Anda di halaman 1dari 10

Should Kroger Pay Now for What Ralph's Employee Did Then?

Astuti Marina Respatidewi


Galuh Hemastiti
Muhammad Rifky Refinaldi

MAGISTER MANAJEMEN
FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS
UNIVERSITAS GADJAH MADA YOGYAKARTA
2015

LATAR BELAKANG
Kroger adalah sebuah perusahaan yang berbasis di Cincinnati, dimana mengoperasikan
2.500 supermarket di 32 wilayah. Kroger mempunyai reputasi yang baik mengenai kebijakan
terhadap kemajuan dan keteladanan karyawan. Sebagai contoh, dalam kebijakan mengenai
pelecehan seksual. Kroger tidak memberikan toleransi sedikit pun terhadap karyawannya yang
melakukan pelecehan seksual.
Kasus dimulai tahun 1998 ketika Kroger mengakuisisi Ralphs, sebuah perusahaan yang
mempunyai cabang 450 toko. Roger Misiolek, manajer pada salah satu toko Ralphs, digugat
karena tindakan pelecehan seksual terhadap enam karyawatinya di Escondido, California.
Gugatan terhadap Ralphs telah terjadi pada 1996 oleh ke-6 karyawati yang menjadi korban
pelecehan seksual, yaitu Dianne Gober, Sarah Lange, Terri Finton, Peggy Noland, Suzanne
Pipiro, dan Tina Swann.
Beberapa karyawati yang menjadi korban sudah melaporkan kejadian ini kepada pihak
manajemen Ralphs. Namun perusahaan tidak menindak Misiolek dan tetap mempertahankan
posisinya sebagai manajer toko. Pihak manajemen justru memindahkan korban yang melapor ke
toko di wilayah lain. Para korban telah mengumpulkan dan mengajukan bukti-bukti yang
menunjukkan lebih dari 80 laporan pelecehan yang dilakukan Misiolek pada 4 toko yang berbeda
sejak 1985.

Salah satu korban, Dianne Gober, sebenarnya telah melaporkan kejadian ini kepada
senior vice president human resources di Compton, California. Akhirnya perusahaan menindak
lanjuti laporan tersebut dengan memindahkan Misiolek ke toko di Mission Viejo. Namun
kejadian tersebut terulang lagi dan memaksa perusahaan kembali memindahkan Misiolek, tetapi
kali ini dengan jabatan yang lebih rendah. Ralphs menyatakan bahwa tidak tahu mengenai
perbuatan Misiolek kecuali saat adanya laporan Dianee Gober.
Pengadilan terhadap kasus ini dimulai April 1998 dan berakhir Juni 1998. Selama
pemeriksaan pengadilan tersebut, para korban menyatakan bahwa Roger Misiolek melakukan
pelecehan seksual sejak dia mengangani toko tersebut, yaitu sejak 1995 hingga 1996. Misiolek
menyetuh dengan tidak wajar, menggunakan kata-kata kotor, dan terkadang mendorong
keranjang belanja kepada mereka. Selain itu, dirinya juga melakukan kekerasan dengan
melemparkan benda-benda di toko kepada korban seperti telepon. Kata-kata kasar seperti
penghinaan ras juga dilontarkan oleh salah satu korban. Misiolek juga menyentuh,
mencengkeram, memeluk dan memukul mereka. Misiolek membantah tuduhan tersebut dan
mengakui bahwa dirinya marah terhadap karyawati karena pakaian yang digunakan tidak pantas.
Beberapa bukti yang terkumpul dalam persidangan menunjukkan reputasi kerja yang baik dari
Misiolek sebagai manajer. Dirinya mampu meningkatkan laba yang besar bagi toko yang dia
tangani.
Juri pengadilan memvonis dua hal pada Ralphs pada 1 Juni 1998. Pertama, perusahaan
bertanggung jawab atas tindakan pelecehan gender, gagal dalam mencegah pelecehan tersebut,
dan mengabaikan rasa aman kepada orang lain. Kedua, kompensasi kerugian sebesar $550.000
kepada enam karyawati dan denda $3,325 juta. Tentunya, Kroeger ikut membayar kerugian
tersebut. Namun vonis tersebut segera dibatalkan. Joan Weber, Hakim California yang
memimpin pengadilan, menemukan bahwa salah satu juri merupakan pemegang saham dari
Ralphs. Para juri melakukan perundingan untuk menentukan besarnya denda terhadap Ralphs
berdasarkan kekayaan yang dimiliki perusahaan. Hakim Weber meminta tahap perundingan
diulang karena keputusan yang ada dinilai kurang obyektif. Para pengacara korba pun melakukan
banding terhadap keputusan tersebut.
Pada 1999, Misiolek masih bekerja di Ralphs meskipun di bagian bongkar muat barang.
Pada tahun 2000 dirinya mendapat surat peringatan dari perusahaan karena masih melakukan
tindakan pelecehan. Misiolek akhirnya dikeluarkan 14 bulan kemudian setelah adanya surat
peringatan tersebut namun masih belum berubah. Sidang banding digelar 2002 yang dipimpin

