Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN AKHIR

PRAKTIKUM BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA


PENENTUAN PARAMETER FARMAKOKINETIKA OBAT YANG
MENGGUNAKAN DATA URIN

OLEH
KELOMPOK VI
GOLONGAN II

Putu Lisa Risianita Wulandari

(1308505069)

Ida Ayu Trisnata Dewi

(1308505070)

Ni Putu Julianita

(1308505071)

A.A Mirah Aristi Mas Putra

(1308505072)

Ni Komang Triana Widia Candra

(1308505073)

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2015

TOPIK

PENENTUAN
FARMAKOKINETIKA

PARAMETER
OBAT

YANG

MENGGUNAKAN DATA URIN


TANGGAL PRAKTIKUM :

16 NOVEMBER 2015

GOL./KELOMPOK

II/VI

I.

TUJUAN

1.1

Menerapkan cara mendapatkan data ekskresi obat dalam urin yang sahih
untuk penentuan parameter farmakokinetika

1.2

Menentukan parameter farmakokinetika suatu obat menggunakan data urin

1.3

Menghitung parameter farmakokinetika berdasarkan data ekskresi obat


dalam urin

II.

TI NJAUAN PUSTAKA

2.1

Permodelan Farmakokinetik
Farmakokinetika merupakan suatu ilmu yang menjabarkan mengenai

absorpsi, distribusi, metabolisme dan ekskresi obat di dalam tubuh. Fase


farmokinetika merupakan perjalanan obat mulai titik masuk obat ke dalam badan
hingga mencapai tempat aksinya. Obat harus mencapai tempat aksi dalam
konsentrasi yang cukup agar dapat menimbulkan respon atau untuk memberikan
efek terapi atau farmakologi. Proses ADME biasanya berjalan bersama waktunya
secara langsung atau tak langsung, biasanya meliputi perjalan obat melintasi sel
membran (Anief, 1990).
Tubuh dianggap sebagai satu kesatuan pada kompartemen satu. Obat
masuk dan secara cepat terdistribusi ke semua bagian lalu obat juga dapat keluar
dari tubuh karena merupakan kompartemen terbuka. Pada kompartemen satu
terbuka tidak menghitung kadar obat yang sebenarnya dalam jaringan, tapi
menganggap bahwa berbagai perubahan kadar obat dalam plasma mencerminkan
perubahan yang sebanding dengan kadar obat dalam jaringan. Persamaan yang
terkait dengan model kompartemen satu adalah :
Cp = Cop e-ke.t (rute Intravena)

Keterangan :
Cp= konsentrasi obat dalam plasma pada waktu t
Cop = konsentrasi obat dalam plasma pada t = 0
ke = konstanta kecepatan eliminasi dari kompartemen.
(Shargel et al., 2005)
Kompartemen dua terbuka terdiri dari kompartemen pusat dan perifer,
biasanya kompartemen pusat adalah darah dan perifer adalah jaringan-jaringan.
Distribusi obat dalam darah ke jaringan-jaringan terjadi pada laju yang berbedabeda. Persamaan farmakokinetik dua kompartemen setelah pemberian intravena
adalah:
Cp = Ae-a.t + Be-b.t
Keterangan:
Cp

= konsentrasi obat dalam plasma pada waktu t

= perpanjangan y-axis pada ekstrapolasi fase distribusi

= perpanjangan y-axis ekstrapolasi fase eliminasi

= tetapan laju reaksi untuk fase distribusi

= tetapan laju reaksi untuk fase eliminasi.


(Shargel et al., 2005)

2.2

Perhitungan Parameter Farmakokinetik dari Data Ekskresi Urin


Tetapan laju eleminasi, K, dapat dihitung dari data ekskresi urin. Dalam

perhitungan ini laju ekskresi obat dianggap sebagai orde kesatu. Ke adalah tetapan
laju ekskresi ginjal, dan Du adalah jumlah obat yang diekskresi dalam urin.

