Anda di halaman 1dari 22

Refleksi Kasus

ILMU PENYAKIT MATA


LEUKOMA ADHEREN

Disusun Oleh :
BRA Isabela Ratu Windriya G99141102
Vidi Aditya Pamori Wibowo Putra
G99141103
Risandy Ditia Widhani

G99141104

Amelia Yunita

G99141105

Jeanne Fransisca

G99141106

Pembimbing :
Kurnia Rosyida, dr., Sp.M

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR. MOEWARDI
SURAKARTA
2015

STATUS PENDERITA
I.

IDENTITAS
Nama

: Tn. S

Umur

: 60 tahun

Jenis Kelamin

: laki-laki

Suku

: Jawa

Kewarganegaraan

: Indonesia

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Wiraswasta

Alamat

: Kedenkrajan, Sragen, Jawa Tengah

Tgl pemeriksaan

: 29 Januari 2015

No. RM

: 01-28-84-28

II. ANAMNESIS
A. Keluhan utama

:Mata kanan kabur

B. Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke poli mata RSUD Moewardi dengan keluhan mata


kanan kabur sejak 1 bulan yang lalu.Selain itu, pasien juga mengeluhkan
adanya bercak putih pada matanya. Selain pandangan kabur, pasien juga
merasakan pandangannya silau. Saat ini, pasien menyangkal adanya keluhan

mata berair terus menerus, mata merah, belekan, gatal, pusing, dan cekotcekot.
C. Riwayat Penyakit Dahulu
1.

Riwayat sakit serupa

: disangkal

2.

Riwayat iritasi mata

: pasien pernah merasa kelilipan


3 bulan yang lalu saat
memotong rumput. Saat itu
pasien mengeluhkan matanya
merah, perih, berair, pegel, dan
silau ketika melihat cahaya.
Pasien kemudian berobat ke
dokter di dekat rumah.

3.

Riwayat hipertensi

: disangkal

4.

Riwayat kencing manis

: disangkal

5.

Riwayat alergi obat dan makanan : disangkal

6.

Riwayat trauma mata

: disangkal

7.

Riwayat kacamata

: disangkal

D. Riwayat Penyakit Keluarga

E.

1.

Riwayat sakit serupa

: disangkal

2.

Riwayat hipertensi

: disangkal

3.

Riwayat kencing manis

: disangkal

4.

Riwayat sakit serupa

: disangkal

Kesimpulan Anamnesis

Proses
Lokalisasi
Sebab
Perjalanan
Komplikasi

OD

OS

Perforasi
Kornea
Post trauma kelilipan
Kronis
Kebutaan

III. PEMERIKSAAN FISIK


A. Kesan umum
Keadaan umum baik, compos mentis, gizi kesan cukup
Tekanan darah

: 120/80 mmHg

Nadi

: 84 x/menit

Frekuensi napas

: 20x/menit

Suhu : afebril

B. Pemeriksaan subyektif
OD
A. Visus Sentralis
1. Visus sentralis jauh
a. pinhole
b. koreksi
c. refraksi
2. Visus sentralis dekat
B. Visus Perifer
1. Konfrontasi tes
2. Proyeksi sinar
3. Persepsi warna

OS

2/60
Tidak maju
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

6/20
Tidak maju
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

C. Pemeriksaan Obyektif
1. Sekitar mata
a. tanda radang
b. luka
c. parut
d. kelainan warna
e. kelainan bentuk
2. Supercilia
a. warna
b. tumbuhnya
c. kulit
d. gerakan

OD
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

OS
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Hitam
Normal
Sawo matang
Dalam batas normal

