Anda di halaman 1dari 19

RPU

(RUMAH POTONG UNGGAS)

ANDI HUSNUL KHATIMAH


O111 12 274

PROGRAM STUDI KEDOKTERAN HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2015

KATA PENGANTAR
Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa berkat
limpahan karunia-Nya, penyusun dapat menyelesaikan tugas Higine Pangan Asal
Hewan yang berjudul Rumah Potong Unggas (RPU) untuk pemenuhan tugas
semester 6 tepat pada waktunya dengan senang dan tanpa halangan ataupun
kesulitan yang cukup berarti.
Dengan adanya pembuatan makalah ini diharapkan para pembaca dapat
mengetahui tentang Rumah Potong Unggas (RPU).
Penyusun telah berupaya secara maksimal untuk membuat makalah ini,
namun karena kita sebagai manusia yang tak luput dari kesalahan sekecil apapun,
rasanya makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penyusun
mengharapkan adanya kritik dan saran dari teman-teman sekalian.
Penyusun juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu, memberikan semangat dan motivasi kepada penyusun.
Demikian makalah ini penyusun buat, semoga bermanfaat dan
memberikan wawasan yang lebih luas kepada pembaca.

Makassar, 19 Mei 2015

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..2
DAFTAR ISI 3
BAB I PENDAHULUAN .4
I.1
I.2

Latar belakang4
Tujuan 4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA5


II.1
II.2
II.3
II.4
II.5
II.6
II.7

Pengertian Rumah Potong Unggas..................................................5


Bangunan Rumah Pemotongan Unggas..........................................5
Peralatan Rumah Potong Unggas....................................................8
Persyaratan higiene karyawan dan perusahaan meliputi.................9
Persyaratan kendaraan pengangkut daging unggas meliputi...........9
Proses Penerimaan, Pemotongan dan pengiriman Unggas..............9
Beberapa Contoh Penyimpangan Yang Terjadi di Masyarakat ....12

BAB III PENUTUP .............................................................................................16


III.1
III.2

Kesimpulan .....................................................................................16
Saran ................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...........................................................................................17

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 . Latar Belakang
Indonesia memiliki UU No.7/1996 tentang pangan, yang antara lain
mengatur tentang Sistem Keamanan Pangan. Begitu juga kita telah memiliki
Sistem Kesehatan Hewan Nasional (Siskeswannas) dan SNI 01-6160-1999
tentang Rumah Pemotongan Unggas. Ketiga sistem tersebut nampaknya belum
terpadu dan kurang dapat terimplementasikan khususnya dalam kaitannya dengan
sistem persediaan dan keamanan pangan khususnya daging. Dalam sistem
keamanan pangan, kesehatan hewan harus dipandang sebagai bagian dari
kesehatan masyarakat (public health), bagian dari penyediaan pangan asal hewan
(food of animal origin), dan bagian dari pembangunan pertanian secara
keseluruhan, termasuk usaha pemotongan ayam. Konsep HACCP yang mulai
dicanangkan di beberapa negara di dunia sebagai program FAo merupakan salah
satu konsep yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas produk pertanian
khususnya untuk menjamin keamanan pangan (Anonymous, 1997). HACCP
merupakan sistem untuk mencegah terjadinya bahaya yang disebabkan oleh
pangan dan bertujuan untuk dapat menjamin keamanan pangan (Anonymous,
1994). Kemungkinan untuk dapat dilaksanakan dan diterapkannya sistem HACCP
terhadap produk karkas/daging ayam yang dihasilkan RPA tradisional dan karkas
ayam yang beredar di pasar tradisional perlu dikaji dan dipertimbangkan.secara
serius.
Daging ayam mudah tercemar oleh berbagai mikroorganisme dari lingkungan
sekitarnya. Pencemaran mikroba pada bahan pangan merupakan hasil kontaminasi
langsung atau tidak langsung dengan sumbersumber pencemaran mikroba, seperti
tanah, udara, air, debu, saluran pencernaan dan pernafasan manusia maupun hewan.
Proses keamanan dan kelayakan daging ayam ini harus dilakukan sedini
mungkin yakni mulai dari peternakan (farm) hingga daging ayam dikonsumsi (dimeja
makan). Salah satu permasalahan yang paling penting dalam proses panjang ini
adalah permasalahan kelayakan Rumah Pemotongan Unggas (RPU). Peranan RPU
sebagai penyedia daging ayam yang akan dikonsumsi manusia sangat besar. Bahkan
RPU merupakan penentu dari proses panjang perjalanan peternakan ayam. Meskipun
ayam tersebut dinyatakan sehat dari peternakan (farm), jika ditingkat RPU (hilir)
pemotongannya tidak memenuhi kriteria pemotongan yang baik maka kecenderungan
menimbulkan penyakit akan semakin besar.
I.2 . Tujuan
1. Untuk Mengetahui Pengertian Rumah Potong Unggas dan Kegunaannya.
2. Untuk Mengetahui Standarisasi Rumah Potong Unggas.
3. Untuk Mengetahui Permasalahan Rumah Potong Unggas di masyarakat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1

