Anda di halaman 1dari 44

Kata Pengantar

Puji dan syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan
karunia-Nya, sehingga makalah Keperawatan Keluarga yang berjudul Asuhan
Keperawatan dengan Penyakit Menular ini dapat diselesaikan.
Dalam kesempatan kali ini kami mengucapkan terima kasih kepada
pihak-pihak yang telah membantu dan mendukung hingga makalah ini dapat
diselesaikan. Untuk itu, pada kesempatan kali ini kami ucapkan terima kasih
kepada:
1

Ibu Sarliana Zaini, SKM, M. Kes selaku selaku Ketua Jurusan Keperawatan
Singkawang

Ibu Ns. Nurbani, M. Kep selaku Dosen Koordinator Mata Kuliah Keperawatan
Keluarga

Ibu Yuslana, S.ST selaku Dosen Pembimbing Mata Kuliah Keperawatan


Keluarga

Teman-teman yang telah membantu dalam proses pembuatan makalah ini.


Jika didalam pembuatan makalah ini terdapat kesalahan dan kekurangan,

kami mengharapkan kritikan dan saran yang membangun dari pembaca demi
perbaikkan makalah ini.

Singkawang, September 2015

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar.......................................................................................... i
Daftar Isi.................................................................................................. ii
Bab I....................................................................................................... 1
Pendahuluan............................................................................................ 1
A.

Latar Belakang................................................................................ 1

B.

Rumusan Masalah...........................................................................2

C.

Tujuan Penulisan........................................................................... 2

D.

Sistematika Penulisan.....................................................................2

E.

Metode Penulisan............................................................................ 2

Bab II....................................................................................................... 3
Tinjauan Teori........................................................................................... 3
A.

Pengertian Keluarga.........................................................................3

B.

Tipe Atau Bentuk Keluarga................................................................4

C.

Peranan Keluarga..........................................................................5

D.

Pengertian Penyakit Menular...........................................................6

E.

Jenis Penyakit Menular.....................................................................6

F.

Penularan....................................................................................... 7

G.

Pengertian Tuberkulosis...................................................................8

H.

Etiologi.......................................................................................... 8

I.

Patofisiologi.................................................................................... 9

J.

Manifestasi Klinis...........................................................................10

K.

Pemeriksaan Penunjang.................................................................10

L.

Penatalaksanaan Medis..................................................................12

M.

Konsep Asuhan Penyakit Menular pada Keluarga..............................13

Bab III.................................................................................................... 20
Contoh Kasus Asuhan Keperawatan dengan Penyakit Menular......................20
A.

Pengkajian Keperawatan................................................................20

B.

Analisa Data.................................................................................. 31

C.

Prioritas Masalah.........................................................................33

D.

Rencana Asuhan Keperawatan......................................................35

E.

Implementasi................................................................................. 38

Bab IV................................................................................................... 42
Penutup................................................................................................. 42
Kesimpulan......................................................................................... 42
Daftar Pustaka........................................................................................ 43

Bab I
Pendahuluan
A. Latar Belakang
Penyakit menular adalah penyakit yang dapat ditularkan melalui berbagai
media. Penyakit jenis ini merupakan masalah kesehatan yang besar di hampir
semua

negara berkembang karena angka kesakitan dan kematiannya yang

relatif tinggi dalam kurun waktu yang relatif singkat. Penyakit menular umumnya
bersifat akut (mendadak) dan menyerang semua lapisan masyarakat. Penyakit
jenis ini diprioritaskan mengingat sifat menularnya yang bisa menyebabkan
wabah dan menimbulkan kerugian yang besar. Penyakit menular merupakan
hasil perpaduanberbagai faktor yang saling mempengaruhi. (Widoyono, 2011: 3).
Penyebab (agent) penyakit menular adalah unsur biologis yang bervariasi
mulai dari partikel virus yang paling sederhana sampai organisme yang paling
kompleks yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia (Noor, 1997: 39).
Dimana proses agent penyakit dalam menyebabkan penyakit pada manusia
memerlukan berbagai cara penularan khusus (mode of transmission) serta
adanya sumber penularan (reservoir) penyakit seperti manusia, binatang ...
(Noor, 1997: 39).
Salah satu penyakit menular yang disebabkan oleh agent penyakit (virus),
cara penularan khusus, dan reservoir penyakit adalah penyakit demam berdarah
dengue (DBD). Menurut David Bylon (1779) bahwa epidemiologi demam
berdarah dengue disebabkan oleh tiga faktor utama yaitu, virus, manusia dan
nyamuk. Vektor utama penyakit DBD adalah nyamuk Aedes aegpty(di daerah
perkotaan) dan Aedes albopictus (di daerah perkotaan). Nyamuk yang menjadi
vektor penyakit DBD adalah nyamuk yang terinfeksi saat menggigit manusia
yang sedang sakit dan viremia (terdapat virus dalam darahnya). Virus
berkembang dalam tubuh nyamuk selama 8-10 hari terutama dalam kelenjar air
liurnya, dan jika nyamuk ini menggigit orang lain maka virus dengue akan
dipindahkan bersama air liur nyamuk. Dalam tubuh manusia, virus ini akan
berkembang selama 4-6 hari dan orang tersebut akan mengalami sakit demam
berdarah dengue. Virus dengue memperbanyak diri dalam tubuh manusia dan
berada dalam selama satu minggu. (Widoyono, 2011: 72).
1

B. Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah dalam penulisan makalah ini adalah :
1. Bagaimana konsep keluarga ?
2. Bagaimana konsep dasar TB paru ?
3. Bagaimana konsep asuhan Keperawatan keluarga pada kasus Tb paru ?
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Adapun tujuan umum dari penulisan makalah ini adalah agar mahasiswa
dapat memahami dan dapat menerapkan asuhan keperawatan keluarga
dengan TB Paru.
2. Tujuan Khusus
Adapun tujuan khusus dari penulisan makalah ini yaitu :
a. Mahasiswa dapat mengerti mengenai konsep dasar TB Paru
b. Mahasiswa dapat mengerti mengenai konsep dasar asuhan keperawatan
pada anak dengan TB Paru.
D. Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari 3 bab, yaitu: Bab I
Pendahuluan terdiri dari Latar belakang, Rumusan masalah, Tujuan, Metode
penulisan, Sistematika penulisan. Bab II Tinjauan Teori. Bab III Penutup terdiri
dari Kesimpulan. Dan terakhir Daftar Pustaka.
E. Metode Penulisan
Metode

penulisan

yang

digunakan

dalam

makalah

ini

penulis

menggunakkan metode studi literature, adapun teknik yang digunakan yaitu studi
kepustakaan dengan mempelajari bukubuku, browsing internet dan sumber
buku lain untuk mendapatkan data dalam pembuatan makalah ini.

Bab II
Tinjauan Teori
A. Pengertian Keluarga
Keluarga yang merupakan bagian dari masyarakat sesungguhnya
mempunyai peranan yang sangat penting dalam membentuk budaya dan
perilaku sehat. Dari keluargalah pendidikan kepada individu dimulai, tatanan
masyarakat yang baik diciptakan, budaya dan perilaku sehat dapat lebih dini
ditanamkan. Oleh karena itu, keluarga mempunyai posisi yang strategis untuk
dijadikan sebagai unit pelayanan kesehatan karena masalah kesehatan dalam
keluarga saling berkaitan dan saling mempengaruhi antar anggota keluarga,
yang pada akhirnya juga akan mempengaruhi juga keluarga dan masyarakat
yang ada disekitarnya.
Banyak

ahli

menguraikan

pengertian

keluarga

sesuai

dengan

perkembangan sosial masyarakat. Berikut ini definisi keluarga menurut beberapa


ahli dalam (Jhonson R, 2010) :
1. Raisner
Keluarga adalah sebuah kelompok yang terdiri dan dua orang atau lebih
masing masing mempunyai hubungan kekerabatan yang terdiri dari bapak,
ibu, kakak, dan nenek.
2. Duval
Menguraikan bahwa keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan
perkawinan, kelahiran dan adopsi yang bertujuan untuk menciptakan,
mempertahankan budaya dan meningkatkan perkembangan fisik, mental,
emosional serta sosial dari setiap anggota keluarga.
3. Spradley dan alllender
Satu atau lebih yang tinggal bersama, sehingga mempunyai ikatan emosional
dan mengembangkan dalam interelasi sosial, peran dan tugas.
4. Departemen Kesehatan RI
Keluarga merupakan unti terkecil dari masyarakat yang terdiri dari kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu tempat di
bawah satu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

B. Tipe Atau Bentuk Keluarga


Gambaran tentang pembagian Tipe Keluarga sangat beraneka ragam,
tergantung pada konteks keilmuan dan orang yang mengelompokkan, namun
secara umum pembagian Tipe Keluarga dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1. Pengelompokan secara Tradisional
Secara Tradisional, Tipe Keluarga dapat dikelompokkan dalam 2 macam,
yaitu :
a. Nuclear Family (Keluarga Inti)
Adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah, ibu dan anak yang
diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.
b. Extended Family (Keluarga Besar)
Adalah keluarga inti ditambah anggota keluarga lain yang masih
mempunyai hubungan darah, seperti kakek, nenek, paman, dan bibi
2. Pengelompokan secara Modern
Dipengaruhi oleh semakin berkembangnya peran individu dan meningkatnya
rasa individualisme, maka tipe keluarga Modern dapat dikelompokkan
menjadi beberapa macam, diantaranya :
a. Tradisional Nuclear
Adalah : Keluarga INTI (Ayah, Ibu dan Anak) yang tinggal dalam satu
rumah yang ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan
perkawinan, dimana salah satu atau keduanya dapat bekerja di luar
rumah.
b. Niddle Age/Aging Couple
Adalah : suatu keluarga dimana suami sebagai pencari uang dan istri di
rmah atau kedua-duanya bekerja di rumah, sedangkan anak-anak sudah
meninggalkan rumah karena sekolah/menikah/meniti karier.
c. Dyadic Nuclear
Adalah : suatu keluarga dimana suami-istri sudah berumur dan tidak
mempunyai anak yang keduanya atau salah satunya bekerja di luar
rumah.
d. Single Parent
Adalah : keluarga yang hanya mempunyai satu orang tua sebagai akibat
perceraian atau kematian pasangannya dan anak-anaknya dapat tinggal
di rumah atau di luar rumah.
e. Dual Carrier
Adalah : Keluarga dengan suami istri yang kedua-duanya orang karier
f.

dan tanpa memiliki anak.


