Anda di halaman 1dari 45

LAPORAN RESMI

PRAKTIKUM DASAR TEKNIK KIMIA II


MATERI:
KESETIMBANGAN FASA

Disusun Oleh :
APRILIA PRATAMA PUTRI

NIM: 21030114120087

DIAN REMARTHIN G.

NIM: 21030114120107

IKSAN HARIYANTO

NIM: 21020114130168

.
LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

2015

KESETIMBANGAN FASA

LEMBAR PENGESAHAN
1. Judul Praktikum

: Kesetimbangan Fasa

2. Anggota
1. Nama Lengkap

: Aprilia Pratama Putri

NIM

: 21030114120087

Jurusan

: S-1 Teknik Kimia

Universitas/Institut

: Universitas Diponegoro

2. Nama Lengkap

: Dian Remarthin Girsang

NIM

: 21030114120107

Jurusan

: S-1 Teknik Kimia

Universitas/Institut

: Universitas Diponegoro

3. Nama Lengkap

: Iksan Hariyanto

NIM

: 21030114130168

Jurusan

: S-1 Teknik Kimia

Univesitas/Istitut

: Universitas Diponegoro

Semarang, 1 Juni 2015


Asisten Laboratorium PDTK II,

David Pascal Jonathan


NIM. 21030111130124

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur dipanjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat
dan hidayah-Nya dapat diselesaikan Laporan Resmi Praktikum Dasar Teknik
Kimia II dengan judul Kesetimbangan Fasa ini dengan baik. Penyuunan laporan
ini dutujukan sebagai salah satu syarat untuk melengkapi mata kuliah Praktikum
Dasar Teknik Kimia II.
Disadari sepenuhnya bahwa tanpa bantuan dan kerja sama dari berbagia
pihak maka laporan ini tidak akan dapat terselesaikan. Oleh karena itu dalam
kesempatan ini diucapkan terima kasih kepada
1. Ibu Ir. C. Sri Budiati, MT selaku Dosen Penanggung Jawab
Praktikum Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia Fakultas
Teknik Universitas Diponegoro.
2. Bapak Rustam dan Ibu Dini selaku Laboran Laboratorium Praktikum
Dasar Teknik Kimia II Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik
Universitas Diponegoro.
3. Segenap asisten Laboratorium Praktikum Dasar Teknik Kimia II
Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.
4. David Pascal Jonathan sebagai asisten materi kesetimbangan fasa
yang telah membantu dan membimbing selama pelaksanaan
praktikum.
Meskipun telah dihindari kesalahan dalam penyusunan laporan resmi ini,
namun disadari akan ditemukan kesalahan dan kekurangan di dalamya. Oleh
karena itu, kritik dan saran yang membangun diharapkan dari pembaca.

Semarang, 30 Mei 2015

Penyusun

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

INTISARI
Larutan adalah fasa homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Aplikasi kesetimbangan fasa dalam industri kimia adalah dalam
proses destilasi untuk memurnikan etanol serta pemisahan yang mengandung titik
didih. Tujuannya adalah mampu memahami kesetimbangan fasa antara dua fase
(uap-cair) dari dua komponen dan mampu membuat diagram komposisi versus
suhu untuk larutan etanol air. Hukum Roult hanya dapat digunakan untuk larutan
ideal atau larutan yang sangat encer karena hubungan antara jumlah zat terlarut
dengan tekanan uapnya merupakan hubungan yang linear.
Bahan yang digunakan adalah etanol 96% dan aquades. Selanjutnya
merangkai alat destilasi yang terdiri dari statif, klem, labu destilasi, termostat dll.
Praktikum ini dimulai dengan menentukan densitas etanol air lalu dibuat kadar
%W dan perhitungan indeks bias dengan menggunakan refraktometer.
Nilai indeks bias %W antara 0%-90% berturut-turut adalah 1,32; 1,326;
1,329; 1,332; 1,332; 1,343; 1,33; 1,32; 1,332; 1,325. Suhu etanol-air berturutturut 65C, 69C, 72C, 74C, 76C, 77C dengan indeks bias residu berturuturut 1,313; 1,318; 1,323; 1,328 dan indeks bias destilat berturut-turut 1,327;
1,321; 1,324; 1,329; 1,328; 1,331. Dari hasil percobaan %W versus indeks bias
menghasilkan grafik yang turun disuatu titik kemudian naik lagi. Ini disebabkan
faktor larutan yang mendekati titik azeotrop. Penambahan aquades menyebabkan
turunnya tekanan uap sehingga titik didih mengalami kenaikan. Aplikasi
kesetimbangan fasa digunakan untuk industri yaitu untuk optimasi pembuatan
dietil eter dengan proses reaktif destilasi. Saran untuk praktikum ini, gunakan
refraktometer digital untuk mendapat indeks bias yang akurat.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

SUMMARY
The solution is a homogeneous phase which contains more than one
component. Application phase equilibrium in the chemical industry is in the
process of distillation to purify ethanol and separation containing boiling point.
The goal is being able to understand the phase equilibrium between the two
phases (vapor-liquid) of the two components and is able to make a composition
diagram versusu water temperature to an ethanol solution. Roult law can only be
used for an ideal solution or a dilute aqueous solution because the relationship
between the amount of solute to the vapor pressure is a linear relationship.
Materials used is 96% ethanol and distilled water. Further stringing ang
distillation apparatus consisting of stative, clamps, distillation flask, thermostat
etc. This practicum begins by determining the density of water and ethanol made
levels% W and the calculation of the refractive index using a refractometer.
Refractive index values% W between 0% -90% respectively is 1.32; 1,326;
1,329; 1,332; 1,332; 1,343; 1.33; 1.32; 1,332; 1.325. While ethanol-water
temperature row 65C, 69C, 72C, 74C, 76C, 77C with a refractive index of
1.313 residues; 1.318; 1,323; 1.328 and 1.327 refractive index distillate; 1,321;
1,324; 1,329; 1,328; 1.331. From the experimental results% W versus refractive
index dropped produce graphs in the point then up again. This is due to factors
azeotropic point solution approach. The addition of distilled water vapor causing
a pressure drop that increases the boiling point. Application phase equilibrium is
used for optimization of the manufacturing industry is for diethyl ether with a
reactive distillation process. Suggestions for this lab, use a digital refractometer
to obtain an accurate refractive index.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ..........................................................................................

