Anda di halaman 1dari 11

UJI AKTIVITAS ANTIOKSIDAN EKSTRAK BUAH KEBEN

(Barringtonia asiatica)
Diana Fitriani Surtika
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran
Jalan Raya Bandung-Sumedang Km. 21 Jatinangor, Jawa Barat 45363
Email : dianafitriani8@gmail.com

ABSTRAK
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Selasa , 23 November 2015 di laboratorium
Bioteknologi Kelautan. Praktikum ini merupakan praktikum uji aktivitas antioksidan ekstrak
dan fraksi buah keben (Barringtonia asiatica). Buah keben (Barringtonia asiatica) adalah
sejenis pohon yang tumbuh di pantai-pantai wilayah tropika. Dalam hal ini fitokimia sebagai
disiplin ilmu yang membahas mengenai aneka ragam senyawa organik yang dibentuk oleh
tumbuhan..Tujuan dari dilakukannya uji aktivitas antioksidan ini adalah untuk mengetahui
besar aktivitas antioksidan yang terdapat pada Baringtonia Asiatica. Uji aktivitas antioksidan
ini dilakukan dengan menggunakan radikal bebas DPPH. Terdapat beberapa faktor yang
mempengaruhi aktivitas antioksidan adalah pengeringan bahan, pengecilan ukuran bahan,
dan proses ekstraksi, faktor fisik, fktor substrat, dan faktor fisikokimia Dalam pelaksaan
praktikum perlu diperhatikan prosedur dan pelaksanaan yang baik, hal tersebut akan
mempengaruhi keberhasilan dari praktikum ini.
Kata Kunci : Aktivitas,Antioksidan, Barringtonia asiatica

ABSTRACT
This practice was held on Tuesday, November 23, 2015 in the Laboratory of Marine
Biotechnology . This lab is a laboratory test the antioxidant activity of extracts and fractions
keben fruit ( Barringtonia asiatica ) . Keben fruit ( Barringtonia asiatica ) is a type of tree
that grows in tropical beach. In this case phytochemicals as a discipline that addresses a
variety of organic compounds formed by tumbuhan..Tujuan to test the antioxidant activity is
to determine the activity of the main antioxidant contained in baringtonia asiatica . Test of
antioxidant activity using DPPH free radicals. There are several factors that affect the
antioxidant activity dries the material , size reduction , and the process of extraction ,
physical factors , fktor substrate , and physicochemical factors need to be considered in the
implementation of practical procedures and implementation is good, it will affect the success
of this lab .
Keywords : Activity , Antioxidant, Barringtonia asiatica

PENDAHULUAN

(antioksidan

pemutus

rantai

reaksi

suatu

oksidasi) merupakan antioksidan yang

senyawa yang dapat menghambat atau

dapat bereaksi dengan radikal lipid dan

mencegah proses oksidasi senyawa lain

mengubahnya menjadi produk yang stabil.

yang diakibatkan oleh adanya suatu radikal

Antioksidan

bebas.

pencegah) merupakan antioksidan yang

Antioksidan

merupakan

Antioksidan

dapat

mencegah

sekunder

mengurangi

(antioksigen

terjadinya kerusakan pada sel terutama

dapat

kecepatan

pada bagian-bagian sel seperti DNA, sel

rangkaian reaksi pada tahap inisiasi dari

otak, jaringan kulit, dan sebagainya.

reaksi oksidasi.

Antioksidan dapat berupa enzim yang

Metode

yang

sering

terdapat dalam tubuh seperti superoksida

digunakan

dismutase,

antioksidantanaman obat adalah metode uji

glutation

peroksidase,

dan

untuk

paling

dari

katalase. Selain itu, antioksidan dapat pula

dengan

merupakan

DPPH.Tujuan

senyawa

non-enzim.

menguji

menggunakan
metode

aktivitas

radikal

bebas

ini

adalah

asupan

mengetahui parameter konsentrasi yang

makanan yaitu dari antioksidan alami yang

ekuivalenmemberikan 50% efek aktivitas

terkandung

Antioksidanini

didapat

dalam

antioksidan

sintetik

ditambahkan

pada

dari

makanan

maupun

antioksidan ( IC 50). Hal ini dapat dicapai

yang

sengaja

dengancara

suatu

makanan.

menginterpretasikan

eksperimental

dari

metode

data

tersebut.

