras suseptibilitas
atau permeabilitas magnetik tubuh jebakan dari daerah sekelilingnya.
Perbedaan permeabilitas relatif itu diakibatkan oleh perbedaan distribusi

mineral ferromagnetic, paramagnetic dan diamagnetic. Umumnya tubuh intrusi dan


urat hydrothermal kaya akan mineral ferromagnetic (Fe2O4, Fe2O3) yang memberi
kontras pada batuan sekelilingnya.
Metode geomagnet ini sangat sensitif terhadap perubahan vertical,
umumnya digunakan untuk mempelajari tubuh intrusi, batuan dasar, urat
hydro-thermal yang kaya akan mineral ferromagnetic dan struktur geologi.
Metode geomagnet ini digunakan pada studi geothermal karena mineralmineral ferromagnetic akan kehilangan sifat kemagnetannya bila dipanasi
mendekati temperatur Curie. Oleh karena itu digunakan untuk mempelajari
daerah yang diduga mempunyai potensi geothermal. Metode eksplorasi
geomagnet banyak digunakan karena data acquitsition dan data proceding
dilakukan tidak serumit metode gaya berat. Penggunaan filter matematis
umum dilakukan untuk memisahkan anomali berdasarkan panjang
gelombang maupun kedalaman sumber anomali magnetik yang ingin
diselidiki.
2.5 Proton Precisssion Magnetometer , GPS dan Surfer 12
Proton Precision Magnetometer merupakan alat yang digunakan untuk
mengukur medan magnet bumi berdasarkan frekuensi presisi yang terjadi,
dengan sensor berbentuk silinder yang didalamnya terisi cairan yang kaya akan
proton. Proton ini mempunyai muatan listrik yang berputar pada sumbunya
(spin), sehingga menimbulkan suatu momen magnet lema yang setiap saat
selalu dipengaruhi dan diarahkan oleh medan magnet bumi dilokasi tempat
pengukuran.
Magnetometer adalah instrumen geofisika yang digunakan untuk
mengukur kekuatan medan magnet Bumi, pengukuran medan magnet Bumi
ini bertujuan untuk mengetahui lokasi deposit mineral, situs arkeologi,
material di bawah tanah, atau objek dibawah permukaan laut seperti kapal
selam atau kapal karam dan lain sebagainya.
GPS merupakan alat untuk menentukan posisi.
Surfer 12 merupakan software untuk membuat peta anomali magnetik,
dan melakukan interpretasi secara kualitatif dari peta intensitas medan
magnetik total dan peta sinyal analitik (anomali residual).

III. METODE PERCOBAAN


A. Tujuan
1. Memahami prinsip kerja alat magnetometer proton
2. Dapat mengoperasikan alat magnetometer proton
3. Menentukan anomali magnetik yang telah dikoreksi
4. Membuat peta anomali magnetik
5. Dapat melakukan interpretasi secara kualitatif dari peta intensitas medan
magnetik total dan peta sinyal analitik (anomali residual).
B. Waktu dan Tempat
Praktikum Geofisika dengan Metode Magnetik Bumi dilaksanakan pada
hari Selasa tanggal 12 Mei 2015 pukul 09.00-12.00. Praktikum ini dilakukan di
Universitas Islam Negeri SGD Bandung.
C. Alat dan Bahan
1. Magnetometer Proton (Proton Precession Magnetometer - PPM), sebagai alat
untuk mengukur nilai medan magnetik suatu titik.
2. Buku catatan, untuk mencatat data dan PC/Laptop dengan software.
3. Kompas, untuk menyesuaikan arah utara alat dan arah utara bumi.
4. Jam, untuk mengetahui waktu pengukuran.
5. Data pengukuran magnet, sebagai data yang akan diolah untuk mencari
anomali magnetik.
6. Kertas mmBlock, untuk memplotkan data.
7. Kalkulator, sebagai alat bantu perhitungan.
8. Peta intensitas magnetik total, sebagai peta acuan untuk di interpretasi.
D. Prosedur Percobaan
Lintasan Lokasi Eksperimen

