Anda di halaman 1dari 20

BAB 1

Pendahuluan

A. Latar Belakang Masalah


Dilingkungan kita banyak sekali penerapan ilmu-ilmu kimia
salah satunya adalah penggunaan KOLOID dalam kehidupan
sehari hari , jadi kita atau khusunya seorang siswa sebaiknya
mengerti apa itu sebenarnya koloid , sifat sifatnya serta
kegunaanya karena itu sangat berguna serta memang menjadi
salah satu materi kimia yang harus dikuasai.
Sistem koloid berhubungan dengan proses proses di alam
yang mencakup berbagai bidang. Misalnya saja, makanan yang
kita makan (dalam ukuran besar) sebelum digunakan oleh
tubuh,terlebih dahulu diproses sehingga berbentuk koloid, dan
protoplasma dalam sel sel makhluk hidup. Dalam kehidupan
sehari-hari

ini,

sering

kita

temui

beberapa

produk

yang

merupakan campuran dari beberapa zat, tetapi zat tersebut dapat


bercampur secara merata. Misalnya saja saat kita membuat susu,
serbuk atau tepung susu bercampur secara merata dengan air
panas. Kemudian, es krim yang biasa kita konsumsi, mempunyai
rasa yang beragam, es krim tersebut haruslah disimpan dalam
lemari es agar tidak meleleh. Semua itu merupakan contoh sistem
koloid.
Udara juga mengandung sistem koloid, misalnya polutan
padat yang terdispersi (tercampur) dalam udara, yaitu asap dan
debu. Juga air yang terdispersi dalam udara yang disebut kabut
merupakan sistem koloid. Mineral mineral yang terdispersi
dalam tanah, yang dibutuhkan oleh tumbuh tumbuhan juga
merupakan koloid. Penggunaan sabun untuk mandi dan mencuci

berfungsi untuk membentuk koloid antara air dengan kotoran


yang melekat (minyak). Campuran logam selenium dengan kaca
lampu belakang mobil yang menghasilkan cahaya warna merah
juga merupakan sistem koloid.

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan pada makalah ini adalah :
a) Apa pengertian Koloid?
b) Apa saja jenis-jenis koloid
c) Apa saja sifat-sifat koloid
d) Bagaimana penggunaan koloid?
e) Bagaimana cara membuat koloid?
f) Bagaimana cara memurnikan koloid dari partikel yang tidak
dibutuhkan?
g) Apa saja contoh dari koloid dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini antara lain :
a) menjelaskan pengertian koloid
b) Menjelaskan jenis jenis koloid
c) Menjelaskan sifat sifat koloid
d) Menjelaskan penggunaan koloid
e) Menjelaskan cara membuat koloid

f) Menjelaskan cara memurnikan koloid


g) Memberikan contoh koloid dalam kehidupan sehari hari

D. Manfaat Penulisan Makalah


Manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
a) agar memahami pngertian dari koloid
b) Agar dapat memahami jenis jenis koloid
c) Agar dapat memahami sifat sifat kolooid
d) Agar dapat memahami penggunaan koloid
e) Agar dapat mengetahui cara pembuatan koloid
f) Agar dapat mengetahui cara memurnikan koloid
g) Agar dapat mengetahui contoh contoh
kehidupan sehari hari.

koloid dalam

BAB II
Pembahasan

A. Pengertian Koloid
Koloid adalah suatu campuran zat heterogen antara dua zat
atau lebih di mana partikel-partikel zat yang brukuran koloid
tersebar merata dalam zat lain. Ukuran koloid berkisar antara 1100 nm. Contoh : mayones dan cat, mayones adalah campuran
homogen di air dan minyak dan cat adalah campuran homogen zat
padat dan zat cair.
Sistem Koloid Dalam Pengelompokan Campuran
Sistem koloid adalah suatu campuran yang keadaannya
terletak di antara campuran homogen (larutan) dan heterogen
(suspensi). Dengan kata lain, campuran koloid merupakan bentuk
peralihan campuran dari heterogen menjadi homogen.
Pada dasarnya campuran koloid itu bersifat homogen, dan
unsur-unsur pembentuk campuran itu sudah menyatu dan sulit
dibedakan. Hanya saja campuran itu tidak dibentuk oleh sebaransebaran molekuler, melainkan berupa gabungan dari beberapa
molekul. Namun karena bentuknya sangat kecil, gabungangabungan molekul itu sulit dikenali lagi

