Anda di halaman 1dari 31

BAB I

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah


Bibir memerlukan perawatan khusus karena kulit di bagian tersebut sangat halus dan
peka. Kulit di bagian bibir sangat tipis, karena itu bibir terlihat merah. Kulit bibir
mempunyai stratum corneum yang sangat tipis dan dermisnya tidak mengandung kelenjar
keringat maupun kelenjar minyak, sehingga bibir mudah kering dan pecah-pecah terutama
dalam udara yang dingin dan kering. Hanya air liur yang merupakan pembasah alami untuk
bibir.
Cuaca dingin juga bisa membuat bibir makin kering. Selain itu, ada faktor lain yang
memengaruhi kekeringan bibir. Salah satunya adalah dehidrasi. Bibir kering yang
disebabkan oleh dehidrasi tidak bisa dilembapkan dengan air liur. Alasannya, kandungan
air liur sebagian besar terdiri dari air, lalu elektrolit, enzim dan komponen antibakterial
sehingga tidak dapat mengurangi penguapan kadar air dari bibir. Bibir kering adalah
pertanda kekurangan nutrisi dan sindrom Sjgren. Sindrom itu adalah penyakit autoimun
yang menyerang kelenjar penghasil kelembapan, yang umum menyerang perempuan. Bibir
kering bukanlah satu-satunya tanda dari sindrom Sjgren. Mata dan hidung kering, serta
radang persendian juga menjadi indikator. Meski biasanya tidak berbahaya, bibir yang
kering bisa diperparah karena kontak dengan faktor-faktor luar. Bibir kering bisa menjadi
pecah-pecah karena terkena sesuatu, seperti pasta gigi, pewarna bibir atau minyak dan
bumbu makanan. Akibatnya, kulit bibir akan semakin kering dan bahkan bisa menjadi
merah karena meradang.
Untuk dapat meningkatkan, mengoreksi dan memperbaiki penampilan dari bibir maka
digunakan kosmetik perias bibir. Salah satunya adalah lipstik. Lipstik merupakan pewarna
bibir yang dibuat dengan tujuan untuk menyembunyikan bibir yang kurang baik atau
menyamarkannya, selain itu juga dapat digunakan sebagai pelindung bibir dari kekeringan.
Alternatif lain untuk melindungi bibir dari cuaca yang panas, adalah dengan mengoleskan
lip balm. Selain dapat mencegah, penggunaan lip balm juga mampu mengatasi bibir kering
dan pecah-pecah. Lip balm yang dibuat adalah lip balm yang mengandung pelembab dan
tabir surya yang sangat diperlukan agar bibir terhindar dari kekeringan.
1

Perbedaan lip balm dengan lipstik adalah lip balm mengandung sedikit atau tanpa zat
pewarna. Selain itu, berdasarkan tujuan pemakaiannya, lip balm dapat dikategorikan
sebagai kosmetika, sebab fungsinya adalah melindungi bibir dari kekeringan dan
melembabkan bibir yang pecah-pecah. Lipstik sendiri dikategorikan sebagai kosmetika
dekoratif. Kekhasan kosmetik dekoratif adalah bahwa kosmetik ini bertujuan semata-mata
untuk mengubah penampilan, yaitu agar tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan
pada kulit tertutupi. Kosmetik dekoratif tidak perlu menambah kesehatan kulit. Kosmetik
ini dianggap memadai jika tidak merusak kulit.
Oleh karena itu, kami sebagai bagian dari R&D (Research & Development) ingin
menyusun rancangan formulasi, manufaktur sediaan, evaluasi dan rancangan kemasan
sediaan lipstik dengan UV protection dan pelembab + lip balm beraroma dan berasa untuk
pelembab bibir beraroma dan berasa.
1.2. Rumusan Masalah
Bagaimanakah cara menyusun dan melaksanakan rancangan formula, manufaktur sediaan,
evaluasi, dan rancangan kemasan lipstik dengan UV protection dan pelembab + lip balm
beraroma dan berasa untuk pelembab bibir beraroma dan berasa ?
1.3. Tujuan
Menyusun dan melaksanakan rancangan formula, manufaktur sediaan, evaluasi dan
rancangan kemasan sediaan lipstik dan lip balm yang memenuhi persyaratan mutu
(quality), aman (safety), efektif (effective), stabil (stability), dan dapat diterima
(acceptable).
1.4. Manfaat
Memahami kerangka konseptual pembuatan sediaan lipstik dengan UV protection dan
pelembab + lip balm beraroma dan berasa
Mengetahui dan mampu melaksanakan pembuatan sediaan kosmetika yang memenuhi
persyaratan mutu, aman, efektif, stabil dan dapat diterima
Mengetahui dan mampu melaksanakan evaluasi sediaan kosmetika yang memenuhi
persyaratan mutu, aman, efektif, stabil dan dapat diterima

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1.

Tinjauan Mengenai Kosmetika


A. Pengertian Kosmetik
Menurut Wall dan Jellinek (1970), kosmetik dikenal manusia sejak berabad-abad
yang lalu. Pada abad ke-19, pemakaian kosmetik mulai mendapat perhatian, yaitu selain

untuk kecantikan juga untuk kesehatan. Perkembangan ilmu kosmetik serta industrinya
baru dimulai secara besar-besaran pada abad ke-20 (Tranggono dan Latifah, 2007).
Kosmetik berasal dari kata kosmein (Yunani) yang berarti berhias. Bahan yang
dipakai dalam usaha untuk mempercantik diri ini, dahulu diramu dari bahan-bahan alami
yang terdapat di sekitar. Sekarang kosmetik dibuat tidak hanya dari bahan alami tetapi
juga bahan sintetis untuk maksud meningkatkan kecantikan (Wasitaatmadja, 1997).
Sejak semula kosmetologi merupakan salah satu ilmu pengobatan atau ilmu
kesehatan, sehingga para pakar kosmetik dahulu adalah juga pakar kesehatan ; seperti
para tabib, dukun, bahkan penasihat keluarga istana. Dalam perkembangannya kemudian,
terjadi pemisahan antara kosmetik dan obat, baik dalam hal jenis, efek, efek samping, dan
lainnya (Wasitaatmadja, 1997).
Kosmetik adalah sediaan atau paduan bahan yang siap untuk digunakan pada bagian
luar badan seperti epidermis, rambut, kuku, bibir, gigi, dan rongga mulut antara lain
untuk membersihkan, menambah daya tarik, mengubah penampakan, melindungi supaya
tetap dalam keadaan baik, memperbaiki bau badan tetapi tidak dimaksudkan untuk
mengobati atau menyembuhkan suatu penyakit (Tranggono dan Latifah, 2007).
B. Penggolongan Kosmetik
Penggolongan kosmetik terbagi atas beberapa golongan, yaitu :
a. Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI, kosmetik dibagi ke dalam 13 preparat
(Tranggono dan Latifah, 2007) :
1. Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dan lain-lain.
2. Preparat untuk mandi, misalnya sabun mandi, bath capsule, dan lain-lain.
3. Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye shadow, dan lain-lain.
4. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, toilet water, dan lain-lain.
5. Preparat untuk rambut, misalnya cat rambut, hair spray, dan lain-lain.
6. Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut, dan lain-lain.
7. Preparat make-up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstik, dan lain-lain.
8. Preparat untuk kebersihan mulut, misalnya pasta gigi, mouth washes, dan lainlain.
9. Preparat untuk kebersihan badan, misalnya deodoran, dan lain -lain.
10. Preparat kuku, misalnya cat kuku, losion kuku, dan lain-lain.
11. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, pelindung, dan lain-lain.
12. Preparat cukur, misalnya sabun cukur, dan lain-lain.
13. Preparat untuk suntan dan sunscreen, misalnya sunscreen foundation, dan lainlain.
b. Penggolongan kosmetik menurut cara pembuatan (Tranggono dan Latifah, 2007)
sebagai berikut :
4

