Anda di halaman 1dari 22

KONSEP DASAR MEDIK

A. PENGERTIAN
Merupakan infeksi yang melibatkan meningen, subarachnoid dan parenkim otak akan
terjadi reaksi inflamasi yang disebut meningoencephalitis. Meningoenseflitis terdiri dari
meningitis dan ensefalitis. Meningitis merupakan suatu peradangan dari selaput yang
mengelilingi otak dan sumsum tulang belakang (arachnoid dan piameter), sedangkan
ensefalitis merupakan suatu peradangan dari jaringan parenkim otak (Brunner & Suddarth,
2006).
Meningoencephalitis adalah peradangan yang terjadi pada encephalon dan
meningens.

Nama

lain

dari

meningoencephalitis

adalah

cerebromeningitis,

encephalomeningitis, dan meningocerebritis. (Nelson, 2000)


Encephalitis adalah radang jaringan otak yang dapat disebabkan oleh bakteri cacing,
protozoa, jamur, ricketsia atau virus. (Kapita selekta kedokteran jilid 2, 2000).

B. ANATOMI DAN FISIOLOGI


1) Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak (ensefalon) dan sumsum tulang belakang (Medula
spinalis). Keduanya merupakan organ yang sangat lunak, dengan fungsi yang sangat
penting maka perlu perlindungan
a. Otak
Otak terdiri dari dua belahan, belahan kiri mengendalikan tubuh bagian kanan,
belahan kanan mengendalikan belahan kiri. Mempunyai permukaan yang
berlipat-lipat untuk memperluas permukaan sehingga dapat ditempati oleh
banyak saraf. Otak juga sebagai pusat penglihatan, pendengaran, kecerdasan,
ingatan, kesadaran, dan kemauan. Bagian dalamnya berwarna putih berisi serabut
saraf, bagian luarnya berwarna kelabu berisi banyak badan sel saraf. Otak terdiri
dari 3 bagian, yaitu

a) Otak depan (Prosoncephalon)


Otak depan berkembang menjadi telencephalon dan diencephalon. Telencephalon
berkembang menjadi otak besar (Cerebrum). Diencephalon berkembang menjadi thalamus,
hipotamus.
Otak besar (Cerebrum)
Otak besar mempunyai fungsi dalam pengaturan semua aktivitas mental, yaitu yang
berkaitan dengan kepandaian (intelegensi), ingatan (memori), kesadaran, dan pertimbangan.
Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan
kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks otak besar
yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di
sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon
rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik.
Area ini berperan dalam proses belajar, menyimpan ingatan, membuat kesimpulan, dan
belajar berbagai bahasa. Di sekitar kedua area tersebut dalah bagian yang mengatur kegiatan
psikologi yang lebih tinggi. Misalnya bagian depan merupakan pusat proses berfikir (yaitu
mengingat, analisis, berbicara, kreativitas) dan emosi. Pusat penglihatan terdapat di bagian
belakang.
thalamus terdiri dari sejumlah pusat syaraf dan berfungsi sebagai tempat penerimaan
untuk sementara sensor data dan sinyal-sinyal motorik, contohnya untuk pengiriman data
dari mata dan telinga menuju bagian yang tepat dalam korteks.

hypothalamus berfungsi untuk mengatur nafsu makan dan syahwat dan mengatur
kepentingan biologis lainnya.
b. Otak tengah (Mesencephalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat
talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas
(dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti
penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran. Otak tengah tidak
berkembang dan tetap menjadi otak tengah.
c.

Otak belakang (Rhombencephalon)

Otak belakang berkembang menjadi metencephalon dan mielencephalon. Metencephalon


berkembang menjadi cerebellum dan pons varolli. Sedangkan mielencephalon berkembang
menjadi medulla oblongata.
Otak kecil (serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara
sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya
maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
Sumsum sambung (medulla oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke
otak. Sumsum sambung juga memengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung,
tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar
pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain seperti
bersin, batuk, dan berkedip.
Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan,
juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang..
b. Sumsum tulang belakang (medula spinalis)
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang tampak bagian luar berwarna putih,
sedangkan bagian dalam berbentuk kupu-kupu dan berwarna kelabu. Pada penampang
melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas
disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor

dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar
dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal
terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel
saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor.

