Anda di halaman 1dari 9

POLA KERUANGAN KOTA

PENGERTIAN KOTA SERTA KAITANNYA DENGAN LOKASI


PUSAT KEGIATAN
a. PENGERTIAN KOTA

Awal terjadinya permukiman disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah


perpindahan penduduk hingga menetap pada suatu wilayah. Kota tumbuh dengan
sendirinya, selanjutnya manusia mengembangkan untuk kebutuhannya. Dengan
demikian kota dapat diartikan sebagai berikut.

1) Dalam arti sempit, kota merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh
unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik dan budaya di suatu wilayah.
2) Dalam arti luas, kota merupakan perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh
unsur-unsur fisiografi, sosial, ekonomi, politik, dan budaya di suatu wilayah
dalam hubungannya dan pengaruh timbal balik dengan wilayah lain.

b. KOTA SEBAGAI PUSAT PEMERINTAHAN

Menurut Prof. Bintarto bahwa daerah selaput kota dapat mengalami perubahan
karena adanya dalam tingkatan teknologi dan budaya. Adapun pembagiannya
sebagai berikut.

a) Hamlet, adalah pedusunan yang mempunyai penduduk 20 – 250 orang.


b) Small village, adalah kelurahan yang berpenduduk 250 – 1.000 orang.
c) Medium village, adalah pedukuhan yang berpenduduk 1.000 – 1.750 orang.
d) Large village, adalah kelurahan besar yang berpenduduk 1.750 – 2.000 orang.
e) Service village, adalah kelurahan dengan fungsi khus us yang berpenduduk 2.000
– 5.000 orang.
f) Infant town, adalah kecamatan kecil yang berpenduduk 5.000 – 20.000 orang.

g) Town ship, adalah kecamatan kecil sedang dan besar yang berpenduduk 20.000
– 50.000 orang.
h) Town, adalah kabupaten yang berpenduduk 350.000 – 600.000 orang.
i) Town city, adalah kota yang berpenduduk 600.000 – 1.000.000 orang.
j) Metropolis, adalah kota besar yangberpenduduk 1.000.000 – 2.000.000 oarang.

c. POLA KERUANGAN KOTA ATAU ZONE

Zone, yaitu daerah-daerah yang membentuk jalur-jalur linier yang teratur dalam
ruang dan biasanya mengelilingi pusat-pusat daerah kegiatan (PDK), yang dalam
bahasa Inggrisnya disebut Central Business Districts (CBD). Akibat perkembangan
penduduk dan kegiatan, berarti wilayah di luar pusat daerah kegiatan ini disebut
Selaput Inti Kota (SIK).

Pengelompokan dan pembagian kegiatan di kota tergantung pada faktor-faktor:


1) ruang yang tersedia di dalam kota,
2) kebutuhan warga kota,
3) tingkat teknologi,
4) perencanaan kota, dan
5) geografi setempat.

Dengan adanya pengelompokan itu, akan terjadi beberapa unit kegiatan.

1) Sentralisasi yaitu timbulnya suatu gejala mengelompok pada suatu titik atau
tempat menjadi pusat daerah kegiatan. Cirinya merupakan pusat keramaian dari
kota pada siang hari, tetapi sunyi pada malam hari, sebab fasilitas ini berupa
kantor-kantor, bank, toko-toka, dan lain- lain.
2) Nukleasi, fungsinya mirip seperti PDK.
3) Desentralisasi, yaitu timbulnya gejala untuk menjauhi titik utama sehingga
menimbulkan pusat-pusat baru.
4) Segregasi, yaitu kelompok-kelompok perumahan yang terpisah satu sama lain
karena perbedaan sosial.

Wujud dari pusat kegiatan ini antara lain sebagai berikut.

1) Kelompok pertokoan dan kelompok tempat tinggal.


2) Kelompok pemerintahan dan kelompok berbagai stasiun.
3) Kelompok pasar dan kelompok sekolahan.
4) Kelompok hiburan dan rekreasi.

Keramaian yang dapat dilihat dalam kota tergantung beberapa faktor.