DPPHmerupakan radikal bebas yang dapat

(Sunarni 2007).
Antioksidan berdasarkan sumber

bereaksi

dengan

senyawa

yang

perolehannya terdapat 2 macam, yaitu

dapatmendonorkan atom hidrogen, dapat

antioksidan alami dan buatan. Antioksidan

berguna

alami

aktivitasantioksidan

merupakan

ekstraksi

bahan

antioksidan
alami,

hasil

sedangkan

dalam

untuk
suatu

pengujian

komponen

tertentu

ekstrak.Karena

adanya

antioksidan buatan (sintetik) merupakan

elektron yang tidak berpasangan, DPPH

antioksidan yang diperoleh dari hasil

memberikanserapan kuat pada 517 nm.

sintesa reaksi kimia (Kochhar dan Rossell

Ketika elektronnya menjadi berpasangan

1990). Menurut Inglod dalam Gordon

olehkeberadaan penangkap radikal bebas,

(1994), menyatakan bahwa antioksidan

maka

dapat dibedakan menjadi dua berdasarkan

secarastokiometri sesuai jumlah elektron

mekanismenya yaitu antioksidan primer

yang diambil.

dan

sekunder.

Antioksidan

primer

absorbansinya

Keberadaan

menurun

senyawaantioksidan

dapat mengubah warna larutan DPPH dari


2

ungu

menjadi

kuning

(Dehpour,

Metode DPPH merupakan metode

Ebrahimzadeh, Fazel, dan Mohammad,

yang

2009). Perubahan absorbansiakibat reaksi

untuk pengujian aktivitas antioksidan seny

ini telah digunakan secara luas untuk

awa tertentu atau ekstrak tanaman (Koleva,

menguji

van

kemampuan

beberapamolekul

sebagai penangkap radikal bebas.

mudah,

Beek,

Evstatieva,

cepat,

Linssen,
2002;

dan

de

sensitif

Groot,

Prakash,

dan

Rigelhof,

danMiller, 2010).
BAHAN DAN METODE

100 ppm dan 10 ppm. Larutan DPPH

Alat dan Bahan


Adapun alat dan bahan yang digunakan

dengan konsentrasi 1 mM dibuat dengan

dalam praktikum adalah sebagai berikut.

Larutan ekstrak masing-masing diambil

Bahan yang digunakan dalam praktikum

4,5 ml dan direaksikan dengan 500 l

ini

Pelarut

larutan DPPH 1 mM dalam tabung reaksi.

Metanol, dan DPPH. Sedangkan alat yang

Kemudian, larutan blanko dibuat dengan

digunakan diantaranya adalah Tabung

mereaksikan 4,5 ml pelarut metanol

Reaksi,

Mikropipet,

dengan 500 l larutan DPPH 1 mM dalam

spektrofotometer UV-Visible , Inkubator,

tabung reaksi. Larutan dihomogenkan

vortex.

dengan

Metode Praktikum

diinkubasi pada suhu 37C selama 30

Dibuat larutan stok sampel 1000 ppm

menit.

dengan cara melarutkan 0,01 g ekstrak

menggunakan

dalam 10 ml pelarut. Variasi konsentrasi

Visible pada panjang gelombang 517 nm.

adalah

Ekstrak

Sampel,

RakTabung,

menggunakan kristal DPPH dalam pelarut.

menggunakan
Absorbansi

vortex.
diukur

spektrofotometer

Lalu
dengan
UV-

dibuat dengan cara pengenceran bertingkat


HASIL DAN PEMBAHASAN
Tabel 1. Tabel Perlakuan dan Hasil Uji Antioksidan
Kelompo
k
1
2
3
4
5

