Anda di halaman 1dari 7

MANAJEMEN RISIKO PERUSAHAAN

Makalah
Diajukan untuk memenuhi salah satu tugas pada mata kuliah manajemen keuangan lanjutan
dengan dosen Tetty Lasniroha S, S.E., M. Ak., CA.

Disusun Oleh :
KELOMPOK 1
151502054 YUDI KRISTIANTO
151502058 YUNI TRISNAENI SUDIANTI
151502067 WULAN PRYMARANTI

PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI


FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS WIDYATAMA
BANDUNG
2015

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah


Manajemen risiko merupakan salah satu elemen penting dalam menjalankan bisnis
perusahaan karena semakin berkembangnya dunia perusahaan serta meningkatnya kompleksitas
aktivitas perusahaan mengakibatkan meningkatnya tingkat risiko yang dihadapi perusahaa.
Sasaran utama dari imolementasi manajemen risiko adalah melindungi perusahaan terhadap
kerugian yang mungkin timbul. Lembaga perusahaan menglola risiko dengan menyeimbangkan
antara strategi bisnis dengan mengelola risikonya sehingga perusahaan akan mendapatkan hasil
optimal dari operasionalnya.

1.2 Pembatasan Masalah


Perusahaan harus bisa menemukan kerugian potensial yang mungkin terjadi dan mencari cara
untuk menangani risiko tersebut. Ketidakpastian dalam dunia bisnis akan menyebabkan
terjadinya risiko bisnis. Perusahaan perlumenganalisis kemungkinan kerugian potensi dalam
bisnisnya tersebut kemudian mengevaluasi dan mencari cara untuk menanggulanginya. Risiko
sering dikaitkan dengan kerugian. Jadi risiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan
kerugian. Jadi risiko adalah ketidakpastian yang mungkin melahirkan kerugian atau peluang
terjadi sesuatu yang bad outcame.

1.3 Tujuan Penulisan


Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah agar mahasiswa lebih memahami dan
mendalami pokok bahasan mengenai manajemen risiko di dalam perusahaan., proses manajemen
risiko, pengelolaan risiko dengan lindung nilai derivative yang diperdagangkan, dan penilaian
opsi dan swap.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Lima Langkah Proses Manajemen Resiko Korporat


Manajemen risiko adalah suatu proses mengidentifikasi, mengukur risiko, serta membentuk
strategi untuk mengelolanya melalui sumber daya yang tersedia.Manajemen risiko bertujuan
untuk mengelola risiko tersebut sehinga kita dapat memperoleh hasil yang optimal. Manajemen
risiko pada dasarnya dilakukan melalui proses-proses berikut ini :
1. Identifikasi Risiko
Proses ini meliputi identifikasi risiko yang mungkin terjadi dalam suatu aktivitasusaha.
Identifikasi risiko secara akurat dan komplet sangatlah vital dalam manajemen risiko.
Salah satu aspek penting dalam identifikasi risiko adalah mendaftar risiko yang mungkin
terjadi sebanyak mungkin. Teknik-teknik yang dapat digunakan dalam identifikasi risiko
antara lain:
Brainstorming
Survei
Wawancara
Informasi historis
Kelompok kerja, dll.
2. Analisa Risiko
Setelah melakukan identifikasi risiko, maka tahap berikutnya adalah pengukuran risiko
dengan cara melihat potensial terjadinya seberapa besar severity (kerusakan) dan
probabilitas terjadinya risiko tersebut. Penentuan probabilitas terjadinya suatu event
sangatlah subyektif dan lebih berdasarkan nalar dan pengalaman. Beberapa risiko
memang mudah untuk diukur, namun sangatlah sulit untuk memastikan probabilitas suatu
kejadian yang sangat jarang terjadi. Sehingga, pada tahap ini sangtalah penting untuk
menentukan dugaan yang terbaik supaya nantinya kita dapat memprioritaskan dengan
baik dalam implementasi perencanaan manajemen risiko. Kesulitan dalam pengukuran
risiko adalah menentukan kemungkinan terjadi suatu risiko karena informasi statistik
tidak selalu tersedia untuk beberapa risiko tertentu. Selain itu, mengevaluasi dampak
severity (kerusakan) seringkali cukup sulit untuk asset immateriil.
3. Pengelolaan risiko
Jenis-jenis cara mengelola risiko:

a. Risk avoidance, yaitu memutuskan untuk tidak melakukan aktivitas yang


mengandung risiko sama sekali. Dalam memutuskan untuk melakukannya, maka
harus dipertimbangkan potensial keuntungan dan potensial kerugian yang dihasilkan
oleh suatu aktivitas.
b. Risk reduction, atau disebut juga risk mitigation yaitu merupakan metode yang
mengurangi kemungkinan terjadinya suatu risiko ataupun mengurangi dampak
kerusakan yang dihasilkan oleh suatu risiko.
c. Risk transfer, Yaitu memindahkan risiko kepada pihak lain, umumnya melalui suatu
kontrak (asuransi) maupun hedging.
d. Risk deferral
Dampak suatu risiko tidak selalu konstan. Risk deferral meliputi menunda aspek
suatu proyek hingga saat dimana probabilitas terjadinya risiko tersebut kecil.
e. Risk retention
Walaupun risiko tertentu dapat dihilangkan dengan cara mengurnagi maupun
mentransfernya, namun beberapa risiko harus tetap diterima sebagai bagian penting
dari aktivitas.
4. Implementasi Manajemen Risiko
Setelah memilih respon yang akan digunakan untuk menangani risiko, maka saatnya
untuk mengimplementasikan metode yang telah direncanakan tersebut.
5. Monitoring Risiko
Mengidentifikasi, menganalisa dan merencanakan suatu risiko merupakan bagian penting
dalam perencanaan suatu proyek. Namun, manajemen risiko tidaklah berhenti sampai
disana saja. Praktek, pengalaman dan terjadinya kerugian akan membutuhkan suatu
perubahan dalam rencana dan keputusan mengenai penanganan suatu risiko. Sangatlah
penting untuk selalu memonitor proses dari awal mulai dari identifikasi risiko dan
pengukuran risiko untuk mengetahui keefektifan respon yang telah dipilih dan untuk
mengidentifikasi adanya risiko yang baru maupun berubah. Sehingga, ketika suatu risiko
terjadi maka respon yang dipilih akan sesuai dan diimplementasikan secara efektif.

2.2 Pengelolaan Risiko dengan Kontrak Asuransi


Risiko asuransi yaitu suatu perjanjian dimana seorang penanggung mengikatkan diri
dengan seseorang tertanggung dengan menerima uang premi untuk memberikan penggantian

kepadanya karena suatu kerugian, kerusakan atau kehilangan keuntungan yang diharapkan yang
mungkin akan didenda karena suatu peristiwa tak tentu.
Tujuan atas pengelolaan risiko dengan kontrak asuransi:
1. Segi Ekonomi
Tujuannya yaitu mengurangi ketidakpastian dari hasil usaha yang dilakukan
oleh,perusahaan dalam rangka memenuhi kebutuhan atau mencapai tujuan.
2. Segi Hukum
Tujuannya yaitu memindahkan risiko yang dihadapi oleh suatu obyek atau suatu kegiatan
bisnis kepada pihak lain.
3. Segi Tata Niaga

Tujuannya yaitu membagi risiko yang dihadapi kepada semua peserta program asuransi.
4. Segi Kemasyarakatan
Tujuannya yaitu menanggung kerugian secara bersama-sama antar semua peserta
program asuransi.
5. Segi Matematis

Tujuannya yaitu meramalkan besarnya kemungkinan terjadinya risiko dan hasil ramalan
itu dipakai dasar untuk membagi risiko kepada semua peserta (sekelompok peserta)
program asuransi.
Risiko yang bisa diasuransikan yaitu :
a)
b)
c)
d)
e)
f)

Kerugian karena risiko bisa ditentukan dan diukur


Risiko yang mempunyai kemiripan dan banyak
Kerugian harus terjadi karena ketidaksengajaan atau karena kecelakaan
Kerugian tidak diakibatkan oleh bencana alam
Kerugian yang besar
Probabilitas terjadinya kerugian tidak terlalu tinggi

Risiko Asuransi :
1. Risiko Murni

Yaitu risiko yang apabila benar-benar terjadi, akan memberikan kerugian dan apabila
tidak terjadi, tidak akan menimbulkan kerugian dan tidak juga memberikan keuntungan.
2. Risiko Spekulatif

Yaitu risiko yang berkaitang dengan terjadinya dua kemungkinan, yaitu kemungkinan
untuk mendapatkan keuntungan dam kemungkinan untuk mendapat kerugian.
3. Risiko Individu

Yaitu risiko yang kemungkinan dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.


