Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

I.1

Latar Belakang
Pada dasarnya Tuhan menciptakan manusia terdiri dari dua jenis kelamin yaitu laki-

laki dan perempuan, namun pada kenyataannya selain dua jenis kelamin tersebut ada yang
mengalami kebingungan dalam menentukan jenis kelaminnya. Kebingungan yang
dimaksud adalah tidak adanya kesesuaian antara jenis kelaminnya dan kejiwaannya. Tidak
sesuainya jenis kelamin dan kejiwaan ini bisa terjadi pada seseorang yang terlahir dengan
alat kelamin wanita yang sempurna dan tidak cacat, tetapi dia merasa bukan seorang
wanita melainkan seorang pria atau sebaliknya, keadaan seperti ini disebut Transgender.1
Sebelum bicara lebih jauh tentang transgender, terlebih dahulu harus dipahami
konsep gender, dan membedakan kata gender dan seks. Seks (jenis kelamin) merupakan
pembagian dua jenis kelamin (penyifatan) manusia yang ditentukan secara biologis yang
melekat pada jenis kelamin tertentu.Misalnya manusia berjenis kelamin (seks) laki-laki
adalah manusia yang memiliki atau bersifat bahwa laki-laki adalah yang memiliki penis
dan memproduksi sperma. Perempuan memiliki alat reproduksi, seperti rahim dan saluran
untuk melahirkan, memproduksi sel telur, memiliki vagina, dan mempunyai alat untuk
menyusui. Hal tersebut secara biologis melekat pada manusia yang memiliki jenis kelamin
lakilaki dan perempuan.Artinya, secara biologis alat kelamin atau jenis kelamin tersebut
tidak bisa dipertukarkan atau diganti.Gender adalah pencirian manusia yang didasarkan
pada pendefinisian yang bersifat sosial budaya, bukan pendefisian yang berasal dari ciriciri fisik biologis seperti seks (jenis kelamin).1,2
Gender adalah pencirian manusia yang didasarkan pada pendefinisian yang bersifat
sosial budaya, bukan pendefisian yang berasal dari ciri-ciri fisik biologis seperti seks (jenis

kelamin). Gender merupakan perbedaan perilaku antara laki-laki dan perempuan yang
dikonstruksi secara sosial, yakni perbedaan yang bukan ketentuan Tuhan, melainkan
diciptakan sendiri oleh manusia itu sendiri melalui proses kultural dan sosial. Gender
seseorang dapat berubah, sedangkan jenis kelamin biologis akan tetap tidak berubah .Hal
inilah yang membuat seseorang dapat berubah orientasi seksnya bahkan ada dorongan
untuk merubah gendernya. Kaum transgender memiliki suatu ketidakpuasan terhadap
dirinya sendiri karena merasa tidak adanya kecocokan antara bentuk fisik dan kelamin
dengan kejiwaan. Ekspresi orang yang mengalami kebingungan jenis kelamin ini bisa
terlihat dalam bentuk dandanan, gaya bicara, tingkah laku, bahkan sampai kepada
keinginan untuk melakukan operasi penggantiankelamin (Sex Reassignment Surgery).3
Menurut Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang
kesehatan Pasal 37 ayat (2) bedah plastik dan rekonstruksi tidak boleh bertentangan dengan
norma yang berlaku dalam masyarakat. Norma yang dimaksud dalam penjelasan UndangUndang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 Tentang kesehatan Pasal 37 ayat (2)
adalah norma hukum, agama, kesusilaan dan kesopanan, sedangkan dalam norma hukum
tidak ada aturan mengenai transgender. Begitu pula norma agama, dalam norma agama
Islam contohnya, para ulama fiqih mendasarkan ketetapan hukum tersebut padadalil-dalil
yaitu Hadits Nabi SAW, Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita
yang menyerupai laki-laki. (HR. Ahmad). Dalam norma kesusilaan dan kesopanan,
masalah transgender atau kebingungan jenis kelamin masih dianggap sesuatu yang aneh
dan selalu mendapat cemooh dan hinaan dari masyarakat. Anggapan sebagai transgender
merupakan pilihan hidup yang salah masih sering dihadapi, sehingga tidak mudah bagi
kaum transgender untuk mengungkapkan jati diri yang sebenarnya kepada keluarga
sekalipun karena masih dianggap tabu. Hal inilah yang menjadi penghalang atas
eksistensi kaum transgender di Indonesia.2,3

Oleh karena itu, fenomena transgender penting dan menarik utnuk dikaji dari
berbagai perpektif ilmu, khususnya sosial budaya dan hokum termasuk didalamnya hukum
agama yang mempunyai kaitan serta implikasi langsung dan tidak langsung. Terdapat
keterkaitan dengan aspek kehidupan psikologis penderita transgender serta sikap
masyarakat luas terhadap operasi perubahan jenis kelamin.1

I.2

Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana aspek hukum di Indonesia terhadap fenomena transgender?


2. Bagaimana aspek agama terhadap fenomena transgender?
3. Bagaimana aspek medis-psikologis terhadap fenomena transgender?
4. Bagaimana aspek etika kedokteran terhadap fenomena transgender?
5. Bagaiamana aspek norma etika terhadap fenomena transgender?

I.3

Tujuan

Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan karya tulis ini adalah untuk mengetahui dan memahami
aspek medikolegal dan etika kedokteran tentang transgender.

Tujuan Khusus
Mengetahui definisi transgender
Mengetahui aspek medis-psikologis transgender
Mengetahui aspek etika kedokteran transgender
Mengetahui aspek hukum tentang transgender
Mengetahui aspek agama terhadap transgender

I.4

Manfaat Penulisan
Bagi civitas akademika dapat memberikan suatu pemahaman mengenai aspek
medikolegal transgender di nilai dari berbagai bidang seperti bidang medis-psikologis,
hukum, dan agama.

Bagi masyarakat dapat memberikan informasi dan pemahaman kepada masyarakat


tentang aspek medikolegal sehingga masyarakat lebih dapat menerima keberadaan
kelompok minoritas sebagai transgender.

BAB II
ILUSTRASI KASUS DAN PEMBAHASAN

II.1

Kasus Transgender di Luar Indonesia


Caitlyn Marie Jenner (lahir William Bruce Jenner, 28 Oktober 1949) adalah seorang

mantan atlet Amerika yang dikenal karena memenangkan decathlon pria pada Olimpiade
Musim panas 1976. Sejak tahun 2007, dia telah muncul di E!' s program realitas televisi
keeping up with kardashian dan adalah saat ini membintangi acara realitas sendiri I Am
Cait, yang berfokus pada transisi gender nya. Berbagai publikasi telah menggambarkan
dirinya sebagai transgender yang paling terkenal secara terbuka di dunia sejak dia muncul
pada tahun 2015.4
Jenner memiliki enam anak dari pernikahan nya dengan Chrystie Crownover, Linda
Thompson dan Kris Jenner. Beberapa bulan setelah menceraikan istrinya yang ketiga,
Jenner mengungkapkan nya identitas gender sebagai seorang wanita trans pada April tahun
2015. Dalam dua tahun terakhir, pria ini mengonsumsi hormon perempuan, telah
melakukan serangkaian operasi untuk memperbesar payudara, operasi hidung untuk ketiga
kalinya, serta mengoperasi rahang, pipi dan dahi.4
Jenner mengadakan upacara pergantian gender secara formal di Juli tahun 2015,
mengadopsi nama Caitlyn Marie Jenner. Pada bulan September tahun 2015, namanya
secara hukum diubah menjadi Caitlyn Marie Jenner dan jenis kelamin wanita.4
Jenner mengakui dalam wawancara dengan 20/20 bahwa bagian dari alasan dia
menjadi begitu terlihat adalah untuk membawa perhatian ke gender dysphoria, kekerasan
terhadap perempuan trans dan isu-isu transgender lain. Ia juga berusaha untuk
mempromosikan diskusi lebih informasi akan permasalahan LGBT pada waktu ketika
masyarakat trans memiliki visibilitas yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dia

menandatangani dengan Departemen Speaker kreatif seniman badan dan akan bekerja
sama dengan Yayasan CAA pada strategi filantropis yang fokus pada permasalahan LGBT.
Dia membuat penampilan pribadi di pusat LGBT Los Angeles pada Juni 2015, di mana dia
berbicara dengan pemuda trans berisiko.4

II.2

Kasus Transgender di Indonesia


Dena Rachman (lahir Renaldy Rachman, 30 Agustus 1987) adalah mantan artis cilik.