1. Kosmetik modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern (termasuk
di antaranya adalah kosmedika).
2. Kosmetik tradisional
Betul-betul tradisional, misalnya mangir, lulur, yang dibuat dari bahan alam
dan diolah menurut resep dan cara yang turun-temurun.
Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar tahan
lama.
Hanya namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benar-benar
tradisional dan diberi warna yang menyerupai bahan tradisional.
c. Penggolongan kosmetik menurut kegunaannya bagi kulit :
1. Kosmetik perawatan kulit (skin care cosmetics) Jenis ini digunakan untuk
merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di dalamnya :
Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser), misalnya sabun, cleansing
cream, cleansing milk, dan penyegar kulit (freshener).
Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya moisturizer
cream, night cream, anti wrinkle cream.
Kosmetik pelindung kulit, misalnya sunscreen cream dan sunscreen
foundation, sunblock cream / lotion.
Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling), misalnya
scrub cream yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi sebagai
pengamplas (abrasiver).
2. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Jenis ini diperlukan untuk merias dan menutup cacat pada kulit sehingga
menghasilkan penampilan yang lebih menarik serta menimbulkan efek psikologis
yang baik, seperti percaya diri (self confidence). Dalam kosmetik riasan, peran zat
warna dan pewangi sangat besar. Kosmetik dekoratif terbagi menjadi 2 golongan
(Tranggono dan Latifah, 2007).
d. Berdasarkan bahan dan penggunaannya serta maksud evaluasi, produk kosmetik
dibagi menjadi 2 golongan (Ditjen POM, 1985) :
1. Kosmetik golongan I adalah :
Kosmetik yang digunakan untuk bayi
Kosmetik yang digunakan di sekitar mata, rongga mulut dan mukosa lainnya
Kosmetik yang mengandung bahan dengan persyaratan kadar dan penandaan
Kosmetik yang mengandung bahan dan fungsinya belum lazim serta belum
diketahui keamanan dan kemanfaatannya
2. Kosmetik golongan II adalah kosmetik yang tidak termasuk ke dalam golongan
I.
5

C. Persyaratan Kosmetik
Kosmetik yang diproduksi dan atau diedarkan harus memenuhi persyaratan sebagai
berikut :
a. Menggunakan bahan yang memenuhi standar dan persyaratan mutu serta persyaratan
lain yang ditetapkan.
b. Diproduksi dengan menggunakan cara pembuatan kosmetik yang baik.
c. Terdaftar pada dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan RI
(BPOM RI).
D. Kosmetik Dekoratif
Kekhasan kosmetik dekoratif adalah bahwa kosmetik ini bertujuan semata-mata
untuk mengubah penampilan, yaitu agar tampak lebih cantik dan noda-noda atau kelainan
pada kulit tertutupi. Kosmetik dekoratif tidak perlu menambah kesehatan kulit. Kosmetik
ini dianggap memadai jika tidak merusak kulit (Tranggono dan Latifah, 2007).
E. Persyaratan Kosmetik Dekoratif
Persyaratan untuk kosmetik dekoratif antara lain adalah (Tranggono dan Latifah, 2007) :
a.
b.
c.
d.
e.

Warna yang menarik


Bau harum yang menyenangkan
Tidak lengket
Tidak menyebabkan kulit tampak berkilau
Tidak merusak atau mengganggu kulit

F. Pembagian Kosmetik Dekoratif


Kosmetik dekoratif dapat dibagi dalam dua golongan, yaitu (Tranggono dan Latifah,
2007) :
1. Kosmetik dekoratif yang hanya menimbulkan efek pada permukaan dan
pemakaiannya sebentar, misalnya bedak, lipstik, pemerah pipi, eye shadow, dan
lain-lain.
2. Kosmetik dekoratif yang efeknya mendalam dan biasanya dalam waktu lama
baru luntur, misalnya kosmetik pemutih kulit, cat rambut, dan pengeriting rambut.
G. Peranan Zat Pewarna dalam Kosmetik Dekoratif
Dalam kosmetik dekoratif, zat pewarna memegang peranan sangat besar. Zat warna untuk
kosmetik dekoratif berasal dari berbagai kelompok :
1. Zat warna alam yang larut
Zat ini sekarang sudah jarang dipakai dalam kosmetik. Sebetulnya dampak zat alam
ini pada kulit lebih baik dari pada zat warna sintetis, tetapi kekuatan pewarnaannya
6

relatif lemah, tak tahan cahaya, dan relatif mahal. Misalnya carmine, zat warna
merah yang diperoleh dari tubuh serangga Coccus cacti yang dikeringkan, klorofil
daun-daun hijau, henna yang diekstraksi dari daun Lawsonia inermis, carotene (zat
warna kuning).
2. Zat warna sintetis yang larut
Zat warna sintetis pertama kali disintetis dari anilin, yang berfungsi sebagai produk
awal bagi kebanyakan zat warna. Sifat-sifat zat warna sintetis yang perlu diperhatikan
antara lain :
a. Intensitas harus kuat sehingga jumlah sedikit pun sudah memberi warna
b. Harus bisa larut dalam air, alkohol, minyak, atau salah satunya. Bahan larut air
untuk emulsi O/W dan larut minyak untuk emulsi W/O. Bahan larut air hampir
selalu juga larut dalam alkohol encer dan gliserol. Bahan larut minyak juga larut
dalam benzena, karbon tetraklorida, dan pelarut organik lainnya, kadang-kadang
juga dalam alkohol tinggi. Tidak pernah ada zat warna yang sekaligus larut dalam
air dan minyak
c. Sifat yang berhubungan dengan pH. Beberapa zat warna hanya larut dalam pH
asam, lainnya hanya dalam pH alkalis
d. Kelekatan pada kulit atau rambut. Daya lekat berbagai zat warna pada kulit dan
rambut berbeda-beda. Terkadang kita memerlukan daya lekat besar seperti cat
rambut, namun terkadang kita menghindarinya misalnya untuk pemerah pipi
e. Toksisitas. Bahan toksis harus dihindari, tapi ada derajat keamanannya
3. Pigmen alam
Pigmen alam adalah pigmen warna pada tanah yang memang terdapat secara alamiah,
misalnya aluminium silikat, yang warnanya tergantung pada kandungan besi oksida
atau mangan oksidanya (misalnya kuning, coklat, merah bata, coklat tua). Zat warna
ini murni, sama sekali tidak berbahaya, penting untuk mewarnai bedak, krim dan
make-up sticks. Warnanya tidak seragam, tergantung asalnya, dan pada pemanasan
kuat menghasilkan pigmen warna baru.

2.2.