LARUTAN

KOLOID

Terdiri atas satu fasa Terdiri atas satu fasa


Homogen
Homogen

SUSPENSI
Terdiri atas dua fasa
Heterogen

Jernih
Keruh
Tidak memisah jika Tidak

Keruh
memisah

jika

Memisah jika didiamkan


didiamkan
didiamkan
Tidak dapat disaring Dapat disaring
Dapat disaring
Dapat diamati dengan Dapat diamati dengan
Tidak dapat diamati
mikroskop ultra
mikroskop biasa
Diameter partikel < Diameter partikel 10-7 - Diameter partikel > 1010-7 cm.
Penulisan A (aq)

10-5 cm.
Penulisan A (s)

5cm.
Penulisan A (s)

Macam-macam Koloid dan Pengelompokannya


Sistem koloid terdiri atas dua fase atau bentuk, yakni fase
terdispersi (fase dalam) dan fase pendispersi (fase luar, medium). Zat
yang fasenya tetap, disebut zat pendispensi. Sementara itu, zat yang
fasenya berubah merupakan zat terdispensi.
Berdasarkan fase zat terdispersi, sistem koloid terbagi atas tiga
bagian, yaitu koloid sol, emulsi, dan buih.
1. Sol ialah koloid dengan zat terdispersinya fase padat.
2. Emulsi ialah koloid dengan zat terdispersinya fase cair.
3. Buih ialah koloid dengan zat terdispersinya fase gas

B. Jenis-Jenis Koloid
Berdasarkan fase-fasenya kolid terbagi atas beberapa jenis
1. KOLOID SOL
Koloid sol terdiri atas bagian-bagian berikut:
a. Sol padat (padat-padat)
Sol padat ialah jenis koloid dengan zat fase padat
terdispersi dalam zat fase padat. Contoh: logam paduan,
kaca berwama, intan hitam, dan baja.
b. Sol cair (padat-cair)
Sol

cair ialah

jenis

koloid

dengan

zat

fase

padat

terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, Hal ini berarti zat

terdispersi fase padat dan medium fase cair. Contoh: cat,


tinta, dan kanji.
c. Sol gas (padat-gas)
Sol gas (aerosol padat) ialah koloid dengan zat fase
padat terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat
terdispersi fase padat dan medium fase gas. Contoh:
asap dan debu.
2. KOLOID EMULSI
Koloid emulsi terbagi ke dalam tiga jenis, yakni sebagai
berikut:
a. Emulsi padat (cair-padat)
Emulsi padat (gel) ialah koloid dengan zat fase cair
terdispersi dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat
terdispersi fase cair dan medium fase padat. Contoh:
mentega, keju, jeli, dan mutiara.
b. Emulsi cair (cair-cair)
Emulsi cair (emulsi) ialah koloid dengan zat fase cair
terdispersi dalam zat fase cair. Hal ini berarti zat
terdispersi fase cair dan medium fase cair. Contoh: susu,
minyak ikan, dan santan kelapa.
c. Emulsi gas (cair-gas)
Emulsi gas (aerosol cair) ialah koloid dengan zat fase
cair terdispersi dalam zat fase gas. Hal ini berarti zat
terdispersi fase cair dan medium fase gas. Contoh: obatobat insektisida (semprot), kabut, dan hair spray.
3. KOLOID BUIH
Kolodi buih erdiri atas dua jenis, , yaitu sebagai berikut:
a. Buih padat (gas-padat)
Buih padat ialah koloid dengan zat fase gas terdispersi
dalam zat fase padat. Hal ini berarti zat terdispersi fase
gas dan medium fase padat. Contoh: busa jok dan batu
apung.

b. Buih cair (gas-cair)


Buih cair (buih) ialah koloid dengan zat fase gas
terdispersi dalam zat fase cair. Berarti, zat terdispersi
faso gas dan medium fase cair. Contoh: buih sabun, buih
soda, dan krim kocok

