Anda di halaman 1dari 9

ODONTOLOGI FORENSIK

Menurut Pederson, odontologi forensik adalah suatu cabang ilmu kedokteran gigi
yang mempelajari cara penanganan dan pemeriksaan benda bukti gigi serta cara evaluasi dan
presentasi temuan gigi tersebut untuk kepentingan peradilan. Bagi para aparat penegak
hukum dan pengadilan, pembuktian melalui gigi merupakan metode yang valid dan
terpercaya (reliable), sebanding dengan nilai pembuktian sidik jari dan penentuan
golongan darah.
Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai
berikut: (secara umum)

Gigi dan restorasinya merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan
dan pengaruh lingkungan yang ekstrem

Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi
menyebabkan dimungkinkannya identifikasi dengan ketepatan yang tinggi.

Kemungkinan tersedianya dan antemorten gigi dalam bentuk catatan medis gigi
(dental record) dan data radiologis

Keuntungan Gigi sebagai Objek Pemeriksaan


Terdapat beberapa hal yang menjadi keuntungan gigi menjadi objek pemeriksaan, antara lain
adalah
a.
Gigi-geligi merupakan rangkaian lengkungan secara anatomis, antropologis dan
morfologis mempunyai letak yang terlindung dari otot-otot bibir dan pipi sehingga apabila
trauma mengenai otot-otot tersebut terlebih dahulu.
b.
Gigi-geligi sukar untuk membusuk kecuali gigi tersebut sudah mengalami nekrotik
atau gangren, biarpun dikubur, umumnya organ-organ tubuh lain bahkan tulang telah hancur
tetapi gigi tidak (masih utuh).
c.
Gigi-geligi di dunia ini tidak ada yang sama karena menurut SIMS dan Furnes bahwa
gigi manusia kemungkinan sama adalah 1:1000000000.
d.
Gigi-geligi mempunyai ciri-ciri yang khusus apabila ciri-ciri gigi tersebut rusak atau
berubah maka sesuai dengan pekerjaan dan kebiasaan menggunakan gigi bahkan setiap ras
mempunyai ciri yang berbeda.
e.
Gigi-geligi tahan asam keras, terbukti pada peristiwa Haigh yang dibunuh dan
direndam di dalam drum berisi asam pekat, jaringan ikatnya hancur sedangkan giginya masih
utuh.
f.
Gigi-geligi tahan panas, apabila terbakar sampai dengan suhu 400 0C gigi tidak akan
hancur, kecuali dikremasi karena suhunya diatas 10000C. Gigi menjadi abu sekitar suhu lebih
dari 6490C. Apabila gigi tersebut ditambal menggunakan amalgam maka bila terbakar akan
menjadi abu sekitar suhu lebih dari 8710C, sedangkan bila gigi tersebut memakai mahkota
logam atau inlay alloy emas maka bila terbakar akan menjadi abu sekitar suhu 871-10930C.

Gambar: Menunjukkan bahwa gigi tetap dalam keadaan utuh pada suhu yang tinggi,
walaupun tubuh telah rusak, tetapi gigi masih dapat diidentifikasi.
g.
Gigi-geligi dan tulang rahang secara roentgenografis, biarpun terdapat pecahanpecahan rahang pada roentgenogramnya dapat diinterpretasi kadang-kadang terdapat anomali
dari gigi dan komposisi tulang rahang yang khas.
h.
Apabila korban telah dilakukan pencabutan gigi umumnya ia memakai gigi palsu
dengan berbagai macam model gigi palsu dan gigi palsu tersebut dapat ditelusuri atau
diidentifikasi. Gigi palsu akrilik akan terbakar menjadi abu pada suhu 538 0C6490C. Bridge dari porselen akan menjadi abu pada suhu 10930C.
i.
Gigi-geligi merupakan sarana terakhir dalam identifikasi apabila sarana-sarana lain
atau organ lain tidak ditemukan.

Keterbatasan odontologi forensik


a.
Rugae palatal tidak bisa digunakan pada kasus edentulus, ketika tidak ada data
antemortem, ketika ada patologi di palatal, dan jika korban terbakar, mengalami dekomposisi,
dan skeletonisasi karena rugae sering hancur.
b.
Sidik bibir tidak bisa digunakan 20 jam setelah kematian, jika ada patologi di bibir
seperti mukokel, dan cleft, atau jika ada perubahan postoperaso dari bibir, adascar, dan lainlain.
c.
Bite mark tidak bisa digunakan 3 hari setelah kematian atau jika sudah dekomposisi
atau jika korban terbakar.
d.
Bisa terjadi kesalahan ketika mengambil foto dan radiograf. Kesalahan dapat terjadi
saat pengambilan sampel, proses, dan interpretasi. Kontaminasi bakteri dan DNA orang lain
dapat mengubah interpretasi.
PERANAN DOKTER GIGI FORENSIK
Sebagaimana telah diterangkan diatas, benda bukti gigi sudah sejak lama disadari
mempunyai peran yang besar dalam identifikasi personal dan pengungkapan kasus kejahatan.

