Anda di halaman 1dari 9

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya1

Kerangka Acuan Kerja

Penyusunan Master Buku Surabaya Cantik

I. LATAR BELAKANG
Kota Surabaya adalah ibu kota Provinsi Jawa Timur, Indonesia. Surabaya merupakan kota
terbesar kedua di Indonesia setelah Jakarta, dengan jumlah penduduk metropolisnya yang mencapai 3 juta
jiwa, Surabaya merupakan pusat bisnis, perdagangan, industri, dan pendidikan di kawasan Jawa Timur.
Surabaya terkenal dengan sebutan Kota Pahlawan karena sejarahnya yang sangat diperhitungkan dalam
perjuangan merebut kemerdekaan bangsa Indonesia dari penjajah. Kata Surabaya konon berasal dari
cerita

mitos

pertempuran

kota SurabayaSurabaya

antara sura (ikan

hiu)

dan baya (buaya)

dan

akhirnya

menjadi

memiliki karakteristik yang juga mewarnai hampir semua kota lainnya

di Indonesia. Kesejarahan kampung Surabaya bahkan lebih menonjol, karena sampai saat ini
karakteristik kampung-kampung kota itu masih bertahan jelas garis batasnya, bahkan
karakteristik kehidupan komunitasnya. Sejak jaman Adipati Surabaya, kampung sudah
menunjukkan fungsinya sebagai tempat bermukim dan berkarya kelompok masyarakat
menurut profesinya sendiri-sendiri. Sejalan dengan perkembangan jaman, kampung
mengalami perkembangan yang sangat signifikan tetapi tetap dengan identitasnya yang
ditunjukkan oleh kekhasannya masing-masing. Beberapa kampung di Surabaya mendapatkan
namanya dari masyarakat, diberikan karena sejarah panjang yang sudah dimulai puluhan atau
bahkan ratusan tahun lalu. Toponomi kampung Surabaya merekam keadaan dan
perkembangan geologi dan geografi kota, termasuk gambaran Surabaya sebagai kota keraton.
Tidak kalah pentingnya adalah pembinaan budaya arek yang hanya ada di kampung.
Selama ini, Pemerintah Kota Surabaya telah memiliki program khusus yang bertujuan
untuk memperbaiki kualitas permukiman. Program tersebut adalah KIP (Kampung
Improvement Program) yang diperkenalkan pertama kali pada tahun 1923 yang pada awalnya
bertujuan untuk mengatasi permasalahan sanitasi permukiman penduduk yang kala itu
banyak dihuni oleh orang-orang Eropa. Kota Surabaya tercatat sebagai kota paling lama
melaksanakan program perbaikan kampung di Indonesia. Sejak beberapa tahun ini karena
kelembagaan di kampung umumnya sudah makin membaik, pelaksanaan KIP selanjutnya
ditekankan pada pengembangan sumber daya manusia dalam bentuk mengembangkan
kampung unggul dengan berbagai jenis produk mulai kampung batik, kampung bebek dan
kampung lontong serta ada pula kampung dinamo. Bagi kampung yang punya keunggulan,

