Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN INDIVIDU

LAPORAN PENDAHULUAN FRAKTUR TIBIA

Disusun untuk Memenuhi Tugas Laporan Individu Profesi Ners Departemen Surgical
di Ruang 19 RSUD. Dr. Saiful Anwar Malang

OLEH :
SHINTA ARDIANA PUSPITASARI
115070201111021
KELOMPOK 2
REGULER 1

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2015
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
1.

Anatomi Fisiologi Sistem Urinaria


Sistem perkemihan atau sistem urinaria, adalah suatu sistem dimana terjadinya
proses penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan
oleh tubuh dan menyerap zat-zat yang masih di pergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang
tidak dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).

Susunan Sistem Perkemihan atau Sistem Urinaria :


1. Ginjal
Kedudukan ginjal terletak dibagian belakang dari kavum abdominalis di
belakang peritonium pada kedua sisi vertebra lumbalis III, dan melekat langsung
pada dinding abdomen.Bentuknya seperti biji buah kacang merah (kara/ercis),
jumlahnaya ada 2 buah kiri dan kanan, ginjal kiri lebih besar dari pada ginjal
kanan.Pada orang dewasa berat ginjal 200 gram. Dan pada umumnya ginjal laki
laki lebih panjang dari pada ginjal wanita.
Satuan struktural dan fungsional ginjal yang terkecil di sebut nefron. Tiap
tiap nefron terdiri atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri
atas pembuluh pembuluh darah yaitu glomerolus dan kapiler peritubuler yang
mengitari tubuli. Dalam komponen tubuler terdapat kapsul Bowman, serta tubulus
tubulus, yaitu tubulus kontortus proksimal, tubulus kontortus distal, tubulus
pengumpul dan lengkung Henle yang terdapat pada medula.
Kapsula Bowman terdiri atas lapisan parietal (luar) berbentuk gepeng dan
lapis viseral (langsung membungkus kapiler golmerlus) yang bentuknya besar
dengan banyak juluran mirip jari disebut podosit (sel berkaki) atau pedikel yang
memeluk kapiler secara teratur sehingga celah celah antara pedikel itu sangat

teratur.Kapsula bowman bersama glomerolus disebut korpuskel renal, bagian tubulus


yang keluar dari korpuskel renal disabut dengan tubulus kontortus proksimal karena
jalannya yang berbelok belok, kemudian menjadi saluran yang lurus yang semula
tebal kemudian menjadi tipis disebut ansa Henle atau loop of Henle, karena
membuat lengkungan tajam berbalik kembali ke korpuskel renal asal, kemudian
berlanjut sebagai tubulus kontortus distal.
Fungsi ginjal adalah mengekskresikan zat zat sisa metabolisme yang
mengandung nitrogennitrogen (misalnya amonia), mengekskresikan zat zat yang
jumlahnya berlebihan (misalnya gula dan vitamin) dan berbahaya (misalnya obat
obatan, bakteri dan zat warna), mengatur keseimbangan air dan garam dengan cara
osmoregulasi, dan mengatur tekanan darah dalam arteri dengan mengeluarkan
kelebihan asam atau basa.
2. Ureter
Terdiri dari 2 saluran pipa masing masing bersambung dari ginjal ke
kandung kemih (vesika urinaria) panjangnya 25 30 cm dengan penampang 0,5
cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian terletak dalam
rongga pelvis.Lapisan dinding ureter terdiri dari :Dinding luar jaringan ikat (jaringan
fibrosa), lapisan tengah otot polos, lapisan sebelah dalam lapisan mukosa, lapisan
dinding ureter menimbulkan gerakan gerakan peristaltik tiap 5 menit sekali yang
akan mendorong air kemih masuk ke dalam kandung kemih (vesika urinaria).
Gerakan peristaltik mendorong urin melalui ureter yang dieskresikan oleh
ginjal dan disemprotkan dalam bentuk pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke
dalam kandung kemih.Ureter berjalan hampir vertikal ke bawah sepanjang fasia
muskulus psoas dan dilapisi oleh pedtodinium. Penyempitan ureter terjadi pada
tempat ureter terjadi pada tempat ureter meninggalkan pelvis renalis, pembuluh
darah, saraf dan pembuluh sekitarnya mempunyai saraf sensorik.
3. Vesikula Urinaria ( Kandung Kemih )
Kandung kemih dapat mengembang dan mengempis seperti balon karet,
terletak di belakang simfisis pubis di dalam ronga panggul.Bentuk kandung kemih
seperti kerucut yang dikelilingi oleh otot yang kuat, berhubungan ligamentum vesika
umbikalis medius.Bagian vesika urinaria terdiri dari :
a. Fundus, yaitu bagian yang mengahadap kearah belakang dan bawah, bagian
ini terpisah dari rektum oleh spatium rectosivikale yang terisi oleh jaringan ikat
duktus deferent, vesika seminalis dan prostate.
b. Korpus, yaitu bagian antara verteks dan fundus.
c. Verteks, bagian yang maju kearah muka dan berhubungan dengan
ligamentum vesika umbilikalis.

