Anda di halaman 1dari 23

KONSEP DASAR OSTEOSARKOMA

1.

Pengertian
Osteosarkoma adalah tumor tulang ganas yang berasal dari sel

primitif pada regio metafisis tulang panjang orang berusia muda. Sarkoma
Osteogenik adalah tumor tulang ganas, yang biasanya berhubungan dengan
periode kecepatan pertumbuhan pada masa remaja.
Osteosarkoma merupakan tumor ganas yang paling sering ditemukan pada
anak-anak. Rata-rata penyakit ini terdiagnosis pada umur 15 tahun. Angka
kejadian pada anak laki - laki dan anak perempuan adalah sama, tetapi pada akhir
masa remaja penyakit ini lebih banyak ditemukan pada

anak

laki - laki.

Penyebab yang pasti tidak diketahui. Bukti - bukti mendukung bahwa


osteosarkoma merupakan penyakit yang diturunkan.
Osteosarkoma cenderung tumbuh di tulang paha (ujung bawah), tulang
lengan atas (ujung atas) dan tulang kering (ujung atas). Ujung tulang - tulang
tersebut merupakan daerah dimana terjadi perubahan dan kecepatan pertumbuhan
yang terbesar. Meskipun demikian, osteosarkoma juga bisa tumbuh di tulang
lainnya.
Sarkoma adalah tumor yang berasal dari jaringan penyambung. Kanker
adalah neoplasma yang tidak terkontrol dari sel anaplastik yang menginvasi
jaringan dan cenderung bermetastase sampai ke sisi yang jauh dalam tubuh
(Wong.2003).
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) adalah tumor yang muncul dari
mesenkim pembentuk tulang. Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan
neoplasma tulang primer yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis
tulang tempat yang paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang
panjang, terutama lutut (Wong. 2003).
Osteosarkoma (sarkoma osteogenik) merupakan tulang primer maligna
yang paling sering dan paling fatal. Ditandai dengan metastasis hematogen awal
ke paru. Tumor ini menyebabkan mortalitas tinggi karena sarkoma sering sudah
menyebar ke paru ketikapasien pertama kali berobat (Smeltzer. 2001).

2.

Etiologi
Etiologi osteosarcoma belum diketahui secara pasti, tetapi ada berbagai

macam faktor predisposisi sebagai penyebab osteosarcoma. Adapun faktor


predisposisi yang dapat menyebabkan osteosarcoma antara lain:
1. Trauma
Osteosarcoma dapat terjadi beberapa bulan atau beberapa tahun
setelah terjadinya injuri. Walaupun demikian trauma ini tidak dapat
dianggap sebagai penyebab utama karena tulang yang fraktur akibat
trauma ringan maupun parah jarang menyebabkan osteosarcoma.
2. Ekstrinsik karsinogenik
Penggunaan substansi radioaktif dalam jangka waktu lama dan
melebihi dosis juga diduga merupakan penyebab terjadinya osteosarcoma
ini. Salah satu contoh adalah radium. Radiasi yang diberikan untuk
penyakit tulang seperti kista tulang aneurismal, fibrous displasia, setelah 340 tahun dapat mengakibatkan osteosarcoma.
3. Karsinogenik kimia
Ada dugaan bahwa penggunaan thorium untuk penderita tuberculosis
mengakibatkan 14 dari 53 pasien berkembang menjadi osteosarcoma.
4. Virus
Penelitian tentang virus yang dapat menyebabkan osteosarcoma
baru dilakukan pada hewan, sedangkan sejumlah usaha untuk menemukan
oncogenik virus pada osteosarcoma manusia tidak berhasil. Walaupun
beberapa laporan menyatakan adanya partikel seperti virus pada sel
osteosarcoma dalam kultur jaringan. Bahan kimia, virus, radiasi, dan
faktor trauma. Pertumbuhan yang cepat dan besarnya ukuran tubuh dapat
juga menyebabkan terjadinya osteosarcoma selama masa pubertas. Hal ini
menunjukkan bahwa hormon sex penting walaupun belum jelas
bagaimana hormon dapat mempengaruhi perkembangan osteosarcoma.
5. Keturunan (genetik)

3.

