Anda di halaman 1dari 5

I.

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Enumerasi merupakan teknik perhitungan jumlah mikroba dalam suatu media
tanpa mengidentifikasikan jenis mikroba (bakteri, jamur, yeast), yang bertujuan untuk
menentukan jumlah sel dari suatu kultur bakteri secara kuantitatif (Rosalia, 2010).
Pertumbuhan bakteri merupakan kenaikan yang konstan dari semua komponen
kimiawi mikroorganisme yang menyebabkan pertambahan ukuran dan diikuti
pembelahan sel (Waluyo, 2004)
Menurut Fardiaz (1992), terdapat beberapa metode yang dapat digunakan
untuk menghitung jumlah mikroba, antara lain perhitungan secara langsung
(volumetrik, gravimetrik, dan kekeruhan atau turbidimetri), perhitungan tidak
langsung (analisis komponen sel, analisis produk katabolisme, dan analisis konsumsi
nutrient), dan perhitungan jumlah sel (hitungan mikroskopik, hitungan cawan atau
metode pengenceran, dan metode MPN).
Metode pengenceran merupakan metode perhitungan jumlah sel tampak
(visible) dan didasarkan pada asumsi bahwa satu mikroba hidup akan tumbuh,
membelah, dan memproduksi satu koloni tunggal (Pratiwi, 2008). Dalam metode ini
seri pengencerannya dimulai dari 10-1 sampai dengan 10-6. Satuan penghitungannya
adalah CFU (Colony Forming Unit). Perhitungan yang paling valid secara statistik
adalah perhitungan koloni pada cawan yang memiliki koloni berkisar diantara 30-300
CFU/gr atau CFU/ml (Madigan dkk., 1997). Jumlah sel pada sampel dapat dihitung
dengan cara mengalikan jumlah koloni yang tumbuh dengan faktor pengenceran.
Pengenceran biasanya dinyatakan dengan pangkat negatif, misalnya 10-5 untuk
pengenceran 1 : 100.000 (Ramona dkk.,2007).
1.2 Tujuan
1. Mengetahui metode-metode yang digunakan dalam enumerasi
2. Mengetahui cara perhitungan jumlah koloni bakteri dengan metode pengenceran
3. Mahasiswa

dapat

mengetahui

pengaruh

faktor

pengenceran

terhadap

pertumbuhan koloni mikroba


II BAHAN DAN METODE
1

Ditandai cawan petri dengan 10-2 dan 10-3. Dikocok sampel (jamu beras kencur,
jamu kunyit, jamu sirih, jamu sambiloto, campuran jamu, jamu temulawak) hingga
homogen. Diambil sebanyak 1 mL sampel kemudian dimasukkan ke dalam tabung
reaksi yang telah berisi 9 mL air steril untuk mendapat faktor pengenceran sebesar 10
kali (10-1). Dikocok tabung reaksi dengan baik (faktor pengenceran 10-1), dan diambil
air di dalamnya secara aseptik sebanyak 1 mL sampel, kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi kedua yang telah berisi 9 mL air steril untuk memperoleh faktor
pengenceran 100 kali (10-2). Dituangkan medium NA ke dalam cawan petri yang
bertanda 10-2 yang telah berisi 1 mL sampel, lalu digoyang hingga homogen. Diambil
kembali sebanyak 1 mL sampel dari tabung reaksi kedua kemudian dimasukkan ke
dalam tabung reaksi ketiga yang telah berisi 9 mL air steril untuk memperoleh faktor
pengenceran 1000 kali. Dari tabung reaksi ketiga diambil 1 mL sampel dimasukkan
ke dalam cawan petri kemudian ditambahkan medium NA dan digoyangkan hingga
homogen. Sampel pada kedua cawan petri kemudian diinkubasi selama pada suhu
37oC selama 24 jam. Setelah diinkubasi, dilakukan penghitungan mikroba pada kedua
cawan petri.
III HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1 Hasil Pengamatan
(terlampir)
3.2 Pembahasaan
Pada praktikum ini dilakukan perhitungan jumlah mikroba (enumerasi) yang
terkandung dalam suatu sampel. Jumlah mikroba yang terkandung dalam sampel
dapat dihitung dengan cara mengalikan jumlah koloni yang tumbuh pada suatu
medium dengan faktor pengenceran dan perhitungan dilakukan pada cawan petri
dengan jumlah koloni berkisar 30-300 koloni (Pratiwi, 2008). Pertumbuhan kurang
dari 30 koloni dalam tiap cawan secara statistika dapat menghasilkan perhitungan
yang tidak valid dan lebih dari 300 koloni tiap cawan menyebabkan gangguan
diantara sel-sel dan koloni-koloni selama pertumbuhannya (Lim, 1998).
Pada praktikum ini digunakan 6 buah sampel yang berbeda, yaitu jamu beras
kencur, jamu kunyit, jamu sirih, jamu sambiloto, campuran jamu, dan jamu
temulawak. Digunakannya sampel jamu karena merupakan medium pertumbuhan
2

yang baik bagi berbagai macam mikroba (Waluyo, 2004). Pada praktikum ini bakteri
yang ditanam pada pengenceran 10-2 dan 10-3 karena pada seri pengenceran yang lebih
tinggi, jumlah populasi mikroba yang didapat akan membentuk koloni yang terpisahpisah saat dibiakkan. Selain itu pada seri pengenceran 10-1, jumlah bakteri yang ada
dianggap masih terlalu padat, sehingga sulit untuk didapatkan biakan murni, sehingga
suspensi mikroba pada seri pengenceran 10-2 dan 10-3 yang dipilih (Prescott, et. al.,
2003).