Risiko individu dibagi menjadi 3 jenis :
i.
Risiko pribadi (personal risk)

Yaitu risiko yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk memperoleh


manfaat ekonomi. Atau dengan kata lain risiko ini berfungsi untuk menanggung
ii.

dirinya sendiri atau orang yang ia asuransikan.


Risiko harta (property risk)
Yaitu risiko yang ditanggungkan atas harta yang dimilikinya rusak, hilang atau
dicuri. Dengan kerusakan atau kehilangan tersebut, pemilik akan kehilangan

iii.

kesempatan ekonomi yang diperoleh dari harta yang dimilikinya.


Risiko tanggung gugat (liability risk)
Yaitu risiko yang mungkin kita alami atau derita sebagai tanggung jawab akibat
kerugian atau lukanya pihak lain. Misalkan, pemberian asuransi oleh mandor
bangunan kepada para pekerjanya.

2.3 Pengelolaan Risiko dengan Lindung Nilai Instrumen Keuangan Derivatif yang
Diperdagangkan
1. Lindung Nilai Neraca
Dapat mengurangi potensi risiko yang dihadapi perusahaan dengan menyesuaikan
tingkatan dan nilai denominasi moneter aktiva dan kewajiban perusahaan yang terpapar.
Metode lindung nilai potensi risiko perusahaan positif lainnya dalam sebuah anak
perusahaan yang berlokasi di negara yang rentan terhdap devaluasi meliputi :
a. Mempertahankan saldo kas dalam mata uang lokal sebesar tingkat minimum yang
diperlukan untuk mendukung operasi yang berjalan.
b. Mengembalikan laba yang di atas jumlah yang diperlukan untuk ekspansi modal
kepada induk perusahaan.
c. Mempercepat (memastikan-leading) penerimaan dan piutang dagang yang beredar
dalam mata uang lokal.
d. Menunda (memperlambat-lagging) pembayaran utang dalam mata uang lokal.
e. Mempercepat pembayaran utang dalam mata uang asing.
f. Menginvestasikan kelebihan utang tunai ke dalam persediaan dan aktiva lainnya
dalam mata uang lokal yang tidak terlalu terpengaruh oleh kerugian devaluasi.
g. Berinvestasi dalam aktiva di luar negeri dengan mata uang yang kuat.
2. Lindung Nilai Operasional
Bentuk perlindungan resiko ini berfokus pada variabel variabel yang mempengaruhi
pendapatan dan beban dalam mata uang asing.
3. Lindung Nilai Struktural
Lindung nilai ini mencakup relokasi tempat manufaktur untuk
risiko yang dihadapi perusahaan.

mengurangi potensi

4.

Lindung Nilai Kontraktural


Lindung nilai kontraktural ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar kepada para
manajer dalam mengelola potensi risiko valuta asing yang dihadapi.

Akuntansi Untuk Produk Lindung Nilai


Merupakan kontrak atau instrumen keuangan yang memungkinkan penggunaannya untuk
meminimalkan, menghilangkan, atau paling tidak mengalihkan resiko pasar pada pundak pihak
lain.

Produk ini mencakup antara lain Contract Forward, future, SWAP, dan Opsi mata uang.
1. Contract Forward Valas
Merupakan perjanjian untuk mengirimkan atau menerima jumlah mata uang tertentu
yang dipertukarkan dengan mata uang domestik, pada suatu tanggal di masa
mendatang.
2. Future Keuangan
Merupakan komitmen untuk membeli atau menyerahkan sejumlah mata uang asing
pada suatu tanggal tertentu di masa depan dengan harga yang ditentukan.
3. Opsi Mata Uang
Memberikan hak kepada pembeli untuk membeli (call) atau menjual (put) suatu mata
uang dari pihak penjual (pembuat) berdasarkan harga (eksekusi) tertentu pada atau
sebelum tanggal kadaluwarsa (eksekusi) yang telah ditentukan.
4. SWAP Mata Uang
Mencakup pertukaran saat ini dan dimasa depan atas dua mata uang yang berbeda
berdasarkan kurs yang telah ditentukan sebelumnya.
SWAP mata uang memungkinkan perusahaan untuk :
Mendapatkan akses terhadap pasar modal yang sebelum tidak didapat diakses
dengan biaya yang relatif rendah
Melakukan lindung nilai terhadap risiko kurs yang timbul dari kegiatan usaha
internasional.

Anda mungkin juga menyukai