Anda di halaman 1dari 27

KATA PENGANTAR

puji syukur kehadirat Allah SWT karena berkat segala limpahan rahmat, berkah, dan nikmat
yang diberikannya kepada kita semua khususnya kepada penulis, apa yang menjadi tugas penulis
sebagai mahasiswa dapat terlaksana dengan baik walaupun tidak sempurna seperti yang
diharapkan. Shalawat dan salam tak lupa pula kita haturkan kepada Nabi Muhammad SAW yang
telah berjuang menyampaikan risalah islam kepada seluruh umat manusia.
Makalah yang berjudul Drug Delivery System Intraocular ini dibuat untuk memenuhi
tugas mata kuliah Biofarmasi. Selanjutnya, penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya
kepada seluruh pihak-pihak yang terlibat dalam penyusunan makalah ini. Terkhusus kepada
orang tua penulis yang senantiasa mendukung segala bentuk aktifitas penulis dengan doa.
Penulis haturkan pula terima kasih kepada dosen pengasuh mata kuliah Biofarmasi yang
senantiasa setia membimbing penulis dalam proses pembelajaran ini.
Akhir kata, kritik dan saran dari para pembaca sangat penulis harapkan.
Jakarta, November 2015

Penulis

DAFTAR ISI

Kata pengantar.............................................................................................................................1
Daftar isi.......................................................................................................................................2
Bab.1 Pendahuluan
1.1 Latar Belakang.......................................................................................................................3
1.2 Tujuan....................................................................................................................................3
Bab.II Tinjauan Pustaka
2.1 Struktur dan Fisiologi Mata...................................................................................................4
2.2 Rute Pemberian Obat Mata....................................................................................................9
Bab.III Pembahasan
3.1 Penghantaran Obat Topikal....................................................................................................11
3.2 Penghantaran Obat Intraocular..............................................................................................23
3.2.1 Injeksi Intravitreal...............................................................................................................23
3.2.2 Intraocular Implant.............................................................................................................. 25
3.2.3 Iontophoresis.......................................................................................................................26
Bab.IV Penutup
Kesimpulan..................................................................................................................................27
Daftar Pustaka..............................................................................................................................28

BAB. I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Obat-obatan tertentu (termasuk peptida, protein dan asam nukleat) tidak cocok untuk
pemberian oral dan harus diberikan secara intravena. Penelitian baru-baru ini diarahkan pada
pengembangan alternatif rute parenteral, seperti transdermal, nasal dan rute lainnya.
Sistem penghantaran obat okular membutuhkan serangkaian karakteristik tertentu sesuai
dengan struktur fisiologis mata, karena mata manusia merupakan organ yang sangat sensitif
terhadap zat-zat eksogen seperti mikroorganisme dan obat-obatan. Untuk mengobati mata secara
lokal, bentuk sediaan tetes mata adalah bentuk sediaan yang paling diinginkan karena
kemudahan administrasi dan pertimbangan kepatuhan klinis dari pasien. Namun, tetes mata
konvensional sebagian besar tersedia dalam bentuk larutan yang memiliki efisiensi terapi
terbatas karena memiliki bioavailabilitas yang rendah disebabkan oleh eliminasi yang cepat di
daerah permukaan mata, dimana setelah pemakaian secara cepat larutan obat diencerkan oleh air
mata dan dikeringkan ke dalam nasolacrimal duct.
Mata adalah organ sensorik, rentan terhadap berbagai penyakit yang berasal dari sistemik,
seperti diabetes atau hipertensi, atau glaukoma, katarak dan degenerasi makula. Selain itu, karena
mata terletak pada permukaan tubuh, juga mudah terluka dan terinfeksi.
1.2 Tujuan
Dalam pembuatan makalah ini bertujuan :
Untuk mengetahui system penghantaran obat melalui mata
Untuk mengenal anatomi mata pada manusia

BAB. II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Struktur dan Fisiologi Mata


bagian terdepan dari mata adalah kornea yang merupakan suatu lapisan transparan dengan
tujuan agar dapat membiarkan berkas cahaya masuk ke dalam mata. Di sebelah dalam sclera
adalah koroid, suatu lapisan berpigmen yang mengandung banyak pembuluh draah yang
memberikan makanan pada bentukan-bentukan dalam bola mata. Lensa adalah struktur
transparan yang berbentuk bulat dan agak gepeng pada daerah equatornya yang terpaut oleh
serabut-serabut zonulu zinnia yang menguntungkan lensa pada korpus siliaris. Lensa mata
otomatis lebih mencembung akibat kontraksi muskulus siliaris yang mengakibatkan pengenduran
zonula zinii.(sastradiwira,1998).
Pada daerah depan lensa terdapat iris yang berpigmen dengan lubang pupil ditengahnya. Iris
mengandung serabut otot siskuler yang menyempitkan pupil dan serabut membujut (radial) yang
melebarkan pupil.perubahan diameter pupik mata berguna untuk mengatur banyaknya cahaya
yang masuk ke mata(ilyas,2004).
Ruang antara lensa dan retina berisi masa cair kental yaitu korpus vitreum dan cairan akuos
humor. Akuos humor yang dihasilkan oleh korpus siliaris terutama mengisi bilik depan mata.
(Vaughan et all,2000)
a. Kornea
Jaringan bening, avaskular, membentuk 1/6 bagian depan bola mata, diameter 11 mm.
Merupakan kelanjutan sklera. Pertemuan kornea sklera: limbus
Pemberian nutrisi: melalui humor akuos & air mata.

Susunan: 5 lapisan (epitel, membrane Bowman, stroma, membrana Descemet,


&endothelium).
Mengandung banyak serabut saraf.

Epithelium
Epitel dibangun dari beberapa lapisan sel dan sekitar 10% dari total ketebalan kornea
pada manusia, dan proporsi yang sama di banyak spesies mamalia lainnya. Ada 5 lapisan
dalam pria dengan ketebalan 50-100 mm, yang mirip dengan kelinci, namun jumlah
lapisan meningkat di kornea paling tebal sampai 10, seperti pada kornea sapi. Ini
merupakan jaringan hidrofobik dan memberikan kontribusi 90% dari penghalang
terhadap obat hidrofilik dan 10% untuk obat hidrofobik.
Membran Bowman
Pada manusia sebagai lembaran tipis homogen dengan ketebalan 8-14 mm. Mata kelinci
tidak memiliki lapisan ini. Ini bukan membran elastis dan tidak beregenerasi ketika
hancur. Lapisan ini tidak dianggap sebagai penghalang untuk penyerapan obat di kornea.
Stroma
Mewakili sekitar 90% dari ketebalan kornea pada mamalia dan terdiri dari jaringan ikat
yang dimodifikasi; 70-80% dari berat basah air, dan 20-25% dari berat kering kolagen,
protein dan mucopolysaccharides lainnya. Stroma adalah penghalang utama untuk obat
yang sangat lipofilik.
Membran Descemet
Ini adalah membran yang kuat, homogen dan sangat tahan. Tebalnya sekitar 6 m.
Membran ini dapat meregenerasi ketika rusak.
Endothelium
Merupakan satu lapisan sel epitel seperti saling bertautan dengan bergantian, permukaan
berputar, yang benar-benar meliputi permukaan posterior kornea. Persimpangan
kesenjangan ada di antara sel-sel yang berdekatan memungkinkan perembesan berbagai
zat. Endotelium tidak memiliki nilai penentu sebagai permeabilitas adalah 200 kali atau
lebih lebih besar dari epitel. Lapisan ini merumahkan pompa Na+ / K+ ATPase yang
bergantung-bikarbonat, dan beroperasi pada tingkat yang konstan untuk mengontrol
keseimbangan antara gerakan pasif air ke stroma dan gerakan aktif cairan itu,
bertanggung jawab untuk menjaga transparansi kornea dan ketebalan kornea konstan.
5

Jika pompa aktif rusak atau kehabisan bikarbonat yang dilemahkan oleh inhibitor
karbonat anhidrase, stroma akan menyerap air, membengkak dan menjadi buram,
sehingga terjadi penebalan dan kekeruhan kornea. Perubahan ketebalan kornea
mempengaruhi penyerapan obat.
b.

