Anda di halaman 1dari 17

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

1. Tahapan perkembangan pada anak?

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

2. Apa maksud dari IQ 50?dan derajatnya?


Tingkat-tingkat retardasi mental dibagi menjadi:
1) Retardasi Mental Ringan
Nilai IQ pada Retardasi Mental Ringan 52-69. ketrampilan sosial dan
komunikasinya mungkin adekuat dalam tahun-tahun pra sekolah.
Tetapi pada saan anak menjadi lebih besar, defisit kognitif tertentu
seperti kemampuan yang buruk untuk berpikir abstrak dan egosentrik
mungkin membedakan dirinya dari anak lain seusianya. Biasanya
mengalami keterlambatan dalam mempelajari bahasa. Namun, masih
dapat berbicara untuk keperluan sehari-hari dan mampu melakukan
kegiatan sehari-hari serta terampil dalam perkerjaan rumah tangga.
Dan akan mengalami kesulitan dalam pelajaran sekolah.
2) Retardasi Mental Sedang
Nilai IQ pada Retardasi Mental Sedang adalah 36-51. ketrampilan
komunikasi berkembang lebih lambat. Isolasi sosial dirinya mungkin
dimulai pada usia sekolah dasar. Dapat dideteksi lebih dini jika
dibandingkan dengan Retardasi Mental Ringan. Biasanya lambat dalam
perkembangan pemahaman dan penggunaan bahasa. Ketrampilan
merawat diri dan ketrampilan motoriknya pun terlambat. Penderita
juga memerlukan pengawasan seumur hidup dan program pendidikan

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

khusus demi mengembangkan potensi mereka yang terbatas agar


memperoleh beberapa ketrampilan dasar.
3) Retardasi Mental Berat
Nilai IQ pada Retardasi Mental Berat 20-35. bicara anak terbatas dan
perkembangan motoriknya buruk. Pada usia pra sekolah sudah nyata
ada gangguan. Pada masa usia sekolah kemampuan bahasanya
berkembang. Kebanyakan dengan gangguan motorik yang berat akibat
kerusakan perkembangan pada susunan saraf pusat.
4) Retardasi Mental Sangat Berat
Nilai IQ Retardasi Mental Sangat Berat di bawah 10. ketrampilan
komunikasi dan motoriknya sangat terbatas. Pada masa dewasa dapat
terjadi perkembangan bicara dan mampu menolong diri sendiri secara
sederhana. Tetapi juga masih membutuhkan perawatan orang lain.
Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga Univesity Press.
3. Apa macam gangguan perkembangan dan adaptasi pada anak?
Gangguan
Perkembangan
Pervasif
(Pervasive
Developmental
Disorders /PDD) terdiri dari beberapa jenis di antaranya adalah:
1) Autism
2) Aspergers
3) Retts
4) Childhood Disintegrative Disorder (CDD)
5) Gangguan pervasive opada masa kanak-kanak (Pervasive
Developmental Disorder) or Not Otherwise Specified (PDD:NOS)
DSM-IV
4. Mengapa anak mengalami gangguan tumbuh kembang dan
adaptasi?

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

Senyawa/bahan
berbahaya

yang

kimia,
terdapat

mikroorganisme
pada

produk

dan

cemaran

perikanan

antara

fisik
lain

disebabkan oleh lingkungan tempat hidup ikan, termasuk lokasi


budidaya. Logam berat terutama merkuri merupakan bahan cemaran
yang perlu diwaspadai karena dapat menimbulkan efek akumulatif
seperti halnya penyakit Minamata di Jepang (Anon, 2000). Pada daerah
perairan yang berdampingan/berdekatan dengan industri berat diduga
tingkat pencemarannya lebih tinggi dibandingkan dengan perairan
yang tidak berdekatan dengan industri berat. Hal ini disebabkan
senyawa logam berat banyak digunakan dalam industri sebagai bahan
baku, katalisator, fungisida maupun bahan tambahan lainnya. Menurut
FDA di dalam Anon (1998), selain merkuri (Hg), jenis logam berat yang
membahayakan kesehatan antara lain timbal (Pb), kadmium (Cd),
arsen (As), khromiun (Cr) dan nikel (Ni). Jenis biota laut yang sangat
potensial terkontaminasi logam berat adalah kekerangan mengingat
cara makannya dengan menyaring air. Di samping itu, sifat kekerangan
ini lebih banyak menetap (sessile) dan bukan termasuk migratory
(Wahyuni & Hartati, 1991), sehingga biota ini sering digunakan sebagai
hewan uji dalam pemantauan tingkat akumulasi logam berat pada
organisme laut.