HALAMAN PENGESAHAN ............................................................................

ii

KATA PENGANTAR ......................................................................................... iii


INTISARI............................................................................................................

iv

SUMMARY........................................................................................................

DAFTAR ISI ......................................................................................................

vi

DAFTAR TABEL ............................................................................................... viii


DAFTAR GAMBAR .........................................................................................

ix

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................

1.1

Latar Belakang......................................................................................

1.2

Tujuan Percobaan..................................................................................

1.3

Manfaat Percobaan................................................................................

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .......................................................................

BAB III METODE PERCOBAAN ....................................................................

3.1

Bahan dan Alat yang Digunakan...........................................................

3.2

Gambar Alat..........................................................................................

3.3

Cara Kerja ............................................................................................

3.4

Tabel Pengamatan ................................................................................

BAB IV HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN ................................

4.1

Hasil Percobaan....................................................................................

4.2

Pembahasan...........................................................................................

BAB V

PENUTUP ......................................................................................... 13

5.1

Kesimpulan........................................................................................... 13

5.2

Saran..................................................................................................... 13

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................... 14


LAMPIRAN
LEMBAR DATA HASIL PERCOBAAN ............ A-1
LEMBAR PERHITUNGAN . B-1
LEMBAR PERHITUNGAN KUANTITAS REAGEN . C-1
KUANTITAS REAGEN D-1

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
REFERENSI
LEMBAR ASISTENSI

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

DAFTAR TABEL
Tabel 3.1 Hubungan antara komposisi etanol-air dengan indeks bias...................
Tabel 3.2 Pengaruh Umpan DestilasI....................................................................
Tabel 4.1 Data komposisi etanol (%W) dan indeks bias.......................................
Tabel 4.2 Data titik didih, indeks bias residu dan destilat.....................................
Tabel 4.3 Data komposisi etanol (%W) dan titik didih.........................................

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Diagram suhu-komposisi asam formiat-air....................................... 3
Gambar 2.2 Diagram suhu-komposisi ethanol-air .... 3
Gambar 3.1 Rangkaian Alat Destilat..... 4
Gambar 4.1 Hubungan %W Etanol dengan Indeks Bias....................................... 9
Gambar 4.2 Hubungan Penambahan Aquadest dengan Titik Didih 11
Gambar 4.3 Hubungan %W Etanol dengan Suhu 11

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari
masing-masing penyusun larutan tidak sama karena volatilitas (mudahnya
menguap) dari masing-masing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung
lebih banyak zat yang lebih volatil dari pada cairannya. Pada praktikum
kesetimbangan fasa mempelajari kesetimbangan antara fase uap dan fase cair dari
suatu larutan. Dari praktikum ini mahasiswa dapat mengetahui diagram komposisi
versus suhu dengan pengukuran nilai indeks bias. Aplikasi kesetimbangan fasa
dalam industri kimia adalah dalam proses destilasi yang sering digunakan untuk
pemurnian etanol, pemisahan solven serta proses pemisahan yang menggunakan
perbedaan titik didih.
1.2. Tujuan Praktikum
1. Mahasiswa diharapkan mampu memahami kesetimbangan antara dua fase
(uap-cair) dari sistem campuran (larutan) yang terdiri dari dua komponen.
2. Mahasiswa diharapkan mampu membuat diagram komposisi versus suhu
untuk larutan etanol-air.
1.3. Manfaat Praktikum
Setelah praktikum mahasiswa dapat memahami konsep kesetimbangan fase
(uap-cair) dari suatu sistem larutan serta membuat dan memahami diagram
komposisi versus suhu .

BAB II
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

TINJAUAN PUSTAKA
Larutan adalah fase yang homogen yang mengandung lebih dari satu
komponen. Bila sistem hanya terdiri dari dua zat maka disebut larutan biner,
misalnya alkohol dalam air. Menurut sifatnya dikenal larutan ideal dan non ideal.
Larutan ideal adalah larutan yang gaya tarik menarik antara molekul yang sejenis
dan tidak sejenis sama. Sedangkan larutan non ideal gaya tarik menarik antara
molekul yang sejenis maupun yang tidak sejenis berbeda.
Jika larutan diuapkan sebagian, maka mol fraksi dari masing-masing
penyusun larutan tidak sama karena volatilitas (mudahnya menguap) dari
masing-masing penyusunnya berbeda. Uap relatif mengandung lebih banyak zat
yang lebih volatil dari pada cairannya. Hal ini dapat dilihat dari diagram
kesetimbangan uap dan cairan pada tekanan tetap dan suhu tetap.
Pada percobaan kesetimbangan fase dipelajari diagram komposisi suhu
pada tekanan tetap. Komposisi etanol dan air di fase uap (yi) dan cair (xi) pada
berbagai suhu. Komposisi ini kemudian dipakai untuk membuat diagram
Komposisi versus Suhu pada sistem larutan biner.
Distilasi digunakan untuk membuat diagram kesetimbangan fase antara
uap dengan cairan untuk sistem larutan biner ini.
Tekanan uap komponen air dan etanol dari larutan ideal mengikuti Hukum
Raoult :
PA = P0A XA ....................(1)
PB = P0B XB ....................(2)
Dengan :
PA = tekanan parsial Air
PB = tekanan parsial Etanol
P0A = tekanan uap murni Air pada suhu tertentu
P0B = tekanan uap murni Etanol pada suhu tertentu
XA = mol fraksi Air di dalam larutan
XB = mol fraksi Etanol di dalam larutan
Jika persamaan (1) dan (2) dimasukan ke persamaan Dalton, P = P A0 XA + PB0 XB,
maka diperoleh persamaan :
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
P = PA0 XA + PB0 XB ....................(3)
Dengan P adalah tekanan uap total dari sistem. Dalam larutan berlaku :
XA + XB = 1 ....................(4)
Jika persamaan (4) dimasukan ke persamaan (3) diperoleh :
P = PB0 - ( PA0 PB0 ) XA ....................(5)
Hukum Raoult hanya dapat digunakan untuk larutan ideal atau larutan
yang sangat encer, karena pada larutan encer, hubungan antara jumlah zat terlarut
dengan tekanan uapnya merupakan fungsi linier (semakin banyak solute, maka
tekanan uap akan semakin kecil), sedangkan pada larutan yang tidak encer,
hubungannya tidak linier (pengaruh jumlah solute terhadap tekanan uap tidak
tetap).
Dalam larutan yang mempunyai tekanan uap sistem yang lebih besar jika
dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan hukum Raoult
dikatakan sistem mempunyai deviasi positif (larutan non ideal), seperti
ditunjukkan pada Gambar 2.1. Dikatakan deviasi negatif, jika tekanan uap larutan
lebih rendah jika dibandingkan dengan hasil yang diperoleh dengan menggunakan
Hukum Raoult seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2