Ia tumbuh di tengah lingkungan keluarga yang sebagian besar adalah perempuan. Sejak
kecil ia sering bermain menjadi seorang perempuan dan bahkan berdandan seperti saudari
yang lain. Mungkin hal ini tersebut yang membuat Dena Rachman waktu kecil berbeda
dengan teman lelaki sebayanya yang suka bermain seperti anak laki-laki pada umumnya,
justru ia tumbuh menjadi seorang yang gemulai.5
Pada tahun 2013, nama Dena Rachman kembali menjadi perbincangan
di internet dan dunia hiburan Indonesia ketika ia memutuskan untuk menjadi
seorang transgender. Terkait dengan keputusannya ini, Dena mengungkapkan bahwa
seharusnya setiap orang bisa menghargai kehidupan dan keputusannya sebagai seorang
transgender. Apalagi ia mengaku nyaman dengan keadaannya sekarang. Pada tanggal 6
Oktober 2014, Dena melakukan operasi plastik di rumah sakit Grand Plastic Surgery,
Seoul, Korea Selatan.5

II.3 Pembahasan Kasus


1. Aspek Hukum
Menurut hukum di Amerika seseorang yang melakukan operasi pergantian
jenis kelamin jelas dilegalkan bahkan dilindungi agar tidak terjadi diskriminasi di
masyarakat. Dalam undang-undang tentang kesetaraan tahun 2010, menyatakan

bahwa operasi pergantian kelamin harus dilindungi sesuai dengan hak azasi setiap
manusia. Pada UU tersebut berbunyi: 6
A person has the protected characteristic of gender reassignment if the person
is proposing to undergo, is undergoing or has undergone a process (or part of a
process) for the purpose of reassigning the person's sex by changing physiological or
other attributes of sex.6
Namun bila di tinjau dari hukum Indonesia, belum ada undang-undang yang
melegalkan operasi pergantian kelamin secara tegas. Menurut hukum di Indonesia
pergantian kelamin atau transgender yang bila ingin dilakukan oleh Dena Rahman
perlu didahului dengan penetapan dari pengadilan negeri untuk kemudian akan
dicatat pada instansi pelaksana. Adapun yang dimaksud dengan instansi pelaksana
adalah pemerintahan kabupaten/kota yang bertanggung jawab dan berwenang
melaksanakan pelayanan dalam urusan administrasi kependudukan. Pada dasarnya,
di Indonesia sendiri aturan mengenai prosedur pergantian kelamin (transgender)
memang belum diatur khusus. Akan tetapi, untuk memberikan perlindungan,
pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum setiap peristiwa kependudukan
dan peristiwa penting yang dialami oleh penduduk Indonesia dan Warga Negara
Indonesia yang berada di luar wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, telah
diterbitkan

Undang-Undang

No.

23

Tahun

2006

tentang

Administrasi

Kependudukan sebagaimana terakhir diubah dengan Undang-Undang No. 24 Tahun


2013 tentang Perubahan Atas Undang-Undang No. 23 Tahun 2006 tentang
Administrasi Kependudukan (UU Adminduk).7
Adapun yang dimaksud dengan peristiwa penting adalah kejadian yang dialami
oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir mati, perkawinan, perceraian,
pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan

perubahan status kewarganegaraan. Demikian yang disebut dalam Pasal 1 angka 17


UU Adminduk. Nantinya, Pejabat Pencatatan Sipil-lah melakukan pencatatan
Peristiwa

Penting

yang

dialami

seseorang

pada

Instansi

Pelaksana

yang

pengangkatannya sesuai dengan ketentuan Peraturan Perundang-undangan (Pasal 1


angka 16 UU Adminduk). Dari definisi peristiwa penting di atas, memang pergantian
jenis kelamin ini tidak termasuk peristiwa penting yang disebut dalam Pasal 1 angka
17 UU Adminduk. Akan tetapi, pergantian jenis kelamin ini dikenal dalam UU
Adminduk sebagai peristiwa penting lainnya. Dalam Pasal 56 ayat (1) UU
Adminduk diatur bahwa pencatatan peristiwa penting lainnya dilakukan oleh Pejabat
Pencatatan Sipil atas permintaan Penduduk yang bersangkutan setelah adanya
penetapan pengadilan negeri yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
Sedangkan

yang

dimaksud

dengan

peristiwa

penting

lainnya

dijelaskan

dalam Penjelasan Pasal 56 ayat (1) UU Adminduk sebagai berikut:7


Yang dimaksud dengan "Peristiwa Penting lainnya" adalah peristiwa yang
ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk dicatatkan pada Instansi Pelaksana, antara
lain perubahan jenis kelamin.7
Jadi, perubahan jenis kelamin atau transgender yang bila dilakukan oleh Dena
Rahman menurut hukum indonesia perlu didahului dengan penetapan dari pengadilan
negeri untuk kemudian dicatatkan pada instansi pelaksana. Adapun yang dimaksud
dengan instansi pelaksana adalah pemerintah kabupaten/kota yang bertanggung jawab
dan berwenang melaksanakan pelayanan dalam urusan Administrasi Kependudukan
(Pasal 1 angka 7 UU Adminduk). Pelaporan perubahan jenis kelamin ini merupakan
kewajiban Dena Rahman yang diatur dalam Pasal 3 UU Adminduk.8

Setiap Penduduk wajib melaporkan Peristiwa Kependudukan dan Peristiwa


Penting yang dialaminya kepada Instansi Pelaksana dengan memenuhi persyaratan
yang diperlukan dalam Pendaftaran Penduduk dan Pencatatan Sipil.8
Serupa dengan aturan dalam Pasal 56 ayat (1) UU Adminduk tentang pencatatan
peristiwa penting lainnya, dalam Pasal 97 ayat (2) Perpres 25/2008 ini juga disebut
bahwa peristiwa penting lainnya yang dimaksud antara lain adalah perubahan jenis
kelamin.2,6
Syarat yang harus disiapkan untuk mengajukan permohonan penetapan
pengadilan, pada dasarnya, hal tersebut ditentukan masing-masing pengadilan. Alur
permohonan penetapan pengadilan yakni untuk permohonan penetapan akta lahir.
Pada dasarnya untuk meminta penetapan, dibutuhkan bukti-bukti yang mendukung
permohonan penetapan tersebut. Seperti dalam hal penetapan akta lahir, yang
dibutuhkan adalah sebagai berikut:2,7

Foto Kopi Surat Nikah/Surat Keterangan Nikah dari Kepala Desa/KUA Ke


Sebanyak 1 Lembar;

Foto Kopi Kartu Keluarga (KK) Sebanyak 1 Lembar;

Foto Kopi KTP Pemohon Sebanyak 1 Lembar;

Foto Kopi Surat Keterangan Kelahiran dari Bidan/Dokter Sebanyak 1 Lembar.


Adapun syarat-syarat yang harus ia penuhi adalah berupa (Pasal 97 ayat (3)

Perpres 25/2008):2,8

Penetapan pengadilan mengenai peristiwa penting lainnya;

KTP dan KK yang bersangkutan; dan

Akta Pencatatan Sipil yang berkaitan peristiwa penting lainnya.

2. Aspek Agama
Dari segi agama, berdasarkan agama yang dianut oleh Bruce Jenner yaitu agama
Kristen, transseksualisme dianggap sebagai dosa karena cenderung menolak ketetapan
Tuhan. Namun, hal ini dianggap sebagai fenomena yang terjadi bukan karena Tuhan
yang menciptakan orang-orang seperti itu, melainkan karena manusia sudah berdosa
sejak semula (konsep dosa awal). Menurut pandangan ajaran ini juga, orang
transseksual bisa percaya kepada Tuhan Yesus sama seperti orang berdosa lainnya.
Karena itulah tidak ada alasan bagi orang berdosa untuk menghina dan menjauhi
sesama orang berdosa.Artinya, meskipun termasuk kaum berdosa, tidak ada
pembenaran bagi umat protestan untuk menghina kaum transseksual.9
. Begitu pula dengan Dena Rahman yang menganut agama islam, transgender
juga tidak diperbolehkan karena dianggap menentang ketentuan yang Tuhan berikan
dari sejak lahir, berdasarkan hadis yang menjadi landasan yaituAllah mengutuk lakilaki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. (HR. Ahmad)9
Menurut konsep ini, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak ada jenis
kelamin ketiga. Pengubahan jenis kelamin dianggap sebagai pengubahan atas ciptaan
Allah. Bahkan, Allah mengutuk individu yang berpenampilan dan bertindak
menyerupai anggota jenis kelamin lain.9

3. Aspek Etika Klinis


Segi etika klinis meninjau kasus transgender dari empat pokok etika klinis, yaitu
indikasi medis, preferensi pasien, kualitas hidup, dan gambaran kontekstual.10,11,12
Kasus transgender berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of
Mental Disorder) IV disebut juga dengan gender identity disorder (GID). Penyakit ini
termasuk gangguan psikiatris. Protokol pengobatan untuk GID adalah terapi hormonal

10

(cross-gender hormonal treatment) dan terapi pembedahan (sex reassignment surgery).


Tujuan dari terapi-terapi tersebut adalah pengubahan gender dan perubahan organ
kelamin. Terapi hormonal diberikan selama 2 tahun, setelah itu baru dilakukan terapi
pembedahan, dan kembali dilanjutkan terapi hormonal hingga 5 tahun. Setelah terapi
hormonal dan terapi pembedahan, penyesuaian hingga pembentukan sikap dan gaya
yang sesuai pun tetap harus dilakukan dan memakan waktu sampai tahunan. Pada
operasi pengubahan jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki sulit dilakukan dan
memiliki angka kegagalan dan kematian pasien yang tinggi. Namun, bukan berarti
operasi laki-laki menjadi perempuan pun tidak berisiko.13
Sebelum dilakukannya terapi hormonal dan SRS (sexual reassignment surgery),
dokter harus memberitahu pasien mengenai apa itu terapi hormonal dan SRS beserta
manfaat dan efek samping yang mungkin terjadi setelah pemberian terapi dan
pembedahan. Pasien harus dipastikan mengerti akan informasi tersebut. Setelah pasien
benar-benar paham, barulah diminta untuk menandatangani lembar informed consent
yang disediakan. Pasien juga harus kompeten secara mental, atau dengan kata lain
pasien sadar penuh dan memang ingin melakukan terapi tersebut atas kemauannya
sendiri, bukan atas paksaan orang lain. Pasien juga harus dipastikan statusnya sah
secara legal untuk dilakukannya terapi. Di Thailand, pasien yang dibolehkan untuk
melakukan terapi adalah yang berusia di atas 18 tahun. Sedangkan di Indonesia, belum
ada undang-undang yang mengatur tentang terapi penggantian gender tersebut.14,15
Setelah dilakukan terapi hormonal serta terapi pembedahan, kualitas hidupnya
mungkin akan membaik dibandingkan saat sebelum dilakukannya terapi. Sebelum
terapi, pasien akan merasakan pergolakan batin di dalam dirinya, karena apa yang dia
rasakan berbeda dengan apa yang ada pada dirinya saat itu. Pasien akan merasa tidak
nyaman ataupun tidak puas dengan tubuhnya sendiri, terutama dengan anatomi alat

