Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN

1.1

Tinjauan Pustaka
A. Toksisitas
Toksisitas suatu bahan dapat didefinisikan sebagai kapasitas bahan untuk
menciderai suatu organisme hidup. Timbulnya keracunan dapat disebabkan
oleh dosis atau pemberian yang salah. Interaksi racun dan sel tubuh dapat
bersifat reversible atau irreversible (Imono 2001). Menurut Siswandono dan
Bambang (1995) obat merupakan zat kimia yang dapat mempengaruhi proses
hidup suatu organisme. Setiap obat pada dasarnya adalah racun. Keracunan
dapat terjadi karena dosis dan cara pemberian yang salah (Siswandono dan
Bambang 1995).
Uji toksisitas meliputi berbagai pengujian yang dirancang untuk
mengevaluasi keseluruhan efek umum suatu senyawa pada hewan percobaan.
Pengujian toksisitas meliputi pengujian toksisitas akut, subkronik, dan kronik.
Pengujia dan toksisitas khusus meliputi uji potensiasi, uji kekarsinogenikan,
uji kemutagenikan, uji keteratogenikan, uji reproduksi, kulit dan mata, serta
perilaku.
B. Pengujian LD50
Pengujian LD50 dilakukan untuk menentukan efek toksik suatu senyawa
yang akan terjadi dalam waktu yang singkat setelah pemejanan dengan takaran
tertentu. Pada pengujian toksisitas akut LD50 akan didapatkan gejala
ketoksikan yang dapat menyebabkan kematian hewan percobaan. Gejala
ketoksikan yang timbul berbeda dalam tingkat kesakitan pada hewan (Connel
dan Miller 1995). Menurut Environmental Protection Agency (EPA 2002),
LD50 digunakan untuk mengetahui kematian 50% hewan percobaan dalam
24-96 jam. Pengaruh LD50 secara umum diukur menggunakan dosis
bertingkat.

Dosis bertingkat terdiri dari kelompok kontrol dan beberapa

1
*

tingkat dosis yang berbeda. Toksisitas akut dilakukan untuk mengetahui


respon hewan percobaan terhadap dosis yang diberikan. Penghitungan LD50
didasarkan pada jumlah kematian hewan percobaan. Pengamatan hewan
percobaan dilakukan selama 24 jam. Pada kasus tertentu sampai 7-24 hari
(Donatus 1998).
Kisaran tingkat dosis yang digunakan yaitu dosis terendah yang hampir
tidak mematikan seluruh hewan percobaan dan dosis tertinggi yang dapat
menyebabkan kematian seluruh atau hampir seluruh hewan percobaan. Setiap
hewan percobaan akan memberikan reaksi yang berbeda pada dosis tertentu.
Perbedaan reaksi akibat pemberian suatu zat diakibatkan oleh perbedaan
tingkat kepekaan setiap hewan (Guyton dan Hall 2002). Kisaran nilai LD50
diperlukan untuk mengetahui tingkat toksisitas suatu zat. Semakin besar
kisaran LD50 semakin besar pula kisaran toksisitasnya. Suatu toksikan akan
mengalami proses librasi yaitu penghancuran sediaan di saluran pencernaan.
Toksikan kemudian akan diabsorbsi oleh darah dan limfe serta didistribusikan
ke seluruh tubuh. Toksikan akan mengalami proses toksikodinamik didalam
sel. Toksikodinamik adalah proses reaksi antara toksikan dan reseptor.
Biotransformasi terjadi setelah terjadinya reaksi toksikan dengan reseptor.
Biotransformasi akan menghasilkan zat baru. Zat baru yang dihasilkan dapat
bersifat lebih toksik atau kurang toksik dari sebelumnya. Zat baru yang kurang
toksik dari sebelumnya mengakibatkan terjadinya detoksikasi sedangkan zat
baru yang lebih toksik dapat menimbulkan gangguan fungsi sel (Mutschler
1991).
Letal Dosis (LD50) dapat dihubungkan dengan Efektif Dosis (ED) yaitu
dosis yang secara terapeutik efektif terhadap 50% dari sekelompok hewan
percobaan. Hubungan tersebut dapat berupa perbandingan antara LD50
dengan ED50 yang disebut Indeks Terapeutik

(IT). Makin besar indeks

terapeutik suatu obat makin aman obat tersebut (Mutschler 1991). Selanjutnya
klasifikasi toksisitas menurut Lu (1995) dapat disajikan pada Tabel 1.

