Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN

Tidur didefinisikan sebagai suatu keadaan bawah sadar saat orang tersebut
dapat dibangunkan dengan pemberian rangsangan sensorik atau rangsangan
lainnya. Manusia mengalami 1/3 dari kehidupannya untuk tidur, namun sangat
diherankan sangat sedikit yang diketahui tentang peran biologi dari tidur dan
hanya sedikit perhatian yang diberikan sampai tahun terakhir ini terhadap
gangguan tidur sebagai penyebab penting dari gangguan kesehatan.1,2
Ganguan tidur merupakan salah satu keluhan yang paling sering ditemukan
pada penderita yang berkunjung ke praktek. Gangguan tidur dapat dialami oleh
semua lapisan masyarakat baik kaya, miskin, berpendidikan tinggi dan rendah
maupun orang muda, serta yang paling sering ditemukan pada usia lanjut. Pada
orang normal, gangguan tidur yang berkepanjangan akan mengakibatkan
perubahan-perubahan pada siklus tidur biologiknya, menurun daya tahan tubuh
serta menurunkan prestasi kerja, mudah tersinggung, depresi, kurang konsentrasi,
kelelahan, yang pada akhirnya dapat mempengaruhi keselamatan diri sendiri atau
orang lain. Menurut beberapa peneliti gangguan tidur yang berkepanjangan
didapatkan 2,5 kali lebih sering mengalami kecelakaan mobil dibandingkan pada
orang yang tidurnya cukup.4
Salah satu gangguan tidur yang banyak diderita masyarakat adalah
Hypersomnia atau yang lebih dikenal dengan EDS (Excessive Daytime Sleepines)
adalah suatu gejala yang muncul sewaktu waktu dari kecenderungan untuk
mengantuk atau sampai jatuh tertidur disaat intensitas dan ekspektasi untuk tetap
terjaga dan bangun pada saat tersebut.3
Diperkirakan jumlah penderita akibat gangguan tidur setiap tahun semakin
lama semakin meningkat sehingga menimbulkan maslah kesehatan. Di dalam
praktek sehari-hari, kecendrungan untuk mempergunakan obat hipnotik, tanpa
menentukan lebih dahulu penyebab yang mendasari penyakitnya, sehingga sering
menimbulkan masalah yang baru akibat penggunaan obat yang tidak adekuat.

Melihat hal diatas, jelas bahwa gangguan tidur merupakan masalah kesehatan
yang akan dihadapkan pada tahun-tahun yang akan datang.2
Berdasarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders edisi
ke empat (DSM-IV), gangguan tidur atau sleep disorder adalah masalah tidur
yang menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau hendaya sosial, pekerjaan
atau peran lain.5

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Fisiologis Tidur
Tidur merupakan salah satu cara untuk melepaskan kelelahan jasmani
dan kelelahan mental. Dengan tidur semua keluhan hilang atau berkurang dan
akan kembali mendapatkan tenaga serta semangat untuk menyelesaikan
persoalan yang dihadapi. Semua makhluk hidup mempunyai irama kehidupan
yang sesuai dengan beredarnya waktu dalam siklus 24 jam. Irama yang
seiring dengan rotasi bola dunia disebut sebagai irama sirkadian. Pusat
kontrol irama sirkadian terletak pada bagian ventral anterior hypothalamus.
Bagian susunan saraf pusat yang mengadakan kegiatan sinkronisasi terletak
pada substansia ventrikulo retikularis medulo oblogata yang disebut sebagai
pusat

tidur.