11

kelaminnya. Ketidakpuasan dan ketidaknyamanan ini tentu akan mengganggu


aktivitas hidupnya sehari-hari. Apabila terapi hormonal dan terapi pembedahan
berhasil, kualitas hidup pasien akan meningkat karena pasien merasa puas dengan
jenis kelamin barunya saat ini yang memang sesuai dengan keinginannya. Pasien akan
lebih nyaman menjalani hidup karena sudah menemukan jati dirinya.11
Pada kasus transgender, perlu dianalisis pula apakah terdapat kepentingan pihakpihak lain selain pasien, seperti dari pihak keluarga maupun institusi profesional.
Selain itu, kasus ini juga perlu dianalisis dari isu legal serta isu agama. Di Indonesia
belum ada peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai terapi hormonal
dan terapi pembedahan pada pasien transgender. Isu legal ini jelas akan mempengaruhi
keputusan klinis dokter. Dari sudut pandang agama di Indonesia, agama Islam,
Protestan, dan Katolik memandang transgender merupakan sesuatu yang tidak
diperbolehkan, apalagi hingga dilakukan terapi untuk pengubahan gender. Namun,
menurut agama Hindu dan Buddha, operasi penggantian alat kelamin tidak masalah
untuk dilakukan. Perbedaan sudut pandang dari beberapa agama ini juga akan
mempengaruhi keputusan klinis dokter dalam menatalaksana pasien transgender.11,15

4. Aspek Kesehatan
Dari aspek medis atau kesehatan, seorang transgender akan mengalami beberapa
tahap dalam menjalani gender reassignment. Seperti kasus transegender Bruce
Jenner, dimulai dari timbulnya konflik dari diri Bruce Jenner, yang merasa dia selalu
merasa seharusnya ia terlahir sebagai perempuan. Keputusan untuk menjalani gender
re- assignment, tidaklah mudah, dimulai dari perasaan depresi dan ia melawan depresi
dan mencari solusi masalah yang ia hadapi. Selanjutnya, prosedur medis mengatakan
bahwa gender re-assignment akan melalui tiga tahap, yaitu yang ditunjukkan pada

12

tabel. Hingga pada bulan Juli 2015, secara formal Bruce Jenner memperkenalkan
dirinya sebagai manusia baru berjenis kelamin perempuan dengan nama Caitlyn
Jenner.16,17
1. Pemeriksaan

3. Sex-reassignment
2. Cross-gender hormones treatment

awal
Mendatang

i dokter.

Mengonsumsi hormon wanita

selama lima tahun.


-

dan tubuhnya agar

Melakukan prosedur elektrolisis


untuk menghentikan pertumbuhan

surgery
Merubah wajah

terlihat lebih feminin.


-

jenggot dan bulu dadanya.

Operasi untuk
memperbesar payudara.

Operasi hidung
untuk ketiga kalinya.

Operasi rahang,
pipi, dan dahi.

Begitu juga yang di alami oleh artis cilik Renaldy Rachman. Ia mengaku bahwa
selama ini. Ia adalah seorang wanita yang terjebak dalam tubuh lelaki. Ia sudah
merasakan seorang wanita sejak berumur 5 tahun. Hingga akhirnya ia memutuskan
menjadi perempuan ketika masuk kuliah usia 18 tahun. Prosedur medis berupa tahapan
gender re-assignment juga dilalui olehnya, yaitu yang ditunjukkan pada tabel. Dan
selanjutnya, Renaldy Rachman meresmikan dirinya menjadi perempuan dan merubah
namanya menjadi Dena Rachman.18

1. Pemeriksaan

2. Cross-gender hormones treatment

3. Sex-reassignment

13

awal
Mendata
ngi dokter.

Terapi hormon dengan

surgery
Operasi plastik di

mengkonsumsi pil. Dena mengkonsumsi

RS Grand Plastic

pil untuk menekan hormon testoteron

Surgery, Seoul, Korea

yang dia miliki dan merangsang hormon

Selatan.

estrogen.

14

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

III.1

Transgender

1. Definisi
Secara etimologi transgender berasal dari dua kata yaitu trans yang berarti
pindah (tangan; tanggungan); pemindahan dan gender yang berarti jenis kelamin.
Istilah lain yang digunakan dalam operasi pergantian kelamin ialah transseksual
yaitu merupakan terjemahan dari Bahasa Inggris. Disebut transseksual karena memang
operasi tersebut sasaran utamanya adalah mengganti kelamin seorang waria yang
menginginkan dirinya menjadi perempuan.19, 20
Sedangkan secara terminologi transgender atau transseksual diartikan sebagai
suatu gejala ketidakpuasan seseorang karena merasa tidak adanya kecocokan antara
bentuk fisik dan kelamin dengan kejiwaan, atau adanya ketidakpuasan dengan alat
kelamin yang dimilikinya. Beberapa ekspresi yang dapat dilihat ialah bisa dalam
bentuk dandanan(make up), gaya dan tingkah laku, bahkan sampai kepada operasi
penggantian kelamin (Sex Reassignment Surgery).2
Dalam DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorder) III,
penyimpangan ini disebut sebagai juga gender dysporia syndrome. Penyimpangan ini
terbagi lagi menjadi beberapa subtipe meliputi transseksual, a-seksual, homoseksual,
dan heteroseksual. Tanda-tanda transgender atau transseksual yang bisa dilacak
melalui DSM, antara lain:2
1. Perasaan tidak nyaman dan tidak puas dengan salah satu anatomi seksnya;
2. Berharap dapat berganti kelamin dan hidup dengan jenis kelamin lain;

15

3. Mengalami guncangan yang terus menerus untuk sekurangnya selama dua tahun
dan bukan hanya ketika datang stress;
4. Adanya penampilan fisik interseks atau genetik yang tidak normal;
5. Dapat ditemukannya kelainan mental semisal schizophrenia yaitu menurut J.P.
Chaplin dalam Dictionary of Psychology (1981) semacam reaksi psikotis
dicirikan di antaranya dengan gejala pengurungan diri, gangguan pada kehidupan
emosional dan afektif serta tingkah laku negativisme.

2. Faktor Penyebab
Adapun penyebab seorang pria menjadi seorang wanita atau waria atau
penyebab terjadinya transgender dapat diakibatkan 2 faktor yaitu:2
a) Faktor bawaan (hormon dan gen)
Faktor genetik dan fisiologis adalah faktor yang ada dalam diri individu karena
ada masalah antara lain dalam susunan kromosom, ketidakseimbangan hormon,
struktur otak, kelainan susunan syaraf otak.
b) Faktor lingkungan.
Faktor lingkungan di antaranya pendidikan yang salah pada masa kecil dengan
membiarkan anak laki-laki berkembang dalam tingkah laku perempuan, pada
masa pubertas dengan homoseksual yang kecewa dan trauma, trauma pergaulan
seks dengan pacar, suami atau istri.

Perlu dibedakan penyebab transseksual kejiwaan dan bawaan. Pada kasus


transseksual

karena

keseimbangan

hormon

yang

menyimpang

(bawaan),

menyeimbangkan kondisi hormonal guna mendekatkan kecenderungan biologis jenis


kelamin bisa dilakukan. Mereka yang sebenarnya normal karena tidak memiliki

16

kelainan genetikal maupun hormonal dan memiliki kecenderungan berpenampilan


lawan jenis hanya untuk memperturutkan dorongan kejiwaan dan nafsu adalah sesuatu
yang menyimpang dan tidak dibenarkan.2

3. Klasifikasi
Transgender ini sendiri dibagi menjadi dua, yaitu male-to-female transgender
(laki-laki yang meyakini bahwa dirinya sesungguhnya adalah seorang perempuan) dan
female-to-male transgender (perempuan yang meyakini bahwa dirinya sesungguhnya
adalah seorang laki-laki).21

4. Prevalensi
Angka kejadian transgender di dunia tidak dapat diukur secara pasti karena
belum ada perhitungan berbasis penelitian yang dilakukan. Selama ini estimasi jumlah
transgender hanya berdasarkan diagnosis gangguan identitas gender, dan pasien yang
mengunjungi klinik gender yang ada. Angka perkiraan jumlah transgender di dunia
untuk pria menjadi wanita sejumlah 1 dari 30.000 populasi sampai 6 dari 1000
populasi, sedangkan untuk wanita menjadi pria sejumlah 1 dari 100.000 sampai 1 dari
33.800 populasi. Hal ini didasari oleh terjadinya gangguan identitas gender, dimana
gangguan identitas gender terjadi 3 kali lebih besar pada pria dibandingkan wanita.22, 23

5. Risiko Perilaku
Di seluruh dunia, risiko kesehatan akibat perilaku yang paling sering terjadi pada
transgender adalah penyakit menular sekual. Penyakit ini sering terjadi akibat
beberapa hal, seperti penggunaan obat suntik secara bergantian, berganti pasangan
seksual, kurangnya pendidikan, sejarah menjadi pekerja seks komersial. Di Indonesia

17

terutama di Semarang, Jumlah waria yang terkena IMS memang belum diketahui
jumlahnya, namun hasil Surveilans Terpadu Biologis Terpadu di Kota Jakarta,
Bandung, dan Surabaya dapat dijadikan perbandingan. Hasil STBP dari Jakarta,
Bandung, dan Surabaya menunjukkan adanya prevalensi IMS dan HIV yang tinggi di
kalangan transgender. Prevalensi HIV pada transgender di Bandung 14% dan di
Jakarta 34%, prevalensi gonore rektal atau klamidia pada transgender di Jakarta 42%
dan di Bandung 55%, sedangkan prevalensi sifilis pada transgender berkisar antara
25% (Jakarta dan Bandung) dan di Surabaya 30%. Selain penyakit menular seksual,
gangguan yang terjadi pada transgender adalah gangguan kejiwaan, dimana para
transgender sering mendapatkan diskriminasi dan stigma buruk dari masyarakat, yang
akan menyebabkan transgender tersebut menggunakan obat obatan terlarang secara
bergantian lalu akhirnya tertular penyakit menular seksual terutama HIV, dan juga
dapat menyebabkan percobaan bunuh diri, dimana contohnya, 65% dari 300
transgender di Virginia pernah memiliki ide untuk bunuh diri.24, 25, 26, 27, 28

III.2

Transgender Ditinjau Dari Aspek Hukum Indonesia


Dalam hukum Indonesia, belum ada perudang-undangan yang tegas mengatur

transgender atau transeksual. Namun, secara hukum, kaum transgender dan transeksual
memiliki hak yang sama dengan manusia pada umumnya sesuai dengan undang-undang
yang mengatur hak asasi manusia, diantaranya sebagai berikut:6

Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 39 Tahun 1999


Seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai
makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati,
dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah, dan setiap orang
demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia.