Dinding kandung kemih terdiri dari beberapa lapisan yaitu, peritonium


(lapisan sebelah luar), tunika muskularis, tunika submukosa, dan lapisan mukosa
(lapisan bagian dalam).
4. Uretra
Uretra merupakan saluran sempit yang berpangkal pada kandung kemih
yang berfungsi menyalurkan air kemih keluar.Pada laki- laki uretra berjalan berkelok
kelok melalui tengah tengah prostat kemudian menembus lapisan fibrosa yang
menembus tulang pubis kebagia penis panjangnya 20 cm.
Uretra pada laki laki terdiri dari :Uretra Prostaria, Uretra membranosa,
Uretra kavernosa. Lapisan uretra laki laki terdiri dari lapisan mukosa (lapisan paling
dalam), dan lapisan submukosa.
Uretra pada wanita terletak dibelakang simfisis pubisberjalan miring sedikit
kearah atas, panjangnya 3 4 cm. Lapisan uretra pada wanita terdiri dari Tunika
muskularis (sebelah luar), lapisan spongeosa merupakan pleksus dari vena vena,
dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).Muara uretra pada wanita terletak di
sebelah atas vagina (antara klitoris dan vagina) dan uretra di sini hanya sebagai
saluran ekskresi.
2.

Definisi Urosepsis
Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus infeksi di traktus urinarius
sehingga menyebabkan bakteremia dan syok septik. Insiden urosepsis 20-30 % dari
seluruh kejadian septikemia dan lebih sering berasal dari komplikasi infeksi di traktus
urinarius.
Tabel 1. Kelainan struktur dan fungsi traktus urinarius yang berhubungan dengan sepsis
Obstruksi

Kongenital:

striktur

uretra,

fimosis,

ureterokel,

policystic kidney disease


Didapat: calkulus, hipertrofi prostat, tumor traktus
Instrumentasi

urinarius, trauma, kehamilan, radioterapi


Kateter ureter, stent ureter, nephrostomy tube,

Impaired voiding
Abnormalitas metabolik
Imunodefisiensi

prosedur urologik.
Neurogenic bladder, sistokel, refluk vesikoureteral
Nefrokalsinosis, diabetes, azotemia
Pasien
dengan
obat-obatan
imunosupresif,

neutropenia.
Mortalitasnya mencapai 20-49 % bila disertai dengan syok. Oleh karena itu
pertolongan harus cepat dan adekuat untuk mencegah kegagalan organ dan komplikasi
lebih lanjut.
3.

Etiologi Urosepsis
Karena merupakan penyebaran infeksi, maka kuman penyebabnya sama dengan
kuman penyebab infeksi primer di traktus urinarius yaitu golongan kuman coliform gram

negatif seperti Eschericia coli (50%), Proteus spp (15%), Klebsiella dan Enterobacter
(15%), dan Pseudomonas aeruginosa (5%). Bakteri gram positif juga terlibat tetapi
frekuensinya lebih kecil yaitu sekitar 15%. Penelitian The European Study Group on
Nosocomial Infections (ESGNI-004 study) dengan membandingkan antara pasien yang
menggunakan kateter dan non-kateter ditemukan bahwa E.coli sebanyak 30,6% pada
pasien dengan kateter dan 40,5% pada non-kateter, Candida spp 12,9% pada pasien
dengan kateter dan 6,6% pada non-kateter, P.aeruginosa 8,2% pada pasien dengan
kateter dan 4,1% pada non-kateter.
Pasien yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien berusia lanjut, diabetes dan
immunosupresif seperti penerima transplantasi, pasien dengan AIDS, pasien yang
menerima obat-obatan antikanker dan imunosupresan.
4. Faktor resiko Urosepsis
Sejumlah faktor meningkatkan risiko mengembangkan urosepsis. Tidak semua
orang dengan faktor risiko akan mendapatkan urosepsis. Faktor risiko untuk urosepsis
meliputi:
Tingkat lanjut usia sistem kekebalan tubuh berkompromi karena kondisi seperti HIV
dan AIDS, minum kortikosteroid, transplantasi organ, atau kanker dan pengobatan
kanker
Diabetes
Tinja inkontinensia (ketidakmampuan untuk mengontrol buang air besar)Jenis kelamin
perempuan

Imobilitas

Pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap atau retensi urin


Penyakit ginjal polikistik
Kehamilan
Operasi atau prosedur yang melibatkan saluran kemih
Obstruksi saluran kemih oleh batu, pembesaran prostat, penyebab uretra jaringan

parut, atau lainnya


Penggunaan kateter untuk mengalirkan urin
5.