Pengertian Rumah Potong Unggas


Rumah Potong Unggas adalah komplek bangunan dengan disain
dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higienis
tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong Unggas atau ayam bagi
konsumsi masyarakat umum.

Tujuan pemotongan unggas adalah untuk memenuhi kebutuhan


daging unggas khususnya ayam bagi masyarakat. Dalam penyediaan
daging ayam tersebut pada umumnya dilakukan melalui rumah potong
unggas (RPU) atau rumah potong ayam (RPA), baik yang terkoordinir
maupun yang tidak terkoodinir oleh pemerintah. Dalam penyediaan daging
tersebut harus memenuhi persyaratan aman dan layak untuk dikonsumsi.
Di Indonesia sendiri dalam penyediaan daging harus memenuni
persyaratan Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH).
II.2

Bangunan Rumah Pemotongan Unggas


Rumah Pemotongan Unggas adalah kompleks bangunan dengan
desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan
higiene tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong unggas bagi
konsumsi masyarakat umum (SNI, 1999).
Lokasi Rumah Pemotongan Unggas perlu memenuhi syarat sebagai
berikut:
1. Tidak bertentangan dengan Rancangan Umum Tata Ruang (RUTR),
Rencana Detail Tata Ruang (RDTR) setempat dan/atau Rencana Bagian
Wilayah Kota (RBWK).
2. Tidak berada di bagian kota yang padat penduduknya serta letaknya lebih
rendahdari pemukimam penduduk, tidak menimbulkan gangguan atau
pencemaran lingkungan.

3. Tidak berada dekat industri logam dan kimia, tidak berada di daerah
rawan banjir, bebas dari asap, bau debu dan kontaminan lainya.
4. Memiliki lahan yang cukup luas untuk pengembangan Rumah
Pemotongan Unggas (SNI, 1999).
Sarana pada Rumah Pemotongan Unggas harus dilengkapi dengan:
1. Sarana jalan yang baik yang dapat dilalui kendaraan pengangkut unggas
hidup dan daging unggas.
2. Sumber air yang cukup dan memenuhi persyaratan baku mutu air minum
sesuai dengan SNI 01-0220-1987. Persediaan air yang minimum harus
disediakan yaitu 25-35 liter/ekor/hari.
3. Sumber tenaga listrik yang cukup.
4. Persediaan air yang bertekanan 1,05 kg/cm2 (15 psi) seta fasilitas air
panas dengan suhu minimal 82oC.
5. Kendaraan pengangkut daging unggas (SNI, 1999).
Kompleks Rumah Pemotongan Unggas minimal harus terdiri dari
bangunan utama, tempat penurunan unggas hidup (unloading), kantor
administrasi dan kantor Dokter Hewan, tempat istirahat pegawai, tempat
penyimpanan barang pribadi (locker) atau ruang ganti pakaian, kamar mandi
dan WC, sarana penanganan limbah insenerator, tempat parkir, rumah jaga,
menara air, gardu listrik (SNI, 1999). Pintu masuk unggas hidup sebaiknya
terpisah dari pintu keluar daging unggas. Dalam kompleks Rumah
Pemotongan Unggas seyogyanya dilengkapi dengan ruang pembekuan cepat
(blast freezer), ruang penyimpanan beku (cold storage), ruang pengolahan
daging unggas, laboratorium (SNI, 1999).
Ruang pembekuan cepat mempunyai alat pendingin yang dilengkapi
dengan kipas (blast freezer). Suhu di dalam ruang maksimum adalah -35oC
dengan kecepatan udara minimum 2 meter per detik (SNI, 1999). Ruang
penyimpanan beku terletak didaerah bersih dengan suhu maksimum didalam
ruang adalah -20oC, ruang pengolahan daging unggas juga harus berada di
daerah bersih dengan suhu maksimum -15oC. Letak laboratorium berada di
dekat kantor dokter hewan (SNI, 1999).
Pembagian ruang bangunan utama RPU terdiri dari:
1. Daerah kotor meliputi penurunan, pemeriksaan antemortem dan
penggantungan unggas hidup, pemingsanan (stunning), penyembelihan
(killing), pencelupan ke air panas (scalding tank), pencabutan bulu
(defeathering), pencucian karkas, pengeluaran (evisceration) dan
pemeriksaan postmortem, penanganan jeroan.

