Anda di halaman 1dari 9

ASPEK MEDIKOLEGAL TERMINASI KEHAMILAN

A. Pendahuluan

B. Terminasi Kehamilan

C. Aspek Mediolegal Terminasi Kehamilan

Prosedur medikolegal adalah tata cara atau prosedur penatalaksanaan dan berbagai aspek

yang berkaitan dengan pelayanan kedokteran untuk kepentingan hukum. Secara garis besar

prosedur medikolegal mengacu kepada peraturan perundang undangan yang berlaku serta pada

sumpah dokter dan etika kedokteran. 1

Abortus telah dilakukan oleh manusia selama berabad-abad, tetapi selama itu belum ada

undang - undang yang mengatur mengenai tindakan abortus. Peraturan mengenai hal ini pertama

kali dikeluarkan pada tahun 4M di mana telah ada larangan untuk melakukan abortus. Sejak itu

maka undang-undang mengenai abortus terus mengalami perbaikan, apalagi dalam tahun-tahun

terakhir ini di mana mulai timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintah di

berbagai negara di dunia terhadap tindakan abortus. 1

Sejak tahun 1998, 20 negara telah membuat perubahan substansial dalam undang-undang

aborsi mereka. Enam belas negara ditambahkan indikasi yang memindahkan meraka dari satu

kategori kami ke kategori lainnya, seperti pemerkosaan yang terbukti, inses atau penurunan nilai

janin sebagai alasan untuk aborsi legal. Sebaliknya, hanya dua menambahkan pembatasan yang

memindahkan mereka dari satu kategori ke kategori lain. Di dua Negara dimana undang-undang

aborsi yang dilakukan pada tingkat negara, liberalisasi signifikan terjadi di beberapa negara

bagian. 1

Tabel 1 Negara, oleh pembatasan hukum aborsi, menurut wilayah, Agustus 2008

Tabel 1 Negara, oleh pembatasan hukum aborsi, menurut wilayah, Agustus 2008

Hukum atau peraturan mengenai aborsi di setiap Negara berbeda beda sesuai dengan

undang undang yang berlaku di Negara tersebut. Bahkan pada suatu Negara tertentu terdapat

hukum yang berbeda sesuai dengan Negara bagiannya. 1

Di Meksiko, di mana undang-undang aborsi ditentukan oleh negara bagian, beberapa

perkembangan legislatif negara adalah signifikan. Pada tahun 2007, Meksiko Distrik Federal

(Mexico City) mengizinkan aborsi tanpa pembatasan untuk alasan selama trimester pertama

kehamilan. 1

Ekuador menggunakan kode kesehatan yang baru pada tahun 2006 untuk tujuan yang

sama. Kode kewenangan kesehatan layanan untuk melakukan aborsi yang legal di bawah hukum

pidana

(ancaman

terhadap

kehidupan

atau

kesehatan

dan

kehamilan

akibat

pemerkosaan terhadap seorang wanita cacat mental), dan melarang mereka untuk menolak

merawat wanita yang memiliki aborsi spontan, seperti didiagnosa oleh seorang profesional. 1

Pada tahun 2005, di Brazil, yang memungkinkan aborsi hanya untuk menyelamatkan

nyawa wanita hamil dan dalam kasus kehamilan akibat perkosaan, Kementerian Kesehatan

mengadopsi peraturan rinci menjelaskan untuk dokter dan untuk wanita hamil. Dibutuhkan

persyaratan prosedural untuk melakukan aborsi legal. 1

Akhirnya, dalam sebuah langkah ke arah pembatasan, Mahkamah Agung Amerika

Serikat, dalam putusan 2007, menjunjung tinggi Lahir Partial - Aborsi Ban Act of 2003,29

Meskipun definisi hukum terhadap istilah non medis "aborsi kelahiran parsial" tidak jelas dan

berpotensi jauh jangkauannya, Mahkamah Agung menafsirkan larangan hanya berlaku sempit

untuk prosedur trimester kedua tunggal, utuh pelebaran dan evakuasi. Weighing’s Kongres

berminat melindungi kehidupan janin terhadap kesehatan perempuan untuk pertama kalinya,

