Anda di halaman 1dari 64

Pengertian Evaluasi Pembelajaran

Dalam sebuah kegiatan pembelajaran terdapat banyak sekali hal yang harus
diperhatikan oleh seorang tenaga pendidik. Yang mana dalam kegiatan
pembelajaran tersebut para tenaga pendidik memiliki tugas dan tanggung jawab
terhadap keberhasilan pembelajaran. Bukan hanya menyoalkan tentang strategi
pembelajaran yang diterapkan atau target yang telah dicapai saja tetapi seorang
tenaga pendidik juga harus dapat mengevaluasi secara keseluruhan terhadap apa
yang terjadi selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Nah membicarakan
tentang evaluasi ini mungkin yang terlintas dalam benak seseorang adalah sebuah
kegiatan mereka ulang apa yang telah dilakukan sebelumnya untuk mengetahui
tentang kelebihan dan kekurangan suatu hal. Lalu jika bagaimanakah kiranya jika
kegiatan evaluasi ini kita hubungkan dengan pembelajaran? Tentu akan menjadi
sebuah hal yang sangat menarik untuk kita perbincangkan. Karenanya simak
beberapa ulasan berikut ini agar anda dapat menemukan berbagai informasi
menarik dan penting tentangnya.
Evaluasi pembelajaran merupakan sebuah kegiatan mengevaluasi atau mengoreksi
hal-hal yang telah terjadi atau
dilakukan selama kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Atau dengan
kata lain merupakan sebuah kegiatan mereka ulang untuk mengetahui hal-hal
penting baik yang berupa kelebihan maupun kekurangan yang terjadi pada
kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung dengan harapan agar dapat
melakukan yang terbaik pada saat kegiatan pembelajaran yang akan dilaksanakan
nantinya.
Bagi seorang tenaga pendidik yang memiliki wewenang untuk memotori kegiatan
pembelajaran maka evaluasi pembelajaran ini sangat penting untuk mereka
perhatikan. Evaluasi pembelajaran ini memiliki berbagai fungsi utama yang
diantaranya telah saya rangkum di bawah ini:
1. Evaluasi pembelajaran sangat baik digunakan untuk mengetahui
kekurangan-kekurangan yang terdapat pada saat pembelajaran yang telah

berlangsung. Dengan mengetahui kekurangan pembelajaran yang


terdahulu maka seorang tenaga pendidik akan dapat melakukan perbaikan
pada pembelajaran yang selanjutnya.
2. Lalu selain kekurangan tenaga pendidik juga akan menemukan kelebihan
yang dengannya dapat diupayakan untuk dipertahankan atau ditingkatkan
pada pembelajaran yang selanjutnya.
3. Sebagai dasar perencanaan kegiatan pembelajaran yang akan datang.
Seorang tenaga pendidik dapat menjadikan hasil evaluasi pembelajaran
tersebut sebagai dasar penentuan target yang hendak dicapai pada
pembelajaran yang akan dilaksanakan nantinya.
Dan demikianlah beberapa ulasan yang dapat saya sampaikan tentang evaluasi
pembelajaran ini, semoga dengannya memberi banyak manfaat bagi para
pembaca.

EVALUASI PEMBELAJARAN
Evaluasi dapat diartikan sebagai suatu kegiatan yang terencana untuk mengetahui
keadaan suatu objek dengan menggunakan instrumen dan hasilnya dibandingkan
dengan suatu tolak ukur untuk memperoleh suatu kesimpulan.
Fungsi utama evaluasi adalah menelaah suatu objek atau keadaan untuk
mendapatkan informasi yang tepat sebagai dasar untuk pengambilan keputusan
Sesuai pendapat Grondlund dan Linn (1990) mengatakan bahwa evaluasi
pembelajran adalah suatu proses mengumpulkan, menganalisis dan
menginterpretasi informasi secaras sistematik untuk menetapkan sejauh mana
ketercapaian tujuan pembelajaran.
Untuk memeperoleh informasi yang tepat dalam kegiatan evaluasi dilakukan
melalui kegiatan pengukuran. Pengukuran merupakan suatu proses pemberian
skor atau angka-angka terhadap suatu keadaan atau gejala berdasarkan aturaaturan tertentu. Dengan demikian terdapat kaitan yang erat antara pengukuran
(measurment) dan evaluasi (evaluation) kegiatan pengukuran merupakan dasar
dalam kegiatan evaluasi.
Evaluasi adalah proses mendeskripsikan, mengumpulkan dan menyajikan suatu
informasi yang bermanfaat untuk pertimbangan dalam pengambilan keputusan.
Evaluasi pembelajaran merupakan evaluasi dalam bidang pembelajaran. Tujuan
evaluasi pembelajaran adalah untuk menghimpun informasi yang dijadikan dasar
untuk mengetahui taraf kemajuan, perkembangan, dan pencapaian belajar siswa,

serta keefektifan pengajaran guru. Evaluasi pembelajaran mencakup kegiatan


pengukuran dan penilaian. Bila ditinjau dari tujuannya, evaluasi pembelajaran
dibedakan atas evaluasi diagnostik, selektif, penempatan, formatif dan sumatif.
Bila ditinjau dari sasarannya, evaluasi pembelajaran dapat dibedakan atas evaluasi
konteks, input, proses, hasil dan outcom. Proses evaluasi dilakukan melalui tiga
tahap yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, pengolahan hasil dan pelaporan.
Jenis-jenis Evaluasi Pembelajaran
A. Jenis evaluasi berdasarkan tujuan dibedakan atas lima jenis evaluasi :
1. Evaluasi diagnostik
Evaluasi diagnostik adalah evaluasi yang di tujukan untuk menelaah
kelemahan-kelemahan siswa beserta faktor-faktor penyebabnya.
2. Evaluasi selektif
Evaluasi selektif adalah evaluasi yang di gunakan untuk memilih siwa
yang paling tepat sesuai dengan kriteria program kegiatan tertentu.
3. Evaluasi penempatan
Eva;uasi penempatan adalah evaluasi yang digunakan untuk
menempatkan siswa dalam program pendidikan tertentu yang sesuai
dengan karakteristik siswa.
4. Evaluasi formatif
5. Evaluasi formatif
Evaluasi formatif adalah evaluasi yang dilaksanakan untuk memperbaiki
dan meningkatan proses belajar dan mengajar.
6. Evaluasi sumatif
Evaluasi sumatif adalah evaluasi yang dilakukan untuk menentukan hasil
dan kemajuan bekajra siswa.
B. Jenis evaluasi berdasarkan sasaran :
1. Evaluasi konteks
Evaluasi yang ditujukan untuk mengukur konteks program baik
mengenai rasional tujuan, latar belakang program, maupun
kebutuhan-kebutuhan yang muncul dalam perencanaan
2. Evaluasi input
Evaluasi yang diarahkan untuk mengetahui input baik sumber daya
maupun strategi yang digunakan untuk mencapai tujuan.
3. Evaluasi proses
Evaluasi yang di tujukan untuk melihat proses pelaksanaan, baik
mengenai kalancaran proses, kesesuaian dengan rencana, faktor
pendukung dan faktor hambatan yang muncul dalam proses
pelaksanaan, dan sejenisnya.
4. Evaluasi hasil atau produk

Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil program yang dicapai


sebagai dasar untuk menentukan keputusan akhir, diperbaiki,
dimodifikasi, ditingkatkan atau dihentikan.
5. Evaluasi outcom atau lulusan
Evaluasi yang diarahkan untuk melihat hasil belajar siswa lebih
lanjut, yankni evaluasi lulusan setelah terjun ke masyarakat.
C. Jenis evalusi berdasarkan lingkup kegiatan pembelajaran :
1. Evaluasi program pembelajaran
Evaluais yang mencakup terhadap tujuan pembelajaran, isi
program pembelajaran, strategi belajar mengajar, aspe-aspek
program pembelajaran yang lain.
2. Evaluasi proses pembelajaran
Evaluasi yang mencakup kesesuaian antara peoses pembelajaran
dengan garis-garis besar program pembelajaran yang di tetapkan,
kemampuan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran,
kemampuan siswa dalam mengikuti proses pembelajaran.
3. Evaluasi hasil pembelajaran
Evaluasi hasil belajar mencakup tingkat penguasaan siswa terhadap
tujuan pembelajaran yang ditetapkan, baik umum maupun khusus,
ditinjau dalam aspek kognitif, afektif, psikomotorik.
D. Jenis evaluasi berdasarkan objek dan subjek evaluasi
Berdasarkan objek :
1. Evaluasi input
Evaluasi terhadap siswa mencakup kemampuan kepribadian, sikap,
keyakinan.
2. Evaluasi tnsformasi
Evaluasi terhadao unsur-unsur transformasi proses pembelajaran
anatara lain materi, media, metode dan lain-lain.
3. Evaluasi output
Evaluasi terhadap lulusan yang mengacu pada ketercapaian hasil
pembelajaran.
Berdasarkan subjek :
1. Evaluasi internal
Evaluasi yang dilakukan oleh orang dalam sekolah sebagai
evaluator, misalnya guru.
2. Evaluasi eksternal
3. Evaluasi yang dilakukan oleh orang luar sekolah sebagai evaluator, misalnya
orangtua, masyarakat

Evaluasi Pembelajaran

BAB II
Tahap Tahap Evaluasi

A.

Evaluasi Proses Pembelajaran


Evaluasi proses pembelajaran merupakan tahap yang perlu dilakukan oleh
guru untuk menentukan kualitas pembelajaran. Kegiatan ini sering disebut juga
sebagai refleksi proses pembelajaran, karena kita akan menemukan kelebihan dan
kekurangan dari proses pembelajaran yang telah dilakukan.
Dalam Permen No. 41 tahun 2007 tentang Standar proses dinyatakan bahwa
evaluasi proses pembelajaran dilakukan untuk menentukan kualitas pembelajaran
secara keseluruhan, mencakup tahap perencanaan proses pembelajaran,
pelaksanaan proses pembelajaran, dan penilaian hasil pembelajaran. Evaluasi
proses pembelajaran diselenggarakan dengan cara:

a.

Membandingkan proses pembelajaran yang dilaksanakan guru dengan standar

b.

proses
Mengidentifikasi kinerja guru dalam proses pembelajaran sesuai dengan
kompetensi guru
Dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran seorang guru dapat
melakukannya dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut 1[1]:

1.

Evaluasi Diri
Evaluasi proses pembelajaran dapat dilakukan oleh guru yang bersangkutan
secara mandiri. Guru dapat menuangkan evaluasi yang telah dilakukannya dalam
1[1] E. Mulyasa, Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK. Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2004, hal.169

jurnal refleksi pembelajaran. Guru dapat mengisi jurnal ini pada setiap pelajaran
yang telah diberikan/ diajarkan atau selama guru tersebut melaksanakan pekerjaan
sehari-harinya sebagai guru Jurnal merekam renungan dan refleksi dari pikiran,
seperti:
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
2.

Apa yang saya ajarkan hari ini?


Apa yang masih membingungkan bagi siswa?
Apakah saya menemukan masalah dan isu yang tidak diharapkan?
Apa jenis pembelajaran tingkat tinggi yang saya sampaikan?
Apa jenis pembelajaran tingkat rendah yang saya sampaikan?
Apakah siswa saya dapat menerima materi yang saya ajarkan?
Apakah saya telah membelajarkan siswa?
Bagaimana saya memperbaiki teknik pembelajaran?
Apa yang ingin dan perlu kuketahui lebih banyak lagi?
Apa sumber belajar yang memberi ilham dan menyenangkan saya?
Apakah tujuan pembelajaran dapat tercapai?
Evaluasi Kolaboratif
Guru dapat melakukan evaluasi proses pembelajaran secara kolaboratif.
Kolaborasi dapat dilakukan dengan rekan guru atau siswa.

3.

Dokumentasi Proses Pembelajaran


Dalam evaluasi proses pembelajaran, yang perlu diperhatikan juga adalah
mendokumentasikan berbagai hal yang menyangkut proses pembelajaran. Hal-hal
yang perlu di dokumentasikan adalah:

a.
b.

dokumen silabus dan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP)


dokumen hasil diskusi, kliping, laporan hasil analis terhadap suatu masalah yang

c.

menunjukkan keterlibatan siswa dalam kegiatan belajar mengajar


dokumen pemanfaatan berbagai fasilitas yang menunjukkan di fungsikannya

d.

sumber-sumber belajar
dokumen yang menunjukkan adanya kegiatan mengunjungi perpustakaan,
mengakses internet, kelompok ilmiah remaja, kelompok belajar bahasa asing
(bahasa inggris, bahasa arab, bahasa jepang, bahasa mandarin, bahasa perancis,
dan lain-lain), mengunjungi sumber belajar di luar lingkungan sekolah (museum,
kebun raya, pusat industri, dan lain-lain) yang menunjukkan adanya program
pembiasaan mencari informasi/pengetahuan lebih lanjut dari berbagai sumber

e.

belajar
dokumen pemanfaatan lingkungan baik di dalam maupun di luar kelas seperti
kebun untuk praktek biologi, daur ulang sampah, kunjungan ke laboratorium

alam, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk


memanfaatkan lingkungan secara produktif dan bertanggung jawab
dokumen kegiatan pekan bahasa, seni dan budaya, pentas seni, pameran lukisan,

f.

teater, latihan tari, latihan musik, ketrampilan membuat barang seni, karya
teknologi tepat guna dan lain sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman
g.

mengekspresikan diri melalui kegiatan seni dan budaya


dokumen kegiatan megunjungi pameran lukisan, konser musik, pagelaran tari,
musik, drama, dan sebagainya yang menunjukkan adanya pengalaman

h.

mengapresiasikan karya seni dan budaya


dokumen kegiatan mengikuti pertandingan antar kelas, tingkat kabupaten /
provinsi / nasional yang menunjukkan adanya pengalaman belajar untuk
menumbuhkan sikap kompetitif dan sportif.
dokumen pembiasaan dan pengamalan ajaran agama seperti aktivitas ibadah

i.

bersama, peringatan hari-hari besar agama, membantu warga sekolah yang


memerlukan
dokumen penugasan latihan ketrampilan menulis siswa, seperti: hasil portofolio,

j.

buletin siswa, majalah dinding, laporan penulisan karya tulis, laporan kunjungan
k.
B.

lapangan, dan lain-lain


dokumen laporan kepengawasan proses pembelajaran yang dilakukan oleh kepala
sekolah
Pelaksanaan Evaluasi
Pada hakekatnya evaluasi merupakan suatu kegiatan untuk mengukur
perubahan perilaku yang telah terjadi. Pada umumnya hasil belajar akan
memberikan pengaruh dalam dua bentuk:

1. Peserta akan mempunyai perspektif terhadap kekuatan dan kelemahannya atas


perilaku yang diinginkan;
2. Mereka mendapatkan bahwa perilaku yang diinginkan itu telah meningkat baik
setahap atau dua tahap, sehingga sekarang akan timbul lagi kesenjangan antara
penampilan perilaku yang sekarang dengan tingkah laku yang diinginkan.
Dalam melaksanakan evaluasi pembelajaran perlu berpegang pada prinsipprinsip pelaksanaan evaluasi yang benar. Prinsip utama yang perlu diperhatikan

adalah harus sesuai dengan perencanaan yang telah disusun. Selain itu, juga perlu
membeprtimbangkan beberapa aturan yang baik, yakni 2[2]:
1. Dalam mengikuti evaluasi, siswa di usahakan memiliki persiapan baik secara fisik
maupun psikis
2. Situasi dan kondisi tempat pelaksanaan evaluasi harus tenang dan mendukung
3. Manajemen pelaksanaan evaluasi harus mendukung, baik dari sisi evaluator
maupun administrasinyaan secar objektif, dalam arti baik peserta tes maupun
evaluator bisa melaksanakan kejujuran.
4. Dilakukan secara objektif, dalam arti baik peserta tes maupun evaluator bisa
melaksanakan kejujuran.
Pada tahap ini kegiatan guru adalah melakukan penilaian atas proses
pembelajaran yang telah dilakukan. Evaluasi adalah alat untuk mengukur
ketercapaian tujuan. Dengan evaluasi, dapat diukur kuantitas dan kualitas
pencapaian tujuan pembelajaran. Sebaliknya, oleh karena evaluasi sebagai alat
ukur ketercapaian tujuan, maka tolak ukur perencanaan dan pengembangannya
adalah tujuan pembelajaran.
Dalam kaitannya dengan pembelajaran, Moekijat (seperti dikutip Mulyasa)
mengemukakan teknik evaluasi belajar pengetahuan, keterampilan, dan sikap
sebagai berikut:
(1) Evaluasi belajar pengetahuan, dapat dilakukan dengan ujian tulis, lisan, dan
daftar isian pertanyaan; (2) Evaluasi belajar keterampilan, dapat dilakukan dengan
ujian praktek, analisis keterampilan dan analisis tugas serta evaluasi oleh peserta
didik sendiri; (3) Evaluasi belajar sikap, dapat dilakukan dengan daftar sikap isian
dari diri sendiri, daftar isian sikap yang disesuaikan dengan tujuan program, dan
skala deferensial sematik (SDS)
Apapun bentuk tes yang diberikan kepada peserta didik, tetap harus sesuai dengan
persyaratan yang baku, yakni tes itu harus:
1. Memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau dinilai,
terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang telah dikaji);
2. Mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh seorang
peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama);
2[2] http://edu-articles.com/evaluasi-proses-pembelajaran/. Diunduh : Selasa, 25 September 2012
pukul 20.00 WIB

3. Menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur, disamping


perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi
yang tidak ada hubungannya dengan maksud tes);
4. Pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis.
C.
Prosedur Pelaksanaan Evaluasi
Prosedur evaluasi yaitu terdiri atas3[3]:
1.

