Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Dalam sehari-hari karbohidrat sangat akrab dengan kehidupan kita, karena
karbohidrat merupakan sumber energi utama pada manusia. Contoh makanan sehari-hari
yang mengandung karbohidrat adalah pada jagung, gandum, tepung, beras, kentang dan
sayur-sayuran. Selain itu karbohiidrat juga menjadi komponen stuktur penting pada mahluk
hidup dalam bentuk serat (fiber),

seperti selulosa, pektim, derta lignin. Karbohidrat

menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh.


Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organic yang tersusun
hanya dari atom karbon, hydrogen. Karbohidrat digolongkan kedalam 3 golongan yaitu
Monosakarida, Olisakarida, dan Polisakarida. Jenis karbohidrat yang sangat banyak maka
diperlukan pengetahuan dasar tentang sifat fisik dan kimia karbohidrat, selain itu keragaman
jenis karbohidrat memerlukan cara pengujian yang berbeda.
Karbohidrat yang berasal dari makanan kita sehari-hari, dalam tubuh mengalami
perubahan atau metabolism. Hasil metabolism karbohidrat antara lain yaitu Glukosa yang
terdapat dalam darah, sedangkan glikogen adalah karbohidrat yang disintesis dalam hati dan
digunakan oleh sel-sel pada jaringan otot sebagai sumber energi. Energi yang terkandung
dalam karbohidrat itu pada dasarnya berasal dari energi matahari, yaitu glukosa yang
dibentuk dari karbon dioksida dan air dengan bantuan sinar matahari dan klorofil dalam daun.
Dan selanjutnya glukosa yang terjadi di ubah menjadi amilum dan disimpan dalam bagian
lain.
Oleh karena itu, kami melakukan uji karbohidrat pada suatu sampel, agar kita bisa
mengetahui apakah sampel tersebut mengandung karbohidrat atau tidak. Serta bisa
mengetahui termasuk golongan karbohidrat yang mana.
I.2. Tujuan Percobaan
1. Untuk mempelajari berbagai macam uji yang bisa dilakukan terhadap karbohidrat.
2. Untuk mengidentifikasi karbohidrat dalam suatu larutan

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
Karbohidrat merupakan persenyawaan antara karbon, hidrogen, dan oksigen yang
terdapat di alam dengan rumus empiris Cn(H2O)n. Melihat rumus empiris tersebut, maka
senyawa ini pernah diduga sebagai hidrat dari karbon, sehingga disebut sebagai
karbohidrat. Sejak tahun 1880 telah disadari bahwa gagasan hidrat dari karbon merupakan
gagasan yang tidak benar. Hal ini karena ada beberapa senyawa yang mempunyai rumus
empiris seperti karbohidrat tetapi bukan karbohidrat (Tim Dosen, 2010).
Asam asetat misalnya dapat ditulis (C2(H2O)2 dan formaldehid dengan rumus CH2O atau
HCHO. Dengan demikian suatu senyawa termasuk karbohidrat tidak hanya ditinjau dari
rumus empirisnya saja, tetapi yang paling penting ialah rumus strukturnya (Tim Dosen,
2010).
Dari rumus struktur akan terlihat bahwa ada gugus fungsi penting yang terdapat pada
molekul karbohidrat yaitu gugus fungsi karbonil (aldehid dan keton). Gugus-gugus fungsi
itulah yang menentukan sifat senyawa tersebut. Berdasarkan gugus yang ada pada molekul
karbohidrat dapat didefinisikan sebagai polihidroksialdehida dan polihidroksiketon atau
senyawa yang menghasilkannya pada proses hidrolisis (Tim Dosen, 2010).
Karbohidrat yang penting dalam ilmu gizi dibagi dalam dua golongan, yaitu karbohidrat
sederhana dan karbohidrat kompleks. Sesungguhnya semua jenis karbohidrat terdiri atas
karbohidrat sederhana atau gula sederhana; karbohidrat kompleks mempunyai lebih dari dua
unit gula sederhana dalam satu molekul (Almatsier, 2010).
Karbohidrat sederhana terdiri atas (Almatsier, 2010) :
1. Monosakarida yang terdiri atas jumlah atom C yang sama dengan molekul air, yaitu
[C6(H2O)6] dan [C5(H2O)5]
Monosakrida adalah karbohidrat yang tidak dapat dihidrolisis menjadi
karbohidrat yang lebih sederhana. Monosakarida ini dapat diklasifikasikan sebagai
triosa, tetrosa, pentosa, heksosa, atau heptosa, bergantung pada jumlah atom karbon;
dan sebagai aldosa atau ketosa bergantung pada gugus aldehida atau keton yang
dimilki senyawa tersebut (Murray dkk, 2009).