= Ke.DB

Dari persamaan tersebut, DB disubstitusi dengan DB = D0B eKt


dDu
= K e D0B eKt
dt
Dengan memakai logaritma natural untuk kedua sisi dari persamaan
tersebut dan kemudian diubah ke logaritma biasa diperoleh :
log

dDu Kt
=
+ log K e D0B
dt
2,3

Dengan menggambarkan log

dDu
dt

terhadap waktu diperoleh suatu garis

lurus, slop = -K/2,3 dan intersep y = log K e D0B . Untuk pemberian iv cepat, D0B =
dosis, D0. Oleh karena itu jika D0B diketahui, maka tetapan laju ekskresi ginjal (Ke)
dapat diperoleh. Karena K dan Ke dapat ditentukkan dengan metode ini, tetapan
laju (Knr) untuk berbagai rute eliminasi selain eksresi ginjal dapat diperoleh
sebagai berikut.
K - Ke = Knr
Oleh karena itu eliminasi suatu obat biasanya dipengaruhi oleh ekskresi
ginjal atau metabolisme (biotransformasi), maka
Knr Km
Karena rute eliminasi utama untuk sebagian besar obat melalui ekskresi
ginjal dan metabolisme (biotransformasi) maka Knr kurang lebih sama dengan Km.
Laju eksresi obat lewat urin

dDu
dt

tidak dapat ditentukan melalui percobaan

segera setelah pemberian obat. Dalam praktek urin dikumpulkan pada jarak waktu
tertentu dan konsentrasi obat dianalisis. Kemudain laju ekskresi urin rata-rata
dihitung untuk tiap waktu pengumpulan. Harga

dDu
dt

rata-rata digambar pada suatu

skala semilogaritmik terhadap waktu yang merupakan harga tengah (titik tengah)
waktu pengumpulan.
Tetapan laju eliminasi K dari data ekskresi urin dapat dihitung dengan
persamaan berikut:
K=

0,693
1/2

Metode lain untuk perhitungan tetapan laju eliminasi K dari data eksresi
urin dengan metode sigma-minus. Metode sigma-minus kadang-kadang lebih
disukai daripada metode sebelumnya, oleh karena fluktuasi data laju eliminasi
diperkecil.
Jumlah obat tidak berubah dalam urin dapat dinyatakan sebagai fungsi
waktu melalui persamaan berikut
Du =

(1 )

Du adalah jumlah kumulatif obat tidak berubah yang diekskresi dalam


urin.

Jumlah obat tidak berubah yang akhirnya diekskresi dalam urin ~ , dapat
ditentukan dengan membuat waktu t tak terhingga. Jadi diabaikan dan
didapat pernyataan sebagai berikut
~ - = ~
Untuk mendapatkan suatu persamaan linear, persamaan di atas dapat
ditulis dalam bentuk logaritmik
log (~ - ) =

2,3

log ~

Faktor-faktor tertentu dapat mempersulit untuk mendapatkan data ekskresi


urin yang sahih. Beberapa faktor tersebut adalah
1. Suatu fraksi yang bermakna dari obat tidak berubah harus diekskresi
dalam urin.
2. Teknik penetapan kadar harus spesifik untuk obat tidak berubah, dan
harus

tidak

dipengaruhi

oleh

metabolit-metabolit

obat

yang

mempunyai struktur kimia yang serupa.


3. Diperlukan pengambilan cuplikan yang seringuntuk mendapatkan
gambaran kurva yang baik.
4. Cuplikan hendaknya dikumpulkan secara berkala sampai hamper
semua obat diekskresi. Suatu grafik dari kumulatif obat yang
diekskresi vs waktu akan menghasilkan kurva yang mendekati
asimtot pada waktu yang tak berhingga. Dalam praktek diperlukan
kurang lebih 7 t1/2 eliminasi untuk mengeliminasi 99% obat.
5. Perbedaan pH urin dan volume dapat menyebabkan perbedaan laju
ekskresi urin yang bermakna.
(Shargel et al., 2005).

III.

BAHAN
Data konsentrasi obat dalam darah pada waktu tertentu yang diberikan

secara oral, dicari parameter rate metodh dan metode Sigma Minus kompartemen
satu.

IV.

ALAT

Seperangkat komputer personal

Bolpoin

Double folio

Kalkulator

Pensil

Penggaris

Lem kertas

Gunting

Plot semilogaritma dan millimeter blok

V.

CARA KERJA

5.1

Data Praktikum (Metode Rate)


Ditentukan nilai Ln Ct, kemudian ditentukan nilai k eliminasi,
Intercept dan Cot

Ditentukan nilai waktu tengah (mid point) konsentrasi dan waktu

Ditentukan nilai Ln Cot, k eksresi, Intercept dan Co

Dihitung nilai t eliminasi, dan fraksi eliminasi (F el)

Dintentukan Du tak terhingga

Dihitung nilai AUC trapezoid dari nilai Ct dan dihitung Cl renal

5.2

Data Praktikum (Metode Sigma Minus Kompartemen Satu)


