Anda di halaman 1dari 16

TUGAS KELOMPOK TRANSFUSI DARAH

GOLONGAN DARAH

Disusun Oleh :
Ayu Anulus
Putu Desy Metriani
Natalia Sandra Margasira
Ni Luh Novita Pratami
Ni Nyoman Ariwhidiani
Ni Nyoman Sumarsini
Sherly Dewu
Tri Mulyanto

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA


POLITEKNIK KESEHATAN MATARAM
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
PRODI DIPLOMA EMPAT
2015

Kata Pengantar
Puji syukur yang kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, Karena berkat
kemurahan-Nya makalah ini dapat penulis selesaikan. Dalam makalah ini penulis membahas
mengenai golongan darah.
Dalam proses pendalaman materi ini, tentunya penulis mendapat bimbingan, arahan,
dan pengetahuan, untuk itu rasa terima kasih yang mendalam kami ucapkan kepada :

Ibu Dosen pembimbing mata kuliah Transfusi Darah


Semua pihak yang telah memberikan masukan untuk makalah ini.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dari laporan ini, baik dari materi

maupun teknik penyajiannya, mengingat kurangnya pengetahuan dan pengalaman kami. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat kami harapkan.
Demikian makalah ini kami buat semoga bermanfaat bagi penulis khususnya dan
pembaca pada umumnya

Mataram, 25 September 2015

Penyusun

Daftar Isi
Kata Pengantar
Daftar Isi
Bab I
Pendahuluan
1.1. Latar Belakang..........................................................................4
1.2. Rumusan Masalah.....................................................................4
1.3. Tujuan Penulisan........................................................................4
1.4. Manfaat Penulisan Makalah.......................................................4
Bab II
Isi
2.1. Pengertian Golongan Darah......................................................6
2.2. Jenis Golongan Darah................................................................7
2.3. Tabel Kecocokan Golongan Darah.............................................7
2.4. Pentingnya Mengetahui Golongan Darah..................................8
2.5 Pemeriksaan Golongan
Darah...........................................................................9
Bab III
3.1
Pertanyaan......................................................................................................
13
3.2
Jawaban..........................................................................................................
13
Bab IV
Penutup
4.1. Kesimpulan..............................................................................14
4.2. Saran.......................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
Pendahuluan
1.1.

Latar Belakang
Darah adalah cairan yang berwarna merah yang terdapat dalam pembuluh darah.

Volume darah manusia 7 % dari berat badan atau 5 liter untuk laki-laki dan 4,5 liter untuk
perempuan. Penyimpanan darah dapat dilakukan dengan memberikan natrium nisrat atau
natrium oksalat, karena garam-garam ini menyingkirkan ion-ion kalsium dari darah yang
berperan yang berperan penting dalam proses pembekuan darah (Subowo, 1992).
Darah mempunyai fungsi antara lain: mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh
tubuh, mengangkut karbondioksida dari jaringan tubuh ke paru-paru, mengangkut sari-sari
makanan ke seluruh tubuh, mengangkut sisa-sisa sari makanan dari seluruh jaringan tubuh ke
alat-alat eksresi,mengangkut hormone dari kelenjar endokrin ke bagian tubuh tertentu,
mengangkut air untuk diedarkan ke seluruh tubuh, menjaga stabilitas tubuh dengan
memindahkan panas yang dihasilkan oleh alat-alat tubuh yang aktif ke alat-alat tubuh yang
tidak aktif, menjaga tubuh dari infeksi kuman dengan membentuk antibody (Abbas, 1997).
Golongan darah manusia terbagi menjadi 4 golongan, yaitu A, B, AB dan O. Dalam hal
ini di dalam eritrosit terdapat antigen dan aglutinogen, sedangkan dalam serumnya terkandung
zat anti yang disebut sebagai antibody dan agglutinin. Golongan darah manusia bersifat
herediter yang ditentukan oleh alel ganda. Sistem penggolongan darah yang umum dikenal
dalam system ABO.
Golongan darah ditentukan dari jenis zat dalam eritrosit dan aglutinin dalam plasma
darah, maka dari itu saya melakukan praktikum Penentuan Golongan Darah ini untuk
mengetahui cara penentuan golongan darah seseorang dan system pewarisan golongan darah
dari tetuanya karena setiap orang berbeda golongan darahnya dan system pewarisan golongan
darah dari tetua juga berbeda.

1.2.

Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.

1.3.

Tujuan Penulisan
a.
b.
c.
d.

1.4.

Apa pengertian golongan darah ?