Patofisiologi Urosepsis
Patogenesa dari gejala klinis urosepsis adalah akibat dari masuknya endotoksin,
suatu komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang masuk ke dalam sirkulasi
darah. Lipopolisakarida ini terdiri dari komponen lipid yang akan menyebabkan:
1. Aktivasi sel-sel makrofag atau monosit sehingga menghasilkan beberapa sitokin,
antara lain tumor necrosis factor alfa (TNF ) dan interlaukin I (IL I). Sitokin inilah

yang memacu reaksi berantai yang akhirnya dapat menimbulkan sepsis dan jika tidak
segera dikendalikan akan mengarah pada sepsis berat, syok sepsis, dan akhirnya
mengakibatkan disfungsi multiorgan atau multi organs dysfunction syndrome (MODS).
2. Rangsangan terhadap sistem komplemen C3a dan C5a menyebabkan terjadinya
agregasi trombosit dan produksi radikal bebas, serta mengaktifkan faktor-faktor
koagulasi.
3. Perubahan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, protein, dan oksigen. Karena
terdapatnya resistensi sel terhadap insulin maka glukosa dalam darah tidak dapat
masuk ke dalam jaringan sehingga untuk memenuhi kebutuhan sel akan glukosa
terjadi proses glukoneogenesis yang bahannya berasal dari asam lemak dan asam
amino yang dihasilkan dari katabolisme lemak berupa lipolisis dan katabolisme
protein.
6.

Manifestasi Klinis Urosepsis


Diagnosis dari urosepsis dibuat berdasarkan dari anamnesa, pemeriksaan fisik,
laboratorium dan rontgenologik. Dari anamnesa, data yang positif adalah adanya
demam, panas badan dan menggigil dengan didahului atau disertai gejala dan tanda
obstruksi aliran urin seperti nyeri pinggang, kolik dan atau benjolan diperut atau
pinggang. Hanya 1/3 pasien yang mengeluh demam dan menggigil dengan hipotensi.
Keluhan febris yang terjadi setelah gejala infeksi saluran kencing bagian bawah yaitu
polakisuria dan disuria juga sangat mencurigakan terjadinya urosepsis. Demikian pula
febris yang menyertai suatu manipulasi urologik.
Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat sangat bervariasi berupa takipneu,
takikardi, dan demam kemerahan dengan gangguan status mental. Pada keadaan yang
dini, keadaan umum penderita masih baik, tekanan darah masih normal, nadi biasanya
meningkat dan temperatur biasanya meningkat antara 38-40 C.
Urosepsis banyak gejala yang sama seperti jenis lain sepsis, termasuk detak jantung
yang cepat, napas cepat, denyut nadi lemah, berkeringat banyak, kecemasan yang tidak
biasa, perubahan status mental atau tingkat kesadaran, dan penurunan atau output urin
absen saham. Sebelum perkembangan gejala ini, Anda mungkin mengalami gejala
infeksi saluran kemih.
Gejala umum dari infeksi saluran kemih. Gejala infeksi saluran kemih bervariasi dari
individu ke individu.Gejala infeksi saluran kemih yang umum termasuk:
Nyeri perut, panggul atau punggung atau kram
Urin berdarah atau merah muda (hematuria)
Sulit atau buang air kecil sakit, atau rasa panas saat kencing (disuria)
Demam dan menggigil
Urin yang berbau busuk
Sering buang air kecil
Nyeri selama hubungan seksual
Mendesak kebutuhan untuk buang air kecil

Gejala infeksi saluran kemih tanpa komplikasi, termasuk rasa panas saat buang air
kecil, kebutuhan untuk pergi ke kamar mandi sering atau mendesak, urin keruh, dan
ketidaknyamanan perut panggul atau lebih rendah. Demam mungkin ada. Jika
pielonefritis (infeksi ginjal) hadir, punggung atau nyeri perut, mual dan muntah, demam
tinggi, menggigil, berkeringat di malam hari, dan kelelahan juga dapat terjadi. Gejalagejala

tersebut

bisa

mendahului

pengembangan

urosepsis.