Hitam
Normal
Sawo matang
Dalam batas normal

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

3. Pasangan bola mata dalam orbita

a. heteroforia
b. strabismus
c. pseudostrabismus
d. exophtalmus
e. enophtalmus
4. Ukuran bola mata
a. mikroftalmus
b. makroftalmus

c. ptisis bulbi
d. atrofi bulbi
5. Gerakan bola mata
a. temporal
b. temporal superior
c. temporal inferior
d. nasal
e. nasal superior
f. nasal inferior
6. Kelopak mata
a. pasangannya
1.) edema
2.) hiperemi
3.) blefaroptosis
4.) blefarospasme
b. gerakannya
1.) membuka
2.) menutup
c. rima
1.) lebar
2.) ankiloblefaron
3.) blefarofimosis
d. kulit
1.) tanda radang
2.) warna
3.) epiblepharon
4.) blepharochalasis
e. tepi kelopak mata
1.) enteropion
2.) ekteropion
3.) koloboma
4.) bulu mata
7. sekitar glandula lakrimalis
a. tanda radang
b. benjolan
c. tulang margo tarsalis
8. Sekitar saccus lakrimalis
a. tanda radang
b. benjolan
9. Tekanan intraocular
a. palpasi
b. tonometri schiotz
10. Konjungtiva
a. konjungtiva palpebra superior

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat

Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat
Tidak terhambat

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak tertinggal
Tidak tertinggal

Tidak tertinggal
Tidak tertinggal

10 mm
Tidak ada
Tidak ada

10 mm
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Sawo matang
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Sawo matang
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Dalam batas normal

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Dalam batas normal

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada kelainan

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada kelainan

Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada

Kesan normal
Tidak dilakukan

Kesan normal
Tidak dilakukan

1.) edema
2.) hiperemi
3.) sekret
4.) sikatrik
b. konjungtiva palpebra inferior
1.) edema
2.) hiperemi
3.) sekret
4.) sikatrik
c. konjungtiva fornix
1.) edema
2.) hiperemi
3.) sekret
4.) benjolan
d. konjungtiva bulbi
1.) edema
2.) hiperemis
3.) sekret
4.) injeksi konjungtiva
5.) injeksi siliar
e. caruncula dan plika
semilunaris
1.) edema
2.) hiperemis
3.) sikatrik
11. Sclera
a. warna
b. tanda radang
c. penonjolan
12. Kornea
a. ukuran
b. limbus
c. permukaan
d. sensibilitas
e. keratoskop (placido)
f. fluorecsin tes
g. arcus senilis
13. Kamera okuli anterior
a. kejernihan
b. kedalaman
14. Iris
a. warna
b. bentuk
c. sinekia anterior

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Tidak ada
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak ada
Tidak ada

Putih
Tidak ada
Tidak ada

12 mm
keruh
Infiltrat putih (+)
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Tidak ada

12 mm
jernih
Rata, mengkilap
Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Belum dilakukan
Tidak ada

Jernih
Dalam

Jernih
Dalam

Cokelat
Tampak lempengan
Ada

Cokelat
Tampak lempengan
Tidak ada

d. sinekia posterior
15. Pupil
a. ukuran
b. bentuk
c. letak
d. reaksi cahaya langsung
e. tepi pupil
16. Lensa
a. ada/tidak
b. kejernihan
c. letak
e. shadow test
17. Corpus vitreum
a. Kejernihan
b. Reflek fundus

Tidak tampak

Tidak ada

Sulit dievaluasi
Sulit dievaluasi
Sentral
Positif
Sulit dievaluasi

3 mm
Bulat
Sentral
Positif
Tidak ada kelainan

Ada
Agak keruh
Sentral
Negatif

Ada
Jernih
Sentral
Negatif

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan

IV. KESIMPULAN PEMERIKSAAN


A.

Visus sentralis
jauh
B.
Visus perifer
Konfrontasi tes
Proyeksi sinar
Persepsi warna
C.
Sekitar mata
D.
Supercilium
E.
Pasangan bola
mata dalam orbita
F.
Ukuran bola mata
G.
Gerakan bola
mata
H.
Kelopak mata
I.
Sekitar saccus
lakrimalis
J.
Sekitar glandula
lakrimalis
K.
Tekanan
intarokular
L.
Konjungtiva
palpebra
M.
Konjungtiva bulbi
N.
Konjungtiva
fornix

OD
2/60

OS
6/20

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Tidak dilakukan
Tidak dilakukan
Dalam batas normal
Dalam batas normal
Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Dalam batas normal

Dalam batas normal

Kesan normal dengan palpasi Kesan normal dengan palpasi


Dalam batas normal

Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

O.
P.

Sklera
Kornea

Q.

Camera okuli
anterior
R.
Iris
S.
Pupil
T.

Lensa

U.