Uji konektivitas alat dengan tanah

Pengambilan data

Data magnetik

Data koordinat dengan GPS

IV. DATA, HASIL DAN ANALISIS


Diawali dengan pembuatan data base dan data field yang terpisah. Data base
merupakan setting-an alat setiap 5 menit, sedangkan data feld adalah data yang
diukur setiap titik dengan jarak waktu yang tidak sama antar titik. Maka, terlebih
dahulu dicocokkan antara data base dengan data field. Data base dan data field belum
tentu sama waktunya, sehingga perlu disesuaikan dengan waktu di data base yang
berdekatan. Data di field merupakan rata-rata dari waktu pengukuran dan rata-rata
pembacaan alat karena kita melalukan tiga kali pengamatan untuk satu titik agar
lebih akurat. Jadi penyesuaian disini adalah menyesuaikan waktu di field dan waktu
di base yang berdekatan. Karena base disetting tiap lima menit sedangkan di field
waktunya tidak menentu, maka akan ada data dari base yang tidak dipakai, yaitu
data waktu yang tidak ada di field.
Kemudian interpolasi, misalkan pada titik ST-01, waktu rata-rata adalah
10:06:00 sedangkan data waktu yang kita punya di data base hanya 10:06 dan
10:08. Waktu 10:00 berada pada rentang tersebut, sehingga kita mencari nilai
pembacaan pada 10:07 dengan menggunakan nilai pembacaan 10:06 dan nilai
pembacaan 10:08. Hasil interpolasi ini nantinya yang akan digunakan dalam
beberapa koreksi.
Untuk mencari koreksi harian untuk alat yang di base, dicari terlebih dulu ratarata pembacaan base, semua data di base termasuk yang tidak digunakan dalam
interpolasi. Maka koreksi harian untuk alat di base merupakan nilai interpolasi
dikurangi dengan rata-rata pembacaan alat base.
Selanjutnya adalah koreksi alat yang diletakkan di titik base. Pada kolom
pembacaan field rata-rata (tabel I), dikurangkan nilai akhir dengan nilai awal, maka
akan didapatkan koreksi alat pada base. Selanjutnya koreksi diurnal (harian) field
merupakan kolom rata-rata pembacaan field ditambah dengan kolom koreksi
diurnal base.
Tahap selanjutnya mencari koreksi alat yang digunakan saat field.
Rumusannya adalah kolom koreksi diurnal alat field dikurangkan dengan koreksi
alat base (alat yang digunakan di base). Setelah melakukan koreksi diurnal dan
koreksi alat untuk alat base dan alat field, maka selanjutnya adalah koreksi untuk
IGRF. Nilai IGRF yang dimasukkan adalah nilai IGRF untuk tahun 2014 karena
medan magnet bumi berubah tiap tahunnya. Maka nilai anomali magnet hasil

reduksi adalah nilai koreksi alat field dikurangi nilai IGRF. Nilai anomali magnet
merupakan nilai yang sebenarnya ketika semua faktor tambahan sudah direduksi.
y = 7E-06x4 - 0.0012x3 + 0.0525x2 0.0181x + 44994
R = 0.9746

45030
45020
45010
45000
44990
44980
44970
44960
44950

Tvh
Poly. (Tvh)

510.03
540.03
570.03
600.03
630.03
660.03
690.03
720.03
750.03
780.03
810.03
840.03
870.03
900.03
930.03
960.03

Tvh Base

Menit Ke

Grafik 3.1 Kurva Base Station

Gambar 3.2 Peta Kontur Data Anomali Magnetik Lapangan


Pada percobaan ini, digunakan software yang bernama surfer. Surfer adalah salah satu
perangkat lunak yang digunakan untuk pembuatan peta kontur dan pemodelan tiga
dimensi yang berdasarkan pada grid. Perangkat lunak ini melakukan ploting data
tabular x, y dan z tak beraturan menjadi lembar titik-titik grid yang beraturan. Pada
bagian tengah peta contour diatas terlihat nilai anomali yang didapat cukup tinggi yaitu
(-200 sampai 300 nT). Ada juga sebagian kecil daerah yang memiliki anomali magnetik
dibawah nol (anomali negatif), karena magnet bersifat dwi-kutub.

