Anda di halaman 1dari 34

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Usahatani merupakan ilmu yang mempelajari bagaimana seorang
petani mengalokasikan sumber daya yang secara efektif dan efisien untuk
memperoleh keuntungan yang tinggi pada waktu tertentu. Usahatani
dilakukan oleh petani guna untuk melanjutkan kelangsungan hidupnya
seperti memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dalam usahatani, terdapat
perhitungan untuk memperoleh suatu keuntungan yang akan diterima.
Perhitungan tersebut seperti analisis biaya, pendapatan, BEP (Break Event
Point) atau R/C ratio, dimana perhitungan-perhitungan itu digunakan agar
orang yang melkukan usahatani mengetahui biaya-biaya apa saja yang
dikeluarkan untuk usahatani, apakah biaya-biaya tersebut melebihi atau
memenuhi target keuntungan yang diinginkan.
Adapula pengorganisir dalam usahatani yaitu petani sendiri yang
kemudian dibantu oleh keluarganya dan tenaga luar. Penggunaan tenaga
luar dikhususkan pada kegiatan atau pekerjaan yang membutuhkan tenaga
yang lebih dari potensi tenaga kerja yang dimiliki petani sedangkan yang
diorganisir sendiri adalah faktor-faktor produksi yang dikuasai atau yang
dapat dikuasai. Kemudian, usahatani ini hanya dilaksanakan pada areal
sempit atau tidak begitu luas, hal ini dikarenakan terbatasnya faktor modal
dan kebanyakan petani sudah merasa puas apabila hasilnya sudah dapat
memenuhi kebutuhan keluarga sehingga didalam Ilmu Usahatani ini
analisis biaya dirasa cukup penting, karena setiap petani dapat menguasai
pengaturan biaya produksi dalam usahataninya tetapi tidak mampu
mengatur harga komoditi yang dijualnya atau memberi nilai kepada
komoditi tersebut.
Dalam praktikum ini, obyek praktikum kelompok kami adalah
usahatani cabai sehingga kami mengamati secara langsung kondisi
usahatani petani cabai di lapangan dengan melakukan interview dan akan
membahas data-data yang kami dapat pada bab pembahasan selanjutnya.

Sekedar pengenalan, bahwa cabai merupakan komoditi yang dapat


diperhitungkan oleh para petani. Usahatani cabai berperan dalam
pembangunan nasional Indonesia, walaupun dalam skala usaha rumah
tangga persatuan luas lahan yang kecil. Dalam kenyataannya di pasar,
petani

hanya

diposisikan

sebagai

price

taker yang

tidak

dapat

mengendalikan harga di pasar. Oleh1 karena itu yang dapat dilakukan oleh
petani cabai adalah bagaimana mengefisienkan usahataninya semaksimal
mungkin.
1.2

Maksud dan Tujuan


1.2.1

Maksud
Praktikum ilmu usahatani ini memiliki maksud untuk melatih
mahasiswa praktikum untuk dapat memperhitungkan besarnya

1.2.2

biaya dan keuntungan dari suatu usahatani.


Tujuan
Tujuan dari praktikum usahatani ini adalah :
1.2.2.1 Mengetahui besarnya biaya dan pendapatan dari usahatani
cabai besar di Kecamatan Ngargoyoso.
1.2.2.2 Menganalisis efesiensi dan kemanfaatan dari usahatani
cabai besar dengan analisis R/C ratio dan B/C ratio.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Budidaya Tanaman
Tanaman cabai merah (Capsicum annuum L.) merupakan salah satu
komoditas penting yang dikenal sebagai penyedap dan pelengkap menu
masakan khas Indonesia. Kebutuhan akan cabai merah semakin meningkat
sejalan dengan semakin beragamnya jenis dan menu masakan yang
menggunakan cabai merah serta juga karena semakin tingginya ekspor
komoditas non-migas. Cabai merah pada dasawarsa terakhir ini merupakan
komoditas unggulan di antara 18 jenis sayuran komersial yang
dibudidayakan di Indonesia walaupun harga cabai merah tersebut selalu
mengalami fluktuasi harga yang tajam, namun minat petani untuk
membudidayakan tetap tinggi (Barus, 2006).
Kendala yang sering dihadapi dalam peningkatan produksi tanaman
cabai ialah gangguan hama dan penyakit. Salah satu kelompok serangga
yang merupakan hama penting bagi tanaman cabai adalah lalat buah.
Serangan hama ini menyebabkan kerugian yang cukup besar, baik secara
kuantitas maupun kualitas. Luas serangan lalat buah di Indonesia mencapai
4.790 ha dengan kerugian mencapai 21,99 miliar rupiah (Patty, 2012).
Budi daya cabai merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan
agribisnis cabai.

Dengan budi daya yang tepat, diharapkan hasil yang

dicapai akan maksimal. Komoditas cabai yang memiliki keunggulan dan


keistimewaan secara genetik dan ketahanan terhadap perubahan lingkungan
perlu didukung oleh teknik budidaya yang baik untuk mencapai hasil yang
maksimal (Harpenas dan Dermawan, 2010).
Bibit cabai dipersemaian yang telah berumur 15-17 hari atau telah
memiliki 3 atau 4 daun, siap dipindah ditanam di lahan. Semprot bibit
dengan fungisida atau insektisida selama 1 sampai 3 hari sebelum dipindah
tanamkan untuk mencegah serangan jamur dan hama sesaat setelah dipindah
tanam. Penanaman sebaiknya dilakukan di sore hari atau pada saat cuaca
tidak terlalu panas, dengan cara merobek kantong semai dan diusahakan
media tidak pecah dan langsung dimasukkan pada lubang tanam
3
(Devy, 2010).

Keberadaan organisme pengganggu tanaman dapat menyebabkan


penurunan mutu dan jumlah buah,

selanjutnya dapat pula menurunkan

pendapatan akibat kalah kompetisi harga. Hal ini, dapat diatasi dengan
pengendalian OPT baik secara mekanis, fisis, kimiawi,
menggunakan tanaman antagonis. Tanaman kenikir,

maupun

tembakau, dan

sebagainya diyakini dapat menghalau jenis hama baik ulat maupun serangga
(STTP, 2010).
2.2

Landasan Teori
2.2.1
Ilmu Usahatani
Usahatani adalah suatu kegiatan mengusahakan dan
mengkoordinir faktor-faktor produksi berupa lahan, tenaga kerja,
dan

modal

Usahatani

sehingga
merupakan

memberikan
cara-cara

manfaat
petani

sebaik-baiknya.
menentukan,

mengorganisasikan, dan mengkoordinasikan, penggunaan faktorfaktor produksi seefektif dan seefisien mungkin sehingga usaha
tersebut memberikan pendapatan semaksimal mungkin. Usahatani
adalah pengetahuan terapan tentang cara-cara petani atau peternak
dalam menentukan, mengorganisasikan serta mengkoordinasikan
penggunaan faktor-faktor produksi secara efektif dan efisien
sehingga memberikan pendapatan maksimal (Suratiyah, 2006).
Usahatani adalah ilmu yang mempelajari tentang cara
petani mengelola input atau faktor-faktor produksi (tanah, tenaga
kerja, modal, teknologi, pupuk, benih, dan pestisida) dengan
efektif, efisien, dan kontinyu untuk menghasilkan produksi yang
tinggi sehingga pendapatan usahataninya meningkat. Kenyataan di
lapang

menunjukkan,

umumnya

petani

menanam

dan

mengusahakan berbagai jenis tanaman, ternak, dan usaha lainnya


dalam suatu kesatuan usaha rumah tangga untuk mengurangi risiko
serangan penyakit serta kegagalan panen. Sebagian besar lahan
yang dikuasai dimanfaatkan untuk tanaman pangan dalam upaya
memenuhi kebutuhan keluarga. Tipe usahatani atau usaha pertanian

merupakan

pengelompokkan

usahatani

berdasarkan

jenis

komoditas pertanian yang diusahakan, misalnya usahatani tanaman


pangan, perkebunan, hortikultura, perikanan, peternakan, dan
kehutanan (Suratiyah, 2008).
Jenis usaha yang terpenting atau utama dan bernilai tinggi
biasanya diusahakan atau ditanam di dekat tempat tinggal,
sedangkan yang kurang penting atau nilainya rendah diusahakan
pada lahan yang jauh dari rumah. Dengan demikian, karakteristik
yang umum dijumpai adalah setiap petani selalu melakukan usaha
tani campuran, terlepas dari luas pemilikan lahan, lokasi, atau
kepadatan penduduk. Hal ini menunjukkan konsistensi dari kedua
tujuan berusaha tani, yaitu memaksimalkan keuntungan atau
meminimalkan risiko (Soedjana, 2007).
Ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang membahas atau
mempelajari bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien
dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil
maksimal. Dikatakan efektif bila petani dapat mengalokasikan
sumber daya yang mereka miliki sebaik-baiknya, dan dapat
dikatakan

