Anda di halaman 1dari 38

PEMAHAMAN TENTANG

SPI RUMAH SAKIT

Dr. Sutirto Baski, SpKK, M.Kes.


(ARSADA)

Dr. Sutirto Basuki, SpKK, M.Kes


- Ka SPI RSUD Tarakan (1997-2001,
2010-2013)
- Wadir Pelayanan RSUD Tarakan
(2001-2010)
- Ka Komite Mutu RSUD Tarakan
- Bendahara PP ARSADA
E-mail : subasuki@yahoo.com
HP : 0816 107 108

Alamat Kantor :
- RSUD TARAKAN JAKARTA
- Sekretariat PP ARSADA, Jakarta

TUJUAN UMUM

Mampu memahami apa yang disebut


dengan Satuan Pemeriksaan Internal
(SPI) Rumah Sakit

TUJUAN
KHUSUS
mampu
1. Menjelaskan pengertian SPI RS
2. Menjelaskan regulasi/dasar hukum SPI
3. Menjelaskan tugas pokok, fungsi dan
kewenangan SPI
4. Menjelaskan struktur organisasi SPI

POKOK BAHASAN
1. Pengertian SPI
2. Regulasi/Dasar
Hukum SPI
3. Tugas Pokok, Fungsi
dan Wewenang SPI
4. Struktur Organisasi
SPI

Satuan Pemeriksaan Internal (SPI)

Satuan Pemeriksaan Internal


dibentuk dengan tujuan
menjamin penyelenggaraan
tata kelola Rumah Sakit yang
baik (Good Corporate
Governance) melalui
penerapan fungsi-fungsi
manajemen Rumah Sakit yang
berdasarkan prinsip-prinsip
transparansi, akuntabilitas,
responsibilitas, independensi,
kesetaraan dan kewajaran

SPI
Pewujudan tata kelola RS yang baik (good
corporate governance)
Monitoring & evaluasi
Berkala, kontinu (rutin)
Pengawasan berjenjang
Diri sendiri atasan langsung SPI
inspektorat/auditor eksternal DPR
masyarakat
Pemeriksaan sumber daya

DASAR HUKUM
Undang-Undang No. 17 tahun 2003 tentang Keuangan
Negara
Undang-Undang No. 1 tahun 2004 tentang
Perbendaharaan Negara
Undang-Undang No 15 tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Keuangan Negara
Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang Kesehatan
Undang-Undang No. 44 tahun 2009 tentang Rumah
Sakit
Peraturan Pemerintah No. 60 tahun 2008 tentang
Sistem Pengendalian Instansi Pemerintah

PEMERIKSAAN INTERNAL

kegiatan pemeriksaan yang dilakukan secara sistematis, independen,


obyektif, dan profesional melalui tahap proses identifikasi masalah,
analisis, dan evaluasi berdasarkan standar pemeriksaan internal
rumah sakit, untuk menilai kebenaran, kecermatan, kredibilitas, dan
keandalan informasi mengenai penyelenggaraan kegiatan pelayanan
rumah sakit, pengelolaan dan tanggung jawab keuangan rumah sakit,
sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan
efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kelola
penyelenggaraan rumah sakit yang baik.

TUGAS SPI
-Memantau dan mengevaluasi
pelaksanaan manajemen risiko di unit
kerja Rumah Sakit.

-Melakukan penilaian terhadap sistem


pengendalian, pengelolaan, pemantauan
efektivitas dan efisiensi sistem dan
prosedur dalam bidang administrasi
(Pelayanan, SDM, Diklat, Litbang, Umum,
Sarpras, Keuangan)
-Melaksanakan tugas khusus dalam
lingkup pengendalian internal yang
ditugaskan oleh Direktur RS
-Memantau pelaksanaan dan ketepatan
pelaksanaan tindak lanjut atas laporan
hasil audit.

Fungsi

Membantu Direktur/Kepala RS dalam pemeriksaan internal


agar pengelolaan sumber daya Rumah Sakit lebih efektif,
lebih efisien dan ekonomis untuk dapat menjamin
akuntabilitas kinerja Rumah Sakit sesuai dengan tujuan
organisasi
Memberikan konsultasi, advokasi, pembimbingan dan
pendampingan terkait pelaksanaan kegiatan operasional
Rumah Sakit dengan memperhatikan peraturan
perundangan yang berlaku

RUANG LINGKUP
1. Manajemen
Pelayanan,
2. Sumber Daya
Manusia,
3. Pendidikan dan
Pelatihan,
4. Penelitian dan
Pengembangan,
5. Umum,
6. Sarana Prasarana,
7. Keuangan.