Tinjauan tentang Perias Bibir


Bibir memerlukan perawatan khusus karena kulit di bagian tersebut sangat halus dan
peka. Karakteristik dari bibir adalah sangat tipisnya lapisan keratin. Papila

pada

dermis

akan disuplai dengan baik dengan darah dan dialirkan menuju ke permukaan bibir sehingga
dapat memberikan pewarnaan yang karakteristik pada bibir. Karakteristik yang lain adalah
dengan tidak terdapat adanya kelenjar keringat dan
Untuk dapat meningkatkan, mengoreksi dan

sangat sedikit kelenjar sebaseus.

memperbaiki penampilan dari bibir maka

digunakan kosmetik perias bibir. Perias bibir dalam bentuk stik harus memenuhi persyaratan
mutu yang meliputi :
a. Titik leleh (melting point)
Titik leleh perlu diukur untuk menjaga stabilitas lipstik selama penyimpanan,
pemasaran dan penggunaannya. Titik leleh lipstik yang diukur dengan menggunakan
metode capillary tube, berkisar pada suhu 60C atau lebih.
b. Titik patah (breaking point)
Breaking point berguna untuk menentukan kualitas kekuatan relatif dari berbagai
macam lilin. Lipstik yang terbuat dari lilin lebih tidak mudah patah daripada lipstik yang
terbuat dari lemak. Breaking point dilakukan secara horisontal dalam sebuah pipa yang
sesuai inci dari dasar dan diberi beban yang berubah-ubah. Percobaan ini dilakukan
pada suhu 25C dan beban ditambah setiap 30 detik (pada umumnya 10 g) sampai
lipstiknya patah, minimal 30 menit.
c. Stabilitas bentuk (aging stability)
Dilakukan dengan memasukkan lipstik ke dalam oven pada suhu 40C dengan
pengamatan secara periodik pada minyak yang dikeluarkan, adanya kristalisasi pada
permukaan dan karakteristik aplikasi. Akibat adanya minyak yang lepas

basisnya

itu

menyebabkan lipstik terlihat seperti berkeringat.


Macam-macam kosmetik perias bibir :
Lipstick dan lip crayon
Lipstick adalah pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat dan diberi
pengungkit (roll up) untuk memudahkan pemakaian, dibuat dari minyak lilin dan lemak.
Lip crayon adalah pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang lepas menggunakan

lebih banyak lilin (wax) sehingga lebih padat dan kompak


Lip cream
Lip cream digunakan untuk meminyaki bibir agar tidak mudah kering dan pecah-pecah
yang digunakan pada kondisi udara yang terlalu kering / panas dan untuk mencegah
penguapan air dari sel epitel mukosa bibir. Lip cream mengandung minyak dalam jumlah

banyak atau mengandung lilin (wax) yang titik leburnya lebih rendah
Lip gloss / lip balm

Lip gloss / lip balm digunakan untuk mengkilapkan bibir yang dibuat dengan bahan dasar
seperti lipstik tanpa pewarna / transparent yang berguna untuk mengkilapkan bibir yang

2.3.

warnanya sudah sesuai keinginan


Lip liner
Lip liner adalah pensil warna penggaris kulit / bibir dengan warna khusus bibir
Lip sealer
Seperti eye shadow yang digunakan untuk menambahkan kemampuan pakai dari lipstik
Tinjauan tentang Lipstik
Lipstik merupakan pewarna bibir yang dibuat dengan tujuan untuk menyembunyikan

bibir yang kurang baik atau menyamarkannya, selain itu juga dapat digunakan sebagai
pelindung bibir dari kekeringan, hal ini mengacu pada anatomi bibir itu sendiri yang
mempunyai stratum corneum sangat tipis dan dermisnya tidak mengandung kelenjar keringat
dan kelenjar minyak, sehingga bibir mudah kering dan pecah-pecah terutama jika dalam
udara dingin dan kering. Hanya air liur yang merupakan pembasah alami untuk bibir.
Lipstik adalah pewarna bibir yang dikemas dalam bentuk batang padat (roll up) yang
dibentuk dari minyak, lilin, dan lemak. Lipstik merupakan make-up bibir yang secara
anatomis dan fisiologis agak berbeda dengan anggota badan yang lain. Misalnya, stratum
corneum-nya sangat tipis dan dermisnya tidak mengandung kelenjar keringat maupun
kelenjar minyak. Sehingga lebih mudah pecah-pecah terutama di udara dingin dan kering.
Ludah merupakan pembasah alami untuk bibir. Selain lipstick, terdapat juga kosmetik bibir
dalam bentuk cair maupun krim. Namun preparat tersebut tidak tahan lama atau mudah
terhapus bila digunakan. Selain itu para pengguna lipstik lebih suka dengan bentuk roll up
karena lebih praktis, daripada mereka harus membawa botol kecil dalam tasnya. Dari segi
kualitas, lipstik harus memenuhi beberapa persyaratan berikut (Mitsui, 1977) :
1. Tidak menyebabkan iritasi atau kerusakan pada bibir
2. Tidak memiliki rasa dan bau yang tidak menyenangkan
3. Polesan lembut dan tetap terlihat baik selama jangka waktu tertentu
4. Selama masa penyimpanan bentuk harus tetap utuh, tanpa kepatahan dan perubahan
wujud
5. Tidak lengket
6. Penampilan tetap menarik dan tidak ada perubahan warna
Komponen Utama Dalam Sediaan Lipstik
Adapun komponen utama dalam sediaan lipstik terdiri dari minyak, lilin, lemak dan zat
warna.
Minyak
9

Minyak adalah salah satu komponen dalam basis lipstik yang berfungsi untuk melarutkan
atau mendispersikan zat warna. Minyak yang sering digunakan antara lain minyak jarak,
minyak mineral dan minyak nabati lain. Minyak jarak merupakan minyak nabati yang
unik karena memiliki viskositas yang tinggi dan memiliki kemampuan melarutkan
staining dye dengan baik. Minyak jarak merupakan salah satu komponen penting dalam
banyak lipstik modern. Viskositasnya yang tinggi adalah salah satu keuntungan dalam
menunda pengendapan dari pigmen yang tidak larut pada saat pencetakan, sehingga

dispersi pigmen benar benar merata. (Balsam, 1972)


Lilin
Lilin digunakan untuk memberi struktur batang yang kuat pada lipstik dan menjaganya
tetap padat walau dalam keadaan hangat. Campuran lilin yang ideal akan menjaga lipstik
tetap padat setidaknya pada suhu 50C dan mampu mengikat fase minyak agar tidak ke
luar atau berkeringat, tetapi juga harus tetap lembut dan mudah dioleskan pada bibir
dengan tekanan serendah mungkin. Lilin yang digunakan antara lain carnauba wax,
candelilla wax, beeswax, ozokerites, spermaceti dan setil alkohol. Carnauba wax
merupakan salah satu lilin alami yang yang sangat keras karena memiliki titik lebur yang
tinggi yaitu 85C. Biasa digunakan dalam jumlah kecil untuk meningkatkan titik lebur

dan kekerasan lipstick. (Balsam, 1972)


Lemak
Lemak yang biasa digunakan adalah campuran lemak padat yang berfungsi untuk
membentuk lapisan film pada bibir, memberi tekstur yang lembut, meningkatkan
kekuatan lipstik dan dapat mengurangi efek berkeringat dan pecah pada lipstik.
Fungsinya yang lain dalam proses pembuatan lipstik adalah sebagai pengikat dalam basis
antara fase minyak dan fase lilin dan sebagai bahan pendispersi untuk pigmen. Lemak
padat yang biasa digunakan dalam basis lipstik adalah lemak coklat, lanolin, lesitin,

minyak nabati terhidrogenasi, dan lain-lain.