2. Disakarida yang terdiri atas ikatan 2 monosakarida di mana untuk tiap 12 atom C ada
11 molekul air [C12(H2O)11]
Disakarida adalah produk kondensasi dua unit monosakarida. Ada empat jenis
disakarida yaitu sukrosa atau sakarosa, maltosa, laktosa, dan trehalosa. Trehalosa
tidak begitu penting dalam ilmu gizi. Kedua monosakarida yang saling mengikat
berupa ikatan glikosidik melalui satu atom oksigen. Ikatan glikosidik ini biasanya
terjadi antara atom C nomor 1 dengan atom C nomor 4 dan membentuk ikatan alfa,
dengan melepaskan satu molekul. Hanya karbohidrat yang unit monosakaridanya
terikat dalam bentuk alfa dapat dicernakan. Disakarida dapat dipecah kembali menjadi
dua molekul monosakarida melalui hidrolisis. Glukosa terdapat pada empat jenis
disakarida; monosakarida lainnya adalah fruktosa dan galaktosa (Almatsier, 2010).
3. Gula alkohol merupakan bentuk alkohol dari monosakarida
Gula alkohol terdapat di dalam alam dan dapat pula dibuat secara sintetis. Ada
empat jenis gula alkohol, yaitu sorbitol, manitol, dulsitol, dan inositol. Sorbitol
terdapat di dalam beberapa jenis buah dan secara komersial dibuat dari glukosa.
Sorbitol banyak digunakan dalam minuman dan makanan khusus pasien diabetes,
seperti minuman ringan, selai dan kue-kue. Manitol dan dulsitol adalah alkohol yang
dibuat dari monosakarida manosa dan galaktosa. Secara komersial, manitol
diekstraksi dari sejenis rumput laut. Kedua jenis alkohol ini banyak digunakan dalam
industri pangan. Sedangkan inositol merupakan alkohol siklis yang menyerupai
glukosa. Inositol terdapat dalam banyak bahan makanan, terutama dalam sekam
serealia. Bentuk esternya dengan asam fitat menghambat absorpsi kalsium dan zat
besi dalam usus halus (Almatsier, 2010).
4. Oligosakarida adalah gula rantai pendek yang dibentuk oleh galaktosa, glukosa, dan
fruktosa.
Oligosakarida adalah produk kondensasi tiga sampai sepuluh monosakarida. Sebagian
besar oligosakarida tidak dicerna oleh enzim dalam tubuh manusia (Murray dkk,
2009).

Rafinosa, stakiosa, dan verbaskosa adalah oligosakarida yang terdiri atas unitunit glukosa, fruktosa dan galaktosa. Ketiga jenis oligosakarida ini terdapat di dalam
biji tumbuh-tumbuhan dan kacang-kacangan.seperti halnya polisakarida nonpati,
oligosakarida ini di dalam usus besar mengalami fermentasi (Almatsier, 2010)

Untuk karbohidrat kompleks terdiri atas (Almatsier, 2010):