2. Daerah bersih meliputi pencucian karkas, pendinginan karkas (chiling),


seleksi (grading), penimbangan karkas, pemotongan karkas (cutting),
Pemisahan daging dari tulang (deboning), pengemasan, penyimpanan segar
(chiling room) (SNI, 1999).

Sistem saluran pembuangan limbah cair harus cukup besar dan didesain
agar aliran limbah mengalir dengan lancar, terbuat dari bahan yang mudah
dirawat dan dibersihkan, kedap air agar tidak mencemari tanah mudah
diawasi dan dijaga agar tidak menjadi sarang tikus atau rodensia lainnya.
Saluran pembuangan dilengkapi dengan penyaring yang mudah diawasi dan
dibersihkan. Di dalam kompleks Rumah Pemotongan Unggas sistem saluran
pembuangan limbah cair harus selalu tertutup agar tidak menimbulkan bau.
Di dalam bangunan utama, saluran pembuangan dilengkapi dengan grill yang
mudah dibuka-tutup dan terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mudah
korosif (SNI, 1999).
Saluran pembuangan dari kamar mandi atau WC ini dibuat khusus ke
arah septic tank, tidak menjadi satu dengan saluran pembuangan limbah prose
pemotongan. Sarana Penanganan Limbah harus sesuai dengan rekomendasi
Upaya Pengelolaan Lingkungan (UKL) dan Upaya Pemantauan Lingkungan
(UPL) (SNI, 1999).

II.3
7

Peralatan Rumah Potong Unggas

Persyaratan peralatan meliputi:


