Anda di halaman 1dari 12

ABSTRAK

Pemisahan suatu zat dapat dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya
adalah ekstraksi. Ekstraksi pelarut melibatkan distribusi dari zat terlarut (zat terlarut)
di antara dua fasa cair yang tidak dicampur dengan satu sama lain. Prinsip percobaan
ini adalah menganalisis kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak
saling campur dan menentukan harga konstanta distribusinya. Percobaan ini
didasarkan pada prinsip titrasi netralisasi yaitu titrasi asam basa yang melibatkan
asam maupun basa sebagai titer ataupun titran. Pada percobaan ini dilakukan
ekstraksi asam asetat 0,5 M;0,25M; dan 0,125M dengan menggunakan pelarut NaOH
sebagai titranya maka akan dihasilkan Natrium Asetat dan H 2O yang terdistribusi
kemudian menghasilkan CH3COOH dalam toluena yang telah terpisah oleh H2O.
Dalam percobaan ini digunakan 3 larutan asam asetat dengan konsentrasi yang
berbeda yaitu 0,5 M, 0,25M,dan 0,125M. Sebanyak 20 mL asam asetat dicampur
dengan 20 mL dietil eter, dan dilakukan pengocokan secara selama 15 menit. Pada
percobaan standarisasi larutan NaOH, volume NaOh yang didapat adalah 20,7 mL
dan pada titrasi pada larutan asam asetat konsentrasi 0,5 M; 0,25 M; dan 0,125 M
volume NaOH yang didapat adalah 22,8 mL; 11,5 mL; dan5,2 mL. Terjadi
perubahan warna merah mudah pada masing masing konsentrasi. Pada percobaan
titrasi pada larutan C2H2O4 pada konsentrasi yang sama dengan CH3COOH, volume
NaOH yang dihasilkan adalah 48,9 mL;25,9 mL; 14,4 mL. Terjadi perubahan warna
merah muda pada masing-masing konsentrasi. Harga konstanta rata-rata distribusi
yang didapat dari C2H2O4 adalah
dan CH3COOH adalah
Kata kunci : Distribusi, ekstraksi, zat terlarut, pelarut, titrasi, disosiasi zat, titrimetri

I.

DATA PENGAMATAN
1. Standarisasi larutan standar natrium hidroksida (NaOH)
NO

Larutan

V NaOH

H2C2O4.2H2O 0,5 M
1

2 mL

20,7 mL

2. Titrasi pada asam asetat (CH3COOH)


NO

Larutan yang digunakan

Volume NaOH

Perubahan Warna

yang digunakan
1

Asam Asetat 0,5 M

22,8 mL

Merah Muda

Asam Asetat 0,25 M

11,5 mL

Merah Muda

Asam Asetat 0,125 M

5,2 mL

Merah Muda

Volume NaOH

Perubahan Warna

3. Titrasi pada asam oksalat (C2H2O4)


NO

Larutan yang digunakan

yang digunakan

II.

Asam Asetat 0,5 M

48,9 mL

Merah Muda

Asam Asetat 0,25 M

25,9 mL

Merah Muda

Asam Asetat 0,125 M

14,4 mL

Merah Muda

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada praktikum ini telah dilakukan percobaan distribusi zat terlarut antara dua
pelarut yang tidak saling campur. Percobaan ini bertujuan untuk mempelajari
kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur dan
menentukan harga konstanta distribusinya. Prinsip percobaan ini adalah menganalisis
kelarutan suatu zat terlarut dalam dua pelarut yang tidak saling campur dan
menentukan harga konstanta distribusi masing-masing zat yang akan dianalisis.
Percobaan ini dilakukan berdasarkan adanya suatu sistem yang terdiri dari dua larutan
asam asetat dan asam oksalat dimana keduanya dicampur dalam corong pisah dan
dikocok hingga terjadi kesetimbangan, setelah itu didiamkan hingga terjadi
pemisahan antara air dan pelarut organik yang ditambah indikator pp dan dititrasi
dengan NaOH. Reaksi yang terjadi pada percobaan ini adalah :
C2 H 2 O 4 .2 H 2 O+2 NaOH Na 2 C 2 O 4+ 4 H 2 O
C H 3 COOH + NaOH C H 3 COONa+ H 2 O
Hukum distribusi atau partisi adalah suatu zat terlarut terdistribusi antara dua
pelarut yang tak dapat tercampur dan tiap spesi molekul terdapat angka banding
distribusi yang konstan antara dua pelarut pada keadaan volume yang konstan. Angka
banding distribusi ini tak bergantung pada spesi molekul lain apapun yang mungkin
ada (svehla,1985).
Berbagai zat-zat kimia tertentu lebih mudah larut dalam pelarut-pelarut
tertentu pula dibandingkan dengan pelarut-pelarut yang lain. Namun, cairan-cairan
tertentu seperti eter dan air bila dikocok bersama-sama dalam satu bejana dan
campuran tersebut kemudian dibiarkan, maka kedua cairan akan memisah menjadi
dua lapisan. Cairan-cairan seperti itu dikatakan sebagai tak dapat campur (karbon
disulfida dan air) atau setengah campur antar larutan eter dan akuades (Vogel,1986).
Larutan merupakan suatu campuran homogen antara zat terlarut dengan zat
terlarut. Larutan dikatakan campuran dikarenakan susunannya dapat berubah-ubah