Apa saja jenis golongan darah ?
Bagaimana kecocokan golongan darah ?
Apa pentingnya mengetahui golongan darah ?

Mengetahui pengertian golongan darah


Mengetahui jenis golongan darah
Mengetahui kecocokan golongan darah
Mengetahui pentingnya golongan darah

Manfaat Penulisan Makalah


a.

Menambah kajian mengenai ilmu Transfusi Darah dalam mengetahui golongan

b.

darah
Mahasiswa dapat menyelesaikan tugas dari dosen pembimbing Transfusi Darah

Bab II
Isi
2.1.

Pengertian Golongan Darah

Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan
jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah. Golongan darah
manusia ditentukan berdasarkan jenis antigendan antibodi yang

terkandung dalam

darahnya, sebagai berikut:

Gol. darah O-negatif

dapat menerima golongan darah A terdapatantigen A pada

membran selnya => antibodi antigen B di serumdarahnya. Sehingga, gol.darah A

negatif dapat menerima golongan darah A-negatif atau O-negatif.


Golongan darah B terdapat antigen B pada permukaan sel darah merahnya => antibodi
antigen A di serum darahnya. Sehingga,gol.darah B-negatif hanya dapat menerima

golongan darah B-negatif atau O-negatif


Golongan darah AB memiliki eritrosit antigen A dan B serta tidak menghasilkan

antibodi antigen A maupun B. Sehingga,gol darah AB-positif dapat menerima darah


Gol. darah ABO apapun disebut resipien universal. Namun,gol.darah AB-positif tidak
dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama AB-positif

golongan darah O memiliki

sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap antigen A dan B.
Sehingga,golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya dengan golongan

darah ABO apapun dan disebut donor universaldarah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia,
meskipun di beberapa negara seperti Swedia danNorwegia, golongan darah A lebih
dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding antigen B. Karena golongan darah
AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini adalah jenis yang
paling jarang dijumpai di dunia.

Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaanNobel dalam bidang Fisiologi


dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

5
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau
ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi yang
berbeda-beda.

2.2.

Jenis Golongan Darah

Dua
jenis
penggolongan
darah
yang
paling
penting
adalah
penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46
jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darah dari

golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang
berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
1. Sistem ABO
Karl Landsteiner, seorang ilmuwan asal Austria yang menemukan 3 dari 4 golongan
darah dalam sistem ABO pada tahun 1900 dengan cara memeriksa golongan darah beberapa
teman sekerjanya. Percobaan sederhana ini pun dilakukan dengan mereaksikan sel darah merah
dengan serum dari para donor.
Hasilnya adalah dua macam reaksi (menjadi dasar antigen A dan B, dikenal dengan
golongan darah A dan B) dan satu macam tanpa reaksi (tidak memiliki antigen, dikenal dengan
golongan darah O). Kesimpulannya ada dua macam antigen A dan B di sel darah merah yang
disebut golongan A dan B, atau sama sekali tidak ada reaksi yang disebut golongan O.Dalam
sistem ABO, golongan darah dibagi menjadi 4 golongan:
Golongan Sel Darah Merah

Plasma

Antigen A

Antibodi A

Antigen B

Antibodi B

AB

Antigen A & B

Tidak ada antibodi

Tidak ada antigen

Antibodi Anti A & Anti B

Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi


atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi
yang berbeda-beda.
Tabel pewarisan golongan darah kepada anak
Ibu/Ayah

AB

O, A

O, B

A, B

O, A

O, A

O, A, B, AB

A, B, AB

O, B

O,A,B,AB

O,B

A, B, AB

A, B, AB

A, B, AB

6
AB
1.

A, B

A, B, AB

Reshus Faktor

Rh atau Rhesus (juga biasa disebut Rhesus Faktor) pertama sekali ditemukan pada tahun
1940 oleh Landsteiner dan Weiner. Dinamakan rhesus karena dalam riset digunakan darah kera
rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang paling banyak dijumpai di India dan
Cina.
Pada sistem ABO, yang menentukan golongan darah adalah antigen A dan B, sedangkan
pada Rh faktor, golongan darah ditentukan adalah antigen Rh (dikenal juga sebagai antigen D).

Jika hasil tes darah di laboratorium seseorang dinyatakan tidak memiliki antigen Rh,
maka ia memiliki darah dengan Rh negatif (Rh-), sebaliknya bila ditemukan antigen Rh pada
pemeriksaan, maka ia memiliki darah dengan Rh positif (Rh+).

2.3.