1. Seluruh perlengkapan pendukung dan penunjang di Rumah Pemotongan
Unggas darus terbuat dari bahan yang tidak mudah korosif, mudah
dibersihkan dan didesinfeksi serta mudah dirawat.
2. Bangunan utama harus dilengkapi dengan sistem rel (railing system) dan
alat penggantung karkas yang didesain khusus dan disesuaikan dengan alur
proses.
3. Sarana untuk mencuci tangan harus didesain sedemikian rupa agar tangan
tidak menyentuh kran air setelah selesai mencuci tangan, dilengkapi
dengan sabun dan pengering tangan seperti lap yang senantiasa diganti,
kertas tissue atau pengering mekanik (hand drier). Jika menggunakan
kertas tissue, maka disediakan pula tempat sampah tertutup yang
dioperasikan dengan menggunakan kaki
4. Sarana untuk mencuci tangan disediakan tahap proses pemotongan dan
diletakkan ditempat yang mudah dijangkau.
5. Pintu masuk bangunan utama harus dilengkapi sarana untuk mencuci
tangan dan sarana sepatu boot yang dilengkapi sabun, desinfektan dan
sikat sepatu.
6. Peralatan yang digunakan untuk menangani perkerjaan bersih harus
berbeda dengan yang digunakan untuk pekerjaan kotor, misalnya pisau
untuk penyembelihan tidak boleh digunakan untuk pengerjaan karkas.
7. Permukaan meja tempat penanganan atau pemrosesan produk tidak terbuat
dari kayu, tidak toksik, tidak mudah rusak, mudah dibersihkan, mudah
mengering dan dikeringkan.
8. Bahan dasar kemasan harus bersifat tidak toksik, kedap air dan tidak
mudah rusak atau terpengaruh sifatnya oleh produk makanan yang
dikemasnya maupun komponen bahan pembersih.
9. Untuk peralatan yang tidak dapat dibongkar pasang dengan mudah sarana
pembersihan dan desinfeksi dilakukan dengan metode pembersihan tempat
(clean in place).
10. Mesin pencabut bulu dan alat semprot pencuci karkas harus ditempatkan
dan didesain sedemikian rupa sehingga percikan air, bulu-bulu atau bahanbahan yang dapat berperan sebagai kontaminan karkas dapat dihindarkan
penyebarannya ke daerah sekitarnya..
11. Bagi setiap karyawan disediakan lemari yang dilengkapi kunci pada ruang
ganti pakaian untuk menyimpan barang-barang pribadi.
12. Perlengkapan standar untuk pekerja pada proses pemotongan dan
penanganan daging adalah pakaian kerja khusus, apron plastik, penutup
kepala, penutup hidung dan sepatu boot (SNI, 1999).
II.4

Persyaratan higiene karyawan dan perusahaan meliputi :

1. Rumah Pemotongan Unggas harus memiliki peraturan untuk semua


karyawan dan pengunjung agar pelaksanaan sanitasi dan higiene rumah
pemotongan unggas dan higiene produk tetap terjaga baik
2. Setiap karyawan harus sehat dan diperiksa kesehatannya secara rutin
minimal satu kali dalam setahun.
3. Setiap karyawan harus mendapat pelatihan yang berkesinambungan
tentang higiene dan mutu.
4. Daerah kotor atau daerah bersih hanya diperkenakan dimasuki oleh
karyawan yang bekerja di masing-masing tempat tersebut, dokter hewan
dan petugas pemeriksa berwenang.
5. Orang lain (misalnya tamu) yang hendak memasuki bangunan utama
Rumah Pemotongan Unggas harus mendapat izin dari pengelola dan
mengikuti peraturan yang berlaku (SNI, 1999).
Pengawasan kesehatan masyarakat veteriner serta pemeriksaan
antemortem dan postmortem di Rumah Pemotongan Unggas dilakukan
oleh petugas pemeriksa berwenang, setiap rumah pemotongan unggas
harus mempunyai tenaga dokter hewan yang bertanggung jawab terhadap
dipenuhinya syarat-syarat dan prosedur pemotongan unggas, penanganan
daging serta sanitasi dan higiene, dalam melaksanakan tugasnya sebagai
dokter hewan dapat ditunjuk seorang yang memiliki pengetahuan di dalam
bidang kesehatan masyarakat veteriner yang bekerja di bawah pengawasan
dokter hewan (SNI, 1999).
II.5

Persyaratan kendaraan pengangkut daging unggas meliputi :


1. Boks pada kendaraan untuk mengangkut daging unggas tertutup.
2. Lapisan dalam boks pada kendaraan pengangkut daging harus terbuat dari
bahan yang tidak toksik, tidak mudah korosif, mudah dibersihkan dan
didesinfeksi, mudah dirawat serta mempunyai sifat insulasi yang baik.
3. Boks dilengkapi dangan alat pendingin yang mempertahankan suhu bagian
dalam daging unggas segar maksimum +4C.
4. Suhu ruangan dalam boks kendaraan pengangkut daging unggas beku
maksimum adalah -18C (SNI, 1999).