dan dikatakan homogen karena susunannya seragam, sehingga tidak dapat diamati
perbedaan antara campuran tersebut. Campuran heterogen dapat terdeteksi antara
beberapa fase yang terpisah, larutan dapat berupa gas, cairan atau padatan (Hardjono,
2001).
Perlarut dapat didefenisikan sebagai medium bagi zat terlarut yang dapat
berperan sebagai media ikut serta dalam reaksi kimia pada larutan atau untuk
meninggalkan larutan karena proses pengendapan atau penguraian. Larutan terbentuk
dengan melalui percampuran antar dua atau lebih zat murni yang molekulnya
berintraksi secara langsung dalam keadaan bercampur (Sastromidjojo, 2001).
Senyawa-senyawa organik yang terdapat dalam percobaan ini adalah
CH3COOH. Asam asetat umumnya relatif lebih sukar larut ke dalam pelarut-pelarut
organik daripada ke dalam air, sehingga senyawa-senyawa organik mudah dipisahkan
dari campurannya yang mengandung air atau larutannya. Metode penentuan koefisien
distribusi asam asetat dilakukan dengan penentuan konsentrasi asam asetat baik yang
ada dalam fasa air maupun fasa organik. Pelarut organik yang digunakan dalam
percobaan ini adalah dietil eter. Dietil eter menurut Basri (2003) adalah suatu
senyawa organik yang sangat umum ditemukan dalam kimia organik dan biokimia.
Gugus eter merupakan gugus penghubung senyawa karbohidrat dan lignin.
Tahap pertama yang dilakukan sebelum dilakukan pemisahan dua adalah
melakukan standarisasi larutan NaOH dengan asam oksalat dimana standarisasi ini
digunakan sebagai titer yang akan mentitrasi larutan hasil ekstraksi. Larutan NaOH
distandarisasikan karena sifat NaOH yang higroskopis dapat membuat konsentrasi
NaOH tidak konstan atau selalu berubah-ubah konsentrasinya. Maka dari itu, larutan
NaOH distandarisasikan oleh larutan asam oksalat dimana larutan oksalat ini
memiliki sifat tidak higroskopis dan memiliki titik ekuivalen yang lebih tinggi
sehigga dapat mengurangi kesalahan dalam penimbangan zat. Larutan oksalat yang
dipipet adalah 2 mL.

Pada proses titrasi digunakan indikator fenolftalein. Indikator fenolftalein


merupakan salah satu indikator yang sering dipakai dalam titrasi asam-basa.
Fenolftalein umumnya dipakai sebagai indikator dalam menentukan titik akhir
titrasiasam kuat dengan basa kuat. Fenolftalein mempunyai trayek pH 8,3-10,0
(Bassett, et al,1994). Fenolftalein kembali menjadi tidak berwarna apabila berada
dalam suasana basa pekatatau penambahan basa yang berlebih. Hal ini didukung
dengan hasil percobaan menunjukkanbahwa dalam konsentrasi NaOH yang semakin
pekat, warna fenolftalein semakin pudar (Petruevski dan Risteska, 2007). Volume
NaOH yang didapatkan adalah 20,7 mL setelah terjadinya titrasi.
Indikator PP ini berfungsi sebagai indikator perubahan warna pada saat terjadi
titik akhir titrasi. Indikator PP ini mempunyai trayek pH sebesar 8,2 10,0 dengan
warna asam yang tidak berwarna dan berwarna merah muda pada larutan asam. Pada
saat proses titrasi terjadi perubahan warna larutan dari tak berwarna menjadi merah
muda. Hal ini menunjukkan proses titrasi telah mencapai titik ekuivalen atau titik
akhir titrasi dimana larutan pada tahap ini berada di lingukungan basa.
Pada percobaan ini dilakukan proses ekstraksi. Ekstraksi adalah pemisahan
satu atau beberapa bahan dari suatu padatan atau cairan dengan bantuan pelarut atau
dapat pula dikatakan ekstraksi merupakan proses pemisahan satu atau lebih
komponen dari suatu campuran homogeny menggunakan pelarut cair sebagai
separating gen, pemisahan terjadi atas dasar kemampuan larut yang berbeda dari
komponene-komponen dalam campuran. Ekstraksi pelarut cair-cair merupakan satu
komponen bahan atau lebih dari suatu campuran yang dipisahkan dengan bantuan
pelarut, ektraksi cair-cair tidak dapat digunakan apabila pemisahan campuran dengan
cara destilasi karena kepekaannya terhadap panas atau tidak ekonomis. Seperti pada
ekstraksi padat-cair, ekstraksi cair-cair selalu terdiri dari pencampuran secara intensif
bahan ekstraksi dengan pelarut dan pemisahan kedua fase cair sempurna (Wibawads,
2012).

