Anda di halaman 1dari 14

MAKALAH IMUNOSEROLOGI

PEMERIKSAAN SIFILIS TPHA


(Treponema pallidum Haemaglutination
Assay)

Disusun oleh :
MUHAMMAD RIDWAN (1312E2003)
EKO BUDHI ROHMANA (1311E2022)
YUNIKA TESSARILLAH (1311E2037)
FITRIA DAMAYANTI (1311E2047)
SARTINI (1311E2050)
YOHANA AGUSTINA (1311E2051)
IZMI SUCI SURYA SUNDARI (1311E2060)
ANDHITA HARGIYANTI (1311E2058)

Program D3 Sekolah Tinggi Analis


Bakti Asih Bandung
2013/2014

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas berkat rahmat dan karuniaNya sehingga penyusunan makalah ini dapat diselesaikan. Tak lupa pula shalawat dan
salam tekirim atas junjungan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan bagi seluruh
umat manusia.
Penulisan makalah PEMERIKSAAN TPHA diharapkan dapat memberi infomasi
kepada pembaca sehingga mengetahui hal-hal yang berkaitan dengan Pemeriksaan
TPHA yang mana merupakan tugas mata pelajaran Analis Kesehatan di Sekolah Tinggi
Analis BAkti Asih.
Kami menyadari dalam penyusunan makalah ini masih terdapat kekurangankekurangan sehingga masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu kritik dan saran
yang membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan penyusunan di masa
yang akan datang.
Selanjutnya kami mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara langsung maupun tidak
langsung.
Akhirnya, semoga makalah ini dapat memberi manfaat bagi kami sebagai
penyusun makalah serta sekiranya dapat bermanfaat bagi orang lain dan semoga
Tuhan Yang Maha Esa senantiasa membantu segala usaha kita. Amin.

Bandung , September 2015

Penyusun

ii

DAFTAR ISI

Kata Pengantar.......................................................................................... ii
Daftar isi................................................................................................... iii
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang.................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah............................................................................... 1
1.3 Tujuan.................................................................................................. 1
BAB 2 PEMBAHASAN
2.1 Pemeriksaan TPHA.............................................................................. 2
a. Tujuan............................................................................................... 2
b. Metode............................................................................................. 2
c. Prinsip............................................................................................... 2
d. Dasar Teori....................................................................................... 3
e. Diagnosa Laboratorium....................................................................5
e. Alat Dan Bahan................................................................................ 5
c. Cara Kerja......................................................................................... 6
f. Interpretasi Hasil Kualitatif................................................................6
e. Interpretasi Hasil Semi Kuantitatif....................................................8
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan......................................................................................... 9
3.2 Saran.................................................................................................. 9
Daftar Pustaka........................................................................................ 10

iii

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Treponema

pallidum

Hemagglutination

Assay

(TPHA)

merupakan

suatu

pemeriksaan serologi untuk sifilis. Untuk skirining penyakit sipilis biasanya


menggunakan pemeriksaan VDRL atau RPR apabila hasil reaktif kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA sebagai konfirmasi.
Selain itu TPHA merupakan tes yang sangat spesifik untuk melihat apakah
adanya antibodi terhadap treponema. Jika di dalam tubuh terdapat bakteri ini,
maka hasil tes positif. Tes ini akan menjadi negatif setelah 6 - 24 bulan setelah
pengobatan. Bakteri-bakteri yang lain selain keluarga treponema tidak dapat
membuat hasil tes ini menjadi positif.
Manfaat Pemeriksaan TPHA ini adalah sebagai pemeriksaan konfirmasi untuk
penyakit sipilis dan mendeteksi respon serologis spesifik untuk Treponema pallidum
pada tahap lanjut/akhir sipilis. (Prodia,tt)
1.2 Rumusan Masalah
a. Bagaimana pemeriksaan TPHA?
b. Apa tujuan, metode, prinsip dan dasar teori pemeriksaan TPHA?
c. Bagaimana cara kerja dan interpretasi hasil pemeriksaan TPHA?
1.3 Tujuan
a. Untuk mengetahui pemeriksaan TPHA.
b. Untuk mengetahui patogenesis tujuan, metode, prinsip dan dasar teori
pemeriksaan TPHA.
c. Untuk mengetahui cara kerja dan interpretasi hasil pemeriksaan TPHA.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