Dimasukkan data t, Du dan Ct dalam tabel

Ditentukan nilai Du/t

Dicari nilai Du kumulatif dengan menjumlahkan nilai Du

Ditentukan nilai D tak terhingga dengan memilih Du kumulatif pada


waktu dimana konsentrasi obat dalam urin paling kecil

Ditentukan nilai D inf- Du dengan cara mengurangi D tak terhingga


dengan nilai Du

Ditentukan nilai Ln (D inf Du)

Dihitung nilai AUC trapezoid dari nilai Ct

Dibuat curva Ct vs t dan kurva Ln (D inf Du)

Dicari persamaan regresi linier dari Ln (D inf Du) hingga diperoleh


nilai slope, intercept dan R2

VI.

DATA

6.1

Data Satu
Diketahui berat badan : 50 kg, dosis obat : 20 mg/kg ditanyakan parameter
farmakokinetika!
Time (hr)
0.25
0.50
1.0
2.0
4.0
6.0

6.2

Cp (g/ml)
4.2
3.5
2.5
1.25
0.31
0.08

Hasil D u (mg)
160
140
200
250
188
46

Data Dua
Diketahui data berat badan pasien 70 kg, dosis obat : 25 mg/kg
Ditanyakan : parameter farmakokinetika!
Waktu (jam)
0.15
0.25
0.75
1.25
2
2.75
3.5

Du (mg)
200
180
160
100
75
40
20

VII.

PERHITUNGAN

7.1

Data Satu
Metode Kecepatan Ekskresi Urin (Rate Method)
Tabel 1. Hasil Pengolahan Data Menggunakan Rate Method

Waktu Ct
(jam)

Du

Ln

(g/mL) (mg) Ct

Mid
point

Du/t

Ln
Du/t

C(0)

0.25

4.2

160

1.435

0.125

640

6.461

0.6895

0.5

3.5

140

1.253

0.375

560

6.328

2.5

200

0.916

0.75

400

1.25

250

0.223

1.5

0.31

188

0.08

46

1.171
2.526

C(0)

t 1/2
el

Fel

du

trapzd

CL renal

0.525

142.2259

constant

0.9625

CL total

5.991

1.6018

1.5

144.3918

250

5.521

ke

1.875

CL non

94

4.543

0.6797

1.56

2.1659

23

3.135 constant
6.5479

4.9619 697.789 1.0196 0.9858 985.755

AUC

0.39
AUC

0,743
6.9285

Metode Kecepatan Ekskresi Urin (Rate Method)


1. Berdasarkan data farmakokinetika obat dalam urine tersebut maka diperoleh
a. Pembuatan Kurva nilai Ln Ct vs t dan dicari persamaan regresi dari
hubungan tersebut.

Ln Ct

Ln Ct vs t
2
1.5
1
0.5
0
-0.5 0
-1
-1.5
-2
-2.5
-3

y = -0.6895x + 1.6018
R = 1

Series1
Linear (Series1)

waktu

Gambar 1. Kurva Hubungan antara Ln Ct vs waktu (t)

Dari persamaan regresi tersebut diperoleh persamaan regresi y=0,689x+1,601. Nilai slope adalah k yaitu 0,689. Nilai C0 dapat diperoleh
dari eksponensial constant yaitu sebesar 4,958.
2. Penetuan parameter-parameter farmakokinetika obat dalam urin tersebut.
a. Pembuatan Kurva nilai Ln Du/ t vs Midpoint dan dicari persamaan regresi
dari hubungan tersebut.

Ln Du/t

Ln Du/t vs Midpoint
7
6
5
4
3
2
1
0

y = -0.6797x + 6.5479
R = 0.9994

Series1
Linear (Series1)

Mid point

Gambar 2. Kurva Hubungan antara Ln Du/t vs Midpoint


Dari grafik tersebut diperoleh persamaan regresi y = -0.679x + 6.547. Nilai
Ke diperoleh dari nilai b (slope) pada persamaan, yaitu 0,679. Nilai C0
diperoleh dengan menghitung eksponensial dari nilai constant pada
persamaan grafik hubungan Ln Du/t dan midpoint. C0 adalah 697,1496.
b. Ditentukan waktu paruh (t 1 ) eliminasi dari data urin dengan menggunakan
2

rumus
t 1

t 1

0,693

0,693
0,679/jam

= 1,02062 jam

c. Ditentukan nilai AUC dengan menggunakan rumus AUC trapezoid, yaitu


0,5 (t2-t1) (Ct1+Ct2) sehingga diperoleh data sebagai berikut :
AUC
0,525
0,9625
1,5
1,875
1,56
0,39