Sepsis yang telah lanjut memberikan gejala atau tanda-tanda berupa gangguan beberapa
fungsi organ tubuh, antara lain gangguan pada fungsi kardiovaskuler, ginjal, pencernaan,
pernapasan dan susunan saraf pusat.

Tabel 2. Definisi Sepsis


Keadaan
Kriteria
SIRS (Systemic Terdapat paling sedikit dua dari beberapa kriteria dibawah ini :
1. suhu tubuh > 38 C atau <>
Inflammatory
2. Denyut nadi > 90 x/
Respond
3. Frekuensi nafas > 20 x/ atau PaCO2 <>
4. Leukosit > 12000/mm3 atau <4000/mm3 atau lekosit muda > 10%
Syndrome)
MODS (Multiple SIRS dengan disfungsi organ dan hemostasis tidak dapat
Organ

dipertahankan tanpa adanya intervensi

Dysfunction
Sydrome)
Sepsis
SIRS dengan tanda-tanda infeksi
Sepsis Berat
Sepsis disertai dengan hipotensi (sistole <>
Syok Septik
Sepsis disertai dengan hipotensi dan hipoperfusi
Dikutip dari : concencus Conference Criteria Defining Sepsis dalam Lazaron V dan Barke
RS.Uro Clin of N Am 1999, 26, hal 688
Kriteria urosepsis
Kriteria I
: terbukti bakteremia atau dicurigai sepsis dari keadaan klinik.
Kriteria II
: Synstemic Inflammatory Response Syndrome (SIRS)

Suhu tubuh
38o C atau 36o C

Takikardia
90 detak per menit

Tacypnea
20 nafas per menit

Alkalosis respiratorik
PaCO2 32 mm Hg

Leukosit
12.000 /mm3 atau 4000 /mm3
Kriteria III
: Multiple Organ dysfunction syndrome (MODS)
Jantung, sirkulasi
tekanan darah sistolik arteri 99 mm Hg atau mean arterial preasure 70 mm
Hg, selama 1 jam walaupun carian adekuat atau resusitasi agen vasopressure
diberikan.

Ginjal
Produksi urin < 0,5 Ml/kgBB/ jam wlalupun resusitasi cairan adekuat.
Paru-paru
Tekanan parsial O2 arterial (PaO2) 75 mm Hg (udara ruangan) atau
Konsentrasi inspirasi O2 (FiO2) 250 (pernapasan bantuan)
Platelet
Thrombosit < 80.000/ mm3 atau berkurang 50 % dalam 3 hari
Asidosis metabolic
Ph darah 7,30 atau plasma laktat 1,5 kali normal.
Encephalopathy
Somnolen, kebingungan, bergejolak, coma.
Dari kriteria di atas sepsis syndrome dibedakan jadi 3, yaitu :
1. Sepsis
Kriteria I + 2 kriteria II
2. Sepsis berat
Kriteria I + 2 kriteria II + 1 kriteria III
3. Syok septic
Kriteria I + 2 kriteria II + hipotensi refraktori arterial 90 mm Hg.
Pemeriksaan status lokalis daerah abdomen sepanjang traktus urinarius penting
untuk menentukan pre eksisting anomalinya dan yang diketemukan sangat bervariasi
tergantung kelainan primernya. Dilakukan palpasi pada daerah costophrenikus,
abdomen bawah, regio pubis, kelenjar limfe inguinal, genital, serta pemeriksaan
transvaginal dan transrektal.
7.

Pemeriksaan Penunjang Urosepsis


Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosa urosepsis adalah adanya

lekositosis dengan hitung deferensial ke kiri, lekosituria dan bakteriuria.


Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri yang berada
dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam saluran kemih

(kultur urin).
Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika sangat penting untuk

menentukan jenis antibiotika yang diberikan.


Pemeriksaan rontgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah foto polos
abdomen. Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya kalsifikasi, perubahan
posisi dan ukuran dari batu saluran kemih yang mungkin merupakan fokus infeksi.
Yang diperhatikan pada hasil foto adalah adanya bayangan radio opak sepanjang

traktus urinarius, kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas.


Pemeriksaan pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang penting dari
kaliks, ureter, dan pelvis yang penting untuk menentukan diagnosis adanya refluk
nefropati dan nekrosis papilar. Bila pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan karena
kreatinin serum terlalu meningkat, maka pemeriksaan ultrasonografi akan sangat

membantu menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk membedakan antara

hidro dan pyelonefrosis.


Selain pemeriksaan tersebut juga dapat dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI.

8. Penatalaksanaan Medis
Penanganan penderita urosepsis harus cepat dan adekuat. Pada prinsipnya
penanganan terdiri dari:
1.
2.
3.
4.