Bagi para aparat penegak hukum dan pengadilan, pembuktian melalui gigi merupakan
metode yang valid dan terpercaya (reliable), sebanding dengan nilai pembuktian sidikjari dan
penentuan golongan darah.
Seorang dokter gigi forensik harus memiliki beberapa kualifikasi sbb :
a. Kualifikasi sebagai dokter gigi umum. Kualifikasi terpenting yang harus
dimiliki oleh seorang dokter gigi forensik adalah latar belakang kedokteran
gigi umum yang luas, meliputi semua spesialisasi kedokteran gigi. Sebagai
seorang dokter gigi umum, kadang-kadang ia perlu memanggil dokter gigi
spesialis untuk membantunya memecahkan kasus.
b. Pengetahuan tentang bidang forensik terkait. Seorang dokter gigi forensik
harus mengerti sedikit banyak tentang kualifikasi dan bidang keahlian forensik
lainnya yang berkaitan dengan tugasnya, seperti penguasaan akan konsep
peran dokter spesialis forensik, cara otopsi, dsb.
c. Pengetahuan tentang hukum.Seorang dokter gigi forensik harus memiliki
pengetahuan tentang aspek legal dari odontologi forensik, karena ia akan
banyak berhubungan dengan para petugas penegak hukum, dokter forensik
dan juga pengadilan. Dalam hal kasus kriminal ia juga harus paham mengenai
tata cara penanganan benda bukti yang merupakan hal yang amat menentukan
untuk dapat diterima atau tidaknya suatu bukti di pengadilan
RUANG LINGKUP ODONTOLOGI FORENSIK
Ruang lingkup odontologi forensik sangat luas meliputi semua bidang keahlian
kedokteran gigi. Secara garis besar odontologi forensik membahas beberapa topik sebagai
berikut:
a. Identifikasi Forensik Odontologi
Ketika tidak ada yang dapat diidentifikasi, gigi dapat membantu untuk
membedakan usia seseorang, jenis kelamin,dan ras. Hal ini dapat membantu
untuk membatasi korban yang sedang dicari atau untuk membenarkan atau
memperkuat identitas korban.
b. Penentuan Usia
Perkembangan gigi secara regular terjadi sampai usia 15 tahun. Identifikasi
melalui pertumbuhan gigi ini memberikan hasil yang yang lebih baik daripada
pemeriksaan antropologi lainnya pada masa pertumbuhan. Pertumbuhan gigi
desidua diawali pada minggu ke 6 intra uteri. Mineralisasi gigi dimulai saat 12 16
minggu dan berlanjut setelah bayi lahir. Trauma pada bayi dapat merangsang stress
metabolik yang mempengaruhi pembentukan sel gigi. Kelainan sel ini
akan mengakibatkan garis tipis yang memisahkan enamel dan dentin di sebut

sebagai neonatal line. Neonatal line ini akan tetap ada walaupun seluruh enamel
dan dentin telah dibentuk. Ketika ditemukan mayat bayi, dan ditemukan garis
ini menunjukkan bahwa mayat sudah pernah dilahirkan sebelumnya. Pembentukan
enamel dan dentin ini umumnya secara kasar berdasarkan teori dapat digunakan
dengan melihat ketebalan dari struktur di atas neonatal line. Pertumbuhan
gigi permanen diikuti dengan penyerapan kalsium, dimulai dari gigi molar
pertama dan dilanjutkan sampai akar dan gigi molar kedua yang menjadi lengkap
pada usia 14 16 tahun. Ini bukan referensi standar yang dapat digunakan
untuk menentukan umur, penentuan secara klinis dan radiografi juga
dapat digunakan untuk penentuan perkembangan gigi