Gambar 2.1 Diagram Suhu-Komposisi

Gambar 2.1 Diagram Suhu-Komposisi

Asam Formiat-Air

Ethanol-Air

BAB III
METODE PERCOBAAN
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA

3.1. Bahan dan Alat yang digunakan


3.1.1 Bahan :
1. Etanol 150 ml
2. Aquadest 5 x 20 ml
3.1.2 Alat :
1. Rangkaian alat
2. Refraktometer

3.2 Gambar Alat


Keterangan :
1. Statif
2. Klem
3. Labu Destilasi
4. Thermostat
5. Termometer
6. Pendingin Leibig
7. Erlenmeyer
8. Adaptor
9. Waterbath

Gambar 3.1 Rangkaian Alat Destilasi.

10. Kaki Tiga


11. Heater danThermocouple
12. Aliran air pendingin masuk
13. Aliran air pendingin keluar

3.3 Cara Kerja


1. Membuat kurva standart hubungan komposisi dan indeks bias

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
a. Menentukan densitas aquadest dan etanol dengan menggunakan
picnometer.
b. Menentukan kadar etanol dengan menggunakan tabel hubungan
densitas dengan kadar etanol.
c. Membuat larutan etanol aquadest dengan komposisi (0%, 10%, 20%,
30, 40%, 50%,. 60%, 70%, 80%, dan 90%).
d. Masing masing larutan pada langkah c dilihat indeks biasnya dengan
menggunakan refraktometer.
e. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias.
2. Masukkan 100 ml aquadest ke dalam beaker glass pirex 250 ml,
dipanaskan sampai suhu konstan dan dicatat titik didihnya.
3. Masukkan 150 ml etanol ke dalam labu destilasi kosong, panaskan sampai
suhu konstan dan catat titik didihnya, serta cek indeks bias residu dan
desilat.
4. Labu destilasi tersebut didinginkan, lalu ditambahkan 20 ml aquadest ke
dalam labu destilasi berisi 150 ml etanol. Kemudian dipanaskan sampai
mencapai suhu konstan dan catat titik didihnya, ambil cuplikan residu dan
destilat untuk diperiksa indeks biasnya masing-masing.
5. Prosedur 4 dilakukan berulang ulang sampai kadar etanol teknis
terpenuhi.
6. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol aquadest.
Catatan : Komposisi etanol-air dapat dinyatakan dalam fraksi berat atau fraksi

3.4 Tabel Pengamatan


Tabel 3.1 Hubungan antara Komposisi Larutan Etanol-Air dengan Indeks Bias
Komposisi Etanol
(% berat)

Volume Air (ml)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

Volume Etanol
(ml)

Indeks Bias

KESETIMBANGAN FASA
0

10

1,321

10

8,7

1,3

1,326

20

7,6

2,4

1,329

30

6,4

3,6

1,332

40

5,4

4,6

1,332

50

4,3

5,7

1,342

60

3,4

6,6

1,313

70

2,5

7,5

1,320

80

1,6

8,4

1,322

90

0,8

9,2

1,325

Tabel 3.2 Pengaruh Komposisi Umpan destilasi


Volume

Volume Air

Suhu Didih

Indeks Bias

Indeks Bias

Etanol (ml)

(ml)

(oC)

Residu

Destilat

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
150

65

1,313

1,327

150

20

69

1,318

1,321

150

40

72

1,323

1,324

150

60

74

1,325

1,325

150

80

76

1,332

2,326

150

100

77

1,328

1,327

BAB IV
HASIL PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Percobaan

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
Tabel 4.1 Data komposisi etanol (%W) dan indeks bias
No.
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

%W
0
10
20
30
40
50
60
70
80
90

V etanol (ml)
0
1,3
2,4
3,6
4,6
5,7
6,6
7,5
8,4
9,2

V aquadest (ml)
10
8,7
7,60
6,40
5,40
4,30
3,40
2,50
1,60
0,80

Indeks bias
1,32
1,326
1,329
1,322
1,322
1,343
1,313
1,32
1,322
1,325

Tabel 4.2 Data Indeks Bias Residu dan Destilat


Suhu didih

No

V etanol

V aquadest

(ml)

(ml)

1.

150

1,329

1,313

65

2.

150

20

1,321

1,318

69

3.

150

40

1,324

1,323

72

4.

150

60

1,329

1,325

74

5.

150

80

1,326

1,332

76

6.

150

100

1,311

1,328

77

n destilat

n residu

(c)

Tabel 4.3 Perbandingan titik didih teoritis dan titik didih praktis
Volume etanol

Volume air

Titik didih praktis

Titik didih teoritis

(ml)
150
150
150
150
150
150

(ml)
0
20
40
60
80
100

(C)
65
69
72
74
76
77

(C)
76,4
84,81
88,29
90,48
91,98
93,06

4. 2 Pembahasan
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
4.2.1 Hubungan Komposisi Etanol-Aquadest (%W) dengan Indeks Bias
1.35
1.34
1.33
Indeks Bias 1.32
indeks bias

1.31
1.3

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90
% Berat (W)