Zat warna
Zat warna dalam lipstik dibedakan atas dua jenis yaitu staining dye dan pigmen. Staining
dye merupakan zat warna yang larut atau terdispersi dalam basisnya, sedangkan pigmen
merupakan zat warna yang tidak larut tetapi tersuspensi dalam basisnya. Kedua macam
zat warna ini masing-masing memiliki arti tersendiri, tetapi dalam lipstik keduanya
dicampur dengan komposisi sedemikian rupa untuk memperoleh warna yang diinginkan.
Pigmen-pigmen yang diigunakan dalam lipstik dapat berupa lake dari barium atau
10

kalsium, akan tetapi lake dari stronsium juga sering digunakan karena menghasilkan
warna yang tahan lama dan jernih. Untuk menghasilkan warna yang agak pudar (muda),
pigmen putih seperti titanium dioksida dan seng oksida harus ditambahkan. (Balsam,
1972)
Zat tambahan dalam sediaan lipstik
Zat tambahan dalam lipstik adalah zat yang ditambahkan dalam formula lipstik untuk
menghasilkan lipstik yang baik, yaitu dengan cara menutupi kekurangan yang ada tetapi
dengan syarat zat tersebut harus inert, tidak toksik, tidak menimbulkan alergi, stabil dan
dapat bercampur dengan bahan-bahan lain dalam formula lipstik. Zat tambahan yang
digunakan yaitu antioksidan, pengawet dan parfum.

1. Antioksidan
Antioksidan digunakan untuk melindungi minyak dan bahan tak jenuh lain yang rawan
terhadap reaksi oksidasi. BHT, BHA dan vitamin E adalah antioksidan yang paling sering
digunakan (Butler, 2000)
2. Pengawet
Kemungkinan bakteri atau jamur untuk tumbuh di dalam sediaan lipstik sebenarnya
sangat kecil karena lipstik tidak mengandung air. Akan tetapi ketika lipstik diaplikasikan
pada bibir kemungkinan terjadi kontaminasi pada permukaan lipstik sehingga terjadi
pertumbuhan mikroorganisme. Oleh karena itu, perlu ditambahkan pengawet di dalam
formula lipstik. Pengawet yang sering digunakan yaitu metil paraben (nipagin) dan propil
paraben (nipasol) (Butler, 2000)
3. Parfum
Parfum perlu ditambahkan dalam formula lipstik untuk menutupi bau dari minyak dan
lilin yang terdapat dalam basis dan bau lain yang tidak enak yang timbul setelah lipstik
digunakan atau disimpan. Parfum yang berasal dari minyak tumbuhan (bunga) adalah
yang paling banyak digunakan (Balsam, 1972)
2.4.

Tinjauan tentang Lip Balm


Lip balm atau lip salve adalah zat serupa lilin yang diaplikasikan secara

topikal

pada

bibir untuk melembabkan dan mengurangi bibir kering dan pecah-pecah, angular cheilitis,
stomatitis, atau cold sores. Lip balm biasanya mengandung beeswax atau carnauba wax,
kamfer, setil alkohol, lanolin, parafin, dan petrolatum, bersama bahan-bahan lainnya.
11

Beberapa varian produk mengandung pewarna, flavor, parfum, fenol, asam salisilat, dan
tabir surya.
Tujuan utama penggunaan lip balm adalah untuk memberikan lapisan oklusif pada
permukaan bibir untuk menahan atau mengunci kelembaban di bibir dan melindungi
kelembaban bibir tersebut dari paparan dari luar / eksternal. Udara yang kering, suhu yang
dingin, dan angin semuanya mempunyai efek mengeringkan kulit dengan menarik
kelembaban dari tubuh. Bibir adalah yang terutama paling rentan sebab lapisan kulitnya tipis,
dan dengan demikian bibir menjadi yang pertama untuk menunjukkan tanda-tanda
kekeringan. Bahan oklusif seperti lilin dan petroleum jelly mencegah kehilangan kelembaban
dan mempertahankan kenyamanan pada bibir

sementara zat pemberi rasa, zat pemberi

warna, tabir surya, dan bermacam-macam medikamen dapat menyediakan keuntungan


spesifik dan keuntungan tambahan. Lip balm dapat diaplikasikan dengan jari, yang
digunakan untuk mengaplikasikan lip balm pada bibir, atau dengan wadah (roll up) seperti
lipstik dimana lip balm dapat diaplikasikan langsung.
Zat yang Terkandung dalam lip balm

Minyak
Minyak ini berfungsi sebagai emollient (mempermudah penyebaran atau pengolesan),
pelembab, penambah licin, pemberi kilau, agen pembuat tak berkilau (matifying) dan
penambah SPF (Sun Protection Factor)

Malam (Wax)
Malam atau waxes, merupakan bahan perekat yang akan menghasilkan struktur kristal
yang kuat. Hal ini merupakan unsur utama untuk membuat lip balm yang baik. Malam
yang paling umum digunakan adalah Candelilla wax, Carnauba wax dan Beeswax.
Semuanya adalah malam alami. Candelilla wax dan Carnauba wax akan menghasilkan
perekatan dan kilau yang kuat. Tetapi jika terlalu banyak akan membuat lip balm menjadi
rapuh, mudah patah. Beeswax sangat baik untuk mencegah kerutan. Konsentrasi malam
dalam produk dapat bervariasi tergantung pada seberapa padat produk akhirnya dan
berapa harganya. Biasanya berkisar antara 10-25%, tergantung pada kekerasan dan titik
lebur malam yang dipilih.

Lemak
12

Misalnya : oleum cacao, minyak tumbuhan yang sudah dihidrogenasi (contohnya

hydrogenated castor oil), setil alkohol, oleil alcohol, dan lanolin.


Bahan pengawet
Antioksidan
Bahan pewangi (fragrance) atau bahan pemberi rasa segar (flavoring)
Bahan tersebut harus menutupi bau dan rasa kurang sedap dari lemak-lemak yang
terkandung dalam lip balm dengan bau dan rasa yang menyenangkan.

Manfaat lip balm


1
2
3
4
5

Melindungi bibir dari kekeringan


Meningkatkan kepercayaan diri
Mempercantik diri
Menjaga kelembaban bibir dari penyebab kekeringan
Membuat wajah terlihat lebih segar

Persyaratan lip balm yang baik


1 Melapisi bibir secara mencukupi
2 Cukup melekat pada bibir tapi tidak sampai lengket
3 Tidak mengiritasi atau menimbulkan alergi pada bibir
4 Melembabkan bibir dan tidak mengeringkannya
5 Memperbaiki penampilan
6 Tidak meneteskan minyak, permukaannya mulus, tidak bopeng atau berbintik-bintik, atau
memperlihatkan hal-hal lain yang tidak menarik
2.5.

Tinjauan tentang Pemilihan Formula Lipstik dan Lip Balm


Ada beberapa formula yang dipertimbangkan untuk digunakan dalam formula lipstik dan lip
balm, antara lain :
1. Pustaka : Sagarin volume 1, page 377, Formula 1
R/
Carnauba wax
10%
Beeswax
15%
Lanolin
5%
Cetyl alcohol
5%
Castor oil
65%
2. Pustaka : A Formulary of Cosmetic Preparation, page 223
R/
Beeswax white
33%
Cetyl alcohol
12%
Sesame oil
20%
Castor oil
29%
Perfume oil
2%
13

Tetrabromflurescein
4%
Prosedur : Larutkan tetrabromflurescein dalam castor oil. Lelehkan beeswax white, cetyl
alcohol, sesame oil bersama-sama. Setelah leleh campurkan keduanya, lalu tambahkan
perfume oil.
3. Pustaka : Penuntun Ilmu Kosmetika Medik, halaman 124, Formula 1
R/
Carnauba wax, Beeswax
60%
Oleyl Alcohol
30%
Titanium dioxide
0.5-0.8%
p-hidroxy anisol
0.005%
Perfume
q.s.
Dari formula di atas maka formula yang dipilih untuk digunakan dalam pembuatan lipstik
dan lip balm adalah formula nomor 2. Sebab, dari formula tersebut sebagian sudah
memenuhi komposisi dasar pembentukan lipstik dan lip balm, akan tetapi ada beberapa
bahan yang harus ditambahkan untuk meningkatkan kualitas dan menjaga kestabilan lipstik
dan lip balm (formula lengkap lipstik dan lip balm dibahas pada Bab IV).
2.6.