oleh Hakim Michael Anello. Dari sidang tersebut diumumkan bahwa kompensasi kerugian naik
menjadi $5 juta per korban ditambah kompensasi sebelumnya sebesar $550.000, sehingga total
menjadi $33,3 juta. Para pengacara korban menilai hal tersebut pantas mengingat total kekayaan
Ralphs yang mencapai $3,7 milliar.
Vonis tersebut kembali digugurkan oleh Hakim Anello beberapa bulan setelah sidang
banding berakhir. Anello menganggap bahwa kompensasi kerugian yang diberikan kepada enam
korban terlalu berlebihan dan keputusan dari para juri hanya berdasarkan prasangka buruk dan
emosi semata. Hakim menilai bahwa perbuatan tersebut merupakan tindakan perorangan yang
seharusnya tidak menyebabkan perusahaan menanggung keseluruhan denda. Hakim memutuskan
untuk mengurangi denda menjadi $8,25 juta sebagai peringatan kepada Ralphs dan perusahaan
lain tentang masalah serupa. Namun pada bulan Juli, terdapat dua wanita yang setuju yaitu
Dianne Gober dan Tina Swann menyetujui hasil keputusan sidang, sedangkan empat wanita
lainnya tidak menyetujui. Kasus ini berujung pada 1 Maret tahun 2006, dimana pengadilan tinggi
telah menetapkan bahwa wanita yang menjadi korban kekerasan mendapatkan kompensasi dan
seharusnya perusahaan sebesar Kroger tidak dihukum.

LANDASAN TEORI
The Ethics of Job Discrimination :

Diskriminasi Tenaga Kerja


Diskriminasi tenaga kerja berarti membuat keputusan atau serangkaian keputusan yang
merugikan pegawai ataupun calon pegawai yang merupakan anggota kelompok tertentu
karena adanya prasangka secara moral tidak dibenarkan terhadap kelompok tersebut.

Diskriminasi Utilitarian
Diskriminasi yang mengarahkan pada penggunaan sumber daya manusia secara tidak
efisien.

Diskriminasi Hak
Diskriminasi yang melanggar hak asasi manusia

Diskriminasi Keadilan
Diskriminasi yang mengakibatkan munculnya perbedaan distribusi keuntungan dan beban
dalam masyarakat.

Praktek diskriminasi pada kegiatan kerja dan hingga berdampak pada tenaga kerja sering kali
terjadi pada saat :

Recruitment : perusahaan cenderung merekrut pegawai dari kelompok ras dan jenis
kelamin yang sama dengan yang terdapat dalam perusahaan.

Screening : proses pemilihan calon pegawai terkadang dilakukan dengan tidak relevan
dengan pekerjaan yang akan dilaksanakan, terkadang ada faktor-faktor lain yang
dipertimbangkan.

Kenaikan pangkat : perusahaan dalam melakukan kenaikan pangkat tidak didasari dengan
kemampuan dari pegawai.

Kondisi pekerjaan : para pekerja diberikan pekerjaan dalam jumlah yang tidak sama yang
pada dasarnya ada di tingkatan yang sama.

