Anda di halaman 1dari 10

I.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Perairan Indonesia menyimpan potensi kekayaan rumput laut setidaknya
terdapat 555 jenis rumput laut. Jenis-jenis rumput laut yang tumbuh dan mempunyai
nilai ekonomi penting diantaranya adalah Eucheuma spp., Gracilaria spp., dan
Hypnea spp. Rumput laut merupakan penghasil bahan-bahan hidrokoloid sebagai
komponen primernya, yang saat ini bahan hidrokoloid tersebut banyak digunakan
dalam berbagai dunia industri. Berdasarkan kandungan hidrokoloidnya, rumput laut
dibagi menjadi tiga macam yaitu agarofit, karaginofit, dan alginofit. Rumput laut
penghasil agar-agar (agarofita) yaitu Gelidium, Gracilaria, Hypnea, Laurencia,
Ahnfeltia, dan Gelidiopsis.
Agar banyak dimanfaatkan dalam beberapa bidang industri, misalnya industri
makanan, farmasi, kosmetik, dan sebagai media pertumbuhan mikroba. Pemanfaatan
dalam industria farmasi, agar digunakan sebagai pencahar atau peluntur dan media
kultur bakteri. Pemanfaatan dalam industria kosmetika digunakan dalam industria
salep, cream, sabun, dan pembersih muka. Penggalian manfaat rumput laut hingga
kini terus dilakukan di berbagai negara, sejalan dengan menguatnya gerakan kembali
ke alam.
Pengolahan rumput laut menjadi bahan baku telah banyak dilakukan para
petani, tetapi hanya sampai tingkat pengeringan. Produksi agar di Indonesia hanya
untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang digunakan sebagai makanan.
Indonesia saat ini masih mengimpor agar-agar dari negara lain. Oleh karena itu, perlu
ditingkatkan pengetahuan para petani dalam hal pengolahan, khususnya rumput laut
kering. Pengolahan rumput laut kering sesuai dengan standar ekspor akan
mempunyai nilai tambah ekonomi.
B. Tujuan
Tujuan dari praktikum ekstraksi agar ini adalah untuk mengetahui proses
ekstraksi kandungan kimia rumput laut seperti agar dan nilai rendemennya.

C. Tinjauan Pustaka

Rumput laut merupakan golongan makroalga yaitu kelompok tumbuhan


berklorofil yang terdiri dari satu atau banyak sel, berbentuk koloni. Hidup bersifat
bentik di tempat-tempat yang perairannya dangkal dan dasar perairannya berpasir,
berlumpur atau berpasir berlumpur. Rumput laut menyenangi daerah pasang surut
yang perairannya jernih dan menempel pada karang yang mati, potongan karang
maupun substrat keras lainnya, baik yang dibentuk secara alamaiah maupun buatan
(Afrianto & Liviawati, 1993).
Jenis-jenis rumput laut yang banyak dimanfaatkan bagi manusia pada
umumnya dari kelas rumput laut merah (Rhodophyceae) yang mengandung berbagai
senyawa di antaranya adalah agar-agar, karaginan, porpiran, maupun furcelaran yang
penggunaannya sudah semakin berkembang di berbagai industri. Rhodophyceae juga
mengandung pigmen fikobilin yang terdiri dari fikoeritrin dan fikosianin yang
merupakan cadangan makanan berupa karbohidrat (Floridean Starch). Ganggang
merah dan ganggang cokelat juga merupakan bahan makanan yang baik sebagai
penghasil yodium (Indriani & Suminarsih, 2001)
Spesies-spesies rumput laut yang bernilai ekonomi penting di Indonesia salah
satunya adalah anggota rumput laut merah (Rhodophyta) yang berperan dalam dunia
perdagangan dan industri. Spesies-spesies komersial dari rumput laut merah ini
kebanyakan berasal dari marga Eucheuma, Gelidium, Gelidiella, Gracilaria dan
Hypnea. Enteromorpha intestinalis merupakan jenis Rhodophyta yang berfungsi
sebagai obat anti jamur, bakteri, sumber asam folat, sumber focoferol, vitamin E,
sumber protein dan sebagai obat penurun tekanan darah tinggi (Handayani, 2006).
Beberapa rumput laut merah penghasil hidrokoloid, antara lain: agar
(dihasilkan dari jenis-jenis agarofit) dan karaginan (dihasilkan dari jenis-jenis
karaginofit). Agarofit adalah rumput laut penghasil agar. Spesies-spesies rumput laut
merah penghasil agar adalah Gracilaria, Gelidium, dan Gelidiella. Kualitas agar-agar
dapat ditingkatkan dengan suatu proses pemurnian yaitu membuang kandungan
sulfatnya. Produk ini dikenal dengan nama agarose. Kualitas agar-agar yang berasal
dari Gelidium dan Gelidiella lebih tinggi dibanding dari Gracilaria. Dalam skala
industri agar-agar dari Gelidium mutunya dapat ditingkatkan menjadi agarose, tetapi
Gracilaria masih dalam skala laboratorium (Atmadja dan kadi, 1996).