2) Klasifikasi
Meningitis : 1. Meningitis Serosa (Meningitis Tuberculosis Generalisata)
2. Meningitis Purulenta
Ensefalitis : 1. Ensefalitis Supuratif Akut
2. Ensefalitis Sifilis
3) Etiologi

1.
a)
b)
2.

Mikroorganisme (virus-non virus)


Virus : Herpes Simpleks tipe I (HSV-I), Virus Varisela-zoster (VVZ).
Bakteri : influenzae, S. pneumoniae, Stafilokokus, Streptokokus, E. coli
Pascaimunisasi
a) influenza
b) Toxoid tetanus / difteria
c) Reaksi imunologik, infeksi virus vaksin, kombinasi

4) Manifestasi klinik
1. Gejala umum infeksi sistemik akut
a) Lemah, letargia
b) Demam, sakit kepala, rewel
c) Mual muntah
d) Sakit tengkuk, punggung, tungkai
e) Tanda nasofaringitis
2. Gejala ensefalopati
a) Gangguan kesadaran
b) Kejang
c) Defisit neurologik
Hemiplegia, ataksia
Nistagmus, anisokori, papil edema, hemianopsia
Disfasia, disartria
TIK meningkat, sindrom herniasi

5) Patofisiologi

6) Pemeriksaan diagnostic
Pemeriksaan neurologis: gangguan kesadaran, hemiparesis, tonus otot meningkat,
spastisitas, terdapat reflex patologis, reflex fisiologis meningkat, klonus, gangguan
nervus kranialis (buta, tuli), ataksia.
Pemeriksaan laboratorium
Pungsi lumbal:
1. LCS jernih
2. Reaksi pandy/ none apelt (+) / (-)

3. Jumlah sel: 0 sampai beberapa ribu sel polimorfonukleat


4. Protein: normal sampai sedikit naik
5. Gula: normal
6. Kultur: 70% - 80% (+),untuk virus 80 % (+)
Darah
1. WBC: normal/ meninggi tergantung etiologi
2. Hitung jenis: normal/ domain sel polimorfonuklear
3. Kultur: 80-90 % (+)
Pemeriksaan pelengkap
CRP darah dan LCS
Serologi (IgM, IgG)
EEG: Multifokal pseudo kompleks
Ct scan kepala: edema otak, tanpa bercak-bercak hipodens tuberculosis/ tuberkel
yang terfokus.
EEG sering menunjukkan aktifitas listrik yang merendah sesuai dengan kesadaran
yang menurun. Adanya kejang, koma, tumor, infeksi sistim saraf, bekuan darah,
abses, jaringan parut otak dapat menyebabkan aktifitas listrik berbeda dari pola
normal irama dan kecepatan.

7) Penatalaksanaan Medis
No
.
1.

Meningitis Serosa
Rejimen terapi
a. 2 bulan pertama
INH 1x400 mg/ hr P.O
Rimfapisin 1x600 mg/hr P.O
Pirazinamid 15-30 mg/kg/hr P.O
Streptomisin 15 mg/kg/hr P.O
Etambutol 15-20 mg/kg/hr P.O
b. 7-12 bulan berikutnya
INH 1x400 mg/hr P.O
Rimfapisin 1x600 mg/hr P.O
Steroid, diberikan untuk:

Meningitis Purulenta
1. Pneumokok, Meningokok
Amphisilin 12-18 gr I.V dalam dosis terbagi
per hari, selama minimal 10 hari atau hingga
sembuh.
2. Haemophylus Influenzae
Kombinasi amphisilin dan kloramphenikol
selama 10 hari, bila alergi penisilin berikan
kloramphenikol saja.
3. Enterobakterium
Cefotaxim 1-2 gr gr per 8 jam. Bila resisten