2
*

Menurut Balls et al (1991) faktor-faktor yang berpengaruh pada LD50

sangat bervariasi antara jenis satu dengan jenis yang lain dan antara individu
satu dengan individu yang lain dalam satu jenis. Faktor -faktor tersebuat dapat
diuraikan sebagai berikut.
1) Spesies, Strain, dan Keragaman Individu
Setiap spesies dan strain yang berbeda memiliki sistem metabolisme dan
sistem detoksikasi yang berbeda. Se tiap spesies mempunyai perbedaan
kemampuan bioaktivasi dan toksikasi suatu zat (Siswandono dan Bambang
1995). Semakin tinggi tingkat keragaman suatu spesies dapat menyebabkan
perbedaan nilai LD50. Variasi strain hewan percobaan menunjukkan
perbedaan yang nyata dalam pengujian LD50 (Lazarovici dan Haya 2002).
2) Perbedaan Jenis Kelamin
Perbedaan jenis kelamin mempengaruhi toksisitas akut yang disebabkan
oleh pengaruh langsung dari kelenjar endokrin. Hewan betina mempunyai
sistem hormonal yang berbeda dengan hewan jantan sehingga menyebabkan
perbedaan kepekaan terhadap suatu toksikan (Lazarovici dan Haya 2002).
Hewan jantan dan betina yang sama dari strain dan spesies yang sama
biasanya bereaksi terhadap toksikan dengan cara yang sama, tetapi ada
perbedaan kuantitatif yang menonjol dalam kerentanan terutama pada tikus
(Lu 1995).

3
*

3) Umur
Hewan-hewan yang lebih muda memiliki kepekaan yang lebih tinggi
terhadap obat karena enzim untuk biotransformasi masih kurang dan fungsi
ginjal belum sempurna (Ganong 2003). Perbedaan aktivitas biotransformasi
akibat suatu zat menyebabkan perbedaan reaksi dalam metabolisme
(Mutschler 1991). Sedangkan pada hewan tua kepekaan individu meningkat
karena fungsi bi otransformasi dan ekskresi sudah menurun.
4) Berat Badan
Penetuan dosis dalam pengujian LD50 dapat didasarkan pada berat badan.
Pada spesies yang sama, berat badan yang berbeda dapat memberikan nilai
LD50 yang berbeda pula. Semakin besar berat badan maka jumlah dosis yang
diberikan semakin besar (Mutschler 1991).
5) Cara Pemberian
Letal dosis dipengaruhi juga oleh cara pemberian. Pemberian obat melalui
suatu cara yang berbeda pada spesies yang sama akan memberikan hasil yang
berbeda. Menurut Siswandono dan Bambang (1995) pemberian obat peroral
tidak langsung didistribusikan ke seluruh tubuh. Pemberian obat atau toksikan
peroral didistribusikan ke seluruh tubuh setelah terjadi proses pe nyerapan di
saluran cerna. Sehingga mempengaruhi kecepatan metabolisme suatu zat di
dalam tubuh (Mutschler 1991).
6) Kesehatan Hewan
Status hewan dapat memberikan respon yang berbeda terhadap suatu
toksikan. Kesehatan hewan sangat dipengaruhi oleh kondisi hewan dan
lingkungan. Hewan yang tidak sehat dapat memberikan nilai LD50yang
berbeda dibandingkan dengan nilai LD50yang didapatkan dari hewan sehat
(Siswandono dan Bambang 1995).