PHK : perusahaan melakukan pemecatan pegawai berdasarkan pertimbangan ras dan


jenis kelamin, ataupun tidak berdasarkan hal yang relevan.

Sexual harrasment diartikan dengan kondisi dimana adanya kejadian seksual yang tidak
diinginkan, ataupun kontak verbal atau fisik yang menjurus kearah pelecehan seksual. Dalam hal
ini wanita yang seringkali menjadi korban diskriminasi yang dilakukan secara terang-terangan
maupun dalam bentuk paksaan. Meskipun pria juga bisa mengalami sexual harassment, tetapi
dalam perusahaan lebih banyak wanita yang sering mengalaminya dan dijadikan objek seksual.

RUMUSAN MASALAH :
1. Apakah dapat dipercaya menurut hakim bahwa perusahaan secara keseluruhan tidak harus
bertanggungjawab atas perbuatan Misiolek? Haruskah perusahaan bertanggungjawab atas
kebijakan keluhan yang tidak sampai ke kepala cabang?
2. Apakah penalty $33,3 Million terlalu berlebihan? Jelaskan apakah putusan final tahun 2006
adil?
3. Haruskah Kroger membayar penalty padahal kejadiannya sebelum Kroger mengakuisisi
Ralphs?
4. Apa yang dilakukan perusahaan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali? Apa
pendapat anda tentang ralphs mengizinkan Misiolek meneruskan mengelola toko?

PEMBAHASAN
1. Keluhan mengenai perilaku manager Misiolek tidak sampai terdengar dikantor pusat
ralphs di Compton, apakah Anda percaya bahwa hakim benar yang percaya bahwa
perusahaan secara keseluruhan tidak harus bertanggung jawab atas perbuatan Misiolek?.
Haruskah perusahaan bertanggung jawab atas kebijakan keluhan yang tidak sampai ke
kepala cabang?
a. Dalam pandangan kami, hakim tidak benar apabila perusahaan secara keseluruhan
tidak harus bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap perusahaan harus
bertanggung jawab atas tindakan mereka termasuk Ralphs. Menurut apa yang telah
dipelajari, organisasi perusahaan secara moral bertanggung jawab atas tindakan
mereka dan bahwa tindakan mereka bermoral atau tidak bermoral mempunyai arti
yang sama dalam kemanusian. Oleh karena itu Ralphs secara moral bertanggung
jawab atas tindakan mereka berasumsi bahwa keluhan tidak mencapai markas Ralphs
di Compton atau tidak.
b. Perusahaan harus bertanggung jawab atas kebijakan yang menghambat keluhan untuk
mencapai ke markas. Manajemen Ralphs' tidak memfasilitasi umpan balik, keluhan
dari karyawan ke kantor pusat. Juga tidak ada mekanisme kontrol pada Ralphs
Grocery Co. Yang paling penting adalah bahwa pada bulan April 1996 beberapa
wanita sudah mengeluh kepada manajemen Ralphs' tetapi perusahaan tidak
mengambil tindakan apapun untuk mendisiplinkan Misiolek dan tidak ada tindakan
untuk memecahkan masalah. Dalam kata lain, Ralphs Perusahaan tidak menghukum
Misiolek. Apa yang Ralphs Perusahaan lakukan adalah memindahkan wanita-wanita
yang mengeluh terhadap Misiolek ke supermarket lain dan mempertahankan Misiolek
tetap sebagai manajer supermarket.
2. Dalam pandangan anda jelasakan apakah penalty $33.3 Million terlalu berlebihan?
Jelasakan apakah putusan final tahun 2006 adil ?