Three Generation
Adalah : keluarga yang terdiri atas tiga generasi atau lebih yang tinggal
dalam satu rumah.

g. Comunal
Adalah : keluarga yang dalam satu rumah terdiri dari dua pasangan
suamiistri atau lebih yang monogamy berikut anak-anaknya dan
bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
h. Cohibing Couple/Keluarga Kabitas/Cahabitation
Adalah : keluarga dengan dua orang atau satu pasangan yang tinggal
i.

bersama tanpa ikatan perkawinan.


Composite /Keluarga Berkomposisi
Adalah : sebuah keluarga dengan perkawinan poligami dan hidup/tinggal

j.

secara bersama-sama dalam satu rumah.


Gay and Lesbian Family
Adalah : keluarga yang dibentuk oleh pasangan yang berjenis kelamin
sama.

C. Peranan Keluarga
Peranan keluarga menggambarkan seperangkat perilaku antar pribadi,
sifat, kegiatan yang berhubungan dengan pribadi dalam posisi dan situasi
tertentu. Peranan pribadi dalam keluarga didasari oleh harapan dan pola perilaku
dan keluarga, kelompik dan masyarakat. Berbagai peranan yang terdapat
didalam keluarga adalan sebagai berikut
1. Ayah sebagai suami dari istri dan ayah bagi anak-anak, berperan sebagai
pencari nafkah, pendidik, pelindung dan pemberi rasa aman, sebagai kepala
keluarga, sebagai anggota masyarakat dari lingkungan nya.
2. Ibu sebagai istri dan ibu dari anak-anaknya, ibu mempunyai peranan untuk
mengurus rumah tangga, sebagai pengasuh dan pendidik bagi anakanaknya, pelindung dan sebagai salah satu kelompok dari peranan sosial
serta sebagai anggota masyarakat dilingkungan nya, di samping itu juga ibu
berperan sebagai pencari nafkah tambahan dalam keluarganya.
3. Anak-anak melaksanakan peranan psikososial sesuai dengan tingkat
perkembangannya baik fisik, mental, sosial, dan spiritual.
D. Pengertian Penyakit Menular
Dalam medis, penyakit menular atau penyakit infeksi adalah sebuah
penyakit yang disebabkan oleh sebuah agen biologi (seperti virus, bakteria atau
parasit), bukan disebabkan faktor fisik (seperti luka bakar) atau kimia (seperti
keracunan).

Penyakit menular adalah penyakit yang disebabkan oleh patogen(kuman)


seperti virus, bakteri, parasit, atau jamur.
Penyakit menular merupakan penyakit yang dapat menular (berpindah)
dari satu orang ke orang lainnya yang biasanya disebabkan oleh kontak
langsung dengan penderita ataupun melalui perantara.
E. Jenis Penyakit Menular
Penyakit menular biasanya terjadi disebabkan oleh seseorang tertular
kuman (patogen) yang dapat berupa virus, bakteri, amoeba dan jamur dari
seorang penderita. Berdasarkan cara penularannya penyakit menular bisa
dikelompokkan sebagai berikut:
1. Penyakit Menular Melalui Air
Pada penyakit menular jenis ini biasanya kuman masuk ke dalam tubuh melalui
proses makan dan minum. Contoh penyakit menular jenis ini diantaranya adalah:
a. Tifus
b. Kolera
c. Disentri
2. Penyakit Menular Melalui Udara
Pada Penyakit menular jenis ini menular karena udara sekitar terkontaminasi
kuman penyakit. Contohnya antara lain:
a. TBC
b. Flu Burung
c. SARS

3. Penyakit Menular Melalui Alat Kelamin


Penyakit menular jenis ini biasanya ditularkan dari seorang penderita ke orang
lain melalui hubungan badan dan atau terjadi pertukaran cairan karenanya.
Contohnya antara lain:
a. AIDS/HIV
b. Sifilis
c. HPV
4. Penyakit Menular Melalui Kulit

Penyakit menular jenis ini biasanya ditularkan karena bersentuhan langsung


dengan penderita. Contohnya antara lain:
a. Herpes
b. Kudis
c. Kurap
5. Penyakit Menular Melalui Binatang
Penyakit menular jenis ini biasanya tersebar melalui kotoran binatang maupun
kontak langsung dengan binatang. Contohnya antara lain:
a. Toxoplasma
b. Ebola
c. Penyakit Sapi Gila
F. Penularan
Penyakit infeksius dapat ditularkan dalam berbagai cara termasuk :
1. Makanan dan air yang terkontaminasi Beberapa penyakit yang ditularkan
melalui makanan atau air yang terkontaminasi. Hal ini dapat terjadi pada
makanan matangatau ketika limbah masuk ke pasokan air. Contoh penyakit yang
ditularkan dengan cara ini mencakup E. coli, kolera, dansalmonella.
2. Gigitan serangga Serangga seperti kutu, nyamuk, dan tungau dapat membawa
patogen yang bisa diteruskan ketika mereka melakukan kontak dengan manusia.
Penyakitdari serangga termasukmalaria (nyamuk), penyakit Lyme (kutu),
danpenyakit pes (kutu).
3. Kontak langsung Penyakit sering ditularkan dari orang ke orang melalui kontak
langsung. Hal ini dapat mencakup berjabat tangan, bersin (udara), dan mencium.
Contohnya termasuk influenza, pilek, dancacar air.
4. Kontak tidak langsung Beberapa patogen dapat bertahan untuk sementara di
luartuan rumah. Mereka mungkin pada benda-benda seperti gagang pintu dan
telepon. Banyak penyakit yang sama, tapi tidak semua, yangdapat menyebar
melalui kontak langsung juga dapat menyebar melalui kontak langsung.

G. Pengertian Tuberkulosis
Tuberculosis (TB) adalah penyakit infeksius yang terutama menyerang
perankim paru. Tuberculosis dapat juga ditularkan kebagian tubuh lainnya,
terutama meninges, ginjal, tulang, dan nodus limfe (Suzanne dan Brenda, 2001).

Tuberculosis

(TB)

adalah

penyakit

akibat

kuman

mycobacterium

tuberculosis sitemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi
terbanyak diparu-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif
Mansjoer, 2000).
Tuberkulosis

adalah

penyakit

infeksi

yang

disebabkan

basil Mycobacterium Tuberculosa, atau basil tuberkel, yang tahan asam. ( dr,
Jan Tambayong, 2000 ).
Tuberkulosis paru adalah penyakit menular langsung yang disebabkan
oleh kuman TB yaitu Mycobacterium Tuberkulosa yang hanya dapat dilihat
dengan kaca pembesar (mikroskop).
H. Etiologi
Tuberculosis

merupakan

penyakit

infeksi

yang

disebabkan

oleh

Mycobacterium tuberculosis dan Micobacterium bovis (sangat jarang disebabkan


oleh Micobacterium avium). Mycobacterium tuberculosis ditemukan oleh Robert
Koch pada tahun 1882. Basil tuberkulosis dapat hidup dan tetap virulen
beberapa minggu dalam keadaan kering, tetapi dalam cairan mati pada suhu
60C dalam 15-20 menit. Fraksi protein basil tuberculosis menyebabkan nekrosis
jaringan sedangkan lemaknya menyebabkan sifat tahan asam dan merupakan
faktor penyebab terjadinya fibrosis dan terbentuknya sel epiteloid dan tuberkel.
Basil Mycobacterium tuberculosis tidak membentuk toksin (baik endotoksin
maupun eksotoksin).
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara hingga
sebagian besar fokus primer tuberculosis terdapat dalam paru. Selain melalui
udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil
tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak
langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit. Tuberculosis kongenital sangat
jarang dijumpai. Selain Mycobacterium tuberculosis perlu juga dikenal golongan
Mycobacterium lain yang dapat menyebabkan kelainan yang menyerupai
tuberculosis. Golongan ini disebut Mycobacterium atipic atau disebut juga
unclassified Mycobacterium.
Faktor Pencetus
1. Adanya sumber penularan (Kontak langsung 1 rumah)
2. Gizi yang kurang.

3.
4.
5.
6.

Daya Tahan tubuh rendah.


Tingkat social ekonomi.
Faktor usia, nutrisi, imunisasi,
Keadaan perumahan meliputi (suhu dalam rumah,ventilasi, pencahayaan
dalam rumah, kelembaban rumah, kepadatan penghuni dan lingkungan

sekitar rumah )
7. Pekerjaan.
(Amir dan Alsegaf, 1989)
I.

Patofisiologi
Masuknya kuman tuberkulosis ke dalam tubuh tidak selalu menimbulkan

penyakit. Infeksi dipengaruhi oleh virulensi dan banyaknya basil tuberkulosis


serta daya tahan tubuh manusia. Sekitar 2 sampai 10 minggu (6-8 minggu)
setelah menghirup basil tuberkulosis hidup di dalam paru-paru, maka terjadi
eksudasi dan konsolidasi yang terbatas disebut fokus primer. Basil tuberkulosis
akan menyebar, histosit mulai mengangkut organisme tersebut ke kelenjar limfe
regional melalui saluran getah bening menuju kelenjar getah bening regional
sehingga terbentuk kompleks primer dan mengadakan reaksi eksudasi.
Pada anak yang mengalami lesi, dalam paru dapat terjadi dimanapun
terutama di perifer dekat pleura, tetapi lebih banyak terjadi di Lapangan bawah
paru dibanding dengan lapangan atas. Juga terdapat pembesaran kelenjar
regional serta penyebarannya lebih banyak terjadi melalui hematogen. Pada
reaksi radang dimana leukosit polimorfonukleat tampak pada alveoli dan
memfagosit bakteri namun tidak membunuhnya. Kemudian basil menyebar ke
limfe dan sirkulasi. Dalam beberapa minggu limfosit T menjadi sensitif terhadap
organisme TBC dan membebaskan limfokim yang merubah makrofag atau
mengaktifkan makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan
timbul gejala pneumonia akut. Pneumonia seluler ini dapat sembuh dengan
sendirinya, sehingga tidak ada sisa nekrosis yang tertinggal, atau proses dapat
berjalan terus dan bakteri terus difagosit atau berkembang biak dalam sel.
Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian
bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit.
Nekrosis pada bagian sentral memberikan gambaran yang relatif padat pada
tubuh, yang disebut nekrosis kasiosa.