Perencanaan Evaluasi
Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam kegiatan evaluasi adalah
membuat perencanaan. Perencanaan ini penting karena akan mempengaruhi
langkah-langkah selanjutnya, bahkan mempengaruhi keefektifan prosedur
evaluasi secara menyeluruh. Implikasinya adalah perencanaan evaluasi harus
dirumuskan secara jelas dan spesifik, terurai dan komprehensif sehingga
perencanaan tersebut bermakna dalam menentukan langkah-langkah selanjutnya.
Melalui perencanaan evaluasi yang matang inilah kita dapat menetapkan tujuantujuan tingkah laku atau indikator yang akan dicapai, dapat mempersiapkan
pengumpulan data dan informasi yang dibutuhkan serta dapat menggunakan
waktu yang tepat. Dalam perencanaan penilaian hasil belajar ada beberapa faktor,
yaitu :

a.

Menentukan tujuan
Tujuan evaluasi proses pembelajaran dapat dirumuskan dalam bentuk
pernyataan atau pertanyaan. Secara umum tujuan evaluasi proses pembelajaran
untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: (1) Apakah strategi pembelajaran
yang dipilih dan dipergunakan oleh guru efektif, (2) Apakah media pembelajaran
yang digunakan oleh guru efektif, (3) Apakah cara mengajar guru menarik dan
sesuai dengan pokok materi sajian yang dibahas, mudah diikuti dan berdampak
siswa mudah mengerti materi sajian yang dibahas, (4) Bagaimana persepsi siswa
terhadap materi sajian yang dibahas berkenaan dengan kompetensi dasar yang
akan dicapai, (5) Apakah siswa antusias untuk mempelajari materi sajian yang
dibahas, (6) Bagaimana siswa mensikapi pembelajaran yang dilaksanakan oleh

3[3] Zainal Arifin. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja


Rosdakarya Offset, hal. 88

guru, (7) Bagaimanakah cara belajar siswa mengikuti pembelajaran yang


dilaksanakan oleh guru4[4].
b.

Menyusun Kisi-kisi (Layout/Blue-Print/Table of Specification)


Kisi-kisi adalah suatu format yang berisi komponen identitas dan komponen
matriks untuk memetakan soal dari berbagai topik/ satuan bahasan sesuai dengan
kompetensi dasarnya masing-masing. Fungsi adalah sebagai pedoman bagi guru
untuk membuat soal menjadi tes. Adapun syarat-syarat kisi-kisi yang baik adalah :

a) Mewakili isi kurikulum yang akan diujikan.


b) Komponen-komponennya rinci, jelas, dan mudah dipahami.
c) Soal-soalnya dapat dibuat sesuai dengan indicator dan bentuk soal yang
ditetapkan5[5].
Contoh Kisi-kisi Soal :
Nama Madrasah
Program/Jurusan
Mata Pelajaran

:
:
:

Semester / Tahun

Kurikulum Acuan

Alokasi Waktu

Jumlah Soal

Standar Kompetensi :
Kompetensi

Materi

Dasar

(PB/SPB)

Indikator

Bentuk Soal *)

Nomor Urut Soal

*) Apabila bentuk soal yang digunakan hanya satu, sebaiknya dimasukkan ke


komponen identitas.
Untuk menyusun kisi-kisi ini, sebelumnya guru harus mempelajari silabus
mata pelajaran, karena tidak mungkin kisi-kisi dibuat tanpa adanya silabus. Dalam
silabus biasanya sudah terdapat standar kompetensi, kompetensi dasar, dan urutan
materi yang telah disampaikan. Guru tinggal merumuskan indikator berdasarkan
sub topik/sub pokok bahasan. Indikator adalah rumusan pernyataan yang
4[4] http://www.majalahpendidikan.com/2011/03/tahap-tahap-proses-pembelajaran.html.
Diunduh: Rabu, 26 September 2012 pukul 21.15 WIB
5[5] Zainal Arifin, Op. Cit., hal. 92-96

menggunakan kata kerja operasional sesuai dengan materi yang akan diukur. Ciriciri indikator adalah :
1. Mengandung satu kata kerja operasional yang dapat diukur (measurable) dan
dapat diamati (observable)
2. Sesuai dengan materi yang hendak diukur.
3. Dapat dibuatkan soalnya sesuai dengan bentuk yang telah ditetapkan.
Contoh :
1. Menjelaskan peranan orang tua dalam keluarga.
2. Menyebutkan lima faktor yang mempengaruhi pendidikan dalam keluarga.
3. Membedakan antara halal dan haram.
Untuk itu, guru harus memperhatikan domain dan jenjang kemampuan yang
akan diukur, seperti : recall, konperhensi, dan aplikasi. Kemampuan recall
berkenaan dengan aspek-aspek pengetahuan tentang istilah-istilah, definisi, fakta,
konsep, metode dan prinsip-prinsip. Sedangkan kemampuan konperhensi
berkenaan dengan kemampuan antara lain : menjelaskan / menyimpulkan suatu
informasi, menafsirkan fakta (grafik, diagram, tabel, dll), mentransferkan
pernyataan dari suatu bentuk ke dalam bentuk yang lain, misalnya dari pernyataan
verbal ke dalam bentuk rumus, memperkirakan akibat dari suatu situasi.
Kemampuan aplikasi meliputi kemampuan antara lain : menerapkan hukumhukum, prinsip-prinsip atau teori-teori dalam suasana yang sesungguhnya,
memecahkan masalah, membuat grafik, diagram, dll, mendemontrasikan
penggunaan suatu metode, prosedur, dll.
Setelah menyusun kisi-kisi, kemudian guru membuat soal yang sesuai dengan
kisi-kisi, menyusun lembar jawaban siswa, membuat kunci jawaban, dan
membuat pedoman pengolahan skor. Selanjutnya, melaksanakan uji-coba.
c. Uji Coba
Jika soal dan perangkatnya sudah disusun dengan baik, maka perlu
diujicobakan terlebih dahulu di lapangan. Tujuannya untuk melihat soal-soal mana
yang perlu diubah, diperbaiki, bahkan dibuang sama sekali. Soal yang baik adalah
soal yang sudah mengalami beberpa kali uji coba dan revisi, yang didasarkan atas

analisis empiris dan rasional. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki


kelemahan-kelemahan setiap soal
2.

Menentukan desain evaluasi


Desain evaluasi proses pembelajaran mencakup rencana evaluasi proses dan
pelaksana evaluasi. Rencana evaluasi proses pembelajaran berbentuk matriks
dengan kolom-kolom berisi tentang: No. Urut, Informasi yang dibutuhkan,
indikator,metode yang mencakup teknik dan instrumen, responden dan waktu.
Selanjutnya pelaksana evaluasi proses adalah guru mata pelajaran yang
bersangkutan.

3.

Penyusunan instrumen evaluasi


Langkah-langkah penyusunan instrumen adalah :

1) Merumuskan tujuan yang akan dicapai dengan instrumen yang akan disusun.
2) Membuat kisi-kisi yang mencanangkan tentang perincian variabel dan jenis
instrument yang akan digunakan untuk mengukur bagian variabel yang
bersangkutan.
3) Membuat butir-butir instrument evaluasi pembelajaran yang dibuat berdasarkan
kisi-kisi, dan
4) Menyunting instrumen evaluasi pembelajaran yang meliputi: mengurutkan butir
menurut sistematika yang dikehendaki evaluator untuk mempermudah pengolahan
data, menuliskan petunjuk pengisian dan indentitas serta yang lain, dan membuat
pengantar pengisian instrument.
Instrumen evaluasi proses pembelajaran untuk memperoleh informasi
deskriptif dan/atau informasi judgemental dapat berwujud (1) Lembar pengamatan
untuk mengumpulkan informasi tentang kegiatan belajar siswa dalam mengikuti
pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru dapat digunakan oleh guru sendiri atau
oleh siswa untuk saling mengamati, dan (2) Kuesioner yang harus dijawab oleh
siswa berkenaan dengan strategi pembelajaran yang dilaksanakan guru, metode
dan media pembelajaran yang digunkan oleh guru, minat, persepsi maha-siswa
tentang pembelajaran untuk suatu materi pokok sajian yang telah terlaksana.
4.

Pengumpulan data atau informasi


Pengumpulan data atau informasi dilaksanakan secara obyektif dan terbuka
agar diperoleh informasi yang dapat dipercaya dan bermanfaat bagi peningkatan

mutu pembelajaran. Pengumpulan data atau informasi dilaksanakan pada setiap


akhir pelaksanaan pembelajaran untuk materi sajian berkenaan dengan satu
kompetensi dasar dengan maksud guru dan siswa memperoleh gambaran
menyeluruh dan kebulatan tentang pelaksanaan pembelajaran yang telah
dilaksanakan untuk pencapaian penguasaan satu kompetensi dasar6[6].
Dalam pengumpulan data dapat diterapkan berbagai teknik pengumpulan data
diantaranya :
1)
2)
3)
4)
5.

Kuesioner,
Wawancara,
Pengamatan,
Studi Kasus.
Analisis dan interpretasi
Analisis dan interpretasi hendaknya dilaksanakan segera setelah data atau
informasi terkumpul. Analisis berwujud deskripsi hasil evalusi berkenaan dengan
proses pembelajaran yang telah terlaksana; sedang interpretasi merupakan
penafsiran terhadap deskripsi hasil analisis hasil analisis proses pembelajaran.
Analisis dan interpretasi dapat dilaksanakan bersama oleh guru dan siswa agar
hasil evaluasi dapat segera diketahui dan dipahami oleh guru dan siswa sebagai
bahan dan dasar memperbaiki pembelajaran selanjutnya.

6.

Tindak lanjut
Tindak lanjut merupakan kegiatan menindak lanjuti hasil analisis dan
interpretasi. Dalam evaluasi proses pembelajaran tindak lanjut pada dasarnya
berkenaan dengan pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya dan evaluasi
pembelajarannya. Pembelajaran yang akan dilaksanakan selanjutnya merupakan
keputusan tentang upaya perbaikan pembelajaran yang akan dilaksanakan sebagai
upaya peningkatan mutu pembelajaran; sedang tindak lanjut evaluasi
pembelajaran berkenan dengan pelaksanaan dan instrumen evaluasi yang telah
dilaksanakan mengenai tujuan, proses dan instrumen evaluasi proses pembelajaran

7.

Pengolahan Hasil Evaluasi


Langkah pertama yang perlu dilakukan dalam mengolah hasil evaluasi adalah
mengadakan penyekoran terhadap jawaban siswa. Ada beberapa cara yang bisa
6[6] http://edu-articles.com/evaluasi-proses-pembelajaran/ . Diunduh : Rabu, 26 September 2012
pukul 21.00 WIB

dilakukan dalam penyekoran hasil tes, sesuai dengan bentuk-bentuk tes yang
digunakan7[7].
1)

Pemberian skor untuk tes bentuk objektif Secara sederhana,


Cara memberikan skor terhadap tes hasil objektif dapat dilakukan dengan
memberikan skor 1 untuk jawaban benar dan memberikan skor 0 untuk jawaban
salah. Total skor diperoleh dengan menjumlahkan skor yang diperoleh dari semua
soal. Beberapa jenis tes bentuk objektif, antara lain tes benar salah (true false),
pilihan ganda (multiplechoice), menjodohkan (matching), melengkapi isian
(completion), dan jawaban singkat (short answer). Cara pengolahan terhadap
masing-masing jenis tersebut memiliki karakteristik tersendiri.

2)

Pemberian skor tes bentuk essai.


Ada dua cara memberikan hasil skor terhadap hasil tes essai, yaitu cara
penyekoran analitik (analitical scoring method) dan cara penyekoran holistic
(holistic scoring method). Cara penyekoran analitik adalah cara penyekoran yang
mengacu pada elemen-elemen jawaban ideal. Tinggi rendahnya skor jawaban
siswa, bergantung pasa lengkap tidaknya elemen yang dituju. Sedanglan cara
penyekoran holistic adalah cara penyekoran yang didasarkan pada keluasan
rewspon jawaban yang diberikan. Tinggi rendahnya skor jawaban siswa
bergantung pada kualitas keseluruhan jawaban siswa.
Ada dua tahap yang dilakukan dalam melakukan pengolahan hasil evaluasi,
yaitu memberikan skor (scoring) dan memberikan penilaian (grading). Untuk
mengolah data hasil evaluasi bisa menggunakan beberapa teknik analisis data.
Interpretasi data bisa dilakukan dengan menggunakan pendekatan penilaian acuan
patokan (creterion referenced interpretation) atau penilaian acuan kelompok
(norm referenced interpretation).
Penilaian acuan patokan adalah penilaian yang dalam menginterpretasi hasil
pengukuran secara langsung didasarkan pada standar performansi tertentu yang
ditetapkan. Untuk analisis data bisa menggunakan analisis presentasi
ketercapaian. Sedangkan penilaian acuan kelompok adalah penilaian yang dalam
menginterpretasi data hasil pengukuran didasarkan pada prestasi anggota
7[7] Zainal Arifin, Op. Cit., hal. 107-109

kelompok lainnya. Beberapa teknik analisis yang bisa digunakan untuk mengolah
data dengan pendekatan acuan kelompok adalah deviasi standar, mean, standar
skor, rank, jenjang persentil dan sejenisnya.
Untuk mengolah hasil pengukuran dalam evaluasi pembelajaran, banyak
teknis analisis data yang bisa digunakan. Analisis data pada hakikatnya adalah
mengolah angka-angka yang diperoleh dari skor mentah menjadi suatu skor yang
mudah di baca dan di simpulkan. Beberapa teknis analisis data yang banyak
digunakan untuk mengolah data hasil evaluasi pembelajaran adalah sebagai
berikut :
a.

Tendensi sentral atau ukuran kecenderungan memusat.


Ada tiga teknik utama yang digunakan untuk mengukur tendensi sentral, yakni
mean, media dan mode.

b.

Variabilitas adalah keanekaragaman angka-angka dalam suatu distribusi skor.


Variabilitas merupakan variasi sebaran skor dari mean.

c.
d.
e.
f.
g.
h.
8.

Skor standar
Skor komposit
Persentil dan jenjang persentil
Penentuan nilai akhir
Analisis hubungan
Analisis data kualitatif
Pembuatan Laporan Hasil Evaluasi
Untuk dapat memberikan informasi yang baik, sebagai dasar pengambilan
keputusan, maka perlu dibuat laporan hasil evaluasi pembelajaran. Ada beberapa
prinsip yang perlu diperhatikan dalam membuat laporan hasil evaluasi. Laporan
hasil evaluasi harus8[8] :

a.
b.
c.
d.
e.

Membuat informasi yang lengkap


Mudah difahami
Mudah dibuat
Dapat dipakai
Bersifat objektif
Bentuk laporan hasil evaluasi, bisa berupa angka, huruf, gambar atau bahasa.
Fungsi laporan, disamping untuk kepentingan kegiatan pembalajaran di sekolah,

8[8] Zainal Arifin, Op. Cit., hal. 110-111

juga untuk dipergunakan oleh siswa, guru, kepala sekolah, orang tua, masyarakat
atau pihak-pihak lain yang membutuhkan informasi.

BAB III

PENUTUP

1. Dalam melakukan evaluasi proses pembelajaran seorang guru dapat


melakukannya dengan berbagai cara yaitu sebagai berikut :
a. Evaluasi Diri
b. Evaluasi Kolaboratif
c. Dokumentasi Proses Pembelajaran
2. Apapun bentuk tes yang diberikan kepada peserta didik, tetap harus sesuai dengan
persyaratan yang baku, yakni tes itu harus:
a.

Memiliki validitas (mengukur atau menilai apa yang hendak diukur atau dinilai,

terutama menyangkut kompetensi dasar dan materi standar yang telah dikaji);
b. Mempunyai reliabilitas (keajekan, artinya ketetapan hasil yang diperoleh seorang
c.

peserta didik, bila dites kembali dengan tes yang sama);


Menunjukkan objektivitas (dapat mengukur apa yang sedang diukur, disamping
perintah pelaksanaannya jelas dan tegas sehingga tidak menimbulkan interpretasi

yang tidak ada hubungannya dengan maksud tes);


d. Pelaksanaan evaluasi harus efisien dan praktis.
3. Tahap evaluasi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Menentukan tujuan
Menentukan desain evaluasi
Penyusunan instrumen evaluasi
Pengumpulan data atau informasi
Analisis dan interpretasi
Tindak lanjut
Pengolahan Hasil Evaluasi
Pembuatan Laporan Hasil Evaluasi

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, Zainal. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung : PT Remaja Rosdakarya


Offset
Mulyasa, E. 2004. Implementasi Kurikulum 2004 Panduan Pembelajaran KBK.
Bandung: PT. Remaja Rosdakarya
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2025326-evaluasi-prosespembelajaran/#ixzz26OGD6cos
http://edu-articles.com/evaluasi-proses-pembelajaran/. Diunduh : Rabu, 26 September
2012 pukul 21.00 WIB
http://www.majalahpendidikan.com/2011/03/tahap-tahap-proses-pembelajaran.html.
Diunduh: Rabu, 26 September 2012 pukul 21.15 WIB

Evaluasi Pembelajaran
A.Pengertian Evaluasi Pembelajaran
Sesungguhnya, dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan,
yakni pengukuran, assessment dan evaluasi. Pengukuran atau measurement
merupakan suatu proses atau kegiatan untuk menentukan kuantitas sesuatu yang
bersifat numerik. Pengukuran lebih bersifat kuantitatif, bahkan merupakan
instrumen untuk melakukan penilaian. Unsur pokok dalam kegiatan pengukuran
ini, antara lain adalah sebagai berikut:
1).tujuan pengukuran,
2).ada objek ukur,
3).alat ukur, (
4).proses pengukuran,
5).hasil pengukuran kuantitatif.