4
*

7) Faktor Lingkungan
Beberapa faktor lingkungan yang mempe ngaruhi toksisitas akut antara
lain temperatur, kelembaban, iklim, dan perbedaan siang dan malam.
Perbedaan temperatur suatu tempat akan mempengaruhi keadaan fisiologis
suatu hewan.
8) Diet
Komposisi makanan hewan percobaan dapat mempengaruhi nilai LD50.
Komposisi makanan akan mempengarui status kesehatan hewan percobaan.
Defisiensi zat makanan tertentu dapat mempengaruhi nilai LD50 (Balls et al
1991).
C. Metode Thomson dan Weil
Metode Thomson dan Weil mulai digunakan pada tahun 1952. Metode
Thomson dan Weil memiliki kelebihan dari pada metode-metode sebelumnya.
Metode Thomson dan Weil mempunyai tingkat kepercayaan

yang cukup

tinggi (Anonimous 2006). Metode ini merupakan metode yang sering


digunakan karena tidak memerlukan hewan percobaan yang cukup banyak.
Perhitungan LD50 tidak menggunakan kertas probit logaritma. Uji
heterogenitas data tidak

dilakukan dalam metode Thomson dan Weil

(Anonimous 2006). Metode ini menggunakan daftar perhitungan LD50


sehingga hasil lebi h akurat. Bentuk rumus dari metode Thomson da n Weil
adalah sebagai berikut:
Log LD50 = Log D + d (f + 1)
Keterangan.
D = dosis terkecil yang digunakan
d = logaritma kelipatan
f

= suatu faktor pada daftar perhitungan LD50

5
*

Weil (1952), dimana


r adalah jumlah kematian hewan dalam satu kelompok uji
n adalah jumlah hewan percobaan per kelompok
k adalah jumlah hewan percobaan -1

Kisaran nilai LD50 dihitung dengan rumus


Log kisaran = Log LD50 2 d f
Dimana f = suatu nilai pada tabel yang tergantung pada nilai n dan k

1.2

Tujuan Percobaan
1) Mempelajari ED50 dan LD50 suatu sediaan obat.
2) Mempelajari batas keamanan suatu sediaan obat.

1.3

Hipotesis
Prokain adalah anestesi local yang sering digunakan sehari-hari,
merupakan obat standart untuk perbandingan potensi dan toksisitas terhadap
jenis obat-obat anestetik local lain.
Katak yang disuntikan prokain dengan dosis rendah akan hilang
kesadarannya sedangkan dengan dosis tinggi akan mengalami kematian.

BAB II
METODE KERJA
2.1

Alat dan Bahan


Alat :
6

Kandang katak
Timbangan hewan
Alat suntik
katak

Bahan :
Larutan prokain 2%
2.2

Cara Kerja
Prosedur Percobaan
1.) Timbang 16 ekor katak dibagi dalam 4 kelompok masing-masing
terdiri dari 4 ekor katak
2.) Suntikkan prokain secara intra peritonial pada katak berdasarkan
kolompok kerja
a. Kelompok I :
400 mg/kg BB
b. Kelompok II :
600 mg/kg BB
c. Kelompok III :
900 mg/kg BB
d. Kelompok IV :
1350 mg/kg BB
3.) Dicatat jumlah katak yang mati selama 3 jam setelah di suntikkan
4.) Dihitung LD 50 nya

BAB III
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1

Hasil Pengamatan

Data perhitungan dosis 400 mg/kgbb yang diberikan kepada katak

No. Katak

Berat katak (g)

Obat

Dosis(volume pemberian)
(ml)

24

Prokain

0,72

27

Prokain

0,81

29

Prokain

0,87

7
*

4
3.2

21

Prokain

0,63

Perhitungan
A. DOSIS KATAK
Kelompok II (dosis 600 mg/kg BB = 0,6 g/kg BB)
a. Katak 1 (24 gram)
Dosis

=
=

Prokain 2%

=
=

0,0144 gram

0,75 ml

b. Katak 2 (27 gram)


Dosis

=
=

Prokain 2%

=
=

0,0162 gram

0,81 ml

c. Katak 3 (29 gram)


Dosis

=
=

Prokain 2%

=
=

0,0174 gram

0,87 ml

d. Katak 4 (21 gram)