efisien

bila

pemanfaatan

sumberdaya

tersebut

mengeluarkan output yang melebihi input. Sumber daya itu adalah


lahan, tenaga kerja, modal dan manajemen (Shinta, 2012).
Ilmu usahatani diartikan sebagai ilmu yang mempelajari
bagaimana seseorang mengalokasikan sumberdaya yang ada secara
efektif dan efisien untuk tujuan memperoleh keuntungan yang
tinggi pada waktu tertentu. Sehingga dapat disimpulkan bahwa
Ilmu usahatani adalah ilmu terapan yang membahas atau
mempelajari bagaimana menggunakan sumberdaya secara efisien
dan efektif pada suatu usaha pertanian agar diperoleh hasil
maksimal. Sumber daya itu adalah lahan, tenaga kerja, modal dan
manajemen. Di Indonesia, usahatani dikategorikan sebagai
usahatani kecil karena mempunyai ciri-ciri sebagai berikut :

1. Berusahatani dalam lingkungan tekanan penduduk lokal yang


meningkat.
2. Mempunyai sumberdaya terbatas sehingga menciptakan tingkat
hidup yang rendah.
3. Bergantung seluruhnya atau sebagian kepada produksi yang
subsisten.
4. Kurang memperoleh pelayanan kesehatan, pendidikan dan
pelayanan lainnya.
(Soekartawi, 2006).
2.2.2

Peneriman Usahatani
Penerimaan atau pendapatan kotor dapat diartikan sebagai
nilai produk total dalam jangka waktu tertentu baik yang
dipasarkan maupun tidak. Penerimaan usahatani terdiri dari hasil
penjualan produksi pertanian, produksi yang dikonsumsi dan
kenaikan nilai invertaris. Penerimaan usahatani adalah perkalian
antara produksi yang diperoleh dengan harga jualnya
(G. A. J. Rumagit, 2011).
Penerimaan adalah sejumlah uang yang diterima dari
penjualan produknya kepada pedagang atau langsung kepada
konsumen.

Penerimaan

yang

didapat

petani

berbeda-beda

tergantung harga yang ada di pasar. Harga yang tinggi di pasar akan
membuat penerimaan petani menjadi tinggi, dan sebaliknya harga
yang rendah di pasar akan membuat penerimaan petani menjadi
lebih rendah (Hussain, 2004).
Penerimaan usahatani dibedakan menjadi dua yaitu
penerimaan kotor dan penerimaan bersih. Penerimaan kotor adalah
penerimaan yang berasal dari penjualan hasil produksi usahatani
yang diperoleh dari hasil perkalian jumlah produksi dengan harga
jualnya. Dapat ditulis dengan rumus:
Tri = Yi .Pyi

Dimana Tri adalah penerimaan kotor, Yi adalah produksi


yang diperoleh dalam suatu usahatani, Pyi adalah harga Y
(A. Khazanani, 2011).
Penerimaan adalah seluruh pendapatan yang diterima tanpa
melihat dari mana sumbernya, dengan besar tidak selalu sama
untuk setiap kurun atau jangka waktu tertentu. Kesimpulan dari
definisi diatas adalah bahwa penerimaan tidak lain adalah uang
yang diterima melalui proses produksi dan dinilai dengan uang
sebagai hasil penjualan barang dan jasa. Berdasarkan pengertian
tersebut diatas, maka penerimaan dijelaskan bahwa Total Revenue
(TR) adalah jumlah total yang diterima o leh penjual. Jenis jenis
penerimaan:
1. Penerimaan total ( TR ) : Hasil yang diterima perusahaan dari
penjualan produk.
TR = Q . P
2. Penerimaan Rata- rata ( AR ) : Penerimaan untuk tiap tiap
satuan produksi yang dijual.
AR = TR / Q = Q.P / Q = P
3. Penerimaan Batas ( MR ) : tambahan penerimaan karena
penjualan satu kesatuan

tambahan ( ekstra ) barang atau

tambahan karena penjualan satu kesatuan terakhir.


MR =ATR / AQ
(Syafril, 2000)
Dalam Ilmu Ekonomi, secara tidak langsung hasil yang
diharapkan akan diterima pada waktu panen (penerimaan atau
revenue)

dibandingkan

dengan

seluruh

biaya

yang

harus

dikeluarkan (pengorbanan atau cost) oleh petani. Memperoleh


tambahan keuntungan melalui pendekatan profit maximization
dengan memperbesar total penerimaan. Perbedaan besarnya
penerimaan usahatani dengan biaya termasuk kendala sosial
ekonomi yang menyebabkan terjadinya senjang produktivitas

kedua dari hasil-hasil eksperimen dan potensial suatu usahatani


(Rita Hanafie, 2010).
2.2.3

Biaya Usahatani
Fungsi biaya menggambarkan hubungan antara besarnya
biaya dengan tingkat produksi. Biaya dapat dibedakan menjadi
biaya tetap (FC = fixed cost), yaitu biaya yang besarnya tidak
dipengaruhi besarnya produksi, dan biaya variable (VC = variable
cost) yaitu biaya yang besarnya dipengaruhi oleh besarnya
produksi. Seperti pada fungsi produksi, pada biaya ini dikenal
konsep biaya marjinal (MC = marginal cost) yaitu perubahan biaya
per kesatuan perubahan produksi, dan biaya rata-rata (AC =
Average cost) yaitu biaya per keatuan produksi. Disamping itu
dikenal pula istilah biaya variabel marjinal (MVC = marginal
variable cost) yang akan sama dengan MC, biaya tetap marjinal
(MFC = marginal fixed cost) yang sama dengan nol, rata-rata biaya
variabel (AVC = average variable cost) dan rata-rata biaya tetap
(AFC = average fixed cost). Keuntungan terbesar dicapai pada saat
MC sama dengan harga produksi dengan asumsi pasar adalah pasar
persaingan sempurna (Suratiyah, 2006).
Biaya usahatani adalah merupakan nilai penggunaan faktorfaktor produksi, yang besarnya mempengaruhi peendapatan petani.
Biaya dalam usahatani merupakan jumlah komponen biaya tetap
(fixed cost) dan biaya variabel (variable cost). Biaya produksi bisa
juga dikelompokan menjadi biaya eksplisit dan implisit. Biaya
implisit ialah biaya yang tidak secara nyata dikeluarkan oleh petani
selama proses produksi, misalnya biaya tenaga kerja dalam
keluarga. Sedang biaya eksplisit ialah biaya yang secara nyata
dikeluarkan oleh petani selama proses produksi, misalnya biaya
pengadaan sarana produksi (Satyarini, 2009).
Biaya tetap usahatani (fixed cost) umumnya terdiri dari
biaya sewa lahan dan biaya penyusutan. Biaya rata-rata penyusutan
alat dihitung dengan membandingkan nilai pembelian dikurangi

dengan nilai sisa, kemudian dibagi dengan umur teknisnya.


Kemudian, untuk biaya tidak tetap usahatani (variable cost) yang
digunakan dalam usahatani cabai merah keriting meliputi : biaya
bibit (benih), biaya pupuk, biaya pestisida dan biaya tenaga kerja
(Hidayah, 2014).
Biaya investasi adalah biaya yang diperlukan petani pada
saat memulai usahanya dan yang akan dikeluarkan kembali pada
saat atau usia ekonomis investasi tersebut telah habis. Termasuk
dalam biaya investasi adalah tanah, bangunan, mesin, bibit ternak,
dan peralatan tidak habis pakai. Biaya tetap adalah biaya produksi
yang dikeluarkan oleh petani atau peternak dan tidak dipengaruhi
oleh besar kecilnya produksi dalam suatu siklus produksi, misalnya
biaya kandang, peralatan, perbaikan, depresiasi, dan upah manajer.
Biaya operasional atau biaya variabel adalah biaya yang berubahubah sesuai dengan perubahan produksi, seperti biaya pakan
konsentrat, hijauan, mineral, obat-obatan, serta tenaga pemelihara
atau buruh. Total nilai penjualan biasanya dihitung setiap tahun dan
untuk menentukan besarnya pajak yang harus dibayar. Cara seperti
ini dilakukan di negara yang sudah maju dan digunakan juga untuk
mengelompokkan skala usaha kecil, menengah, dan besar. Skala
usaha juga dapat diukur dengan melihat luas areal yang diusahakan
oleh petani atau satuan ternak yang dimiliki peternak. Dalam sistem
usaha yang terintegrasi, kombinasi komponen usaha tani tersebut
menentukan besarnya usaha (Soedjana Tjeppy D, 2007).