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

Berdasarkan Kep. Ditjen POM No. 03725/B/SK/VII/1989 dan FAO/WHO


(1976) kadar Hg maksimum pada biota laut yang boleh dikonsumsi
sebesar 0,5 ppm dan kadar Pb sebesar 2 ppm. Menurut Inswiasri dkk.
(1997), rata-rata kadar Hg dan Pb di perairan Teluk Jakarta masingmasing adalah 0,004 ppm dan berkisar antara 0,00 1,57 ppm. Kadar
logam berat tersebut akan terakumulasi apabila limbah buangan
industri di sekitar perairan Teluk Jakarta meningkat terutama oleh
pabrik penghasil peralatan listrik, pabrik baterai dan industri penghasil
tinta (Darmono, 1995).
Logam berat (Hg dan Pb) dalam air kebanyakan berbentuk ion dan
logam tersebut diserap oleh kerang secara langsung melalui air yang
melewati membran insang atau melalui makanan. Selain melalui
insang, logam berat juga masuk melalui kulit (kutikula) dan lapisan
mukosa yang selanjutnya diangkut darah dan dapat tertimbun dalam
jantung dan ginjal kerang (Noviana, 1994; Laws, 1981). Menurut
Hutagalung (1991), kemampuan biota laut (ikan, udang dan moluska)
dalam mengakumulasi logam berat di perairan tergantung pada jenis
logam berat, jenis biota, lama pemaparan serta kondisi lingkungan
seperti pH, suhu dan salinitas. Semakin besar ukuran biota air, maka
akumulasi logam berat semakin meningkat. Toksisitas logam berat
dalam kerang yang ditimbulkan akibat akumulasi dalam jaringan tubuh
mengakibatkan

keracunan

dan

kematian

bagi

biota

air

yang

mengkonsumsinya (Sukiyanti, 1987). Sifat toksik logam Hg dalam


bentuk senyawa HgCl2 dengan konsentrasi 0,027 ppm menyebabkan
kematian pada larva bivalvia (muloska) dan konsentrasi Pb sekitar 2,75
ppm mulai bersifat letal bagi biota perairan seperti krustasea
(Mulyaningsih, 1998).
Berdasarkan sifat kimia dan fisikanya, maka tingkat atau daya racun
logam berat terhadap hewan air dapat diurutkan (dari tinggi ke rendah)
sebagai berikut merkuri (Hg), kadmium (Cd), seng (Zn), timah hitam
(Pb), krom (Cr), nikel (Ni), dan kobalt (Co) (Sutamihardja dkk, 1982).
Hg2+ >Cd2+ > Ag2+ > Ni2+ > Pb2+ > As2+> Cr2+ >Sn2+ > Zn2+

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

5. Mengapa anak lebih suka main dengan anak kecil dan sulit
mengerti aturan main, mengenal warna, nama benda, dan sulit
mengingat nama binatang?
Idem no. 4
Intoksikasi logam beratdefek SSPgangguan pada pusat sensorium
dan pusat memorysulit mengenal warna, mengerti aturan bermain,
nama benda, sulit mengingat nama binatang dan orang.
Maramis,

W.

F.

(1995).

Ilmu

Kedokteran

Jiwa.

Surabaya:

Airlangga Univesity Press.


6. Apa hubungan ibu hamil makan seafood dengan kondisi anak
sekarang?
Idem no. 4
7. Mengapa

kemampuan

bicara

terhambat

terutama

untuk

mengucapkan r, l, dan s?
Jenis retardasi mental :
a) Mental retardation ringan atau semu (Cultural familial retardation),
disebabkan oleh kondisi lingkungan dan sosial ekonomi keluarga
yang tidak mendukung.
b) Mental retardation berat, disebabkan oleh faktor genetik yang
dibedakan menjadi:
a. Down syndrome, yang terdiri dari :
1) Trisomy 21, terjadi kelebihan kromosom pada pasangan
kromosom 21 yang terdiri atas tiga kromosom. Biasanya
terjadi

pada

anak-anak

yang

berasal

dari

ibu

yang

mengandung pada usia kritis yaitu usia di bawah 20 tahun


atau di atas 40 tahun.
2) Mosaicism, terjadi karena

adanya

kegagalan

dalam

perkembangan sel secara sempurna sehingga menimbulkan


kelebihan atau kekurangan kromosom pada tubuh.
3) Translocation, terjadi akibat adanya pasangan kromosom yang
melekat

pada

menimbulakan
penderitanya.