Bagian

susunan

saraf

pusat

yang

menghilangkan

sinkronisasi/desinkronisasi terdapat pada bagian rostral medulo oblogata


disebut sebagai pusat penggugah atau aurosal state.4
Tidur dibagi menjadi 2 tipe yaitu:4
1. Tipe Rapid Eye Movement (REM)
2. Tipe Non Rapid Eye Movement (NREM)
Fase awal tidur didahului oleh fase NREM yang terdiri dari 4 stadium,
lalu diikuti oleh fase REM. Keadaan tidur normal antara fase NREM dan
REM terjadi secara bergantian antara 4-7 kali siklus semalam. Bayi baru lahir
total tidur 16-20 jam/hari, anak-anak 10-12 jam/hari, kemudian menurun 9-10
jam/hari pada umur diatas 10 tahun dan kira-kira 7-7,5 jam/hari pada orang
dewasa.4
Tipe NREM dibagi dalam 4 stadium yaitu:
1. Tidur stadium Satu.
Fase ini merupakan antara fase terjaga dan fase awal tidur. Fase
ini didapatkan kelopak mata tertutup, tonus otot berkurang dan tampak
gerakan bola mata kekanan dan kekiri. Fase ini hanya berlangsung 3-5
menit dan mudah sekali dibangunkan. Gambaran EEG biasanya terdiri
dari gelombang campuran alfa, betha dan kadang gelombang theta

dengan amplitudo yang rendah. Tidak didapatkan adanya gelombang


sleep spindle dan kompleks K.4
2. Tidur stadium dua
Pada fase ini didapatkan bola mata berhenti bergerak, tonus otot
masih berkurang, tidur lebih dalam dari pada fase pertama. Gambaran
EEG terdiri dari gelombang theta simetris. Terlihat adanya gelombang
sleep spindle,gelombang verteks dan komplek K.4
3. Tidur stadium tiga
Fase ini tidur lebih dalam dari fase sebelumnya. Gambaran EEG
terdapat lebih banyak gelombang delta simetris antara 25%-50% serta
tampak gelombang sleep spindle.4
4. Tidur stadium empat
Merupakan tidur yang dalam serta sukar dibangunkan. Gambaran
EEG didominasi oleh gelombang delta sampai 50% tampak gelombang
sleep spindle.4
Fase tidur NREM, ini biasanya berlangsung antara 70 menit sampai
100 menit, setelah itu akan masuk ke fase REM. Pada waktu REM jam
pertama prosesnya berlangsung lebih cepat dan menjadi lebih insten dan
panjang saat menjelang pagi atau bangun. Pola tidur REM ditandai adanya
gerakan bola mata yang cepat, tonus otot yang sangat rendah, apabila
dibangunkan hampir semua organ akan dapat menceritakan mimpinya, denyut
nadi bertambah dan pada laki-laki terjadi eraksi penis, tonus otot
menunjukkan relaksasi yang dalam.4
Pola tidur REM berubah sepanjang kehidupan seseorang seperti
periode neonatal bahwa tidur REM mewakili 50% dari waktu total tidur.
Periode neonatal ini pada EEG-nya masuk ke fase REM tanpa melalui
stadium 1 sampai 4. Pada usia 4 bulan pola berubah sehingga persentasi total
tidur REM berkurang sampai 40% hal ini sesuai dengan kematangan sel-sel
otak, kemudian akan masuk keperiode awal tidur yang didahului oleh fase

NREM kemudian fase REM pada dewasa muda dengan distribusi fase tidur
sebagai berikut:4

NREM (75%) yaitu stadium 1: 5%; stadium 2 : 45%; stadium 3 : 12%;


stadium 4 : 13%
REM; 25 %.
Gambar 1. Grafik yang menggambarkan fase tidur

Gambar 2. Gambaran gelombang otak EEG pada orang yang sedang tidur

2.2. Hipersomnia
Menurut berdasarkan Diagnostic And Statictical Manual of Mental
Disorders edisi ke lima (DSM-5), ganguan tidur atau sleep disorder adalah
5

