Anda di halaman 1dari 13

LAPORAN PENDAHULUAN

Nama Mahasiswa

: Fitria Chrusta Karlina

NIM

: 0610723010

MASALAH KESEHATAN : CVA Trombosis


DEFINISI
CVA disebut juga stroke adalah suatu gangguan neurologis akut, yang disebabkan oleh
gangguan peredaran darah ke otak secara mendadak (dalam beberapa detik), atau secara cepat
(dalam beberapa jam) timbul gejala dan tanda sesuai dengan daerah fokal di otak yang
terganggu. (Prof. Dr. dr. B. Chandar, hal 181)
Stroke merupakan cedera otak yang berkaitan dengan obstruksi aliran darah otak,
(Elisabeth, J, Corian, hak 181)
CVA merupakan gangguan sirkulasi cerebral dan sebagai salah satu manifestasi
neurologi yang umum dan timbul secara mendadak sebagai akibat adanya gangguan suplay
ke otak (Depkes RI 1996, hal 149)
CVA thrombosis adalah terjadinya CVA yang diakibatkan oleh adanya thrombosis di
pembuluh darah otak yang menyebabkan obstruksi sehingga aliran darah ke otak terganggu.
INSIDEN
Cerebro Vasculer Accident merupakan penyakit system saraf yang paling sering
dijumpai dan merupakan peringkat ke-3 penyebab kematian di USA. Kira-kira 200.000
kematian dan 200.000 orang dengan gejala sisa akibat stroke pada setiap tingkat umur,
tapi yang paling sering pada usia 75 85 Tahun.
KLASIFIKASI
CVA pada dasarnya dibagi 2 kelompok besar
A. Stroke Iskemik
Secara patogenesis dibagi menjadi :
1. Stroke trombolik
Yaitu stroke yang disebabkan karena tombosis di arteri karotis interna secara
langsung masuk ke arteri serebri media

Stroke jenis ini sering dijumpai pada kelompok usia 60 - 90 tahun. Serangan
gejala CVA sekunder dari trombosis sering datang pada waktu tidur atau waktu
mulai bangun
2. Stroke embolik
Yaitu stroke iskemik yang disebabkan oleh karena emboli yang pada
umumnya berasal dari jantung.
Emboli biasanya mengenai pembuluh-pembuluh kecil dan sering dijumpai
pada titik bifurkasi dimana pembuluh darah menyempit.
Stroke iskemik secara lazim dibagi menjadi :
a. TIA (Transient Iskhemik Attach)
Gangguan neurologik yang timbul secara tiba-tiba dan menghilang dalam
beberapa menit sampai beberapa jam (tidak melebihi 24 jam)
Disfungsi neurologi bisa sangat parah disertai tidak sadar sama sekali dan
hilang fungsi sensorik serta fungsi motorik.
b. RIND (Reversible Iskhemic Neurologic Deficit)
gejala neurologik menghilang dalam waktu lebih 24 jam
c. Progressive Stroke
Gejala neurologik bertambah lama bertambah berat
d. Completed Stroke
Gejala neurologik dari permulaan sudah maksimal (stabil)
B. Stroke hemoragik, dibagi menjadi
1. Perdarahan Intraserebral
yaitu perdarahan di dalam jaringan otak
2. Perdarahan subaraknoid
Yaitu pendapatan di ruang subaraknoid yang disebabkan oleh karena
pecahnya suatu aneurisma atau arterio - venosus mallformation (AUM)
ETIOLOGI
1. Thrombosis Otak
Thrombosis merupakan penyebab yang paling umum ari CVA dan yang paling
sering menyebabkan thrombosis otak adalah atherosklerosis. Selain itu, vaskulitis
(ateritis temporalis, poliarteritis nodosa), robeknya arteri : karotis, vertebralis (spontan
atau traumatik), dan gangguan darah : polisitemia, hemoglobinopati (penyakit sel