1. Polisakarida yang terdiri atas lebih dari dua ikatan monosakarida.
2. Serat yang dinamakan juga polisakarida nonpati.
Polisakarida tersusun dari banyak unit monosakarida yang terikat antara satu dengan
yang lain melalui ikatan glikosida. Hidrolisis total dari polisakarida menghasilkan
monosakarida (Tim Dosen, 2010).
Polisakarida dapat dihidrolisis oleh asam atau enzim tertentu yang kerjanya spesifik.
Hidrolisis sebagian polisakarida menghasilkan oligosakarida dan dapat digunakan untuk
menentukan struktur molekul polisakarida (Sirajuddin dan Najamuddin, 2011).
Karbohidrat kompleks ini dapat mengandung sampai tiga ribu unit gula sederhana yang
tersusun dalam bentuk rantai panjang lurus atau bercaban. Gula sederhana ini terutama adalah
glukosa. Jenis polisakarida yang penting dalam ilmu gizi adalah pati, dekstrin, glikogen, dan
polisakarida nonpati (Almatsier, 2010).
Pati merupakan simpanan karbohidrat dalam tumbuh-tumbuhan dan merupakan
karbohidrat utama yang dimakan manusia di seluruh dunia. Pati terutama terdapat dalam
padi-padian, biji-bijian, dan umbi-umbian. Jumlah unit glukosa dan susunannya dalam satu
jenis pati berbeda satu sama lain bergantung jenis tanaman asalnya. Rantai glukosa terikat
satu sama lain melalui ikatan alfa yang dapat dipecah dalam proses pencernaan (Almatsier,
2010).
Dekstrin merupakan produk antara pada pencernaan pati atau dibentuk melalui hidrolisis
parsial pati. Dekstrin merupakan sumber utama karbohidrat dalam makanan. Cairan glukosa
dalam hal ini merupakan campuran dekstrin, maltosa, glukosa, dan air. Dekstrin maltosa,

suatu produk hasil hidrolisis parsial pati, digunakan sebagai makanan bayi karena tidak
mudah mengalami fermentasi dan mudah dicernakan (Almatsier, 2010).
Glikogen dinamakan juga pati hewan karena merupakan bentuk simpanan karbohidrat di
dalam tubuh manusia dan hewan, yang terutama terdapat di dalam hati dan otot. Glikogen
terdiri atas unit-unit glukosa dalam bentuk rantai lebih bercabang. Struktur yang lebih
bercabang ini membuat glikogen lebih mudah dipecah. Glikogen dalam otot hanya dapat
digunakan untuk keperluan energi di dalam otot tersebut, sedangkan glikogen dalam hati
dapat digunakan sebagai sumber energi untuk keperluan semua sel tubuh. Kelebihan glukosa
melampaui kemampuan menyimpannya dalam bentuk glikogen akan diubah menjadi lemak
dan disimpan dalam jaringan lemak. Glikogen tidak merupakan sumber karbohidrat yang
penting dalam bahan makanan, karena hanya terdapat di dalam makanan berasal dari hewani
dalam jumlah terbatas (Almatsier, 2010).
Glikogen mempunyai struktur empiris yang serupa dengan amilum pada tumbuhan. Pada
proses hidrolisis, glikogen menghasilkan pula glukosa karena baik amilum maupun glikogen,
tersusun dari sejumlah satuan glukosa. Glikogen dalam air akan membentuk koloid dan
memberikan warna merah dangan larutan iodium. Pembentukan glikogen dari glukosa dalam
sel tubuh diatur oleh hormon insulin dan prosesnya disebut glycogenesis. Sebaliknya, proses
hidrolisis glikogen menjadi glukosa disebut glycogenolisis (Sirajuddin dan Najamuddin,
2011).
Mengenai penjelasan tentang serat, akhir-akhir ini banyak mendapat perhatian karena
peranannya dalam mencegah berbagai penyakit. Definisi terakhir yang diberikan untuk serat
makanan adalah polisakarida nonpati yang menyatakan polisakarida dinding sel. Ada dua
golongan serat, yaitu yang tidak dapat larut dan yang dapat larut dalam air. Serat yang tidak
dapat larut dalam air adalah selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Serat yang larut dalam air
adalah pektin, gum, mukilase, glukan dan algal (Almatsier, 2010).
Selulosa, hemiselulosa, dan lignin merupakan kerangka struktural semua tumbuhtumbuhan. Selulosa merupakan bagian utama dinding sel tumbuh-tumbuhan yang terdiri atas
polimer linier panjang hingga 10.000 unit glukosa terikat dalam bentuk ikatan beta. Polimer
karbohidrat dalam bentuk ikatan beta tidak dapat dicernakan oleh enzim pencernaan manusia
(Almatsier, 2010).