Penanganan gawat (syok) ; resusitasi ABC


Pemberian antibiotika
Resusitasi cairan dan elektrolit
Tindakan definitif (penyebab urologik)
Pemberian antibiotik sebagai penanganan infeksi ditujukan unuk eradikasi kuman

penyebab infeksi serta menghilangkan sumber infeksi. Pemberian antibiotik harus cepat
dan efektif sehingga antibiotika yang diberikan adalah yang berspektrum luas dan
mencakup semua kuman yang sering menyebabkan urosepsis yaitu golongan
aminoglikosida (gentamisin, tobramisin atau amikasin) golongan ampicilin yang
dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam, golongan sefalosforin generasi ke
III atau golongan florokuinolon. Sefalosforin generasi ke-3 dianjurkan diberikan 2 gr
dengan interval 6-8 jam dan untuk golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan
interval 12 jam. Penelitian oleh Naber et al membuktikan bahwa pemberian antibiotik
injeksi golongan florokuinolon dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk
terapi urosepsis. Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini terhadap levofloksasin
membuktikan bahwa levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek pada ekskresi
renal dan tersedia dalam bentuk injeksi intravena dan oral.
Resusitasi cairan, elektrolit dan asam basa adalah mengembalikan keadaan
tersebut menjadi normal. Urosepsis adalah penyakit yang cukup berat sehingga
biasanya oral intake menurun. Keadaan demam/febris juga memerlukan cairan ekstra.
Kebutuhan cairan dan terapinya dapat dipantau dari tekanan darah, tekanan vena
sentral dan produksi urine. Bila penderita dengan hipotensi atau syok (tensi <>2O dan
diberikan larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.
Bila terdapat gangguan elektrolit juga harus dikoreksi. Bila K serum 7 meq/L atau
lebih perlu dilakukan hemodialisa. Hemodialisa juga diperlukan bila terdapat Kreatinin
serum > 10 mg%, BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru. Drainase yang segera
perlu dikerjakan bila terdapat timbunan nanah misalnya pyonefrosis atau hidronefrosis
berat (derajat IV). Pyonefrosis dan hidronefrosis yang berat menyebabkan terjadinya
iskemia sehingga mengurangi penetrasi antibiotika. Drainase dapat dikerjakan secara
perkutan atau dengan operasi biasa (lumbotomi). Penderita yang telah melewati masa
kritis dari septikemia maka harus secepatnya dilakukan tindakan definitif untuk kelainan
urologi primernya.

9.

Komplikasi Urosepsis
Usia dan kesehatan umum dapat berperan dalam resiko komplikasi potensial.
Pada beberapa orang, terutama orang dewasa yang lebih tua, orang dengan penyakit
kronis, dan mereka dengan sistem kekebalan tubuh lemah, komplikasi urosepsis tidak
diobati bisa serius, bahkan mengancam nyawa dalam beberapa kasus. Komplikasi
urosepsis meliputi:
Koagulasi intravaskular diseminata (DIC; gangguan pembekuan menyebabkan

pembentukan bekuan darah ganda dalam aliran darah)


Kerusakan ginjal
Ginjal atau kegagalan organ lain
Perirenal abses (pengumpulan nanah di dekat ginjal)
Prostat abses (pengumpulan nanah di prostat)
Ginjal abses (pengumpulan nanah pada ginjal)Jaringan parut pada saluran kemih
Syok

Daftar Pustaka
Dellinger RP, Carlet JM, Masur H, et al. the Surviving Sepsis Campaign Management
Guidelines Commi' ee. Crit Care Med 2004; 32:858-873.
Johnson. CC, MD. Definitions, Classification and Clinical Presentation of Urinary Tract
Infections. Med. Clin of North Am 1991; 75:2. 241-52.
Lavy MM, et al, 2001 SCCM/ESICM/ACCP/ATS/SIS Internatonal Sepsis Definitions
Conference, Crit CareMed 2003 Vol. 31, No. 4 ; 1250-1256
McBryde C, Redington J. Diagnosis and management urinary tract infections: asymptomatic
bacteriuria, cystitis and pyelonephritis. Primary Care Case Review 2001 (4); 3 14.
Naber KG, Bergman B, Bishop MC, Johansen TEB, Botto H, Lobel B (ed). European
Association of Urology: Guidelines on Urinary and Male Genital Tract Infections.
2001.
Purnomo B. Dasar-Dasar Urologi Edisi Kedua. 2008. Sagung Seto. Jakarta

Rivers et al. Early Goal Directed Therapy in the Treatment of Severe SepsiS dan Septic
Shock. N Engl JMed, Vol. 345, No. 19, 2001
Tseng CC, et al. Role of Host and Bacterial Virulence Factors in the Development of Upper
Urinary Tract Infection Caused by E. Coli. Am J of Kidney Dis 2002; 39:4. 744-752.
Budi, Kusuma. 2001. Ilmu Patologi..Jakarta: EGC
Carpenito,LyndaJuall.1995.
DiagnosakeperawatanAplikasipadaPraktekKlinikEdisi6.Jakarta: EGC.
Ganong, F. William. 1998.Buku Ajar FisiologiKedokteran Edisi 17.Jakarta: EGC.
Marrilyn,E.Doengus.1999.