sabit) adalah penyakit-penyakit lain yang juga dapat menyebabkan terjadinya


thrombosis.
2. Emboli Serebral
-

Sumber di jantung : fibrilasi atrium (tersering), infark miokardium, penyakit


jantung rematik, penyakit katup jantung, katup prostetik, kardiomiopati iskemik

Sumber tromboemboli aterosklerosis di arteri : bifurkasio karotis komunis, arteri


vertebralis distal

Keadaan hiperkoagulasi : kontrasepsi oral, karsioma

3. Vasokontriksi
Vasospasma serebelum setelah PSA
FAKTOR RESIKO
Faktor resiko terjadinya stroke ada 2 :
1. Faktor resiko yang dapat diobati / dicegah :
Perokok
Penyakit jantung ( Fibrilasi Jantung )
Tekanan darah tinggi
Peningkatan jumlah sel darah merah ( Policitemia)
Transient Ischemic Attack ( TIAs)
2. Faktor resiko yang tak dapat di rubah :
Usia di atas 65
Peningkatan tekanan karotis ( indikasi terjadinya artheriosklerosis yang

meningkatkan resiko
serangan stroke)
DM
Keturunan (Keluarga ada stroke)
Pernah terserang stroke
Race (Kulit hitam lebih tinggi)
Sex (laki-laki lebih 30 % daripada wanita)

MANIFESTASI KLINIS
Stoke menyebabkan defisit neurologik, bergantung pada lokasi lesi (pembuluh darah
mana yang tersumbat), ukuran area yang perfusinya tidak adequat dan jumlah aliran darah
kolateral. Stroke akan meninggalkan gejala sisa karena fungsi otak tidak akan membaik
sepenuhnya.
a. Derajat ringan
- Kesemutan pada separuh badan sementara
- Kepala terasa berputar-putar saat bangun tidur
- Salah satu sandal terlepas tanpa terasa
b. Derajat sedang

Kelumpuhan pada tangan/kaki atau salah satu sisi tubuh dalam waktu lama
Sulit bicara, pelo, bicara tidak jelas
Kehilangan daya ingat atau konsentrasi
Perubahan perilaku: bicara tidak menentu, mudah marah, perilaku seperti anak

kecil
c. Derajat berat
- Gejala stroke bertamabah parah
- Sering terjadi penurunan tingkat kesadaran samapi dengan koma
- Ketidakmampuan dalam melakukan aktivitas
- Gangguan menelan
POHON MASALAH
(Terlampir)
PEMERIKSAAN PENUNJANG
a) CT-Scan
Akan dapat menemukan daerah yang kepadatannya menurun, digunakan untuk
membedakan adanya perdarahan infark, iskemia, hematom, odema.
b) Angiografi
Gunakan mencari letak penyumbatan darah dan menentukan penyebab CVA
c) Position Scanning
Untuk memberikan gambaran metabolisme cerebral
d) Pungsi Lumbal
Menunjukkan adanya tekanan normal
e) EEG
Untuk melihat area yang spesifik dari lesi otak
f) Ultra Sonografi
Mengidentifikasi penyakit arterio vena, arterio sklerosis
g) Sinar - X Tengkorak
Klasifikasi partial penyakit arterio vena, arterio sklerosis
h) Teknik Doppler
Untuk mengetahui arteri sklerosis yang rusak
PENATALAKSANAAN
Untuk mengobati keadaan akut perlu diperhatikan faktor-faktor kritis sebagai berikut:
1. Berusaha menstabilkan tanda-tanda vital dengan :

a. Mempertahankan saluran nafas yang paten yaitu lakukan pengisapan lendir yang
sering, oksigenasi, kalau perlu lakukan trakeostomi, membantu pernafasan.
b. Mengontrol tekanan darah berdasarkan kondisi pasien, termasuk usaha memperbaiki
hipotensi dan hipertensi.
2. Memperbaiki aritmia jantung.
3. Merawat kandung kemih, sedapat mungkin jangan memakai kateter.
4. Menempatkan pasien dalam posisi yang tepat, harus dilakukan secepat mungkin pasien
harus dirubah posisi tiap 2 jam dan dilakukan latihan-latihan gerak pasif.
5. Mencegah peningkatan TIK dengan:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.

