Anda di halaman 1dari 24

TRANSESTERIFIKASI

(PROSES PRODUKSI BIODISEL)

I. TUJUAN PERCOBAAN
1.1 Memahami proses transesterifikasi dalam pembuatan alkil ester
(Biodiesel).
1.2 Membuat alkil ester dari asam lemak melalui proses transesterifikasi.
1.3 Menentukan viskositas biodiesel.

II. PRINSIP PERCOBAAN


2.1 Reaksi Transesterifikasi
Reaksi antara suatu alkohol dengan katalis asam atau basa membentuk
suatu senyawa ester.

2.2 Distilasi
Suatu teknik pemisahan atau pemurnian suatu campuran berdasarkan
perbdaaan titik didih.
• Hukum Dalton
Tekanan total dari suatu larutan adalah jumlah tekanan parsial
masing- masing komponen penyusunnya.
P tot = Pa + Pb + …+ Pn
dimana:
P total = tekanan uap total / mmHg
Pa,Pb,Pn = tekanan uap parsial komponen penyusunnya
• Hukum Roult
Tekanan uap suatu larutan sebanding dengan tekanan uap pelarut
murni dikalikan dengan fraksi molnya.
Pa = P°a . Xa
dimana :
Pa = tekanan uap larutan a / mmHg
Xa = fraksi mol a

1
• Aturan Fase Gibbs
Hubungan derajat kebebasan suatu sistem dengan komponendan fase.
F=C–P+2
Keterangan :
F= derajat kebebasan
C= jumlah komponen suatu sistem
P =fase pembentuk sistem

• Titik Didih
Suatu keadaan dimana terjadi kesetimbangan antara fase cair dan fase
gas. Pada keadaan ini senyawa mulai berubah dari fase cair ke gas.

2.3 Ekstraksi
• Hukum Distribusi Nernst
Jika ke dalam dua pelarut yang tidak bercampur ditambahkan suatu
zat ketiga, maka zat tersebut akan terdistribusi sedemikian rupa pada
masing-masing pelarut dengan perbandingan konsentrasi pada suhu
tertentu adalah tetap.

dimana :
Kd = koefisien distribusi
Corg = konsentrasi suatu zat dalam pelarut organik
Cair = konsentrasi suatu zat dalam pelarut air

• Like Dissolve Like


Suatu senyawa cenderung mudah larut dalam pelarut yang memilki
kepolaran relatif sama.

2
III. REAKSI

3
IV. TEORI DASAR

Di alam ini terdapat berbagai jenis bahan bakar yang dapat dimanfaatkan
dalam kehidupan manusia. Secara umum, bahan bakar dapat dibedakan atas
beberapa kelompok, yaitu :

1. Bahan bakar padat

Ada berbagai jenis bahan bakar. Bahan bakar padat termasuk batu bara
dan kayu. Seluruh jenis tersebut dapat terbakar, dan menciptakan api dan panas.
Batu bara dibakar dengan kereta uap untuk memanaskan air sehingga menjadi uap
untuk menggerakkan peralatan dan menyediakan energi. Kayu umumnya
digunakan untuk pemanasan domestik dan industri.

2. Bahan bakar cair dan gas

Bahan bakar yang non-solid (padat) termasuk minyak dan gas (keduanya
mempunyai subjenis yang beragam diantaranya adalah bahan bakar alam dan
bensin).

3. Bahan bakar nuklir

Dalam suatu reaksi nuklir, bahan bakar yang radioaktif akan melalui
pemecahan nuklir. Hasil dari proses ini adalah sumber energi tanpa proses
pembakaran.

Untuk lebih mengetahui secara lebih terperinci tentang bahan bakar,


dibawah ini dijelaskan secara lebih mendalam tentang jenis-jenis bahan bakar,
yaitu :

1. Minyak

Minyak adalah istilah umum untuk semua cairan organik yang tidak
larut/bercampur dalam air. Dalam arti sempit, kata 'minyak' biasanya mengacu ke

4
minyak bumi (petroleum) atau bahkan produk olahannya: minyak tanah
(kerosene). Namun demikian, kata ini sebenarnya berlaku luas, baik untuk minyak
sebagai bagian dari diet makanan (misalnya minyak goreng), sebagai bahan bakar
(misalnya minyak tanah), sebagai pelumas (misalnya minyak rem), sebagai
medium pemindahan energi, maupun sebagai wangi-wangian (misalnya minyak
nilam).