Anatomi dan Fisiologi


Tulang adalah organ vital yang berfungsi untuk gerak pasif, proteksi alat-

alat di dalam tubuh, pembeda ruang ditengah tulang-tulang tertentu berisi jaringan
hematopoietic yang membentuk berbagai sel darah dan tempat primer untuk
menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat. Ruang ditengah tulang-tulang
tertentu berisi jaringan hematopoietik yang membentuk berbagai sel darah dan
tempat primer untuk menyimpan dan mengatur kalsium dan posfat.
Sebagaimana jaringan pengikat lainnya, tulang terdiri dari komponen
matriks dan sel. Matriks tulang terdiri dari serat-serat kolagen dan protein nonkolagen. Sedangkan sel tulang terdiri dari osteoblas, oisteosit, dan osteoklas.
Osteoblas membangun tulang dengan membentuk kolagen tipe I dan proteoglikan
sebagai matriks tulang atau jaringan osteosid melalui suatu proses yang disebut
osifikasi. Ketika sedang aktif menghasilkan jaringan osteoid, osteoblas
mensekresikan sejumlah besar fosfatase alkali, yang memegang peranan penting
dalam mengendapkan kalsium dan fosfat ke dalam matriks tulang.
Sebagian dari fosfatase alkali akan memasuki aliran darah, dengan
demikian maka kadar fosfatase alkali di dalam darah dapat menjadi indikator yang
baik tentang tingkat pembentukan tulang setelah mengalami patah tulang atau
pada kasus metastasis kanker ke tulang. Osteosit adalah sel-sel tulang dewasa
yang bertindak sebagai suatu lintasan untuk pertukaran kimiawi melalui tulang
yang padat.
Osteoklas adalah sel-sel berinti banyak yang memungkinkan mineral dan
matriks tulang dapat diabsorbsi. Tidak seperti osteoblas dan osteosit, osteoklas
mengikis tulang. Sel-sel ini menghasilkan enzim proteolitik yang memecahkan
matriks dan beberapa asam yang melarutkan mineral tulang sehingga kalsium dan
fosfat terlepas ke dalam aliran darah (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton.
1997).

4.

Pathofisiologi
Sarkoma osteogenik (Osteosarkoma) merupakan neoplasma tulang primer

yang sangat ganas. Tumor ini tumbuh dibagian metafisis tulang tempat yang
paling sering terserang tumor ini adalah bagian ujung tulang panjang, terutama
lutut. Penyebab osteosarkoma belum jelas diketahui, adanya hubungan
kekeluargaan menjadi suatu predisposisi. Begitu pula adanya hereditery.
Dikatakan beberapa virus onkogenik dapat menimbulkan osteosarkoma
pada hewan percobaan. Radiasi ion dikatakan menjadi 3% penyebab langsung
osteosarkoma. Akhir-akhir ini dikatakan ada 2 tumor suppressor gen yang
berperan secara signifikan terhadap tumorigenesis pada osteosarkoma yaitu
protein P53 (kromosom 17) dan Rb (kromosom 13).
Lokasi tumor dan usia penderita pada pertumbuhan pesat dari tulang
memunculkan perkiraan adanya pengaruh dalam patogenesis osteosarkoma. Mulai
tumbuh bisa didalam tulang atau pada permukaan tulang dan berlanjut sampai
pada jaringan lunak sekitar tulang epifisis dan tulang rawan sendi bertindak
sebagai barier pertumbuhan tumor kedalam sendi. Osteosarkoma mengadakan
metastase secara hematogen paling sering keparu atau pada tulang lainnya dan
didapatkan sekitar 15%-20% telah mengalami metastase pada saat diagnosis
ditegakkan.
Adanya tumor di tulang menyebabkan reaksi tulang normal dengan
respons osteolitik (destruksi tulang) atau respons osteoblastik (pembentukan
tulang). Beberapa tumor tulang sering terjadi dan lainnya jarang terjadi, beberapa
tidak menimbulkan masalah, sementara lainnya ada yang sangat berbahaya dan
mengancam jiwa.
Tumor ini tumbuh di bagian metafisis tulang panjang dan biasa ditemukan
pada ujung bawah femur, ujung atas humerus dan ujung atas tibia. Secara
histolgik, tumor terdiri dari massa sel-sel kumparan atau bulat yang
berdifferensiasi jelek dan sring dengan elemen jaringan lunak seperti jaringan
fibrosa atau miksomatosa atau kartilaginosa yang berselang seling dengan ruangan
darah sinusoid. Sementara tumor ini memecah melalui dinding periosteum dan

menyebar ke jaringan lunak sekitarnya; garis epifisis membentuk terhadap


gambarannya di dalam tulang.
Adanya tumor pada tulang menyebabkan jaringan lunak diinvasi oleh sel
tumor. Timbul reaksi dari tulang normal dengan respon osteolitik yaitu proses
destruksi atau penghancuran tulang dan respon osteoblastik atau proses
pembentukan tulang. Terjadi destruksi tulang lokal. Pada proses osteoblastik,
karena adanya sel tumor maka terjadi penimbunan periosteum tulang yang baru
dekat lempat lesi terjadi sehingga terjadi pertumbuhan tulang yang abortif.
Keganasan sel pada mulanya berawal pada sumsum tulang (myeloma) dari
jaringan sel tulang (sarcoma) sel-sel tulang akan berada pada nodul-nodul limfe,
hati dan ginjal sehingga dapat mengakibatkan adanya pengaruh aktifitas
hematopeotik sumsum tulang yang cepat pada tulang sehingga sel-sel plasma
yang belum matang/tidak matang akan terus membelah terjadi penambahan
jumlah sel yang tidak terkontrol lagi (Setyohadi, 2007; Wilson. 2005; Guyton.
1997).