1) Kemampuan daya tarik dari bangunan dan gedung yang berfungsi sebagai
penjual atau penyalur barang-barang kebutuhan sehari-hari, sebagai pusat
dagang bahan pangan, dan hiburan.
2) Tingkat kemakmuran atau standar hidup dari warga kota yang mempunyai daya
beli yang cukup besar.
3) Sarana yang terdapat dalam kota, seperti transportasi beserta jaringan jalur jalan
dan jaringan komunikasi yang mempunyai kesiapan yang cukup handal.
4) Tingkat pendidikan dan kebudayaan yang cukup baik.
5) Para pengasuh dan warga kota yang cukup dinamis.

d. DAERAH SLUM, KOTA SATELIT, DAN SUB-URBAN

1) Daerah Slum

Daerah slum, yaitu kelompok-kelompok daerah miskin dikenal dengan istilah


lingkungan miskin dengan ciri-ciri antara lain:

a) Daerah ini merupakan permukiman yang didiami oleh warga kota yang
gagal dalam bidang ekonomi.
b) Daerah ini merupakan daerah dengan lingkungan yang tidak sehat.
c) Daerah ini merupakan daerah yang didiami oleh banyak penganggur.
d) Pendud uk di daerah ini emosinya tidak stabil.
2) Kota Satelit

Kota satelit, yaitu subkoordinasi dari pusat-pusat yang lebih besar, tetapi
memiliki tingkat kebebasan yang tinggi sebagai pusat produksi dan pusat
pekerjaan. Ciri-ciri kota satelit, yaitu berikut ini.

a) Lebih merupakan pusat-pusat kecil di bidang industri sehingga dapat


dikatakan satelit berfungsi sebagai kota produksi.
b) Kota satelit berkecenderungan mempunyai jumlah penduduk yang lebih
besar daripada sub-urban.
c) Kota satelit diperkirakan terbentuk lebih dahulu dari sub- urban.
d) Kota satelit terletak di luar batas-batas pusat daerah urban yang berpenduduk
padat.
e) Daerah sub- urban yang banyak berfungsi sebagai tempat tinggal biasanya
wilayahnya lebih kecil daripada kota satelit.
f) Letak dari sub-urban ini biasanya lebih dekat pada pusat-pusat kota yang
lebih besar.

3) Sub-Urban

Sub-Urban, yaitu kelompok masyarakat yang relatif kecil dan berdiam dekat
kota-kota besar serta masih mempunyai ketergantungan terhadap kota-kota
tersebut.

POLA KERUANGAN DAERAH KOTA MENURUT TEORI KONSENTRASI

Kota yang tumbuh dengan dukungan kegiatan pertambangan diantaranya Pangkal


Pinang dan Timika. Pangkal Pinang adalah daerah pertambangan timah. Timika adalah
daerah pertambangan tembaga.

MASALAH URBANISASI
Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari luar kota/desa ke kota untuk hidup
menetap dan meningkatkan taraf hidupnya.

a. FAKTOR PENYEBAB TERJADINYA URBANISASI


1) Faktor penarik (pull factors).

Adapun yang termasuk faktor penarik antara lain sebagai berikut.


a) Penduduk desa beranggapan bahwa di kota banyak pekerjaan dan mudah
memperoleh penghasilan.
b) Kota merupakan pusat faslitas bidang pendidikan, rekreasi dan kesehatan.
c) Kota merupakan tingkat kebudayaan yang lebih tinggi.
d) Kota merupakan tempat untuk dapat menggantungkan keahlian (skill).
e) Tingkat upah di kota lebih tinggi.

2) Faktor pendorong (push factors)

Yang termasuk faktor pendorong, yaitu sebagai berikut.

a) Proses kemiskinan di desa akibat pembagian tanah warisan yang semakin


menyempit.
b) Lapangan pekerjaan yang hampir tidak ada. Orang desaterkenal ulet, sabar
da suka bekerja keras, tetapi karena jumlah penduduk tinggi sehingga jumlah
lapangan kerja kurang.
c) Upah buruh di desa lebih rendah daripada di kota.
d) Adat istiadat yang ketat bagi yangberpendidikan, menyebabkan
kemajuannya sering terhambat, sehingga mendorong untuk mencari
penghidupan yang lebih baik di kota.
e) Kurangnya fasilitas pendidikan yang tersedia di desa, sehingga penduduk
desa banyak yang pindah ke kota.

b. DAMPAK YANG TIMBUL AKIBAT URBANISASI


1) Dampak positif urbanisasi bagi kota antara lain

a) mudah mencari tenaga kerja,


b) sistem upah menjadi murah,
c) proses pembangunan di kota menjadi lebih cepat,
d) terjadinya perluasan wilayah perkotaan.

2) Dampak negatif urbanisasi bagi kota antara lain

a) timbulnya kepadatan penduduk,


b) timbulnya pengangguran,
c) timbulnya tindakan kriminal,
d) timbulnya masalah kemacetan lalu lintas,
e) timbulnyadaerah kumuh (slum),
f) terjadinya pencemaran.

3) Dampak negatif bagi desa antara lain

a) desa kehilangan tenaga kerja yang potensial,


b) pembangunan desa terhambat,
c) kegiatan ekonomi dikendalikan orang kota.

c. UPAYA MENGATASI URBANISASI

Untuk mengatasi urbanisasi dilakukan hal berikut.