10

d. Nilai AUC inf


AUC inf

0,39
0.525

AUC inf = 0,743 mg jam/mL


e. Nilai AUC 0-inf
AUC 0-inf = (jumlah AUC trapezoid total) + AUC inf
AUC 0-inf = 6,8125 + 0,743
AUC 0-inf = 7.5555 mg jam/mL
f. Fraksi eliminasi
Ke
K
0.6796 mg
=
0.6895 mg
Fe =

= 0,985
g. Nilai Du
Du = BB pasien x Dosis awal x Fel
Du = 50 kg x 20 mg/kg x 0,985
Du = 985 mg
h. Nilai klirens :
Du

- Cl renal = AUC 0
985 mg

= 6.9286 mg
Cl renal = 142.2259 mL/jam
- Cl Total =
=

Cl renal
F el

142.2259 mL/jam
0.985

Cl Total = 144.3918
- Cl non-renal = Cl total Cl renal
Cl non-renal = 144.3918 mL/jam 142.2259 mL/jam
Cl non-renal = 2.1659 mL/jam

11

Metode Ekskresi Urine Kumulatif (Sigma Minus Method)


Tabel 2. Hasil Pengolahan Data Menggunakan Sigma Minus Method
Waktu

Ct

Du

(jam)

(g/mL)

(mg)

Mid
Ln Ct

Point

Du/t

Ln Du/t

Du

Du inf-

Ln(Du inf-Du

kumulatif

Du

kumulatif)

160

825.7553

6.7163 0.7592

Fel

300

685.7553

6.5305 constant

0.9858

500

485.7553

6.1857 6.9290
5.4628 C(0)

Du inf

0.25

4.2

160

1.4351

0.125

640

6.4615

0.6895 985.7868

0.5

3.5

140

1.2528

0.375

560

6.3279 constant

2.5

200

0.9163

0.75

400

5.9915

1.6018

1.25

250

0.2231

1.5

250

5.5215

Ke

750

235.7553

0.31

188 -1.1712

94

4.5433

0.6797

938

47.7553

0.08

46 -2.5257

23

3.1355 constant

984

1.7553

Ke

3.8661 1021.4524
0.5627

6.5479

12

AUC

Clr

Trpezoid

142.522

0.525

Cl

144.582

0.963

Clnr

2.060

1.500

t1/2 el

1.005

1.875
1.560
0.390
0.104
6.917

Metode Ekskresi Urine Kumulatif (Sigma Minus Method)


1. Berdasarkan data farmakokinetika obat dalam urine tersebut maka
diperoleh
a. Pembuatan Kurva nilai Ln Ct vs t dan dicari persamaan regresi dari
hubungan tersebut.

Ln Ct

Kurva Hubungan Ln Ct vs t
2.0000
1.5000
1.0000
0.5000
0.0000
-0.5000 0
-1.0000
-1.5000
-2.0000
-2.5000
-3.0000

y = -0.6895x + 1.6018
R = 1
2

Series1
Linear (Series1)

waktu (jam)

Gambar 3. Kurva Hubungan antara Ln Ct vs waktu (t)

Dari kurva tersebut diperoleh persamaan regresi linear adalah 0,689x + 1,601. Dengan persamaan tersebut diperoleh nilai K sebesar
0,689. Nilai C0 diperoleh 4,957988

13

2. Penetuan parameter-parameter farmakokinetika obat dalam urin tersebut.


a. Waktu paruh.
1 =
2

0,693

0,693
0,689/jam

= 1,0058 jam
b. Laju eliminasi
=

0.693
1
2

0.693
1.0058 jam

= 0,6895 jam-1
c. Du-inf
BB x Dosis awal x Ke

1000
Du inf =

0,6797 1000
=
0,6895
Du =

= 985.7868 mg
d. F eliminasi
Du
BB x Dosis awal
Du inf
Feliminasi =
1000
985.7868
=
1000
F el =

= 0,9857868
e. AUC Trapezoid
AUC Trapezoid

= AUC Total + AUC Tak Terhingga


= 6.813 + 0.104
= 6.917 mg jam/mL

14

f. Nilai Klirens Renal (Clr )


-

Klirens Renal (Clr )


Dinf
AUC
985.7868mg
=
6.917 mg jam/mL

Clr =

= 142.5165 mL/jam
-

Klirens Total (Cl)

Cl =

Clr
Fe

142.5165 mL/jam
0,9857868

= 144,5723 mL/jam
-

Klirens Non Renal (Clnr )

Clnr = (1 Fe ) Cl
= (1 0.9857868) 144,5723 mL/jam
= 2.060 mL/jam
g. Dibuat kurva hubungan Ln(Du inf Du kumulatif) vs t dengan
menggunakan 5 titik yaitu:

Gambar 4. Kurva Hubungan antara Ln Ct vs waktu (t)


Dari kurva tersebut diperoleh persamaan regresi liniernya adalah 0,759x + 6,929. Berdasarkan persamaan tersebut diperoleh C0 1021,4524.