C. Sifat-Sifat Koloid

A. Efek Tyndall
Efek Tyndall ialah gejala penghamburan berkas sinar (cahaya) oleh
partikel-partikel koloid. Hal ini disebabkan karena ukuran molekul
koloid yang cukup besar. Efek tyndall ini ditemukan oleh John Tyndall
(1820-1893), seorang ahli fisika Inggris. Oleh karena itu sifat itu disebut
efek tyndall.
Efek tyndall adalah efek yang terjadi jika suatu larutan terkena
sinar. Pada saat larutan sejati (gambar kiri) disinari dengan cahaya,
maka larutan tersebut tidak akan menghamburkan cahaya, sedangkan
pada sistem koloid (gambar kanan), cahaya akan dihamburkan. hal itu
terjadi karena partikel-partikel koloid mempunyai partikel-partikel yang
relatif besar untuk dapat menghamburkan sinar tersebut. Sebaliknya,
pada larutan sejati, partikel-partikelnya relatif kecil sehingga hamburan
yang terjadi hanya sedikit dan sangat sulit diamati.
B. Gerak Brown
Jika kita amati system koloid dibawah mikroskop ultra, maka kita
akan melihat bahwa partikel-partikel tersebut akan bergerak membentuk
zigzag. Pergerakan zigzag ini dinamakan gerak Brown. Pergerakan
tersebut dijelaskan pada penjelasan berikut:
Partikel-partikel suatu zat senantiasa bergerak. Gerakan
tersebut dapat bersifat acak seperti pada zat cair dan gas, atau
hanya bervibrasi di tempat seperti pada zat padat. Untuk

system koloid dengan medium pendispersi zat cair atau gas,


pergerakan partikel-partikel akan menghasilkan tumbukan
dengan partikel-partikel koloid itu sendiri. Tumbukan tersebut
berlangsung dari segala arah. Oleh karena ukuran partikel
cukup kecil, maka tumbukan yang terjadi cenderung tidak
seimbang. Sehingga terdapat suatu resultan tumbukan yang
menyebabkan perubahan arah gerak partikel sehingga terjadi
gerak zigzag atau gerak Brown.
Semakin kecil ukuran partikel koloid, semakin cepat gerak
Brown terjadi. Demikian pula, semakin besar ukuran partikel
kolopid, semakin lambat gerak Brown yang terjadi. Hal ini
menjelaskan mengapa gerak Brown sulit diamati dalam larutan
dan tidak ditemukan dalam zat padat (suspensi).
Gerak Brown juga dipengaruhi oleh suhu. Semakin tinggi
suhu system koloid, maka semakin besar energi kinetic yang
dimiliki partikel-partikel medium pendispersinya. Akibatnya,
gerak Brown dari partikel-partikel fase terdispersinya semakin
cepat. Demikian pula sebaliknya, semakin rendah suhu system
koloid, maka gerak Brown semakin lambat.
C. Adsorbsi
Beberapa partikel koloid mempunyai sifat adsorbsi (penyerapan)
terhadap partikel atau ion atau senyawa yang lain.
Penyerapan pada permukaan ini disebut adsorbsi (harus dibedakan dari
absorbsi yang artinya penyerapan sampai ke bawah permukaan).
Contoh :
(i) Koloid Fe(OH)3 bermuatan positif karena permukaannya menyerap
ion H+.
(ii) Koloid As2S3 bermuatan negatit karena permukaannya menyerap
ion S2.

D. Koagulasi
Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid dan membentuk
endapan. Dengan terjadinya koagulasi, berarti zat terdispersi tidak lagi
membentuk koloid.
Koagulasi dapat terjadi secara fisik seperti pemanasan, pendinginan
dan pengadukan atau secara kimia seperti penambahan elektrolit,
pencampuran koloid yang berbeda muatan.