BAB III
METODE PERCOBAAN
III.1. Skema Percobaan
III.1.1 Mono dan Disakarida
a). Uji Fehling
2 ml larutan fehling A + B di panaskan

Ditambah 3 tetes glukosa dan di panaskan

Setelah 2 menit, ditambahkan 3 tetes glukosa


(memasukannya tiap penambahan tersebut,
sampai warna biru menghilang)

b). Uji Benedict


2 ml larutan benedict dipanaskan

Ditambah 3 tetes glukosa dan di


panaskan

Setelah 2 menit, ditambahkan 3 tetes


glukosa (memasukannya tiap penambahan
tersebut, sampai warna biru menghilang)

c). Uji Molish


5 tetes alfa-naftol 15% + etanol + 2 ml
larutan gula

Campuran tersebut dimasukkan pada H2SO4


(tabung H2SO4 dimiringkan 45o)

d). Hidrolisa Sakarosa


Menambahkan 2 ml HCL encer ke dalam 2 ml
larutan sakarosa 2% dan dipanaskan dengan
penangas air selama setengah jam

Menambahkan dengan hati-hati NaOH 10%

Melakukan tes Fehling dan mengamati hasilnya


e). Uji Barfoed
Memanaskan larutan Barfoed dan 1 ml larutan
Karbohidrat dalam Erlenmeyer

Mengamati perubahan yang terjadi

f). Uji Tollens


1 ml larutan AgNO3 dicampurkan dengan 2 tetes
NaOH 10% (ditetes demi tetes) dan ammonia encer

Campuran di atas diaduk kemudian ditambahkan 1


ml sampel (karbohidrat) didiamkan selama 5 menit

Jka tdk terjadi reaksi larutan dipanaskan

2. Tepung
a). Uji Fehling
Mengambil 2 ml larutan fehling A dan B
lalu memanaskannya sampai mendidih

Meneteskan 3 tetes larutan tepung kemudian


mendidihkannya kembali, dan mengamatinya

Setelah 2 menit, menambahkan 3 tetes larutan


tepung dan memasukannya tiap penambahan
tersebut, samapi warna biru menghilang

b). Uji Molish


Menambahkan larutan alfa-naftol 15% dan
etanol 2 tetes pada 1-2 ml larutan tepung

Meneteskan 3 tetes larutan tepung kemudian


mendidihkannya kembali, kemudian
mengamatinya

Memasukkan pada tabung reaksi yang lain asam sulfat


dan memiringkannya 450 dan menuangkan larutan
tepung campuran dengan hati-hati sehingga terapung
pada permukaan asam sulfat pekat tersebut

c). Hidroksi Asam

Menambahkan 5 tetes HCl pekat kepada 50 ml larutan


tepung dan memanaskannya dengan penangas air selama
30-40 menit

Mendinginkannya pada temperatur kamar dan


menetralkannya dengan NaOH 10%

Melakukan tes fehling dan mengamati hasilnya


9

III.2. Alat dan Bahan Percobaan


III.2.1 Alat

III.2.2 Bahan

a. Tabung reaksi

a. Larutan glukosa

b. Pipet tetes

b. Larutan sukrosa

c. Botol semprot

c. Larutan fehling A

d. Beaker glass

d. Larutan fehling B

e. Batang pengaduk

e. Larutan benedict

f. Sikat

f. Larutan afta naftol 15%

g. Penjepit

g. Larutan etanol

h. Rak tabung reaksi

h. Larutan H2SO4 pekat

i. Kompor

i. Larutan HCl encer

j. Gelas ukur

j. Larutan NaOH 10%

k. Kertas indikator

k. Larutan barfoed
l. Larutan AgNO3 0,1 M
m. Larutan Ammonia encer
n. Tepung kanji

III.3. Gambar Alat


Tabel 3.1 Gambar Alat
No.
1.