5.

Pathway

6.

Klasifiksasi
Klasifikasi menurut WHO ditetapkan berdasarkan atas kriteria histologist,

jenis diferensiasi sel-sel tumor yang diperhatikan dan jenis inter seluler matriks
yang diproduksi. Dalam hal ini dipertimbangkan sifat-sifat tumor, asal usul sel
serta pemeriksaan histologist menetapkan jenis tumor bersifat jinak atau ganas.
Sel-sel dari muskuloskeletal berasal dari mesoderm tapi kemudian
berdiferensiasi menjadi beberapa sel osteoklas, kondroblas, fibroblas, mieloblas.
Oleh karena itu sebaiknya klasifikasi tumor tulang berdasarkan atas asal sel, yaitu
bersifat osteogenik, kondrogenik atau mielogonik. Meskipun demikian terdapat
kelompok yang tidak termasuk dalam kelompok tumor yaitu kelainan reaktif
(reactive bone) atau hamartoma yang sebenarnya berpotensi menjadi ganas.
Beberapa hal yang penting yang sehubungan dengan penetapan klasifikasi
yaitu :
a. Jaringan yang mudah menyebar tidak selalu harus merupakan jaringan
asal.
b. Tidak ada hubungan patologis atau klinis dalam kategori khusus.
c. Sering tidak ada hubungan antara kelainan jinak dan ganas dengan
unsur-unsur jaringannya. Misalnya osteoma dan osteosarkoma.
d. Beberapa tumor hanya disebut dalam suatu kelompok yang sederhana,
misalnya osteosarkoma.
Tabel 2.1 Klasifikasi Tumor Tulang Berdasarkan Kriteria
Histologik Tuor Tulang (WHO)

7.

Beberapa Variasi Dari Osteosarkoma


a. Parosteal Osteosarkoma
Parosteal osteosarkoma yang tipikal ditandai dengan lesi pada
permukaan tulang, dengan terjadinya diferensiasi derajat rendah dari
fibroblast dan membentuk waven bone atau lamellar bone. Biasanya
terjadi pada umur lebih tua dari osteosarkoma klasik, yaitu pada umur 2040 tahun. Bagian posterior dari distal fermur merupakan daerah predileksi
yang paling sering, selain bisa juga mengenai tulang-tulang panjang yang
lainnya. Tumor dimulai dari daerah korteks tulang dengan dasar yang
lebar, yang makin lama lesi ini bisa invasi kedalam korteks dan masuk ke
endosteal. Pengobatannya adalah dengan cara operasi, melakukan eksisi
dari tumor dan survival ratenya bisa mencapai 80-90%.
b. Periosteral Osteosarkarmo
Periosteral osteosarkoma merupakan osteosarkoma derajat sedang
(moderate-grade) yang merupakan lesi pada permukaan tulang bersifat
kondroblastik, dan sering terdapat pada daerah proksimal tibia. Sering juga
dapat pada diafise tulang panjang seperti pada femur dan bahkan bisa pada
tulang pipih seperti mandibula. Terjadi pada umur yang sama dengan
klasik osteosarkoma. Derajat metastasenya lebih rendah dari osteosarkoma
klasik yaitu 20%-35% terutama ke paru-paru. Pengobatannya adalah
dilakukan operasi marginal-wide eksisi (wide-margin surgical resection),
dengan didahului preoperative kemoterapi dan dilanjutkan sampai postoperasi.
c. Telangiectasis Osteosarkoma
Telangiectasis
gambaran

lesi

osteosarkoma

yang

radiolusen

pada

plain

dengan

radiografi

sedikit

kelihatan

kalsifikasi

atau

pembentukan tulang. Dengan gambaran seperti ini sering dikelirukan


dengan lesi benigna pada tulang seperti aneurismal bone cyst. Terjadi pada
umur yang sama dengan klasik osteosarkoma. Tumor ini mempunyai
derajat keganasan yang sangat tinggi dan sangat agresif. Diagnosis dengan
biopsy sangat sulit oleh karena tumor sedikit jaringan yang padat, dan

sangat vaskuler. Pengobatannya sama dengan osteosarkoma klasik, dan


sangat reposif terhadap adjuvant chemotherapy.
d. Osteosarkarmo Sekunder
Osteosarkoma dapat terjadi dari lesi jinak pada tulang, yang
mengalami mutasi sekunder dan biasanya terjadi pada umur yang lebih
tua, misalnya bisa berasal dari pagets disease, osteblastoma, fibous
dysplasia, benign giant cell tumor, Contoh klasik dari osteosarkoma
sekuder adalah yang berasal dari pagets disease yang disebut pegetic
osteosarcoma. Di Eropa merupakan 3% dari seluruh osteosarkoma dan
terjadi pada umur

