Anda di halaman 1dari 11

Proses Karburising

Pada beberapa komponen elemen mesin seperti poros atau roda gigi, kadang diperlukan sifat
yang keras dan tahan aus pada permukaanya, sedangkan pada inti atau bagian dalam tetap
dalam keadaan lunak dan ulet. Hal ini akan berdampak pada ketahanan benda terhadap
keausan dan keuletan yang sesuai dengan kebutuhan.
Karburising adalah proses dimana benda akan dikeraskan pada kulitnya dengan
cara penambahan karbon ke permukaan benda, karburising dilakukan dengan cara
memanaskan benda kerja dalam lingkungan yang banyak mengandung karboin aktif,
sehingga karbon berdifusi masuk ke permukaan baja (Wahid Suherman, 1998: 147).
Pada temperature karburising, media karbon terurai menjadi CO yang selanjutnya terurai
menjadi karbon aktif yang dapat berdifusi masuk ke dalam baja dan menaikkan kadar karbon
pada permukaan kulit baja.
Pada proses perlakuan panas, termasuk karburising selalu mengacu pada diagram fase yang
berdasarkan pada karbon dari baja. Baja pada dasarnya adalah paduan besi dan karbon (FeC), besi dan karbon selain dapat membentuk larutan padat juga dapat membentuk senyawa
karbid besi (sementit, Fe3C). kita ketahui bahwa carbon memiliki sifat keras tapi getas,
sedangkan besi mempunyai sifat ulet.
Tujuan Karburising

Menghsilkan permukaan material yang tahan aus terhadap gesekan


Namun tetap ulet pada tengahnya untuk mengurangi hentakan pada mesin

Ada 3 cara penambahan karbon atau karburasi :


1. Menggunakan medium padat atau Pack carburizing.
2. Menggunakan medium cair atau Liquid carburizing.
3. Menggunakan medium gas atau Gas carburizing.

PACK CARBURIZING
adalah proses di mana karbon monoksida yang berasal dari senyawa padat terurai pada
permukaan logam menjadi karbon baru lahir dan karbon dioksida. Karbon baru lahir diserap
ke dalam logam, dan karbon dioksida segera bereaksi dengan bahan karbon hadir di
kompleks karburasi solid untuk menghasilkan karbon monoksida segar. Pembentukan karbon
monoksida ditingkatkan oleh energizer atau katalis, seperti barium karbonat (BaCO3),
kalsium karbonat (CaCO3), kalium karbonat (K2CO3), dan natrium karbonat (Na2CO3),
yang hadir di kompleks karburasi.
Ini energizer memfasilitasi pengurangan karbon dioksida dengan karbon untuk membentuk
karbon monoksida. Dengan demikian, dalam sistem tertutup, jumlah energizer tidak berubah.
Karburasi terus asalkan cukup karbon hadir untuk bereaksi dengan karbon dioksida berlebih.
Pack karburasi tidak lagi menjadi proses komersial utama. Ini telah terutama karena
digantikan dengan gas lebih terkendali dan kurang padat karya dan proses karburasi cair.
Namun, setiap biaya gas keunggulan tenaga kerja karburasi atau karburasi cair mungkin
memiliki lebih karburasi paket dapat dinegasikan harus benda kerja memerlukan langkahlangkah tambahan seperti pembersihan dan penerapan lapisan pelindung di karburasi operasi
stopoff. Masalah lingkungan juga menyebabkan pengurangan penggunaan karburasi pak.
Komponen yang akan dikarburisasi ditempatkan dalam kotak yang berisi media penambah
unsur karbon atau mediaKarburasi.