Jenis-jenis minyak

Dilihat dari asalnya terdapat dua golongan besar minyak:

a. Minyak tumbuhan dan hewan

Minyak tumbuhan dan hewan semuanya merupakan lipida. Dari sudut


pandang kimia, minyak kelompok ini sama saja dengan lemak. Minyak dibedakan
dari lemak berdasarkan sifat fisiknya pada suhu ruang: minyak berwujud cair
sedangkan lemak berwujud padat. Penyusunnya bermacam-macam, tetapi yang
banyak dimanfaatkan orang hanya yang tersusun dari dua golongan saja:

o Gliserida dan atau asam lemak, yang mencakup minyak makanan


(minyak masak atau minyak sayur serta minyak ikan), bahan baku industri
sabun, bahan campuran minyak pelumas, dan bahan baku biodiesel.
Golongan ini biasanya berwujud padat atau cair pada suhu ruang tetapi
tidak mudah menguap.
o Terpena dan terpenoid, yang dikenal sebagai minyak atsiri, atau
minyak eteris, atau minyak esensial dan merupakan bahan dasar wangi-
wangian (parfum) dan minyak gosok. (Anonymous, 2005).

Minyak bumi

Minyak bumi merupakan campuran berbagai macam zat organik, tetapi


komponen pokoknya adalah hidrokarbon. Minyak bumi disebut juga minyak
mineral karena diperoleh dalam bentuk campuran dengan mineral lain. Minyak

5
bumi tidak dihasilkan dan didapat secara langsung dari hewan atau tumbuhan,
melainkan dari fosil.

Komponen kimia dari minyak bumi dipisahkan oleh proses distilasi, yang
kemudian, setelah diolah lagi, menjadi minyak tanah, bensin, lilin, aspal, dll.
Minyak bumi terdiri dari hidrokarbon, senyawaan hidrogen dan karbon. Empat
alkana teringan— CH4 (metana), C2H6 (etana), C3H8 (propana), dan C4H10 (butana)
— semuanya adalah gas yang mendidih pada -161.6°C, -88.6°C, -42°C, dan
-0.5°C, berturut-turut (-258.9°, -127.5°, -43.6°, dan +31.1° F). Rantai dalam
wilayah C5-7 semuanya ringan, dan mudah menguap, nafta jernih. Senyawaan
tersebut digunakan sebagai pelarut, cairan pencuci kering (dry clean), dan produk
cepat-kering lainnya. Rantai dari C6H14 sampai C12H26 dicampur bersama dan
digunakan untuk bensin. Minyak tanah terbuat dari rantai di wilayah C10 sampai
C15, diikuti oleh minyak diesel (C10 hingga C20) dan bahan bakar minyak yang
digunakan dalam mesin kapal. Senyawaan dari minyak bumi ini semuanya dalam
bentuk cair dalam suhu ruangan. Minyak pelumas dan gemuk setengah-padat
(termasuk Vaseline®) berada di antara C16 sampai ke C20. Rantai di atas C20
berwujud padat, dimulai dari "lilin, kemudian tar, dan bitumen aspal.

Titik pendidihan dalam tekanan atmosfer fraksi distilasi dalam derajat Celcius:

• minyak eter: 40 - 70 °C (digunakan sebagai pelarut)


• minyak ringan: 60 - 100 °C (bahan bakar mobil)
• minyak berat: 100 - 150 °C (bahan bakar mobil)
• minyak tanah ringan: 120 - 150 °C (pelarut dan bahan bakar untuk rumah
tangga)
• kerosene: 150 - 300 °C (bahan bakar mesin jet)
• minyak gas: 250 - 350 °C (minyak diesel/pemanas)
• minyak pelumas: > 300 °C (minyak mesin)
• sisanya: tar, aspal, bahan bakar residu

6
2. Petrol

Petrol (biasa disebut gasoline di Amerika Serikat dan Kanada; di Indonesia


biasa disebut bensin) adalah cairan campuran yang berasal dari petroleum
sebagaian besar terdiri dari hidrokarbon, digunakan sebagai bahan bakar dalam
mesin pembakaran dalam.

3. Pertamax

Pertamax adalah bahan bakar minyak andalan Pertamina. Pertamax


biasanya digunakan untuk kenderaan high-end atau tahun tinggi. Pertamax
pertama kali diluncurkan pada tahun 1999 sebagai pengganti Premix 98 karena
unsur MTBE yang berbahaya bagi lingkungan.