pasangan

kromosom

gangguan

terhadap

lainnya,
fungsi

sehingga
intelektual

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

b. Phenylketonuria (PKU), kemampauan tubuh untuk mengubah


phenylalanin menjadi tirosin terganggu sehingga tidak memenuhi
persyaratan yang dibutuhkan tubuh.
c. Tay Sachs Disease, terjadi pembesaran pada tengkorak sehingga
menimbulkan kemunduran sistem syaraf. Penyakit ini biasa
terdeteksi pada usia 6 bulan. Akibat penyakit ini penderita
kehilangan kemampuan intelektual dan otot-ototnya menjadi
lemah.
Intoksikasi

logam

beratdefek

SSPgangguan

pada

pusat

motorikbicara terhambat.
Harold I, dkk. (1997). Sinopsis Psikiatri. Jakarta: Bina Rupa
Aksara.
8. Apa saja pemeriksaan fisik dan penunjang yang dibutuhkan?
Pemeriksaan Penunjang/Diagnostik:
1) Uji Laboratorium
Uji intelegensi standar dan uji perkembangan
Pengukuran fungsi adaptif
2) EEG (Elektro Esenflogram)
Gejala kejang yang dicurigai
Kesulitan mengerti bahasa yang berat
3) CT ata MRI
Pembesaran kepala
Dicurigai kelainan otak yang luas
Kejang lokal
Dicurigai adanya tumor intra kranial
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed. 3.
Jakarta: Media Aesculapius.
9. DD?
AUTISME
Definisi:
Istilah autisme berasal dari kata Autos yang berarti diri sendiri dan
isme yang berarti suatu aliran, sehingga dapat diartikan sebagai
suatu paham tertarik pada dunianya sendiri (Suryana, 2004).
Ciri-ciri autisme:
Menurut American Psychiatric Association dalam buku Diagnostic
and Statistical Manual of Mental Disorder Fourth Edition Text

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

Revision (DSM IV-TR, 2004), kriteria diagnostik untuk dari gangguan


autistik adalah sebagai berikut:
A. Jumlah dari 6 (atau lebih) item dari (1), (2) dan (3), dengan
setidaknya dua dari (1), dan satu dari masing-masing (2) dan (3):
1. Kerusakan
kualitatif
dalam
interaksi
sosial,
yang
dimanifestasikan

dengan

setidak-tidaknya

dua

dari

hal

berikut:
a) Kerusakan yang dapat ditandai dari penggunaan beberapa
perilaku non verbal seperti tatapan langsung, ekspresi
wajah, postur tubuh dan gestur untuk mengatur interaksi
sosial.
b) Kegagalan

untuk

mengembangkan

hubungan

teman

sebaya yang tepat menurut tahap perkembangan.


c) Kekurangan dalam mencoba secara spontanitas untuk
berbagi kesenangan, ketertarikan atau pencapaian dengan
orang lain (seperti dengan kurangnya menunjukkan atau
membawa objek ketertarikan).
d) Kekurangan dalam timbal balik sosial atau emosional.
2. Kerusakan kualitatif dalam komunikasi yang dimanifestasikan
pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut:
a) Penundaan
dalam
atau
kekurangan

penuh

pada

perkembangan bahasa (tidak disertai dengan usaha untuk


menggantinya melalui beragam alternatif dari komunikasi,
seperti gestur atau mimik).
b) Pada individu dengan bicara yang cukup, kerusakan
ditandai

dengan

kemampuan

untuk

memulai

atau

mempertahankan percakapan dengan orang lain.