Proses ekstraksi yang dilakukan menggunakan variasi konsentrasi pada

larutan asam asetat dan asam oksalat. Variasi masing-masing yang digunakan yaitu

0,5 M; 0,25 M; dan 0,125 M. Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui
besar konstanta distribusi yang terjadi apabila dilakukan variasi volume pada suatu
larutan dalam campuran.
Percobaan ini dilakukan pengenceran terhadap larutan asam asetat dan asam
oksalat masing-masing dengan variasi konsentrasi 0,5 M, dimana pengenceran ini
dilakukan dengan cara dipipet asam asetat 0,5 M. Tujuan pengenceran adalah untuk
mengurangi kepekatan larutan. Tahan selanjutnya kemudian dimasukkan kedalam
labu ukur 50 mL yang telah diisi dengan sedikit dengan akuades agar tidak terjadi
bumping di dalam labu ukur. Setelah dimasukkan, ditepatkan larutan asam asetat
dengan akuades sampai tanda batas.Tujuan penepatan menggunakan akuades ini
sendiri karena akuades merupakan pelarut universal dan cukup aman dalam
melarutkan senyawa serta terionisasi lemah menjadi H+ dan OH-. Akuades menurut
Daintith (1994) adalah cairan tak berwarna yang memiliki densitas 1,095 gram/mL.
Tahapan ini dilakukan triplo dengan variasi konsentrasi 0,5;0,25 dan 0,125 M.
Tahap selanjutnya yaitu proses ekstraksi. Proses ini dilakukan dengan cara
memasukkan larutan asam asetat dan dietil eter masing - masing 20 mL ke dalam
corong pemisah dan dikocok. Setelah dimasukkan larutan menjadi berasa dingin
(terjadinya penurunan temperatur larutan) dan saat pengocokan dilakukan, larutan
sering menghasilkan gas dimana gas yang terbentuk itu berasal dari larutan dietil eter
yang bersifat mudah menguap. Oleh sebab itu ketika pengocokan dilakukan, sesekali
gas harus dikeluarkan melalui kran.Pengeluaran gas dilakukan saat gas memberikan
tekanan yang kuat pada tutup corong pemisah. Jika gas tidak dikeluarkan, dapat
menyebabkan terjadinya ledakan pada corong pemisah. Fungsi pengocokan disini
untuk membesarluas permukaan untuk membantu proses distribusi asam asetat pada
kedua fasa. Setelah tercapai kesetimbangan pada corong pisah, campuran kemudian
didiamkan dan terbentuk dua lapisan fasa atas dan fasa bawah. Dari kedua fasa
tersebut yang diambil adalah fasa bawah karena pada fasa tersebut dicurigai terdapat
asam asetat. Pada pelarut eter, asam asetat yang larut dalam air akan berada di lapisan