Pemilihan Bentuk Sediaan


Jenis sediaan yang akan dibuat adalah sediaan kosmetika (lipstik dan lip balm). Berdasarkan
data karakteristik fisika dan kimia komposisi dasar pembuatan lipstik, dipilih bentuk sediaan
stik, dengan alasan :
Dalam penggunaannya tidak diperlukan alat bantu lain (seperti kuas) seperti pada

cream
Tidak perlu diraut seperti pada lip crayon atau lip liner
Mudah digunakan dan mudah disimpan sehingga paling umum dipakai
Penampilan cukup menarik

Berdasarkan data karakteristik fisika dan kimia komposisi dasar pembuatan lip balm, dipilih
bentuk sediaan padat dan dikemas dengan wadah khusus (seperti mangkuk
alasan :
Lip balm lebih mudah diaplikasikan dengan tangan atau kuas
Lebih praktis untuk dibawa berpergian dan disimpan
Penampilan lebih menarik dan modern
2.7.

Persyaratan Mutu Sediaan

14

kecil), dengan

Sediaan yang dibuat harus memenuhi persyaratan mutu yang setara dengan ketentuan dari
Farmakope Indonesia IV / USP dan memperhatikan kriteria pendaftaran obat jadi
Departemen Kesehatan RI.
1

Aman (safety)
Diartikan sebagai bermanfaat secara fisiologis dan psikologis, tanpa efek samping yang
merugikan atau dengan efek samping yang telah dikendalikan sehingga tidak lebih toksik
dari toksisitas bahan aktif sebelum diformulasi.
Bahan farmasi merupakan bahan kimia yang mempunyai karakteristik fisika-kimia yang
terkait langsung dengan efek / khasiat, setiap perubahan karakteristik fisika-kimia akan
mampu menyebabkan perubahan efek farmakologis dan atau psikologis.

Efektif (effectivity)
Diartikan sebagai jumlah partikel aktif yang mampu mencapai tempat kerja (site of
action / reseptor) dan mampu melakukan aksi terbesar dan selama waktu yang
diperhitungkan (onset of action-duration of action). Jumlah bahan aktif dikehendaki
relatif kecil tetapi dengan hasil kerja optimal. Jumlah tersebut harus diartikan sebagai
dosis pemakaian sekali pakai, sehari pakai, dan selama jangka waktu pengobatan (1
kuur). Sediaan harus dibuat dengan dosis sekecil mungkin, dapat memberikan efek terapi
yang diinginkan dengan efek samping seminimal mungkin (USP XXII, p.324).

Dapat diterima (acceptable)


Diartikan sebagai prediksi pemenuhan persepsi psikologis konsumen / pemakai. Sediaan
memiliki penampilan luar / kemasan yang menarik, memiliki nilai estetis sehingga
menimbulkan rasa senang dan nyaman bagi konsumennya. Bentuk sediaan juga harus
meyakinkan sisi psikologis pengguna. Organoleptis sediaan dapat diterima oleh
pengguna, dengan dapat ditambahkan pewarna dan yang lain sehingga nyaman untuk
dikonsumsi.

Stabilitas Fisika
Sediaan tidak boleh mengalami perubahan fisika, penampilan, homogenitas, dari
pembuatan sampai ke tangan pasien. Tidak boleh ada perubahan viskositas, berat jenis,
selama proses pembuatan, penyimpanan, distribusi, sampai ke tangan pengguna.
Berat jenis sediaan > berat jenis air
Tidak terjadi pengendapan
Tidak terjadi perubahan warna
15

Viskositas sediaan < viskositas gliserin pa

Stabilitas Kimia
Secara kimia antar komponen tidak saling berinteraksi, yang dapat menimbulkan
perubahan potensi, warna, dan bentuk sediaan. Setiap bahan aktif mempunyai sifat kimia
yang tetap dan kadar / potensi yang sesuai dengan label / etiket, dalam batas yang telah
ditentukan.

Stabilitas Mikrobiologi (Lachman, p.468)


Tidak terjadi peruraian akibat pertumbuhan mikroba.
Stabilitas / konsistensi terhadap pertumbuhan mikroba tergantung pada spesifikasi

sediaan yang diinginkan (steril / non-steril).


Mikroorganisme yang tidak boleh ada dalam sediaan oral likuida antara lain
Salmonella ; E.coli ; Enterobacter sp. ; Pseudomonas sp. ; Candida albicans.

Stabilitas Toksikologi (USP XXII p.1703)


Tidak boleh menjadi bahan yang meracuni jaringan lokal dan tidak boleh menunjukkan
adanya gejala peningkatan toksisitas.

Stabilitas Farmakologi (USP XXII p.1703)


Selama penyimpanan tidak terjadi perubahan efek terapeutik yang menyimpang dari
tujuan pengobatan yang direncanakan.

2.8.

Pemilihan Bahan Tambahan untuk Lipstik dan Lip Balm


1) Setil Alkohol (Farmakope Indonesia IV, p.72-73)
- Pemerian : serpihan putih licin, granul, atau kubus, putih ; bau khas lemah ; rasa
-

lemah
Kelarutan : tidak larut dalam air ; larut dalam etanol dan dalam eter, kelarutan

bertambah dengan naiknya suhu


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Fungsi : sebagai pelembab dalam sediaan lipstik dan lip balm

2) Gliseril Monostearat (HPE 6th edition, p.290-292)


- Pemerian : padatan serupa lilin dalam bentuk butiran, lempeng, atau serbuk ;
berwarna putih sampai krem ; jika disentuh terasa seperti lilin dan memiliki bau dan
rasa lemak yang lemah

16

Kelarutan : larut dalam etanol panas, eter, kloroform, aseton panas, minyak mineral,
dan fixed oils. Praktis tidak larut dalam air, tetapi dapat terdispersi dalam air dengan

bantuan dari sejumlah kecil sabun atau surfaktan lain


Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, di tempat yang sejuk, kering, dan

terlindung dari cahaya


Fungsi : sebagai emollient dalam sediaan lipstik dan lip balm

3) Cera Alba (Farmakope Indonesia IV, p.186)


- Pemerian : padatan putih kekuningan, sedikit tembus cahaya dalam keadaan lapisan
-

tipis ; bau khas lemah dan bebas bau tengik. Bobot jenis lebih kurang 0,95
Kelarutan : tidak larut dalam air ; agak sukar larut dalam etanol dingin. Etanol
mendidih melarutkan asam serotat dan bagian dari miristin, yang merupakan
kandungan malam putih. Larut sempurna dalam kloroform, dalam eter, dalam minyak
lemak dan minyak atsiri. Sebagian larut dalam benzena dingin dan dalam karbon
disulfida dingin. Pada suhu lebih kurang 30 o larut sempurna dalam benzena, dan

dalam karbon disulfida


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Fungsi : sebagai penambah kekerasan (hardness agent) dalam sediaan lipstik dan lip
balm

4) Oleum Olivarum (Farmakope Indonesia IV, p.630-631)


- Pemerian : minyak, berwarna kuning pucat atau kuning kehijauan terang ; baud an
-

rasa khas lemah dengan rasa ikutan agak pedas


Kelarutan : sukar larut dalam etanol ; bercampur dengan eter, dengan kloroform dan

dengan karbon disulfida


Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat dan hindarkan dari panas berlebih
Fungsi : sebagai komponen minyak dalam sediaan lipstik