c) Penggunaan bahasa yang berulang-ulang dan berbentuk
tetap atau bahasa yang aneh.
d) Kekurangan divariasikan, dengan permainan berpura-pura
yang spontan atau permainan imitasi sosial yang sesuai
dengan tahap perkembangan.
3. Dibatasinya pola-pola perilaku yang
berbentuk

tetap,

ketertarikan

berulang-ulang

dan

aktivitas,

dan
yang

dimanifestasikan pada setidak-tidaknya satu dari hal berikut:

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA


a) Meliputi

preokupasi

dengan

satu

atau

lebih

pola

ketertarikan yang berbentuk tetap dan terhalang, yang


intensitas atau fokusnya abnormal.
b) Ketidakfleksibilitasan pada rutinitas non fungsional atau
ritual yang spesifik.
c) Sikap motorik yang berbentuk tetap dan berulang (tepukan
atau mengepakkan tangan dan jari, atau pergerakan yang
kompleks dari keseluruhan tubuh).
d) Preokupasi yang tetap dengan bagian dari objek
B. Fungsi yang tertunda atau abnormal setidak-tidaknya dalam 1
dari area berikut, dengan permulaan terjadi pada usia 3 tahun:
(1) interaksi sosial, (2) bahasa yang digunakan dalam komunikasi
sosial atau (3) permainan simbolik atau imajinatif.
C. Gangguan tidak lebih baik bila dimasukkan dalam Retts Disorder
atau Childhood Disintegrative Disorder.
Tingkat kecerdasan anak autis:
Pusponegoro dan Solek (2007)

menyebutkan

bahwa

tingkat

kecerdasan anak autis dibagi mejadi 3 (tiga) bagian, yaitu:


a) Low Functioning (IQ rendah)
Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori low functioning (IQ
rendah), maka dikemudian hari hampir dipastikan penderita ini tidak
dapat diharapkan untuk hidup mandiri, sepanjang hidup penderita
memerlukan bantuan orang lain.
b) Medium Functioning (IQ sedang)
Apabila penderita masuk ke dalam kategori medium functioning (IQ
sedang), maka dikemudian hari masih bisa hidup bermasyarakat
dan penderita ini masih bisa masuk sekolah khusus yang memang
dibuat untuk anak penderita autis.
c) High Functioning (IQ tinggi)
Apabila penderitanya masuk ke dalam kategori high functioning (IQ
tinggi), maka dikemudian hari bisa hidup mandiri bahkan mungkin
sukses dalam pekerjaannya, dapat juga hidup berkeluarga.
RETARDASI MENTAL
Definisi:
1. Retardasi

mental

adalah

kemampuan

mencukupi (WHO, MENKES 1990).

mental

yang

tidak

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

2. Retardasi mental adalah suatu kondisi yang ditandai oleh


intelegensi yang rendah yang menyebabkan ketidakmampuan
individu

untuk

belajar

dan

beradaptasi

terhadap

tuntutan

masyarakat atas kemampuan yang dianggap normal (Carter CH,


Toback C).
Etiologi:
Adanya disfungsi otak merupakan dasar dari Retardasi Mental.
Faktor-faktor yang potensial sebagai penyebab Retardasi Mental:
Non organik:
Kemiskinan dan keluarga yang tidak harmonis.
Faktor sosiokultural.
Interaksi anak-pengasuh yang tidak baik.
Penelantaran anak.
Organik:
Faktor Pra-konsepsi
Abnormalitas single gene (penyakit-penyakit metabolik,
kelainan neurocutaneous).
Kelainan kromosom.
Faktor Pre-natal
Gangguan pertumbuhan otak trimester I
Kelainan kromosom
Infeksi intra uterin, misal HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, radiasi)
Disfungsi plasenta
Kelainan konginetal dari otak
Gangguan pertumbuhan otak trimester II dan III
Infeksi intra uterin, misal HIV
Zat-zat teratogen (alkohol, kokain, logam-logam berat)
Ibu DM, PKU
Toksemia gravidarum
Disfungsi plasenta
Ibu malnutrisi
Faktor Peri-natal
Sangat prematur
Asfeksia neotorum
Trauma lahir
Meningitis
Kelainan metabolik
Faktor Post Natal
Trauma berat pada kepala/susunan saraf pusat
Neurotoksin