8
*

Dosis

=
=

Prokain 2%

0,0144 gram

0,63 ml

B. Data katak yang mati


Dosis

400
mg/kg bb

600
mg/kg bb

900
mg/kg bb

1350
mg/kg

df

0,0000

1,82574

0.0000

1,82574

Jml Katak
mati
Nilai yang
mendekati
dengan katak
yang mati

C. Data perhitungan LD 50

Dosis 400

Dosis 600

Dosis 900

Dosis 1350

mg/kgbb

mg/kgbb

mg/kgbb

mg/kgbb

Kisaran

Kisaran

LD 50 =

LD 50 =

(-) 2,1334

(-) 2,3034

A log =
Log
Log LD
LD 50 135, 95
mg/kgbb 50 =
=
2,946
(+)
2,776
3,4186
A log =
2.621,8
mg/kgbb

Kisaran

Kisaran

LD 50 =

LD 50 =

(-) 2,4874
A log =
Log
Log
A log =
201,09 LD 50
307,18 LD 50
mg/kgbb
=
=
mg/kgbb
(+)
3,13 (+) 3,772 3,306
3,5886
A log =
A log =
5.923,79
3877,93
mg/kgbb
mg/kgbb

(-) 2,6634
A log =
460,68
mg/kgbb
(+) 3,9486
A log =
8.883,82
mg/kgbb

Nilai dosis LD 50 Nilai dosis LD 50 Nilai dosis LD 50 Nilai dosis LD 50


=
=
=
=
597,03 mg/kgbb

883,07 mg/kgbb

1.348,96 mg/kgbb 2.023,01 mg/kgbb


9

D. Perhitungan LD 50 dan Kisaran LD 50


1. Pada dosis 400 mg/kgBB
Diketahui
: D = 400 mg/kgBB
f= 0,0000
d =
Ditanya
Jawab :

: dosis LD 50 dan kisaran LD 50 adalah...?

Log LD 50

Log D + d ( f+1 )

Log 400 + Log 1

2,608 + 0,176 . (1)

2,778

LD 50

597,03 mg/kg bb

Kisaran LD 50

= log LD 50

(-)

. ( 0,0000 + 1 )

2 d x df

= 2,776

2 (0,176) (1,82574)

= 2,776

0,6426

= 2,776 0,6426 = 2,1334


= A log 2,1334 = 135,95 mg/kgBB

(+)

= 2,776 + 0,6426 = 3,4186


= A log 3.4186 = 2.621,8 mg/kgBB

Jadi, lebih baik dosis yang digunakan kurang dari dosis 135,95
mg/kgBB
2. Pada dosis 600 mg/kgBB
Diketahui
: D = 600 mg/kgBB
f = 0,0000
d =
Ditanya
Jawab :
Log LD 50

: dosis LD 50 dan kisaran LD 50 adalah...?


=

Log D + d ( f+1 )
10

Log 600 + Log 1

2,77 + 0,176 . (1)

2,946

LD 50

883,07 mg/kg bb

Kisaran LD 50

= log LD 50

(-)

. ( 0,0000 + 1 )

2 d x df

= 2,946

2 (0,176) (1,82574)

= 2,946

0,6426

= 2,946 0,6426 = 2,3034


= A log 2,3034 = 201,09 mg/kgBB

(+)

= 2,946 + 0,6426 = 3,5886


= A log 3,5886 = 3.877,93 mg/kgBB

Jadi, lebih baik dosis yang digunakan kurang dari dosis 201,09
mg/kgBB
3. Pada dosis 900 mg/kgBB
Diketahui
: D = 900 mg/kgBB
f = 0,0000
d =
Ditanya
Jawab :
Log LD 50

: dosis LD 50 dan kisaran LD 50 adalah...?