5) Oleum Cocos (Farmakope Indonesia III, p.456)


- Pemerian : cairan jernih ; tidak berwarna atau kuning pucat ; bau khas, tidak tengik
- Kelarutan : larut dalam 2 bagian etanol (96%) P pada suhu 60 o ; sangat mudah larut
-

dalam kloroform P dan dalam eter P


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat sejuk
Fungsi : sebagai komponen minyak dalam sediaan lip balm

6) Adeps Lanae (Farmakope Indonesia IV, p.57-59)


- Pemerian : massa seperti lemak, lengket, warna kuning ; bau khas

17

Kelarutan : tidak larut dalam air ; dapat bercampur dengan air lebih kurang 2 kali
beratnya ; agak sukar larut dalam etanol dingin ; lebih larut dalam etanol panas ;

mudah larut dalam eter, dan dalam kloroform


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, sebaiknya pada suhu kamar terkendali
Fungsi : sebagai emollient dalam sediaan lip balm dan mencegah lip balm mudah
patah

7) Oleum Ricini (Farmakope Indonesia IV, p.631-632)


- Pemerian : cairan kental, transparan, kuning pucat atau hampir tidak berwarna ; bau
-

lemah, bebas dari bau asing dan tengik ; rasa khas


Kelarutan : larut dalam etanol ; dapat bercampur dengan etanol mutlak, dengan asam

asetat glasial, dengan kloroform, dan dengan eter


Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat, dan hindarkan dari panas berlebih
Fungsi : sebagai komponen minyak dalam sediaan lipstik dan lip balm

8) Propilenglikol (Farmakope Indonesia IV, p.712)


- Pemerian : cairan kental, jernih, tidak berwarna ; rasa khas ; praktis tidak berbau ;
-

menyerap air pada udara lembab


Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dengan aseton, dan dengan kloroform ;
larut dalam dan eter dan dalam beberapa minyak esensial ; tetapi tidak dapat

bercampur dengan minyak lemak


Penyimpanan : dalam wadah tertutup rapat
Fungsi : sebagai humektan, meningkatkan kandungan air pada permukaan kulit
terluar, dalam sediaan lipstik dan lip balm

9) Titanium Dioksida (HPE 6th edition, p.741-743)


- Pemerian : serbuk nonhigroskopik berwarna putih, amorf, tidak berbau, dan tidak
berasa. Titanium dioksida dalam perdagangan umumnya berupa partikel agregat
-

dengan diameter kira-kira 100 m


Kelarutan : praktis tidak larut dalam asam sulfat encer, asam hidroklorida, asam
nitrat, pelarut organik, dan air. Larut dalam asam hidrofluorida dan asam sulfat pekat
panas. Kelarutan bergantung pada perlakuan panas sebelumnya ; pemanasan yang

berkepanjangan menghasilkan bahan yang lebih kurang larut


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik, terlindung dari cahaya, di tempat yang

sejuk dan kering


Fungsi : sebagai UV proctector dan pigmen putih dalam sediaan lisptik dan lip balm

18

10) Propil Gallat (HPE 6th edition, p.587-589)


- Pemerian : serbuk hablur berwarna putih, tidak berbau atau hampir tidak berbau,
dengan rasa astringen pahit yang normalnya tidak terasa pada konsentrasi yang
-

digunakan sebagai antioksidan


Kelarutan (pada suhu 20oC) : larut dalam 3 bagian etanol (95%), dalam 3 bagian
eter, dalam 200 bagian minyak mineral, dalam 1000 bagian air, dalam 2000 bagian

minyak kacang, dan dalam 2,5 bagian propilenglikol (pada suhu 25oC)
Penyimpanan : dalam wadah nonmetalik tertutup baik, terlindung dari cahaya, di

tempat yang sejuk dan kering


Fungsi : sebagai antioksidan
dalam
sediaan
lipstik dan lip balm
Bibir
kering
dan pecah-pecah

11) Nipasol (HPE 6th edition, p.713)


- Pemerian
: serbuk
putih atau
hablur kecil,
tidak berwarna
Udara yang
terlalu panas
dan kering
Kurangnya
konsumsi
air lingkungan
putih
Pengaruh
( contoh : paparan sinar uv dari m
- Kelarutan : sangat sukar larut dalam air ; mudah larut dalam etanol, dan dalam eter ;
-

sukar larut dalam air mendidih


Penyimpanan : dalam wadah tertutup baik
Fungsi : sebagai zat pengawet (preservatives) dalam sediaan lipstik dan lip balm
Lipbalm yang mengandung pelembab

12) Certolake Erythrosine


- Fungsi : sebagai zat pewarna (colorant) pada sediaan lipstik

Keuntungan:
Kerugian:
13) Strawberry Flavor
Memelihara kelembaban bibir
Memperlambat proses regenerasi kulit
- Fungsi : sebagai zat pewarna (colorant), zat pemberi aroma dan rasa (flavor) pada
Memproteksi bibir dari pengaruh buruk
Penggunaan
lingkungan
dalam
penyebab
jangka panjang
bibir kering
dapat menyebabkan bibir lebih cepat kering bila tid
Memperindah tampilan sediaan
bibir
lip balm

14) Helix Oil


- Fungsi : sebagai pemberi aroma (fragrance) pada sediaan lipstik

3.1 Kerangka Konseptual

Formula lipbalm terpilih:


R/Setil alkohol12%
BAB%III
Oleum cocos5
KERANGKA
Adeps lanae15KONSEPTUAL
%
Oleum ricini29%
Propilenglikol5 %
Lipbalm Nipasol0,2%
yang Mengandung Pelembab
Propyl gallat0,1%
Titanium dioksida1%
Gliseril monostearat3%
Strawberry flavorq.s.
Cera alba ad100%
m.f.l.a. lipbalm4
g
19

3.2 Kerangka Konseptual Lipstick dengan UVProtection dan Pelembab


Formula lipstick terpilih:
R/ BibirSetil
alkohol
12%
kering
dan pecah-pecah
Oleum olivarum
20%
Oleum ricini
29%
Keuntungan:
Kerugian:
Propilenglikol
5%
Udara yang terlalu
Kurangnya konsumsi air putih
Pengaruh lingkungan ( contoh :
Nipasol
0,2%
panas dan kering
paparan sinar uv dari matahari)
- Memelihara kelembaban bibir
Propil gallat
0,1%- Memperlambat proses
- Memproteksi bibir dari
regenerasi kulit
Titanium dioksida
1%
pengaruh buruk lingkungan
Penggunaan dalam jangka
Gliseril monostearat
3%
penyebab bibir kering
panjang dapat menyebabkan
Helix oil
2%
- Memperindah tampilan bibir
bibir lebih cepat kering bila
Certolake20
erythrosine
q.s.
Lipstick yang mengandung
uv protection dan pelembab
tidak menggunakan lipbalm
Cera alba
ad
100%
(ketergantungan)
m.f.l.a. lipstik
4g

BAB IV
METODE PENELITIAN

4.1 Alat dan Bahan


A) Alat
-

Beaker glass
Pengaduk kaca
Timbangan analitik
Cawan porselen
Kaca arloji
Sudip dan kertas perkamen
Waterbath
Mortir dan stamper

B) Bahan
-

Setil alkohol
Oleum olivarum
Oleum ricini
Propilenglikol
Nipasol
Propil gallat
Titanium dioksida
Gliseril monostearat
Jasmine oil
Certolake erythrosine
Cera alba
Oleum cocos
Strawberry flavor