SKLERA
Dikenal sebagai putih mata
Merupakan 5/6 dinding luar bola mata. Ketebalan 1 mm.
Struktur: jaringan fibrosa yg kuat & tidak elastis mempertahankan bentuk bola mata &
proteksi bangunan-bangunan halus di bawahnya.
Permukaan luar ditutup oleh jaringan vaskular longgar.
Pada anak-anak, sklera mungkin berwarna biru karena sklera tipis & pigmen koroid di
bawahnya dapat terlihat. Pada orang dewasa/orang tua timbunan lemak dpt memberikan
warna kuning pada sklera.

c. Traktus uvealis (uvea)


Lapisan tengah bola mata terdiri atas 3 bagian, yaitu iris, badan siliar, & koroid.
Iris: membran sirkuler yg berwarna, terletak di belakang kornea, tepat di depan lensa.
Pada bagian pusatnya terdapat lubang yg disebut pupil.
Iris membagi ruangan yg berisi humor akuos antara kornea & lensa menjadi 2, yaitu
kamera anterior & kamera posterior.
Iris terdiri dari jaringan halus yg mengandung sel-sel pigmen, otot polos, pembuluh
darah & saraf.
Warna iris tergantung pada susunan pigmen iris.
d. Iris
Otot pada iris adalah otot polos yg tersusun sirkuler & radier. Otot sirkuler bila kontraksi
akan mengecilkan pupil, dirangsang oleh cahaya sehingga melindungi retina terhadap
cahaya yg sangat kuat. Otot radier dari tepi pupil, bila kontraksi menyebabkan dilatasi
pupil. Bila cahaya lemah, otot radier akan kontraksi, sehingga pupil dilatasi untuk
memasukkan cahaya lebih banyak.
Fungsi iris: mengatur jumlah cahaya yang masuk mata. Pengendalian oleh saraf otonom

e. Badan siliar
6

Menghubungkan koroid dengan iris.


Tersusun dalam lipatan-lipatan yang berjalan radier ke dalam, meyusun prosesus siliaris
yang mengelilingi tepi lensa. Prosesus ini banyak mengandung pembuluh darah & saraf
Menghasilkan humor akuos.

f. Koroid
adalah membran berwarna coklat, yg melapisi permukaan dalam sklera.
Mengandung banyak pembuluh darah & sel-sel pigmen yg memberi warna gelap.
Fungsi: memberi nutrisi ke retina dan badan kaca, & mencegah refleksi internal cahaya.

g. Badan kaca & humor akuos


Tekanan mata dipengaruhi tekanan badan kaca pada posterior mata & humor akuos yang
mengisi kamera anterior (bilik depan).
Normal: volume badan kaca tetap.
Humor akuos bertanggung jawab mengatur tekanan intraokuler. Perubahan kecepatan
masuknya humor akuos ke dalam mata dari prosesus siliaris atau kecepatan keluarnya
humor akuos dari sudut filtrasi dan mempengaruhi tekanan intraokuler.
Badan Kaca
Merupakan jaringan albuminosa setengah cair yang bening, yang mengisi ruang antara
lensa &retina.

Mengisi 4/5 bagian belakang bola mata & mempertahankan bentuk bola mata &
mempertahankan retina untuk mengadakan aposisi dengan koroid

Badan kaca tidak mengandung pembuluh darah mendapat nutrisi dari jaringan
sekitarnya.
Kekeruhan badan kaca dapat disebabkan oleh karena sisa-sisa pembuluh darah yang ada
dalam bola mata selama perkembangan janin.
Humor akuos
7

Adalah cairan yang diproduksi secara terus menerus oleh kapiler venosa dalam prosesus
siliar.
Humor akuos berjalan dari kamera posterior melewati pupil ke kamera anterior,
meninggalkan mata melalui trabekula menuju kanalis Schlemm (suatu sinus yang
berjalan melingkar, di perbatasan kornea & sklera) melewati sekeliling mata, kemudian
melewati vasa-vasa kecil menuju vena di permukaan mata.

h. Lensa
Letak: di depan badan kaca & di belakang iris.
Merupakan bangunan lunak, bening, & bikonveks (cembung), yang dilapisi oleh kapsul
tipis yang homogen.
Titik pusat permukan anterior & posterior disebut polus anterior & polus posterior, garis
yang melewati kedua polus disebut sumbu (aksis).
Lensa dibungkus suatu kapsul, yang merupakan membran bening yang menutup lensa
dengan erat & tebal pada permukaan anterior. Fungsi kapsul: mengubah bentuk lensa &
melindungi dari badan kaca & humor akuos, dan berperan pada proses akomodasi.
Lensa dipertahankan pada posisinya karena dari depan ditekan oleh humor akuos & dari
belakang di tekan oleh humor vitreus (badan kaca) & zonula (ligamentum suspensorium)
yang merupakan membran tipis yang menutupi permukaan badan siliar, prosesus siliaris,
& lensa.
Sifat fisik lensa sesuai usia. Pada fetus:lensa hampir sferis & agak lunak. Pada dewasa,
permukaan anterior kurang cembung dibandingkan permukaan posterior & lebih keras.
Pada umur 40-45 tahun, lensa bertambah besar & pipih, warna kekuningan, & lebih
keras.

i. Retina
Lapisan paling dalam pada mata lapisan penerima cahaya.
Membran lunak, rapuh, tipis. Tebal dari 0,4 mm dekat masuknya saraf optikus smpai 0,1
mm pada orra serata.
Warna merah ungu karena adanya rodopsin.
Mempunyai bintik kuning (makula lutea).

Elemen peka cahaya mengandung sel-sel batang & kerucut. Sel batang untuk intensitas
cahaya rendah cara: mengubah rangsang cahaya menjadi impuls listrik yang berjalan
sepanjang serabut saraf sensoris menuju pusat penglihatan di otak.
Sel kerucut: untuk penglihatan cahaya terang & penglihatan warna. Letak di pusat retina.

2.2 Rute Pemberian Obat Mata


Ada tiga jalur utama yang biasa digunakan untuk pemberian obat untuk mata: topikal,
intraokuler dan sistemik.
a. Rute topikal adalah metode yang paling umum untuk obat mata. Obat langsung
ditempatkan ke kantung konjungtiva melokalisasi efek obat, memfasilitasi masuknya obat
tidak sulit untuk mencapai target dengan penghantaran sistemik dan menghindari
metabolisme lintas pertama. Faktor fisiologis yang mempengaruhi pemberian obat topikal
dan pendekatan dalam pengembangan untuk mengoptimalkan jenis pengiriman .
b. Pemberian obat intraokular lebih sulit dicapai. Penelitian, seperti yang dijelaskan di
bawah ini, berkonsentrasi pada pengembangan suntikan intravitreal dan penggunaan
implan intraokular untuk meningkatkan penghantaran ke daerah ini.
c. Rute sistemik, beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa beberapa obat dapat
didistribusikan ke jaringan mata setelah pemberian sistemik. Oral inhibitor anhydrase
karbonat (CAIs, untuk pengobatan glaukoma), termasuk acetazolamide, methazolamide
dan dichlorphenamide, menunjukkan kapasitas obat sistemik untuk didistribusikan ke
dalam proses silia mata dan memberikan konsentrasi yang cukup untuk menghambat
karbonat anhidrase isoenzim II, yang mengakibatkan penurunan efektifitas sekresi
aqueous humor. Pemberian sistemik CAIs telah digunakan dalam pengelolaan glaukoma.
Hal ini juga menunjukkan bahwa steroid dan antibiotik dapat menembus ke dalam
aqueous humor setelah pemberian sistemik. Terapi obat sistemik sering dianggap sebagai
pilihan pertama untuk penyakit mata posterior melibatkan saraf optik, retina dan saluran
uveal. Hal ini karena distribusi obat ke posterior jaringan mata sulit melalui rute topikal
karena pembatasan anatomi yang ditimbulkan oleh mata. Namun, rute sistemik memiliki
kelemahan yang signifikan bahwa semua organ tubuh yang mengalami aksi obat, ketika
hanya volume yang sangat kecil jaringan mata perlu pengobatan.