15

6.2

Data Dua
Tabel 3. Hasil Pengolahan Data Menggunakan Rate Method

Waktu

Du

(jam)

(mg)

0.15

200

Waktu tengah
(mg/jam)

1333.333

Ln Du/t

ke

C(0)

t1/2

0.07

7.19543

0.94742

503.039

0.73145

(jam
)

7.49554
0.25

180

1800

0.2

2
5.76832

0.75

160

320

0.5

1
5.29831

1.25

100

200

1.62
2

2.75

3.5

75

40

20

100

53.33333

26.66667

4.60517

2.37

3.97656

3.12

3.28341

1. Berdasarkan data farmakokinetika obat dalam urine tersebut maka


diperoleh
a. Pembuatan kurva nilai Ln Du/t vs t dan persamaan regresi dari hubungan
tersebut.

16

Grafik Ln du/t vs t
y = -0.9474x + 6.2207
R = 0.9981

7
6

ln du/dt

5
4

Grafik t vs Ln du/t

Linear (Grafik t vs Ln
du/t)

2
1
0
0

Waktu

Gambar 5. Kurva hubungan antara ln Du/t dan t.


Dari kurva tersebut diperoleh persamaan regresi y = -0.9474x + 6.2207
R = 0.9981 . Digunakan lima data untuk memperoleh nilai k sehingga nilai
slope yang diperoleh sebesar 0,9474. Kemudian ditentukan nilai C0 dari pada
persamaan kurva hubungan Ln Du/t dengan t. C0 diperoleh sebesar 503.0398.

2. Penentuan parameter farmakokinetika dari data yang diperoleh adalah


sebagai berikut
h. K Eliminasi (Ke)
Ke

= Slope
= - (-0.9474)
= 0,9474 /jam

i. Waktu Paruh (t 1 ) Eliminasi


2

t 1

0,693

0,693

= 0,9474 /jam
= 0.731 jam
.

17

VIII. PEMBAHASAN
Praktikum kali ini dilakukan fitting data urin dengan Rate Method (metode
kecepatan eksresi urin) dan Sigma-Minus Method (metode eksresi urin kumulatif).
Data eksresi obat lewat urine dapat dipakai untuk memperkirakan bioavailabilitas.
Obat harus dieksresi dengan jumlah yang cukup di dalam urine dan cuplikan urine
harus dikumpulkan secara lengkap. Data urin dengan metode laju ekskresi
digunakan untuk menghitung parameter farmakokinetik pada pemberian
intravaskular. Dalam data urin yang digunakan adalah dosis obat, bukan kadar
obat seperti dalam data darah (Sweetman, 2007).
Pemodelan farmakokinetika merupakan bentuk interpretasi keadaan tubuh
ke dalam bentuk kompartemen. Dalam bidang farmasi, penting halnya dilakukan
suatu penelitian terhadap bagaimana nasib obat dalam tubuh dengan
menggunakan suatu permodelan agar dapat merancang suatu sediaan yang dapat
memberikan efek terapi yang diinginkan. Tubuh manusia dapat diwakili sebagai
suatu jaringan yang tersusun secara sistem seri dari kompartemen-kompartemen
yang berhubungan secara reversible antara organ yang satu dengan yang lainnya
(Shargel et al., 2005). Pemberian intravaskuler dengan menggunakan data urin
lazim digunakan sebagai sampel oleh karena pada akhirnya obat akan terdistribusi
ke dalam ginjal dan metabolitnya akan dikeluarkan melalui organ ginjal ke dalam
urin. Pengetahuan ini penting dan bermanfaat untuk memberikan informasi
apakah obat (antibiotik) saluran urogenitalia berpeluang untuk mengobati infeksi
saluran kencing. Keunggulan pengambilan sampel melalui urin tidak memerlukan
alat khusus (such as jarum kupu-kupu) dan bersifat tidak menyakitkan (noninfasive). Beberapa ketentuan yang harus dipenuhi (Ritschel, 1992):
1. Obat tidak memiliki waktu paro eliminasi yang pendek
2. Obat tidak mengalami metabolisme yang ekstensif
Parameter farmakokinetik dapat ditentukan berdasarkan data urin.
Pengambilan cuplikan dari data urin memberikan proses analisis yang lebih
mudah karena tidak terdapat protein yang terlarut di urin seperti pada plasma,
sehingga pemisahannya lebih mudah. Namun perbedaan pH dan volume urin
dapat menyebabkan perbedaan yang bermakna terhadap laju ekskresi urin. Oleh
karena itu, dalam pengambilan data urin perlu diberitahukan kepada pasien untuk