GambaGambar 4.1 Hubungan antara W Etanol dengan Indeks Bias


Pada percobaan grafik antara %W etanol dengan indeks bias dapat
dilihat bahwa semakin tinggi kadar etanol, indeks bias juga semakin tinggi.
Hal ini dapat disebabkan indeks bias etanol-air berhubungan erat dengan laju
cahaya yang melewati etanol-air. Jadi semakin banyak komposisi etanol,
maka indeks bias semakin tinggi karena cepat rambat pada etanol lebih kecil
dibandingkan dengan aquaest. Hal ini dijelaskan oleh rumus:
n=

c
vp

n = indeks bias
c = kecepatan cahaya
vp = cepat rambat cahaya pada medium
Untuk etanol :

vp=

Untuk aquadest :

vp=

c
n etanol
3 000000000
m
=225500000
1,328
detik

c
n air

300000000
m
=224800000
1,125
detik

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

KESETIMBANGAN FASA
Dari persamaan dapat diketahui bahwa cepat rambat etanol lebih kecil
dibandingkan aquadest. Hal ini disebabkan oleh molekul etanol yang lebih
besar daripada aquadest. Maka kecepatan etanol lebih rapat dibanding
aquadest. Jika kerapatan tinggi maka indeks bias tinggi sehingga indeks bias
etanol-air semakin bertambah seiring bertambahnya komposisi etanol.
Namun pada saat komposisi campuran pada 60% dan 90% indek biasnya
turun. Dimana pada titik tersebut terdapat azeotrop. Hal ini disebabkan
setiap camuran tersebut konstituen yang akan menghasilkan destilat yang
lebih dekat untuk azeotrop daripada campuran campuran awal. Campuran
ini azeotrop positif dimana azeotrop mendidih pada suhu yang lebih rendah
dari rasio lain. Campuran mempunyai titik didih minimum atau tekanan
azeotrop maksimum. Pada komposisi 60% ada etanol yang menguap,
sehingga komposisi etanol-air tidak lagi tetap. Pada komposisi tersebut
didetilasi oleh aquadest, maka indeks bias turun. Umumnya proses
pemurnian alkohol dilakukan dengan desilassi sederhana, akan tetapi seperti
halnya etanol, destilasi akan efektif untuk memisahkan campuran etanol-air
dengan kandungan etanol 10 85%. Sedangkan untuk konsentrasi diatas,
etanol akan membentuk azeotrop dengan air. Pada komposisi 90% indeks
bias turun, hal ini disebabkan molekul air tidak bisa mengikat molekul
etanol, dimana gaya Tarik menarik antara molekul yang tidak sejenis lebih
kecil dari sejenis. Sehingga larutan etanol yang lebih banyak dari aquadest
akan memperkuat sifat fisiknya yang merupakan sifat volatil. Karena sifat
volatil tersebut, etanol lebih cepat menguap sehingga konsentrasi campuran
dan indeks bias menjadi kecil.

4.2.2 Hubungan penambahan aquadest terhadap titik didih

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 10

KESETIMBANGAN FASA

Titik Didih (C)

TD Praktis
TD Teoritis
0

20

60

80

100

120

volume (mL)

Gambar 4.2 Hubungan penamhan aquadest terhadap titik didih


Berdasarkan Gambar 4.2, menunjukkan seiring penambahan aquadest
pada senyawa etanol titik didihnya semakin meningkat. Hal ini disebabkan
oleh sifat dari etanol yang lebih volatil atau lebih mudah menguap dibanding
air yang titik didihnya lebih tinggi. Etanol mempunyai titik didih sebesar
78,32C, sedangkan air mempunyai titik didih 100C. Kenaikan titik didih
larutan disebabkan oleh turunnya tekanan uap larutan.
Penurunan tekanan uap disebabkan oleh adanya gaya tarik menarik antar
larutan yang semakin bertambah seiring dengan penambahan aquadest.
Aquadest memiliki ikatan polar yang kuat diantara molekul molekulnya.
Artinya energi yang dibutuhkan untuk memutuskan ikatan air daripada
etanol yang akan lebih besar (Sari,2012) .

% Berat (W)

% W Residu
%W Destilat
65

69

72

74

76

77

Titik Didih (C)

4.2.3 Hubungan antara % W dengan Titik Didih


Gambar 4.3 Hubungan antara %W dengan Titik didih
Pada destilat semakin besar %W titik didih semakin besar. Hal ini
disebabkan karena destilat adalah etanol murni yang merupakan hasil
destilasi dari larutan etanol air dari titik didihnya jauh dari titik didih air.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 11

KESETIMBANGAN FASA
Sedangkan pada residu, semakinn besar %W titik didihnya juga cenderung
naik. Peristiwa tersebut terjadi karena etanol terus menguap sehingga fraksi
molnya dalam larutan semakin kecil yang akhirnya mengakibatkan kenaikan
titik didih.
Berdasarkan grafik diatas telah terjadi fenomena yang tidak sesuai
dengan teori diatas atau telah terjadi penyimpangan baik terhadap titik didih
residu maupun titik didih destilat. Hal ini disebabkan karena terbentuknya
azeotrop, dimana azeotrop adalah dua atau lebih cairan sedemikian rupa
sehingga komponen tidak dapat diubah dengan destilasi (Wahyuni, 2012).
Karena destilasi hanya akan efektif untuk memisahkan campuran dengan
etanol 10 85% (Huang, dkk., 2008). Untuk menggeser azeotrop dapat
dilakukan dengan penambahan extraneous mass separating agent atau
entrainer ke dalam campuran azeotrop. Entrainer yang dapat digunakan
misalnya isooktana. Keberadaan isooktana akan menyebabkan air menjadi
lebih volatil sehingga etanol dapat dipisahkan dengan air (Bisowarno,dkk,
2010). Selain itu, menurut Rekpe et al (2007), destilasi pada tekanan rendah
akan menggeser titik azeotrop yang lebih rendah dari titik azeotrop (95%)
pada tekanan 1 bar (Fessenden and Fessenden, 1991)

BAB V
PENUTUP
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 12

KESETIMBANGAN FASA

5.1 Kesimpulan
1. Kesetimbangan antara dua fase (uap-air) dari sistem larutan terdiri atas dua
komponen. Ketika larutan diuapkan, maka etanol menguap terlebih dahulu
karena etanol lebih volatile. Hal ini ditujukan dengan banyaknya
kandungan etanol dalam destilat setiap kali melakukan destilat
2. Penambahan %W etanol mengakibatkan titik didih mengalami penurunan
karena semakin banyak %W etanol, maka komponen etanol semakin
banyak sehingga titik didihnya semakin rendah.
5.2 Saran
1. Sebaiknya menggunakan metode destilasi bertingkat agar pemisahan
etanol air maksimal.
2. Agar kurva % W linier dengan indeks bias, dapat digunakan metode
destilasi ekstraktif yaitu dengan penambahan suatu senyawa (entrainer)
untuk memecah azeotrop.
3. Agar pemisahan etanol-air lebih maksimal serta menghemat kalor dapat
digunakan metode destilasi vakum.
4. Menggunakan etanol murni agar pemisahan maksimal.
5. Penambahan absorban (zeolit) dapat juga ditambahkan pada saat destilasi
untuk mendapatkan kemurnian etanol diatas 99%.