10

Terdapat tiga macam penyebaran secara patogen pada tuberkulosis


anak, yaitu :
1. Penyebaran Hematogen tersembunyi yang kemudian mungkin menimbul
gejala atau tanpa gejala klinis.
2. Penyebaran milier, biasanya terjadi sekaligus dan menimbulkan gejala akut,
kadang-kadang kronis.
3. Penyeberan hematogen berulang.
J. Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis pada penderita Tuberculosis, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Batuk berdahak, atau berdarah. > 3 minggu.


Sesak nafas dan nyeri dada
Badan lemah
Demam meriang lebih dari sebulan.
Berkeringat malam walaupun tanpa kegiatan
Nafsu makan menurun
Berat badan menurun

K. Pemeriksaan Penunjang
Permulaan tuberkulosis sukar diketahui karena gejalanya tidak jelas dan
tidak khas,tetapi kalau terdapat panas yang naik turun dan lama dengan atau
tanpa batuk dan pilek, anoreksia, penurunan berat badan dan anak lesu, harus
dipikirkan kemungkinan tuberkulosis. Petunjuk lain umtuk diagnosis tuberkulosis
ialah adanya kontak dengan penderita tuberkulosis orang dewasa. Diagnosis
tuberkulosis paru berdasarkan gambaran klinis, uji tuberkulin positif dan kelainan
radiologis paru. Basil tuberkulosis tidak selalu dapat ditemukan pada anak.
1. Uji Tuberkulin
Pemeriksaan ini merupakan alat

diagnosis yang penting dalam

menegakkan diagnosis tuberkulosis.uji tuberkulin lebih penting lagi artinya pada


anak kecil bila diketahui adanya komversi dari negatif (recent tuberculin
converter).pada anak dibawah umur lima tahun dengan uji

tuberkulin

positif,proses tuberkulosis biasanya masih aktifmeskipun tidak menunjukkan


kelainan klinis dan radiologis, demikian pula halnya jika terdapat konfersi uji
tuberkulin. Uji tuberkulin dilakukan berdasarkan timbulnya hipersensitivitas
terhadap tuberkulo protein karena adanya infeksi

11

Ada beberapa cara melakukan uji tuberkulin yaitu cara moro dengan
salep, dengan goresan disebut patch test cara von pirquet, cara mantoux dengan
penyuntikan intrakutan dan multiple puncture method dengan empat-enam
jarum berdasarkan cara Heaf dan tine. Sampai sekarang cara mantoux masih
dianggap sebagai cara yang paling dapat dipertanggungjawabkan karena jumlah
tuberkulin yang dimasukkan dapat diketahui banyaknya. Reaksi lokal yang
terdapat pada mantoux terdiri atas: Eritema karena vasodilatasi primer, Edema
karena reaksi antara antigen yang disuntikkan dengan antibody dan indurasi
yang dibentuk oleh sel mononukleus
Pembacaan uji tuberkulin dilakukan 48-72 jam setelah penyuntikan dan
diukur diameter melintang dari indurasi yang terjadi. Tuberkulin yang biasanya
dipakai ialah Old Tuberculin (OT) dan purified protein Derivative tuberculin (PPD).
2. Pemeriksaan Radiologis
Secara rutin dilakukan fotorontgen paru dan atas indikasi juga dibuat
fotorontgen

alat

tubuh

lain,misalnya

foto

tulang

punggung

pada

spondilitis. Gambaran radiologis paru yang biasanya dijumpai pada tuberkulosis


paru ialah :
a.
b.
c.
d.
e.

Kompleks primer dengan atau tanpa perkapuran


pembesaran kelenjar paratrakeal
Penyebaran milier
Atelektasis
Pleuritis dengan efusi.
Pemeriksaan radiologis paru saja tidak dapat digunakan untuk membuat
diagnosis tuberkulosis,tetapi harus disertai data klinis lainnya

3. Pemeriksaan Bakteriologis
Penemuan basil tuberkulosis memastikan diagnosis tuberkulosis, tetapi
tidak

ditemukannya

basil

tuberkulosis

bukan

berarti

tidak

menderita

tuberkulosis. Bahan-bahan yang digunakan untuk pemeriksaan bakteriologis


ialah:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bilasan lambung
Sekret bronkus
Sputum pada anak besar
Cairan pleura
Likuor serebrospinalis
Cairan asites

12

g. Bahan-bahan lainnya
4. Uji Laboratorium
LED meninggi, sering tinggi sekali. Mungkin liositosis, monositosis,
anemia, leukositosis ringan, bila ditemui hasil demikian (bila tidak ada faktor lain)
akan menyokong diagnosis. Gambaran darah normal tidak menyingkirkan TBC.
Gambaran darah tepi dan laju endap darah hanya mempunyai korelasi dengan
aktivitas penyakit. Pemeriksaan cairan spinal dilakukan atas indikasi kecurigaan
meningitis dan pada setiap TBC milier.
L. Penatalaksanaan Medis
1. Pemberian terapi pada tuberculosis didasarkan pada 3 karakteristik
basil,yaitu:
a. Basil yang berkembang cepat ditempat yang kaya akan oksigen.
b. Basil yang hidup di tempat yang kurang oksigen berkembang lambat dan
dorman (tidur/berdiam di paru) hingga beberapa tahun.
c. Basil yang mengalami mutasi sehingga resisten terhadap obat.
Isonized (INH) bekerja sebagai bakterisidal terhadap basil yang tumbuh
aktif, diberikan selama 12-18 bulan, dosis 10-20 mg/kgBB/hari melalui oral.
Selanjutnya kombinasi antara INH dan pyrazinamid (PZA) diberikan selama 6
bulan. Selama 2 bulan pertama obat diberikan setiap hari, selanjutnya obat
diberikan dua kali dalam 1 minggu.
Pada TB berat dan ekstrapulmonal biasanya pengobatan dimulai dengan
kombinasi 4-5 obat selama 2 bulan (ditambah Ethambutol dan streptomisin),
dilanjutkan dengan INH dan Rifampisin selama 4-10 bulan sesuai perkembangan
klinis. Pada meningitis TB, perikarditis, TB milier, dan efusi pleura diberikan
kortikosteroid yaitu prednison 1-2 mg/kgBB/hari selama 2 minggu, diturunkan
perlahan (tapering off) sampai 2-6 minggu bersamaan dengan pemberian obat
anti

tuberkulosis.

Obat

tambahan

antara

lain

streptomycin

(diberikan

intramuscular) dan ethambutol.


2. Selain itu juga, kita jangan melupakan terapi pemberian nutrisi yang adekuat,
untuk menjaga daya tahan tubuh klien agar tidak terjadi penyebaran infeksi
ke organ tubuh yang lainnya. Ada juga terapi pembedahan. Terapi ini
dilakukan jika kemoterapi tidak berhasil. Dilakukan dengan mengangkat

13

jaringan paru yang rusak, tindakan ortopedi untuk memperbaiki kelainan


tulang, bronkoskopi untuk mengangkat polip granulornatosa tuberkulosis
untuk jaringan paru yang rusak. Pencegahan adalah dengan menghindari
kontak dengan orang yang terinfeksi basil tuberculosis, mempertahankan
status kesehatan dengan intake nutrisi yang adekuat, meminum susu yang
sudah dilakukan pasteurisasi, isolasi jika pada analisa sputum terdapat
bakteri hingga dilakukan kemoterapi, pemberian imunisasi BCG untuk
meningkatkan daya tahan tubuh terhadap infeksi oleh basil tuberculosis
virulen.

M. Konsep Asuhan Penyakit Menular pada Keluarga


1. Pengkajian
a. Identitas Pasien.
Pengkajian ini mencakup nama klien, jenis kelamin, pendidikan,
pekerjaan, agama,

suku/bangsa, status perkawinan, alamat, tanggal

masuk RS, diagnosa medis, ruang dan nomor register.


b. Identitas Penanggung Jawab.
Meliputi nama, umur, jenis kelamin, pendidikan, pelajaran, agama,
alamat, hubungan dengan klien.
c. Aktifitas/istirahat.
Gejala : Kelelahan umum dan kelemahan.
Napas pendek karena kerja.
Kesulitan tidur pada malam hari atau demam malam hari, menggigil dan
atau berkeringat.
Tanda : Takikardia, takipnea/dispnea pada kerja.
Kelelahan otot, nyeri, dan sesak (tahap lanjut).
d. Integritas Ego
Gejala : Adanya/faktor stres lama.
Masalah keuangan, rumah.
Perasaan tak berdaya/etnik : madura, dll.

14

Tanda : Menyangkal (khususnya selama tahap dini).


Ansietas, ketakutan, mudah terangsang.
e. Makanan/cairan
Gejala : Kehilangan nafsu makan.Tak dapat mencerna.Penurunan berat
badan.
Tanda : Turgor kulit buruk, kering/kulit bersisik. Kehilangan otot/hilang
lemak subkutan.
f.

Nyeri/Kenyamanan
Gejala : Nyeri dada meningkat karena batuk berulang.
Tanda : Berhatihati pada area yang sakit. perilaku distraksi, gelisah.

g. Pernapasan
Gejala : Batuk, produktif atau tak produktif. Napas pendek. Riwayat
tuberkulosis/terpajan pada individu terinfeksi.
Tanda : Peningkatan frekuensi pernapasan.Pengembangan pernapasan
tak simetris. Perkusi pekak dan penurunan fremitus (cairan pleural atau
penebalan pleural). Karakteristik sputum : Hijau/purulen, mukoid kuning,
atau bercak darah. Deviasi trakeal (penyebaran bronkogenik). Tak
perhatian, mudah terangsang yang nyata, perubahan mental (tahap
lanjut)
h. Keamanan
Gejala : Adanya kondisi penekanan imun, contoh AIDS, Kanker. Tes HIV
positif.
Tanda : Demam rendah atau panas akut.
i.