masalah tidur yang menyebabkan stres pribadi yang signifikan atau hendaya
sosisla, pekerjaan atau peran lain.5
Hipersomnia adalah suatu keadaan tidur dan serangan tidur disiang hari
yang berlebih yang terjadi secara teratur atau rekuren untuk waktu singkat
dan menyebabkan gangguan fungsi sosial dan pekerjaan.6
1) Klasifikasi Gangguan Tidur
Menurut Pedoman Penggolongan dan Diagnosis Gangguan Jiwa III
(PPDGJ III), gangguan tidur secara garis besar dibagi dua, yaitu
dissomnia dan parasomnia.7
Menurut Diagnostic And Statictical Manual of Mental Disorders
edisi ke 5 (DSM-5) mengklasifikasikan gangguan tidur berdasarkan
kriteria diagnostik klinik dan perkiraan etiologi. Tiga kategori utama
gangguan tidur dalam DSM-IV adalah 5
1. Gangguan tidur primer
Gangguan tidur primer terdiri atas dissomnia dan parasomnia.
Dissomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur yang heterogen
termasuk :
Insomnia primer,
Hipersomnia primer,
Narkolepsi,
Gangguan tidur yang berhubungan dengan pernafasan, dan
Gangguan tidur irama sirkadian.
Parasomnia adalah suatu kelompok gangguan tidur termasuk :
Gangguan mimpi menakutkan (nightmare disorder),
Gangguan teror tidur, dan
Gangguan tidur berjalan.
2. Gangguan tidur yang berhubungan dengan gangguan mental lain,
dan
3. Gangguan tidur lain, khususnya gangguan tidur akibat kondisi medis
umum atau yang disebabkan oleh zat.
Klasifikasi gangguan tidur menurut Internasional Classification of
Sleep Disorders adalah 8
1. Dissomnia
a. Gangguan tidur intrisik

Narkolepsi, gerakan anggota gerak periodik, sindroma kaki gelisah,


obstruksi saluran nafas, hipoventilasi, post traumatik kepala, tidur
berlebihan hipersomnia), idiopatik.
b. Gangguan tidur ekstrisik
Tidur yang tidak sehat, lingkungan, perubahan posisi tidur, toksik,
ketergantungan alkohol, obat hipnotik atau stimulant
c. Gangguan tidur irama sirkadian
Jet-lag sindroma, perubahan jadwal kerja, sindroma fase terlambat
tidur, sindroma fase tidur belum waktunya, bangun tidur tidak
teratur, tidak tidurselama 24 jam.
2. Parasomnia
a. Gangguan aurosal
Gangguan tidur berjalan, gangguan tidur teror, aurosal konfusional
b. Gangguan antara bangun-tidur
Gerak tiba-tiba, tidur berbicara,kramkaki, gangguan gerak berirama
c. Berhubungan dengan fase REM
Gangguan mimpi buruk, gangguan tingkah laku, gangguan sinus
arrest
d. Parasomnia lain-lainnya
Bruxism (otot rahang mengeram), mengompol, sukar menelan,
distonia parosismal
3. Gangguan tidur berhubungan dengan gangguan kesehatan/psikiatri
a. Gangguan mental
Psikosis, anxietas, gangguan afektif, panik (nyeri hebat), alkohol
b. Berhubungan dengan kondisi kesehatan
Penyakit degeneratif (demensia, parkinson, multiple sklerosis),
epilepsi, status epilepsi, nyeri kepala, post traumatik kepala, stroke.
4. Gangguan tidur yang tidak terklassifikasi
2) Epidemiologi

Gangguan tidur sangat sering terjadi, 40% populasi mempunyai


masalah tidur selama setahun terakhir ini, 10% dapat didiagnosis sebagai
insomnia, 3-4% mempunyai diagnosis hipersomnia.9
Sebanyak 10 orang 132 dilibatkan dalam survei ini. Prevalensi
masalah tidur adalah 56% di Amerika Serikat, 31% di Eropa Barat dan
23% di Jepang. Kebanyakan individu dengan masalah tidur dianggap ini
berdampak pada fungsi mereka sehari-hari, dengan kehidupan keluarga
yang paling terpengaruh dalam sampel Eropa Barat, kegiatan pribadi
dalam sampel AS dan kegiatan profesional dalam sampel Jepang. Hampir
setengah dari individu dengan masalah tidur tidak pernah mengambil
langkah apapun untuk mengatasi mereka, dan mayoritas responden tidak
berbicara dengan dokter tentang masalah mereka. Dari orang-orang yang
telah berkonsultasi dokter, resep obat telah diberikan kepada sekitar 50%
di Eropa Barat dan Amerika Serikat dan 90% di Jepang. 9
Prevalensi gangguan tidur setiap tahun cendrung meningkat, hal ini
juga sesuai dengan peningkatan usia dan berbagai penyebabnya. Kaplan
dan Sadock melaporkan kurang lebih 40-50% dari populasi usia lanjut
menderita gangguan tidur. Gangguan tidur kronik (10-15%) disebabkan
oleh gangguan psikiatri, ketergantungan obat dan alkohol.4
Pada kuisoner dan studi laboratorium, hipersomnia di siang hari
menyerang

0,3-4%

pupulasi.