Antihipertensi
Deuritika
Vasodilator perifer
Antikoagulan
Diazepam bila kejang
Anti mual muntah
Manitol : mengurangi edema otak.

Pembedahan
Endarterektomi karotis dilakukan untuk memeperbaiki peredaran darah otak.
Penderita yang menjalani tindakan ini seringkali juga menderita beberapa penyulit seperti
hipertensi, diabetes dan penyakit kardiovaskular yang luas. Tindakan ini dilakukan dengan
anestesi umum sehingga saluran pernafasan dan kontrol ventilasi yang baik dapat
dipertahankan.
KOMPLIKASI
a. Kejang. Kejang pada fase awal lebih sering terjadi pada stroke perdarahan.
Kejadian kejang umumnya memperberat defisit neurologic
b. Nyeri kepala: walaupun hebat, umumnya tidak menetap. Penatalaksanaan
membutuhkan analgetik dan kadang antiemetic
c. Hiccup: penyebabnya adalah kontraksi otot-otot diafragma. Sering terjadi pada
stroke batang otak, bila menetap cari penyebab lain seperti uremia dan iritasi
diafragma
d. Edema cerebri
PROGNOSIS
1. Tergantung pada luas jaringan yang mengalami infark
2. 30 - 40% penderita pada TIA lebih dari satu kali mengalami infark serebral dalam 5
tahun

3. TIA yang amat sering, seringkali jinak


DIAGNOSA KEPERAWATAN
1. Gangguan ferfusi jaringan serebral berhubungan dengan oklusi otak, perdarahan,
vasospasme, dan edema cerebri.
2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keadaan neurologi muskuler
kelemahan , paraestesia, flaciad, paralisis.
3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi cerebral,
gangguan neuromuskuler, kehilangan kontrol tonus otot facial atau oral dan
kelemahan secara umum.
4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler, menurunnya
kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan
kelemahan otot mengunyah dan menelan
6. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan
yang tidak adekuat
7. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama

INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Gangguan ferfusi jaringan serebral berhubungan dengan oklusi otak, perdarahan,
vasospasme, dan edema cerebri.
Tujuan:
Perfusi jaringan otak dapat tercapai secara optimal
Kriteria hasil:
-

Klien tidak gelisah

Tidak ada keluhan nyeri kepala

GCS 456

Tanda-tanda vital normal (tekanan darah

mmHg, nadi: 60-100

kali/menit, suhu: 36,5-37,5 C, pernafasan 16-20 kali/menit)


No.
Intervensi
1. Berikan penjelasan kepada keluarga

Rasional
Keluarga lebih berpartisipasi dalam proses

klien tentang sebab-sebab gangguan

penyembuhan

2.

perfusi jaringan otak dan akibatnya


Anjurkan kepada klien untuk bed rest

Untuk mencegah perdarahan ulang

3.

total
Observasi dan catat tanda-tanda vital

Mengetahui setiap perubahan yang terjadi

4.

5.

dan kelainan tekanan intrakranial

pada klien secara dini dan untuk penetapan

tiap dua jam

tindakan yang tepat

Berikan posisi kepala lebih tinggi 15-

Mengurangi tekanan arteri dengan

30 dengan letak jantung (beri bantal

meningkatkan draimage vena dan

tipis)

memperbaiki sirkulasi serebral

Anjurkan klien untuk menghindari

Batuk dan mengejan dapat meningkatkan

batuk dan mengejan berlebihan

tekanan intra kranial dan potensial terjadi


perdarahan ulang

6.

Ciptakan lingkungan yang tenang

Rangsangan aktivitas yang meningkat

dan batasi pengunjung

dapat meningkatkan kenaikan TIK.


Istirahat total dan ketenangan mungkin
diperlukan untuk pencegahan terhadap
perdarahan dalam kasus stroke hemoragik /
perdarahan lainnya

7.

Kolaborasi dengan tim dokter dalam

Memperbaiki sel yang masih viabel

pemberian obat neuroprotektor


2. Gangguan mobilitas fisik berhubungan dengan keadaan neurologi muskuler kelemahan,
paraestesia, flaciad, paralisis.
Tujuan:
Klien mampu melaksanakan aktivitas fisik sesuai dengan kemampuannya.
Kriteria hasil:

No.
1.