Keunggulan Pertamax dan Pertamax Plus :

• Bebas timbal
• RON atau Research Octane Number tinggi 92 untuk Pertamax dan 96
untuk Pertamax Plus
• Mesin lebih awet karena pembakaran lebih sempurna

Kelemahan Pertamax dan Pertamax Plus :

• Harga per liter relatif mahal karena diproduksi untuk kendaraan high-end
• Kualitas terkadang tidak sesuai dengan yang dijanjikan (terkontaminasi)

4. Gas

Seperti cairan, gas mempunyai kemampuan untuk mengalir dan dapat


berubah bentuk. Namun berbeda dari cairan, gas yang tak tertahan tidak mengisi
suatu volume yang telah ditentukan, sebaliknya mereka mengembang dan mengisi
ruang apapun di mana mereka berada. Karena penambahan energi kinetis ini,

7
atom-atom gas dan molekul sering memantul antara satu sama lain, apalagi jika
energi kinetis ini semakin bertambah.

5. Diesel

Diesel, di Indonesia lebih dikenal dengan nama solar, adalah suatu produk
akhir yang digunakan sebagai bahan bakar dalam mesin diesel yang diciptakan
oleh Rudolf Diesel, dan disempurnakan oleh Charles F. Kettering.

6. Bahan bakar fosil

Bahan bakar fosil, juga dikenal sebagai bahan bakar mineral, adalah
sumber daya alam yang mengandung hidrokarbon seperti batu bara, petroleum,
dan gas alam. Penggunaan bahan bakar fosil ini telah menggerakan
pengembangan industri dan menggantikan kincir anging tenaga air, dan juga
pembakaran kayu atau peat untuk panas.

Pembakaran bahan bakar fosil oleh manusia merupakan sumber utama dari
karbon dioksida yang merupakan salah satu gas rumah hijau yang dipercayai
menyebabkan pemanasan global. Sejumlah kecil bahan bakar hidrokarbon adalah
bahan bakar bio yang diperoleh dari karbon dioksida di atmosfer dan oleh karena
itu tidak menambah karbon dioksida di udara (Anonymous1, 2009).

7. Biodiesel

Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--alkyl


ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan
bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur
atau lemak hewan.

Sebuah proses dari transesterifikasi lipid digunakan untuk mengubah


minyak dasar menjadi ester yang diinginkan dan membuang asam lemak bebas.

8
Setelah melewati proses ini, tidak seperti minyak sayur langsung, biodiesel
memiliki sifat pembakaran yang mirip dengan diesel (solar) dari minyak bumi,
dan dapat menggantikannya dalam banyak kasus. Namun, dia lebih sering
digunakan sebagai penambah untuk diesel petroleum, meningkatkan bahan bakar
diesel petrol murni ultra rendah belerang yang rendah pelumas (Mahar et al.,
2006).

Gambar 4.1 Reaksi Transesterifikasi Trigliserida dengan Metanol (Ma and


Hanna, 1999).

Biodiesel merupakan kandidat yang paling dekat untuk menggantikan


bahan bakar fosil sebagai sumber energi transportasi utama dunia, karena ia
merupakan bahan bakar terbaharui yang dapat menggantikan diesel petrol di
mesin sekarang ini dan dapat diangkut dan dijual dengan menggunakan
infrastruktur sekarang ini.

Bahan bakar yang berbentuk cair ini bersifat menyerupai solar, sehingga
sangat prospektif untuk dikembangkan. Apalagi biodiesel memiliki kelebihan lain
dibandingkan dengan solar, yakni (Hambali et al., 2007):

9
• Bahan bakar ramah lingkungan karena menghasilkan emisi yang jauh lebih
baik (free sulphur, smoke number rendah) sesuai dengan isu-isu global,
• Cetane number lebih tinggi (>57) sehingga efisiensi pembakaran lebih baik
dibandingkan dengan minyak kasar,
• Memiliki sifat pelumasan terhadap piston mesin dan dapat terurai
(biodegredable),
• Merupakan renewable energy karena terbuat dari bahan alam yang dapat
diperbarui, dan
• Meningkatkan independensi suplai bahan bakar karena dapat diproduksi
secara lokal.