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya2

pemerintah kota membangun dasar yang kokoh baik prasarana maupun sarana pemasaran
agar berkelanjutan dan tidak lagi tergantung pada pemerintah.
Dalam perkembangannya, sebuah kampung dengan karakteristik yang unik
berhadapan dengan sebuah proses kota yang mendunia, kota yang makin metropolis dengan
berbagai perangkatnya, menjadi sebuah fenomena yang dahsyat dalam memahami realitas
kota-kota dewasa ini. Terlebih lagi di Kota Surabaya, di mana komunitas kampung yang
berhadapan dengan komunitas urban, tidak saja dalam konteks sosiologis, tapi juga dalam
konteks tata ruang atau perubahan spasial yang membawa dampak yang multidimensional.
Ritme Kota Surabaya sebagai kota metropolitan berimbas langsung pada ritme hidup
komunitas kampung dengan segala konsekuensinya. Dalam berbagai penataan kota yang tak
terlepas dari penataan kehidupan kampung, tampak bahwa komunitas kampung meskipun
tertarik dalam arus besar perubahan dan modernisasi tetapi juga masih berpijak pada
karakteristik yang sulit dibongkar begitu saja akar kehidupannya. Sehingga di tengah arus
metropolitanisasi, di dalam konteks ekonomisasi kota dengan tuntutan penataan ruang yang
lebih memberi tempat bagi kepentingan modal dan dalam berbagai dimensi, kebijaksanaan
Kota Surabaya sering harus tetap berlandaskan pada kesadaran komunitas kampung Surabaya
yang egaliter dan tradisional. Kampung juga dominan dalam mewarnai pembangunan kota
Surabaya.
Kota Surabaya memiliki kampung yang terus berkembang seiring perubahan zaman.
Pemerintah Kota Surabaya melakukan serangkain pembinaan dengan bentuk intervensi
berbeda-beda, sesuai dengan kondisi masing-masing. Dalam upaya meningkatkan kepedulian
masyarakat terhadap lingkungan hidup, dilaksanakan program Green and Clean yang telah
berlangsung selama beberapa tahun. Dengan kegiatan ini terbukti mempu meningkatkan
motivasi masyarakat untuk menjaga lingkungan. Selain dari sisi lingkungan, pemerintah kota
juga melakukan pembinaan pada kampung yang memiliki potensi ekonomi yang disebut
kampung unggulan. Diantara kampung unggulan tersebut adalah kampung urban farming di
Kelurahan Made, kampung lontong di Kelurahan Banyu Urip, kampung sepatu di Kelurahan
Tambak Osowilangun, kampung tempe di Kelurahan Tenggilis, kampung batik di Kelurahan
Rungkut, kampung kerajinan daur ulang di Kelurahan Gundih, kampung paving di Kelurahan
Lakarsantri, dll. Keberadaan kampung-kampung yang dibina oleh pemerintah kota tersebut
secara nyata memberikan peluang pemberdayaan masyarakat yang sangat besar. Dengan
memberikan kesempatan untuk membuka stan di beberapa mall ternama menjadikan produkproduk lokal akan lebih dikenal masyarakat.

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya3

Menapak abad XXI, Kota Surabaya akan menjadi bagian dalam sistem global yang
menghilangkan segala batas sehingga Kota Surabaya seharusnya bukan hanya menjadi kota
yang maju tetapi juga kota yang cerdas, manusiawi dan berwawasan ekologis tanpa perlu
mengabaikan kondisi lokal. Untuk mencapai tujuan tersebut, dibutuhkan dukungan dari
kampung Surabaya yang mewakili konteks kelokalan sebuah kota. Beberapa Kampung
Surabaya telah menjadi acuan bagi beberapa negara dalam kegiatan perbaikan lingkungan.
Saat ini kampung telah berkembang menjadi kawasan yang tidak hanya memiliki lingkungan
yang baik, namun juga mampu memberdayakan masyarakatnya. Keberhasilan pembangunan
kampung di Kota Surabaya ini diharapkan dapat menjadi acuan pembangunan kota-kota lain.
Untuk itu, perlu disusun sebuah buku yang dapat dipublikasikan an menjadi reverensi bagi
pembangunan kota secara luas. Pemerintah Kota Surabaya berinisiatif untuk menyusun buku
tersebut dengan judul Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya sebagai
penegasan keberhasilan rekonstruksi kampung Surabaya dalam menghadapi metropolitanisasi
dengan segala konsekuensinya tanpa harus mengabaikan konteks budaya dan kesejarahannya.
Selain itu, menyambut ulang tahun Kota Surabaya yang ke-718, buku Kajian Penataan dan
Revitalisasi Kampung di Surabaya diharapkan dapat memberikan sumbangannya bagi
pemahaman bagaimana kampung Surabaya mengalami perubahan sosial, kultural, ekonomi
dan politik dilihat dari perubahan tata ruang dan perencanaan arsitektural Kota Surabaya.
II. TUJUAN DAN SASARAN
Tujuan dari kegiatan ini adalah tersusunnya buku Kajian Penataan dan Revitalisasi
Kampung di Surabaya yang akan memberikan gambaran keberhasilan pembangunan
kampung di Kota Surabaya dan bagaimana kampung Surabaya mempersiapkan diri
menghadapi abad 21 dengan segala konsekuensi sosial, budaya, ekonomi dan lingkungan.
Sasaran merupakan serangkaian tahapan untuk mencapai tujuan, berikut ini sasaran dalam
penyusunan buku Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya:
a. Mengidentifikasi

kondisi

kampung-kampung

Surabaya

dan

konsep

dasar

perkembangannya.
b. Melakukan kajian terhadap beberapa kampong terkait aspek kekhasan, sejarah, sosial,
budaya, ekonomi dan pembinaan kampung.
c. Menganalisis proses perkembangan kampung dengan berbagai aspek yang terkait
sejarah, ekonomi, lingkungan, sosial dan budaya.
d. Menyusun hasil sintesa perkembangan kampung Surabaya dalam menapak abad 21.
III. RUANG LINGKUP KEGIATAN DAN HASIL YANG DIHARAPKAN
| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya4