PEMERIKSAAN TPHA (Treponema pallidum Hemagglutination Assay)


a. Tujuan
Untuk mendeteksi adanya antibodi spesifik terhadap Treponema pallidum dalam
serum/plasma pasien secara kualitatif dan semi kuantitatif.
b. Metode
Metode yang digunakan adalah Hemaglutinasi
c. Prinsip
Reaksi Hemaglutinasi secara imunologis antara eritrosit avian yang dilapisi oleh
antigen

Treponema pallidum (Nichols strain) pada reagen dengan antibodi

spesifik terhadap Treponema pallidum pada sampel serum/plasma pasien.


d. Dasar Teori
SIFILIS
Sifilis atau yang disebut dengan Raja Singa, adalah penyakit menular
seksual yang disebabkan oleh sejenis bakteri yang berbentuk spiral atau
spirochete yang dikenal dengan Treponema pallidum. Bakteri yang berasal dari
famili Spirochaetaceae ini, memiliki ukuran sangat kecil dan dapat hidup hampir
di seluruh bagian tubuh. Spirochaeta penyebab sifilis ini dapat ditularkan dari
satu orang ke orang lain melalui hubungan genito genital (kelamin kelamin)
maupun oro genital (seks oral). Infeksi ini juga dapat ditularkan oleh seorang
ibu kepada bayinya selama masa kehamilan.
Spirochaeta memperoleh akses melalui kontak langsung dari lesi bawah
terinfeksi dengan setiap kerusakan walaupun mikroskopik, di kulit, atau mukosa
pejamu. Sifilis dapat disembuhkan pada tahap tahap infeksi, tetapi bila
dibiarkan, penyakit ini dapat menjadi sistemik dan kronik.
Pada tahun 1905, penyebab sifilis ditemukan oleh Schauddin dan
Hoffman yaitu Treponema pallidum, yang berordo Spirochaetales, familia
Sprirochaetaceae, dan genus Treponema. Bakteri ini merupakan basil gram
negatif yang panjang, tipis, bergulung secara heliks, berbentuk spiral, atau
seperti pembuka tutup botol, panjangnya antara 6 15 m, lebar 0,15 m,
terdiri atas delapan sampai dua puluh empat lekukan. Membiak secara
pembelahan melintang, pada stadium aktif terjadi selama tiga puluh jam
(Marwali, 1990).

3
Pembentukkan pada umumnya tidak dapat dilakukan di luar tubuh. Di
luar tubuh, kuman tersebut cepat mati, sedangkan dalam darah untuk tranfusi
dapat hidup selama tujuh puluh dua jam (Marwali, 1990).
Penyakit sifilis memiliki empat stadium yaitu primer, sekunder, laten dan
tersier. Tiap stadium perkembangan memiliki gejala penyakit yang berbeda
beda dan menyerang organ tubuh.
1. Stadium Dini ( Primer )
Tiga minggu setelah