Gambar: memperlihatkan gambaran panoramic X ray pada anak-anak


(a) gambaran yang menunjukkan suatu pola pertumbuhan gigi dan
perkembangan pada usia 9 tahun (pada usia 6 tahun terjadi erupsi dari
akar gigi molar atau gigi 6 tapi belum tumbuh secara utuh).
(b) menunjukkan pertumbuhan gigi pada anak usia 9 tahun.
Penentuan usia antara 15 dan 22 tahun tergantung dari perkembangan gigi
molar tiga yang pertumbuhannya bervariasi. Setelah melebihi usia 22 tahun,
terjadi degenerasi dan perubahan pada gigi melalui terjadinya proses patologis
yang lambat dan hal seperti ini dapat digunakan untuk aplikasi forensik.
c. Penentuan Jenis Kelamin
Ukuran dan bentuk gigi juga digunakan untuk penentuan jenis kelamin.
Gigi geligi menunjukkan jenis kelamin berdasarkan kaninus mandibulanya.
Anderson mencatat bahwa pada 75% kasus, mesio distal pada wanita berdiameter
kurang dari 6,7 mm, sedangkan pada pria lebih dari 7 mm. Saat ini sering
dilakukan pemeriksaan DNA dari gigi untuk membedakan jenis kelamin.

d. Penentuan Ras
Gambaran gigi untuk ras mongoloid adalah sebagai berikut:
(a) Insisivus berbentuk sekop. Insisivus pada maksila menunjukkan
nyata berbentuk sekop pada 85-99% ras mongoloid. 2 sampai 9 % ras
kaukasoid dan 12 % ras negroid memperlihatkan adanya
bentuk seperti sekop walaupun tidak terlalu jelas.
(b) Dens evaginatus. Aksesoris berbentuk tuberkel pada permukaan
oklusal premolar bawah pada 1-4% ras mongoloid.
(c) Akar distal tambahan
pada 20% mongoloid.

pada

molar

mandibula

ditemukan

(d) Lengkungan palatum berbentuk elips.


(e) Batas bagian bawah mandibula berbentuk lurus

Gambaran gigi untuk Ras kaukasoid adalah sebagai berikut:


1. Cusp carabelli, yakni berupa tonjolan pada molar 1.
2. Pendataran daerah sisi bucco-lingual pada gigi premolar kedua dari mandibula.
3. Maloklusi pada gigi anterior.
4. Palatum sempit, mengalami elongasi, berbentuk lengkungan parabola.
5. Dagu menonjol.

Gambaran gigi untuk ras negroid adalah sebagai berikut:


1. Pada gigi premolar 1 dari mandibula terdapat dua sampai tiga tonjolan.
2. Sering terdapat open bite.
3. Palatum berbentuk lebar.
4. Protrusi bimaksila.
Di bawah ini merupakan contoh gambar open bite

Jenis Data Odontologi Forensik


a.

Data Antemortem

Pencatatan data gigi dan rongga mulut semasa hidupnya, biasanya berisikan:
-

Identitas pasien.

Keadaan umum pasien.

Odontogram (data gigi yang menjadi keluhan).

Data perawatan kedokteran gigi.

Nama dokter gigi yang merawat.

Informed consent (hanya sedikit sekali dokter gigi di Indonesia yang membuat informed
consent baik di praktik pribadi maupun di rumah sakit).

Menurut buku DEPKES tentang penulisan data gigi dan rongga mulut yang berisikan standar
baku mutu nasional antara lain:
Pencatatan identitas pasien mulai dari nomor file sampai dengan alamat pekerjaan serta
kelengkapan alat komunikasinya.
Keadaan umum pasien, berisi golongan darah, tekanan darah, kelainan-kelainan darah,
serta kelainan dari virus yang berkembang saat ini.
Odontogram. Data gigi dicatat dalam formulir odontogram dengan denah dan
nomenklatur yang baku nasional dengan lengkap.

Data perawatan kedokteran gigi, berisi waktu awal perawatan, runtut waktu kunjungan,
kelihan dan diagnosa, gigi yang dirawat, tindakan lain yang dilakukan dokter gigi tersebut.
-

Roentgenogram, baik intraoral maupun ekstraoral.

Pencatatan status gigi dengan kode tertentu sesuai dengan standar interpol.

Formulir data antemortem dalam buku DEPKES ditulis dengan warna kertas kuning. Di
dalam formulir ini terdapat pula catatan data orang hilang.
b.