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

CVA
Anoksia, misalnya tenggelam
Metabolik, misalnya gizi buruk, kelainan hormonal
Infeksi, misalnya meningitis ensefalitis
Patofisiologi:
Retardasi Mental termasuk kelemahan atau ketidakmampuan
kognitif yang muncul pada masa kanak-kanak (sebelum usia 18
tahun) yang ditandai dengan fungsi kecerdasan di bawah normal (IQ
70-75

atau

kurang)

dan

disertai

keterbatasan-keterbatasan

sedikitnya dua area fungsi adaptif yaitu berbicara dan berbahasa,


ketrampilan merawat diri, kerumahtanggaan, ketrampilan sosial,
penggunaan

sarana

prasarana

komunitas,

pengarahan

diri

kesehatan dan keamanan akademik fungsional bersantai dan


bekerja.
Pada Retardasi Mental terjadi kerusakan muskuloskeletal. Kerusakan
neurologis itu meliputi: kerusakan otak, kelainan kongenital dan
mikrosefal. Sedangkan kerusakan muskuloskeletal meliputi: anomali
ekstremitas konganital, masukan kalori/nutrisi tidak mencukupi,
distorsi

muskular.

Kerusakan

neurologis

dan

kerusakan

muskuloskeletal akan menyebabkan terjadinya kurang kesadaran


tentang bahaya dan kerusakan fungsi motorik dari otot sehingga
akan muncul berbagai masalah dalam keperawatan.
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed.
3. Jakarta: Media Aesculapius.
Maramis, W. F. (1995). Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya:
Airlangga Univesity Press.
Pdiatri. Buku Kedokteran. Jakarta: EGC.
ADHD
Definisi:
ADHD merupkan kependekan dari attention deficit hyperactivity
disorder,

(Attention

perhatian,

Deficit

berkurang,

Hyperactivity = hiperaktif, dan Disorder = gangguan). Atau


dalam bahasa Indonesia, ADHD berarti gangguan pemusatan
perhatian disertai hiperaktif.
Jadi, jika didefinisikan, secara umum ADHD menjelaskan kondisi
anak-anak

yang

memperlihatkan

simtom-simtom

(ciri

atau

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

gejala) kurang konsentrasi, hiperaktif,dan impulsif yang dapat


menyebabkan ketidakseimbangan sebagian besar aktivitas hidup
mereka.
Etiologi:
Bahan kajian lebih lanjut akan dikemukakan hasil penelitian Faron
dkk, 2000, Kuntsi dkk, 2000, Barkley, 20003 (dalam MIF Baihaqi
& Sugiarmin, 2006), yang mengatakan bahwa terdapat faktor
yang berpengaruh terhadap munculnya ADHD, yaitu:
Faktor genetika
Bukti penelitian menyatakan bahwa faktor genetika merupakan
faktor penting dalam memunculkan tingkah laku ADHD. Satu
pertiga dari anggota keluarga ADHD memiliki gangguan, yaitu jik
orang tua mengalami ADHD, maka anaknya beresiko ADHD
sebesar 60 %. Pada anak kembar, jika salah satu mengalami.
ADHD, maka saudaranya 70-80 % juga beresiko mengalami
ADHD.
Pada studi gen khusus beberapa penemuan menunjukkan bahwa
molekul

genetika

gen-gen

tertentu

dapat

menyebabkan

munculnya ADHD.Dengan demikian temuan-temun dari aspek


keluarga, anak kembar, dan gen-gen tertentu menyatakan bahwa
ADHD ada kaitannya dengan keturunan.
Faktor neurobiologis
Beberapa dugaan dari penemuan tentang

neurobiologis

diantaranya bahwa terdapat persamaan antara ciri-ciri yang


muncul pada ADHD dengan yang muncul pada kerusakan fungsi
lobus prefrontl. Demikian juga penurunan kemampuan pada anak
ADHD pada tes neuropsikologis yang dihubungkan dengan fungsi
lobus prefrontal. Temuan melalui MRI (pemeriksaan otak dengan
teknologi tinggi)menunjukan ada ketidaknormalan pada bagian
otak depan. Bagian ini meliputi korteks prefrontal yang saling
berhubungan dengan bagian dalam bawah korteks serebral
secara kolektif dikenal sebagai basal ganglia.
Bagian otak ini berhubungan dengan atensi, fungsi eksekutif,
penundaan

respons,

dan

organisasi

respons.