E. Koloid Liofil dan Koloid Liofob


Koloid ini terjadi pada sol yaitu fase terdispersinya padatan dan
medium pendispersinya cairan.
1. Koloid Liofil: sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya besar
terhadap medium pendispersinya.
Contoh: sol kanji, agar-agar, lem, cat
2. Koloid Liofob : sistem koloid yang affinitas fase terdispersinya
kecilterhadap medium pendispersinya.
Contoh: sol belerang, sol emas.
F. Dialisis
Dialisis ialah pemisahan koloid dari ion-ion pengganggu dengan
cara ini disebut proses dialisis. Yaitu dengan mengalirkan cairan yang
tercampur dengan koloid melalui membran semi permeable yang
berfungsi sebagai penyaring. Membran semi permeable ini dapat
dilewati cairan tetapi tidak dapat dilewati koloid, sehingga koloid dan
cairan akan berpisah
G. Elektroforesis

Elektroferesis ialah peristiwa pemisahan partikel koloid yang


bermuatan dengan menggunakan arus listrik.

D. Penggunaan Koloid
Ada

banyak

penggunaan

sistem

koloid

baik

di

dalam

kehidupan sehari-hari maupun dalam berbagai industri seperti


industri kosmetik, makanan, farmasi dan sebagainya. Beberapa
macam koloid tersebut antara lain :
1. Aerosol
Aerosol adalah sistem koloid di mana partikel padat atau
cair terdispersi dalam gas. Aerosol yang dapat kita saksikan
di alam adalah kabut, awan, dan debu di udara. Dalam
industri modern, banyak sediaan insektisida dan kosmetika
yang diproduksi dalam bentuk aerosol, dan sering kita sebut
sebagai obat semprot, Contohnya antara lain adalah hair
spray, deodorant dan obat nyamuk.
2. Sol
Sol adalah sistem koloid di mana partikel padat terdispersi
dalam cairan. Berdasarkan sifat adsorpsi dari partikel padat
terhadap cairan pendispersi, kita mengenal dua macam sol;
A.

Sol

liofil,

dimana

partikel-partikel

padat

akan

mengadsorpsi molekul cairan, sehingga terbentuk


suatu selubung di sekeliling partikel padat itu. Liofil
artinya cinta cairan (Bahasa Yunani; lio=cairan;
philia=cinta). Sol liofil yang setengah padat disebut
gel. Contoh gel antara lain selai dan gelatin.
B.

Sol

liofob,

dimana

partikel-partikel

padat

tidak

mengadsorpsi molekul cairan. Liofib artinya takut


cairan (phobia=takut). ). Contoh koloid liofob adalah
sol sulfida dan sol logam.
3. Emulsi
Emulsi

adalah

suatu

system

koloid

di

mana

zat

terdispersi dan medium pendispersi sama-sama merupakan

cairan.

Agar

terjadi

suatu

campuran

koloid,

harus

ditambahkan zat pengemulsi (emulgator). Susu merupakan


emulsi

lemak

dalam

air,

dengan

kasein

sebagai

emulgatornya. Obat-obatan yang tidak larut dalam

air

banyak yang dibuat dan dipanaskan dalam bentuk emulsi.


Contohnya emulsi minyak ikan. Emulsi yang dalam bentuk
semipadat disebut krim

E. Cara Pembuatan Koloid

Jika kita atau sebuah industri akan memproduksi suatu produk berbentuk
koloid, bahan bakunya adalah larutan (partikel berukuran kecil) atau suspensi
(partikel berukuran besar). Didasarkan pada bahan bakunya, pembuatan
koloid dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut:
1. Kondensasi
Kondensasi adalah cara pembuatan koloid dari partikel kecil
(larutan) menjadi partikel koloid. Proses kondensasi ini didasarkan atas
reaksi kimia; yaitu melalui reaksi redoks, reaksi hidrolisis, dekomposisi
rangkap, dan pergantian pelarut.
a) Reaksi Redoks
Contoh:
1. Pembuatan sol belerang dari reaksi redoks antara gas H 2 S
dengan larutan SO 2.
Persamaan reaksinya: 2 H 2 S (g) + SO 2 (aq) 2 H 2 O (l) +
3 S (s) (sol belerang)
2. Pembuatan sol emas dari larutan AuCl 3 dengan larutan encer
formalin (HCHO).
Persamaan reaksinya:

2 AuCl 3(aq) + 3 HCHO (aq) + 3H 2 O (l) 2 Au (s) + 6HCl


(aq) + 3 HCOOH (aq) (sol emas)

b) Reaksi Hidrolisis
Contoh,
1. pembuatan sol Fe(OH) 3 dengan penguraian garam FeCl 3
Persamaan reaksinya adalah : mengunakan air mendidih.
FeCl 3 (aq) + 3 H 2 O (l) Fe(OH) 3 (s) + 3 HCl ( aq) (sol
Fe(OH) 3)
c) Reaksi Dekomposisi Rangkap
Contoh
1) Pembuatan sol As 2 S 3, dibuat dengan mengalirkan gas H 2 S
dan asam arsenit (H3AsO 3 ) yang encer.
Persamaan reaksinya: 2 H3AsO 3 (aq) + 3H2S (g) As2S3 (s) +
6H2O (l) (sol As 2S3 )
2) Pembuatan sol AgCl dari larutan AgNO 3 dengan larutan
NaCl encer.
Persamaan reaksinya: AgNO 3 (aq) + NaC1 (aq) AgCl (s) +
NaNO 3 (aq)
d)

Reaksi Pergantian Pelarut


Contoh:
pembuatan sol belerang dari larutan belerang dalam alkohol
ditambah dengan air.
Persamaan reaksinya:

S (aq) + alkohol + air S (s) Larutan S sol belerang

2. Dispersi
Dispersi adalah pembuatan partikel koloid dari partikel kasar
(suspensi). Pembuatan koloid dengan dispersi meliputi: cara mekanik,
peptisasi, busur Bredig, dan ultrasonik.
a) Proses Mekanik
Proses mekanik adalah proses pembuatan koloid melalui
penggerusan atau penggilingan (untuk zat padat) serta dengan
pengadukan atau pengocokan (untuk zat cair). Setelah diperoleh
partikel yang ukurannya sesuai dengan ukuran koloid, kemudian
didispersikan

ke

dalam

medium

(pendispersinya).

Contoh,

pembuatan sol belerang.


b) Peptisasi
Peptisasi adalah cara pembuatan koloid dengan menggunakan
zat kimia (zat elektrolit) untuk memecah partikel besar (kasar)
menjadi partikel koloid. Contoh, proses pencernaan makanan
dengan enzim dan pembuatan sol belerang dari endapan nikel
sulfida, dengan mengalirkan gas asam sulfida.
c) Busur Bredig
Busur Bredig ialah alat pemecah zat padatan (logam) menjadi
partikel koloid dengan menggunakan arus listrik tegangan tinggi.
Caranya adalah dengan membuat logam, yang hendak dibuat
solnya, menjadi dua kawat yang berfungsi sebagai elektrode yang
dicelupkan ke dalam air; kemudian diberi loncatan listrik di antara

kedua ujung kawat. Logam sebagian akan meluruh ke dalam air


sehingga terbentuk sol logam. Contoh, pembuatan sol logam.
d) Suara Ultrasonik
Cara ini hampir sama dengan cara busur Bredig, yaitu samasama

untuk

pembuatan

sol

logam.

Ka1au

busur

Bredig

menggunakan arus listrik tegangan tinggi, maka cara ultrasonik


menggunakan energi bunyi dengan frekuensi sangat tinggi, yaitu di
atas 20.000 Hz.

F. Cara Pemurnian Koloid


Seringkali terdapat zat-zat terlarut yang tidak diinginkan dalam suatu
pembuatan

suatu

sistem

koloid.

Partikel-partikel

tersebut

haruslah

dihilangkan atau dimurnikan guna menjaga kestabilan koloid. Ada beberapa


metode pemurnian yang dapat digunakan, yaitu:
1. Dialisis
Dialisis adalah proses pemurnian partikel koloid dari muatanmuatan yang menempel pada permukaannya. Pada proses dialisis ini
digunakan selaput semipermeabel. Pergerakan ion-ion dan molekul
molekul kecil melalui selaput semipermiabel disebut dialysis. Suatu
koloid biasanya bercampur dengan ion-ion pengganggu, karena
pertikel koloid memiliki sifat mengadsorbsi. Pemisahan ion
penggangu dapat dilakukan dengan memasukkan koloid ke dalam
kertas/membran semipermiabel (selofan), baru kemudian akan dialiri
air yang mengalir. Karena diameter ion pengganggu jauh lebih kecil
daripada kolid, ion pengganggu akan merembes melewati pori-pori
kertas selofan, sedangkan partikel kolid akan tertinggal.
Proses dialisis untuk pemisahan partikel-partikel koloid dan zat
terlarut dijadikan dasar bagi pengembangan dialisator. Salah satu

