Anda di halaman 1dari 9

LAPORAN PENDAHULUAN

CA MAMMAE

A. DEFINISI
Kanker payudara adalah kanker yang berasal dari kelenjar, saluran
kelenjar, dan jaringan penunjang payudara (Luwia, 2003). Menurut Cahyani
cit Pramadhiani (2000) kanker payudara adalah benjolan pada payudara yang
tumbuh secara abnormal terus menerus dan tidak terkendali. Kanker payudara
adalah kanker yang relatif sering dijumpai pada wanita merupakan penyebab
kematian utama pada wanita berusia antara 45 dan 64 tahun (Elizaberth J.
Corwin, 2000 : G67). Kanker payudara adalah jenis kanker kedua penyebab
kematian karena kanker pada wanita, dengan perkiraan 46.000 meninggal
pada tahun 1994. (Danielle Gale, RN. MS, 1999 : 127). Kanker payudara
merupakan salah satu kanker yang terbanyak ditemukan di Indonesia biasanya
ditemukan umur 40-49 tahun dan letak terbanyak dikuadran lateral atas
(Mansjoer, 2000 : 283)
B. ETIOLOGI
Karsinoma mammae secara pasti tidak diketahui penyebabnya tapi
pencetus yang sering disebabkan olah estorogen yang lebih dikenal sebagai
estorogen dependent mengandung eseptor yang mengikat estradiol, suatu tife
esterogen yang pertumbuhnya diangsang oleh esterogen, karena reseptor ini
tidak muncul pada jaringan payudara yang normal
C. MANIFESTASI KLINIK
Tanda dan gejala paling dini adalah berupa tumbuhnya benjolan pada
daerah mamae
Klasifikasi TNM Kanker Payudara/mammae
Tahapan ukuran tumor
Keterlibatan nodul
I kurang dari 2 cm
Tidak ada NO
II Kurang dari 5 cm (T1 dan Axillary nodes dapat
T2)

berpindah (N1)

Metatasis
Tidak ada (MO)
Tidak ada (MO)

III lebih dari 5 cm dengan Axillary nodes tetap

Tidak ada (MO)

invai kulit atau melebar pada atu dpat berpindah (N


dinding dada
IV setiap ukuran

dan N2)
Setiap nodes

Ya (M1)

D. PROGNOSIS
Prognosa kanker payudara dalam hal pencapaian survival yang tinggi dan
perbaikan kualitas hidup dipengaruhi oleh banyak faktor. Faktor prognostik
primer antara lain :
1. Status kelenjar getah ening (lympa node status) : jum;ah kelenjar getah
bening invasi kapsul
2. Diameter tumor (tumor size) : diametr tumor mempunyai korelasi dengan
penyebarannya kelenjar getah bening
3. Hormon reseptor (HR) status : esterogen reseptor (ER), progesteron
reseptor (PR)
4. Histopathology status : nuclear rade, histologic grade
5. S-phase: indeks profilasi sell
6. DNA ploidy : ondeks diploid dan undiploid cell
7. HER-2 /new reseptor(C-er B-2 reseptor
8. P53
9. Epiermal growth faktor reseptor (EGFR)
10. Cathepsin D
11. Angiognesis
12. Umur
13. Stadium panyakit
E. PATOLOGI
Ket :
Apoptosis