Kerusakan-

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

kerusakan daerah ini memunculkan ciri-ciri yang serupa dengan


ciri-ciri pada ADHD. Informasi lain bahwa anak ADHD mempunyai
korteks prefrontal lebih kecil dibanding anak yang tidak ADHD.
Ciri-ciri ADHD:
a. Inatensi
Yang dimaksud adalah bahwa sebagai individu penyandang
gangguan ini tampak mengalami kesulitan dalam memusatkan
perhatiannya. Mereka sangat mudah teralihkan oleh rangsangan
yang tiba-tiba diterima oleh alat inderanya atau oleh perasaan
yang timbul pada saat itu. Dengan demikian mereka hanya
mampu mempertahankan suatu aktivitas atau tugas dalam
jangka waktu yang pendek, sehingga akan mempengaruhi proses
penerimaan informasi dari lingkungannya.
b. Impulsifitas
Yang dimaksud adalah suatu gangguan perilaku berupa tindakan
yang tidak disertai dengan pemikiran. Mereka sangat dikuasai
oleh perasaannya sehingga sangat cepat bereaksi. Mereka sulit
untuk

memberi

prioritas

kegiatan,

sulit

untuk

mempertimbangkan atau memikirkan terlebih dahulu perilaku


yang akan ditampilkannya. Perilaku ini biasanya menyulitkan
yang bersangkutan maupun lingkungannya.
c. Hiperaktivitas
Yang dimaksud adalah suatu gerakan yang berlebuhan melebihi
gerakan yang dilakukan secara umum anak seusianya. Biasanya
sejak bayi mereka banyak bergerak dan sulit untuk ditenangkan.
Jika dibandingkan dengan individu yang aktif tapi produktif,
perilaku hiperaktif tampak tidak bertujuan. Mereka tidak mampu
mengontrol

dan

melakukan

koordinasi

dalam

aktivitas

motoriknya, sehingga tidak dapat dibedakan gerakan yang


penting dan tidak penting. Gerakannya dilakukan terus menerus
tanpa lelah, sehingga kesulitan untuk memusatkan perhatian.
American Psychiatric Assosiations (2005). Diagnostic and
Statistical Manual of Mental Disorders (DSM IV). Washington,
DC. American Psychiatric Associations.

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

Alberto, P. A,. & Anne, C. A,. (1986). Applied Behavior Analysis


for Teachers. Ohio: Merrill Publishing Company.
Grad, L. Flick. (1998). ADD/ADHD Behavior-change Resource
Kit. New York: The Center for Applied Research in Education.
10. Macam Penanganan dari DD dan alasanya?
Penatalaksanaan Medis
Terapi terbaik adalah pencegahan primer, sekunder dan tersier:
a) Pencegahan primer
Tindakan yang dilakukan untuk menghilangkan atau menurunkan
kondisi yang menyebabkan gangguan. Tindakan ini termasuk
pendidikan

untuk

meningkatkan

pengetahuan

dan

kesadaran

masyarakat umum, usaha terus menerus dari profesional bidang


kesehatan, konseling keluarga dan genetik dapat membantu.
b) Pencegahan sekunder
Tujuannya mempersingkat perjalanan penyakit.
c) Pencegahan tertier
Tujuannya menekan kecacatan yang terjadi
Dalam pelaksanaannya, kedua jenis ii dilakukan bersamaan meliputi:
a) Pendidikan untuk anak mancakup latihan ketrampilan adaptif, sosial
dan kejuruan.
b) Terapi pra luka agresif dan melukai diri
c) Kognitif dan psikodinamika
d) Pendidikan keluarga
e) Intervensi farmakologis:
Obat-obatan psikotropika (Tioridasin/Mellaril)

untuk

remaja

dengan perilaku yang membahayakan diri sendiri.


Psikostimulan untuk remaja yang menunjukkan tanda-tanda

gangguan konsentrasi/gangguan hiperaktif.


Antidepresan (Imipramin/Trofanil)
Karbamazepin (Tegretol) dan Propanolol (Inderal)
Mansjoer, Arif. (2001). Kapita Selekta Kedokteran. Jil. 1. Ed. 3.
Jakarta: Media Aesculapius.
11.