V.

KESIMPULAN
Proton Procession Magnetometer merupakan alat untuk mencari nilai suatu
medan magnetik di suatu titik. Pengukuran disuatu titik tidak stabil atau selalu
berubah-ubah dikarenakan pengaruh waktu. Saat pengukuran terdapat
intensitas sinyal untuk kepercayaan terhadap nilai magnetik yang terbaca.
Dengan proton yang ada pada semua atom memintal atau berputar pada
sumbu axis yang sejajar dengan medan magnet Bumi. Saat pengukuran diambil
data Pada peta kontur yang didapatkan, hasil nilai anomali yang cukup tinggi
yaitu (-200 sampai 300 nT) berada pada bagian tengah peta.

Daftar Pustaka
-

Anonim, 2007a, Geofisika, [akses online tanggal 31 Mei 2015],


http://id.wikipedia.org/wiki/Geofisika,

Blakely, R.J., 1996, Potential Theory in Gravity and Magnetic Applications,


Cambride University Press, New York.

Fatahillah Agung. Bab 2 Geomagnetik.

Grant, F.S., dan West, G.F. 1965, Interpretation Theory in Applied


Geophysics, McGraw-Hill

Indratmoko, Putut. Interpretasi Bawah Permukaan Daerah Manifestasi Panas


Bumi Parang Tritis Kabupaten Bantul DIY Dengan Metode Magnetik.
Semarang : Universitas Diponegoro.

Santoso, Djoko. 2002. Pengantar Teknik Geofisika. Bandung : Penerbit ITB

Sartono. 1998. Geofisika Eksplorasi. Jakarta : Dewan Riset Nasional

Stakgold, I., 1998, Greens Functions and Baoundary Value Problems 2nd,
John Wiley and Sons inc, New York.

Telford, W.M., dan Sheriff, R.E., 1998, Applied Geophysics, Cambridge


University Press, New York.

Yopanz, 2007, Metode-Metode Geofisika, [akses online tanggal 31 Mei


2015], http://yopanz.blogspot.com/

Lampiran Plot (x, y dan dT) untuk Pembuatan Map Contour dari pengolahan data base
dan field.
x
349783
349368
349393
349424
349450
349479
349497
349521
349551
349580
349609
349616
349611
349605
349581
349560
349554
349529
349513
349496
349472
349443
349429
349409
349383
349360
349333
349348
349365
349367
349372
349392

y
9166691
9166638
9166632
9166634
9166644
9166654
9166664
9166676
9166676
9166664
9166655
9166635
9166608
9166587
9166575
9166558
9166535
9166519
9166497
9166480
9166464
9166448
9166422
9166401
9166389
9166376
9166372
9166350
9166338
9166308
9166282
9166262

dT
0
123.3593
116.8559
95.2426
18.6826
-1133.23
-542.844
-644.464
-157.917
12.25926
89.56593
108.5693
135.9526
166.0059
172.9326
185.7593
189.2593
207.3959
212.3993
214.0693
211.0159
216.7126
255.7326
223.6659
252.2526
279.2626
300.2526
324.2093
369.7459
508.3193
646.7226
594.0726

349408
349408
349406
349419
349404
349379
349400
349401
349416
349437
349439
349433
349432
349424
349411
349424
349452
349478
349479
349471
349473
349475
349469
349474
349473
349449
349437
349346
349321
349295
349269
349250

9166242
9166215
9166190
9166163
9166142
9166139
9166123
9166096
9166075
9166060
9166035
9166010
9165932
9165906
9165883
9165857
9165850
9165842
9165816
9165791
9165763
9165739
9165714
9165689
9165664
9165658
9165635
9165551
9165559
9165557
9165552
9165547

814.5059
-431.634
-267.784
-230.407
-183.924
-313.301
-141.921
-192.171
-86.9641
20.67926
171.2826
-131.457
130.6859
138.6126
79.7426
86.26593
127.8293
197.4926
161.9393
176.8326
169.7459
90.5326
113.0659
157.1626
194.9193
107.0726
198.2359
240.6093
210.8659
173.4193
178.8759
164.0459