18

mengambil cuplikan urin yang lengkap atau pengosongan kandung kemih yang
sempurna dimana jika pengambilan data urin kurang sempurna maka akan
menyebabkan kesalahan penentuan kadar serta parameter farmakokinetiknya.
Cuplikan urin baiknya dikumpulkan secara berkala sampai hampir semua obat
diekskresi. Parameter farmakokinetika merupakan besaran yang diturunkan secara
matematis dari model berdasarkan hasil pengukuran kadar obat utuh atau
metabolitnya dalam darah, urin atau cairan hayati lainnya. Fungsi dari penetapan
parameter farmakokinetika suatu obat adalah untuk mengkaji kinetika absorbs,
distribusi dan eliminasi di dalam tubuh (Shargel et al., 2005).
Pada Rate metode, perhitungan parameter farmakokinetika dilakukan
berdasarkan pada perkiraan data tengah (Mid Point Time) tiap interval
pengambilan sampel urin. Pada tetapan kecepatan eliminasi orde-pertama (k) bisa
juga dihitung menggunakan data urin setelah obat diberikan secara intravascular
dosis

tunggal,

yang

farmakokinetikanya

diterangkan

dengan

model

kompartemen terbuka (Hakim, 2013). Sementara itu pada metode Sigma-minus,


perhitungan parameter farmakokinetika langsung menggunakan data yang
diperoleh tanpa mencari data tengah. Pengambilan sampel urin dalam metode
Sigma-minus akan berpengaruh pada jumlah kumulatif obat yang dieksresikan
melalui urin karena pada metode ini nilia kumulasi obat pada waktu tak terhingga
dianggap sama dengan nilai kumulasi obat dalam urin pada waktu terakhir
pengambilan urin. Hal tersebut yang menjadi dasar lamanya waktu pengambilan
urin pada metode Sigma-minus (Paradkar dan Bakliwal, 2008; Hakim, 2013).
Data dari soal no 1 dihitung menggunakan Rate method dan Sigma minus
method. Berikut merupakan kurva nilai Ln Du/ t vs Midpoint menggunakan Rate
Method:

19

Ln Du/t vs Midpoint
Ln Du/t

y = -0.6797x + 6.5479
R = 0.9994

6
4

Series1

Linear (Series1)

0
0

Mid point

Gambar 6. Kurva Hubungan Ln Du/t vs Midpoint


Dari kurva diatas diperoleh regresi linier yaitu y = -0,6797x + 6,5479
dengan R2 = 0,9994. Sehingga diperoleh nilai K sebesar 0,7686/jam. Nilai tetapan
laju eliminasi obat diperoleh
Diperoleh waktu paruh eliminasi sebesar 1,02062 jam. Dari hasil t 12
tersebut dapat diketahui bahwa waktu yang diperlukan obat untuk tereliminasi
setengah dari konsentrasi awal yaitu selama 1,02062 jam. Waktu paruh eliminasi
adalah waktu yang diperlukan kadar tertentu obat dalam darah (atau cairan
biologis lain) untuk turun sampai setengah nilai awalnya; atau waktu yang
diperlukan untuk klirens setengah jumlah obat dalam cairan (Behrman dkk.,
1996). Setelah parameter t eliminasi diketahui, dilakukan perhitungan untuk
mencari nilai AUC trapezoid. Nilai AUC inf diperoleh sebesar 0,743 mg jam/mL
dan AUC 0-inf sebesar 7,5555 mg jam/mL. Harga F eliminasi diperoleh sebesar
0,9858 berarti sebanyak 98,5% fraksi obat tersedia untuk dieksresikan melalui
urin, dimana F eliminasi berkisar antara 0 sampai 1. Dimana Harga F eliminasi
yang diperoleh mendekati 1 yang berati dosis intravena yang diberikan sama
sekali tidak mengalami metabolisme, atau tidak diekskresi melalui organ selain
ginjal. Sebaliknya jika F eliminasi mendekati 0 maka obat mengalami
metabolisme sempurna dan/atau dikeluarkan melalui organ ekskresi non-ginjal
sehingga tidak dijumpai obat utuh didalam urin (Hakim, 2013). Dari hasil Fe
tersebut diperoleh nilai klirens rental 142,2259 mL/jam dan nilai klirens non
rental sebesar 2,1659 mL/jam. Klirens merupakan parameter farmakokinetika
yang menggambarkan eliminasi obat yang merupakan jumlah volume cairan yang