Selain dengan menggunakan biaya tetap dan biaya tidak


tetap dalam menghitung total biaya usahatani, kita juga dapat
menggunakan biaya eksplisit dan implisit untuk menghitung total
biaya usahatani. Biaya eksplisit yaitu pengeluaran-pengeluaran
pihak produsen yang berupa pembayaran dengan uang untuk

10

memperoleh faktor-faktor produksi. Sedangkan biaya implisit yaitu


taksiran pengeluaran atas faktor-faktor produksi yang dimiliki
produsen itu sendiri, seperti pada modal sendiri yang digunakan,
lahan yang dimiliki untuk kegunaan produksi dan sebagainya
(Noorlatifah et al, 2012).
2.2.4

Keuntungan Usahatani
Keuntungan adalah suatu ukuran balas jasa terhadap faktorfaktor produksi yang ikut dalam proses produksi. Pengukuran
pendapatan untuk tiap-tiap jenis faktor produksi yang ikut dalam
usahatani tergantung pada tujuannya. Pada akhirnya para petani
dari setiap usahataninya mengharapkan pendapatan yang disebut
pendapatan usahatani. Pendapatan usaha tani adalah selisih antara
total revenue(TR) dengan total cost(TC) atau dapat dituliskan
dengan rumus sebagai berikut :
Pd= TR-TC
Pd= Income (Pendapatan)
TR= Total Revenue (Total Penerimaan)
TC= Total Cost (Total Biaya)
(Soekarwati, 2006)
Besarnya keuntungan yang diperoleh maka harus ada
keseimbangan antara penerimaan dengan biaya-biaya yang
dikeluarkan dengan menggunakan suatu alat analisis yaitu = TR
TB dimana adalah pendapatan (keuntungan). TR adalah Total
Revenue atau total penerimaan adalah pendapatan (keuntungan).
TR adalah total revenue atau total penerimaan peternak dan TC
adalah total cost atau total biaya-biaya. Namun sebelum
menggunakan alat analisis tersebut maka terlebih dahulu dilakukan
pemisahan biaya dan penerimaan (Hoddie, 2011).
Keuntungan yang diperoleh petani merupakan hasil dari
penjualan dikurangi dengan biaya-biaya yang dikeluarkan selama
masa produksi. Pada setiap akhir panen petani akan menghitung

11

hasil bruto yang diperolehnya. Hasil itu harus dikurangi dengan


biaya-biaya yang dikeluarkannya. Setelah semua biaya tersebut
dikurangkan barulah petani memperoleh apa yang disebut dengan
hasil bersih atau keuntungan (Daniel, 2005).
Perhitungan keuntungan suatu usahatani jelas berbeda
dengan bisnis lainnya. Usahatani kita mengenal adanya biaya
dibayarkan dan biaya diperhitungkan. Biaya dibayarkan adalah
semua biaya yang dikeluarkan selama proses usahatani sedangkan
Biaya diperhitungkan adalah semua biaya yang tidak dikeluarkan
tapi dihitung secara ekonomi. Usahatani yang termasuk ke dalam
biaya dibayarkan adalah pembelian bibit, pembelian peralatan,
pembelian pupuk, sewa lahan, biaya TKLK (Tenaga Kerja Dalam
Keluarga), serta biaya-biaya lain yang dikeluarkan selama proses
produksi. Biaya diperhitungkan adalah nilai penggunaan lahan
(seandainya lahan milik sendiri), TKDK (Tenaga Kerja Dalam
Keluarga) (Hasan, 2014).
Tujuan suatu usaha tani yang dilaksanakan oleh rumah
tangga petani mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap
pengambilan keputusan dan tindakan yang akan diambil, maupun
terhadap pandangan rumah tangga akan keberlangsungan dan
kemampuannya dalam menerima berbagai pembaharuan, termasuk
teknologi pertanian. Usaha tani yang dilakukan oleh rumah tangga
petani umumnya mempunyai dua tujuan, yaitu mendapatkan
keuntungan yang maksimal atau untuk sekuriti (keamanan) dengan
cara meminimalkan risiko, termasuk keinginan untuk memiliki
persediaan pangan yang cukup untuk konsumsi rumah tangga dan
selebihnya untuk dijual. Untuk mencapai tujuan tersebut, petani
selalu memperhitungkan untung ruginya walau tidak secara tertulis
(Soedjana, 2007).
Petani selalu memperhitungkan untung ruginya walau tidak
secara

tertulis.

Ilmu

ekonomi

mengatakan

bahwa

petani

12

membandingkan antara hasil yang diharapkan akan diterima pada


waktu panen (penerimaan, revenue) dengan biaya (pengorbanan,
cost) yang harus dikeluarkan. Perbandingan tersebut mampu
menunjukkan besarnya keuntungan atau kerugian yang di dapat
petani.

Petani

mampu

memutuskan

komoditas

apa

yang

menguntungkan (Isaskar, 2014).


2.2.5

R/C dan B/C Rasio


R/C ratio adalah singkatan dari Revenue Cost Ratio
menurut (Soekarwati, 2006) untuk menganalisis kelayakan usaha
apakah usahatani ini memberikan keuntungan atau tidak, dapat
digunakan rumus sebagai berikut:
A = R/C
R = Py . Y
TC = FC + VC
Dimana :
R = Penerimaan
TC = Biaya
Py = Harga output
Y = Output
FC = Biaya tetap
VC = Biaya variabel
Revenue Cost Ratio (R/C) merupakan ukuran perbandingan
antara penerimaan dengan biaya operasional. Revenue Cost Ratio
(R/C) dihitung untuk menentukan kelayakan suatu usaha. Revenue
Cost Ratio (R/C) lebih dari satu maka usaha ini layak untuk
dijalankan. Rumus
Revenue Cost Ratio (R/C) :

total penerimaan
total biaya produksi.

Dengan syarat:
R/C Rasio > 1 usaha tersebut menguntungkan
R/C Rasio = 1 usaha tersebut tidak untung dantidak rugi
R/C Rasio < 1 usaha tersebut tidak menguntungkan atau rugi
(Widya, 2013).
Berkaitan dengan usaha, Benefit-cost ratio dapat dikatakan
sebagai ratio perbandingan antara penerimaan yang diterima dengan
biaya yang dikeluarkan dalam usaha. Jika ratio menunjukan hasil nol

13

maka dapat dikatakan bahwa usaha tidak memberikan keuntungan


finansial. Demikian juga jika ratio menunjukan angka kurang dari 1
maka usaha yang dilakukan tidak memberikan keuntungan dari
kegiatan yang dilaksanakan (Giatman, 2006).
Menurut Thamrin et al (2006) metode Benefit Cost Ratio
merupakan perbandingan antara nilai sekarang dari penerimaan atau
pendapatan yang diperoleh dari investasi dengan nilai sekarang dari
pengeluaran (biaya) selama investasi tersebut berlangsung dalam
kurun waktu tertentu. Kriteria kelayakan apabila nilai BC Ratio > 1
dan dirumuskan dengan :
B/C ratio = ( Nilai Sekarang Penerimaan)
( Nilai Sekarang Pengeluaran)
Kesimpulan yang dipakai dalam B/C ratio adalah :
a. B/C Ratio > 1 : Usaha tersebut boleh dilaksanakan
(menguntungkan).
b. B/C Ratio = 1 : Usaha tersebut mengembalikan modal
persis sama dengan biaya yang dilakukan (impas).
c. B/C Ratio < 1 : Usaha tersebut ditolak karena tidak
menguntungkan.
BAB III
METODE PENGUMPULAN DATA
3.1