yang tua. Lokasi yang tersering adalah humerus,

kemudian di daerah pelvis dan femur. Perjalanan penyakit sampai


mengalami degenerasi ganas memakan waktu cukup lama 15-25 tahun
dengan mengeluh nyeri pada daerah inflamasi dari pagets disease.
Selanjutnya rasa nyeri bertambah, disusul oleh terjadinya destruksi tulang.
Prognosis dari pegetic osteosarcomas sangat jelek dengan five years
survival rate rata-rata hanya 8%. Oleh karena terjadi pada orang tua, maka
pengobatan

dengan

kemoterapi

tidak

merupakan

pilihan

karena

toleransinya rendah.
e. Osteosarkarmo Intrameduler derajat Rendah
Tipe ini sangat jarang dan merupakan variasi osseofibrous derajat
rendah yang terletak intrameduler. Secara mikrospik gambarannya mirip
parosteal osteosarkoma. Lokasinya pada daerah metafise tulang dan
terbanyak pada daerah lutut. Penderita biasanya mempunyai umur yang
lebih tua yaitu 15-65 tahun, mengenai laki-laki dan wanita hampir sama.
Pada pemeriksaan radiografi, tampak gambaran sklerotik pada daerah
intrameduler

metafise

tulang

panjang.

Seperti

pada

parosteral

osteosarkoma, osteosarkoma tipe ini mempunyai prognosis yang baik


dengan hanya melakukan local eksisi saja.

f. Osteosarkarmo Akibat Radiasi


Osteosarkarma bisa terjadi setelah mendapatkan radiasi melebihi dari
30Gy. Onsetnya biasanya sangat lama berkisar antara 3-35 tahun, dan
derajat keganasannya sangat tinggi dengan prognosis jelek dengan angka
metastasenya tinggi.
g. Multisentrik Osteosarkarmo
Disebut juga Multifocal Osteosarcoma. Variasi ini sangat jarang
yaitu terdapatnya lesi tumor yang secara bersamaan pada lebih dari satu
tempat. Hal ini sangat sulit membedakan apakah sarcoma memang terjadi
bersamaan pada lebih dari satu tempat lesi tersebut merupakan suatu
metastase. Ada dua tipe yaitu: tipe Synchronous dimana terdapatnya lesi
secara bersamaan pada lebih dari satu tulang. Tipe ini sering terdapat pada
anak-anak dan remaja dengan tingkat keganasannya sangat tinggi. Tipe
lainnya adalah tipe Metachronous yang terdapat pada orang dewasa, yaitu
terdapat tumor pada tulang lain setelah beberapa waktu atau setelah
pengobatan tumor pertama. Pada tipe ini tingkat keganasannya lebih
rendah.
8.

Manifestasi Klinik
a. Nyeri

dan atau pembengkakan ekstremitas yang terkena (biasanya

menjadi semakin parah pada malam hari dan meningkat sesuai dengan
progresivitas penyakit)
b. Fraktur patologik
c. Pembengkakan pada atau di atas tulang atau persendian serta
pergerakan yang terbatas
d. Teraba massa tulang dan peningkatan suhu kulit di atas massa serta
adanya pelebaran vena
e. Gejala-gejala penyakit metastatik meliputi nyeri dada, batuk, demam,
berat badan menurun dan malaise.

9.

Pemeriksaan Diagnostik

a. Pemeriksaan Radiologi
Biasanya gambaran radiogram dapat membantu untuk menentukan
keganasan relative dari tumor tulang. Sebagai contoh, suatu lesi bertepi
bulat dan berbatas tegas cenderung bersifat jinak. Lesi seperti itu sering
kali memiliki tepi yang sklerotik, menunjukkan bahwa tulang yang
terserang memiliki cukup waktu dan kemampuan untuk memberikan
respon terhadap massa yang tumbuh. Gambaran tepi lesi yang tidak tegas
menandakan bahwa proses invasi tumor ke jaringan tulang yang berada di
sekitarnya. Lesi ini tumbuh dengan cepat dan tulang tidak mempunyai
cukup waktu guna mengadakan respon pembelahan untuk bereaksi
melawan massa tersebut. Perluasan lesi melalui korteks tulang merupakan
ciri khas suatu keganasan. Kalau tumor menembus korteks, periosteumnya
mungkin akan terkelupas. Mungkin periosteumnya akan mengadakan
respon dengan menimbun suatu lapisan tipis tulang yang reaktif, lalu
tulang akan terangkat, dan reaksi periosteal tersebut berulang kembali.
Pemeriksaan radiologi yang dilakukan untuk membantu menegakkan
diagnosis meliputi foto sinar - x lokal pada lokasi lesi atau foto survey
seluruh tulang (bone survey) apabila ada gambaran klinis yang mendukung
adanya tumor ganas/metastasis. Foto polos tulang dapat memberikan
gambaran tentang:
1) Lokasi lesi yang lebih akurat, apakah pada daerah epifisis, metafisis,
diafisis, atau pada organ-organ tertentu.
2) Apakah tumor bersifat soliter atau multiple.
3) Jenis tulang yang terkena
4) Dapat memberikan gambaran sifat tumor, yaitu: Batas, apakah berbatas
tegas atau tidak, mengandung kalsifikasi atau tidak
5) Sifat tumor, apakah bersifat uniform atau bervariasi, apakah
memberikan reaksi pada periosteum, apakah jaringan lunak disekitarnya
terinfiltrasi
6) Sifat lesi, apakah berbentuk kistik atau seperti gelembung sabun
Pemeriksaan radiologi lain yang dapat dilakukan, yaitu:
1) Pemindaian radionuklida. Pemeriksaan ini biasanya dipergunakan pada
lesi yang kecil seperti osteoma