II. MATERI DAN METODE


A. Materi

Bahan bahan yang digunakan yaitu rumput laut Gracillaria verrucosa 50 gr,
H2O2, 6%, KCl 5%, KOH 10%, dan akuades 1000 ml.
Alat-alat yang digunakan yaitu, baki, blender, gelas ukur 100 ml, kain saring,
kompor, Pengaduk, dan timbangan analitik.
B. Metode
Diagram alir proses pengolahan rumput laut menjadi agar:
G.verrucosa 50 gr diblender

Dimasak dan tambahkan akuades 500 ml selama 105menit

Ditambahkan KCL 5% 100 ml dan KOH 10% 100 ml selama 15


menit
Disaring

Ditambahkan akuades 500 ml selama 10 menit

Ditambahkan H2O2 6% 100 ml selama 10 menit

Disaring

Dijemur dibawah terik matahari

Dihitung nilai rendemennya


Rendemen Agar (%) =
Bobot akhir
X 100%
Bobot awal

III. HASIL DAN PEMBAHASAN


A. Hasil

Berdasarkan praktikum yang telah dilaksanakan, didapatkan hasil sebagai


berikut:
Tabel Pengamatan Ekstraksi Agar:

Parameter

Bobot Awal

Bobot Akhir

100 gram

24,9 gram

Agar

Bobot lembaran agar - agar

Rendemen Agar (%) = Bobot rumput laut kering X 100%


24,9 gram

Rendemen Agar (%) = 100 gram X 100% = 24,9 %

B. Pembahasan
Agar-agar merupakan senyawa ester asam sulfat dari senyawa galaktan,
tidak larut dalam air dingin, tetapi larut dalam air panas dengan membentuk gel.
Agar-agar

diekstraksi

dari ganggang

laut

yang

berasal

dari

kelompok

Rhodophyceae, seperti Gracilaria dan Gelidium (Chapman & Chapman, 1980).


Fungsi utama agar-agar adalah sebagai bahan pemantap, penstabil, pengemulsi,
pengisi, penjernih,

pembuat

gel,

dan

lain-lain.

Beberapa industri

yang

memanfaatkan sifat kemampuan membentuk gel dari agar-agar adalah industri


makanan, farmasi, kosmetik, kulit, fotografi, dan sebagai media penumbuh mikroba
(Distantina, 2008).
Sifat yang paling menonjol dari agar-agar adalah memiliki daya gelasi
(kemampuan membentuk gel), viskositas (kekentalan), setting point (suhu
pembentukan gel), dan melting point (suhu mencairnya gel) yang sangat
menguntungkan untuk dipakai pada dunia industri pangan maupun nonpangan.
Rumput laut mempunyai kandungan kimia seperti protein, mineral, trace elements,
karbohidrat (Manivannan et al., 2008).
Fungsi larutan yang digunakan dalam ekstraksi yaitu setelah rumput laut
dikeringkan dan dibersihkan kemudian dipanaskan, ditambahkan KCl 5% dan KOH

