Anda di halaman 1dari 50

Laporan uji impact

Kelompok 6

LABORATORIUM MATERIAL FAKULTAS TEKNIK MESIN UNIVERSITAS


BENGKULU

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1.

Latar Belakang

Ulet dang etas merupakan sifat dari material yang


perhitungkan adanya karena jika suatu material tersebut

di
tidak

diketahui sifat ulet dan getasnya maka material tersebut akan selalu
patah karena tidak di beri beban atau gaya yang sesuai dengan
kemampuanya sehingga beban yang di berikan akan cendrung
kurang atau di bawah dari kemampuan material tersebut sehingga
kemampuan material tersebut tidak maksimal dapat di gunakan,dan
dapat juga beban dan gaya yang diberikan berada diatas atau over
dari beban yang seharusnya sehingga membuat material tersebut
patah.
Uji impact adalah uji yang dilakukan untuk menggukur atau
menghitung besar ketahanan atau kekuatan suatu material terhadap
pembebana yang dilakukan secara sepontan atau beban kejut,ini
dilakukan untuk menggetahui besar kemampuan material tersebut
terhadap beban kejut dikarenakan banyak kejadian dimana suatu
material tidak mampu menahan kedatangan dari beban kejut.
Oleh sebab itu pengujian ini perlu dilakukan agar mahasiswa
dapat lebih mengetahui lagi tentang apa itu uji impact

1.2. Tujuan
a. Untuk dapat mengguanakan alat uji impact
b. Untuk lebih menggetahui tentang uji impact
c. Untuk menentukan nilai ke uletan dan kegetasan suatu material

d. Untuk dapat membandingkan antara material yang ulet dang getas

1.3.

Batasan Masalah

Pada praktikum ini digunakan bahan berupa baja kontruksi


yang berbentuk balok ang telah mengalami perlakuan panas yaitu
pada suhu 8500

dengan media pendingina 3 buah quenching

(oli,alcohol,air es) Dan duabuah normalizing(udara) kemudian takikan


yang digunakan adalah 1 buah takikan u dan 4 buah takikan v

BAB II
DASAR TEORI
2.1. Dasar Teori
2.1.1 Teori Umum
Material adalah segala sesuatu yang mempunyai massa dan menepati
ruang.
Material teknik adalah suatu ,matrial yang di gunakan untuk keperluan
keteknikan, Secara garis besar, material dibagi menjadi II, Diantaranya :
1. Material Organik dan
2. Material Anorganik
Diagaram jenis material berikut.

2.1.2 Diagram Jenis Material


MATRIAL
Organi
k

Non
organik

Logam

FE

Non logam

keramik

komposit

NON FE

PMC

BAJA
BESI COR
KARBON

PADUAN

polimer

THERMOPLASTIK

CMC

TRADISIONA
L

THERMOSETING

MMC

TEKNK

ELESTOMER

TINGGI
RENDAH
B.K Tinggi 0,5<C<2,1% WT
B.K menengah 0,2< C < 0,5%
WT

Besi cor putih rendah


Besi cor kelabu
Besi cor modular
Besi cor mallable

B.K rendah 0,02< C < 0,2%


WT

Gambar 2.1 Diagram Klasifikasi Material


a.

Material Organik
Merupakan material yang berasal dari makhluk hidup/tumbuhan.
Contoh : Kayu, Tulang, dll.

b. Material Anorganik
Merupakan material yang berasal bukan dari makhluk hidup.
Contoh : besi,tembaga dll
Material anorganik terbagi atas :
1. Logam
Material yang memiliki kondukivitas termal yang tinggi, ikatan
ion dan kovalen mengkilap dan meiliki kerapatan yang tinggi.
Logam terbagi atas logam ferro dan logam non ferro.
a. Logam ferro
Adalah logam yang unsur utamanya adalah Fe
1. Besi murni
Adalah besi dengan kandungan karbon 0%
2. Baja karbon

3.

Baja karbon rendah : 0,02 c< 0,2% wk


Baja karbon menengah : 0,2 c< 0,5% wk
Baja karbon tinggi : 0,5 c< 2,1% wk
Baja Paduan
Baja paduan tinggi : persentasi paduan > 8% wk
Baja paduan rendah : persentasi paduan < 8% wk
Baja paduan dibagi menjadi dua yaitu :

1. Baja paduan khusus


Baja jenis ini mengandung satu atau lebih jenis logam seperti
melydenum, nikel, carbon, magnesium, tungsten dan vandium dengan
adanya penambahan unsur tersebut, maka akan merubah sifat mekanik
dan kimianya seperti lebih kuat, keras, ulet dibandingkan dengan baja
karbon.
2. Hihg Speed Stell (HSS)
Kandugan karbon 0,7%-1,5%wt penggunaannya dapat dibuat untuk
perkakas potong seperti arius, reamers, countersinks lathetool bits dan
milling cutters.

Sifat khusus baja paduan


1. Baja tahan karat
- Baja tahan karat seperti
a. Memiliki daya tahan yang baik terhadap panas, karat & goresan atau
gesekan
b. Tahan terhadap temperatur rendah dan tinggi
c. Memiliki kekuatan besar dengan massanya yang kecil
d. Keras, ulet, densitasnya besar dan permukaanya tahan arus
e. Kuat dan dapat di tempa
f. Tahan terhadap oksidasi
g. Mudah dibersihkan
h. Mengkilap dan tampak menarik
2.