Ruang lingkup wilayah yang akan menjadi lokasi objek penyusunan buku adalah kampung di
wilayah administratif Kota Surabaya. Adapun kampung yang akan dipilih, sesuai dengan
potensi yang dimiliki. Penentuan jumlah kampung yang akan dibahas ditentukan dalam
rangkaian tahapan identifikasi kondisi masing-masing kampung. Sedangkan ruang lingkup
substansi yang akan dibahas meliputi beberapa aspek. Mengingat tujuan penulisan buku ini
adalah memberikan gambaran bagaimana keberhasilan pembangunan kampung Surabaya
menghadapi abad 21, maka ruang lingkup yang akan dikaji adalah:
a. Aspek sejarah
Kampung di Kota Surabaya memiliki keterikatan sejarah yang sangat kuat dengan
perkembangan kota dari jaman penjajah hingga saat ini. Aspek sejarah menjadi sangat
penting mengingat hingga saat ini keberadaan kampung-kampung lama telah menjadi
bagian kehidupan masyarakat dan merupakan kekhasan tersendiri.
b. Aspek ekonomi
Kota Surabaya telah berkembang menjadi kota metropolitan dan pusat pertumbuhan
bagi Indonesia bagian Timur. Kemajuan tersebut tidak dapat terlepas dari peran
kampung yang saat ini telah mampu memberdayakan masyarakat dan lingkungannya.
Saat ini berkembang kampung dengan berbagai potensi ekonomi yang unik,
menjadikan kampung bukan hanya sebagai konsumen tetapi juga produsen berbagai
produk unggulan yang berkualitas. Aspek ekonomi menjadi salah satu aspek penting
untuk dicermati, bagaimana kampung dengan berbagai potensi ekonomi dapat
berkembang, bertahan dan unggul.
c. Aspek lingkungan
Lingkungan hidup Kota Surabaya beberapa tahun terakhir telah berkembang lebih
baik. Berbagai inisiasi program kegiatan baik oleh pemerintah maupun masyarakat
secara umum telah berhasil membawa perubahan pada budaya masyarakat untuk lebih
menghargai lingkungan. Kegiatan kompetisi yang dilakukan pada setiap kampung
telah memicu kesadaran masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan hidup
masing-masing.
d. Aspek sosial dan budaya
Karakteristik masyarakat Kota Surabaya yang egaliter dan tradisional telah menjadi
karakter yang bertahan hingga jaman modern saat ini. Ciri sosial yang akhir-akhir ini
menonjol adalah solidaritas yang luas baik antara sesama warga maupun dengan
lingkungan dan kotanya. Kondisi sosial budaya yang khas tersebut manjadi kekuatan
dalam pembangunan masyarakat. Kota yang dibangunan dengan karakteristik
masyarakat yang kuat akan menjadikan rasa kepemilikan terhadap kota pada setiap
warga.
| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya5