: program sel dimatikan kalau abnormal

Protoencogen

: mengatur proses pertumbuhan

Tumor supresor gen

: yang mengatur pertumbuhan

BCL2 & MDM 2

: meregulasi protein yang dihasilkan oleh

gen suppresor
NER(Nucleotine eksesion refair): gen perbaikkan
P53

: protein yang mengatur expresi P21

P21

: protein yang menekan CDK4,6

CDK

: Cyclin dependent protein kinase yang

berperan dalam pembelahan sel


F. PATOFISIOLOGI
Kanker payudara adalah penyakit yang terjadi jika terjadi kerusakan
genetik pada DNA dari sel epitel payudara. Ada banyak jenis dari kanker
payudara. Perubahan genetik ditemukan pada sel epitel, menjalar ke duktus
atau jaringan lobular. Tingkat dari pertumbuhan kanker tergantung pada efek
dari estrogen dan progesteron. Kanker dapat berupa invasif (infiltrasi) maupun
noninvasif (in situ). Kanker payudara invasif atau infiltrasi dapat berkembang
ke dinding duktus dan jaringan sekitar, sejauh ini kanker yang banyak terjadi
adalah invasif duktus karsinoma. Duktus karsinoma berasal dari duktus
lactiferous dan bentuknya seperti tentakel yang menyerang struktur payudara
di sekitarnya. Tumornya biasanya unilateral, tidak bisa digambarkan, padat,
non mobile, dan nontender. Lobular karsinoma berasal dari lobus payudara.
Biasanya bilateral dan tidak teraba. Nipple karsinoma (pagets disease) berasal
dari puting. Biasanya terjadi dengan invasif duktal karsinoma. Perdarahan,
berdarah, dan terjadi pengerasan puting (Lowdermilk et al 2000).
Kanker payudara dapat menyerang jaringan sekitar sehingga mempunyai
tentakel. Pola pertumbuhan invasif dapat menghasilkan tumor irregular yang
bisa terapa saat palpasi. Pada saat tumor berkembang, terjadi fibrosis di
sekitarnya dan memendekkan Coopers ligamen. Saat Coopers ligamen
memendek, mengakibatkan terjadinya peau dorange (kulit berwarna orange)
perubahan kulit dan edema berhubungan dengan kanker payudara. Jika kanker
payudara menyerang duktus limpatik, tumor dapat berkembang di nodus
limpa, biasanya menyerang nodus limpa axila. Tumor bisa merusak lapisan
kulit, menyebabkan ulserasi. Metastasis diakibatkan oleh kanker payudara
yang menempati darah dan sistem lympa, menyebabkan perkembangan tumor

di tulang, paru-paru, otak, dan hati (Lowdermilk et al 2000, Swart 2011)


G. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
Deteksi awal dilakukan untuk mencegah perkembangan kanker payudara.
Tumor payudara yang lebih kecilk lebih mudah diobati bila terdeteksi dan
prognosisnya lebih baik. Pemeriksaan untk mendetaksi kanker payudara
antara lain: (Breast Health UK 2010, Swart 2011).
1. Pemeriksaan payudara sendiri
Pemeriksaan payudara sendiri dan pemeriksaan payudara klinis adalah
prosedur murah dan tidak invasif untuk pemeriksaan payudara. Apabila
ditemukan indikasi yang abnormal, yaitu benjolan atau penebalan pada
jaringan payudara, sakit pada salah satu payudara atau pada ketiak. Satu
payudara menjadi lebih besar atau lebih rendah, puting tertarik ke dalam
atau berubah posisi, perubahan kulit (mengkerut), bengkak di bawah
ketiak ayau tulang selangka, ruam pada atau sekitar kulit. Jika ada tandatanda tersebut harus dilakukan tiga pengkajian, yaitu pemeriksaan klinis
payudara, mammografi atau ultrasonografi, dan biopsi
2. Mammografi
Mamografi menggunakan sinar x dosis rendah untuk membuat gambaran
rinci dari payudara. Mammografi bisa mendeteksi kanker payudara pada
tahap awal, bisa menunjukkan lesi yang tidak bisa dideteksi dengan
pemeriksaan payudara klinis. Ada 2 dua jenis pemeriksaan mamografi,
skrining dan diagnostik. Skrining payudara dilakukan pada wanita tanpa
gejala misalnya ketika ada benjolan pada payudara atau putting discharge
ditemukan ada pemeriksaan payudara sendiri atau kelainan yang
ditemukan selama skrining mamografi. Wanita dengan implan payudara
atau riwayat penyakit kanker payudara menggunakan diagnostik
mamografi.
3. Ultrasonografi
Ultrasonografi dari lesi mencurigakan terdeteksi pada mamografi atau
pemeriksaan fisik. Ultrasonografi digunakan terutama sebagai metode
relatif murah dan efektif untuk membedakan massa kistik payudara, yang