High Steel low alloy steel (HSLS)


Bersifat mudah dibentuk, anti bocor,. Tensile strenght, tinggi tahan
terhadap korosi ulet. Sifat mampu mesin yang baik dan mampu las

yang tinggi untuk mendapatkan sifat tersebut, baja ini diproses secara
khusus dengan unsur seperti tembaga(Cu), Nikel(Ni), Chromium(Cr),
Moly belenum(Mo), Vanadrum dan Columbium.
3.

Baja Perkakas
Berdasarkan unsur paduan dan proses pengerjaan panas yang
diberikan antara lain:
a. Carbon tool stell, kuat dan ulet serta tahan terhadap beban kejut.
b. Cool work tool steel, diperoleh dengan proses hardening
pendinginan yang berbeda-beda.
c. Hot work steel, merupakan paduan baja tungsten daqn
molydrum sehingga
sifatnya keras.
High Speed Steel.
d. Campuran karbon tungsten

Berdasarkan kegunaanya
a. Baja konstruksi ( Struktur steel )
b. Baja Perkakas ( Tool Steel )
a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
1.

Berdasarkan sifat fisik dan kimia


Baja Geram
Baja Panas
Baja Titik
Electrik steel
Magnetik steel
Non-magnetik steel
Baja tahan pakai
Baja tahan karat/korosi
Besi Cor
Besi inii dapat digunakan untuk menahan beban yang sangat tinggi
bersifat sangat keras, tahan berat, getas, dan tidak memiliki grafik.

a. Besi cor putih


Adalah besi cor yang tidak mempunyai grafit, biasanya terbentuk dari
proses pendinginan

Gambar.2.2 Besi Cor Putih


b. Besi karbon kelabu
Komposisi karbon 2,5%-4%wt.

Grafiknya berbentuk serpihan mampu rendam energi yang baik,


mampu menyerap panas, tetapi kekuatan tariknya rendah.Contoh : Bak
silinder mesin.

Gambar 2.3 Besi cor kelabu


c. Besi Cor modular
Dimana besi cor ini ditambahkan silikon sebanyak 1,8 % - 2,8 % wt
dan karbon dari 3%-4%wt, grafiknya berbentuk modular(bulat). Sifat
mekanik hampir seperti baja.
Contoh : Roda Gigi

Gambar 2.4. Besi cor modular


d. Besi Cor Malleable
Besi cor yang memiliki grafit berbentuk bangan kavar bersifat mampu
keras, kekerasan pada besi cor ditentukan oleh bentuk grafit yang
dimilikinya

Gambar .2.5 Besi cor malleable


B.

Non ferro
Merupakan logam dengan unsur penyusun utamanya bukan selain Fe.
Contoh : Zn, Al, dll
2. Non Logam
Merupakan unsur yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Elektron telah banyak berpasangan yang terdiri dari :

a.

Koposite
Adanya paduan logam dengan logam atau logam dengan non logam
yang terdiri dari matriks sebagai pengisi dan feber sebagai penguat
dimana jika keduanya bergabung akan membawa sifat aslinya, masingmasing terdiri dari
1. Polimer matrik composite (PMS)
Polimer berfungsi sebagai matriks
Fibernya dapat berupa logam logam lain
2. Ceramic matrik composite (CMC)
Ceramik berfungsi sebagai matriks
Fibernya dapat berupa E C2 Lain.
3.

Metal matriks Composite (MMC)


Logam berfungsi sebagai matriks
Fiber dapat berupa logam lain.

b. Polimer
Merupakan gabungan monomer-monomer hidrocarbon yang panjang
dan bercabang.
Polimer terbagi atas :
Termoplastik, rantai hidrokarbonnya panjang.
Contoh : karet gelang
Termo Setting, rantai hidrokarbonnya bercabang.
Contoh : Melamin, teplon
c.

Keramik
\Keramik merupakan paduan logam dengan non logam yang bergabung
secara sat. Menurut karbonik karbida, borida, oksida, silikon dan
karbon keramik terbagi atas :

1.

Keramik traditional
Keramik yang dibuat secara sederhana
Contoh : tembikar dan kendi
2. Keramik teknik
Keramik yang dibuat untuk tujuan keteknikan
Contoh : Keramik putih pada busi
Cacat Material
Merupakan ketidaksmpurnaan/kekurangan material secara permanen.
Cacat material terbagi atas :

1. Cacat Titik
Cacat yang terjadi pada skala atom, terdiri dari :
a. Vacanoy, kehilangan pada atom utamanya.
b. Substitusi, penggantiaan pada atom utamanya oleh atom lain
c. Intentisi, Penyisipan atom lain pada atom utamanya.

Gambar 2.6 cacat titik


2.

Cacat garis
Cacat yang berbentuk akibat derformasi
a. Cacat sisi, arah dislokasi tegak lurus bidang bujur
b. Cacat ulir, Arah dislokasi sejajar bidang bujur.