Corpus vitreum

Dalam batas normal


Limbus keruh (+), terdapat
infiltrat putih (+)
Kesan normal

Dalam batas normal


Dalam batas normal

Sinekia anterior (+)


Sulit dievaluasi
Agak keruh, shadow test (-)

Bulat, warna coklat


Diameter 3 mm, bulat,
sentral
Jernih, shadow test (-)

Tidak dilakukan

Tidak dilakukan

Kesan normal

V. DIAGNOSIS BANDING

OD Leukoma Adheren
OD Makula kornea
OD Nebula kornea

VI. DIAGNOSIS
OD Leukoma Adheren
VII. TERAPI
Non medikamentosa
Edukasi untuk pasien memakai kaca mata saat berpergian.
Hindari mengucek mata
Cuci tangan sebelum dan sesudah kontak dengan area disekitar mata
Medikamentosa
Cendo LFX 0,6 ml ED

3 dd gtt 1 OD

Glaucon

2x250 mg

VIII. PLAN
Fluoresence test
Uji fistel
IX. PROGNOSIS
1. Ad vitam
2. Ad fungsionam
3. Ad sanam
4. Ad kosmetikum

OD
Bonam
Dubia ad malam
Bonam
Dubia ad malam

OS
Bonam
Bonam
Bonam
Bonam

TINJAUAN PUSTAKA
A. ANATOMI KORNEA
Kornea (Latin, cornum = seperti tanduk) membentuk bagian anterior
bola mata merupakan jaringan transparan dan avaskular, mempunyai peranan
dalam refraksi cahaya. Indeks refraksi korna adalah 1,377 dan kekuatan
refraksi sebesar 43 Dioptri, merupakan 70% dari kekuatan refraksi mata.
Permukaan anterior kornea berbentuk agak elips dengan diameter
horizontal rata-rata 11,5-11,7 mm dan 10,5 - 10,6 mm pada diameter vertikal
sedangkan permukaan posterior berbentuk sirkuler dengan diameter 11,7 mm.
Pada orang dewasa ketebalan kornea bervariasi dengan rata-rata 0,65 1 mm
di bagian perifer dan 0,55 mm di bagian tengah. Hal ini disebabkan adanya
perbedaan kurvatur antara permukaan anterior dan posterior kornea. Radius
kurvatur anterior kornea kira-kira 7,8 mm sedangkan radius kurvatur
permukaan posterior rata-rata 6,5 6,8 mm. Kornea menjadi lebih datar pada
bagian perifer, namun pendataran tersebut tidak simetris. Bagian nasal dan
superior lebih datar dibanding bagian temporal dan inferior. Luas permukaan

luar kornea kira-kira 1,3 cm 2 atau 1/14 dari total area bola mata (Wong &
Tien Yin, 2001; Karesh J. W., 2003).

B. HISTOLOGI KORNEA
Secara histologis kornea terdiri atas 5 lapisan, yaitu:
1. Epitel
2. Membran Bowman
3. Stroma
4. Membran Descemet
5. Endotelium

1. Epitel
Tebalnya 50 m , terdiri atas 5 lapis sel epitel tidak bertanduk yang
saling tumpang tindih; satu lapis sel basal, sel polygonal dan sel gepeng.
Pada sel basal sering terlihat mitosis sel dan sel muda ini terdorong kedepan
menjadi lapis sel sayap dan semakin maju kedepan menjadi sel gepeng, sel
basal berikatan erat dengan sel basal disampingnya dan sel polygonal
didepannya melalui desmosom dan macula okluden; ikatan ini menghambat
pengaliran air, elektrolit dan glukosa yang merupakan barrier.