Interaksi Sosial.
Gejala : Perasaan isolasi/penolakan karena penyakit menular. Perubahan
pola biasa dalam tanggung jawab/perubahan kapasitas fisik untuk
melaksanakan peran.

j.
k.
l.
m.
n.
o.
p.

Riwayat Dan Tahap Perkembangan Keluarga


Data Lingkungan
Struktur Keluarga
Fungsi Keluarga
Koping Keluarga
Pemeriksaan fisik
Harapan keluarga pada petugas kesehatan

q. Penyuluhan/Pembelajaran
Gejala : Riwayat keluarga Tuberkulosis Ketidakmampuan umum/status

15

kesehatan buruk. Gagal untuk membaik/kambuhnya tuberkulosis paru


dan tidak berpartisipasi dalam terapi.
Rencana pemulangan : memerlukan bantuan dengan/gangguan dalam
terapi obat dan bantuan perawatan diri dan pemeliharaan/perawatan
rumah.
2. Diagnosa Keperawatan
Perumusan diagnosis keperawatan keluarga menggunakan aturan yang
telah disepakati, terdiri dari Masalah (problem, P) adalah suatu pernyataan tidak
terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yang dialami oleh keluarga atau anggota
(individu).

Penyebab (etiology ,E)

adalah

suatu

pernyataan

yang

dapat

menyebabkan masalah dengan mengacu kepada lima tugas keluarga, yaitu


mengenal masalah, mengambil keputusan yang tepat, merawat anggota
keluarga, memelihara lingkungan, atau memanfaatkan fasilitas pelayanan
kesehatan. Tanda (Sign, S) adalah sekumpulan data subyektif dan obyektif yang
diperoleh perawat dari keluarga secara langsung atau tidak yang mendukung
masalah dan penyebab.
Apabila perawat merumuskan diagnosis keperawatan lebih dari satu perlu
dilakukan skor Proses skoring menggunakan skala yang telah dirumuskan oleh
Bailon dan Maglaya (1978). Proses scoring untuk setiap diagnosis keperawatan:
a. Tentukan skornya sesuai dengan kriteria yang di buat perawat.
b. Selanjutnya skor dibagi dengan skor tertinggi dan dikalikan dengan bobot.
Skor yang diperoleh
______________ x bobot
Skor tertinggi
c. Jumlah skor untuk semua kriteria (skor maksimum sama dengan jumlah
bobot, yaitu 5).
Tipologi diagnosis keperawatan keluarga dibedakan menjadi tiga
kelompok, yaitu:
a. Diagnosis actual adalah masalah keperwatan yang sedang dialami oleh
keluarga dan memerlukan bantuan dari perawat dengan cepat.
b. Diagnosis resiko / resiko tinggi adalah masalah keperawatan yang belum
terjadi, tetapi tanda untuk menjadi masalah keperawatan actual dapat terjadi
dengan cepat apabila tidak segera mendapat bantuan perawat.

16

c. Diagnosis potensial adalah suatu keadaan sejahtera dari keluarga ketika


keluarga telah mampu memenuhi kebutuhan kesehatannya dan mempunyai
sumber penunjang kesehatan yang memungkinkan dapat ditingkatkan.
Diagnosa yang mungkin muncul pada keluarga dengan penyakit TBC adalah :
a. Nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan anoreksia
b. Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan secret yang keluar
c. Ketidakefektifan bersihan jalan nafas berhubungan dengan penumpukan
secret yang berlebih.
d. Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan suplay O2 yang menurun
(Doenges,1999:240-247).
Dalam merumuskan diagnosa dalam keperawatan keluarga perlu
dilakukan prioritas masalah dan adanya kriteria prioritas masalah.
Prioritas masalah
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prioritas masalah adalah sebagai berikut :
a. Tidak

mungkin

masalah-masalah

kesehatan

dan

ditemukan dalam keluarga dapat diatasi sekaligus.


b. Perlu mempertimbangkan masalah-masalan yang

keperawatan
dapat

yang

mengancam

kehidupan keluarga seperti masalah penyakit.


c. Perlu mempertimbangkan respon dan perhatian keluarga terhadap asuhan
keperawatan yang akan diberikan.
d. Keterlibatan keluarga dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi.
e. Sumber daya keluarga yang dapat menunjang pemecahan masalah
f.

kesehatan/ keperawatan keluarga.


Penetahuan dan kebudayaan keluarga (Effendy,1998).

Kriteria prioritas masalah


Beberapa kriteria dalam penyusunan prioritas masalah menurut Effendy
(1998:52)
a. Sifat masalah, dikelompokkan menjadi : ancaman kesehatan, keadaan sakit
atau kurang sehat dan situasi krisis.
b. Kemungkinan masalah dapat dirubah, adalah kemungkinan keberhasilan
untuk mengurangi masalah atau mencegah masalah bila dilakukan intervensi
keperawatan dan kesehatan.
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi masalah TBC dapat dirubah adalah:

17

a. Pengetahuan dan tindakan untuk menangani masalah TBC.


b. Sumber daya keluarga, diantaranya adalah keuangan, tenaga, sarana dan
prasarana.
c. Sumber daya perawatan, diataranya adalah pengetahuan dan ketrampilan
dalam penanganan masalah TBC serta waktu.
d. Sumber daya masyarakat, dapat dalam bentuk fasilitas, organisasi, seperti
posyandu, polindes dan sebagainya.
e. Potensi masalah TBC untuk dicegah, adalah sifat dan beratnya masalah TBC
yang akan timbul dan dapat dikuraangi atau dicegah melalui tindakan
keperawatan dan kesehatan.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam melihat potensi pencegahan masalah TBC
adalah :
a. Kepelikan/kesulitan masalah,hal ini berkaitan dengan beratnya penyakit atau
masalah TBC yang menunjukkan pada prognosa dan beratnya TBC yang
diderita oleh anggota keluarga.
b. Tindakan yang sudah dan sedang dijalankan, adalah tindakan untuk
mencegah dan mengobati masalah TBC dalam rangka meningkatkan status
kesehatan keluarga.
c. Lamanya masalah, berhubungan dengan beratnya masalah TBC pada
keluarga dan potensi masalah untuk dicegah.
d. Adanya kelompok resiko tinggi dalam keluarga atau kelompok yang sangat
peka menambah potensi untuk mencegah masalah.
e. Menonjolnya masalah TBC,adalah cara keluarga melihat dan menilai
masalah TBC dalam hal beratnya dan mendesaknya untuk diatasi melalui
intervensi keperawatan dan kesehatan.
3. Intervensi Keperawatan
Intervensi keperawatan pada penderita TB paru menurut (Muttaqin,2008).
a. Ketidakefektifan jalan nafas.
Intervensi :
1) Kaji fungsi pernafasan.
2) Kaji kemampuan mengeluarkan sekresi, catat karakter, volume sputum,
dan adanya hemoptisis.
3) Berikan posisi fowler atau semi fowler tinggi dan bantu klien berlatih
nafas dalam dan batuk efektif.

18

4) Pertahankan intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak


diindikasikan.
5) Bersihkan sekret dari mulut dan trakhea, bila perlu lakukan pengisapan
(suction).
6) Kolaborasi pemberian obat sesuai indikasi.
b. Kurang informasi dan pengetahuan mengenai kondisi, aturan pengobatan,
proses penyakit, dan penatalaksanaan perawatan di rumah.
Intervensi :
1) Kaji kemampuan klien untuk mengikuti pembelajaran (tingkat kecemasan,
kelelahan umum, pengetahuan klien sebelumnya, dan suasana yang
tepat).
2) Jelaskan tentang dosis obat, frekuensi pemberian, kerja yang diharapkan,
dan alasan mengapa pengobatan tuberkulosis berlangsung dalam waktu
lama.
3) Ajarkan dan nilai kemampuan klien untuk mengidentifikasi gejala/tanda
reaktivasi penyakit (hemoptisis, demam, nyeri dada, kesulitan bernafas,
kehilangan pendengaran, dan vertigo).
4) Tekankan pentingnya mmpertahankan intake cairan yang cukup setiap
hari, dan intake yang mengandung TKTP.

19

Bab III
Contoh Kasus Asuhan Keperawatan dengan Penyakit Menular
A. Pengkajian Keperawatan
1. Struktur Dan Sifat Keluarga
a. Kepala Keluarga
Nama
: Tn. M
Jenis Kelamin
: Laki Laki
Suku
: Melayu
Umur
: 54 Tahun
Agama
: Islam
Pendidikan
: SD
Pekerjaan
: Petani
Alamat
: RT 22 RW 06 Roban, Singkawang
b. Susunan Anggota Keluarga
No.

NAMA

L/P

USIA

HUB.KK

PEND

PEKJ

KET

1.

Ny.M

68 tahun

Mertua

Sakit

2.

Ny. F

48 tahun

Istri

SD

Tani

Sehat

3.

Nn. S

18 tahun

Anak

SLTA

Sehat

4.