Gambar 2.7 cacat garis


3. Cacat Bidang
Cacat yang terjadi pada batas bulir
a. Cacat pada batas
b. Cacat pada Twinning

Gambar 2.8 cacat bidang


4. Cacat Ruang
Cacat Berupa retakan dan Rongga

Gambar 2.9 Cacat Ruang


Mikrostruktur dapat berupa
a. Atom
Merupakan bagian terkecil dari suatu material yang tidak dapat dibagi
lagi secara reaksi kimia biasa dimana masih memiliki sifat aslinya
dalam ukuran besar.
b. Sel Satuan
Merupakan kumpulan atom-atom tersusun dengan teratur dan
berulang.
Contoh : - BCC ( Body-Cetered-cubic)
- FCC ( Face Centered Cubic)
- HCP ( Hexagonal centered Cubic )
1. BCC(body centered cubic)
Adalah sebuah sel satuan struktur Kristal yang berbentuk
kubus dengan 1 atom utuh di pusat kubus dan atom pada setiap
sudut kubus

Gambar 2.10 Body Centread Cubic

2. FACE CENTERED CUBIC(FCC)


Adalah sebuah sel structure Kristal dengan atom utuh pada setiap
muka bidang dan atom pada setiap sudut

z
G

(0,0, a)

CB

( a,0,0)

(0, a, 0)

Gambar 2.11 Penampang FCC


3. HCP
Adalah dimana ada selstruktur Kristal yang tidak berbentuk kubic
melainkan sebuah sel struktur Kristal yang berbentuk heksagonal

Gbr 2.12 HCP(hexsagonal close package)


c. Butir
Merupakan kumpulan sel satuan yang tersusun dengan pola teratur
serta berulang dalam bentuk dua dimensi
d. Kristal
Merupakan kumpulan sel satuan yang tersusun dengan pola yang
teratur dan berulangdalam bentuk tiga dimensi.
Sifat-sifat material

1. Sifat fisik
Merupakan sifat yang telah ada pada material tanpa dilakukan
pengujian (Pembebanan luar). Contoh : Volume, dimensi, massa
jenis.
2. Sifat mekanik
Merupakan yang timbul pada material akibat adanya pembebanan luar.
a. Kekerasan : Merupakan kemampuan material untuk menahan
deformasi plastis lokal akibat penetrasi di permukaan.
b. Kekuatan : Merupakan kemampuan material untuk menahan
doformasi plastis total diseluruh permukaan spesimen.

Gambar.2.13 grafik kekuatan


c. Keuletan : Merupakan kemampuan atau besarnya tegangan
maksimum plastis yang mampu ditahan material tersebut sampai
patah.

Gambar 2.14 .grafik keuletan


d. Ketangguhan : Kemampuan material untuk menyerap besarnya energi
sampai aterial itu patah.

Gambar 2.15 .grafik kekuatan


e. Kelentingan : Besarnya energi yang diserap oleh material di daerah
dan akan kembali kebentuk semula jika beban dihilangkan.

Gambar 2.16 .grafik keuletan


f. Modulus Elastis : Besarnya perbandingan antara tegangan dan
regangan di daerah elastisitas.

Gambar 2.17.grafik modulus elastisitas


3. Sifat teknologi
Merupakan sifat mampu proses produksi.
Contoh : Mampu las, mampu tempa, mampu bentuk.
4. Sifat kimia
Merupakan sifat untuk bereaksi secara kimia atau dengan lingkungan.
Contoh : Korosi
5. Sifat termal
Sifat yang berhubungandengan kemampuan material untuk menyerap
dan menghantaran panas.
Contoh : Titik didih, titik beku
6. Sifat Listrik
Merupakan sifat material untuk dapat menghantarkan listrik dengan baik.
Contoh : Konduktor
7. Sifat Akuitik
Sifat yang berhubungan dengan bunyi
Contoh : Pemantulan bunyi
8. Sifat Optik
merupakan sifat yang berhubungan pencahayaan material.
Contoh : Difraksi.
Pengujian Material
1. Berdasarkan Pembebanan
Ditunjukkan untuk dapat melihat ketahanan material terhadap
pembebanan luar.
a. Pembebanan impak
Pembebanan yang dilakukan secara tiba-tiba
Contoh : Uji Impak

b. Pembebanan statis
Merupakan pembebanan yang mana tidak berubah menurut fungsi waktu
Contoh : uji Tarik
c. Pembebanan dinamis
Merupakan pembebanan dimana beban berubah menurut fungsi waktu
Contoh : Uji impak.

Gambar 2.18. Grafik pembebanan dinamis


2. Berdasarkan Merusak atau tidak merusak benda uji
a. Merusak benda uji ( Destructive test )
Contoh : Uji Keras
b. Tidak merusak benda uji ( non destructive test )
Contoh : Visual test, radiografi test, dye penetrant test eddy current.