10%. KCl 5% berfungsi untuk meluruhkan dinding sel dari Gracilaria verrucosa
sehingga agar yang terkandung didalam sel dapat keluar dan KOH 10% yang
berfungsi untuk menguatkan kadar gel dan digunaan sebagai penyeimbang Ph,
Akuades berfungsi sebagai pelarut dan digunakan untuk mencuci bahan kimia seperti
KCl dan KOH. H202 berfungsi untuk mencerahkan warna pada rumput laut. Fungsi
dari blender adalah untuk mencacah rumput laut sehingga didapatkan potonganpotongan rumput laut yang berukuran lebih kecil dan mudah untuk diekstraksi, funsi
dari saringan kain adalah untuk mendapatkan sari agar yang bersih dari ampas
rumput laut. Indriani (2001) menyatakan bahwa penambahan asam cuka berfungsi
untuk mempertahankan pH dan sebagai stabilizer sehingga diperoleh tekstur molekul
yang konsisten. Perendaman rumput laut dalam kaporit 0,25% berfungsi untuk
merubah warna rumput laut menjadi putih dan menjadi lebih bersih. Penambahan
NaOH untuk membuat larutan lebih asam.
Gracillaria verrucosa memiliki ciri-ciri thalus berbentuk silindris dan
permukaannya licin. Thalus tersusun oleh jaringan yang kuat, bercabang-cabang
dengan panjang kurang lebih 250 mm, garis tengah cabang antara 0,5 2,0 mm.
percabangan alternate yaitu posisi tegak percabangan berbeda dengan tingginya,
bersebelahan, atau pada jarak tertentu berbeda satu dengan yang lain, kadang-kadang
hamper dichotomous dengan pertulangan lateral yang memanjang menyerupai
rumput. Bentuk cabang silindris dan meruncing di ujung cabang (Sinulingga, 2006).
Kandungan agar dari Gracilaria ini sangat bervariasi tergantung dari spesies
dan lokasi pertumbuhannya yang umumnya berkisar antara 16%-45% (Aslan, 1991).
Hasil praktikum didapati kandungan agar pada Gracilaria gigas adalah 47,4 %.
Standar mutu agar-agar di Indonesia menurut FAO dalam Indriani dan Suminarsih
(2001) adalah kadar air sebesar 15-21%, kadar abu maksimal 4%, kadar karbohidrat
sebagai galakton minimal 30%, logam berbahaya (arsen) tidak ada, zat warna
tambahan sesuai yang diinginkan untuk makanan dan minuman. Kelebihan rumput
laut Glacilaria sp. adalah struktur serat makanannya 3 kali lebih panjang
dibandingkan dengan rumput laut jenis lain karena mengandung serat makanan
sebesar 66,5%(Tama, 2012).
Menurut Dawes (1981), klasifikasi dari G. verrucosa adalah sebagai berikut :
Kingdom
: Plantae
Divisio
: Rhodophyta
Classis
: Rhodophyceae
Ordo
: Gigartinales

Familia
Genus
Species

: Gracilariaceae
: Gracilaria
: Gracilaria verrucosa

Rendemen agar dari Gracilaria sangat tergantung dari jenis, lama perendaman,
lama ekstraksi, konsentrasi zat yang digunakan dalam perendaman dan pelembutan,
metode ekstraksi yang digunakan dan faktor lingkungan tempat rumput laut tersebut
tumbuh. Randemen juga dipengaruhi oleh skala produksi dimana skala produksi
yang besar akan menghasilkan rendemen yang besar pula (Chapman & Chapman,
1980).
Menurut Akio (1971), Cara pembuatan ekstraksi agar adalah sebagai berikut :
1.

Peralatan
Peralatan yang digunakan juga cukup sederhana, yaitu peralatan untuk

perendaman, pencucian pemucatan rumput laut, perebusan, penyaringan hasil


ekstraksi, penjendalan, pemotongan, pembungkusan, pengepresan agar-agar,
penjemuran dan pengepakan produk agar-agar kertas kering.
2.