bawah, sedangkan larutan asam asetat yang larut dalam pelarut petroleum eter berada
dilapisan bawah. Hal ini terjadi karena perbedaan berat jenis pelarut organik dengan
berat jenis air (massa jenis air lebih besar di banding masa jenis petroleum eter
dimana massa jenis petroleum eter sebesar 0,66 sedangkan massa jenis air sebesar
0,99). Pembuangan gas dalam corong pemisah ini bertujuan agar proses terbentunya
dua fasa semakin cepat dan tidak mempengaruhi konsentrasi dari hasil ekstraksi
dimana hasil ekstraksi ini akan di titrasi kembali dengan larutan standar NaOH.
Pada saat terbentuknya dua fasa, larutan yang berada di atas merupakan
larutan eter, sedangkan larutan yang berada dibawah adalah larutan akuades. Hal ini
terjadi karena massa jenis air lebih tinggi dibandingkan massa jenis eter yakni 1
gr/cm3 untuk akuades dan 0,714 gr/cm3 untuk eter. Terbentuknya dua fase ini
dikarenakan adanya perbedaan kepolaran antara larutan didalam campuran dimana
larutan asam asetat bersifat semipolar dan larutan eter bersifat nonpolar. Pada
umumnya senyawa kovalen polar akan larut dalam pelarut polar sedangkan senyawa
kovalen non polar akan larut ke pelarut yang non polar (Sunarya, 2007). Senyawasenyawa yang memiliki ikatan antara molekul sama cenderung melarutkan satu sama
lain. Keadaan ini disebut like, senyawa polar larut dalam pelarut polar (Sutrasna,
2007). Pelarut non polar adalah yang molekulnya tidak dapat menghantar arus
elektrik, pelarut polar adalah pelarut yang molekulnya polar, dapat menghantarkan
arus listrik, terlarut jika mengandung ion (Pudjaatmaka, 1999).
Setelah proses pemisahan lapisan larutan berjalan dengan sempurna, maka
lapisan air yang mengandung asam asetat dikeluarkan dan selanjutnya sebanyak 2 mL
larutan tersebut dititrasi dengan larutan NaOH. Hasil ekstraksi di pindahkan pada
gelas beaker serta di pipet sebanyak 2 mL dan dimasukkan kedalam Erlenmeyer
untuk di titrasi dengan larutan NaOH. Titrasi ini merupakan jenis titrasi asam basa
dimana asamnya yaitu asam asetat (CH 3COOH) bertindak sebagai titrat sedangkan
basa yaitu NaOH bertindak sebagai titran. Dilakukan pula untuk konsentrasi 0,5 M,
0,25M, dan 0,125M.

Tujuan titrasi ini, adalah untuk mengetahui volume NaOH yang diperlukan
pada konsentrasi H2O hasil ekstraksi dimana berdasarkan volume ini akan diketahui
perhitungan konstanta distribusi. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
CH3COOH + NaOH CH3COONa + H2O
C2 H 2 O 4 .2 H 2 O+2 NaOH Na 2 C 2 O 4+ 4 H 2 O
Tahapan yang dilakukan sebelum melakukan titrasi yaitu larutan titran diberi
indikator PP sebanyak 10 tetes, dimana penggunaan indikator berguna untuk
mendeteksi titik akhir titrasi, dimana akan terjadi perubahan warna dari bening
menjadi merah muda. Indikator yang digunakan dalam titrasi ini adalah indikator
fenolftalein (pp). Indikator ini merupakan asam diprotik dan tidak berwarna. Saat
direkasikan, fenolftalein terurai dahulu menjadi bentuk tidak berwarnanya dan
kemudian, dengan menghilangnya proton kedua dari indikator ini menjadi ion
terkonjugat maka akan dihasilkan warna merah muda, pada titik akhir titrasi terjadi
perubahan warna dari bening menjadi merah muda. Volume NaOH yang dihasilkan
pada proses titrasi pada larutan CH3COOH secara triplo yaitu V1 = 22,8 mL pada
konsentrasi 0,5 M, V2 = 11,5 mL pada konsentrasi 0,25 M, dan V 3 = 5,2 mL. Volume
NaOH yang dihasilkan pada proses titrasi pada larutan C2H2O4 secara triplo yaitu V1
= 48,9 mL pada konsentrasi 0,5 M, V2 = 25,9 mL pada konsentrasi 0,25 M, dan V3 =
14,4 mL. Hasil yang diperoleh ini menunjukkan bahwa antara konsentrasi asam asetat
dengan volume NaOH yang diperlukan dalam titrasi memiliki hubungan yang
sebanding begitupula dengan hasil yang dihasilkan dengan larutan asam oksalat yang
dititrasi dengan larutan NaOH, walaupun ada volume yang sangat sedikit dan ada
agat naik drastis, itu dikarenakan, kurangnya distribusi saat pengocokan, kemudian
ada zat yang tumpah/keluar saat pengocokan, sehingga berpengaruh pada saat proses
titrasi yaitu pada volumenya.
Pada dasarnya, Semakin besar konsentrasi asam asetat dan larutan oksalat
yang digunakan, maka volume larutan NaOH yang diperlukan untuk menetralkan

asam asetat dan larutan oksalat tersebut juga akan semakin banyak. Secara teknik,
faktor pengocokan sangat penting dan mempengaruhi proses distribusi suatu larutan
organik pada pelarut organik dan air yang tidak saling campur. Selain itu, temperatur
juga mempengaruhi proses ekstraksi, karena ekstraksi harus dilakukan pada
temperatur konstan.
Dari percobaan ini , diperoleh konstanta distribusi asam asetat
;