18

Pasal 28 D ayat 1, berbunyi :


Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan kepastian hukum
yang adil serta perlakuan yang sama di muka hukum

Pasal 28 I ayat 2, berbunyi:


Setiap orang berhak bebas dari perlakuan yang bersifat diskriminatif atas dasar
apapun dan berhak mendapatkan perlindungan terhadap perlakuan yang diskriminatif
itu
Seorang transgender yang hendak melakukan perkawinan, harus memperhatikan

peraturan undang undang nomor 1 tahun 1974 tentang perkawinan berbunyi:6


Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan wanita sebagai
suami istri dengan tujuan membentuk keluarga atau rumah tangga yang bahagia dan
kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa
Berdasarkan pasal tersebut, maka seorang pria dan wanita merupakan salah satu
penentu sahnya perkawinan (tidak perkawinan sejenis). Bagi kaum transeksual yang telah
mengalami operasi perubahan jenis kelamin, status kewarganegaraan berubah dalam sisi
jenis kelamin. Tidak masalah dalam hal jika kaum transgender atau transeksual menikah
selama ia menikah dengan jenis kelamin yang berlawanan dengan jenis kelaminnya yang
sah dan terdaftar (sesuai Kartu Tanda Penduduk).7
Sampai saat ini belum ada KUHP yang mengatur tentang transgender atau
transeksual. Namun, transgender yang melakukan hubungan seksual dengan sesama jenis
seperti halnya kaum homoseksual atau lesbian, diatur dalam undang-undang pasal 292
KUHP dan pasal 492 Rancangan Undang-Undang KUHP.7

Pasal 292 KUHP, berbunyi:

19

Orang dewasa yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain sesama kelamin,
yang diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya belum dewasa, diancam dengan
pidana penjara paling lama lima tahun

Pasal 492 Rancangan Undang-Undang KUHP berbunyi:


Setiap orang yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama jenis
kelaminnya yang diketahui atau patut diduga belum berumur 18 tahun, dipidana
dengan pidana penjara minimal 1 tahun dan maksimal 7 tahun.

Dasar hukum atau tata cara seseorang dapat melakukan pergantian kelamin atau
kedudukan hukum seseorang yang telah melakukan pergantian jenis kelamin dalam
nasional adalah sebagai berikut:8

Hukum Atas Pergantian Kelamin


Pada dasarnya, di Indonesia sendiri aturan mengenai prosedur pergantian
kelamin (transgender) memang belum diatur khusus. Akan tetapi, untuk memberikan
perlindungan, pengakuan, penentuan status pribadi dan status hukum setiap peristiwa
kependudukan dan peristiwa penting yang dialami oleh penduduk Indonesia. Adapun
yang dimaksud dengan peristiwa penting menurut Pasal 1 angka 17 UU Adminduk
berbunyi;8
Kejadian yang dialami oleh seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir
mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan
anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan.
Dari definisi peristiwa penting di atas, memang pergantian jenis kelamin ini
tidak termasuk peristiwa penting yang disebut dalam Pasal 1 angka 17 UU Adminduk.
Akan tetapi, pergantian jenis kelamin ini dikenal dalam UU Adminduk sebagai
peristiwa penting lainnya.8

20

Dalam Pasal 56 ayat 1 UU Adminduk diatur bahwa pencatatan peristiwa penting


lainnya dilakukan oleh Pejabat Pencatatan Sipil atas permintaan Penduduk yang
bersangkutan setelah adanya penetapan pengadilan negeri yang telah memperoleh
kekuatan hukum tetap. Sedangkan yang dimaksud dengan peristiwa penting lainnya
dijelaskan dalam Penjelasan Pasal 56 ayat 1 UU Adminduk sebagai berikut:8
Yang dimaksud dengan "Peristiwa Penting lainnya" adalah peristiwa yang
ditetapkan oleh pengadilan negeri untuk dicatatkan pada Instansi Pelaksana, antara
lain perubahan jenis kelamin.

Konsekuensi Hukum Atas Pergantian Kelamin


Setelah seorang transgender melakukan operasi pergantian kelamin bukan berarti
masalah ketidak-jelasan kelamin yang dialaminya telah selesai, masih ada konsekuensi
hukum yang harus ditanggung atas pergantian kelamin. Konsekuensi hukum yang
harus ditanggung adalah perubahan data kependudukan.6
Perubahan Data Kependudukan
Berdasarkan pasal 77 UU No. 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi
kependudukan, yang berbunyi:
Tidak seorangpun dapat merubah/menganti/menambah identitasnya tanpa
ijin Pengadilan
Dengan perubahan jenis kelamin tentunya seluruh juga ada perubahan
mengenai data kependudukan. Dan berdasarkan ketentuan tersebut, sangat wajar
apabila seorang yang telah melakukan operasi ganti kelamin mengajukan
perubahan data identitas kependudukannya kepada pengadilan melalui sebuah
Permohonan.7
Perubahan status hukum dari seorang yang berjenis kelamin laki-laki
menjadi seorang yang berjenis kelamin perempuan atau sebaliknya sampai dengan

21

saat ini belum ada pengaturan dalam hukum, dengan demikian dalam masyarakat
yang tidak diatur oleh hukum sehingga menimbulkan suatu kekosongan hukum;8
Berdasarkan Pasal 10 ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor
48 Tahun 2009 Tentang Kekuasaan Kehakiman, berbunyi:
"Pengadilan dilarang menolak untuk memeriksa, mengadili, dan memutus
suatu perkara yang diajukan dengan dalih bahwa hukum tidak ada atau kurang
jelas, melainkan wajib untuk memeriksa dan mengadilinya\
Pasal 10 ayat 1 UU No. 48 Tahun 2009 tersebut mengamanatkan bahwa
Pengadilan melalui Hakim sebagai dari representasi Pengadilan sebagai pilar
terakhir untuk menemukan keadilan bagi masyarakat dan demi kepentingan
hukum yang beralasan kuat, wajib menjawab kebutuhan hukum masyarakat
dengan menemukan hukumnya jika tidak ada pengaturan hukum terhadap perkara
yang ditanganinya, sepanjang tidak bertentangan dengan hukum yang ada,
kepatutan dan kesusilaan; Sehingga Penetapan ganti kelamin merupakan sebuah
jawaban dan sebuah penemuan hukum, karena belum ada suatu aturan yang
mengatur tentang hal tersebut,sehingga tidak terjadi kekosongan hukum.6

Perubahan Mengenai Status Ahli Waris


Pada awalnya ketika seseorang dilahirkan dikenal dengan keberadaannya
sebagai perempuan namun dalam perkembangannya ada kelainan mengenai jenis
kelaminnya, jika tidak melakukan operasi tentunya akan susah untuk
menentukan jenis kelaminnya, dan sebagai solusi yaitu melakukan pergantian kela
minsebagaimana. Dalam Hukum Islam yang menganut perbedaan bagian warisan
antaraahli waris perempuan dan laki-laki. Dengan pergantian kelamin tersebut

22

memperjelas berapa bagian yang akan di terima ahli waris tersebut yang telah
melakukan perubahan kelamin.7

III.3

Transgender Ditinjau Dari Aspek Agama

1. Agama Protestan
Menurut ajaran Protestan, transseksualisme dianggap sebagai dosa karena
cenderung menolak ketetapan Tuhan.Namun, hal ini dianggap sebagai fenomena yang
terjadi bukan karena Tuhan yang menciptakan orang-orang seperti itu, melainkan
karena manusia sudah berdosa sejak semula (konsep dosa awal). Menurut pandangan
ajaran ini juga, orang transseksual bisa percaya kepada Tuhan Yesus sama seperti
orang berdosa lainnya. Karena itulah tidak ada alasan bagi orang berdosa untuk
menghina dan menjauhi sesama orang berdosa.Artinya, meskipun termasuk kaum
berdosa, tidak ada pembenaran bagi umat protestan untuk menghina kaum
transseksual.9
Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya (Amsal 27:17).Menurut
interpretasi atas ayat ini, meskipun transseksualisme bukanlah bahan ejekan dan
hinaan, adalah tidak bijak bagi masyarakat untuk memberi celah bagi kaum
transseksual untuk membentuk kelompok besar apalagi jika sampai mendapat
pembenaran dan dukungan dari kalangan gereja.9

2. Agama Katolik
Ajaran Katolik memiliki pandangan yang serupa dengan ajaran protestan dalam
memandang transseksualisme. Menurut KGK 2297, penggantian kelamin dianggap
melanggar penghormatan terhadap integritas tubuh manusia. Menurut KGK 369, pria
dan wanita lah diciptakan, artinya, dikehendaki Allah dalam persamaan yang