WEWENANG
Wewenang SPI meliputi :
1. Menyusun, mengubah dan melaksanakan kebijakan
pemeriksaan internal termasuk menentukan prosedur dan
lingkup pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan
2. Mendapatkan akes terhadap semua dokumen, sarana dan
prasarana, informasi atas obyek audit yang dilaksanakan
berkaitan dengan pelaksanaan tugas
3. Mendapatkan keterangan/informasi dari semua pihak
yang terkait dengan obyek pemeriksaan yang
dilaksanakan
4. Melakukan verifikasi dan uji kehandalan terhadap
informasi yang diperolehnya dalam kaitannya dengan
proses pemeriksaan internal

ORGANISASI
Dibentuk dan diangkat oleh Direktur & bersifat Independen
Terdiri dari :
1. Kepala SPI
2. Subsatuan pemeriksaan
3. Anggota
Subsatuan pemeriksaan :
a) Subsatuan Pemeriksaan Pelayanan, Pemasaran dan Pengembangan
Bisnis
b) Subsatuan Pemeriksaan Sumber Daya Manusia, Umum dan Sarana
prasarana
c) Subsatuan Pemeriksaan Keuangan

Catatan :
Bila SDM terbatas, minimal ada Kepala dan Anggota yang merangkap
menjadi subsatuan
Minimal 3 orang
Tidak boleh merangkap jabatan struktural

Persyaratan sebagai Kepala SPI


a) Berpendidikan minimal Sarjana (S1)
b) Memiliki sertifikat sebagai auditor ahli atau
sertifikat lain yang setara dan mendapat
pengakuan dari badan standardisasi nasional
c) Berpengalaman di bidang manajemen
Rumah Sakit dan/atau pemeriksaan internal
minimal 3 tahun
d) Bekerja purna waktu

Persyaratan sebagai Anggota SPI


a) Berpendidikan minimal Sarjana (S1)
b) Memiliki sertifikat sebagai auditor ahli atau
sertifikat lain yang setara dan mendapat
pengakuan dari badan standardisasi nasionl
c) Bekerja purna waktu

Seorang Ketua/Anggota SPI


Harus mempunyai pengetahuan tentang Kebijakan, Peraturan,
Panduan, Pedoman, Prosedur, dll. Yang terkait dengan manajemen
pelayanan, SDM, Pengadaan Barang, Penyimpanan Barang,
Keuangan, Sarana-prasarana, Bsngunan, lingkungan, JKN, dll.
Berupa Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, Peraturan Menteri
Kesehatan, Peraturan Menteri lainnya, Peraturan Daerah, Peraturan
Gubernur/Bupati, Peraturan/SK Direktur, dll.
Peraturan-peraturan tsb. Sebagai Standar untuk mengetahui
Kepatuhan, Kecurangan, Ketidak patutan Auditi
Mis. UU No. 44/2009 ttg. Kesehatan, UU No 5/2014 ttg Tenaga
Kesehatan, PP No. 60 th. 2010 ttg SPIP, PP No 51 th. 2007 ttg
Kefarmasian, Permenkes No. 129 th 2008 ttg Standar Pelayanan
Minimal, Permenkes No. 269/2008 ttg Rekam Medik, dll

PIAGAM PEMERIKSAAN INTERNAL


Merupakan dokumen yang berisi dan menjelaskan keberadaan
dan fungsi SPI di RS
Isi :

Visi
Misi
Wewenang
Ruang lingkup tugas
Tanggung jawab
Kewajiban
Kode etik pemeriksaan
Hubungan kerja

Harus dibuat
Ditandatangani Kepala SPI dan Direktur RS
Sebagai dasar pelaksanaan tugas SPI dan disosialisikan ke unitunit RS

KEWAJIBAN SPI
1. Menyusun rencana pemeriksaan
2. Mengkomunikasikan dan meminta persetujuan
rencana pemeriksaan tahunan kepada Direktur
3. Mengelola sumber daya
4. Menetapkan sistem dan prosedur pemeriksaan
5. Melakukan koordinasi
6. Menyampaikan laporan hasil pemeriksaan
7. Melakukan pengembangan dan pengendalian
mutu pemeriksaan
8. Menindaklanjuti pengaduan masyarakat