Proses Pack carburizing

Dipanaskan pada suhu austenisasi (842953 0C). Akibat pemanasan ini, media karburasi
akan teroksidasi menghasilkan gas CO2 dan CO.
Gas CO akan bereaksi dengan permukaan baja membentuk atom Karbon yang kemudian
berdifusi ke dalam baja.
Media karburisasi yang digunakan pada proses karburising padat ( pack carurizing ) adalah
arang tempurung kelapa, arang kayu, arang kokas, arang kulit atau arang tulang. Beberapa
jenis dari media karburisasi tadi yang sering digunakan adalah arang kayu jati dan arang
tempurung kelapa.
Arang adalah residu atau sisa pembakaran dari kayu yang terdiri dari karbon yang diperoleh
dengan cara membakar kayu pada kondisi tertutup yang dapat membuat kayu terbakar dari
abu. Denga kondisi tersebut kayu membara dan terbentuk menjadi menjadi arang yang unsure
utamanya karbon. Unsur sisa lainnya dari arang adalah abu yaitu sekitar 0,5 6 % tergantung
dari jenis kayunya.
Arang setalah dikeluarkan dari tempat pengarangan mempunyai kelembaban kurang dari 1%.
Penyerapan kelembaban udara setelah arang dikeluarkan beberapa saat dari tempat
pengarangan, dengan cepat akan meningkatkan kelembaban kira-kira 5 10%, bahkan untuk
arang yang terbakar sempura ( well burned charcoal ). Sedangkan untuk arang yang tidak
terbakar

secara

maksimal,

kelambaban

bias

mencapai

15

bahkan

lebih.

Abu adalah unsure mineral seperti halnya tanah liat, silica, kalsium, dan magnesium oksid.
Kadar abu ( ash content ) dari arang berkisar antara 0,5 samapi lebih dari 5 % tergantung dari
jenis kayunya. Arang dengan kualitas baik mempunyai kadar abu kira-kira 3%.
Kadar karbon murni ( fixed carbon content ) dari arang berkisar dari yang terendah kira-kira
50 % sampai yang tinggi sekitar 95 %. Berdasarkan www.fao.org kadar karbon untuk arang
kayu tropis keras ( tropical hardwood charcoal ) atau dalam hal ini adalah arang kayu jati
( tectonia grandis charcoal ) memiliki kadar karbon sebesar 69,8 % dan kadar abu sebesar 1,2
%. Sedangkan untuk arang tempurung kelapa ( coconut shell charcoal ) memiliki kadar
karbon sebesar 83,0 % dan kadar abu sekitar 1,5 %.
Kadar karbon yang terdapat pada media karburisasi sangat mempengaruhi hasil dari proses
karburising, karena karbon yang dipanaskan dalam kotak karburisasi akan terurai menjadi CO
yang selanjutnya terurai menjadi karbon aktif yang dapat berdifusi masuk ke dalam baja, dan
akhirnya akan menaikkan konsentrasi karbon pada permukaan baja. Seperti yang kita ketahui
bahwa semakin besar konsentrasi karbon pada permukaan baja maka kekerasannya akan
meningkat pula.
Benda kerja yang akan dikarburising dimasukkan ke dalam kotak karburisasi yang
sebelumnya sudah diisi media karburisasi. Selanjutnya benda kerja ditimbuni dengan bahan