1. Mempelajari, meneliti, dan melaksanakan pengembangan wilayah di berbagai
tempat, terutama di kota-kota besar di Jawa dan Madura.
2. Mengembangkan industri kecil atau industri rumah tangga di wilayah pedesaan
Indonesia.
3. Mengatur arus penduduk dari arah desa ke kota melalui kegiatan administrasi
dan kebijaksanaan lainnya.
4. Melancarkan Kegiatan Keluarga Berencana dengan lebih ketat baik di desa
maupun di kota.
5. Menghidupkan daerah pedesaan dengan bermacam- macam kegiatan
pembangunan yang murah dan memenuhi syarat kesehatan di daerah tepi.
6. Pembangunan perumahan rakyat yang murah dan memenuhi syarat kesehatan,
sehingga terjangkau oleh masyarakat ekonomi le mah.

INTERAKSI KOTA
1. MANFAAT INTERAKSI KOTA

1) Kemajuan bidang perhubungan dan lalu lintas antar kota


2) Daerah yang dekat dengan kota banyak mendapat pengaruh kota sehingga
persentase penduduk yang bertani berkurang dan beralih ke non agraris
3) Daerah yang berbatasan dengan kota banyak dipengaruhi oleh tata kehdupan
(rural urban area).

2. PENGARUH POSITIF INTERAKSI KOTA

Pengaruh positif interaksi kota antara lain:

1) Cakrawala pengetahuan pendudk desa semakin meningkat karena banyak sarana


pendidikan (dasar dan menengah)
2) Banyaknya sekolah dan guru yang tersedia di pedesaan dengan pengetahuan
yang cukup luas mengenai masalah pembangunan, dapat menjadi penggerak
kemajuan warga.
3) Tekonologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan meningkatkan
produksi dan penghasilan penduduk desa.
4) Masuknya para ahli dari berbagai disiplin ilmu pengetahuan, bermanfaat bagi
desa dalam melestarikan lingkungan pedesaan.

3. PENGARUH NEGATIF INTERAKSI KOTA

Pengaruh negatif interaksi kota adalah sebagai berikut :

1) Terbukanya kesempatan kerja dan daya tarik kota telah banyak menyerap
pemuda desa, sehingga mengurangi tenaga kerja potensial di bidang pertanian
2) Perluasan kota dan masuknya orang-orang pedesaan telah merubah tata guna
lahan pedesaan terutama di tepian kota.
3) Penetrasi kebudayaan kota ke desa yang kurang sesuai dengan kebudayaan
ataupun tradisi desa cenderung menggagu tata pergaulan atau seni budaya desa.
4) Problema pangan, pengangguran dan lingkungan.

4. ASPEK INTERAKSI KOTA DI BIDANG EKONOMI, SOSIAL BUDAYA


Aspek Interaksi Kota di Bidang Ekonomi

1) Tenaga kerja
2) Perindustrian
3) Pangan, pakaian dan perumahan
4) Sumber daya alam dan energi

Aspek Interaksi Kota di Bidang Sosial

1) Jumlah penduduk
2) Pertambahan penduduk
3) Persebaran penduduk
4) Kepadatan penduduk
5) Perkembangan koperasi dan organisasi sosial

Aspek Interaksi Kota di Bidang Budaya

1) Peralatan dan perlengkapan hidup


2) Kemasyarakatan
3) Bahasa
4) Kesenian

PUSAT PERTUMBUHAN
1) PENGERTIAN PUSAT PERTUMBUHAN

1) Teori Chistaller (tempat yang sentral)

Teori ini menjelaskan bahwa tempat sentral merupakan suatu titik simpul dari
bentuk hexagonal atau segienam. Bentuk ini sebenarnya merupakan hasil
pengembangan dari bentuk lingkaran yang mengelilingi pusat kota.

Fungsi kota menurut Chirstaller dalam konsep Central - Place Theory adalah
pusat aktivitas untuk melayani berbagai kebutuhan penduduk.

2) Teori Kutub
Teori ini menyatakan bahwa pembangunan dimanapun tidak terjadi secara
serentak melainkan dapat muncul di tempat-tempat tertentu yang dipengaruhi
oleh faktor dominan misalnya letak, iklim, topografi, politik dan sosial ekonomi.
Dari pusat-pusat pertumbuhan itulah akan terjadi proses penyebaran
pembangunan ke wilayah yang lebih luas atau dapat dikatakan bersifat
sentrifugal.