II.6

Proses Penerimaan, Pemotongan dan pengiriman Unggas


Secara Umum Proses Pemotongan ;
1. Penanganan ayam sebelum pemotongan
2. Pemeriksan antemortem
3. Pemotongan ayam
4. Pemeriksaan postmortem
5. Penanganan karkas/daging ayam
Penghentian Pemberian Pakan Dan Obat, bertujuan :
a. Mendapatkan daging yang aman, sehat dan bebas dari residu obat
b. Penghentian pemberian pakan dilakukan 8 jam sebelum ayam disembelih.

c. Penghentian pemberian obat maksimal 7 hari sebelum ayam disembelih


Penanganan Hewan Sebelum Pemotongan
a. Hewan ditransportasikan dengan baik
b. Hewan diperiksa kesehatannya (pemeriksaan antemortem) oleh Dokter
Hewan atau Tenaga Kesehatan Hewan yang berwenang
c. Hewan diistirahatkan (1-3 jam) sebelum pemotongan
d. Hewan dipuasakan tetapi tetap diberi minum
e. Hanya hewan sehat yang boleh disembelih
Penerimaan Ayam, bertujuan :
a. Mendapatkan ayam yang sehat dan sesuai standar (tidak cacat, tidak
memar dan tidak patah sayapnya)
b. Titik berat pada Animal Welfare
c. Tempat penerimaan,keranjang dan kendaraan harus bersih
d. Pastikan ayam sudah dipuasakan dengan pemeriksaan ingluvies
Pemeriksaan ante mortem, bertujuan :
a. Memperoleh ayam yg cukup istirahat
b. Mengnhindari penyembelihan ayam sakit
c. Informasi awal pemeriksaan postmortem
d. Kondisi ayam tidak mengalami penyimpangan
Penanganan Hewan Saat Pemotongan
a. Hewan ditangani dengan baik dan manusiawi (hewan jangan disiksa dan
disakiti)
b. Pemotongan dilakukan dengan mengikuti syariat Islam (Pemotongan
HALAL)
c. Biarkan darah keluar sampai habis dan jangan lakukan apapun terhadap
hewan; lakukan proses selanjutnya setelah hewan benar-benar mati
Pemotongan dengan pemingsanan, bertujuan :
a. Membuat ayam tidak sadar dan mengurangi rasa sakit
b.
Mempermudah proses penyembelihan
c. Mengurangi kepakan sayap dan bintik darah pada karkas
d.
Mempercepat proses pengeluaran darah
Penyembelihan Halal (Halal System), persyaratan :
a. Petugas beragama islam, dewasa, dan berakal sehat
b. Membaca basmalah sebelum penyembelihan
c. Pisau harus tajam,
d. Dilakukan pada pangkal leher dan memutuskan saluran dengan sekali
sayatan:
1)
pernafasan (trakea/hulkum),
2)
Saluran makan (esofagus/marik)
3)
2 Urat nadi leher/pembuluh darah kiri dan kanan (wadajain)
e. Setelah pemotongan dilakukan pentirisan darah (bleeding time) selama 2-3
menit
Perebusan (Scalding), bertujuan :

10

a. Untuk mempermudah pencabutan bulu


b. Pastikan ayam dalam keadaan mati ketika dimasukkan kedalam scalder
c. Suhu air : 60-65C selama 1,5 menit atau 52,5 OC untuk mempertahankan
epidermis
d. Pastikan kualitas air yang digunakan
Pencabutan Bulu, bertujuan :
a. Mendapatkan daging ayam yang bersih dari bulu
1)
Kontrol air pada proses pencabutan bulu
2)
Lama pencabutan bulu 30 detik.
Eviscerating (Pengeluaran Organ Dalam), bertujuan :
a. Untuk membersihkan daging dari organ dalam.
1)
Kaki dipotong pada Hock Joint.
2)
Kepala dan leher dipotong sesuai permintaan.
3)
Seluruh organ dalam dikeluarkan dengan sempurna.
Pencucian, bertujuan :
a. Mendapatkan karkas yang bersih.
1) Seluruh peralatan dan air yang digunakan harus bersih.
2) Temperatur air maksimal 10C.
3) Kadar Klorin 20 30 ppm.
4) Pastikan rongga dada dan perut bersih dari lemak,darah, oesophagus,
dan trachea.
Prechilling Dan Chilling, bertujuan :
a. Mendinginkan karkas
1) Suhu air maksimal 2C dengan kadar klorin 20 30 ppm.
2) Suhu daging setelah proses maksimal 4C.
Cut Up & Trimming Carcass, bertujuan :
a. Menghsilkan potongan karkas yang sesuai standar
1) Karkas yang telah dipotong-potong dibersihkan dari sisa paru-paru,
ginjal, kulit dan lemak.
2) Karkas direndam kembali di air dengan suhu maksimal air 2C.
3) Pastikan temperatur daging sesuai standar.
Pengemasan Dan Pemberian Label
a. Suhu karkas sebelum dikemas maksimal 4C.
b. Pengemasan menggunakan plastik Poly Ethylene.
c. Setelah itu dilakukan pelabelan sesuai kebutuhan.
d. Produk yang telah dikemas diletakkan dalam krat berventilasi/krat terbuka.