infeksi,

timbul

lesi

pada

tempat

masuknya

Treponema pallidum. Terjadi afek primer berupa penonjolan penonjolan


kecil yang erosif, berukuran 1-2 cm, berbentuk bulat, dasarnya bersih,
merah,

kulit

disekitarnya

tampak

meradang,

dan

bila

diraba

ada

pengerasan. Dalam beberapa hari, erosi dapat berubah menjadi ulkus


berdinding tegak lurus ( Anonim, tt ).
2. Stadium Sekunder
Pada umumnya bila gejala sifilis stadium II muncul stadium I sudah
sembuh. Waktu antara sifilis I dan II umumnya antara 6-8 minggu. Kadang
kadang terjadi masa transisi, yakni sifilis I masih ada saat timbul gejala
stadium II.
Sifat yang khas pada sifilis adalah jarang ada rasa gatal. Gejala konstitusi
seperti nyeri kepala, demam, demam, anoreksia, nyeri pada tulang, dan
leher biasanya mendahului, kadang kadang bersamaan dengan kelainan
pada kulit. Kelainan kulit yang timbul berupa bercak bercak atau tonjolan
tonjolan kecil. Sifilis stadium II seringkali disebut sebagai The Greatest
Immitator of All Skin Diseases karena bentuk klinisnya menyerupai banyak
sekali kelainan kulit lain. Selain pada kulit, stadium ini juga dapat mengenai
selaput lendir dan kelenjar getah bening di seluruh tubuh (Anonim, tt).
3. Stadium Laten
Lesi yang khas adalah gumma yang dapat terjadi 3-7 tahun setelah
infeksi. Gumma umumnya satu, dapat multipel. Gumma dapat timbul pada
semua jaringan dan organ, termasuk tulang rawan pada hidung dan dasar
mulut. Gumma juga dapat ditemukan padaorgan dalam seperti lambung,
hati, limpa, paru paru, testis dan sebagainya. Kelainan lain berupa nodus
di bawah kulit, kemerahan dan nyeri ( Anonim, tt ).
4. Stadium Tersier
Termasuk dalam kelompok penyakit ini adalah sifilis kardiovaskuler dan
neurosifilis

( pada jaringan saraf ). Umumnya timbul 10 20 tahun setelah

infeksi primer (Anonim,tt).

4
Pemeriksaan TPHA (Treponema pallidum Hemagglutination Assay)
Treponema pallidum Hemagglutination Assay (TPHA) merupakan suatu
pemeriksaan serologi untuk sifilis. Untuk skirining penyakit sipilis biasanya
menggunakan pemeriksaan VDRL atau RPR apabila hasil reaktif kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA sebagai konfirmasi.
Selain itu TPHA merupakan tes yang sangat spesifik untuk melihat apakah
adanya antibodi terhadap treponema. Jika di dalam tubuh terdapat bakteri ini,
maka hasil tes positif. Tes ini akan menjadi negatif setelah 6 - 24 bulan setelah
pengobatan. Bakteri-bakteri yang lain selain keluarga treponema tidak dapat
membuat hasil tes ini menjadi positif.
Manfaat Pemeriksaan TPHA ini adalah sebagai pemeriksaan konfirmasi
untuk penyakit sipilis dan mendeteksi respon serologis spesifik untuk
Treponema pallidum pada tahap lanjut/akhir sipilis. (Prodia,tt)
Kelemahan pemeriksaan TPHA :
1. Kurang sensitif bila digunakan sebagai skrining (tahap awal/primer)
sipilis.
2. Pada saat pengerjaan diperlukan ketrampilan dan ketelitian yang
tinggi.
3. Tidak dapat dipakai untuk menilai hasil terapi, karena tetap reaktif

dalam waktu yang lama.


Kelebihan pemeriksaan TPHA :
1. Teknis dan pembacaan hasilnya mudah
2. Memiliki spesifisitas tinggi untuk mendeteksi

adanya

antibodi

treponemal dan sensitivitas yang tinggi dimana kadar minimum

antibodi treponemal yang dapat dideteksi adalah 0,05 IU/ml.


3. Hasil reaktif/positif dapat diperoleh lebih dini.
Hal-hal yang perlu diperhatikan
1. Semua komponen harus disuhu ruangkan terlebih dahulu sebelum
digunakan.
2. Selalu perhatikan e.d reagen.
3. Suhu penyimpanan reagen adalah 2-80C dan tidak boleh dibekukan.
4. Sampel yang digunakan adalah sampel serum/plasma yang bebas dari
sel

darah,

kontaminasi

mikroba,

tidak

hemolisis

dan

tidak

lipemik/ikterik.
5. Selalu menyertakan control positif dan control negative.
6. Proses penghomogenan harus dilakukan dengan tepat.
7. Ketepatan volume pemipetan sampel dan reagen perlu diperhatikan
untuk memperoleh pengenceran yang sesuai.
8. Control cell harus selalu menunjukkan hasil negative pada proses
pemeriksaan baik kualitatif maupun semi kuantitatif.
9. Waktu inkubasi tidak boleh lebih dari 60 menit dan bebas dari getaran