Konsentrasi
ekstrak (ppm)
Blanko
10000
7500
5000
2500
1000

Nilai
absorban

%Inhibisi

0,309
0,24
0,08
0,056
0,067

82,58
84,78
95,49
97
96,22

Konsentrasi
vitamin C (ppm)
100 (blanko)
90
80
70
60
50

Nilai
absorba
n

%Inhibis
i

0,054
0,07
0,057
0,061
0,078

96,95
96,05
96,79
96
95,6
3

6
7
8

500
250
100

0,062
0,029
0,012

Percobaan aktivitas antioksidan ini


dilakukan

96,5
98,31
99,32

40
30
20

internsitas

0,05
0,072
0,15

warna

disebabkan

97,2
95,77
91,54

oleh

menggunakan sampel biji

berkurangnya ikatan rangkap terkonjugasi

keben yang telah mendapatkan berbagai

pada DPPH, karena elektron pada radikal

macam perlakuan sebelumnya. Percobaan

DPPH berpasangan dengan atom hidrogen

ini dilakukan untuk mengetahui seberapa

dari antioksidan sehingga menjadi DPPH-

besar aktivitas antioksidan yang terdapat

pada sampel teh secara spektrofotometri

Kapasitas antioksidan dinyatakan dalam

dengan DPPH. Metode yang digunakan

Ascorbic

dalam pengujian aktivitas antioksidan

Capacity (AEAC). Nilai serapan larutan

adalah secara spektrofotometri dengan

DPPH sebelum dan sesudah penambahan

DPPH karena merupakan metode yang

ekstrak tersebut dihitung sebagai persen

sederhana,

inhibisi (% inhibisi) dengan rumus sebagai

mudah,

dan

menggunakan

sampel dalam jumlah yang sedikit dengan

yang

merupakan
acid

radikal

stabil.

Equivalent Antioxidant

berikut:

waktu yang singkat (Hanani 2005).


Dari tabel diatas dapat diketahui
nilai persen inhibisi dan nilai absorbansi
dari setiap perlakuan. Untuk kelompok 3
sendiri persen inhibisi dari konsentrasi
ekstrak sebesar 5000 ppm

Standar yang digunakan dalam

diperoleh

pengukuran aktivitas antioksidan adalah

95,49, dari nilai absorbansinya adalah

vitamin C karena yang telah diketahui

0,08. Sedangkan untuk perlakuan dengan

bahwa vitamin C adalah salah satu

vitamin C diperoleh nilai persen inhibisi

antioksidan sekunder yang memiliki fungsi

sebesar 96,79 dari nilai absorbansi 0,057.

menangkap

Konsentrasi vitamin C yang digunakan

terjadinya reaksi berantai, dan mencegah

kelompok 3 adalah sebanyak 70 ppm.

proses penuaan sel-sel tubuh sehingga

Menurut Prakash & Miller (2001),


adanya aktivitas antioksidan dari sampel
mengakibatkan perubahan warna pada

radikal

bebas,

mencegah

membuat fungsi tubuh tetap terjaga dengan


baik.
Berdasarkan

hasil

pengukuran

larutan DPPH yang semula berwarna ungu

tersebut dapat dilihat bahwa semakin besar

menjadi

konsentrasi standar maka hasil pengukuran

kuning

pucat.

Perubahan

absorbansi

semakin

ini

Berdasarkan hasil yang diperoleh

kecil

dari tabel diatas dapat diketahui bahwa

banyak

aktivitas antioksidan pada biji keben

antioksidan di dalam tubuh yang menyerap

diperoleh rata-rata aktivitas antiksidan

radikal bebas, dimana menunjukkan bahwa

pada vitamin C dalam sampel biji keben

semakin

yang

adalah 95,7375 mg vit C/100g. Perbedaan

mengandung antioksidan, maka pangan

nilai yang diperoleh, dapat disebabkan

tersebut

peredaman

oleh beberapa hal diantaranya pada tahap

terhadap radikal bebas dalam tubuh.

preparasi yang kurang sesuai, yaitu DPPH

Namun ada hasil absorbansi pada beberapa

tidak terlebih dahulu disimpan pada suhu

perlakuan konsentrasi yang tidak sesuai,

rendah sehingga dapat mempengaruhi hasil

hal ini menunjukkan bahwa hasil tidak

percobaan, juga kemungkinan adanya

menunjukkan kesesuaian dengan literatur

gangguan akibat terpapar cahaya yaitu

yang seharusnya.

ketika persiapan sampel uji tidak ditutup

menandakan
absorbansi,

kecil.

bahwa
maka

besar

semakin

membantu

disebabkan

semakin

bahan

Kesalahan
oleh

Hal

pangan

dalam

ini

kami
kesalahan

menduga
ketika

melakukan persiapan sampel sebelum


pembacaan

abosorbansi,

dimana

perubahan suhu dan pH larutan selama


pengukuran

dapat

mempengaruhi

zat

antioksidan yang terdapat di dalam standar.

atau disimpan ditempat yang gelap.