Setelah mengalami proses inkubasi, terlihat adanya pertumbuhan koloni

bakteri yang berupa titik dan bulat-bulat kecil berwarna putih pada semua sampel.
Pada sampel jamu beras kencur pada saat pengamatan pada pengenceran 10 -2
dan 10-3 ditemukan adanya koloni bakteri yang jumlahnya tak terhingga. Hal ini
dimungkinkan oleh adanya kontaminasi dari ligkungan atau disebabkan karena air
yang digunakan kurang bersih sehingga koloni yang didapat menjadi tidak terhingga.
Menurut

Waluyo

(2004),

kontaminasi

merupakan

peristiwa

masuknya

mikroorganisme yang tidak kita inginkan, sehingga jumlah mikroba yang tumbuh
akan bertambah banyak. Selain itu jumlah koloni yang tak terhingga mungkin
disebabkan karena sampel masih terlalu pekat sehingga sampel jamu beras kencur
perlu diencerkan lagi sehingga koloni yang dihasilkan berada di antara rentang 30300 koloni.
Pada sampel jamu kunyit tidak ditemukan koloni pada pengenceran 10 -2,
namun ditemukan 1 koloni pada pengenceran 10-3. Menurut Hadioetomo (1990),
semakin tinggi faktor pengenceran maka akan semakin sedikit jumlah koloni yang
tumbuh pada medium, namun pada sampel jamu kunyit pengenceran 10-3 ditemukan
koloni yang lebih banyak. Hal ini dapat disebabkan proses pengocokan yang kurang
sempurna sehingga sampel tidak tercampur merata di seluruh bagian campuran atau
dapat disebabkan adanya kontaminasi pada saat penanaman sampel pada pengenceran
10-3 sehingga proses penanaman kurang steril.
Pada sampel jamu sirih, campuran jamu, dan jamu temulawak ditemukan
jumlah koloni masing-masing pada pengenceran 10-2 adalah 8 koloni, 2 koloni dan 4
koloni, sedangkan pada pengenceran 10-3 terdapat 2 koloni, 1 koloni dan 1 koloni.
Jumlah koloni yang ditemukan di bawah 30, sehingga penghitungan yang dilakukan
3

tidak valid. Jumlah koloni yang diperoleh sedikit dapat disebabkan karena tingginya
pengenceran sehingga hanya sedikit sampel yang terkandung dalam campuran. Selain
itu, terlalu dekatnya media dengan nyala api pada saat pemindahan sampel
menyebabkan banyak mikroba yang mati. Agar jumlah koloni berada pada rentang
30-300 sebaiknya sampel tidak perlu diencerkan karena dengan pengenceran yang
dilakukan jumlah koloni yang ingin dihitung menjadi tidak maksimal.
Pada sampel jamu sambiloto ditemukan 40 koloni pada pengenceran 10 -2 dan
tidak ditemukan koloni pada pengenceran 10-3. Hal ini cukup sesuai berdasarkan
pustaka yang menyebutkan bahwa semakin tinggi tingkat pengenceran maka semakin
rendah jumlah koloninya.
Berdasarkan hasil pengamatan secara keseluruhan dapat terlihat bahwa jumlah
koloni pada jamu kunyit paling sedikit. Hal ini dikarenakan kunyit mengandung
komponen senyawa kurkumin sebagai antibakteri dan antimikroba sehingga koloni
yang ditemukan dalam jumlah yang sedikit (Aggarwal et al., 2006)

IV. KESIMPULAN
1. Metode-metode yang sering digunakan dalam menghitung jumlah mikroba yaitu
metode pengenceran, metode perhitungan langsung dalam ruang hitung dan
menggunakan suatu alat yang disebut hemasitometer, metode membran filter,
metode berat kering dan volume sel, metode MPN (Most Probable Number) dan
lain sebagainya.
2. Metode pengenceran menggunakan suatu seri pengenceran dari sampel yang
kemudian ditanam pada medium dan setelah diinkubasi koloni yang tumbuh
4

diasumsikan bahwa satu koloni berasal dari satu sel dan dapat dihitung dengan
cara mengalikan jumlah koloni dengan faktor pengenceran.
3. Pengaruh faktor pengenceran dengan jumlah mikroba, yaitu semakin tinggi faktor
pengenceran maka semakin kecil koloni yang didapat.

DAFTAR PUSTAKA
Aggarwal, B. B., Sundaram, C., Malani, N.and H. Ichikawa. 2006. Curcumin:The
Indian Solid Gold. SVNY332-Aggarwal.
Fardiaz, Srikandi. 1992. Mikrobiologi Pangan 1. Jakarta: PT Gramedia Pustaka
Utama.
Hadioetomo, R.. 1990. Mikrobiologi Dasar-Dasar Dalam Praktek. Gramedia.
Jakarta.
Lim, D.. 1998. Microbiology. New York: McGraw Hill.
Madigan, M.T., dkk. 1997. Biology of Microorganisms. Eight Edition. New Jersey:
Prentice Hall International, Inc.
Pratiwi, S. T. 2008. Mikrobiologi Farmasi. Jakarta: Penerbit Erlangga.
Prescott, L.M., J.P. Harley, and D.A. Klein. 2003. Microbiology Fifth Edition.
Singapore: Mc Graw Hill.
Ramona, Y., Kawuri, R., dan Darmayasa. 2007. Penuntun Praktikum Mikrobiologi
Umum untuk Program Studi Farmasi F.MIPA UNUD. Bukit Jimbaran:
Laboratorium Mikrobiologi Jurusan Biologi Fakultas MIPA Universitas
Udayana.
Rosalia. (2010). Petunjuk Laboratorium Mikrobiologi Pangan. Yogyakarta. Pusat
Antar Universitas Pangan dan Gizi.
Waluyo, L. 2004. Mikrobiologi Umum. Malang: UMM Press.
.