BAB. III
PEMBAHASAN

3.1

Penghantaran Obat topical

10

a. Physiological factors affecting topical drug delivery


Faktor utama yang mempengaruhi penyerapan obat topikal di rongga kornea yang
berasal fisiologis. Selain hambatan hidrofilik dan lipofilik yang disajikan oleh film air
mata dan kornea yang dijelaskan di atas, berbagai faktor lain mempengaruhi penyerapan
obat topical.
Nasolacrimal drainage
Nasolacrimal drainage adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap
kehilangan obat prekornea dan terkait dengan kurangnya bioavailbility mata.
Dalam kondisi normal volume air mata manusia adalah sekitar 7-9 l dan relatif
konstan. Jumlah maksimum cairan yang dapat ditampung di kelopak mata bawah
adalah 25-30 l, tetapi hanya 3 l larutan dapat dimasukkan dalam film prekornea
tanpa menyebabkan ketidakstabilan. Ketika obat tetes mata yang diberikan,
volume air mata meningkat yang dapat menyebabkan refleks cepat berkedip.
Sebagian besar eyedrop dipompa melalui sistem drainase lakrimal ke dalam
saluran nasolakrimalis, dan beberapa yang tumpah. Tingkat drainase solusi
berkaitan dengan volume disimpan; semakin kecil volume, lebih lambat laju
drainase. Volume yang ditampung telah disarankan untuk memiliki volume yang
optimal dari 8-15 l. Namun, volume khas disampaikan oleh eyedroppers
komersial di kisaran 35-56 l. Hanya sebagian kecil dari eyedrop dapat
dipertahankan oleh mata. Formulasi sering menghilang dari cul-de-sac dalam 5
sampai 10 menit pada kelinci dan 1 sampai 2 menit pada manusia. Efek samping
sistemik dari penyerapan beberapa obat melalui membran mukosa dari saluran
nasolakrimalis.

11

pH
pH air mata normal rata-rata 7,4, namun dapat bervariasi. Jika rendah
karena akibat dari asam oleh-produk yang berhubungan dengan kondisi yang
relatif anaerob dalam menutup kelopak secara berkepanjangan dan meningkat
karena kehilangan karbon dioksida ketika mata terbuka. Air mata akan lebih asam
pada pemakai kontak lensa karena hambatan dari penghabisan karbon dioksida,
dan lebih basa dalam kasus penyakit seperti mata kering, rosacea okular parah dan
stenosis lakrimal.
Ketika larutan tetes mata diteteskan ke permukaan mata, bercampur
dengan air mata dalam kantung konjungtiva dan dengan air mata lapisan
prekornea. Air mata memiliki kapasitas buffer yang lemah dan karena itu pH
campuran terutama ditentukan oleh pH larutan yang diteteskan. Pemaparan dari
permukaan mata untuk cairan asam dapat menyebabkan kerusakan pada jaringan
mata yang dihasilkan dari reaksi dengan protein seluler, membentuk kompleks
yang larut. Alkalinisasi lapisan air mata cenderung menghasilkan interaksi ion
hidroksil dengan membran sel. Pada pH tinggi lipid dalam membran sel akan
disaponifikasi sehingga menyebabkan gangguan integritas struktural dari sel.
Kerusakan tergantung pada konsentrasi ion hidrogen dan hidroksil pada waktu
pemaparan. Refleks air mata dan drainase akan menghapus larutan iritan.
Untuk menghindari reflex lachrimation dan memperpanjang retensi obat
pada permukaan mata, diharapkan bahwa larutan tetes mata memiliki pH antara
7,0 dan 7,7. Beberapa obat yang tidak stabil dalam kisaran pH ini, perlu
dirumuskan dengan nilai pH lain, tetapi lebih baik yang sedikit atau tidak ada
buffer yang digunakan.
Tegangan permukaan
Tegangan permukaan cairan air mata pada suhu mata adalah 43,6-46,6
-1
mNm untuk mata normal dan 49,6 mNm-1 untuk pasien dengan mata kering.
Tentang penerapan larutan yang mengandung obat-obatan atau adjuvant yang
menurunkan tegangan permukaan dapat mengganggu lipid terluar dari lapisan air
mata. Dampak perlindungan dari lapisan berminyak terhadap penguapan lapisan
film berair air mata menghilang dan menyebabkan kondisi yang kering.
kekeringan dan iritasi akan menimbulkan refleks berkedip untuk menghilangkan
materi. Iritasi ini tidak selalu terjadi segera setelah berangsur-angsur. Dalam
banyak kasus muncul 30 menit sampai 1 jam setelah aplikasi dan tergantung pada
substansi dan konsentrasi. Lapisan air mata tidak stabil ketika tegangan
permukaan larutan jauh lebih rendah dari tegangan permukaan cairan lakrimal.
Osmolalitas
Osmolalitas air mata sangat penting, karena integritas optik kornea sangat
dipengaruhi oleh tonisitas dari air mata. Osmolalitas normal air mata bervariasi
12

290-310 mOsmkg-1, yang hampir setara dengan larutan garam normal. Variasi
tekanan osmotik antara 100-640 mOsmkg-1 dapat ditoleransi dengan baik oleh
mata; jika melampaui nilai-nilai ini iritasi dapat terjadi, memunculkan refleks air
mata dan refleks berkedip.
Ketika permukaan mata ditutupi dengan larutan hipotonik, permeabilitas
epitel meningkat jauh dan air mengalir ke kornea. Jaringan kornea membengkak,
meningkatkan tekanan pada saraf dan menyebabkan anesthetizing pada kornea.
Dalam kasus di mana permukaan mata ditutupi dengan larutan hipertonik, air
mengalir dari lapisan air melalui kornea ke permukaan mata. Deskuamasi sel
superfisial juga diamati setelah berangsur-angsur larutan hipertonik pada kelinci.
Meskipun berangsur-angsur dari solusi non-isotonik akan menyebabkan
perubahan osmolalitas air mata, ia akan kembali normal dalam 1 sampai 2 menit
setelah dosis pemberian. Hal ini terutama disebabkan oleh derasnya arus air di
kornea.
Secara umum larutan hipotonik ditoleransi dengan baik di mata dan dapat
menyebabkan penyerapan kornea yang lebih baik dari obat karena efek
konsentrasi dan peningkatan permeabilitas kornea (baik berdasarkan penyerapan
air dari formulasi oleh jaringan kornea).
b. Absorbsi obat topikal
Ada dua jalur untuk penyerapan mata, rute kornea dan konjungtiva /rute scleral.
Penyerapan konjungtiva merupakan nonproduktif dan terdapat kerugian tambahan dari
dosis topikal.