Populasi dan Sampel


Metode penentuan populasi dilakukan dengan sengaja (purpossive)
yaitu petani sawi di kecamatan Tawangmangu, dimana komoditi sawi
merupakan salah satu komoditi di kabupaten tersebut berdasarkan data
Badan Pusat Statistik (BPS). Metode pengambilan contoh atau sampling
dilakukan secara sengaja (purpossive sampling) sebanyak 35 sample. Pada
metode ini individu contoh (sample) diwawancarai bukan atas pertimbangan
sendiri melainkan atas petunjuk dan arahan penyuluh pertanian (PPL)
kecamatan, aparatur desa dan tokoh-tokoh desa.
I.2 Metode Analisis Data

14

Data yang telah terkumpul diolah dalam bentuk tabulasi dengan


Microsoft Excel. Analisis pertama adalah analisis keuntungan, yang diawali
dengan menghitung jumlah penerimaan dan pengeluaran usahatani.
Keuntungan usahatani yang diperhitungkan dalam analisis ini didasarkan
atas biaya eksplisit dan implisit, yaitu biaya yang benar-benar dikeluarkan
petani maupun yang tidak dikeluarkan dalam usahataninya. Rumus
menghitung keuntungan adalah sbb:
Keuntungan UT = penerimaan UT biaya total UT
Analisis selanjutnya adalah analisis efisiensi dan kemanfaatan dari
usahatani yaitu dengan menghitung R/C ratio dan B/C ratio. Suatu usahatani
dikatakan efisien secara ekonomi apabila rasio output terhadap inputnya
menguntungkan. Adapun rumus umum dalam mendapatkan nilai R/C rasio
adalah sebagai berikut:
Revenue Cost Ratio (R/C) : keuntungan usahatani
Biaya total usahatani
Dengan syarat:
R/C Rasio > 1 usahatani tersebut layak dikembangkan
R/C Rasio = 1 usahatani impas
R/C Rasio < 1 usahatani tersebut tidak layak dikembangkan
Sedangkan B/C ratio diperhitungkan dengan rumus:
B/C ratio = ( Nilai Sekarang Penerimaan)
14
( Nilai Sekarang Pengeluaran)
Kesimpulan yang dipakai dalam B/C ratio adalah :
a. B/C Ratio > 0 :

Usaha

tersebut

boleh

dilaksanakan

(menguntungkan).
b. B/C Ratio = 0 : Usaha tersebut mengembalikan modal
persis sama dengan biaya yang dilakukan (impas).
c. B/C Ratio < 0 : Usaha tersebut ditolak karena tidak
menguntungkan.

15

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.

Karakteristik Sampel
4.1.1.

Karakteristik Responden Berdasarkan Umur


Umur menjadikan salah satu bahan pertimbangan dalam
mengetahui kinerja usaha seseorang. Umur menjadikan pola pikir
dan daya kerja setiap orang bervariasi. Karakter responden juga
dapat dipengaruhi oleh umur, berikut ini adalah tabel mengenai
karakteristik responden di Kecamatan Ngargoyoso Kabupaten
Karanganyar berdasarkan umur:
Tabel 1. Karakteristik Reponden Petani Cabai Merah Berdasarkan
Umur di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Umur
0-10

Varietas Super
(orang)
0

16

11-20
21-30
31-40
41-50
51-60
61-70
>70
Jumlah

0
3
7
13
5
0
2
30

Sumber: Hasil olahan data primer


Berdasarkan Tabel 1. Karakteristik Responden Berdasarkan
Umur dapat diketahui bahwa petani pada komoditas cabai merah
paling banyak berada pada kisaran umur 41 50 tahun yaitu ada 13
orang. Rata rata umur petani cabai merah adalah 45,76 tahun. Hal
ini menunjukkan bahwa petani komoditi cabai merah umumnya
masih berada pada umur produktif. Petani cabai merah

paling

banyak berada pada kisaran umur 31- 40 tahun dan 41 50 tahun.


Rata rata umur petani cabai secara keseluruhan adalah 46,1 tahun.
Hal ini juga menunjukkan rata rata umur petani cabai merah berada
pada usia produktif. Pada komoditas diketahui bahwa rata rata usia
petani masih produktif sehingga dapat lebih memaksilmalkan
wawasan dan ketrampilannya guna
16 meningkatkan hasil komoditi
masing masing petani.
4.1.2.
Karakteristik Responden Berdasarkan Pendidikan
Karakteristik sampel yang harus di ketahui juga adalah tentang
karakteristik

responden

berdasarkan

pendidikan.

Informasi

responden tentang pendidikan responden penting untuk mengetahui


maju atau tidaknya petani tersebut. Selain itu juga untuk mengetahui
petani atau responden tersebut mudah menerima inovasi baru atau
tidak.
Tabel 2. Karakteristik Responden Petani Cabai Besar Berdasarkan
Tingkat Pendidikan di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar
Pendidikan
TIDAK SEKOLAH
SD
SMP

Varietas Super (orang)


3
19
4

17

SMA
PT
Jumlah

4
0
30

Sumber: Hasil olahan data primer


Berdasarkan data olahan primer yang diperoleh, dapat
diketahui bahwa tingkat pendidikan di Kecamatan Ngargoyoso
masih cukup rendah. Dari tabel 2 dapat diketahui bahwa responden
dari yang tidak bersekolah berjumlah 3 orang, yang hanya
berpendidikan hingga tamat SD berjumlah 19 orang. Responden
yang berpendidikan hingga tamat SMP berjumlah 4 orang,
sedangkan responden yang berpendidikan hingga tamat SMA
berjumlah 4 orang. Responden dengan tingkat pendidikan hingga
menempuh perguruan tinggi tidak ada. Banyaknya masyarakat yang
berpendidikan merupakan faktor maju atau tidaknya suatu daerah.
Dengan sedikitnya masyarakat yang berpendidikan di Kecamatan
Ngargoyoso, yang mayoritas hanya berpendidikan sampai tingkat
SD saja, maka desa tersebut dapat digolongkan sebagai desa yang
kurang berkembang pendidikannya.
4.1.3.

Karakteristik Responden Berdasarkan Pekerjaan


Pekerjaan merupakan matapencaharian seseorang yang
dapat menghasilkan uang. Responden usahatani cabai besar di desa
Berjo, Kecamatan Ngargoyoso memiliki pekerjaan yang beragaman,
di samping itu tak sedikit yang memiliki pekerjaan sampingan selain
pekerjaan pokok. Pekerjaan sampingan tersebut dikerjakan oleh
beberapa responden sebagai upaya menambah penghasilan untuk
mencukupi kebutuhan keluarga responden. Data karakteristik
responden berdasarkan pekerjaannya merupakan hasil pengamatan
mengenai bidang pekerjaan apa saja yang dikerjakan oleh para petani
cabai di Kecamatan Ngargoyoso selain menjadi petani dalam
usahatani miliknya. Berikut ini disajikan tabel mengenai karakteristik
responden berdasarkan pekerjaan.

18

Tabel 3.

Karakteristik Responden Petani Cabai Besar Berdasarkan


Pekerjaan di Kecamatan Ngargoysoso, Kabupaten
Karanganyar

Pekerjaan
Petani penggarap/
penyakap/penyewa
Buruh tani
Pedagang
Wiraswasta
PNS/ABRI
Tukang batu/kayu
Lainnya
Jumlah

Varietas Cabai Super


Pokok
Sampingan
29
0
0
0
0
1
0
6
0
0
0
0
0
0
1
21
30
30

Sumber : Hasil Olahan data primer


Data hasil pengamatan praktikum mengenai karakteristik
responden berdasarkan pekerjaannya menunjukan bahwa sebagain
besar petani bekerja sebagai petani dan pekerjaan sampingannya
bermacam macam, yaitu ada 6 orang yang menjadi pedagang, ada 1
orang yang menjadi buruh dan 21 orang lainnya memiliki pekerjaan
sampingan dan bahkan tidak memiliki pekerjaan sampingan. Hal ini
menunjukan bahwa sebagian besar petani di Kecamatan Ngargoyoso
tersebut hanya bekerja sebagai petani dan tidak memiliki pekerjaan
sampingan lainnya selain petani. Hal ini dikarenakan karena menurut
para petani, pekerjaan mengurusi lahan usaha tani sudah menyita
semua waktu serta harus selalu intensif dalam setiap langkah
pengelolaan atau pengolahan usaha taninya, oleh karena itu sebagian
besar petani tidak memiliki pekerjaan sampingan dan fokus terhadap
lahan usahatani yang dimilikinya.
4.1.4.