Suatu

studi

pada

tahun

1981

memperkirakan di Inggris sebesar 4000 penderita hipersomnia idiopatik.6


3) Etiologi
Penyebab dari gangguan tidur adalah 10
1. Stres. Kekhawatiran tentang pekerjaan, kesehatan sekolah, atau
keluarga dapat membuat pikiran menjadi aktif di malam hari, sehingga
sulit untuk tidur. Peristiwa kehidupan yang penuh stres, seperti
kematian atau penyakit dari orang yang dicintai, perceraian atau
kehilangan pekerjaan, dapat menyebabkan insomnia.

2. Kecemasan

dan

depresi.

Hal

ini

mungkin

disebabkan

ketidakseimbangan kimia dalam otak atau karena kekhawatiran yang


menyertai depresi.
3. Obat-obatan. Beberapa resep obat dapat mempengaruhi proses tidur,
termasuk beberapa antidepresan, obat jantung dan tekanan darah, obat
alergi, stimulan (seperti ritalin) dan kortikosteroid.
4. Kafein, nikotin dan alkohol. Kopi, teh, cola dan minuman yang
mengandung

kafein

adalah

stimulan

yang

terkenal.

Nikotin

merupakan stimulan yang dapat menyebabkan insomnia. Alkohol


adalah obat penenang yang dapat membantu seseorang jatuh tertidur,
tetapi mencegah tahap lebih dalam tidur dan sering menyebabkan
terbangun di tengah malam.
5. Kondisi Medis. Jika seseorang memiliki gejala nyeri kronis, kesulitan
bernapas dan sering buang air kecil, kemungkinan mereka untuk
mengalami insomnia lebih besar dibandingkan mereka yang tanpa
gejala tersebut. Kondisi ini dikaitkan dengan insomnia akibat artritis,
kanker, gagal jantung, penyakit paru-paru, gastroesophageal reflux
disease (GERD), stroke, penyakit Parkinson dan penyakit Alzheimer.
6. Perubahan lingkungan atau jadwal kerja. Kelelahan akibat perjalanan
jauh atau pergeseran waktu kerja dapat menyebabkan terganggunya
irama sirkadian tubuh, sehingga sulit untuk tidur. Ritme sirkadian
bertindak sebagai jam internal, mengatur siklus tidur-bangun,
metabolisme, dan suhu tubuh.
Hipersomnia yang berhubungan dengan depresi dicatat dengan
baik, meskipun insomnia lebih sering terjadi. Beberapa pasien
melaporkan keterkaitan antara serangan tidur dan pengalaman siang hari
yang tidak menyenangkan atau tidak diinginkan. Pada beberapa kasus,
tidak terdapat faktor emosional, psikologis atau pskiatri spesifik yang
dapat

diidentifikasi

dan

istilah

idiopatik

lalu

digunaka

untuk

menggambarkan hipersomnia.6
4) Klasifikasi Hipersomnia
Berdasarkan buku PPDGJ-III, terdapat klasifikasi Hipersomnia
Non-organik.7
9

Berdasarkan International Classification Of Sleep Disorders,


terdapat reccurent hypersomnia, idiopatic hypersomnia dan post-trauma
hypersomnia sedangkan berdasarkan Diagnostic And Statictical Manual
of Mental Disorders edisi ke lima (DSM-5) terdapat hypersomnia
primer.5
5) Gambaran Klinis
a. Hipersomnia Non-organik7
1. Gambaran klinis di bawah ini adalah esensial untuk diagnosis
pasti :
a. Rasa kantuk pada siang hari yang berlebihan atau adanya
serangan tidur/sleep attacks (tidak disebabkan oleh jumlah
tidur yang kurang), dan atau transisi yang memanjang dari
saat mulai bangun tidur sampai sadar sepenuhnya (sleep
drunkenness)
b. Gangguan tidur terjadi setiap hari selama lebih dari 1 bulan
atau berulang dengan kurun waktu yang lebih pendek,
menyebabkan

