Anda di halaman 1dari 10

PANDUAN

PEMBERIAN DARAH DAN


KOMPONEN DARAH

RS PKU MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA UNIT II
Jl. Wates KMYogyakarta
5,5 Gamping,
Yogyakarta
RS PKU Muhammadiyah
unit IISleman, Yogyakarta55294
Telp. 0274 6499706, Fax. 0274 6499727

RS PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II


Jl.Wates Km 5,5 Gamping, Sleman, Yogyakarta 55294
Telp. (0274) 6499706, IGD (0274) 6499118
Fax. (0274) 6499727,e-mail:pkujogja2@yahoo.co.id

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Nomor : 0426/PS.1.2/IV/2015
Tentang
PANDUAN PEMBERIAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH
DIREKTUR RUMAH SAKIT PKU MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II
Menimbang

a. Bahwa dalam upaya meningkatkan kualitas dan


keamanan pelayanan pasien, maka diperlukan adanya
Panduan Pemberian Darah dan Komponen Darah di
Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta Unit II.
b. Bahwa sesuai butir a diatas perlu menetapkan Keputusan
Direktur Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta
Unit II tentang Panduan Pemberian Darah dan
Komponen Darah

Mengingat

1. Undang-Undang RI Nomor 36 Tahun 2009 tentang


Kesehatan
2. Undang-Undang RI Nomor 44 Tahun 2009 tentang
Rumah Sakit
3. Undang-Undang RI Nomor 29 Tahun 2004 tentang
Praktek Kedokteran
4. Keputusan
Menteri
Kesehatan
RI
Nomor
1165.A/MenKes/SK/X/2004 tentang Komisi Akreditasi
Rumah Sakit.
5. Surat Keputusan Badan Pelaksana Harian Rumah Sakit
PKU Muhammadiyah Yogyakarta nomer 015/B-II/BPHII/XII/2013 tanggal 12 Desember 2013 M, tentang
Susunan Direksi Rumah Sakit PKU Muhammadiyah
Yogyakarta Unit II.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

MEMUTUSKAN
Menetapkan

PERTAMA

KEPUTUSAN DIREKTUR
RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH
YOGYAKARTA
UNIT
II
TENTANG PANDUAN PEMBERIAN DARAH DAN
KOMPONEN DARAH
RUMAH SAKIT PKU
MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA UNIT II.

KEDUA

Panduan Pemberian Darah dan Komponen Darah


dimaksudkan sebagaimana tercantum dalam Panduan di
Keputusan ini.

KETIGA

Pelaksanaan Panduan Pemberian Darah dan Komponen


Darah dimaksudkan untuk meningkatkan kualitas dan
keamanan pelayanan pasien sebagaimana dimaksud dalam
Diktum kesatu

KEEMPAT

Keputusan ini berlaku sejak tanggal ditetapkan.


Ditetapkan di : Sleman
Pada Tanggal : 4 April 2015
Direktur,

dr. H. Ahmad Faesol, Sp. Rad. M. Kes.


NBM: 797.692

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

ii

KATA PENGANTAR

Segala puji hanyalah bagi Allah Subhanahuwataala, Tuhan semesta alam


yang telah memberikan Ridlo dan Petunjuk Nya, sehingga Panduan Pemberian
Darah dan Komponen Darah ini dapat selesaikan dan dapat diterbitkan.
Panduan ini dibuat untuk menjadi panduan kerja bagi semua staf dalam
memberikan pelayanan yang terkait pemberian darah dan komponen darah di Rumah
Sakit PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II. Dalam panduan ini antara lain berisi
tentang tatalaksana yang harus pahami dan dilaksanakan oleh staf terkait dalam
pemberian darah dan komponen darah.
Untuk peningkatan mutu pelayanan diperlukan pengembangan kebijakan,
pedoman, panduan dan prosedur. Untuk tujuan tersebut panduan ini akan kami
evaluasi setidaknya setiap 2 tahun sekali. Masukan, kritik dan saran yang konstruktif
untuk pengembangan panduan ini sangat kami harapkan dari para pembaca.

Sleman, 1 April 2015

Direktur

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
SURAT
SURAT KEPUTUSAN
KEPUTUSAN DIREKTUR
DIREKTUR
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
A. DEFINISI
A.
B. DEFINISI
TUJUAN
B.
LINGKUP
C. RUANG
RUANG
LINGKUP
D. TATA
TATA
LAKSANA
C.
LAKSANA

Halaman:
Hal:
iii
iii
ii
1
11
1

1. Indikasi pemberian darah dan/atau produk darah

2. Skrining donor darah

3. Teknik Transfusi Darah

D. DOKUMENTASI.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

ii

LAMPIRAN
Keputusan Direktur Nomor : 0426/PS.1.2/IV/2015
Tentang Panduan Pemberian Darah dan Komponen Darah

PANDUAN PEMBERIAN DARAH DAN KOMPONEN DARAH

A. DEFINISI
Transfusi Darah adalah pemindahan darah atau suatu komponen darah dari
seseorang (donor) kepada orang lain (resipien).
Transfusi darah merupakan

prosedur yang di lakukan pada klien yang

membutuhkan darah dan/atau produk darah dengan cara memasukkan darah


melalui vena dengan menggunakan set transfusi.