Penyimpanan Dan Pengiriman


a. Temperatur ruangan/boks pengiriman (-4) 0C, sehingga tercapai suhu
produk maksimal 4C.

11

b. Penyimpanan menggunakan suhu -4oC untuk ayam segar dan -18oC untuk
ayam beku.
II.7. Beberapa Contoh Penyimpangan Yang Terjadi di Masyarakat
1. Ini adalah gambar yang diperoleh dari sebuah tempat pemasok ayam
potong di Inggris bernama The 2 Sisters Food Group dan Facenda dituntut
karena melakukan proses pengolahan daging ayam mentah dengan tidak
benar. Dua perusahaan ini biasanya memasok daging ayam mentah ke
beberapa restoran dan supermarket besar, misalnya Tesco, Sainsbury's dan
Nando's.

Proses produksi ayam potong yang tidak higienis | Foto: copyright


dailymail.co.uk
Restoran dan supermarket ini menuntut dua perusahaan itu karena
dianggap melanggar standarisasi kebersihan yang mana dapat berdampak
pada kesehatan pelanggannya. Setelah melakukan audit, restoran dan
supermarket tersebut mengajukan tuntutan karena:

12

Daging ayam yang jatuh ke lantai saat produksi, dipungut kembali,


dikemas dan dijual lagi kepada konsumen.

Kebersihan alat yang dianggap terkontaminasi oleh bulu, isi perut dan
jerohan, tidak dibersihkan lagi, ditemukan di perusahaan 2 Sisters.

Kelalaian perawatan alat potong menyebabkan sekitar 250.000 ayam tiap


harinya dicuci di air yang kotor saat produksi berlangsung.

Sebuah alat penangkap ayam yang dijalankan oleh Faccenda melanggar


aturan biosekuriti yang mengakibatkan penyebaran campylobacter

Apa yang dilakukan oleh dua perusahaan ayam potong ini tentunya
melanggar standar perlindungan konsumen dan Food Standars Agency
yang diberlakukan di dunia. Mengenaskannya, para pekerja mengaku
mereka terlalu sibuk dan menerima gaji yang rendah sehingga mereka
tidak peduli dengan kebersihan produk makanannya.
2. Rumah Pemotongan Hewan (RPH)di kawasan pasar hewan Semanggi,
Pasarkliwon, Solo.
Terlihat tidak
layak, mulai dari
pemotongan ayam
yang tidak segera
digantung
(diletakkan begitu
saja
dilantai),
daerah kotor dan
daerah bersih tidak
ada perbedaan atau
semuanya dilakukan di satu area.
3. Hal ini banyak di jumpai di pasar-pasar traditional . Penyimpanyan yang
terjadi yaitu jeroan ayam dan daging ayam tidak dipisah, selain itu daging
ayam diletakkan saja di
meja
jualan
tanpa
menggunakan
plastik
ataupun pelindung dari
kontaminasi
lingkungan
sekitar.