DAFTAR PUSTAKA
Alberty, R.A. and Daniels, F. 1983.Kimia Fisika. Edisi kelima. Penerbit
Erlangga. Jakarta.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 13

KESETIMBANGAN FASA
Anonim. 2007. Kesetimbangan Uap-Air dan Etanol-Air Hasil Fermentasi Rumput
Gajah.http://download.portalgaruda.org./article.php?
article=18155&val=6233&title=DATA%20KESETIMBANGAN%UAP
%20AIR%20%20DAN%20ETANOLAIR%20%20%20DARI%20HAIL
%20FERMENTASI%20RUMPUT%20GAJAH (Diakses tanggal 2 Mei
2015 pukul 13.04 WIB)
Anonim. 2013. Cepat Rambat Cahaya. http://wikipedia.org/7/02/2013/178/
(Diakses tanggal 1 Mei 2015 pukul 12.46 WIB)
Anonim.

2013.

Titik

Didih

Aquadest

Air.

http://www.wikipedia.org/titikdidihaquades air.html (Diakses tanggal 1 Mei


2015 pukul 11.09).
Bisowarno, B. H., dkk. 2010. Simulasi Proses Dehidrasi Etanol dengan Kolom
Distilasi Azeotrop Menggunakan Isooktana. (Diakses tanggal 3 Mei 2015
pukul 02.25 WIB)
Castelan, G.,W., 1981. Physical Chemistry . 2nd edition, Tokyo.
Scribd.

2013.

Indeks

Bias

Etanol.

http://srcibd.dly.com./20/7/2013/70/803/?-/imdeks-bias-etanollaporan/07.html (Diakses tanggal 2 Mei 2015 pukul 15.4 WIB


Utomo, D. K., dkk. 2012. Uji Efektivitas Kolom Trankinasi dan Permukaan pada
Protoype Teknologi Destilasi Sinetral terhadap Peningkatan Kadar Etanol.
http://jurnal.fkip.uns.ac.id/indekssiklusprofesi/article/ download3736/2014/
(Diakses tanggal 2 Mei 2015 pukul 21.00 WIB)
Wahyuni, Sri. 2012. Studi Pemisahan. http://lib.ui.ac.id/filenylisi/20302326130639%20%.pdf (Diakses tanggal 2 Mei 2015 pukul 22.34 WIB)

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II 14

DATA HASIL PERCOBAAN


LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO

MATERI

: KESETIMBANGAN FASA

I. BAHAN DAN ALAT


- Bahan :
1. Etanol 150 ml
2. Aquades 5 x 20 ml

- Alat :
1. Labu destilasi
2. Pengambil sampel
3. Thermometer raksa
4. Pendingin Leibig
5. Thermostat
6. Erlenmeyer
7. Pipet

II. CARA KERJA


1. Membuat kurva standart hubungan komposisi dan indeks bias.
a. Menentukan densitas aquadest dan etanol dengan menggunakan
picnometer.
b. Menentukan kadar etanol dengan menggunakan tabel hubungan densitas
dengan kadar etanol.
c. Membuat larutan etanol aquadest dengan komposisi (0%, 10%, 20%, 30,
40%, 50%,. 60%, 70%, 80%, dan 90%).
d. Masing masing larutan pada langkah c dilihat indeks biasnya dengan
menggunakan refraktometer.
e. Dibuat kurva hubungan antara komposisi versus indeks bias. dengan
refraktometer.
2. Masukkan 100 ml aquadest ke dalam beaker glass pirex 250 ml,
dipanaskan sampai suhu konstan dan dicatat titik didihnya.
3. Masukkan 150 ml etanol ke dalam labu destilasi kosong, panaskan sampai
suhu konstan dan catat titik didihnya, serta cek indeks bias residu dan
desilat.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

A-1

KESETIMBANGAN FASA
4. Labu destilasi tersebut didinginkan , lalu ditambahkan 30 ml aquadest/air
demin ke dalam labu destilasi berisi 150 ml etanol , kemudian dipanaskan
sampai mencapai suhu konstan dan catat titik didihnya , ambil cuplikan
residu dan destilat untuk diperiksa indeks biasnya masing-masing.
5. Prosedur 4 dilakukan berulang ulang sampai kadar etanol teknis
terpenuhi.
6. Dibuat kurva hubungan suhu dengan komposisi etanol-aquadest/air
demin/air.
7. Catatan : Komposisi etanol-air dapat dinyatakan dalam fraksi berat atau
fraksi mol.
III.

HASIL PERCOBAAN
8. W picnometer kosong
= 16,353 gram
9. W picnometer + aquadest
= 41,26 gram
10. V picnometer
= 28,13 ml
11. Massa jenis air pada T 29oC = 0,995945 g/ml
12. W picnometer + etanol
= 36,423 gram
13. Massa jenis etanol
= 0,8025 g/ml
14. Tabel Hubungan antara Komposisi Etanol (Larutan Etanol-Air) dengan
Indeks Bias

15.
No.
20.
1.
25.
2.
30.
.3.
35.
4.
40.
5.
45.
6.
50.
7.

16.

%W

21.

26.

10

31.

17.

V etanol
(ml)
22.

18.

19.

aquadest (ml)

Indeks
bias

23.

10

24.

1,32

27.

1,3

28.

8,7

29.

1,326

20

32.

2,4

33.

7,60

34.

1,329

36.

30

37.

3,6

38.

6,40

39.

1,322

41.

40

42.

4,6

43.

5,40

44.

1,322

46.

50

47.

5,7

48.