An. AS

12 tahun

Anak

SD

Sehat

c. Genogram

Keterangan :
: Laki-laki
: Perempuan
: Sakit

2
0

20

: Meninggal

-- - - - - : Tinggal serumah
d. Jenis/type Keluarga
Jenis

: Extendet

2. Faktor Sosio-Budaya-Ekonomi
a. Penghasilan Dan Pengeluaran
Sumber penghasilan adalah dari kegiatan bertani yang dilakukan oleh
kepala keluarga bersama istri, yaitu sekitar Rp. 500.000,-/perbulan.
Pengeluaran perbulan untuk keperluan makan sekitar Rp. 300.000,dan sisanya untuk keperluan lain lain seperti membayar listrik,
kebutuhan anak sekolah.
b. Pendidikan
Anggota keluarga semuanya berpendidikan semuanya berpendidikan
tingkat dasar, kecuali mertua yang tidak sekolah, dan anak pertama yang
sedang sekolah kelas 12 (SMA kelas III). Berkaitan dengan penyakit TBC
yang diderita Tn. MS, keluarga mengatakan tidak tahu bagaimana cara
penularan TB paru kepada orang lain dan bagaimana cara pencegahan
terhadap anggota keluarga yang lain. Setelah dijelaskan tentang
pengertian penyakit, cara pencegahan dan pengobatannya, Tn.M dan
Ny.F belum bisa menjawab pertanyaan sederhana perawat
c. Suku Dan Agama
Keluarga merupakan suku Melayu dan beragama Islam, dalam
menjalankan perintah agama keluarga cukup taat dan rajin mengikuti
kegiatan keagamaan seperti sholat jamaah di Musholla, sholat Jumat di
Mesjid, acara tahlilan/yasiinan (bapak-bapak dan ibu-ibu), acara Diba
(remaja putri dan ibu-ibu).
3. Kegiatan Sehari Hari
a. Nutrisi
Keluarga lebih sering memasak sendiri dari pada membeli, dengan
komposisi sebagai berikut : makanan pokok yaitu nasi, tempe dan tahu,
sayuran yang didapat dari kebun/sawah, jarang makan buah dan minum
susu. Keluarga dalam memasak sayur dengan mencuci dulu lalu dipotong

21

potong. Keluarga makan tiga kali dalam sehari dengan porsi yang
cukup. Pemberian makan sama rata untuk seluruh anggota keluarga.
Cara menghidangkannya terbuka di atas meja. Alat makan digunakan
bersama

atau

tidak

ada

pemisahan

dalam

pemakaiannya.

Pantangan makan tidak ada.


b. Eliminasi
Pola BAB anggota keluarga sehari sekali dan BAK tiga-empat kali sehari.
Pada anggota keluarga tidak ada yang mengalami gangguan dalam
eliminasi. Tempat BAB adalah di sungai atau menumpang di WC
tetangga.
c. Olah Raga
Kepala keluarga mengatakan tidak menyediakan waktu khusus untuk
melakukan olah raga, tapi dia telah rutin pergi ke sawah setiap pagi dan
sore. Kegiatan di sawah mislnya mencangkul, mencari rumput untuk
ternak, atau mencabuti rumput yang mengganggu tanaman padi. Istri
juga tidak meluangkan waktu untuk kegiatan olah raga secara khusus, dia
hanya ikut membantu suami kerja di sawah. Anak-anak tidak ada
kegiatan olah raga di rumah, sedangkan di sekolah sesuai jadwal olah
raga di sekolah masing-masing.
d. Kebersihan Diri
Kepala keluarga dan istri mandi 2 kali sehari, yaitu sepulang dari sawah
dan pada sore hari. Anak-anak mandi 2 kali sehari sebelum berangkat
sekolah dan pada sore hari. Kebersihan mandi dua kali sehari dengan
menggunakan sabun mandi, menggosok gigi sekali sehari dengan pasta
gigi serta mencuci rambut tiga hari sekali dengan menggunakan sampho,
kebiasaan mandi keluarga di rumah dengan air sumber yang berasal dari
air ledeng. Berkaitan dengan TBC, keluarga mengatakan tidak mengerti
mengenai sanitasi yang sehat yang dapat mencegah penularan TB paru.
Tn.MS mengatakan tidak mempunyai tempat khusus untuk pembuangan
dahak, biasanya meludah di halaman atau dimana saja saat ia berada.
e. Waktu Senggang/Hiburan/Rekreasi
Penggunaan waktu senggang oleh anggota keluarga dengan santai
santai atau digunakan untuk membicarakan masalah keluarga. Anggota
keluarga dalam menggunakan waktu senggangnya sesuai dengan usia
dan jenis kelamin. Untuk mendapatkan hiburan keluarga melihat televisi
f.

dan radio.
Istirahat

22

Pola istirahat keluarga jarang tidaur siang, kalau sempat tidur siang
biasanya selama 1 2 jam mulai pukul 12.30 14.30. Kebiasaan tidur
pada malan hari jam 22.00 05.00. Pada Tn. MS tidurnya sering
terganggu oleh karena sering batuk pada malam hari, dan sering
berkeringat dingin pada malam hari.
g. Kebiasaan Sosial
Semua anggota keluarga terlibat aktif dalam kegiatan sosial masyarakat
seperti kegiatan tahlilan, diba dan lain-lain. Kepala keluarga yaitu Tn. MS
dahulu merupakan perokok berat dengan frekuensi 1 pak perhari. Sejak
sakit frekuensi merokok dikurangi sekitar pak perhari.
4. Riwayat Tahap Perkembangan Keluarga
a. Tahap Perkembangan Keluarga
Tahap perkembangan keluarga saat ini berada pada tahap ke III, yaitu
keluarga dengan anak usia sekolah. Anak pertama perempuan, masih
sekolah di SLTA dengan usia 18 tahun, sedangkan anak kedua laki-laki
berusia 12 tahun dan masih sekolah dibangku SD.
b. Riwayat Keluarga Inti
Keluarga tidak mempunyai penyakit keturunan. Riwayat kesehatan
masing masing keluarga baik kecuali Tn. MS yang mempunyai riwayat
TBC. Kebiasaan anggota keluarga apabila ada yang sakit periksa ke
Bidan Desa atau ke Mantri. Untuk mengatasi penyakit yang diderita saat
ini, Tn.MS berobat rutin ke Puskesmas Condong, dan sekarang ini obat
sudah dapat diambil di Polindes.
c. Riwayat Keluarga Sebelumnya
Riwayat kesehatan sebelumnya, keluarga mengatakan tidak pernah sakit
serius. Mertua Tn.MS saat ini sudah lanjut usia, dan mengalami sakit
batuk-batuk dan linu-linu, belum pernah periksa lab/dahak, hanya berobat
kalau linu-linunya dirasa sangat mengganggu.
5. Faktor Lingkungan
a. Karakteristik Perumahan
Perumahan yang digunakan adalah semi permanen dan miliknya sendiri.
Luas pekarangan 5 x 9 meter dengan bangunan rumah 8 x 12 meter.
Lantai rumah sebagian dari plester semen dan sebagian masih tanah,
atap dari genting. Ventilasi ada beberapa yaitu : di ruang tamu ada

23

jendela, disekitar kamar dan ruang tengah serta dapur, disetiap kamar
dan ruang tengah serta dapur ada lubang angin, Penerangan
menggunakan lampu listrik. Kamar tamu ada sebuah lampu neon 15 watt,
ruang tengah terdapat bola lampu 20 watt, masingmasing kamar dan
dapur terdapat lampu pijar 10 watt.
Ruang tamu cukup rapi dan bersih, terdapat perabotan (kursi), ruang
tidur, dapur berdinding bambu anyam dan lantai tanah. Keluarga
mempunyai kamar mandi tapi tidak ada WC, bila buang air besar di
sungai atau numpang di WC tetangga. Halaman rumah tampak kurang
bersih oleh rerumputan disekitar rumahnya.
Keluarga menggunakan air sumber dari mata air Sumberawan untuk
minum dan memasak, keadaan air secara fisik jernih, tidak berbau dan
tidak berasa. Keluarga menyimpan air dari sumur dalam gentong yang
kebersihannya cukup dan tertutup.
Keluarga mempunyai tempat pembuangan limbah yang dibuang langsung
di belakang rumah dan dibiarkan terbuka.
Keluarga mempunyai ternak sapi dengan kandang menempel di belakang
dapur. Pembuangan kotoran ternak berupa jurang terbuka berjarak 3
meter dari kandang.
b. Denah rumah
Keterangan denah rumah :
Rumah keluarga Tn. MS terdiri dari 1 ruang tamu; 1 ruang keluarga yang
sekaligus sebagai tempat makan; 4 kamar tidur masing-masing untuk
Nn.S, Tn.MS bersama Ny.F, Ny.M dan An.As; 1 dapur; 1 kamar mandi
tanpa WC; dan kandang ternak.
Masing-masing kamar mempunyai

ventilasi

sekaligus

sebagai

pencahayaan sinar matahari tapi masih terlalu sempit, kurang dari 10%
luas lantai kamar. Pencahayaan dan ventilasi ruang tamu cukup.
Pencahayaan ruang keluarga kurang, sinar matahari kurang dapat
menyinari lantai ruang tamu. Sumber air bersih yang digunakan untuk
mandi dan memasak berasal dari air ledeng. Tempat pembuangan air
limbah dari kamar mandi berupa selokan terbuka, pembuangan air limbah
dari dapur tidak ada tempat khusus, langsung dibuang atau dialirkan ke
belakang dapur dan dibiarkan meresap sendiri.
c. Macam Tempat Tinggal

24

Keluarga bertempat tinggal di pedesaan jarak antara rumah satu dengan


yang

lainnya

berdekatan

tapi

tidak

berhimpitan/menempel.

Lingkungan tempat tinggal adalah persawahan dengan udara yang sejuk


d. Karakteristik Tetangga Dan Komunikasi RW
Tetangga di sekitar keluarga Tn. MS adalah bersuku Melayu, bahasa
komunikasi sehari-hari yang digunakan adalah bahasa Melayu, sebagian
besar

tetangga

Tn.

MS

bermata

pencaharian

sebagai

petani.

Keluarga mempunyai alat komunikasi seperti televisi dan radio. Jika ada
kegiatan sosial kemasyarakatan biasanya diumumkan melalui pengeras
suara yang ada di musholla atau mesjid.
e. Mobilitas Geografis Keluarga
Keluarga Tn. MS Keluarga jarang pergi ke tempat-tempat yang jauh.
Kegiatan rutin harian adalah bertani / pergi ke sawah yang tidak jauh dari
rumahnya (sekitar 1 km). Tempat tinggal keluarga juga tidak berpindah
pindah. Sanak famili dari Tn.MS maupun Ny.F juga berada di sekitar
tempat tinggalnya (masih satu desa).
f.

Perkumpulan Keluarga Dan Interaksi Keluarga Dengan Masyarakat.