penderitaan

yang

cukup

berat

dan

mempengaruhi fungsi dalam sosial dan pekerjaan


c. Tidak ada gejala tambahan narcolepsy (catapelxy, sleep
paralysis, hypnagonic hallucination) atau bukti klinis untuk
sleep apnoe (nocturnal breath cessatin, typical intermittent
snoring sounds,etc)
d. Tidak ada kondisi neurologis atau medis yang menunjukkan
gejala rasa kantuk pada sang hari.
2. Bila hipersomnia hanya merupakan salah satu gejala dari
gangguan jiwa lain, misalnya gangguan afektif, maka diagnosis
harus sesuai dengan gangguan yang mendasarinya. Diagnosis
hiersomnia psikogenik harus ditambahkan bila hipersomnia
merupakan keluhan yang dominan dari penderitaan dengan
gangguan jiwa lainnya.
b. Hipersomnia Primer
Hipersomnia primer terdapat pada 5% populasi dewasa, pria dan
wanita mempunyai kemungkinan sakit yang sama. Yang dimaksud

10

dengan hipersomnia primer adalah tidur yang berlebihan atau terjadi


serangan tidur ataupun perlambatan waktu bangun. Hipersomnia
mungkin merupakan akibat dari penyakit mental, penyakit organik
(termasuk obat-obatan) atau idiopatik. Gangguan ini merupakan
kebalikan dari insomnia. Seringkali penderita dianggap memiliki
gangguan jiwa atau malas. Penderita hipersomnia membutuhkan
waktu tidur lebih dari ukuran normal. Pasien biasanya akan tidur
siang sebanyak 1-2 kali per hari, dimana setiap waktu tidurnya
melebihi 1 jam. Meski banyak tidur, mereka selalu merasa letih dan
lesu sepanjang hari. Gangguan ini tidak terlalu serius dan dapat
diatasi sendiri oleh penderita dengan menerapkan prinsip-prinsip
manajemen diri. Polysomnography memperlihatkan penurunan
gelombang delta, peningka-tan kesadaran, dan pengurangan masa
laten REM pada pasien dengan hipersomnia primer.11,12
Kriteria Diagnostik untuk Hipersomnia Primer menurur DSM-5 yaitu
11

a. Keluhan yang menonjol adalah mengantuk berlebihan di siang hari


selama sekurangnya satu bulan (atau lebih singkat jika rekuren)
seperti yang ditunjukkan oleh episode tidur yang memanjang atau
episode tidur siang hari yang terjadi hampir setiap hari.
b. Mengantuk berlebihan di siang hari menyebabkan penderitaan yang
bermakna secara klinis atau gangguan dalam fungsi sosial, pekerjaan,
atau fungsi penting lain.
c. Mengantuk berlebihan di siang hari tidak dapat diterangkan oleh
Insomnia dan tidak terjadi semata-mata selam perjalan gangguan tidur
lain (misalnya, narkolepsi, gangguan tidur berhubungan pernafasan,
gangguan tidur irama sirkadian, atau parasomnia) dan tidak dapat
diterangkan oleh jumlah tidur yang tidak adekuat.
d. Gangguan tidak terjadi semata-mata selama perjalanan gangguan lain.

11

e. Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat


(misalnya, obat yang disalahgunakan, medikasi) atau suatu kondisi
medis umum.
6) Diagnosis
Sebelum mencari diagnosa penyebab suatu gangguan tidur,
sebaiknya ditentukan terlebih dahulu jenis dan lamanya gangguan tidur
(duration of sleep disorder), dengan mengetahui jenis dan lamanya
gangguan tidur, selain untuk membantu mengidentifikasi penyebabnya,
juga dapat memberikan pengobatan yang adekuat.4
Pada saat pemeriksaan pasien mengeluh nyeri kepala di pagi hari,
tidak segar saat bangun, masalah dengan fungsi mental atau emosional,
mengantuk berlebihan pada siang hari, dan kelelahan. Dalam sleep apneu
pasangan tidur mungkin melaporkan megap-megap atau mendengkur saat
tidur. Dalam narkolepsi, individu dan keluarga mereka mngeluh tertidur
pada