Terdapat dua fungsi utama epitel: (1) membentuk barier antara


dunia luar dengan stroma kornea dan (2) membentuk permukaan refraksi
yang mulus pada kornea dalam interaksinya dengan tear film. Barier
dibentuk ketika sel-sel epitel bergerak dari lapisan basal ke permukaan
kornea, secara progresif berdiferensiasi hingga sel-sel superfisial
membentuk dua lapisan sel tipis yang melingkar yang dihubungkan oleh
tight junction (zonula okluden), merupakan membran yang bersifat
semipermiabel dan resistensi tinggi. Barier ini mencegah masuknya cairan
dari tear film ke stroma dan juga melindungi struktur kornea dan
intraokuler dari infeksi oleh patogen. Mikrovili pada hampir seluruh
permukaan superfisial sel-sel epitel dilindungi oleh glikokaliks sehingga
dapat berinteraksi dengan lapisan musin tear film agar permukaan kornea
tetap licin. Berbagai proses metabolik, biokemikal dan fisikal tampaknya
mempunyai tujuan primer mempertahankan keadaan lapisan sel epitel
yang berfungsi sebagai barier dan agar permukaan kornea tetap licin.
Permukaan kornea yang licin berperan penting dalam terbentuknya
penglihatan yang jelas (Watsky M. A. & Olsen T. W., 2003).

2. Membrana Bowman
Membrana Bowman merupakan lapisan superfisial pada stroma,
yang berfungsi sebagai barier terhadap stroma. Kepadatan lapisan
Bowman menghalangi penyebaran infeksi ke dalam stroma yang lebih
dalam. Lapisan ini tidak dapat beregenerasi sehingga bila terjadi trauma
akan diganti dengan jaringan parut (Edelhauser H. F, 2005; Oyster, Clyde
W., 1999).
3. Stroma
Stroma tersusun atas matriks ekstraselular seperti kolagen dan
proteoglikan. Matriks ekstraselular ini memegang peranan penting dalam
struktur dan fungsi kornea. Stroma terdiri atas kolagen yang diproduksi
oleh keratosit dan lamella kolagen. Karena ukuran dan bentuknya
seragam menghasilkan keteraturan yang membuat kornea menjadi
transparan. Serat-serat kolagen tersusun seperti lattice (kisi-kisi), pola
ini berfungsi untuk mengurangi hamburan cahaya (Edelhauser H. F, 2005;
Liesegang T. J., 2008-2009).
Transparansi juga tergantung kandungan air pada stroma yaitu
70%. Proteoglikan yang merupakan substansi dasar stroma, memberi sifat
hidrofilik pada stroma. Hidrasi sangat dikontrol oleh barier epitel dan
endotel serta pompa endotel (Watsky M. A. & Olsen T. W., 2003;
Liesegang T. J., 2008-2009).
4. Membrana Descemet
Merupakan membrana aselular dan merupakan batas belakang stroma
kornea dihasilkan sel endotel dan merupakan membrane basalnya.

Membrana Descemet bersifat elastis dan berkembang terus seumur hidup,


mempunyai tebal 40 m. Membran ini lebih resisten terhadap trauma dan

penyakit, dari pada bagian lain dari kornea (Edelhauser H. F, 2005;


Oyster, Clyde W., 1999).

5. Endotel
Lapisa in merupakan lapisan kornea yang paling dalam, tersusun dari
epitel selapis gepeng atau kuboid rendah. Berasal dari mesotelium, bentuk
heksagonal, besar 20-40 m. Endotel melekat pada membran descement
melalui hemidosom dan zonula okluden. Sel-sel ini mensintesa protein yang
mungkin diperlukan untuk memelihara membran Descement. Sel-sel ini
mempunyai banyak vesikel dan dinding selnya mempunyai pompa Natrium
yang akan mengeluarkan kelebihan ion-ion natrium ke dalam kamera okuli
anterior. Ion0ion klorida dan air akan mengikuti secara pasif. Kelebihan
cairan di stroma akan diserap oleh endotel sehingga stroma dipertahankan
dalam keadaan sedikit dehidrasi, suatu faktor yang diperlukan untuk
mempertahankan kualitas refraksi kornea.

Dua faktor yang berkontribusi dalam mencegah edema stroma dan


mempertahankan kandungan air tetap pada 70% adalah fungsi barier dan
pompa endotel. Fungsi barier endotel diperankan oleh adanya tight
junction diantara sel-sel endotel (Edelhauser H. F, 2005).
Pompa endotel
Stroma kornea memiliki konsentrasi Na+ 134 mEq/L sedangkan
humor aquous 143 mEq/L. Perbedaan osmolaritas tersebut menyebabkan
air berpindah dari stroma ke humor aquous melalui osmosis. Mekanisme
ini diatur oleh pompa metabolik aktif sel-sel endotel. Pompa metabolik ini
dikontrol oleh Na+ / K+ ATPase yang terletak di lateral membrane. Dalam
menjalankan fungsinya pompa endotel tergantung pada oksigen, glukosa,
metabolisme karbohidrat dan adenosine triphosphatase. Keseimbangan
antara fungsi barier dan pompa endotel akan mempertahankan keadaan
deturgesensi kornea (Edelhauser H. F, 2005).