terhadap cefotaxim, berikan


Menghambat reaksi inflamasi
campurantrimetoprim 80 mg dan
Mencegah komplikasi infeksi
Menurunkan edema serebri
sulfametoksazol 400 mg per infuse 2x1
Mencegah perlekatan
ampul per hari selama minimal 10 hari.
Mencegah Arteritis / Infark otak
4. Staphylococcus Aureus
Indikasi: Kesadaran menurun
Berikan Cefotaxim atau cefrtiaxone 6-12 gr
Defisit neurologis fokal
I.V dan bila alergi terhadap penisilin, berikan
Dosis: Dexamethason 10 mg bolus intravena,
vancomisin 2 gr I.V per hari
kemudian 4x5 mg intravena selama 2-3
5. Bila etiologi belum diketahui: berikan
minggu selanjutnya, turunkan perlahan
amphisilin 12-18 gr I.V dikombinasi dengan
selama 1 bulan.
kloramfenikol 4 gr per hari I.V
Ensefalitis Supuratif Akut
Ensefalitis Sifilis

Amphisilin 4x3 gr dan Kloramfenikol 4x1 gr per 24


jam I.V, selama 10 hari . Steroid dapat diberikan

1. Penisilin parenteral dosis tinggi


Penisilin G dalam air: 12-24 juta
unit/hari I.V dibagi 6 dosis selama 14

untuk mengurangi edema otak.

hari
Penisilin Prokain G: 2,4 juta unit/hari
I.M + Probenesid 4x500 mg oral

selama 14 hari
Dapat ditambahkan Benzatin penisilin

G: 2,4 juta unit I.M selama 3 minggu


2. Bila alergi penisilin

Tetrasiklin 4x500 mg P.O selama 30 hari atau


Eritromisin 4x500 mg P.O selama 30 hari atau
Kloramfenikol 4x1 gr I.V selama 6 minggu atau
Cefrtiaxone 2 gr I.V / I.M selama 14 hari
Ensefalitis Virus
Pengobatan antivirus diberikan pada ensefalitis virus yang disebabkan herpes simpleks atau
varisela zoster yaitu dengan memberikan aciklovir 10 mg/kg/BB I.V, 3 kali sehari selama 10 hari,
atau 200 mg tiap 4 jam per oral. Bila kadar Hb turun hingga 9 g/dl, diturunkan dosis hingga 200 mg
tiap 8 jam. Bila Hb kurang dari 7 g/dl, hentikan pengobaan dan baru diberikan lagi setelah Hb normal
kembali dengan dosis 200 mg per 8 jam.

ASUHAN KEPERAWATAN
PADA PASIEN MENINGO ENSEFALITIS
A. Pengkajian
1. Identitas:
Nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, alamat, tanggal masuk rumah sakit, nomor
register, tanggal pengkajian dan diagnosa medis. Identitas ini digunakan untuk membedakan klien satu
dengan yang lain. Jenis kelamin, umur dan alamat dapat mempercepat atau memperberat keadaan
penyakit infeksi. Meningoensefalitis dapat terjadi pada semua kelompok umur.

2. Keluhan utama:
Panas badan meningkat, kejang, kesadaran menurun.
3. Riwayat penyakit sekarang:
Mula-mula pasien gelisah , muntah-muntah , panas badan meningkat, sakit kepala.
4. Riwayat penyakit dahulu:
Klien sebelumnya menderita batuk , pilek kurang lebih 1-4 hari, pernah menderita penyakit Herpes,
penyakit infeksi pada hidung, telinga dan tenggorokan.
5. Riwayat kesehatan keluarga:
Keluarga ada yang menderita penyakit yang disebabkan oleh virus contoh: Herpes dan lain-lain.
Bakteri contoh: Staphylococcus Aureus, Streptococcus , E. Coli , dan lain-lain.
6. Pemeriksaan fisik

Sistem

Pernafasan

Perubahan-perubahan akibat peningkatan tekanan intra cranial menyebabakan


kompresi pada batang otak yang menyebabkan pernafasan tidak teratur. Apabila
tekanan intrakranial sampai pada batas fatal akan terjadi paralisa otot
pernafasan.

Sistem

Kardiovaskuler

Adanya kompresi pada pusat vasomotor menyebabkan terjadi iskemik pada


daerah tersebut, hal ini akan merangsaang vasokonstriktor dan menyebabkan
tekanan darah meningkat. Tekanan pada pusat vasomotor menyebabkan
meningkatnya transmitter rangsang parasimpatis ke jantung.