20

mengandung obat yang dibersihkan dari kompartemen tubuh setiap waktu


tertentu. Secara umum eliminasi obat terjadi pada ginjal dan hati yang dikenal
dengan istilah klirens total yang merupakan jumlah dari klirens ginjal (renalis)
dan hati (hepatik).
Selanjutnya data 1 dihitung juga menggunakan Sigma minus method, dan
diperoleh kurva hubungan Ln Ct vs t yaitu:

Kurva Hubungan Ln Ct vs t
2.0000
y = -0.6895x + 1.6018
R = 1

Ln Ct

1.0000
0.0000
0

-1.0000

Series1
Linear (Series1)

-2.0000
-3.0000

waktu (jam)

Gambar 7. Kurva Hubungan Ln Ct vs t


Dari kurva tersebut diperoleh persamaan regresi linier yaitu y = -0,689x +
1,601. Dengan R2 = 1, dari persamaan regrsi tersebut diperoleh nilai K sebesar
0,689/jam. Parameter yang dapat dihitumg menggunakan Sigma minus method
adalah laju eliminasi (Ke), Waktu paruh eliminasi (t1/2), Du inf, F eliminasi,
AUC trapezoid, Klirens Renal, klirens total dan klirens non renal. Berikut tabel
parameter farmakokinetikanya:
PARAMETER FARMAKOKINETIKA
Ke

0,6895/jam

Waktu paruh (t1/2)

1,0058 jam

Du inf

985,7868 mg

F eliminasi

0,9857868

AUC trapezoid

6,917 mg jam/mL

Klirens rental

142,5165 mL/jam

Klirens total

144,5723 mL/jam

Klirens non rental

2,060 mL/jam

21

Selanjutnya dibuat kurva hubungan t vs Ln (Du inf-Du kumulatif)


menggunakan 5 titik yaitu:

Gambar 8. Kurva Hubungan antara t vs Ln (Du inf-Du kumulatif)


Dari kurva diatas diperoelh persamaan regresi liniernya yaitu y = -0,759x
+ 6.929 dengan R2 = 0,999. Berdasarkan persamaan regresi tersebut diperoleh
nilai C0 sebesar 1021,4524.
Perbandingan antara Rate Method dan Sigma-Minus Method:
1.

Dalam rate method ~ tidak perlu diketahui, dan hilangnya satu spesimen
urin tidak mempengaruhi analisis.

2.

Sigma-Minus Method membutuhkan penentuan akurat ~ dari urin sampai


ekskresi obat selesai.

3.

Fluktuasi tingkat eliminasi obat dan kesalahan eksperimental (seperti


pengosongan kandung kemih yang tidak lengkap) menyebabkan peningkatan
besar dari linearitas dalam rate method.

4.

Sigma-Minus Method kurang dipengaruhi oleh fluktuasi nilai eliminasi obat.

5.

Pada rate method ini berlaku untuk proses eliminasi orde nol, sedangkan
metode sigma-minus tidak.

6.

Tetapan laju eliminasi ( ) dapat diperoleh dari rate method tapi tidak dari
Sigma-Minus Method.
Dalam penggunaan metode Sigma-Minus, perlu diperhatikan beberapa hal

berikut: Metode ini tidak memerlukan waktu pengumpulan urin hingga waktu tak
terhingga hanya cukup 3-4 kali t1/2 eliminasi Kehilangan interval tidak
mengganggu pengumpulan data, bahkan cukup dilakukan pengambilan dua titik
data yang berturutan untuk mendapatkan parameter yang diperlukan. Untuk obat
22