Sementara, pengertian asesmen (assessment) adalah kegiatan mengukur dan


mengadakan estimasi terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan
dan tidak sampai ke taraf pengambilan keputusan. Sedangkan evaluasi secara
etimologi berasal dari bahasa Inggeris evaluation yang bertarti value, yang secara
secara harfiah dapat diartikan sebagai penilaian. Namun, dari sisi terminologis ada
beberapa definisi yang dapat dikemukakan, yakni:
a).Suatu proses sistematik untuk mengetahui tingkat keberhasilan sesuatu.
b).Kegiatan untuk menilai sesuatu secara terencana, sistematik dan terarah
berdasarkan atas tujuan yang jelas.
c).Proses penentuan nilai berdasarkan data kuantitatif hasilpengukuran untuk
keperluan pengambilan keputusan.
Berdasarkan pada berbagai batasan 3 jenis penilaian di atas, maka dapat diketahui
bahwa perbedaan antara evaluasi dengan pengukuran adalah dalam hal jawaban
terhadap pertanyaan what value untuk evaluasi dan how much untuk
pengukuran. Adapun asesmen berada di antara kegiatan pengukuran dan evaluasi.
Artinya bahwa sebelum melakukan asesmen ataupun evaluasi lebih dahulu
dilakukan pengukuran
Sekalipun makna dari ketiga istilah (measurement, assessment, evaluation) secara
teoretik definisinya berbeda, namun dalam kegiatan pembelajaran terkadang sulit
untuk membedakan dan memisahkan batasan antara ketiganya, dan evaluasi pada
umumnya diawali dengan kegiatan pengukuran (measurement) serta
pembandingan (assessment).
Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh seorang
guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan mengetahui
perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat, hubungan sosial,
sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik. Adapun langkah-langkah pokok
dalam penilaian secara umum terdiri dari:
(1)perencanaan,
(2)pengumpulan data,
(3)verifikasi data,
(4)analisis data, dan
(5)interpretasi data.
Penilaian hasil belajar pada dasarnya adalah mempermasalahkan, bagaimana
pengajar (guru) dapat mengetahui hasil pembelajaran yang telah dilakukan.

Pengajar harus mengetahui sejauh mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan
yang telah diajarkan atau sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan
pembelajaran yang dikelola dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau
tujuan instruksional dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat
dinyatakan dengan nilai
A.Tujuan dan Fungsi Evaluasi
Dalam konteks pelaksanaan pendidikan, evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara
lain sebagai berikut:
1).Untuk mengetahui kemajuan belajar siswa setelah mengikuti kegiatan
pembelajaran dalam jangka waktu tertentu.
2).Untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran.
3).Untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya.
4).Untuk memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam
rangka perbaikan.
Selain fungsi di atas, penilaian juga dapat berfungsi sebagai alat seleksi,
penempatan, dan diagnostik,guna mengetahui keberhasilan suatu proses dan hasil
pembelajaran. Penjelasan dari setiap fungsi tersebut adalah:
a).Fungsi seleksi. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan seleksi,
yaitu menyeleksi calon peserta suatu lembaga pendidikan/kursus berdasarkan
kriteria tertentu.
b).Fungsi Penempatan. Evaluasi berfungsi atau dilaksanakan untuk keperluan
penempatan agar setiap orang (peserta pendidikan) mengikuti pendidikan pada
jenis dan/atau jenjang pendidikan yang sesuai dengan bakat dan kemampuannya
masing-masing.
c).Fungsi Diagnostik. Evaluasi diagnostik berfungsi atau dilaksanakan untuk
mengidentifikasi kesulitan belajar yang dialami peserta didik, menentukan faktorfaktor yang menyebabkan terjadinya kesulitan belajar, dan menetapkan cara
mengatasi kesulitan belajar tersebut.
B.Penilaian Berbasis Kelas
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan, pelaporan,
dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan menerapkan prinsipprinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten dalam kegiatan
pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas. PBK mengidentifikasi
pencapaian kompetensi dan hasil belajar yang dikemukakan melalui pernyataan
yang jelas tentang standar yang harus dan telah dicapai disertai dengan peta

kemajuan belajar siswa dan pelaporan. Bila selama dekade terakhir ini
keberhasilan belajar siswa hanya ditentukan oleh nilai ujian akhir
(EBTANAS/UAN), maka dengan diberlakukannya PBK hal itu tidak terjadi lagi.
Naik atau tidak naik dan lulus atau tidak lulus siswa sepenuhnya menjadi
tanggung jawab guru (sekolah) berdasarkan kemajuan proses dan hasil belajar
siswa di sekolah bersangkutan. Dalam hal ini kewenangan guru menjadi sangat
luas dan menentukan. Karenanya, peningkatan kemampuan profesional dan
integritas moral guru dalam PBK merupakan suatu keniscayaan, agar terhindar
dari upaya manipulasi nilai siswa.
PBK menggunakan arti penilaian sebagai assessment, yaitu kegiatan yang
dilakukan untuk memperoleh dan mengefektifkan informasi tentang hasil belajar
siswa pada tingkat kelas selama dan setelah kegiatan pembelajaran. Data atau
informasi dari penilaian di kelas ini merupakan salah satu bukti yang digunakan
untuk mengukur keberhasilan suatu program pendidikan. PBK merupakan bagian
dari evaluasi pendidikan karena lingkup evaluasi pendidikan secara umum jauh
lebih luas dibandingkan PBK. (Lihat gambar 2).
Gambar 8.1: PBK sebagai bagian dari evaluasi
PBK mencakup kegiatan pengumpulan informasi tentang pencapaian hasil belajar
siswa dan pembuatan keputusan tentang hasil belajar siswa berdasarkan informasi
tersebut. Pengumpulan informasi dalam PBK dapat dilakukan dalam suasana
resmi maupun tidak resmi, di dalam atau di luar kelas, menggunakan waktu
khusus atau tidak, misalnya untuk penilaian aspek sikap/nilai dengan tes atau non
tes atau terintegrasi dalam seluruh kegiatan pembelajaran (di awal, tengah, dan
akhir). Di sekolah sering digunakan istilah tes untuk kegiatan PBK dengan alasan
kepraktisan, karena tes sebagai alat ukur sangat praktis digunakan untuk melihat
prestasi siswa dalam kaitannya dengan tujuan yang telah ditentukan, terutama
aspek kognitif.
Bila informasi tentang hasil belajar siswa telah terkumpul dalam jumlah yang
memadai, maka guru perlu membuat keputusan terhadap prestasi siswa:
1).Apakah siswa telah mencapai kompetensi seperti yang telah ditetapkan?
2).Apakah siswa telah memenuhi syarat untuk maju ke tingkat lebih lanjut?
3).Apakah siswa harus mengulang bagian-bagian tertentu?
4).Apakah siswa perlu memperoleh cara lain sebagai pendalaman (remedial)?
5).Apakah siswa perlu menerima pengayaan (enrichment)?
6).Apakah perbaikan dan pendalaman program atau kegiatan pembelajaran,
pemilihan bahan ajar atau buku ajar, dan penyusunan silabus telah memadai?

Pada pelaksanaan PBK, peranan guru sangat penting dalam menentukan ketepatan
jenis penilaian untuk menilai keberhasilan atau kegagalan siswa. Jenis penilaian
yang dibuat oleh guru harus memenuhi standar validitas dan reliabilitas, agar hasil
yang dicapai sesuai dengan apa yang diharapkan. Untuk itu, kompetensi
profesional bagi guru merupakan persyaratan penting. PBK yang dilaksanakan
oleh guru, harus memberikan makna signifikan bagi orang tua dan masyarakat
pada umumnya, dan bagi siswa secara individu pada khususnya, agar
perkembangan prestasi siswa dari waktu ke waktu dapat diamati (observable) dan
terukur (measurable). Di samping itu, dengan dilaksanakannya PBK diharapkan
dapat:
a).Memberikan umpan balik bagi siswa mengenai kemampuan dan
kekurangannya, sehingga menumbuhkan motivasi untuk memperbaiki prestasi
belajar pada waktu berikutnya;
b).Memantau kemajuan dan mendiagnosis kesulitan belajar siswa, sehingga
memungkinkan dilakukannya pengayaan dan remediasi untuk memenuhi
kebutuhan siswa sesuai dengan perkembangan, kemajuan dan kemampuannya;
c).Memberikan masukan kepada guru untuk memperbaiki program
pembelajarannya di kelas apabila terjadi hambatan dalam proses pembelajaran;
d).Memungkinkan siswa mencapai kompetensi yang telah ditentukan, walaupun
dengan kecepatan belajar yang berbeda-beda antara masing-masing individu;
Memberikan informasi yang lebih komunikatif kepada masyarakat tentang
efektivitas pendanaan, sehingga mereka dapat meningkatkan partisipasinya di
bidang pendidikan secara serius dan konsekwen.
Prinsip-prinsip PBK
Sebagai bagian dari kurikulum berbasis kompetensi, pelaksanaan PBK sangat
dipengaruhi oleh berbagai faktor dan komponen yang ada di dalamnya. Namun
demikian, guru mempunyai posisi sentral dalam menentukan keberhasilan dan
kegagalan kegiatan penilaian. Untuk itu, dalam pelaksanaan penilaianharus
memperhatikan prinsip-prinsip berikut:
1).Valid
PBK harus mengukur obyek yang seharusnya diukur dengan menggunakan jenis
alat ukur yang tepat atau sahih (valid). Artinya, ada kesesuaian antara alat ukur
dengan fungsi pengukuran dan sasaran pengukuran. Apabila alat ukur tidak
memiliki kesahihan yang dapat dipertanggungjawabkan, maka data yang masuk
salah sehingga kesimpulan yang ditarik juga besar kemungkinan menjadi salah.
2).Mendidik

PBK harus memberikan sumbangan positif pada pencapaian hasil belajar siswa.
Oleh karena itu, PBK harus dinyatakan dan dapat dirasakan sebagai penghargaan
untuk memotivasi siswa yang berhasil (positive reinforcement) dan sebagai
pemicu semangat untuk meningkatkan hasil belajar bagi yang kurang berhasil
(negative reinforcement), sehingga keberhasilan dan kegagalan siswa harus tetap
diapresiasi dalam penilaian.
3).Berorientasi pada kompetensi
PBK harus menilai pencapaian kompetensi siswa yang meliputi seperangkat
pengetahuan, sikap, dan ketrampilan/nilai yang terefleksikan dalam kebiasaan
berfikir dan bertindak. Dengan berpijak pada kompetensi ini, maka ukuran-ukuran
keberhasilan pembelajaran akan dapat diketahui secara jelas dan terarah.
4).Adil dan obyektif
PBK harus mempertimbangkan rasa keadilan dan obyektivitas siswa, tanpa
membeda-bedakan jenis kelamin, latar belakang budaya, dan berbagai hal yang
memberikan kontribusi pada pembelajaran. Sebab ketidakadilan dalam penilaian,
dapat menyebabkan menurunnya motivasi belajar siswa, karena merasa
dianaktirikan.
5).Terbuka
PBK hendaknya dilakukan secara terbuka bagi berbagai kalangan (stakeholders)
baik langsung maupun tidak langsung, sehingga keputusan tentang keberhasilan
siswa jelas bagi pihak-pihak yang berkepentingan, tanpa ada rekayasa atau
sembunyi-sembunyi yang dapat merugikan semua pihak.
6).Berkesinambungan
PBK harus dilakukan secara terus-menerus atau berkesinambungan dari waktu ke
waktu, untuk mengetahui secara menyeluruh perkembangan siswa, sehingga
kegiatan dan unjuk kerja siswa dapat dipantau melalui penilaian.
7).Menyeluruh
PBK harus dilakukan secara menyeluruh, yang mencakup aspek kognitif, afektif,
dan psikomotorik serta berdasarkan pada strategi dan prosedur penilaian dengan
berbagai bukti hasil belajar siswa yang dapat dipertanggungjawabkan kepada
semua pihak.
8).Bermakna
PBK diharapkan mempunyai makna yang signifikan bagi semua pihak. Untuk itu,
PBK hendaknya mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti oleh pihak-pihak yang

berkepentingan. Hasil penilaian hendaknya mencerminkan gambaran yang utuh


tentang prestasi siswa yang mengandung informasi keunggulan dan kelemahan,
minat dan tingkat penguasaan siswa dalam pencapaian kompetensi yang telah
ditetapkan.
Selain harus memenuhi prinsip-prinsip umum penilaian, pelaksanaan PBK juga
harus memegang prinsip-prinsip khusus sebagai berikut:
Apapun jenis penilaiannya, harus memungkinkan adanya kesempatan yang terbaik
bagi siswa untuk menunjukkan apa yang mereka ketahui dan pahami, serta
mendemonstrasikan kemampuan yang dimilikinya; Setiap guru harus mampu
melaksanakan prosedur PBK dan pencatatan secara tepat prestasi yang dicapai
siswa.
Keunggulan PBK
Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan salah satu komponen dalam
Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Penilaian ini dilaksanakan oleh guru
secara variatif dan terpadu dengan kegiatan pembelajaran di kelas, oleh karena itu
disebut penilaian berbasis kelas (PBK). PBK dilakukan dengan pengumpulan
kerja siswa (portofolio), hasil karya (produk), penugasan (proyek),
kinerja/penampilan (performance), dan tes tertulis (paper and pencil). Guru
menilai kompetensi dan hasil belajar siswa berdasarkan level pencapaian prestasi
siswa.Karenanya, PBK dapat dikatakan sebagai bentuk penilaian yang paling
komprehensip.
Harus disadari oleh semua pihak, bahwa sesungguhnya guru itulah yang paling
mengetahui kemampuan atau kemajuan belajar siswa, bukan kepala sekolah,
pengawas, apalagi pejabat struktural di Departemen atau Dinas Pendidikan.
Sebab, gurulah yang sehari-hari berkomunikasi dan berinteraksi dengan siswa di
dalam kelas dan di lingkungan sekolah. Dengan demikian, PBK yang memberi
kewenangan sangat leluasa kepada guru untuk menilai siswa merupakan suatu
keunggulan agar diperoleh hasil belajar yang akurat sesuai dengan kemampuan
siswa yang sebenarnya. Selain itu, di dalam PBK guru tentu tidak dapat menilai
sekehendak hatinya, melainkan harus menyampaikan secara terbuka kepada siswa
untuk menyepakati bersama kompetensi yang telah dicapai oleh siswa dan standar
nilai yang diberikan oleh guru.
Pelaksanaan PBK
Penilaian dilakukan terhadap hasil belajar siswa berupa kompetensi sebagaimana
yang tercantum dalam KBM setiap mata pelajaran. Di samping mengukur hasil
belajar siswa sesuai dengan ketentuan kompetensi setiap mata pelajaran masingmasing kelas dalam kurikulum nasional, penilaian juga dilakukan untuk
mengetahui kedudukan atau posisi siswa dalam 8 level kompetensi yang
ditetapkan secara nasional.