=

Log D + d ( f+1 )

Log 900 + Log 1

2,954 + 0,176 . (1)

3,13

. ( 0,0000 + 1 )

11
*

LD 50

Kisaran LD 50

= log LD 50

(-)

1.348,96 mg/kg bb
2 d x df

= 3,13

2 (0,176) (1,82574)

= 3,13

0,6426

= 3,13 0,6426 = 2,4874


= A log 2,4874 = 307,18 mg/kgBB

(+)

= 3,13 + 0,6426 = 3,7726


= A log 3,7726 = 5.923,79 mg/kgBB

Jadi, lebih baik dosis yang digunakan kurang dari dosis 307,18
mg/kgBB

4. Pada dosis 1350 mg/kgBB


Diketahui
: D = 1350 mg/kgBB
f = 0,0000
d =
Ditanya
Jawab :

: dosis LD 50 dan kisaran LD 50 adalah...?

Log LD 50

Log D + d ( f+1 )

Log 1350 + Log 1

3,13 + 0,176 . (1)

3,306

LD 50

2.023,01 mg/kg bb

Kisaran LD 50

= log LD 50

. ( 0,0000 + 1 )

2 d x df

12
*

(-)

= 3,306

2 (0,176) (1,82574)

= 3,306

0,6426

= 3,306 0,6426 = 2,6634


= A log 2,6634 = 460,68 mg/kgBB

(+)

= 3,306 + 0,6426 = 3,9486


= A log 3,9486 = 8.883,82 mg/kgBB

Jadi, lebih baik dosis yang digunakan kurang dari dosis 460,68
mg/kgBB

3.3

Pembahasan
Pada praktikum kali ini dilakukan praktikum penentuan LD 50 dengan

metode Thommson dan Weil, dengan tujuan mahasiswa dapat mempelajari ED


dan LD 50 suatu sediaan obat dan mempelajari batas keamanan suatu sediaan
obat.
Efek samping yang serius adalah hipersensitasi,yang kadang-kadang pada
dosis rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian. Efek samping
yang harus dipertimbangkan pula adalah reaksi alergi terhadap kombinasi prokain
penisilin. Berlainan dengan kokain, zat ini tidak mengakibatkan adiksi.
Pada saat praktikum dilakukan, katak di suntikkan prokain 2%. Sebanyak
16 katak dibagi menjadi 4 kelompok dengan masing-masing dosis sebesar
400mg/kg bb, 600mg.kg bb, 900mg/kg bb, dan 1350mg/kg bb secara intra
peritonial, kemudian katak diamati selama satu jam dan hitung jumlah katak yang
mati. Terjadinya kematian ini menandakan bahwa katak toksik terhadap prokain

13
*

karena dosis yang terlalu tinggi. Kemudian catat jumlah katak yang mati dari tiap
kelompok dosis lalu hitung LD 50 dan kisarannya.
Dari percobaan ini juga didapatkan bahwa katak yang mati memiliki harga
r yaitu 2423 tetapikarena tidak terdapat daftar perhitungan ED 50 / LD 50 maka
dicari harga r yang mendekati yaitu 2133. Dari data tersebut maka didapatkan
untuk nilai f adalah 0,000 dan Nilai

adalah 1,82574. Sehingga didapatkan Log

LD 50 pada masing-masing dosis yaitu 400, 600, 900 dan 1350 mg/kgBB adalah
2,776; 2,946; 3,13; 3,306. Lalu dosis LD 50 adalah 597,03 mg/kgBB, 883,07
mg/kgBB, 1.348,96 mg/kgBB, dan 2.023,01 mg/kgBB. Dan kisaran LD 50 adalah
pada dosis 400 mg/kgBB yaitu (-) 2,1334 dengan nilai 135,95 mg/kgBB (+)
3,4186 dengan nilai 2.621,8 mg/kgBB, sehingga dosis yang baik digunakan
kurang dari dosis 135, 95 mg/kgBB. lalu pada dosis 600 mg/kgBB yaitu(-) 2,3034
dengan nilai 201,09 mg/kgbb (+) 3,5886 dengan nilai 3877,93 mg/kgBB, sehingga
dosis yang baik digunakan kurang dari dosis 201,09 mg/kgBB. Dan pada dosis
900 mg/kgBB yaitu (-) 2,4874 dengan nilai 307,18 mg/kgBB (+) 3,772 dengan
nilai 5.923,79 mg/kgbb, sehingga dosis yang baik digunakan kurang dari dosis
307,18 mg/kgBB. Serta pada dosis 1350 mg/kgBB yaitu (-) 2,6634 dengan nilai
460,68 mg/kgbb (+) 3,9486 dengan nilai 8.883,82 mg/kgbb, sehingga dosis yang
baik digunakan kurang dari dosis 460,68 mg/kgBB.

