Anda di halaman 1dari 16

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Sunat atau khitan atau sirkumsisi (Inggris: circumcision) adalah
tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup
depan penis atau preputium. Dilakukan untuk membersihkan dari berbagai
kotoran penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis yang
masih ada preputiumnya.Secara medis dikatakan bahwa sunat sangat
menguntungkan bagi kesehatan. Banyak penelitian kemudian membuktikan
(evidence based medicine) bahwa sunat dapat mengurangi risiko kanker
penis, infeksi saluran kemih, dan mencegah penularan berbagai penyakit
menular seksual, termasuk HIV/AIDS dan juga mencegah penularan human
papilloma virus. Selain itu sirkumsisi di indikasikan atau dapat mencegah
penyakit seperti phimosis, paraphimosis,candidiasis, tumor ganas dan
praganas pada daerah kelamin pria (Sumiardi1994).
Tujuan utama dari bersunat adalah membersihkan diri dari berbagai
kotoran serta penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis
yang masih ada kulit preputiumnya. Ketika bersunat, sebagian preputium
yang menutupi jalan ke luar urin dibuang sehingga kemungkinan kotoran
untuk menempel atau berkumpul di ujung penis jadi lebih kecil. Ini karena
penis lebih mudah dibersihkan, Terbukti penis laki-laki yang disunat lebih
higienis. Apa bila ada kejadian fimosis para dokter menyarankan akan
tindakan sunat atau khitan atau sirkumsisi untuk menghilangkan masalah
fimosis secara permanen. Rekomendasi ini diberikan terutama bila fimosis
menimbulkan kesulitan buang air kecil atau peradangan di kepala penis
(balanitis) (Sumiardi 1994).
Fimosis merupakan penyempitan atau perlengketan kulup penis
sehingga kepala penis tidak bisa terbuka sepenuhnya. Fimosis dapat
menyebabkan

penumpukan

smegma

(kotoran

hasil

skresi

kelenjar

kulup/sebaesa yang berisi sel epitel yang mengelupas yang ditemukan

dibawah prepusium) penumpukan spegma tersebut dapat mendukung


penyebaran bakteri. Sebagian besar anak laki laki yang baru lahir memiliki
fimosis fisiologis. Namun fimosis ini akan menghilang sendiri setelah anak
usia tiga tahun. Jika di usia enam atau tujuh tahun fimosis masih ada sehingga
menyebabkan masalah, maka dibutuhkan penanganan (Joel,2010).
Fimosis yang bawaan sejak lahir (kongenital) merupakan kondisi
dimana kulit yang melingkupi kepala penis (glans penis) tidak bisa ditarik
kebelakang untuk membuka seluruh bagian kepala penis. Kulit yang
melingkupi kepala penis tersebut juga dikenal dengan istilah kulup,
(prepuce/preputium/foreskin). Preputium terdiri dari dua lapis, bagian dalam
dan luar, sehingga dapat ditarik ke depan dan belakang pada batang penis.
Pada fimosis, lapis bagian dalam preputium melekat pada glans penis.
Kadangkala perlekatan cukup luas sehingga hanya bagian lubang untuk
berkemih (meatus urethra externus) yang terbuka. Hal ini terjadi pada penis
yang belum disunat (disirkumsisi) atau telah disirkumsisi namun hasil
sirkumsisinya kurang baik (Dewan, 2003).
`
Fimosis kongenital (fimosis fisiologis) timbul sejak lahir
sebenarnya merupakan kondisi normal pada anak-anak, bahkan sampai masa
remaja. Kulit preputium selalu melekat erat pada glans penis dan tidak dapat
ditarik ke belakang pada saat lahir, namun seiring bertambahnya usia serta
diproduksinya hormon dan faktor pertumbuhan, terjadi proses keratinisasi
lapisan epitel dan deskuamasi antara glans penis dan lapis bagian dalam
preputium sehingga akhirnya kulit preputium terpisah dari glans penis.pada
fimosis kongenital yang akan menyebabkan pembentukkan jaringan ikat
(fibrosis) dekat bagian kulit preputium yang membuka. Suatu penelitian
mendapatkan bahwa hanya 4% bayi yang seluruh kulit preputiumnya dapat
ditarik ke belakang penis pada saat lahir, namun mencapai 90% pada saat usia
3 tahun dan hanya 1% laki-laki berusia 17 tahun yang masih mengalami
fimosis kongenital. Walaupun demikian, penelitian lain mendapatkan hanya
20% dari 200 anak laki-laki berusia 5- 13 tahun yang seluruh kulit
preputiumnya dapat ditarik ke belakang penis (Dewan, 2003).
Fimosis kongenital seringkali menimbulkan fenomena ballooning,
yakni kulit preputium mengembang saat berkemih karena desakan pancaran