Penilaian berbasis kelas harus memperlihatkan tiga ranah yaitu: pengetahuan


(koknitif), sikap (afektif), dan keterampilan (psikomotorik) Ketiga ranah ini
sebaikanya dinilai proposional sesuai dengan sifat mata pelajaran yang
bersangkutan. Sebagai contoh pada mata pelajaran Pendidikan Agama Islam (AlQuran, Aqidah-Akhlaq, fiqh, dan tarikh) penilaiannya harus menyeluruh pada
segenap aspek kognitif, afektif dan psikomotorik,dengan mempertimbangkan
tingkat perkembangan siswa serta bobot setiap aspek dari setiap materi. Misalnya
kognitif meliputi seluruh mata pelajaran, aspek afektif sangat dominan pada
materi pembelajaran akhlak, PPkn, seni. Aspek psikomotorik sangat dominan
pada mata pelajaran fiqh, membaca Al Quran, olahraga, dan sejenisnya. Begitu
juga halnya dengan mata pelajaran yang lain, pada dasarnya ketiga aspek tersebut
harus dinilai.
Hal yang perlu diperhatikan dalam penilaian adalah prinsip kontinuitas, yaitu guru
secara terus menerus mengikuti pertumbuhan, perkembangan dan perubahan
siswa. Penilaiannya tidak saja merupakan kegiatan tes formal, melainkan juga:
1).Perhatian terhadap siswa ketika duduk, berbicara, dan bersikap pada waktu
belajar atau berkomunikasi dengan guru dan sesama teman;
2).Pengamatan ketika siswa berada di ruang kelas, di tempat ibadah dan ketika
mereka bermain;
3).Mengamati siswa membaca Al-Qur an dengan tartil (pada setiap awal jam
pelajaran selama 5 10 menit)
Dari berbagai pengamatan itu ada yang perlu dicatat secara tertulis terutama
tentang perilaku yang ekstrim/menonjol atau kelainan pertumbuhan yang
kemudian harus diikuti dengan langkah bimbingan. Penilaian terhadap
pengamatan dapat digunakan observasi, wawancara, angket, kuesioner, sekala
sikap dan catatan anekdot (anecdotal record).
A.Teknik Penilaian Proses dan Hasil Belajar
Untuk keperluan evaluasi diperlukan alat evaluasi yang bermacam-macam, seperti
kuesioner, tes, skala, format observasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak alat
evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan menjadi dua, yakni alat tes dan
nontes. Khusus untuk evaluasi hasil pembelajaran alat evaluasi yang paling
banyak digunakan adalah tes. Oleh karena itu, pembahasan evaluasi hasil
pembelajaran dengan lebih menekankan pada pemberian nilai terhadap skor hasil
tes, juga secara khusus akan membahas pengembangan tes untuk meningkatkan
validitas dan reliabilitas tes sebagai alat evaluasi.
1).Teknik Tes
Tes secara harfiah berasal dari bahasa Prancis kuno testum artinyapiring untuk
menyisihkan logam-logam mulia. Tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan

atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan, pengetahuan,


kecerdasan, kemampuan, atau bakat yang dimiliki oleh sesesorang atau kelompok.
Berdasarkan definisi tersebut, dapat dijelaskan bahwa tes merupakan alat ukur
yang berbentuk pertanyaan atau latihan, dipergunakan untuk mengukur
kemampuan yang ada pada seseorang atau sekelompok orang. Sebagai alat ukur
dalam bentuk pertanyaan, maka tes harus dapat memberikan informasi mengenai
pengetahuan dan kemampuan obyek yang diukur. Sedangkan sebagai alat ukur
berupa latihan, maka tes harus dapat mengungkap keterampilan dan bakat
seseorang atau sekelompok orang.
Tes merupakan alat ukur yang standar dan obyektif sehingga dapat digunakan
secara meluas untuk mengukur dan membandingkan keadaan psikis atau tingkah
laku individu.Dengan demikian berarti sudah dapat dipastikan akan mampu
memberikan informasi yang tepat dan obyektif tentang obyek yang hendak diukur
baik berupa psikis maupun tingkah lakunya, sekaligus dapat membandingkan
antara seseorang dengan orang lain.
Jadi dapat disimpulkan bahwa tes adalah suatu cara atau alat untuk mengadakan
penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus
dikerjakan oleh siswa atau sekelompok siswa sehingga menghasilkan nilai tentang
tingkah laku atau prestasi siswa tersebut. Prestasi atau tingkah laku tersebut dapat
menunjukkan tingkat pencapaian tujuan intruksional pembelajaran atau tingkat
penguasaan terhadap seperangkat materi yang telah diberikan dalam proses
pembelajaran, dan dapat pula menunjukkan kedudukan siswa yang bersangkutan
dalam kelompoknya.
Dalam kaitan dengan rumusan tersebut, sebagai alat evaluasi hasil belajar, tes
minimal mempunyai dua fungsi, yaitu:
a).Untuk mengukur tingkat penguasaan terhadap seperangkat materi atau tingkat
pencapaian terhadap seperangkat tujuan tertentu.
b).Untuk menentukan kedudukan atau perangkat siswa dalam kelompok, tentang
penguasaan materi atau pencapaian tujuan pembelajaran tertentu.
Fungsi (a) lebih dititikberatkan untuk mengukur keberhasilan program
pembelajaran, sedang fungsi (b) lebih dititikberatkan untuk mengukur
keberhasilan belajar masing-masing individu peserta tes.
2).TesMenurut Tujuannya
Dilihat dari segi tujuannya dalam bidang pendidikan, tes dapat dibagi menjadi:
a).Tes Kecepatan (Speed Test)

Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes (testi) dalam hal kecepatan
berpikir atau keterampilan, baik yang bersifat spontanitas (logik) maupun hafalan
dan pemahaman dalam mata pelajaan yang telah dipelajarinya. Waktu yang
disediakan untuk menjawab atau menyelesaikan seluruh materi tes ini relatif
singkat dibandingkan dengan tes lainnya, sebab yang lebih diutamakan adalah
waktu yang minimal dan dapat mengerjakan tes itu sebanyak-banyaknya dengan
baik dan benar, cepat dan tepat penyelesaiannya.Tes yang termasuk kategori tes
kecepatan misalnya tes intelegensi, dan tes ketrampilan bongkar pasang suatu alat.
b).Tes Kemampuan (Power Test)
Tes ini bertujuan untuk mengevaluasi peserta tes dalam mengungkapkan
kemampuannya (dalam bidang tertentu) dengan tidak dibatasi secara ketat oleh
waktu yang disediakan. Kemampuan yang dievaluasi bisa berupa kognitif maupun
psikomotorik. Soal-soal biasanya relatif sukar menyangkut berbagai konsep dan
pemecahan masalah dan menuntut peserta tes untuk mencurahkan segala
kemampuannya baik analisis, sintesis dan evaluasi.
c).Tes Hasil Belajar (Achievement Test)
Tes ini dimaksudkan untuk mengevaluasi hal yang telah diperoleh dalam suatu
kegiatan. Tes Hasil Belajar (THB), baik itu tes harian (formatif) maupun tes akhir
semester (sumatif) bertujuan untuk mengevaluasi hasil belajar setelah mengikuti
kegiatan pembelajaran dalam suatu kurun waktu tertentu. Makalah ini akan lebih
banyak memberikan penekanan pada tes hasil belajar ini.
d).Tes Kemajuan Belajar ( Gains/Achievement Test)
Tes kemajuan belajar disebut juga dengan tes perolehan adalah tes untuk
mengetahui kondisi awal testi sebelum pembelajaran dan kondisi akhir testi
setelah pembelajaran. Untuk mengetahui kondisi awal testi digunakan pre-tes dan
kondisi akhir testi digunakan post-tes.
e).Tes Diagnostik (Diagnostic Test)
Tes diagnostik adalah tes yang dilaksanakan untuk mendiagnosis atau
mengidentifikasi kesukaran-kesukaran dalam belajar, mendeteksi faktor-faktor
yang menyebabkan terjadinya kesukaran belajar, dan menetapkan cara mengatasi
kesukaran atau kesulitan belajar tersebut.
f).Tes Formatif
Tes formatif adalah penggunaan tes hasil belajar untuk mengetahui sejauh mana
kemajuan belajar yang telah dicapai oleh siswa dalam suatu program
pembelajaran tertentu.

g).Tes Sumatif
Istilah sumatif berasal dari kata sum yang berarti jumlah. Dengan demikian tes
sumatif berarti tes yang ditujukan untuk mengetahui penguasaan siswa dalam
sekumpulan materi pelajaran (pokok bahasan) yang telah dipelajari.
3).Bentuk Tes
Dilihat dari jawaban siswa yang dituntut dalam menjawab atau memecahkan
persoalan yang dihadapinya, maka tes hasil belajar dapat dibagi menjadi 3 jenis :
a).Tes lisan (oral test)
b).Tes tertulis (written test)
c).Tes tindakan atau perbuatan (performance test)
Penggunaan setiap jenis tes tersebut seyogyanya disesuaikan dengan kawasan
(domain) perilaku siswa yang hendak diukur. Misalnya tes tertulis atau tes lisan
dapat digunakan untuk mengukur kawasan kognitif, sedangkan kawasan
psikomotorik cocok dan tepat apabila diukur dengan tes tindakan, dan kawasan
afektif biasanya diukur dengan skala perilaku, seperti skala sikap.
1. Bentuk Soal Pilihan Ganda
Keunggulan dari bentuk soal pilihan ganda ini, antara lain adalah sebagai berikut:
a).Pensekoran mudah, cepat, serta objektif
b).Dapat mencakup ruang lingkup bahan/materi yang luas
c).Mampu mengungkap tingkat kognitif rendah sampai tinggi.
Sementara, selain memilliki keunggulan, soal pilihan ganda juga memiliki
kelemahan, antara lain adalah sebagai berikut:
a).Menuliskan soalnya relatif lebih sulit dan lama
b).Memberi peluang siswa untuk menebak jawaban
c).Kurang mampu meningkatkan daya nalar siswa.
2. Bentuk Soal Uraian
Keunggulan dari bentuk soal uraian ini, antara lain adalah sebagai berikut:
a).dapat mengukur kemampuan mengorganisasikan pikiran,

b).menganalisis masalah, dan mengemukakan gagasan secara rinci


c).relatif mudah dan cepat menuliskan soalnya
d).mengurangi faktor menebak dalam menjawab
Sementara, selain memiliki keunggulan, soal uraian juga memiliki kelemahan,
antara lain adalah sebagai berikut:
a).jumlah materi (PB/SPB) yang dapat diungkap terbatas
b).Pengoreksian/scoring lebih sukar dan subjektif
c).tingkat reliabilitas soal relaitf lebih rendah
4).Ciri-ciri Tes yang Baik
Sebuah test dapat dikatakan baik sebagai alat pengukur harus memenuhi kriteria,
yaitu memiliki validitas, reliabilitas, objektivitas, praktikabilitas dan ekonomis
a).Validitas
Sebuah alat pengukur dapat dikatakan valid apabila alat pengukur tersebut dapat
mengukur apa yang hendak diukur secara tepat. Demikian pula dalam alat-alat
evaluasi. Suatu tes dapat dikatakan memiliki validitas yang tinggiapabila tes itu
tersebut betul-betul dapat mengukur hasil belajar. Jadi bukan sekedar mengukur
daya ingatan atau kemampuan bahasa saja misalnya.
Untuk lebih mendukung memahami pengertian tersebut selanjutnya akan
diuraikan beberapa macam kriteria validitas, yaitu:
1).Content validity (validitas isi)
Pengujian jenis validitas ini dilakukan secara logis dan rasional karena itu disebut
juga rational validity atau logical validity.Batasan content validity ini
menggambarkan sejauh mana tes mampu mengukur materi pelajaran yang telah
diberikan secara representatif dan sejauh mana pula tes dapat mengukur sampel
yang representatif dari perubahan-perubahan perilaku yang diharapkan terjadi
pada diri siswa. Dengan demikian suatu tes hasil belajar disebut memiliki validitas
tinggi secara content, bila tes tersebut sudah dapat mengukur sampel yang
representatif dari materi pelajaran (subject matter) yang diberikan, dan perubahanperubahan perilaku (behavioral changes) yang diharapkan terjadi pada diri siswa.
Misalnya apabila kita ingin memberikan tes bahasa inggris untuk kelas II, maka
item-itemnya harus diambil dari bahan pelajaran kelas II. Kalau diambilnya dari
kelas III maka tes itu tidak valid lagi.
2).Predictive validity (validitas ramalan)

Validitas ramalan artinya ketepatan (kejituan) suatu alat pengukur ditunjau dari
kemampuan tes tersebut untuk meramalkan prestasi yang dicapainya kemudian.
Suatu tes hasilbelajar dapat dikatakan mempunyai validitas ramlan yang tinggi,
apabila hasil yang dicapai siswa dalam tes tersebut betul-betul meramalakan
sukses tidaknya siswa tersebut dakam pelajaran-pelajaran yang akan datang. Cara
yang digunakan untuk mengukur tinggi rendahnya validitas ramalan ialah dengan
mencari korelasi antara nilai-nilsi yang dicapai oleh anak-anak dalam tes tersebut
dengan nilai-nilai yang dicapai kemudian.
3).Concurent validity (Validitas bandingan)
Kejituan suatu tes dilihat dari korelasinya terhadap kecakapan yang
telahdimilikisaat kini secara riil. Cara yang digunakan untuk menilai validitas
bandingan ialah dengan jalan mengkorelasikan hasil-hasil yang dicapai dalam tes
tersebut dengan hasil-hasil yang dicapai dalam tes yang sejenis yang telah
diketahui mempunyai validitas yang tinggi (misalnya tes standar).
4).Construct Validity (validitas konstruk/susunan teori)
Yaitu ketepatan suatu tes ditinjau dari susunan tes tersebut. Misalnya kalau kita
ingin memberikan tes kecakapan ilmu pasti, kita harus membuat soal yang ringkas
dan jelas yang benar-benar akan mengukur kecakapan ilmu pasti, bukan
mengukur kemampuan bahasa karena soal itu ditulis secara berkepanjangan
dengan bahasa yang sulit dimengerti.
b).Reliabilitas
Reliabilitas berasal dari kata reliable yang berarti dapat dipercaya. Reliabilitas
suatu tes menunjukan atau merupakan sederajat ketetapan, keterandalan atau
kemantapan (the level of consistency) tes yang bersangkutan dalam mendapatkan
data (skor) yang dicapai seseorang, apabila tes tersebut diberikan kepadanya pada
kesempatan (waktu) yang berbeda., atau dengan tes yang pararel (eukivalen) pada
waktu yang sama. Atau dengan kata lain sebuah tes dikatakan reliable apabila
hasil-hasil tes tersebut menunjukan ketetapan, keajegan, atau konsisten. Artinya,
jika kepada para siswa diberikan tes yang sama pada waktu yang berlainan, maka
setiap siswa akan tetap berada dalam urutan (ranking) yang sama dalam
kelompoknya.
Ada beberapa cara untuk mencari reliabilitas suatu tes, antara lain :
1).Teknik Berulang
Tehnik ini adalahdengan memberikan tes tersebut kepada sekelompok anak-anak
dalam dua kesempatan yang berlainan. misalnya suatu tes diberikan pada kepada
group A. selang 3 hari atau seminggu tes tes tersebut diberikan lagi kepada group
A dengan syarat-syarat tertentu.

2).TeknikBentuk Paralel
Teknik ini dipergunakan dua buah tes yang sejenis (tetapi tidak identik), mengenai
isinya; proses mental yang diukur, tingkat kesukaran jumlah item dan aspek-aspek
lain.
3).Teknik belah dua
Ada dua prosedur yang dapat digunakan dalam tes belah dua ini yaitu :
<Prosedur ganjil-genap, artinya seluruh item yang bernomor ganjil dikumpulkan
menjadi satu kelompok dan yang bernomor genap menjadi kelompok yang lain.
<Prosedur secara random, misalnya dengan jalan lotre, atau dengan jalan
menggunakan tabel bilangan random.
a).Objektivitas
Sebuah tes dikatakan memiliki objektivitas apabila dalam melaksanakan tes itu
tidak ada faktor subyektif yang mempengaruhi. Hal ini terutama pada sistem
skoringnya, apabila dikaitkan dengan reliabilitas maka obyektivitas menekankan
ketetapan pada sistem skoring, sedangkan reliabilitas menekankan ketetapan
dalam hasil tes. Ada dua faktor yang mempengaruhi subjektivitas dari sesuatu tes
yaitu bentuk tes dan penilaian.
b).Praktikabilitas
Sebuah tes dikatakan memiliki praktikabilitas yang tinggi apabila tes itu bersifat
praktis, mudah untuk pengadministrasiannya. Tes yang praktis adalah tes yang:
1).Mudah dilaksanakannya; misalnya tidak menuntut peralatan yang banyak dan
memberi kebebasan kepada siswa untuk mengerjakan terlebih dahulu bagian yang
dianggap mudah oleh siswa.
2).Mudah memeriksanya artinya bahwa tes itu dilengkapi dengan kunci jawaban
maupun pedoman skoringnya. Untuk soal yang obyektif, pemeriksaan akan lebih
mudah dilakukan jika dikerjakan oleh siswa dalam lembar jawaban.
3).Dilengkapi dengan petunjuk-petunjuk yang jelas sehingga dapat diberikan/
diawali oleh orang lain
c).Ekonomis
Yang dimaksud dengan ekonomis ialah bahwa pelaksanaan tes tersebut tidak
membutuhkan ongkos/biaya yang mahal, tenaga yang banyak danwaktu yang

lama, baik untuk memproduksinya maupun untuk melaksanakan dan mengolah


hasilnya.
Dengan mempertimbangkan kriteria-kriteriates tersebut, sewajarnya dapat
dihasilkan alat tes (sosal-soal) yang berkualitas yang memenuhi syarat-syarat
dibawah ini :
1).Shahih (valid), yaitu mengukur yang harus diukur, sesuai dengan tujuan
2).Relevan, dalam arti yang diuji sesuai dengan tujuan yang diinginkan
3).Spesifik, soal yang hanya dapat dijawab oleh peserta didik yang betul-betul
belajar dengan rajin
4).Tidak mengandung ketaksaan (tafsiran ganda). harus ada patokan; tugas ditulis
konkret. Apa yang harus diminta; harus dijawab berapa lengkap
5).Representatif, soal mewakili materi ajar secara keseluruhan
6).Seimbang, dalam arti pokok-pokok yang penting diwakili, dan yang tidak
penting tidak selalu perlu.
1).Teknik Nontes
Teknik nontes sangat penting dalam mengevaluasi siswa pada ranah afektif dan
psikomotor, berbeda dengan teknik tes yang lebih menekankan asfek kognitif. Ada
beberapa macam teknik nontes, yakni: pengamatan (observation), wawancara
(interview), kuesioner/angket (questionanaire), dan analisis dokumen yang
bersifat unobtrusive.
a. Observasi
A.Ringkasan
Atas dasar pemaparan dan pembahasan tentang evaluasi pembelajaran di atas,
maka dapat disimpulkan beberapa kajian dan pembahasan yang esensial dari bab
ini, yakni sebagai berikut:
1).Dalam konteks penilaian ada beberapa istilah yang digunakan, yakni
pengukuran, assessment dan evaluasi
2).Evaluasi merupakan salah satu kegiatan utama yang harus dilakukan oleh
seorang guru dalam kegiatan pembelajaran. Dengan penilaian, guruakan
mengetahui perkembangan hasil belajar, intelegensi, bakat khusus, minat,
hubungan sosial, sikap dan kepribadian siswa atau peserta didik
3).Evaluasi memiliki beberapa tujuan, antara lain (a) untuk mengetahui kemajuan
belajar siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran dalam jangka waktu

tertentu, (b) untuk mengetahui efektivitas metode pembelajaran yang digunakan,


(c) untuk mengetahui kedudukan siswa dalam kelompoknya, dan (d) untuk
memperoleh masukan atau umpan balik bagi guru dan siswa dalam rangka
perbaikan.
4).Penilaian Berbasis Kelas (PBK) merupakan suatu proses pengumpulan,
pelaporan, dan penggunaan informasi tentang hasil belajar siswa dengan
menerapkan prinsip-prinsip penilaian berkelanjutan, otentik, akurat, dan konsisten
dalam kegiatan pembelajaran di bawah kewenangan guru di kelas
5).Pelaksanaan evaluasi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan
berbagai alat evaluasi, antara lain, kuesioner, tes, skala, format observasi, dan
lain-lain. Dari sekian banyak alat evaluasi, secara umum dapat dikelompokkan
menjadi dua, yakni alat tes dan nontes
B.Pertanyaan Diskusi
Untuk mengkaji lebih lanjut terkait dengan pembahasan tentang evaluasi
pembelajaran ini, maka ada beberapa hal yang bisa didiskusikan di kelas, yakni
sebagai berikut:
Diskusikan dengan teman-teman Anda di kelas!
1).Apa yang dimaksud dengan evaluasi, assesmen dan pengukuran dalam konteks
penilaian pembelajaran?
2).Apakah tujuan diberlakukannya evaluasi dalam pembelajaran?
3).Apa yang dimaksud dengan Penilaian Berbasis Kelas?
4).Bagaimana teknis pelaksanaan Penilaian Berbasis Kelas?
5).Bagiamanakah tahapan-tahapan pelaksanaan evaluasi dalam proses
pembelajaran
Jelaskan model tes yang digunakan dalam proses pembelajaran
Posted in Pendidikan | Tags: evaluasi pembelajaran