Kornea dipersarafi oleh banyak saraf sensorik terutama berasal dari


saraf siliar longus, saraf nasosiliar, saraf ke V, saraf siliar longus berjalan
supra koroid, masuk ke dalam stroma kornea, menembus membran Bowman
melepaskan selubung Schwannya. Bulbus Krause untuk sensasi dingin
ditemukan diantara. Daya regenerasi saraf sesudah dipotong di daerah limbus
terjadi dalam waktu 3 bulan (Perhimpunan Dokter Spesislis Mata Indonesia,
2002).
Sumber nutrisi kornea adalah pembuluh-pembuluh darah limbus,
humour aquous, dan air mata. Kornea superfisial juga mendapat oksigen
sebagian besar dari atmosfir. Transparansi kornea dipertahankan oleh
strukturnya seragam, avaskularitasnya dan deturgensinya (Eva, P.R. &

Whitcher J.P, 2008).


C. FISIOLOGI KORNEA
Kornea berfungsi sebagai membran pelindung dan jendela yang
dilalui berkas cahaya menuju retina. Sifat tembus cahayanya disebabkan
strukturnya yang uniform, avaskuler dan deturgenes. Deturgenes, atau
keadaan dehidrasi relative jaringan kornea dipertahankan oleh pompa
bikarbonat aktif pada endotel dan oleh fungsi sawar epitel dan endotel.
Endotel lebih penting daripada epitel dalam mekanisme dehidrasi dan cidera
kimiawi atau fisik pada endotel jauh lebih berat daripada cedera pada epitel.
Kerusakan sel-sel endotel menyebabkan edema kornea dan hilangnya sifat

transparan. Sebaliknya cedera pada epitel hanya menyebabkan edema lokal


stroma kornea sesaat yang akan menghilang bila sel-sel epitel itu telah
beregenerasi. Penguapan air dari film air mata prakornea akan mengkibatkan
film air mata akan menjadi hipertonik; proses itu dan penguapan langsung
adalah faktor-faktor yang menarik air dari stroma kornea superfisialis untuk
mempertahankan keadaan dehidrasi.
D. ULKUS KORNEA
1. Definisi
Hilangnya sebagian permukaan kornea akibat kematian jaringan
kornea.Terbentuknya ulkus pada kornea mungkin banyak ditentukan oleh adanya
kolagenase yang dibentuk oleh sel epitel baru dan sel radang. Ulkus kornea
dibedakan dalam bentuk:
a. Ulkus kornea sentral
b. Ulkus kornea perifer
2. Etiologi
Faktor-faktor pencetus terjadinya ulkus kornea:
a. Adanya kelainan pada bulu mata (trikiasis) dan adanya insufisiensi
sistem lakrimal, sumbatan saluran lakrimal.
b. Faktor eksternal; luka pada kornea (erosio kornea) karena trauma,
penggunaan lensa kontak, luka bakar pada daerah muka.
c. Kelainan-kelainan kornea yang di sebabkan oleh: edema kornea
kronik, exposure keratitis (lagoftalmus, anastesi umum, koma, dan
kelainan palpebra seperti koloboma).
d. Kelainan-kelainan sistemik: malnutrisi, alkoholisme, sindroma Steven
Johnson, sindroma defisiensi imun.
e. Obat-obatan yang menurunkan

mekanisme

imun

misalnya

kortikosteroid IDU (Idoryuridine), anastetik lokal dan golongan


imunosupresif lainnya.
Etiologi atau penyebab ulkus kornea adalah:
a. Bakteri. Bakteri yang sering mengakibatkan ulkus kornea adalah
streptokokkus