5
e. Diagnosa Laboratorium
a. Uji treponemal
Uji treponemal merupakan uji yang spesifik terhadap sifilis, karena
mendeteksi langsung Antibodi terhadap Antigen Treponema pallidum. Pada
uji treponemal, sebagai antigen digunakan bakteri treponemal atau
ekstraknya,

misalnya

Treponema

Pallidum

Hemagglutination

Assay

(TPHA),Treponema Pallidum Particle Assay (TPPA), dan Treponema Pallidum


Immunobilization (TPI). Walaupun pengobatan secara dini diberikan, namun
uji

treponemal

dapat

memberi

hasil

positif

seumur

hidup.

(Aprianinaim,2011)
b. Uji non-treponemal
Uji non-treponemal adalah uji yang mendeteksi antibodi IgG dan IgM
terhadap materi-materi lipid yang dilepaskan dari sel-sel rusak dan terhadap
antigen-mirip-lipid (lipoidal like antigen) Treponema pallidum. Karena uji ini
tidak langsung mendeteksi terhadap keberadaan Treponema pallidum itu
sendiri, maka uji ini bersifat non-spesifik. Uji non-treponemal meliputi VDRL
(Venereal disease research laboratory), USR (unheated serum reagin), RPR
(rapid plasma reagin), dan TRUST (toluidine red unheated serum test).
(Aprianinaim,2011)
f. Alat dan Bahan
ALAT
1. Mikroplate 96 sumur (Format sumur U)
2. Mikropipet 10 L , 25 L , 75 L , 90 L , 100 L
3. White tip dan yellow tip
BAHAN
1. Sampel serum/plasma pasien
2. Plasmatec TPHA Test Kit ( suhu penyimpanan : 2-80 C), terdiri dari :
Reagen Diluent
Reagen Test Cell
Reagen Control Cell
Positif Control
Negatif Control

6
g. Cara Kerja
Metode Kualitatif
Pengenceran Sampel (1:20)
1. Semua komponen pemeriksaan disiapkan dan dikondisikan pada suhu
ruang
2. Mikroplate diletakkan pada meja yang datar dan kering
3. Reagen Diluent dimasukkan sebanyak 190 L dengan mikropipet ke
dalam satu sumur mikroplate.
4. Sampel serum/plasma ditambahkan sebanyak 10 L dengan mikropipet
ke dalam sumur tersebut.
5. Campuran dihomogenkan
NB : Kontrol positif dan negatif telah disediakan untuk siap digunakan tanpa
memerlukan pengenceran
Test
1. Mikroplate (6 buah sumur uji) disiapkan
2. Pada sumur 1 dan 2 masing-masing ditambahkan 25 L sampel yang
telah diencerkan (1:20)
3. Pada sumur 3 dan 4 ditambahkan 25 L control positif dan pada sumur 5
dan 6 ditambahkan 25 L control negative.
4. Pada sumur 1,3 dan 5 ditambahkan 75 L reagen Test Cell dan pada
sumur 2,4 dan 6 ditambahkan 75 L reagen Control Cell serta
dihomogenkan. Campuran ini disebut pengenceran 1:80.
5. Kemudian diinkubasi pada suhu 15-30 0 C selama 45-60 menit tanpa
adanya getaran.
6. Hasil/reaksi yang terjadi diamati dan diinterpretasikan
7. Apabila hasil yang diperoleh positif maka dilanjutkan pada metode semi
kuantitatif.
Interpretasi Hasil Pemeriksaan Kualitatif
Reaksi positif ditunjukkan dengan hemaglutinasi sel
Reaksi negatif ditunjukkan dengan adanya pengendapan sel pada dasar
sumur seperti titik.