waktu

yang

tidak

tepat,cataplex,hypnagogic

halusinasi,dan

ketidakmampuan sesaat untuk bergerak atau berbicara saat bangun


(kelumpuhan tidur). Obat dan riwayat pengobatan penting untuk
menyingkirkan kantuk di siang hari yang terkait dengan penggunaan
narkoba.12
Pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah polysomnography
adalah tes semalam di mana perangkat pemantauan terhubung ke
individu untuk menilai berbagai tahapan tidur untuk aktivitas muatan
listrik

otak

(electroencephalogram,

atau

EEG),

jantung

(elektrokardiogram), gerakan otot-otot (electromyogram) dan mata


(elektro-oculogram). Kadar oksigen dalam darah dan perubahan dalam
pernapasan juga dipantau. Beberapa tes latensi tidur (MSLT) mengukur
waktu yang dibutuhkan untuk jatuh tidur siang hari dalam ruangan yang
tenang. Tes-tes lain mungkin termasuk pemeliharaan uji terjaga dan skala
kantuk Epworth.13
Pada tahun 1984, The International Institute of Health membuat
suatu konsensus pengelompokan gangguan tidur berdasarkan lamanya
gangguan yang terdiri dari:4
12

1. Transient yaitu jika gangguan tidurnya kurang dari 7 hari


2. Short term yaitu jika gangguan tidurnya menetap lebih dari 7 hari
dan kurang dari 3 minggu. Kedua gangguan tersebut biasanya
berhubungan dengan stress yang akut seperti perubahan kehidupan
sosial, peningkatan emosional, faktor lingkungan, faktor sistemik,
kelainan gangguan kesehatan, desinkronisasi irama sirkadian
3. Long term yaitu jika gangguan tidur menetap lebih dari 3 minggu.
Biasanya berhubungan dengan gangguan tidur primer, gangguan
psikiatri, gangguan kesehatan, gangguan psikologi.
Pada tahun 1990, American Sleep Disorders Association membuat
reklasifikasi untuk mencari kemungkinan penyebab gangguan tidur
menjadi 4 kelompok yaitu:4
1. Dissomnia, misalnya: ganguan intrisik, gangguan ekstrisik,
2. Parasomnia, misalnya: Gangguan aurosal, gangguan bangun-tidur,
berhubungan fase REM
Gangguan kesehatan/psikiatri,

3.

misalnya:

gangguan

mental,

gangguan neurologi, gangguan kesehatan


Gangguan yang tidak terklasifikasi

4.

7) Diferential Diagnosis
Diferential diagnosis untuk gangguan tidur hipersomnia adalah13
1. Kurang tidur; dengan karakteristik utama adalah keterbatasan
tidur pada malam hari. Temuan polisomnografi akan mirip
dengan pasien hipersomnia idiopatik, akan tetapi gejala kantuk
berlebih pada siang hari akan membaik saat waktu tidur
ditingkatkan.
2. Delayed Sleep Phase Syndrome , pasien akan mengalami
kesulitan bangun di pagi hari. Pasien biasanya tidur terlambat di
malam hari, tetapi jika waktu tidurnya cukup, maka mereka
tidak akan merasakan kantuk di siang hari.
3. Long sleeper; mereka memiliki kebutuhan tidur yang lebih
banyak dari orang normal, sehingga jika waktu tidur mereka
tidak terpenuhi, maka akan merasa kantuk pada siang hari. Jika