Penalti yang diberikan sebaiknya merupakan kompensasi ganti rugi dan hukuman. Ini
akan menjadi ide yang baik berdasarkan prinsip keadilan kompensasi. Dalam
pandangan kami, itu sebenarnya tergantung pada seberapa banyak biaya untuk
merehabilitasi para korban dan berapa banyak korban yang dirugikan. Biaya pinalti
$33.300.000 berlebihan karena dampak psikologis bagi beberapa karyawan tidak
sama. Kecuali bagi mereka yang dicengkram, disentuh, ditepuk-tepuk, dipeluk,
disentuh payudaranya mereka harus diberikan biaya rehabilitasu yang lebih. Selain
itu, Ralphs Perusahaan harus membayar ganti rugi untuk para wanita karena Ralphs
tidak melakukan pekerjaan dengan baik atas keluhan dari daerah yang membuat
banyak karyawan merasa tidak enak. Kelompok kami ingin mengatakan bahwa sulit
untuk menilai apakah adil atau tidak adil. Seperti yang kami sebutkan sebelumnya,
seberapa banyak kerusakan yang bisa mereka terima dari Ralphs tergantung pada
setiap situasi tertentu. Selain itu, pelecehan tidak seperti memperkosa. Dengan kata
lain, penghakiman terakhir setidaknya tidak ekstrim.
3. Haruskah kroger membayar penalty padahal kejadiannya sebelum kroger mengakusisi
ralphs?.
Secara etis Kroger tidak harus membayar sama sekali karena insiden itu terjadi
sebelum Kroger bahkan dimiliki Ralphs. Namun sebenarnya itu tergantung pada isi
kontrak akuisisi antara Kroger dengan Fred Meyer dan Fred Meyer dengan Ralphs.
Jika Kroger Perusahaan mengambil alih seluruh rantai supermarket terus bertanggung
jawab untuk itu, maka Kroger harus membayar kompensasi dang anti rugi sesuai
dengan keputusan pengadilan.
4. Apa yang dilakukan perusahaan agar kejadian tersebut tidak terulang kembali? Apa
pendapat anda tentang ralphs mengizinkan Misiolek meneruskan mengelola toko?
Kroger harus membuat peraturan terkait dengan penyimpangan perilaku karyawan
dan melakukan pengawasan secara ketat. Kepada pelanggar peraturan perusahaan
harus diberi sanksi yang tegas mulai dari teguran, penurunan posisi bahkan
melakukan pemecatan. Perusahaan juga harus membangun jalur komunikasi yang
lancar dari posisi paling bawah/rendah sampai kepada posisi top managemen.
Mencegah prinsip-prinsip abs, yaitu atasan menerima laporan dari bawah tanpa

melakukan check dan recheck atas laporan tersebut. Memperbaiki sitem reqruitment
karyawan agar terhindar mendapatkan personal yang memiliki kelainan perilaku
seperti Roger Misiolek. Kroger harus membuat peraturan terkait dengan
penyimpangan perilaku karyawan dan melakukan pengawasan secara ketat. Kepada
pelanggar peraturan perusahaan harus diberi sanksi yang tegas mulai dari teguran,
penurunan posisi bahkan melakukan pemecatan. Perusahaan juga harus membangun
jalur komunikasi yang lancar dari posisi paling bawah/rendah sampai kepada posisi
top managemen. Mencegah prinsip-prinsip abs, yaitu atasan menerima laporan dari
bawah tanpa melakukan check dan recheck atas laporan tersebut. Memperbaiki sitem
reqruitment karyawan agar terhindar mendapatkan personal yang memiliki kelainan
perilaku seperti Roger Misiolek.

KESIMPULAN DAN SARAN


Berdasarkan kasus diatas dengan adanya tindakan sexual harassment yang terjadi pada
karyawan wanita di Kroger seharusnya hakim tidak menghukum Kroger dengan uang penalty,
melainkan seharusnya menghukum Robert Misiolek yang dalam kasus ini sebagai pelaku utama
harassment. Sehingga dapat mengakibatkan efek jera bagi Robert untuk tidak mengulangi
tindakan tersebut.
Bagi perusahaan sebaiknya melakukan pelatihan bagi manajer dan karyawan tenatng
bagaimana mengelola keragaman serta sanksi-sanksi yang akan dikenakan apabila melanggar
aturan-aturan yang telah diberlakukan. Sehingga bisa menjadi acuan dan peringatan tersendiri
bagi para karyawan.