PENGERTIAN TES, PENGUKURAN, PENILAIAN, DAN


EVALUASI
A. PENGERTIAN TES
Tes dapat didefinisikan sebagai suatu pernyataan atau tugas atau seperangkat
tugas yang direncanakan untuk memperoleh informasi tentang trait (sifat) atau
atribut pendidikan atau psikologik yang setiap butir pertanyaan atau tugas tersebut
mempunyai jawaban atau ketentuan yang dianggap benar.
Tes dapat diklasifikasi berdasarkan :
a. Bagaimana ia diadministrasikan (tes individual atau kelompok)
b. Bagaimana ia diskor (tes obyektif atau tes subyektif)
c. Respon apa yang ditekankan (tes kecepatan atau tes kemampuan)
d. Tipe respon yang bagaimana yang harus dikerjakan oleh subyek (tes unjuk
kerja atau tes kertas dan pensil)
e. Apa yang akan diukur (tes sampel atau tes sign)
f. Hakekat dari kelompok yang akan diperbandingkan (tes buatan guru atau tes
baku)

B. PENGERTIAN PENGUKURAN
Pengukuran (measurement) adalah proses pemberian angka atau usaha
memperoleh deskripsi numeric dari suatu tingkatan dimana seseorang peserta
didik telah mencapai karakteristik tertentu. Pengukuran berkaitan erat dengan
proses pencarian atau penentuan nilai kuantitatif. Pengukuran diartikan sebagai
pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu yang dimiliki
oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau formulasi yang jelas.
Berikut ini akan dikutip beberapa definisi pengukuran yang dirumuskan oleh
beberapa ahli pengukuran pendidikan dan psikologi yang acap kali dijadikan
acuan beberapa penulis.
1. Richard H. Lindeman (1967) merumuskan pengukuran sebagai the
assignment of one or a set each of a set of persons or objects according to
certain established rules

2. Norman E. Gronlund (1971) secara sederhana merumuskan pengukuran


sebagai Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil
behavior.
3. Georgia S. Adams (1964) merumuskan pengukuran sebagai nothing more
than careful observations of actual performance under staandar
conditions.
4. Victor H.Noll (1957) mengemukakan dua karakteristik utama pengukuran,
yaitu quantitativaness dan constancy of units. Atas dasar dua
karakteristik ini ia menyatakan since measurement is a quantitative
process, is results of measurement are always expessed in numbers.
5. William A.Mehrens dan Irlin J. Lehmann (1973) mendefinisikan :
pengukuran sebagai berikut : Using observations, rating scales. Or any
other device that allows us to obtain information in a quantitative form is
measurement .
6. Robert L. Ebel dan David A. Frisbie (1986) merunuskan pengkuran
sebagai Measurment is a process of assigning numbers to the individual
numbers of a set of objects or person for the purpose of indicating
differences among them in the degree to which they posscess the
characteristic being measured.
7. Gilbert Sax (1980) menyatakan measurement: The assignment of
numbers to attributes of characteristics of person, evenrs, or object
according to explicit formulations or rules.
C.
PENGERTIAN
PENILAIAN
Penilaian (assessment) merupakan istilah yang umum dan mencakup semua
metode yang biasa dipakai untuk mengetahui keberhasilan belajar siswa dengan
cara menilai unjuk kerja individu peserta didik atau kelompok.
Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat. Penilaian
untuk memperoleh berbagai ragam informasi tentang sejauh mana hasil belajar
peserta didik atau informasi tentang ketercapaian kompetensi peserta didik. Proses
penilaian ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau
prestasi
belajar
peserta
didik.
Penilaian menyeluruh dan berkelanjutan dalam Konsep Penilaian dari
Implementasi peraturan pemerintah No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional
Pendidikan, membawa implikasi terhadap model dan tehnik penilaian proses dan
hasil belajar. Pelaku penilaian terhadap proses dan hasil belajar diantaranya
internal dan eksternal. Penilaian internal merupakan penilaian yang dilakukan dan
direncanakan oleh guru pada saat pembelajaran berlangsung. Sedangkan penilaian
eksternal merupakan penilaian yang dilakukan oleh pihak luar yang tidak
melaksanakan proses pembelajaran, biasanya dilakukan oleh suatu institusi /
lembaga baik didalam maupun diluar negeri. Penelitian yang dilakukan lembaga /
institusi tersebut dimaksudkan sebagai pengendali mutu proses dan hasil belajar
peserta
didik.
Metode dan tehnik penilaian sebagai bagian dari penilaian internal (internal
assessment) untuk mengetahui proses dan hasil belajar peserta didik terhadap
penguasaan kompetensi yang diajarkan oleh guru. Hal ini bertujuan untuk

mengukur tingkat ketercapaian ketuntasan kompetensi oleh peserta didik.


Penilaian hasil belajar peserta didik yang dilakukan oleh guru selain untuk
memantau proses, kemajuan dan perkembangan hasil belajar peserta didik sesuai
dengan potensi yang dimiliki, juga sekaligus sebagai umpan balik kepada guru
agar dapat menyempurnakan perencanaan dan proses program pembelajaran.
Ada empat macam istilah yang berkaitan dengan konsep penilaian dan sering kali
digunakan untuk mengetahui keberhasilan belajar dari peserta didik yaitu
pengukuran, pengujian, penilaian dan evaluasi. Namun diantara keempat istilah
tersebut pengertiannya masih sering dicampuradukan, padahal keempat istilah
tersebut
memiliki
pengertian
yang
berbeda.
Sebenarnya proses pengukuran, penilaian, evaluasi dan pengujian merupakan
suatu kegiatan atau proses yang bersifat hirarkis. Artinya kegiatan dilakukan
secara berurutan dan berjenjang yaitu dimulai dari proses pengukuran kemudian
penilaian dan terakhir evaluasi. Sedangkan proses pengujian merupakan bagian
dari
pengukuran
yang
dilanjutkan
dengan
kegiatan
penilaian.
Menurut Guilford (1982) pengukuran adalah proses penepatan angka terhadap
suatu gejala menurut aturan tertentu. Pengukuran dalam Kurikulum Tingkat
Satuan Pendidikan (KTSP) berdasarkan pada klasifikasi observasi unjuk kerja
atau kemampuan. Peserta didik dengan menggunakan suatu standar.
Pengukuran dapat menggunakan tes dan non tes. Tes adalah seperangkat
pertanyaan yang memiliki jawaban benar atau salah. Sedangkan non tes adalah
pertanyaan maupun pernyataan yang tidak memiliki jawaban benar atau salah.
Instrumen non tes bias berbentuk kuesioner atau inventori. Kuesioner sejumlah
pertanyaan atau pernyataan sedangkan peserta didik diminta untuk menjawab atau
memberikan pendapatnya terhadap pernyataan yang diajukan. Inventori
merupakan instrument yang berisi tentang laporan diri dari keadaan peserta didik,
misalnya potensi peserta didik. Pengukuran dalam kegiatan belajar bisa bersifat
kuantitatif maupun kualitatif. Kuantatif hasilnya berupa angka, sedangkan
kualitatif hasilnya berupa pernyataan yaitu berupa pernyataan sangat baik, baik,
cukup,
kurang,
sangat
kurang,
dan
lain
sebagainya.
D. PENGERTIAN EVALUASI
Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk melihat apakah suatu program yang
telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak berharga, dan
dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Evaluasi juga dapat
diartikan sebagai suatu proses penilaian untuk mengambil keputusan yang
menggunakan seperangkat hasil pengukuran dan berpatokan kepada tujuan yang
telah dirumuskan. Untuk memperjelas pengertian evaluasi tersebut ada baiknya
bila dikutip beberapa perumusan sebagai berikut:
1. Adams (1964) dalam bukunya Measurement and evaluation in education,
psychology, and guidance menjelaskan bahwa kita mengukur berbagai
kemampuan anak didik.Bila kita melangkah lebih jauh lagi dalam
menginterprestasi skor sebagai hasil pengukuran itu dengan menggunakan
standar tertentu untuk menentukan nilai dalam suatu kerangka maksud
pendidikan dan pelatihannya atau atas dasar beberapa pertimbangan lain

untuk membuat penilaian, maka kita tidak lagi membatasi diri kita dalam
pengukuran, kita sekarang telah mengevaluasi kemampuan atau kemajuan
anak didik.
2. Daniel L. Stufflebeam dan Anthony J. Shinkfield (1985) secara singkat
merumuskan evaluasi sebagai berikut: Evaluation is the systematic
assessment of the worth or merit of some object. Dengan demikian maka
evaluasi antara lain merupakan kegiatan membandingkan tujuan dengan
hasil dan juga merupakan studi yang mengkombinasikan penampilan
dengan suatu nilai tertentu.
3. Robert L. Thorndike dan Elizabeth Hagen (1961) menjelaskan evaluasi
tersebut dengan mengatakan bahwa evaluasi itu berhubungan dengan
pengukuran. Dalam beberapa hal evaluasi lebih luas, karena dalam
evaluasi juga termasuk penilaian formal dan penilaian intuitif mengenai
kemajuan peserta didik. Evaluasi juga mencakup penilaian tentang apa
yang baik dan apa yang diharapkan. Dengan demikian hasil pengukuran
yang benar merupakan dasar yang kokoh untuk melakukan evaluasi.
Secara garis besar evaluasi dapat dibagi menjadi dua, yaitu evaluasi formatif dan
evaluasi sumatif (istilah ini pertama kali digunakan oleh Scriven (1967) dalam
artikelnya berjudul The Methodology of evaluation). Evaluasi formatif
dilakukan dengan maksud memantau sejauh manakah suatu proses pendidikan
telah berjalan sebagaimana yang direncanakan. Sedangkan evaluasi sumatif
dilakukan untuk mengetahui sejauhmana peserta didik telah dapat berpindah dari
suatu unit pengajaran ke unit berikutnya.
HUBUNGAN PENGUKURAN, TES, PENILAIAN DAN EVALUASI
Sebenarnya proses pengukuran, penilaian, evaluasi dan pengujian merupakan
suatu kegiatan atau proses yang bersifat hirarkis. Artinya kegiatan dilakukan
secara berurutan dan berjenjang yaitu dimulai dari proses pengukuran kemudian
penilaian dan terakhir evaluasi. Sedangkan proses pengujian merupakan bagian
dari pengukuran yang dilanjutkan dengan kegiatan penilaian. Ada beberapa alasan
untuk menggunakan pengukuran, tes, dan evaluasi dalam pendidikan, antara lain :
a. Seleksi
Tes dan beberapa alat pengukuran digunakan untuk mengambil keputusan
tentang orang yang akan diterima atau ditolak dalam suatu proses seleksi. Untuk
dapat memutuskan penerimaan atau penolakan ini maka haruslah digunakan tes
yang tepat, yaitu tes yang dapat meramalkan keberhasilan atau kegagalan
seseorang dalam suatu kegiatan tertentu pada masa yang akan datang dengan
resiko yang terendah. Tes jenis ini sangat umum dalam masyarakat kita, karena
hampir selalu terjadi peminat untuk pekerjaan atau pendidikan jauh lebih banyak
dari yang dibutuhkan. Dilihat dari segi ini, maka acapkali tes seleksi yang
dilakukan hanya sekedar untuk memisahkan orang yang akan diterima dari orang
yang akan ditolak. Bukan untuk memperoleh calon yang paling besar
kemungkinan berhasil dalam pekerjaan atau program yang akan dilakukan.

b.

Penempatan
Dalam kursus atau latihan yang singkat biasanya dilakukan tes penempatan,
untuk menentukan tempat yang paling cocok bagi seseorang untuk dapat
berprestasi dan berproduksi secara efisien dalam suatu proses pendidikan atau
pekerjaan. Tes seperti ini terutama didasarkan pada informasi tentang apa yang
telah
dan
apa
yang
belum
dikuasai
oleh
seseorang.
c.

Diagnosis
dan
remedial
Tes seperti ini terutama untuk mengukur kekuatan dan kelemahan seseorang
dalam kerangka memperbaiki penguasaan atau kemampuan dalam suatu program
pendidikan tertentu. Jadi sebelum dilakukan remedial, maka seharusnya didahului
oleh
suatu
tes
diagnosis.
d.

Umpan
balik
Hasil suatu pengukuran atau skor tes tertentu dapat digunakan sebagai umpan
balik, baik bagi individu yang menempuh tes maupun bagi guru atau instruktur
yang berusaha mentransfer kemampuan kepada peserta didik. Suatu skor tes dapat
digunakan sebagai umpan balik, bila telah diinterpretasi. Setidak-tidaknya ada dua
cara menginterpretasi skor tes, yaitu dengan membandingkan skor seseorang
dengan kelompoknya dan dengan melihat kedudukan skor yang diperoleh
seseorang dengan kriteria yang ditentukan sebelum tes dimulai. Untuk yang
pertama dinamakan norm reference test dan yang kedua dinamakan criterion
reference
test.
e.

Memotivasi
dan
membimbing
belajar
Hasil tes seharusnya dapat memotivasi belajar peserta didik, dan juga dapat
menjadi pembimbingan bagi mereka untuk belajar. Bagi mereka yang
memperoleh skor yang rendah seharusnya menjadi cambuk untuk lebih berhasil
dalam tes yang akan datang dan secara tepat dapat mengetahui diwilayah mana
terletak kelemahannya. Dan bagi mereka yang mendapat skor yang tinggi tentu
saja hasil itu dapat menjadi motivasi mempertahankan dan maningkatkan
hasilnya, serta dapat menjadi pedoman dalam mempelajari bahan pengayaan.
f.

Perbaikan
kurikulum
dan
program
pendidikan
Salah satu peran yang penting evaluasi pendidikan ialah mencari dasar yang
kokoh bagi perbaikan kurikulum dan program pendidikan. Perbaikan kurikulum
atau program pendidikan yang dilakukan tanpa hasil evaluasi yang sistematik
acapkali
menjadi
usaha
sia-sia
yang
mubajir.
g.

Pengembangan
ilmu
Hasil pengukuran, tes, dan evaluasi tentu saja akan dapat member sumbangan
yang berarti bagi perkembangan teori dan dasar pendidikan. Ilmu seperti
pengukuran pendidikan dan psikometrik sangat tergantung pada hasil-hasil
pengukuran, tes, dan evaluasi yang dilakukan sebagai kegiatan sehari-hari guru

dan pendidik. Dari hasil itu akan diperoleh pengetahuan emperik yang sangat
berharga untuk pengembangan ilmu dan teori.