Perlakuan Panas ( Heat Treatment )

Merupakan proses yang memanaskan bahan sampai suhu


tertentu dan kemudian di dinginkan menurut cara tertentu. Perlakuan
panas dapat mengubah sifat baja dengan cara mengubah ukuran dan
bentuk butiran-butirannya, juga mengubah unsur pelarutnya dalam
jumlah kecil.
Bentuk butirannya dapat diubah dengan cara dipanaskan pada
suhu diatas suhu pengkristalan kembali. Ukuran-ukuran butiranbutirannya dapat di kontrol melalui suhu dan lama pemanasannya,
serta kecepatan pendinginan baja setelah dipanaskan. Kemudian
seterusnya didinginkan dengan pendingin yang sesuai, sehingga akan
menghasilkan struktur yang diinginkan.

1.

Quencing
Adalah salah satu teknik perlakuan panas yang diawali dengan
proses pemanasan dengan temperatur autensim diikuti pendinginan
secara cepat, menggunakan media pendingin fluida cair ( Air, Oli, dll )
Tujuan quencing adalah untuk meningkatkan angka kekerasan yang
tinggi maka akan bersifat getas.
2.
Aneling
Adalah salah satu teknik perlakuan panas yang diawali dengan
pemanasan dengan temperatur autensi kemudian didinginkan dengan
cara lambat didiamkan didalam mesin pemanas sampai material dingin.
Tujuan utama dari auneling adalah untuk melunakkan specimen, untuk
angka kekerasan yang rendah akan bersifat ulet
3.
Normalizing
Adalah proses perlakuan panas yang diawali pemanasan
specimen dengan temperatur tertenautensi kemudian didinginkan
dengan suhu kamar,
Tujuan normalizing untuk meningkatkan angka kekerasan dan
kelunakan, maka material akan bersifat getas dan ulet.
4.
Tempering
Adalah suatu proses pemanasan kembali logam yang telah di
keraskan pada suhu 150-5600C dan didinginkan secara perlahan
dengan tujuan menghilangkan tegangan dalam dan mengurangi
kekerasa sehingga bahan akan lebih ulet dan hilang kerapatanya.
Proses pada saat perlakuan panas hingga tenperatur autenite dapat
dilihat pada diagram

Ga
mbar.2.19 Diagram perlakuan panas
Untuk memahami fase-fase yang terbentuk pada besi karbon pada
berbagai suhu ditunjukkan oleh diagram fase Fe-Fe3c berikut.

Gambar 2.20. Diagram Fe3c

2.2 TEORI KHUSUS


Uji impact adalah pengujian dengan menggunakan pembebanan
yang cepat (rapid loading). Pengujian impak merupakan suatu pengujian
yang mengukur ketahanan bahan terhadap beban kejut. Inilah yang
membedakan pengujian impak dengan pengujian tarik dan kekerasan,
dimana pembebanan dilakukan secara perlahan-lahan. Pengujian impak
merupakan suatu upaya untuk mensimulasikan kondisi operasi material
yang sering ditemui dalam perlengkapan transportasi atau konstruksi
dimana beban tidak selamanya terjadi secara perlahan-lahan melainkan
datang secara tiba-tiba, contoh deformasi pada bumper mobil pada saat
terjadinya tumbukan kecelakaan.
Pada uji impact terjadi proses penyerapan energi yang besar ketika
beban menumbuk spesimen. Energi yang diserap material ini dapat
dihitung dengan menggunakan prinsip perbedaan energi potensial. Dasar
pengujiannya yakni penyerapan energi potensial dari pendulum beban
yang berayun dari suatu ketinggian tertentu dan menumbuk benda uji
sehingga benda uji mengalami deformasi. Pada pengujian impak ini
banyaknya energi yang diserap oleh bahan untuk terjadinya perpatahan
merupakan ukuran ketahanan impak atau ketangguhan bahan tersebut.

Sifat keuletan suatu bahan dapat diketahui dari pengujian tarik


dan pengujian impact, tetapi dalam kondisi beban yang berbeda. Beban
pada pengujian impact seperti yang telah dijelaskan diatas adalah secara
tiba-tiba, sedangkan pada pengujian tarik adalah perlahan-lahan. Dari
hasil pengujian tarik dapat disimpulkan perkiraan dari hasil pengujian
impact. Tetapi dari pengujian impact dapat diketahui sifat ketangguhan
logam dan harga impact untuk temperatur yang berbeda-beda, mulai dari
temperatur yang sangat rendah (-30oC) sampai temperatur yang tinggi.
Sedangkan pada percobaan tarik, temperatur kerja adalah temperatur
kamar.
Ada dua macam metode uji impact, yakni metode charpy dan
izod,

perbedaan mendasar dari metode itu adalah pada peletakan

spesimen, Pengujian dengan menggunkan charpy lebih akurat karena


pada izod pemegang spesimen juga turut menyerap energi, sehingga
energi yang terukur bukanlah energi yang mampu di serap material
seutuhnya.
PENGUJIAN IMPACT METODE CHARPY :

Gambar 2.21 metode charpy


Batang uji Charpy banyak digunakan di Amerika Serikat, Benda
uji Charpy memiliki luas penampang lintang bujur sangkar (10 x 10
mm) dan memiliki takik (notch) berbentuk V dengan sudut 45o,
dengan jari-jari dasar 0,25 mm dan kedalaman 2 mm.