13

diberikan kesempatan untuk tidur sepanjang yang mereka


butuhkan, maka gejala kantuk berlebih pada siang hari akan
menghilang; berbeda dengan hipersomnia idiopatik.
4. Obstructive Sleep Apnoe (OSA); saat diketahui pasien memiliki
kebiasaan

mengorok

saat

tidur,

diagnosis

OSA

perlu

dipertimbangkan. Pemeriksaan yang diperlukan adalah monitor


respirasi saat tidur.
5. Narkolepsi; istilah narkolepsi dahulu merupakan sinonim dari
kantuk berlebih disiang hari, tetapi diketahui belakangan bahwa
narkolepsi memiliki kelainan spesifik pada tidur REM yang
memberikan manifestasi bermacam-macam saat tidur maupun
bangun. Gejala utama dari narkolepsi adalah pemanjangan
waktu tidur utama, tetapi kelelahan yang dialami pasien akan
berujung pada hiperaktivitas paradoksikal. Pemeriksaan yang
diperlukan adalah HLA, polisomnografi, dan multiple sleep
latency test (MLST).
8) Penatalaksanaan
a. Pendekatan Non Farmakologi
Pendekatan psikologis memiliki banyak keterbatasan untuk
penanganan Insomnia primer. Secara keseluruhan pendekatan
dengan penanganan kognitif-behavioral telah melaksanakan manfaat
yang penting dalam menangani insomnia.14
Teori kognitif-behavioral menekankan pada jangka pendek dan
berfokus

pada

penurunan

kondisi

fisiologis

yang

timbul,

memodifikasi kebiasaan tidur yang maladaptif dan mengubah


pemikiran yang disfungsional. Terapi ini biasanya menggunakan
kombinasi dari beberapa teknik, restrukturasi rasional. Kontrol
simultan

melibatkan

perubahan

stimulus

lingkungan

yang

diasosiasikan dengan tidur. Dibawah kondisi normal, kita belajar


untuk mengasosiasikan stimulus menghubungkan berbaring ditempat
tidur dengan tidur, sehingga pemaparan terhadap stimulus ini dapat
meningkatkan perasaan mengantuk. Namun ketika seseorang

14

menggunakan tempat tidur untuk banyak aktivitas, tempat tidur


dapat kehilangan asosiasinya dengan rasa kantuk.14
Teknik kontrol simultan bertujuan untuk memperkuat hubungan
tempat tidur dan tidur dengan sebisa mungkin membatasi aktivitas
yang dihabiskan ditempat tidur untuk dapat tertidur. Biasanya,
seseorang diinstruksika dengan membatasi waktu yang dihabiskan
ditempat tidur untuk mencoba tidur dalam waktu 10 atau 20 menit.
Jika masih tidak dapat tidur juga pada waktu yang diperkiran, orang
tersebut diinstruksikan untuk meninggalkan tempat tidur dan pergi
keruangan lain untuk membangun kerangka berpikir yang santai
sebelum relaksasi.14
Tindakan sleep hygiene terdiri dari: 4
1. Tidur dan bangunlah secara reguler/kebiasaan
2. Hindari tidur pada siang hari/sambilan
3. Jangan mengkonsumsi kafein pada malam hari
4. Jangan menggunakan obat-obat stimulan seperti decongestan
5. Lakukan latihan/olahraga yang ringan sebelum tidur
6. Hindari makan pada saat mau tidur, tapi jangan tidur dengan
perut kosong
7. Segera bangun dari tempat bila tidak dapat tidur (15-30 menit)
8. Hindari rasa cemas atau frustasi
9. Buat suasana ruang tidur yang sejuk, sepi, aman dan enak
b. Pendekatan Farmakologis
Dalam mengobati gejala gangguan tidur, selain dilakukan
pengobatan secara kausal, juga dapat diberikan obat golongan sedatif
hipnotik. Pada dasarnya semua obat yang mempunyai kemampuan
hipnotik merupakan enekanan aktifitas dari reticular activating
system (ARAS) diotak.4
Jadi yang terpenting dalam penggunaan obat hipnotik adalah
mengidentifikasi penyebab yang mendasarinya atau obat hipnotik
adalah sebagai pengobatan tambahan. Pemilihan obat hipnotik
sebaiknya diberikan jenis obat yang bereaksi cepat (short action)
dgnmembatasi penggunaannya sependek mungkin yang dapat
mengembalikan pola tidur yang normal. 4
Pengobatan dari hipersomnia primer meliputi obat-obat stimulan
yang dapat mempertahankan kesadaran; dextroamphetamine dan

15

methylphenidate keduanya mempunyai masa paruh yang singkat dan


di minum dalam dosis terbagi. Femoline, stimulan kerja lama, dapat
juga digunakan.