Karakteristik Responden Berdasarkan Status


Sosial
Status sosial adalah tempat atau posisi seseorang dalam
suatu kelompok sosial. Status sosial seseorang dapat dilihat dari
jabatan, pendidikan dan luasnya ilmu pengetahuan, kekayaan, politis,

19

keturunan, serta agama. Berikut ini disajikan tabel mengenai


karakteristik responden berdasarkan status sosial.
Tabel 4. Karakteristik Responden Petani Cabai Besar Berdasarkan
Status Sosial di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar
Status Sosial
Masyarakat biasa
Pamong desa
Pengurus RT/RW
Tokoh masyarakat lain
Jumlah

Varietas Cabai Besar


24
3
2
1
30

Sumber : Hasil Olahan data Primer


Total responden di Desa Berjo Kecamatan Ngargoyoso
Kabupaten Karanganyar terdapat 30 responden. Karakteristik
responden berdasarkan status sosial untuk cabai besar kualitas super
dari ke 30 responden didapatkan bahwa 24 responden merupakan
masyarakat biasa, 3 diantaranya merupakan pamong desa, 2
merupakan pengurus RT/RW dan yang 1 merupakan tokoh
masyarakat, yaitu sebagai ustadz.
4.1.5.

Karakteristik

Responden

Berdasarkan

Luas

Lahan
Luas lahan adalah luas areal yang akan ditanam cabai pada
musim tertentu. Lahan sebagai salah satu faktor produksi yang
merupakan pabriknya hasil pertanian yang mempunyai kontribusi
yang cukup besar terhadap usahatani. Luas lahan yang dimiliki oleh
para petani berbeda-beda. Berikut ini tabel yang menyajikan
informasi mengenai karakteristik responden berdasarkan luas lahan.
Tabel 5. Karakteristik Responden Petani Cabai Besar Berdasarkan
Luas Lahan di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar
Luas Lahan
Jumlah luas lahan
Rata-rata luas lahan

Varietas Cabai Besar


(Ha)
10.46
0.4

20

Sumber : Hasil Olahan data primer


Luas lahan mempengaruhi dalam usahatani dimana berarti
semakin luas lahan pertanian maka semakin efisien lahan tersebut.
Bahkan lahan yang sangat luas dapat terjadi inefisiensi. Sebaliknya
dengan lahan yang luasnya relatif sempit, upaya pengawasan
terhadap penggunaan faktor produksi semakin baik, penggunaan
tenaga kerja tercukupi dan modal yang dibutuhkan tidak terlalu besar.
Berdasarkan pengolahan data di lapangan maka dapat diketauhi
bahwa total luas lahan untuk varietas cabai besar di Kecamatan
Ngargoyoso Kabupaten Karanganyar dari 30 responden

adalah

seluas 10,46 ha. Rata-rata setiap responden mempunyai 0,4 ha lahan


yang ditanami cabai.
4.1.6.

Karakteristik Responden Berdasarkan Status


Lahan
Ada empat macam petani, yakni petani pemilik penggarap
yang mengolah lahan pertaniannya sendiri, petani penyewa yang
mengerjakan sawah atau ladang sewaannya, petani penyakap yang
mengerjakan lahan orang lain dengan sistem bagi hasil, dan buruh
tani yang mengerjakan tanah pertanian sebagai tenaga harian lepas
dan kemudian diberi upah oleh pemilik lahan. Status lahan
menunjukan status kepemilikan lahan petani. Terdapat tiga jenis
status kepemilikan lahan yaitu pemilik penggarap, penyewa ,dan
penyakap. Berikut ditampilkan karakteristik responden berdasarkan
status lahan.
Tabel 6.oKarakteristik Responden Petani Petani Cabai Besar
Berdasarkan Status Lahan di Kecamatan Ngargoyoso,
Kabupaten Karanganyar
Status Lahan
Pemilik penggarap
Penyewa
Penyakap
Jumlah

Varietas Super
(orang)
30
3
33

21

Sumber : Hasil Olahan data primer


Berdasarkan hasil olahan data primer yang langsung di
ambil dari lapang di desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar disana hanya terdapat 2 jenis status lahan yaitu pemilik
penggarap dan penyewa. Penyakap tidak terdapat disana dikarenakan
sistem ini dirasa-rasa sudah mulai tidak tepat digunakan oleh petani
di sana. Pemilik penggarap menurut data ada 30 orang yang artinya
dari 30 responden tersebut status lahannya adalah milik sendiri,
sedang untuk penyewa terdapat 3 ini maksutnya petani disana selain
sebagai pemilik ada 3 responden yang juga menyewa lahan.
Umunya, tanah yang disewa disana adalah tanah yang dilelangkan
oleh Kelurahan/ kantor desa.
4.2.

Budidaya Tanaman oleh Petani Sampel


Praktikum ilmu usaha tani untuk kelompok kami menganalisis
pendapatan usahatani cabai besar. Cabai besar merupakan salah satu
komoditas pertanian paling atraktif. Pada saat-saat tertentu, harganya bisa
naik berlipat-lipat. Pada momen lain bisa turun hingga tak berharga. Hal ini
membuat budidaya cabai merah menjadi tantangan tersendiri bagi para
petani. Kondisi iklim di Indonesia cocok untuk budidaya cabai dimana
matahari bersinar penuh. Tanaman ini bisa tumbuh dengan baik di dataran
rendah hingga ketinggian 1400 meter dpl. Tempat yang tinggi seperti di
dataran tinggi, cabai masih bisa tumbuh namun produksinya tidak
maksimal.
Suhu yang optimal untuk pertumbuhan cabai merah, antara 24-28
derajat Celcius. Pada suhu yang terlalu dingin dibawah 15 atau panas diatas
32 pertumbuhan akan terganggu. Cabai bisa tumbuh pada musim kemarau
asal mendapatkan pengairan yang cukup. Curah hujan yang dikehendaki
berkisar 800-2000 mm per tahun dengan kelembaban 80%.
Berikut cara budidaya tanaman cabai besar oleh petani :
1. Pemilihan benih

22

Cabai besar dibedakan menjadi dua macam yaitu cabai merah besar
dan cabai merah keriting. Benih untuk budidaya cabai bisa petani
dapatkan dengan dua cara, yaitu membeli di toko benih atau
membenihkan sendiri. Benih cabai hibrida lebih baik dibeli dari industri
benih terpercaya yang menerapkan teknologi pemuliaan moderen.
Sedangkan benih cabai lokal bisa didapatkan dari sesama petani atau
menyeleksi sendiri dari hasil panen terdahulu.
2. Penyemaian dan pembibitan
Metode penyemaian untuk budidaya cabai akan lebih baik dengan
menggunakan polybag (baik dari plastik atau daun-daunan). Karena
benih cabai apalagi jenis hibrida harganya sangat mahal. Apabila
disemai dengan ditabur, dikhawatirkan banyak biji yang tumbuh
berhimpit sehingga tidak semua tanaman bisa dimanfaatkan. Untuk
membuat media tanam terlebih dahulu menyiapkan campuran tanah,
arang sekam dan kompos atau pupuk kandang dengan perbandingan
2:1:1. Atau, kalau tidak ada arang sekam bisa dengan menggunakan
tanah dan kompos dengan perbandingan 1:1. Sebelum dicampur, media
tersebut diayak agar halus.
Untuk menghindari terik matahari dan air hujan, maka dibuatlah
naungan untuk tempat penyemaian. Apabila petani mempunyai biaya
lebih, ada baiknya melindungi tempat penyemaian dengan jaring
pelindung hama atau serangga. Kemudian polybag yang telah diisi
media semai disusun dalam naungan tersebut. Polybag pembibitan
disiram setiap pagi dan sore hari. Cara menyiramnya adalah dengan
menutup permukaan polybag dengan kertas koran kemudian siram
hingga basah. Kemudian

Buka kertas koran tersebut setelah biji

tumbuh kira-kira 3 sekitar hari. Selanjutnya bibit di siram secara rutin


dan awasi pertumbuhannya. Bibit cabai merah siap untuk dipindahkan
setelah 21-24 hari disemaikan atau setelah tumbuh 3-4 helai daun.
Lebihkan 10% dari kebutuhan bibit. Misalnya untuk lahan satu hektar