4,30

49.

1,342

51.

60

52.

6,6

53.

3,40

54.

1,313

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

A-2

KESETIMBANGAN FASA
55.
8.
60.
9.
65.
10.

56.

70

57.

7,5

58.

2,50

59.

1,32

61.

80

62.

8,4

63.

1,60

64.

1,322

66.

90

67.

9,2

68.

0,80

69.

1,325

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

A-2

KESETIMBANGAN FASA
70.

Tabel Pengaruh Komposisi Umpan Destilasi

72.73.

71.

75.

V aquadest
74.
79.

78.

84.

90.

96.

102.

108.

Suhu

didih (C)
(ml)
80.
0

76. n
destilat

77.

n residu

81.

82.

83.

1,

85.

86.

87.

88.

89.

1,

91.

92.

93.

94.

95.

1,

97.

98.

99.

100.

101.

1,

103.

104.

105.

106.

107.

1,

109.

110.

111.

112.

113.

1,

114.
115.
116.
117.
118.
119.
120.
121.
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

A-3

KESETIMBANGAN FASA
122.
123.
124.
PRAKTIKAN
125.

APRILIA, DIAN, IKSAN

MENGETAHUI,
ASISTEN

DAVID PASCAL JONATHAN


NIM. 21030111130124

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

A-3

KESETIMBANGAN FASA
126.

LEMBAR PERHITUNGAN

1. Perhitungan titik didih teoritis


127. Titik didih teoritis = T. didih etanol X etanol + T. didih Aquades
Xaquadest
128.

et Vet
BMet
Xetanol=
et Vet aq Vaq
+
BMet
BMaq

129.

X aquadest=1Xetanol

a. Penambahan 0 ml aquadest

gr
. 150 ml
cm 3
gr
46
mol

0,8025

Xetanol=

130.

131.
132.

gr
gr
0,8025
. 150 ml 0,995945
. 0 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

=1

Xaquadest = 1 1 = 0
Titik didi h=( 78,4 x 1 ) + ( 95 x 0 ) = 78,4oC

b. Penambahan 20 ml aquadest
133.

gr
. 150 ml
cm 3
gr
46
mol

0,8025

Xetanol=

gr
gr
. 150 ml 0,995949
. 20 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

=0,7028

0,8025

134.
135.

Xaquadest = 1 0,7028 = 0,2972


Titik didi h=( 78,4 x 0,7028 ) + ( 100 x 0,2972 ) = 84,81oC

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

B-1

KESETIMBANGAN FASA
c. Penambahan 40 ml aquadest

gr
. 150 ml
cm3
gr
46
mol

0,8025

Xetanol=

d.

gr
gr
0,8025
. 150 ml 0,995949
. 40 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

e. Xaquadest = 1 0,5919 =0,4851


Titik didi h=( 78,4 x 0,5419 ) + ( 100 x 0,4851 )
f.
g. Penambahan 60 ml aquadest

=0,5919

= 88,29oC

gr
. 150 ml
cm 3
gr
46
mol

0,8025

h.

Xetanol=

gr
gr
0,8025
. 150 ml 0,995949
. 60 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

i. Xaquadest = 1 0,444079 = 0,55921


Titik didi h=( 78,4 x 0,44079 ) + ( 100 x 0,55921 )
j.
k. Penambahan 80 ml aquadest

=0,44079

= 90,48oC

gr
. 150 ml
cm 3
gr
46
mol

0,8025

l.

Xetanol=

gr
gr
. 150 ml 0,995949
. 80 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

=0,3715

0,8025

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

B-2

KESETIMBANGAN FASA
m. Xaquadest = 1 0,3715= 0,685
n. Titik didi h=( 78,4 x 0,3715 ) + ( 100 x 0,685 ) = 91,98oC
o. Penambahan 100 ml aquadest

gr
. 150 ml
cm 3
gr
46
mol

0,8025

Xetanol=

p.

gr
gr
0,8025
. 150 ml 0,995949
. 100 ml
cm3
cm 3
+
gr
gr
46
18
mol
mol

=0,3211

q. Xaquadest = 1 0,3211 = 0,6489


Titik didi h=( 78,4 x 0,3211 )+ (100 x 0,6489 ) = 93,06oC
r.
s.
t.
u.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II

B-3

KESETIMBANGAN FASA
v. LEMBAR PERHITUNGAN KUANTITAS REAGEN
w.
a. Perhitungan volume picnometer
T aquadest = 29oC

aquadest=0,995945

W picnometer kosong (x) = 16,353 gram


W picnometer + aquadest (y) = 41,26 gram
W aquadest = 41,26 gram - 16,363 gram = 24,907 gram
W aq 24,907 gram
=
=25,01 ml
V picnometer = aq 0,995945 gr
mol

b. Perhitungan

gr
ml

etanol

W picnometer kosong = 16,363 gram


W picnometer + etanol = 36,423 gram
W etanol = 36,423 gram - 16,363= 20,07 gram
W etanol
20,07 gram
gr
etanol=
=
=0,8025
V picnometer
25,01 ml
ml

c. Perhitungan Volume etanol dan Volume aquadest dalam berbagai


komposisi
x.
y.
z.
aa.
ab.
ac.

Picno kosong
=16,363 gr
Picno+aquadest
=41,26 gr
Picno+ethanol
=36,423 gr
T aquadest
=29 C
Massa jenis aquades =0,995943
Massa jenis etanol
=0,8025
et x Vet x 0,96
W=
et x Vet x 0,96+ aq ( VaqVet )

ad.

%W = 0 %

ae.

gr
x Vet x 0,9539
cm 3
0=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9539+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3

af.

Vet=0 ml ; V air=10 ml ; n=1,32

0,8025

%W = 10%

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II C-1

KESETIMBANGAN FASA
gr
x Vet x 0,9535
cm3
0,1=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+ 0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3
0,8025

ag.

ah.

Vet=1,3 ml ; V air=8,7 ml ; n=1,326

%W = 20%
ai.

gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,20=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3

aj.

Vet=2,4 ml ; V air=7,6 ml ; n=1,329

0,8025

%W = 30%
ak.

gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,3=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3

al.