Katalis yang biasa digunakan dalam memproses biodiesel adalah Nase


catalyst (NaOH, KOH, NaMeO), acid catalyst (H2SO4, PTSA, H3PO4, CaCO3),
atau bisa menggunakan heterogeneous catalyst seperti sulfated zeolites & clays,
HPA, MO, etc (Adi, 2009).

Proses Pembuatan Biodiesel Minyak Sawit

Bahan bakar diesel, selain berasal dari petrokimia juga dapat disintesis
dari ester asam lemak yang berasal dari minyak nabati. Bahan bakar dari minyak
nabati (biodiesel) dikenal sebagai produk yang ramah lingkungan, tidak
mencemari udara, mudah terbiodegradasi, dan berasal dari bahan baku yang
dapat diperbaharui. Pada umumnya biodiesel disintesis dari ester asam lemak
dengan rantai karbon antara C6-C22. Minyak sawit merupakan salah satu jenis
minyak nabati yang mengandung asam lemak dengan rantai karbon C14-C20,
sehingga mempunyai peluang untuk dikembangkan sebagai bahan baku biodiesel.
Di PPKS, biodiesel dibuat melalui proses transesterifikasi dua tahap, dilanjutkan
dengan pencucian, pengeringan dan terakhir filtrasi, tetapi jika bahan baku dari
CPO maka sebelumnya perlu dilakukan esterifikasi (Harpini, 2006).

10
Gambar 4.1 Reaksi Pembuatan Biodiesel (Adi, 2009)

Gambar 4.1 Proses Pembuatan Biodiesel (Anonymous3, 2009)

11
Produk biodiesel harus dimurnikan dari produk samping, gliserin, sabun
sisa methanol dan soda. Sisa soda yang ada pada biodiesel dapat henghidrolisa
dan memecah biodiesel menjadi FFA yang kemudian terlarut dalam biodiesel itu
sendiri. Kandungan FFA dalam biodiesel tidak bagus karena dapat menyumbat
filter atau saringan dengan endapan dan menjadi korosi pada logam mesin diesel
(Anonymous2, 2009).

Hidrolisis ester dengan penggunaan katalis asam mengikuti rute parallel


yang berbeda, penyerangan nukleofilik dilakukan oleh basa lemah, daripada oleh
ion hidroksida yang merupakan basa kuat. Tetapi terjadi dalam ester yang
terprotonasi lebih mudah dibanding pada ester bebas (Scharf and Malerich, 2000).
Sekali lagi, transesterifikasi dipengaruhi oleh konsentrasi: keberadaan alkohol
akan mempengaruhi produk akhirnya (Wintner, 2002).

V. ALAT DAN BAHAN

5. 1 Alat

1. Batang Pengaduk 5. Labu Erlenmeyer


2. Beaker Glass 6. Neraca
3. Hot Plate / Pemanas Elektrik 7. Spatula
4. Kondensor Refluks 8. Viskometer Brookfield

5.2 Bahan

1. Air suling
2. Asam Asetat
3. Metanol
4. Minyak Sawit
5. Natrium Hidroksida

12
5.3 Gambar Alat

5.1 Gambar Rangkaian Alat Refluks 5.2 Gambar Rangkaian Alat Ekstraksi

5.3 Gambar Rangkaian Alat Distilasi 5.4 Gambar Viskometer Brookfield

VI. DATA PENGAMATAN

6.1 Tabel Data Hasil Pengamatan

Senyawa Perlakuan Hasil


1,6165 gram NaOH • larutkan dalam 1 liter Katalis sodium metoksida
akuades yang homogen
• campurkan dengan
123,07 mL metanol

13
Minyak goreng • aduk Terbentuk biodiesel,
• ambil sebanyak 250 mL campuran berwarna

• panaskan pada reaktor kuning kecoklatan

leher tiga sampai suhu


kurang lebih 55˚C
• tambahkan katalis
sodium metoksida
• panaskan pada suhu
60˚C selama 1 jam
sambil diaduk dengan
magnetic stirrer
Terbentuk dua fasa,
• dinginkan
lapisan atas biodiesel
• keluarkan dan
serta lapisan bawah
tempatkan pada corong
gliserin dan air
pisah
Campuran biodiesel
• dicuci dengan 250 mL
Biodiesel bebas gliserin
campuran akuades
dan air
-asam asetat sebanyak 4
Biodiesel bebas NaOH
kali
Lapisan bawah
• buang lapisan bawah
Lapisan atas
• distilasi lapisan atas
Biodiesel Biodiesel murni, bebas
• tentukan viskositasnya metanol dan air

VI. LANGKAH KERJA

7.1 Pembuatan Katalis Sodium Metoksida


Sebanyak 1,6165 gram NaOH dilarutkan dalam 1 liter akuades yang telah
dididihkan sebelumnya. Selanjutnya, sebanyak 123,07 mL metanol dicampurkan
ke dalam larutan NaOH. Campuran tersebut diaduk sehingga mendapatkan katalis
sodium metoksida yang homogen.