Tidak terjadi kontraktur sendi

Bertambahnya kekuatan otot

Klien menunjukkan tindakan untuk meningkatkan mobilitas

Intervensi
Ubah posisi klien tiap 2 jam

Rasional
Menurunkan resiko terjadinnya iskemia
jaringan akibat sirkulasi darah yang jelek

2.

Ajarkan klien untuk melakukan

pada daerah yang tertekan


Gerakan aktif memberikan massa, tonus

latihan gerak aktif pada ekstrimitas

dan kekuatan otot serta memperbaiki fungsi

yang tidak sakit

jantung dan pernapasan

3.

Lakukan gerak pasif pada

Otot akan kehilangan tonus dan

ekstrimitas yang sakit

kekuatannya bila tidak dilatih untuk

4.

Berikan papan kaki pada ekstrimitas

digerakkan
Mencegah kekakuan pada posisi tubuh

dalam posisi fungsionalnya


Tinggikan kepala dan tangan
Kolaborasi dengan ahli fisioterapi

abnormal

5.
6.

untuk latihan fisik klien

tonus dan kekuatan otot

Latihan fisik menjaga dan meningkatkan

3. Gangguan komunikasi verbal berhubungan dengan gangguan sirkulasi cerebral,


gangguan neuromuskuler, kehilangan kontrol tonus otot facial atau oral dan kelemahan
secara umum.
Tujuan:
Proses komunikasi klien dapat berfungsi secara optimal
Kriteria hasil:
-

Terciptanya suatu komunikasi dimana kebutuhan klien dapat dipenuhi

Klien mampu merespon setiap berkomunikasi secara verbal maupun


isyarat

No.
1.

Intervensi
Berikan metode alternatif

Rasional
Memenuhi kebutuhan komunikasi sesuai

komunikasi, misal dengan bahasa

dengan kemampuan klien

2.

isarat
Antisipasi setiap kebutuhan klien

Mencegah rasa putus asa dan

3.

saat berkomunikasi
Bicaralah dengan klien secara pelan

ketergantungan pada orang lain


Mengurangi kecemasan dan kebingungan

dan gunakan pertanyaan yang

pada saat komunikasi

4.

jawabannya ya atau tidak


Anjurkan kepada keluarga untuk

Mengurangi isolasi sosial dan

5.

tetap berkomunikasi dengan klien


Hargai kemampuan klien dalam

meningkatkan komunikasi yang efektif


Memberi semangat pada klien agar lebih

6.

berkomunikasi
Kolaborasi dengan fisioterapis untuk

sering melakukan komunikasi


Melatih klien belajar bicara secara

latihan wicara

mandiri dengan baik dan benar.

4. Defisit perawatan diri berhubungan dengan kelemahan neuromuskuler, menurunnya


kekuatan dan kesadaran, kehilangan kontrol otot/koordinasi.
Tujuan

Kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi


Kriteria hasil
-

Klien dapat melakukan aktivitas perawatan diri sesuai dengan


kemampuan klien

Klien

dapat

mengidentifikasi

sumber

pribadi/komunitas

untuk

memberikan bantuan sesuai kebutuhan


No.
1.

2.

3.

Intervensi
Tentukan kemampuan dan tingkat

Rasional
Membantu dalam mengantisipasi/

kekurangan dalam melakukan

merencanakan pemenuhan kebutuhan

perawatan diri
Beri motivasi kepada klien untuk

secara individual
Meningkatkan harga diri dan semangat

tetap melakukan aktivitas dan beri

untuk berusaha terus-menerus

bantuan dengan sikap sungguh


Hindari melakukan sesuatu untuk

Klien mungkin menjadi sangat ketakutan

klien yang dapat dilakukan klien

dan sangat tergantung dan meskipun

sendiri, tetapi berikan bantuan sesuai

bantuan yang diberikan bermanfaat dalam

kebutuhan

mencegah frustasi, adalah penting bagi


klien untuk melakukan sebanyak mungkin
untuk diri-sendiri untuk mempertahankan

4.