23

dibutuhkan sekitar 14000 bibit cabai merah, maka lebihkan 10 persen


untuk tindakan penyulaman tanaman.
3. Pengolahan tanah
Lahan yang diperlukan untuk budidaya cabai merah adalah tanah
yang gembur dan memiliki porosotas yang baik. Sebelum cabai merah
ditanam cangkul atau bajak lahan sedalam 20-40 cm. Bersihkan dari
batu atau kerikil dan sisa-sisa akar tanaman. Kemudian dibuat bedengan
dengan lebar satu meter dan tinggi 30-40cm dan jarak antar bedengan
60 cm.
Budidaya cabai merah menghendaki tanah yang memiliki tingkat
keasaman tanah pH 6-7. Apabila nilainya terlalu rendah (asam), daun
tanaman cabai merah akan terlihat pucat dan mudah terserang virus.
Tanah yang asam biasanya mudah ditumbuhi ilalang. Untuk
menetralisirnya bisa gunakan kapur pertanian atau dolomit sebanyak 2-4
ton/ha. Pemberian kapur atau dolomit dilakukan pada saat pembajakan
dan pembuatan bedengan. Campurkan juga pupuk organik atau pupuk
kandang pada setiap bedengan secara merata. Budidaya cabai yang
intensif akan lebih baik apabila bedengan ditutup dengan mulsa plastik
perak hitam. Penggunaan mulsa plastik mempunyai konsekuensi biaya
namun mendatangkan sejumlah manfaat. Mulsa bermanfaat untuk
mempertahankan kelembaban, menekan erosi, mengendalikan gulma
dan menjaga kebersihan kebun.
Selanjutnya membuat lubang tanam sebanyak dua baris dalam setiap
bedengan dengan jarak 60-70 cm. Lubang tanam dibuat zigzag dan
tidak sejajar hal ini berguna untuk mengatur sirkulasi angin dan
penetrasi sinar matahari. Diameter dan kedalaman lubang tanam kurang
lebih 10 cm, atau disesuaikan dengan ukuran polybag semai.
4. Penanaman bibit cabai
Pemindahan bibit cabai merah dari area persemaian
dilakukan setelah umur bibit sekitar 3 minggu atau bibit memiliki 3-4
helai daun permanen. Penanaman sebaiknya dilakukan pada pagi hari

24

dan sore hari untuk menghindari stress. Usahakan penanaman dilakukan


serentak dalam satu hari. Cara menanamnya adalah dengan membuka
atau menyobek polybag semai. Kemudian memasukkan bibit cabai
merah beserta media tanamnya kedalam lubang tanam. Jaga agar media
semai jangan sampai terpecah. Kemudian siram tanaman secukupnya
untuk mempertahankan kelembaban.
5. Pemeliharaan dan perawatan
Penyiraman diperlukan pada saat musim kering, caranya
bisa dengan gembor atau dengan penggenangan. Butuh kehati-hatian
ketika melakukan penyiraman disaat tanaman belum terlalu kuat.
Penggenangan bisa dilakukan setiap dua minggu sekali.
Pada budidaya cabai memerlukan pemasangan ajir (tongkat
bambu) untuk menopang tanaman berdiri tegak. Tancapkan ajir dengan
jarak mnimal 4 cm dari pangkal batang. Pemasangan ajir dilakukan
pada hari ke-7 sejak bibit dipindahkan. Apabila tanaman terlalu besar
dikhawatirkan saat ajir ditancapkan akan melukai perakaran. Bila akar
terluka tanaman akan akan mudah terserang penyakit. Pengikatan
tanaman pada ajir dilakukan setelah tanaman tumbuh tinggi atau
berumur diatas satu bulan.
Penyiangan gulma dilakukan apabila diperlukan saja. Pengendalian
hama dan penyakit dalam budidaya cabai cukup vital. Banyak kasus
budidaya yang gagal karena serangan hama dan penyakit. Hama pada
tanaman cabai antara lain ulat, tungau, kutu daun, lalat buah, thrips.
Penyakit yang menyerang tanaman cabai bisa disebabkan virus, bakteri,
cendawan maupun jamur. Setidaknya ada enam macam penyakit yang
biasa menyerang tanaman cabai, diantranya: keriting(mosaik), bercak
daun, antraknosa, layu, dan bercak daun.
6. Pemanenan budidaya cabai
Budidaya cabai merah mulai bisa dipanen setelah berumur 75-85
hari setelah tanam. Proses pemanenan dilakukan dalam beberapa kali,
tergantung dengan jenis varietas, teknik budidaya dan kondisi lahan.

25

Pemanenan bisa dilakukan setiap 2-5 hari sekali, disesuaikan dengan


kondisi kematangan buah dan pasar. Buah cabai sebaiknya dipetik
sekaligus dengan tangkainya untuk memperpanjang umur simpan. Buah
yang

dipetik

adalah

yang

berwarna

oranye

hingga

merah.

Produktivitas budidaya cabai merah biasanya mencapai 10-14 ton per


hektar, tergantung dari varietas dan teknik budidayanya. Pada budidaya
yang optimal, potensinya bisa mencapai hingga 20 ton per hektar.
4.3.

Analisis Usahatani
4.3.1.

Penerimaan Usahatani
Penerimaan merupakan jumlah uang yang diperoleh dari
penjualan sejumlah output yang diusahakan. Hasil total penerimaan
dapat diperoleh dengan mengalikan jumlah satuan barang yang dijual
dengan harga barang yang bersangkutan. Penerimaan disebut juga
dengan pendapatan kotor. Penerimaan usahatani cabai besar di
Kecamatan Ngargoyoso ini dihitung

dengan mengalikan jumlah

produksi dengan harga jual ditingkat petani. Besar kecilnya


penerimaan dipengaruhi oleh jumlah produksi. Responden yang
memiliki produksi tinggi akan mendapatkan penerimaan yang
besar dan sebaliknya untuk jumlah produksi yang rendah maka
penerimaan yang diterima pun akan lebih kecil produksi dengan
harga jual ditingkat petani.
Tabel 7. Penerimaan Usahatani Cabai Besar di Kecamatan
Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Uraian
Produksi
Harga
Penerimaan

Varietas Super
Rata-rata per
Konversi 1 Ha
usahatani
1.612
4.201,56
15.167
39.531
18.546.667
48.340.573

Sumber : Hasil Olahan Data primer


Berdasarkan tabel 7. dapat diketahui bahwa rata-rata produksi
usahatani cabai besar di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar yaitu sebesar 1.612 kg sehingga setiap 1 hektar lahan

26

dapat memproduksi cabai besar sebanyak 4.201,56 kg. Rata-rata


harga jual usahatani cabai besar yaitu sebesar Rp 15.167 perkilogram
sehingga jika dikonversikan dalam 1 hektar lahan yaitu Rp 39.531
perkilogram. Dengan diketahuinya jumlah produksi dan harga jual
maka akan diketahui penerimaan yang didapat oleh petani.
Penerimaan usahatani merupakan nilai produksi total
usahatani dalam jangka waktu satu tahun atau satu masa tanam, yang
diperoleh dari hasil perkalian antara jumlah produksi dengan harga
tiap unit. Sehingga dapat diketahui bahwa penerimaan petani cabai
besar di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar yaitu
sebesar Rp 18.546.667,00 dimana sebesar Rp 48.340.573,00 jika
dikonversikan dalam 1 hektar lahan penerimaan yang diperoleh
petani tomat tersebut.
4.3.2.