-hemolitik,

stafilokokkus

aureus,

moraxella

likuefasiens, pseudomonas aeruginosa, nocardia asteroids, alcaligenes

sp., streptokokkus anaerobic, streptokokkus -hemolitik, enterobakter


hafnia, proteus sp., stafilokokkus epidermidis, dan moraxella sp.
b. Virus
c. Jamur
d. Reaksi hipersensitivitas.
3. Gejala Klinis
Gejala subjektif, yaitu:
a. Rasa sakit pada mata
b. Mata merah
c. Sensasi benda asing
d. Silau
e. Air mata banyak keluar
f. Penglihatan menurun
Gejala objektif, yaitu:
a. Opasitas kornea berwarna putih
b. Hipopion bisa ada atau tidak
c. Konjunctiva merah
4. Perjalanan Penyakit
Ulkus kornea dapat meluas ke dua arah, yaitu melebar dan mendalam.
Ulkus kecil dan superfisial lebih cepat sembuh dan konea dapat menjadi jernih
kembali.Tetapi bila ulkus turut menghancurkan membran yang baru sehingga
menimbulkan sikatrik. Pada kasus yang berat dapat menimbulkan hipopion.
Hipopion adalah pus yang terkumpul dalam kamera okuli anterior. Hipopion
dapat terjadi pada ulkus yang mengalami perforasi maupun yang tidak
mengalami perforasi.
Sikartik yang terjadi setelah ulkus kornea sembuh dapat tipis atau tebal.
Sikatrik yang tipis sekali yang hanya dapat dilihat dengan slit lamp disebut
nebula. Sedangkan sikatrik yang agak tebal dan dapat kita lihat menggunakan
senter disebut makula. Sikatrik yang tebal sekali disebut leukoma. Nebula yang
difuse, yang terdapat pada daerah pupil lebih mengganggu daripada leukoma
yang kecil yang tidak menutupi daerah pupil. Hal ini disebabkan karena leukoma
menghambat semua cahaya yang masuk, sedangkan nebula membias secara
ireguler, sehingga cahaya yang jatuh di retina juga terpencar dan gambaran akan
menjadi kabur sekali.

5. Komplikasi
Komplikasi yang paling sering timbul, yaitu berupa:
a. Kebutaan parsial atau komplit dalam waktu sangat singkat
b. Kornea perforasi dapat berlanjut menjadi endoptalmitis

dan

panopthalmitis
c. Prolaps iris
d. Sikatrik kornea
e. Katarak
f. Glaukoma sekunder
E. SIKATRIK KORNEA
Sikatriks adalah jaringan parut pada kornea yang mengakibatkan
permukaan kornea irreguler sehingga memberikan uji plasido positif, dan
mungkin terdapat dalam beberapa bentuk, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Nebula, kabut halus pada kornea yang sukar terlihat


Makula, kekeruhan kornea yang berbatas tegas
Leukoma, kekeruhan berwarna putih padat
Leukoma adherens, kekeruhan atau sikatriks kornea dengan menempelnya

iris di dataran belakang


5. Keratik presipitat, endapan sel radang didataran belakang atau endotel
kornea
Sikatrik kornea dapat menimbulkan gangguan penglihatan mulai dari
kabur sampai dengan kebutaan. Sikatrik kornea dapat bentuk ringan (nebula),
sedang (makula) dan berat (leukoma). Gangguan kornea merupakan penyebab
kebutaan kedua didunia setelah katarak. Sikatrik kornea lebih sering
disebabkan oleh komplikasi dari infeksi seperti keratitis ataupun ulkus kornea
yang tidak tertangani dengan baik. Belum ada data yang akurat mengenai
prevalensi sikatrik kornea di Indonesia
F. JENIS-JENIS SIKATRIK KORNEA
1. Nebula
a. Penyembuhan akibat keratitis superfisialis

b. Kerusakan kornea pada m.Bowman sampai 1/3 stroma


c. Pada pemeriksaan, terlihat kabut di
kornea, hanya dapat dilihat di kamar
gelap dengan Slit-lamp dan bantuan
kaca pembesar
2.

Makula
a. Penyembuhan akibat ulkus kornea
b. Kerusakan kornea pada 1/3 stroma
sampai 2/3 ketebalan stroma
c. Pada pemeriksaan, putih di kornea,
dapat dilihat di kamar gelap dengan
slit-lamp tanpa bantuan kaca pembesar

3.