air seni tidak diimbangi besarnya lubang di ujung preputium. Fenomena ini
akan hilang dengan sendirinya, dan tanpa adanya fimosis patologik, tidak
selalu menunjukkan adanya hambatan (obstruksi) air seni. Selama tidak
terdapat hambatan aliran air seni, buang air kecil berdarah (hematuria), atau
nyeri preputium, fimosis bukan merupakan kasus gawat darurat. Fimosis
kongenital seyogianya dibiarkan saja, kecuali bila terdapat alasan agama
dan/atau sosial untuk disirkumsisi. Hanya diperlukan penjelasan dan
pengertian mengenai fimosis kongenital yang memang normal dan lazim
terjadi pada masa kanak-kanak serta menjaga kebersihan alat kelamin dengan
secara rutin membersihkannya tanpa penarikan kulit preputium secara
berlebihan ke belakang batang penis dan mengembalikan kembali kulit
preputium ke depan batang penis setiap selesai membersihkan. Upaya untuk
membersihkan alat kelamin dengan menarik kulit preputium secara
berlebihan ke belakang sangat berbahaya karena dapat menyebabkan luka
fimosis yang didapat, bahkan parafimosis. Seiring dengan berjalannya waktu,
perlekatan antara lapis bagian dalam kulit preputium dan glans penis akan
lepas dengan sendirinya. Walaupun demikian, jika fimosis menyebabkan
hambatan aliran air seni, diperlukan tindakan sirkumsisi (membuang sebagian
atau seluruh bagian kulit preputium) atau teknik bedah plastik lainnya seperti
preputioplasty (memperlebar bukaan kulit preputium tanpa memotongnya)
(Dewan,2003).
2.1 Rumusan Masalah
1. Apakah definisi parafimosis ?
2. Bagaimanakah Konsep Asuhan Keperawatan Parafimosis ?
3.1 Tujuan penulisan
Tujuan umum :
a) Menjelaskan definsi parafimosis
b) Menjelaskan Konsep Asuhan keperawatan Parafimosis
Tujuan Khusus :
a) Mengidentifikasi dari definisi parafimosis
b) Mengidentifikasi Konsep Asuhan Keperawatan Parafimosis
4.1 Manfaat Penulisan
3

a. Bagi Mahasiswa
Dengan adanya makalah ini, diharapkan mahasiswa mampu memahami
dan membuat konsep asuhan keperawatan maternitas, serta mampu
mengimplementasikannya dalam proses keperawatan.
b. Bagi Institusi
Dapat dijadikan sebagai referensi perpustakaan.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Paraphimosis adalah sebuah kondisi serius yang bisa terjadi hanya
pada laki-laki dan anak laki-laki yang belum atau tidak disunat. Paraphimosis