2) CT-scan. Pemeriksaan CT-scan dapat memberikan informasi tentang


keberadaan tumor, apakah intraoseus atau ekstraoseus
3) MRI. MRI dapat memberikan informasi tentang apakah tumor berada
dalam tulang, apakah tumor berekspansi ke dalam sendi atau ke
jaringan lunak
b. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksan

laboratorium

merupakan

pemeriksaan

tambahan/

penunjang dalam membantu menegakkan diagnosis tumor. Pemeriksaan


laboratorium yang dilakukan meliputi:
1) Darah. Pemeriksaan darah meliputi pemeriksaan laju endap darah,
haemoglobin, fosfatase alkali serum, elektroforesis protein serum,
fosfatase asam serum yang memberikan nilai diagnostik pada tumor
ganas tulang.
2) Urine. Pemeriksaan urine yang penting adalah pemeriksaan protein
Bence-Jones.
c. Biopsi
Tujuan pengambilan biopsy adalah memperoleh material yang cukup
untuk pemeriksaan histologist, untuk membantu menetapkan diagnosis
serta grading tumor. Waktu pelaksanaan biopsi sangat penting sebab dapat
mempengaruhi hasil pemeriksaan radiologi yang dipergunakan pada
grading. Apabila pemeriksaan CT-scan dilakukan setelah biopsi, akan
tampak perdarahan pada jaringan lunak yang memberikan kesan gambaran
suatu keganasan pada jaringan lunak.
Ada dua metode pemeriksaan biopsi, yaitu :
1) Biopsi tertutup, dengan menggunakan jarum halus (fine needle
aspiration, FNA) dengan menggunakan sitodiagnosis, merupakan salah
satu biopsi untuk melakukan diagnosis pada tumor.
2) Biopsi terbuka. Biopsi terbuka adalah metode biopsi melalui tindakan
operatif. Keunggulan biopsy terbuka dibandingkan dengan biopsy
tertutup, yaitu dapat mengambil jaringan yang lebih besar untuk
pemeriksaan histologis dan pemeriksaan ultramikroskopik, mengurangi
kesalahan pengambilan jaringan, dan mengurangi kecenderungan

perbedaan diagnostik tumor jinak dan tumor ganas (seperti antara


enkondroma dan kondrosakroma, osteoblastoma dan osteosarkoma).
Biopsi terbuka tidak boleh dilakukan bila dapat menimbulkan
kesulitan pada prosedur operasi berikutnya, misalnya pada reseksi endblock .
10.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul, antara lain gangguan produksi antibodi,

infeksi yang biasa disebabkan oleh kerusakan sumsum tulang yang luas dan
merupakan juga efek dari kemoterapi, radioterapi, dan steroid yang dapat
menyokong terjadinya leucopenia dan fraktur patologis, gangguan ginjal dan
sistem hematologis, serta hilangnya anggota ekstremitas. Komplikasi lebih lanjut
adalah adanya tanda-tanda apatis dan kelemahan.
11.

Penatalaksanaan
Osteosarkoma mempunyai program yang lebih baik, disebabkan oleh

prosedur penegakkan diagnosis dan staging dari tumor yang lebih baik, begitu
juga dengan adanya pengobatan yang lebih canggih. Dalam penanganan
osteosarkoma modalitas pengobatannya dapat dibagi atas dua bagian yaitu dengan
kemoterpai dan dengan operasi.
a. Kemoterapi
Kemoterapi merupakan pengobatan yang sangat vital pada
osteosarkoma, terbukti dalam 30 tahun belakangan ini dengan kemoterapi
dapat

mempermudah

melakukan

prosedur

operasi

penyelamatan

ekstremitas (limb salvage proceure) dan meningkatkan survival rute dari


penderita. Kemoterapi juga mengurangi metastase ke paru-paru dan
sekalipun ada, mempermudah melakukan eksisi pada metastase tersebut.
Regimen standar kemoterapi yang dipergunakan dalam pengobatan
osteosarkamo

adalah

kemoterapi

preoperative

(preoperative

chemotherapy) yang disebut juga dengan induction chemotherapy atau


neoadjuvant chemotherapy dan kemoterapi postoperative (postoperative

chemotherapy) yang disebut juga dengan adjuvant chemotherapy.