Pembersihan
Ada tiga perlakuan dalam tahap ini, yaitu perendaman, pencucian, dan sortasi.

Rumput laut agar merah kering direndam dalam air bersih sekitar 2 jam. Rumput laut
diremas-remas sambil disortasi untuk memisahkan kotoran (pasir, karang, jenis
rumput laut lain, dsb), kemudian dibilas sampai bersih. Rumput laut yang sudah
dicuci kemudian dijemur di bawah sinar matahari sampai kering.
3.

Pemucatan
Pemucatan dilakukan dengan cara merendam rumput laut di dalam larutan

kaporit 0,25 % selama 1,5 jam. Fungsi perendaman dengan larutan kaporit adalah
untuk membersihkan rumput laut dari kotoran-kotoran, karena kaporit mempunyai
daya pengikat kotoran yang cukup kuat. Selain itu juga berfungsi untuk memucatkan
rumput laut, sehingga terlihat lebih putih. Rumput laut kemudian dicuci dengan air
bersih supaya bau kaporitnya hilang.
4.

Pelembutan dan penghancuran


Rumput laut direndam dalam larutan asam cuka 5 %, lalu dicuci dengan

akuades dan dihaluskan dengan blender. Fungsi perendaman dalam larutan asam
cuka adalah untuk menghancurkan dinding sel rumput laut, sehingga mempermudah
proses penghancuran. Rumput laut dicuci dengan akuades sampai bersih, selanjutnya
rumput laut diblender sampai lembut.

5.

Ekstraksi
Tahap selanjutnya rumput laut diekstraksi. Ekstraksi agar merah dilakukan

dengan direbus dengan air dengan total air perebusan sebanyak 20 kali berat rumput
laut kering pada suhu 100 C dan diaduk pHnya, dicek sampai netral. Bila terlalu
asam dapat dilakukan penambahan NaOH 15 % dan bila terlalu basa dapat dilakukan
penambahan asam cuka 0,5 %.
6.

Pengepresan dan pendinginan.


Agar yang sudah masak disaring dengan kain kasa untuk diambil filtratnya,

lalu diendapkan dalam bak plastik. pH agar dapat dinetralkan dengan penambahan
KCl 0,5% hingga pH netral kembali, selanjutnya agar dibekukan dalam pendingin
agar dapat memadat dengan sempurna.
7.

Pemotongan dan pengepresan.


Agar dicetak dalam kain kasa. Hal ini karena kain kasa tidak membuat agar

tidak terlalu menempel. Agar dioven supaya diperoleh agar kering, lalu ditimbang
bobot keringnya. Metode dengan pengepresan dapat dilakukan supaya menghasilkan
lembaran agar tipis. Jika agar-agar belum cukup tipis, pengepresan dilanjutkan
dengan menambahkan beban secara bertahap.
8.

Sortasi dan pengemasan


Setelah kering benar, agar-agar dilepas satu persatu dari kain pembungkus.

Agar-agar kering disortasi untuk memisahkan yang rusak, sobek, dan kotor sekaligus
dilakukan pengelompokkan mutunya. Agar-agar kertas dikemas dalam kantong
plastik, atau tergantung perimintaan pasar.
9.

Produk akhir
Jumlah agar kertas yang diperoleh dari hasil pengolahan (rendemen)

dipengaruhi oleh banyak faktor, di antaranya mutu rumput laut yang digunakan.
Berdasakan hasil yang diperoleh pada praktikum esktraksi agar dengan bobot
basah rumput laut sebesar 100 gram dan bobot kering rumput laut sebesar 24,9 gram
sehingga diperoleh rendemen agar sebesar 24,9%. Hasil ekstraksi yang minimal ini
terjadi karena proses ekstraksi agar tidak dilakukan secara sempurna (adanya
pengurangan waktu pada tiap tahapnya) (Winarno, 1990). Kadar NaOH semakin
besar, maka konsentrasi gel agar-agar pada kesetimbangan semakin kecil sehingga
konstanta Henry semakin kecil pula, maka rendemen yang diperoleh juga semakin
kecil. Secara umum, perendaman dengan alkali dapat meningkatkan kekuatan gel
agar-agar meskipun rendemennya lebih rendah dibandingkan dengan asam.