Pengadilan menguatkan larangan meskipun kurangnya pengecualian untuk menjaga kesehatan

Pada awalnya di Nepal, tindakan aborsi merupakan sebuah kejahatan criminal kecuali

apabila melakukannya untuk kesejahteraan. Reformasi hukum aborsi datang sebagai bagian

perundang-undangan

yang

komprehensif

yang

bertujuan

mengakhiri

diskriminasi

terhadap

perempuan dalam kode hukum nasional negara itu. Kesadaran public yang sangat tinggi di negara

itu terhadap kematian ibu, serta fakta bahwa perempuan sedang dipenjara untuk melakukan aborsi

ilegal,

menciptakan tekanan pada parlemen untuk meliberalisasi hukum. Berdasarkan hukum

yang diamandemen, aborsi kini diizinkan atas permintaan wanita selama 12 minggu pertama

kehamilan, dan setelah itu dalam kasus pemerkosaan atau inses atau gangguan janin, atau jika ada

ancaman terhadap kehidupan perempuan atau fisik atau mental kesehatan. Kode hukum larangan

aborsi dilakukan untuk tujuan pemilihan jenis kelamin. 1

Di Thailand, berdasarkan hukum pidana, aborsi dibolehkan pada dua situasi yaitu ketika

"diperlukan"

untuk

kesehatan

pelanggaran seksual. 1

wanita

hamil

dan

saat

kehamilan

adalah

hasil

dari

suatu

Di Australia, Aborsi adalah sesuatu yang legal apabila dilakukan oleh praktisi medis

ditempat yang telah disetujui, sesuai dengan hal hal yang diatus dalam perundang undangan

kesehatan ibu. 1

Di Portugal dan Swiss, Hukum aborsi tidak memiliki pembatasan sampai minggu ke-12

kehamilan dan selanjutnya dalam kasus gangguan janin, saat kehamilan yang dihasilkan dari

kejahatan

terhadap

kebebasan

seksual

atau

penentuan

nasib

sendiri,

atau

bila

kehamilan merupakan ancaman bagi kehidupan wanita atau fisik atau kesehatan mental. 1

Pada tahun 2001, Perancis mengambil langkah-langkah untuk membuat aborsi lebih

mudah diakses dengan memperpanjang kehamilan periode di mana aborsi legal tanpa batasan

untuk alasan dari 12 minggu sampai 14 minggu. Hal ini juga dihapus persyaratan izin orang tua

untuk anak-anak, yang membutuhkan sebaliknya bahwa anak-anak harus didampingi oleh orang

dewasa yang mereka pilih. 1

Di Indonesia, Aborsi yang sudah diatur dalam KUHP sudah sangat memadai dan bahkan

sangat serius dalam upaya penegakan tindak pidana aborsi. Perundang undangan pidana di

Indonesia mengenai aborsi mempunyai status hukum yang “illegal” sifatnya karena melarang

aborsi

tanpa

kecualian.

Dengan

demikian,

KUHP

tidak

membedakan

abortus

provocatus

criminalis dan abortus provocatus medicinalis/therapeutic. Dapat diketahui bahwa apapun alasan

aborsi itu dilakukan tetap melanggar hukum yang berlaku di Indonesia. 2

Perundang undangan pidana di Indonesia yang mengatur aborsi tanpa pengecualian

sangat meresahkan dokter atau ahli medis yang bekerja di Indonesia. Tujuan ahli medis yang

utama

untuk

menyelamatkan

nyawa

pasien

tidak

akan

tercapai

karena

jika

ahli

medis

menggugurkan kandungan untuk keselamatan ibu maka ahli medis tersebut diancam sanksi

pidana, tetapi jika ahli medis tidak melakukan hal itu maka nyawa pasien dalam hal ini ibu dapat

terancam kematian, hal ini merupakan perdebatan didalam hati nurani medis khususnya dan

masyarakat pada umumnya. Sehingga ditinjau dari aspek hukum, pelarangan abortus tidak

bersifat mutlak. Abortus buatan atau abortus provokatus dapat digolongkan ke dalam dua

golongan yakni: 2

1. Abortus buatan legal

Yaitu pengguguran kandungan yang dilakukan menurut syarat dan cara-cara yang dibenarkan

oleh undang-undang. Alasan yang mendasar untuk melakukannya adalah untuk menyelamatkan nyawa

ibu. Abortus atas indikasi medik ini diatur dalam Undang Undang Republik Indonesia Nomor 36 Tahun

2009 tentang Kesehatan: 2

1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi

2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikan berdasarkan:

a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu

dan/ atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/ atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat

diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau

b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan

3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/

atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh

konselor yang kompeten dan berwenang.