Nama Alat
Tabung reaksi

2.

Pipet tetes

Gambar Alat

10

3.

Botol semprot

4.

Beaker glass

5.

Batang pengaduk

6.

Penjepit

7.

Rak tabung reaksi

8.

Gelas ukur

9.

Kertas indikator

BAB IV

11

HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN


IV.1 DATA HASIL PERCOBAAN
Mono Dan Disakarida
1. Uji Fehling

No
1
2
3

Pada Glukosa

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan fehling

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
dipanaskan
sampai Larutan berwarna biru

A dan B
Meneteskan 3 tetes glukosa

mendidih
dipanaskan kembali

Menambahkan 3 tetes glukosa,

dipanaskan
penambahan

kehijauan
Larutan berwarna biru
kecoklatan
tiap Larutan berwarna biru

sampai keunguan, ada endapan

warna biru menghilang

No
1
2
3

merah bata

Pada Sukrosa

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan fehling

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
dipanaskan
sampai Larutan berwarna biru

A dan B
Meneteskan 3 tetes sukrosa
Menambahkan 3 tetes sukrosa

mendidih
kehijauan
dipanaskan kembali
Larutan berwarna biru
dipanaskan
tiap Larutan berwarna ungu,
penambahan

sampai ada endapan merah bata

warna biru menghilang

2. Uji Benedict

Pada Glukosa

12

No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
dipanaskan
sampai Larutan berwarna biru

benedict
Meneteskan 3 tetes glukosa

mendidih
dipanaskan kembali

Menambahkan 3 tetes glukosa,

bata
tiap Larutan berwarna merah

dipanaskan
penambahan

muda
Larutan berwarna merah

sampai bata, terbentuk endapan

warna biru menghilang

merah bata

Pada Sukrosa

No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
dipanaskan
sampai Larutan berwarna biru

benedict
Meneteskan 3 tetes sukrosa

mendidih
dipanaskan kembali

Menambahkan 3 tetes sukrosa

dipanaskan
penambahan

muda
Larutan berwarna biru
muda
tiap Larutan berwarna biru

sampai keruh, ada endapan hitam

warna biru menghilang


3. Uji Molish

No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 1-2 ml larutan

Perlakuan
Ditambah larutan

glukosa

naftol 15% dan etanol 2 endapan coklat

Memasukkan

pada

Perubahan Yang Terjadi


alfa- Larutan bening, Ada

tetes
tabung menuangkan larutan gula

Terbentuk

lapisan,

reaksi yg lain asam sulfat dan

lapisan atas hitam keruh

memiringkan 45o

dan lapisan bawah hitam

No
1

Pada Glukosa

Pada Sukrosa

Langkah Percobaan
Mengambil 1-2 ml larutan

Perlakuan
Ditambah larutan

sukrosa

naftol 15% dan etanol 2 endapan coklat

Memasukkan

pada

Perubahan Yang Terjadi


alfa- Larutan bening, ada

tetes
tabung menuangkan larutan gula

Terbentuk

lapisan,

13

reaksi yg lain asam sulfat dan

lapisan bawah bening,

memiringkan 45o

tengah hitam keruh, atas


keruh

4. Hidrolisa Sakarosa
No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
2 ml HCL encer dan Larutan berwarna putih

sukrosa 2%

memanaskannya

selama

setengah jam
Menambahkan dengan hati- Melakukan tes fehling

Larutan

hati NaOH 10%

endapan merah bata

ungu,

ada

5. Uji Barfoed

Pada Glukosa

No
Langkah Percobaan
Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
1 Mengambil 1 ml larutan Menambahkan
larutan Terbentuk cincin merah
glukosa dalam erlenmeyer