Factor

yang

berpengaruh

terhadap

terapi

perkembangan?

gangguan

1. Berat ringannya derajat kelainan


Semakin ringan gangguan autis maka kesembuhan anak autis akan
berjalan lebih cepat daripada yang menderita autis berat.
2. Usia anak saat pertama kali ditangani

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

LBM 5 PERILAKU & JIWA

Terapi yang dimulai sedini mungkin sebelum usia 5 tahun lebih membantu
kesembuhan anak autis karena perkembangan paling pesat dari otak manusia terjadi pada usia 2-3 tahun. Sebaliknya

penatalaksanaan terapi

setelah usia 5 tahun hasilnya berjalan lebih lambat. Jika sudah terdeteksi
sejak dini tentunya akan semakin cepat proses penanganannya. Banyak
metode dan cara untuk mendidik anak autis.
3. Proses pendidikan dan pengajaran
Proses pendidikan dan pengajaran tersebut baik datang dari anak, orang
tua, lingkungan keluarganya juga sarana prasarana dan strategi belajar.
Lingkungan keluarga yang mendukung kesembuhan anak autis akan lebih
membantu

keberhasilan

anak

lingkungan

keluarga

yang

autis

dalam

tidak

pendidikannya

menerima

daripada

kehadirannya,

menyembunyikan dan tidak mengakui anak autis tersebut.


Penerimaan di sini bukan hanya secara moral saja, tetapi dapat diaplikasikan ke dalam bentuk perilaku yang memberikan pendidikan pada
anak autis dengan menyekolahkan pada sekolah khusus autisme atau
lembaga pusat terapi anak kebutuhan khusus. Pendidikan anak autisme
tidak hanya dari sekolah atau terapi saja tetapi juga dibutuhkan peran
orang tua dan anggota keluarga di rumah. Adapun pendidikan di rumah
adalah menyesuaikan dengan tugas perkembangan anak dan melanjutkan
materi dari sekolah khusus autisme.
Peran orang tua dalam penyembuhan anak penderita autisme sangatlah
penting. Pertama adalah pekerjaan rumah, kedua generalisasi yaitu mentranfer kegiatan yang dipelajari di sekolah ke tempat lain. Hal ini
membutuhkan peran dari orang tua. Juga mengenai sosialisasi orang tua
harus ikut berperan sebab waktu di sekolah hanya sekitar 6 jam saja, sisa
waktu lebih banyak di rumah karena itu kerja sama antara orang tua dan
guru perlu sekali. Orang tua adalah orang yang paling kenal dengan anak,
jadi guru, dokter, dan terapis harus mendengar informasi dari orang tua
anak autis. Orang tua harus mempunyai pemahaman tentang anak autis.
Selain harus melakukan pengobatan secara medis, orang tua juga dituntut
bijak dan sabar menghadapi kondisi anak.
Selain itu strategi belajar juga sangat menentukan, penggunaan sarana
prasarana serta metode yang dipakai untuk menerapi anak autis. Terapis
yang kreatif dan berpengalaman, metode terapi yang disertai media
belajar yang mendukung, akan membantu kesembuhan anak autis lebih
cepat dibandingkan dengan terapis yang ala kadarnya serta sarana dan
prasarana yang seadanya. Intensitas waktu terapi anak autis juga ikut

LBM 5 PERILAKU & JIWA

JOKO WIBOWO
SENTOSO (012116424)

berpengaruh dalam cepat lambatnya kesembuhan. Apapun metode dan


terapi yang dipilih penanganan harus terstruktur, terpola, konsisten,
kontinyu dan terprogram. Penanganan harus dipertimbangkan sesuai dengan kebutuhan dan usia anak.
4. Kesehatan
Anak autis yang sakit-sakitan akan memperlambat kesembuhannya. Gizi
dan nutrisi anak autis yang tercukupi mempengaruhi perkembangan fisik
sekaligus kemampuan berpikir si anak. Anak autis biasanya memiliki
gangguan metabolisme dan problem pencernaan.
5. Kecerdasan
Semakin cerdas anak autis, maka semakin cepat daya penangkapan
materi. Dengan demikian anak yang memiliki IQ di bawah rata-rata akan
lebih lambat daripada anak autis yang memiliki IQ rata-rata maupun di
atas rata-rata.
SUMBER :
Maulana Mirza. 2007. A