4.2 Metode Kerja


a) Formula Awal Sediaan Lipstik
Formulasi yang terpilih dimodifikasi kembali dengan beberapa bahan yang lain, sehingga
dapat menghasilkan sediaan lipstik yang lebih baik.
Formula yang digunakan :
R/ Setil alkohol
12%
Oleum olivarum
20%
Oleum ricini
29%
Propilenglikol
5%
Nipasol
0,2%
21

Propil gallat
Titanium dioksida
Gliseril monostearat
Helix oil
Certolake erythrosine
Cera alba
ad
m.f.l.a. lipstik

0,1%
1%
3%
2%
q.s.
100%
4g

b) Formula Awal Sediaan Lip Balm


Formulasi yang terpilih dimodifikasi kembali dengan beberapa bahan yang lain, sehingga
dapat menghasilkan sediaan lip balm yang lebih baik.
Formula yang digunakan :
R/ Setil alkohol
12%
Oleum cocos
5%
Adeps lanae
15 %
Oleum ricini
29%
Propilenglikol
5%
Nipasol
0,2%
Propyl gallat
0,1%
Titanium dioksida
1%
Gliseril monostearat
3%
Strawberry flavor
q.s.
Cera alba
ad
100%
m.f.l.a. lipbalm
4g
c) Penyusunan formula akhir sediaan
1) Penyusunan formula akhir lipbalm
Jumlah tiap g

Jumlah tiap 4

Jumlah tiap

(+20%)

g(+20%)

20 g (+20%)

12%

0,144

0,576

2,88

Oleum cocos

5%

0,06

0,24

1,20

Adeps lanae

15%

0,18

0,72

3,6

Oleum ricini

29%

0,348

1,392

6,96

Propylenglycol

5%

0,06

0,24

1,20

Nipasol

0,2%

0,0024

0,0096

0,048

Propyl gallat

0,1%

0,0012

0,0048

0,024

Titanium dioksida

1%

0,012

0,048

0,24

Gliseril monostearat

3%

0,036

0,144

0,72

No

Nama Bahan

Kadar

Cetyl alcohol

22

10

Strawberry flavor

11

Cera alba

qs

qs

qs

qs

0,3564

1,4256

7,128

Ad 100%
(29,7%)
-

23

2) Penyusunan formula akhir lipstick


Jumlah tiap g

Jumlah tiap 4

Jumlah tiap

(+20%)

g(+20%)

15 g (+20%)

12%

0,144

0,576

2,16

Oleum olivarum

20%

0,24

0,96

3,6

Oleum ricini

29%

0,348

1,392

5,22

No

Nama Bahan

Kadar

Cetyl alcohol

2
3
Strawberry flavor

Oleum ricini

Propylenglycol

5%

5 DicampurNipasol
ad homogen

0,2%

0,1%

Propyl gallat

Fase minyak

Cetyl alcohol
0,06
0,24
Glyceryl monostearat
Cera alba
0,0024
0,0096
Oleum cocos
Adeps
0,0012lanae
0,0048

0,9
0,036
0,018

Titanium dioksida

1%

0,012
0,048 ad leleh (suhu
0,18 700C)
Dipanaskan
di waterbath

Gliseril monostearat

3%

0,036

0,144

0,54

Helix oil

2%

0,024 Fase lilin 0,096

0,36

Certolake

10
Titanium dioksida
Nipasol
Propyl gallat
11
Propylenglycol

erythrosine

qs

qs

qs

qs

0,3324

1,3296

4,986

Dipanaskan di waterbath ad leleh (suhu 700C)


Diaduk ad homogen

Ad 100%
Cera alba

Basis lipbalm

(27,7%)

Digerus ad halus dan homogen


Campuran homogen

4.3 KerangkaCampuran
Operasional
panas
a) Kerangka operasional pembuatan lipbalm yang mengandung pelembab
Campuran panas
Dituang ke dalam wadah primer
Didinginkan di dalam lemari es
Lipbalm

Campuran panas
Dilakukan evaluasi akhir sediaan, yang meliputi :
- Uji organoleptis
- Uji iritasi
- Uji distribusi pewarna dan homogenitas
- Uji kekerasan/ hardness

24
Diberi label dan kemasan sekunder
Dipanaskan di waterbath ad
Lipbalm siap dipasarkan
leleh (suhu 700C) Lipbalm siap dipasarkan
Diaduk ad homogen

b) Kerangka operasional pembuatan lipstick yang mengandung uv protection dan


pelembab
Helix oil + Certolake erythrosine
Oleum ricini

Cetyl alcohol
Glyceryl monostearat
Cera alba
Oleum olivarum

Dicampur ad homogen
Fase minyak

Dipanaskan di waterbath ad leleh (suhu 700C)

Fase lilin

Dipanaskan di waterbath ad leleh (suhu 700C)


Diaduk ad homogen

Titanium dioksida
Nipasol
Propyl gallat
Propylenglycol

Basis lipstick

Digerus ad halus dan homogen


Campuran homogen

Campuran panas

Campuran panas

Campuran panas

Dituang ke dalam alat pencetak


Dimasukkan ke wadah primer
Didinginkan di dalam lemari es
Lipstick

Dilakukan evaluasi akhir sediaan, yang meliputi :


- Uji organoleptis
- Uji iritasi
- Uji distribusi pewarna dan homogenitas
- Uji kekerasan/ hardness

Diberi label dan kemasan sekunder


Lipstick siap dipasarkan

Lipstick siap dipasarkan

25

4.3 Metode Kerja


Cara Pembuatan Skala Laboratorium
a

Cara pembuatan lipbalm skala laboratorium


1. Timbang cetyl alcohol 2,88 g, masukkan ke dalam cawan porselen
2. Timbang gliseril monostearat 0,72 g, masukkan ke dalam cawan porselen 1
3. Timbang cera alba 7,128 g, masukkan ke dalam cawan porselen 1
4. Timbang adeps lanae 3,6 g, masukkan ke dalam cawan porselen 1
5. Tara kaca arloji, lalu timbang oleum cocos 1,2 g, masukkan ke dalam cawan porselen
1, lalu cawan 1 dipanaskan di atas waterbath ad meleleh, aduk ad homogen
6. Tara kaca arloji, lalu timbang oleum ricini 6,96 g, masukkan ke dalam beaker glass
7. Masukkan strawberry flavor secukupnya ke dalam beaker glass no 6, aduk ad larut
8. (5) + (7) campur ad homogen (basis lipbalm)
9. Timbang titanium dioksida 0,24 g, masukkan ke dalam mortir
10. Timbang nipasol 0,048 g, masukkan ke dalam mortir 9
11. Timbang propyl gallat 0,024 g, masukkan ke dalam mortir 9
12. (9),(10), (11) digerus dalam mortir ad homogen
13. Tara kaca arloji, timbang propylenglycol 1,20 g
14. (12) +(13) dicampur ad homogen di dalam beaker glass
15. (8) + (14) dicampur ad homogen di cawan porselen (sambil dipanaskan di atas
waterbath)
16. (15) dimasukkan ke dalam wadah primer
17. (16) didinginkan di dalam lemari es ad memadat
18. Sediaan dimasukkan ke dalam wadah sekunder dan diberi label dan brosur
19. Sisa sediaan digunakan untuk evaluasi akhir sediaan

b Cara pembuatan lipstick skala laboratorium


1. Timbang cetyl alcohol 2,16 g, masukkan ke dalam cawan porselen
2. Timbang gliseril monostearat 0,54 g, masukkan ke dalam cawan porselen 1
3. Timbang cera alba 4,986 g, masukkan ke dalam cawan porselen 1
4. Tara kaca arloji, lalu timbang oleum olivarum 3,6 g, masukkan ke dalam cawan
porselen 1, lalu cawan 1 dipanaskan di atas waterbath ad meleleh, aduk ad homogen
5. Tara kaca arloji, lalu timbang oleum ricini 5,22 g, masukkan ke dalam beaker glass
6. Masukkan Helix oil 0,36g dan certolake erythrosine secukupnya ke dalam beaker
glass no 6, aduk ad larut
7. (5) + (7) campur ad homogen (basis lipstick)
8. Timbang titanium dioksida 0,18 g, masukkan ke dalam mortir
9. Timbang nipasol 0,036 g, masukkan ke dalam mortir 9
10. Timbang propyl gallat 0,018 g, masukkan ke dalam mortir 9
11. (9),(10), (11) digerus dalam mortir ad homogen
12. Tara kaca arloji, timbang propylenglycol 0,9 g
13. (11) +(12) dicampur ad homogen di dalam beaker glass