Biaya Usahatani
Biaya usahatani adalah biaya yang dikeluarkan petani untuk
mengaplikasikan faktor-faktor produksi. Biaya usahatani ada 2
macam yaitu biaya eksplisit dan biaya implisit. Biaya eksplisit
adalah biaya yang secara nyata dikeluarkan petani, dan biaya implisit
adalah biaya yang tidak secara nyata dikeluarkan petani. Berikut
adalah tabel biaya usahatani cabai di Kecamatan Ngargoyoso,
Kabupaten Karanganyar.
Tabel 8. Biaya Usahatani Petani Cabai di Kecamatan Ngargoyoso,
Kabupaten Karanganyar
Biaya
A. Eksplisit
1. TKL
2. Benih
3. Pupuk
- Urea
- Phonska/ZA
- TSP/SP36
- KCl/NPK
- Pupuk Kandang
- Kapur Pertanian
- Lainnya

Varietas Cabai
Rata-rata per
Konversi 1 Ha
usahatani
Rp 1.634.900,00
Rp 1.010.593,33

Rp4.240.374,64
Rp2.621.135,45

Rp769.833,33
Rp398.233,33
Rp59.450
Rp2.575.783,33
Rp170.400
Rp40.533,33
Rp0

Rp1.996.685,88
Rp1.032.881,84
Rp154.193,08
Rp6680706,05
Rp441.959,65
Rp105.129,68
Rp0

27

4. Pestisida
5. Irigasi
6. Selamatan
7. Pajak Tanah
8. Biaya Angkut
9. Sewa lahan
10. Bunga modal luar
11. Biaya lain-lain
Jumlah
B. Implisit
1. Benih/bibit
2. Pupuk
- Urea
- Phonska/ZA
- TSP/SP36
- KCl/NPK
- Pupuk Kandang
- Kapur Pertanian
- Lainnya
3. TKD
4. Penyusutan
5. Sewa lahan sendiri
6. Bunga modal sendiri
7. Biaya lain-lain
Jumlah
Total Biaya

Rp228.513,33
Rp 26,67
Rp10.000
Rp60.641.,60
Rp11.866,67
Rp333.333,33
Rp283.333,33
Rp0
Rp7.587.442

Rp592.685,88
Rp69,16
Rp25.936,60
Rp157.283,69
Rp30.778,10
Rp864.553,31
Rp734.870,32
Rp0
Rp19.679.243

Rp23.760

Rp61.625,36

Rp2.450
Rp2.250
Rp2.200
Rp816,67
Rp85.166,67
Rp0
Rp0
Rp424.066,67
Rp19.738,47
Rp2.810.833,33
Rp722.349,50
Rp0
Rp4.093.631,30
Rp11.448.319,57

Rp6.354,47
Rp5.835,73
Rp5.706,05
Rp2.118,16
Rp220.893,37
Rp0
Rp0
Rp1.099.884,73
Rp51.194,87
Rp7.290.345,82
Rp1.873.528,96
Rp0
Rp10.617.487,52
Rp29.693.047,87

Sumber : Hasil olahan data primer


Biaya eksplisit adalah biaya yang secara nyata dikeluarkan
perusahaan,

atau

biaya

yang

dikeluarkan

dimana

terdapat

pembayaran kas. Misalnya pengeluaran untuk membeli bahan baku


untuk produksi usahatani untuk membayar tenaga kerja langsung
yang berkaitan dengan produksi dan sebagainya. Pada tabel diatas
biaya yang benar-benar dikeluarkan olehpetani untuk usahataninya
adalah biaya untuk membeli pupuk, obat-obatan, tenaga kerja dari
luar, sewa lahan,bunga modal dari luar, dan biaya lain-lain.
Berdasarkan tabel diatas

menunjukan bahwa pengeluaran biaya

eksplisit rata-rata per usahatani varietas cabai Rp7.587.442 dan


untuk per hectare Rp19.679.243.
Biaya implisit adalah nilai dari input yang dimiliki
perusahaan yang digunakan dalam proses produksi, tetapi tidak
sebagai pengeluaran nyata yang dikeluarkan perusahaan. Biaya
implisit juga dapat diartikan sebagai biaya non kas yang diukur

28

dalam konsep biaya kesemptan. Biaya implisit yang berkaitan


dengan setiap keputusan jauh lebih sulit untuk dihitung. Biaya-biaya
ini tidak melibatkan pengeluaran kas dan karena itu sering diabaikan
dalam analisis keputusan.Karena pembayaran kas tidak dilakukan
untuk biaya implisit, konsep biaya kesempatan harus digunakan
untuk mengukurnya. Pada tabel diatas biaya implisit varietas cabai
Rp4.093.631,30 dan rata-rata per hectare Rp10.617.487,52. Total
biaya Eksplisit dan Implisit Rp11.448.319,57 dan per hektarenya
Rp29.693.047,87.
4.3.3. Keuntungan Usahatani
Suatu usaha adalah laba, untung dan rugi. Suatu usaha
dapat diketauhi apabila seluruh biaya produksi dapat diperhitungkan.
Keuntungan adalah total penerimaan setelah dikurangi biaya
produksi (biaya yang dibayarkan) dan biaya yang diperhitungkan.
Keuntungan yang didapat petani tergantung dari total biaya eksplisit
dan implisit yang mereka gunakan. Berikut ini tabel keuntungan
usatahani cabai besar di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso,
Kabupaten Karanganyar.
Tabel 9. Keuntungan Usahatani Petani Cabai Besar di Kecamatan
Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar
Uraian
Penerimaan
Biaya Eksplisit
Biaya Implisit
Keuntungan

Varietas Cabai Besar Super


Rata-rata per
Konversi 1 Ha
usahatani
Rp.15.864.500
Rp. 48.340.573
Rp.7.587.442
Rp.19.679.243
Rp.4.093.631,30
Rp.10.617.487,52
Rp.6.865.594
Rp.17.637.586

Sumber : Hasil Olahan data primer


Keuntungan usahatani yang diterima oleh para petani cabai
yang kami dapatkan dari 30 responden menunjukkan, untuk
penerimaan rata-rata per usaha tani petani cabai besar varietas super
sebesar Rp.15.864.500. Angka tersebut jika dikonversikan per 1
hektar menjadi sebesar Rp.48.340.573. Sedangkan biaya eksplisit

29

rata-rata per usahatani petani cabai besar varietas super sebesar


Rp.7.587.442. Angka tersebut jika dikonversikan per 1 hektar
menjadi sebesar Rp.19.679.243. Untuk biaya implisit rata-rata per
usahatani petani cabai besar varietas super sebesar Rp. 4.093.631,30.
Angka tersebut jika dikonversikan per 1 hektar menjadi sebesar
Rp.10.617.487,52. Keuntungan usahatani yang diterima oleh para
petani cabai besar varietas super sendiri sebesar Rp. Rp.6.865.594.
Angka tersebut jika dikonversikan per 1 hektar menjadi sebesar
Rp.17.637.586.
4.3.4.

Perhitungan R/C Ratio dan B/C Ratio


4.3.4.1.

Perhitungan R/C Ratio Per Ha


Ratio merupakan alat analisa untuk mengukur biaya
dari suatu produksi. R/C ratio penting untuk diketahui
dalam suatu usahatani. Kelayakan usahatani bisa kita
ketahui dengan menghitung R/C ratio. Usahatani cabai juga
membutuhkan perhitungan R/C ratio. Dibawah ini adalah
perhitungan R/C ratio usahatani cabai yang ada di
Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.
Tabel 10. Perhitungan R/C Ratio per Ha Usahatani Cabai
Besar di Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten
Karanganyar
Komponen
Penerimaan
Keuntungan
Biaya
a. BiayaEksplisit
b. Biaya Implisit
Total Biaya
R/C atas biaya tunai (eksplisit)
R/C atas biaya total

Varietas Cabai
Besar
Rp 47,646,051
Rp 17,637,586
Rp 19,492,000
Rp 10,516,465
Rp 30,008,465
2.44
1.59

Sumber : hasil olahan data primer


Pada

Tabel.

10

terdapat

R/C

atas

biaya

tunai/eksplisit per hektar yang dikeluarkan petani cabai


besar sebesar 2.44, artinya setiap satu rupiah yang

30

dikeluarkan oleh petani memberikan penerimaan sebesar


2.44, karena R/C > 1 maka usahatani cabai besar ini. R/C
atas biaya total per hektar yang dikeluarkan petani cabai
besar sebesar 1,59. Dengan demikian jika biaya implisit
(biaya saprodi dari dalam, tenaga kerja dalam, penyusutan,
dan sewa lahan sendiri) diperhitungkan, nilai R/C akan
menjadi semakin kecil.
4.3..4.2 Perhitungan B/C Ratio per Ha
B/C ratio penting untuk diketahui dalam suatu
usahatani. B/C ratio kita gunakan untuk mengetahui
usahatani mana yang lebih layak dan memberikan
penerimaan yang lebih besar. Selain itu, kita juga dapat
mengetahui faktor produksi apa saja yang mempengaruhi
keuntungan

usahatani.