PERBEDAAN PENGUKURAN, PENILAIAN, EVALUASI DAN TES


Sebelum melanjutkan pembicaraan tentang evaluasi pendidikan secara lebih luas
dan mendalam, terlebih dahulu perlu dipahami bahwa dalam praktek acapkali
terjadi kerancuan atau tumpang tindih (overlap) dalam penggunaan istilah
evaluasi, penilaian dan pengukuran. Kenyataan seperti itu memang dapat
dipahami, mengingat bahwa diantara ketiga istilah tersebut saling kait- mengkait
sehingga sulit untuk dibedakan. Namun dengan uraian berikut ini kiranya akan
dapat membantu memperjelas perbedaan dan sekaligus hubungan antara
pengukuran,
penilaian
dan
evaluasi
.
Pengukuran yang dalam bahasa Inggris dikenal dengan measurement dan dalam
bahasa Arabnya adalah muqayasah, dapat diartikan sebagai kegiatan yang
dilakukan untuk mengukur sesuatu. Mengukur pada hakikatnya adalah
membandingkan sesuatu dengan atau atas dasar ukuran tertentu. Misalnya
mengukur suhu badan dengan ukuran berupa thermometer: hasilnya: 360 celcius,
380 celcius, 390 celcius dan seterusnya. Contoh lain: dari 100 butir yang
diajuakan dalam tes, ahmad menjawab dengan betul sebanyak 80 butir soal. Dari
contoh tersebut dapat kita dipahami bahwa pengukuran itu sifatnya kuantitatif.
Pengukuran yang bersifat kuantitatif itu, dapat dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu :
1. Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu; misalnya ; pengukuran
yang dilakukan oleh penjahit pakaian mengenai panjang lengan, panjang
kaki, lebar bahu, ukuran pinggan dan sebagainya.
2. Pengukuran yang dilakukan untuk menguji sesuatu : misalnya ;
pengukuran untuk menguji daya tahan per baja terhadap tekanan berat,
pengukuran untuk menguji daya tahan lampu pijar, dan sebagainya.
3. Pengukuran untuk menilai, yang dilakukan dengan jalan menguji sesuatu ;
misalnya : mengukur kemajuan belajar peserta didik dalam rangka mengisi
nilai rapor yang dilakukan dengan menguji mereka dalam bentuk tes hasil
belajar. Pengukuran jenis ketiga inilah yang biasa dikenal dalam dunia
pendidkan.
Penialian berarti menilai sesuatu. Sedangkan menilai itu mengandung arti :
mengambil keputusan terhadap sesuatu dengan mendasarkan diri atau berpegang
teguh pada ukuran baik atau buruk, sehat atau sakit, pandai atau bodoh dan
sebagainya. Jadi penilaian itu sifatnya adalah kualitatif. Dalam contoh di atas tadi,

seseorang yang suhu badannya 36Celcius termasuk orang yang normal


kesehatannya, dengan demikian orang tersebut dapat ditentukan sehat badannya.
Dari 100 butir soal, 80 butir dijawab dengan betul oleh Ahmad; dengan demikan
dapat ditentukan Ahmad termasuk anak yang pandai. Sedangkan Evaluasi
adalah mencangkup kegiatan yang telah dikemukakan terdahulu, yaitu
mencangkup pengkuran dan penilaian. Evaluasi adalah kegiatan atau proses
untuk menilai sesuatu. Untuk dapat menentukan nilai dari sesuatu yang sedang
dinilai itu, dilakukanlah pengukuran, dan wujud dari pengukuran itu adalah
pengujian, dan pengujian inilah yang dalam dunia kependidikan dikenal dengan
istilah
tes.
Di atas telah dikemukakan bahwa pengukuran itu adalah bersifat kuantitatif;
hasil pengukuran itu berwujud keterangan yang berupa angka-angka atau
bilangan-bilangan. Adapun evaluasi adalah bersifat kualitatif; evaluasi pada
dasarnya adalah merupakan penafsiran atau interpretasi yang sering bersumber
pada data yang bersifat kuantitatif. Dikatakan sering bersumber pada data yang
bersifat kuantitatif, sebab sebagaimana dikemukakan oleh Prof.Dr, Masroen, M.A
(1979), tidak semua penafsiran itu bersumber dari keterangan-keterangan yang
bersifat kuantitatif. Sebagai contoh dapat dikemukakan disini, misalnya
keterangan keterangan mengenai hal-hal yang disukai siswa, informasi yang
datang dari orang tua siswa, pengalaman-pengalaman masa lalu, dan lain-lain,
yang kesemuanya itu tidak bersifat kuantitaif melainkan kualitatif.
Lebih lanjut masroen menegaskan bahwa penilaian (setidak-tidaknya dalam
bidang psikologi dan pendidikan) mempunyai arti yang lebih luas ketimbang
istilah pengukuran, sebab pengukuran itu sebenarnya hanyalah merupakan suatu
langkah atau tindakan yang kiranya perlu diambil dalam rangka pelaksanaan
evaluasi. Dikatakan kiranya perlu diambil sebab tidak semua penilaian itu harus
senantiasa didahului oleh tindakan pengukuran secara lebih nyata. Sebagai contoh
dapat dikemikakan di sini, misalnya untuk dapat untuk dapat menetukan
keberhasilan pengajaran pendidikan agama islam . ada cara lain yang dapat
ditempuh guna mengetahui apakah para siswa telah dapat menghayati dan
mengamalkan ajaran-ajaran Islam yang telah diberikan kepada mereka di sekolah;
cara lain itu misalnya dengan melakukan observasi (pengamatan) melakukan
wawancara
dan
sebagainya.
Namun demikian tidak dapat disangkal adanya kenyataan, bahwa Evaluasi
dalam bidang pendidikan sebagian besar bersumber dari hasil-hasil pengukuran.
Menurut Masroen, pada umumnya para pakar di bidang pendidikan sependapat,
bahwa evaluasi mengenai proses pembelajaran disekolah, tidak mungkin dapat
berjalan dengan bail apabila evaluasi itu tidak didasarkan atas data yang bersifat
kuantitatif, inilah sebabnya mengapa dalam praktek masalah pengukuran
mempunyai kedudukan yang sangat penting di dalam dalam proses evaluasi. Baik
buruknya evaluasi akan banyak bergantung pada hasil-hasil pengukuran yang
mendahuluinya. Hasil pengukuran yang Kurang cermat akan memberikan hasil
evaluasi yang kurang cermat pula, sebaliknya teknik pengukuran yang tepat akan
memberikan landasan yang kokoh untuk mengadakan evaluasi yang tepat.
Kenyataan inilah yang acapkali menimbulkan adanya kerancuan dan tumpang
tindih, antara istilah evaluasi, penilaian dan pengukuran.

ETIKA TES
Kegiatan pengujian berperan sangat besar dalam system pendidikan dan system
persekolahan.karena pentingnya itu maka setiap tindakan pengujian selalu
menimbulkan kritik yang tajam dari masyarakat. Kritik tersebutt tidak jarang
dating dari para ahli, disamping dating dari orang tua yang secara langsung atau
tidak langsung berkepentingan terhadap pengujian. Diantara beberapa kritik
tersebut ada beberapa yang harus menjadi perhatian sungguh sunggup oleh para
praktisi dan ahli tes, pengukuran dan evaluasi. Kritik tersebut antara lain:
1. Tes senantiasa akan mencampuri rahasia pribadi peserta tes. Setiap tes
berusaha mengetahui pengetahuan dan kemampuan peserta tes, yang dapat
berarti membuka kelemahan dan kekuatan pribadi seseorang. Didalam
masyarakat yang sangat melindungi akan hak dan rahasia pribadi,masalah
ini seslalu akan menjadi gugatan atau keluhan.
2. Tes selalu menimbulkan rasa cemas peserta tes.memang sampai bats
tertentu rasa cemas itu dibutuhkan untuk dapat mencapai prestasi terbaik,
tetapi tes acapkali menimbulkan rasa cemas yang tidak perlu, yang justru
dapat menghambat seseorang mampu mendemonstrasikan kemampuan
terbaiknya.
3. Tes acapkali justru menghukum peserta didik yang kreatif.karena tes itu
selalu menuntut jawaban yang sudah ditentukan pola dan isinya, maka
tentu saja hal itu tidak memberi ruang gerak yang cukup bagi anak yang
kreatif.
4. tes selalu terikat pad kebudayaan tertentu. Tidak ada tes hasil belajar yang
bebas budaya. Karena itu kemampuan peserta tes untuk memberi jawaban
terbaik turut ditentukan oleh kebudayaan penyusun tes.
5. Tes hanya mengukur hasil belajar yang sederhana dan yang remeh. Hampir
tidak pernah ada tes hasil belajar yang mampu mengungkapkan tingkah
laku peserta didik secara menyeluruh, yang justru menjadi tujuan utama
pendidikan formal apapun.
Karena banyak kritik yang tajam dari masyarakat terhadap tes hasil pendidikan,
maka para pendidik harus dapat melakukan tes dengan penuh tanggung jawab.
Untuk itu perlu ditegakan beberapa etika tes, yang membedakan tes yang etik dan
tindakan yang tidak etik dalam pelaksanaan tes secara professional. Praktek tes
hasil belajar yang etik terutama mencangkup empat hal utama :
a.
Kerahasiaan
Hasil
Tes
Setiap pendidik dan pengajar wajib melindungi kerahasiakan hasil tes, baik secara
hasil individual maupun secara kelompok. Hasil tes hanya dapat disampaikan
kepada orang lain bila :

Ada izin dari peserta didik yang bersangkutan atau orang yang
bertanggung jawab terhadap peserta didik (bagi peserta didik yang belum
dewasa). Jadi dengan demikian praktek menempelkan hasil tes di papan
pengumuman dengan identitas jelas peserta tes, merupakan pelanggaran
terhadap etika ini.

Ada tanda-tanda yang jelas terhadap hasil tes tersebut menunjukan gejala
yang membahayakan dirinya atau membahayakan kepentingan orang lain.
Bila penyampaian hasil tes tersebut kepada orang lain jelas-jelas
menguntungkan peserta tes.

b.
Keamanan
tes
Tes merupakan alat pengukur yang hanya dapat digunakan secara professional.
Dengan demikian tes tidak dapat digunakan diluar batas-batas yang ditentukan
oleh profesionalisme pekerjaan guru. Dengan demikian maka setiap pendidik
harus dapat menjamin keamanan tes, baik sebelum maupun sesudah digunakan.
c.
Interpretasi
Hasil
Tes
Hal yang paling mengandung kemunkinan penyalahgunaan tes adalah
penginterpretasian hasil tes secara salah. Karena itu maka interpretasi hasil tes
harus diikuti tanggung jawab professional. Bila hasil tes diinterpretasi secara tidak
patut, daalam jangka panjang akan dapat membahayakan kehidupan peserta tes.
d.
Penggunaan
tes
Tes hasil belajar haruslah digunakan secara patut. Bila tes hasil belajar tertentu
merupakan tes baku, maka tes tersebut harus digunakan di bawah ketentuan yang
berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut harus digunakan dibawah ketentuan
yang berlaku bagi pelaksanaan tes baku tersebut. Tak ada tes baku yang boleh
digunakan diluar prosedur yang ditapakan oleh tes itu sendiri..
Disamping beberapa prinsip seperti yang diuraikan di atas, ada beberapa petunjuk
praktis yang hendaknya ditaati oleh pendidik dalam tes:
Pelaksaan tes hendaknya diberi tahu terlebih dahulu kepada peserta tes.
Hanya karena pertimbangan tertentu, yang sangat penting yang dapat
membenarkan pendidik tidak memberi tahu terlebih dahulu kepada peserta
tes tentang tes yang akan dilaksanakan. Bahkan kisi-kisi tes sebaiknya
diberi tahu kepada peserta tes sebelum melaksanakan tes.

Sebaiknya pendidik menjelaskan cara menjawab yang dituntut dalam suatu


tes. Petunjuk menjawab tes bukanlah sesuatu yang harus dirahasiakan.
Petunjuk yang bersifat menjebak harus dihindari.

Sebaiknya pendidik justru memotivasi peserta tes mengerjakan tesnya


secara baik. Jangan sampai seorang pendidik justru menakut-nakuti
peserta didik.

Bila pendidik menggunakan tes baku, maka hendaknya pendidik tersebut


bertanggung jawab penuh terhadap keamanan tes tersebut. Tidak ada tes
baku yang boleh digunakan dalam latihan.

Seorang pendidik dapat menggunakan hasil tes untuk mengidentifikasi


kekuatan dan kelemahan peserta tes, asalkan hal tersebut tetap menjadi
rahasia peserta tes dan pendidik yang bersangkutan.

Guru hendaknya menghindari diri dari keterlibatan dalam bimbingan tes


yang dapat diperkirakan akan menggangu proses hasil belajar peserta
didik. Hal ini menjadi penting bila guru yang bersangkutan justru terlibat
dalam penyusunan butir tes yang digunakan.

Adalah tidak etik bila seorang guru mengembangkan butir soal atau
perangkat soal yang paralel dengan suatu tes baku dengan maksud untuk
digunakan dalam bimbingan tes.

Adalah tidak etik untuk mendiskriminasikan peserta didik tertentu atau


kelompok tertentu yang boleh mengikuti suatu tes atau melarang
mengikuti tes.

Adalah tidak etik untuk memperpanjang waktu atau menyingkat waktu


yang telah ditentukan oleh petunjuk tes.

Guru tidak boleh meningkatkan rasa cemas peserta tes dengan penjelasan
yang tidak perlu.

Secara lebih mandasar etika tes ini diatur dalam standar tes yang dikembangkan
oleh organisasi profesional seperi American Psycological Association (APA),
American Educational Research Education (AERA), dan National Council on
Measuremant in Educaton (NCME). Terakhir ketiga organiasi professional ini
membentuk panitia bersama untuk menyusun standar dalam tes. Mereka
menghasilkan buku yang dinamakan Standard for Educational and Psychological
Testing
(1985).
Dalam standar ini dicantumkan berbagai tolak ukur, seperti :
1. Technical
Standards
for Test
Construction
and Evaluation;
2.
Professional
Standards
for
Test
Use;
3.
Standards
for
Particular
Application;
dan
4.
Standards
for
Administrative
Procedures.
Semua standar ini mencangkup dua aspek utama, yaitu tes hasil belajar dan tes
psikologi. Pelanggaran terhadap standar ini merupakan pelanggaran terhadap etika
profesi, yang dalam hal tertentu dapat merupaakan pelanggaran atau kejahatan.
Sumber
/
daftar
pustaka
1. Mimin Haryati, Model & Teknik Penilaian pada tingkat satuan pendidikan,
Jakarta
:
GP
Press,
2007
(http://pendidikan.anekanews.com/2010/04/pengertian-hubungan-perbedaandan-etika.html)
2. Asmawi Zainul, Pengukuran, Tes dan Evaluasi Hasil Belajar, Jakarta : PAU,
1992.
(http://pendidikan.anekanews.com/2010/04/pengertian-hubungan-perbedaandan-etika.html)

3. Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta : PT Raja Grafindo


Persada,
1998.
(http://pendidikan.anekanews.com/2010/04/pengertian-hubungan-perbedaandan-etika.html)
Diposkan oleh AKBAR ISKANDAR di 21.44

2 komentar:
1.
hanif Muhammad4 November 2014 18.41
Kursus Jahit Yogyakarta
Kursus Jahit Bordir Jogja Kursus Jahit Bordir Yogya
LPK NAVITA
Tempat Pelatihan Orang Mandiri
Pelatihan Jahit, Kaos, Bordir, Tas, Sulam Pita, Payet, Kreasi Flanel,
Aplikasi Kain Perca
Mudah-Murah-Hemat-Terampil
Kenapa memilih LPK Navita:
Berpengalaman sejak 2003
Berpengalaman dalam Gugus Kendali Mutu Nasional 2009
Mesin Jahit Bordir Lengkap Kecil-Besar
Magang
GRATIS lebih dari 70 Modul Jahit Terbaik EBOOK senilai 500.000
Biaya Mulai 250rb/program
Tempat terjangkau(200m ke selatan Jalan Kusumanegara)
Disediakan asrama bagi yang berasal luar kota yogya
Terima Order Jahitan Partai Besar/Kecil

PERBEDAAN

Berbicara tentang evaluasi, maka beberapa dari kita akan


terbersit tentang penilaian diakhir. Mengartikan evaluasi sebagai
penilaian diakhir bukanlah suatu hal yang salah. Hanya saja
evaluasi jauh lebih luas dari penilaian diakhir. Biasanya di dalam
evaluasi terdapat istilah-istilah yang mengiringinya, diantaranya
tes, pengukuran (measurement), penilaian (assessment) dan
evaluasi itu sendiri. Kesemua istilah-istilah tersebut memiliki
definisi yang hampir sama dan saling terkait satu dengan yang
lainnya. Untuk lebih mengetahui istilah evaluasi, asesmen, dan
tes, berikut ini akan ada beberapa definisi dari para ahli
mengenai istilah-istilah tersebut.
A. Definisi Evaluasi
Evaluasi adalah suatu proses merencanakan, memperoleh,
dan menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk
membuat alternatif-alternatif keputusan (Mehrens &
Lehmann, 1978:5).
Komite Studi Nasional tentang evaluasi (National Study
Committee on Evaluation) dari UCLA (Stark & Thomas,
1994: 12). Evaluasi merupakan suatu proses atau kegiatan
pemilihan, pengumpulan, analisis, dan penyajian informasi
yang dapat digunakan sebagai dasar pengambilan
keputusan serta penyusunan program selanjutnya.
Evaluasi adalah proses membuat judgment untuk
memutuskan tentang manfaat pendekatan tertentu atau
hasil pekerjaan siswa (Richard I. Arends, 2008: 217).
Evaluasi merupakan proses yang sistematis dan
berkelanjutan untuk mengumpulkan, mendeskripsikan,
menginterpretasikan, dan menyajikan informasi tentang
suatu program untuk dapat digunakan sebagai dasar
membuat keputusan, menyusun kebijakan maupun
menyusun program selanjutnya (S. Eko Putro Widoyoko,
2012: 6).
Dari beberapa definisi diatas maka untuk lebih mudahnya
disimpulkan bahwa, evaluasi adalah keseluruhan proses yang
sistematis dan berkelanjutan untuk membuat keputusan program
berdasarkan sajian informasi yang telah terkumpul. Dengan
demikian evaluasi tersebut merupakan proses yang sengaja
direncanakan untuk memperoleh informasi atau data yang
kemudian dicoba membuat keputusan. Dalam melakukan
evaluasi, evaluator pada tahap awal harus menentukan fokus
yang akan dievaluasi dan desain yang akan digunakan.