Sistem

Persarafan

Kesadaran menurun. Gangguan tingkat kesadaran dapat disebabkan oleh


gangguan metabolisme dan difusi serebral yang berkaitan dengan kegagalan
neural akibat prosses peradangan otak.

Sistem
Persarafan

Biasanya pada pasien meningo ensefalitis kebiasaan miksi dengan frekuensi


normal.

Sistem

Pencernaan

Penderita akan merasa mual dan muntah karena peningkatan tekanan


intrakranial yang menstimulasi hipotalamus anterior dan nervus vagus sehingga
meningkatkan sekresi asam lambung.

Sistem

Hemiplegi

Persarafan

Aktifitas tirah baring, pola istirahat terganggu dengan adanya kejang / konvulsif
Pola aktifitas

dan istirahat
Makan dan
minum

Mual muntah, disertai dengan kesulitan menelan, sehingga membutuhkan


bantuan NGT dalam pemenuhan nutrisi

Neurosensori
:

Terjadi kerusakan pada nervus kranialis, yang terkadang menyebabkan


perubahan persepsi sensori. Kaku kuduk (+), pemeriksaan kernig sign (+),
Burdinzki (+)

Integritas ego
:

Perubahan status mental dari letargi sampai koma

Terdapat nyeri kepala karena peningkatan TIK akibat edema serebri

Kenyamanan
Keamanan

Perubahan dalam fungsi mental, tonus otot yang tak terkoordinasi sehingga
:

diperlukan pengaman disamping tempat tidur sampai restrain pada ekstremitas

7. Diagnosa keperawatan
1. Gangguan perfusi jaringan b/d edema serebral.

2. Gangguan rasa nyaman nyeri b/d proses inflamasi


3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kesulitan menelan
4. Resiko infeksi b/d penyebaran infeksi sistemik

5. Resiko cidera b/d disfungsi motorik : kejang


6. Hipertermi b/d peningkatan laju metabolisme
7. Resiko gangguan integritas kulit b/d tirah baring

INTERVENSI KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan
Gangguan perfusi jaringan
b/d edema serebral.

Tujuan dan Kriteria Hasil


Intervensi
Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri
1. Monitoring tanda-tanda vital
selama 3x24 jam, perfusi jaringan serebral
menjadi adekuat dengan kriteria hasil:
1. Tanda vital dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
N : 60-100 x/menit
2. Monitoring tingkat kesadaran
S
: 36,5-37,5 0 C
RR : 20-22 x/menit
2. Menunjukkan
peningkatan
kesadaran yang berarti
3. Tinggikan kepala di tempat
tidur 15-30 derajat.

Rasional
1. Sebagai acuan dasar
dalam pemberian
intervensi lebih lanjut
2. Penurunan tingkat
kesadaran pasien akan
memerlukan tindakan
yang intensif
3. Peningkatan aliran vena
dari kepala akan
menurunkan TIK

Kolaborasi
1. Berikan cairan iv (larutan
hipertonik, elektrolit ).

2. Berikan obat : steroid,


clorpomazin, asetaminofen

1. Meminimalkan fluktuasi
dalam aliran vaskuler
dan TIK.

2. Menurunkan
permeabilitas kapiler
untuk membatasi edema
serebral, mengatasi
kelainan postur tubuh
atau menggigil yang
dapat meningkatkan
TIK, menurunkan

konsumsi oksigen dan


resiko kejang
Gangguan rasa nyaman
nyeri b/d proses inflamasi

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


1. Monitoring tanda-tanda vital
selama 3x24 jam, nyeri dapat berkurang
ataupun hilang dengan kriteria hasil:
1. Tanda vital dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
2. Kaji skala nyeri dengan teknik
N : 60-100 x/menit
PQRST
S
: 36,5-37,5 0 C
RR : 20-22 x/menit
2. Pasien mampu mengatasi nyeri
4. Ajarkan pada pasien terkait
3. Skala nyeri berkurang
dengan teknik distraksi nyeri
4. Pasien menunjukkan ekspresi wajah
(nafas dalam, berbincangtidak menahan nyeri
bincang dengan pasien)
5. Berikan
kondusif

lingkungan

yang

1. Sebagai acuan dasar


dalam
pemberian
intervensi lebih lanjut
2.