RencanaAsuhanKeperawatanPedomanUntukPerencanaandan

Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi3. Jakarta: EGC.


Elizabet J. Corwin, 2000. Buku Saku Patofisiologi. Jakarta: EGC.
E, Oswari. 2000.Bedah dan Perawatanya. Jakarta: Fakultas Kedokteran UI.
Gale,Danielle RN, MS. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan Onkologi. Jakarta: EGC.
Smelster, SuzanneC. 2001. Keperawatan Medikal Bedah,Edisi8, Vol. 2. Jakarta: EGC

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN
1. Identitas
Cantumkan biodata klien secara lengkap yang mencakup umur, jenis kelamin, suku
bangsa.
2. Keluhan utama
Klien datang ke Rumah Sakit dengan keluhan menggigil, demam, nyeri pinggang, kolik
dan atau benjolan diperut atau pinggang, polisuria, disuria dan penurunan kesadaran
3. Riwayat penyakit
Faktor predisposisi timbulnya terdiri dari infeksi bakteri non spesifik (misalnya E coli,
Pseudomonas, Proteus, Klebsiella), PMS (Penyakit Menular Seksual), virus (misalnya
Mumps),

TB

(Tuberculosis),

penyakit

infeksi

lain

(seperti

Brucellosis,

Coccidioidomycosis, Blastomycosis, Cytomegalovirus, Candidiasis, CMV pada HIV),


obstruksi (seperti BPH, malformasi urogenital), vaskulitis (seperti Henoch-Schnlein
purpura pada anak-anak), penggunaan Amiodarone dosis tinggi, prostatitis, tindakan
pembedahan seperti prostatektomi, kateterisasi dan instrumentasi, dan blood borne
infection.
4. Data fokus :
Data subjektif :
- Klien mengeluh demam dan menggigil

Klien mengatakan setiap berkemih dirasakan seperti ada rasa terbakar dan perih
Klien mengatakan frekuensi berkemihnya meningkat
Klien mengeluh nyeri ketika berkemih
Klien mengeluh nyeri pada bagian pinggang dan terdapat benjolan di perut atay

pinggang
- Klien mengeluh nyeri saat melakukan hubungan seksual
- Klien mengungkapkan perubahan dalam respon seksual
- Klien mengungkapkan rendahnya batas kemampuan karena penyakit
- Klien mengatakan tidak mengetahui tentang penyakitnya
Data objektif :
- Klien tampak meringis kesakitan
- Klien tampak gelisah
- Skala nyeri klien 1-10
- Suhu tubuh klien > 38 oC
- Denyut nadi klien > 100 x/menit
- Klien tampak menggigil
- Kulit klien teraba hangat
- Frekuensi nafas > 20x/menit
- Terjadi penurunan status mental
5. Pemeriksaan diagnostik
Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosa urosepsis adalah adanya

lekositosis dengan hitung deferensial ke kiri, lekosituria dan bakteriuria.


Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri yang
berada dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam saluran

kemih (kultur urin).


Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika sangat penting untuk

menentukan jenis antibiotika yang diberikan.


Pemeriksaan rontgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah foto polos
abdomen. Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya kalsifikasi, perubahan
posisi dan ukuran dari batu saluran kemih yang mungkin merupakan fokus infeksi.
Yang diperhatikan pada hasil foto adalah adanya bayangan radio opak sepanjang

traktus urinarius, kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas.


Pemeriksaan pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang penting dari
kaliks, ureter, dan pelvis yang penting untuk menentukan diagnosis adanya refluk
nefropati dan nekrosis papilar. Bila pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan karena
kreatinin serum terlalu meningkat, maka pemeriksaan ultrasonografi akan sangat
membantu menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk membedakan

antara hidro dan pyelonefrosis.


Pemeriksaan CT scan dan MRI.