23

sempurna di satu pihak sebagai pribadi manusia dan di lain pihak dalam kepriaan
dan kewanitaannya. Kepriaan dan kewanitaan adalah sesuatu yang baik dan
dikehendaki Allah: keduanya, pria dan wanita, memiliki martabat yang tidak dapat
hilang, yang diberi kepada mereka langsung oleh Allah, Penciptanya (Bdk Kej
2:7.22).9

3. Agama Hindu
Ajaran Hindu memandang keberadaan 3 (tiga) jenis kelamin, yaitu pumsprakriti (pria), stri-prakriti (perempuan), tritiya-prakriti (seks ketiga). Jenis seks
ketiga ini terdiri dari shanda (male to female) dan shandi (female tomale). Karena
adanya pengakuan, pemilik tritiya prakriti diijinkan hidup bebas dan terbuka.
Contohnya dalam kisah Baratayudha terdapat masa dimana Arjuna berperan sebagai
Brihannala. Dengan begitu, operasi pergantian kelamin pun bebas dilakukan.9

4. Agama Budha
Ajaran Budha merupakan ajaran yang menjunjung tinggi toleransi.Lebih dari itu,
ajaran Budha juga menyimpan akar kebudayaan Hindu yang menguasai jenis kelamin
ketiga. Siapapun yang telah banyak mengembangkan kebajikan dengan badan, ucapan
dan juga pikiran, setelah meninggal dunia mempunyai kesempatan terlahir di alam
bahagia tanpa terpengaruh oleh jenis kelamin Meskipun begitu, dalam tripitaka
dinyatakan bahwa seorang waria tidak berhak ditasbihkan sebagai bhiksu atau
bhiksuni.9

5. Agama Islam
Dalam Islam, kita dapat melihat pandangan akantransseksualisme dari beberapa

24

dasar berikut:
Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang lakilaki dan seorang perempuan (QS. Al-Hujurat: 13)
dan akan aku suruh mereka mengubah ciptaan Allah (QS. An-Nisa: 119)
Allah mengutuk laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang
menyerupai laki-laki. (HR. Ahmad)
Menurut konsep ini, Allah menciptakan laki-laki dan perempuan, tidak ada jenis
kelamin ketiga. Pengubahan jenis kelamin dianggap sebagai pengubahan atas ciptaan
Allah sebagaimana titah setan yang tertulis dalam Q.S. An-Nisa: 119. Bahkan, Allah
mengutuk individu yang berpenampilan dan bertindak menyerupai anggota jenis
kelamin lain.9
Bagi

manusia

yang

memiliki

kecenderungan

psikologis

ke

arah

transseksualisme maupun jenis kelainan gender yang lain, haruslah ditangani melalui
terapi spiritual dan psikologis, bukan dengan mengubah ciptaan Allah. Operasi
kelamin sendiri, diharamkan bagi tujuan transseksualisme pada pemilik kelamin
normal sejak lahir (Munas II MUI 1980). Operasi kelamin yang diperbolehkan adalah
operasi untuk perbaikan atau penyempurnaan kelamin dan operasi pembuangan salah
satu dari kelamin ganda.9

III.3

Transgender Ditinjau Dari Aspek Etika Klinis


Secara sederhana, etika merupakan kajian mengenai moralitas - refleksi terhadap

moral secara sistematik dan hati-hati dan analisis terhadap keputusan moral dan perilaku
baik pada masa lampau, sekarang atau masa mendatang. Moralitas merupakan dimensi
nilai dari keputusan dan tindakan yang dilakukan manusia. Bahasa moralitas termasuk
kata-kata seperti hak, tanggung jawab, dan kebaikan dan sifat seperti baik dan

25

buruk (atau jahat), benar dan salah, sesuai dan tidak sesuai. Menurut dimensi ini,
etika terutama adalah bagaimana mengetahuinya (knowing), sedangkan moralitas adalah
bagaimana melakukannya (doing). Hubungan keduanya adalah bahwa etika mencoba
memberikan kriteria rasional bagi orang untuk menentukan keputusan atau bertindak
dengan suatu cara diantara pilihan cara yang lain.14
Etika klinis adalah disiplin praktis yang membahas pendekatan struktural untuk
membantu dokter dalam mengidentifikasi, menganalisis, dan menyelesaikan isu etika
dalam kedokteran klinis. Praktek kedokteran klinis memerlukan pengetahuan mengenai
isu-isu etika seperti informed consent, kejujuran, kerahasiaan, end-of-life care, dan hak-hak
pasien. Dalam mengambil keputusan tindakan medis, dari segi etik dianjurkan untuk
mengamalkan etika klinis yang merupakan etika terapan untuk mengenal, menganalisis,
dan menyelesaikan masalah etik dalam pelayanan klinik. Pada tahun 1982, Jonsen, Siegler,
dan Winslade mempublikasikan Clinical Ethics, dimana mereka mendeskripsikan
pendekatan empat kuadran, sebuah metode untuk menganalisis kasus etika klinis.
Pendekatan empat kuadran tersebut menggunakan empat topik yaitu:10, 11, 12
1. Indikasi medis (medical indications)
2. Preferensi pasien (patient preferences)
3. Kualitas hidup (quality of life)
4. Gambaran kontekstual (contextual features)

Indikasi Medis
Indikasi medis menganut prinsip beneficence dan nonmaleficence, dan merupakan
seluruh temuan klinis, mencakup diagnosis, prognosis, dan pilihan penatalaksanaan, serta
penilaian tujuan perawatan. Pokok pembicaraan ini mencakup konten umum diskusi klinis:
diagnosis dan penatalaksanaan kondisi patologis pasien. Indikasi merujuk pada

26

hubungan antara keadaan patofisiologi pasien dengan diagnosis dan intervensi terapeutik
yang diindikasikan, yang tepat untuk mengevaluasi dan mengurangi masalah. Walaupun
hal ini sering diulas pada presentasi masalah klinis setiap pasien, diskusi etika tidak hanya
akan meninjau fakta-fakta medis, namun juga membahas tujuan dari intervensi yang
diindikasikan.11
1. Apakah masalah medis pasien? Apakah masalah tersebut tergolong akut?
Kronik? Kritis? Reversible? Darurat? Teminal?
2. Apa tujuan dari penatalaksanaan?
3. Dalam keadaan seperti apa penatalaksanaan medis tidak diindikasikan?
4. Bagaimana probabilitas keberhasilan berbagai pilihan penatalaksanaan?
5. Sebagai ringkasan, bagaimana cara pasien agar perawatan medis
menguntungkan bagi pasien dan bagaimana cara mencegah terjadinya
kerugian?
Kasus transgender berdasarkan DSM (Diagnostic and Statistical Manual of Mental
Disorder) IV disebut juga dengan gender identity disorder (GID). Penyakit ini termasuk
gangguan psikiatris. Protokol pengobatan untuk GID adalah terapi hormonal (cross-gender
hormonal treatment) dan terapi pembedahan (sex reassignment surgery). Tujuan dari
terapi-terapi tersebut adalah pengubahan gender dan perubahan organ kelamin. Terapi
hormonal diberikan selama 2 tahun, setelah itu baru dilakukan terapi pembedahan, dan
kembali dilanjutkan terapi hormonal hingga 5 tahun. Setelah terapi hormonal dan terapi
pembedahan, penyesuaian hingga pembentukan sikap dan gaya yang sesuai pun tetap harus
dilakukan dan memakan waktu sampai tahunan. Pada operasi pengubahan jenis kelamin
perempuan menjadi laki-laki sulit dilakukan dan memiliki angka kegagalan dan kematian
pasien yang tinggi. Namun, bukan berarti operasi laki-laki menjadi perempuan pun tidak
berisiko.13

27

Menurut Fitzgibbons, Sutton, dan OLeary (2009), SRS melanggar prinsip dasar
medis dan etika, dan maka dari itu tidak tepat secara etis ataupun medis. Alasan yang
dikemukakan antara lain:29
(1) SRS merusak suatu tubuh sehat yang tidak berpenyakit. Melakukan
pembedahan pada tubuh yang sehat melibatkan risiko yang tidak perlu; oleh karena itu,
SRS melanggar prinsip primum, non nocere, first, do no harm.29
(2) Pasien yang akan dilakukan SRS beranggapan bahwa mereka terjebak dalam
tubuh yang memiliki jenis kelamin yang salah, dan karenanya menginginkan dan menuntut
dilakukannya SRS; anggapan ini terbentuk akibat gangguan persepsi pada diri sendiri.
Anggapan yang menetap dan irasional lebih tepatnya disebut dengan delusi. Maka dari itu,
SRS merupakan sesuatu yang salahhal tersebut memberikan solusi pembedahan untuk
masalah psikologis seperti kegagalan untuk menerima maskulinitas atau feminitas,
kurangnya kedekatan hubungan antara seorang anak dengan teman sebayanya atau dengan
orangtuanya, penolakan diri sendiri, gangguan identitas gender (gender identity
disorder/gender dysphoria) yang tidak diobati, kecanduan masturbasi dan fantasi, citra
tubuh yang buruk, kemarahan yang berlebih, dan psikopatologis berat pada orangtua.29
(3) SRS tidak mencapai apa yang dituntut untuk dicapai. Secara fisiologis, tidak
mungkin mengubah jenis kelamin seseorang, dimana jenis kelamin pada tiap individu
dikode oleh genXX pada wanita, dan XY pada pria. Pembedahan hanya menciptakan
gambaran jenis kelamin lain, namun tidak mengubah jenis kelamin seseorang; oleh
karenanya, tidak memberikan manfaat yang berarti. George Burou, seorang dokter di
Maroko yang telah mengoperasi lebih dari tujuh ratus laki-laki Amerika, menjelaskan,
Saya tidak mengubah laki-laki menjadi perempuan. Saya mengubah alat kelamin laki-laki
menjadi alat kelamin yang memiliki aspek perempuan. Selebihnya terdapat dalam
pemikiran pasien.29