Rute korneal
Rute kornea sering dianggap sebagai jalur utama untuk penyerapan mata.
Kebanyakan obat melintasi membran ini ke dalam jaringan intraokular baik oleh
difusi antarselular atau transelular. Obat lipofilik diangkut melalui rute transelular,
13

dan obat-obatan hidrofilik menembus melalui jalur antarselular. Ada sedikit bukti
bahwa obat tetes mata menembus ke kompartemen mata oleh transportasi aktif.
Secara umum, penetrasi kornea terutama diatur oleh lipofilisitas obat tetapi juga
dipengaruhi oleh faktor-faktor lain, termasuk kelarutan, ukuran molekul dan
bentuk, biaya dan tingkat ionisasi.
Rute nonkorneal
Penyerapan rute noncorneal melibatkan penetrasi di konjungtiva dan
sclera ke dalam jaringan intraokular. Ada tiga jalur untuk penetrasi obat di sclera:
Melalui ruang perivaskular;
Melalui media air dari mucopolysaccharides seperti gel;
Melalui ruang-ruang kosong dalam jaringan kolagen.
Rute noncorneal biasanya tidak produktif, obat menembus permukaan luar
mata limbus cornealscleral diambil dari tempat kapiler lokal dan dipindahkan ke
sirkulasi umum. Rute ini secara umum menghalangi masuknya obat ke dalam
aqueous humor, yang akan berdampak pada pemberian obat mata.
Absorbsi rute noncorneal penting untuk senyawa hidrofilik dengan berat
molekul besar seperti timolol maleat dan gentamisin. Rute ini juga berpotensi
memfasilitasi pengangkutan peptida dan protein, baik sebagai obat-obatan atau
pembawa obat, ke situs target dalam mata.

c. Pendekatan untuk mengoptimalkan penghantaran obat topical okular


Penempatan eyedrop yang tepat
Penempatan tetes mata yang akurat dan tepat dapat meningkatkan
efektivitas dalam pemberian obat sebagai kapasitas kantung konjungtiva
tergantung pada posisi kepala pasien dan teknik penerapan. Sejumlah kecil cairan
terperangkap dalam kantung konjungtiva, di mana dapat dipertahankan hingga
dua kali lebih lama bila hanya menjatuhkan diatas sclera superior. Drainase dari
cul-de-sac lebih lanjut dapat dikurangi dengan oklusi waktu yang tepat atau
penutupan kelopak mata, yang tidak hanya memaksimalkan kontak obat dengan
jaringan periokular tetapi juga memperlambat laju penyerapan sistemik. Hal ini
menunjukkan bahwa dosis di bawah tutup akan meningkatkan pengiriman:
Namun, metode dosis akan sulit bagi pasien.

14

Pengurangan volume eyedrop


Drainase nasolakrimalis adalah faktor utama yang berkontribusi terhadap
kehilangan obat prekornea dan efek samping sistemik. Efek lokal / sistemik dapat
ditingkatkan dengan mengurangi ukuran eyedrop dan mampu memberikan setetes
8-10 l dengan memvariasikan hubungan antara diameter dalam dan luar.
Penggunaan tetes mata yang lebih kecil menghasilkan penyerapan obat sistemik
berkurang, namun penggunaannya dalam wadah komersial belum populer.
Meskipun penurunan yang lebih kecil dapat dipertahankan lebih lama pada
kantung konjungtiva, volume kurang dari 8 l tidak dianjurkan karena kesulitan
dalam membuat konsentrasi yang cocok untuk eyedrop tersebut.
Factor formulasi yang mempengaruhi bioavailabilitas pada aplikasi topikal
Kebanyakan membran, difusi pasif adalah mekanisme utama dimana obat
melintasi membran hambatan. Proses difusi pasif awalnya melibatkan partisi dari
obat antara cairan berair di lokasi aplikasi dan membran sel lipoidal. Larutan obat
dalam membran kemudian berdifusi melintasi membran diikuti dengan partisi
kedua obat antara membran dan cairan berair dalam situs penyerapan.
Dua pendekatan yang dapat digunakan untuk meningkatkan permeabilitas obat di
kornea:
memodifikasi integritas epitel kornea secara sementara;
memodifikasi struktur kimia obat.
Pendekatan pertama dapat dicapai dengan tambahan senyawa seperti agen
chelating dan surfaktan, tetapi hampir tidak pernah dieksplorasi karena
sensitivitas jaringan tertentu. Pendekatan kedua umumnya berfokus pada
perubahan sifat fisikokimia obat, seperti lipofilisitas, kelarutan dan pKa.
15

Factor fisiko kimia yang berhubungan dengan obat


Sifat fisikokimia molekul yang mempengaruhi penyerapan di
kornea secara umum sama dengan yang mempengaruhi penyerapan trans
epitelial di situs manapun. Faktor-faktor ini mempengaruhi mekanisme
dan tingkat penyerapan obat melalui kornea. Hal ini juga digambarkan
oleh upaya dalam mengembangkan topikal efektif anhydrase inhibitor
karbonat seperti dorzolamide melalui pergantian yang signifikan dalam
struktur kimia. Upaya lain telah didasarkan pada modifikasi kimia
sederhana, yaitu pendekatan prodrug.
Pendekatan prodrug
Dalam penelitian mata, prodrug yang dirancang untuk menjadi
aktif dengan beberapa derajat kelarutan biphasic seeperti kornea adalah
jaringan biphasic. Ini akan berubah menjadi obat aktif dengan baik dengan
enzimatik atau proses kimia dalam mata. Dipivefrin adalah prodrug
epinefrin. Karena lipofilisitas peningkatan yang, dipivefrin menembus
epitel kornea 10 kali lebih mudah daripada epinefrin. Penetrasi lebih tinggi
dari hasil narkoba dalam dosis yang lebih kecil yang diperlukan, sehingga
mengurangi efek samping sistemik. Untuk obat ampuh seperti timolol,
yang memiliki potensi menyebabkan efek samping sistemik yang serius.
d. Formulasi untuk meningkatkan retensi prekoneal
Dalam pengiriman ophthalmic area kontak harus dibatasi sekitar 3 cm2 dan
dengan demikian gradien konsentrasi adalah penentu utama penyerapan obat. Dengan
rute lainnya, hal ini dapat dicapai dengan mengikuti reservoir obat sebagai patch
membran-kontrol atau pompa osmotik pada epitel. Namun, fungsi mata sebagai alat
visual membatasi kemungkinan bentuk sediaan ini untuk kornea.
Untuk mengoptimalkan bioavailabilitas obat mata dengan meningkatkan gradien
konsentrasi obat, upaya besar telah dibuka untuk meminimalkan larutan drainase. Hal ini
akan meningkatkan waktu tinggal obat di sclera dan kornea. Eksipien sederhana, seperti
hidroksietilselulosa atau poli (vinil alkohol) (PVA), memberikan larutan kental, yang
meningkatkan lokasi target. Teknik lainnya termasuk penggunaan formulasi baru yang
memungkinkan obat yang akan disampaikan dengan cara yang terkontrol selama periode
yang panjang. Penempatan yang sesuai dari eyedrop dan pengurangan volume diberikan
juga berkontribusi terhadap peningkatan bioavailabilitas mata.
System viskositas
Sebuah pendekatan yang populer untuk meningkatkan bioavailabilitas
obat mata adalah menggabungkan polimer larut dalam larutan berair untuk
memperpanjang waktu tinggal obat di cul-de-sac. Hal ini beralasan bahwa
viskositas larutan akan meningkat dan karenanya larutan drainase akan berkurang.
Para agen viskositas lebih umum digunakan termasuk PVA dan turunannya dari
16