DIAGNOSA KEPERAWATAN
1) Hipertermia berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat epididimitis
ditandai dengan suhu tubuh klien > 37,5 oC, klien tampak menggigil, kulit klien teraba

hangat, tampak ada pembengkakan pada skrotum klien, kulit sekitar skrotum klien
tampak kemerahan, nadi klien > 100 x/menit.
2) Nyeri akut berhubungan dengan adanya pus saat berkemih ditandai dengan klien
tampak meringis kesakitan, klien tampak gelisah, skala nyeri klien 4, denyut nadi klien >
100 x/menit.
3) PK Infeksi
4) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh akibat proses penyakit
akibat epididimitis ditandai dengan klien mengeluh nyeri saat melakukan hubungan
seksual, klien mengungkapkan perubahan dalam respon seksual, klien mengungkapkan
rendahnya batas kemampuan karena penyakit.
5) Kurang pengetahuan mengenai konsep penyakit dan pengobatan berhubungan dengan
kurang terpapar informasi ditandai dengan klien mengatakan kurang mengetahui
mengenai penyakitnya, klien tampak bingung ketika ditanya tentang penyakitnya.
Intervensi
1) Hipertermia berhubungan dengan kerusakan kontrol suhu sekunder akibat epididimitis
ditandai dengan suhu tubuh klien > 37,5 oC, klien tampak menggigil, kulit klien teraba
hangat, tampak ada pembengkakan pada skrotum klien, kulit sekitar skrotum klien
tampak kemerahan, nadi > 100 x/menit.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan suhu tubuh klien
kembali normal dengan kriteria hasil :
Suhu tubuh klien dalam rentang normal (36,5 oC-37,5 oC)
Klie tidak tampak menggigil
Klien melaporkan panas badannya turun
Tidak tampak pembengkakan pada skrotum klien
Tidak terdapat kemerahan di kulit sekitar skrotum klien
Nadi klien dalam batas normal (60-100 x/menit)
Mandiri :
1. Monitor suhu tubuh, tekanan darah, nadi, dan respirasi secara berkala (minimal tiap
2 jam)
Rasional :
Suhu diatas 37,5oC menunjukkan proses penyakit infeksius akut. Menggigil sering
mendahului puncak suhu.
2. Pantau suhu lingkungan, batasi penggunaan selimut.
Rasional :
Suhu ruangan/jumlah selimut harus diubah untuk mempertahankan suhu mendekati
normal.
3. Berikan kompres hangat
Rasional :
Membuat vasodilatasi pembuluh darah sehingga dapat membantu mengurangi
demam
4. Anjurkan klien untuk mempertahankan asupan cairan adekuat
Rasional :
Untuk mencegah dehidrasi akibat penguapan cairan karena suhu tubuh yang tinggi

Kolaborasi :
1. Berikan antipiretik dan antibiotic sesuai indikasi
Rasional :
Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksi sentralnya pada hipotalamus.
2) Nyeri akut berhubungan dengan adanya pus saat berkemih ditandai dengan klien
tampak meringis kesakitan, klien tampak gelisah, skala nyeri klien 4, nadi klien > 100
x/menit.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan nyeri dapat
terkontrol dengan kriteria hasil :
Klien melaporkan nyeri berkurang atau terkontrol
Klien tidak tampak meringis
Klien tidak tampak gelisah
Klien melaporkan skala nyeri berkurang (skala nyeri 1-3), hilang (skala nyeri 0),
atau dapat dikontrol
Nadi klien dalam rentang normal (60-100 x/menit)
Mandiri :
1. Kaji karakteristik nyeri meliputi lokasi, waktu, frekuensi, kualitas, faktor pencetus,
dan intensitas nyeri
Rasional :
Untuk mengetahui

tingkat

rasa

nyeri

sehingga

dapat

menentukan

jenis

tindakannya.
2. Kaji faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri klien
Rasional :
Dengan mengetahui faktor-faktor yang dapat memperburuk nyeri klien, dapat
mencegah terjadinya faktor pencetus dan menentukan intervensi apabila nyeri
terjadi.
3. Eliminasi faktor-faktor pencetus nyeri
Rasional :
Dengan mengeliminasi faktor-faktor pencetus nyeri, dapat mengurangi risiko
munculnya nyeri (mengurangi awitan terjadinya nyeri)
4. Ajarkan teknik non farmakologi (misalnya teknik relaksasi, guided imagery, terapi
music, dan distraksi) yang dapat digunakan saat nyeri datang.
Rasional :
Dengan teknik manajemen nyeri, klien bisa mengalihkan nyeri sehingga rasa nyeri
yang dirasakan berkurang
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian analgetik
Rasional :
Pemberian analgetik dapat memblok reseptor nyeri
3) PK Infeksi
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan tidak ada tandatanda infeksi dengan kriteria hasil : Tidak terjadi komplikasi infeksi
Mandiri :