RENCANA KERJA

Rencana strategis (5 tahun) dan rencana


tahunan
Rencana tahunan dengan penentuan
prioritas berdasar evaluasi risiko
Lampirkan sumber daya yang diperlukan
Pertimbangkan adanya pengaduan dari
masyarakat
Prinsip keserasian dan keterpaduan
Hindari pemeriksaan yang berulangulang

PEMERIKSAAN MELIPUTI :
1. Pemeriksaan dan
evaluasi kinerja/
operasional
penyelenggaraan
rumah sakit
2. Reviu laporan
keuangan Rumah Sakit
3. Pemeriksaan dengan
tujuan tertentu

JENIS PEMERIKSAAN
Pemeriksaan kinerja :
merupakan suatu proses yang sistematis untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif
atas kinerja suatu organisasi, program, fungsi, atau
aktivitas/kegiatan yang bertujuan untuk memberikan
kesimpulan dan rekomendasi atas pengelolaan
organisasi secara ekonomis, efisien dan efektif.
Pemeriksaan Dengan Tujuan Tertentu (PDTT) :
merupakan Pemeriksaan yang bertujuan untuk
memberikan kesimpulan atas suatu hal yang diperiksa,
meliputi pemeriksaan terhadap masalah yang menjadi
fokus perhatian pimpinan organisasi dan pemeriksaan
yang bersifat khusus.

STANDAR PEMERIKSAAN
Standar Pemeriksaan adalah syarat dan kriteria yang harus
dipenuhi untuk menjaga kualitas kinerja pemeriksaan dan hasil
pemeriksaannya.
Standar Pemeriksaan sangat menekankan tidak hanya terhadap
pentingnya kualitas profesional pemeriksa tetapi juga terhadap
bagaimana pemeriksa mengambil pertimbangan dan keputusan
waktu melakukan pemeriksaan dan pelaporan.
Terdiri dari
Standar Umum;
Standar Pelaksanaan Pemeriksaan;
Standar Pelaporan; dan
Standar Pemantauan Tindak Lanjut.

Prinsip Umum Pemeriksaan

Independensi dan
Obyektivitas
Kompetensi
Kecermatan
profesional
Kepatuhan pada
Kode Etik

Standar Pelaksanaan Pemeriksaan


Standar pelaksanaan pemeriksaan kinerja meliputi:
1. Perencanaan;
a)
b)
c)
d)

2.
3.

Supervisi
Pengumpulan dan Pengujian Bukti
a)
b)

4.
5.

Penetapan sasaran, ruang lingkup, metodologi, dan alokasi sumber


daya
Pertimbangan dalam perencanaan
Evaluasi terhadap sistem pengendalian intern
Evaluasi atas ketidakpatuhan auditi terhadap peraturan
perundang-undangan, kecurangan dan ketidakpatutan (abuse)

Pengumpulan Bukti
Pengujian bukti

PengembanganTemuan
Dokumentasi

Pengumpulan dan Pengujian Bukti


Pengumpulan bukti
Harus didapat bukti yang relevan, kompeten, cukup dan
memiliki nilai material
Digunakan untuk mendukung kesimpulan, temuan dan
rekomendasi
Dapat digolongkan menjadi bukti fisik bukti dokumen,
bukti kesaksian
Diangap cukup sesuai pertimbagan keahlian dan obyektif

Pengujian bukti
Membandingkan informasi dengan kriteria.
Teknik pemeriksaan yang digunakan meliputi konfirmasi,
inspeksi, pembandinga, penelusuran dan bertanya
(wawancara)

Pengembangan Temuan
Adanya ketidak sesuaian antara kondisi/
pelaksanaan dengan kriteria yang seharusnya
Dapat berupa kurang memadainya sistem
pengendalian intern, adanya ketidak-patuhan
dari ketentuan peraturan perundangundangan, kecurangan, serta ketidak-patutan
(abuse)
Temuan biasanya terdiri dari unsur kondisi,
akibat dan sebab

Dokumentasi
(Kertas Kerja Pemeriksaan)
Harus disimpan secara tertib dan sistematis agar dapat
secara efektif diambil kembali, dirujuk dan dianalisis
Harus berisi :
Tujuan, ruang lingkup, metodologi pemeriksaan, termasuk
kriteria pengambilan uji petik yang digunakan
Dokumentasi pekerjaan yang berguna untuk mendukung
pertimbangan profesional dan temuan pemeriksa
Bukti tentang reviu supervisi terhadap pekerjaan yang
dilakukan
Penjelasan pemeriksa mengenai standar yang tidak dapat
diterapkan, apabila ada, alasan dan akibatnya