berarti kulup terjebak di belakang kepala penis dan tidak dapat ditarik
kembali ke posisi normal. Kadang-kadang laki-laki yang tak disunat kulup
mereka tertarik ke belakang saat berhubungan seks, ketika mereka kencing
atau ketika mereka membersihkan penis mereka. Jika kulup yang tersisa di
belakang kepala penis terlalu panjang, penis kemungkinan mengalami
pembengkakan sehingga kulup yang terperangkap di belakang kepala penis.
Parafimosis adalah keadaan di mana prepusium tidak dapat ditarik ke
depan (distal)/menutup.Pada keadaan ini, glan penis atau batang penis dapat
terjepit oleh prepusium yang bengkak.Keadaan ini paling sering oleh
peradangan.Pada parafimosis sebaiknya kita melakukan reduksi sebelum
disirkumsisi ( Bachsinar, tahun 1993).
2.2 Etiologi
1. Akibat pemasangan kateter
2. Menarik Prepusium ke proksimal yang biasanya di lakukan pada
saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter tetapi
tidak dikembalikan ketempat semula secepatnya.
2.3 Patogenesis
Preputium tidak bisa dikembalikan -> gangguan aliran balik vena ->
dorsalis pedis superfisial -> edema gland penis -> ekstra vasasi -> terjadi
jeratan -> suplai darah kurang -> terjadi nekrosis
2.4 Manifestasi Klinis
Edema gland penis
Nyeri
Jeratan pada penis
2.5 Tanda dan gejala
Kulup tertarik ke belakang kepala penis
Sakit pada penis
2.6 Pengobatan
Pengobatan yang paling utama yaitu di khitan/sunnat/sirkumsisi.
2.7 Penatalaksanaan
Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan
teknik memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan
secara perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha
ini tidak berhasil, dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga

prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses


inflamasi menghilang pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi.

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

A. Pengkajian
1. Tanyakan biodata klien.
2. Kaji keadaan umum klien.
3. Kaji penyebab fimosis, termasuk kongenital atau peradangan.
4. Dapatkan riwayat kesehatan sekarang untuk melihat adanya:
a) Kaji pola eliminasi
BAK:
1) Frekuensi : Jarang karena adanya retensi.

2) Jumlah : Menurun.
3) Intensitas : Adanya nyeri saat BAK.
b) Kaji kebersihan genital: adanya bercak putih.
c) Kaji perdarahan
d) Kaji tanda-tanda infeksi yang mungkin ada
5. Obsevasi adanya manifestasi:
a) Gangguan aliran urine berupa sulit BAK, pancaran urine mengecil
dan deras.
b) Menggelembungnya ujung prepusium penis saat miksi,
c) Adanya inflamasi.
6. Kaji mekanisme koping pasien dan keluarga
7. Kaji pasien saat pra dan post operasi
B. Diagnosa Keperawatan
Pre Operasi
1. Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi saluran
urinaria.
2. Cemas berhubungan dengan krisis situasional.
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan kognitif.
Post Operasi
1. Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.
2. Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
3. Kekurangan volume cairan berhubungan dengan kehilangan volume
cairan aktif.
C. Intervensi Keperawatan
Pre Operasi
1. Diagnosa 1 : Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi
saluran urinaria.

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam


diharapkan eliminasi urine lancar.
a) NOC : Pengawasan urine
Kriteria Hasil :
1) Mengatakan keinginan untuk BAK.
2) Menentukan pola BAK.
3) Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK.
4) Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK.
Keterangan skala :
1: tidak pernah menunjukkan
2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan
4: sering menunjukkan
5: selalu menunjukkan
b) NIC : Perawatan Retensi Urine
Intervensi :
1) Monitor intake dan out put.
2) Monitor distensi kandung kemih dengan palpasi dan perkusi.
3) Sediakan perlak dikasur.
4) Gunakan kekuatan dari keinginan untuk BAK ditoilet.
5) Jaga privasi untuk eliminasi.
6) Berikan waktu berkemih dengan interval reguler, jika diperlukan.
2. Diagnosa II : Cemas berhubungan dengan krisis situasional.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan kecemasan pasien berkurang.
a) NOC : Kontrol cemas