Data Postmortem

Pencatatan data postmortem menurut formulis DEPKES berwarna merah dengan


catatan victim identification pada mayat. Yang pertama dilakukan adalah fotografi kemudian
proses pembukaan rahang untuk memperoleh data gigi dan rongga mulut, lalu dilakukan
pencetakan rahang atas dan rahang bawah. Bila terjadi kaku mayat maka lidah yang kaku
tersebut diikat dan ditarik ke atas sehingga lengkung rahang bebas untuk dilakukan
pencetakan. Studi model rahang korban juga merupakan barang bukti.
Dilakukan pencatatan gigi pada formulir odontogram sedangkan kelainan-kelainan di rongga
mulut dicatat pada kolom tertentu. Catatan ini adalah lampiran dari visum et repertum
korban. Lalu dilakukan pemeriksaan sementara dengan formulir baku mutu nasional dan
internasional, lalu dituliskan surat rujukan untuk pemeriksaan laboratorium dengan formulir
baku mutu nasional pula
Setelah diperoleh hasil laboratorium maka dilakukan pencatatan ke dalam formulir lengkap
baru dapat dibuatkan suatu berita acara sesuai KUHAP demi proses peradilan. Visum yang
lengkap ini sangat penting dengan lampiran-lampirannya serta barang buktu dapat diteruskan
ke jaksa penuntut kemudian ke sidang acara hukum pidana.

Penelitian Biomedis
Semua riset yang melibatkan manusia sebagai subyek, harus berdasarkan empat
prinsip dasar Etika Penelitian yaitu:
1. Penghormatan sesama manusia.
Peneliti harus menghormati keputusan tiap-tiap individu serta memberikan rasa aman
kepada individu yang disabilitas dalam membuat keputusan.
2. Manfaat.
Penelitian hendaknya memberikan manfaat.
3. Bahaya.
Penelitian tidak berbahaya dan tidak merugikan.
4. Keadilan.
Semua subyek diperlakukan dengan baik dan ada keseimbangan antara manfaat dan
risiko.
Ada beberapa pedoman penelitian klinik yaitu:
1. Harus mendapat informed consent dari calon subyek penelitian. Sebelumnya,
peneliti harus memberikan penjelasan dan kesempatan calon subyek
untuk
bertanya. Peneliti juga harus siap menerima pembaruan informed consent dari
subyek jika ada perubahan dalam penelitiannya.
2. Subyek dapat dibayar untuk ketidaknyamanan dan waktu yang dihabiskan.
3. Penelitian yang melibatkan anak-anak, orang dengan gangguan mental, dan ibu hamil
sebaiknya tidak dilakukan kecuali untuk memberi manfaat pada mereka atau untuk
mengetahui kondisinya.
4. Tidak boleh semena-mena menolak akses obat atau vaksin yang memberi efek
terapeutik bagi tawanan dengan penyakit serius atau berisiko terhadap penyakit serius.
5. Peneliti harus melindungi secara aman kerahasiaan data subjek
6. Subjek penelitian yang terkena cedera atau kerugian saat penelitian berhak meminta
rugi
7. Semua usulan untuk melakukan penelitian yang melibatkan subjek manusia harus
diserahkan pada komisi etika ilmiah untuk ditinjau dan disetujui.
8. Penelitian yang disponsori oleh pihak asing harus menyerahkan protokol etik negara
sponsor dan harus memenuhi juga protokol etik negara tuan rumah serta disetujui oleh
komisi etik negara tuan rumah

Jenis Penelitian Kesehatan


Berdasarkan metode, penelitian kesehatan dapat digolongkan menjadi :
1. Metode penelitian survey
Penelitian tidak dilakukan terhadap seluruh objek yang diteliti (populasi) tapi hanya
mengambil dari sebagian populasi (sampel).
a. Deskriptif
Bertujuan untuk menguraikan suatu keadaan dalam komunitas atau
masyarakat. Penelitian menjawab semua rumusan masalah berupa bagaimana atau
how
b. Analitik
Bertujuan untuk menjelaskan suatu keadaan dalam komunitas atau masyarakat
dan menyatakan hubungan sebab-akibat. Peneitian ini secara umum menjawab
pertanyaan mengapa. Penelitian analitik dibagi berdasarkan urutan sebab akibatnya:
- Cross sectional
- Studi retrospektif
- Studi prospektif
2. Metode penelitian eksperimen
Peneliti melakukan percobaan atau perlakuan terhadap variable kemudian mengukur
akibat perlakuan tersebut.
Berdasarkan dari hadirnya variabel (ubahan) :
- Variabel masa lalu dan sekarang (sedang terjadi) adalah penelitian deskriptif
- Variabel masa yang akan datang adalah penelitian eksperimen
Manfaat Penelitian Kesehatan
1. Menggambarkan
masyarakat.

keadaan

atau

status

2. Menggambarkan kemampuan sumber


pelayanan kesehatan yang direncanakan

kesehatan
daya

guna

individu, kelompok maupun


mendukung pengembangan

3. Sarana diagnosis dalam mencari sebab masalah kesehatan sehingga memudahkan


pencarian alternatif pemecahan masalah tersebut

Anda mungkin juga menyukai