aplikasi dialisator adalah sebagai mesin pencuci darah untuk penderita


gagal ginjal. Jaringan ginjal bersifat semipermiabel, selaput ginjal
hanya dapat dilewati oleh air dan molekul sederhana seperti urea,
tetapi menahan partikel-partikel kolid seperti sel-sel darah merah.
2. Elektrodialisis
Pada dasarnya proses ini adalah proses dialysis di bawah
pengaruh medan listrik. Cara kerjanya; listrik tegangan tinggi
dialirkan melalui dua layer logam yang menyokong selaput
semipermiabel. Sehingga pertikel-partikel zat terlarut dalam sistem
koloid berupa ion-ion akan bergerak menuju elektrode dengan muatan
berlawanan. Adanya pengaruh medanlistrik akanmempercepat proses
pemurnian sistem koloid.
Elektrodialisis hanya dapat digunakan untuk memisahkan partikelpartikel zat terlarut elektrolit karena elektrodialisis melibatkan arus
listrik.
3. Penyaring Ultra
Partikel-partikel kolid tidak dapat disaring biasa seperti kertas
saring, karena pori-pori kertas saring terlalu besar dibandingkan
ukuran partikel-partikel tersebut. Tetapi, bila kertas saring tersebut
diresapi dengan selulosa seperti selofan, maka ukuran pori-pori kertas
akan sering berkurang. Kertas saring yang dimodifikasi tersebut
disebut penyaring ultra.
Proses pemurnian dengan menggunakan penyaring ultra ini
termasuklambat, jadi tekanan harus dinaikkan untuk mempercepat
proses ini. Terakhir, partikel-pertikel koloid akan teringgal di kertas
saring. Partikel-partikel kolid akan dapat dipisahkan berdasarkan
ukurannya, dengan menggunakan penyaring ultra bertahap.

F. Koloid Dalam Kehidupan Sehari-hari

Sistem koloid banyak digunakan pada kehidupan sehari-hari, terutama


dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini disebabkan sifat karakteristik koloid
yang penting, yaitu dapat digunakan untuk mencampur zat-zat yang tidak
dapat saling melarutkan secara homogen dan bersifat stabil untuk produksi
dalam skala besar.
Berikut ini adalah tabel aplikasi koloid:
Jenis industri

Contoh aplikasi

Industri makanan

Keju, mentega, susu, saus salad

Industri kosmetika dan perawatan

Krim, pasta gigi, sabun

tubuh
Industri cat

Cat

Industri kebutuhan rumah tangga

Sabun, deterjen

Industri pertanian

Peptisida dan insektisida

Industri farmasi

Minyak

ikan,

pensilin

untuk

suntikan

Berikut ini adalah penjelasan mengenai aplikasi koloid:


1. Pemutihan Gula
Gula tebu yang masih berwarna dapat diputihkan. Dengan
melarutkan gula ke dalam air, kemudian larutan dialirkan melalui
sistem koloid tanah diatomae atau karbon. Partikel koloid akan
mengadsorpsi zat warna tersebut. Partikel-partikel koloid tersebut
mengadsorpsi zat warna dari gula tebu sehingga gula dapat berwarna
putih.
2. Penggumpalan Darah
Darah mengandung sejumlah koloid protein yang bermuatan
negatif. Jika terjadi luka, maka luka tersebut dapat diobati dengan

pensil stiptik atau tawas yang mengandung ion-ion Al3+ dan Fe3+.
Ion-ion tersebut membantu agar partikel koloid di protein bersifat
netral sehingga proses penggumpalan darah dapat lebih mudah
dilakukan.