tidak memerlukan sampling, dari massa payudara padat yang biasanya


diperiksa dengan biopsi, dalam banyak kasus, hasil dari biopsi adalah
tumor jinak. Namun, sekarang mapan yang ultrasonografi juga
memberikan informasi berharga tentang sifat dan tingkat massa padat dan
lesi payudara lainnya.
4. MRI
MRI digunakan untuk beberapa kasus, yaitu : kasus kanker payudara
dengan hasil mammografi negatif, untuk mengetahui ukuran tumor dalam
kanker lobular invasif, untuk memantau respon kanker payudara terhadap
terapi preoreratif, ada kejanggalan antara penilaian pengkajian awal
terhadap gumpalan di payudara.
5. Infra merah digital
6. Positron Emision Tomography Scanning
PET scanning digunakan untuk mengidentifikasi metastasis kelenjar getah
bening nonaxilary untuk kanker payudara stadium lanjut dan kanker
payudara inflamatory sebelum memulai terapi non adjuvant.
7. Tes Genetik
Penyebab utama dari pewarisan kanker payudara adalah mutasi dari gen
BRCA1 atau BRCA2, yang merupakan faktor resiko dari pengembangan
penyakit lain. Akan tetapi gen ini sangat jarang ditemukan pada populasi
wanita dengan kanker payudara. Tes ini sudah dilakukan di Amerika
Serikat.

H. PENATALAKSANAAN
1.

Pembedahan
Terapi bedah bertujuan kuratif dan paliatif
Jenis terapi : lokal /lokoregional
Jenis terapi : terapi utama /terapi tambahan
Prinsif terapi kuratif bedah
Pengangkatan sel kanker secara kuratif dapat dilakukan dengan cara :

Modified radikal mastektomi

Breast conversing treatment (BCT) rekontruksi payudara

Tumorrektomi /lumpektomi /kuadran tektomi /parsial mastektomi


diseksi axsila
Pengobatan bedah kuratif dilakukan pada kanker payudara dini

(stadium 0, I, dan II), dan pegobatan paliatif bedah adalah dengan


mengangkat

kanker

payudara

secara

makroskopis

dan

masih

meninggalkan sel kanker secara mikroskopis dan biasanya dilakukan pada


stadium II dan IV dan juga untk mengurangi keluhan-keluhan penderita
baik perdarahan, patah tulang dan pengobatan ulkus.
Tipe-tipe pembedahan untuk membuang ca mammae

Lympectomi
Pembuangan sederhana benjolan tumor

Mastektomi parsial
Pembuangan tumor dan 2,5 7,5 cm (1 sampai3 inci) jaringan
sekitarnya ubcutaneoous

Mastektomy
Pembuangan seluruh jaringan yang mendasari tumor payudara ,
meninggalkan /membiarkan kulit, areola dan memasukkan putting
intact)
Mastectomy sederhana
Menghilangkan seluruh payudara tapi tidak dengan nodus axillary
Modifikasi mastektomy radikal
Menghilangkan seluruh payudara (dengan atau tanpa pectoralis minor)
menghilangkan beberapa axilla lympa nodes
Mastectoy radikal :
Menghilangkan seluruh payudara, acillary lympa nodes, pectolaris
muscle (besar atau kecil, dan lemak dan fasia yang berdekatan dengan
pembedahan
2.

Radioterapi
Pegobatan radioterapi adalah untu penobatanlokal /lokoregional yang
sifatnya bisa kuratif ataupaliatif. Radioterapi dapat merupakan terapi

utama , misalnya pada operasi BCT dan kanker payudara stadium lanjut
III. Sebagai terapi tambahan/adjuvan biasanya diberikan bersama dengan
terapi bedah dan kemoterapi pada kanker stadium I, II dan IIIA .
Pengobatan kemoterapi umumnya diberikan dalam regimen poliferasi
lebih baik dibanding pemberian pengobatan monofaramasi / monoterapi
3.

Hormon terapi
Pengobatan

hormon

terapi

meningkatkan survival, yaitu

untuk

pengobatan

sistemik

untuk

dengan pemberian anti esterogen,

pemberian hormon aromatase inhibitor, antiGn RH, ovorektomi.


Pemberian hormon ini sebagai adjuvan stadium I, II, III, IV terutama pada
pasiien yangreceptor hormon positif, hormon terpi dapat juga digunakan
sebagai terapi pravelensi kanker payudara.
4.

Terapi Paliatif dan pain


Terapi paliatif untuk dapat dikerjakan sesuai dengan keluhan pasien,
untuk tujuan perbaikan kualitas hidup. Dapat bersifat medikamentosa,
paliatif (pemberian obat-obat paliatif) dan non medicamentosa (radiasi
paliatif dan pembedahan paliatif)

5.