Tabel Kecocokan Golongan Darah

Transfusi darah adalah proses menyalurkan darah atau produk berbasis darah dari satu
orang ke sistem peredaran orang lainnya. Transfusi darah berhubungan dengan kondisi medis
seperti kehilangan darah dalam jumlah besar disebabkan trauma, operasi, syok dan tidak
berfungsinya organ pembentuk sel darah merah.
Dalam transfusi darah, kecocokan antara darah donor (penyumbang) dan resipien
(penerima) adalah sangat penting. Darah donor dan resipien harus sesuai golongannya
berdasarkan sistem ABO dan Rhesus faktor.
Transfusi darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi
transfusi imunologis yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Hemolisis adalah penguraian sel darah merah dimana hemoglobin akan terpisah dari eritrosit.
Pemilik rhesus negatif tidak boleh ditransfusi dengan darah rhesus positif. Jika dua jenis
golongan darah ini saling bertemu, dipastikan akan terjadi perang. Sistem pertahanan tubuh
resipien (penerima donor) akan menganggap rhesus dari donor itu sebagai benda asing yang
perlu dilawan. Di dunia, pemilik darah rhesus negatif termasuk minoritas.
Tabel Kecocokan Golongan Darah
Gol Darah Resipien

Donor harus

AB+

Golongan darah mana pun

AB-

O-

A-

B-

AB-

A+

O-

O+

A-

A+

A-

O-

A+

7
O-

O+

B-

O-

B-

O+

O-

O+

O-

O-

B+

B-

B+

2.4.

Pentingnya Mengetahui Golongan Darah

Selain hemolisis, ada kelainan genetik lain yang juga mengintai ibu (serta bayi yang
tengah dikandung, bila kasus terjadi pada wanita atau ibu hamil). Terutama jika ibu berdarah
rhesus negatif sedangkan suami berdarah rhesus positif. Masalah ini biasanya terjadi pada
perkawinan antar bangsa.
Secara genetik, rhesus positif dominan terhadap rhesus negatif. Anak dari pasangan beda
rhesus punya kemungkinan 50-100% berrhesus positif. Kemungkinan berrhesus negatif hanya
0-50%. Artinya rhesus si anak lebih mungkin berbeda dengan si ibu.
Jika tidak cepat ditangani, perbedaan rhesus antara calon bayi dengan ibu ini akan
menimbulkan masalah. Lewat plasenta, rhesus darah janin akan masuk ke peredaran darah si
ibu. Selanjutnya ini akan menyebabkan tubuh si ibu memproduksi antirhesus. Lewat plasenta
juga, antirhesus ini akan melakukan serangan balik ke dalam peredaran darah si calon bayi. Selsel darah merah si calon bayi akan dihancurkan.
Pada kehamilan permata, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir
kuning (karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan
warna kuning pada kulit).
Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi fatal jika anak kedua juga memiliki
rhesus positif. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi, sehingga daya rusaknya
terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin mengalami keguguran.
Jika sebelum hamil si ibu sudah mengetahui rhesus darahnya, masalah keguguran ini bisa
dihindari. Sesudah melahirkan anak pertama, dan selama kehamilan berikutnya, dokter akan
memberikan obat khusus untuk menetralkan antirhesus darah si ibu. Dengan terapi ini, anak
kedua bisa diselamatkan.
Untuk alasan tersebut maka dianjurkan bagi pasangan yang akan menikah untuk
melakukan pemeriksaan kesehatan pranikah (premarital health checkup) dan bagi ibu yang
ingin memiliki bayi dan atau yang telah dinyatakan positif hamil untuk segera memeriksa
kesehatannya.
Namun, satu masalah yang tersisa adalah test laboratorium saat ini belum
memungkinkan untuk melihat perbedaan dengan lebih jelas antara genotip (Rh+/Rh-) dan
(Rh+/Rh+), karena keduanya menghasilkan Rhesus faktor yang sama yaitu Rh+.
8

2.5

Pemeriksaan Golongan Darah

1. Pemeriksaan Cell Typing


Tujuan : Untuk mengetahui golongan darah pendonor yang didasarkan pada antigen yang
terdapat di sel darah merah.
Prinsip

Reaksi antigen-antibodi berupa penggumpalan (aglutinasi)

a. Metode Slide Test dengan Menggunakan Darah Kapiler

Tujuan

: Sebagai pemeriksaan awal untuk mengetahui golongan darah pendonor

Alat dan Bahan :


Object Glass, Lancet, Pengaduk
Darah Kapiler
Serum anti-A biasanya berwarna biru atau hijau
Serum anti-B biasanya berwarna kuning
Serum anti-AB biasanya berwarna merah muda/tak berwarna
Serum anti-D (Rhesus) biasanya tidak berwarna / bening
Cara Kerja