yang memiliki waktu paro panjang eliminasi panjang seperti digoksin,


karbamazepin, diazepam, warfari dsb. Pengambilan data urin dapat ditunda
semalaman dan dilanjutkan esok harinya. Fluktuasi pada kecepatan eliminasi obat
menyebabkab kurva tidak linear.Jika proses eliminasi merupakan gabungan antara
orde nol dan pertama (non linear) maka kurva antara Ln Du/t terhadap t berupa
garis melengkung (non-linear) dan mengindikasikan kecepatan obat sebenarnya
sebab bDu/Dt = ke x Db. Interval waktu pengambilan sampel sebaiknya lebih
pendek atau maksimal mendekati watu paro, karena semakin panjang akan
menyebabkan tingkat kesalahan penetapan k dan ke menjadi lebih besar. Metode
ini lebih mencerminkan obat yang tak-terikat protein. Metode ini lebih peka
terhadap perubahan eliminasi obat, misal oleh karena perubahan pH atau volume
urin (Martin, 1967).
Data soal nomber 2 hanya dapat dihitung menggunakan Rate method. Dari
data tersebut dibuat kurva hubungan Ln Du/t vs t yaitu:

Grafik Ln du/t vs t
y = -0.9474x + 6.2207
R = 0.9981

ln du/dt

8
6

Grafik t vs Ln
du/t

4
2

Linear (Grafik t
vs Ln du/t)

0
0

Waktu

Gambar 9. Kurva hubungan antara Ln Du/t vs t


Dari kurva diatas diperoleh persamaan regresi linier y = -0,9474x + 6,2207
dengan R2 = 0,9981. Dari persamaan tersebut diperoleh nilai Ke 0.9474/jam. Nilai
C0 diperoleh sebedar 503,0398. Parameter farmakokinetika yang dapat dihitung
pada soal number 2 hanya waktu paruh (t1/2) yaitu sebesar 0,731/jam.

23

XI.

KESIMPULAN

Berdasarkan tujuan praktikum, hasil perhitungan dan pembahasan, maka dapat


disimpulkan:
1.

Metode yang digunakan dalam penentuan parameter farmakokinetika


dengan menggunakan data urin adalah pada data 1 menggunakan 2 metode
yaitu Rate method dan Sigma minus method.sedangkan untuk data 2
menggunakan Rate method

2.

Parameter farmakokinetik yang ditentukan dalam hal ini adalah nilai K, Laju
Eliminasi (Ke), Waktu paruh eliminasi (t eliminasi), Du inf, F eliminasi,
AUC Trapezoid, Klirens renal (Clr), Klirens Total dan Klirens non renal
(Clnr).

3.

Parameter farmakokinetik yang ditentukan beserta besarannya adalah


sebagai berikut:
Data 1
Rate method

Sigma minus method

Data 2
Rate method

Ke = 0,6797 jam

Ke = 0,6895 jam

Ke = 0,9474

C0 = 697,1496

C0 = 4,957988

C0 = 503.0398

t1/2 = 1,02062 jam

t1/2 = 1,0058 jam

T1/2 = 0,731 jam

AUC inf = 0,473 mg Du inf = 985,7868 mg


jam/ ml
AUC 0-inf = 7,5555 mg F el = 0,9857 jam
jam/mL
F eliminasi = 0,985 mg

AUC trapezoid = 6,917


mg jam/mL

Cl renal = 142,2259

Cl renal = 142,5156

mL/jam

mL/jam

Cl total = 144,3918

Cl total = 144,5723

mL/jam

mL/jam

Cl non renal = 2,1659

Cl non renal = 2,060

mL/jam

mL/jam

24

DAFTAR PUSTAKA

Anief. 1990. Perjalanan dan Nasib Obat dalam Badan. Yogyakarta: Gadjah
Mada University Press.

Behrman, R. E., R. M. Kliegman, dan M. Arvin. 1996. Ilmu Kesehatan Anak.


Edisi 15 Vol. 1. Jakarta: EGC.

Hakim, L. 2013. Farmakokinetika. Yogyakarta: Bursa Ilmu.

Martin, A., J. Swarbrick, dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik Jilid 2. Edisi
Ketiga. Jakarta : Penerbit Universitas Indonesia

Paradkar, A. dan S. Bakliwal. 2008. Biopharmaceutics & Pharmacokinetics.


India: Nirali Prakashan. Publications, Inc.: Hamilton, Illinois.

Ritschel, W.A. 2004. Handbook of Basic Pharmacokinetics, Drug Intelligence.

Shargel, L. dan A. B. C. Yu. 2005. Biofarmasetika dan Farmakokinetika Terapan.


Edisi Kedua. Surabaya : Airlangga University Press.

Sweetman S. C. 2007. Martindale: The Complete Drug Reference 35th Edition


(Electronic Version). London: The Pharmaceutical Press.

25