Gambar 2.22 bahan uji charpy


Benda uji diletakkan pada tumpuan dalam posisi mendatar dan
bagian yang bertakik diberi beban impak dari ayunan bandul,
Serangkaian uji Charpy pada satu material umumnya dilakukan pada
berbagai temperature sebagai upaya untuk mengetahui temperatur
transisi

Gambar 2.23 posisi uji charpy


prinsip dasar pengujian charpy ini adalah besar gaya kejut yang
dibutuhkan untuk mematahkan benda uji dibagi dengan luas
penampang patahan. Mula-mula bandul Charpy disetel dibagian atas,
kemudian dilepas sehingga menabrak benda uji dan bandul terayun
sampai ke kedudukan bawah Jadi dengan demikian, energi yang

diserap untuk mematahkan benda uji ditunjukkan oleh selisih


perbedaan tinggi bandul pada kedudukan atas dengan tinggi bandul
pada kedudukkan bawah (tinggi ayun). Segera setelah benda uji
diletakkan, kemudian bandul dilepaskan sehingga batang uji akan
melayang (jatuh akibat gaya gravitasi). Bandul ini akan memukul
benda uji yang diletakkan semula dengan energi yang sama. Energi
bandul akan diserap oleh benda uji yang dapat menyebabkan benda uji
patah tanpa deformasi (getas) atau pun benda uji tidak sampai putus
yang berarti benda uji mempunyai sifat keuletan yang tinggi.
Permukaan patah membantu untuk menentukan kekuatan impact
dalam hubungannya dengan temperatur transisi bahan. Daerah transisi
yaitu daerah dimana terjadi perubahan patahan ulet ke patahan getas.
Bentuk perpatahan dapat dilihat langsung dengan mata telanjang atau
dapat pula dengan bantuan mikroskop.

PENGUJIAN IMPACT METODE IZOD


Metode uji Izod lazim digunakan di Inggris dan Eropa, Benda uji Izod
mempunyai penampang lintang bujur sangkar atau lingkaran dengan
takik V di dekat ujung yang dijepit, kemudian uji impak dengan metode
ini umumnya juga dilakukan hanya pada temperatur ruang dan ditujukan
untuk material-material yang didisain untuk berfungsi sebagai cantilever
Berikut adalah gambar dari mesin uji impak metode izod

Gambar 2.24 metode izod


Perbedaan mendasar charpy dengan izod adalah peletakan spesimen.
Pengujian dengan menggunkan izod tidak seakurat pada pengujian
charpy, karena pada izod pemegang spesimen juga turut menyerap
energi, sehingga energi yang terukur bukanlah energi yang mampu di
serap material seutuhnya.

Gambar 2.25 Posisi Uji Izod

FAKTOR PENYEBAB PATAH GETAS PADA PENGUJIAN


IMPACT
1). Notch
Notch pada material akan menyebabkan terjadinya konsentrasi
tegangan pada daerah yang lancip sehingga material lebih mudah
patah. Selain itu notch juga akan menimbulkan triaxial stress.
Triaxial stress ini sangat berbahaya karena tidak akan terjadi
deformasi plastis dan menyebabkan material menjadi getas. Sehingga
tidak ada tanda-tanda bahwa material akan mengalami kegagalan.

2). Temperatur
Pada temperatur tinggi material akan getas karena pengaruh
vibrasi elektronnya yang semakin rendah, begitupun sebaliknya.

3). Strainrate
Jika pembebanan diberikan pada strain rate yang biasa-biasa saja,

maka material akan sempat mengalami deformasi plastis, karena


pergerakan atomnya (dislokasi). Dislokasi akan bergerak menuju ke
batas butir lalu kemudian patah. Namun pada uji impak, strain rate
yang diberikan sangat tinggi sehingga dislokasi tidak sempat
bergerak, apalagi terjadi deformasi plastis, sehingga material akan
mengalami patah transgranular, patahnya ditengah-tengah atom,
bulan di batas butir. Karena dislokasi ga sempat gerak ke batas butir.
Kemudian, dari hasil percobaan akan didapatkan energi dan
temperatur. Dari data tersebut, kita akan buat diagram harga impak
terhadap temperatur. Energi akan berbanding lurus dengan harga
impak. Kemudian kita akan mendapakan temperatur transisi.
Temperatur transisi adalah range temperature dimana sifat material
dapat berubah dari getas ke ulet jika material dipanaskan.
Temperatur transisi ini bergantung pada berbagai hal, salah
satunya aspek metalurgi material, yaitu kadar karbon. Material
dengan kadar karbon yang tinggi akan semakin getas, dan harga
impaknya kecil, sehingga temperatur transisinya lebih besar.
Temperatur transisi akan mempengaruhi ketahanan material
terhadap perubahan suhu. Jika temperatur transisinya kecil maka
material tersebut tidak tahan terhadap perubahan suhu.