B. RUANG LINGKUP
Panduan ini menjelaskan tentang pemberian darah / produk darah.

C. TATA LAKSANA
1. Indikasi pemberian darah dan/atau produk darah
a. Pemberian Transfusi sel Darah Merah
1) Transfusi sel darah merah hampir selalu diindikasikan pada kadar
Hemoglobin (Hb) <7 g/dl, terutama pada anemia akut. Transfusi dapat
ditunda jika pasien asimptomatik dan atau penyakitnya memiliki terapi
spesifik lain, maka batas kadar Hb yang lebih rendah dapat diterima.
2) Transfusi sel darah merah dapat dilakukan pada kadar Hb 7-10 g/dl
apabila ditemukan hipoksia atau hipoksemia yang bermakna secara
klinis dan laboratorium.
3) Transfusi tidak dilakukan bila kadar Hb 10 g/dl, kecuali bila ada
indikasi tertentu, misalnya penyakit yang membutuhkan kapasitas
transport oksigen lebih tinggi (contoh: penyakit paru obstruktif kronik
berat dan penyakit jantung iskemik berat).
RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

4) Transfusi pada neonates dengan gejala hipoksia dilakukan pada kadar


Hb 11 g/dL; bila tidak ada gejala batas ini dapat diturunkan hingga 7
g/dL (seperti pada anemia bayi prematur). Jika terdapat penyakit
jantung atau paru atau yang sedang membutuhkan suplementasi
oksigen batas untuk memberi transfusi adalah Hb 13 g/dL.
b. Pemberian tranfusi trombosit
Transfusi trombosit dapat digunakan untuk Mengatasi perdarahan pada
pasien dengan trombositopenia bila hitung trombosit <50.000/uL, bila
terdapat perdarahan mikrovaskular difus batasnya menjadi <100.000/uL.
Pada kasus DHF dan DIC supaya merujuk pada penatalaksanaan masingmasing.
c. Pemberian Tranfusi Plasma Beku Segar (Fresh Frozen Plasma = FFP)
Transfusi FFP digunakan untuk:
1) Mengganti defisiensi faktor IX (hemofilia B) dan faktor inhibitor
koagulasi baik yang didapat atau bawaan bila tidak tersedia konsentrat
faktor spesifik atau kombinasi.
2) Netralisasi hemostasis setelah terapi warfarin bila terdapat perdarahan
yang mengancam nyawa.
3) Adanya perdarahan dengan parameter koagulasi yang abnormal setelah
transfusi masif atau operasi pintasan jantung atau pada pasien dengan
penyakit hati.

2.

Skrining donor darah


Pemeriksaan harus dilakukan secara individual (tiap individual bag atau satu
unit plasma) dan tidak boleh dilakukan secara pooled plasma.
Jenis pemeriksaan yang digunakan sesuai dengan standard WHO, dalam hal
ini meliputi pemeriksaan atas sifilis, hepatitis B, hepatitis C dan HIV.
Metode tes dapat menggunakan Rapid test, Automated test maupun ELISA
hanya bila
bagi penularan

sensitivitasnya >99%. Transfusi darah merupakan jalur ideal


penyebab infeksi tertentu dari donor kepada resipien.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

Untuk mengurangi potensi

transmisi penyakit melalui transfusi darah,

diperlukan serangkaian skrining

terhadap

dimulai dari riwayat medis sampai beberapa tes

faktor-faktor

risiko

yang

spesifik. Tujuan utama

skrining adalah untuk memastikan agar persediaan darah

yang ada sedapat

mungkin bebas dari penyebab infeksi dengan cara melacaknya

sebelum

darah tersebut ditransfusikan. Saat ini, terdapat tiga jenis utama skrining
yang tersedia untuk melacak penyebab infeksi,yaitu uji Enzyme Linked
Immuno

Sorbent Assay (ELISA/EIA), uji aglutinasi partikel, dan uji

cepat khusus (Rapid Test).Dalam mempertimbangkan berbagai pengujian,


perlu disadari data yang berkaitan dengan sensitivitas dan spesifitas masingmasing pengujian. Sensitivitas adalah

suatu kemungkinan adanya hasil

tes yang akan menjadi reaktif pada seorang individu yang terinfeksi, oleh
karena itu sensitivitas pada suatu pengujian adalah kemampuannya untuk
melacak sampel positif yang selemah mungkin. Spesifisitas adalah suatu
kemungkinan adanya suatu hasil tes yang akan menjadi non-reaktif pada
seorang individu yang tidak terinfeksi, oleh karena itu spesifitas suatu
pengujian adalah kemampuannya untuk melacak hasil positif non-spesifik
atau palsu.