14
7.2 Reaksi Transesterifikasi
Sebanyak 250 mL minyak goreng dipanaskan sampai suhu kurang lebih
55˚ C pada reaktor leher tiga yang dilengkapi dengan kondensor dan corong tetes.
Larutan sodium metoksida dimasukkan melalui corong tetes sampai habis.
Campuran tersebut dipanaskan sampai suhu mencapai 60˚ C selama 60 menit,
sambil diaduk dengan magnetic stirrer. Selanjutnya campuran dikeluarkan dari
reaktor dan didinginkan.

7.3 Pemisahan, Pencucian, dan Pengeringan


Campuran ditempatkan di dalam corong pisah. Setelah dibiarkan beberapa
lama, maka akan terbentuk dua lapisan. Lapisan atas merupakan biodiesel (metil
ester, air, NaOH, minyak yang tidak terkonversi, metanol) dan lapisan bawah
merupakan gliserin dan air. Lapisan bawah dibuang. Lapisan atas dicuci dengan
menggunakan 250 mL campuran akuades-asam asetat sebanyak 4 kali. Produk
biodiesel yang telah dicuci didistilasi pada suhu 100˚ sampai semua air menguap
dan didapatkan biodiesel murni. Setelah didinginkan pada suhu kamar,
viskositasnya diukur dengan menggunakan viskometer Brookfield.

VII. PERHITUNGAN
8.1 Penentuan Katalis
 Menentukan Jumlah Katalis
Metanol : Minyak goreng
4 : 1
Volume minyak goreng : 250 mL
Massa minyak goring : 225,70 gram

Mr minyak goreng : 300 g/mol

15
Mol metanol = 4 × 0,75 mol = 3 mol

Massa metanol = 3 mol × 32 g/mol = 96 gram


Massa jenis metanol = 0,78 g/mL

 Menentukan persen metanol

= 29, 84 %

 Mencari Berat NaOH

(1,6085) + (5×10-3 berat NaOH) = berat NaOH


1,6085 = (berat NaOH) – (5×10-3 berat NaOH)
1,6085 = 0,9950 berat NaOH

8.2 Perhitungan Ekonomi

16
a. Hitung Biaya Investasi
Modal tetap
• Timbangan : Rp 800.000,-
• Reaktor (drum bekas 100 L) : Rp 200.000,-
• Motor pengaduk : Rp 500.000,-
• Sistem pemanas & kontrol : Rp 700.000,-
• Wadah-wadah : Rp 275.000,-
• Perlengkapan lainnya : Rp 250.000,- +

Total Rp 2.775.000,-
Modal kerja
• Persediaan bahan baku & kemasan : Rp 3.860.000,-
• Persediaan bahan jadi : Rp 2.200.000,- +

Total Rp 6.060.000,-
b. Total Investasi
Total Modal = Modal Tetap + Modal Kerja
= Rp 2.775.000,- + Rp 6.060.000,-
= Rp 8.835.000,-

c. Biaya Operassional (1 bulan)


• Biaya bahan baku & kemasan
: Rp 4.500.000,-
• Penyusutan peralatan :
Rp 200.000,-
• Biaya operasi penjualan :
Rp 350.000,- +

Total Biaya Operasional : Rp 5.050,000,-

d. Perhitungan HPP
Harga pokok bahan baku : Rp 8.040.000,-

17
Biaya HPP/liter produk : Rp 6.700,-

e. Keuntungan
Keuntungan/liter = HPP/liter – harga penjualan/liter
= Rp 6.700,- - Rp 4.500,-
= Rp 2.200,-

Keuntungan/bulan = keuntungan/liter x kapasitas produksi/bulan


= Rp 2.200,-/liter x 1.200/bln
= Rp 2.640.000,-

f. BEP
BEP = Biaya operasional/bln : harga jual
= Rp 5.050.000,-/bln : Rp 4.500,-/liter
= 1122 liter