BENTUK PATAHAN PADA UJI IMPACT


1) .Patahan Getas
Patahan yang terjadi pada benda yang getas, misalnya: besi
tuang, dapat dianalisis Permukaan rata dan mengkilap, potongan dapat

dipasangkan kembali, keretakan tidak dibarengi deformasi, nilai pukulan


takik rendah
2).Patahan Liat
Patahan yang terjadi pada benda yang lunak, misalnya: baja
lunak, tembaga, dapat dianalisis Permukaan tidak rata buram dan
berserat, pasangan potongan tidak bisa dipasang lagi, terdapat deformasi
pada keretakan, nilai pukulan takik tinggi
3).Patahan Campuran
Patahan yang terjadi pada bahan yang cukup kuat namun ulet,
misalnya pada baja temper Gabungan patahan getas dan patahan liat,
permukaan kusam dan sedikit berserat, potongan masih dapat
dipasangkan, ada deformasi pada retakan

BAB III
METODOLOGI
3.1.

DIAGRAM ALIR

MULAI

Study literatur

Penyiapan alat dan


bahan

PERLAKUAN
PANAS
Uji impact

pengambilan data

Analisa dan
pembahasan
SELESAI

Gambar 3.1 Diagram Alir

3.2 Alat Dan Bahan


3.2.1 Alat
1. Alat Uji Impact

Gambar 3.2 Alat Uji Impact


Spesifikasi Alat :
Merk

: HungTa

Type

: HT-8041 A

No

: 7398

Voltase

: 220V

Date

: 2010, 01

Capatity

: 30kg. m

Massa

: 26, 1 kg

Jari-jari

: 658 mm

Sudut

: 140

Tarikan

: Tipe

2. Oven Pemanas

Gambar 3.3 Oven Pemanas


SPESIFIKASI
MODEL : L 5/12/B170
NR/NO :195749
JAR/YEAR:2007
T MAX :12000
TYPE
:230V 1

3. Mistar
Adalah alat yang digunakan untuk menggukur spesimen

Gambar 3.4 Mistar

4. Ragum
Adalah alat yang digunakan untuk menjepit specimen saat pemotongan

Gambar 3.5 Ragum

5. Kikir Segitiga
Adalah alat yang digunakan untuk membuat takikan pada spesimen

Gambar 3.6 Kikir


6. Takik Bulat
Takik bulat merupakan alat yang digunakan untuk membuat takikan U
pada spesimaen uji impak. Adapu contoh gambarnya dapat dilihat
dibawah ini.

Gambar 3..9 Takik Bulat

7. Gergaji Besi
Adalah alat yang digunakan untuk memotong spesimen

Gambar 3.7 Gergaji Besi

8. Penjepit Spesimen
Adalah alat yang digunakan untuk menjepit specimen saat baru di
keluarkan dari oven pemanas

Gambar 3.8 Penjepit Spesimen

2 . Bahan
1. Baja Kontruksi

Adalah bahan yang akan digunakan untuk menjadi spesimen dalam


praktikum uji impact ini dan baja kontruksi ini memiliki bentuk persegi
panjang ( balok) dengan ukuran masing masing adalah 55mm

Gambar 3.9 Baja Kontruksi


2. Quenching
Adalah media pendinginan yang digunakan

Gambar 3.10 Media Pendinginan


3.3 Prosedur Praktikum
Adapun prosedur praktikum yang dilakukan pada saat praktikum yaitu :
1.Siapkan alat dan bahan.

Gambar 3.11. Bahan yang digunakan


2.Potong Bahan untuk dijadikan spesimen

Gambar 3. 12. Pemotongan Bahan untuk spesimen


3.Potongan besi yang sudah menjadi spesimen yang akan digunakan pada
praktikum

Gambar 3.13. Spesimen yang digunakan


4. Haluskan permukaan spesimen dengan menggunakan amplas

Gambar 3.14. Penghalusan permukaan spesimen dengan


menggunakan amplas

5.Masukkan spesimen kedalam oven,dan selanjutnya akan diberikan


perlakuan panas

Gambar 3.15. Masukkan spesimen kedalam oven

6.Setelah dilakukannnya pemanasan di oven,lalu spesimen dicelupkan


kedalam media pendingin,media pendingin yang digunakan adalah:
air es, normalizing/udara,alkohol,oli,dan minyak.

Gambar 3.16. Media pendingin

7.Selanjutnya permukaan spesimen kembali dihaluskan dengan


menggunakan amplas untuk membuang kotoran yang menempel pada
spesimen.

Gambar 3.17. Penghalusan permukaan

3.3 Prosedur Pengujian


Adapun prosedur pengujian impak adalah sebagai berikut.
1. Siapkan bahan yang telah mengalami perlakuan panas untuk
pengujian impak. Contoh bahannya dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 3.18 bahan uji impak


2. Hidupkan mesin uji impak dengan menghubungkannya ke
sumber listrik. Contoh mesin uji impak dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 3.19 Mesin uji impak


3. Tekan tombol down untuk menurunkan pendorong pendulum
( hammer). Contoh tombol down dapat dilihat pada gambar
dibawah ini.

Gambar 3.20 Tombol down


4. Tekan tombol up untuk menaikkan pendulum (hammer). Contoh
tombol up dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.21 Tombol Up


5. Atur sudut (alfa) pada universal impact tester sbesar 1400.
Contoh tombol up dapat dilihat pada gambar dibawah ini.

Gambar 3.22 Universal impact tester


6. Setelah pendulum telah mencapai posisi ayunan maksimal, tekan
tombol Tstart untuk melakukan pengujian impak pada specimen.
Contoh tombol Tstart dapat dilihat pada ganbar berikut.