IV. METODE PELAKSANAAN KEGIATAN


A. Pengumpulan Data
Data diperoleh dari arsip lama baik berupa tulisan, peta maupun foto. Data juga perlu
diperoleh dari wawancara yang dilakukan terhadap warga dan tokoh, serta masukan
lain yang diperoleh dari berbagai pihak yang pernah melakukan kajian dan penelitian
di Surabaya sejak zaman sebelum kemerdekaan sampai sekarang.
B. Teknik Analisis
Serangkaian analisis yang akan dilakukan dalam penyusunan buku Kajian Penataan
dan Revitalisasi Kampung di Surabaya ini bertujuan untuk mendapatkan sintesa
dari kondisi masing-masing kampung dengan berbagai potensi yang dimiliki. Teknik
analisis yang dilakukan adalah deskriptif kualitatif, dengan melakukan komparasi dan
penelusuran fakta dan data yang ada. Adapun aspek yang akan dianalisis pada setiap
kampung tergantung pada potensi dan karakterstik masing-masing. Aspek yang
terkait dengan substansi yang akan dianalisis adalah aspek sejarah, ekonomi,
lingkungan, sosial dan budaya.
C. Tahapan Pelaksanaan Kegiatan
Serangkaian tahapan akan dilakukan untuk menghasilkan kajian akademis yang
komprehensif, berikut ini tahapan yang akan dilakukan:
a. Pemahaman terhadap Kerangka Acuan Kerja
b. Kompilasi data kampung dilihat dari potensi yang dimiliki
c. Mengidentifikasi fakta, potensi dan kondisi kampung Kota Surabaya
d. Menganalisis perkembangan kampung berdasarkan aspek terkait dan potensi
yang dimiliki, untuk mengetahui eksistensi kampung dalam perkembangan
Kota Surabaya.
e. Menyusun buku/executive summary Kajian Penataan dan Revitalisasi
Kampung di Surabaya
V. SUMBER DAYA
A. Pembiayaan
Untuk kegiatan ini dibebankan pada Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah
(APBD) Kota Surabaya Tahun Anggaran 2013.
B. Kebutuhan Tenaga Ahli

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya6

Tenaga ahli yang dibutuhkan dalam pelaksanaan pekerjaan ini minimum memenuhi
kriteria standar pengalaman pekerjaan di bidangnya masing-masing sebagai
berikut:
1. Team Leader (Tenaga Ahli Madya C-4), Teknik Arsitektur, minimal S2/S3
pengalaman 3 tahun atau S1 pengelaman 7 tahun (1 orang).
2. Tenaga Ahli (Tenaga Ahli Muda D-3), Teknik Arsitektur, minimal S1
pengalaman 2 tahun atau D3 pengalaman 6 tahun (1 orang).
Dalam penyusunan ini tenaga ahli tersebut dibantu oleh 3 (tiga) orang operator
komputer dan 10 (sepuluh) orang tenaga surveyor.
VI. OUTPUT
A. Pelaporan
Sebagai bentuk pertanggungjawaban kegiatan penyusunan kajian Kajian Penataan
dan Revitalisasi Kampung di Surabaya, laporan yang harus disusun terdiri dari:

Laporan Pendataan

Laporan Akhir berupa Buku/Executive Summary

B. Teknik Penyajian Laporan


Laporan yang disusun harus memenuhi ketentuan yang ditetapkan sebagai berikut;
a. Laporan dibuat sesingkat mungkin dan lebih memperbanyak informasiinformasi normatif (peta dan foto) dan ilustrasi yang dibutuhkan.
b. Pengetikan 1,5 (satu setengah) spasi.
c. Dicetak dengan kualitas yang baik.
d. Format Penyajian

Laporan Pendataan bertuliskan Kajian Penataan dan Revitalisasi


Kampung di Surabaya

Ukuran Kertas

: A4 (21 x 29,7 cm)

Jenis Kertas

: HVS

Tipe Pewarnaan

: Berwarna

Jumlah Buku

: 5 Exemplar

Laporan Akhir berupa Buku/Executive Summary bertuliskan Kajian


Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya
Ukuran Kertas

: Custom (24 x 22,8 cm)

Jenis Kertas

: Art Paper (sejenisnya)

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya7

Tipe Pewarnaan

: Berwarna

Jumlah Buku

: 5 Exemplar

e. Dokumen akhir juga diserahkan dalam bentuk file kepada pemilik proyek
dalam bentuk CD sebanyak 5 keping.
VII.

POLA PELAKSANAAN KEGIATAN

A. Peran Bappeko
Penyusunan buku Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya
dilakukan oleh tim konsultan yang ditunjuk oleh Pemerintah Kota Surabaya. Tim
konsultan terdiri dari tenaga ahli dan tenaga penunjang yang bertugas sebagai tim
peleksanan kegiatan. Pengguna jasa konsultan ini adalah Badan Perencanaan
Pembangunan Kota (Bappeko) Surabaya. Untuk pelaksanaan kegiatan ini Bappeko
menunjuk Pejabat Pembuat Komitmen/Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat
Pelaksanaan Teknis Kegiatan sebagai personil yang akan bertanggung jawab secara
teknis dan administratif dalam kegiatan penyusunan Kajian Penataan dan Revitalisasi
Kampung di Surabaya.
Untuk pelaksanaan pengawasan, monitoring dan evaluasi terhadap proses
pelaksanaan, Pejabat Pembuat Komitmen/Kuasa Pengguna Anggaran dan Pejabat
Pelaksanaan