selulosa. Polimer selulosa, seperti metilselulosa, hidroksietilselulosa (HEC),


hidroksipropil metilselulosa-(HPMC) dan hidroksipropilselulosa (HPC), yang
banyak digunakan sebagai viskositas menunjukkan sifat Newtonian. Mereka
memiliki sifat yang sama:
agen viskositas yang luas (400 sampai 15.000 cps);
kompatibilitas dengan banyak obat topikal;
peningkatan stabilitas film lakrimal.
PVA dapat menurunkan tegangan permukaan air, mengurangi tegangan
antarmuka air minyak dan meningkatkan stabilitas lapisan air mata. Mudah
sterilisasi, kompatibilitas dengan berbagai obat tetes mata dan jelas kurangnya
toksisitas epitel sehingga meluasnya penggunaan PVA sebagai peghantaran obat
dan komponen persiapan air mata buatan.
Bioadhesive
Bioadhesion adalah fenomena antarmuka di mana polimer sintetik atau
alami terikat pada substrat biologis dengan cara kekuatan antarmuka. Jika
melibatkan musin atau selaput lendir. Bioadhesif digunakan untuk meningkatkan
bioavailabilitas obat melalui berbagai rute lainnya termasuk oral, transmucosal
dan vagina. Bioadhesif mungkin menawarkan beberapa fitur unik:
lokalisasi bentuk sediaan dalam suatu wilayah tertentu, meningkatkan
bioavailabilitas obat;
mempromosikan kontak dengan absorbsi permukaan, memungkinkan modifikasi
permeabilitas jaringan di wilayah terbatas;
memperpanjang waktu tinggal dan mengurangi frekuensi dosis.
Mengingat tantangan besar pemberian obat mata, yaitu waktu kontak yang singkat
dan bioavailabilitas obat yang rendah, mucoadhesives merupakan eksipien yang
menarik dalam formulasi obat tetes mata. Kehadiran musin di mata
memungkinkan polimer bioadhesive untuk mengentalkan lapisan air mata.
Kelompok-kelompok hidrofilik polimer mukoadhesif dan sejumlah besar
air yang terkait dengan musin ada dua kemungkinan mekanisme adhesi: (i) ikatan
hidrogen dan (ii) interpenetrasi jaringan gel dengan musin terhidrasi. Banyak
metode telah digunakan untuk penilaian sifat bioadhesive, termasuk teknik
fluorescent dan tes tarik. Dengan menggunakan metode ini, sejumlah polimer
alami dan sintetis ditemukan memiliki sifat mukoadhesif.
Polimer alam
Sodium hyaluronate merupakan polimer dengan berat molekul tinggi
diekstraksi dengan proses dipatenkan dari sumber ayam coxcombs. Ini terdiri dari
linier, bercabang, non-sulfat, glikosaminoglikan polyanionic, terdiri dari satu unit
pengulangan disakarida dari D-glukuronat natrium dan N-asetil-D-glucosamine.
Produk berdasarkan hyaluronates banyak digunakan dalam operasi intraokular
sebagai pengganti humor vitreous dan sebagai ajuvan untuk perbaikan jaringan.
Hyaluronates menunjukkan efek perlindungan topikal pada endothelium kornea
dan jaringan halus lainnya dari kerusakan mekanis melalui penyediaan hidrogel
17

yang stabil. Sodium hyaluronate dengan kualitas rheologi yang tidak biasa,
menghasilkan transformasi yang cepat, bermanfaat bagi penghantaran topikal.
Sifat pseudoplastic larutan hyaluronate, di mana viskositas lebih tinggi pada fase
istirahat, menyediakan lapisan air mata yang tebal, drainase lambat dan distribusi
ditingkatkan pada kornea selama berkedip. Selain itu, kelompok karboksil dari
ikatan hidrogen bentuk hyaluronate dengan kelompok hidroksil gula musin ketika
sodium hyaluronate diterapkan di mata, menghasilkan ikatan dengan kornea. Sifat
unik ini memberikan hyaluronates berpotensi besar dalam pemberian obat mata.
Kondroitin sulfat adalah turunan polisakarida lain (glikosaminoglikan)
dengan unit ulang yang mengandung asam D-glucoronic dan D-N-asetil
galactosamine, sangat mirip dengan asam hialuronat kecuali untuk modifikasi
posisi gugus hidroksil dan penambahan kelompok sulfat ke galactosamine.
Chondroitin sulfat memiliki afinitas yang baik ke permukaan kornea, mencegah
pecahnya dari lapisan air mata selama berkedip. Formulasi yang mengandung
kondroitin telah digunakan untuk pengobatan mata kering dan menunjukkan
superioritas
terhadap
asam
hyaluronic
dalam
mengobati
kasus
keratoconjunctivitis sicca yang parah.
Polimer sintetik
Karbomer adalah poli (asam akrilat) polimer yang banyak digunakan
dalam industri farmasi dan kosmetik. Memiliki beberapa keunggulan, viskositas
tinggi pada konsentrasi rendah, adhesi kuat pada mukosa tanpa iritasi, sifat
kekentalan, kompatibilitas dengan banyak bahan aktif, penerimaan pasien yang
baik dan profil toksisitas yang rendah. sifat ini membuat karbomer sangat
berharga di bidang formulasi. Produk air mata buatan dan sistem penghantaran
obat baru berdasarkan karbomer telah banyak dirumuskan. Leogel mengandung
0,5% karbomer meningkatkan bioavailabilitas mata prednisolon asetat. Sebuah
studi baru-baru ini di scintigraphic Geltears (Carbopol 940) menunjukkan bahwa
kediaman prekornea secara signifikan diperpanjang oleh gel karbomer bila
dibandingkan dengan kontrol garam. 40% dari dosis dipertahankan di mata pada 8
menit setelah aplikasi topikal Geltears.
System fase transisi
Pengenalan pada awal 1980-an tentang konsep sistem gel in situ
menunjukkan bahwa perpanjangan yang cukup besar dalam durasi kerja dapat
diperoleh. Sistem In situ pembentuk gel memiliki sifat yang unik, yang dapat
membuat perubahan fasa cair ke gel atau fase padat dalam cul-de-sac. Tiga
metode telah digunakan untuk menginduksi fase transisi pada permukaan mata:
perubahan pH dan suhu serta aktivasi oleh ion.
Selulosa asetat ftalat membentuk sistem fase transisi pH, yang
menunjukkan viskositas yang sangat rendah hingga pH 5. Sistem ini akan kontak
dengan cairan air mata (pH 7,4), membentuk gel dalam beberapa detik dan
melepaskan bahan aktif dalam jangka waktu lama. Waktu paruh tinggal di
18