Gambar 3.23 Tombol Tstart


7. Tarik tuas pengerem ayuanan pendulum(hammer). Contoh tuas
pengerem dapat dilihat pada ganbar berikut.

Gambar 3.24 Tuas pengerem

8. Catat besar sudut (beta) dari pengujian specimen. Contoh besar sudut
yang dihasilkan dari specimen pada pengujian impak dilihat pada
gambar berikut.

Gambar 3.25 Besar sudut


9. Tekan tombol down untuk menurunkan pendulum. Contoh tombol
down dapat dilihat pada gambar berikut.

Gambar 3.26 Tombol down

10. Matikan mesin uji impak dengan cara mencabut kabel dari sumber
listrik.
11. Amati patahan yang dihasilkan dari pengujian impak dan catat hasilnya
pada tabel. Contoh patahan yang dihasilkan dapat dilihat pada gambar
berikut.

Gambar 3.27 Patahan hasil uji impak

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 HASIL
Dari praktikum tersebut di dapatkan hasil sebagai berikut :

N
O

BAHA
N

1
2
3
4

BAJA
KONT
RUKS
I

JENIS
MEDI
PERLA
A
KUAN
COOL
PANAS
ANT
NORMA UDAR
LIZING
A
QUENC
AIR ES
HING
QUENC ALKO
HING
HOL
QUENC
OLI
HING
NORMA UDAR
LIZING
A

P(
M
M)

L(
M
M)

T(
M
M)

H(
M
M)

55

55

55

55

55

2mm
9mm
55 mm
9mm

Gambar 4.1.1 Spesimen


4.2 Perhitungan
a.Baja v normalizing
P = 55 mm
L = 8 mm

M(
K
G)

26.
1
26.
1
26.
1
26.
1
26.
1

14
0
14
0
14
0
14
0
14
0

98
13
1
10
0
10
4
83

KE
T

T = 8 mm
h = 2 mm
m = 26,1 kg
R = 658 mm = 0,658 mm
g = 9,81 m/s2
A = (t-h) l

Ei = m.g.r (cos cos )


= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (cos 98-cos 140)
= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (-0.139-(-0,77)
= 168,47 kg.m/s2 . (0,631)

= (8-2) 8
= 6.8
= 48 mm2

= 106,30 joule

Hi =

Ei 106,30 joule
=
=
2,21 joule/mm2
A
48 mm 2

b.Baja dengan perlakuan (air es)


P = 55 mm
L = 8mm
T = 8 mm
h = 2 mm
m = 26,1 kg
R = 658 mm = 0,658 mm
g = 9,81 m/s2
A = (t-h) l
= (8-2) 8
= 6.8

Ei = m.g.r (cos cos )


= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (-0,65-(-0,77)
= 168,47 kg.m/s2 . (0,114)

= 48 mm2

Hi

= 19.19 joule
Ei 19.19 joule
=
=
0,399 Joule/mm2
A
48 mm 2

c.Baja dengan perlakuan (alkohol)


P = 55 mm
L = 8 mm
T = 8 mm
h = 2 mm

m = 26,1 kg
R = 658 mm = 0,658 mm
g = 9,81 m/s2
A = (t-h) l

Ei = m.g.r (cos cos )

= (8-2) 8
= 6.8

= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (-0,17-(-0,77)


= 168,47 kg.m/s2 . (0,59)

= 48 mm2

= 100.46 joule

Hi

Ei 100,46 joule
=
=
2.09 Joule/mm2
A
48 mm2

D .Baja dengan perlakuan (oli)


P = 55 mm
L = 8 mm
T = 8 mm
h = 2 mm
m = 26,1 kg
R = 658 mm = 0,658 mm
g = 9,81 m/s2
A = (t-h) l

Ei = m.g.r (cos cos )

= (8-2) 8
= 6.8

= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (-0,24-(-0,77)


= 168,47 kg.m/s2 . (0,52)

= 48 mm2

= 88.96joule

Hi

Ei 88.96 joule
=
=
1.85Joule/mm2
A
48 mm2

E .Baja takikan u dengan perlakuan (normalizing)


P = 55 mm
L = 8 mm
T = 8 mm
h = 2 mm
m = 26,1 kg
R = 658 mm = 0,658 mm
g = 9,81 m/s2

A = (t-h) l

Ei = m.g.r (cos cos )

= (8-2) 8
= 6.8

= 26,1 kg.9,81 m/s2.0,658 m (-0,12-(-0,77)


= 168,47 kg.m/s2 . (0,89)

= 48 mm2

= 150.25 joule

Hi

Ei 150.25 joule
=
=
3.13 Joule/mm2
A
48 mm 2

4.3 Tabel Hasil Perhitungan


JENI
PERLAKUAN
NORMALIZIN
GV
AIR ES
ALKOHOL
OLI
NORMALIZIN
GU

Ei (joule)

HI (joule/mm)

sifat

106.30

2.21

ulet

19.19
100.46
88.96
150.25

0.399
2.09
1.85
3.13

getas
ulet
ulet
ulet

4.4 GRAFIK

NILAI EI DAN HI
EI

HI

4.5 PEMBAHASAN

Pengujian impack adalah untuk melihat dan mengetahui


ketahanan suatu material terhadap secara tiba-tiba.dalam pratikum

kali

ini

di

lakukan

pengujian

impack

dengan

metodecharpy.bentuk takikan yang di pakai adalah Takikan V


dan

U.