Menyiapkan reagen disuhu kamarMeneteskan 1 tetes (50 ) anti-A, anti-B, anti-AB,


dan anti-D pada objek glass
Memijit-mijit ujung jari manis/tengah donor dan kemudian melakukan desinfeksi
dengan alkohol 70%
Menusuk jari manis/tengah dengan posisi vertical, mengggunakan blood lancet
Mengusap darah yang pertama kali keluar dari jari donor dengan kapas kering
Meneteskan 1 tetes darah yang keluar pada objek glass yang sudah diberi antisera
Mengaduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah donor dengan
antisera dan menggoyang-goyangkan
Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis

b. Metode Slide Test dengan Menggunakan Suspensi Sel 10%


Tujuan
:
Untuk konfirmasi ulang pemeriksaan golongan darah pendonor sebelum
ditransfusikan kepada pasien

9
Alat dan Bahan

Object Glass, Pengaduk


Suspensi sel eritrosit 10% donor
Serum anti-A biasanya berwarna biru atau hijau
Serum anti-B biasanya berwarna kuning
Serum anti-AB biasanya berwarna merah muda/tak berwarna

Serum anti-D (Rhesus) biasanya tidak berwarna / bening


Cara Kerja

Meneteskan 1 tetes (50 l) anti-A, anti-B, anti-AB, dan anti-D pada objek glass
Memipet 50 l suspensi sel 10% donor pada objek glass yang sudah diberi antisera
Mengaduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah donor dengan
antisera dan menggoyang-goyangkan
Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis
Pembacaan hasil : Aglutinasi

: ada antigen pada sel darah merah donor

Tidak aglutinasi : tidak ada antigen pada sel darah merah donor
2. Pemeriksaan Serum Typing
Tujuan
: Untuk mengetahui golongan darah seseorang berdasakan antibodi yang terdapat
di dalam serum
Prinsip

Reaksi antigen-antibodi berupa penggumpalan (aglutinasi)

a. Metode Slide Test


Tujuan
: Untuk mengkonfirmasi ulang golongan darah pendonor sebelum ditransfusikan
kepada pasien yang didasarkan pada antibodi pendonor
Alat dan Bahan

Object Glass, Pengaduk, Serum donor


Suspensi sel A 10%
Suspensi sel B 10%
Suspensi sel O 10%
Cara Kerja

Memipet 50 l suspensi sel A 10%, suspensi sel B 10%, dan suspensi sel O 10% pada
objek glass

10
Memipet 50 l serum donor ke objek glass yang telah diberi suspensi sel
Mengaduk dengan batang pengaduk masing-masing campuran darah donor dengan
antisera dan menggoyang-goyangkan
Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis
b. Metode Tube Test

Tujuan
: Untuk mengkonfirmasi ulang golongan darah pendonor sebelum ditransfusikan
kepada pasien yang didasarkan pada antibodi pendonor
Alat dan Bahan

Tabung reaksi dan rak, Mikropipet, Centrifuge


Serum donor
Suspensi sel A 5%
Suspensi sel B 5%
Suspensi sel O 5%
Cara Kerja

Memipet 50 l suspensi sel A 5%, suspensi sel B 5%,dan suspensi sel O 5% pada
masing-masing tabung
Memipet 50 l serum donor ke tabung yang telah berisi suspensi sel dan
menghomogenkan
Mencentrifuge dengan kecepatan 1000 rpm selama 60 detik
Mengamati ada tidaknya aglutinasi secara makroskopis
Interpretasi Hasil Pembacaan Golongan Darah Cell Typing
Golongan Darah A : Aglutinasi pada sel B karena mempunyai antibody B
Golongan darah B : Aglutinasi pada sel A karena mempunyai antibody A
Golongan darah AB : Tidak terjadi karena tidak mempunyai antibody
Golongan darah O : Aglutinasi pada sel A dan sel B karena mempunyai antibody A dan B

3. Pemeriksaan Sederhana Golongan Darah Dan Rhesus


a. Persiapan
Persiapan penderita

: tidak memerlukan persiapan khusus

Persiapan sample

: Larutan sel darah merah yang akan diperiksa dari darah utuh

Prinsip

: Reaksi antigen-antibodi berupa penggumpalan (aglutinasi)