Kemoterapi preoperatif merangsang terjadinya nekrosis pada tumor
primernya, sehingga tumor akan mengecil. Selain itu akan memberikan
pengobatan secara dini terhadap terjadinya mikro-metastase. Keadaan ini
akan membantu mempermudah melakukan operasi reseksi secara luas dari
tumor dan sekaligus masih dapat mempertahankan ekstrimnya. Pemberian
kemoterapi posperatif paling baik dilakukan secepat mungkin sebelum 3
minggu setelah operasi. Obat-obat kemoterapi yang mempunyai hasil
cukup efektif untuk osteosarkoma adalah: doxorubicin (Andriamycin),
cisplatin (Platinol), ifosfamide (Ifex), mesna (Rheumatrex). Protocol
standar yang digunakan adalah doxorubicin dan cisplatin dengan atau
tanpa methotrexate dosis tinggi, baik sebagai terapi induksi (neoadjuvant)
atau terai adjuvant. Kadang-kadang dapat ditambah dengan ifosfamide.
Dengan menggunakan pengobatan multi-agent ini, dengan dosis yang
intensif, terbukti memberikan perbaikan terhadap survival rate 60-80%.
b. Operasi
Saat ini prosedur Limb Salvage merupakan tujuan yang diharapkan
dalam operasi suatu osteosarkoma. Maka dari itu melakukan reseksi tumor
dan melakukan rekrontruksinya kembali dan mendapatkan fungsi yang
memuaskan dari ektermitas merupakan salah satu keberhasilan melakukan
operasi. Dengan memberikan kemoterpi preoperatif (induction =
neodjuvant

chemotherapy)

melakukan

operasi

mempertahankan

ekstremitas (limb-sparing resection) dan sekaligus melakukan rekonstruksi


akan lebih aman dan mudah, sehingga amputasi tidak perlu pada 90
sampai 95% dari penderita osteosarkoma. Dalam penelitian terbukti tidak
terdapat perbedaan survival rate antara operasi amputasi dengan limbsparing resection. Amputasi terpaksa dikerjakan apabila prosedur limbsavage tidak dapat atau tidak memungkinkan lagi dikerjakan. Setelah
melakukan reseksi tumor, terjadi kehilangan cukup banyak dari tulang dan
jaringan lunaknya, sehingga memerlukan kecakapan untuk merekonstruksi
kembali dan ekstremitas tersebut. Biasanya untuk rekonstruksi digunakan

endo-protesis dari methal. Protesis ini memberikan stabilitas fiksasi yang


baik sehingga penderita dapat menginjak (weight-bearing) dan mobilitas
secara cepat, memberikan stabilitas sendi yang baik, dan fungsi dari
ekstremitas yang baik dan memuaskan. Begitu juga endoprotesis methal
meminimalisasi

komplikasi

post

operasinya

disbanding

dengan

menggunakan bone graft.


c. Follow-up Post-operasi
Post operasi dilanjutkan pemberian kemoterapi obat multiagent
seperti sebelum operasi. Setelah pemberian kemoterapinya selesai maka
dilakukan pengawasan terhadap kekambuhan tumor secara local maupun
adanya metastase, dan komplikasi terhadap proses rekonstruksinya.
Biasanya komplikasi yang terjadi terhadap rekonstruksinya adalah:
longgarnya protesis,

infeksi, kegagalan mekanik. Pemerikasaan fisik

secara rutin pada tempat operasinya maupun secara sistematik terhadap


terjadinya kekambuhan maupun adanya metastase. Pembuatan plain-foto
dan CT scan dari local ekstremitasnya maupun paru-paru merupakan hal
yang harus dikerjakan. Pemerikasaan ini dilakukan setiap 3 bulan dalam 2
tahun pertama post operasinya, dan setiap 6 bulan pada 5 tahun berikutnya.
PROSES KEPERAWATAN DENGAN OSTEOSARKOMA
a. Pengkajian
1) Identitas pasien
Nama,

umur,

jenis

kelamin,

pendidikan,

pekerjaan,

status

perkawinan, alamat, dan lain-lain.

2) Anamnesa
Pengkajian berdasarkan karakterisitik nyeri:
P (Palliative)

: tidak teridentifikasi

Q (Quality/quanty)

: pada kasus ini nyeri yang dirasakan klien


terus menerus.

R (Region)

: nyeri terletak pada tungkai bawah kanan.