Temperatur

material

sangat

mempengaruhi

harga

impack,semakin tinggi temperatur maka semakin tinggi energi


impack dan begitupun sebaliknya.dan tidak itu saja kecepatan
pembebanan semakin lambat pembebanan maka EI semakin
basar.kemudian kecepatan regangan pada jenis mikro material
strukturDari hasil pratikum didapatkan data sebaigai berikut nilai
keuletan tertinggih adalah normalizing u dan yang terrendah
adalah quenching air es.

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan yang telah dilakukan didapat kesimpilan sebagai berikut :
1. Perlakuaan panas terhadap specimen mempengaruhi harga impack.
2. Bentuk takikan mempengaruhi harga impack
3. Makin tinggi temperatur maka semakin tinggi harga impack.
5.2 Saran
Hal-hal yang perlu di perhatikan agar hasil yang kita dapatkan maksimal
adalah :

1.Pahami prosedur kerja uji impack


2. Teliti dan fokus melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA

Hestiawan,Hendri.Panduan Praktikum Material Teknik.2010


Lowrence H.Van Vlack.Ilmu dan Teknologi Bahan,Ilmu logam dan bukan
logam.Penerbit Erlangga,jakarta.1991
Triza.Ardikop.Laporan Praktikum Material Teknik.2009.

LAMPIRAN

Gambar material uji impact

Gambar alat uji impact

TUGAS SEBELUM
PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK
UJI IMPACK

NAMA: 1. RAHMAT KURNIAWAN


2. APRIZAL SATRIA UTAMA
3. ADMON DANI
4. YOGI SEPTIAN NUGRAHA
KELOMPOK :6 (ENAM)
ASISTEN: 1.MEY HARTONI
2. WAWAN KURNIAWAN
3.DIMAS BIMO
4.WIKA RATNASARI
5. REDO VANESA
6. KURNIAWAN D.N
7. RIZFIAN RAMADHAN

LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK


PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BENGKULU
2015

TUGAS SEBELUM PRAKTIKUM


1. Standar pengujian impak..
a. Metode charpy
Metode ini letak specimen horizontal, letak pembebanan searah dengan
takikan.

b. Metode izod
Metode ini letak specimen vertical, dan arah pembebanan brlawanan,

2.Kegunaan temperature transisi


Untuk mengetahui perubahan yang dialami specimen pada temperature
tehenti, sehingga

kita dapat merancang suatu alat yang tahan tehadap

temperature tertentu.
3.Factor yang mempengaruhi harga impak
a. Bentuk takikan
- Takikan besar, HI besar
- Takikan kecil, HI kecil
b. Kecepatan pembebanan atau kecepatan peregangan
c. Temperatur

TUGAS SESUDAH
PRAKTIKUM MATERIAL TEKNIK
UJI IMPACK

NAMA: 1. RAHMAT KURNIAWAN


2. APRIZAL SATRIA UTAMA
3. ADMON DANI
4. YOGI SEPTIAN NUGRAHA
KELOMPOK :6 (ENAM)
ASISTEN: 1.MEY HARTONI
2. WAWAN KURNIAWAN
3.DIMAS BIMO
4.WIKA RATNASARI
5. REDO VANESA
6. KURNIAWAN D.N
7. RIZFIAN RAMADHAN

LABORATORIUM MATERIAL TEKNIK


PROGRAM STUDI TEKNIK MESIN
FAKULTAS TEKNIK

UNIVERSITAS BENGKULU
2015

TUGAS SESUDAH PRAKTIKUM


1. Perbedaan antara patah ulet dan patah getas.

a. Patah Ulet
- Permukaan patahnya buram
- Breserabut
- Trejadi pada batas butir
- Energi impack tinggi
- Terjadi pada suhu tinggi
b. Patah getas
- Permukaan patahnya mengkilap
- Terjadi pada subbutir
- Tidak terjadi deformasi plastis (sedikit )
- Energi impacknya rendah
- Terjadi pada suhu rendah
2. Hal- hal yang menyebabkan patah getas

- Temperatur rendah
- Laju regangan tinggi
- Terjadi pengerasan butir
3. Interprestasi harga impack

- Makin tinggi harga impack, makin tinggi suhu karena material


semaki ulet
- Rendah temperatur getas material
- Makin kecil sudut tolakan maka material itu akan makin mudah
patah.
4. Pengaruh anisotropi pada plat terhadap harga impack. Anisotropi adalah
logam dimana penumpukan intinya tidak teratur.
Pengaruhnya :
- Harga impack diseluruh batang spesimen akan sama jika di uji
kekerasannya.

- Ulet dan tidak mudah patah.