LAPORAN HASIL PEMERIKSAAN

Harus disampaikan langsung ke Direktur Utama


Berdasarkan Standar Kerja Audit
Berpegangan pada Kode Etik Auditor
Pelaporan ke Pemilik dengan persetujuan
Direktur
Pelaporan harus mencantumkan :
a) Kesimpulan
b) Rekomendasi
c) Tindak lanjut

Bentuk Laporan
Laporan hasil pemeriksaan kinerja harus dibuat
dalam bentuk dan isi yang dapat dimengerti oleh
auditi dan pihak lain yang terkait.
Bentuk laporan pada dasarnya bisa berbentuk
surat atau bab.
Bentuk surat digunakan apabila dari hasil pemeriksaan
tersebut tidak diketemukan banyak temuan.
Sedangkan bentuk bab digunakan apabila dari hasil
pemeriksaan ditemukan banyak temuan.

Tanggapan Auditi

Pemeriksa harus meminta tanggapan/pendapat terhadap kesimpulan, temuan, dan


rekomendasi termasuk tindakan perbaikan yang direncanakan oleh auditi, secara tertulis
dari pejabat auditi yang bertanggung jawab.
Tanggapan tersebut harus dievaluasi dan dipahami secara seimbang dan obyektif, serta
disajikan secara memadai dalam laporan hasil pemeriksaan. Tanggapan yang diberikan,
seperti janji atau rencana tindakan perbaikan, harus dicantumkan dalam laporan hasil
pemeriksaan, tetapi tidak dapat diterima sebagai pembenaran untuk menghilangkan
temuan dan rekomendasi yang berhubungan dengan temuan tersebut.
Pemeriksa harus melaporkan tanggapan pejabat auditi yang bertanggung jawab atas
program yang diperiksa mengenai kesimpulan, temuan, dan rekomendasi pemeriksa, serta
perbaikan yang direncanakan olehnya. Salah satu cara yang paling efektif untuk
memastikan bahwa suatu laporan hasil pemeriksaan dipandang adil, lengkap, dan obyektif
adalah adanya reviu dan tanggapan dari pejabat yang bertanggung jawab, sehingga dapat
diperoleh suatu laporan yang tidak hanya mengemukakan temuan dan pendapat
pemeriksa saja, melainkan memuat pula pendapat dan rencana yang akan dilakukan oleh
pejabat yang bertanggung jawab tersebut.
Apabila tanggapan dari auditi bertentangan dengan kesimpulan, temuan, dan rekomendasi
dalam laporan hasil pemeriksaan, dan menurut pendapat pemeriksa tanggapan tersebut
tidak benar, maka pemeriksa harus menyampaikan ketidaksetujuannya atas tanggapan
tersebut beserta alasannya secara seimbang dan obyektif. Sebaliknya, pemeriksa harus
memperbaiki laporannya, apabila pemeriksa berpendapat bahwa tanggapan tersebut
benar.

REKOMENDASI

Saran SPI kepada Direktur untuk penyelesaian suatu


temuan
Harus dilaksanakan oleh unit terkait
Dengan pemantauan Direktur/Jajaran Manajemen
Pemantauan SPI

Tindak lanjut
Harus ada laporan dari SPI tentang pelaksanaan
tindak lanjut
Tindak lanjut :
Harus dikomunikasikan ke auditi untuk
menyesaikannya berdasar rekomendasi
Harus dipantau dan didorong untuk segera
dilaksanakan
Bila belum dilaksanakan, buat laporan yang berisi
temuan dan rekomendasi, sebab-sebab belum
ditindaklanjuti dan komentar/rencana auditi untuk
menuntaskan temuan
Pelaporan kepada atasan langsung dan Direktur

LAPORAN BERKALA
Wajib disampaikan
kepada Direktur tentang
realisasi kinerja dan
kegiatan pemeriksaan
yang telah dilaksanakan
Dalam bentuk Laporan
Tahunan
Sekaligus
menyampaikan rencana
kerja tahun depan

TATA HUBUNGAN KERJA

Pelaporan hasil kerja ke Direktur


Pelaporan ke Pemilik dengan ijin Direktur
Mitra Inspektorat/Auditor
Mitra dengan Dewan Pengawas

Terima Kasih