S (Scale)

: klien menyatakan bahwa nyerinya ada pada


skala 9 (0-10)

T (Time)

: nyeri terjadi sejak 3bulan yang lalu dan


akan

bertambah

bengkaknya

nyeri

disentuh

apabila

atau

area

bergesekan

dengan kain.
3) Riwayat kesehatan
a) Riwayat kesehatan sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada daerah tulang yang terkena
Klien mengatakan susah untuk beraktifitas/keterbatasan gerak
Mengungkapkan akan kecemasan akan keadaannya
b) Riwayat kesehatan dahulu
Perlu dikaji apakah klien pernah menderita suatu penyakit yang
berat/penyakit tertentu yang memungkinkan berpengaruh pada
kesehatan sekarang, kaji adanya trauma prosedur operatif dan
penggunaan obat-obatan.
c) Riwayat kesehatan keluarga
Kaji kemungkinan adanya anggota keluarga yang mengalami
gangguan seperti yang dialami klien/gangguan tertentu yang
berhubungan secara langsung dengan gangguan hormonal seperti
gangguan pertumbuhan dan perkembangan.
4) Pengkajian fisik
a) Inspeksi :
Postur: terlihat massa sebesar bola tenis di tungkai kanan,

kemerahan, dan mengkila


Gaya berjalan: nyeri dirasakan klien pada skala 9 sehingga

dapat dipastikan klien tidak bisa berjalan dengan baik


ROM : klien tidak dapat bergerak bebas
Perubahan warna kulit: terlihat perubahan kulit berupa rubor
dan mengkilat pada area pembengkakan, ditemukan adanya

pus berwarna hijau.


b) Palpasi :

Nyeri tekan bertambah apabila disentuh dan bergesekan

dengan kain, sehingga perawat tidak boleh menekannya


Edema (tempat, ukuran, temperature) Edema pada tungkai
bawah kanan klien sebesar bola tennis dan timbul rubor dan

mengkilat
5) Hasil laboratorium/radiologi
Terdapat gambaran adanya kerusakan tulang dan pembentukan

tulang baru
Adanya gambaran sun ray spicules atau benang-benang tulang

dari kortek tulang


Terjadi peningkatan kadar alkali posfatase
b. Diagnosa Keperawatan
1) Nyeri akut berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
(amputasi)
2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan
muskuloskletal, nyeri, dan amputasi
3) Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan
penekanan pada daerah tertentu dalam waktu yang lama.
4) Resiko infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka kerusakan
jaringan lunak

c. Intervensi
1) Nyeri akut berhubungan dengan proses patologik dan pembedahan
(amputasi)
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam
masalah nyeri akut teratasi seluruhnya
DS
: Klien mengatakan nyeri sebelum dan setelah pembedahan
DO
: Fokus diri klien tampak menyempit, dan
Perilaku klien tampak melindung diri / berhati-hati
Kriteria Hasil : - Klien mengatakan nyeri hilang dan terkontrol
- Klien tampak rileks, tidak meringgis, dan mampu
istirahat/tidur dengan tepat

Tampak memahami nyeri akut dan metode untuk


menghilangkannya, dan skala nyeri 0-2

Intervensi
Catat dan kaji lokasi dan intensitas

nyeri (skala 0-10). Selidiki

sejauh mana tingkat nyeri pasien

perubahan karakteristik nyeri


Berikan tindakan kenyamanan
(contoh ubah posisi sering, pijatan

lembut)
Berikan sokongan (support) pada
ektremitas yang luka

Rasional
Untuk mengetahui respon dan

Mencegah pergeseran tulang dan

penekanan pada jaringan yang luka.


Peningkatan vena return,
menurunkan edema, dan

mengurangi nyeri.
Agar pasien dapat beristirahat dan

mencegah timbulnya stress


Untuk mengurangi rasa sakit / nyeri

Berikan lingkungan yang tenang

Kolaborasi dengan dokter tentang


pemberian analgetik, kaji
efektifitas dari tindakan penurunan
rasa nyeri

2) Kerusakan mobilitas fisik yang berhubungan dengan kerusakan


muskuloskletal, nyeri, dan amputasi
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
DS
DO

masalah kerusakan mobillitas fisik teratasi seluruhnya.


: Klien mengatakan sulit untuk bergerak
: Klien tampak mengalami gangguan koordinasi; penurunan

kekuatan otot, kontrol dan massa.


Kriteria Hasil : - Pasien menyatakan pemahaman situasi individual,
-

program pengobatan, dan tindakan keamanan


Pasien tampak ikut serta dalam program
latihan/menunjukan

dalam aktivitas
Pasien
menunjukan

keinginan

berpartisipasi

teknik/perilaku

memampukan tindakan beraktivitas, dan

yang

Pasien tampak mempertahankan koordinasi dan

mobilitas sesuai tingkat optimal


Kerusakan integritas kulit atau

jaringan

berhubungan dengan penekanan pada daerah


tertentu dalam waktu yang lama

Intervensi
Kaji tingkat immobilisasi yang

Rasional
Pasien akan membatasi gerak

disebabkan oleh edema dan

karena salah persepsi (persepsi

persepsi pasien tentang

tidak proporsional).