permukaan kornea kelinci adalah sekitar 400 detik dibandingkan dengan 40 detik
untuk saline. Namun, sistem tersebut ditandai dengan konsentrasi polimer yang
tinggi, dan pH larutan yang rendah dapat menyebabkan ketidaknyamanan kepada
pasien.
Pendekatan alternatif menggunakan sistem sensitive temperatur.
Poloxamer F127 mengalami transisi fase yang disebabkan oleh perubahan suhu.
Pada suhu kamar poloxamer tetap larutan. Ketika larutannya ditanamkan ke
permukaan mata (34 C) suhu tinggi menyebabkan larutan menjadi gel, sehingga
memperpanjang kontak dengan permukaan okular. Salah satu kelemahan dari
sistem tersebut adalah konsentrasi polimer tinggi (25% poloxamer), dan sifat
surfaktan dari poloxamer dapat merugikan tolerabilitas mata.
Pendekatan alternatif adalah dengan memanfaatkan pengaruh perubahan
kekuatan ion. Gellan gum adalah polisakarida anionik dalam larutan air, yang
membentuk gel di bawah pengaruh peningkatan kekuatan ion. Gelatin meningkat
secara proporsional baik monovalen atau kation divalen. Telah dilaporkan bahwa
konsentrasi sodium dalam air mata manusia ( 2,6 mg mL-1) sangat cocok untuk
menginduksi pembentukan gel dari gellan gum. Refleks air mata, yang sering
menyebabkan pengenceran larutan mata, lebih meningkatkan viskositas gellan
gum dengan meningkatkan volume air mata dan dengan demikian konsentrasi
kation meningkat. Beberapa studi telah menunjukkan bahwa Gelrite (0,6% b / v)
secara signifikan memperpanjang retensi mata dalam diri manusia. T1/2
prekornea sekitar 1.089 s, 891 s dan 22 s untuk Gelrite, HEC (0,5% b / v) dan
garam.
Hal ini juga memungkinkan untuk mengembangkan sistem yang
mengalami perubahan suhu dan pH tergantung pada struktur. Karbomer
membentuk asam, viskositas rendah, dispersi air yang berubah menjadi gel kaku
saat pH dinaikkan. Meskipun bahan ini berair dapat membentuk gel in situ pada
kantung konjungtiva secara bertahap, mereka sering menyebabkan iritasi mata
karena keasaman yang tinggi dan kadang-kadang dispersi tidak mudah dinetralisir
oleh buffer cairan air mata. Lainnya dalam gel in situ adalah ditandai dengan
konsentrasi polimer yang tinggi, seperti 25% poloxomer dan 30% CAP
(acetophthalate selulosa) yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan. Berbagai
kombinasi polimer telah diteliti dalam upaya untuk memperbaiki sifat gel dan
mengurangi total kandungan formulasi polimer.
System dispersi
Dikelompokkan ke dalam suspensi, partikulat, liposom dan emulsi.
Suspensions
Suspensi biasanya diformulasikan dengan mendispersikan serbuk obat
micronized (dengan diameter<10 m) dalam larutan yang sesuai. Suspensi
mata, terutama steroid, dianggap sebagai sistem penghantaran karena
diasumsikan bahwa partikel obat bertahan dalam kantung konjungtiva
19

sehingga menimbulkan efek rilis berkelanjutan. Namun, suspensi memiliki


kelemahan bahwa konsentrasi obat terlarut tidak dapat dimanipulasi.
Beberapa peneliti telah menunjukkan pentingnya ukuran partikel suspensi
dalam pemberian obat mata. Peningkatan ukuran partikel obat meningkatkan
bioavailabilitas mata. Sayangnya, ukuran diameter partikel di atas 10 m
dapat menyebabkan sensasi benda asing di mata berikut aplikasi mata
menyebabkan refleks air mata. Penurunan ukuran partikel umumnya
meningkatkan kenyamanan pasien dan penerimaan formulasi suspensi.
Particulates
Meskipun teknik suspensi mungkin berguna dalam memperluas pelepasan
obat dalam kondisi tertentu, itu hanya berlaku untuk obat yang praktis tidak
larut dalam air, seperti kortikosteroid. Untuk obat yang agak larut dalam air,
pendekatan partikulat dapat dipertimbangkan.
Partikel biasanya diklasifikasikan ke dalam mikro dan nanopartikel
berdasarkan ukuran partikel. Nanopartikel adalah partikel koloid mulai dari 10
sampai 1.000 nm, di mana obat dapat terperangkap, dan / atau diserap.
Micropartikulat kecil partikel polimer yang mengandung obat (mudah
tererosi, tidak mudah tererosi atau pertukaran ion resin) dalam ukuran 1-10
m, yang tersuspensi dalam media pembawa cair.
Beberapa pendekatan yang berbeda telah digunakan untuk
memformulasikan obat dalam bentuk sediaan microparticulate cocok untuk
aplikasi topikal. Ini termasuk microparticulates mudah tererosi,
pembengkakan partikel mukoadhesif, pH microparticulates responsif, sistem
lateks, resin pertukaran ion, dll Setelah pemberian suspensi partikel mata,
partikel berada di lokasi pengiriman (cul-de-sac, sub konjungtiva atau vitreous
humor) dan obat dilepaskan dari partikel melalui difusi, reaksi kimia,
degradasi polimer, atau mekanisme pertukaran ion, sehingga terjadi
peningkatan penyerapan mata.
Piloplex adalah salah satu formulasi komersial pertama nanopartikel
dalam pemberian obat mata. Formulasi terdiri dari nanospheres pilocarpineloaded poli (asam metil metakrilat-akrilik) kopolimer. Setelah pendahuluan
ini, banyak sistem nanopartikel telah diteliti untuk perpanjangan waktu kontak
dalam rangka meningkatkan penyerapan mata. Sebuah penurunan yang
signifikan dalam tekanan intraokular tercatat setelah pemberian nanopartikel
kaprolakton betaxolol-poli, dibandingkan dengan obat tetes mata komersial.
Peningkatan itu berasal dua faktor: satu karena nanopartikel meningkatkan
retensi prekornea obat oleh aglomerasi; dan kedua karena obat terperangkap
dalam bentuk non-terionisasi dalam inti pembawa minyak dan bisa menyebar
pada tingkat yang besar ke dalam kornea. Perbaikan serupa diperoleh dengan
carteolol (-blocker) yang menyebabkan penetrasi yang lebih baik dari
formulasi nanosphere.
20

Liposomes
Liposom dapat didefinisikan sebagai vesikel mikroskopis, terdiri dari
membran lipid bilayer seperti sekitar kompartemen berair. Fosfolipid yang
umum digunakan dalam penyusunan liposom adalah fosfatidilkolin,
fosfatidiletanolamin, phosphatidylserine, asam fosfatidat, sphingomyelin,
cardiolipins dan serebrosida. Fleksibilitas dalam pembuatan dan penggunaan
liposom dikaitkan dengan sifat amphiphilic mereka. Kedua obat hidrofilik dan
lipofilik dapat dikemas dalam vesikel lipid. Telah terbukti bahwa obat dengan
nilai log P sangat rendah atau sangat tinggi memperlihatkan retensi liposomal
secara berkepanjangan. Aplikasi pertama liposom dalam pemberian obat mata
yang terlibat penerapan suspensi liposomal dari idoxuridine pada kelinci
untuk pengobatan herpes simpleks keratitis. Formulasi liposomal ditemukan
hasil yang lebih efisien dibandingkan dengan larutan. Liposom dapat dengan
mudah dibuat dari bahan non-toksik, yang non-iritan dan visi tidak jelas.
Sayangnya, penggunaan rutin liposom dalam pemberian obat topikal okular
saat ini dibatasi oleh penyimpanan yang singkat, kapasitas loading obat
terbatas dan hambatan dalam sterilisasi persiapan.
Emulsions
Emulsi telah digunakan selama berabad-abad untuk pemberian oral
minyak dan vitamin dan sebagai penghantaran dermatologis. Baru-baru ini,
aplikasi mereka telah diperpanjang sebagai pembawa obat dalam
penghantaran dan penargetan obat tetes mata. Emulsi indometasin telah
dilaporkan meningkatkan bioavailabilitas okular dan kemanjuran
dibandingkan dengan formulasi yang tersedia secara komersial. 0,4% emulsi
indometasin menunjukkan 2,2 kali lipat di daerah bawah kurva konsentrasi
obat / waktu anterior dibandingkan dengan suspensi indometasin 1%.
Formulasi emulsi juga mengurangi iritasi permukaan mata yang disebabkan
oleh indometasin. Keuntungan yang sama ditunjukkan pada emulsi
pilocarpine yang menghasilkan efek terapi yang berkepanjangan dibandingkan
dengan obat tetes mata pilocarpine hidroklorida. Hal ini dapat diberikan hanya
dua kali sehari, bukan empat kali sehari dalam formulasi konvensional.
Emulsi mata lainnya telah digunakan untuk formulasi prednisolon,
piroksikam dan emulsi amfoterisin B. Meskipun emulsi dapat menghasilkan
efek terapi berkelanjutan dan mengurangi iritasi obat, aplikasi mereka dalam
oftalmologi dibatasi karena masalah stabilitas.
Soft contact lenses dan ocular inserts
Alasan untuk perangkat kontak kornea belum sepenuhnya dieksplorasi
dalam terapi. Dalam dosis konvensional, ada gradien di mata yang disebabkan
oleh aliran lakrimal. Jadi sulit untuk mempertahankan konsentrasi obat yang
tinggi di bagian atas kecuali pasien terlentang. Sebuah perangkat kornea seperti
21