karburisasi dan benda kerja lain diletakkan diatasnya demikian selanjutnya (Wahid
Suherman, 1998: 150).
Kandungan karbon dari setiap jenis arang adalah berbeda-beda. Semakin tinggi kandungan
karbon dalam arang, maka penetrasi karbon ke permukaan baja akan semakin baik pula.
Bahan karbonat ditambahkan pada arang untuk mempercepat proses karburisasi. Bahan
tersebut adalah barium karbonat (BaCO3) dan soda abu (NaCO3) yang ditambahkan
bersama-sama dalam 10 40 % dari berat arang (Y. Lakhtin, 1975: 255).
Sebenarnya tanpa energiserpun dapat terjadi karburisasi, karena temperature yang tinggi ini
mula-mula karbon teroksidir oleh oksigen dari udara yang terperangkap dalam kotak menjadi
CO2 (Wahid Suherman, 1998: 149).
Reaksi yang terjadi adalah
CO2 + C (arang) -------------> 2CO
Dengan temperatur yang semakin tinggi kesetimbangan rekasi maikn cenderung ke kanan
makin banyak CO.
2CO -------------> CO2 + C (larut ke dalam baja)
dimana C yang terbentuk ini merupakan atom karbon (carbon nascent) yang aktif berdifusi
masuk ke dalam fase austenit dari baja ketika baja dipanaskan. Besarnya kadar karbon yang
terlarut dalam baja pada saat baja dalam larutan pada gamma fase austenit selama karburisasi
adalah maksimal 2 %.
Kotak karburisasi yang dipanaskan harus dalam keadaan tertutup rapat, hal ini bertujuan
untuk mencegah terjadinya reaksi antara media karburisasi dengan udara luar. Cara yang
biasanya ditempuh unutk menghindari hal tadi adalah dengan memberikan lapisan tanah liat
(clay) antara tutup dengan kotak karburisasi.
Menurut Wahid herman (1998: 150) bahwa kotak karburisasi dipanaskan dalam dapur
sampai temperatur 825 925 o C dengan segera permukaan benda kerja akan menyerap
karbon sehingga dipermukaan akan terbentuk lapisan berkadar karbon tinggi sampai 1,2 %.

Dan menurut B.H Amstead (1979: 152) bahwa proses karburisasi padat banyak diterapkan
untuk memperoleh lapisan yang tebal antara 0,75 4 mm.
Reaksi Karbon Monoksida :
CO2 +C--->2CO
Reaksi Cementite untuk Karbon Monoksida :
2CO+3Fe--->Fe3C+CO2

LIQUID CARBURIZING
Pada karburasi yang menggunakan medium cair atau Liquid Carburizing biasanya pemanasan
benda kerja menggunakan garam cair (salt bath) .

Garam cair terdiri dari campuran sodium cyanide (NaCN) atau potasium cyanide (KCN)
yang berfungsi sebagai karburasi agent yang aktif.
Dengan natrium carbonat (NaCO3) yang berfungsi sebagai energizer dan penurun titik cair
garam. Dalam praktek, NaCN lebih banyak digunakan karena relaitif lebih murah, lebih
banyak menagndung karbon dan titik cair relatif lebih rendah (500C).
Dengan pemanasan akan terjadi reaksi-reaksi:
2NaCN + O2 -------------> 2 NaCNO
4NaCNO -------------> 2NaCN + Na2CO3 + CO + 2N
3Fe + 2CO -------------> Fe3C + CO2
Pada proses karburisasi ini selain terserapnya karbon, nitrogen juga ikut terserap. Bahwa
karburisasi cair hamper sama dengan cyaniding, yang menyerap nitrogen dan karbon.
Bedanya terletak pada tingkat perbandingan banyaknya karbon dan nitrogen yang terserap.
Pada karburisasi cair penyerapan karbon lebih dominan. Banyaknya karbon dan nitrogen
yang terserap ini tergantung pada kadar cianida dalam salt bath dan temperatur kerjanya. Salt
bath untuk karburisasi cair biasanya mengandung 40 50 % garam cianida. Temperatur yang
digunakan adalah 900 o C selama 5 menit, kedalaman penetrasi karbon yang dicapai antara
0,1 0.25 mm dari permukaan baja.
Kadar karbon yang dikarburisasi akan naik dengan semakin tingginya temperatur dan makin
lamanya waktu karburisasi. Bila kadar karbon dipermukaan terlalu tinggi maka kekerasan

tidak begitu tinggi, karena itu baja yang akan di quenching langsung setelah pemanasan untuk
karburisasi hendaknya dipakai temperatur yang tidak begitu tinggi.
Selama pemakaian konsentrasi cianida dalam salt bath dapat berubah sehingga tentu saja sifat
salt bath dapat berubah, karena itu kondisi salt bath harus secara rutin diperiksa. Apabila
terdapat perubahan yang berarti, harus dilakukan penambahan garam baru unutk menjaga
konsentrasi tetap sebagaimana semula.
Semua cianida adalah senyawa yang sangat beracun, karena itu pemakaiannya harus sangat
hati-hati. Demikian pula pada saat membuang sisa-sisa cairan yang akan terkena garam
cianida tersebut harus benar-benar mengikuti petunjuk dari pihak berwenang.