7
Metode Semi Kuantitatif
Pengenceran Sampel (1:20)
1. Semua komponen pemeriksaan disiapkan dan dikondisikan pada suhu
ruang.
2. Mikroplate diletakkan pada meja yang datar dan kering
3. Reagen Diluent dimasukkan sebanyak 190 L dengan mikropipet ke
dalam satu sumur mikroplate
4. Sampel serum/plasma ditambahkan sebanyak 10 L dengan mikropipet
ke dalam sumur tersebut
5. Campuran dihomogenkan
NB : Kontrol positif dan negatif telah disediakan untuk siap digunakan tanpa
memerlukan pengenceran
Titrasi
1. Mikroplate (8 buah sumur uji) disiapkan
2. Sumur 1 dan 2 dibiarkan kosong.
3. Dari sumur 3 sampai sumur 8 dimasukkan sebanyak masing-masing 25
L reagen Diluent
4. Sebanyak 25 L sampel yang telah diencerkan (1:20) ditambahkan ke
dalam sumur 1, 2 dan 3 kemudian dihomogenkan
5. Dari sumur 3 dipipet sebanyak 25 L dan dipindahkan ke sumur 4
kemudian dihomogenkan dan diulangi sampai sumur ke-8. Dari sumur 8
dipipet 25 L dan dibuang
Test
1. Control cell dimasukkan sebanyak 75 L kedalam sumur uji 1.
2. Reagen Test Cell Sebanyak 75 L dimasukkan ke dalam masing-masing
sumur yaitu dari sumur 2-8 (Campuran ini memiliki range pengenceran
dari 1/80 1/5120).
3. Kemudian dihomogenkan
4. Mikroplate diinkubasi pada suhu 15-300 C selama 45 - 60 menit pada
permukaan yang bebas dari getaran
5. Hasil / reaksi yang terjadi diamati dan dicatat titernya sebagai
pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan hemaglutinasi
Interpretasi Hasil Semi Kuantitatif
Reaksi positif ditunjukkan dengan hemaglutinasi sel
Reaksi negatif ditunjukkan dengan adanya pengendapan sel pada dasar

sumur seperti titik.


Gambar hasil yang masih menunjukkan hasil positif :

Gambar hasil yang menunjukan hasil +/-

Berikut ini ilustrasi dari hasil semi kuantitatif:

CC

1 : 80

+/-

1 : 160 1 : 320 1 : 640 1 : 1280 1: 2560 1 : 5120

Titer : pengenceran terakhir yang masih menunjukkan hemaglutinasi.

BAB III
PENUTUP
3.1

Kesimpulan

Treponema pallidum Hemagglutination Assay (TPHA) merupakan suatu


pemeriksaan serologi untuk sifilis. Untuk skirining penyakit sipilis biasanya
menggunakan pemeriksaan VDRL atau RPR apabila hasil reaktif kemudian
dilanjutkan dengan pemeriksaan TPHA sebagai konfirmasi.
Selain itu TPHA merupakan tes yang sangat spesifik untuk melihat
apakah adanya antibodi terhadap treponema. Jika di dalam tubuh terdapat
bakteri ini, maka hasil tes positif. Tes ini akan menjadi negatif setelah 6 - 24
bulan setelah pengobatan. Bakteri-bakteri yang lain selain keluarga treponema
tidak dapat membuat hasil tes ini menjadi positif.
Manfaat Pemeriksaan TPHA ini adalah sebagai pemeriksaan konfirmasi
untuk

penyakit

sipilis

dan

mendeteksi

respon

serologis

spesifik

untuk

Treponema pallidum pada tahap lanjut/akhir sipilis. (Prodia,tt)


3.2

Saran

Kami sadar bahwa makalah yang kami susun masih banyak terdapat
kesalahan. Oleh karena itu kami mengharapkan saran dan kritik dari pembaca
yang positif dan membangun, guna penyusunan makalah kami berikutnya agar
dapat tersusun lebih baik lagi.

10

DAFTAR PUSTAKA
Aprianinanim.2012.UjiTPHA.http://nillaaprianinaim.wordpress.com/2011/09/28
/uji-tpha-uji-treponemal/.
Anonim. tt. Gejala Sifilis. http://gejalasifilis.com/.
Prodia.Tt. TPHA. http://prodia.co.id/imuno-serologi/tpha.
Aji,dkk. 2011. Laporan Resmi Praktikum Imunoserologi
http://id.scribd.com/doc/46539199/Laporan-Resmi-Imun-II.