26

14. (7) + (13) dicampur ad homogen di cawan porselen (sambil dipanaskan di atas
waterbath)
15. (15) dimasukkan ke dalam cetakan kemudian dipindahkan ke wadah primer setelah
agak memadat
16. (15) didinginkan di dalam lemari es ad memadat sempurna
17. Sediaan dimasukkan ke dalam wadah sekunder dan diberi label dan brosur
18. Sisa sediaan digunakan untuk evaluasi akhir sediaan

Rencana Evaluasi Sediaan


1. Organoleptis
Cara : dengan mengamati bentuk, warna, bau, dan rasa lipstik dan lip balm dengan
menggunakan panca indra
Lipstik
Bentuk : stick
Bau
: wangi
Warna : merah muda
Lip balm
Bentuk : padat
Bau
: wangi
Warna : merah muda
2. Tes Iritasi
Untuk mengetahui apakah sediaan yang dihasilkan menimbulkan reaksi iritasi dan
sensitivitas.
Cara : lipstik dan lip balm dioleskan ke kulit kemudian didiamkan.
Hasil yang diharapkan : tidak mengiritasi kulit / aman di kulit.
3. Tes distribusi pewarna dan homogenitas
Alat : kaca arloji
Cara : sediaan dioleskan pada kaca arloji dan dilihat homogenitasnya
Hasil yang diharapkan : tersebar merata
4. Tes kekerasan atau hardness
Cara : lipstik didorong keluar sampai batas akhir lalu dipegang horisontal, kemudian
diamati apakah terjadi retak atau patah ; lip balm ditekan menggunakan jari
Hasil yang diharapkan : lipstik tidak mudah retak dan patah ; lip balm tidak mudah retak
atau hancur

27

BAB V
HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS HASIL PENELITIAN
5.1 Hasil Evaluasi
1 Organoleptis
Lipstik
Bentuk
Bau
Warna
Lip balm
Bentuk
Bau
Warna
2

: stick
: sedikit wangi parfum helix
: Peach
: padat
: sedikit wangi strawberry
: Peach

Tes Iritasi
Lipstik : tidak mengiritasi kulit / aman di kulit.
Lip balm : tidak mengiritasi kulit / aman di kulit.

Tes distribusi pewarna dan homogenitas


Lipstik : warna kurang terdistribusi secara merata.
Lip balm : warna kurang terdistribusi secara merata.

Tes kekerasan atau hardness


Lipstik : tidak mudah retak dan patah.
Lip balm : tidak mudah retak atau hancur.

5.2 Pembahasan
28

Sediaan yang telah dibuat pada praktikum teknologi sediaan Semisolida-likuida ini
merupakan sediaan berupa kosmetika yaitu lipstick dan lipbalm. Dimana lipbalm yang
kami buat ini memiliki bentuk sediaan yang dioleskan, dengan warna peach dan memiliki
bau strawberry dimana bau strawberry pada lipbalm yang kami buat sangat lemah karena
diakibatkan bau adeps lanae yang kami gunakan sebagai bahan dari formula ini, memiliki
bau yang tajam sehingga bau tajam tersebut sulit untuk ditutupi. Lipbalm dituang kedalam
pot yang telah disiapkan lalu didinginkan pada lemari es, tidak ada retak ataupun
pemisahan pada saat lipbalm telah memadat. Pada pengujian lainnya yaitu uji kemudahan
menempel di kulit, dari sisa lipbalm yang tidak dimasukkan dalam cetakan, kami gunakan
untuk evaluasi, lalu dioleskan pada kulit punggung tangan, hasilnya lipbalm tersebut
mudah menempel pada kulit dan lipbalm yang kami buat walaupun berwarna peach tetapi
saat dioleskan pada kulit menjadi tidak berwarna hal ini sesuai dengan spesifikasi yang
kami inginkan.
Lipstick yang kami buat ini memiliki bentuk stick, dengan warna peach dan memiliki
sedikit bau parfum helix. Setelah lipstick telah jadi dan terbentuk pada cetakan yang juga
sebagai wadah dari sediaan lipstick ini yang kami amati tidak terjadi keretakan pada
lipstick tersebut dan tidak mudah hancur juga. Pada pengujian lainnya yaitu uji kemudahan
menempel di kulit, pada sisa dari lipstick yang tidak dimasukkan dalam cetakan kami
gunakan untuk evaluasi lalu kami oleskan pada kulit punggung tangan lipstick tersebut
mudah menempel pada kulit serta warna dari lipstick tersebut tidak merata dikarenakan
kurang zat pewarna.

29

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN

6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil praktikum yang diperoleh praktikan, dapat disimpulkan bahwa
sediaan lipbalm dan lipstick dengan uv protective dan mengandung pelembab yang dibuat
belum sesuai dengan rencana awal yang ditetapkan formulator. Hal ini dibuktikan dengan
sediaan lipbalm dan lipstick dengan uv protective dan mengandung pelembab yang dibuat
warnanya tidak memenuhi evaluasi akhir sediaan yang telah ditetapkan.
6.2 Saran
Sebaiknya untuk bahan-bahan yang memiliki bau tajam jika memungkinkan diganti
dengan bahan-bahan yang memiliki bau yang lemah agar flavor yang digunakan lebih
diterima.

DAFTAR PUSTAKA

30

Ash, Michael. 1977. A Formulary of Cosmetic Preparations. USA


Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia III
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1995. Farmakope Indonesia IV
Edited by Hilda Butler. 2000. Pouchers Perfumes, Cosmetics and Soaps, 10th Edition. USA
Edited by H. H. Lieberman, L. Lachman, and J. B. Schwartz. 1989. Pharmaceutical Dosage
Forms : Tablets, Volume II. New York : Marcel Dekker
Edited by T. Mitsui. 1997. New Cosmetic Science. UK : Elsevier
Jellinek, J.S. 1971. Formulation and Function of Cosmetics. New York, London, Sydney,
Toronto. A Division of John Wiley & Sons, Inc.
Lachman, L., Lieberman, A.H., Kamig, L.I. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi 3.
Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia
Balsam, M.S., Sagarin, Edward. 1972. Cosmetics : Science and Technology, 2nd Edition. USA :
Wiley-Blackwell Publisher
Rowe, Raymond C., et al. 2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients, Sixth edition. London :
Pharmaceutical Press
Tranggono, R.I., Latifah, F. 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta : PT
Gramedia Pustaka Utama
USP XXII-NF XVII : The 1990 U.S. Pharmacopeia and The National Formulary
Wasitaatmadja, Sjarif M. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetika Medik. Jakarta : UI Press

31