Kriteria Hasil :
1) Tingkat kecemasan dalam batas normal.
2) Mengetahui penyebab cemas.
3) Mengetahui stimulus yang menyebabkan cemas.
4) Tidur adekuat.
Keterangan skala:
1: tidak pernah menunjukkan
2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan
4: sering menunjukkan
5: selalu menunjukkan
b) NIC : Pengurangan Cemas
Intervensi :
1) Ciptakan suasana yang tenang.
2) Dengarkan dengan penuh perhatian.
3) Kuatkan kebiasaan yang mendukung.
4) Ciptakan hubungan saling percaya dengan klien dan keluarga.
5) Identifikasi perubahan tingkat kecemasan
6) Temani pasien.
7) Gunakan pendekatan dan sentuhan.
8) Jelaskan seluruh prosedur tindakan pada klien.
3. Diagnosa III : Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan
kognitif.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan keluarga dan pasien mengerti akan tindakan yang akan
dilakukan.
a) NOC : Pengetahuan tentang penyakit
9

Kriteria hasil :
1) Familiar dengan penyakit.
2) Mendeskripsikan proses penyakit.
3) Mendeskripsikan efek penyakit.
4) Mendeskripsikan komplikasi.
Keterangan skala:
1: tidak pernah menunjukkan
2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan
4: sering menunjukkan
5: selalu menunjukkan
b) NIC : Mengajarkan proses penyakit
1) Observasi kesiapan klien untuk mendengar.
2) Tentukan tingkat pengetahuan klien sebelumnya.
3) Jelaskan proses penyakit.
4) Diskusikan gaya hidup yang bisa untuk mencegah komplikasi.
5) Diskusikan tentang pilihan terapi.
6) Hindarkan harapan kosong.
7) Instruksikan pada klien dan keluarga tentang tanda dan gejala untuk
melaporkan pada pemberi perawatan kesehatan dengan cara yang tepat.
Post operasi
1. Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan nyeri berkurang.
a) NOC : kontrol nyeri
Kriteria hasil :

10

1) Mengenali faktor penyebab.


2) Menggunakan metode pencegahan.
3) Mengenali gejala-gejala nyeri.
4) Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan.
Keterangan skala :
1: tidak dilakukan sama sekali
2: jarang dilakukan
3: kadang dilakukan
4: sering dilakukan
5: selalu dilakukan
b) NIC : pain management
Intervensi :
1) Kaji nyeri secara komprehensif.
2) Observasi isyarat-isyarat non verbal dari ketidaknyamanan.
3) Gunakan komunikasi terapeutik.
4) Kaji latar belakang budaya pasien.
5) Beri dukungan terhadap pasien dan keluarga.
6) Beri informasi tentang nyeri.
7) Tingkatkan tidur yang cukup.
8) Berikan analgetik sesuai kebutuhan.
2. Diagnosa II : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif.
Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam
diharapkan resiko infeksi tidak terjadi.
a) NOC : kontrol infeksi: knowledge
Kriteria hasil :
1) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi.

11

2) Menunjukan perilaku hidup normal.


3) Menunjukan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi.
Keterangan skala:
1: tidak pernah menunjukkan
2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan
4: sering menunjukkan
5: selalu menunjukkan
b) NIC : infection kontrol
Intervensi :
1) Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain.
2) Batasi jumlah pengunjung.
3) Tingkatkan intake nutrisi.
4) Berikan terapi antibiotik.
5) Pertahankan lingkungan aseptic selama pemasangan alat.
3. Diagnosa III : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan volume

cairan aktif

Tujuan: Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam


diharapkan cairan terpenuhi.
a) NOC : fluid balance
Kriteria hasil :
1) Mempertahankan urine output sesuai dengan usia dan berat badan.
2) Tekanan darah, nadi, suhu tubuh dalam batas normal.
3) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi.
Keterangan skala:
1: tidak pernah menunjukkan