M masing-masing adalah

adalah
M;

M;

M;

M;

M dengan K rata-ratanya

M. Dari percobaan ini juga diperoleh konstanta distribusi asam oksalat


M;

rata-ratanya adalah

M masing-masing adalah

M;

M;

M dengan K

M. Berdasarkan hasil ini,dapat diketahui dimana suatu

konsentrasi dapat mempengaruhi konstanta distribusi suatu larutan dimana semakin


besar konsentrasi suatu larutan maka konstanta distribusinya juga akan semakin besar.

IV.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Yang akan terjadi ketika lapisan bawah langsung diambil setelah pengocokan
adalah belum terbentuk adanya dua fase antara air dengan eter, kedua larutan
masih tercampur sehinggga kita tidak bisa melakukan pemisahan kedua zat
tersebut.

V. SIMPULAN DAN SARAN


5.1 SIMPULAN
Kesimpulan dari percobaan ini adalah :
1. Dua buah zat pelarut yang tidak saling campur dapat didistribusikan dengan suatu
zat yang sesuai dengan tingkat kepolarannya. Pemisahan suatu zat dapat
dilakukan dengan berbagai metode, salah satunya adalah ekstraksi. Ekstraksi
pelarut melibatkan distribusi dari zat terlarut (zat terlarut) di antara dua fasa cair
yang tidak dicampur dengan satu sama lain.
2. Harga konstanta rata-rata distribusi yang didapat dari C2H2O4 adalah

dan

CH3COOH adalah
5.2 SARAN
Saran yang diberikan dalam percobaan kali ini adalah untuk praktikum lain
waktu dapat digunakan larutan asam kuat H 2SO4 dengan asam lemah CH3COOH
untuk melihat pengaruh fase yang terbentuk pada kondisi pH yang jauh berbeda,
sehingga dapat dilihat apakah pH mempengaruhi pembentukan Fase atau tidak pada
percobaan ini.

Daftar Pustaka

Aisyah T.S, Asri A. 2012. Kajian Sifat Fisikokimia Ekstrak Rumput Laut Coklat
Sargassum Duplicatum

Menggunakan Berbagai Pelarut dan Metode

Ekstraksi.Jurnal Fakultas pertanian program studi Kimia Fakultas Sains dan


Teknik Universitas Soedirman. Purwokerto vol 6 (1)
Basset, J., R., Denny dan G., H., Jeffrey. 1994. Buku Ajar Vogel Kimia Kuantitatif
Anorganik. Edisi ke-4, Penerjemah: A., H., Pudjatmaka dan L, Setrono. Buku
Kedokteran EGC. Jakarta.
Basri. 2003. Kamus Lengkap Kimia. Erlangga. Jakarta
Daintith, J. (1994). Kamus Lengkap Kimia Oxport . Erlangga. Jakarta
Hardjono. 2001. Kimia Fisika.Rhineka Cipta. Jakarta
Harjadi, W. 1993. Ilmu Kimia Analitik Dasar.Gramedia Pustaka Utama. Jakarta
MV Purwani,Prayitno. 2013 . Ekstraksi Konsentrat Neodimium Memakai Tri Otil
Amin . Jurnal Iptek Nuklir Ganendra. Yogyakarta vol 170 (1)
Petruevski, Vladimir M. dan Risteska, Keti. 2007. Behaviour of Phenolphthalein in
Strongly Basic Media. Chemistry, Vol.16. ISS.
Pudjaatmaka. 1999. Kamus Kimia.Balai Pustaka. Jakarta
Sastrohamidjojo, H. 2001. Dasar dasar Spektroskopi. Liberty. Yogyakarta
Sarsojoni. 1996. Kamus Kimia. Rineka Cipta. Jakarta
Sukardjo. 1997. Kimia Anorganik. Rhineka Cipta. Jakarta
Sunarya, yayan. 2007. Kimia Dasar. UPI. Bandung
Sutresna, Nana. 2007. Kimia. Penerbit Grafindo. Bandung

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. PT.
Kalman Media Pustaka. Jakarta
Vogel. 1986. Buku Teks Analisis Secara Kualitatif Makro dan Semimikro. Jakarta :
PT. Kalman Media Pustaka.