Komunikasi antar keluarga/warga biasanya dilakukan saat mereka
melakukan kegiatan keagamaan seperti tahlilan, yasiinan, diba dan
kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya.

g. Sistem Pendukung Keluarga


Jarak rumah ke Polindes sekitar 1 km, jarak ke puskesmas pembantu
sekitar 2 km, jarak ke Puskesmas sekitar 5 km. Keluarga juga mempunyai
jaminan pemeliharaan kesehatan keluarga miskin (Askes Maskin).
6. Struktur Keluarga
a. Pola Komunikasi Keluarga
keluarga Tn. MS dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Melayu.
Dalam keluarga mempunyai kebiasaan berkomunikasi setiap saat dan
waktu santai. Komunikasi saat makan sering dilakukan, dan terbiasa
makan bersama.
b. Struktur Kekuatan Keluarga
Keluarga tidak mempunyai peran dalam masyarakat, hal ini terbukti
dengan ketidakmampuan keluarga Tn. MS dalam mempengaruhi
tetangga. Kekuatan dalam keluarga yang dapat digunakan untuk

25

meningkatkan derajat kesehatan adalah Tn. MS dan Ny.F cukup


bijaksana, tampak sabar dalam menghadapi penyakit atau masalah yang
dialami oleh anggota keluarga, sehingga dapat mendorong Tn.MS untuk
berobat secara teratur sampai sembuh. Ny.F sering mengingatkan Tn.MS
jika lupa minum obat.
c. Struktur Peran ( Formal Dan Informal )
Keluarga dalam struktur peran formal tidak ada atau tidak mempunyai
peran. Begitu juga dalam perannya secara informal.
d. Nilai Dan Norma Keluarga
Keluarga Tn. MS menganut agama Islam, dalam kehidupan keseharian
diwarnai dengan kebiasaan secara agamis. Disamping itu keluarga
menganut kebudayaan Jawa, norma yang dianut juga kebudayaan
jawa. Dalam kebiasaan keluarga Tn. MS tidak ada yang bertentangan
dengan kesehatan.
7. Fungsi Keluarga
a. Fungsi Afektif
Dalam kehidupan keseharian, keluarga Tn. MS sangat harmonis, rukun
dan tentram. Semua keluarga merasa saling memiliki, apabila ada
keluarga yang sakit atau ditimpa musibah, maka anggota keluarga yang
lain ikut merasakan akan hal yang sama yaitu keadaan sakit atau ditimpa
musibah.
b. Fungsi Sosialisasi
Hubungan dalam keluarga Tn. MS menganut kebudayaan jawa. Dalam
berhubungan dengan anggota masyarakat, keluarga tidak tampak kaku.
Keluarga sangat membaur dengan budaya yang ada disekitarnya.
c. Fungsi Perawatan Kesehatan
Keluarga Tn MS mampu untuk kurang mengenal dengan baik masalah
kesehatan yang dialami oleh salah satu anggota keluarga yaitu Tn. MS
dengan TB paru. Hal ini dibuktikan dengan bahwa keluarga belum
mampu untuk menyebutkan tentang tanda dan gejala serta faktor
penyebab dari TB paru.
Kemampuan keluarga untuk mengerti tentang sifat masalah sudah
tampak, karena keluarga tidak menganggap bahwa batuk batuk yang
dialami oleh Tn. MS dianggap sebagai batuk biasa dan keluarga sudah
memeriksakannya ke Puskesmas Singosari dan sudah mendapat terapi
sejak bulan Oktober 2007. Sejak awal pengobatan, Tn.MS mengatakan

26

sudah berobat secara teratur. Kalau obat habis, keluarga langsung pergi
ke Puskesmas untuk mengambil obat. Tn.MS mengatakan sebenarnya
malas minum obat karena setelah minum obat, ia merasa mual dan
kembung. Tapi Tn.MS ingin cepat sembuh, sehingga walaupun malas ia
tetap meminum obatnya.
Pemanfaatan fasilitas kesehatan, keluarga Tn. MS mampu untuk
memanfaatkannya, karena Tn. MS selama sakit berobat ke Puskesmas
Singosari.
d. Fungsi Reproduksi
Jumlah anak yang dimiliki oleh Tn. MS adalah 2 orang, Ny.F
menggunakan KB Suntik.
e. Fungsi Ekonomi
Keluarga Tn. MS termasuk keluarga yang kurang mampu hal ini dapat
dilihat dari penghasilan tiap bulanya hanya sekitar Rp.500.000/perbulan.
Dalam pemenuhan sandang, pangan dan papan keluarga Tn. MS sangat
sederhana. Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, Tn.MS
menanam sayur di tepi sawahnya serta di pekarangan rumahnya. Jika
ingin makan lauk-pauk, Tn.MS biasa mencari ikan di sungai dekat
rumahnya.
8. Stres Dan koping Keluarga
a. Stressor Jangka Pendek Dan Panjang
Keluarga Tn. MS mengatakan hampir tidak pernah mengalami stress baik
itu stess jangka pendek ( < 6 bulan ) maupun jangka panjang ( > 6 bulan).
Tetapi keluarga Tn. MS hanya mengalami stress biasa yang dapat
dengan segera diatasi.
b. Kemampuan Keluarga Berespon Terhadap Situasi/Stressor
Pola pemecahan masalah dalam keluarga Tn. MS adalah dengan cara
musyawarah antar anggota keluarga, kadang juga melibatkan anaknya.
Misalnya dalam menentukan pengobatan Tn. MS, dalam pengambilan
keputusan di keluarga yang paling menonjol adalah Tn. MS
c. Strategi Adaptasi Disfungsional
Dalam menghadapi suatu permasalahan keluarga Tn. MS biasanya
mengkonsentrasikan

pada

bagaimana

cara

pemecahan

masalah

tersebut. Sehingga keluarga tidak terganggu dalam melakukan pekerjaan


keseharian.

27

9. Pemeriksaan Fisik
a. Pemeriksaan Fisik Tn. MS
Riwayat kesehatan sekarang : sejak enam bulan yang lalu Tn. MS
sering batuk yang disertai adanya dahak yang warnanya kekuningan dan
kadang disertai darah dalam dahaknya, demam di malam hari, nafsu
makan menurun, berat badan agak menurun.
Riwayat kesehatan masa lalu : Tn. MS tidak pernah menderita penyakit
yang berat, kronis atau penyakit yang menular. Tn. MS tidak pernah
minum minuman keras, tapi merupakan perokok berat dengan
frekwensi 1 1,5 pak perhari.
Pemeriksaan Fisik :
Tanda vital : tekanan darah

100/70

mmHg,

nadi

84/menit,

respirasi 22/menit, tinggi badan 162 cm, berat badan 48 kg.


Bentuk kepala bulat, ukuran sedang dan simetris. Kulit kepala tidak ada
luka, ketombe dan bersih. Pertumbuhan rambut merata, warna hitam dan
putih, tidak rontok. Wajah agak pucat. Struktur simetris dan tidak
ditemukan kesan sembab.
Mata lengkap, simetris, skelera tidak ikterus, tidak ada peradangan,
konjungtiva agak anemis, tidak ada benjolan abnormal, penglihatan agak
kabur.
Telinga lengkap, simetris bilateral, pendengaran baik, tidak ada radang
atau benjolan yang abnormal.
Mulut dan faring : bibir tidak sianosis, kering dan tidak ada luka, gigi dan
gusi normal, adanya sisa makanan, caries tidak ada, terdapat karang gigi
dan tidak ditemukan perdarahan. Lidah berwarnah merah merata.
Bau nafas tidak ada, uvula simetris, tonsil tidak meradang dan tidak ada
perubahan suara.
Hidung bersih, tidak ada secret, tidak terdapat tanda radang, tidak terjadi
deviasi septum nasi, tidak terdapat polip. Pernafasan cuping hidung tidak
ada.
Leher , posisi trachea simetris, tidak ditemukan pembesaran tyroid dan
perubahan suara serta pembesaran kelenjar limfe.
Thorak : bentuk normal, frekwensi pernafasan 22 permenit, terdapat
retraksi intercosta dan batuk produktif serta pergerakan dada kanan dan
kiri sama. Fokal fremitus lebih bergetar paru kiri dari pada kanan, perkusi
suara dullness. Suara nafas bronchial dan bronkho-vesikuler terdapat

28

ronkhi basah. Jantung suara S1 dan S2 tunggal, tidak ada tanda tanda
pembesaran jantung. Kelainan tulang belakang tidak ditemukan.
Abdomen turgor baik, bentuk perut cekung, bising usus 12/menit, perkusi
tympani, hepar , lien tidak ada kelainan
Ekstrimitas simetris, tidaki terdapat edema, tidak ada varieses, kekuatan
otot empat.
b. Pemeriksaan Fisik Ny. F
Riwayat Kesehatan masa lalu : Ny. F tidak pernah menderita penyakit
yang berat, kronis atau penyakit yang menular.
Tanda vital : tekanan darah 110/80 mmHg,

nadi

80/menit,

respirasi 14/menit, tinggi badan 152 cm, berat badan 52 kg.


Tidak tampak gejala-gejala penyakit yang serius, tanda-tanda penularan
kuman TBC dari Tn.MS ke Ny.F. Fungsi pernafasan baik, tidak mengeluh
batuk-batuk yang menetap. Juga tidak mengeluhkan gejala-gejala
penyakit yang lain.
c. Pemeriksaan Fisik An. AS
Riwayat Kesehatan masa lalu : An.AS tidak pernah menderita penyakit
yang berat, kronis atau penyakit yang menular.
Tanda vital : tekanan darah 100/70 mmHg, nadi 80/menit, respirasi 18
x/menit, tinggi badan 144 cm, berat badan 38 kg.
Tidak tampak gejala-gejala penyakit yang serius, tanda-tanda penularan
kuman TBC dari Tn.MS ke An.AS. Fungsi pernafasan baik, tidak
mengeluh batuk-batuk yang menetap. Juga tidak mengeluhkan gejalagejala penyakit yang lain.
d. Pemeriksaan Fisik Nn. S
Riwayat Kesehatan masa lalu : menurut Ny.F, Nn.S tidak pernah
menderita penyakit yang berat, kronis atau penyakit yang menular. Saat
kumnjungan pertama, perawat tidak berjumpa dengan Nn.S karena belum
pulang dari sekolahnya.
e. Pemeriksaan Fisik Ny.M
Riwayat Kesehatan masa lalu : menurut Ny.F, Ny.M sudah lama
mempunyai penyakit linu-linu.
Tanda vital : tekanan darah 160/90 mmHg, nadi 76/menit, respirasi 16
x/menit, tinggi badan 150 cm, berat badan 50 kg.
Wajah agak pucat. Struktur simetris dan tidak ditemukan kesan sembab.