28

(4) SRS merupakan suatu upaya bedah yang permanen dan sering tidak
memuaskan, yang dilakukan untuk mengubah sesuatu yang mungkin hanya sebuah kondisi
psikologis/psikiatris sementara.29

Preferensi Pasien
Preferensi dan nilai-nilai pasien menganut prinsip respect for autonomy, dan
merupakan alasan utama dalam menentukan penatalaksanaan terbaik untuk pasien. Dalam
semua penatalaksanaan medis, preferensi pasien berdasarkan nilai-nilai pasien sendiri dan
penilaian personal mengenai manfaat dan bahaya yang relevan secara etika. Pada setiap
kasus klinis, pertanyaan yang pasti timbul adalah: Apa tujuan pasien? Apa yang pasien
inginkan? Ulasan sistematis pada topik ini memerlukan pertanyaan lebih lanjut. Apakah
pasien telah diberikan infomasi yang cukup? Apakah pasien mengerti? Apakah pasien
paham adanya ketidakpastian pada setiap rekomendasi medis dan beragam pilihan yang
ada? Apakah pasien setuju secara sukarela? Apakah pasien dipaksa? Pada beberapa kasus,
jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini mungkin adalah Kami tidak tahu karena pasien
tidak mampu menyatakan suatu preferensi. Apabila pasien tidak mampu secara mental
pada saat keputusan harus dibuat, kita harus bertanya, Siapa yang memiliki kewenangan
untuk menentukan keputusan pada pasien ini? Bagaimana batas-batas etika dan legal pada
kewenangan tersebut? Apa yang harus dilakukan apabila tidak ada seorangpun yang dapat
mewakilkan?11
1. Apakah pasien telah diinformasikan mengenai manfaat dan risiko, mengerti
informasi ini, dan memberikan persetujuan?
2. Apakah pasien kompeten secara mental dan legal, dan adakah tanda-tanda
ketidakmampuan?
a. Apabila pasien mampu secara mental, terapi seperti apa yang lebih

29

dipilih pasien?
b. Jika tidak mampu, apakah pasien telah menyatakan keinginannya
sebelumnya?
c. Siapa wakil yang tepat untuk membuat keputusan bagi pasien yang
tidak mampu?
d. Apakah

pasien

enggan

atau

tidak

dapat

kooperatif

dengan

penatalaksanaan medis? Jika ya, mengapa?


Sebelum dilakukannya terapi hormonal dan SRS (sexual reassignment surgery),
dokter harus memberitahu pasien mengenai apa itu terapi hormonal dan SRS beserta
manfaat dan efek samping yang mungkin terjadi setelah pemberian terapi dan pembedahan.
Pasien harus dipastikan mengerti akan informasi tersebut. Setelah pasien benar-benar
paham, barulah diminta untuk menandatangani lembar informed consent yang disediakan.14
Pasien juga harus kompeten secara mental, atau dengan kata lain pasien sadar penuh
dan memang ingin melakukan terapi tersebut atas kemauannya sendiri, bukan atas paksaan
orang lain. Pasien juga harus dipastikan statusnya sah secara legal untuk dilakukannya
terapi. Di Thailand, pasien yang dibolehkan untuk melakukan terapi adalah yang berusia di
atas 18 tahun. Sedangkan di Indonesia, belum ada undang-undang yang mengatur tentang
terapi penggantian gender tersebut.15

Kualitas Hidup
Kualitas hidup menganut prinsip beneficence, nonmaleficence, dan respect for
autonomy. Tujuan utama dari seluruh temuan klinis adalah untuk meningkatkan kualitas
hidup pasien. Adanya trauma atau penyakit yang mencederai pasien yang dapat
menyebabkan penurunan kualitas hidup, bermanifestasi pada gejala dan tanda penyakit
mereka. Tujuan dari seluruh intervensi medis adalah untuk mengembalikan, memelihara,

30

atau meningkatkan kualitas hidup. Maka dari itu, pada setiap situasi medis, pembahasan
mengenai kualitas hidup pasti muncul. Beberapa pertanyaan mengenai hal ini antara lain:
Apa yang dimaksud dengan kualitas hidup secara umum? Bagaimana seharusnya hal
tersebut dipahami pada kasus-kasus tertentu? Bagaimana cara orang selain pasien
mempersepsikan kualitas hidup pasien dan bagaimana relevansi etis pada persepsi mereka?
Yang terpenting, bagaimana kaitan antara kualitas hidup dengan penilaian etika? Pada
topik ini, yang tidak banyak dibahas di literatur etika medis dibanding dua topik
sebelumnya, sangat berisiko untuk terjadinya bias dan prasangka. Namun, hal ini tetap
harus dikemukakan pada analisis masalah etika klinis.11
1. Bagaimana prospek ke depannya, dengan atau tanpa penatalaksanaan,
untuk kembali ke kehidupan normal, dan apa saja defisit fisik, mental, dan
sosial yang mungkin dialami pasien apabila penatalaksanaan berhasil?
2. Atas dasar apa seseorang dapat berpendapat bahwa kualitas hidup pasien
tidak akan seperti yang diinginkan pada pasien yang tidak dapat
menyatakan pendapatnya?
3. Apakah terdapat bias terhadap penilaian yang diberikan penyelenggara
pelayanan kesehatan terhadap kualitas hidup pasien?
4. Apakah isu etik yang timbul mengenai peningkatan atau perbaikan kualitas
hidup pasien?
5. Apakah penilaian kualitas hidup menimbulkan pertanyaan terkait
perubahan rencana penatalaksanaan, seperti melepas terapi penopanghidup?
6. Apa rencana dan dasar pemikiran untuk melepas terapi penopang-hidup?
7. Bagaimana status legal dan etika bunuh diri?

31

Pada pasien transgender, setelah dilakukan terapi hormonal serta terapi pembedahan,
kualitas hidupnya mungkin akan membaik dibandingkan saat sebelum dilakukannya terapi.
Sebelum terapi, pasien akan merasakan pergolakan batin di dalam dirinya, karena apa yang
dia rasakan berbeda dengan apa yang ada pada dirinya saat itu. Pasien akan merasa tidak
nyaman ataupun tidak puas dengan tubuhnya sendiri, terutama dengan anatomi alat
kelaminnya. Ketidakpuasan dan ketidaknyamanan ini tentu akan mengganggu aktivitas
hidupnya sehari-hari. Apabila terapi hormonal dan terapi pembedahan berhasil, kualitas
hidup pasien akan meningkat karena pasien merasa puas dengan jenis kelamin barunya saat
ini yang memang sesuai dengan keinginannya. Pasien akan lebih nyaman menjalani hidup
karena sudah menemukan jati dirinya.11

Gambaran Kontekstual
Topik ini menganut prinsip justice dan fairness. Seluruh temuan klinis yang terjadi di
dalam konteks sosial yang lebih luas selain dokter dan pasien, mencakup keluarga, hukum,
kultur, aturan rumah sakit, perusahaan asuransi dan hal finansial lain, dan sebagainya.
Pasien datang ke dokter karena mereka memiliki masalah yang mereka harapkan dokter
dapat membantu mengatasinya. Dokter melakukan perawatan terhadap pasien dengan
tujuan berusaha untuk membantu mereka. Pembahasan mengenai indikasi medis,
preferensi pasien, dan kualitas hidup merupakan hal yang penting pada kasus medis.
Namun, setiap kasus juga dicampurtangani oleh sekumpulan orang, institusi, aturan
finansial, dan aturan sosial. Perawatan pasien, baik secara positif maupun negatif,
dipengaruhi oleh hal-hal tersebut. Pada saat yang sama, hal-hal tersebut pun dipengaruhi
oleh keputusan yang dibuat oleh pasien: keputusan ini berdampak psikologis, emosional,
finansial, legal, ilmiah, edukasional, agama pada orang lain. Pada setiap kasus, relevansi

32

fitur kontekstual harus ditentukan dan dinilai. Fitur kontekstual ini sangat penting untuk
pemahaman dan penyelesaian kasus.11
1. Apakah terdapat kepentingan profesional, luar profesional, atau bisnis yang
dapat menimbulkan konflik kepentingan penatalaksanaan klinis pasien?
2. Apakah terdapat pihak selain dokter dan pasien, seperti anggota keluarga,
yang memiliki kepentingan dalam keputusan klinis?
3. Apa saja batas-batas kerahasiaan pasien yang dikenakan oleh kepentingan
sah pihak ketiga?
4. Apakah terdapat faktor finansial yang menimbulkan konflik kepentingan
dalam keputusan klinis?
5. Apakah terdapat masalah alokasi sumber daya yang langka yang dapat
mempengaruhi keputusan klinis?
6. Apakah terdapat isu agama yang dapat mempengaruhi keputusan klinis?
7. Isu legal apa yang dapat mempengaruhi keputusan klinis?
8. Apakah terdapat pertimbangan mengenai riset klinis dan pendidikan yang
dapat mempengaruhi keputusan klinis?
9. Apakah terdapat isu kesehatan dan keamanan masyarakat yang
mempengaruhi keputusan klinis?
10. Apakah terdapat konflik kepentingan dengan institusi atau organisasi
(seperti rumah sakit) yang dapat mempengaruhi keputusan klinis dan
kesejahteraan pasien?
Pada kasus transgender, perlu dianalisis apakah terdapat kepentingan pihak-pihak
lain selain pasien, seperti dari pihak keluarga maupun institusi profesional. Selain itu,
kasus ini juga perlu dianalisis dari isu legal serta isu agama. Di Indonesia belum ada
peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai terapi hormonal dan terapi