No
1

Barfoed dan dipanaskan

bata, ada endapan

Pada Sukrosa
Langkah Percobaan

Mengambil

ml

Perlakuan

larutan Menambahkan

sukrosa dalam erlenmeyer

Perubahan Yang
Terjadi
larutan Larutan berwarna biru

Barfoed dan dipanaskan

muda,

ada

sedikit

endapan
6. Uji Tollens

Pada Glukosa

No
Langkah Percobaan
Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
1 Mengambil 1 ml larutan dicampurkan dengan 2 Larutan
keruh,
ada
AgNO3

tetes NaOH 10% (ditetes endapan hitam


demi tetes) dan ammonia

14

encer
Campuran di atas diaduk didiamkan

selama

5 Larutan berwarna hitam

kemudian ditambahkan 1 ml menit

keruh

larutan glukosa

Pada Sukrosa

No
Langkah Percobaan
Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
1 Mengambil 1 ml larutan dicampurkan dengan 2 Larutan
keruh,
ada
AgNO3

tetes NaOH 10% (ditetes endapan hitam


demi

Campuran

di

atas

tetes)

dan

ammonia encer
diaduk didiamkan selama

5 Larutan kuning bening ada

kemudian ditambahkan 1 ml menit

endapan hitam

larutan sukrosa

Tepung
1.

Uji Fehling

No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 2 ml larutan

Perlakuan
dipanaskan sampai mendidih

Perubahan Yang Terjadi


Larutan
berwarna
biru

fehling A dan B
Meneteskan 3

tepung
terbentuk endapan biru
Menambahkan 3 tetes dipanaskan tiap penambahan Larutan berwarna biru pekat,
tepung

2.

kehijauan
Larutan berwarna

tetes dipanaskan kembali

sampai warna biru menghilang

biru,

ada endapan merah bata

Uji Molish

No
1

Langkah Percobaan
Mengambil 1-2 ml

Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
Ditambah
larutan Terbentuk endapan merah bata

larutan tepung

alfa-naftol 15% dan

Memasukkan

etanol 2 tetes
pada menuangkan larutan Terbentuk 4 lapisan, lapisan atas

tabung reaksi yg lain tepung

bening,

tengah

atas

coklat
15

asam

sulfat

dan

kehitaman, tengah bawah coklat

memiringkan 45o

susu,

bawah

bening

kehijauan

terdapat cincin merah bata diantara


lapisan bawah dan tengah bawah
3.

Hidrolisa Asam

No
Langkah Percobaan
Perlakuan
Perubahan Yang Terjadi
1 Mengambil 50 ml larutan Menambahkan 5 tetes HCl Larutan berwarna bening,
tepung

pekat dan memanaskannya agak kuning


dengan

Mendinginkannya
temperatur

kamar

penangas

selama 30-40 menit


pada Melakukan tes fehling
dan

air
Larutan berwarna bening,
agak kuning

menetralkannya dengan NaOH


10%
IV.2 PEMBAHASAN DAN DISKUSI
Pada percobaan ini akan diuji beberapa jenis karbohidrat untuk mengetahui sifatsifat dari jenis karbohidrat tersebut. Karbohidrat yang akan diuji adalah glukosa yang
merupakan monosakarida, dan sukrosa yang merupakan disakarida. Dan pati yang
merupakan polisakarida.
Uji fehling terdiri atas fehling A dan B yang bila dicampur akan berwarna biru.
Bila senyawa yang mengandung aldehid direaksikan dengan fehling maka akan terjadi
endapan yang berwarna merah bata dan hasil menunjukan positif. Pada larutan glukosa
terbentuk endapan merah bata sehingga hasilnya positif. Sedangkan pada larutan sukrosa
juga menghasilkan endapan merah bata yang menunjukan hasil positif.
Dalam uji Benedict, suatu gula reduksi dapat dibuktikan dengan terbentuknya
endapan yang berwarna merah bata. Akan tetapi tidak selamanya warna larutan atau
endapan yang terbentuk berwarna merah bata, hal ini bergantung pada konsentrasi atau
kadar gula reduksi yang dikandung oleh tiap-tiap larutan uji . Pada larutan glukosa yang
diuji terbentuk endapan merah bata sehingga menunjukkan hasil positif. Terbentuknya
endapan merah bata ini sebagai hasil reduksi ion Cu 2+ menjadi ion Cu+ oleh suatu gugus
aldehid atau keton bebas yang terkandung dalam gula reduksi yang berlangsung dalam