perisai kolagen atau lensa kontak mengatasi masalah ini dengan menyediakan
sistem reservoir.
Hal ini berlaku bahwa soft contact lenses dapat bertindak sebagai reservoir
untuk obat, memberikan peningkatan pelepasan agen terapeutik. Nilai terapi lensa
kontak pertama kali ditunjukkan dalam sebuah studi yang menunjukkan
peningkatan yang signifikan pada tingkat humor aqueous yang dihasilkan oleh
lensa bila dibandingkan dengan eyedrop konvensional. Penggunaan lensa kontak
Bionite untuk pengiriman idoxuridine, polimiksin B dan Pilokarpin juga
menunjukkan larutan obat ke lensa kontak tanpa pengobatan secara signifikan
lebih efektif daripada larutan obat yang lebih terkonsentrasi langsung ke kornea.
Lensa Presoaked dianggap sebagai sistem pengiriman yang lebih efisien
dan dapat diandalkan. Namun, perendaman lensa dalam formulasi untuk
menggabungkan obat ke lensa dapat menyebabkan toksisitas pada epitel kornea
karena adanya pengawet, seperti benzalkonium klorida, memiliki afinitas yang
besar untuk bahan lensa kontak hidrofilik dan terkonsentrasi di lensa kontak.
Lensa kontak untuk pemakai sensitif juga dapat menyebabkan sensasi-benda
asing, kabur dan penurunan tekanan oksigen pada permukaan kornea akibat oklusi
oleh lensa kontak.
Sistem alternatif, diproduksi sebagai implan insoluble wafer-like, telah
dikembangkan (Ocusert). Sistem ini diprogram untuk melepaskan pilocarpine
pada tingkat konstan 20 atau 40 g /jam selama seminggu untuk mengobati
glaukoma kronis; Namun, pelepasan mungkin tidak lengkap dan sekitar 20% dari
semua pasien yang diobati dengan Ocusert kehilangan perangkat tanpa menyadari
kerugian. Perangkat ini juga menyajikan masalah termasuk sensasi-benda asing,
pelepasan dari mata, dan kesulitan dalam penanganan dan penyisipan. Sebuah
alternatif untuk sistem non-erodible adalah insert mudah tererosi untuk
penempatan di cul-de-sac.
Erodible implants
Kolagen dan fibrin adalah polimer yang umum digunakan dalam implan
erodibel. Tiga perangkat erodibel telah dipasarkan hingga saat ini.
Lacrisert adalah perangkat berbentuk batang yang terbuat dari selulosa
hidroksipropil tanpa pengawet yang digunakan untuk pengobatan sindrom mata
kering.
Sodi (Soluble okuler Obat Insert) adalah lapisan oval kecil poliakrilamida
diresapi dengan obat.
perisai kolagen Porcine, yang dirancang untuk mempromosikan penyembuhan
kornea dan memberikan pelumasan mata.
Sistem implan erodibel berdasarkan PVA juga telah diteliti.
Bioavailabilitas pilocarpine terbukti ditingkatkan enam belas kali lipat
menggunakan sistem ini. Sistem ini menunjukkan efektifitas cukup untuk
pengiriman obat berkepanjangan karena visi minimal dipengaruhi oleh adanya
menyisipkan yang diposisikan pada sclera. Bila perangkat ditempatkan di fornix
22

rendah, bidang kontak untuk obat dilepas adalah sklera dan material kecil berada
dalam kontak dengan kornea.

3.2 Penghantaran Obat Intraocular


3.2.1 Injeksi intravitreal
Suntikan intravitreal jalur utama pengirimannya untuk menghindari efek samping
bersamaan yang terlihat pada pemberian sistemik. Suntikan intravitreal memberikan
konsentrasi terapeutik obat yang berdekatan dengan lokasi aktivitas dan diperlukan dosis
yang jauh lebih kecil. Namun, toksisitas retina dari dosis disuntikkan harus
dipertimbangkan. Biasanya suntikan intravitreal terbatas pada volume 0,1 / 0,2 ml.
Setelah injeksi, obat berdifusi melalui gel vitreous dengan sedikit pembatasan difusi.
Untuk sebagian besar obat koefisien difusi melalui humor vitreous dengan melalui air.
Setelah didistribusikan ke seluruh humor vitreous, obat di eliminasi dengan cepat.
Kehilangan obat dari vitreous berlangsung melalui dua rute:
anterior-dengan difusi sederhana pada ruang posterior dan diikuti dengan
penghapusan ke sirkulasi sistemik bersama dengan aqueous humor drainase;
posterior-di retina di mana ia dihapus oleh sekresi aktif.
Obat hilang terutama pada difusi ruang anterior memiliki paruh panjang dalam
vitreous, biasanya di urutan 20-30 jam. Sebaliknya, obat hilang melalui rute trans-retina,
seperti penisilin, biasanya lebih singkat waktu paruhnya 5-10 jam. Berbeda dengan
eliminasi obat non-transported, obat-obatan yang dikeluarkan oleh sistem transportasi
aktif berada lebih lama sehingga terjadi inflamasi okular vitreous karena kegagalan dalam
sistem transportasi. Probenesid sistemik diketahui menghambat mekanisme transport
aktif ini. Tingkat kehilangan obat juga ditingkatkan di vitrectomized dan lensectomized.
Karena sebagian besar gangguan segmen posterior yang kronis. Liposom dan
microparticulates adalah sistem yang dirancang untuk melepaskan obat yang dikemas
secara bertahap dan selama jangka waktu tertentu.
Liposomes
Enkapsulasi liposomal memiliki potensi tidak hanya untuk meningkatkan
aktivitas dan memperpanjang obat mata, tetapi juga untuk mengurangi toksisitas
intraokular obat tertentu seperti antimetabolites, antivirus dan antibiotik untuk
retina. Sebagai contoh, liposom-encapsulated amfoterisin B menghasilkan
toksisitas kurang dari larutan amfoterisin B komersial ketika disuntikkan
intravitreal. Liposom juga telah digunakan untuk mempelajari pelepasan dan
distribusi dyes, yang mencerminkan integritas konstitusi pembuluh darah retina.
Injeksi intravitreal langsung obat liposomal-encapsulated telah ditingkatkan untuk
waktu yang diperpanjang dalam vitreous pada kelinci. Liposomal enkapsulasi dari
antivirus, HPMPC, mengurangi efek racun ke retina dan memberikan tingkat
terapeutik terhadap CMV retinitis hingga 8 bulan.
23