14
*

BAB IV
PENUTUP

4.1

Kesimpulan:
1) Toksisitas suatu bahan dapat didefinisikan sebagai kapasitas bahan untuk
menciderai

suatu

organisme

hidup.

Timbulnya

keracunan

dapat

disebabkan oleh dosis atau pemberian yang salah


2) Pada pengujian toksisitas akut LD50 akan didapatkan gejala ketoksikan
yang dapat menyebabkan kematian hewan percobaan
3) Prokain dapat menyebabkan hipersensitasi,yang kadang-kadang pada dosis
rendah sudah dapat mengakibatkan kolaps dan kematian.
4) Nilai f adalah 0,000 dan Nilai

adalah 1,82574.

5) Pada dosis 400 mg/kgBB dosis yang baik digunakan kurang dari dosis
135, 95 mg/kgBB.
6) Pada dosis 600 mg/kgBB dosis yang baik digunakan kurang dari dosis
201,09 mg/kgBB.

15
*

7) Pada dosis 900 mg/kgBB dosis yang baik digunakan kurang dari dosis
307,18 mg/kgBB.
8) Pada dosis 1350 mg/kgBB dosis yang baik digunakan kurang dari dosis
460,68 mg/kgBB.
4.2
Saran
1) Lebih berhati-hati dalam penanganan hewan percobaan dan dalam
pembacaan skala spuit agar dosis yang diberikan tepat dan tercapai efek
yang dikehendaki.
2) Lebih berhati-hati dalam pemberian obat secara interperitonial agar tidak
mengalami kerusakan pada abdomen maupun tusukan pada organ-organ
dalam yang vital.
3) Setelah katak disuntikan dengan prokain segera amati waktu selama 1 jam
lalu hitung jumlah katak yang mati.
4) Perhatikan dengan teliti denyut jantung katak tersebutn apakah masih
hidup apa sudah mati.

DAFTAR PUSTAKA

Anonimous. 2006. Buku Penuntun Praktikum Toksikologi. FKH IPB.


Balls M, James B, Jacqueline. 1995. Animal s And Alternatives in Toxicology.
Great Britain at the University Press. Cambridge.
Donatus. 1998. Toksikologi Dasar. Yogyakarta. UGM Press.
Ganong WF. 2003. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-20. Widjajakusumah
M, Irawati D, Siagian M, Moeloek D, Pend it BU, penerjemah.
Widjajakusumah M, editor. Jakarta. Penerbit Buku Kedokt eran EGC.
Terjemahan dari: Medical Physiology.
Guyton AC dan Hall JE. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed ke-9.
Setiawan I, Tengadi KA, Santoso A, Penerjemah: Setiawan I, Editor.
Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC. Terjemahan dari : Textbook of
Medical Physiology.
Lazarovici P dan Haya L. 2002. chimeric Toxin: Mechanisms of Actions And
Theraupeutic Applications. Taylor dan francis Group
Lu FC. 1995. Toksikologi Dasar : Asas, Organ, Sasaran, dan Penilaian Resiko.
Edisi 2. Jakarta. UI Press.

16
*

Mutschler E. 1991. Dinamika Obat. Ed ke -5. Mathilda B, Widianto, Penerjemah.


Bandung. Penerbit ITB. Terjemahan dari Arzneimittel wiirkungen 5 Vollig
neurbear beitete und evwiterteauflage.
Rachminwati M, Effendi M. 2014. Penuntun Praktikum Semester Ganjil
Farmakologi Toksikologi. Universitas Pakuan Bogor
Siswandono dan Bambang S. 1995. Kimia Mediasinal. Airlangga University
Press.

17
*