Modafinil, yang digunakan untuk mengobati

narkolepsi, dapat juga digunakan untuk mengobati hipersomnia


primer. Antidepresan trisiklik (seperti protriptyline) dapat juga
digunakan.

Karena obat-obatan stimulan dapat menimbulkan

ketergantungan, maka penggunaannya harus benar-benar diawasi.11


9) Prognosis
Bila hipersomnia disebabkan oleh suatu gangguan mood,
perjalanan klinisnya ditentukan oleh gangguan primer. Hipersomnia
idiopatik dapat berubah selama perkembangan dan dapat membaik
seiring pertambahan usia pada beberapa pasien.11

BAB III
KESIMPULAN
Hipersomnia merupakan gangguan tidur dimana adanya rasa kantuk yang
berlebih sepanjang hari selama sebulan atau lebih. Rasa kantuk yeng berlebih ini
dapat berupa kesulitan untuk bangun setelah periode tidur yang panjang atau
mungkin ada pola episode tidur siang muncul hampir setiap hari dalam bentuk
tidur siang yang diharapkan atau tidak diharapkan.
Edukasi penting diberikan kepada pasien tentang sleep hygiene yang baik
dalam mengatasi berbagai gangguan tidur. Penggunaan obat harus dibatasi dan
diawasi dengan cermat, mengingat efek samping yang dapat ditimbulkannya, oleh

16

karenanya penggunaan obat tersebut harus benar-benar disesuaikan dengan


kebutuhan individual dari pasien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Guyton, Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi 18. Jakarta:
EGC
2. Purnomo, Hari. 2013. Guidlines for the assessment and management of
patients with sleep disorders. Clinical Practice in Neurology. Pp 156-176.
3. Johns,M.W. 2009. What is Excessive Daytime Sleepiness.Sleep
Deprivation: Causes, Effects and Treatment chapter 2, Pp 1-37
4. Japari I. 2002. Gangguan Tidur. USU Digital Library. Pp 1-4.
5. American Psychiatric Association. 2013. Diagnostic and Statistical
Manual of Mental Disorders DSM-V. Washington, DC: American
Psychiatric Publishing.
6. Puri B, Laking P, Treasaden.2011. Buku Ajar Psikiatri. Jakarta : EGC
7. Maslim, Rusdi. 2013. Diagnosis Gangguan Jiwa, Rujukan Ringkas PpdgjIII dan DSM-5. Jakarta: PT.Nuh Jaya.
8. American Academy of Sleep Medicine. 2011 ICS2 - International
Classification of Sleep Disorders. American Academy of Sleep Medicine
Diagnostic and Coding Manual . Diagnostik dan Coding Manual. 2nd. 2.
Westchester, Ill: American Academy of Sleep Medicine; 2001. Diunduh
dari: http://www.esst.org/adds/ICSD.pdf. Diakses : 5 November 2015
9. Leger D, Neubauer D, etc. 2013. An International Survey of Sleeping
problems

in

the

General

Population.

Diunduh

dari:
17

http://www.ncbi.nlm.nih.gov/ pubmed/ 18070379. diakses: 5 November


2015
10. Gelder, Michael G, etc. 2003. New Oxford Textbook of Psychiatry.
London: Oxford University Press.
11. Sadock BJ. 2007. Normal sleep and Sleep disorders. Synopsis of
Psychiatry, 10th ed, Lippincott Williams & Wilkins. A Wolters Kluwer
Co.
12. MDGuidelines. 2012. Hypersomnia. From: http://www.mdguidelines.com/
hypersomnia. Diakses pada 5 November 2015
13. Adrian
Preda,MD.
2011.
Primary

Hypersomnia.

From:

http://www.medscape.com. Diakses pada 4 November 2015


14. Nevid, Jeffrey S, Spencer A. Rathus, dan Beverley

Greene.

2003. Psikologi Abnormal. Jakarta :Erlangga.

18