GAS CARBURIZING
Proses pengerasan ini dilakukan dengan cara memanaskan baja dalam dapur dengan atmosfer
yang banyak mengandung gas CO dan gas hidro karbon yang mudah berdifusi pada
temperatur karburisasi (900 950)oC selama 3 jam.
Gas-gas pada temperatur karburisasi itu akan bereaksi menghasilkan karbon aktif yang
nantinya berdifusi ke dalam permukaan baja.

Pada proses ini lapisan hypereutectoid yang menghalangi pemasukan karbon dapat
dihilangkan dengan memberikan diffusion period, yaitu dengan menghentikan pengaliran gas
tetapi tetap mempertahankan temperatur pemanasan. Dengan demikian karbon akan berdifusi
lebih ke dalam dan kadar karbon pada permukaan akan semakin naik.
Karburising dalam media gas lebih menguntungkan dibanding dengan karburising jenis lain
karena permukaan benda kerja tetap bersih, hasil lebih banyak dan kandungan karbon pada
lapisan permukaan dalam dikontrol lebih teliti. Menurut B.H Amstead (1979: 153)
mengatakan bahwa proses karburisasi media gas digunakan untuk memperoleh lapisan tipis
antara 0,1 0,75 mm.
1. Vacum Carburizing
adalah non-ekuilibrium, meningkatkan difusi-jenis proses karburasi di mana baja sedang
diproses adalah austenitized dalam vakum kasar, carburized dalam tekanan parsial gas
hidrokarbon, menyebar dalam vakum kasar, dan kemudian didinginkan baik minyak atau gas.
Dibandingkan dengan suasana konvensional karburasi (lihat artikel "Gas karburasi" dan
"Pack karburasi" dalam Volume ini), vakum karburasi menawarkan keseragaman yang sangat
baik dan pengulangan karena tingkat kontrol yang tinggi proses mungkin dengan tungku
vakum, peningkatan sifat mekanik karena kurangnya oksidasi intergranular, dan berpotensi
mengurangi waktu siklus terutama ketika tinggi suhu proses mungkin dengan tungku vakum
digunakan.
2. Plasma Carburizing
adalah salah satu cara modifikasi permukaan dengan membentuk karbida pada permukaan
logam dalam vakum memanfaatkan energi termal dan reaksi elektrokimia DC plasma.
Sebuah metode karburasi plasma baru yang dikembangkan oleh NDK menyediakan produkproduk berkualitas tinggi presisi yang baik dalam lingkungan yang bersih dan dengan
efisiensi tinggi.

Setelah permukaan material sudah mengandung cukup karbon, proses dilanjutkan dengan
pengerasan yaitu dengan pendinginan (Quenching) untuk mendapatkan kekerasan yang
tinggi.
PLASMA CARBURIZING
Benda kerja dipanaskan sampai suhu pengolahan dengan pemanas eksternal dalam tungku
vakum.
Kemudian, gas langka yang mengandung gas hidrokarbon, seperti metana atau propana,
dimasukkan ke dalam tungku dengan tekanan dari 2 sampai 3 Torr. Setelah itu, beberapa ratus
volt tegangan DC diterapkan antara benda kerja dan tungku sebagai mantan menjadi katoda.
Dengan demikian, debit cahaya menghasilkan int tungku dan ion gas dalam plasma bereaksi
dengan benda kerja dan carburizing itu.

Peralatan Karburasi Plasma

Tuntutan bagian industri berkualitas tinggi yang sangat tinggi hari ini seiring dengan inovasi
teknologi.

TUGAS
PROSES PODUKSI II
Oleh:
A Fady Wiraputra KH
1115021001
Adi Ernadi
1115021002
Harry Christianto
1115021039

Jurusan Teknik Mesin


Fakultas Teknik
Universitas Lampung
2014