3. Penjernihan Air
Air keran (PDAM) yang ada saat ini mengandung partikelpartikel koloid tanah liat,lumpur, dan berbagai partikel lainnya yang
bermuatan negatif. Oleh karena itu, untuk menjadikannya layak untuk
diminum, harus dilakukan beberapa langkah agar partikel koloid
tersebut

dapat

dipisahkan.

Hal

itu

dilakukan

dengan

cara

menambahkan tawas (Al2SO4)3.Ion Al3+ yang terdapat pada tawas


tersebut akan terhidroslisis membentuk partikel koloid Al(OH)3 yang
bermuatan positif melalui reaksi:
Al3+ + 3H2O

Al(OH)3 +

3H+

Setelah itu, Al(OH)3 menghilangkan muatan-muatan negatif dari


partikel koloid tanah liat/lumpur dan terjadi koagulasi pada lumpur.
Lumpur tersebut kemudian mengendap bersama tawas yang juga
mengendap karena pengaruh gravitasi.

BAB III

Kesimpulan

Partikel koloid dapat menghamburkan cahaya sehingga berkas cahaya yang


melalui sistem koloid. Dapat diamati dari samping sifat partikel koloid ini
disebut efek Tyndall.
Jika diamati dengan mikroskop ultra ternyata partikel koloid senantiasa
bergerak dengan gerak patah-patah yang disebut gerak Brown. Gerak Brown
terjadi karena tumbukan tak simetris antara molekul medium dengan partikel
koloid.
Koloid dapat mengadsorpsi ion atau zat lainpada permukaannya, dan oleh
karena luas permukaannya yang relatif besar, maka koloid mempunyai daya
adsorpsi yang besar.
Adsorpsi ion-ion oleh partikel koloid membuat partikel koloid menjadi
bermuatan listrik. Muatan koloid menyebabkan gaya tolak-menolak di antara
partikel koloid, sehingga menjadi stabil (tidak mengalami sedimentasi).
Muatan partikel koloid dapat ditunjukkan dengan elektroforesis, yaitu
pergerakan partikel koloid dalam medan listrik.
Penggumpalan partikel koloid disebut koagulasi. Koagulasi dapat terjadi
karena berbagai hal, misalnya pada penambahan elektrolit. Penambahan
elekrolit

akan menetralkan muatan koloid, sehingga faktor yang

menstabilkannya hilang.
Campuran koloid dapat dipisahkan dari ion-ion atau partikel terlarut lainnya
melalui dialisis.
Koloid yang medium dispersinya berupa cairan dibedakan atas koloid liofil
dan koloid liofob. Koloid liofil mempunyai interaksi yang kuat dengan
mediumnya; sebaliknya, pada koloid liofob interaksinya tersebut tidak ada
atau sangat lemah.

banyak sekali produk industri dalam bentuk koloid, terutama karena dengan
bentuk koloid, maka zat-zat yang tidak saling melarutkan dapat disajikan
homogen secara makroskopis.
Pengolahan air bersih memanfaatkan sifat koloid, yaitu adsorpsi dan
koagulasi. Pada pengolahan air bersih digunakan tawas (alumunium sulfat),
kaporit (klorin) dan kapur.
Koloid dapat dibuat dengan cara dispersi atau kondensasi. Pada cara dispersi,
bahan kasar dihaluskan kemudian didispersikan ke dalam medium
dispersinya. Pada cara kondensasi, koloid dibuat dari larutan di mana atom
atau molekul mengalami agregasi (pengelompokan), sehingga menjadi
partikel koloid.
Sabun dan detergen bekerja sebagai bahan aktif permukaan yang fungsinya
mengelmusikan lemak ke dalam air.
Asbut adalah suatu bentuk pencemaran yang merupakan sistem koloid.

Kepustakaan

http://wayan-dickalicious.blogspot.com/2012/01/makalah-kimiakoloid.html
http://www.academia.edu/5160567/MAKALAH_KIMIA_TENTANG_KOLOID
http://iskabere.blogspot.com/2014/05/makalah-koloid-lengkap.html
http://id.wikipedia.org/wiki/Sistem_koloid