29

Mata lengkap, bola mata keruh, penglihatan agak kabur.


Telinga lengkap, simetris bilateral, fungsi pendengaran menurun
Leher , posisi trachea simetris, tidak ditemukan pembesaran tyroid dan
perubahan suara serta pembesaran kelenjar limfe.
Thorak : bentuk normal, frekwensi pernafasan 16 x/menit. Jantung suara
S1 dan S2 tunggal, tidak ada tanda tanda pembesaran jantung. Tulang
belakang agak membungkuk.
Ekstremitas : terjadi penurunan fungsi gerak (gerakan agak terbatas).
Tidak ada edema ekstremitas. Kekuatan otot nilia 4.
10. Harapan Keluarga
Keluarga berharap agar batuk Tn.MS segera sembuh sehingga tidak
mengalami gangguan jika bekerja di sawah.
B. Analisa Data
No
1.

Data
DS :
Tn. MS mengatakan biasa membuang
ludah di halaman, tidak ada tempat
khusus.
Tn. MS mengatakan belum tahu
akibat bila tidak melakukan tindakan
pencegahan pada keluarga.
Ny. F mengatakan kurang mengerti
tentang pencegahan TBC
Keluarga tidak tahu bagaimana cara
penularan TB paru kepada orang
lain dan bagaimana cara pencegahan
terhadap anggota keluarga yang lain.
Keluarga mengatakan tidak
mengerti mengenai sanitasi yang
sehat yang dapat mencegah penularan
TB paru.
Tn.MS aktif mengikuti kegiatan sosial
keagamaan di masyarakat seperti acara
tahlilan, yaasinan, dsb.
DO :
Lantai rumah sebagian terbuat dari
tanah, tampak lembab dan kotor.
Tidak ada tempat khusus untuk
membuang dahak
Tidak ada
tempat khusus untuk pembuangan limbah

Masalah
Resiko
penyebaran /
penularan infeksi

Etiologi
Perilaku
kurang
higienis

30

rumah.
Alat makan keluarga tidak ada
pemisahan atau digunakan bersama
Pencahayaan rumah (kamar tidur)
kurang.
Tn.MS tidur sekamar dengan Ny.F

DS :
Keluarga mengatakan sejak lima bulan
yang lalu sering batuk yang disertai dahak.
Keluarga mengatakan bahwa Tn.MS
sakit paru-paru, tapi tidak tahu jenis
penyakit, penyebab, pencegahan,
perawatan dan pengobatannya.
Tn. MS mengatakan, saya belum tahu
akibat yang terjadi, bila penyakit saya tidak
diobati .
Ny. F mengatakan , Tn. MS sudah
diperiksakan di RS Soepraoen. Tetapi
batuknya masih sering dan agak sesak.

Kurang
pengetahuan

DO :
Keluarga tidak bisa menjawab
pertanyaan tentang pengertian penyakit,
pencegahan, perawatan dan
pengobatannya
Pendidikan Tn.MS dan Ny.F SD
Setelah dijelaskan tentang pengertian
penyakit, cara pencegahan dan
pengobatannya, Tn.MS dan Ny.F belum
bisa menjawab pertanyaan sederhana
perawat
DS :
Keluarga mengatakan Tn.MS sudah
menjalani pengobatan sejak bulan Oktober
2007
Tn.MS mengatakan sering lupa minum
obat, tapi selalu diingatkan oleh istrinya
Tn.MS mengatakan sering mual dan
kembung setelah minum obat
Tn.MS mengatakan sebenarnya malas
minum obat, tapi ia ingin penyakitnya cepat

Resiko kerusakan
penatalaksanaan
program terapi di
rumah
(pengobatan tidak
tuntas)

Kurang
informasi
dan
keterbatasan
kemampuan
mencerap
informasi

31

sembuh
DO :
Pemeriksaan fisik : bentuk dada normal,
terdapat retraksi intercosta, batuk produktif.
Nafas agak sesak.
lantai ruang tamu dari porselin, sisanya
terbuat dari tanah keadaannya kotor dan
lembab.
Ventilasi kurang karena jendela / lubang
angin terlalu sempit (kurang dari 10% luas
lantai).

C. Prioritas Masalah
1. Resiko penyebaran infeksi sehubungan dengan perilaku kurang higienis.
NO
1

Kreteria
Sifat
masalah

Perhit
2/3 X 1

Nilai
2/3

ancaman

Pembenaran
Klien telah berobat

secara

teratur, tapi biasa meludah di


sembarang tempat, aktif dalam
kegiatan
masyarakat,

perkumpulan
tidur

di

sekamar

dengan istri
2

Kemungkinan masalah

2/2 X 2

untuk diubah : mudah

Selama pasien berobat secara


teratur,

kuman

TBC

kemungkinan besar tidak akan


aktif. Tapi perlu didukung oeleh
perubahan perilaku yang lebih
higienis
3

Potensial

masalah

3/3 X 1

untuk dicegah : tinggi

Penyebaran

kuman

TB

paru dapat dicegah asal


keluarga mau hidup sehat dan
hubungan

dengan

petugas

kesehatan cukup baik.


4

Menonjolnya masalah :
keluarga

tahu

1/2

1/2

Keluarga tahu bahwa penyakit

ada

Paru yang dialami Tn.MS bisa

masalah tapi merasa

menular tapi merasa bukan

32

bukan sebagai bahaya


Jumlah

sebagai bahaya.
4 1/6

2. Kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab, cara pencegahan,


perawatan dan pengobatann s.d kurangnya informasi dan keterbatasan
mencerap informasi
NO

Kreteria

Perhit

Nilai

Pembenaran

Sifat masalah : aktual

3/3 X 1

Keluarga tidak memahami


dengan
baik
masalah
kesehatan yang dialami Tn.MS

Kemungkinan
masalah dapat diubah :
hanya sebagian

X2

Pemberian informasi tentang


penyakit
dan
kebutuhan
perawatan akan sulit dipahami
karena kemampuan keluarga
menyerap informasi kurang
baik, pendidikan rendah

Potensial masalah untuk


dicegah : cukup

2/3 X 1

2/3

Membantu keluarga memahami masalah kesehatan bisa


dilakukan melalui bahasa
keluarga dengan mediasi
anaknya pertamanya yang
sekolah SMA.

Menonjolnya masalah:
keluarga
menyadari
bahwa mereka kurang
paham dan mereka ingin
diberi penjelasan yang
lebih rinci

2/2 x 1

Keluarga tidak merasakan


adanya masalah yang harus
segera ditangani

Jumlah

3 2/3

3. Resiko kerusakan manajemen terapeutik / tatalaksana pengobatan


dirumah (pengobatan terputus) s.d. efek samping obat dan pengobatan
jangka panjang
NO
1

Kreteria

Perhit

Nilai

Pembenaran

Sifat masalah : potensial

2/3 X 1

2/3

Tn. MS merasa malas minum


obat, dan sering lupa

Kemungkinan

33

masalah dapat diubah :


hanya sebagian

Potensial masalah untuk


dicegah : cukup

Menonjolnya masalah:
masalah dirasakan tapi
tidak perlu segera
ditangani

X2

2/3 X 1

2/3

Dukungan istri cukup baik,


selalu mengingatkan Tn.MS
jika lupa minum obat

1/2 x 1

1/2

Keluarga tidak merasakan


adanya masalah yang harus
segera ditangani

Jumlah

Pengobatan jangka panjang


membutuhkan kesabaran dan
dukungan yang besar dari
orang-orang terdekat, yang
mau mengingatkannya jika upa
minum obat

3 1/6

Maka prioritas masalahnya sebagai berikut :


1. Resiko penyebaran infeksi sehubungan dengan perilaku kurang higienis
2. Kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab, cara pencegahan,
perawatan dan pengobatann s.d kurangnya informasi dan keterbatasan
mencerap informasi
3. Resiko kerusakan manajemen terapeutik / tatalaksana pengobatan dirumah
(pengobatan terputus) s.d. efek samping obat dan pengobatan jangka
panjang
D. Rencana Asuhan Keperawatan
1. Resiko penyebaran infeksi TBC
Tujuan umum : terhindarnya penularan dan penyebaran kuman TBC ke
orang-orang terdekat maupun pada masyarakat sekitar
Intervensi :
a. Jelaskan penyebab TB paru adalah basil mycobacterium tuberculosa,
dimana dapat menyerang semua orang baik kecil, tua, muda, kaya,
miskin.
b. Jelaskan dengan bahasa sederhana tentang cara penularan TB paru
yaitu melalui percikan ludah atau sputum pada waktu klien TB paru :
bersin , batuk dan menguap. Daya tahan tubuh yang dipengaruhi oleh
usia, nutrisi dan faktor faali.
c. Kaji
cara
keluarga dalam

mengambil

mencegah terjadinya penularan penyakit TB paru.

keputusan

untuk

34

d. Jelaskan

akibat bila

tidak dilakukan

perawatan

pada

anggota keluarga misal penularan pada anggota keluarga.


e. Jelaskan cara menghindari penularan TB paru seperti menjaga kondisi
tubuh sebaik mungkin karena dalam kondisi tubuh yang buruk mudah
tertular.
f. Motivasi keluarga untuk melakukan usaha pencegahan
g. Jelaskan dan demontrasikan cara hidup sehat seperti : pada saat batuk,
bersin dan menguap sebaiknya mulut dan hidung ditutup ; cara
membuang dahak atau ludah yaitu di kloset kemudian di siram, apabila
dahak dibuang dihalaman maka harus diuruk dengan tanah ; alat makan
sebaiknya tersendiri, setelah dipakai sebaiknya disiram dengan air
mendidih kemudian dicuci bersih.
h. Jelaskan dan demontrasikan tentang rumah yang mendukung tidak
terjadinya

penularan

TB

paru,

seperti

menjaga

kebersihan

lingkungan dari polusi udara, ventilasi rumah harus cukup sehingga


udara dapat tertukar dengan leluasa, pencahayaan dalam rumah harus
cukup, sinar matahari bisa masuk secukupnya karena kuman TB dan
i.

beberapa kuman lain akan mati bila terkena sinar matahari.