13

4. Ini juga bentuk potret sebagian besar Rumah Potong Unggas (RPU)
berskala kecil dimana jauh dari
kata higenis. Pada gambar
terlihat seorang pria (tanpa
uniform) yang sedang berkutat
dengan ayam yang sudah di
sembelih. Harusnya petugas atau
pria itu menggunakan uniform
yang layak bukannya tidak
menggunakan sama sekali
guna
menghindari
kontaminasi dari manusia ke
ayam ataupun sebaliknya. Selain itu ayamnya hanya diletakkan di lantai
yang sama sekali tidak terjaga kebersihannya. Air yang digunakannya pun
sudah terlihat keruh dan tak layak.
5. Rumah Pemotongan Unggas (RPU) di Semanggi, Pasar Kliwon. Seperti
Permasalahan Rumah Potong
Unggas berskala kecil yang
lain, Bangunan RPU ini
terlihat tidak sesuai standar,
tidak ada pemisah antara
daerah kotor dan daerah
bersih, tidak ada tempat untuk
menggantung
ayam
saat
dipotong, tidak
terlihat tempat pengolahan
limbah dan masih banyak lagi.

6. Pada gambar di samping adalah tempat pencabutan ayam potong yang


lokasinya berada di luar
pasar. Namun tempat ini
kurang layak, prosesnya
tidak higienis dan tidak ada
fasilitas limbah, terutama
air bekas pencucian.

7. Sejumlah pedagang ayam di Jakarta masih melakukan aktivitas penampungan


dan pemotongan ayam di area pasar. Hal ini setidaknya terdapat di Pasar Lokbin
Meruya Ilir, Jalan Meruya Ilir, Kembangan, Jakarta Barat.
14

Gambar
Lain
yang
Memperlihatkan
Penyimpangan
pada
Rumah Potong Unggas

15

16

BAB III
PENUTUP
III. 1 . Kesimpulan
Rumah Potong Unggas adalah komplek bangunan dengan disain
dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higienis
tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong Unggas atau ayam bagi
konsumsi masyarakat umum.
Rumah Potong Unggas yang baik adalah Rumah Potong yang
berasaskan ASUH (Aman, Sehat, Utuh, Halal). Maka dari itu Rumah
Potong Unggas harus memiliki standarisasi yang berasaskan SNI (Standar
Nasional Indonesia), baik bangunan maupun pengolahan dagingnya.
Banyak pelanggaran yang terjadi dimasyarakat terlebih rumah
potong yang berskala kecil.
III.2. Saran
1. Sebaiknya membeli ayam di tempat yang terpercaya dan terjaga
kebersihannya.
2. Pemerintah harusnya menertibkan lapak lapak pemotongan ayam yang
tidak sesuai dengan standarisasi dan jauh dari kehigienisan.
3. Harusnya di adakan pembekalan kepada masyarakat mengenai kesehatan
dan kelayakan daging ayam.

17

DAFTAR PUSTAKA
Anonimous. 2012. Manajemen Bisnis Dirumah Pemotongan. (Online).
http://sukahatipemasaranlokal.blogspot.com/2012/02/manajemen-bisnisdi-rumah-pemotongan.html
Anonimous.
2012.
Makalah
Manajemen
Ternak.
(Online).
http://rangkaianhatierlin.blogspot.com/2012/11/makalah-manajementernak-unggas.html
Anonimous. 2013. Proposal Penerapan Analisa Usaha. (Online).
http://c31121142.blogspot.com/2013/07/proposal-penerapan-analisausaha.html
Bolton, DJ, Doherty, AM, Sherudan, JJ. 2001. Beef HACCP: intervention and nonintervention systems. Int J Food Microbiol 66: 119-129.

Dewan Standarisasi Nasional. 1995. SNI 01-3924-1995 tentang Mutu Karkas dan
Daging Ayam Pedaging. Departemen Pertanian, Jakarta.
Dewan Standarisasi Nasional. 1999. SNI 01-6160-1999 tentang Rumah
Pemotongan Unggas. Departemen Pertanian, Jakarta.
Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan Departemen Pertanian. 2003. Buku
Statistik Peternakan Tahun 2003. Jakarta: Departemen Pertanian.

Iwan Berri Prima dkk. Laporan Koas Daerah Bidang RPH/RPU dan KedinasanFKH IPB.

18

19