4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan, sebagaimana dimaksud

pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

PASAL 76: 2

Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:

a. sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari petama haid terakhir, kecuali dalam

hal kedaruratan medis;

b. oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang

ditetapkan oleh menteri;

c. dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;

d. dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan

e. penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

PASAL 77:

Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal

75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan

dengan norma agama dan ketentuan peraturan perundang-undangan. 2

2. Abortus buatan illegal (Abortus Provocatus Criminalis)

Yaitu pengguguran kandungan yang tujuannya selain untuk menyelamatkan atau menyembuhkan

si ibu, dilakukan oleh tenaga yang tidak kompeten serta tidak memenuhi syarat dan cara-cara yang

dibenarkan oleh undang-undang. Abortus golongan ini sering juga disebut dengan abortus provocatus

criminalis karena di dalamnya mengandung unsur kriminal atau kejahatan.11 Beberapa pasal yang

mengatur abortus provocatus dalam Kitab Undang-undang Hukum Pidana (KUHP): 3

PASAL 299 1) Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruh supaya

diobati, dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan, bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat

digugurkan, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak empat

pulu ribu rupiah. 2) Jika yang bersalah, berbuat demikian untuk mencari keuntungan, atau menjadikan

perbuatan tersebut sebagai pencaharian atau kebiasaan atau jika dia seorang tabib, bidan atau juru obat,

pidananya

dapat

ditambah

sepertiga.

3)

Jika

yang

bersalah

melakukan

kejahatan

tersebut

dalam

menjalankan pencaharian, maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencaharian. 3

PASAL 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau

menyuruh orang lain, untuk itu, diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. 4

PASAL 347 1) Barang siapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang

wanita tanpa persetujuan, diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun. 2) Jika perbuatan

PASAL

348

1)

Barang siapa

dengan

sengaja

menggugurkan

atau

mematikan

kandungan

seseorang wanita dengan persetujuannya, diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam

bulan. 2) Jika perbuatan tersebut mengakibatkan matinya wanita tersebut, dikarenakan pidana penjara

paling lama tujuh tahun. 4

PASAL 349 Jika seorang dokter, bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang

tersebut pasal 346, ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan

dalam pasal 347 dan 348, maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengn sepertiga

dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencaharian dalam mana kejahatan dilakukan. 3

PASAL

535

Barang

siapa

secara

terang-terangan

mempertunjukkan

suatu

sarana

untuk

menggugurkan kandungan, maupun secara terang terangan atau tanpa diminta menawarkan, ataupun

secara terang-terangn atau dengan menyiarkan tulisan tanpa diminta, menunjuk sebagai bias didapat,

sarana atau perantaraan yang demikian itu, diancam dengan kurungan paling lama tiga bulan atau denda

paling banyak empat ribu lima ratus rupiah. 3

DAFTAR PUSTAKA

1. Boland R, Katzive L. Developments in Laws on Induced Abortion:19982007. New York :

International Family Planning Perspective Vol. 34 No. 3. 2008 ; 110-120.

2. Juita SR, Heryanti, BR. Perlindungan Hukum Pidana Pada Korban Perkosaan Yang Melakukan

Abortus Provokatus. Jakarta : PT. Gramedia Widiasarana Indonesia; 2002.

3. Nainggolan LH. Aspek Hukum Terhadap Abortus Provokatus dalam Perundang undangan di

Indonesia. Journal Equality Vol. 11 no. 2; 2006.

4. Budhiartie A. Legalisasi Abortus Provokatus Karena Pemerkosaan Sebagai Implementasi Hak

Asasi Perempuan. Jurnal Penelitian Universitas Jambi Seri Humaniora Vol. 13 No. 2; 2011.