Teknis

Kegiatan

akan

dibantu

oleh

Panitia

Penerima

Hasil

Pekerjaan/Direksi Harian. Panitia Penerima Hasil Pekerjaan /Direksi Harian yang


beranggotakan beberapa personil dari Bappeko akan melakukan pengawasan terhadap
kemajuan pekerjaan dan hasil-hasil pekerjaan pada setiap tahapan pekerjaan sesuai
dengan ketentua dan persyaratan teknis yang telah ditentukan.
B. Kewajiban Penyedia Jasa
Penyedia jasa mempunyai kewajiban-kewajiban yang harus dilaksanakan, sebagai
berikut:
a. Pada tahap awal, penyedia jasa diwajibkan membuat usulan teknis dan biaya yeng
terdiri dari:

Usulan teknis dengan penjelasan terinci tentang metode teknis,


pelaksanaan kegiatan, waktu penyelesaian dan lain-lain.

Usulan biaya dengan perincian biaya pada tiap-tiap kegiatan yang


dilakukan.

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya8

Program kerja, daftar tenaga ahli dan lain-lain.

b. Penyedia jasa berkewajiban dan bertanggungjawab sepenuhnya terhadap


penyusunan Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya berdasarkan
ketentuan perjanjian kerjasama yang telah ditetapkan.
c. Penyedia jasa berkewajiban melaksanakan pekerjaan penyusunan Kajian
Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya berdasarkan ketentuan teknis
yang telah ditetapkan dalam Kerangka Acuan Kerja.
d. Penyedia jasa dalam melaksanakan pekerjaan dinyatakan berakhir setelah
pekerjaaan penyusunan Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di Surabaya
selesai secara keseluruhan dan dapat diterima oleh pemberi tugas.
e. Penyedia jasa dalam melaksanakan pekerjaan agar meminta bantuan Pejabat
Penerima Hasil Pekerjaan yang akan memberikan petunjuk dan pengarahan
kepada penyedia jasa untuk mencapai hasil yang optimal. Pejabat Penerima Hasil
Pekerjaan tersebut dapat diminta menyediakan data guna mendukung kelancaran
kerja sejauh tidak membutuhkan biaya.
f. Penyedia jasa wajib melakukan, konsultasi, koordinasi dan diskusi secara rutin
dan berkala (mingguan/bulanan) dengan Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan
dan/atau Pemberi Tugas.
C. Mekanisme dan Pengawasan Pekerjaan
Dalam rangka pelaksanaan pekerjaan penyusunan Kajian Penataan dan Revitalisasi
Kampung di Surabaya, penyedia jasa harus berkonsultasi dan berkoordinasi dengan
Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan /Direksi Harian. Perkembangan kemajuan
pekerjaan dituangkan dalam laporan kemajuan pekerjaan dan diperiksa secara rutin
dan berkala oleh Pejabat Penerima Hasil Pekerjaan /Direksi Harian.
D. Waktu Penyelesaian Pekerjaan
Pekerjaan sebagaimana diuraikan di atas harus diselesaikan seluruhnya dalam waktu 3
(tiga) bulan, atau waktu yang ditetapkan sesuai dengan hasil rapat penjelasan umum
terhitung sejak penandatanganan kontrak kerjasama.

| Kerangka Acuan Kerja

kajian penataan dan revitalisasi kampung di surabaya9

VIII. PENUTUP
Kerangka acuan kerja

diharapkan dapat menjadi pedoman dalam penyusunan buku

kampung. Namun demikian, demi sempurnanya hasil kegiatan ini maka dimungkinkan
adanya perubahan-perubahan berdasarkan masukan dan hasil pembahasan pada saat proses
pelaksanaannya.

Surabaya,
Kepala Bidang Fisik dan Prasarana
selaku
Pejabat Pembuat Komitmen
Kajian Penataan dan Revitalisasi Kampung di
Surabaya

A.A. Gde Dwi Djajawardana, ST, MT


Penata Tingkat I
NIP. 19690726 199602 1 001

| Kerangka Acuan Kerja