11

Alat dan bahan

serum anti-A biasanya berwarna biru atau hijau,


serum anti-B biasanya berwarna kuning,
serum anti-AB biasanya berwarna merah muda/tak berwarna

serum anti-D (Rhesus) biasanya tidak berwarma/bening


Pemeriksaan Cara Slide
Pada sebuah kaca obyek (slide) teteskan 1 tetes serum anti A disebelah kiri, 1 tetes tetes
serum anti B ditengah, dan 1 tetes serum anti AB disebelah kanan.
Pada kaca obyek yang lain teteskan 1 tetes serum anti-D (anti Rhesus) disebelah kiri
dan 1 tetes serum yang akan diperiksa sebagai kontrol disebelah kanan.
Pada masing-masing serum teteskan 2 tetes darah yang akan diperiksa, campurkan
dengan cara menggoyangkan kedepan dan kebelakang, sambil diamati adanya
gumpalan (aglutinasi) berupa titik-titik halus seperti pasir yang akan terjadi.
Pengamatan dilakukan dalam waktu 2 menit setelah percampuran serum dan darah yang
akan diperiksa
Kesalahan dapat terjadi dalam pembacaan secara kasat mata karena gumpalan yang
terjadi bisa sangat halus dan tidak terlihat, pastikan secara mikroskopi

12

Bab III

3.1.

Pertanyaan

1. Apakah perbedaan golongan darah dipengaruhi oleh warna kulit ?


2. Bagaimana maksud dari contoh kasus pada slide tentang golongan
darah rhesus?

3.2.

Jawaban

1. Rhesus darah seseorang tidak didasarkan pebedaan warna kulit


karena yang membentuk adanya rhesus negatif atau positif
dikarenakan adanya perbedaan kepemilikan antigen D pada sel darah
seseorang. Umumnya orang Asia memiliki rhesus positif dan luar Asia
memiliki rhesus negatif menurut penelitian. Warna kulit orang Asia
ada yang hitam, coklat, putih, tetapi rhesusnya sama positif hal ini
menandakan bahwa warna kulit tidak mempengaruhi rhesus
seseorang.
2. Secara genetik, rhesus positif dominan terhadap rhesus negatif. Anak dari pasangan
beda rhesus punya kemungkinan 50-100% berrhesus positif. Kemungkinan berrhesus
negatif hanya 0-50%. Artinya rhesus si anak lebih mungkin berbeda dengan si ibu.
Jika tidak cepat ditangani, perbedaan rhesus antara calon bayi dengan ibu ini akan
menimbulkan masalah. Lewat plasenta, rhesus darah janin akan masuk ke peredaran
darah si ibu. Selanjutnya ini akan menyebabkan tubuh si ibu memproduksi antirhesus.
Lewat plasenta juga, antirhesus ini akan melakukan serangan balik ke dalam peredaran
darah si calon bayi. Sel-sel darah merah si calon bayi akan dihancurkan. Pada
kehamilan permata, antirhesus mungkin hanya akan menyebabkan si bayi lahir kuning
(karena proses pemecahan sel darah merah menghasilkan bilirubin yang menyebabkan
warna kuning pada kulit).
Tapi pada kehamilan kedua, problemnya bisa menjadi fatal jika anak kedua juga
memiliki rhesus positif. Saat itu, kadar antirhesus ibu sedemikian tinggi, sehingga daya
rusaknya terhadap sel darah merah bayi juga hebat. Ini bisa menyebabkan janin
mengalami keguguran. Jika sebelum hamil si ibu sudah mengetahui rhesus darahnya,
masalah keguguran ini bisa dihindari. Sesudah melahirkan anak pertama, dan selama
kehamilan berikutnya, dokter akan memberikan obat khusus untuk menetralkan
antirhesus darah si ibu. Dengan terapi ini, anak kedua bisa diselamatkan.

13

Bab IV

Penutup
4 .1 Kesimpulan
Golongan darah adalah ciri khusus darah dari suatu individu karena adanya perbedaan
jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi
atau ras. Salah satu pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi
yang berbeda-beda. Dua jenis penggolongan darah yang paling penting adalah
penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal sekitar 46
jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi
darah dari golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis
yang berakibat anemia hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.

3.1.

Saran

Adapun kritik dan saran akan kami terima demi kemajuan dari makalah ini sebagai
salah satu acuan untuk proses belajar mengajar baik dikampus maupun dilapangan.

14

DAFTAR PUSTAKA

Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.


Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
http://beruangmadusya.blogspot.com/2010/03/pemeriksaan-diagnostik.html
http://tutorialkuliah.blogspot.com/2009/05/konsep-dasar-asuhan-keperawatan-pada.html
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru
Lahir Jakarta. Pusdiknakes.