B. Definisi Asesmen
Asesmen adalah proses mengumpulkan informasi tentang
siswa dan kelas untuk maksud-maksud pengambilan
keputusan instruksional (Richard I. Arends, 2008: 217).
Asesmen berarti proses pengumpulan informasi. Untuk
guru, asesmen dilakukan sebagai tujuan memutuskan
keterampilan mengajar (James A. Poteet, 1987, 6).
Asesmen adalah proses pengumpulan informasi dengan
mempergunakan alat dan teknik yang sesuai, untuk
membuat keputusan pendidikan berkenaan dengan
penempatan dan program pendidikan bagi siswa tertentu
(Djadja Rahardja).
Asesmen atau penilaian diartikan sebagai kegiatan
menafsirkan data hasil pengukuran berdasarkan kriteria
maupun aturan-aturan tertentu (S. Eko Putro Widoyoko,
2012: 3).
Maka disimpulkan bahwa asesmen adalah proses mengumpulkan
informasi tentang objek (murid) dengan menggunakan alat dan
teknik yang sesuai untuk membuat penilaian atau keputusan
mengenai objek tersebut. Berdasarkan kesimpulan definisi
asesmen tersebut, maka untuk melakukan asesmen diperlukan
suatu alat atau instrumen dan teknik sebagai pengumpul
informasi dan pertimbangan penilaian mengenai objek.
C. Definisi Tes
Alat atau instrumen untuk asesmen tersebut yang dinamakan
sebagai tes. Tes yang digunakan adalah untuk alat ukur dan
informasi mengenai objek. Berikut ini adalah beberapa definisi
ahli mengenai istilah tes tersebut.
Tes merupakan salah satu cara untuk menaksir besarnya
kemampuan seseorang secara tidak langsung, yaitu
melalui respons seseorang terhadap stimulus atau
pertanyaan (Djemari Mardapi, 2008: 67).
Tes adalah merupakan alat atau prosedur yang digunakan
untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana,
dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan
(Suharsimi Arikunto, 2011, 53).
Tes merupakan salah satu alat untuk melakukan
pengukuran, yaitu alat untuk mengumpulkan informasi
karakteristik suatu objek (S. Eko Putro Widoyoko, 2012: 2).
Dari beberapa definisi tentang tes, maka disimpulkan bahwa tes
adalah suatu cara atau alat (instrumen) dan teknik yang
digunakan untuk mendapatkan informasi objek (murid) yang

berbentuk suatu tugas dengan aturan tertentu. Maka dari definisi


tes tersebut fungsi dari tes adalah sebagai alat ukur dan
pengumpul informasi untuk asesmen dan evaluasi.
Hasil dari tes tersebut berupa pengukuran dan umumnya
mendapatkan informasi secara kuantitatif. Informasi kuantitatif
diolah kembali untuk penilaian atau asesmen. Umumnya
informasi hasil dari asesmen bersifat kualitatif atau deskripsi
mengenai objek yang di asesmen. Dan dari hasil asesmen akan
ada suatu keputusan untuk evaluasi objek berdasarkan tujuan
yang telah difokuskan.
Antara asesmen dan evaluasi memiliki persamaan dan
perbedaan. Disebutkan bahwa keduanya mempunyai pengertian
untuk membuat keputusan dan menilai suatu objek. Dan alat
yang digunakan untuk mengumpulkan informasi pada keduannya
dapat berupa tes. Sedangkan perbedaannya terletak pada ruang
lingkup pelaksanaannya. Ruang lingkup asesmen lebih sempit
dan biasanya hanya terbatas pada salah satu komponen atau
aspek, seperti prestasi belajar murid. Sedangkan ruang lingkup
evaluasi lebih luas, mencakup semua komponen dalam suatu
sistem, seperti sistem pendidikan, sistem kurikulum dan sistem
pembelajaran (Zainal Arifin, 2012: 7).
Selain perbedaan pada ruang lingkup antara asesmen dan
evaluasi. Ada pula perbedaan antara keduanya dalam
pelaksanaan penilaiannya. Pada asesmen pelaksanaan penilaian
biasanya dilakukan dalam konteks internal, dan untuk evaluasi
pelaksanaannya tidak hanya pihak internal tetapi juga pihak
eksternal (Zainal Arifin, 2012: 7, 8). Contoh pelaksanaan
asesmen seperti seorang guru menilai prestasi belajar pada
pelajaran tertentu, guru tersebut adalah orang atau pihak
internal yang menjadi bagian dalam proses pembelajaran yang
bersangkutan. Dan contoh untuk pelaksanaan evaluasi, seperti
konsultan mengevaluasi program atau kurikulum.
Berikut ini adalah sebuah ilustrasi yang mungkin akan
mempermudah dalam pemaknaan evaluasi, asesmen, dan tes.
Bu Elin ingin mengetahui apakah murid-muridnya sudah
menguasai kompetensi dasar dalam mata pelajaran Teknologi
Informasi dan Komunikasi. Untuk itu, Bu Elin memberikan tes
tertulis dalam bentuk objektif pilihan ganda sebanyak 50 soal
kepada murid-muridnya (artinya Bu Elin sudah menggunakan
tes). Selanjutnya, Bu Elin memeriksa lembar jawaban muridmuridnya sesuai dengan kunci jawaban, kemudian sesuai dengan
rumus tertentu dihitung skor mentahnya. Hasil skor mentah yang

diperoleh murid-muridnya sangat bervariasi, ada yang


memperoleh skor 25, 36, 44, 47, dan seterusnya (sudah terjadi
pengukuran). Angka atau skor-skor tersebut tentu belum
mempunyai nilai/makna dan arti apa-apa maka perlu
disintesiskan atau ditafsirkan. Untuk memperoleh nilai dan arti
dari setiap skor tersebut, Bu Elin melakukan pengolahan skor
dengan pendekatan tertentu. Hasil pengolahan dan penafsiran
dalam skala nilai 0 sampai 10 menunjukan bahwa skor 25
memperoleh nilai 5 (artinya tidak menguasai), skor 36
memperoleh nilai 6 (artinya cukup menguasai), skor 44
memperoleh nilai 8 (artinya menguasai), skor 47 memperoleh
nilai 9 (artinya sangat menguasai). Sampai sini sudah terjadi
proses asesmen atau penilaian
Ilustrasi tersebut adalah contoh dalam ruang lingkup penilaian
hasil belajar pada pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Jika Bu Elin menilai seluruh komponen pembelajaran (media,
materi, sampai kurikulum), maka terjadi evaluasi.
Dari paparan penjelasan dan ilustrasi di atas maka cukup jelas
bahwa asesmen adalah bagian dari evaluasi. Untuk dapat
melakukan asesmen dan evaluasi diperlukan informasi-informasi
mengenai objek yang akan di asesmen dan di evaluasi.
Informasi-informasi tersebut didapat dari tes yang diberikan
kepada objek. Tes itulah yang digunakan sebagai alat
pengukuran untuk memperoleh informasi.
Asesmen bagian dari evaluasi dikarenakan asesmen adalah
proses mengumpulkan informasi tentang objek untuk membuat
penilaian atau keputusan mengenai objek tersebut. Dan evaluasi
adalah keseluruhan proses sistematis yang di dalamnya ada
proses merencanakan, memperoleh, dan menyediakan informasi
untuk membuat keputusan berdasarkan sajian informasi yang
telah terkumpul. Peran dari asesmen tersebut adalah untuk
mengumpulkan informasi pada perbagian karakteristik objek
yang di nilai. Maka ruang lingkup dan pelaksanaan asesmen itu
terbatas karena asesmen menilai pada perbagian karakteristik
objek. Sedangkan evaluasi, menilai keseluruhan dari informasiinformasi yang didapat pada tahapan asesmen.
Contoh ingin melakukan evaluasi hasil belajar, maka informasi
yang dibutuhkan adalah hasil belajar pada tiap-tiap mata
pelajaran yang telah dipelajari (misalkan: Bahasa Indonesia,
Matematika, IPA, IPS). Lakukan asesmen pada Bahasa Indonesia,
asesmen pada Matematika, asesmen pada IPA, asesmen pada
IPS. Ke-empat informasi asesmen mata pelajaran tersebut

digunakan untuk menilai atau mengevaluasi hasil belajar.


Sehingga mendapatkan sebuah keputusan mengenai evaluasi
hasil belajar.

Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan


Assessment

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Bagi sebagian besar pendidik, istilah pengukuran, penilaian, evaluasi,
dan asesmen adalah istilah yang sering digunakan dalam menjalankan
tugasnya sebagai pengajar. Menentukan hasil pembelajaran diupayakan untuk
berlaku objektif, adil, dan menyeluruh, Oleh karena itu penggunaan alat ukur
yang handal dan terpercaya mutlak untuk dilaksanakan dengan cara-cara yang
tepat.
Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi,
dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi
yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang
berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi
titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang
sesuatu tersebut. Semuanya itu sebagai satu kesatuan yang akan menentukan
kualitas pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, pendidik dan peserta didik
masing-masing berupaya mensukseskan tugas utama.
B. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang ada pada penulisan makalah ini adalah:

1. Apa pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen .?


2. Apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi .?
3. Apa perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran .?
4. Apa persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi .?
C. TujuanPenulisan
Dari rumusan masalah tersebut, di dapat tujuan penulisan yaitu :
1. Untuk mengetahui pengertian dan konsep pengukuran, penilaian, evaluasi,
dan asesmen
2. Mengetahui apa saja tujuan, fungsi, manfaat dan prinsip evaluasi
3. Untuk mengetahui perbedaan evaluasi, penilaian dan pengukuran
4. Mengetahui persamaan dan perbedaan asesmen dan evaluasi

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian dan Konsep Pengukuran, Penilaian, Evaluasi, dan Asesmen
Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah
yang sangat akrab dengan han evaluasi. Hal tersebut disebabkan karena
adanya tes prestasi belajar seringkali dijadikan sebagai satu-satunya alat untuk
menilai hasil belajar. Dengan demikian perlu adanya upaya untuk
memperkenalkan tentang pengertian dan konsep pengukuran, penilaian,
evaluasi, dan asesmen.
1. Konsep Pengukuran

Asmawi Zainul dan Noehi Nasution mengartikan pengukuran


sebagai pemberian angka kepada suatu atribut atau karakteristik tertentu
yang dimiliki oleh orang, hal, atau obyek tertentu menurut aturan atau
formulasi yang jelas. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Suharsimi
Arikunto, bahwa mengukur adalah membandingkan sesuatu dengan satuan
ukuran. Pengukuran bersifat kuantitatif. Hasil pengukuran yang bersifat
kuantitatif juga dikemukakan oleh Norman E. Gronlund (1971) yang
menyatakan Measurement is limited to quantitative descriptions of pupil
behavior
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas,
biasanya terhadap suatu standar atau satuan pengukuran. Pengukuran tidak
hanya terbatas pada kuantitas fisik, tetapi juga dapat diperluas untuk
mengukur hampir semua benda yang bisa dibayangkan, seperti tingkat
ketidakpastian, atau kepercayaan konsumen.
2. Konsep Penilaian
Pengertian penilaian ditekankan pada penentuan nilai suatu obyek
dikemukakan oleh Nana Sudjana. Ia menyatakan bahwa penilaian adalah
proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau
kriteria tertentu, seperti Baik , Sedang, Jelek. Seperti juga halnya yang
dikemukakan oleh Richard H. Lindeman (1967) The assignment of one
or a set of numbers to each of a set of person or objects according to
certain established rules
Penilaian adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam
alat penilaian untuk memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil
belajar

peserta

didik

atau

ketercapaian

kompetensi

(rangkaian

kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik


apa hasil atau prestasi belajar seorang peserta didik.Hasil penilaian dapat
berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan nilai

kuantitatif (berupa angka). Pengukuran berhubungan dengan proses


pencarian atau penentuan nilai kuantitatif tersebut.
Penilaian

pada

hasil

belajar

pada

dasarnya

adalah

mempermasalahkan, bagaimana pengajar (guru) dapat mengetahui hasil


pembelajaran yang telah dilakukan. Pengajar harus mengetahui sejauh
mana pebelajar (learner) telah mengerti bahan yang telah diajarkan atau
sejauh mana tujuan/kompetensi dari kegiatan pembelajaran yang dikelola
dapat dicapai. Tingkat pencapaian kompetensi atau tujuan instruksional
dari kegiatan pembelajaran yang telah dilaksanakan itu dapat dinyatakan
dengan nilai.
3. Konsep Evaluasi
Menurut pengertian bahasa kata evaluasi berasal dari bahasa
Inggris evaluation yang berarti penilaian atau penaksiran (John M. Echols
dan

Hasan

Shadily:

1983).

Menurut

Stufflebeam,

dkk

(1971)

mendefinisikan evaluasi sebagai The process of delineating, obtaining,


and providing useful information for judging decision alternatives.
Artinya evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh, dan
menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif
keputusan.
Evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Mengukur lebih
besifat kuantitatif, sedangkan menilai lebih bersifat kualitatif. Viviane dan
Gilbert de Lansheere (1984) menyatakan bahwa evaluasi adalah proses
penentuan apakah materi dan metode pembelajaran telah sesuai dengan
tujuan yang diharapkan. Penentuannya bisa dilakukan salah satunya
dengan cara pemberian tes kepada pembelajar. Terlihat disana bahwa
acuan tes adalah tujuan pembelajaran.
4. Konsep Asesmen

Istilah asesmen (assessment) diartikan oleh stiggins (1994) sebagai


penilaian proses, kemajuan, dan hasil belajar siswa (outcomes). Sementara
itu asesmen diartikan oleh Kumano (2001) sebagai The process of
collengting data which shows the development of learning. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa asesmen merupakan istilah yang tepat
untuk penilaian proses belajar siswa. Namun meskipun proses belajar
siswa merupakn hal penting yang dinilai dalam asesmen, factor hasil
belajar juga tetap tidak dikesampingkan.
Gabel (1993:388-390) mengkategorikan asesmen kedalam dua
kelompok besar, asesmen tradisional dan asesmen alternative. Asesmen
yang tergolong tradisional adalah tes benar-salah, tes pilihan ganda, tes
melengkapi, dan tes jawaban terbatas. Sementara itu yang tergolong
kedalam asesmen alternative (non-tes) adalah essay/uraian, penilaian
praktek, penilaian proyek, kuesioner, inventori, daftar Cek, penilaian oleh
teman sebaya/sejawat, penilaian diri (self assessment), pertofolio,
observasi, diskusi dan interviu (wawancara).
Wiggins (1984) menyatakan bahwa asesmen merupakan sarana
yang secara kronologis membantu guru dalam memonitor siswa. Oleh
karena itu, maka Popham (1995) menyatakn bahwa asesmen sudah
seharusnya merupakan bagian dari pembelajaran, bukan merupakan hal
yang terpisahkan. Resnick (1985) menyatakan bahwa pada hakikatnya
asesmen menitikberatkan penilaian pada proses belajar siswa. Berkaitan
dengan hal tersebut, Marzano et al. (1994) menyatakan bahwa dalam
mengungkap konsep yang telah dicapai , akan tetapi juga tentang proses
perkembangan bagaimana suatu konsep tersebut diperoleh. Dalam hal ini
asesmen tidak hanya dapat menilai hasil dan proses belajar siswa, akan
tetapi juga kemajuan belajarnya.
B. Tujuan, Fungsi, Manfaat dan Prinsip Evaluasi

Dalam melakukan evaluasi terdapat subjek dan sasaran evaluasi,


dimana subjek evaluasi merupakan orang yang melakukan pekerjaan evaluasi
yang ditentukan oleh suatu aturan pembagian tugas atau ketentuan yang
berlaku. Sedangkan sasaran evaluasi merupakan segala sesuatu yang menjadi
titik pusat pengamatan karena penilaian menginginkan informasi tentang
sesuatu tersebut. Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita
harus mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum
ataupun khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip
evaluasi, agar evaluasi hasil belajar yang akan kita laksanakan bisa berjalan
dengan baik dan benar
1. Tujuan Evaluasi
Evaluasi dilaksanakan dengan berbagai tujuan. Khusus terkait dengan
pembelajaran, evaluasi dilaksanakan dengan tujuan:
Mendeskripsikan kemampuan belajar siswa.
mengetahui tingkat keberhasilan PBM
menentukan tindak lanjut hasil penilaian
memberikan pertanggung jawaban (accountability)
2. Fungsi Evaluasi
Asmawi Zainul dan Noehi Nasution menyatakan fungsi-fungsi dari
evaluasi pembelajaran, yaitu fungsi:
Remedial
Umpan balik
Memotivasi dan membimbing anak

Perbaikan kurikulum dan program pendidikan


Pengembangan ilmu
3. Manfaat Evaluasi
a. Secara umum manfaat yang dapat diambil dari kegiatan evaluasi dalam
pembelajaran, yaitu :
Memahami sesuatu : mahasiswa (entry behavior, motivasi, dll),
sarana dan prasarana, dan kondisi dosen
Membuat keputusan : kelanjutan program, penanganan masalah, dll
Meningkatkan kualitas PBM : komponen-komponen PBM
b. Sementara secara lebih khusus evaluasi akan memberi manfaat bagi
pihak-pihak yang terkait dengan pembelajaran, seperti siswa, guru, dan
sekolah.
Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran bagi siswa
Mengetahui tingkat pencapaian tujuan pembelajaran : Memuaskan
atau tidak memuaskan
Manfaat kegiatan evaluasi dalam pembelajaran Bagi Guru
mendeteksi siswa yang telah dan belum menguasai tujuan :
melanjutkan, remedial atau pengayaan
ketepatan materi yang diberikan : jenis, lingkup, tingkat kesulitan,
dll.
ketepatan metode yang digunakan

Bagi Sekolah
membuat program sekolah
hasil belajar cermin kualitas sekolah
pemenuhan standar
4. Prinsip Evaluasi
Terdapat beberapa prinsip yang harus diperhatikan dalam melaksanakan
evaluasi, agar mendapat informasi yang akurat, diantaranya:
Dirancang secara jelas abilitas yang harus dinilai, materi penilaian, alat
penilaian, dan interpretasi hasil penilaian. patokan : Kurikulum/silabi.
Penilaian hasil belajar menjadi bagian integral dalam proses belajar
mengajar.
Agar hasil penilaian obyektif, gunakan berbagai alat penilaian dan
sifatnya komprehensif.
Hasilnya hendaknya diikuti tindak lanjut.
C. Perbedaan Evaluasi, Penilaian dan Pengukuran
Penilaian adalah suatu proses untuk mengambil keputusan dengan
menggunakan informasi yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik
yang menggunakan tes maupun nontes. Pengukuran adalah membandingkan
hasil tes dengan standar yang ditetapkan. Pengukuran bersifat kuantitatif.
Sedangkan menilai adalah kegiatan mengukur dan mengadakan estimasi
terhadap hasil pengukuran atau membanding-bandingkan dan tidak sampai ke
taraf pengambilan keputusan.Penilaian bersifat kualitatif.