BEP per hari = BEP : 25 hari


= 1122 liter : 25 hari
= 45 liter/hari

g. Perhitungan Pay Back Period (PBP)


PBP = [(Total Investasi) : ((Target Penjualan/hari - BEP/hari) x
(Keuntungan/liter x Hari Kerja/bulan)]
= [Rp 6.060.000,- : ( 60 – 45) x ( Rp 2.200,- x 25 )]
= 7 bulan

IX. PEMBAHASAN
Percobaan ini bertujuan untuk membuat biodiesel dari minyak goreng
(minyak sawit). Prosedur pembuatan biodiesel ini disebut transesterifikasi. Reaksi
transesterifikasi dengan alkohol juga dikenal dengan nama alkoholisis. Karena
reaksi dalam percobaan ini menggunakan metanol maka disebut metanolisis.

18
Tanpa adanya katalis, reaksi akan berlangsung sangat lambat, oleh karena itu
dalam reaksi ini digunakan katalis. Katalis dapat berupa zat yang bersifat basa,
asam, atau enzim. Katalis yang umum digunakan untuk reaksi transesterifikasi
adalah katalis asam dan basa. Untuk katalis asam biasanya digunakan asam
sulfonat dan asam sulfat sedangkan katalis basa digunakan natrium hidroksida,
kalium hidroksida dan natrium etoksida. Reaksi transesterifikasi dengan katalis
basa lebih cepat 4000 kali dibandingkan katalis asam, dan juga katalis alkali tidak
sekorosif katalis asam. Logam alkali alkoksida (seperti natrium etoksida untuk
metanolisis) adalah katalis yang paling aktif dengan memberikan hasil yang
sangat tinggi (>98%) pada waktu reaksi yang singkat yaitu selama 30 menit dan
konsentrasi katalis yang rendah (0,5 % mol) . Efek kelancaran reaksi dari katalis
basa adalah yang paling besar, sehingga katalis inilah yang sekarang paling umum
diterapkan dalam praktek.

Pada pembuatan biodiesel ini, hal pertama yang dilakukan adalah penyiapan
larutan natrium metoksida. Larutan natrium metoksida ini dibuat dengan
mencampurkan natrium hidroksida dan metanol. Pencampuran ini dilakukan
hingga semua natrium hidroksida larut dalam metanol. Natrium hidroksida larut
dalam metanol karena memiliki kepolaran yang sama. Sambil melarutkan,
campuran diaduk agar natrium hidroksida lebih cepat larut. Pengadukan disini
dapat menambah kelarutan karena dengan pengadukan maka interaksi atau
tumbukan antar partikel larutan meningkat. Dengan adanya pengadukan, energi
kinetik masing-masing partikel akan bertambah sehingga partikel-partikel mudah
bergerak dan interaksi serta tumbukannya semakin kuat. Pengadukan ini
merupakan metode konvensional yang dapat meningkatkan kelarutan.
Reaksi antara semua natrium hidroksida dengan metanol merupakan reaksi
eksoterm (menghasilkan panas) membentuk molekul polar (Na+ŌCH3). Setelah
larutan natrium metoksida disiapkan, selanjutnya minyak goreng dipanaskan
hingga 50-60°C dan dicampurkan dengan larutan natrium metoksida. Persamaan
stoikiometri reaksi transesterifikasi trigliserida dengan methanol adalah sebagai
berikut:

19
Mekanisme reaksi pembentukan produk ester metil asam lemak dengan
menggunakan ion metilat adalah sebagai berikut :

Dengan katalis basa reaksi metanolisis berlangsung cepat dalam temperatur


relatif rendah (temperatur kamar sampai titik didih normal metanol, yaitu 65°C)
Biodiesel dihasilkan melalui proses pemecahan molekul trigliserida yaitu dengan
melepaskan tiga buah asam lemak dari ”tulang punggungnya”. Pemecahan ini
dilakukan dengan metanol dan dibantu dengan katalisator yaitu natrium
hidroksida. Tiga buah asam lemak itu bereaksi dengan metanol menjadi ester
metil yang sifat fisiknya mirip dengan minyak solar. Rangkaian ”tulang