Menurut Ariyanto cit . Armala (2009),
tingkat kekuatan antioksidansenyawa uji
menggunakan

metode

DPPH

dapat

digolongkan menurut nilai IC 50,seperti


pada tabel berikut:

IC50 merupakan bilangan yang

bernilai 50- 100 ppm, sedang jika bernilai

menunjukkan konsentrasi ekstrak (ppm)

100-150 ppm, dan lemah jika nilai IC50

yang mampu menghambat proses oksidasi

bernilai 151-200 ppm (Anonim,2005)

sebesar 50%. Semakin kecil nilai IC50

Pada praktikum ini dilakukan uji

berarti semakin tinggi aktvitas antioksidan.

aktivitas antioksidan yang terkandung

Secara spesifik suatu senyawa dikatakan

didalam

sebagai antioksidan sangat kuat jika nilai

menggunakan radikal bebas DPPH. Tujuan

IC50 kurang dari 50 ppm, kuat untuk IC50

metode ini adalah mengetahui parameter

Barringtonia asiatica, dengan

konsentrasi yang ekuivalen memberikan

dari persentase inhibisiyang berbanding

50% efek aktivitas antioksidan ( IC50).

lurus dengan penambahan ppm. Semakin

Berdasar hasil perlakuan IC50

besar persentase inhibisi berarti semakin

diperoleh dari hasil bagi milai absorban

besar

konsentrasi

konsentrasi

ekstrak untuk menghambat proses oksidasi

vitamin C. Dan setelah dirata ratakan

yang dilakukan radikal bebas.Dari hasil

diperoleh hasil 1,45 yang mana hal

yang

tersebut menyatakan bahwa nilai IC50

bahwa

adalah sangat kuat.

memiliki kandungan

sampel

dan

Pada proses prosedur dilakukan


larutandari

ekstrak

yang

direaksikan

kemampuan

kandungan

ditampilkan
ekstrak

disimpulkan

Barringtonia

senyawa tersebut
flavonoid.

dapat

dalam

asiatica

antioksidan,
seperti

Namun

fenol

dan

berdasarkan

hasil

dengan larutan DPPH 1 nm menghasilkan

pratikum ada beberapa kelompok yang

perubahan

tidak sesuai, hal tersebut dikarenakan

warna

menjadi

kuning.

Karena adanya elektron yang tidak berpas

kurangnya

angan.

praktikum ataupun terdapat kesalah saat

Ketika

elektronnya

menjadi

berpasangan oleh keberadaan penangkap


radikal

bebas,

maka

absorbansinya

ketelitian

saat

dilakukan

melakukan praktikum.
Aktivitas

antioksidan

diukur

menurun secara stokiometri sesuai jumlah

sebagai penurunan serapan larutan DPPH

elektron

Keberadaan

akibat adanya penambahan sampel. Nilai

senyawa antioksidan dapat mengubah

serapan larutan DPPH terhadap sampel

warna larutan DPPH dariungu menjadi

dihitung sebagai persen inhibisi setelah 30

kuning (Dehpour, Ebrahimzadeh, Fazel,

menit (% inhibisi). Dari data pengukuran

dan Mohammad, 2009).

nilai absorbansi pada panjang gelombang

yang

diambil.

Absorbansi

diukur

setelah 30 menit dapat dianalisis pengaruh

dengan spektrofotometer UV-visible. Pada

konsentrasi sampel dengan persentase

tabel hasil pengamatan dan grafik di atas

inhibisi seperti dinyatakan pada gambar

dapat

berikut.

dilihat

larutan

bahwa

ini

ekstrak

keben

memiliki kandungan antioksidan, terlihat

Grafik Aktivitas Antioksidan pada Ekstrak Baringtonia asiatica


150
100
Inhibisi (%)

f(x) = - 0x + 99.12

50
0
0

5000

10000

15000

Kosentrasi (ppm)

Dari Gambar 1 dapat dilihat adanya

telah

terjadinya

penangkapan

radikal

penurunan nilai absorbansi DPPH yang

DPPH oleh sampel. Dengan penangkapan

diberi sampel terhadap kontrol pada setiap

radikal tersebut mengakibatkan ikatan

kenaikan konsentrasi. Penurunan nilai

rangkap diazo pada DPPH berkurang

absorbansi DPPH mempunyai arti bahwa

sehingga terjadinya penurunan absorbansi.

Grafik Aktivitas Antioksidan pada Vitamin C


100
f(x) = 0.05x + 93.22

95
Inhibisi (%)

90
85
10 20 30 40 50 60 70 80 90 100
Kosentrasi (ppm)

Dan

berikut

diatas

merupakan

Adapun

beberapa

grafik aktivitas antioksidan pada Vitamin

mempengaruhi

aktivitas

C. Namun dapat kita lihat bahwa grafik

adalah pengeringan bahan, pengecilan

mengalami kenaikan dan penurunan pada

ukuran bahan, dan proses ekstraksi. Selain

persen inhibisi. Ketidak sesuaian tersebut

itu, faktor lainnya adalah :

dapat terjadi dikarenakan adanya kesalah

faktor

yang

antioksidan

a. Faktor fisik :

pada saat pelaksaan praktikum atau karena

Tekanan oksigen yang tinggi, luas kontak

faktor lainnya.

dengan
radiasi

oksigen,

pemanasan

menyebabkan

ataupun

peningkatan
7

terjadinya rantai inisiasi dan propagasi dari

c.