Agar lebih jelas perbedaannya maka perlu dispesifikasi lagi untuk


pengertian masing-masing:
Evaluasi pembelajaran adalah suatu proses atau kegiatan untuk menentukan
nilai, kriteria-judgment atau tindakan dalam pembelajaran.
Penilaian dalam pembelajaran adalah suatu usaha untuk mendapatkan
berbagai informasi secara berkala, berkesinambungan, dan menyeluruh
tentang proses dan hasil dari pertumbuhan dan perkembangan yang telah
dicapai oleh anak didik melalui program kegiatan belajar.
Pengukuran atau measurement merupakan suatu proses atau kegiatan untuk
menentukan kuantitas sesuatu yang bersifat numerik. Pengukuran lebih
bersifat kuantitatif, bahkan merupakan instrumen untuk melakukan
penilaian.

Dalam

sebagaimana

dunia

disampaikan

pendidikan,
Cangelosi

yang
(1995:

dimaksud
21)

pengukuran

adalah

proses

pengumpulan data melalui pengamatan empiris.


D. Persamaan dan Perbedaan Asesmen dan Evaluasi
Rustaman (2003) mengungkapkan bahwa asesmen lebih ditekankan
pada penialain proses. Sementara itu evaluasi lebih ditekankan pada hasil
belajar. Apabila dilihat dari keberpihakannya, menurut Stiggins (1993)
asesmen labih berpihak pada kepentingan siswa. Siswa dalam hal ini
menggunakan hasil asesmen untuk merefleksikan kekuatan, kelemahan, dan
perbaikan belajar. Sementara itu evaluasi menurut Rustaman (2003) lebih
berpihak kepada kepentingan evaluator.
Yulaelawati (2004) mengungkapkan bahwa terdapat perbedaan antara
evaluasi dengan asesmen. Evaluasi (evaluation) merupakan penilaian program
pendidikan secara menyeluruh. Evaluasi pendidikan lebih bersifat makro,
meluas, dan menyeluruh. Evaluasi program menelaah komponen-komponen
yang saling berkaitan tentang perencanaan, pelaksanaan, dan pemantauan.

Sementara itu asesmen merupakan penilaian dalam scope yang lebih sempit
(lebih mikro) bila dibandingkan dengan evaluasi. Seperti dikemukakan oleh
Kumano (2001) asesmen hanya menyangkut kompetensi siswa dan perbaikan
program pembelajaran.
Harlen (1982) mengungkapkan perbedaan antara asesmen dan evaluasi
dalam hal metode. Evaluasi dinyatakan menggunakan kriteria dan metode
yang bervariasi. Asesmen dalam hal ini hanya merupakan salah satu dari
metode yang dipilih untuk evaluasi tersebut. Selain dari itu, subyek untuk
asesmen hanya siswa, sementara itu subyek evaluasi lebih luas dan beragam
seperti siswa, guru, materi organisasi, dll.
Yulaelawati (2004) menekankan kembali bahwa scope asesmen hanya
mencakup kompetensi lulusan dan perbaikan cara belajar siswa. Jadi
hubungannya lebih pada peserta didik. Ruang lingkup evaluasi yang lebih luas
ditunjukkan dengan cakupannya yang meliputi isi atau substansi, proses
pelaksanaan program pendidikan, kompetensi lulusan, pengadaan dan
pemingkatan tenaga kependidikan, manajemen pendidikan, sarana dan
prasarana, dan pembiayaan.

BAB III
PENUTUP
A. Simpulan
Pengukuran, penilaian, evaluasi, dan asesmen merupakan istilah-istilah
yang sangat akrab dengan hal evaluasi, khususnya evaluasi hasil belajar.
Pengukuran adalah penentuan besaran, dimensi, atau kapasitas, biasanya
terhadap suatu standar atau satuan pengukuran, sedangkan penilaian adalah
proses menentukan nilai suatu obyek dengan menggunakan ukuran atau

kriteria tertentu. Evaluasi merupakan proses menggambarkan, memperoleh,


dan menyajikan informasi yang berguna untuk merumuskan suatu alternatif
keputusan pada dasarnya evaluasi adalah kegiatan mengukur dan menilai. Dan
Assessment biasanya dihubungkan dengan kemampuan seseorang, seperti
kecerdasannya, keterampilannya, kecepatanya, ketepatannya, misalnya buku
rapor.
Oleh karena itu untuk melakukan suatu evaluasi maka kita harus
mengetahui apa saja tujuan dari evaluasi, baik tujuan secara umum ataupun
khusus. Kita juga harus mengetahui fungsi, manfaat serta prinsip evaluasi,
serta persamaan dan perbedaannya agar evaluasi hasil belajar yang akan kita
laksanakan bisa berjalan dengan baik dan benar. Semuanya itu sebagai satu
kesatuan yang akan menentukan kualitas pembelajaran. Dalam proses
pembelajaran,

pendidik

dan

peserta

didik

masing-masing

berupaya

mensukseskan tugas utama mereka masing-masing.

DAFTAR PUSTAKA
Gabel, D.L. (1993). Handbook of Research on Science Teaching and Learning.
New York:Maccmillan Company.
Harlen,

W.

(1983).

Guides

to

assessment

in

Edication

Science.

London:Maccmillan Education.
Kumano, Y. 2001. Authentic Assessment andPortofolio Assessment-Its Theory and
Practice. Japan:Shizouka University.
Marzano, R.J. et al. (1994). Assessing Student Outcomes: Perfomance Asessment
Using the Dimension of Learning Model. Alexandria:Association for
Supervison and Curriculum Development.
Popham, W.J. (1995). Classroom Assessment, What Teachers Need it Know.
Oxford:Pergamon Press

Resnick, D.P. & Resnick, L.B. (1985). Standars, Curiiculum, and Performance:A
Historical and Comparative Perspektive Educational Researcher 9, 5-19.
Rustaman, N. (2003). Assessment Pendidikan IPA. Makalah penataran guru-guru
NTT di Jurusan Pendidikan Biologi
Stiggins,

R.J.

(1994).

Student-Centered

Classroom

Assessment.

New

York:Macmillan Colege Publishing Company


Wiggins, G. (1984). A True Test:Toward More Authentic and Equitable
Assessment Phi Delta Kappan 70, (9) 703-713
Yulaelawati, E. (2004). Kurikulum dan Pembelajaran. Jakarta: Pakar Raya Jakarta
http://santriw4n.wordpress.com
http://aderusliana.wordpress.com/konsep-dasar-evaluasi-hasil-belajar

Pengertian Evaluasi (Penilaian), Pengukuran, Tes,dan Asesmen


Labels: pbm

Pengertian Evaluasi (Penilaian), Pengukuran,


Tes,dan Asesmen
Kali ini blog ptk (penelitian tindakan kelas) dan model-model pembelajaran
kembali mengangkat topik penilaian,setelah sebelum menulis tentang PrinsipPrinsip Penilaian, kemudian tentang Penilaian Afektif, dan juga Penilaian
Psikomotor. Topik kali ini bersifat mendasar sekali, yaitu tentang pengertian
evaluasi, pengertia penilaian, pengertian pengukuran, pengertian tes, dan
pengertian asesmen. Topik ini tampaknya sangat menarik dan perlu untuk dibahas
karena begitu simpang siurnya definisi istilah-istilah tersebut di internet. Setelah
melakukan kajian terhadap berbagai definisi tentang evaluasi, penilaian, tes,
pengukuran, hingga asesmen, maka dapatlah dibuat artikel ini yang tujuannya
untuk mendudukkan kembali semua istilah itu pada tempatnya yang tepat. Pada

tulisan ini kami hanya mengambil definisi-definisi dari para ahli yang telah
diakui kredibilitasnya di bidang pendidikan dan psikologi pendidikan.

Pengertian Evaluasi (Penilaian) Menurut Para Ahli

Sudiono, Anas (2005) mengemukakan bahwa secara harfiah kata evaluasi


berasal dari bahasa Inggris evaluation, dalam bahasa Indonesia berarti
penilaian. Akar katanya adalah value yang artinya nilai. Jadi istilah
evaluasi menunjuk pada suatu tindakan atau suatu proses untuk
menentukan nilai dari sesuatu.
Frey, Barbara A., and Susan W. Alman. (2003): Evaluation The systematic
process of collecting, analyzing, and interpreting information to determine
the extent to which pupils are achieving instructional objectives. (Artinya:
Evaluasi adalah proses sistematis pengumpulan, analisis, dan interpretasi
informasi untuk menentukan sejauh mana siswa yang mencapai tujuan
instruksional).
Mardapi, Djemari (2003), penilaian adalah kegiatan menafsirkan atau
mendeskripsikan hasil pengukuran.
Zainul, Asmawi dan Noehi Nasution (2001), mengartikan penilaian adalah
suatu proses untuk mengambil keputusan dengan menggunakan informasi
yang diperoleh melalui pengukuran hasil belajar baik yang menggunakan
tes maupun nontes.

Kesimpulan Tentang Pengertian Evaluasi:

Evaluasi berasal dari akar kata bahasa Inggris value yang berarti
nilai, jadi istilah evaluasi sinonim dengan penilaian.
Evaluasi merupakan proses sistematis dari mengumpulkan, menganalisis,
hingga interpretasi (menafsirkan) data atau informasi yang diperoleh.
Data atau informasi diperoleh melalui pengukuran (measurement) hasil
belajar.melalui tes atau nontes.
Evaluasi bersifat kualitatif.

Pengertian Pengukuran (Measurement) Menurut Para Ahli

Alwasilah et al.(1996), measurement (pengukuran) merupakan proses


yang mendeskripsikan performa siswa dengan menggunakan suatu skala
kuantitatif (sistem angka) sedemikian rupa sehingga sifat kualitatif dari
performa siswa tersebut dinyatakan dengan angka-angka
Arikunto dan Jabar (2004) menyatakan pengertian pengukuran
(measurement) sebagai kegiatan membandingkan suatu hal dengan satuan
ukuran tertentu sehingga sifatnya menjadi kuantitatif.
Cangelosi, James S. (1995), pengukuran adalah proses pengumpulan data
secara empiris yang digunakan untuk mengumpulkan informasi yang
relevan dengan tujuan yang telah ditentukan.

Sridadi (2007) pengukuran adalah suatu prose yang dilakukan secara


sistematis untuk memperoleh besaran kuantitatif dari suatu obyek tertentu
dengan menggunakan alat ukur yang baku.

Kesimpulan Tentang Pengertian Pengukuran:

Kegiatan pengukuran dilakukan dengan membandingkan hasil belajar


dengan suatu ukuran tertentu.
Dilakukan dengan proses sistematis.
Hasil pengukuran berupa besaran kuantitatif (sistem angka).
Pengukuran menggunakan alat ukur yang baku.

Pengertian Asesmen Menurut Para Ahli

Angelo T.A.(1991): Classroom Assessment is a simple method faculty can


use to collect feedback, early and often, on how well their students are
learning what they are being taught. (Artinya: asesmen Kelas adalah suatu
metode yang sederhana dapat digunakan untuk mengumpulkan umpan
balik, baik di awal maupun setelah pembelajaran tentang seberapa baik
siswa mempelajari apa yang telah diajarkan kepada mereka.)
Kizlik, Bob (2009): Assessment is a process by which information is
obtained relative to some known objective or goal. Assessment is a broad
term that includes testing. A test is a special form of assessment. Tests are
assessments made under contrived circumstances especially so that they
may be administered. In other words, all tests are assessments, but not all
assessments are tests. (Artinya : asesmen adalah suatu proses dimana
informasi diperoleh berkaitan dengan tujuan pembelajaran. Asesmen
adalah istilah yang luas yang mencakup tes (pengujian). Tes adalah bentuk
khusus dari asesmen. Tes adalah salah satu bentuk asesmen. Dengan kata
lain, semua tes merupakan asesmen, namun tidak semua asesmen berupa
tes)
Overton, Terry (2008): Assesment is a process of gathering information to
monitor progress and make educational decisions if necessary. As noted in
my definition of test, an assesment may include a test, but also include
methods such as observations, interview, behavior monitoring, etc.
(Artinya: sesmen adalah suatu proses pengumpulan informasi untuk
memonitor kemajuan dan bila diperlukan pengambilan keputusan dalam
bidang pendidikan. Sebagaimana disebutkan dalam definisi saya tentang
tes, suatu asesmen bisa saja terdiri dari tes, atau bisa juga terdiri dari
berbagai metode seperti observasi, wawancara, monitoring tingkah laku,
dan sebagainya).
Palomba and Banta(1999), Assessment is the systematic collection , review
, and use of information about educational programs undertaken for the
purpose of improving student learning and development (Artinya: asesmen
adalah pengumpulan, reviu, dan penggunaan informasi secara sistematik

tentang program pendidikan dengan tujuan meningkatkan belajar dan


perkembangan siswa).

Kesimpulan Tentang Pengertian Asesmen:

Asesmen merupakan metode dan proses yang digunakan untuk


mengumpulkan umpan balik tentang seberapa baik siswa belajar.
Dapat dilakukan di awal, di akhir (sesudah), maupun saat pembelajaran
sedang berlangsung.
Asesmen dapat berupa tes atau nontes.
Asesmen berupa nontes misalnya penggunaan metode observasi,
wawancara, monitoring tingkah laku, dsb.
Hasilnya dapat digunakan untuk pengambilan keputusan.
Bertujuan meningkatkan belajar (pembelajaran) dan perkembangan siswa.

Pengertian Tes Menurut Para Ahli

Wayan Nurkencana (1993), tes adalah suatu cara untuk mengadakan


penilaian yang berbentuk suatu tugas yang harus dikerjakan anak atau
sekelompok anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku
atau prestasi anak tersebut yang kemudian dapat dibandingkan dengan
nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau standar yang telah ditetapkan
Overton, Terry (2008): test is a method to determine a students ability to
complete certain tasks or demontstrate mastery of a skill or knowledge of
content. Some types would be multiple choice tests or a weekly spelling
test. While it commonly used interchangeably with assesment, or even
evaluation, it can be distinguished by the fact that a test is one form of an
assesment. (Tes adalah suatu metode untuk menentukan kemampuan siswa
menyelesaikan sejumlah tugas tertentu atau mendemonstrasikan
penguasaan suatu keterampilan atau pengetahuan pada suatu materi
pelajaran. Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja
mingguan. Seringkali penggunaannya tertukar dengan asesmen, atau
bahkan evaluasi (penilaian), yang mana sebenarnya tes dapat dengan
mudah dibedakan berdasarkan kenyataan bahwa tes adalah salah satu
bentuk asesmen.)

Kesimpulan Tentang Pengertian Tes:

Tes adalah cara atau metode untuk menentukan kemampuan siswa


menyelesaikan tugas tertentu atau mendemonstrasikan penguasaan suatu
keterampilan atau pengetahuan.
Beberapa tipe tes misalnya tes pilihan ganda atau tes mengeja mingguan.
Tes adalah salah satu bentuk asesmen

Diagram Kedudukan Istilah Evaluasi, Penilaian, Pengukuran,


Asesmen, dan Tes.

Perhatikan Gambar berikut, yang merupakan diagram kedudukan istilah evaluasi,


penilaian, pengukuran, asesmen, dan tes yang seringkali membingungkan.
Diagram dibuat berdasarkan induksi dari pengertian evaluasi (penilaian),
penegertian pengukuran, pengertian asesmen, dan pengertian tesmenurut para ahli
di atas.

Diagram yang menunjukkan kedudukan istilah-istilah "Evaluasi", "Penilaian",


"Pengukuran", "Asesmen", dan "Tes"