Jelaskan bahwa klien TB perlu dukungan semangat untuk hidup panjang

umur dan jangan putus asa .


j. Jelaskan bahwa klien butuh udara segar.
k. Demontrasikan cara menciptakan linkungan rumah yang sehat.
l. Motivasi keluarga untuk mewujudkan lingkungan rumah yang sehat
dengan syarat yaitu fisik (kontruksi harus baik dan kuatserta tidak
lembab.).psikologis (pembagian ruangan yang baik, penataan perabot
yang rapi, kelengkapan fasilitas sanitasi) dan fisiologis (fentilasi harus
baik, pencahayaan harus cukup dan terhindar dari kebisingan)
m. Kaji pengetahuan keluarga dalam memanfaatkan fasilitas kesehatan
yang
ada di masyarakat
n. Jelaskan kepada keluarga tentang manfaat fasilitas keluarga
o. jelaskan bahwa pengobatan TB paru perlu kesabaran karena harus rajin
berobat dan paling sedikit 6 bulan.
p. Jelaskan tentang jadwal pemeriksaan spetum yaitu , kantrol sputum BTA
dilakukan sebulan sekali, bila sudah negatif sputum BTA tetap diperiksa
sedikitnya sampai tiga kali berturut-turut
q. Jelaskan bahwa pemeriksaan radiologis dilakukan tiap tiga bulan sekali.

35

r.

Jelaskan bila klien di runah mengalami sesuatu misal batuk darah, maka
anjurkan untuk mengunjungi fasilitas kesehatan meskipun belum

waktunya kontrol.
s. Jelaskan fasilitas kesehatan yang ada di masyarakat selain puskesmas
juga dokter-dokter swasta, rumah sakit swasta dan lain-lain.
2. Kurang pengetahuan tentang penyakit, penyebab, cara pencegahan,
perawatan dan pengobatann s.d kurangnya informasi dan keterbatasan
mencerap informasi
Tujuan Umum : keluarga mampu melakukan tindakan untuk mencegah
terjadinya penularan penyakit TB paru pada anggota.
Intervensi :
a. Jelaskan dengan menggunakan bahasa yang sederhana dan mudah
dimengerti tentang gejala penyakit Tb paru seperti klien merasa lesu,
pucat, anorexia, demam dimalam hari dengan atau tanpa berkeringat
dingin, sesak nafas, batuk/batuk darah.
b. Jelaskan bahwa
batuk
darah

yang

hebat

dapat

mengakibatkan pneumonia aspirasi, tersumbatnya jalan nafas.


c. kaji pengetahuan keluarga tentang cara cara pemecahan masalah yang
tepat.
d. Jelaskan cara prinsip pemecahan masalah pada TB paru yaitu dengan
pengobatan dan perawatan yang tepat dan teratur.
e. Jelaskan akibat bila Tb paru tidak diobati dalam jangka waktu yang
lama dapat menimbulkan komplikasi seperti batuk darah.
f. kaji pengetahuan keluarga tentang tata cara perawatan klien TB paru.
g. Jelaskan dengan bahasa yang mudah dimengerti tentang perawatan
klien TB paru : makan yang banyak dan bergizi tinggi, istirahat yang
cukup , pikiran diusahakan santai hindari stres yang berlarut larut,
berhenti merokok dan hindari polusi udara. Gerak badan dianjurkan bila
penyakit tampak sembuh.
h. Jelaskan pengobatan TB paru dan cara minum obat serta berapa lama
harus minum obat.
3. Resiko kerusakan manajemen terapeutik
Tujuan : Keluarga memahami tentang kondisi, tindakan pencegahan infeksi,
penatalaksanaan stress, faktor pemberat, tanda dan gejala komplikasi, dan
sumber-sumber di komunitas yang dapat digunakan.
Kriteria hasil :

36

a. Menunjukkan niat untuk berbagi masalah dengan anggota keluarga yang


lain atau teman yang dapat dipercaya.
b. Menyebutkan efek samping obat.
c. Mengidentifikasi strategi untuk mengurangi stress.
d. Mengidentifikasi tanda-tanda dan gejala yang harus dilaporkan pada
tenaga kesehatan.
e. Menggambarkan penatalaksanaan jangka panjang penyakit.
f. Menyebutkan manfaat penggunaan gelang Kewaspadaan-Medis.
Intervensi :
a. Ajarkan mengenai diagnosis dan penatalaksanaan penyakit jangka
panjang untuk menentukan tingkat pembelajaran klien-keluarga.
b. Ajarkan inkompatibilitas obat - obatan :
c. Ajarkan pemberian obat-obatan :
d. Ajarkan strategi penatalaksanaan stess : gunakan tehnik relaksasi,
bimbingan imajinasi, rujuk ke sumber komunitas untuk program
penatalaksanaan stress.
e. Ajarkan konservasi energi.
f. Informasikan klien tentang

faktor

yang

diketahui

mencetuskan

eksaserbasi :
g. Jelaskan tanda dan gejala yang harus dilaporkan pada profesional
pelayanan kesehatan :
h. Ajarkan tehnik mengunyah dan menelan
E. Implementasi
N
O
1

TANGGAL
22
2007

Des

Sabtu pagi

Diagnosa

Resiko
penyebaran
penyakit

Impelementasi

n menjelaskan
TB paru
n menjelaskan
gejala TB paru

penyebab

tentang

Evaluasi

S
:
keluarga
mengatakan masih
sulit untuk mengerti
tentang penyebab
dan gejala TB paru.
O : keluarga tidak
mampu menyebutka
n dengan bahasa
yang
sederhana
tentang penyebab
dan gejala TB paru.
A : masalah belum

37

teratasi
P
:
lanjutkan
intervensi.

2.
27
2007

Des

Kurang
pengetahuan

Kamis pagi
-

mengkaji pengetahuan
keluarga tentang resiko
terjadinya penularan TB
paru pada
anggota
keluarga.
Menjelaskan
tentang cara penularan
TB paru

S
:
keluarga
mengatakan sudah
tahu cara penularan
TB
paru
pada
anggota
keluarga
dengan
cara
percikan ludah.
O : keluarga mampu
menjelaskan denga
n
bahasa
yang
sederhana tentang
cara penularan TB
paru yaitu melalui
percikan ludah.
A : masalah teratasi

Menjelaskan kepada
keluarga
tentang
manfaat
fasilitas
kesehatan yang ada di
masyarakat.

P :
hentikan intervensi.

3
8 Jan 2008
Selasa
pagi

Resiko
kerusakan
manajemen
penatalaksanaan
di rumah

Mengkaji pengetahuan
klg tentang manfaat
fasilitas kesehatan yang
ada di masyarakat.
- menjelaskan cara
menghindari penularan
TB paru seperti
menjaga kondisi tubuh.

S : klg mengatakan
telah tahu manfaat
yang di dapat dari
fasilitas kesehatan
yang
ada
di
masyarakat
O : keluarga mampu
menjelaskan
manfaat
dari
fasilitas kesehatan
yang
ada
di

38

masyarakat.
A : masalah teratasi
sebagian.
P
:
lanjutkan
intervensi.

4
11
2001

Des

Jumat pagi

Resiko
penularan
penyakit

-Memotivasi
dan
mendemontrasikan cara
hidup sehat seperti :
menutup mulut pada
saat batuk atau bersin ,
cara membuang dahak
atau ludah bila dibuang
di halaman maka harus
diuruk dengan tanah.
Alat
makan
harus
terpisah

S
:
keluarga
mengatakan telah
mengetahui
cara
merawat
anggota
keluarga agar tidak
tertular, tapi belum
mampu melakukan
khusus
memisahkan
alat
makan
dengan
klien.
O : keluarga mampu
menjelaskan
dan
belum
mampu
mendemontrasikan
cara
perawatan
pada
anggota
keluarga agar tidak
tertular TB paru.
A : masalah teratasi
sebagian
P
:
lanjutkan
intervensi

39

40

Bab IV
Penutup
Kesimpulan
Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala
keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu atap dalam
keadaan saling ketergantungan
Tuberculosis

(TB)

adalah

penyakit

akibat

kuman

mycobacterium

tuberculosis sitemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi
terbanyak diparu-paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer
Penularan Mycobacterium tuberculosis biasanya melalui udara hingga
sebagian besar fokus primer tuberculosis terdapat dalam paru. Selain melalui
udara penularan dapat peroral misalnya minum susu yang mengandung basil
tuberculosis, biasanya Mycobacterium bovis. Dapat juga terjadi dengan kontak
langsung misalnya melalui luka atau lecet di kulit. Tuberculosis kongenital sangat
jarang dijumpai. Selain Myco bacterium tuberculosis perlu juga dikenal golongan
Mycobacterium lain yang dapat menyebabkan kelainan yang menyerupai
tuberculosis. Golongan ini disebut Mycobacterium atipic atau disebut juga
unclassified Mycobacterium.

41

Daftar Pustaka
http://digilib.esaunggul.ac.id/public/UEU-Undergraduate-2221-BAB%20I
%20Pendahuluan.pdf ( diakses 15 september 2015 )
http://sehatalamiku.com/jenis-jenis-penyakit-menular-dan-cara-penularannya/
(diakses 15 september 2015 )
http://www.campurtapimisah.com/2012/08/asuhan-keperawatan-keluarggadengan-tb.html ( diakses 15 september 2015 )
http://eprints.ums.ac.id/20581/21/NASKAH_PUBLIKASI_ILMIAH.pdf ( diakses 15
september 2015 )
http://nsyadi.blogspot.co.id/2011/12/asuhan-keperawatan-keluarga-dengantbc.html( diakses 15 september 2015 )