immobilisasi tersebut
Dorong partisipasi dalam aktivitas

Memberikan kesempatan untuk


mengeluarkan energi, memusatkan

rekreasi (menonton TV, membaca

perhatian, meningkatkan perasaan

koran dll )

mengontrol diri pasien dan


membantu dalam mengurangi

Anjurkan pasien untuk melakukan

isolasi social
Meningkatkan aliran darah ke otot

latihan pasif dan aktif pada yang

dan tulang untuk meningkatkan

cedera maupun yang tidak

tonus otot, mempertahankan


mobilitas sendi, mencegah
kontraktur/atropi dan reapsorbsi Ca

Bantu pasien dalam perawatan

diri.

yang tidak digunakan


Meningkatkan kekuatan dan
sirkulasi otot, meningkatkan pasien
dalam mengontrol situasi,
meningkatkan kemauan pasien

Berikan diit Tinggi protein Tinggi


kalori, vitamin, dan mineral

untuk sembuh.
Mempercepat proses penyembuhan,
mencegah penurunan BB, karena

pada immobilisasi biasanya terjadi

Kolaborasi dengan bagian


fisioterapi

penurunan BB
Untuk menentukan program latihan

3) Kerusakan integritas kulit atau jaringan berhubungan dengan


penekanan pada daerah tertentu dalam waktu yang lama.
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah

kerusakan

integritas

kulit/jaringan

teratasi

seluruhnya.
Kriteria Hasil: Klien menunjukkan prilaku/tehnik untuk mencegah
kerusakan kulit tidak berlanjut.

Intervensi
Kaji adanya perubahan warna kulit
Pertahankan tempat tidur kering
dan bebas kerutan.

Rasional
Memberikan informasi tentang

sirkulasi kulit.
Untuk menurunkan tekanan pada
area yang peka resiko kerusakan

Ubah posisi dengan sesering


mungkin.

kulit lebih lanjut.


Untuk mengurangi tekanan
konstan pada area yang sama dan

pasien.

meminimalkan resiko kerusakan

Beri posisi yang nyaman kepada

kulit.
Posisi yang tidak tepat dapat

Kolaborasi dengan tim kesehatan

menyebabkan cedera

dan pemberian zalf/antibiotic

kulit/kerusakan kulit.
Untuk mengurangi terjadinya

kerusakan integritas kulit


4) Resiko infeksi berhubungan dengan fraktur terbuka kerusakan
jaringan lunak
Tujuan : Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
masalah resiko infeksi tidak terjadi
Kriteria Hasil : - Tidak ada tanda-tanda Infeksi
- Leukosit dalam batas normal, dan
- Tanda-tanda vital dalam batas normal.

Intervensi
Kaji keadaan luka (kontinuitas dari

kulit) terhadap adanya: edema,

Rasional
Untuk mengetahui tanda-tanda
infeksi.

rubor, kalor, dolor, fungsi laesa.


Anjurkan pasien untuk tidak

Meminimalkan terjadinya

memegang bagian yang luka


Rawat luka dengan menggunakan
teknik aseptic
Mewaspadai adanya keluhan nyeri

kontaminasi.
Mencegah kontaminasi dan

mendadak, keterbatasan gerak,

kemungkinan infeksi silang.


Merupakan indikasi adanya

edema lokal, eritema pada daerah

osteomilitis.

luka.
Kolaborasi pemeriksaan darah :
Leukosit

Leukosit yang meningkat artinya


sudah terjadi proses infeksi.

d. Implementasi
Pada tahap ini dilakukan pelaksanaan dari intervensi (perencanaan)
keperawatan yang telah ditentukan dengan tujuan yntuk memenuhi
kebutuhan klien secara optimal. Pelaksanaan adalah pengelolaan dan
perwujudan dari rencara keperawatan yang telah disusun pada tahap
perencanaan. (Nasrul Effendy, 1995)
e. Evaluasi
Evaluasi merupakan langkah akhir dalam proses keperawatan.
Evaluasi adalah kegiatan yang sengaja dan terus-menerus dengan
melibatkan klien, perawat, dan anggota tim kesehatan lainnya. Evaluasi
hasil berfokus pada respons dan fungsi klien. Respons prilaku klien
merupakan pengaruh dari intervensi keperawatan dan akan terlihat pada
pencapaian tujuan dan kriteria hasil. Untuk penentuan masalah teratasi,

teratasi sebagian, atau tidak teratasi adalah dengan cara membandingkan


antara SOAP dengan tujuan dan kriteria hasil yang telah ditetapkan.
-

Subjective adalah informasi berupa ungkapan yang didapat dari klien


setelah tindakan diberikan.

Objective adalah informasi yang didapat berupa hasil pengamatan,


penilaian, pengukuran yang dilakukan oleh perawat setelah tindakan
dilakukan.

Analisis adalah membandingkan antara informasi subjective dan


objective dengan tujuan dan kriteria hasil, kemudian diambil
kesimpulan bahwa masalah teratasi, teratasi sebagian, atau tidak
teratasi.

Planning adalah rencana keperawatan lanjutan yang akan dilakukan


berdasarkan hasil analisa.

Anda mungkin juga menyukai