20
punggung” ini akan menjadi gliserin. Terpecahnya trigliserida menjadi tiga ester
asam lemak akan menurunkan sepertiga dari berat awal molekul,selain itu akan
menurunkan viskositas 5 – 10 %.
Setelah itu dilakukan prosedur pemisahan, yaitu larutan minyak goreng dan
natrium hidroksida yang terbentuk didiamkan pada suatu corong pisah, hal ini
dilakukan agar lapisan biodiesel terpisah dengan gliserin dan air. Terbentuk dua
lapisan : lapisan atas biodiesel yaitu metil ester, air, natrium hidroksida, minyak
yang tidak terkonversi dan metanol, sedangakan lapisan bawah yaitu gliserin dan
air.
Selanjutnya dilakukan proses pencucian (ekstraksi) dengan menggunakan
250 mL campuran air dan asam asetat sebanyak 4 kali, hal ini dilakukan untuk
mengambil sisa natrium hidroksida yang masih ada pada larutan. Larutan bawah
yang berupa sisa-sisa larutan yang tidak tercampur dibuang. Setelah dicuci,
produk didistilasi pada suhu 100ºC selama ± 1 jam, yang bertujuan untuk
menghilangkan air yang masih ada.
Biodiesel yang dihasilkan berwarna kuning madu. Biodiesel yang dihasilkan
dapat diuji kualitasnya dengan pengujian secara visual yaitu dengan uji nyala. Bila
pengujian ini memberikan warna nyala, maka pembuatan biodiesel ini dapat
dikatakan berhasil. Tetapi dalam percobaan ini larutan diuji hanya dengan
viscometer Brookfield, dengan nilai viskositas yang didapat yaitu sebesar 9,2
centipoise. Kekentalan merupakan parameter penting dalam menentukan metil
ester dapat digunakan atau tidak sebagai bahan bakar alternatif, semakin tinggi
kekentalan maka semakin sukar biodiesel mengalir. Kekentalan adalah tahanan
yang dimiliki fluida yang dialirkan dalam pipa kapiler terhadap gaya gravitasi,
biasanya dinyatakan dalam waktu yang diperlukan untuk mengalir pada jarak
tertentu. Jika kekentalan semakin tinggi, maka tahanan untuk mengalir akan
semakin tinggi. Kekentalan juga menunjukkan sifat pelumasan atau lubrikasi dari
bahan bakar. Kekentalan yang relatif tinggi mempunyai sifat pelumasan yang
lebih baik. Pada umumnya, bahan bakar harus mempunyai kekentalan yang relatif
rendah agar dapat mudah mengalir dan teratomisasi.

21
X. KESIMPULAN

10.1 Proses transesterifikasi dalam pembuatan alkil ester (biodiesel) dapat


dipahami melalui percobaan yang dilakukan.
10.2 Alkil ester dapat dibuat dari asam lemak melalui proses
transesterifikasi.
10.3 Sifat fisika biodiesel seperti viskositas dapat diuji dengan viskometer
Brookfield sebesar 9,2 centipoise.

22
DAFTAR PUSTAKA

Adi, E. 2009. Biodiesel. http://ekoadi.com/blog/?p=52.


Anonymous1. 2009. Fuel and Gases. http://freespace.virgin.net/roger.hewitt/
iwias/ fuelgases.htm.
Anonymous2. 2009. Biodiesel. http://id.wikipedia.org/wiki/biodiesel.
Anonymous3. 2009. Making Biodiesel. http://www.hydrotechnik.co.uk.
Anonymous4, 2007. What is Biodiesel. http://www.propelbiofuels.com.
Hambali, E., Siti M., Armansyah H. T., Abdul W. P., dan Roy H. 2007. Teknologi
Bioenergi. Agromedia Pustaka. Tangerang.
Harpini, B. 2006. Biodiesel Berbahan Baku Minyak Kelapa Sawit. Warta
Penelitian dan Pengembangan Pertanian, 28 (3), 3.
Ma, F. R. and M. A. Hanna. 1999. Biodiesel Production: a review. Bioresource
Technology, 70 (1), 1-15.
Meher, L. C., D. V. Sagar, and S. N. Naik. 2006. Technical aspects of biodiesel
production by transesterification - a review. Renewable & Sustainable
Energy Reviews, 10 (3), 248-268.
Scharf, W. , and Malerich, C. 2000. Preparation Of Soap. http://www2. latech.
edu/~dmg/preparation_soap.PDF.
Wintner, C. 2002. Hydrolysis of Esters. http://icn2.umeche.maine.edu/newnav/
NewNavigator/labs/esters_hydrolysis.htm

23
24