Vet=3,6 ml ; V air=6,4 ml ; n=1,332

0,8025

%W = 40%
gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,40=
gr
gr
0,8651
x Vet x 0,9535+ 0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3
0,8025

am.
an.

Vet=4,6 ml ;V air=5,4 ml ; n=1,332

%W = 50%
ao.

gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,5
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
(10 mlVet )
cm3
cm3

ap.

Vet=5,7 ml ; V air=4,3 ml ; n=1,343

0,8025

%W = 60%
aq.

gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,6=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,9965945
( 10 mlVet )
cm3
cm3

ar.

Vet=6,6 ml ; V air=3,4 ml n=1,313

0,8025

%W = 70%
Laboratorium Dasar Teknik Kimia II C-2

KESETIMBANGAN FASA
gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,7=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm3
0,8025

as.

at.

Vet =7,5 ml ; V air=2,5 ml ; n=1,32

%W = 80%
gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,8=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3
0,8025

au.

av.

Vet=8,4 ml ; V air=1,6 ml ; n=1,322

%W = 90%
aw.

gr
x Vet x 0,9535
cm 3
0,9=
gr
gr
0,8025
x Vet x 0,9535+0,995945
( 10 mlVet )
cm3
cm 3

ax.

Vet =9,2 ml ; V air=0,8 ml ; n=1,325

0,8025

ay.
az.
ba.
bb.
bc.
bd.
be.

Laboratorium Dasar Teknik Kimia II C-3

LEMBAR KUANTITAS REAGEN


LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
bf. PRAKTIKUM KE

:5

MATERI

: Kesetimbangan Fasa

HARI/TANGGAL

: Kamis/ 16 April 2015

KELOMPOK

: 6/ Kamis siang

NAMA

: 1. Ikhsan Hariyanto
2.Aprilia Pratama P.
3. Dian Remarthin G.

bg. ASISTEN

: David Pascal Jonathan

bh. KUANTITAS REAGEN


bi.

bj. JENIS REAGEN

bk. KUANTITAS

N
bl.

bp. Kurva standar

bv. Basis 10 ml

bq. Etanol Aquadest (% W)

bw.0,10,20,30,40,50,6

bm.

br.

bn.

bs. Distilasi

bx. 70,80,90

bt. Etanol

by.

bu. Aquadest

bz. 150 ml

bo.
2

0,

ca. 20 ml (5 x)

cb. TUGAS TAMBAHAN :


cc.cd.

Sifat Fisik dan Kimia Bahan Paktikum


Aplikasi KF di Industri ( 1 orang 1 apklikasi)
Pengertian Distilasi dan Titik Azeotrope

ce. CATATAN :

SEMARANG, 16 April

- 2015
Bawa millimeter block dan tisu
- ASISTEN
Distilasi sampai titik didih konstan
( 1 menit)

D-1

LEMBAR KUANTITAS REAGEN


LABORATORIUM DASAR TEKNIK KIMIA II
JURUSAN TEKNIK KIMIA FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS DIPONEGORO
cf.
DAVID PASCAL
JONATHAN
NIM.
21030111130124

D-2

cg. Pengertian Pembiasan


ch.

Pembiasan cahaya berarti pembelokan arah rambat cahaya saat melewati

bidang batas dua medium bening yang berbeda indeks biasnya. Misalnya

Cahaya

merambat dari medium Udara ke medium Air. Pembiasan cahaya mempengaruhi


penglihatan kita. Sebatang tongkat yang sebagiannya tercelup di dalam kolam berisi air
dan bening akan terlihat patah. Sinar yang berasal dari udara dibiaskan mendekati garis
normal saat masuk ke dalam air.
ci. B. HUKUM PEMBIASAN CAHAYA.
cj.

Sinar datang, sinar bias dan garis normal terletak pada satu bidang.

Perbandingan sinus sudut datang dan sinus sudut bias cahaya yang memasuki bidang
batas dua medium yang berbeda selalu bernilai tetap (konstan). Indeks bias(n) dibedakan
atas indeks bias mutlak dan indeks bias relatif. Indeks bias mutlak medium yaitu indeks
bias medium saat berkas cahaya dari ruang hampa melewati medium tersebut. Indek bias
mutlak suatu medium dituliskan n medium. Indeks bias mutlak kaca dituliskan nkaca,
indeks bias mutlak air dituliskan nair dan seterusnya. Bila cahaya merambat dari medium
kurang rapat(misal udara) ke medium yang lebih rapat(misal air), cahaya akan dibiaskan
mendekati garis normal.
ck. Tabel Indeks bias mutlak beberapa zat.

cl.
cm.
cn.
co.
cp.
cq.
cr.
cs.
ct. http://holik62.webs.com/pembiasancahaya.htm

cu. Jurnal Teknik Kimia : Vol. 6, No. 2, April 2012 65

cv. DATA KESETIMBANGAN UAP-AIR DAN ETHANOLAIR DARI HASIL FERMENTASI RUMPUT GAJAH
cw. Ni Ketut Sari
cx. Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industry UPN Veteran Jawa Timur
cy. Jalan Raya Rungkut Madya Gunung Anyar, Surabaya 60294
cz. e-mail: sari_ketut@yahoo.com
da.
db.

dc. Perhitungan Temperatur Bubble.


dd. Untuk kondisi tekanan rendah, yaitu tekanan men-dekati satu atmosfir,
koefisien fugasitas komponen i, (gas ideal), sehingga harga Factor
Pointing,
de. mendekati satu, pengambilan asumsi bahwa = 1 menimbulkan kesalahan
yang kecil untuk kesetim-bangan uap cair tekanan rendah, sehingga
diperoleh persamaan untuk menghitung komposisi uap ( yi ) : (Smith, et al,
1996)
df. (1) Harga T sebagai harga awal akan digunakan untuk mengetahui tekanan
uap jenuh suatu zat yang akan diestimasi dengan persamaan Antoine.
dg. (2) Prosedur iterasi untuk mencari temperature bubble yaitu mencari harga
temperatur jenuh dari kompo-nen murni pada P
dh. (3) Dimana A, B, C adalah konstanta Antoine untuk spesies i, untuk semua
estimasi awal.
di. (4) Penelitian bertujuan memperoleh data kesetim-bangan sistem biner
uap-air dan etanol-air dan membandingkan hasil eksperimen dengan data
lite-ratur.
dj. METODE PENELITIAN
dk. Bahan baku rumput gajah diperoleh dari kebun bibit di Bratang Surabaya
dan etanol pro analis dibeli di toko bahan kimia jalan Tidar Surabaya.
dl.
dm.