Biodistribusi deksametason sodium fosfat telah dievaluasi setelah


pengiriman intraokular pada kelinci. Liposom ditemukan untuk mengikat
berbagai jaringan okular termasuk retina, iris, kornea dan sclera. Menggunakan
koloid pada liposom, menunjukkan bahwa liposom terikat retina yang melekat
pada membran yang membatasi bagian dalam dan tidak menembus sel-sel dalam
retina. Hal ini menunjukkan bahwa liposom yang cocok untuk pengiriman
ditargetkan ke daerah tertentu. Liposom sensitive panas yang mengandung
carboxyfluorescein juga telah digunakan untuk menguji potensi liposom untuk
pengiriman obat yang ditargetkan untuk area tertentu di retina.
Liposom untuk memberikan siklosporin A (CSA) telah dimasukkan ke
dalam perisai kolagen. Sistem pengiriman ini memberikan tingkat tertinggi CSA
baik kornea dan sclera dengan tingkat yang lebih tinggi pada aqueous humor
dibandingkan dengan unencapsulated dan capsulated CSA tetapi tidak dimuat ke
perisai kolagen.
Kelemahan utama yang berhubungan dengan liposom adalah
penyimpanan yang pendek dan kesulitan dalam penyimpanan, kapasitas obatloading terbatas dan ketidakstabilan di sterilisasi dan akhirnya, terjadi penglihatan
kabur sementara setelah suntikan intravitreal. Meskipun kelemahan ini, mereka
memiliki potensi sebagai sistem pengiriman obat karena mereka terdiri dari zatzat yang tidak beracun dan sangat biodegradable.
Microparticulates dan nanoparticles
Disposisi
intraokular
dari
antivirus
mikroenkapsulasi
dan
nanoencapsulated telah menarik bagi beberapa kelompok. Kecuali gangguan
sementara penglihatan, menarik sebagai sistem pengiriman obat, terutama karena
kemampuan mereka mengikat jaringan intraokular tertentu.
Kedua mikrosfer dan nanopartikel dipertahankan dalam mata untuk waktu yang
lama dan memberikan sustained release obat. Microparticulates untuk pengiriman
obat intraokular telah diformulasikan sebagai:
Microparticulates erodibel;
partikulat mukoadhesif;
pH partikulat responsif;
sistem lateks;
resin pertukaran ion.
3.2.2

Intraocular Implant
Sustained obat tetes mata merupakan pendekatan baru dalam mengobati infeksi
intraokular kronis pada kondisi di mana pemberian sistemik disertai dengan efek samping
yang tidak diinginkan dan suntikan intravitreal diulang membawa risiko infeksi.
Pemberian obat dengan implan atau perangkat depot adalah teknologi berkembang sangat
pesat di terapi mata.
Perangkat mata implan telah dikembangkan yang melayani dua tujuan utama:
Pelepasan obat pada tingkat orde nol, meningkatkan selektivitas kerja obat;
Pelepasan obat selama beberapa bulan, sehingga mengurangi frekuensi administrasi.

24

Osmotic Minipump Pertama diselidiki menggunakan model kelinci endophthalmitis


pada tahun 1979. Minipump osmotik ditanamkan subkutan di daerah telinga. Perangkat
ini terhubung pipa yang diarahkan ke rongga vitreous. Perangkat ini diuji untuk
pengiriman gentamisin dan berhasil mempertahankan dosis dihitung dari 0,01 mg / jam
selama 4,5 hari. Desain yang sama telah diteliti pada hewan, tetapi keberhasilan variabel
dan tidak ada telah mencapai penerimaan klinis.
Kekurangan dalam terapi intraokular saat menggunakan implan meliputi:
Risiko endophthalmitis atau ablasi retina;
Pendek dan / atau durasi variabel terapi;
persyaratan untuk operasi pengangkatan implan dalam kasus implan polimer nondegradable;
evaluasi toksisitas jaringan dan keamanan polimer.
3.2.3

Iontophoresis
Iontophoresis adalah sistem pengiriman obat baru yang melibatkan penggunaan
arus listrik untuk menggerakkan ion bermuatan melintasi membrane. Teknik ini
menghasilkan gradien potensial listrik yang memfasilitasi pergerakan ion zat terlarut.
Iontophoresis memiliki sejarah panjang dan awal penggunaan didokumentasikan tanggal
1740.
Fleksibilitas dari teknik ini telah membuatnya menjadi alat investigasi yang berguna
untuk pengiriman obat lokal di beberapa bidang kedokteran, termasuk dermatologi,
kedokteran gigi, oftalmologi, THT dan untuk pengiriman sistemik protein dan peptida.
Daya tarik metode terletak pada sifat non-invasif dan kesesuaian untuk mentransfer berat
molekul tinggi, ion bermuatan. Keuntungan dalam pemberian obat lokal terletak dalam
mengurangi risiko efek samping dan memberikan alternatif penting untuk pemberian
parenteral.
Dalam oftalmologi, baik pemberian obat trans-scleral dan transcorneal telah
dipelajari. Obat diteliti meliputi fluorescein, tobramycin, gentamisin, tikarsilin, cefazolin,
deksametason dan ketoconazole. Iontophoresis telah ditemukan aman dan efektif dalam
memberikan dosis yang diperlukan secara lokal. Kecuali untuk lidocaine, yang telah diuji
pada sukarelawan manusia, semua obat lain telah diuji pada kelinci.
Efek Retinotoxic terkait dengan iontophoresis telah dievaluasi dengan mikroskop
oftalmoskopi langsung, mikroskop cahaya dan elektron. Efek toksik sering dilaporkan
mencakup sedikit retina dan luka bakar choroidal dan pigmen retina epitel dan nekrosis
choroidal, edema epitel kornea, kekeruhan kornea dan infiltrasi sel polimorfonuklear.
Kekurangan iontophoresis seperti efek samping gatal, eritema dan iritasi umum.
Meskipun teknik ini ditemukan cocok untuk berbagai senyawa seperti NSAIDS,
antivirus, antibiotik, anestesi dan glukokortikoid.

25

BAB.IV
PENUTUP
Kesimpulan
Pada system penghantaran obat melalui mata terdapat beberapa rute. Pemberian secara topical,
sistemik dan intraocular. System penghantaran yang umum digunakan yaitu melalui topical
seperti obat tetes mata. Sedangkan pada rute pemberian intraocular terdapat beberapa jalur utama
yaitu melalui suntik intravitreal yaitu pemberian yang diberikan dan didistribusikan melalui
humor vitreous. Ada juga dengan pemberian implant atau perangkat depot dimana dilakukan
ketika pemberian sistemik disertai dengan efek samping yang tidak diinginkan dan suntikan
intravitreal diulang membawa resiko infeksi. Dan terdapat system pemberian obat baru yaitu
Iontophoresis merupakan pemberian dengan menggunakan arus listrik untuk menggerakkan ion
bermuatan melintasi membrane. Teknik ini menghasilkan gradien potensial listrik yang
memfasilitasi pergerakan ion zat terlarut.

26

DAFTAR PUSTAKA
Fifi Zuliyanti,2014,system penghantaran obat opthalmik, Universitas Islam Negeri Syarif
Hidayatullah, Jakarta
Diakses tanggal : 27-11-2015 pukul : 17.15
Adi Yugatama, S.Farm., Apt., Sistem Penghantaran obat melalui mata, Universitas Jendral
Soedirman, Purwokerto
Diakses tanggal : 19-11-2015 pukul :08.38
https://adiyugatama.files.wordpress.com/2012/03/spo-opthalmic1.pptx

27