16

suasana alkalis (basa). Sifat basa yang dimilki oleh pereaksi Benedict ini dikarenakan
adanya senyawa natrium karbonat. Sedangkan sukrosa tidak membentuk endapan merah
bata dan warna larutan setelah dipanaskan menjadi biru keruh dan ada sedikit endapan
hitam. Hal ini membuktikan sukrosa tidak mengandung gula pereduksi, oleh karena itu
amilum dan sukrosa memperlihatkan hasil yang negatif.
Uji molish dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya karbohidrat pada suatu
bahan. Meskipun uji ini tidak spesifik terhadap karbohidrat, tapi apabila hasil reaksi yang
diperoleh adalah negatif menunjukkan bahwa tidak ada bahan yang diperiksa tidak
mengandung karbohidrat. Pereaksi ini terdiri dari 5% -naftol dalam alkohol 95%. Uji
ini harus ditambahkan asam sulfat pekat yang berfungsi untuk menghidrasi turunanturunan karbohidrat atau membentuk furfural warna yang terjadi pada reaksi yang positif
adalah warna ungu yang disebabkan kondensasi furfural atau derivat dengan alfa naftol.
Uji barfoed digunakan untuk menguji monosakarida dari disakarida. Karbohidrat
dalam asam lemah akan mengalami perubahan reaktivitas. Karbohidrat dengan
reaktivitas rendah akan menurunkan daya reduksinya dan sebaliknya pada reaktivitas
tinggi akan tetap mempertahankan daya reduksinya. Berdasarkan dari hsil analisa uji
barfoed terhadap glukosa akan membentuk cincin merah bata dan endapan. Sedangkan
pada sukrosa terbentuk warna larutan biru muda dan ada sedikit endapan
Berdasarkan hasil percobaan hidrolisis sukrosa diperoleh data bahwa sukrosa
yang ditambahkan HCl pekat dan dipanaskan serta dinetralkan dengan NaOH bila
diambil beberapa tetes dan diuji dengan Fehling, sebelum dipanaskan berwarna biru
ternyata setelah dipanaskan menghasilkan suatu endapan berwarna merah bata.

17

BAB V
KESIMPULAN
Karbohidrat

merupakan

polihidroksi

keton

atau

polihidrataldehid

yang

mempunyai rumus umum Cn(H2O)n. Pada uji kelarutan golongan monosakarida mudah
larut dalam air. Sifat kimia dapat diuji dengan Uji Fehling dan akan terbentuk endapan
merah bata, maka karbohidrat memiliki sifat pereduksi. Pada uji Molish larutan berwarna
ungu. Pada uji Hidrolisa sakarosa larutan berwarna biru dan pada uji Barfoed larutan
berwarna biru pudar

18

DAFTAR PUSTAKA
Fessenden, J. 1994. Dasar Kimia Organik. Erlangga, Jakarta.
Harper, H . A .1979 . Biokimia. Buku kedokteran E. G. C : Jakarta
Hawab, M. 2003. Pengantar Biokimia. Bayu Media Publishing, Bogor
Modul praktikum kimia organik
Purba, Michael. 1997. Ilmu Kimia. Erlangga, Jakarta.
Riawan,S. 1990.Kimia Organik.Binarupa Aksara, Jakarta
Soeharsono, N. 1992.Biokimia jilid 1. Universitas Gajah Mada, Yogyakarta

19

LAMPIRAN

20