Leukoma
a.Penyembuhan akibat ulkus kornea
b.

Kerusakan kornea lebih dari 2/3


ketebalan stroma

c.Kornea tampak putih, dari jauh sudah


kelihatan
d.

Apabila ulkus kornea sampai ke endotel akan mengakibatkan


perforasi, dengan tanda:
1) Iris prolaps
2) COA dangkal
3) TIO menurun

kemudian sembuh menjadi leukoma adheren (leukoma disertai sinekia


anterior).
G. PATOGENESIS LEUKOMA
Selama stadium awal, epitel dan stroma di area yang terinfeksi atau
terkena trauma akan membengkak dan nekrosis. Sel inflamasi akut (terutama

neutrofil) akan mengelilingi ulkus awal ini dan menyebabkan nekrosis


lamella stroma. Pada beberapa inflamasi yang lebih berat, ulkus yang dalam
dan abses stroma yang lebih dalam dapat bergabung sehingga menyebabkan
kornea menipis dan mengelupaskan stroma yang terinfeksi.
Sejalan dengan mekanisme pertahanan tubuh terhadap infeksi, respon
imun seluler dan humoral digabung dengan terapi antibacterial maka akan
terjadi hambatan replikasi bakteri. Mengikuti proses ini akan terjadi
fagositosis organism dan penyerapan debris tanpa destruksi selanjutnya dari
kolagen stroma. Selama stase ini, garis batas terlihat pada epitel ulkus dan
infiltrate stroma berkonsolidasi dan tepinya tumpul. Vaskularisasi kornea bisa
terjadi jika keratitis menjadi kronis. Pada stase penyembuhan, epithelium
berganti mulai dari area tengah ulserasi dan stroma yang nekrosis diganti
dengan jaringan parut yang diproduksi fibroblast. Fibroblast adalah bentuk
lain dari histiosit dan keratosit. Daerah kornea yang menipis diganti dengan
jaringan fibrous. Pertumbuhan pembuluh darah baru langsung di area ulserasi
akan mendistribusikan komponen imun seluler dan humoral untuk
penyembuhan lebih lanjut. Lapisan Bowman tidak beregenerasi tetapi diganti
dengan jaringan fibrous. Epitel baru akan mengganti dasar yang ireguler dan
vaskularisasi sedikit demi sedikit menghilang.
Pada beberapa ulkus yang berat, keratolisis stroma dapat berkembang
menjadi perforasi kornea. Pembuluh darah uvea dapat berperan pada perforasi
yang nantinya akan menyebabkan sikatrik kornea. Sikatrik yang terjadi
setelah keratitis sembuh dapat tipis atau tebal. Sikatrik yang tipis sekali yang
hanya dapat dilihat dengan slit lamp disebut nebula. Sedangkan sikatrik yang
agak tebal dan dapat kita lihat menggunakan senter disebut makula. Sikatrik
yang tebal sekali disebut leukoma. Nebula yang difuse, yang terdapat pada
daerah pupil lebih mengganggu daripada leukoma yang kecil yang tidak
menutupi daerah pupil. Hal ini disebabkan karena leukoma menghambat
semua cahaya yang masuk, sedangkan nebula membias secara ireguler,
sehingga cahaya yang jatuh di retina juga terpencar dan gambaran akan
menjadi kabur sekali.

Agen
penyebab

Cedera
kornea

Mulai dari
epitel

Sampai ke
lapisan
endotel

Inflamasi

Nyeri

Kerusakan
kornea
(ulserasi)

Sikatrik
kornea

Diagram Patogenesis Leukoma


H. LEUKOMA ADHERENS
Leukoma adalah jaringan parut dengan munculnya vaskularisasi
kornea, timbul sebagai akhir dari keratitis dan ulkus kornea. Tergantung dari
lokasi dan dalamnya perkembangan stroma, menyebabkan timbulnya
leukoma kornea yang secara jelas terlihat signifikan memerlukan bedah
kornea untuk rehabilitasi visual.
Pada kasus perforasi kornea dengan prolaps iris bisa terjadi koplikasi
berupa sinekia anterior jika tidak segera mendapatkan tindakan, yang lama
kelamaan jaringan yang mengalami perforasi akan menjadi sikatriks biasa
disebut leukoma adherens dan jika penempelan iris ke kornea tidak merata
maka akan terjadi kelainan bentuk pupil.
Pemeriksaan yang dilakukan pada kornea, yaitu:
1.
2.
3.
4.