Immunoterapi dan ioterapi


Sampai saat ini penggunaan immunoterapi seperti pemberian interferon,
modified molekuler, biologi agent, masih bersifat terbatas sebagai terapi
adjuvan untuk mendukung keberhasilan pengobatan-pengobatan lainnya.
Pengobatan bioterapi dengan rekayasa genetika u ntuk mengoreksi mutasi
genetik untuk mengoreksi mutasi genetik masih dalam penelitian.

6.

Rehabilitasi fisik dan psikis


Penderita kanker payudara sebaiknya setelah mendapat

pengobatan

konvensiobnal seperti pembedahan, penyinaran, kemoterapi sebaiknya


dilakukan rehabolitasi fisik untuk mencegah timbulnya komplikasi akiabt
treatment tersebut. Rehabilitasi psikis juga diperlukan untuk mendorong
semangat hidup yang lebh baik.
7.

Kemoterapi
Pengobatan kemoterapi adalah pengobatan sisitemik yang mengguanakan
obat-obat sitostatika melalui aliran sisitemik, sebagai terapi utama pada

kanker stadium lanjut (stadium IIIB dan IV) dan sebagai terapi tambahan
Pada kasus karsinoma mammae dapat dilakukan pengobatan dengan
radiasi

dan

pengangkatan

mammae

(Mastektomi).

Pengangatan

tergantung sejauh mana pertumbuhan dan penyebaranya dipilih berdasar


stadiumnya dan chemotherapy.
ASUHAN KEPERAWATAN TEORITIS
A. Pengkajian
1. Identitas, (lihat factor-faktor predisposisi)
2. Keluhan utama ada benjolan pada payu dara dan lain-lain keluahan serta
sejak kapan , riwayat penyakit ( perjalanan penyakit, pengobatan yang
telah diberikan), faktro etiologi/resiko.
3. Konsep diri mengalmi perubahan pada sebagian besar klien dengan kanker
mamma.
4. Pemeriksaan ;
Mencari benjolan Karen aorgan payudara dipengaruhi oleh faktor hormone
antara lain estrogen dan progesterone, maka sebaiknya pemeriksaan ini
dilakukan saat pengaruh hormonal ini seminimal mungkin/setelah
menstruasi + 1 minggi dari hari akhir menstruasi. Klien duduk dengan
tangan jatuh ke samping dan pemeriksa berdiri didepan dalam posisi yag
lebih kurang sama tinggi.
a.

Inspeksi

Simetri mamma kiri-kanan

Kelainan papilla. Letak dan bentuk, adakah putting susu,


kelainan kulit, tanda radang, peaue d orange, dimpling, ulserasi
dan lain-lain. Inspeksi ini juga dilakukan dalam keadaan kedua
lengan diangkat ke atas untuk melihat apakah ada bayangan tumor
doio bawah kulit yang ikut bergerak atau adakah bagian yang
tertinggal, dimpling dan lain-lain.

b.

Palpasi

Kien berbaring dan diusahakan agar payudara tersebar rata atas


lapangan dada, jika perlu punggung diganjal bantal kecil.

Konsistensi, banyak, lokasi, infiltasi, besar, batas dan


operabilitas.

Pemebesaran kelenjar gerah bening (kelenjar aksila)

Dakah metastase Nudus (regional) atau organ jauh)

Stadium kanker (system TNM UICC, 1987)

B. Diagnosa keperawatan
Pre op :
1. Nyeri akut berhubungan dengan proses penyakit
2. Ansietas berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang pradan pasca
operasi dan takut akan tindakan yang dilakukan
3. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangnya informasi
Post op :
1. Nyeri akut berhubungan dengan insisi bedah, adanya selang nasogastrik
atau orogastrik
2. Gangguan citra diri berhubungan dengan kehilangan payudara, perubahan
anatomi tubuh
3. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan bedah pengangkatan,
radiasi atau agen kemoterapi, gangguan sirkulasi atau suplai darah,
pembentukan edema dan pengumpulan atau drainase terus-menerus.
4. Resiko jatuh berhubungan dengan kondisi pasca bedah (pasien masih
berada dalam pengaruh obat anastesi