ELISA (sering diganti dengan singkatan EIA) merupakan

metode skrining yang paling kompleks, tersedia dalam berbagai bentuk dan
dapat digunakan untuk deteksi baik antigen maupun antibodi. Bentuk
pengujian yang

paling sederhana

dan paling umum digunakan

adalah dengan memanfaatkan antigen virus yang

menangkap

antibodi

spesifik yang berada dalam sampel tes

3.

Teknik Transfusi Darah


a.

Sebelum ditransfusikan, periksa sekali lagi sifat dan jenis darah serta
kecocokan antara darah donor dan penderita. Penderita dipersiapkan
dengan pemasangan infus dengan jarum besar (16-18). Jarum yang terlalu
kecil (23-25) dapat menyebabkan hemolisis.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

b.

Transfusi dilakukan dengan transfusi set yang memiliki saringan untuk


menghalangi bekuan fibrin dan partikel debris lainnya. Transfusi set baku
memiliki saringan dan ukuran pori-pori 170 mikron. Pada keadaan
normal, sebuah transfusi set dapat digunakan untuk 2 sampai 4 unit darah.

c.

Vena terbaik untuk kanulasi darah adalah vena pada bagian dorsal tangan
dan pada lengan atas. Dalam keadaan darurat dapat dilakukan venaseksi
untuk menjamin kelancaran dan kecepatan transfusi.

d.

Waktu mengambil darah dari lemari es, perhatikan plasmanya. Jika ada
tanda-tanda hemolisis (warna coklat hitam, keruh) jangan diberikan.
Darah yang belum akan ditransfusikan harus tetap di dalam lemari es.
Setelah darah sudah dikeluarkan dari lemari es harus didiamkan selama
30 menit, dan barudapat ditransfusikan.

e.

Sebelum transfusi, diberikan terlebih dahulu 50-100 ml NaCl fisiologik.


Dengan tetesan hidrasi NaCl 20 tetes/menit. Jangan menggunakan larutan
lain karena dapat merugikan. Larutan dekstrose dan larutan garam
hipotonik dapat menyebabkan hemolisis. Ringer laktat atau larutan lain
yang mengandung kalsium akan menyebabkan koagulasi. Jangan
menambahkan obat apapun ke dalam darah yang ditransfusikan. Obatobatan memiliki pH yang berbeda sehingga dapat menyebabkan
hemolisis, lagipula bila terjadi reaksi transfusi akan sulit untuk
menentukan apakah hal itu terjadi akibat obat atau akibat darah yang
ditransfusikan.

f.

Jika sejumlah besar darah akan ditransfusikan dalam waktu yang singkat,
maka dibutuhkan darah hangat, karena darah yang dingin akan
mengakibatkan aritmia ventrikel bahkan kematian. Menghangatkan darah
dengan air hangat hendaknya pada suhu 37-39 derajat C. Karena bila
lebih 40 derajat C, eritrosit akan rusak. Pada 100 ml pertama pemberian
darah lengkap hendaknya diteliti dengan hati-hati dan diberikan perlahanlahan untuk kemungkinan deteksi dini reaksi transfusi.

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II

g.

Transfusi set mengalirkan darah 1 ml dalam 20 tetes. Laju tercepat yang


bisa tercapai adalah 60 ml permenit. Laju transfusi tergantung pada status
kardiopulmoner resipien. Jika status kardiopulmoner normal, maka dapat
diberikan 10-15 ml/kgBB dalam waktu 2-4 jam. Jika tidak ada
hemovolemia maka batas aman transfusi adalah 1 ml/kgBB/jam (1 unit
kurang lebih 3 jam) atau 1000 ml dalam 24 jam. Tetapi jika terdapat gagal
jantung yang mengancam maka tidak boleh ditransfusikan melebihi 2
ml/kgBB/jam. Karena darah adalah medium kultur yang ideal untuk
bakteri, sebaiknya transfusi satu unit darah tidak boleh melewati 5 jam
karena meningkatnya resiko proliferasi bakteri.

h.

Kasus-kasus dengan perdarahan yang hebat kadang-kadang dibutuhkan


transfusi yang cepat sampai 6-7 bag dalam setengah jam. Setelah sirkulasi
tampak membaik dikurangi hingga 1 bag tiap 15 menit.

D. DOKUMENTASI.
1. Informed consent pemberian darah / produk darah.
2. Catatan pemberian darah / produk darah.
3. Reaksi transfusi dilaporkan dalam surveylance indikator mutu

RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta unit II