Uji flouresin
Uji fistel
Uji sensibilitas kornea (untuk fungsi trigeminus kornea)
Papan plasido (untuk melihat kelengkungan kornea)
Leukoma adheren adalah kekeruhan sikatriks kornea dengan

menempelnya iris di dataran belakang. Leukoma adheren merupakan kondisi


dimana iris menempel ke kornea yang biasanya terjadi pada ulkus kornea
(bisa disebabkan oleh infeksi, autoimun atau penanganan yang buruk
terhadap kasus yang ringan) dan luka kornea. Keluhan pasien umumnya
adalah penurunan penglihatan, kekeruhan pada mata atau beberapa

komplikasi yang menyertai yaitu astigmatisma, ectasia, glaucoma. Leukoma


adheren yang tidak diterapi dengan baik dapat menyebabkan kebutaan total.
1. Pentalaksanaan
Indikasi keratoplasti, yaitu terjadi jaringan parut yang mengganggu
penglihatan, kekeruhan kornea yang menyebabkan kemunduran tajam
penglihatan, serta memenuhi beberapa kriteria yaitu :
a. Kemunduran visus yang cukup menggangu aktivitas penderita
b. Kelainan kornea yang mengganggu mental penderita
c. Kelainan kornea yang tidak disertai ambliopia
2. Pencegahan
Pencegahan terhadap ulkus dapat dilakukan dengan segera berkonsultasi
kepada ahli mata setiap ada keluhan pada mata. Sering kali luka yang
tampak kecil pada kornea dapat mengawali timbulnya ulkus dan
mempunyai efek yang sangat buruk bagi mata.
a. Lindungi mata dari segala benda yang mungkin bisa masuk kedalam
mata
b. Jika mata sering kering, atau pada keadaan kelopak mata tidak bisa
menutup sempurna, gunakan tetes mata agar mata selalu dalam
keadaan basah
c. Jika memakai lensa kontak harus sangat diperhatikan cara memakai
dan merawat lensa tersebut

DAFTAR PUSTAKA

Basic and Clinical Science Course. External Disease and Cornea, part 1, Section
8, American Academy of Ophthalmology, USA 2008-2009 P.179-92
Boles, SF, MD. Lens Complication & Management QEI Winter 2009 Newsletter.
Citied on August 9 th, 2011
Edelhauser HF. The cornea and the sclera, chapter 4 in Adlers Physiology of The
eye Clinical'Aplication. 10 th ed. St.louis, Missouri, Mosby, 2005 : 47103
Eva PR, Biswell R. Cornea In Vaughn D, Asbury T, eds. General Ophtalmology
17th ed. USA Appleton Lange; 2008. p. 126-49
Ilyas S. Mata Merah dengan penglihatan Turun Mendadak. In: Ilyas S. Ilmu
Penyakit Mata. 3rd ed. Jakarta: Balai Penerbit FKUI. 2004. P.147-67
Karesh, JW. Topografic anatomy of the eye, In: Duane's Clinical
Ophthalmology. (CD-ROOM). Lippincott Williams & Wilkins. USA :
2003
Lange Gerhard K.Ophtalmology. 2000. New York: Thieme. P. 117-44
Liesegang TJ,Deutsch TA. External Disease and Cornea. Section 8, AAO, San
Fransisco, 2008-2009: 181 9
Mills TJ, Corneal Ulceration and Ulcerative Keratitis in Emergency Medicine.
Citied

on

August

9,

2011.

Avaible

from:

http://www.emedicine.com/emerg/topic 115.htm
Oyster, Clyde W. The Human Eye, Structure and Function.

Sunderland,

Massachussetts, 1999 : 325-350


Watsky MA, Olsen TW., Cornea and Sclera, In: Duanes Clinical Ophthalmology,
(two volume, chapter four), (CD-ROOM). Lippincott Williams &
Wilkins. USA : 2003
Wong, Tien Yin, The Cornea in The Ophthalmology Examination Review.
Singapore, World Scientific 2001 : 89 90