1. Pantau tanda dan gejala infeksi lanjut


Rasional :
Agar dapat memberikan intervensi yang tepat untuk klien
2. Pantau tanda-tanda vital klien secara berkala
Rasional :
Takikardia, takipnea, demam, nadi cepat dan lemah menunjukkan terjadi sindroma
peradangan sistemik.
3. Pantau tanda-tanda sepsis
Rasional :
Sepsis menandakan radang sistemik dengan gejala demam, menggigil, nadi
lemah dan cepat, hipotensi, lemah serta gangguan mental.
Kolaborasi :
1. Kolaborasi pemberian antibiotic
Rasional :
Agen antibiotik membantu mengeliminasi bakteri sebagai penyebab penyakit klien
4) Disfungsi seksual berhubungan dengan perubahan fungsi tubuh akibat proses penyakit
akibat epididimitis ditandai dengan klien mengeluh nyeri saat melakukan hubungan
seksual, klien mengungkapkan rendahnya batas kemampuan karena penyakit.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan fungsi seksual
klien efektif dengan kriteria hasil :
Fungsi seksual
Klien mengungkapkan penerimaan diri terhadap penyakit
Klien mengungkapkan percaya diri dengan fungsi seksualnya
Adaptasi terhadap ketidakmampuan fisik
Klien mampu beradaptasi terhadap keterbatasannya
Mengungkapkan penurunan stress akibat ketidakmampuan fungsi seksual
Intervensi :
Konseling seksual
1. Bangun hubungan terapeutik dengan klien
Rasional :
Hubungan terapeutik yang baik dapat membangun kepercayaan klien terhadap
perawat untuk mengungkapkan masalah seksual klien
2. Berikan privasi dan pastikan kerahasiaan terhadap masalah klien
Rasional :
Menjaga privasi klien sangat penting karena masalah seksual merupakan
masalah yang sensitive
3. Mulailah dari topic yang kurang sensitive ke paling sensitive
Rasional :
Pembicaraan dari topic yang kurang sensitive membantu agar klien merasa
nyaman mengungkapkan masalahnya
4. Diskusikan efek penyakit terhadap respon seksual
Rasional :
Pemberian penkes mengenai proses penyakit membantu klien memahami
penyebab disfungsi seksualnya
5. Diskusikan pengobatan yang diperlukan klien
Rasional :

Pengobatan pada penyakit klien atau pemilihan pengobatan masalah seksual


perlu didiskusikan agar klien merasa terlibat dan aktif dalam pengobatannya.
Manajemen perilaku : seksual
1. Berikan sex education tentang hubungan fungsi seksual terhadap fungsi penyakit
Rasional :
Pemberian penkes mengenai proses penyakit membantu klien memahami
penyebab disfungsi seksualnya
2. Diskusikan pada pasien secara privasi mengenai penerimaan kondisi seksual
Rasional :
Memfasilitasi klien untuk penerimaan kondisi seksual klien untuk tidak terlalu
stress dan meningkatkan percaya diri klien mengenai masalh seksualnya
5) Kurang pengetahuan mengenai konsep penyakit dan pengobatan berhubungan dengan
kurang terpapar informasi mengenai penyakit epididimitis ditandai dengan klien
mengatakan kurang mengetahui mengenai penyakitnya, klien tampak bingung ketika
ditanya tentang penyakitnya.
Tujuan :
Setelah diberikan asuhan keperawatan selama x24 jam diharapkan klien memiliki
pengetahuan adekuat tentang epididimitis dengan kriteria hasil :
Klien dapat memahami dan menjelaskan kembali penyakit epididimitis, tanda dan
gejala epididimitis
Klien dapat menyebutkan penatalaksanaan termasuk pengobatan epididimitis
Mandiri :
1. Mulai memberikan penjelasan ketika klien menunjukkan kesiapan untuk belajar
Rasional :
Kesiapan klien untuk belajar mempermudah klien dalam proses pembelajaran
2. Memberikan klien informasi dasar tentang epididimitis
Rasional :
Informasi yang diberikan dapat memberikan klien gambaran tentang anatomi
fisiologi serta komplikasi yang potensial terjadi
3. Berikan kesempatan pada klien untuk bertanya dan diskusi
Rasional :
Bertujuan untuk mengetahui informasi yang kurang dimengerti oleh klien
4. Jawab pertanyaan klien dengan singkat dan jelas
Rasional :
Untuk mempermudah klien mengerti akan jawaban yang kita berikan