5.

Berikan umpan balik yang positif

harga diri dan meningkatkan pemulihan


Meningkatkan perasaan makna diri dan

untuk setiap usaha yang

kemandirian serta mendorong klien untuk

dilakukannya atau keberhasilannya


Kolaborasi dengan ahli

berusaha secara kontinyu


Memberikan bantuan yang mantap untuk

fisioterapi/okupasi

mengembangkan rencana terapi dan


mengidentifikasi kebutuhan alat
penyokong khusus.

5. Resiko gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan kelemahan
otot mengunyah dan menelan
Tujuan
Tidak terjadi gangguan nutrisi
Kriteria hasil
- Berat badan dapat dipertahankan/ditingkatkan
- Hb dan albumin dalam batas normal

No.
1.

2.

3.

Intervensi
Tentukan kemampuan klien dalam

Rasional
Untuk menetapkan jenis makanan yang

mengunyah, menelan dan reflek

akan diberikan pada klien

batuk
Letakkan posisi kepala lebih tinggi

Untuk klien lebih mudah untuk menelan

pada waktu, selama dan sesudah

karena gaya gravitasi

makan
Stimulasi bibir untuk menutup dan

Membantu dalam melatih kembali sensori

membuka mulut secara manual

dan meningkatkan kontrol muskuler

dengan menekan ringan diatas


4.

bibir/dibawah dagu jika dibutuhkan


Letakkan makanan pada daerah

Memberikan stimulasi sensori (termasuk

mulut yang tidak terganggu

rasa kecap) yang dapat mencetuskan


usaha untuk menelan dan meningkatkan

5.

6.

7.

9.

Berikan makan dengan berlahan

masukan
Klien dapat berkonsentrasi pada

pada lingkungan yang tenang

mekanisme makan tanpa adanya

Mulailah untuk memberikan makan

distraksi/gangguan dari luar


Makan lunak/cairan kental mudah untuk

peroral setengah cair, makan lunak

mengendalikannya didalam mulut,

ketika klien dapat menelan air

menurunkan terjadinya aspirasi

Anjurkan klien menggunakan

Menguatkan otot fasial dan dan otot

sedotan meminum cairan

menelan dan menurunkan resiko

Anjurkan klien untuk

terjadinya tersedak
Dapat meningkatkan pelepasan endorfin

berpartisipasidalam program

dalam otak yang meningkatkan nafsu

latihan/kegiatan

makan

Kolaborasi dengan tim dokter untuk

Mungkin diperlukan untuk memberikan

memberikan ciran melalui iv atau

cairan pengganti dan juga makanan jika

makanan melalui selang

klien tidak mampu untuk memasukkan


segala sesuatu melalui mulut

6. Gangguan eliminasi alvi (konstipasi) berhubngan dengan imobilisasi, intake cairan yang
tidak adekuat
Tujuan:

Klien tidak mengalami kopnstipasi


Kriteria hasil:
-

Klien dapat defekasi secara spontan dan lancar tanpa menggunakan


obat

Konsistensi feses lunak

Tidak teraba masa pada kolon ( scibala )

Bising usus normal ( 7-12 kali per menit )

No.
Intervensi
1. Berikan penjelasan pada klien dan
2.
3.

4.

5.

Rasional
Klien dan keluarga akan mengerti tentang

keluarga tentang penyebab konstipasi


Auskultasi bising usus

penyebab obstipasi
Bising usus menandakan sifat aktivitas

Anjurkan pada klien untuk makan

peristaltik
Diit seimbang tinggi kandungan serat

makanan yang mengandung serat

merangsang peristaltik dan eliminasi

Berikan intake cairan yang cukup (2

reguler
Masukan cairan adekuat membantu

liter perhari) jika tidak ada

mempertahankan konsistensi feses yang

kontraindikasi

sesuai pada usus dan membantu eliminasi

Lakukan mobilisasi sesuai dengan

reguler
Aktivitas fisik reguler membantu eliminasi

keadaan klien

dengan memperbaiki tonus oto abdomen


dan merangsang nafsu makan dan

6.