Faktor fisikokimia :

reaksi oksidasi dan menurunkan aktivitas


antioksidan

yang

ditambahkan

dalam

bahan.
b.

Dalam bahan pangan dan sistem


biologi, sifat hidrofobik dan hidrofilik
senyawa

antioksidan

sangat

Faktor substrat :

mempengaruhi efektifitas antioksidatifnya.

Sifat antioksidan dalam lipida atau

Semakin polar antioksidan maka akan

dalam pangan merupakan sistem yang

lebih aktif dalam lipida murni, sedangkan

dependent. Tingkat inisiasi dan propagasi

antioksidan non polar lebih efektif dalam

merupakan fungsi dari tipe dan tingkat

substrat

lipida tidak jenuh dan secara signifikan

(Pokorny etal. 2001).

yang

polar

seperti

emulsi

mempengaruhi aktivitas antioksidan.


SIMPULAN DAN SARAN
Biji Keben Barringtonia asiatica
positif

mengandung

Hal

inhibitor kemampuan oksidasi darimolekul

tersebut diperoleh dari hasil perlakuan

radikal bebas. Saran untuk pelaksanaan

praktikum. Nilai absorbansi berbanding

praktikum ini praktikan harus benar benar

terbalik dengan nilai inhibisi, semaik kecil

teliti

nilai absorbansi maka semakin besar nilai

praktikum. Hal tersebut dikarenakan kita

inhibisinya.Terdapat beberapa faktor yang

menggunakan beberapa zat berbahaya

mempengaruhi

antioksidan

seperti DPPH yang merupakan radikal

adalah pengeringan bahan, pengecilan

bebas. Selain itu berdasar hasil praktikum

ukuran bahan, dan proses ekstraksi, faktor

yang dilaksanakan didapatkan hasil yang

fisik, fktor substrat, dan faktor fisikokimia.

tidak sesuai. Hal tersebut dikarenakan

Untuk

kurang

aktivitas

mengetahui

antioksidan

kemampuan

pada

dapatdilakukan
antioksidan

antioksidan.

molekul antioksidan berperan sebagai

suatu

dengan

dengan

hati

hati

hatinya

saat

melakukan

praktikan

saat

melakukan praktikum. Oleh karena itu

uji

kehati hatian dan ketelitian praktikum akan

Proses

mempengaruhi hasil dari praktikum itu

penangkalan

radikal

bebas

oleh

antioksidan

dilakukan

dengan

cara

DAFTAR PUSTAKA

hati

bahan

metode

DPPH.

dan

sendiri.

Belleville-Nabet

F.

1996.

Zat

Gizi

Antioksidan Penangkal Senyawa


8

Radikal dalam Sistem Biologis.

(Hylocereus undatus (Haw.) Britt.

Prosiding

& Rose). Universitas Jember

Simposium

Senyawa

Radikal dan Sistem Pangan: Reaksi

Prakash,

A.dkk.

2010.

Biomolekuler, Dampak Terhadap

Antioxidant Activity.

Kesehatan dan Penangkalan Eds:

www.medallionlabs.com, diakses

Zakaria FR et al. Pusat Studi

tanggal 30 November 2015

Pangan dan Gizi, IPB, Bogor.


Winarsih H. 2007. Antioksidan Alami dan
Radikal Bebas. Yogyakarta (ID):
Kanisius.
Umayah, Evi. 2007.

Hernani,

Mono

Rahadjo.,

,http://

(2005),

Tanaman Berkhasiat Antioksidan.


Penebar Swadaya.Jakarta.
Robinson. T. (1991), Kandungan Kimia

Uji Aktivitas

Antioksidan Ekstrak Buah Naga

OrganikvTumbuhan

Tinggi.

Terjemahan KosasihPadmawinata.
Penerbit ITB, Bandung.

LAMPIRAN

10

Methanol yang digunakan


sebagai pelarut sampel

Mikropipet yang digunakan


untuk mengambil sampel

Penuangan larutan kedalam


kuvet untuk dilihat
absorbansinya

Pengambilan radikal bebas

Spektrofotometer yang
digunakan

Pengambilan radikal bebas

Larutan dalam kuvet untuk selanjutnya dihitung


absorbansinya dengan menggunakan
spektofotometer

Anda mungkin juga menyukai