2) KARAKTERISTIK PERTUMBUHAN KOTA

Klasifikasi atas dasar kenampakan fisiknya menurut Houston J.M. didasarkan pada
suatu asumsi bahwa pertumbuhan suatu kota secara kronologis akan tercermin
dalam perkembangan fisiknya. Klasifikasi kota atas dasar karakteristik
pertumbuhan fisiknya sebagai berikut:

1) Stadium pembentukan Inti Kota (Nuclear Phase)


• stadium ini merupakan tahap pembentukan Central Business Distric (CBD).
Pada masa ini baru dirintis pembangunan gedung-gedung utama sebagai
penggerak kegiatan yang ada dan yang baru mulai meningkat.
• Pada saat ini daerah yang mula mula terbentuk banyak ditandai dengan
gedung-gedung yang berumur tua., bentuk klasik serta pengelompokan
fungsi kota yang termasuk penting.
• Pada taraf ini kenampakan kota akan berbentuk bulat karena masih taraf
awal pembentukan kota, amka kenampakan kota yang terbentuk hanya
meliputi daerah yang sempit saja.

2) Stadium formatif (Formative Phase)


• Perkembangan industri dan teknologi mulai meluas termasuk sektor-sektor
lain seperti; transportasi dan komunikasi,pergadangan.
• Makin majunya sektor industri, transportasi dan perdagangan
mengakibatkan makin meluas dan kompleknya keadaan pabrik serta
perumahan masyarakat kota. Biasanya daerah ini terletak disepanjang jalur
transportasi dan komunikasi.

3) Stadium Modern (Modern Phase)


• Kenampakan kota pada saat ini tidak lagi sederhana seperti kenampakan
pada tahap I atau ke-2. Namun jauh lebih kompleks, bahkan mulai timbul
gejala- gejala penggabungan dengan pusat-pusat kegiatan yang lain, baik itu
kota satelit maupun kota-kota lain yang berdekatan.
• Mulai saat ini usaha ident ifikasi kenampakan kotanya mengalami kesulitan
terutama pada penentuan batas-batas fisik terluar dari kota yang
bersangkutan.
• Hal ini disebabkan adanya kenyataan bahwa persebaran sevice
functionsnya telah masuk ke daerah-daerah pedesaan di sekitarnya.
• Kota-kota besar di Indonesia mulai menunjukkan gejala- gejala tersebut. Hal
ini telah disadari oleh ahli-ahli perkotaan sehingga mulai dirumuskan suatu
upaya pengembangan wilayah kota yang meliputi kota-kota kecil
disekitarnya. Seperti Konseo Jabotabek untuk pengembangan wilayah kota
Jakarta-Bogor-Tangerang-bekasi.
3) ELEMEN GEOMETRIK SISTEM KERUANGAN PADA PERTUMBUHAN
KOTA (Menurut Hagett)

1. Pola perpindahan. Perbedaan keruangan dalam beberapa kelompok


masyarakat akan menyebabkan keinginan untuk berinteraksi sehingga
menimbulkan pola perpindahan (pattern of movement). Dalam hal ini terjadi
pola perpindahan barang, penduduk, uang, ide, dan sebagainya antara satu
tempat dengan tempat lain.
2. Karakteristik Perpindahan melalui Kanal atau Network. Pada kond isi tertentu
proses pola perpindahan terlihat tanpa rintangan dan dapat bergerak ke seluruh
arah tanpa melalui jalur tertentu. Tetapi pada umumnya perpindahan melalui
jalur kanal atau koridor. Ini merupakan cerminan sistem transportasi, berakhir
pada lokasi yang unggul sebagai pusat pengorganisasian suatu sistem.
3. Proses Dekomposisi. Pembentukan pusat atau nodes karena timbul adanya
dekomposisi dari pusat wilayah yang disebabkan oleh keunggulan dari
beberapa lokasi pusat yang mempengaruhi perkembangan pusat yang satu
akan unggul dari yang lain.
4. Perjenjangan hirarki pusat-pusat. Perkembangan suatu proses dekomposisi
mengarah pada terbentuknya perjenjangan hirarki pusat-pusat yang merupakan
sistem organisasi dari pusat wilayah.
5. Analisa daerah/ruang. Analisa ruang tempat pembentukan asosiasi keempat
elemen yang ada di permukiman tersebut. Pada area lahan yang disita terdapat
fenomena pusat permukiman dan jaring-jaring jalan yang tersusun dalam
bentuk bermacam- macam tipe penggunaan dengan variasi intensitas.
6. Difusi Keruangan. Perubahan yang terjadi tidak merata, tapi hanya pada lokasi
tertentu. Lokasi disebarkan melalui sepanjang rute kanal melalui pusat tertentu
dan menyebar dengan sistem perjenjangan. Proses ini disebutdifusi