Mengetahui tingkat atau


skala
nyeri
yang
dirasakan oleh pasien

3. Merupakan teknik non


farmakologis
dalam
menurunkan rasa nyeri

4. Keramaian atau suasana


gaduh akan menambah
ketidaknyamanan yang
dirasakan pasien

Kolaborasi
1. Memberikan terapi analgetik

2. Menganjurkan
TENS

Ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh

penggunaan

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


1. Monitoring BB, TB, Lila
selama 3x24 jam, intake nutrisi tubuh

1. Merupakan terapi secara


farmakologis
dalam
penurun sensasi nyeri
2. TENS mampu
memblokir sensasi nyeri
yang dirasa pada pusat
nyeri di otak
1. Sebagai acuan dasar
dalam
pemberian

b/d kesulitan menelan

menjadi adekuat dengan kriteria hasil:


1. BB dan Lila dalam batas normal
2. Hasil pemeriksaan Hb dan albumin
dalam batas normal
(Hb : 13,0 mg/dl dan albumin )

intervensi terkait dengan


pemenuhan nutrisi

2. Kaji intake output makanan


dan cairan

3. Anjurkan penggunaan NGT


bila pasien kesulitan menelan
atau mengalami mual muntah
yang tak terkontrol

4. Monitoring kadar Hb maupun


kadar albumin

2. Mengetahui
intake
maupun output makanan
dan cairan pasien
3. Merupakan alternatif
pemberian nutrisi pada
pasien dengan gangguan
menelan maupun
keadaan mual muntah
tak terkontrol
4. Kekurangan albumin
akan meningkatkan
resiko infeksi, dan kadar
Hb yang rendah akan
meminimalkan
pendistribusian O2 oleh
oksihemoglobin

Kolaborasi
1. Mengkonsultasikan
dengan ahli gizi terkait diit
yang sesuai nutrisi pasien

1. Merupakan
intervensi
khusus dalam rencana
pemberian diit yang tepat
pada
pasien,
dan
mengetahui kandungan
maupun takaran nutrisi
yang tepat pada pasien.

Resiko infeksi b/d


penyebaran infeksi sistemik

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


1. Monitoring tanda-tanda vital
selama 3x24 jam, tidak didapatkan tandatanda infeksi kriteria hasil:
1. Tanda vital dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
N : 60-100 x/menit
S
: 36,5-37,5 0 C
RR : 20-22 x/menit
2. Tidak terdapat tanda-tanda infeksi
(Rubor, Tumor, Kalor, Dolor,
2. Beri tindakan isolasi sebagai
Fungsiolesa)
pencegahan
3. Hasil pemeriksaan leukosit dalam
batas normal

3. Pertahankan teknik aseptik dan


teknik cuci tangan yang tepat
saat sebelum melakukan
tindakan pada pasien, sesudah
melakukan tindakan pada
pasien. Setelah kontak dengan
cairan maupun lingkungan
pasien
4. Monitoring kadar leukosit

Kolaborasi :
1. Berikan terapi antibiotik iv:
penisilin G, ampisilin,

1. Sebagai acuan dasar


dalam
pemberian
intervensi lebih lanjut
bila didapatkan suhu
tubuh yang meningkat
sebagai respon tubuh
terhadap antigen yang
masuk
2. Pada
fase
awal
meningitis,
isolasi
mungkin
diperlukan
sampai
organisme
diketahui
/
dosis
antibiotik yang cocok
telah diberikan untuk
menurunkan
resiko
penyebaran pada orang
lain

3. Menurunkan
resiko
pasien terkena infeksi
sekunder,
dan
mengontrol penyebaran
infeksi

klorampenikol, gentamisin

4. Leukositosis merupakan
tanda bahwa sedang
terjadi reaksi pertahanan
imunitas dalam tubuh

1. Obat
yang
dipilih
tergantung pada tipe
infeksi dan sensitivitas
individu
Resiko cidera b/d disfungsi
motorik : kejang

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


selama 3x24 jam, resiko cidera dapat
1. Pertahankan penghalang
diminimalisir dengan kriteria hasil:
tempat tidur tetap terpasang.
1. Tidak ditemukan cidera tubuh saat
kejang berlangsung
2. Berikan posisi tirah baring

3. Pasang restrain pada


ekstremitas atas maupun
bawah
Kolaborasi
1. Berikan obat : venitoin,
diasepam, venobarbital.