Cara penelitian :

dn. Larutan ethanol (1) air (2) dan tutup cock 4a, 4b dan 4c disiapkan, lalu
masukkan larutan melalui bagian atas still sampai boilling still terisi

kurang lebih bagian. Alirkan kran air sehingga air menga-lir melalui
kondensor dan perhatikan agar seluruh kondensor terisi air dan yakinkan
bahwa air menga-lir melalui kondensor. Panaskan boilling still dengan
memutar slide regulator untuk 6a pada posisi 20 30 V (jangan 40 V).
Amati perubahan temperatur melalui thermo-meter .Jika uap sudah mulai
terben-tuk pada boilling still, nyalakan pemanas 6b dengan memutar slide
regulator dan atur suhu T2 sekitar 5 10 oC lebih tinggi dari T1 dilihat
pada 5b.Cock 4b dibuka untuk recycle, amati terus suhu T1, T2 dan cairan
pada kondensat chamber dan yakinkan bahwa recycle dari kondensat
chamber ke boilling still ter-jadi. Setelah suhu T1 konstan lebih dari 30
menit, catat suhu tersebut sebagai suhu kesetimbangan dan ambil sampel
fasa cair melalui 4a dan sampel fasa uap melalui 4c.Hasil fasa cair dan
fasa uap di analisis menggunakan alat spektrofotometer pharo 100.
do. Langkah-langkah

penelitian

mengikuti

skema

penelitian

dibawah

ini.Etanol 350 ml dengan variasi komposisi etanol dalam fraksi mol,


dimasukkan da-lam boiling still.Setelah itu dipanaskan mengguna-kan
heater, uap yang terbentuk dikondensasi meng-gunakan kondensor. Pada
suhu konstan diambil dis-tilat dan bottom pada cock masing-masing.
dp. HASIL DAN PEMBAHASAN
dq. Dari grafik kurva kesetimbangan sistem biner Etanol-Air dari data literatur
dan dari data hasil penelitian akan dipakai untuk verifikasi hasil pene-litian
secara eksperimen dan secara perhitungan dari persamaan yang digunakan.
dr. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin besar fraksi mol umpan
etanol, maka temperatur pada dew point dan bubble point semakin
menurun, hal ini disebabkan karena komponen etanol bersifat volatile
dengan titik didih 78,32 oC, sebaliknya un-tuk komponen air yang bersifat
non-volatile dengan titik didih 100 oC. Semakin besar fraksi mol umpan
ethanol makin besar, mendekati titik azeotropik yaitu sekitar 0,8 (fraksi
mol) komposisi distilat me-nurun. Jika dibandingkan antara hasil
penelitian dengan data literatur pada range komposisi 0,4 sam-pai 0,6
mengalami penyimpangan, hal ini dise-babkan keterbatasan alat yang
digunakan yaitu tidak digunakannya sensor temperatur pada alat

ds. Pada kurva kesetimbangan X,Y,T untuk data sistem biner etanol(1)-air(2
(penelitian) dibanding-kan dengan sistem etanol (1)-air(2) (Perry,1996).
Dari data terlihat temperatur pada penelitian lebih tinggi dari literatur, hal
ini disebabkan karena kadar bahan etanol yang digunakan pada penelitian
adalah 96% sedangkan pada literatur adalah etanol absolut, dimana kadar
ethanol mempengaruhi titik didih
dt. Pada kurva kesetimbangan X,Y etanol(1)-air(2) berdasarkan data
penelitian dengan menggunakan etanol dari hasil fermentasi rumput gajah
dengan kadar etanol 96%, menunjukkan bahwa pada titik 0,8 (komposisi
umpan) fraksi mol hampir mendekati titik azeotrop.
du.

Pada kurva kesetimbangan X,Y,T untuk sistem biner etanol(1)-air(2)


berdasarkan data hasil pene-litian dengan menggunakan etanol pro analitis.
Me-nunjukkan bahwa semakin besar fraksi mol maka temperatur pada
dew point dan bubble point semakin menurun. Hal ini disebabkan karena
komponen eta-nol bersifat volatile dengan titik didih 78,32oC se-dangkan
air bersifat non-volatile dengan titik didih 100 oC. Pada kurva
kesetimbangan

X,Y,T

untuk

data

sistem

biner

etanol(1)-air(2)

(eksperimen) diban-dingkan dengan sistem etanol(1)-air(2) (Perry,6th


Jurnal Teknik Kimia : Vol. 6, No. 2, April 2012 67
dv.
dw. Etanol akan membentuk campuran azeotrop dengan air (Fesenden & Fesenden,
1991) sehingga sulit dipisahkan dengan destilasi fraksinasi biasa. Pada umumnya
kondisi azeotrop dapat diatasi dengan dua cara. Cara yang pertama adalah
destilasi azeotrop ekstraktif yakni destilasi dengan penambahan suatu senyawa
yang dapat memecah azeotrop (entrainer). Kedua adalah dengan cara destilasi
bertingkat dimana tekanan masing-masing proses berbeda (Pressure Swing
Distillation) (Repke et al., 2007)
dx.

dy.

dz.
ea.

eb.

ec.

ed.

KETERANGAN

TANDA
TANGAN

DIPERIKSA
ee.
N

ef. TANG
GAL

ei.

fk. 26 Mei

2015
fl.
fm.

ej.
ek.
2
el.

fn. 30 Mei
2015
fo.
fp.
fq.
fr.
fs.

ft.
1 Juni 2015
em. fu.
en.
eo.
ep.
3
eq.
er.
es.
et.
eu.
ev.

Perhatikan Spasi
Untuk di Bab font 14
fv.
Perbaiki Grafik
Perhatikan Kerapihan Tulisan
Sitasi di Tulis di Akhir
Paragraf
fw.
fx. ACC

fy.

ew.
ex.
ey.
ez.
fa.
fb.
fc.
fd.
fe.
ff.
fg.
fh.
fi.
fj.
fz.