Sedangkan perendaman dengan asam menghasilkan rendemen yang tinggi namum


kekuatan gel agar-agarnya rendah (Distantina, 2008).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN


A.
Kesimpulan
Dari hasil dan pembahasan praktikum ekstraksi karaginan dapat diperoleh
kesimpulan sebagai berikut:
1.

Tahapan ekstraksi agar meliputi pencucian, pengeringan, perendaman dan


pemucatan, pelembutan, penghancuran, pemasakan, pengepresan, pendinginan,
pengeringan dan terakhir dengan penghitungan rendemen agar.

2.

Rendemen agar yang diperoleh dari rumput laut kering Gracilaria verrucosa 50
gram adalah sebesar 24,9 %.
B. Saran
Diharapkan supaya masing-masing praktikan berhati-hati dan menggunakan

alat keamanan yang cukup dalam melakukan tahapan ekstraksi agar, hal ini untuk
meminimalisir resiko kecelakaan kerja dalam praktikum ekstraksi agar.

DAFTAR REFERENSI
Afrianto, A. & E. Liviawati . 1993 . Budidaya Rumput Laut dan Cara Pengolahannya
. Bhatara, Jakarta.
Akio, Okazaki. 1971. Seaweeds and their uses in Japan. Tokai University Press,
Tokyo.
Aslan, L. M. 1991. Budidaya Rumput Laut. Kanisius. Yogyakarta. 97 hlm.
Atmadja, W.S., A. Kadi, dan Rachmaniar. 1996. Pengenalan Jenis-Jenis Rumput Laut
Indonesia. Puslitbang Oseanografi-LIPI, Jakarta.
Chapman, V.J., & Chapman, C.J.,1980. Seaweed and Their Uses, 3rd ed., pp.148
193, Chapman and Hall Ltd., London.
Dawes, C.J. 1981. Marine Botany. University of South Florida, USA.
Distantina, S., Devinta.R.A., Lidya.E.F. 2008. Pengaruh Konsentrasi dan Jenis
Larutan Perendaman terhadap Kecepatan Ekstraksi dan Sifat Gel Agar-agar
dari Rumput Laut Gracilaria verrucosa. Jurnal Rekayasa Proses, 2 (1) :11-16.
Francavilla. M., Antonio. P., Carol. S.K. Lin., Massimo. F., Pasquale. T., Antonio.
A.R., Rafael. L. 2013. Natural porous agar materials from macroalgae.
Carbohydrate Polymers 92 (2013) :15551560.
Handayani, T. 2006. Protein pada Rumput Laut. Oseania, Bidang Sumberdaya Laut,
Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Jakarta, 4: 23-30.
Indriani, H & E. Suminarsih. 2001. Budidaya, Pengolahan, dan Pemasaran Rumput
Laut. Penebar Swadaya, Jakarta.

Manivannan, K., Thirumanan, G., Devi, G. Karthikai., Hemalatha, A.,


Anantharaman, P. 2008. Biochemical Composition of Seaweeds from
Mandapam Coastal Regions along Southeast Coast of India. AmericanEurasian Journal of Botani, 1 (2) : 32-37.
Sinulingga. M., & Sri Darmanti. 2006. Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir
yang Diperlakukan dengan Tepung Rumput Laut Gracilaria verrucosa.
Kemampuan Mengikat Air oleh Tanah Pasir : 32-38.
Tama C. S. A., Eko N. D., R. Ibrahim. 2012. Pengaruh Pemberian Ekstrak
Gracilaria verrucosa Terhadap Kadar Glkosa Darah Tikus Putih (Rattus
norvegicus). Jurnal Saintek Perikanan Vol. 8. No. 1.
Winarno, F.G . 1990 . Teknologi Pengolahan Rumput Laut . Pustaka Sinar Harapan,
Jakarta.