33

pembedahan pada pasien transgender. Isu legal ini jelas akan mempengaruhi keputusan
klinis dokter. Dari sudut pandang agama di Indonesia, agama Islam, Protestan, dan Katolik
memandang transgender merupakan sesuatu yang tidak diperbolehkan, apalagi hingga
dilakukan terapi untuk pengubahan gender. Namun, menurut agama Hindu dan Buddha,
operasi penggantian alat kelamin tidak masalah untuk dilakukan. Perbedaan sudut pandang
dari beberapa agama ini juga akan mempengaruhi keputusan klinis dokter dalam
menatalaksana pasien transgender.11,15
Thailand saat ini merupakan pusat operasi transgender di dunia dan menjadi salah
satu negara yang paling bersahabat dengan perihal homoseksual dan transeksual, dengan
dibuatnya konstitusi yang melindungi hak-hak para homoseksual dan transeksual.
Berdasarkan instruksi dari dewan medis di Thailand, persyaratan untuk operasi
penggantian kelamin antara lain (1) pasien setidaknya berusia 18 tahun; (2) dokter bedah
hanya boleh mengoperasi pasien yang terdiagnosis mengalami gender identity disorder
oleh dua psikiater dan diindikasikan untuk menjalani pembedahan. Dari persyaratan
tersebut jelas diasumsikan bahwa operasi penggantian kelamin merupakan terapi untuk
gender identity disorder.15

III.4

Transgender Ditinjau Dari Aspek Kesehatan


Transgender istilah umum bagi orang-orang yang identitas gender, ekspresi gender,

atau perilaku tidak sesuai dengan yang biasanya terkait dengan seks yang mereka
ditugaskan saat lahir. Identitas gender mengacu pada perasaan internal seseorang makna
menjadi laki-laki, perempuan, atau sesuatu yang lain. Ekspresi gender merujuk pada cara
seseorang berkomunikasi dengan orang lain melalui identitas gender melalui perilaku,
pakaian, gaya rambut, suara, atau karakteristik tubuh.16

34

Berdasarkan peneliltian yang dilakukan oleh Rekers, sebanyak kurang lebih 70 orang
anak laki-laki yang mengalami gangguan identitas gender yang dijadikan objek penelitian,
ia menemukan bahwa tidak dideteksi hal yang sifatnya abnormal secara fisik dan tidak ada
bukti bahwa pemberian hormon sewaktu seorang wanita mengandung atau adanya
ketidakseimbangan hormonal pada diri ibu dapat menyebabkan atau mempengaruhi
terjadinya gangguan identitas gender pada seorang anak. Jadi, dapat ditarik kesimpulan
dari penelitian tersebut bahwa seseorang yang mengalami gangguan identitas gender tidak
mengalami gangguan atau keabnormalan secara fisik.17
Saat mereka merasakan perasaan ketidak cocokkan antara identitas gender yang
mereka terima sejak lahir dengan tubuh yang kita diami, di dalam masyarakat telah
dibuktikan tidak ada kedudukan yang pasti atau peran yang dapat diambil untuk jenis
ekspresi gender seperti ini, bahkan suatu konflik biasanya akan menyeruak atau timbul
dalam masyarakat tersebut. Hal ini tidak dapat diterima sebagai sesuatu yang normal dalam
masyarakat.18
Sebagai manusia yang normal, individu transgender dan transseksual memiliki
kebutuhan yang sama dengan manusia normal lainnya. Tetapi, dikarenakan terdapat adanya
penyimpangan perilaku yang mereka perlihatkan, mengakibatkan mereka mengalami
berbagai bentuk konflik baik yang mereka dapatkan dari pihak keluarga maupun dari
segelintir masyarakat dikarenakan sudut pandang yang telah terbentuk selama ini
mengindikasikan bahwa kaum mereka merupakan kaum yang selalu terlibat dalam hal
negatif,

seperti

menjadi

seorang

pekerja

seks

komersial.

Perilaku

kaum

transeksual/transgender dalam mencari pertolongan kesehatan relatif sudah mengarah pada


perilaku positif, dimana mereka secararutin melakukan pemeriksaan kesehatan.Baik
kepada tenaga kesehatan yang telah disediakan oleh yayasan yang menaunginya maupun
kepada dokter umum biasa.16, 17

35

Individu transgender mungkin mengalami rasa malu dan kecemasan atas tubuh
mereka dan jika dilihat secara klinis, tidak harus diminta untuk membuka pakaian kecuali
benar-benar diperlukan. Hal lain yang penting untuk diingat adalah bahwa stereotip
kelelakian atau keperempuanan dari tubuh seseorang bukan merupakan indikasi dysphoria
gender yang dialami oleh individu. Di Inggris, jenis kelamin pada akta kelahiran seseorang
adalah seks seseorang untuk hidup, bahkan jika seseorang menjalani operasi pergantian
jenis kelamin.16, 18
Transeksual hidup sebagai lawan jenis dan akan berusaha untuk mengubah
penampilan luar mereka untuk sesuai dengan identitas batin mereka melalui penggunaan
hormon seks dan kemungkinan operasi pergantian. Ada beberapa protokol pengobatan
untuk terapi hormonal dan pembedahan untuk individu transeksual. The Harry Benjamin
International

Gender

Dysphoria

Associations

standards,

menerangkan

bahwa

transseksualisme sendiri bukanlah gangguan mental atau penyakit medis, dan


penekanannya adalah pada aksesibilitas dan kontrol pasien atas keputusan-keputusan,
selain itu dibahas juga pedoman dan rekomendasi untuk kesiapan konsumen untuk terapi
hormonal, operasi estetika dan operasi pergantian gonad serta komentar tentang
pedoman.17, 18
Pada masa lampau perkembangan teknologi yang ada masih belum memberi
keleluasaan penggantian gender. Namun, dengan teknologi yang telah ada sekarang,
penggantian gender telah dapat dilakukan, bahkan hingga penggantian organ kelamin.16

1. Gender-Reassignment
Gender reassignment merupakan suatu proses atau mekanisme perubahan
gender. Metode ini banyak ditempuh oleh kaum transseksual untuk memenuhi hasrat
dan ketidaknyamanannya atas gender yang dimilikinya sejak semula.Proses ini tidak

36

merupakan tahapan-tahapan yang bebas dilakukan oleh siapapun yang menginginkan


perubahan gender. Tahap ini harus didahului oleh wawancara klinis oleh tim ahli
terhadap pasien yang diduga menderita transseksualisme dan berkeinginan untuk
beralih gender. Dalam tahap ini, pemeriksaan kelainan genetis dan hormonal
merupakan hal yang seharusnya dilakukan. Hasil positif kedua tahap ini dilanjutkan
dengan evaluasi psikologis untuk melihat beberapa hal penting sebagai berikut:18
Ketiadaan kelainan mental.
Motivasi pasien untuk berganti gender.
Kesediaan pasien untuk menerima segala kondisi dan konsekuensi akibat
pengubahan gender.
Ketiga tahap pendahuluan di atas merupakan upaya deteksi dan justifikasi legal
adanya fenomena transseksualisme dalam suatu individu. Jika hasil evaluasi pada
ketiga tahap tadi adalah positif, maka secara medis, gender-reassignment boleh
dilakukan.
Gender-reassignment sendiri secara umum dilakukan dalam 2 tahapan utama.
Pertama, dilakukan cross-gender hormones treatment. Pemberian hormon dari jenis
kelamin yang berlawanan ini biasanya dilakukan selama 2 tahun untuk
mengkondisikan fisiologis pada pasies. Setelah dianggap siap, maka dilakukan sexreassignment surgery.18

2. Sex-Reassignment Surgery
Sex reassignment surgery merupakan suatu prosedur operasi medis pengubahan
organ kelamin antar jenis kelamin. Tujuan sex reassignment surgery adalah sebagai
berikut:18

Perbaikan organ kelamin yang tidak sempurna.

37

Penghilangan salah satu kelamin pada kasus kelamin ganda.

Transseksual
Operasi pengubahan jenis kelamin perempuan menjadi laki-laki sangat sulit

dilakukan dan memiliki kemungkinan kegagalan atau kematian pasien yang tinggi.
Dalam hal ini, sangat riskan untuk membuat clitoris menjadi gland penis yang
ukurannya jauh lebih besar dan harus dilakukan operasi tambahan histerektomi
dan ooforektomi. Bagi MtF (male to female) pun, operasi tidak dilakukan tanpa resiko.
Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi:18
Pendarahan/hematoma
Infeksi
Masalah penyembuhan luka
Recto-vaginal fistula (lubang berkembang antara kolon dan vagina)
Urethra-vaginal fistula
Pulmonary thromboembolism
Necrosis parsial/menyeluruh pada flap
Pertumbuhan rambut intravaginal
Ketakutan hipertrofik
Vagina pendek
Setelah SRS dilakukan pun, dibutuhkan waktu tahunan untuk benar-benar
berganti gender dari hal pembentukan sikap dan gaya yang sesuai. Selain itu, terapi
hormon tetap harus dilakukan. Biasanya hal ini memakan waktu hingga 5 tahun.
Praktisi medis juga seringkali menolak untuk melakukan operasi pada penderita
HIV/hepatitis C karena tingkat kesulitan dan kegagalan yang lebih tinggi.18

38

Terlepas dari banyaknya perbedaan pandangan atas transseksualisme dan


aplikasi teknologi biologis-kedokteran yang digunakan untuk memfasilitasinya,
fenomena ini merupakan fenomena yang sangat tidak sulit ditemukan. Dalam dunia
kedokteran modern dikenal tiga bentuk operasi kelamin yaitu:17
1.

Operasi penggantian jenis kelamin, yang dilakukan terhadap orang yang sejak
lahir memiliki kelamin normal;

2.

Operasi perbaikan atau penyempurnaan kelamin yang dilakukan terhadap orang


yang sejak lahir memiliki cacat kelamin, seperti zakar (penis) atau vagina yang
tidak berlubang atau tidak sempurna.