Dibawah

ini

adalah

contoh

perhitungan B/C ratio usahatani cabai yang ada di


Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar.
B/C Ratio atas biaya tunai =
Keuntungan usahatani
biayatunai usahatani(eksplisit )

B/C Ratio atas biaya tunai =

R p 17.637 .596
R p 19.492 .000

= 0,90

B/C Ratio atas biaya total =

Keuntungan usahatani
biaya total usahatani

B/C Ratio atas biaya tunai =

Keuntungan usahatani
biaya total usahatani

31

B/C Ratio atas biaya tunai =

Rp 17.637 .596
Rp 30.008 .465

= 0,59

B/C ratio per hektar atas biaya tunai yang diterima


petani adalah 0.90, nilai B/C tersebut lebih dari 0 artinya
usahatani cabai besar lebih menguntungkan. Sama halnya
dengan B/C ratio per hektar atas biaya total juga lebih dari 0,
nilai B/C ratio per hektar atas biaya total yang diterima
petani adalah 0.59 yang artinya usahatani cabai besar ini
menguntungkan. Jika, faktor produksi dari dalam seperti
saprodi dari dalam, tenaga kerja dalam, penyusutan, serta
sewa lahan sendiri diperhitungkan, biaya total akan menjadi
lebih tinggi, sehingga B/C ratio semakin kecil, artinya
keuntungan

petani

semakin

kecil.

Usahatani

cabai

menguntungkan karena harga jualnya yang tinggi dan biaya


yang dikeluarkan dalam usahatani lebih efisien.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1.

Kesimpulan
Kesimpulan dari praktikum ilmu usahatani sawi di kecamatan
Tawangmangu Kabupaten Karanganyar adalah :
5.1.1. Pengeluaran biaya eksplisit rata-rata usahatani varietas cabai besar
yaitu sebesar Rp 19.492.000 dan biaya implisit rata-rata usahatani
varietas cabai besar adalah Rp 10.516.456 sehingga rata-rata
keuntungan usahatani cabai besar sebesar Rp 17.065.629.

32

5.1.2. Usahatani cabai besar sangat efisien dan layak untuk diusahakan
karena nilai R/C atas biaya tunai maupun biaya total usahatani cabai
besar lebih dari 1, yaitu untuk nilai R/C atas biaya tunai 2,44 dan
1,59 untuk nilai R/C atas biaya total cabai merah. Sedangkan, nilai
B/C ratio atas biaya tunai usahatani cabai merah adalah 0,90 dan nilai
B/C ratio atas biaya total usahatani cabai merah adalah 0,59.
5.2.

Saran
Saran untuk praktikum ilmu usahatani di kecamatan Ngargoyoso
Kabupaten Karanganyar yaitu :
5.2.1

Sebaiknya co ass ikut serta dalam pendampingan pelaksanaan

5.2.2

praktikum
Daerah wawancara sebaiknya sudah dipilihkan co ass sesuai dengan

5.2.3

varietas yang sudah dipilihkan.


Petani diharapkan mampu mengoptimalkan biaya produksi seoptimal
mungkin sehingga usahatani yang dilakukan petani menjadi optimal
dan efisien.

32

33

DAFTAR PUSTAKA
A. Khazanani dan Nugroho 2011. Analisis Efisiensi Penggunaan Faktor-Faktor
Produksi Usahatani Cabai Kabupaten Temanggung. Jurnal Ekonomi
Pembangunan 5(1):1-32.
Admin. 2007. Usaha Tani, Pengertian dan Biaya di dalam Usaha Tani.
https://www.idtesis.com. Diakses pada tanggal 20 Oktober 2015 pada pukul
11.05.
Barus, Wan Arfiani. 2006. Pertumbuhan Dan Produksi Cabai (Capsicum Annum
L.) Dengan Penggunaan Mulsa Dan Pemupukan Pk. Jurnal Penelitian
Bidang Ilmu Pertanian Volume 4, Nomor 1 : 41-44.
Daniel, M. 2005. Pengantar Ekonomi Pertanian Untuk Perencanaan. Universitas
Indonesia Press, Jakarta.
G. A. J. Rumagit, O. Porajouw, R.Mirah 2011. Pendapatan Usahatani Kacang
Tanah di Desa Kanonang II Kecamatan Kawangkoan. ASE 7(2):22-28.
Giatman, M., 2006. Ekonomi Teknik. PT Praja Grasindo Persada. Jakarta.
Hanafie, Rita 2010. Pengantar Ekonomi Pertanian. Yogyakarta: C.V ANDI
OFFSET.
Harpenas, A dan R. Dermawan. 2010. Budidaya Cabai Unggul (Cabai Besar,
Cabai Keriting, Cabai Rawit, dan Paprika). Penebar Swadaya, Jakarta, 108
hlm
Hasan, Ikhlash. 2014. Membedakan pendapatan dan keuntungan dalam usahatani.
http://www.kompasiana.com/ikhlash/membedakan-pendapatan-keuntungandalam-usahatani_54f68fdba33311d87c8b515c2014. diakses tanggal 18
Oktober 2015.
Hidayah, Abdul Kholik. 2014. Analisis Finansial Usahatani Cabai Merah Skala
Petani Di Kota Samarinda (Studi Kasus Di Kelurahan Lempake Samarinda).
Jurnal Agrifor Volume Xiii Nomor 1.
Hoddie, AH. 2011. Analisis Pendapatan Peternakan Sapi Potong Di Kecamatan
Tanete Rilau, Kabupaten Barru. Jurnal Agribisnis Vol X (3). Universitas
Hasanudin, Makassar.
Hussain, S. 2004. Textbook of Dental Materials. Jaypee. India. hal. 120.
Isaskar, Riyanti. 2014. Modul 1. Pendahuluan: Pengantar Usaha Tani.
Laboratorium Analisis dan Manajemen Agribisnis. Fakultas Pertanian
Universitas Brawijaya.
Noorlatifah dan Hamdani. 2012. Struktur Biaya dan Penerimaan Usahatani Nanas
Madu (Ananas sativus) di Kecamatan Basarang Kabupaten Kapuas. Jurnal
Agribisnis Perdesaan. Volume 02.
Patty, J. A. 2012. Efektivitas Metil Eugenol Terhadap Penangkapan Lalat Buah
(Bactrocera dorsalis) Pada Pertanaman Cabai. Agrologia, Vol.1, No. 1, Hal.
69-75.
Rahim, A. dan Diah R. D. H. 2008. Pengantar, Teori, dan Kasus Ekonomika
Pertanian. Penebar Swadaya, Jakarta.

34

Rizki, Devi. 2010. Budidaya Tanaman Cabai Merah. Hal 13.


Riyanti. 2014. Modul 1. Pendahuluan: Pengantar Usaha Tani. Laboratorium
Analisis dan Manajemen Agribisnis. Universitas Brawijaya, Malang.
Satyarini, Triwara B. 2009. Analisis Usahatani Cabai di Lahan Pantai (Studi kasus
di
Pantai
Pandan
Simo,
Bantul,
DIY)
pse.litbang.pertanian.go.id/ind/pdffiles/MKP_A3.pdf. Diakses pada tanggal
18 Oktober 2015.
Shinta,
Agustina.
2012.
Ilmu
Usaha
Tani.
http://shinta.lecture.ub.ac.id/files/2012/11/Ilmu-Usaha-Tani.pdf.
Diakses
pada tanggal 19 Oktober 2015 Pukul 23.59 WIB
Soedjana, Tjeppy. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai
Respons Petan Terhadap Faktor Risiko. Jurnal Litbang Pertanian Volume 2,
Nomor 1: 1-5
Soedjana, Tjeppy. 2007. Sistem Usaha Tani Terintegrasi Tanaman-Ternak Sebagai
Respon Petani Terhadap Faktor Resiko. Jurnal Litbang Pertanian. Vol. 26,
No. 2, hal : 85.
Soekartawi. 2006. Analisis Usahatani. UI-Press. Jakarta.
Soekarwati. 2006. Teori Ekonomi Produksi. Rajawali Pers. Jakarta.
STTP. 2010. Jurnal Ilmu-Ilmu-ilmu Pertanian. Vol. 6. No. 2. 142-143.
Suratiyah, Ken. 2006. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Yogyakarta.
Suratiyah, Ken. 2008. Ilmu Usahatani. Penebar Swadaya. Jakarta.
Syafril, 2000. Pembagian Pendekatan Pertumbuhan Ekonomi Pengantar
Ekonomi Makro & Mikro. BPFE. Yogyakarta.
Thamrin Salam, Mufidah Muis, dan Alfian E.N. Rumegan. 2006. Analisis
Finansial Usaha Peternakan Ayam Broiler Pola Kemitraan. Jurnal
Agrisistem vol 2 no 1.
Widya, Erlin. 2013. http://agribisnis-brawijaya.blogspot.com/2013/04/makalahusaha-tani-agribisnis.html. Diakses pada hari Minggu, 18 Oktober 2015.
.