12

2: jarang menunjukkan
3: kadang menunjukan
4: sering menunjukkan
5: selalu menunjukkan
b) NIC : fluid management
Intervensi :
1) Timbang popok jika diperlukan.
2) Pertahankan cairan intake dan output yang akurat.
3) Monitor status hidrasi.
4) Monitor TTV.
5) Dorong keluarga untuk membantu pasien makan.
6) Kolaborasi dengan dokter jika tanda cairan berlebih muncul memburuk.
D. Evaluasi
Pre Operasi SKALA
1. Diagnosa 1 : Kerusakan eliminasi urine berhubungan dengan infeksi
saluran urinaria.
a) Mengatakan keinginan untuk BAK. 4
b) Menentukan pola BAK. 4
c) Bebas dari kebocoran urine sebelum BAK. 3
d) Mampu memulai dan mengakhiri aliran BAK. 4
2. Diagnosa II : Cemas berhubungan dengan krisis situasional.
a) Tingkat kecemasan dalam batas normal. 5
b) Mengetahui penyebab cemas. 3
c) Mengetahi stimulus yang menyebabkan cemas. 4
d) Tidur adekuat. 4

13

3. Diagnosa III : Kurang pengetahuan berhubungan dengan keterbatasan


kognitif.
a) Familiar dengan penyakit. 3
b) Mendeskripsikan proses penyakit. 3
c) Mendeskripsikan efek penyakit. 4
d) Mendeskripsikan komplikasi. 3
Post Operasi
1) Diagnosa 1 : Nyeri akut berhubungan nengan agen cedera fisik.
a) Mengenali faktor penyebab. 4
b) Menggunakan metode pencegahan. 3
c) Mengenali gejala nyeri. 4
d) Menggunakan analgetik sesuai kebutuhan. 5
2) Diagnosa II : Resiko infeksi berhubungan dengan prosedur invasif
a) Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi. 4
b) Menunjukkan perilaku hidup normal. 4
c) Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi. 3
3) Diagnosa III : Kekurangan volume cairan berhubungan dengan
kehilangan volume cairan aktif
a) Mempertahankan urine output sesuai dengan 4 usia dan berat badan
b) Tekanan darah, nadi, dan suhu tubuh dalam batas normal. 3
c) Tidak ada tanda-tanda dehidrasi. 4

14

BAB IV
PENUTUP

4.1 Kesimpulan
Sunat atau khitan atau sirkumsisi (Inggris: circumcision) adalah
tindakan memotong atau menghilangkan sebagian atau seluruh kulit penutup
depan penis atau preputium. Dilakukan untuk membersihkan dari berbagai
kotoran penyebab penyakit yang mungkin melekat pada ujung penis yang
masih ada preputiumnya.Secara medis dikatakan bahwa sunat sangat
menguntungkan bagi kesehatan. Banyak penelitian kemudian membuktikan
(evidence based medicine) bahwa sunat dapat mengurangi risiko kanker

15

penis, infeksi saluran kemih, dan mencegah penularan berbagai penyakit


menular seksual, termasuk HIV/AIDS dan juga mencegah penularan human
papilloma virus. Selain itu sirkumsisi di indikasikan atau dapat mencegah
penyakit seperti phimosis, paraphimosis, candidiasis, tumor ganas dan
praganas pada daerah kelamin pria (Sumiardi 1994).

Parafimosis

adalah keadaan di mana prepusium tidak dapat ditarik ke depan


(distal)/menutup.Pada keadaan ini, glan penis atau batang penis dapat terjepit
oleh

prepusium

yang

bengkak.Keadaan

ini

paling

sering

oleh

peradangan.Pada parafimosis sebaiknya kita melakukan reduksi sebelum


disirkumsisi ( Bachsinar, tahun 1993).
4.2 Saran
Kami menyarankan agar peran perawat dilaksanakan sebagai mestinya
untuk memenuhi kepuasan klien, demi terlaksananya pemenuhan kebutuhan
dasar dalam beradaptasi secara fisik dan psikososial untuk mencapai
kesejahteraan keluarga dengan menggunakan pendekatan proses keperawatan.
Dan bagi teman-teman mahasiswa agar memahami tentang fungsi dan peran
perawat.

DAFTAR PUSTAKA

http://urologimalang.com/?wpfb_dl=18
repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23156/4/Chapter%20II.pdf
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/151/jtptunimus-gdl-isniayusro-7506-214.bab-i.pdf
thesis.umy.ac.id/datapublik/t29802.pdf

16

Anda mungkin juga menyukai