3.

Operasi pembuangan salah satu dari kelamin ganda, yang dilakukan terhadap
orang yang sejak lahir memiliki dua organ/jenis kelamin (penis dan vagina).
Sex-reassignment surgery merupakan ujung dari proses gender reassignment.

Pelaksanaan

SRS

melibatkan

aplikasi

teknologi

biologi-kedokteran

yang

membutuhkan tenaga ahli dengan kemampuan yang baik. Prosedur SRS harus diambil
dengan benar untuk mengurangi kemungkinan terjadinya komplikasi medis yang tidak
diinginkan. Meskipun secara medis telah dimungkinkan, aturan pelaksanaan dan status
legalitas SRS dan pengubahan gender secara keseluruhan sangat bergantung pada
kebijakan masing-masing negara. Meskipun begitu, peran serta masyarakat dengan
berbagai pandangannya justru menjadi lebih penting dan berperan, khususnya di
negara yang tidak dengan jelas dan tegas menetapkan peraturan atas hal ini, seperti
Indonesia.17
Terlepas dari kenyataan bahwa efek samping dapat terjadi, sebagian besar waria
akan transisi tanpa menderita efek samping yang serius. Terapi hormonal juga
menyebabkan perubahan fisik dan psikologis yang membuat pasien merasa lebih
seperti identitas gender mereka, membatasi morbiditas psikiatri dan meningkatkan

39

kualitas hidup pasien. Sebaliknya, menolak untuk mengelola terapi hormon untuk
pasien merupakan faktor risiko untuk pengobatan diri dengan hormon yang diperoleh
secara ilegal dan penggunaan jarum suntik untuk pengobatan hormon.16
Bagi FtM (Female ToMale) transeksual mendapat terapi hormonal dengan
testosteron. Pemberian testosteron akan menyebabkan terhentinya menstruasi
umumnya dalam bulan pertama, pendalaman suara, peningkatan rambut wajah dan
tubuh, peningkatan ukuran klitoris, peningkatan libido, dan kemampuan untuk
membangun dan mempertahankan massa otot. Penting untuk diingat bahwa testosteron
tidak akan mengurangi ukuran payudara. Pria transeksual banyak akan lulus sebagai
laki-laki (yaitu terlihat laki-laki ke dunia luar) setelah satu tahun pengobatan, tetapi
efek penuh testosteron yang dapat memakan waktu hingga 10 tahun.16
Beberapa efek samping dari testosteron adalah meningkatnya kulit berminyak,
jerawat, berat badan, dan sakit kepala. Risiko kesehatan dari pengobatan testosteron
adalah hepatotoksisitas, resistensi insulin, perubahan negatif dalam profil lipid
(penurunan HDL dan peningkatan trigliserida) dan homosistein, polisitemia pada
mereka yang berisiko karena efek erythropoeitic, dan Sindrom ovarium polikistik
mungkin ada terus menjadi setidaknya risiko teoritis untuk payudara, ovarium,
endometrium dan kanker serviks.16
Pembedahan termasuk mastektomi bilateral atau sedot lemak, metoidoplasty
(membuat penis mikro dengan memutuskan ligamen suspensorium yang mengelilingi
klitoris yang membesar) atau Phaloplasti (menggunakan kulit dan transfer jaringan
muscle dari pangkal paha, lengan atau paha), vaginectomy, histerektomi ditambah
salpingo-ooforektomi, scrotoplasty, dan perpanjangan uretra.Untuk perawatan
kesehatan lanjutan dari seorang priatranseksual, pedoman skrining standar harus
diikuti untuk semua organ yang dimiliki pasien.17

40

BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
41

IV.1

Kesimpulan

IV.2

Saran

DAFTAR PUSTAKA

42

1. Olvionita, R.W. (2013) Transgender [online] Sumber:


http://eprints.ums.ac.id/27535/2/3._BAB__I.pdf (Diakses 17 September 2015)
2. Juwilda (2010) Transgender Manusia Keragaman Dan Kesetaraannya [online]
Sumber: https://juwilda.files.wordpress.com/2010/10/transgender_manusiakeragaman-dan-kesetaraannya__.pdf (Diakses 17 September 2015)
3. Rasan, L.A. (2013) Status Keperdataan Kaum Transgender Yang Melakukan Operasi
Kelamin [online] Sumber: http://e-journal.uajy.ac.id/4923/2/1HK09922.pdf (Diakses
17 September 2015)
4. Wikipedia The Free Encyclopedia (2015) Caitlyn Jenner [online] Sumber:
https://en.wikipedia.org/wiki/Caitlyn_Jenner (Diakses 25 September 2015)
5. Wikipedia Ensiklopedia Bebas (2014) Dena Rachman [online] Sumber:
https://id.wikipedia.org/wiki/Dena_Rachman (Diakses 25 September 2015)
6. Arshavin, D. (2014) Status Hukum Transgender [online] Sumber:
https://www.scribd.com/doc/245638623/Status-Hukum-Transgender (Diakses 16
September 2015)
7. Juparman, D.T. (2012) Pergantian Jenis Kelamin Ditinjau Dari Pasal 77 UndangUndang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan Dihubungkan
Dengan Kedudukan Hukum Pelaku Ganti Jenis Kelamin [online] Sumber:
http://repository.fhunla.ac.id/?q=node/169 (Diakses 16 September 2015)
8. Pramesti, T.J.A. (2009) Prosedur Hukum Penggantian Jenis Kelamin [online] Sumber:
http://www.hukumonline.com/klinik/detail/lt5499758a512e5/prosedur-hukum-jikaingin-berganti-jenis-kelamin (Diakses 16 September 2015)
9. Rahmah, N.J.P.M. (2014) Isu-Isu Dalam Bioetika Transgender [online] Sumber:
http://nandajpmr.blogspot.co.id/2014/12/tugas-makalah-bioetika-transgender.html
(Diakses 26 September 2015)

43

10. Hanafiah, M.J. dan Amir, A. (2009) Etika Kedokteran & Hukum Kesehatan, Ed. 4,
Jakarta: EGC
11. University of Washington School of Medicine (2014) Ethics In Medicine [online].
Sumber: https://depts.washington.edu/bioethx/tools.html (Diakses 19 September 2015)
12. Sokol, D.K. (2008) The four quadrants approach to clinical ethics case analysis; an
application and review, J Med Ethics, vol. 34, p. 513-516
13. Hume, M.C. (2011) Sex, Lies, and Surgery: The Ethics of Gender Reassignment
Surgery, Res Cogitans, vol. 2, p. 37-48
14. William, J.R. (2009) World Medical Association: Medical Ethics Manual 2nd Edition.
Ferney-Voltaire Cedex: Ethics Unit of the World Medical Association
15. Hongladarom, S. (2012) Ethics of Sex Change Operation: When Biology Becomes a
Choice [congress] International Conference on Human Enhancement Technologies,
Singapura, 7-8 Juni
16. American Psychological Association (2015) Transgender [online]. Sumber:
http://www.apa.org/topics/lgbt/transgender.aspx (Diakses 21 September 2015)
17. Suryadi, I. (2010) Transgender [online]. Sumber:
http://www.academia.edu/5028772/Transgender (Diakses 21 September 2015)
18. Transgender Care (2015) Guidance/Transition [online]. Sumber:
www.transgendercare.com/guidance/ (Diakses 21 September 2015)
19. Partanto, P.A. dan Barry, M.D.A. (1994) Kamus Ilmiah Populer, Surabaya: Arkola
20. Mahjuddin (2005) Masailul Fiqhiyah Berbagai Kasus yang Dihadapi Hukum Islam
Kini, Jakarta: Kalam Mulia
21. Reniati, R. (2008) Makna Hidup Pada Waria [online]. Sumber:
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23324/6/Makna Hidup Pada Waria.pdf
(Diakses 20 September 2015)

44

22. Landn, M., Wlinder, J., dan Lundstrm, B. (1996) Prevalence, Incidence and Sex
Ratio of Transsexualism, Acta Psychiatr Scand, vol. 93, no. 4, p. 221-223
23. Clements-Nolle, K., Marx, R., Guzman, R., dan Katz, M. (2001) HIV Prevalence,
Risk Behaviors, Health Care Use, and Mental Health Status of Transgender Persons:
Implications for Public Health Intervention, American Journal of Public Health, vol.
91, p. 915-921
24. Xavier, J., Bobbin, M., Singer, T.B., dan Budd, E. (2005) A Needs Assessment of
Transgendered People of Color Living in Washington, DC International Journal of
Transgenderism, vol. 8, p. 31-47
25. Departemen Kesehatan Republik Indonesia (2009) Analisis Kecenderungan Perilaku
Berisiko Terhadap HIV Di Indonesia Laporan Survei Terpadu Biologi dan Perilaku
Tahun 2007, Jakarta: Subdit HIV/PMS Departemen Kesehatan
26. Nemoto, T., Operario, D., Keatley, J., dan Villegas, D. (2004) Social Context of HIV
Risk Behaviors among Male-To-Female Transgenders of Color, AIDS Care, vol. 16,
p. 724-735
27. Sausa, L., Keatley, J., dan Operario, D. (2007) Perceived Risks and Benefits of Sex
Work Among Transgender Women of Color in San Francisco, Archives of Sexual
Behavior
28. Xavier, J., Honnold, J.A., dan Bradford, J. (2007) The Health, Health-Related Needs,
and Lifecourse Experiences of Transgender Virginians, Richmond: Virginia
Department of Health
29. Fitzgibbons, R.P., Sutton, P.M., dan OLeary, D. (2009) The Psychopathology of Sex
Reassignment Surgery: Assessing Its Medical, Psychological, and Ethical
Appropriateness, The National Catholic Bioethics Center, Spring 2009, p. 97-125

45