Kolaborasi dengan tim dokter dalam

peristaltik
Pelunak feses meningkatkan efisiensi

pemberian pelunak feses (laxatif,

pembasahan air usus, yang melunakkan

suppositoria, enema)

massa feses dan membantu eliminasi

7. Resiko gangguan integritas kulit berhubungan dengan tirah baring lama


Tujuan:
Klien mampu mempertahankan keutuhan kulit
Kriteria hasil:
-

Klien mau berpartisipasi terhadap pencegahan luka

Klien mengetahui penyebab dan cara pencegahan luka

Tidak ada tanda-tanda kemerahan atau luka

No.
1.

Intervensi
Anjurkan untuk melakukan latihan

Rasional
Meningkatkan aliran darah kesemua daerah

ROM (range of motion) dan


2.
3.

4.

5.

mobilisasi jika mungkin


Rubah posisi tiap 2 jam

Menghindari tekanan dan meningkatkan

Gunakan bantal air atau pengganjal

aliran darah
Menghindari tekanan yang berlebih pada

yang lunak di bawah daerah-daerah

daerah yang menonjol

yang menonjol
Lakukan masase pada daerah yang

Menghindari kerusakan-kerusakan kapiler-

menonjol yang baru mengalami

kapiler

tekanan pada waktu berubah posisi


Observasi terhadap eritema dan

Hangat dan pelunakan adalah tanda

kepucatan dan palpasi area sekitar

kerusakan jaringan

terhadap kehangatan dan pelunakan


6.

jaringan tiap merubah posisi


Jaga kebersihan kulit dan seminimal

Mempertahankan keutuhan kulit

mungkin hindari trauma, panas


terhadap kulit
DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, L.J., 1999. Rencana Asuhan & Dokumentasi Keperawatan. Ed. 2 Jakarta: EGC
Doengoes, Marilynn E. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif., et all. 1999. Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI: Media
Aescullapius.
Price, Anderson Sylvia. 1997. Patofisiologi. Ed. I. Jakarata: EGC
Smeltzer, Suzanne C.; Bare, Brenda G. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah
Brunner Suddarth. Jakarta: EGC

POHON MASALAH

Trombosis cerebral

Emboli cerebral
Sumbatan pembuluh darah di otak

CEREBRUM (otak
besar)

Gg fs
motorik

Menurun 25 30 ml/100 gr
otak/menit
Gg fs
Gg persepsi
sensori

Gg perfusi jaringan
Penglihatan:

Iskemik otak
Kelemahan angg
gerak

Kelemahan otot
spicter

<24 jam

Penurinan tk
kesadaran
Apatis s.d
koma
Infark

Hemiplegi

24 jam 21 hari

Transient Paraplegi
Ischemic
Attack
Tetraplegi

Gg
komunika
si verbal

inkontinen
sia urin /
feses

Menekan
medula
oblongata

serebri

Diplopia
Hilang separuh
lapang pandang

kematian

- Disfasia
- Disatria

CEREBELUM
(otak kecil)

Menurun > =18 ml/100gr otak/mnt

vegetatif

bicara

BATANG
OTAK

Suplai darah dan O2 ke otak menurun

Konstip
asi

GG pola
napas

Reflek
patologi
GG

STROKE KOMPLIT
mobilitas
Reflek
batuk
menurun

Pandangan kabur
Peraba:

Parastesi
Stroke In Evolution
Retensi (dalam perkembangan)
urin

Hemistesi

Gg mobilitas

Kelainanfisik
neurologik
sementara

SembuhTirah
totalbaring
< 24 jam

Gejala neurologik bertambah

Pendengaran:

Sembuh total beberapa hari

Pengobatan dan perawatan


tidak akurat
Pengecap:
Hilang rasa
ujung lidah

Risiko gangguan
integritas kulit

Gg pemenuhan nutrisi:
kurang dari kebutuhan

Reflek
menelan
turun

Gerakan
involunter/ink
oordinasi

Defisit
motorik

Gg
bersihan
jalan nps

fisik