Hipertermi b/d peningkatan


laju metabolisme

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


1. Monitoring tanda-tanda vital
selama 3x24 jam, suhu tubuh dalam batas

1. Melindungi pasien bila


terjadi kejang
2. Menurunkan
resiko
terjatuh / trauma ketika
terjadi vertigo, sinkop,
atau ataksia
3. Memberikan pertahanan
tambahan pada resiko
jatuh pada pasien

1. Merupakan
indikasi
untuk penanganan dan
pencegahan
kejang
secara farmakologis
2. Sebagai
dalam

acuan dasar
pemberian

normal dengan kriteria hasil:


1. Tanda vital dalam batas normal
TD : 120/80 mmHg
N : 60-100 x/menit
S
: 36,5-37,5 0 C
RR : 20-22 x/menit
2. Tidak ada reaksi konvulsi / kejang

intervensi lebih lanjut


bila didapatkan suhu
tubuh yang meningkat
sebagai
respon
peningkatan
laju
metabolisme

2. Observasi adanya reaksi


kejang

3. Konvulsi
/
kejang
merupakan
respon
lanjutan dari peningkatan
laju metabolisme yang
signifikan

3. Anjurkan penggunaan pakaian


tipis

4. Pakaian
yang
tipis
mampu
menyerap
keringat sebagai hasil
metabolisme tubuh

4. Berikan kompres air dingin


saat terjadi hipertermia

5. Bertujuan menurunkan
suhu tubuh yang tinggi

Kolaborasi
1. Berikan terapi antipiretik
sesuai indikasi

Resiko gangguan integritas


kulit b/d tirah baring

Setelah dilakukan tindakan keperawatan Mandiri


1. Monitoring sirkulasi kulit
selama 3x24 jam, integritas kulit baik,
punggung (sekaligus menilai
dengan kriteria hasil:
1. Tidak ada lesi maupun nekrosis
adakah lesi atau tidak)

1. Merupakan terapi secara


farmakologis
dalam
rangka menurunkan suhu
tubuh yang tinggi

1. Sirkulasi darah yang baik


merupakan
indikasi
bahwa perfusi jaringan

pada kulit punggung


2. Sirkulasi darah pada punggung
lancar
3. Keutuhan kulit terjaga baik
kelembaban maupun tekstur

pada daerah punggung


baik
2. Berikan posisi miring kiri
miring kanan

2. Mencegah
terjadinya
luka dekubitus akibat
penekanan
pembuluh
darah sekitar punggung

3. Berikan massase punggung


dan baby oil setelah
memandikan pasien

3. Memberikan
nyaman
memperlancar
darah
di
punggung

4. Berikan pakaian yang longgar

4. Mencegah
penekanan
pakaian yang ketat pada
sirkulasi darah daerah
punggung pasien

5. Berikan stik laken atau kain


sebagai alas tirah baring

5. Memberikan
kenyamanan pada pasien
dari rasa panas akibat
pemberian perlak di
bawah punggung

rasa
dan
sirkulasi
daerah

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, Lynda Juall. 2001. Buku Saku Diagnosa Keperawatan, Edisi 8. EGC. Jakarta.
Doengoes, ME. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC. Jakarta.
IDAI dan PP IDAI UKK Pulmonologi. 2000. Tatalaksana Mutakhir Penyakit Respiratorik Pada Anak;
Dalam Temu Ahli Respirologi Anak-Anak. Jakarta.
Nelson. 2000. Ilmu Kesehatan Anak; Volume 2 Edisi 15. EGC. Jakarta.
Mansjoer, Arif. .2000.Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga. Jakarta : Media Aesculapius Fakultas
Kedokteran UI.